P. 1
Homo Floresiensis

Homo Floresiensis

|Views: 97|Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2012

pdf

text

original

Sections

Heboh Homo floresiensis (Hf

)
Tepat di pertengahan bulan suci Ramadhan tahun 2004, dunia dihebohkan dengan penemuan fosil manusia yang lalu dijuluki Homo floresiensis (Hf) - usianya sekitar 18,000 tahun. Penemuan ini menyempurnakan Teori Evolusinya Darwin, dan menurut evolusi masa 18,000 tahun adalah benar-benar 'blink of an eye' - luar biasa pendek. Karena ukuran evolusi adalah jutaan tahun. Sebagai catatan, Darwin pernah dikecam para pemuka agama atas teorinya itu, karena bertentangan dengan dogma agama langit yang menyatakan bahwa manusia pertama di muka bumi ini adalah Adam dan Hawa (Adam & Eve). Seluruh media massa di belahan bumi pun begitu gencar memberitakan penemuan Hf, tak terkecuali media massa di Indonesia, walau lebih banyak mengutip kantor berita asing. Sampai-sampai koran Sinar Harapan 'salah kutip' dengan menuliskan ukuran kepalanya sebesar buah anggur, padahal yang benar berukuran sebesar buah jeruk (bali). Yang berukuran sebesar buah anggur adalah otaknya. Banyak ahli yang berpendapat bahwa peristiwa ini adalah penemuan terbesar abad ini: 'Lebih mengejutkan daripada penemuan mahluk luar angkasa atau UFO yang susah ditangkap'. Nama Pulau Flores yang termasuk pulau yang terpencil itu pun jadi terangkat tinggi. Ilmu arkeologi jadi naik daun. Nama Liang Bua jadi terlihat eksotis. Cerita orang-orang lokal tentang 'Ebu Gogo'(nenek yg makan segala) nyaris jadi kenyataan. Si Ebu Gogo adalah orang-orang mini berbulu yang mirip dengan Hf -- kadang muncul di pemukiman penduduk. Mereka bisa berkomunikasi antar mereka sendiri dengan 'bisik-bisik' - dan bisa menirukan kata-kata manusia (parroting) - spt burung kakatua jika diajak ngomong (maknanya mereka tidak tahu). Mereka makan apa saja, dari ubi-ubian sampai daging segar, bahkan kadang membawa lari bayi manusia. Pokoknya, gaungnya tak kalah dengan berita Kabintu (Kabinet Indonesia Bersatu) dan 'gegeran' di DPR. Sampai1

sampai ada teman di milis yang nyeletuk: "Wah, lebih enak membahas beginian katimbang ngomongin SBY-Kalla..homo-sapiens yang belum tentu sapiens (bijak)." Buat kita, apakah penemuan fosil ini membuktikan bahwa jauh sebelum Adam dan Hawa 'dibuang' ke bumi karena 'tragedi buah apel', bumi ini telah dihuni makhluk hidup ribuan tahun sebelumnya? Kalau begitu, apakah sebagian dari kita adalah keturunan Adam Hawa, dan sebagian lagi keturunan Homo erectus, Homo sapiens dan Homo Floresiensis, andai kita percaya bahwa Adam dan Hawa pernah 'dibuang' ke bumi? Untuk memperjelasnya, saya langsung mengontak seorang teman sekelas waktu SMA. Dia adalah Tular Sudarmadi, dosen arkeologi UGM yang menjadi anggota tim penemu fosil tersebut. Sebagai catatan, ketua timnya,Mike J. Morwood, adalah supervisornya saat ia ambil S2 di University of New England (UNE). Tentang hubungan penemuan fosil dan eksitensi Adam & Hawa, ia menjawab:"Kalau mau berdiskusi tentang manusia purba dan keberadaan Adam & Hawa harus dibahas dalam kerangka pikir yang berbeda. Arkeologi sebagai ilmu pengetahuan menyimpulkan secara obyektif adanya manusia purba dari data yang ditemukan. Kalau menurut definisi dalam sistimatika zoologi manusia, ciri fisik manusia yang hidup di bumi saat ini adalah Homo sapiens sapiens. Nenek moyangnya adalah Homo sapiens. Nah kalau Homo erectus dan lainlain secara fisiologi belum seutuhnya punya ciri manusia. Jadi kalau definisi manusia adalah Homo sapiens sapiens, maka Adam & Hawa wujudnya memang seperti manusia yang hidup saat ini. "Keberadaan Adam & Hawa dalam agama bersifat dogmatis, artinya kita harus yakin bahwa mereka adalah manusia pertama. Kalau kita sangkal nanti bisa dicap bi'dah. Intinya filosofi ilmu pengetahuan berangkat dari menyangsikan, sedangkan filosofi agama berangkat dari meyakini. Jadi tidak perlu adanya pembuktian." Bagaimana menurut Anda?

2

ARTIKEL PENDUKUNG:
Currently, it is widely accepted that only one hominin genus, Homo, was present in Pleistocene Asia, represented by two species, Homo erectus and Homo sapiens. Both species are characterized by greater brain size, increased body height and smaller teeth relative to Pliocene Australopithecus in Africa. Here we report the discovery, from the Late Pleistocene of Flores, Indonesia, of an adult hominin with stature and endocranial volume approximating 1 m and 380 cm3, respectively equal to the smallest-known australopithecines. The combination of primitive and derived features assigns this hominin to a new species, Homo floresiensis. The most likely explanation for its existence on Flores is long-term isolation, with subsequent endemic dwarfing, of an ancestral H. erectus population. Importantly, H. floresiensis shows that the genus Homo is morphologically more varied and flexible in its adaptive responses than previously thought. Correspondence and requests for materials should be addressed: pbrown3@pobox.une.edu.au --------------------------------------------------CNN: Scientists uncover possible new species of human

Scientists uncover possible new species of human Dwarf skeleton is 18,000 years old
(AP) -- In a breathtaking discovery, scientists working on a remote Indonesian island say they have uncovered the bones of a human dwarf species marooned for eons while modern man rapidly colonized the rest of the planet. One tiny specimen, an adult female measuring about 3 feet tall,is described as "the most extreme" figure to be included in the extended human family. Certainly, she is the shortest. This hobbit-sized creature appears to have lived as recently as 18,000 years ago on the island of Flores, a kind of tropical Lost World populated by giant lizards and miniature elephants. 3

She is the best example of a trove of fragmented bones that account for as many as seven of these primitive individuals. Scientists have named the new species Homo floresiensis, or Flores Man. The specimens' ages range from 95,000 to 12,000 years old. "So the 18,000-year-old skeleton cannot be some kind of 'freak' that we just happened to stumble across," said one of the discoverers, radiocarbon dating expert Richard G. Roberts of the University of Wollongong in Australia. Flores Man was hardly formidable. His grapefruit-sized brain was about a quarter the size of the brain of our species, Homo sapiens. It is closer in size with the brains of transitional prehuman species in Africa more than 3 million years ago. Yet evidence suggests Flores Man made stone tools, lit fires and organized group hunts for meat. Just how this primitive, remnant species managed to hang on and whether it crossed paths with modern humans is uncertain. Geologic evidence suggests a massive volcanic eruption sealed its fate some 12,000 years ago, along with other unusual species on the island. Still, researchers say the perseverance of Flores Man smashes the conventional wisdom that modern humans began to systematically crowd out other upright-walking species 160,000 years ago and have dominated the planet alone for tens of thousands of years. And it demonstrates that Africa, the acknowledged cradle of humanity, does not hold all the answers to persistent questions of how -- and where -- we came to be. "It is arguably the most significant discovery concerning our own genus in my lifetime," said anthropologist Bernard Wood of George Washington University, who reviewed the research independently. Discoveries simply "don't get any better than that," proclaimed Robert Foley and Marta Mirazon Lahr of Cambridge University in a written analysis. 4

To others, the specimen's baffling combination of slight dimensions and coarse features bears almost no meaningful resemblance either to modern humans or to our large, archaic cousins. They suggest that Flores Man doesn't belong in the genus Homo at all, even if it was a recent contemporary. "I don't think anybody can pigeonhole this into the very simple-minded theories of what is human," anthropologist Jeffery Schwartz of the University of Pittsburgh. "There is no biological reason to call it Homo. We have to rethink what it is." Details of the discovery appear in Thursday's issue of the journal Nature. Researchers from Australia and Indonesia found the partial skeleton 13 months ago in a shallow limestone cave known as Liang Bua. The cave, which extends into a hillside for about 130 feet, has been the subject of scientific analysis since 1964. Near the skeleton were stone tools and animal remains, including teeth from a young Stegodon, or prehistoric dwarf elephant, as well as fish, birds and rodents. Some of the bones were charred, suggesting they were cooked. Excavations are continuing. In 1998, stone tools and other evidence were found on Flores suggested the presence 900,000 years ago of another early human, Homo erectus. The tools were found a century after the celebrated discovery in the 1890s of big-boned H. erectus fossils in eastern Java. Now, researchers suggest H. erectus spread to remote Flores and throughout the region, perhaps on bamboo rafts. Caves on surrounding islands are the target of future studies, they said. Researchers suspect that Flores Man probably is an H. erectus descendant that was squeezed by evolutionary pressures. Nature is full of mammals -- deer, squirrels and pigs, for example -living in marginal, isolated environments that gradually dwarf when food isn't plentiful and predators aren'tthreatening. 5

On Flores, the Komodo dragon and other large meat-eating lizards prowled. But Flores Man didn't have to worry about violent human neighbors. This is the first time that the evolution of dwarfism has been recorded in a human relative, said the study's lead author, Peter Brown of the University of New England in Australia. Scientists are still struggling to identify it's jumbled features. Many say they its face and skull features show sufficient traits to be included in the Homo family that includes modern humans. It would be the eighth species in the Homo category. George Washington's Wood, for example, finds it "convincing." Others aren't sure. For example, they say the skull is wide like H. erectus. But the sides are rounder and the crown traces an arc from ear to ear.The skull of H. erectus has steeper sides and a pointed crown, they said. The lower jaw contains large, blunt teeth and roots like Australopithecus, a prehuman ancestor in Africa more than 3 million years ago. The front teeth are smaller than modern human teeth. The eye sockets are big and round, but they don't carry a prominent browline. The tibia in the leg shares similarities with apes. "I've spent a sleepless night trying to figure out what to do with this thing," said Schwartz. "It makes me think of nothing else in this world." Copyright 2004 The Associated Press

6

The New York Times October 29, 2004

EDITORIAL: Homo TomThumbus
The discovery of the skeletal remains of hobbit-size humans on a remote island in Indonesia has set anthropologists atwitter. The bones appear to belong to a new and unexpected species of humans, little more than three feet high, who lived among giant rats and pygmy elephants on the island of Flores until at least 13,000 years ago. That would make these miniature people contemporaries of our own human ancestors for tens of thousands of years, though no one knows if they ever met. If the findings hold up, the partial skeleton of a 30-year-old woman and bone fragments from six other individuals suggest that Homo floresiensis, or Flores man, is a descendant of the Homo erectus line that left Africa some 1.8 million years ago. Scientists speculate that full-size members of the line reached Flores more than 800,000 years ago, were marooned and evolved in isolation. With scant food and few predators, large size became a disadvantage. That favored the evolution of smaller humans and smaller elephants, which needed far fewer calories to live. A surprising by product of this downsizing was that the brain of Flores man shrank to become smaller than a chimpanzee's. Even so, these humans were no dummies, given the evidence that they used fire, made stone tools and hunted cooperatively. The Floresians may have been wiped out, along with the pygmy elephants, by volcanic eruptions some 12,000 years ago, although local lore speaks of "little people" living in remote caves on the island right up to the 1500's, when Dutch traders arrived. Speculative minds raise the possibility that even today, in some remote corner of Earth, a primitive line of humans remains to be discovered. That's probably pushing it. But the new discovery chips away at our smug notion that human evolution is a steady march toward bigger and brainier. In a tough environment, smaller may fare better. Meanwhile, our long reign as the sole human species on Earth appears to be shorter than we thought. Radityo Djadjoeri "bizz comm" <bizzcomm@lycos.com 7

Sunday, October 31, 2004 4:09 PM

Skenario Evolusi Manusia
At 15:10 02/11/2004, Hery Romadan wrote: Dalam bab-bab sebelumnya, kita melihat bahwa di alam tidak ada mekanisme yang menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Makhluk hidup muncul bukan akibat proses evolusi, melainkan secara tiba-tiba dalam bentuk yang sempurna. Mereka diciptakan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, jelaslah bahwa "evolusi manusia" juga merupakan sebuah kisah yang tidak pernah terjadi. Lalu, apa yang digunakan evolusionis sebagai pijakan untuk dongeng ini? Dasarnya adalah keberadaan fosil yang berlimpah sehingga evolusionis dapat membangun penafsiran imajinatif. Sepanjang sejarah, telah hidup lebih dari 6.000 spesies kera dan kebanyakan dari mereka telah punah. Kini hanya 120 spesies kera yang masih hidup di bumi. Sekitar 6.000 spesies kera ini, mayoritas telah punah, menjadi sumber yang kaya bagi evolusionis. Evolusionis menulis skenario evolusi manusia dengan menyusun sejumlah tengkorak yang cocok dengan tujuan mereka, berurutan dari yang terkecil hingga yang terbesar, lalu menempatkan di antara mereka tengkorak beberapa ras manusia yang telah punah. Menurut skenario ini, manusia dan kera modern memiliki nenek moyang yang sama. Nenek moyang ini berevolusi sejalan dengan waktu. Sebagian dari mereka menjadi kera modern, sedangkan kelompok lain berevolusi melalui jalur yang berbeda, menjadi manusia masa kini. Akan tetapi, semua temuan paleontologi, anatomi dan biologi menunjukkan bahwa pernyataan evolusi ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi lainnya. Tidak ada bukti-bukti kuat dan nyata untuk menunjukkan kekerabatan antara manusia dan kera. Yang ada hanyalah pemalsuan, penyimpangan, gambar-gambar serta komentar-komentar menyesatkan. Catatan fosil mengisyaratkan kepada kita bahwa sepanjang sejarah, manusia tetap manusia, dan kera tetap kera. Sebagian fosil yang dinyatakan evolusionis sebagai nenek moyang manusia berasal dari ras manusia yang hidup hingga akhir-akhir ini sekitar 10.000 tahun lalu dan kemudian menghilang. Selain itu, banyak orang masa kini memiliki penampilan dan karakteristik fisik yang sama dengan ras-ras manusia 8

yang punah, yang dinyatakan evolusionis sebagai nenek moyang manusia. Semua ini adalah bukti nyata bahwa manusia tidak pernah mengalami proses evolusi sepanjang sejarah. Bukti terpenting adalah perbedaan anatomis yang besar antara kera dan manusia, dan tidak satu pun di antara perbedaan tersebut muncul melalui proses evolusi. "Bipedalitas" (kemampuan berjalan dengan dua kaki) adalah salah satu di antaranya. Seperti yang akan diuraikan lebih lanjut, bipedalitas hanya terdapat pada manusia dan merupakan salah satu sifat terpenting yang membedakan manusia dengan hewan.

Silsilah Imajiner Manusia
Darwinis menyatakan bahwa manusia modern saat ini berevolusi dari makhluk serupa kera. Menurut mereka, selama proses evolusi yang diperkirakan berawal 4-5 juta tahun lalu, terdapat beberapa "bentuk transisi" antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sepenuhnya rekaan ini, terdapat empat "kategori" dasar: 1. Australopithecus 2. Homo habilis 3. Homo erectus 4. Homo sapiens Evolusionis menyebut nenek moyang pertama manusia dan kera sebagai "Australopithecus", yang berarti "Kera Afrika Selatan". Australopithecus hanyalah spesies kera kuno yang telah punah, dan memiliki beragam tipe. Sebagian berperawakan tegap, dan sebagian lain bertubuh kecil dan ramping. Evolusionis menggolongkan tahapan evolusi manusia berikutnya sebagai "homo", yang berarti "manusia". Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok Homo lebih berkembang daripada Australopithecus, dan tidak terlalu berbeda dengan manusia modern. Manusia modern di zaman kita, Homo sapiens, dikatakan terbentuk pada tahapan terakhir evolusi spesies ini.

Satu Tulang Rahang Sebagai Sumber Inspirasi
9

Fosil Ramapithecus pertama yang ditemukan: tulang rahang yang hilang, terdiri dari dua bagian (kanan). Evolusionis dengan berani menggambarkan Ramapithecus, keluarga dan lingkungan tempat tinggal mereka, hanya berdasarkan tulang rahang ini. Fosil-fosil seperti "Manusia Jawa", "Manusia Peking", dan "Lucy", yang senantiasa muncul di media massa, jurnal dan buku-buku kuliah evolusionis, termasuk dalam salah satu dari keempat spesies di atas. Spesies-spesies ini juga diasumsikan bercabang menjadi sub-sub spesies. Sejumlah kandidat bentuk transisi dari masa lampau, seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari silsilah imajiner evolusi manusia setelah diketahui mereka adalah kera biasa.1) Dengan menyusun rantai hubungan sebagai: "Australopithecus Homo habilis Homo erectus Homo sapiens", evolusionis menyatakan bahwa masing-masing spesies ini adalah nenek moyang spesies lainnya. Akan tetapi, temuan ahli-ahli paleoantropologi baru-baru ini mengungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus hidup di belahan bumi berbeda pada masa yang sama. Selain itu, suatu segmen manusia tertentu yang digolongkan sebagai Homo erectus ternyata hidup hingga zaman modern. Homo sapiens neandartalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) pernah hidup bersama di wilayah yang sama. Situasi ini jelas menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa mereka adalah nenek moyang bagi yang lain. Pada hakikatnya, semua temuan dan penelitian ilmiah telah mengungkapkan bahwa catatan fosil tidak mengisyaratkan proses evolusi seperti yang dikemukakan evolusionis. Fosil-fosil tersebut, yang mereka katakan sebagai nenek moyang manusia, ternyata milik suatu ras manusia atau milik spesies kera. Lalu, yang manakah fosil manusia dan yang manakah fosil kera? Mungkinkah salah satu dari keduanya bisa dianggap sebagai bentuk transisi? Untuk mendapatkan jawabannya, mari kita amati masingmasing kategori.

Australopithecus: Spesies Kera

10

Australopithecus, kategori pertama, berarti "kera dari selatan". Makhluk ini diduga pertama kali muncul di Afrika sekitar 4 juta tahun lalu dan hidup hingga 1 juta tahun lalu. Australopithecus memiliki beberapa kelas. Evolusionis berasumsi bahwa spesies Australopithecus tertua adalah A. afarensis. Setelah itu muncul A. africanus, yang memiliki kerangka lebih ramping, dan kemudian A. robustus, yang memiliki kerangka relatif lebih besar. Sedangkan untuk A. boisei, sejumlah peneliti menganggapnya spesies yang berbeda dan sebagian lagi menggolongkannya dalam sub spesies dari A. robustus. Semua spesies Australopithecus adalah kera yang sudah punah dan menyerupai kera masa kini. Ukuran tengkorak mereka sama atau lebih kecil dari simpanse yang hidup di masa sekarang. Terdapat bagian menonjol pada tangan dan kaki mereka yang digunakan untuk memanjat pohon seperti simpanse zaman sekarang, dan kaki mereka memiliki kemampuan menggenggam dahan. Mereka bertubuh pendek (maksimum 130 cm) dan seperti simpanse masa kini, Australopithecus jantan lebih besar dari Australopithecus betina. Sekian banyak karakteristik seperti detail pada tengkorak, kedekatan kedua mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang, lengan yang panjang, kaki yang pendek, merupakan bukti bahwa makhluk hidup ini tidak berbeda dengan kera zaman sekarang. Evolusionis menyatakan bahwa meskipun Australopithecus memiliki anatomi kera, mereka berjalan dengan tegak seperti manusia dan bukan seperti kera. Pernyataan "berjalan tegak" ini ternyata telah dipertahankan selama puluhan tahun oleh sejumlah ahli paleoantropologi seperti Richard Leakey dan Donald C. Johanson. Namun, banyak ilmuwan telah melakukan penelitian pada struktur kerangka Australopithecus dan membuktikan ketidakabsahan argumentasi tersebut. Penelitian menyeluruh pada beragam spesimen Australopithecus oleh dua ahli anatomi kelas dunia dari Inggris dan Amerika Serikat, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, menunjukkan bahwa makhluk ini tidak bipedal dan bergerak seperti kera masa kini. Setelah mempelajari fosil-fosil ini selama 15 tahun dengan segala perlengkapan yang diberikan pemerintah Inggris, Lord Zuckerman dan timnya yang beranggotakan 5 orang spesialis sampai pada kesimpulan bahwa Australopithecus hanya spesies kera biasa dan pasti tidak bipedal. Zuckerman sendiri adalah seorang evolusionis.2) Begitu pula Charles E. Oxnard, evolusionis yang terkenal dengan penelitiannya pada subjek 11

tersebut, menyamakan struktur kerangka Australopithecus dengan milik orang utan modern.3) Akhirnya, pada tahun 1994, sebuah tim dari Universitas Liverpool Inggris melakukan riset menyeluruh untuk mencapai suatu kesimpulan yang pasti. Mereka berkesimpulan bahwa "Australopithecus adalah kuadripedal".4) Singkatnya, Australopithecus tidak memiliki kekerabatan dengan manusia dan mereka hanyalah spesies kera yang telah punah.

Homo Habilis: Kera yang Dinyatakan sebagai Manusia
Kemiripan struktur kerangka dan tengkorak Australopithecus dengan simpanse, dan penolakan terhadap pernyataan bahwa makhluk ini berjalan tegak, telah sangat menyulitkan ahli paleoantropologi pro evolusi. Karena, menurut skema evolusi rekaan mereka, Homo erectus muncul setelah Australopithecus. Karena awalan kata "homo" berarti "manusia", maka Homo erectus tergolong kelas manusia berkerangka tegak. Ukuran tengkoraknya dua kali lebih besar dari Australopithecus. Peralihan langsung dari Australopithecus, yakni seekor kera mirip simpanse, ke Homo erectus yang berkerangka sama dengan manusia modern, adalah mustahil bahkan menurut teori mereka sendiri. Jadi, diperlukan "mata rantai", yakni "bentuk transisi". Dan konsep Homo habilis muncul untuk memenuhi kebutuhan ini.

Australopithecus Aferensis: Kera yang Telah Punah
Fosil pertama yang ditemukan di Hadar, Ethiopia, yang dianggap sebagai spesies Australopithecus aferensis adalah AL 288-1 atau "Lucy". Sudah lama evolusionis berusaha keras membuktikan bahwa Lucy dapat berjalan tegak. Tetapi penelitian terakhir memastikan bahwa binatang ini adalah kera biasa yang berjalan membungkuk. Fosil Australopithecus aferensis AL 333-105 di atas adalah milik anggota muda spesies ini. karena itulah tonjolan belum terbentuk pada tengkoraknya.

12

AUSTRALOPITHECUS SIMPANSE MODERN
Di kanan adalah tengkorak fosil Australopithecus aferensis AL 444-2, dan di bawahnya adalah tengkorak kera modern. Kemiripan yang sangat jelas menegaskan bahwa A. Aferensis adalah spesies kera biasa tanpa ciri-ciri "mirip manusia". Pengelompokan Homo habilis diajukan pada tahun 1960-an oleh Keluarga Leakey, sebuah keluarga "pemburu fosil". Menurut Leakey, spesies baru yang mereka kelompokkan sebagai Homo habilis memiliki kapasitas tengkorak relatif besar, kemampuan berjalan tegak dan menggunakan peralatan dari batu dan kayu. Karena itu, mungkin saja ia adalah nenek moyang manusia. Fosil-fosil baru dari spesies yang sama ditemukan pada akhir tahun 1980-an, dan mengubah total pandangan ini. Sejumlah peneliti seperti Bernard Wood dan C. Loring Brace, berdasarkan fosil-fosil baru tersebut mengatakan bahwa Homo habilis, yang berarti "manusia yang mampu menggunakan alat" seharusnya digolongkan sebagai Australopithecus habilis yang berarti "kera Afrika Selatan yang mampu menggunakan alat", karena Homo habilis memiliki banyak kesamaan ciri dengan kera Australopithecus. Ia memiliki lengan yang panjang, kaki yang pendek dan struktur kerangka mirip kera seperti Australopithecus. Jari tangan dan jari kakinya cocok untuk memanjat. Struktur tulang rahangnya sangat mirip dengan rahang kera masa sekarang. Rata-rata kapasitas tengkoraknya yang 600 cc juga mengindikasi fakta bahwa Homo habilis adalah kera. Singkatnya, Homo habilis, yang diklaim sebagai spesies berbeda oleh sejumlah evolusionis, ternyata merupakan spesies kera seperti semua Australopithecus yang lain. Penelitian yang dilakukan pada tahun-tahun berikutnya benar-benar menunjukkan bahwa Homo habilis tidak berbeda dengan Australopithecus. Fosil tengkorak dan kerangka OH26 yang ditemukan Tim White menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kapasitas tengkorak kecil, lengan panjang serta kaki pendek yang memungkinkannya memanjat pohon; tidak berbeda dengan kera modern. Analisis terperinci yang dilakukan ahli antropologi Amerika, Holly 13

Smith, pada tahun 1994 menunjukkan bahwa Homo habilis bukan "homo", atau "manusia", melainkan "kera". Mengenai analisis yang dilakukannya terhadap gigi-gigi Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus dan Homo neandertalensis, Smith menyatakan: Dengan membatasi analisis hanya pada spesimen-spesimen yang memenuhi kriteria ini, pola perkembangan gigi Australopithecus dan Homo habilis menunjukkan bahwa mereka sekelompok dengan kera Afrika. Sedangkan Homo erectus dan Neandertal diklasifikasikan dengan manusia.5)

Homo Habilis: Satu Lagi Kera yang Telah Punah
Sudah sejak lama para evolusionis menyatakan bahwa makhluk yang mereka namakan Homo habilis dapat berjalan tegak. Mereka beranggapan telah menemukan mata rantai penghubung antara kera dengan manusia. Akan tetapi, fosil-fosil baru Homo habilis yang ditemukan Tim White pada tahun 1986 dan diberi nama OH 62 membantah klaim ini. Fragmen fosil ini memperlihatkan bahwa Homo habilis berlengan panjang dan berkaki pendek seperti kera modern. Fosil ini mengakhiri klaim bahwa Homo habilis adalah makhluk bipedal yang dapat berjalan tegak. Ternyata, Homo habilis juga tidak lebih dari spesies kera. "Homo habilis OH 7" di samping kanan adalah fosil yang paling baik menggambarkan karakteristik rahang Homo habilis. Fosil rahang ini memiliki gigi seri yang besar. Gigi gerahamnya kecil. Bentuk rahang persegi. Semua ciri ini membuat rahang ini sangat mirip dengan rahang kera masa kini. Dengan kata lain, rahang Homo habilis menegaskan sekali lagi bahwa makhluk ini adalah sejenis kera. Tahun itu juga, tiga spesialis anatomi, Fred Spoor, Bernard Wood dan Frans Zonneveld, menarik kesimpulan serupa melalui metode yang sama sekali berbeda. Metode ini berdasarkan analisis perbandingan saluran setengah lingkaran pada telinga bagian dalam milik manusia dan kera yang berfungsi menjaga keseimbangan. Saluran ini berbeda jauh antara manusia yang berjalan tegak, dengan kera yang berjalan membungkuk. Saluran telinga bagian dalam pada semua 14

Australopithecus serta spesimen Homo habilis yang diteliti oleh Spoor, Wood dan Zonneveld, sama seperti pada kera modern. Saluran telinga bagian dalam pada Homo erectus sama dengan pada manusia modern.6) Temuan ini membuahkan dua hasil penting: 1. Fosil-fosil yang dikatakan sebagai Homo habilis sebenarnya tidak termasuk kelas "homo", atau manusia, tetapi kelas Australopithecus, atau kera. 2. Baik Homo habilis maupun Australopithecus adalah makhluk hidup yang berjalan membungkuk, dan karenanya memiliki kerangka kera. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun dengan manusia.

Homo Rudolfensis: Susunan Wajah yang Salah
Homo rudolfensis adalah nama yang diberikan kepada beberapa bagian fosil yang ditemukan pada tahun 1972. Kelompok yang diwakili fosil ini juga dinamai Homo rudolfensis karena ditemukan di dekat Sungai Rudolf di Kenya. Mayoritas ahli paleoantropologi menyetujui bahwa fosil-fosil ini tidak berasal dari spesies yang berbeda, melainkan termasuk Homo habilis. Richard Leakey, penemu fosil tersebut, memperkenalkan tengkorakyang dinamai "KNM-ER 1470" dan dinyatakan berusia 2,8 juta tahun itu sebagai penemuan terbesar dalam sejarah antropologi dan berpengaruh luas. Menurut Leakey, makhluk berukuran tengkorak kecil seperti Australopithecus namun berwajah manusia tersebut adalah mata rantai yang hilang antara Australopithecus dan manusia. Akan tetapi, tidak berapa la-ma kemudian diketahui bahwa wajah mirip manusia dari tengkorak KNM-ER 1470 yang sering tampil pada sampul depan majalah-majalah ilmiah adalah hasil penggabungan fragmenfragmen tengkorak secara keliru-yang mungkin dilakukan dengan sengaja. Prof. Tim Bromage, pengkaji anatomi wajah manusia, menjelaskan kenyataan yang diungkapkannya dengan bantuan simulasi komputer ini pada tahun 1992: Ketika KNM-ER 1470 pertama kali direkonstruksi, wajahnya dilekatkan pada tengkorak dalam posisi hampir vertikal, sangat menyerupai wajah 15

datar manusia modern. Akan tetapi penelitian baru-baru ini mengenai hubungan-hubungan anatomis menunjukkan bahwa pada masa hidupnya wajah itu seharusnya sangat menonjol, memunculkan aspek mirip kera, agak mirip dengan wajah Australopithecus.7) Mengenai kasus ini, seorang ahli paleoantropologi evolusionis, J. E. Cronin, menyatakan: ... wajahnya yang dikonstruksi relatif kokoh, naso-alveolar clivus yang agak datar (mengarah wajah cembung Australopithecus), lebarmaksimum tengkorak yang rendah (pada bagian temporal), gigi taring yang kuat dan geraham yang besar (seperti yang ditunjukkan oleh sisa akarnya), seluruhnya merupakan sifat-sifat yang relatif primitif, yang menghubungkan spesimen tersebut dengan kelompok A. africanus.8) C. Loring Brace dari Universitas Michigan berkesimpulan sama setelah ia menganalisis struktur rahang dan gigi tengkorak KNM-ER 1470. Menurutnya, ukuran rahang dan bagian yang ditumbuhi gigi geraham menunjukkan bahwa KNM-ER 1470 memiliki wajah dan gigi Australopithecus.9) Prof. Alan Walker, ahli paleoantropologi dari Universitas John Hopkins telah melakukan banyak penelitian pada KNM-ER 1470 seperti halnya Leakey, dan bersikeras bahwa makhluk hidup ini seharusnya tidak dikelompokkan sebagai "homo" atau spesies manusia seperti Homo habilis atau Homo rudolfensis, tetapi harus dimasukkan ke dalam spesies Australopithecus.10) Jadi, pengelompokan seperti Homo habilis atau Homo rudolfensis yang dikatakan sebagai bentuk transisi antara Australopithecines dengan Homo erectus, sepenuhnya hanyalah rekaan. Sebagaimana dikuatkan oleh banyak peneliti masa kini, makhluk-makhluk hidup ini adalah anggota Australopithecus. Seluruh ciri anatomis memperlihatkan bahwa mereka adalah spesies kera. Setelah makhluk-makhluk ini, yang ternyata semuanya spesies kera, kemudian muncul fosil-fosil "homo" yang merupakan fosil-fosil manusia.

16

Homo Erectus dan Setelahnya: Manusia
Menurut skema rekaan evolusionis, evolusi internal spesies Homo adalah sebagai berikut: pertama Homo erectus, kemudian Homo sapiens purba dan Manusia Neandertal, lalu Manusia Cro-Magnon dan terakhir manusia modern. Akan tetapi, semua klasifikasi ini ternyata hanya ras-ras asli manusia. Perbedaan di antara mereka tidak lebih dari perbedaan antara orang Inuit (eskimo) dengan negro atau antara pigmi dengan orang Eropa. Mari kita terlebih dulu mengkaji Homo erectus, yang dikatakan sebagai spesies manusia paling primitif. Kata "erect" berarti "tegak", maka "Homo erectus" berarti "manusia yang berjalan tegak". Evolusionis harus memisahkan manusia-manusia ini dari yang sebelumnya dengan menambahkan ciri "tegak", sebab semua fosil Homo erectus bertubuh tegak, tidak seperti spesimen Australopithecus atau Homo habilis. Jadi, tidak terdapat perbedaan antara kerangka manusia modern dan Homo erectus. Alasan utama evolusionis mendefinisikan Homo erectus sebagai "primitif" adalah ukuran tengkoraknya (900-1100 cc) yang lebih kecil dari rata-rata manusia modern, dan tonjolan alisnya yang tebal. Namun, banyak manusia yang hidup di dunia sekarang memiliki volume tengkorak sama dengan Homo erectus (misalnya suku Pigmi) dan ada beberapa ras yang memiliki alis menonjol (seperti suku Aborigin Australia). Sudah menjadi fakta yang disepakati bersama bahwa perbedaan ukuran tengkorak tidak selalu menunjukkan perbedaan kecerdasan atau kemampuan. Kecerdasan bergantung pada organisasi internal otak, dan bukan pada volumenya.11) Fosil yang telah menjadikan Homo erectus terkenal di dunia adalah fosil Manusia Peking dan Manusia Jawa yang ditemukan di Asia. Akan tetapi, akhirnya diketahui bahwa dua fosil ini tidak bisa diandalkan. Manusia Peking terdiri dari beberapa bagian yang terbuat dari plester untuk menggantikan bagian asli yang hilang. Sedangkan Manusia Jawa "tersusun" dari fragmen-fragmen tengkorak, ditambah dengan tulang panggul yang ditemukan beberapa meter darinya, tanpa indikasi bahwa tulang-tulang tersebut berasal dari satu makhluk hidup yang 17

sama. Itu sebabnya fosil Homo erectus yang ditemukan di Afrika menjadi lebih penting. (Perlu diketahui pula bahwa sejumlah fosil yang dikatakan sebagai Homo erectus, oleh sebagian evolusionis dimasukkan ke dalam kelompok kedua yang diberi nama "Homo ergaster". Ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang masalah ini. Kita akan menganggap semua fosil ini termasuk kelompok Homo erectus).

Homo Erectus: Ras Manusia Kuno
Homo erectus berarti "manusia tegak". Semua fosil yang termasuk spesies ini berasal dari ras-ras manusia tertentu. Karena sebagian besar fosil Homo erectus tidak memiliki karakteristik yang sama, sungguh sulit mendefinisikan mereka berdasarkan tengkoraknya. Itu sebabnya peneliti evolusionis yang berbeda membuat klasifikasi dan penamaan yang berbeda pula. Kiri atas adalah tengkorak yang ditemukan di Koobi Fora, Afrika pada tahun 1975 yang secara umum mendefinisikan Homo erectus. Kanan atas adalah tengkorak Homo ergaster KNM-ER 3733, yang masih dipertanyakan. Ukuran tengkorak dari beragam fosil Homo erectus ini berkisar antara 900 hingga 1100 cc. Angka ini masih dalam batas ukuran tengkorak manusia modern. Kerangka KNM-WT 15000 atau Anak Turkana di sebelah kanan barangkali fosil manusia tertua dan terlengkap yang pernah ditemukan. Penelitian terhadap fosil yang di-perkirakan berusia 1,6 juta tahun ini menunjukkan bahwa pemiliknya seorang anak berusia 12 tahun yang bisa mencapai tinggi dewasa sekitar 1,80 m. Fosil yang sangat menyerupai ras Neandertal ini adalah salah satu bukti paling kuat yang menggugurkan kisah evolusi manusia. Evolusionis Donald Johnson melukiskan fosil ini sebagai berikut: "Ia tinggi dan kurus. Bentuk tubuh dan perbandingan antara tangan dan kakinya sama dengan orang Afrika Khatulistiwa yang hidup saat ini. Ukuran tangan dan kakinya cocok sekali dengan orang dewasa kulit putih Amerika Utara masa kini." Spesimen Homo erectus paling terkenal dari Afrika adalah fosil "Narikotome homo erectus" atau "Anak Lelaki Turkana", yang ditemukan dekat danau Turkana, Kenya. Dipastikan bahwa fosil 18

tersebut milik seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, yang mungkin akan mencapai tinggi dewasa 1,83 meter. Struktur kerangka yang tegak dari fosil tidak berbeda dengan manusia modern. Mengenai ini, seorang ahli paleoantropologi Amerika, Alan Walker, meragukan kemampuan ahli patologi kebanyakan untuk membedakan kerangka fosil tersebut dengan kerangka manusia modern."12) Tentang tengkorak tersebut, Walker berkata bahwa "tengkorak itu tampak sangat mirip dengan Neandertal".13) Seperti yang akan kita temukan pada bab berikutnya, Neandertal adalah ras manusia modern. Jadi, Homo erectus adalah ras manusia modern juga.

Pelaut Berusia 700 Ribu Tahun
"Manusia prasejarah ternyata lebih cerdas dari yang kita duga." Berita yang dimuat di New Scientist pada tanggal 14 Maret 1998 ini mengungkapkan bahwa manusia yang oleh evolusionis disebut Homo erectus telah melakukan pelayaran 700 ribu tahun lalu. Manusia ini memiliki pengetahuan dan teknologi yang cukup untuk membangun kapal serta memiliki kebudayaan yang menggunakan alat perhubungan laut, karenanya tidak bisa dikatakan "primitif". Bahkan evolusionis Richard Leakey menyatakan bahwa perbedaan antara Homo erectus dan manusia modern tidak lebih dari variasi ras: Perbedaan bentuk tengkorak, tingkat tonjolan wajah, kekokohan dahi dan sebagainya akan terlihat. Perbedaan-perbedaan ini mungkin seperti yang kita saksikan saat ini pada ras-ras manusia modern yang terpisah secara geografis. Variasi biologis semacam ini muncul ketika populasi-populasi saling terpisah secara geografis untuk kurun waktu yang lama.14) Prof. William Laughlin dari Universitas Connecticut melakukan pengujian anatomi menyeluruh terhadap orang-orang Inuit dan orangorang yang hidup di kepulauan Aleut. Ia mendapati mereka sangat mirip dengan Homo erectus. Laughlin berkesimpulan bahwa semua ras ini ternyata ras-ras yang bervariasi dari Homo sapiens (manusia modern). Jika kita mempertimbangkan perbedaan besar antara kelompokkelompok yang berjauhan seperti Eskimo dan Bushman, yang 19

diketahui berasal dari satu spesies Homo sapiens, maka dapat disimpulkan bahwa Sinanthropus [spesimen erectus-ALC] termasuk dalam spesies yang sama.15) Di lain pihak, terdapat jurang pemisah yang lebar antara Homo erectus, suatu ras manusia, dan kera yang mendahului Homo erectus dalam skenario "evolusi manusia" (Australopithecus, Homo habilis, Homo rudolfensis). Ini berarti bahwa manusia pertama muncul secara tiba-tiba dalam catatan fosil dan tanpa sejarah evolusi apa pun. Hal ini sudah cukup jelas mengindikasikan bahwa mereka diciptakan. Akan tetapi, pengakuan atas fakta ini akan sangat bertentangan dengan filsafat dogmatis dan ideologi evolusionis. Karenanya, mereka mencoba menggambarkan Homo erectus, ras manusia sesungguhnya, sebagai makhluk separo kera. Pada rekonstruksi Homo erectus, evolusionis berkeras menggambarkan ciri-ciri kera. Sebaliknya, dengan metode penggambaran yang sama, mereka memanusiakan kera seperti Australopithecus atau Homo habilis. Dengan cara ini, mereka berupaya "mendekatkan" kera dan manusia, dan menutup celah antara dua kelompok makhluk hidup yang berbeda ini.

Neandertal
TOPENG PALSU: Meskipun tidak berbeda dengan manusia modern, Neandertal masih saja dilukiskan oleh evolusionis sebagai makhluk mirip kera. Neandertal adalah manusia yang tiba-tiba muncul 100 ribu tahun lalu di Eropa dan kemudian menghilang - atau terasimilasi melalui pembauran dengan ras-ras lain secara diam-diam namun cepat, 35 ribu tahun lalu. Perbedaan antara mereka dengan manusia modern hanyalah kerangka tubuh yang lebih kekar dan kapasitas tengkorak mereka sedikit lebih besar. Neandertal adalah ras manusia, dan kenyataan ini sekarang diakui oleh hampir semua orang. Evolusionis telah berusaha keras menampilkan mereka sebagai "spesies primitif", namun semua temuan menunjukkan bahwa Neanderthal tidak berbeda dengan orang berperawakan "kekar" yang lewat di jalan saat ini. Seorang pakar dalam hal ini, Erik Trinkaus, ahli paleoantropologi dari Universitas New Mexico menulis: Perbandingan anatomis terperinci antara sisa-sisa kerangka Neandertal dengan kerangka manusia modern tidak menunjukkan dengan pasti bahwa kemampuan lokomotif, manipulatif, intelektual atau bahasa 20

Neandertal lebih rendah dari manusia modern.16) Banyak peneliti modern menggolongkan manusia Neandertal sebagai suatu sub spesies dari manusia modern dan menamakannya "Homo sapiens neandertalensis". Temuan-temuan membuktikan bahwa Neandertal mengubur mayat kerabat mereka, membuat alat musik dan memiliki hubungan kebudayaan dengan Homo sapiens sapiens yang hidup seperiode. Tegasnya, Neandertal adalah ras manusia bertubuh "kekar" yang menghilang seiring perjalanan masa.

Homo Sapiens Kuno, Homo Heilderbergensis dan Manusia Cro-Magnon
Dalam skema evolusi rekaan, Homo sapiens kuno adalah tahapan terakhir sebelum manusia modern. Pada kenyataannya, evolusionis tidak dapat berkata banyak tentang manusia ini, karena hanya ada sedikit perbedaan antara mereka dengan manusia modern. Sejumlah peneliti bahkan mengatakan bahwa representasi ras ini masih hidup hingga sekarang, dan merujuk kepada orang Aborigin di Australia sebagai contoh. Seperti Homo sapiens, orang Aborigin juga memiliki alis tebal yang menonjol, struktur rahang miring ke dalam dan kapasitas tengkorak sedikit lebih kecil. Di samping itu, sejumlah penemuan penting mengisyaratkan bahwa manusia semacam itu pernah hidup di Hongaria dan di beberapa desa di Italia hingga beberapa waktu lalu.

Neandertal: Manusia Kekar
Di atas ini adalah tengkorak Homo sapiens neandertalensis, tengkorak Amud 1 yang ditemukan di Israel. Manusia Neanderthal umumnya dikenal berperawakan kekar tapi pendek. Akan tetapi, pemilik fosil ini diperkirakan bertinggi badan 1,80 m. Kapasitas tengkorak terbesar dari yang pernah dijumpai: 1740 cc. Karena itu, fosil tersebut termasuk bukti penting yang dengan telak menghancurkan klaim bahwa Neandertal adalah spesies primitif. Kelompok yang disebut sebagai Homo heilderbergensis dalam literatur evolusionis ternyata sama dengan Homo sapiens kuno. Dua istilah berbeda ini digunakan untuk mendefinisikan ras manusia yang sama, karena perbedaan konsep di kalangan evolusionis. Semua fosil yang termasuk dalam golongan Homo heilderbergensis menunjukkan bahwa 21

kelompok manusia yang secara anatomis sangat mirip dengan orang Eropa modern telah hidup 500 ribu dan bahkan 740 ribu tahun sebelumnya, pertama di Inggris dan kemudian di Spanyol. Diperkirakan manusia Cro-Magnon hidup 30.000 tahun lalu. Manusia ini memiliki tengkorak berbentuk kubah dan dahi yang lebar. Kapasitas tengkoraknya 1.600 cc, di atas rata-rata untuk manusia modern. Tengkoraknya memiliki tonjolan alis yang tebal dan tonjolan tulang di bagian belakang yang merupakan ciri manusia Neanderthal dan Homo erectus. Kendati Cro-Magnon dianggap suatu ras Eropa, struktur dan volume tengkoraknya tampak lebih mirip tengkorak ras-ras yang hidup di Afrika dan daerah tropis saat ini. Berdasarkan ini, Cro-Magnon diperkirakan sebagai suatu ras Afrika kuno. Sejumlah temuan paleoantropologi telah menunjukkan bahwa ras Cro-Magnon dan Neandertal saling membaur, kemudian mengawali ras-ras dewasa ini. Sekarang sudah diakui bahwa representasi dari ras Cro-Magnon masih hidup di beberapa wilayah di benua Afrika, dan di daerah Salute dan Dordogne di Prancis. Kelompok manusia berkarakteristik sama juga hidup di Polandia dan Hongaria.

Hidup Sezaman dengan Nenek Moyang
Kajian kita sejauh ini telah membentuk sebuah gambaran jelas: skenario "evolusi manusia" hanyalah fiksi. Agar silsilah seperti itu ada, evolusi bertahap dari kera hingga manusia seharusnya sudah terjadi dan catatan fosil dari proses ini seharusnya telah ditemukan. Akan tetapi, ada jarak pemisahkan sangat lebar antara kera dan manusia. Struktur kerangka, kapasitas tempurung kepala dan kriteria lain seperti berjalan tegak atau sangat membungkuk, membedakan manusia dari kera. (Dari hasil riset tahun 1994 tentang saluran keseimbangan pada telinga bagian tengah, Australopithecus dan Homo habilis dikelompokkan sebagai kera, sedangkan Homo erectus dikelompokkan sebagai manusia.) Satu lagi temuan penting yang membuktikan bahwa tidak mungkin ada silsilah keluarga di antara spesies yang berbeda-beda ini adalah: spesies yang ditampilkan sebagai nenek moyang dan penerusnya ternyata hidup bersamaan. Jika anggapan evolusionis benar bahwa Australopithecus berubah menjadi Homo habilis dan kemudian 22

berubah menjadi Homo erectus, maka seharusnya mereka hidup pada era yang berurutan. Akan tetapi, tidak ada urutan kronologis seperti itu.

JARUM BERUSIA 26 RIBU TAHUN:
Inilah sebuah fosil menarik yang menunjukkan bahwa Neanderthal memiliki pengetahuan tentang pakaian: sebuah jarum berusia 26 ribu tahun. (D. Johanson, B. Edgar From Lucy to Language, hlm. 99). Menurut perkiraan evolusionis, Australopithecus hidup dari 4 juta - 1 juta tahun lalu. Sedangkan makhluk hidup yang digolongkan Homo habilis diduga hidup hingga 1,9-1,7 juta tahun lalu. Homo rudolfensis, yang dianggap lebih "maju" daripada Homo habilis, diketahui berusia sekitar 2,8-2,5 juta tahun! Dengan kata lain, Homo rudolfensis hampir 1 juta tahun lebih tua dari Homo habilis, sang "nenek moyang". Di lain pihak, periode Homo erectus adalah sekitar 1,8-1,6 juta tahun lalu. Artinya, spesimen Homo erectus muncul di bumi pada selang waktu sama dengan Homo habilis, yang disebut sebagai nenek moyangnya . Alan Walker memperkuat fakta ini dengan menyatakan bahwa "terdapat bukti dari Afrika Timur tentang sejumlah kecil Australopithecus yang bertahan hidup sezaman dengan H. habilis, lalu dengan H. erectus."17) Louis Leakey pun telah menemukan fosil-fosil Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus yang berdekatan satu sama lain di wilayah Celah Olduvai, lapisan Bed II.18 Jadi pastilah, tidak ada silsilah kekerabatan seperti itu. Ahli paleontologi dari Universitas Harvard, Stephen Jay Gould, menjelaskan jalan buntu bagi evolusi ini meskipun ia sendiri seorang evolusionis: Apa jadinya dengan urutan yang kita susun, jika ada tiga keturunan hominid hidup bersama (A. africanus, A. robustus, dan H. habilis), dan tidak satu pun dari mereka menjadi keturunan dari yang lain? Lagipula, tidak satu pun dari ketiganya memperlihatkan kecenderungan evolusi semasa mereka hidup di bumi.19) Jika kita beralih dari Homo erectus ke Homo sapiens, kita kembali melihat bahwa tidak ada silsilah untuk dibicarakan. Ada bukti yang menunjukkan bahwa Homo erectus dan Homo sapiens kuno hidup hingga 27.000 tahun dan bahkan 10.000 tahun sebelum masa kita. 23

Dalam rawa Kow di Australia, tengkorak Homo erectus berusia sekitar 13.000 tahun telah ditemukan. Di pulau Jawa, sebuah tengkorak Homo erectus yang ditemukan berumur sekitar 27.000 tahun.20)

Sejarah Rahasia Homo sapiens
Salah satu literatur berkala evolusionis, Discover, menampilkan wajah manusia berusia 800.000 tahun pada sampul depan dengan pertanyaan evolusionis "Inikah wajah masa lampau kita?". Fakta paling menarik dan penting yang menggugurkan landasan utama silsilah imajiner teori evolusi ini adalah sejarah manusia modern, yang ternyata cukup tua. Data paleoantropologi mengungkapkan bahwa orang-orang Homo sapiens yang persis sama dengan kita, telah hidup pada satu juta tahun lalu. Orang yang menemukan bukti pertama dalam hal ini adalah Louis Leakey, seorang ahli paleoantropologi evolusionis. Pada ta-hun 1932, di daerah Kanjera sekitar Danau Victoria di Kenya, Leakey menemukan beberapa fosil yang berasal dari zaman Pleistosin Tengah. Fosil itu ternyata tidak berbeda dengan manusia modern. Akan tetapi, zaman Pleistosin Tengah berarti satu juta tahun lalu. 21) Karena penemuan ini membalikkan silsilah keturunan evolusi, sejumlah ahli paleoantropologi evolusionis tidak mau mengakuinya. Namun Leakey selalu bertahan bahwa perkiraannya benar. Ketika kontroversi ini hampir terlupakan, sebuah fosil ditemukan di Spanyol pada tahun 1995 dan dengan sangat gamblang menunjukkan bahwa sejarah Homo sapiens ternyata jauh lebih tua dari yang diperkirakan. Fosil tersebut ditemukan di sebuah gua bernama Gran Dolina di wilayah Atapuerca di Spanyol oleh tiga orang ahli paleoantropologi Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil tersebut adalah wajah anak laki-laki berusia 11 tahun yang sepenuhnya tampak seperti manusia modern. Padahal, fosil tersebut telah berusia 800.000 tahun sejak ia meninggal. Majalah Discover memuat rincian kisah ini pada Desember 1997. Fosil tersebut bahkan menggoyahkan keyakinan Ferreras, yang memimpin penggalian Gran Dolina. Ia berujar: Kami mengharapkan sesuatu yang signifikan, sesuatu yang besar, sesuatu yang bombastis..., sesuatu yang "primitif". Harapan kami terhadap seorang 24

anak berusia 800.000 tahun adalah sesuatu seperti Anak Lelaki Turkana. Dan apa yang kami temukan adalah wajah yang sama sekali modern.. Bagi saya hal ini sangat spektakuler. sesuatu yang mengguncangkan. Menemukan sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan seperti itu.... Bukan tentang masalah menemukan fosil; menemukan fosil bisa juga mengejutkan, dan tidak jadi masalah. Namun hal yang paling spektakuler adalah menemukan sesuatu yang Anda kira berasal dari zaman sekarang, di masa lampau. Sama halnya dengan menemukan sesuatu seperti. seperti tape recorder di Gran Dolina. Itu akan sangat mengejutkan. Kami tidak mengharapkan ada kaset dan tape recorder pada zaman Pleistosin Awal. Menemukan wajah modern begitu pula. Kami sangat terkejut melihatnya.22) Fosil tersebut menegaskan fakta bahwa sejarah Homo sapiens harus ditarik ke belakang hingga 800 ribu tahun lalu. Setelah pulih dari keterkejutannya, evolusionis yang menemukan fosil tersebut memutuskan bahwa fosil ini berasal dari spesies yang berbeda, sebab menurut silsilah keturunan evolusi, tidak ada Homo sapiens yang pernah hidup 800 ribu tahun lalu. Jadi, mereka mengarang sebuah spesies baru bernama "Homo antecessor" dan memasukkan tengkorak Atapuerca ke dalam kelompok ini.

Sebuah Pondok Berusia 1,7 Juta Tahun
Temuan pondok berusia 1,7 juta tahun telah mengagetkan kalangan ilmuwan. Pondok ini tampak seperti pondok yang digunakan orangorang Afrika sekarang. Telah banyak temuan yang menunjukkan bahwa usia Homo sapiens bahkan lebih awal dari 800 ribu tahun. Satu di antaranya adalah penemuan Louis Leakey di awal tahun 1970-an di Celah Olduvai. Di tempat ini, di lapisan Bed II, Leakey menemukan bahwa spesies Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus hidup pada masa yang sama. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah sebuah bangunan yang juga ditemukan Leakey pada lapisan Bed II. Di sini, Leakey menemukan sisa-sisa pondok batu. Yang tidak biasa dari peristiwa ini adalah bahwa konstruksi ini, yang masih digunakan di sejumlah daerah di Afrika, hanya dapat dibangun oleh Homo sapiens! Jadi, menurut temuan Leakey, Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus dan manusia modern tentu hidup pada masa yang sama sekitar 1,7 juta tahun lalu.23) Penemuan ini dengan pasti menggugurkan teori evolusi 25

yang menyatakan bahwa manusia modern berevolusi dari spesies mirip kera seperti Australopithecus.

Jejak Kaki Manusia Modern, Berusia 3,6 Juta Tahun!
Sejumlah penemuan lain merunut asal usul manusia modern hingga 1,7 juta tahun yang lalu. Salah satu dari temuan penting ini adalah jejak-jejak kaki yang ditemukan di Laetoli, Tanzania oleh Mary Leakey pada tahun 1977. Jejak-jejak kaki ini ditemukan pada lapisan yang menurut perhitungan berusia 3,6 juta tahun. Yang lebih penting lagi, jejak-jejak kaki ini tidak berbeda dari jejak kaki manusia modern. Jejak-jejak kaki yang ditemukan Mary Leakey kemudian dipelajari sejumlah ahli paleoantropologi seperti Don Johanson dan Tim White. Hasilnya sama. White menulis: Tidak disangsikan lagi.. Jejak-jejak itu serupa dengan jejak kaki manusia modern. Jika jejak itu ditinggalkan di pasir pantai California sekarang, dan seorang anak berusia empat tahun ditanya tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa seseorang telah berjalan di sana. Ia tidak akan dapat membedakannya dengan seratus jejak kaki lain di pantai, begitu pula Anda.24) Setelah meneliti jejak tersebut, Louis Robbins dari Universitas North California berkomentar sebagai berikut: Lengkungannya agak tinggi manusia yang lebih kecil memiliki lengkungan lebih tinggi daripada yang saya miliki - dan jempol kakinya besar dan sejajar dengan jari kaki sebelahnya.. Jari-jari kaki menekan tanah seperti jari-jari kaki manusia. Anda tidak akan mendapati ini pada hewan.25) Pengujian-pengujian morfologis tetap menunjukkan bahwa jejak-jejak kaki tersebut harus diakui berasal dari manusia, lebih jauh lagi, manusia modern (Homo sapiens). Russell Tuttle yang mempelajari ini menulis: Jejak-jejak ini mungkin berasal dari seorang Homo sapiens kecil yang bertelanjang kaki... Dari semua ciri morfologi yang teramati, kaki individu yang membuat jejak tersebut tidak berbeda dengan kaki manusia modern.26) Penelitian yang jujur tentang jejak-jejak kaki tersebut mengungkapkan pemilik sebenarnya. Pada kenyataan, jejak-jejak kaki ini terdiri dari 20 jejak dari seorang manusia modern berusia 10 tahun yang membatu 26

dan 27 jejak kaki dari seorang yang lebih muda. Mereka benar-benar manusia modern seperti kita. Situasi ini menjadikan jejak kaki Laetoli sebagai topik diskusi selama bertahun-tahun. Para pakar paleoantropologi evolusionis berupaya keras memikirkan sebuah penjelasan karena sulit bagi mereka menerima kenyataan bahwa manusia modern telah berjalan di muka bumi 3,6 juta tahun lalu. Pada tahun 1990-an, "penjelasan" ini mulai terbentuk. Evolusionis memutuskan bahwa jejak kaki ini tentunya ditinggalkan oleh Australopithecus, sebab menurut teori mereka, mustahil spesies homo ada 3,6 juta tahun lalu. Dalam artikelnya pada tahun 1990, Russell H. Tuttle menulis sebagai berikut: Singkatnya, jejak kaki berusia 3,5 juta tahun di situs G Laetoli menyerupai jejak manusia modern yang biasa bertelanjang kaki. Tidak ada ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hominid Laetoli memiliki kemampuan bipedal yang lebih rendah dari kita. Kalau saja jejak pada situs G ini tidak diketahui setua itu, kami akan langsung menyimpulkan bahwa jejak tersebut dibuat oleh anggota genus Homo.... Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan asumsi lemah bahwa jejak Laetoli telah dibuat oleh jenis Lucy, yaitu Australopithecus aferensis.27) Dengan kata lain, jejak-jejak berumur 3,6 juta tahun ini tidak mungkin milik Australopithecus. Satu-satunya alasan mengapa jejak-jejak ini dianggap berasal darinya adalah karena jejak tersebut berada pada lapisan vulkanik berumur 3,6 juta tahun. Jejak tersebut dianggap milik Australopithecus dengan asumsi bahwa manusia tidak mungkin telah hidup pada zaman seawal itu. Penafsiran jejak Laetoli menunjukkan kepada kita suatu realita yang sangat penting. Evolusionis mendukung teorinya tidak dengan mempertimbangkan temuan ilmiah, tetapi justru mengabaikannya. Di sini kita mendapati sebuah teori yang dibela secara membabi bu-ta, dan semua temuan yang bertentangan dengan teori tersebut diabaikan atau diselewengkan demi tujuan mereka. Singkatnya, teori evolusi bukan ilmu pengetahuan, tetapi dogma yang dijaga agar tetap hidup dengan mengabaikan ilmu pengetahuan.

Kebuntuan Bipedalisme bagi Evolusi
Penelitian terakhir mengungkapkan bahwa tidak mungkin bagi kerangka bungkuk kera yang sesuai untuk berjalan kuadripedal 27

berevolusi menjadi kerangka tegak manusia yang sesuai untuk berjalan bipedal. Terlepas dari catatan fosil yang telah kita diskusikan, lebarnya jarak perbedaan anatomis antara manusia dan kera juga menggugurkan cerita rekaan evolusi manusia. Salah satu perbedaan ini berhubungan dengan cara berjalan. Manusia berjalan tegak dengan kedua kakinya. Suatu cara bergerak yang sangat unik dan tidak didapati pada spesies-spesies lain. Sebagian hewan memang memiliki kemampuan terbatas untuk bergerak sembari berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Hewan seperti beruang dan monyet terkadang bergerak seperti ini ketika hendak menggapai makanan, dan hanya selama beberapa saat. Normalnya, kerangka mereka condong ke depan dan mereka berjalan dengan empat kaki. Lalu kemudian, apakah bipedalisme merupakan hasil evolusi dari cara berjalan monyet yang kuadripedal seperti yang diklaim evolusionis? Tentu saja tidak. Penelitian telah menunjukkan bahwa evolusi bipedalisme tidak pernah dan tidak mungkin terjadi. Pertama, cara berjalan bipedal bukan suatu keuntungan. Cara monyet bergerak lebih mudah, lebih cepat dan lebih efisien daripada cara berjalan bipedal manusia. Manusia tidak dapat meloncat dari satu pohon ke pohon lain tanpa menyentuh tanah seperti simpanse, atau berlari dengan kecepatan 125 km/jam seperti cheetah. Sebaliknya, karena manusia berjalan dengan kedua kakinya, ia bergerak jauh lebih lambat di atas tanah. Untuk alasan yang sama, manusia adalah salah satu spesies yang paling tidak terlindung di alam, jika ditinjau dari gerakan dan pertahanan. Menurut logika evolusi, monyet seharusnya tidak berevolusi mengambil cara berjalan bipedal. Sebaliknya, manusialah yang seharusnya berevolusi menjadi kuadripedal. Kebuntuan lain dari klaim evolusi adalah bahwa cara berjalan bipedal tidak sesuai dengan model "perkembangan bertahap" Darwinisme. Model ini, yang menjadi dasar evolusi, mengharuskan adanya suatu cara berjalan "gabungan" antara cara berjalan bipedal dan kuadripedal. Tetapi penelitian komputer yang dilakukan Robin Crompton, seorang ahli paleoantropologi Inggris pada tahun 1996 menunjukkan bahwa "gabungan" ini mustahil terjadi. Crompton mencapai kesimpulan berikut ini: Mahluk hidup hanya dapat berjalan tegak, atau dengan keempat kakinya.28) Cara berjalan setengahsetengah antara bipedal dan kuadripedal sangat menguras energi. Itu 28

sebabnya tidak mungkin ada makhluk setengah bipedal. Jarak yang terlalu jauh antara manusia dan kera tidak hanya meliputi bipedalisme. Masih banyak hal lain yang tidak dapat diterangkan seperti kapasitas tengkorak, kemampuan ber-bicara, dan sebagainya. Elaine Morgan, seorang ahli paleoantropologi evolusionis, mengakuinya: Empat misteri yang paling membingungkan tentang manusia adalah: 1) me-ngapa mereka berjalan dengan dua kaki? 2) mengapa mereka kehilangan seluruh bulu? 3) mengapa mereka mengembangkan otak yang besar? 4)mengapa mereka belajar berbicara? Jawaban ortodoks untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah: 1) 'Kita belum tahu'; 2) 'Kita belum tahu'; 3) 'Kita belum tahu'; 4) 'Kita belum tahu'. Daftar pertanyaan bisa bertambah panjang tanpa mengubah kemonotonan jawaban.29)

Evolusi: Kepercayaan yang Tidak Ilmiah
Lord Solly Zuckerman adalah salah seorang peneliti terkemuka dan terhormat di Inggris. Bertahun-tahun ia meneliti catatan fosil dan melakukan banyak penyelidikan secara terperinci. Ia dianugerahi gelar kebangsawanan "Lord" untuk kontribusinya bagi ilmu pengetahuan. Zuckerman adalah seorang evolusionis. Jadi, komentarnya mengenai evolusi tidak dapat dianggap sebagai pernyataan untuk menentang teori evolusi. Setelah bertahun-tahun meneliti fosil yang digunakan dalam skenario evolusi manusia, ia berkesimpulan bahwa silsilah seperti itu tidak ada. Zuckerman juga menyusun sebuah "spektrum ilmu pengetahuan" yang menarik. Ia membentuk spektrum ilmu pengetahuan dari yang dianggapnya ilmiah hingga tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang paling "ilmiah" tergantung pada data konkret adalah bidang kimia dan fisika. Setelah itu biologi, kemudian diikuti ilmu-ilmu sosial. Pada ujung berlawanan, yang dianggap paling tidak "ilmiah", terdapat "extra-sensory perception (ESP)"konsep seperti telepati dan indra keenam dan terakhir adalah "evolusi manusia". Zuckerman menjelaskan alasannya: Kita kemudian bergerak dari kebenaran objektif langsung ke bidang-bidang yang dianggap sebagai ilmu biologi, seperti extra sensory perception atau interpretasi sejarah fosil manusia. Dalam bidang-bidang ini, segala sesuatu mungkin terjadi 29

bagi yang percaya, dan orang yang sangat percaya kadang-kadang mampu meyakini sekaligus beberapa hal yang saling kontradiktif.30) Lalu, alasan apa yang membuat banyak ilmuwan berkeras mempertahankan dogma ini? Mengapa mereka berusaha begitu keras mempertahankan teori ini agar tetap hidup, walaupun harus mengalami berbagai konflik dan membuang bukti-bukti yang mereka temukan sendiri? Satu-satunya jawaban adalah ketakutan mereka akan fakta yang harus mereka hadapi jika teori evolusi ini ditinggalkan. Fakta bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Akan tetapi, mengingat praduga dan filsafat materialistis mereka, penciptaan adalah konsep yang tidak dapat diterima evolusionis. Untuk alasan ini, mereka menipu diri sendiri serta semua orang di dunia, melalui kerja sama dengan media massa. Jika mereka tidak dapat menemukan fosil yang dibutuhkan, mereka akan "membuatnya" baik dalam bentuk gambar rekaan atau model-model khayalan, dan mencoba memberikan kesan bahwa fosil-fosil yang membuktikan teori evolusi benar-benar ada. Sebagian media massa yang menganut pandangan materialistis juga mencoba menipu masyarakat dan menanamkan kisah evolusi ke alam bawah sadar manusia. Sekeras apa pun mereka mencoba, kebenaran tetap jelas: manusia muncul bukan melalui proses evolusi tetapi karena telah diciptakan Allah. Karena itu, manusia bertanggung jawab kepadaNya betapa pun ia tidak ingin menerima tanggung jawab ini. PUSTAKA : 1. David Pilbeam, "Humans Lose an Early Ancestor", Science, April 1982, S.6- 7. 2. Engin Korur, "Gözlerin ve Kanatlarin Sirri" (The Mystery of the Eyes and the Wings) , Bilim ve Teknik, No. 203, Oktober 1984, hlm. 25. 3. Nature, Vol. 382, 1 Agustus 1996, hlm. 401. 4. Carl O. Dunbar, Historical Geology, New York: John Wiley and Sons, 1961, hlm. 310. 5. Holly Smith, American Journal of Physical Antropology, Bd. 94, 1994, S. 307-325 ff.

30

6. Fred Spoor, Bernard Wood, Frans Zonneveld, "Implication o Early Hominid Labryntine Morphology for Evolution of Human Bipedal Locomotion", Nature, Bd. 369, Juni 23, 1994, S. 645-648 ff. 7. Tim Bromage, New Scientist, Bd. 133, 1992, S. 38-4 8. J. E. Cronin, N. T. Boaz, C. B. Stringer, Y. Rak, "Tempo and Mode in Hominid Evolution", Nature, Bd. 292, 1981, S. 113-122 ff 9. C. L. Brace, H. Nelson, N. Korn, M. L. Brace, Atlas of Human Evolution, 2.b. New York: Rinehart and Wilson, 1979 10. Alan Walker, Scientific American, Bd. 239 (2), 1978, S. 54 11. Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids, Baker, 1992, S. 83. 12. Boyce Rensberger, The Washington Post, November 19, 1984 13.Ýbid. 14. Richard Leakey, The Making of Mankind, London: Sphere Books,1981, S. 62. 15.Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids, Baker,1992. S. 136. 16. Erik Trinkaus, "Hard Times Among the Neandertals", Natural History, Bd. 87, Dezember 1978, S. 10; R. L. Holloway, "The Neandertal Brain: What Was Primitive", American Journal of Physical Anthropology Supplement, Bd. 12, 1991, S. 94 17.Alan Walker, Science, Bd. 207, 1980, S. 1103 18. A. J. Kelso, Physical Antropology, 1. Aufl., New York: J. B. Lipincott Co., 1970, S. 221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge, Bd. 3, Cambridge: Cambridge University Press, 1971, S. 272. 19. S. J. Gould, Natural History, Bd. 85, 1976, S. 30. 20. Time, November 1996. 21. L. S. B. Leakey, The Origin of Homo Sapiens, ed. F. Borde, Paris: UNESCO, 1972, S. 25 ff.; L. S. B. Leakey, By the Evidence, New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1974. 22. "Is This The Face of Our Past", Discover, Dezember 1997, S. 97 ff. 23. A. J. Kelso, Physical Anthropology, 1.b., 1970, S. 221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge, Bd. 3, Cambridge: Cambridge University Press, 1971, S. 272. 24. Donald C. Johanson & M. A. Edey, Lucy: The Beginnings of Humankind, New York: Simon & Schuster, 1981, S. 250. 25. Science News, Bd. 115, 1979, S. 196 f. 26. Ian Anderson, New Scientist, Bd. 98, 1983, S. 373. 27. Russell H. Tuttle, Natural History, März 1990, S. 61 ff. 28. Ruth Henke, "Aufrecht aus den Bäumen", Focus, Bd. 39, 1996, S. 17. 31

29.Elaine Morgan, The Scars of Evolution, New York: Oxford University Press, 1994, S. 5. 30. Solly Zuckerman, Beyond The Ivory Tower, New York: Toplinger Publications,1970,S. 19

32

Media: Lahan Subur bagi Evolusi
Hery Romadan" <romadan@samarinda.org> Sent: Tuesday, November 02, 2004 3:27 PM Seperti yang telah diuji dan ditunjukkan sejauh ini, teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap evolusi sebagai fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui media adalah kunci keberhasilan penipuan ini. Karena itu, kami perlu mengulas ciri-ciri khusus indoktrinasi dan propaganda ini. Jika mencermati media-media Barat, kita akan sering men-jumpai berita-berita yang membahas teori evolusi. Organisasi media terkemuka dan majalah-majalah tekenal dan "terhormat" mengangkat topik ini secara berkala. Dari pendekatan mereka, orang akan mendapatkan kesan bahwa teori ini benar-benar fakta yang telah terbukti mutlak tanpa peluang untuk diskusi. Pembaca awam biasanya mulai berpikir bahwa teori evolusi adalah fakta yang sama pastinya dengan hukum matematika. Berita seperti ini di media-media terkemuka akan dikutip pula oleh media lokal. Mereka mencetak dengan headline besar: "Menurut majalah Time, fosil baru mata rantai yang hilang telah ditemukan"; atau "Nature menyatakan bahwa para ilmuwan telah menemukan titik terang dalam persoalan terakhir teori evolusi". Padahal, penemuan "mata rantai terakhir yang hilang dari rantai evolusi" tidak berarti apaapa, karena tidak ada bukti sama sekali tentang evolusi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, segala sesuatu yang ditunjukkan sebagai bukti hanyalah kebohongan. Di samping media, hal serupa terjadi pula pada sumber-sumber ilmiah, ensiklopedia, dan buku-buku biologi.

Propaganda Evolusionis
Majalah-majalah ilmu pengetahuan populer telah memimpin propaganda evolusi dan berperan penting dalam mengajak publik mempercayai teori evolusi. 33

Singkatnya, media dan kalangan akademisi yang menjadi pusat-pusat kekuatan anti agama, mempertahankan pandangan evolusionis dan memaksakannya kepada masyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif sehingga akhirnya evolusi menjadi sebuah gagasan yang tidak pernah ditolak. Penolakan terhadap teori evolusi dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan mengabaikan realitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan telah tersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui ilmuwan evolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi dalam lingkungan ilmiah atau dalam media. Majalah-majalah yang diterima luas sebagai penerbitan paling bergengsi dalam bidang biologi dan ilmu alam di Barat seperti Scientific American, Nature, Focus, dan National Geographic, mengambil teori evolusi sebagai ideologi resmi dan berusaha menyajikan teori ini sebagai fakta yang telah dibuktikan kebenarannya.

Kebohongan yang Terbungkus Rapi
Kaum evolusionis mendapat banyak keuntungan dari program "cuci otak" media. Banyak orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasa perlu bertanya "bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti evolusionis dapat mengemas kebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan orang dengan mudah. Sebagai contoh, bahkan dalam buku evolusionis paling "ilmiah", "transisi dari air ke darat" yang merupakan fenomena terbesar evolusi tanpa bukti, "dijelaskan" dengan kesederhanaan yang konyol. Menurut teori evolusi, kehidupan berawal di air dan hewan yang pertama berkembang adalah ikan. Teori ini mengatakan bahwa pada suatu masa ikan-ikan ini meloncat ke darat karena suatu alasan (acap kali, kemarau dijadikan alasan), dan ikan-ikan yang memutuskan untuk hidup di darat kemudian memiliki kaki dan paru-paru, bukan sirip dan insang. Kebanyakan buku evolusionis tidak menjawab pertanyaan "bagaimana" dalam suatu pokok bahasan. Bahkan dalam sumber paling "ilmiah" pun, kejanggalan pernyataan mereka ditutupi dengan kalimat seperti "peralihan dari air ke darat akhirnya terjadi".

34

Bagaimana "peralihan" ini terjadi? Kita tahu bahwa ikan tidak dapat bertahan hidup di darat lebih dari beberapa menit. Jika kita asumsikan musim kering terjadi dan ikan harus pindah ke darat, apa yang akan terjadi pada ikan tersebut? Jawabannya sudah jelas. Semua ikan akan mati satu per satu dalam beberapa menit. Meskipun proses ini berlangsung dalam periode puluhan juta tahun, jawabannya tetap sama: ikan akan mati satu per satu. Alasannya, organ sekompleks paru-paru tidak akan sekonyong-konyong muncul secara "kebetulan" melalui mutasi; tetapi di lain pihak, setengah paru-paru pun tidak berguna sama sekali. Akan tetapi, persis seperti inilah yang diajukan evolusionis. "Peralihan dari air ke darat", "peralihan dari darat ke udara" dan banyak lagi lompatan-lompatan lain "dijelaskan" dalam istilah-istilah yang tidak logis ini. Sementara tentang pembentukan organ-organ sekompleks mata dan telinga, evolusionis lebih memilih diam. Sangat mudah mempengaruhi orang di jalan dengan paket "ilmu pengetahuan" ini. Anda tinggal membuat gambar khayal yang menunjukkan peralihan dari darat ke air, mengarang nama Latin untuk hewan di air, "keturunannya" di darat, dan "bentuk transisi" (yang merupakan hewan rekaan), kemudian menyusun kebohongan besar: "Dalam proses evolusi yang panjang, Eusthenopteron mula-mula berubah menjadi Rhiptistian Crossopterian, kemudian menjadi Ichthyostega". Anda akan berhasil meyakinkan banyak orang jika katakata ini disampaikan oleh seorang ilmuwan berkacamata tebal dan berjas putih. Ini karena media yang membaktikan diri untuk mempromosikan evolusi akan membantu Anda mengumumkan berita baik ini ke seluruh dunia dengan antusiasme tinggi.

Dongeng Evolusionis
Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka, teori evolusi adalah dongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang sangat tidak masuk akal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki kekuatan dan kecerdasan ajaib untuk menciptakan bentukbentuk kehidupan yang kompleks. Kisah panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek. Salah satu fabelnya yang aneh adalah tentang "evolusi ikan paus" yang diterbitkan National Geographic, salah satu majalah yang dianggap sebagai publikasi paling ilmiah dan serius di dunia: Keuntungan paus memperoleh tubuh besar 35

tampaknya bermula pada 60 juta tahun yang lalu, ketika mamalia berambut dan berkaki empat yang mencari makan atau perlindungan masuk ke dalam air. Masa demi masa berlalu, perubahan sedikit demi sedikit terjadi. Kaki belakang lenyap, kaki depan menjadi sirip, bulubulu rontok menyisakan lapisan lemak yang tebal dan licin, hidung pindah ke bagian atas kepala, ekor melebar menjadi sirip belakang dan di dunia air tubuhnya menjadi sangat besar.1) Selain tidak mempunyai landasan ilmiah, kejadian seperti ini bertentangan dengan prinsip-prinsip alam. Fabel yang diterbitkan dalam National Geographic ini patut dicatat sebagai indikasi besarnya kebohongan dalam terbitan-terbitan evolusionis yang tampak serius. Dongeng lain yang patut mendapat perhatian adalah mengenai asal usul mamalia. Kaum evolusionis berargumen bahwa nenek moyang mamalia adalah reptil. Namun ketika harus menjelaskan peralihan bentuk secara terperinci, muncul cerita menarik. Berikut adalah contohnya: Sebagian reptil di wilayah dingin mulai mengembangkan cara untuk menjaga tubuh mereka agar tetap hangat. Panas yang dikeluarkan tubuh meningkat ketika cuaca dingin, dan panas yang hilang semakin berkurang ketika sisik mengecil and meruncing, dan akhirnya menjadi bulu. Berkeringatpun merupakan adaptasi untuk mengatur suhu tubuh, suatu cara untuk menyejukkan tubuh saat diperlukan, dengan menguapkan air. Namun secara kebetulan, reptil muda mulai menjilati keringat induknya sebagai makanan. Kelenjar keringat tertentu mulai mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin bergizi sehingga akhirnya menjadi susu. Maka, mamalia muda pertama ini memulai kehidupan dengan lebih baik.2) Gagasan bahwa makanan yang terpola dengan baik seperti susu berasal dari kelenjar keringat, serta semua perincian di atas hanyalah buah imajinasi evolusioner yang aneh dan tanpa dasar ilmiah. PUSTAKA : 1) Victor B. Scheffer, "Exploring the Lives of Whales", National Geographic, Vol. 50, Desember 1976, hlm. 752 2) George Gamow, Martynas Ycas, Mr. Tompkins Inside Himself, London: Allen & Unwin, 1968, hlm. 149

36

Penipuan-Penipuan Evolusi
"Hery Romadan" <romadan@samarinda.org> Tuesday, November 02, 2004 3:07 PM Tidak ada bukti fosil yang nyata untuk mendukung gambaran "manusia kera" yang tidak putus-putusnya diindoktrinasikan media masa dan akademisi evolusionis. Dengan kuas di tangan, evolusionis membuat makhluk-makhluk khayalan. Namun mereka memiliki masalah serius karena tidak ada fosil-fosil yang cocok dengan gambargambar itu. Salah satu metode menarik yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah ini adalah "membuat" fosil-fosil yang tidak dapat mereka temukan. Manusia Piltdown, skandal paling menghebohkan dalam sejarah ilmu pengetahuan, adalah contoh khas metode ini.

Manusia Piltdown: Rahang Orang Utan dan Tengkorak Manusia!
Seorang dokter terkenal yang juga ahli paleoantropologi amatir, Charles Dawson, menyatakan bahwa ia telah menemukan tulang rahang dan fragmen tengkorak di dalam sebuah lubang di Piltdown, Inggris, pada tahun 1912. Tulang rahang tersebut lebih mirip tulang rahang kera, tetapi gigi dan tengkoraknya seperti milik manusia. Spesimen ini dinamakan "Manusia Piltdown". Fosil ini diduga berusia 500 ribu tahun, dan dipajang di beberapa museum sebagai bukti mutlak evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun, telah banyak artikel ilmiah mengenai "Manusia Piltdown" ditulis, sejumlah penafsiran dan gambar dibuat, dan fosil tersebut dikemukakan sebagai bukti penting evolusi manusia. Tidak kurang dari 500 tesis doktor ditulis mengenai subjek ini.1) Seorang ahli paleoantropologi terkenal dari Amerika, Henry Fairfield Osborn, ketika sedang mengunjungi British Museum pada tahun 1935 berkata"... kita harus selalu diingatkan bahwa alam dipenuhi paradoks, dan ini adalah suatu temuan mengejutkan tentang manusia prasejarah...."2)

37

Kisah Sebuah Kebohongan
Fosil ditemukan oleh Charles Dawson dan diserahkan kepada Sir Arthur Smith Woodward. Potongan-potongan fosil direkonstruksi membentuk tengkorak yang terkenal itu. Berdasarkan rekonstruksi tengkorak, telah dibuat beragam gambar dan patung dan ditulis banyak artikel dan komentar. Tengkorak asli dipamerkan di British Museum. Empat puluh tahun setelah penemuan, sekelompok peneliti memastikan bahwa fosil Piltdown itu palsu. Pada tahun 1949, Kenneth Oakley dari departemen paleontologi British Museum mencoba metode "pengujian fluorin", pengujian baru yang digunakan untuk menentukan umur fosil-fosil tua. Uji coba dilakukan pada fosil manusia Piltdown. Hasilnya sungguh mengejutkan. Selama pengujian, diketahui bahwa tulang rahang Manusia Piltdown tidak mengandung fluorin. Ini menunjukkan bahwa tulang rahang tersebut terkubur tidak lebih dari beberapa tahun. Sedangkan tengkoraknya, yang hanya mengandung sejumlah kecil fluorin, menunjukkan usianya hanya beberapa ribu tahun. Penelitian kronologis terakhir yang dilakukan dengan menggunakan metoda fluorin menunjukkan bahwa tengkorak tersebut hanya berusia beberapa ribu tahun. Terbukti pula bahwa gigi pada tulang rahang adalah dari orang utan yang dibuat seolah usang, dan bahwa peralatan-peralatan "primitif" yang ditemukan bersama fosil hanya imitasi sederhana yang telah diasah dengan peralatan baja.3) Dalam analisis teperinci yang diselesaikan oleh Weiner, pemalsuan ini diumumkan pada tahun 1953. Tengkorak tersebut milik manusia yang berusia 500 tahun, dan tulang rahangnya milik kera yang baru saja mati! Kemudian gigi-gigi disusun berderet dan ditambahkan pada rahangnya secara khusus, dan sendinya dirancang menyerupai sendi manusia. Lalu semua bagian diwarnai dengan potasium dikromat agar tampak tua. Warna ini memudar ketika dicelup dalam larutan asam. Le Gros Clark, anggota tim yang membongkar penipuan ini, tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya atas peristiwa ini dan mengatakan bahwa "bukti-bukti abrasi tiruan dengan segera tampak di depan mata. Hal ini begitu jelasnya hingga patut dipertanyakan bagaimana ini sampai lolos dari pengamatan sebelumnya?"4) Dengan terungkapnya fakta ini, "Manusia Piltdown" kemudian segera disingkirkan dari British 38

Museum setelah lebih dari 40 tahun dipajang di sana. Ilustrasi di atas ini digambar berdasarkan satu gigi dan diterbitkan dalam majalah Illustrated London News pada tanggal 24 Juli 1922. Akan tetapi, evolusionis sangat kecewa ketika terungkap bahwa gigi ini bukan milik makhluk mirip kera atau manusia, tetapi milik spesies babi yang telah punah.

Manusia Nebraska: Gigi Babi
Pada tahun 1922, Henry Fairfield Osborn, manajer American Museum of Natural History, mengumumkan bahwa ia telah menemukan sebuah fosil gigi geraham yang berasal dari periode Pliosin, di Nebraska Barat, dekat Snake Brook. Gigi ini dinyatakan memiliki karakteristik gigi manusia dan gigi kera. Argumentasi ilmiah yang mendalam pun dimulai. Sebagian orang menafsirkan gigi ini berasal dari Pithecanthropus Erectus, sedangkan yang lain menyatakan gigi tersebut lebih menyerupai gigi manusia. Fosil yang menimbulkan perdebatan sengit ini dinamakan "Manusia Nebraska". Manusia baru ini juga dengan segera diberi "nama ilmiah": Hesperopithecus Haroldcooki. Banyak ahli yang memberikan dukungan kepada Osborn. Berdasarkan satu gigi ini, rekonstruksi kepala dan tubuh Manusia Nebraska pun digambar. Lebih jauh, Manusia Nebraska bahkan dilukis bersama istri dan anak-anaknya, sebagai sebuah keluarga utuh dengan latar belakang alam. Semua skenario ini dikembangkan hanya dari satu gigi. Evolusionis begitu meyakini keberadaan "manusia bayangan" ini, hingga ketika seorang peneliti bernama William Bryan menolak keputusan menyimpang yang mengandalkan satu gigi ini, ia dikritik dengan kasar. Pada tahun 1927, bagian lain kerangkanya juga ditemukan. Menurut potongan-potongan tulang ini, gigi tersebut bukan milik manusia atau kera, melainkan milik spesies babi liar Amerika yang telah punah, bernama prosthennops. William Gregory memberi judul artikelnya yang dimuat majalah Science dengan: "Hesperopithecus: Apparently Not An Ape Nor A Man (Hesperopithecus: Ternyata Bukan Kera Maupun Manusia)". Dalam artikel itu ia mengumumkan kekeliruan ini.5) Setelah itu semua gambar Hesperopithecus Haroldcooki dan 39

"keluarganya" segera dihapus dari literatur evolusi.

Ota Benga: Orang Afrika dalam Kerangkeng
OTA BENGA: "Orang Pigmi di Kebun Binatang" Setelah Darwin menyatakan bahwa manusia berevolusi dari makhluk hidup yang mirip kera melalui bukunya The Descent of Man, ia kemudian mulai mencari fosil-fosil untuk mendukung argumentasinya. Bagaimanapun, sejumlah evolusionis percaya bahwa makhluk "separo manusia - separo kera" tidak hanya ditemukan dalam bentuk fosil, tetapi juga dalam keadaan hidup di berbagai belahan dunia. Di awal abad ke-20, pencarian "mata rantai transisi yang masih hidup" ini menghasilkan kejadian-kejadian memilukan, dan yang paling biadab di antaranya adalah yang menimpa seorang Pigmi (suku di Afrika Tengah dengan tinggi badan rata-rata kurang dari 127 sentimeter) bernama Ota Benga. Ota Benga ditangkap pada tahun 1904 oleh seorang peneliti evolusionis di Kongo. Dalam bahasanya, nama Ota Benga berarti "teman". Ia memiliki seorang istri dan dua orang anak. Dengan dirantai dan dikurung seperti binatang, ia dibawa ke Amerika Serikat. Di sana, para ilmuwan evolusionis memamerkannya untuk umum pada Pekan Raya Dunia di St. Louis bersama spesies kera lain dan memperkenalkannya sebagai "mata rantai transisi terdekat dengan manusia". Dua tahun kemudian, mereka membawanya ke Kebun Binatang Bronx di New York. Ia dipamerkan dalam kelompok "nenek moyang manusia" bersama beberapa simpanse, gorila bernama Dinah, dan orang utan bernama Dohung. Dr. William T. Hornaday, seorang evolusionis direktur kebun binatang tersebut memberikan sambutan panjang lebar tentang betapa bangganya ia memiliki "bentuk transisi" yang luar biasa ini di kebun binatangnya dan memperlakukan Ota Benga dalam kandang seolah ia seekor binatang biasa. Tidak tahan dengan perlakuan yang diterimanya, Ota Benga akhirnya bunuh diri. 6)

Manusia Piltdown, Manusia Nebraska, Ota Benga....
Skandal-skandal ini menunjukkan bahwa ilmuwan evolusionis tidak ragu-ragu menggunakan segala cara yang tidak ilmiah untuk membuktikan teori mereka. Dengan mengingat hal ini, ketika kita 40

melihat yang dinamakan bukti lain dari mitos "evolusi manusia", kita akan menghadapi situasi yang sama. Inilah sebuah cerita fiksi dan sepasukan relawan yang siap mencoba apa saja untuk membenarkan cerita itu. PUSTAKA : 1. Malcolm Muggeridge, The End of Christendom, Grand Rapids, Eerdmans, 1980, S. 59 2. Stephen Jay Gould, "Smith Woodward's Folly", New Scientist,5. February 1979, S. 44 3. Kenneth Oakley, William Le Gros Clark & J. S, "Piltdown", Meydan Larousse, Bd. 10, S. 133 4. Stephen Jay Gould, "Smith Woodward's Folly", New Scientist,5. April 1979, S. 44 5. W. K. Gregory, "Hesperopithecus Apparently Not An Ape Nor A Man", Science, Bd. 66, Dezember 1927, S. 579 6. Philips Verner Bradford, Harvey Blume, Ota Benga: The Pygmy in The Zoo, New York: Delta Books, 1992 Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan. Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut. © Harun Yahya Internasional 2004. Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini info@harunyahya.com

41

KEBOHONGAN BERBALUT PENELITIAN ILMIAH
Saudara Syafrudin mengaku kecewa kepada para guru di sekolah yang mencekoki muridnya dengan Teori Darwin yang menurutnya hasil manipulasi ilmiah. "Sudah sekian lama kita menikmati kebohongan berbalut penelitian ilmiah itu," keluhnya. Perasaan itu ia ungkapkan usai membaca buku karya Harun Yahya berjudul 'Keruntuhan Teori Evolusi' terbitan Dzikra, Bandung - hasil terjemahan dari buku 'The Evolution Deceit'. Ia bercerita, anak ketiganya yang baru kelas lima SD - anggota ProFauna Indonesia - telah berulang-ulang membaca buku tersebut. Hasilnya? "Kini anak saya hanya senyum-senyum saja kalau gurunya menyinggung Evolusi Darwin itu," ujar Syafruddin. Pendapat senada dikemukakan oleh rekan Hery Romadan <romadan@samarinda.org> di Samarinda. Pada awalnya ia sangat percaya pada Teori Darwin karena dari SMP sampai kuliah selalu dicekoki bahwa teori itu mengandung kebenaran. Namun ia lalu membaca buku karya Harun Yahya yang dengan tegas membantah teori tersebut. Usai membaca buku itu, ia semakin percaya bahwa setiap makhluk hidup diciptakan sesuai kekhasannya. Dan kalaupun ada Hf yang hidup 18.000 tahun lalu, itu adalah makhluk yang sudah punah dan tidak mungkin berevolusi. Kalau begitu ceritanya, apakah materi pelajaran di sekolah dan beberapa mata kuliah di perguruan tinggi harus dirombak total? Artinya Teori Darwin harus dibuang jauh-jauh dari buku-buku pelajaran? Apakah jurusan Arkeologi, Fakultas Biologi dan lainnya yang sudah lama bertengger di kampus-kampus perguruan tinggi ternama harus ditutup karena mengajarkan sesuatu yang menurut Harun Yahya mengandung kebohongan? Tapi betulkah yang ditulis oleh Harun Yahya sudah teruji dan sudah terbukti kebenarannya? Mana yang bengkok? Mana yang harus diluruskan?

42

Tentang teori evolusi, rekan Agus Hamonangan <agus_hamonangan@yahoo.com.sg> cuma berkomentar pendek: "Bagi saya pribadi agak sulit memastikan apakah teori evolusi itu benar atau tidak. Tapi saya ada batasan dikala belajar sejarah atau bahasan evolusi. Saya tidak akan mencampuradukkan dengan ilmu pengetahuan agama, karena selalu kontra." Perkembangan terbaru, menurut info dari Zhao Yun <zhaoyun1964@yahoo.com>,, kini di AS lagi gencarnya serangan dari kaum ID (intelligent design = nama baru kaum creationist) yang menghajar kurikulum SD dengan mengatakan bahwa 'teori evolusi itu baru 'work-in-progress' jadi harus diberikan 'teori alternatif'nya - yaitu ID alias creationism alias 'bible-talk'. Rekan Zhao Yun (ZY) memberikan beberapa contoh website kreasionis yang ngawur, antara lain: http://www.cryingvoice.com/Evolution/AgeEarth1.html atau http://genesismission.4t.com/emf.html Menurut ZY, kedua website itu sebenarnya adalah pesan keagamaan yang dibungkus dengan embelembel sains. "Scientifically, both are crap!" Ia lalu memberikan link website yang memberikan sanggahan dan analisa yang cukup baik dan terstruktur, klik: http://www.talkorigins.org/faqs/magfields.html Di akhir emailnya ia memberikan saran, "Kalau mau melihat analisaanalisa bidang keilmiahan, tolong cari sumber-sumber yang kompeten serta tidak memihak. Last but not least, tolong telaah sendiri, apakah sumber informasi atau sanggahan yang saya sodorkan di talkorigins.org tersebut bermutu atau tidak. Kalau kurang bermutu, tolong tunjukkan tidak mutunya dimana, dan mungkin kita bisa berdebat lebih lanjut tentang 'Earth Magnetic Field Decay Theory'.

DARI KERA JADI MANUSIA?
Rekan M. Yayat Afianto <m-yayatafianto@telapak.org> yang menentang keras Teori Darwin disanggah peserta diskusi lainnya. Kala itu ia bilang: "Sudah jelas bagi saya, setiap mahluk hidup diciptakan sempurna adanya dan tidak akan berubah dari reptil menjadi aves dan dari kera menjadi manusia." Lalu rekan Fajar Siswandaru <japar@telkom.net> menjelaskan bahwa Teori Darwin tidak menyebut kera menjadi manusia, tapi hanya menyebut bahwa ada proses "natural selection" yang mempengaruhi 43

evolusi. Dan mahluk hidup punya kemampuan untuk "berubah" secara gradual yang dipengaruhi oleh proses adaptasi dengan lingkungannya. "Teori Darwin sama sekali tak menyatakan bahwa proses "natural selection" itu berlangsung secara "tidak terkendali" (chaotic). Justru "keterkendalian" proses evolusi itu yang menjadi "misteri". Contoh mengapa tidak ada mahluk cerdas sekaliber manusia yang muncul dari klas reptil, serangga atau ikan? Mengapa koq munculnya dari mamalia saja? Have u all ever thought about it?" ujar Fajar. Sedangkan Dami Buchori <danahasi@indo.net.id> memberikan klarifikasi atas pernyataan Yayat. "Pak Yayat, terlepas dari setuju atau tidaknya saya dengan teori evolusinya Darwin, menurut saya ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi, supaya jelas. Darwin tidak pernah mengatakan bahwa aves lebih sempurna dari reptil, bahwa kera lebih sempurna dari aves ataupun bahwa reptil is less perfect than kera. Terjadinya perubahan bukan karena bentuk yang satu is less perfect than the others. This is definitely an oversimplification of Darwin's theory. Hal ini banyak kaitannya dengan perubahan lingkungan, adaptasi dan seleksi. Yang dimaksud dalam textbook "less evolved" sebetulnya tidak dapat diterjemahkan sebagai "tidak sempurna lho". Darwin juga mengakui kok bahwa apa yang kita lihat di alam merupakan hasil akhir dari perkembangan spesies tersebut yang paling sempurna . Tapi ini pandangan secara generalis saja, karena kita harus memperhitungkan juga genetic effect karena pleiotropi dan genetic linkage - ini masalah lain lagi. Tak mau kalah, Yayat pun mencoba membela diri. "Bila Darwin mengakui bahwa apa yang kita lihat di alam merupakan hasil akhir dari perkembangan spesies tersebut yang paling sempurna, berarti saat itu juga runtuhlah teorinya sendiri tentang evolusi," tegas Yayat. Dami pun agak kesal dengan pembelaan Yayat. "Sebaiknya kalau benar-benar mau membaca teori Darwin, tolong baca dulu buku Origin of the Species. Sebaiknya baca sumber aslinya, karena perubahan bisa terjadi ketika orang menginterpretasikan buku itu, termasuk Harun Yahya. Hati-hati baca buku karangan Harun Yahya, karena banyak ulasannya yang tak benar. Kalau Anda tidak percaya evolusi berarti Anda tidak percaya bahwa bakteri bisa resisten terhadap antibiotik, bahwa serangga bisa resisten terhadap pestisida. Karena proses itu adalah contoh paling kecil dari terjadinya evolusi." 44

"Lalu kalimat Anda yang menyebut Hf itu mahkluk yang punah bukan berevolusi, justru menunjukkan bahwa Anda percaya evolusi. Kalimat Anda bisa diartikan: bahwa makhluk yang sekarang ada, telah melalui proses evolusi karena tidak punah. Kepunahan tidak berarti tidak berevolusi lho, karena kepunahan bisa terjadi akibat genetic drift (hanyut genetis) pada populasi kecil," tegas Dami.

BANGSA YANG DUNGU
Sebagai penutup, saya sampaikan opini dari rekan Jusfiq Hadjar <jusfiq_cadangan@zonnet.nl> di Belanda. Ia menilai bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia tentang Teori Evolusi sepertinya minim walau sekelumit diajarkan di sekolah-sekolah. "Seingat saya di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 250 juta manusia itu harusnya ada museum natural history. Di Belanda saja yang cuma 'negeri selebar sapu tangan' dengan jumlah penduduk yang tak seberapa dibandingkan dengan Indonesia dan tidak punya homo wajakensis, homo soloensis atau biawak komodo, punya museum naturalis yang dengan jelas menunjukkan tahap-tahap evolusi itu terjadi," keluh Jusfiq. Menurutnya, dengan adanya museum natural history, anak-anak sejak dini segera tahu apa itu Homo neanderthalensis, Australopithecus afarensis - dan berita tentang ditemukannya Homo floresiensis juga dimuat di halaman pertama harian nasional seperti NRC-Handelsblad. "Secara berkala BBC juga menyampaikan berita tentang penemuan terakhir paleontologi yang makin menunjang teori Darwin ini. Kalau cuma baca tulisan Harun Yahya ya bangsa kita akan jadi semakin dungu," tambahnya. Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri

45

MENJAWAB FOSIL SEMUT
Pada posting sebelumnya dengan tajuk 'Mereka Yang Anti Teori Darwin', rekan Didiet Y Joehono <didiet@pmk.co.id> di Jakarta amat yakin bahwa teori evolusi itu tidak benar setelah ia membaca buku karangan Harun Yahya. Menurutnya, Adnan Oktar aka Harun Yahya membuktikan bahwa fosil semut yang berusia jutaan tahun, 'exactly the same' dengan semut yang saat ini masih berkeliaran di ruang makan dan dapur rumah kita. Artinya semut sudah diciptakan sebagai 'produk jadi' yang tidak perlu ada 'transitional form' segala. Ia menyayangkan Darwin keburu tiada, sehingga tak sempat mencari 'evidence' cukup lengkap untuk mendukung teori-teorinya. Opini dari Didiet langsung ditanggapi oleh rekan Tular Sudarmadi <tular_s@ugm.ac.id>, dosen Arkeologi UGM di Yogyakarta: "Binatang semut tidak berubah dari masa ke masa karena tanpa harus berevolusi pun mereka tetap survive. Nah, seharusnya untuk lebih membuktikan hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan percobaan dengan cara menempatkan semut pada habitat yang telah diubah selama jangka waktu yang lama dan diamati secara terus-menerus. Jika selama jangka waktu tersebut memang tidak terjadi perubahan berarti teori evolusi dapat disangkal." "Tapi sampai saat ini saya tidak jelas apakah bukti tidak adanya perubahan bentuk semut itu berdasarkan fossil semut dari masa lampau atau cetakan fossil semut? Mengingat untuk menjadi fossil harus ada faktor-faktor yang menyebabkannya dan tidak semua makhluk hidup dapat terselamatkan dalam bentuk fossil," jelas Tular. "Pada saat topik ini dibuka saya sudah mengira bahwa pasti sulit untuk memperoleh titik temu. Hal ini berdasarkan pengalaman saya mengikuti seminar-seminar dengan topik yang sama. Anyway saya seorang muslim yang mencoba untuk melakukan segala perintahNya dan meninggalkan semua laranganNya. Pada kasus evolusi menurut pandangan saya justru mempertebal rasa keimanan saya kepada Allah swt. Pertama proses evolusi menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan yang tidak dapat ditandingi oleh segala makhluk 46

ciptaannya. Kedua proses evolusi menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia hanya sebutir zarah bila dibandingkan dengan pengetahuan Allah SWT." "Sebagai buktinya mengapa ada makhluk semut yang dari awal mula penciptaan hingga sekarang tetap saja memiliki bentuk fisik yang sama. Di lain pihak mengapa kuda (equus) mengalami perubahan dari semula kecil pada masa awal mula penciptaan kemudian mengalami perubahan menjadi besar. Rasa keingin tahuan tentang hal-hal semacam itu tentunya mendorong orang untuk mencari jawabannya. Jawaban yang didapat bagi saya tidak berarti bahwa manusia maha tahu, tetapi justru menambah rasa hormat dan takjub saya terhadap kekuasaan Allah SWT." "Darwin sebagai seorang ilmuwan bahkan sering mendapat cercaan karena gagasannya tentang evolusi dan jalur tunggal dalam evolusi. Saya telah membaca beberapa buku yang menentang teori Darwin, meskipun demikian cara mengutip gagasan Darwin umumnya secara sepotong-sepotong dan tidak dipahami secara keseluruhan. Hal ini dapat dianalogikan dengan cara wartawan mengutip pendapat seseorang, kadang-kadang hanya dikutip sesuai dengan kebutuhan wartawan untuk mengarahkan opini publik agar berpihak kepadanya." "Memang teori Darwin tentang evolusi jalur tunggal telah terpatahkan, yaitu evolusi hanya berawal dari satu jalur keturunan, misal manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu primata, kemudian berevolusi menjadi australopithecus, kemudian ada 'missing link' nya yang terus dicari, kemudian akhirnya jadi Homo sapiens sapiens (punctual evolution)." "Saat ini para pakar evolusi sendiri pun telah menolak gagasan tersebut, meskipun demikian teori gradual evolution tetap belum terpatahkan, demikian juga teori tentang survival of the fittest. Artinya proses evolusi itu tidak terjadi secara jalur tunggal tetapi melalui beberapa tahapan-tahapan. Tahapan yang terjadi diakibatkan oleh proses adaptasi terhadap lingkungannya, hanya makhluk hidup yang mampu beradaptasi terhadap lingkungan dapat terus melanjutkan keturunannya. Buktinya mana yang akan lebih survive antara anak jalanan dengan anak seorang konglomerat? Berbagai fasilitas yang dimiliki oleh anak konglomerat (antara lain pendidikan, kesejahteraan, kesehatan) tentu lebih mendukung untuk survive jika dibandingkan dengan yang dimiliki oleh anak jalanan." 47

"Contoh yang lain adalah proses evolusi kuda menunjukkan bahwa kala eosen berukuran kecil, kemudian secara bertahap menjadi besar seperti pada saat sekarang ini (holosen). Bukti tersebut diperoleh dari temuan-temuan fossil tulang hasil penelitian para pakar paleoantropologi. Perubahan kuda yang pada awalnya bukan herbivora kemudian akibat perubahan lingkungan menjadi hewan herbivora, dan pada saatnya sebelum kuda menjadi pelari yang andal (jari kakinya masih 3, maka pada saat ia berevolusi menjadi pelari andal jari kakinya beradaptasi menjadi tinggal satu tetapi dengan ukuran lebih besar, sehingga memungkinkan untuk memperoleh pijakan yang kuat dan bertenaga." "Bukti-bukti semacam itu menunjukkan bahwa Allah SWT sedemikian hebatnya dalam menciptakan makhluk hidupnya. Menurut pemahaman saya 'kun fayakun' sesuai dengan teori evolusi berarti Allah SWT juga memiliki kuasa untuk membuat punah ciptaanNya. Jika ciptaanNya sudah punah bukankah Allah SWT memiliki kemampuan pula untuk meng'kun fayakun'kan lagi?" Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri

48

Newsweek: Hawa lebih perkasa dibandingkan Martina Navratilova
Pasangan Adam & Hawa (Eva) masih saja jadi misteri buat kita semua. Menyibak lekuk liku kehidupannya bagai mencari jarum di dasar samudera. Walau semua kitab suci agama samawi (Taurat, Kitab Perjanjian Lama, Injil dan Al-Quran) menorehkan namanya, keberadaan Adam & Hawa tetap dalam tanda tanya besar. Dalam ajaran Islam, Adam adalah Nabi pertama di muka bumi, makanya mendapat julukan resmi Nabi Adam as, sedangkan Hawa yang tercipta dari tulang rusuknya adalah pasangan hidupnya (kemudian resmi menjadi istrinya). Untuk mengungkap misteri Adam & Hawa, rasanya kita jadi seperti sekelompok orang buta yang meraba seekor gajah. Yang satu bilang A, satunya lagi bilang B, yang lainnya bilang C, D, E dan seterusnya. Penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam lalu menjadi inspirasi bagi para ilmuwan masa kini untuk menciptakan operasi kloning. Bedanya, hasil kloning akan serupa dan jenis seks yang sama, sedangkan Hawa berlainan jenis seks dengan Adam.

SEPERTI APA SIH WUJUD ADAM & HAWA?
"Ada Adam di lehermu." Ya, tiap pria memang dikaruniai 'adam's apple' alias jakun. Entah siapa penemu istilah itu, yang jelas jakun pria normal akan naik turun kalau melihat perempuan sexy, dan mungkin pula jakun pria homoseksual juga akan memberikan reaksi serupa, namun dengan obyek sejenisnya. Jakun memang erat kaitannya dengan nafsu manusia, karena orang lapar yang melihat makanan enak pun jakunnya pasti naik turun sambil menelan air liur - 'mouth 49

watering'. Orang rakus atau koruptor yang melihat tumpukan dollar pun jakunnya akan naik turun, sambil matanya 'merem melek'. Konon, wujud Adam & Hawa adalah sosok manusia dengan tampilan fisik sempurna. Adam digambarkan berpenampilan jantan, ganteng dan berbadan tegap, sedangkan Hawa berparas ayu, lemah lembut dan keibuan. Namun tiap bangsa di dunia punya interpretasi masingmasing tentangnya. Untuk orang yang sadar bahwa agama samawi tumbuh pertama kali di kawasan Timur Tengah, maka gambaran Adam & Hawa tak jauh dari profil orang-orang Arab. Rekan Bimo Nugroho <bimo_n@hotmail.com> di Jakarta memberikan opini:"Saya sangat yakin bahwa Nabi Adam itu bukan reptil. Bukan juga burung apalagi asam amino. Nabi Adam adalah manusia sesempurna-sempurnanya. Punya naluri, akal pikiran, akal budi. Punya IQ dan ESQ yang normal manusia. Punya sisi rentan juga terhadap godaan setan. Seperti itu kan beberapa ciri manusia sempurna. "Adam sudah tercipta seutuhnya seperti demikian. Yang ingin saya utarakan di sini, kun fayakun bukanlah sim salabim. Allah menciptakan bumi, manusia dan seisinya dalam waktu yang singkat. Tapi beda dengan sim salabim, saya rasa kun fayakun menciptakan sesuatu yang 'seolah-olah punya historical background' nya. Ada proses pembelajaran di sana, ada sebab akibat. Misalnya, bumi tercipta secara singkat, tapi seolah-olah (melalui radiokarbon dan teknologi canggih) bumi tercipta jutaan / milyaran tahun yang lalu. Saya rasa sah-sah saja. Allah menciptakan sesuatu dan mengizinkan kita untuk mempelajarinya. Itu sah-sah saja. Demikian juga dengan manusia. Usia fosil bisa jadi lebih tua daripada usia Adam. Saya rasa itu bisa saja. Fosil tersebut seolah-olah pernah hidup sebelum Adam. Padahal tujuannya untuk meninggalkan jejak seolah-olah saja. Ini bukan sim salabim."

ADAM & HAWA BERUKURAN RAKSASA?
Menurut kisah-kisah yang beredar, tinggi badan Adam & Hawa seukuran pohon kelapa (sekitar 8 - 10 m) - bandingkan dengan tinggi manusia zaman sekarang yang 'cuma' 1.5 m - 2.5 m - tergantung ras (lebih dari itu dianggap abnormal). Kalau dalam cerita-cerita rakyat, mungkin bentuknya menyerupai raksasa. Bedanya, raksasa adalah tokoh antagonis yang jahat, suka mengganggu manusia. Dalam cerita 50

pewayangan, tokoh tinggi besar juga sering tampil dalam lelakonan. Bagaimana dengan David (Nabi Daud) melawan Goliath? Apakah Goliath juga seukuran Adam? Ada yang bisa menjelaskan? Kalau benar Adam berukuran raksasa, tentunya apabila ada adegan pertarungan dirinya melawan dinosaurus, pastilah seimbang, tidak seperti adegan film Jurasic Park yang 'njomplang'. Khusus tentang Hawa (Eva), ada yang menggambarkan Hawa sebagai perempuan perkasa alias 'tomboy'. Berikut kutipan dari majalah Newsweek edisi 11 Januari 1988 tentang Hawa: "Eve was more likely a dark-haired, black-skinned woman, roaming a hot savannah in search of food. She was as muscular as Martina Navratilova, maybe stronger; she might have torn animals apart with her hands." Mungkin seperkasa Xena?

TRAGEDI BUAH APEL
Masih ingat gambar Adam dan Hawa di bawah rerindangan pohon saat makan buah apel, sebelum mereka 'dibuang' ke planet bumi? Michel Angelo melukiskan kejadian itu dengan nuansa warna-warna pekat dan suram. Dia gambarkan, saat Adam & Hawa bercengkerama, ada ular melilit di sebatang pohon menyaksikan adegan itu. Ular berkepala manusia itu adalah penjelmaan setan. Sang ular berupaya menarik tangan Hawa. Disini Adam & Hawa benar-benar digambarkan telanjang bulat. Namun seniman lukis lainnya mungkin tak tega, sehingga alat kemaluan mereka ditutup selembar daun saja. Mereka mencoba menggambarkan penggalan kisah 'tragedi buah apel' yang jadi penyebab Tuhan murka, lalu mereka 'dibuang' ke bumi. Buah apel jelas sebagai simbol nafsu seks yang menggebu-gebu dari Adam yang tak tahan melihat kemolekan Hawa. Sedangkan setan berperan sebagai perongrong Adam untuk 'melakukan sesuatu'. Akhir cerita, mereka telah melakukan perbuatan dosa karena tak tahan bisikan setan.

DIMANAKAH ADAM & HAWA 'DITURUNKAN'?
Menurut Bono Emiry <whatkindofnews@yahoo.com> yang mengutip Alkitab Perjanjian Lama - tepatnya di Kitab Kejadian (Genesis) - Adam & Hawa 'turun' di Taman Eden yang berlokasi di daerah Mesopotamia (Irak sekarang), antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.

51

Kalau begitu, sosok Adam & Hawa pastilah tak jauh beda dengan orang-orang Arab zaman sekarang. Lalu apakah orang-orang Afrika, orang-orang Eropa, orangorang Asia, orang-orang Indian di daratan Amerika, orang-orang Papua dan Aborigin di benua Australia juga keturunan Adam & Hawa? Namun seorang Singgih Cahyono <scahyono@gmail.com> punya 'imajinasi liar' dalam menyikapi kisah Adam & Hawa. Menurutnya, Taman Eden itu sebenarnya ada di Indonesia. Kata 'Indonesia' itu berasal dari kata 'Eden'. Kala itu keturunan Adam bermigrasi ke daerah tropis, subur, hangat dan kaya sumber daya alam. Waktu itu Indonesia purba masih berupa benua (Lemurian-Atlantis). Benua ini punya banyak gunung berapi dan sungai-sungai yang mengalir. Daerah lain di bumi masih sulit ditinggali pada waktu itu. Kemudian karena sesuatu hal benua Indonesia ditenggelamkan. Nabi Nuh (Manu dalam Mahabharata) adalah orang Indonesia yang lolos dari bencana tersebut. Baru kemudian muncul nabi-nabi Israel dan Arab. Indonesia dan Melayu purba bukan saja melahirkan Islam, tapi juga kebudayaankebudayan besar lainnya di dunia. (Please don't take it seriously...)

BAGAIMANA GAYA HIDUP ADAM & HAWA DI BUMI?
Bagaimana sebenarnya gaya hidup Adam & Hawa di bumi? Apakah mereka sudah mengenakan pakaian seperti manusia masa kini, ataukah telanjang bulat begitu saja? Kalau mereka tampil sempurna, kenapa manusia-manusia pra-sejarah yang fosil-fosilnya berhasil ditemukan, digambarkan begitu jelek, maaf, seperti setengah manusia setengah kera? Dimana Adam & Hawa beristirahat? Di sebuah pesawat yang terdampar di hutan, di dalam rumah seperti kita-kita, di tenda, di dalam gua atau tidur di rerumputan begitu saja? (How romantic.......) Bagaimana dengan model rambut Adam & Hawa, juga anak-anaknya? Mungkin rambut mereka sama-sama panjang tergerai. Bedanya, sekujur tubuh Adam penuh dengan bulu dan dagunya bercambang, sedangkan tubuh Hawa terlihat mulus seperti laiknya perempuan zaman kini. Namun dalam penggambaran artist impression' yang kebanyakan dari Eropa, Adam adalah sosok yang klimis, berkulit putih dan berambut pirang potong pendek.

52

Menurut Fajar Siswandaru <japar@telkom.net>, teori evolusi yang dilansir oleh Darwin tak bermaksud mementahkan keberadaan Adam dan Hawa. Menurut data temuan - yang masih bisa diperdebatkan kebenarannya - Neanderthal itu sudah pakai baju yang terbuat dari kulit hewan. Mereka juga menciptakan alat. Kalau direnungkan, ada "makhluk" yang "memakai baju" (menutup anggota vital tubuhnya) sendiri adalah sudah sesuatu yang "aneh" dan "unik", hanya ditemukan di manusia. Seminimminimnya manusia berbusana, minimal ia akan menutupi "alat vital" nya. Dan tidak ada manusia (pada saat ini) yang benar-benar 100% telanjang. Kontrasnya "hewan" lain pastilah 100% telanjang, tidak ada satu spesies pun yang menutupi anggota tubuhnya. Kisah Adam & Hawa memberikan "cerita" - terserah Anda percaya atau tidak - bagaimana "manusia pertama kali menutupi auratnya". Jadi bisa juga ditarik kesimpulan bahwa ciri-ciri keturunan Adam & Hawa itu ya "makhluk yang berbusana" - seminim apapun. So... IMHO Neanderthal dan mahluk-mahluk berbusana lainnya bisa jadi adalah sudah "keturunan Adam dan Hawa". Hanya di titik mana dalam "pohon evolusi" spesies "Homo" itu Adam & Hawa berada, nah itulah yang masih menjadi misteri. Petunjuknya, ketika mahluk tersebut "sudah menutupi anggota tubuhnya". Kontroversi Darwin vs Agama ini didasarkan keengganan manusia dikatakan "mirip dengan kera". Sedangkan bukti DNA menunjukkan bahwa DNA manusia dan simpanse itu 99% sama. Kalau saya pribadi tidak berkeberatan dikatakan "mirip dengan apapun", atau apabila benar bahwa leluhur saya bernama bapak Adam adalah hasil dari proses evolusi panjang yang mungkin adalah penyempurnaan dari spesies mamalia kera yang berjalan (sedikit) tegak (tapi belum berbusana). Toh kita semua hanyalah mahluk yang menerima tubuh ini apa adanya.... (Anyway, does it matter?). Referensi mengenai hal ini dari Quran (Saya pikir Anda sekalian lebih suka dengan terjemahan 'bahasa inggris' daripada 'bahasa Indonesia' apalagi 'bahasa Arab' :D) 003.033 Allah did choose Adam and Noah, the family of Abraham, and the family of 'Imran above all people,030.022 And among His Signs is the creation of the heavens and the earth, and the variations in your languages and your colours: verily in 53

that are Signs for those who know. 071.014 "'Seeing that it is He that has created you in diverse stages? 071.017 "'And Allah has produced you from the earth growing (gradually), 076.001 Has there not been over Man a long period of Time, when he was nothing - (not even) mentioned? Menurut opini M.A. Suryawan <ma_suryawan@yahoo.com> dari organisasi Al Islam <www.alislam.org>, Hz. Adam as dan Hawa dalam kajian agama Islam bukanlah sebagai manusia pertama di bumi ini. Dalam ajaran Islam jelas diyakini bahwa Hz. Adam a.s. adalah seorang nabi/rasul yang menjadi utusan Tuhan. Dia berfungsi sebagai pembawa berita dari Tuhan. Artinya, sebelum Hz. Adam as diutus, sudah ada suatu masyarakat di bumi. Jadi, Hz. Adam as adalah nabi/rasul pertama yang diperkenalkan dalam Al Qur'an Karim. "Adanya science dan temuan arkeologi mengenai fosil 'manusia' yang berumur ratusan ribu bahkan jutaan tahun tidaklah bertentangan dengan keyakinan mengenai Hz. Adam as," ujar Suryawan - The Promised Messiah has come ...

APAKAH SELURUH UMAT MANUSIA DI BUMI KETURUNAN ADAM & HAWA?
Rekan Hedar di Palu <bantaya@palu.wasantara.net.id> yang mengaku awam, amat tertarik dengan tulisan Harun Yahya. Namun pikirannya selalu terganggu tentang bentuk fisik anak cucu Adam & Hawa yang sangat beragam. Ada yang berkulit putih, hitam, kuning dan sawo matang. Ada juga yang berambut lurus, keriting dan seterusnya. Kalau betul mereka semua adalah keturunan dari gen yang sama, bagaimana menjelaskan perbedaan-perbedaan itu? Rekan Hery Romadan <romadan@samarinda.org> berupaya menjawab rasa penasaran Hedar. "Mas Hedar yang baik, bentuk fisik 54

anak cucu Adam & Hawa itu sangat beragam. Ada yang berkulit putih, hitam, kuning dan sawo matang. Ada juga yang berambut lurus, keriting dan seterusnya. Pertanyaannya juga bisa dibalik: mengapa harus sama? Karena banyak fakta bahwa seorang ibu ketika melahirkan anaknya belum tentu hidungnya sama dengan orang tuanya, begitu pula rambutnya, kulitnya dll. Sehingga fakta ini membantah tesis bahwa anak harus identik dengan induknya bagi manusia, tetapi prinsip dasar sebagai manusia tetap sama," jawab Hery yang mukim di Samarinda. "Menurut agama samawi pun, anak-anak Adam lahir dengan fisik yang berbeda-beda. Ada yang cantik, gagah dan ada juga yang jelek. Hal ini menunjukkan tampilan fisik yang berbeda. Sehingga keragaman manusia merupakan sebuah hikmah untuk mendorong kita berfikir bagaimana kronologisnya dari Adam hingga manusia sekarang ini," lanjut Hery. Namun jawaban Hery yang panjang lebar itu 'dimentahkan' oleh rekan Dami Buchory <danahasi@indo.net.id>. "Aduh, ampun deh. Diskusi begini bahaya banget kalau tidak didasari dengan dasar teori yang benar. Jawabannya gampang:karena di dunia ini ada keragaman. Semua bentuk yang kita lihat: warna kulit, tipe rambut, warna mata, dan lain-lain merupakan varian dari traits, yang bisa tercipta karena adanya adaptasi pada lingkungan yang berbeda. Misal yang hidup di daerah panas mengalami penebalan pigmentasi, hence: kulit gelap. Jadi nggak usah dibolak-balik deh. Setiap anak yang lahir kan tidak harus merupakan nilai tengah dari kedua orangtuanya. Justru karena itulah evolusi bisa berjalan. Dasar terjadinya evolusi adalah tiga hal: 1. Adanya keragaman dalam traits (karakter/ciri-ciri). 2. Traits itu terkait dengan reproductive ability 3. Traits itu dapat diturunkan pada keturunannya. Barulah evolusi itu bisa terjadi, asal ada seleksi. Tidak semua yang kita lihat sekarang merupakan hasil evolusi, karena ada proses random juga yang disebut 'genetic drift' (hanyut genetis)."

55

RAGAM PERTANYAAN YANG MASIH MENGGANTUNG
Begitu banyak pertanyaan yang masih menggantung seputar kehidupan Adam & Hawa: 1. Dengan alat transportasi apa mereka 'dikirim' oleh Tuhan ke planet bernama bumi? Pesawat ulang alik raksasa? Piring terbang? Kapsul tidur? Atau lebih canggih dari itu? 2. Siapa pengemudi 'flying object' itu? Kenapa harus diterjunkan ke bumi, bukan ke planet-planet lainnya yang berserakan di jagad semesta? 3. Bekal dan peralatan apa saja yang mereka bawa dari langit? 4. Untuk berkomunikasi, bahasa apa yang mereka gunakan? Apakah Adam & Hawa sudah 'melek huruf', bisa baca tulis? 5. Apa saja yang mereka makan sehari-hari untuk mempertahankan hidupnya di bumi? Makanan itu dimasak terlebih dulu atau dimakan mentah-mentah? 6. Seperti apa upacara ritual pernikahan Adam & Hawa? Adakah saksinya? 7. Andai suatu saat ditemukan sosok mirip manusia di planet lain, apakah mereka juga keturunan Adam & Hawa? Atau ada sejenis Adam & Hawa yang juga 'dibuang' oleh Tuhan kawasan lain atau ke planet lain? 8. Bagaimana dengan kisah-kisah suku kuno Inca yang kerap disambangi makhluk-makhluk berhelm dari planet lain yang mengendarai UFO? Apakah makhluk tersebut bersosialisasi, bahkan berasimilasi dengan penduduk bumi? 9. Apakah Adam & Hawa hanya berkutat di Mesopotamia, atau hidup nomaden?

56

10. Pada usia berapa Adam & Hawa mangkat? Dimanakah jasad mereka dikuburkan? 11. Kenapa hingga kini jejak-jejak kehidupan maupun fossilnya tak pernah ditemukan? Quotation: "God made Adam and Eve, not Adam and Steve," Anon. Genesis 2:18-22" God decided that Adam needed a "helper." Some translations use the term "companion," "helpmate" or "partner" here. God marched all of the animals past Adam, looking for a suitable helper, but none was found. So God put Adam to sleep, removed one of his ribs and created Eve from the bone. Although this implies a cloning operation, it obviously was not, because Eve turned out to be a female. Satisfaction is the death of desire "Kenali dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu" - Muhammad SAW Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri

57

Kaum Tsamud, Sodom-Gomorah dan Pompeii
Harun Yahya pernah mengulas tentang kota Pompeii yang konon dihancurkan oleh 'kekuatan' Tuhan karena penduduk kota tersebut tak bermoral. Pompeii yang terletak di dekat Gunung Vesuvius dicap sebagai simbol dari degradasi akhlak pada zaman kekaisaran Romawi, dimana kota itu menjadi pusat perzinaan dan praktek homoseksual. Jauh sebelumnya, Tuhan pun pernah murka karena alasan yang hampir sama, dan lalu meluluh lantakkan Sodom & Gomorah. Menurut Al Quran surat Al-Qamar ayat 31, Tuhan juga pernah memusnahkan kaum Tsamud dalam waktu singkat - entah dimana kaum itu bermukim, dan tak jelas apa salah mereka sehingga harus dimusnahkan. Kalau dibaca salah satu ayatnya, pemusnahan itu sepertinya menggunakan bom atom atau nuclear weapon', bukan karena bencana alam seperti terjadi di Pompeii dan Sodom & Gomorah: 'Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.' Lalu tertulis di Al-Quran Surat Yaasiin 36:29: Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.' Sepertinya senjata pemusnah yang mirip senjata nuklir ini juga dipakai oleh Prabu Krisna - salah satu tokoh pewayangan pada Kisah Mahabarata - dengan senjata cakra (maaf kalau salah). Juga kisahkisah para dewa Yunani yang sakti dan punya senjata mematikan.

58

Mungkinkah di zaman dulu, ada beberapa 'pasukan alien' turun ke bumi, lalu mereka berkoalisi dengan penduduk bumi? Mereka yang punya teknologi canggih, disewa untuk berperang demi menghancurkan musuh. Kekuatan mereka dengan penguasaan teknologi canggih membuat manusia-manusia bumi memujanya dan menjadikan mereka sebagai dewa, raja atau tuhan. Ingat film 'God must be crazy'? Orang Afrika pun menganggap kaleng Coca Cola sebagai Tuhan, karena turun dari langit. Padahal kaleng itu dibuang dari sebuah pesawat oleh penumpang yang iseng saja. Tentang Tuhan mengirim pasukan termuat di Al-Quran Surat Yaasiin 36:28: 'Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.' Ada juga disebut pasukan burung yang memuntahkan bebatuan untuk menghancurkan sebuah kota. Apakah ini sepasukan pesawat tempur dengan senjata pamungkasnya? 'Burung' dan 'bebatuan' hanya kata kiasan belaka. Kisah-kisah semacam ini tak cuma terjadi di Timur Tengah saja, tapi juga di Afrika, Cina, India, Amerika Selatan, dan komunitas manusia-manusia masa lampau yang melukiskannya di dalam gua-gua. Bedanya, apa yang terjadi di Timur Tengah masa lampau tercatat dalam kitab-kitab suci, sedangkan di wilayah lain hanya berbentuk kisah-kisah, lukisan gua, babat, dan cerita dari mulut ke mulut. Selain tulisan Harun Yahya tentang Pompeii, juga saya sertakan email dari rekan Awang Satyana [mailto: awangsatyana@yahoo.com] yang bertutur tentang tragedi Sodom & Gomorah. Mohon pencerahan dari teman-teman semua, karena semua kitabkitab suci 'agama langit' bercerita tentang tragedi mengenaskan itu ya kaum Tsamud, ya Pompeii, ya Sodom & Gomorah. Apa betul ini 'ulah' Tuhan? Percayakah Anda? Atau ini sekadar rekayasa agama untuk menakut-nakuti umatnya? Untuk rekan-rekan yang beragama Hindu, Budha dan lainnya, mohon info juga, apakah di kitab suci kalian banyak cerita tentang Tuhan Anda yang murka lalu menghancurkan umat manusia, dan banyakkah kisah tentang peperangan antar umat manusia? Kalau ada, berapa persen ayat-ayat yang berisi tentang perang, kehancuran, penyiksaan, perajaman, pembumihangusan, pemusnahan umat manusia, dan tindak kekerasan lainnya? 59

Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri<radityo_dj@yahoo.com>

Pompeii: Mengulang Sejarah Kaum Luth
Oleh Harun Yahya Alqur'an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah): "Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu" (QS. Al-Faathir, 35:42-43). Begitulah, "Sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah". Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius. Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai 'The Mountain of Warning' (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gomorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii. Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu 60

dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumi-hanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi 2000 tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya. Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka. Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorangpun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejap. Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun? 61

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur'an, sebab Alqur'an secara khusus mengisyaratkan 'pemusnahan secara tiba-tiba' ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, 'penduduk suatu negeri' sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut: 'Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.' (QS. Yaasiin, 36:29) Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan: 'Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.' Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas. Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik-distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa (busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai 'surga kaum homoseks' di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

62

Saat Tuhan Memerintahkan Geologi Membinasakan Sodom dan Gomorrah
Awang Satyana [mailto:awangsatyana@yahoo.com] Judul di atas terasa absurd atau provokatif ? Kita akan berkata "tidak" kalau saja kita coba memahami lebih mendalam apa yang sesungguhnya telah terjadi di sana - di dua kota kecil di selatan Laut Mati 4000 tahun Yang lalu. Empat tahun yang lalu, saya memulai pencarian ini, dimotivasi oleh perasaan bahwa seorang geologist harus bisa menerangkan segala sesuatu yang menyangkut geologi yang ditemukan di Kitab Suci yang dipercayainya, Jurnal2/buku2 arkeologi, Kitab-kitab Suci agama Kristen-Islam-Yahudi (teman saya yang Muslim membantu saya meneliti ayat2 yang berkaitan di Al Qur'an), dan tentu saja geologi, dikumpulkan. Di akhir riset pribadi, sebagai kenangan/catatan untuk penelitian lebih lanjut, saya tulis sebuah artikel un-published berjudul, "Judgment Day of Sodom and Gomorrah : Geological Evidence of a Biblical Truth" Ini pernah saya bagi ke beberapa teman sebagai bagian dari kesaksian. Di bawah ini beberapa ringkasannya. Dengan berpedoman kepada kitab2 suci, ekspedisi arkeologi telah dilakukan berkali-kali untuk mencari di mana lokasi Sodom dan Gomorrah. Kesimpulannya, dua kota ini ada di ujung selatan Laut Mati (Sedom/Bahrat Lut) di wilayah sengketa Israel-Palestina dan Yordania. Di ujung BD laut ini sekarang ada sebuah pegunungan bernama Usdom (Har Sedom/Jabal Usdum). Penggalian arkeologi tahun 1924 menemukan sisa2 kehidupan Zaman Perunggu Tengah (2000-1500 BC) yang prolific, lima mata air tawar, dan barisan benteng dengan banyak sekali peninggalan kebudayaan, begitu kayanya sehingga sering ditulis "like the garden of God" dengan dating absolut 25002000 BC. Pada 2000 BC seperti semuanya berhenti begitu saja. Berdasarkan itu, para ahli memutuskan bahwa Sodom dan Gomorah terletak di ujung selatan Laut Mati, terkubur dalam perairan dangkal di selatan Tanjung 63

Al Lisan. Laut Mati (Yam Ha-Melah/ Al Bahr Al Mayyit) dibatasi oleh Pegunungan Judea ke barat dan Plato Transyordania ke timur. Sangat kontras kedalamannya dengan 400 m di bagian utara dan makin mendangkal ke selatan sampai hanya 4 meter saja di tempat dimana diduga Sodom dan Gomorrah terkubur. Data geologi menunjukkan sesuatu yang menakjubkan. Laut Mati adalah tepat merupakan transform boundary terhadap Arabian Plate dalam hubungannya dengan Lempeng Afrika dan Eurasia. Bisa dipastikan, rift valley dan strike-slip fault membentuk Laut Mati. Lebih ke selatan lagi, kita akan takjub, ternyata Laut Mati dan Sungai Yordan yang mengalirinya adalah ujung utara sistem retakan di Bumi yang sangat terkenal : East African Rift Valley. dari Sungai Zambesi di Afrika Timur ke Laut Merah ke Sungai Yordan. Saat Lempeng Arab bergerak ke timur, membukalah Laut Merah dalam mekanisme incipient sea floor spreading. Ke utara, rifting Laut Merah bercabang dua splay, ke BL membentuk Teluk Suez, ke TL membentuk Teluk Akaba-Laut Mati-Sungai Yordan. Rift Teluk Suez kemudian aborted, mati, seperti aulacogen berhubungan dengan collision African Plate vs. Anatolian Plate, sementara Teluk Akaba-Laut Mati-Yordan aktif. Bisa diyakini, bahwa Laut Mati adalah pull-apart basin berbentuk rhombohedral, merupakan blok yang tenggelam diapit dua sesar besar : Sesar Moab dan Sesar Yudea. Air dari Laut Mati tidak keluar ke Teluk Akaba karena sebuah tinggian Dataran Tinggi Negev. Endapan di sekitar Laut Mati terdiri atas endapan khas Timur Tengah : gipsum, rocksalt, clay, marl, evaporit, karbonat, lempung tebal. Endapan aspal ditemukan di mana-mana dan telah biasa digali sumur untuk memperolehnya sejak zaman dulu pun. Kiamat di Sodom dan Gomorrah, berdasarkan data di Kitab Suci, arkeologi, dan geologi, adalah lebih mungkin karena gempa di jalur strike-slip fault dan mud-volcano. Sebuah gempa membentuk vertical wrench fault yang memecahkan sealing overpressured shales yang plastis dan buoyant. Release tekanan itu mengekspulsi pore fluids, air, minyak, gas dan semua materi di sekitar Teluk Mati termasuk garam dan aspal. 64

Didekat sesar, clay menjadi liquefied dan buoyant dan akan terekstrusi melalui zona sesar sebagai mud diapir dan mud volcano di permukaan lengkap dengan material ekstrusinya. Sebuah letusan mud volcano bisa sangat katastrofik. Letusan mud volcano di Waimata Valley Selandia Baru bisa mengerupsi 100.000 ton viscous mud hanya dalam waktu sejam. Banyak mud volcano di Timor ('poton' mereka menyebutnya) benar-benar mengeluarkan api dan gelegar petir. Sebuah poton besar di Pulau Kambing utara Timor tak akan mudah membedakannya dengan sebuah gunung api magmatis. Begitulah, suatu subuh 4000 tahun yang lalu Tuhan yang sudah geram melihat kejahatan penduduk Sodom dan Gomorah, memerintahkan geologi Bumi di sekitar Laut Mati untuk memporakporandakan, menggulingkan, membolak-balikkan (dengan gempa) dan membakar kota ini menghujaninya dengan batu, lumpur, api, belerang, aspal, dan garam (dengan letusan gunung lumpur). Istri Lot (Luth) yang masih berat hati meninggalkan Sodom dan Gomorrah, tewas dalam pelarian mengerak ditutupi garam. Di selatan Laut Mati itu, banyak pilar garam, sisa endapan erupsi, dan orang-orang sana menyebutnya dengan istilah "istri Lot". Kitab Kejadian 19 di Alkitab (Bible) atau Surat Hud Juz XII ayat 69-83 di Al Qur'an menceritakan kejadian itu dan geologi membuktikan kebenarannya. Semoga bermanfaat menambah keimanan - bahwa benarlah Kitab Suci itu. Salam, Awang

65

Bila Kreasionis 'melabrak' Evolusionis
Pengantar Radityo Djadjoeri <radityo_dj@yahoo.com> Diskusi kali ini menyentuh tentang keberadaan kelompok kreasionis didukung kaum agamawan - yang begitu gencar 'melabrak' Teori Darwin dan evolusionis penerusnya. Sebelumnya, saya sampaikan email dari rekan Tular Sudarmadi <tular_s@ugm.ac.id>, dosen Arkeologi UGM, yang bertutur tentang temuan Homo floresiensis di Liang Bua, Pulau Flores –dikirim ke milis MUDA WIJAYA. Menurutnya, penelitian Mike Morwood di Flores sudah berlangsung sejak 1987 lalu. Pada tahap awal, dana yang diperoleh masih kecil, tetapi temuan yang diperoleh pada saat itu cukup dapat dipakai untuk membuktikan kepotensialan wilayah Flores sebagai hunian manusia purba. "Kesuksesan tersebut berlanjut dengan diturunkannya dana yang lebih besar oleh Australian Research Council untuk melakukan penelitian lanjutan di Flores selama 5 tahun (2000-2005). Penelitian ini kemudian melibatkan berbagai bidang disiplin ilmu antara lain Geologi, Fisika, Polenologi, Arkeologi, dan Antropologi. Topik penelitian tidak lagi hanya berkutat pada manusia purba, tetapi juga meluas ke arah pembuatan monografi Pulau Flores." "Kala itu saya memang menjadi tim anggota penelitian Mike Morwood, tetapi bidang kajian saya bukan paleoarchaeology atau kehidupan masa prasejarah. Sesuai dengan spesialisasi saya saat menyelesaikan S2 di UNE, saya ditugasi untuk melakukan penelitian terhadap 'recent archaeology' atau tradisi masa prasejarah yang masih survive di Flores – diantaranya tradisi peninggalan megalitik, dan upaya-upaya untuk melakukan manajemen sumberdaya budaya (cultural resource management), khususnya terhadap tradisi megalitik." "Oleh karena itu penjelasan saya tentang manusia purba di Flores tidak dapat saya berikan secara panjang lebar, karena sesuai dengan etika keilmuan, khususnya dalam penelitian, yang berhak untuk 66

memberikan informasi secara detail dan terperinci adalah team yang terlibat dalam ekskavasi di Situs Liang Bua."

Teori Evolusi omong kosong belaka?
Cukup banyak orang 'termakan' kampanye kelompok kreasionis. Misalnya saja rekan Hendro Pramono <hendro_vici@yahoo.com> yang memberikan gambaran sebagai berikut: "Jika manusia bisa hidup milyaran tahun, mungkin kita akan tahu bagaimana sih sebenarnya proses evolusi. Kalau benar monyet itu berevolusi menjadi sosok seperti kita sekarang ini, mungkin monyet yang sekarang atau ribuan tahun lalu sudah mencirikan akan menjadi seperti manusia. Atau mungkin kakek nenek kita yang bongkok akan kembali ke asal menjadi monyet. Seandainya besok kita kehabisan sumber makanan dan yang ada hanya batu dan logam, apa mungkin organ tubuh kita berevolusi menjadi mesin gilas dalam proses adaptasi selama jutaan atau milyaran tahun? Jadi, teori evolusi adalah omong kosong dan pembodohan manusia!" Rekan Albert Salim <samsungx101@yahoo.com> menganggap basi jika Teori Darwin yang tak ada pembuktian ilmiahnya masih saja dipakai dan dibincangkan. "Sudah banyak ilmuwan kelas dunia yang menyangkal Teori Darwin dengan disertai pembuktian yang nyata bahwa segala kehidupan tidak dapat tercipta secara acak," kilahnya. Ia memberi contoh sederhana: "Saya yakin tidak ada seorangpun yang setuju jika dikatakan komputer berevolusi dari seperangkat besi-besi kecil yang menyatu bersama beberapa baut dan plastik lainnya. Yang mengatakan hal tersebut akan segera menghadapi tuntutan hukum dari pencipta barang itu atau paling tidak masuk RSJ. Bagaimana mungkin hal serumit kehidupan dikatakan terjadi secara kebetulan? Kalau dikatakan Teori Darwin mengenai monyet yang berevolusi jadi manusia, kok sekarang monyet masih ada, bahkan tambah banyak? So, sebelum meyakini sesuatu hal saya kira perlu mengetahui background dari orang yang mengatakan hal tersebut." Rekan Van Helsing <helsing744@yahoo.com> masih teringat prinsip pokok yang dipegang sebagai kebenaran oleh Teori Darwin adalah: "Siapa yang kuat akan bertahan". Tapi menurutnya, prinsip itu salah kaprah. "Yang benar adalah "the most adabtable is the survivor". 67

Kemudian rekan Ferry RKP <ferry_rkp@yahoo.com> mengaku pernah membaca tentang Teori Magnetik Bumi. Ilmuwan di bidang ini telah menganalisa kedalaman Bumi dan memperkirakan bahwa umur Bumi hanya sekitar 30.000 tahun. Tentu saja teori ini berlawanan dengan penemuan fosilfosil manusia purba yang berumur jutaan tahun - otomatis umur Bumi pun pasti jutaan bahkan puluhan juta tahun. "Temuan ini amat menarik, karena sejak pertama kali Teori Darwin dikemukakan telah terjadi pertentangan antara ilmuwan yang pro dan kontra, bahkan perseteruan tersebut berlanjut hingga kini," ujar Ferry. Ia juga pernah membaca buku berjudul "Sains, Iman dan Teknologi" – nama pengarangnya ia lupa. Buku itu bertutur tentang sebuah peristiwa di Lousiana, AS era 70-an. Kala itu kalangan Kristen tak mengizinkan pengajaran Teori Darwin di sekolah-sekolah di negara bagian tersebut. Kemudian ilmuwan pro Darwin membuat suatu konspirasi. Mereka membujuk seorang guru untuk mengaku mengajarkan teori tersebut. Kemudian negara bagian tersebut gempar, karena guru tersebut diprotes (ini memang yang diinginkan para ilmuwan pro Darwin). Kemudian mereka - ilmuwan pro Darwin - mengajukan hal ini ke pengadilan. Mereka menyewa pengacara-pengacara tenar untuk membela guru tersebut. Mereka pun membesar-besarkan peristiwa tersebut agar diketahui secara luas. Dan akhirnya mereka menang dan teori Darwin akhirnya diajarkan di negara bagian tersebut dan juga negara bagian lainnya. Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, guru itu ditanya mengenai hal tersebut, ia mengaku tidak yakin apa ia pernah mengajarkan Teori Darwin atau tidak ...

Die Hard Creationist vs Evolutionist
Rekan Zhao Yun <zhaoyun1964@yahoo.com> mencoba luruskan info dari Ferry ZY. Menurutnya, pengarang buku itu pasti pro-kreasionis. "Sering saya temui para 'die hard creationist' yang tidak segan-segan memanipulasi informasi, bahkan sering tidak jujur secara intelektual serta 'licik' dalam berbagai hal, demi mengkampanyekan 'fundamental belief' mereka," ujar Zhao Yun. Tentang umur bumi yang diklaim para kreasionis, Zhao Yun bilang, 68

"beberapa website dari para kreasionis mengutak-atik fenomena peluruhan (decay) medan magnet bumi, kemudian secara ngawur diekstrapolasi dan, voila, didapat umur bumi kurang dari 20.000 tahun. Kesimpulannya: Mereka ingin membentuk opini bahwa Bumi diciptakan Allah seperti tertulis di Kitab Genesis." Menurut Zhao Yun, ejekan dan sinisme yang paling klasik terhadap evolusionis - para pendukung Teori Evolusi Darwin - adalah olok-olok bahwa kaum evolusionis itu keturunan monyet. Ejekan seperti ini - jika terus dilontarkan - maka sebenarnya membuka 'borok' ketidak tahuan diri sendiri akan Teori Darwin - yang kemudian dikembangkan menjadi Teori Evolusi. "Dari tanya jawab dan diskusi dengan para penentang teori evolusi yang pernah berdebat dengan saya, hampir semuanya belum pernah membaca buku 'The Origin of Species' yang boleh dibilang menjadi salah satu referensi utama - kalau bukan cikal bakal teori evolusi modern," keluh Zhao. "Kalaupun ada yang sudah membaca, umumnya sulit secara jernih mengambil saripati dan 'keindahan' teorinya Darwin ini. Saya curiga bahwa mereka terlalu banyak 'denial' dari dalam diri mereka sendiri akan 'kebenaran' teori ini. Sebab, saya ragu kalau mereka bodoh. Apalagi mengharapkan mereka membaca ulasan-ulasan yang lebih modern tentang teori evolusi dari para kampiun evolusionis seperti Richard Dawkins ataupun Stephen Jay Gould, agar diskusi lebih terarah," tambahnya. Menurut Zhao, salah satu sumber informasi tentang evolusi yang terolah dengan baik adalah Talk Origins <www.talkorigins.org>. "Berton-ton informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori evolusi bisa Anda dapatkan disini. Setelah itu Anda bisa cari aspekaspek lainnya lewat search engine, misalnya: bagaimana proses terjadinya fosil, bagaimana prinsip radiodating, paleontologi tentang hominid dan sebagainya. Itu semua bisa didapat secara gratis, kecuali pulsa internet, tentu saja. Dan - last but not least - percayalah, untuk mengerti dasar-dasar keilmiahan teori evolusi tidaklah dibutuhkan kesarjanaanS1 ataupun S3, tapi cukup bermodal cara berpikir yang jernih dan tidak bias," ujar Zhao.

69

Kreasionis ala Indonesia
Rekan Handita B.M. <handita@centrin.net.id> di milis KATY berkomentar, kreasionisme - sebagai lawan evolusionisme - telah berkembang cukup lama. Sejumlah publikasi sudah terbit tahun 1960an, bahkan sebelumnya. Beberapa institut kreasionisme yang amat banyak jumlahnya dapat dibaca pada link website ini: http://www.creationism.org/topbar/linksWeb.htm Lembaga ICR <www.icr.org> sebagai salah satu lembaga riset kreasionism bahkan memiliki museum kreasionisme <http://icr.org/museum/>. Tentang Harun Yahya, ia agak ragu kalau dia adalah pembawa gagasan pertama tentang 'creasionism' - seperti dicitrakan pada sejumlah buku - sekalipun tidak dipungkiri kompilasinya cukup banyak beredar di Indonesia akhir-akhir ini. Di Indonesia, tokoh kreasionisme antara lain Dr. Stanley Heath, dosen Teknik Kimia ITB. Ia juga menerbitkan buku yang menentang sejumlah pandangan kaum evolusionis di awal tahun 70-an. Sebagai catatan, edisi pertama buku tersebut masih dicetak dengan stensil dan masih bisa ditemui di Perpustakaan Kalam Hidup, Bandung. "Persoalan terhadap 'kreasionisme' adalah sejauh mana klaim-klaim yang bersumber pada kitab-kitab agama tersebut dapat dijadikan bukti ilmiah. Perkembangan interpretasi teks buku agama juga banyak yang condong 'bukan' pada penafsiran literal. Tetapi melihat kisah penciptaan dan tokoh Adam-Hawa sebagai metafora yang bermakna relijius. Jadi lepas dari keilmiahan evolusi diteropong dari tafsir teks agama, tafsir terhadap teks tersebut perlu sungguh-sungguh dicermati. Sejauh mana tafsir itu dapat ditarik ke wilayah sains sebagai 'bukti'," ujar Handita.

Modal kaum kreasionis itu-itu saja
Rekan Babat Gongso <bgongso@yahoo.com> yang sudah 'googling' di Talk Origins, mendukung saran Zhao Yun, "Talk Origins benar-benar menjawab dengan tegas 'isu gombal' teori magnetik bumi karangan para kreasionis." Menurutnya, sains itu logikanya tidak 'bolong-bolong' - tak seperti mitologi atau legenda - karena garis besarnya sudah koheren, walau detailnya bisa terus diisi. Soal umur Bumi, bukti-bukti geologis, bukti-bukti fossil itu tidak ada yang bertentangan satu sama 70

lain, walau mudah sekali terjadi pertentangan jika dipikirkan, karena masing-masing cabang ilmu itu tidak 'bersekongkol' - satu sama lain masih asyik dengan dirinya sendiri. "Berdiskusi soal evolusi selalu geger - karena campur tangan orang-orang yang tak tahu sama sekali apa yang mereka ucapkan, namum 'penuh dendam' hanya karena 'engkong' mereka dulu bersabda untuk tidak percaya pada teori ini," tegas Babat. "Modal kaum anti-evolusi ya itu-itu terus. Kalau muslim ya Harun Yahya, kalau Kristen ya kreasionis dalam berbagai bentuknya. Secara realistis, jika sistem pendidikan di AS saja tetap dirongrong oleh agamawan yang masih saja ngotot -- maka di negara-negara lain pasti lebih parah kondisinya. Plus banyaknya 'pseudo-science' yang saling silang." "Di Wired ada ulasan kejadian di AS tentang serangan gegap-gempita dari kaum ID (intelligent design = nama baru kaum creationist) yang menghajar kurikulum SD dengan mengatakan bahwa teori evolusi itu baru 'work-in-progress' jadi harus diberikan 'teori alternatif'nya yaitu ID alias creationism alias 'bible-talk': penemuan sains itu 'tidak lengkap', asumsinya isi kitab-suci itu sudah lengkap." "Ada yang bilang, penemuan Homo floresiensis adalah 'bukti' gagalnya teori-teori 'Intelligent Design' (ID) alias 'creationism' -karena menunjukkan adanya species homo yang bukan sapiens hidup sampai 12 ribu tahun lampau. Tetapi kalau pakai 'aji pengeyelan' tetap saja gampang didebat (kusir)," sindir Babat.

Agama berangkat dari Meyakini, Sains berangkat dari Menyangsikan
Masih menurut Babat Gongso <bgongso@yahoo.com>, pernyataan Tular Sudarmadi (dosen Arkeologi UGM) tentang 'science vs faith' benar-benar diplomatis. "Kalau mau diskusi itu memang tergantung dengan lawan bicara. Kalau mau bicara agama ya agama lah, kalau dicap bidah malah celaka. Jika bicara kenyataan, apa yang sesungguhnya terjadi, ya lain lagi. Sains membahas apa yang sesungguhnya terjadi secara faktual, ya evolusi itu, homo sapiens adalah percabangan lanjut dari genus homo yang diawali dengan Homo erectus. Sedangkan Homo floresiensis adalah suatu cabang lain 71

dari Homo erectus Asia - most likely - ini suatu penemuan penting dalam evolusi." "Nah, thread yang perlu dibuka adalah debat penerjemahan alegori mitologi agama: seberapa jauh ajaran agama itu berguna bagi umat manusia? Karena 'kegunaan' ajaran agama itu bukan dalam penunjukan fakta kenyataan pada manusia, tetapi suatu ajaran moralitas tentang kehidupan- yang dibakukan berdasar pengetahuan pada saat pembakuan. Beda sekali tujuannya, seperti membandingkan tujuan R & D Department yang meriset dan mengembangkan produk yang efisien dan bermutu, dan tujuan Marketing Department yang merancang, mengemas dan menjual produk/jasa dan menetapkan harga yang diterima konsumen dalam suatu perusahaan. Beda sekali. Dua-duanya penting, tetapi beda penekanannya." Jamal Senjaya <jamal_senjaya@telkom.net> yang mengaku tak lebih pintar dari Sun Go Kong berkomentar pendek. Penemuan fosil Homo floresiensis 'the missing link' - manusia setengah kera - membuatnya berpikir: "Ternyata manusia hanyalah mahluk yang sedikit lebih pintar dari kera. Namun kera-kera pintar ini begitu sombong, sehingga mengaku hanya dirinyalah yang paling benar, paling baik, mengatur Tuhan harus seperti ini pasti seperti itu. Lalu membuat doktrin-doktrin sendiri mengenai siapa Tuhan. Tuhan saja tidak begitu sombong sehingga tidak terang-terangan menunjukkan siapa dirinya."

Wallacea, sumbangan Indonesia untuk Teori Evolusi
IGG Maha Adi <iggm-adi@mail.tempo.com>, wartawan Majalah TEMPO, di milis Community Gallery menyarankan agar kita harus berhati-hati untuk mengkaji ilmu pengetahuan apabila "alat" yang dipakai adalah agama. Bila kurang hati-hati, percayalah, keduanya akan tampak saling berlawanan. Untuk sebagian besar kasus, mungkin sulit sekali melihat keduanya bertemu dan "berdamai" di satu titik entah dimana. "Jadi kalau membahas teori evolusi, mari kita tengok dulu bukunya Darwin edisi Bahasa Inggris, atau terjemahannya yang juga digarap dengan bagus, penerbitnya Yayasan Obor Indonesia," ujar Adi. Menurutnya, sumbangan Indonesia untuk teori evolusi lumayan banyak, tentu saja lewat Wallacea yang saat itu verifikasinya ditunggu 72

Darwin sebelum menyelesaikan bukunya. "Oleh sebab itulah, kemarin saya pusing mencari kalimat di buku itu yang menuliskan 'manusia adalah keturunan kera' atau sejenisnya. Apakah benar Darwin menyatakannya? Di buku itu tak ada sama sekali pernyataan itu. Dan kalimat pada diskusi lalu yang saya baca: 'Agama berangkat dari Meyakini dan Sains berangkat dari Menyangsikan', kurang lebih bisa menggambarkan polarisasinya kan?" Jelas Adi.

Erich Fromm bicara
Rekan Robertus Budiarto aka Bobby <budiartobobby@yahoo.com> dengan hati-hati berpandangan bahwa filsafat dan agama itu tidak perlu dipertentangkan. "Sekularitas dan spiritualitas itu adalah harmoni. Yang selalu bertentangan biasanya ISME melawan ISME. Yang selalu harmoni biasanya TAS dengan TAS. Bukti bahwa agama dan filsafat bisa harmoni mungkin perlu menunggu perkembangan lebih lanjut dari Fisika Modern yang menggunakan istilah a-nihilasi dan kreasi, konsepnya mirip dengan transendensi dan imanensi (atau apalah)," ujar Bobby. "Yang jelas saya sulit menerima jika manusia tidak boleh menggunakan akal budi. Tuhan atau siapapun yang menciptakan kita pasti mempunyai maksud mulia memberikan manusia akal budi/nurani. Kadal, gajah, kecoa, jangkrik dan lainnya tak diberi akal budi/nurani cuma manusia yangdapat keistimewaan itu. Lha kok nggak boleh digunakan? Tentu saja yang harus dihindarkan adalah pendapat akulah yang paling benar. Dengan meyakini akulah yang paling benar maka, aku mengambil posisi Tuhan. Dan ini sepertinya malah jadi dosa yang paling besar." "Sementara mengenai ajaran bahwa nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa, menurut penafsiran Erich Fromm, itu adalah bahasa Tuhan pada masyarakat patrilineal. Ketika umat manusia masih kanakkanak, Tuhan tampak sebagai ayah yang menghukum anak nakal dan memberi hadiah anak yang baik. Khusus mengenai Adam dan Hawa, ini mitos yang menerangkan pada umat manusia bahwa manusia itu harus dewasa, tidak bisa kembali menjadi kanak-kanak. Manusia harus berkembang terus dan makin bersikap dewasa. Dan (ingat), masyarakat patrilineal dengan pasti lebih menonjolkan tokoh laki-laki. Laki-laki menjadi dewasa ketika dia telah mampu menerima "apel" dari seorang perempuan. 73

"Lalu kenapa Adam diusir dari surga? Surga adalah pangkuan Ibu dan perlindungan Bapak. Pengusiran itu menyimbolkan betapa berat hukumnya jika manusia tidak mau dewasa tapi mau kembali menjadi kanak-kanak lagi, mau netek terus. Kembali ke surga berarti kekacauan sosial bahkan kosmologis. Jagat akan 'gonjang ganjing' (atau sudah?). Bukankah zaman edan ini kebanyakan disebabkan oleh orang-orang berbadan bongsor tapi bermental kanak-kanak alias infantil? Bukankah anak-anak sering menangis karena Ibu tidak ada di sekitarnya? Demikian juga manusia fanatik. Fanatikun persis seperti anak kecil yang kehilangan Ibu, makanya mereka menjadi agresif jika ada yang berani mengusik keyakinannya Agresifitas itu sesungguhnya adalah manifestasi ketakutan, ketakutan kehilangan sesuatu." "Tidak heran teori evolusi misalnya dilihat sebagai ancaman, bukan karena teori ini berbeda dengan ajaran gereja atau agamanya. Tapi karena fanatikun memegang terlalu erat keyakinannya. Karena apa? Karena keyakinan bagi fanatikun adalah payudara Ibu. Sebuah kepastian atau gandulan hidup. Bayi mana yang tidak marah jika lagi asyik menyusu terus dicabut susunya?" Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <radityo_dj@yahoo.com>

74

Antara ada dan tiada
SEKAPUR SIRIH
Kawans, Rangkuman diskusi lintas milis bertajuk "Teori Evolusi vs Adam & Hawa" mendapat tanggapan yang luar biasa. Begitu banyak masukan, gagasan baru, kritik serta saran, juga muncul beragam pertanyaan. Ada yang serius, ada juga yang sekadar guyon. Syukur, hingga kini belum mencuat pro kontra yang menajam dalam diskusi ini. Dari hasil diskusi lalu dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Pada awalnya diskusi lintas milis ini hanya membahas tentang temuan Homo floresiensis, yang didukung bahasan tentang teori evolusi dan segala pernak-perniknya. Namun karena ada klaim dari isi beberapa kitab suci yang menyatakan bahwa Adam & Hawa adalah manusia pertama di muka bumi, mau tidak mau alur diskusi harus 'bersenggolan' dengan agama, walau tak sampai mengarah pada issue 'science vs faith', yang buat sebagian dari kita merasa 'alergi' untuk dibincangkan. 2. Menurut 'agama-agama langit' yang 'turun' di Timur Tengah, Adam & Hawa adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan, lalu 'dibuang' ke planet bumi. Di sisi lain, 'agama non langit' (Hindu, Budha, Konfisius, Tao, Shinto dan lainnya) tidak mengenal siapa mereka itu karena 'sumber penciptaan' yang berbeda, baik masa maupun lokasi kejadian. Sebagaimana kita tahu, 'agama-agama langit' yang awalnya hanya dipeluk oleh sebagian penduduk di kawasan Timur Tengah, akhirnya merasuk ke seluruh penjuru Eropa, sebagian Afrika dan sebagian Asia (lalu menyebar ke benua Amerika dan Australia karena perpindahan orang-orang kulit putih dari Eropa). Sejarah telah mencatat, agama- agama tersebut merembes kemanamana karena adanya jalinan perdagangan, hubungan sosial budaya, peperangan, perbudakan, penjajahan, perselingkuhan politik, tekanan politik, penyebaran wali-wali, rayuan para misionaris dan cara-cara lainnya, baik yang etis maupun tak etis. Bagaimana dengan tanah air kita Indonesia? Negeri 'gemah ripah loh jinawi' ini di masa lalu masing-masing suku punya 75

kepercayaan dan Tuhan masing-masing, namun pelan-pelan masuk pengaruh dari luar, diawali dengan agama Hindu, Budha, Islam, kemudian Kristen. Diluar itu, mereka dianggap menganut kepercayaan dan atheis. Jadilah Indonesia sebagai sebuah negeri campursari, dengan warna kental Islam yang mendominasi. Ada yang bersyukur karenanya, ada pula yang selalu bertanya-tanya dalam hati: "Kok bangsa kita mau-maunya ya selalu didikte asing? Mana harga diri dan martabat bangsa? Kemana larinya, bunga rampai khas bangsa Indonesia?" 3. Bicara soal teori evolusi, mau tidak mau Adam & Hawa harus jadi 'tokoh sentral'. Ini terkait erat dengan isi Bible yang jelas-jelas menyatakan bahwa Adam & Hawa adalah manusia pertama yang turun ke bumi. Sedangkan Al-Quran 'merevisi' (mereduksi?) posisi Adam 'hanya' sebagai Nabi pertama, sedangkan Hawa sekadar 'konco wingking' (pendamping hidup). Belum jelas makna di balik 'ralat' dari 'wahyu Tuhan' itu. Apakah Tuhan telah salah menurunkan wahyu seperti tersirat di Taurat, Perjanjian Lama dan Injil? Ataukah sebelum Al-Quran 'terbit', muncul kejadian besar? Misal munculnya gelombang pro dan kontra di masyarakat tentang keberadaan Adam & Hawa, makanya dikoreksi? Misal di kala itu telah ditemukan bukti-bukti nyata bahwa jauh sebelum Adam & Hawa turun ke bumi, planet ini sudah dihuni oleh sosok bernama manusia. Mungkin bukti-bukti itu sudah dihancurkan oleh 'tangan-tangan misterius' yang tidak ingin masyarakat di masa lalu terus menggugat eksistensi agama. Kini kita, manusia abad milenium, yang harus kerepotan untuk mempertanyakan dan coba meluruskannya kembali. Sayangnya, di AlQuran kisah penciptaan Adam hanya termuat di 10 ayat saja (Surat Al Baqarah ayat 30-39), setelah itu langsung meloncat ke kisah-kisah Nabi lainnya. Setelah Adam dan jin 'dibuang' dari surga ke bumi, usai sudah. Sungguh tidak tuntas, dan bikin tanda tanya. Lalu disebutdi Surat An Nisaa' ayat 1 tentang penciptaan manusia dan pasangannya (tidak disebut Adam dan Hawa). Sedangkan Injil lebih lengkap bercerita tentang Adam & Eva, namun juga banyak digugat karena statement 'Adam adalah manusia pertama di planet bumi'. Pertanyaan: Karena sebagian isi kitab-kitab suci 'agama langit' saling bertentangan, mana sebenarnya yang benar? Apakah Taurat, Injil atau Al-Quran? Kalau Al-Quran adalah yang benar, kenapa sebelumnya Tuhan bisa salah memberikan info kepada para Nabi, padahal Ia Sang Maha Tahu? Mungkin 'salah bisik'? Yang jelas, temuan manusia bernama teori evolusi telah mementahkan sebagian dari ayat-ayat Kitab Suci yang konon 'bikinan' Tuhan dan tidak bisa diganggu gugat. 76

Sebagian konflik di muka bumi muncul dengan alasan perbedaan agama. 4. Di mata Tuhan, Adam jelas-jelas telah melakukan kesalahan besar karena tak mematuhi perintahNya untuk tidak 'memakan buah apel' (Al-Quran menyebutnya buah kayu) di Taman Eden (Firdaus). Sebagai hukumannya, ia pun dibuang ke planet bumi. Mungkin mirip dengan pemerintah Inggris di masa lalu yang membuang para narapidana ke benua Australia, penjajah Belanda yang membuang para politikus Indonesia ke Digul, pemerintah Soeharto yang membuang PKI ke Pulau Buru, atau SBY yang baru saja membuang para koruptor ke Nusakambangan. Nah, kalau Adam itu 'orang buangan', kenapa ia dijadikan Nabi pertama? (versi Islam). 5. Pada diskusi ini, muncul pro kontra, namun sebatas tentang teori evolusi karya Charles Darwin, belum mengarah pada sains vs agama. Yang menentang teori evolusi lebih banyak mengacu pada buku karya Harun Yahya yang notabene pemeluk Islam. Sebagian dari mereka belum membaca buku karya Charles Darwin. 6. Ada beberapa rekan yang meminta agar diskusi lintas milis ini disudahi saja, karena tak ada gunanya mengungkit-ungkit sejarah masa lalu, jadi lebih baik bicara soal masa depan sahaja. Nah, silakan simak dan kita bahas ramai-ramai topik-topik berikutnya. Salam Evolusi! Jakarta, 10 November 2004, Radityo Djadjoeri email: <radityo_dj@yahoo.com>

MASUKAN
Seperti posting sebelumnya, tanggapan pertama datang dari Andika Fahmi Basya <andika@toyota.co.id> di Jakarta. Tepat 10 menit setelah saya posting. Dibuka dengan ucapan 'assalamualaikum', ia merasa banyak belajar dalam diskusi lintas milis ini. Selanjutnya ia memberi nasihat: "Sebagai seorang muslim kita wajib mengimani AlQuran sebagai pedoman dari segala disiplin ilmu. Ilmu apapun yang bapak-bapak miliki coba dirujuk kepada Kalamullah ini. Niscaya Anda akan menemukan bukti-bukti otentik seperti para ilmuwan lainnya yang menemukan keajaiban Al-Quran. Saya berharap Anda dapat 77

merenung dan mempelajari Al-Quran bukan hanya mempercayainya saja." Lalu emailnya ia tutup dengan ucapan 'wassalamualaikum'. Asuntana <asuntana@indo.net.id> juga amat tertarik dengan diskusi ini. "Mungkin perlu diperkaya dengan tambahan sudut pandang. Beberapa hal yang perlu diulas diantaranya adalah kehadiran Homo sapiens sendiri yang relatif 'lebih muda' dibanding umur bumi," ujarnya. Namun ia merasa terganggu dengan kehadiran dinosaurus melawan Adam, walau ia tahu itu cuma 'guyon' belaka. Alasannya, "Gap antara punahnya dinosaurus dengan hadirnya manusia di bumi ini rentang waktunya jauh sekali." Ia berharap diskusi ini terus berlanjut. Danardono Hadinoto <rm_danardono@yahoo.com> menyarankan agar alur diskusi tak menjalar kemana-mana, bagaikan tanaman merambat yang hanya menganggu pandangan mata, harus ditetapkan dengan jelas soal parameter, tujuan dan jalur. "Mirip jalur kereta api. Kereta api express Moskow - Siberia takkan ketemu dengan kereta api express Bulgaria - Paris. Karena jalurnya berbeda, parameter berbeda, semua berbeda. Jadi kalau mau diskusi mengenai tema ilmiah, gunakanlah parameter-parameter ilmiah, ya tetaplah dalam jalur ini. Tetapkan dahulu: purely dari segi biologi dan lainnya, gunakanlah metoda-metoda mutakhir, juga analisa DNA, lihat penemuanpenemuan dan penggalian-penggalian yang dilakukan. Diskusi yang menggabungkan jalur berbeda hanya menghabiskan waktu saja." Menurutnya, dogma agama sampai kapan pun takkan bisa didiskusikan, karena semua yang dikisahkan atau katakanlah 'diwahyukan', harus diterima sebagai kebenaran. Hindari mencampurkannnya dengan akidah agama. Kalau dikatakan, "Adam dan Hawa makan buah", ya percayalah itu buah. Tak perlu dibahas lagi dari ordo family apa, solanaceae, atau gramineae, dan sebagainya. Kalau dianggap, bahwa mendiskusikan ini berarti atheis, karena menggugat apa yang telah diwahyukan, ya terserah. Dahulu, menganggap bumi ini bulat juga dianggap menghujat Allah. Dahulu, ilmu kimia dianggap upacara memanggil iblis dan lain-lain. Brotosumarto <S@B...> mengiyakan pernyataan rekan Tular Sudarmadi, dosen Arkeologi UGM, di posting sebelumnya bahwa agama berbasis keimanan dan dogma, sedangkan diluar agama, basisnya kesangsian. Iamengutip Webster: "Dogma is belief or doctrine held by a religion or any kind of organization to be 78

authoritative and/or beyond question." (Dogma adalah doktrin kepercayaan yang dipegang oleh agama atau sejenis organisasi yang bersifat otoritas. Dan/atau itu tidak bisa/boleh dipertanyakan). Menurutnya, kisah Adam & Hawa adalah dogma = beyond question = tidak bisa dipertanyakan. Jika Anda percaya, just do it. End of the story. Sumber kisah Adam & Hawa adalah dari `text' yang tak mustahil bersifat metaforis, analogis, simbolitik, dll. Adam & Hawa hanyalah perlambang, bukan sesuatu yang konkrit. Artinya belum tentu yang tersurat = tersirat. Contoh, seseorang dengan yakinnya percaya bahwa hanya satu agama yang benar yaitu agamanya. Agama yang lain salah dan penganutnya bakal dimasukkan ke neraka. Maka yang atheis, komunis, yang menyembah berhala (Hindu, dll), dan agama lain akan dimasukkan ke neraka. Tuhan Yang Pengasih & Penyayang akan menganiaya milyaran manusia secara biadab. Milyaran manusia akan dihajar, ditempilingi, dibakar dll karena Tuhan ngamuk-ngamuk. Ia harus percaya bahwa neraka adalah biang kebiadaban. End of the story. Lalu seseorang lahir di India, yang miskin, kumuh, dan papa. Sepanjang hidupnya ia sengsara. Dalam keputus asaannya ia menyembah berhala. Ketika mati ia masuk neraka. Mengalami azab dan sengsara disiksa secara lebih biadab. Ia tak mengecap kebahagiaan setitikpun. Baik semasa hidup maupun sesudah mati. Ia adalah korban sebuah kebiadaban. Tetapi yang bersangkutan harus percaya karena dogma adalah beyond question. Ia tidak dibenarkan menyangsikan apalagi bertanya. Bisa-bisa ia nanti ditempilingi secara biadab di neraka. Akan tetapi ada segelintir yang menyadari tersurat >< tersirat; bahwa neraka bukanlah kata konkrit melainkan sebuah simbol, metafor, kias, atau apalah, yang tidak konkrit. Itu hanya perlambang. Demikian juga halnya Adam & Hawa, Ibrahim, Iblis, sorga, dosa, dll. Semuanya hanya perlambang baik/buruk & salah/benar. Namun, apa yang tidak bisa dibuktikan belum tentu salah. Contoh, sebagian besar dari yang baca ini `percaya' (=beriman) bahwa Wiranto korupsi. Tetapi tak seorangpun yang `beriman' tadi bisa membuktikan. Apakah karena tidak bisa membuktikan lantas dipastikan bahwa Wiranto tidak korupsi? Apakah karena tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada lantas dengan seenaknya kita memastikan Tuhan tidak ada? Sekarang adalah abad yang dinamakan 79

abad Post Modern dimana kebenaran mutlak <nyaris> tak ada lagi. Yang ada hanyalah kebenaran relatip, subyektip, atau kebenaran konsensus. Dus, tiap individu atau tiap kelompok mempercayai kebenaran itu untuk kalangan sendiri. Kebenaran bahwa Wiranto tidak korupsi adalah kebenaran legal/hukum. Itu tidak menyiratkan realitas yang sebenarnya. Bisa jadi ia korupsi, to? Kebenaran dalam dunia ilmiah hanya berlaku untuk kalangan itu dan pendukungnya. Kebenaran dogmatis hanya berlaku untuk kaum itu dan pendukungnya. Dan seterusnya. Kebenaran Teori Darwin hanya berlaku bagi yang percaya, tidak harus diyakini bagi yang menyangsikan. Juga yang mempercayai bahwa Adam konkrit atau kias, terpulang pada masing-masing. Benarkah begitu ? Aldi <sci_magic_lord@yahoo.com> mengaku tertarik dengan 'scientific discussion'. Menurutnya, bumi ini dulu dihuni berbagai species manusia yang tersebar di seluruh daratan. Sedangkan nenek moyang kita ( manusia modern ) - si Homo sapien - menurut teori berasal dari Afrika yang kemudian bermigrasi ke seluruh permukaan bumi termasuk Indonesia. Tapi ada kemungkinan besar juga bahwa nenek moyang kita itu juga melakukan perkawinan silang (cross breeding) dengan 'manusia setempat. Ia lalu bertanya: "Apakah seluruh species- species manusia yang beragam jenis ini berasal dari satu nenek moyang? And the answer is really out there...:)" Sedangkan Caligula <kadalbinal_2001@yahoo.com> belum berkeinginan untuk membantah apa yang tertulis di kitab suci, "walau isi kitab suci banyak yang aneh secara logika, namun kadang juga benar. Misal ayat yang berbunyi: "Wahai manusia, alam semesta ini dibuat dalam enam hari, yang satu hari sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu." Menurutnya, mungkin belum dua ratus tahun, lalu rumusan satu hari itu adalah waktu yg diperlukan untuk berotasi terhadap matahari. Padahal di angkasa raya ini banyak matahari di setiap galaksi. Dan masih banyak galaksi di angkasa yang belum mampu terhitung oleh manusia. Jadi pertanyaannya: satu hari rotasi planet mana terhadap matahari yag mana? Kalau kita baca buku Eric von Daniken, terlepas itu ilmiah murni atau spekulatif, memang begitu banyak perhitungan hari, misalnya 1 hari di bulan hanya 14 jam, tak sama dengan di bumi yang 24 jam. Masih 80

menurut Eric von Daniken, seorang manusia bumi yg diculik oleh E.T.beberapa jam, waktu dikembalikan ke bumi jamnya sudah menunjukkan perubahan waktu 4 hari kemudian. Menurutnya, hal itu terjadi karena di kendaraan E.T. itu tadi dia melakukan rotasi tehadap suatu matahari - entah di galaksi mana - selama 4 rotasi. Nah, contoh ini apakah bisa dikategorikan sebagai kebenaran yang masuk akal? Mungkin 'ya' untuk manusia masa kini atau masa mendatang, tetapi 'tidak' untuk manusia di abad 19, misalnya. Demikian juga dengan manusia, bagaimana mungkin Adam dan Hawa yg konon berkulit putih dan bertemu di Jabal Rahmah/Padang Arafah tidak jauh dari kota Mekah (Mecca) menghasilkan beragam ras? Menurut logika manusia masa kini, hal itu tak mungkin dihasilkan dari keturunan sepasang lelaki perempuan yang sama, berdasarkan hukum alam/biologi yang ada saat ini. Tapi di sisi lain kita juga menyaksikan, seperti di Jawa Tengah beberapa hari yang lalu tersiar berita seekor kambing yg melahirkan bayi kambing yg berkepala/berwajah seperti manusia. Di Afrika yang dikenal sebagai sumber/asal usul penyakit AIDS yg mematikan itu justru berasal dari monyet-monyet. Padahal penyakit itu hanya menular melalui hubungan seksual. Mungkinkah antar monyet itu "menularkan" ke manusia dengan cara 'sexual intercourse'? Tidak mungkin kan? Jadi, haruskah kesimpulan masalah itu kita putuskan sekarang? Konon, anekdot dari DepKeu RI, kalau bisa diselesaikan besok kenapa buru-buru diselesaikan sekarang? Bak kata orang Medan, soal urus sertifikat tanah, kalau dengan cara sulit ditempuh orang juga, mengapa harus dipermudah? Wawan Darmawan <iko_014@yahoo.com> di Berlin yang pemeluk Kristen merasa kerepotan kalau berdiskusi masalah sains dan agama secara simultan, karena sering bertentangan satu sama lain. Agamanya memang mengakui Adam & Hawa sebagai manusia pertama di bumi. Namun dalam Alkitab tak dijelaskan secara rinci bagaimana wujud Adam & Hawa, kecuali disebutkan mereka berparas elok, namun standarnya amat bias. Dari latar belakang budaya mana penilaiannya? "Kisah-kisah awal munculnya peradaban manusia yang berawal dari Adam & Hawa juga banyak kejanggalan, Adam dan Hawa adalah orang atau manusia pertama yang diciptakan dimuka bumi. Setelah Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden, mereka berkembang biak, 81

dan memiliki anak. Yang bikin saya heran, bagaimana proses silsilah mereka, sehingga tiba-tiba saja jumlah mereka bisa menjadi banyak? Bagaimana dan darimana Kain dan Habil - anak-anak Adam & Hawa bisa menemukan istri?" "Walau begitu, saya tak akan mempertanyakan keotentikan kitab yang saya imani. Akhirnya saya menggunakan kitab suci sebagai buku pedoman berohani, pedoman hidup berfilsafah atau orang atheis bilang 'the way of life'. Menelaah kitab suci dengan pikiran kritis, alamiah dan menjadikannya sebagai karya ilmiah yang harus diuji kebenarannya, tak akan pernah bisa. Karena menurut saya tidak pada tempatnya. Kitab suci dibuat bukan sebagai karya ilmiah yang diteliti secara ilmiah - setidaknya untuk orang awam seperti saya dan mungkin juga Anda semua," ujar Wawan. Bambang MR <bambang_mr@k... > bertanya kepada Andika Fahmi Basya <andika@toyota.co.id> yang pernah menyebut bahwa Adam & Hawa sebagai manusia pertama ada di Al Quran - termuat di Surat AlBaqarah ayat 30 dan Surat An-Nissa ayat 1, juga ada di Tafsir Ibnu Katsir: "Apa dalil yang digunakan sehingga kita harus meyakini bahwa Adam adalah manusia pertama di muka bumi? Cari di Al-Quran, tak akan diketemukan satu ayat pun yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Apa pula dasar yang digunakan sehingga kita meyakini bahwa kita semua ini adalah keturunan Adam?" Menurut Bambang, cerita Adam sebagai moyang manusia pertama memang ada di Injil, tetapi tidak ada di Al-Quran. Mungkin ada beberapa hadist yang menyatakan hal tersebut, tetapi perlu dikaji dulu kesahihan hadist tersebut. "Banyak sekali hadist-hadist yang mengandung ajaran Israiliyat, yaitu ajaran yang merupakan tradisitradisi orang Yahudi di zaman dahulu," ujarnya. "Palaentologis telah menemukan bukti-bukti bahwa telah ada manusia sebelum Adam. Dan beberapa jenis manusia tersebut tidak ada link satu sama lain. Secara analogi kasar, dapat dipertanyakan kenapa ada jutaan manusia yang amat berbeda kalau sumbernya satu? Mutasi genetik sebanyak apa yang menyebabkan perbedaan itu? Saya ambil contoh sederhana. Ada satu keluarga Negro, tinggal di Eropa, berkembang biak, beranak pinak, dan kawin dengan sesama mereka hingga ratusan tahun. Apakah keturunan mereka lama kelamaan akan berubah menjadi kulit putih, hidung mancung, mata biru? Demikian pula sebaliknya kalau ada keluarga kulit putih tinggal di Afrika, berbiak 82

dengan sesama, ratusan tahun, apakah kulit keturunan mereka akan menjadi hitam legam, rambut keriting, hidung membesar?" "Ada beberapa tafsir yang menyatakan bahwa sudah ada manusia jauh sebelum Adam 'diturunkan'. Dari buku 'Asal Usul Manusia" karya Dr. Maurice asal Perancis, yang selain mengambil beberapa bukti palaetologis, mutasi genetik, yang menyatakan ada banyak cikal bakal manusia tersebar di beberapa wilayah. Jadi nenek moyang manusia bukan hanya satu. Ada beberapa "Adam-Adam" lain yang muncul dipelbagai permukaan bumi. Bagaimana proses pemunculannya? Proses penciptaan Adam adalah merupakan contoh pemunculan manusia pertama pada satu daerah tertentu. Beberapa ayat Al-Quran dapat ditafsirkan bahwa memang ada beberapa manusia yang punah, dan digantikan dengan kelompok manusia yang baru. Menurut Bambang, beberapa palaentolog mengemukakan bahwa berdasarkan bukti-bukti peninggalan manusia purba, disimpulkan bahwa manusia purba pertama-tama tidak berbahasa oral. Mereka berbahasa isyarat. Sedangkan Adam, sebagai seorang Nabi yang memiliki pengetahuan obat-obatan, mengajarkan ilmu, dan sebagainya, sudah pasti berbudaya dan berbahasa. Sekali waktu bacalah bukunya Dr. Maurice. Selain meninjau dari sisi ilmiah, ia juga membahasnya dari sisi Bibel dan Al-Quran. Ada juga buku "Mengapa Darwinisme bertentangan dengan Al-Qur'an" karangan Aaron Jhon versi Indonesia. Adek <ade@yahoo.com> di milis UGM-Club juga menyatakan bahwa ia sempat buka Al-Qur'an, namun tak satu ayat pun menyebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama, "Tapi soal adanya manusia sebelum Adam kok saya masih ragu. Saya lebih percaya bahwa penemuan-penemuan (fosil) itu adalah milik hewan, karena hewan memang lebih dulu diciptakan setelah tumbuhan. Sedangkan makhluk hidup tertua di Bumi adalah ganggang." Sedangkan Akacom <akacom@centrin.net.id> masih bingung sama Adam & Hawa sebagai manusia pertama. "Kalau begitu, agama malah menganjurkan hubungan dan perkawinan antar saudara kandung dong. Seperti kakak dan adik boleh melakukan hubungan intim, sehingga keturuanan Adam lalu bisa berkembang biak. Kok seperti binatang ya?" Pertanyaan lainnya soal golongan darah. Kalau manusia pertama 83

adalah Adam & Hawa, kenapa golongan darah bisa ada 4, yaitu A, B, AB, dan O. Bukankah seharusnya maksimum cuma ada tiga kemungkinan? Contoh: katakan Adam bergolongan darah M dan Hawa bergolongan darah N, berarti anaknya pasti bergolongan darah kalau tidak M, N, atau MN. Bagaimana mungkin bisa membentuk 4 kemungkinan? Tidak mungkin golongan darah Adam itu AB dan Hawa itu O, karena AB merupakan gabungan dari A dan B dari parental, tidak mungkin asalnya katakan bergolongan darah M menjadi X dan Y sehingga membentuk golongan darah M. Berarti sebelum Adam sudah ada manusia lain di bumi, sehingga membentuk golongan darah AB yang merupakan gabungan dari A dan B. "Kalau hanya Adam & Hawa nenek moyang kita, kenapa manusia Asia berbeda dengan manusia Eropa atau Amerika, baik dari rhesus darah dan sifat genetiknya juga berbeda. Eksperimen pernah dilakukan, katakan orang Asia namun tinggal di Amerika dalam waktu yang lama. Selama tidak melakukan hubungan intim dengan orang Amerika tetapi sesama orang Asia saja sampai kapanpun dalam kurun waktu yang lama sekalipun tidak mungkin orang Asia berubah menjadi orang Amerika (bule) secara genetik. "Lalu dikatakan karena Adam memakan buah apel sehingga lelaki memiliki jakun. Bukankah sebagaimana para dokter tahu dan sering membedah bahwa jakun itu bukanlah buah apel, tentu jika buah apel dimakan dan tersangkut dikerongkongan akan membuat buah tersebut kelamaan membusuk.Tidak bisa buah apel berubah menjadi organ tubuh seperti jakun. "Terakhir, saya masih bingung, Allah itu laki-laki atau perempuan atau bukan laki-laki dan bukan perempuan atau laki-laki dan perempuan? Di Perjanjian Lama maupun di Al-Quran saya tidak menemukan soal ini. Bukankah di Perjanjian Lama dikatakan bahwa manusia diciptakan menyerupai wujud Allah. Berarti wujud Allah tidak jauh berbeda dengan manusia. Tolong dibantu jawabannya." Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <radityo_dj@yahoo.com>

84

CHARLES DARWIN, SIAPA DIA?
Pengantar Kita sudah berdiskusi "ngalor ngidul" selama beberapa minggu, tapi lupa memperkenalkan sosok sentral yang kerap kita bincangkan: Charles Darwin! Siapa dia? Bagaimana rekam jejaknya? Nah, hal tersebut ditanyakan oleh Aminta Ginting <Aminta.Ginting@ramayanains.com>. Ia juga bertanya, dimana bisa beli buku 'Origin of Species' di Jakarta? "Saya perlu buku itu, soalnya kalau mau mengikuti debat ini, sementara saya belum pernah baca buku aslinya, ya bisa salah kaprah," ujarnya. "Menurut yang saya dengar - mungkin ini juga bentuk lain dari salah kaprah - menjelang matinya, si Darwin itu juga akhirnya "kembali ke jalan yang benar". Dalam artian, dia pun mencabut pendapat sebelumnya bahwa nenek moyang manusia berasal dari sejenis hewan primata yang kemudian berevolusi. Benarkah demikian?" Aminta bertanya. Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri<radityo_dj@yahoo.com>

Rekam jejak Charles Darwin
Sebagian pertanyaan Aminta Ginting dijawab oleh rekan Zamhasari Jamil <izamsh@yahoo.com> di New Delhi, India. Menurutnya, Charles Darwin lahir pada 12 Februari, 1809 di Shrewsbury, England - anak kelima dari pasangan Robert Waring Darwin dan Susannah Wedgwood. Ibunya meninggal dunia kala Darwin masih berusia delapan tahun. Ketika Darwin berusia 16 tahun, ia pun meninggalkan kota kelahirannya dan kemudian belajar ilmu obat-obatan di Edinburgh 85

University (EU). Namun sayangnya,ia tak melanjutkan studinya di EU hingga selesai. Lalu Darwin meneruskan pendidikannya di Cambridge University hingga meraih gelar sarjana. Usai wisuda ia lalu mengadakan suatu "penjelajahan ilmiah" selama lima tahun (1826 - 1831) di Amerika Selatan. Pada 1839, ia pun menikahi saudari sepupunya, Emma Wedgewood. Darwin hidup bersama isteri dan anak-anaknya di Downe, England, kira- kira 15 miles dari London. Ia menghabiskan masa hayatnya dengan menulis dan menerbitkan karya-karyanya. Pada 1859, karyanya berjudul "On the Origin of Species by Means of Natural Selection" diterbitkan. Buku karyanya banyak dibicarakan orang, dan membuat namanya terangkat. Namun karyanya itu juga menuai kontroversi. Bagaimana tidak, manusia yang ada di muka bumi ini, bagi Darwin adalah merupakan hasil evolusi. Pada 1871 ia menerbitkan buku berjudul "The Descent of Man" yang juga kesohor. Penyakit pun kemudian datang menyerang kala ia berkelana untuk kesekian kalinya ke Amerika Selatan. Ia meninggal pada 19 April 1882 dan dikebumikan di Westminster Abbey. "Itulah Darwin yang saya kenal dari cerita guru-guru semasa belajar mengaji di pesantren dulu," kenang Zamhasari.

Does men come through evolution or creation?
Zamhasari lalu bercerita tentang sebuah pengalamannya di India. "Saya kembali teringat tentang Darwin kala saya bertandang ke rumah teman yang studi di Aligarh Muslim University, salah satu universitas ternama di India, dalam rangka buka puasa bersama. Usai santap malam, teman saya menyuguhkan pertanyaan, "Does men come through evolution or creation?" Dengan tegas, saya jawab, "Creation!" "Karena saya yakin benar bahwa asal-muasal manusia adalah dari tanah, yang kemudian oleh Allah ditiupkan ruh kedalamnya, bukan dari yang lain, bahkan bukan berevolusi dari kera. Penciptaan manusia ini telah "dipertanyakan" sebelumnya oleh para malaikat. "Mengapa engkau menciptakan manusia di muka bumi yang hanya akan membuat kerusakan dan menimbulkan pertumpahan darah?" Begitu tanya malaikat. Bila kita tilik ayat ini secara mantap, jelas, sepertinya 86

pernah ada "manusia" atau "sejenis manusia" yang dulunya asyik membuat kerusakan di bumi dan menimbulkan pertumpahan darah. Berarti, kalau kita mengartikan ayat ini hanya sampai disini, benarlah bahwa manusia itu merupakan hasil evolusi. Tetapi, setelah malaikat itu bertanya, kembali Allah menegaskan, "Aku lebih tahu tentang apaapa yang tidak kamu ketahui." Artinya, "tahunya" malaikat itu juga tak terlepas dari skenario yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Menurut Zamhasari, membaca atau tidak membaca karya Darwin itu sama saja, karena ia memang tak setuju dengan Teori Darwin itu. "Tapi bila ada bukunya, tentulah saya akan membacanya. Hanya untuk menambah khazanah keilmuan saja, bukan untuk memperluas keyakinan mengenai teori evolusi tersebut," ujarnya mantap. Fachim <fahim_ah@yahoo.com>, juga di New Delhi, India, menambahkan bahwa ia telah membaca sebuah ulasan tentang runtuhnya teori evolusi di website: www.harunyahya.com. "Dari beberapa percobaan yang membuktikan teorinya, Charles Darwin banyak membuat berbagai material buatan yang dianggapnya bisa membuktikan penemuannya seperti rangka-rangka manusia purba. Setelah diteliti, ternyata umur rangka itu baru beberapa bulan," ungkap Fachim, sambil tak lupa meminta Aminta untuk menelusuri situs tersebut. Muammar Kadhafi <edwalhisultra@telkom.net> di Sulawesi Tenggara juga menyangsikan kebenaran Teori Darwin. "Jika memang Teori Darwin benar, kenapa monyet sampai sekarang tetap konsisten pada bentuknya, sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu? Terbukti monyet tidak mengalami evolusi. Andai Teori Darwin benar, mungkin saja sudah ada monyet yang kawin dengan manusia. Atau juga masih adakah sampai hari ini kera yang dimaksud Darwin yang berjalan tegak? Kenapa mereka harus musnah? Sementara kera yang masih hidup saat ini adalah kera yang berjalan dengan 4 kaki. Selanjutnya, jika memang terjadi evolusi secara terus menerus hingga sekarang, kenapa manusia yang hidup di abad sekarang ini tidak juga pernah berubah wujud sebagai hasil dari evolusi? Paling tidak dari morfologi tubuh manusia yang ganteng dan cantik berevolusi menjadi lebih baik atau sebaliknya. Memaknai evolusi dalam sejarah kehidupan manusia mungkin terlalu berlebihan, tapi kalau evolusi itu terjadi pada kera, itu bisa saja terjadi..... 87

Diskusi dengan para pakar evolusionis
Sementara, Yuli Setyo Indartono <indartono@yahoo.com> di Kobe, Jepang, menyarankan Aminta untuk membuka website PBS. "Ini salah satu sumber informasi tentang Teori Darwin yang isinya cukup bagus, lumayan lengkap dan ada juga diskusi dengan para pakar," ujar Yuli. Klik: http://www.pbs.org/wgbh/evolution/darwin/diary/index.html Proses mutasi genetik akan mempengaruhi kehidupan makhluk hidup Filip Nikolic <filip.nikolic@gmail.com> coba meluruskan soal opini 'manusia berevolusi dari monyet'. "Teori Darwin tak pernah mengatakan manusia itu berasal dari kera. Tepatnya dia bilang, manusia dan monyet berasal dari 'common root' -dari nenek moyang yang sama. Tidak ada yang pernah tahu apakah itu monyet atau manusia, atau setengah manusia setengah monyet. Mungkin para arkeolog bisa membuat teori berdasar fosil-fosil yang ditemukan, tapi toh itu cuma spekulasi," ujar Filip. "Pada dasarnya, Teori Evolusi itu mengandung kebenaran, walau sebagian orang menyangsikannya, bahkan ada yang menolaknya mentah-mentah. Untuk itu, menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua untuk mengungkap kebenaran itu. Makhluk hidup berevolusi akibat keterpengaruhan, dimana prosesnya bisa memakan waktu puluhan, ratusan, hingga jutaan tahun. Tanpa adanya pengamatan kehidupan makhluk hidup dari waktu ke waktu, tak ada catatan sejarah yang dapat membuktikannya. Padahal setiap makhluk hidup akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu, karena teori evolusi berkaitan erat dengan ilmu genetika." "Pada saat Charles Darwin memaparkan teori evolusi, dunia belum mengenal proses mutasi genetik yang mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Paparan radiasi global - misal radiasi sinar UV matahari dan sinar kosmis - maupun radiasi lokal (misal akibat kandungan zat radiasi di lokasi sekitar kita) dalam dosis rendah, menyebabkan gen-gen kita secara pelan terus melakukan penyesuaian secara alamiah menuju tingkat evolusi yang lebih tinggi sehingga daya beradaptasi dengan lingkungannya jadi makin tinggi juga. Jadi mungkin saja manusia tempo dulu bentuknya belum sesempurna seperti sekarang. Tapi itu tidak harus diterjemahkan bahwa kita turunan monyet. Ditilik dari idenya, tak ada yang salah dari Teori 88

Darwin. Sayangnya, di zaman Darwin orang belum kenal bioteknologi macam cloning dan lainnya. Jadi cara Darwin menuangkan idenya saja yang menurut ukuran kita sekarang ini kurang canggih." "Sebagai contoh kecil, masih bisa kita amati bentuk fisik orang Jepang di masa lalu yang rata-rata bertubuh pendek alias 'kate'. Usai PD II, karena kesejahteraan hidup yang lebih baik, kini jarang ditemui orangorang bertubuh pendek. Dari pengaruh nutrisi dan perubahan gaya hidup saja bentuk fisik mereka cepat berubah, apalagi ada keterpengaruhan lainnya." Jamal Senjaya" <jamal_senjaya@telkom.net> memberikan tips kepada orang-orang yang antipati terhadap Teori Darwin untuk mengikuti nasihat seorang scientist berikut ini: "Kita jangan melihat seperti seekor lalat bodoh. Lalat bodoh melihat Ani seperti si Ani sekarang ini, Ani yang dewasa. Lalat bodoh percaya kalau Ani terus dewasa dan selamanya dewasa seperti sekarang ini. Ia tidak menyadari kalau Anda pernah lahir, dewasa, dan menjadi tua, dan mati. Jika lalat itu pandai, maka ia bisa melihat Amir, Budi, dll yang muda, dan tua. Ia seharusnya bisa menyadari kalau Ani seperti Amir dan Budi pernah muda dan bisa tua dan mati. Begitu juga seharusnya kita melihat jagad raya seperti lalat pandai ini. Manusia dan jagad raya juga berevolusi, dari gejala-gejala alam, fosil, dan sebagainya. Seharusnya kita bisa menyadari kalau manusia dan jagad raya juga lahir, berevolusi, dan mati...."

Butuh manusia multidimensi untuk memahami Teori Evolusi
Andreas Mihardja <mihardja@pacbell.net> mengatakan bahwa Teori Evolusi melebihi dari daya imajinasi yang dipunyai orang biasa. "Mana mungkin manusia dengan pengetahuan yang average dapat membayangkan dan menulis teori bahwa nenek moyang manusia dan monyet ada kemungkinan sama. Kalau daya nalar manusia tersebut masih dibawah average – mereka akan bertanya: Apakah ilmu evolusi ini? Buat mereka, teori ini hanya isapan jempol belaka." Menurut Andreas, makhluk hidup yang hanya kenal 2 dimensi sulit mengerti keadaan dalam 3 dimensi. Mahluk hidup yang mengetahui 3 dimensi sulit mengerti 4 atau multi dimensi. Untuk memahami keadaan 89

dalam multi dimensi, makhluk hidup memerlukan dasar ilmu pengetahuan yang mendalam, daya imajinasi kuat, dan juga probability. Untuk memahami teori evolusi kita harus memiliki dasar ilmu seperti Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, dan ilmu-ilmu yang mengatur ilmu-ilmu ini menjadi satu ilmu pengetahuan untuk menerangkan keadaan. "Pengetahuan yang diberikan di dalam kitab-kitab suci seperti Injil, AlQur'an, Wedha atau legenda Cina adalah penerangan yang dapat diterima oleh pengikut agama mereka yang kadar ilmu pengetahuannya kala itu masih 2 dimensi. Untuk mereka mengerti keadaan multi seperti yang saya terangkan sebelumnya adalah diluar 'scope of view' mereka," ujar Andreas. Namun ia menyarankan, agar diantara kita jangan saling memaksakan pengetahuan - scientific atau psudo scientific - kepada individu yang lain. Setiap individu memiliki kadar pengetahuan berbeda, dan daya imajinasi mereka juga tak sama - dimana scope pandangan mereka akan sangat berlainan. Mereka akan selalu mengatakan bahwa pengetahuan mereka adalah yang betul dan/atau asli, sedangkan yang lain adalah salah dan/atau palsu. Untuk mengubahnya, scope basis harus diberikan - nanti imajinasi akan berubah dengan sendirinya. Inilah basis kemajuan ilmu pengetahuan yang kita temukan di dunia Barat. Teori-teori yang dipaparkan para pemenang Nobel biasanya teori yang sekarang dapat diterima oleh scope pengetahuan masa kini. Waktu teori tersebut diciptakan, 'nobody understand'.

Merasa diri paling benar
Stephanus <sutepasu@gmail.com> menanggapi opini Andreas Mihardja: "Apakah secara implisit Anda mengatakan bahwa makhlukmakhluk yang hanya mengenal 2 dimensi lebih terbelakang dibanding makhluk-makhluk yang sudah mengenal 3 dimensi dan seterusnya? Bagaimana mungkin makhluk yang hanya mengenal 2 dimensi bisa mengerti benda 3 dimensi? Contohnya ayam, atau ikan yang matanya ada di samping kepala, cara mereka melihat dunia jauh berbeda dengan manusia yang matanya menghadap ke depan dan memiliki kemampuan untuk menyatukan kedua image yang ditangkap matanya sehingga keluar image 3 dimensi. "Sehebat apa pun Anda mencoba untuk mengajarkan ikan atau ayam 90

tersebut melihat 3 dimensi, hal tersebut tidak akan bisa dilakukan selama fisiknya tidak mendukung. Lain halnya dengan manusia. Manusia memiliki idea-idea - dari zaman dahulu hingga kini. Apakah idea-idea itu masih tetap sama? Yang jadi masalah, manusia punya kendala yaitu adanya faktor ego: merasa diri paling benar, merasa yang ia percaya adalah yang paling benar. Padahal kebenaran tersebut hanya berlaku untuk dirinya sendiri pada saat itu." "Kembali pada masalah dimensi. Seharusnya dimensi yang bisa dipelajari manusia adalah tak terbatas. Banyak sekali hal yang bisa dipelajari di dunia ini. Dan menurutku, mengacu pada suatu tradisi tanpa melihat kondisi saat ini adalah suatu hal yang konyol. Segala sesuatu pasti ada sisi yang lain, atau boleh saya sebut, dimensi yang lain. Menutup diri dan tidak mau melihat dimensi yang lain adalah sama saja seperti ayam dan ikan, bahkan lebih menyedihkan karena manusia bisa memilih sedangkan ikan dan ayam tidak bisa memilih."

Pro-Darwin belum tentu anti ajaran agama
Sementara Bimo Nugroho <bimo_n@hotmail.com> belum mau bersikap sebagai pro-Darwin, atau anti-Darwin. "Terus terang sampai saat ini saya belum pro kemana-mana karena tidak terlalu menguasai content-nya. Pertama, saya belum baca Origin of Species. Kedua, saya belum sempat baca Harun Yahya yang bukunya nangkring di rak kamar. Saya cuma ingin memberi perspektif saja, bahwa pro-Darwin belum tentu anti ajaran agama." Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <radityo_dj@yahoo.com>

91

Planet Bumi telah berusia 4,5 milyar tahun
Untuk menambah pemahaman Anda tentang proses evolusi yang lagi ramai didiskusikan, berikut adalah sejarah singkat planet Bumi serta kehidupannya, kiriman Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@gmail.com> @ milis UGM Club. Materi ini tentunya pernah kita 'lahap' sewaktu duduk di bangku SMP/SMA. Sekadar mengingatkan buat yang sudah lupa, planet Bumi ternyata telah tercipta sejak 4,5 - 2 milyar tahun lampau, bandingkan dengan Homo floresiensis yang hidup sekitar 18.000 tahun lalu. Pembagian Masa/Zaman: Masa Pra Kambrium: Masa Arkeozoikum (4,5 - 2,5 milyar tahun lalu) & Masa Proterozoikum, meliputi : Zaman Kambrium (590-500 juta tahun lalu) Zaman Ordovisium (500 - 440 juta tahun lalu) Zaman Silur (440 - 410 juta tahun lalu) Zaman Devon (410-360 juta tahun lalu) Zaman Karbon (360 - 290 juta tahun lalu) Jaman Perm (290 -250 juta tahun lalu) Zaman Trias (250-210 juta tahun lalu) Zaman Jura (210-140 juta tahun lalu) Zaman Kapur (140-65 juta tahun lalu) Zaman Tersier (65 - 1,7 juta tahun lalu) Zaman Kuarter - Plistosen & Holosen (1,7 juta tahun lalu - sekarang) Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri<radityo_dj@yahoo.com>

92

Masa Arkeozoikum (4,5 - 2,5 milyar tahun lalu)
Arkeozoikum artinya masa kehidupan purba. Masa Arkeozoikum (Arkean) merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen. Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia yang lazim disebut kraton/perisai benua. Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa ini juga merupakan awal terbentuknya Indrorfer dan Atmosfer serta awal muncul kehidupan primitif di dalam samudera berupa mikro-organisma (bakteri dan ganggang). Fosil tertua yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira 3.500.000.000 tahun

Masa Proterozoikum (2,5 milyar - 590 juta tahun lalu)
Proterozoikum artinya masa kehidupan awal. Masa Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes). Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal, yang bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama. Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai Masa Pra-Kambrium.

Zaman Kambrium (590-500 juta tahun lalu)
Kambrium berasal dari kata "Cambria" nama latin untuk daerah Wales, dimana batuan berumur kambrium pertama kali dipelajari. Banyak hewan invertebrata mulai muncul pada zaman Kambrium. Hampir seluruh kehidupan berada di lautan. Hewan zaman ini mempunyai kerangka luar dan cangkang sebagai pelindung. Fosil yang umum dijumpai dan penyebarannya luas adalah Alga, Cacing, Sepon, Koral, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Artropoda (Trilobit). Sebuah daratan yang disebut Gondwana (sebelumnya Pannotia) merupakan cikal bakal Antartika, Afrika, India, Australia, sebagian Asia dan Amerika Selatan. Sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan Tanah Hijau 93

masih berupa benua-benua kecil yang terpisah.

Zaman Ordovisium (500 - 440 juta tahun lalu)
Zaman Ordovisium dicirikan oleh munculnya ikan tanpa rahang (hewan bertulang belakang paling tua) dan beberapa hewan bertulang belakang yang muncul pertama kali seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak Laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid (Lili Laut) dan Bryozona. Koral dan Alga berkembang membentuk karang, dimana Trilobit dan Brakiopoda mencari mangsa. Graptolit dan Trilobit melimpah, sedangkan Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar. Meluapnya samudera dari Zaman Es merupakan bagian peristiwa dari zaman ini. Gondwana dan benua-benua lainnya mulai menutup celah samudera yang berada di antaranya.

Zaman Silur (440 - 410 juta tahun lalu)
Zaman Silur merupakan waktu peralihan kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan darat mulai muncul pertama kalinya termasuk Pteridofita (tumbuhan paku). Sedangkan Kalajengking raksasa (Eurypterid) hidup berburu di dalam laut. Ikan berahang mulai muncul pada zaman ini dan banyak ikan mempunyai perisai tulang sebagai pelindung. Selama zaman Silur, deretan pegunungan mulai terbentuk melintasi Skandinavia, Skotlandia dan Pantai Amerika Utara

Zaman Devon (410-360 juta tahun lalu)
Zaman Devon merupakan zaman perkembangan besar-besaran jenis ikan dan tumbuhan darat. Ikan berahang dan ikan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di dalam lautan. Serbuan ke daratan masih terus berlanjut selama zaman ini. Hewan Amfibi berkembang dan beranjak menuju daratan. Tumbuhan darat semakin umum dan muncul serangga untuk pertama kalinya. Samudera menyempit sementara, benua Gondwana menutupi Eropa, Amerika Utara dan Tanah Hijau.

Zaman Karbon (360 - 290 juta tahun lalu)
Reptilia muncul pertama kalinya dan dapat meletakkan telurnya di luar air. Serangga raksasa muncul dan ampibi meningkat dalam jumlahnya. Pohon pertama muncul, jamur Klab, tumbuhan ferm dan paku ekor 94

kuda tumbuh di rawa-rawa pembentuk batubara. Pada zaman ini benua-benua di muka bumi menyatu membentuk satu masa daratan yang disebut Pangea, mengalami perubahan lingkungan untuk berbagai bentuk kehidupan. Di belahan bumi utara, iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran, rawa-rawa yang berisi dan sekarang tersimpan sebagai batubara.

Zaman Perm (290 -250 juta tahun lalu)
"Perm" adalah nama sebuah propinsi tua di dekat pegunungan Ural, Rusia. Reptilia meningkat dan serangga modern muncul, begitu juga tumbuhan konifer dan Grikgo primitif. Hewan Ampibi menjadi kurang begitu berperan. Zaman Perm diakhiri dengan kepunahan micsa dalam skala besar, Tribolit, banyak koral dan ikan menjadi punah. Benua Pangea bergabung bersama dan bergerak sebagai satu massa daratan, Lapisan es menutup Amerika Selatan, Antartika, Australia dan Afrika, membendung air dan menurunkan muka air laut. Iklim yang kering dengan kondisi gurun pasir mulai terbentuk di bagian utara bumi.

Zaman Trias (250-210 juta tahun lalu)
Gastropoda dan Bivalvia meningkat jumlahnya, sementara amonit menjadi umum. Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertama kalinya selama zaman ini. Reptilia menyerupai mamalia pemakan daging yang disebut Cynodont mulai berkembang. Mamalia pertama pun mulai muncul saat ini. Dan ada banyak jenis reptilia yang hidup di air, termasuk penyu dan kura-kura. Tumbuhan sikada mirip palem berkembang dan Konifer menyebar. Benua Pangea bergerak ke utara dan gurun terbentuk. Lembaran es di bagian selatan mencair dan celah-celah mulai terbentuk di Pangea.

Zaman Jura (210-140 juta tahun lalu)
Pada zaman ini, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyosaurus berburu di dalam lautan dan Pterosaurus merajai angkasa. Banyak dinosaurus tumbuh dalam ukuran yang luar biasa. Burung sejati pertama (Archeopterya) berevolusi dan banyak jenis buaya berkembang. Tumbuhan Konifer menjadi umum, sementara Bennefit dan Sequola melimpah pada waktu ini. Pangea terpecah dimana 95

Amerika Utara memisahkan diri dari Afrika sedangkan Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan Australia.

Zaman Kapur (140-65 juta tahun lalu)
Beragam dinosaurus raksasa dan reptilia terbang hidup pada zaman ini. Mamalia berari-ari muncul pertama kalinya. Pada akhir zaman ini Dinosaurus, Ichtiyosaurus, Pterosaurus, Plesiosaurus, Amonit dan Belemnit punah. Mamalia dan tumbuhan berbunga mulai berkembang menjadi banyak bentuk yang berlainan. Iklim sedang mulai muncul. India terlepas jauh dari Afrika menuju Asia.

Zaman Tersier (65 - 1,7 juta tahun lalu)
Pada zaman tersier terjadi perkembangan jenis kehidupan seperti munculnya primata dan burung tak bergigi berukuran besar yang menyerupai burung unta, sedangkan fauna laut sepert ikan, moluska dan echinodermata sangat mirip dengan fauna laut yang hidup sekarang. Tumbuhan berbunga pada zaman Tersier terus berevolusi menghasilkan banyak variasi tumbuhan, seperti semak belukar, tumbuhan merambat dan rumput. Pada zaman Tersier - Kuarter, pemunculan dan kepunahan hewan dan tumbuhan saling berganti seiring dengan perubahan cuaca secara global.

Zaman Kuarter (1,7 juta tahun lalu - sekarang)
Zaman Kuarter terdiri dari Kala Plistosen dan Kala Holosen. Kala Plistosen mulai sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 10.000 tahun yang lalu. Kemudian diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang. Pada Kala Plistosen, paling sedikit terjadi 5 kali zaman es (zaman glasial). Pada zaman glasial sebagian besar Eropa, Amerika Utara dan Asia bagian utara ditutupi es, begitu pula Pegunungan Alpen, Pegunungan Cherpatia dan Pegunungan Himalaya. Di antara 4 zaman es ini terdapat zaman Intra Glasial, dimana iklim bumi lebih hangat. Manusia purba Jawa (Homo erectus yang dulu disebut Pithecanthropus erectus) muncul pada Kala Plistosen. Manusia Modern yang mempunyai peradaban baru muncul pada Kala Holosen. Flora dan fauna yang hidup pada Kala Plistosen sangat mirip dengan flora dan fauna yang hidup sekarang. -----------------------------------------Sumber : Museum Geologi Bandung 96

SARTONO MUKADIS: BUKALAH 'BUKU ALAM' SELUAS-LUASNYA
Sartono Mukadis <mukadis@indosat.net.id> di Jakarta memaparkan opini yang intinya bahwa umat manusia diberi peluang dan kebebasan oleh Tuhan untuk bertanya apa saja tentang segala kejadian dan keajaiban alam ini, kecuali satu hal yang mutlak kebenarannya yaitu ke-Esa-an Allah. "Dalam keyakinan saya yang mungkin tidak terlalu tepat, Yang Maha Esa mempersilakan kita membuka 'buku alam' ini seluas-luasnya," ucap Sartono. "Atas dasar keyakinan itu, bagi saya sah-sah saja segala upaya untuk 'surfing web' Illahi ini. Bahkan dalam banyak hal, inilah cara kita untuk membuktikan sekaligus lebih mendekatkan diri kepada Illahi, bukan sekadar dogmatis belaka," tambah Sartono. Sartono lalu berkisah tentang pengalamannya bercakap-cakap singkat dengan pakar neurologi. "Dia katakan bahwa otak manusia terdiri dari setidaknya 10 milyard 'chip', namun chip tersebut memang tidak bisa membelah diri lagi seperti sel lainnya. Tetapi ia bisa dan memang harus diasah terus menerus karena hanya dengan demikian otak mampu membuat jaringan (network). Dan itulah yang membedakan satu indvidu dari individu lainnya - lebih atau kurang pandai (smart vs dumb). Atau ketika kecil kita diingatkan bahwa setiap perbuatan baik maupun buruk - akan dicatat oleh Malaikat untuk diadili kelak. Sekarang dengan chip yang masih tahap awal dalam perkembangannya saja sudah menunjukkan penampilan yang mengagumkan, apalagi kelak kalau ukuran nanometer sudah digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari." "Singkatnya, saya tergolong orang yang sangat yakin bahwa ilmu 97

pengetahuan dan agama sama sekali tidak ada yang bertentangan. Sekarang tergantung dari kita sendiri dalam menyikapi keduanya. Ketika kita 'menemukan' sesuatu yang tampaknya 'luar biasa', kita sudah berteriak: 'Aku sudah tahu semua...' Layaknya anak Indian di tengah Amazon yang mencuri-curi biduk ayahnya berlayar 1 km ke hulu 1 km ke hilir. Waktu kembali, ia berteriak girang: 'Ayah! Aku sudah melihat dunia...' Sebaliknya, ada sebagian orang yang beranggapan, upaya mengungkap rahasia alam sebagai dosa karena mengingkari kebesaran Illahi." "Padahal kalau boleh diumpamakan - mohon maaf - ke-Maha Besar-an Illahi yang 'berhasil' kita ungkap itu ibarat keahlian memasukkan gula cair ke dalam 'kue kelepon' yang konon dikagumi profesor Jepang. Rahasia dan kebesaran Allah jauh-jauh-jauh lebih besar dari seluruh otak manusia yang pernah hidup dihimpun jadi satu. Bayangkan!" "Mohon maaf kalau saya keliru. Tapi itulah dasar pikiran saya. Oleh sebab itu pula saya enteng saja membaca asupan manapun tanpa Insya Allah - terguncang keimanan saya. Astagfirullah, mohon ampun ya Allah."

Duluan mana: "Ayam atau telur?"
Budiman Sugiharto <bsugih@cbn.net.id> di Jakarta menilai, alur diskusi ini cukup bagus, namun tak bakalan ada habisnya untuk dibahas. Sama seperti pertanyaan: "Duluan mana, telur atau ayam?" Menurutnya, masih banyak misteri kehidupan yang belum terungkap. "Biarlah para ahli terus mengembangkan penelitiannya," demikian saran Budiman. Tentang asal usul manusia, ia memberikan masukan: "Sepengetahuan saya, hanya kitab suci Islam dan Kristen yang menceritakan asal usul manusia, sedangkan agama Budha dan Hindu tak membahasnya." Menurut Aminta Ginting <Aminta.Ginting@ramayanains.com> di Jakarta, diskusi tentang asal usul manusia mau tidak mau akan selalu bersinggungan dengan agama dan sains. "Hambatannya, agama adalah sesuatu yang tak bisa diganggu gugat. Ilmu pengetahuan sendiri tak mampu menjawab semua pertanyaan, misalnya saja soal pertanyaan ayam dan telur. Kalau dari sisi keilmuan, jawabannya tidak jelas. Tapi kalau dari segi agama, jawabannya ya duluan ayam. Karena menurut agama, makhluk itu diciptakan dalam kondisi 'dewasa', lalu 98

berkembang biak dan seterusnya," kilah Aminta.

Ilmuwan dan Agamawan sama-sama khusuk dan takjub
Lodovikus Sintus <miskintapisombong@yahoo.com> di Australia punya pendapat pribadi. Menurutnya, kitab suci dan buku-buku tulisan evolusionis sama-sama enak dibaca. "Duduk di dalam rumah ibadah sama takjubnya dengan duduk sendirian di tepi pantai menonton ikan lumba-lumba (dolphin) dan ikan paus (whale) berenang. Disana kita dapat merasakan kebesaran Tuhan. Hal tersebut hanya dapat kita rasakan apabila kita telah membaca tulisan-tulisan evolusionis," ujarnya. "Menurut evolusionis, ikan lumba-lumba dan ikan paus adalah bukti nyata dari perjalanan evolusi bahwa kedua binatang ini pernah hidup di darat. Sampai hari ini keduanya masih bernapas melalui hidung dan menggunakan paru-paru. Kalau kita jeli melihat gerakan tulang belakang dari keduanya ketika berenang, maka akan tampak persis seperti gerakan tulang belakang binatang di darat, seperti kerbau, anjing, kuda, babi dan lain-lain, dimana ketika berlari tulang belakang mereka bergerak ke atas dan ke bawah." "Sebaliknya, binatang darat yang pernah hidup di laut seperti cicak, buaya, biawak, ular dan lainnya, gerakan mereka persis seperti ikan berenang, dimana tulang belakang bergerak ke samping. Mengenai penemuan fosil di Flores? Entahlah. Yang jelas kebanyakan penduduk asli Flores pada umumnya, dan sekitar Liang Bua pada khususnya itu bertubuh kecil." "Di balik itu semua, saya kira evolusionis dan agamawan sama-sama percaya akan 'bigger being' - sesuatu yang lebih besar dan lebih ampuh. Beberapa dekade terakhir, para ahli disibukkan dengan 'unknown matter' yang terkenal dengan sebutan 'black hole' di jagad nun jauh di sana. Konon wilayah ini berkekuatan dasyat, dapat menyedot dan menelan planet sebesar apapun, termasuk dapat menyedot dan menelan bintang seperti matahari kita. Wow.....ngeriiiiiiiiii.." "Dengan pengetahuan yang dimilikinya, evolusionis mendapatkan kekhusukan dan ketakjuban seperti yang didapatkan oleh agamawan 99

ketika mereka berdoa, dimana dalam doa kita harapkan ridho Tuhan yang dinyatakan dalam bentuk 'menemui diri sendiri'. Who am I? Kalau agamawan dan evolusionis sampai pada tingkat ini maka bumi akan lebih aman. Nah, siapa yang benar dan siapa yang paling benar? Itu tergantung 'who you are'. Dibutuhkan orang yang 'wise man' dan banyak 'makan asam garam'. Good luck for your research job, Sir".

Bagaimana semua di alam semesta ini tercipta?
"Alam semesta ini terlalu kecil bila hanya manusia di Bumi saja yang menempatinya," itulah cuplikan dari film 'Contact' - dibintangi Jodie Foster - yang masih terngiang di benak rekan Hargo Angun <hargoangun@yahoo.com>. Menurut Hargo, mencermati proses evolusi itu tak bakal selesai oleh seseorang kecuali orang tersebut ber'evolusi' menjadi mati. Dalam proses evolusi sepertinya kita asyik membandingkan ilmu pengetahuan (science) dengan kitab suci. Padahal kita tahu keduanya berbeda. Dalam kasus kitab suci, kita didoktrin untuk percaya. Untuk percaya jelas menggunakan hati, bukan akal pikiran. Jadi kalau ada hal yang tidak masuk akal di kitab suci kita harus tetap mempercayainya. Percayalah!" Lalu bagaimana akal pikiran kita harus menanggapi hal tersebut? "Berusahalah, berpikirlah, bekerja keraslah membuka tabir alam semesta ini termasuk apakah alam semesta ini berevolusi. Menciptakan suatu teori termasuk teori evolusi harus berdasarkan metode ilmiah, ada proses pengambilan sampel, hipotesis, analisis, kesimpulan. Di matematika ada yang namanya metode analitik dan metode empiris. Mencampurkan metode ini dengan ayat-ayat yang ada di kitab suci jelas tidak dapat diterima - alias tidak 'nyambung'." "Metode kitab suci adalah melangit - vertikal - dari atas ke bawah. Sedangkan metode science adalah membumi, dari bawah untuk ke atas. Apakah kelak kedua metode itu akan bertemu? Itu adalah tugas umat manusia untuk berpikir dan tentu saja bekerja keras. Jadi sahsah saja bila manusia membuktikan bahwa penciptaan manusia itu berdasarkan evolusi karena menurut metode science itu dapat dibuktikan dan mendekati kebenaran. Sedangkan yang berdasar Adam-Hawa adalah kewajiban umat beragama tersebut untuk menerima dan percaya!"

100

Hargo Angun menyikapi kedua metode tersebut dengan memposisikan dirinya sebagai mahluk Theis: "Saya akan berdoa. Ya Tuhan, saya percaya bahwa Engkau menciptakan Adam sebagai khalifah/manusia pertama di bumi. Tapi kemampuan berpikir manusia tetap memunculkan rasa ingin tahu. Bagaimana semua di alam semesta ini tercipta?"

Batasan sains bukanlah kebenaran mutlak
Ary Unggul aka Ultraman <cimlw@bukopin.co.id> berpendapat bahwa batasan kebenaran versi sains bukanlah kebenaran mutlak. Sains hanya mengungkapkan sisi yang belum dijelaskan secara empirik ilmiah berdasarkan jangkauan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir. Penemuan sains berikutnya terdapat 2 opsi: 1). Menggugurkan kebenaran versi sains yang terdahulu; 2). Mengokohkan kebenaran versi sains yang terdahulu. Tidak ada nilai absolut dalam pengungkapan 'science vs faith'. Pendapat Ary Unggul disanggah oleh Trytobenice <serikat_indonesia@yahoo.com>: "Kalau begitu, bukankah disitu letak keunggulan sains? Kebenarannya bisa fleksibel dan sifatnya dinamis, tanpa harus menumpahkan darah. Anda bahkan berani mengatakan tidak ada nilai absolut dalam sains. Coba Anda katakan hal yang sama dalam agama." Zchoema <zchoema@yahoo.com> menanggapi pernyataan Ary Unggul: "Batasan kebenaran versi agama juga bukan kebenaran mutlak. Agama justru terkesan mematikan daya pikir manusia dengan menelan secara mentah-mentah tanpa ada pembuktian empiris. Orang menganut suatu agama juga dihadapkan pada 2 opsi: mengugurkan kebenaran agama versi terdahulu, atau mengokohkan kebenaran agama versi terdahulu. Tidak ada nilai absolutnyakan?"

Kitab suci bermuatan pesan-pesan metafisik
Lalu Ary Unggul melanjutkan opininya, "Kitab suci yang berasal dari Tuhan tentulah bermuatan pesan-pesan metafisik yang saat ini belum bisa dijangkau akal manusia. Ada saatnya pemberitaan gaib tersebut akan tersingkap rahasianya seiring dengan jangkauan teknologi dan perkembangan sains itu sendiri."

101

Trytobenice menanggapi opini Ary Unggul dengan ketus: "Kalau begitu, ngapain musti belajar science kalau jawabannya sudah ada di agama? Ngapain kita capek-capek mencari pembuktian kebenaran agama kalau Anda bilang itu sudah pasti benar? Marilah kita lupakan sains, kalau ternyata nggak ada gunanya." Zchoema <zchoema@yahoo.com> menanggapi pernyataan Ary Unggul: "Kalau Anda menganggap suatu kitab suci itu bermuatan metafisik yang belum dijangkau umat manusia, itu hanyalah salah satu option. Anda melupakan option lain yang mengatakan kalau penjelasan metafisik itu memang tahyul dan tidak logis. Karena tidak logis itulah maka tidak bisa dijelaskan secara logis dan empiris." Jamal Senjaya <jamal_senjaya@telkom.net> juga memberi tanggapan atas opini Ary Unggul: "Bung Ary, kita harus mau membuka kesempatan lebar-lebar akan kemungkinan itu. Kita juga harus mau memikirkan kembali konsep Tuhan yang mungkin akan jauh berbeda dengan konsep Tuhan pada kitab-kitab suci manusia saat ini. Mungkin saja Tuhan itu tidak sesempurna yang manusia bayangkan dan inginkan. Tuhan bukan pencipta jagad raya dan isinya ini. Ia juga lahir, dan berevolusi dalam jagad ini yang sudah ada ini. Ia lalu menciptakan stereotipe mahluk hidup seperti virus, dan RNA-nya yang akhirnya berevolusi sendiri menjadi manusia. Ia tidak sepenuhnya menciptakan manusia. Ia juga tidak seperti pesulap yang menciptakan ini dan itu dan langsung jadi. Ia juga perlu bereksperimen lama sebelum akhirnya bisa menciptakan manusia." "Tuhan mungkin malu melihat manusia yang terlalu mengagungagungkanNya dan memujiNya dengan segala Maha yang manusia sebutkan itu. Sehingga ia tidak mau lagi terang-terangan muncul diantara manusia, takut ditolak dan manusia tidak mau menyembahnya lagi. Dan jangan kecewa jika akhirnya terbukti bahwa Tuhan tidak se-Maha yang tertulis dalam kitab-kitab suci manusia itu." "Atau mungkin juga Tuhan memang tidak ada. Yang ada adalah dewadewi sembahan nenek moyang kita dulu. Dewa-dewi itu muncul dan berevolusi lebih dulu dan lebih sempurna dari manusia. Manusia bisa memohon pertolongannya namun jangan terlalu berharap banyak terhadap mereka. Dewa-dewi itu tidak semuanya baik, ada juga yang suka mengganggu manusia. Seperti manusia sendiri yang berevolusi lebih baik dari hewan-hewan sering menolong hewan-hewan yang lebih lemah itu, namun juga sering menyiksa mereka." 102

"Ada pandangan yang lebih radikal lagi, bahwa Tuhan memang sangat hebat, sesuai dengan segala maha yang manusia sebutkan itu. Namun saat ia menciptakan manusia, ia sudah terlalu tua. Dan ia sekarang sudah berhenti untuk beristirahat, tidak mau lagi berurusan dengan manusia. Entah mana yang benar, kita manusia jangan membatasi pandangan kita tentang Tuhan, harus maha ini dan itu. Dan jangan kecewa jika Tuhan tidak seperti itu. Kita harus mau menerima kenyataan. 'The Truth is hurt, and many person can't receive that'.

Ajaran agama yang kontradiktif dengan fakta sains
Ary Unggul masih membeberkan opininya: "Kalau ada ajaran agama yang katanya bersumber dari God's revelation-- yang ternyata kontradiktif dengan fakta sains maka sudah sewajarnya ajaran agama tersebut ditinggalkan dan beralih kepada ajaran yang rasional humanis realistis. Misalnya di era Medieval, ada doktrin agama tertentu yang mengatakan bumi itu datar persegi empat dengan ujung-ujungnya dipegang oleh malaikat ataupun dogma lainnya bahwa bumi adalah pusat tata surya (geosentris). Tersebutlah maestro sains, Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus yang menentang dua teori tak ilmiah faktual itu. Ternyata dua ilmuwan tersebut diancam akan diinkuisisi." Trytobenice bertanya kepada Ary: "Doktrin agama apakah itu?" Komentar Zchoema: "Bukankah agama-agama formal yang ada sekarang ini memang semuanya jauh dari pandangan rasional humanis realistis? Heran, kenapa juga masih banyak orang yang menganutnya?"

Pemberitaan gaib yang turun 14 abad lalu
Ary Unggul melanjutkan opininya, "Nah, ada juga agama yang membawa pesan Tuhan. Di kitabnya ada diterangkan mekanisme terjadinya hujan, fenomena 7 lapis atmosfer, fungsi atmosfer, fungsi gunung dalam kajian geologi, kandungan isi pusat bumi, konstelasi benda-benda langit, mekanisme penciptaan manusia dalam rahim ibu, mekanisme penciptaan alam semesta, gelombang mikro, sel dan mikroorganisme, dan lainnya. Ternyata pemberitaan gaib yang turun 14 abad yang lalu dapat dibuktikan secara scientific, ilmiah, rasional dan empirik. Sama sekali tidak bertentangan dengan logika sains dan 103

akal manusia. Well, apakah ada yang mau bilang bagaimana manusiamanusia gurun yang hidup di zaman onta punya teknologi yang bisa mengeksplore alam dengan segala mistikus rahasianya yang eksotik?" Trytobenice berkomentar: "Ini menarik. Anda bisa buktikan?" Komentar Zchoema: "Nah, inilah salah satu kejelekan orang yang dibutakan oleh agama, selalu menganggap ajarannya yang paling benar. Saya kasih tahu ya mas, sains itu terus berkembang. Apalagi dalam proses pencarian asal-usul kehidupan dalam wilayah makro, seperti astronomi, kosmologi, dan fisika teoritis. Jangan terburu-buru mengklaim apa yang ada di ajaran agama Anda itu sesuai dengan sains yang sekarang karena bisa bahaya. Kalau sewaktu-waktu ternyata penjelasan ilmiah yang sesuai dengan apa yang Anda percayai di kitab Anda itu terbukti salah dan digugurkan oleh teori dan penjelasan ilmiah serta bukti empiris yang baru, gimana coba? Apa Anda masih mau 'ngeyel' apa yang dikatakan agama itu benar? Malu dong. Kalaupun memang benar semua ilmu pengetahuan di atas itu diturunkan pada orang-orang gurun zaman onta, sungguh tragis sekali nasib mereka. Kontribusi sains macam apa yang bisa diberikan mereka sekarang? Apakah ada pemenang Nobel dari negara-negara onta? Apakah ada astronom atau ilmuwan fisika ternama dari negara-negara onta itu? Benar-benar bangsa yang menyedihkan. Saya rasa kalau mereka masih 'ngeyel' nenek moyang mereka yang mendapatkan ilmu tersebut dari Tuhan, sementara mereka sendiri tidak bisa memberikan kontribusi positif buat sains." Di akhir emailnya, Ary berpesan: "Buat yang tidak percaya sama Tuhan, kacian deh loe!" Trytobenice berkomentar pendek: "Kalimat seperti itu pula yang dikatakan masyarakat pendukung teori bumi datar kala itu. Merasa dirinya paling benar." Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <radityo_dj@yahoo.com>

104

Indonesia butuh ribuan science writer
Jawa Pos - Rabu, 17 Nov 2004 Science writer tingkatkan kecerdasan Oleh Andi Utama * Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kemajuan sains dan teknologinya. Buktinya dapat kita lihat, negara-negara yang dikatakan maju (developed countries) seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Eropa, ialah negara-negara yang sains dan teknologinya maju. Di negara-negara maju tersebut, sains dan teknologi benar-benar masuk ke dalam kehidupan masyarakat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Begitu juga pemahaman sainsnya yang tinggi. Pemahaman sains yang tinggi ini tidak dipengaruhi tingkat pendidikan formal mereka. Di Jepang, kalau kita bicara enzim (bahasa Jepangnya kousou), orang yang hanya lulusan SMU pun bisa mengerti. Begitu juga kalau kita bicara "virus" dan "bakteri", mereka memahami dan mengetahui perbedaannya, sehingga bisa membedakan antara vaksin dan obat antibiotik. Mereka juga mengerti apa itu "DNA" dan apa itu "gen". Hal yang sama dapat dilihat pada petani-petani mereka. Mereka benarbenar memahami apa itu pupuk kimia dan apa itu kompos, termasuk kebaikan dan keburukannya. Mereka juga memahami siklus hidup tanaman serta ancaman-ancaman yang akan terjadi, sehingga bisa mengantisipasinya. Pendek kata, tingkat pengetahuan masyarakat di negara maju, termasuk Jepang, adalah tinggi. Sebaliknya, di negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak demikian halnya. Sains dan teknologi hanya dimiliki dan dirasakan 105

sebagian kecil masyarakat. Apalagi kalau dispesifikasi lagi masalah sains, keadaannya akan lebih parah. Sains hanya dimiliki orang-orang yang berpendidikan tinggi, yang jumlahnya sangat sedikit. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya perbedaan minat dan perhatian masyarakat terhadap sains. Kurangnya minat masyarakat di negara berkembang terhadap sains sangat dipengaruhi oleh kurangnya tulisan sains yang disampaikan secara popular, yang mudah dimengerti masyarakat banyak. Ini dapat kita lihat seberapa banyak tulisan sains popular yang bisa ditemukan, baik di buku maupun di media masa. Tentu saja permasalahannya bukan pada media masanya, tetapi pada penulis sains yang jumlahnya masih sangat terbatas. Karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia, khususnya tentang sains, diperlukan science writer (penulis ilmiah) yang bisa menerjemahkan bahasa sains ke dalam bahasa masyarakat. Science writer tersebut bisa dari kalangan ilmuwan (saintis) dan kalangan nonilmuwan.

Belajar dari Jepang
Jepang, sebagai negara maju, memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Hal ini disebabkan minat baca dan rasa ingin tahu masyarakatnya yang tinggi, dan didukung banyaknya bahan bacaan mengenai sains yang dapat dibeli dengan harga murah. Buku-buku ini ada yang ditulis oleh ilmuwan (saintis) Jepang dan ada yang terjemahan. Buku-buku ini tidak hanya merupakan "text book" yang digunakan mahasiswa dan pelajar, tetapi juga ada buku sains yang ditulis secara populer, yang ditujukan untuk masyarakat luas. Selain itu, media masa, baik media cetak maupun media elektronik, memberikan kontribusi yang banyak dalam peningkatan pengetahuan masyarakat di Jepang, melalui pemberian informasi di bidang sains. The Asahi Shimbun, misalnya, merupakan salah satu koran yang selalu memberikan informasi tentang perkembangan sains yang disampaikan secara popular. Begitu juga koran-koran lain. Media elektronik juga memiliki program-program yang berisikan informasi tentang sains. NHK Education TV (Nippon Housou Kyoku Kyouiku Terebi) adalah stasiun TV milik pemerintah khusus untuk 106

bidang pendidikan. Tujuan pendirian TV ini adalah untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan masyarakat Jepang. Hampir setiap hari ada program pengenalan sains, mulai tingkat dasar sampai pada tingkat sains yang mutakhir (advanced).Selain itu, TV swasta lainnya menyiarkan program-program yang bersifat saintifik. Semua program ini disajikan sedemikian rupa sehingga orang awam pun mudah mengerti. Dalam penyebar luasan informasi tentang sains ini, science writer memegang peranan penting. Banyaknya buku atau tulisan mengenai sains berbanding lurus dengan jumlah science writer. Karena itu, banyaknya buku sains yang beredar di Jepang menunjukkan banyaknya science writer. Walaupun demikian, ternyata pemerintah Jepang belum puas dengan kondisi tersebut. Mereka menginginkan jumlah science writer bertambah lagi, terutama dari kalangan saintis. Untuk tujuan tersebut, baru-baru ini pemerintah Jepang, khususnya Kementerian Pendidikan, memutuskan mendidik calon science writer. Hal ini ditetapkan dengan pertimbangan sains yang semakin lama semakin dalam dan rinci akan sulit dimengerti dan dipahami masyarakat jika tidak diterjemahkan ke dalam bahasa yang merakyat. Science writer ini diharapkan dari kalangan peneliti dan saintis. Mereka diharapkan tidak hanya mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal ilmiah/sains, tetapi pada media lain yang mudah didapatkan masyarakat banyak. Dengan demikian, penelitian yang dibiayai rakyat dengan jumlah dana yang besar (180 miliar/tahun = Rp. 14,4 triliun/tahun) dapat dirasakan manfaatnya.

Harapan pada Pemerintah
Bagaimana Indonesia? Kita harus mengakui tingkat pengetahuan bangsa Indonesia masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya informasi mengenai sains yang mudah didapatkan, baik berupa buku, majalah, media masa cetak, ataupun informasi yang disajikan media elektronik seperti TV. Kekurangan ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya science writer yang bisa menyajikan informasi tersebut dalam bentuk popular sehingga mudah dimengerti orang banyak. Tidak heran jika masyarakat lebih senang menonton KDI, Indonesian Idol, AFI, bahkan acara penampakan yang sama sekali tidak ilmiah 107

ketimbang menonton uraian ilmiah dari pakar yang disiarkan di TV. Kurangnya minat masyarakat terhadap sains juga mengakibatkan jarangnya tayangan dan siaran TV yang berisikan sains. Ini lingkaran setan yang akan menurunkan tingkat pengetahuan bangsa Indonesia di bidang sains. Karena itu sudah saatnya kita menyadari kekurangan ini. Untuk meningkatkan pengetahuan bangsa Indonesia, pemerintah perlu melakukan usaha-usaha konkret untuk meningkatkan pengetahuan bangsa Indonesia. Hal ini penting karena akan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Usaha-usaha konkret yang bisa dilakukan: (1) membuat stasiun TV khusus menyiarkan masalah sains, (2) meningkatkan mutu peneliti/saintis melalui peningkatan dana penelitian, (3) memperbanyak jumlah dan melakukan training terhadap science writer, baik dari kalangan saintis/peneliti maupun kalangan nonsaintis seperti wartawan, dan (4) memperkenalkan sains mulai dari tingkat SD. * Dr. Andi Utama Msc, peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI.

108

Jangan tanya pada saya siapa 'besan' Adam
Mumpung masih libur lebaran, ayo kita ramaikan diskusi kita. Cukup susah juga memilah-milah subyek yang berkaitan dengan tajuk diskusi lintas milis ini. Untungnya ada seorang rekan yang mengirim laporan tentang sebuah acara kuliah umum di Bandung. "Jangan tanya pada saya siapa besan Adam." Judul tersebut saya pilih karena menurut saya 'eye catching' - bikin gemes. Adam - seluruh umat manusia di Bumi tentu sudah tahu - paling tidak kenal namanya, tapi besan Adam? Itulah seloroh Pantur Silaban, guru besar astronomi ITB, disela kuliah umum tentang umur bumi. Sudah pernah dengar namanya? Kalau belum, yah maklumlah, karena pak Pantur waktu 'demam kabinet' ternyata tak diundang SBY ke Cikeas, beliau juga bukan bintang AFI, Indonesian Idol atau pun KDI. Ulasan Pantur tentang umur bumi dari kaca mata astronomi dapat Anda simak dalam posting kali ini, dikirim oleh Handita <handita@centrin.net.id>. Dilengkapi pula dengan refleksi keagamaan, dengan pesan: "Kalau tidak suka, silakan di-skip, karena refleksi semacam ini kadang cukup menganggu dan seolah mengurangi obyektivitas. Yang jelas, ulasannya cukup menarik karena usia bumi yang ia hitung ada kemiripan dengan hitungan yang sebelumnya dilakukan oleh para ilmuwan bidang lain, yaitu sekitar 5 milyar tahun. Tulisannya merupakan hasil rangkaian diskusi amat panjang dari debat evolusi vs kreasi sejak 1998 sampai sekarang," ujar Handita. Radityo Djadjoeri<radityo_dj@yahoo.com>

109

Pada sebuah kuliah umum
Berapa umur Bumi? Topik ini dibahas dalam kuliah umum di Bandung dengan pembicara utama Pantur Silaban, guru besar astronomi ITB. Menurutnya, umur bumi diperkirakan sekitar 5 milyar tahun, sama dengan umur matahari. Sedangkan umur alam semesta 15 milyar tahun. Kapan kehidupan di bumi akan berakhir? "Menurut perhitungan, umur matahari akan mencapai 10 milyar tahun," ujarnya. Jadi 5 milyar tahun lagi matahari akan menjadi bintang raksasa merah (seperti bintang Antares di rasi Scorpio) dan akhirnya menjadi bintang katai putih. Menurut Pantur, berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti astronomi, biologi, geofisika, geologi, paleontologi semua menunjukkan bahwa umur alam semesta sudah milyaran tahun. Hal ini sudah diterima secara umum dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Selama diskusi, Pantur berusaha untuk tidak memasuki wilayah agama dan Tuhan yang memang bukan kompetensinya - walau ia rajin ke gereja. Dr. Freddy Zen yang ahli dalam 'teori super string' sempat sekilas memaparkan bahwa dalam waktu t=0 sampai t=10 pangkat minus 43 detik, Tuhan tidak berperan. Namun pada akhir ceramah, Pantur menyimpulkan, "Saya percaya bahwa secanggih-canggihnya pengetahuan manusia, sangat primitif di mata Tuhan." Seorang peserta diskusi memberikan pencerahan: "Saya percaya bahwa umur alam semesta masih milyaran tahun. Tetapi apakah kehidupan umat manusia juga? Masalahnya tidak ada yang langgeng di dunia ini. Bahkan dalam skala waktu yang sangat pendek dibandingkan skala waktu alam semesta, era dinosaurus digantikan era makhluk yang lain hanya dalam skala waktu puluhan atau ratusan juta tahun. Tidak usah menunggu Bumi ditabrak komet, dengan akselerasi teknologi yang demikian cepat akhir-akhir ini apakah manusia bisa bertahan, katakan sampai tahun 5000 atau 7000? Bagaimana kalau teknologi nuklir disalah gunakan? Kalau orang-orang yang demi ideologi atau kepercayaannya tidak peduli akan nyawanya sendiri, apa mereka perlu mempertimbangkan nyawa orang lain. Bahkan nurani pun tidak ada, seperti yang baru saja terjadi di Rusia. Apakah manusia bisa mengalami era Star Trek dimana perjalanan antar galaksi dimungkinkan? Mudah-mudahan saja manusia tambah bijak."

110

Jangan tanya pada saya siapa besan Adam
Dari sesi tanya jawab, juga muncul beberapa pertanyaan menyangkut eksistensi Adam & Hawa, namun Pantur enggan menjawabnya. "Jangan tanya pada saya siapa besan Adam," seloroh Pantur Silaban. Wartawan Kompas Ninok Leksono yang juga hadir pada kuliah umum itu akhirnya menulis artikel di korannya dengan judul: "Alam Masih Miliaran Tahun, Silakan Terus Berinvestasi" - tentu saja tak secuilpun menyinggung siapa itu besan Adam. Nah, karena pak Pantur tidak mau ditanya siapa besan Adam, siapa hayo menantu Adam & Hawa? Seperti kita tahu, Nabi Adam dan Siti Hawa punya anak bernama Qabil (Kain, versi Injil) dan Habil. So pasti keduanya laki-laki. Lalu dengan perempuan mana mereka menikah? Siapa menantu Nabi Adam? Anak manusia purba kah? Dengan asumsi Adam & Hawa adalah hanya sepasang, bukan suatu kelompok manusia, maka mau tidak mau Adam harus 'ngunduh mantu' dari kalangan manusia purba alias 'banu jan' yang konon sudah sekian lama menghuni Bumi, jauh sebelum Adam bermukim di Taman Eden.

Silang pendapat tentang eksistensi Adam & Hawa
Beragam pendapat masyarakat yang saling bertentangan menyikapi keberadaan Adam & Hawa: - Adam & Hawa adalah sepasang makhluk ciptaan Allah yang terbuat dari tanah. - Adam & Hawa adalah sekelompok manusia berjenis kelamin lelaki dan perempuan. - Adam & Hawa adalah manusia pertama di Bumi, belum ada manusia sebelumnya. - Adam & Hawa bukan manusia pertama di Bumi, sebelumnya sudah ada kehidupan manusia di Bumi. - Adam dan Hawa diciptakan dalam perbedaan rentang waktu yang panjang, jadi sebenarnya mereka tak pernah bertemu. - Adam & Hawa adalah sekadar simbol. - Adam & Hawa hanya sekadar dongeng belaka.

111

Manusia purba di sekeliling Adam & Hawa
Tentang cerita sudah adanya manusia purba sebelum Adam menghuni Bumi, dituturkan oleh ustadz H. Muh. Nur Abdurrahman di Makassar dikutip dari Harian Fajar. Allah berfirman dalam Al-Quran S. Al Baqarah 30: Wa idz qaala rabbuka li lmala-ikati inniy ja-'ilun fi l.ardhi khaliyfatan, qaluw ataj'alu fieha man yufsidu fieha wa yasfiqu ddima-a "..., ingatlah ketika Maha Pengaturmu berkata kepada para malaikat, sesungguhnya akan Kujadikan khalifah di atas permukaan bumi, berkatalah para malaikat, apakah Engkau akan menjadikan di atasnya, yang merusak dan menumpahkan darah, ..." Darimana malaikat dapat tahu bahwa bakal khalifah itu dari jenis makhluk yang suka merusak dan menumpahkan darah? Padahal malaikat tidak diberi pengetahuan oleh Allah tentang hal itu? Namanama atau identitas benda-benda saja para malaikat tidak tahu, malahan Allah menyuruh menanyakan identitas benda-benda itu kepada Adam. Adapun malaikat dapat mengetahui sifat jelek itu dari apa yang telah disaksikannya. Artinya sudah ada makhluk yang postur tubuhnya seperti Adam. Seperti tersirat dalam Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 4:15: "Maka oleh Tuhan diadakan suatu tanda pada Kain, supaya jangan ia dibunuh oleh barangsiapa yang bertemu dengannya." Siapakah yang dimaksudkan dengan 'barangsiapa' itu, yang akan membunuh Kain (Kabil, versi Islam) dalam pengembaraannya? "Mereka itulah makhluk pra-Adam yang tubuhnya serupa dengan postur tubuh manusia, namun belumlah akhir dari proses penyempurnaan," jelas Abdurrachman. Abdurrachman menambahkan, berbeda dengan Adam yang sudah belajar bahasa dari Tuhan, makhluk pra-Adam itu belum mengenal bahasa yang berstruktur. Yah, hanya melantunkan bunyi-bunyian seperti bahasa binatang. Karena itu makhluk pra-Adam itu tidak berbudaya, sehingga tidak mampu 'struggle for existence', akhirnya punah. Yang mampu bertahan adalah makhluk keturunan Adam dan Hawa, yaitu kitalah ini manusia yang berakal.

112

Catatan: Dua kalimat terakhir perlu dipertanyakan: Adakah relevansinya antara istilah 'tidak berbudaya' dan 'cepat punah'? Apakah kalau tidak berbudaya pasti cepat punah, sedangkan yang berbudaya susah punah? Bagaimana batasan-batasan sebuah komunitas itu sebagai tak berbudaya?

Penciptaan Adam dan Teori Evolusi
Postur tubuh Adam diciptakan Allah dengan 'model' berupa duplikat makhluk pra-Adam atau manusia purba (banu jan), sehingga menurut penelitian dengan Serelogi secara experimental didapatkan bahwa reaksi serum menunjukkan adanya hubungan kekerabatan antara manusia dengan kera berhidung pesek, hubungan kekerabatan yang lebih nyata antara manusia dengan orang utan, dan yang paling dekat kekerabatannya dengan manusia adalah chimpanze. Jadi apabila teori evolusi itu benar, maka hanya terbatas hingga manusia purba. Namun teori evolusi itu perlu disempurnakan dengan nilai tauhid: bukan 'blind evolution by chance', melainkan evolusi yang terarah, menurut TaqdiruLlah yang umum yang ditanam di universe, diarahkan oleh Allah SWT sebagai Ar Rabb, Maha Pengatur, khalaqa fa sawwa, mencipta lalu menyempurnakan melalui proses evolusi dan secara lompatan. Maksudnya dengan 'lompatan' itu artinya tidak sinambung, yaitu terputus antara manusia purba dengan Adam. Sekali lagi diingatkan bahwa penciptaan Adam & Hawa melalui TaqdiruLlah yang tidak ditanam di universe, jasmani Adam diciptakan langsung dari tanah dengan tidak melalui proses evolusi. WaLlahu a'lamu bishshawab.

Incest?
Yang masih jadi ganjalan: "Maukah Adam & Hawa yang sesempurna sempurnanya manusia - ciptaan Tuhan yang 'anyar gres' - punya besan dan menantu dengan gaya bicara 'ngak ngik ngok', liar, dan mungkin juga kanibal? Tak mungkinkan Adam mengabaikan 'bibit, bobot, bebet'? Sudahkah mereka mengenal lembaga perkawinan? Sudah adakah larangan Tuhan bahwa sesama keluarga dan sanak saudara tidak boleh berhubungan badan? Kalau jawabannya belum ada, bisa jadi tubuh Hawa selain milik Adam, juga bisa dinikmati oleh 113

anak-anaknya, sehingga Qabil dan Habil tak perlu cari perempuan dari kalangan manusia purba. Artinya, cucu Adam adalah anak Adam juga karena lahir dari rahim Hawa."

Qabil vs Habil
Menurut Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se> di Sandnes, Norwegia, Qabil dan Habil dididik langsung oleh seorang Rasul Allah yang tidak lain adalah Adam, ayah mereka sendiri. Mereka dididik dalam agama yang sama, metoda yang sama dan oleh guru yang sama. Namun hasilnya berbeda 180 derajat. Yang satu menjadi 'pembunuh', sementara yang satunya menjadi 'korbannya'. Habil sebagai pewaris ideologi ayahnya, dibendung Qabil dengan menghabisi nyawanya. Tak ada alasan logis bagi Qabil untuk membenarkan tindakan kejinya kecuali demi nafsu syaitannya (QS.5:30). "Qabil adalah pembunuh manusia yang pertama didunia. Dia merupakan 'simbolisasi' daripada pembunuh manusia dimana pun dan kapan saja. Membunuh seorang manusia seolah-olah telah membunuh manusia seluruhnya (kecuali haq disisi Allah) sementara memelihara seorang manusia seolah-olah telah memelihara manusia seluruhnya (QS.5:32). Qabil lah yang telah membawa manusia kepada dua kutub, yaitu kutub penindas/pembunuh/ penjajah dan kutub yang tertindas/korban pembunuhan/korban penjajahan. Dari dulu sampai sekarang kita dapat menyaksikan sepak terjang manusia-manusia "Qabil" terhadap manusia-manusia "Habil". Kini kita saksikan sendiri bagaimana sepak terjang Qabil-Qabil dimana saja, termasuk di Indonesia," ujar Sudirman yang berdarah Aceh.

Qabil salah asuh?
Dari kisah tersebut di atas dapat juga dipertanyakan pola asuh yang dulu diterapkan oleh Adam & Hawa terhadap anak-anaknya. Sifat buruk Qabil bukanlah tanpa sebab, tapi kemungkinan besar karena didikan yang kurang benar dari kedua orang tuanya. Semisal perhatian Adam yang tercurah lebih besar kepada Habil daripada Qabil sewaktu kecil, sehingga Qabil merasa bahwa ayahnya atau ibunya kurang memperhatikannya. Atau Adam terlalu keras dalam mendidik anakanaknya, sehingga menciptakan sosok Qabil yang temperamental saat menginjak dewasa? Misal, saat Adam memberi pelajaran, Habil lebih cepat menangkap apa yang diajarkan, sedang Qabil agak 'telmi', yang 114

membuat Adam kesal dan kerap menghukumnya, baik dengan hardikan maupun dengan tamparan. Atau saat Hawa menyiapkan makan siang, porsi yang diberikan buat Habil lebih banyak dibandingkan porsi buat Qabil.Habil lebih sering dipuji oleh orang tuanya, dan Qabil kerap mendengarnya. Qabil lalu menganggap ayah dan ibunya telah berlaku tidak adil. Ia juga merasa kurang kasih sayang dari orang tua. Perlakuan buruk orang tua terhadap anaknya di masa kecil akan terus diingat hingga ia beranjak dewasa. Qabil pun lalu punya rasa dendam terhadap Habil. Buntutnya fatal: Habil tewas mengenaskan di tangan saudara kandungnya sendiri. Lingkungan pergaulan juga berpengaruh secara psikologis terhadap jiwa anak. Tapi bukankah mereka tidak tinggal di sebuah kampung atau kota yang dihuni ratusan atau ribuan manusia? Atau sebagai pelarian dan ungkapan kekesalan terhadap kedua orang tuanya, Qabil lalu lebih suka bergaul dengan anak-anak manusia purba, asyik bermain di hutan, bergelayutan di akar pepohonan seperti Tarzan, berburu binatang liar lalu dagingnya dimakan mentah-mentah, mandi di tepi sungai Tigris dan Eufrat, keluar masuk gua, mengejar-ngejar burung onta, coret-coret di tebing sungai, sehingga sifatnya jadi buruk? Sementara Habil bisa kita bayangkan sebagai 'anak mami' yang penurut. Lagi-lagi manusia purba harus jadi 'kambing hitam'. Sungguh kasihan kau, wahai manusia purba, nenek moyang kita jua. Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <radityo_dj@yahoo.com

115

UMUR ALAM SEMESTA
Oleh Pantur Silaban
Berapakah umur alam semesta? Berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti astronomi, biologi, geofisika, geologi, paleontologi semua menunjukkan bahwa umur alam semesta sudah milyaran tahun. Hal ini sudah diterima secara umum dan tidak diperdebatkan lagi. Berikut ini beberapa bukti astronomis tentang umur alam semesta. 1.) Teori yang bisa menjelaskan pemancaran energi oleh matahari (dan bintang lainnya) adalah rangkaian reaksi nuklir yang menyatukan empat inti hidrogen menjadi satu inti helium. Reaksi ini membebaskan energi yang besar. Reaksi proton-proton yang mengawali rangkaian ini mempunyai 'cross section' (laju reaksi) yang sangat kecil. Beruntunglah kita, karena reaksi ini sangat lambat. Kalau tidak, semua bintang akan segera meledak begitu reaksi itu terjadi, dan kita tidak pernah ada! Reaksi ini bisa berlangsung stabil selama milyaran tahun (untuk matahari sekitar 10 milyar tahun). Kita tahu massa matahari (dari gerak orbit planet). Kita juga tahu komposisi kimia matahari (secara spektroskopi). Maka kita dapat membuat simulasi dengan komputer bagaimana matahari berkembang (ber-evolusi). Untuk mencapai tahap keadaan matahari sekarang diperlukan waktu lima milyar tahun. Jadi umur matahari sekarang sekitar 5 milyar tahun. Umur matahari akan mencapai 10 milyar tahun. Nantinya matahari akan menjadi bintang raksasa merah (seperti bintang Antares di rasi Scorpio), dan akhirnya menjadi bintang katai putih. Apakah ada bukti yang mendukungnya? Ya, ada! Para ahli geologi dan paleontologi menemukan umur geologis yang juga berorde milyaran tahun. Adanya fosil-fosil yang berumur milyaran tahun juga menunjukkan bahwa di bumi milyaran tahun yang lalu sudah ada kehidupan. Berarti milyaran tahun yang lalu matahari sudah ada dan keadaannya tak jauh berbeda dari sekarang (kehidupan, bagaimana pun sederhananya memerlukan matahari yang keadaannya tidak berbeda dengan matahari sekarang). 116

2.) Ditemukannya galaksi-galaksi pada jarak milyaran tahun cahaya menunjukkan bahwa umur alam semesta ini sudah milyaran tahun (cahaya dari galaksi-galaksi itu memerlukan waktu milyaran tahun untuk mencapai bumi). 3.) Hubble menunjukkan bahwa galaksi-galaksi saling menjauhi (lihat bawah). Dengan menelusur balik dari kecepatan menjauh ini dapat ditentukan umur alam semesta sekitar 15 milyar tahun. Alam semesta bermula dengan suatu ledakan besar (big bang). Bukti terjadinya big bang ini ditemukan pada tahun 1965 oleh Penzias dan Wilson yang menemukan radiasi latar belakang gelombang mikro yang bertemperatur 3 derajat Kelvin (minus 270 derajat Celcius). Radiasi latar belakang ini merupakan sisa radiasi yang berasal dari big bang. Penzias dan Wilson memperoleh hadiah Nobel Fisika tahun 1978 untuk penemuannya ini. Penemuan ini dikokohkan oleh pengamatan oleh satelit COBE milik NASA pada tahun 1992. Setelah terjadinya big bang, alam semesta mengembang. Pengembangan alam semesta ini pertama kali diperlihatkan oleh Edwin Hubble pada tahun 1929 dengan mengamati pergeseran garis-garis spektrum pada galaksi-galaksi yang jauh. Hubble mendapatkan bahwa galaksi-galaksi bergerak saling menjauhi, makin jauh jaraknya, makin besar kecepatannya. Teori big bang menyatakan bahwa pada saat terbentuknya, alam semesta didominasi oleh radiasi atau energi. Pada fase pengembangan berikutnya terbentuklah mula-mula quark, kemudian proton dan neutron, lalu helium dan deuterium, atom, dan selanjutnya: materi antar bintang, bintang, galaksi dan seterusnya. Unsur berat dibentuk di pusat bintang, dan oleh ledakan supernova dicerai beraikan dalam alam semesta. Dari big bang hingga proses terbentuknya bintangbintang dan galaksi terentang waktu ratusan ribu sampai milyaran tahun.

117

Penciptaan menurut Kitab Kejadian
a) Urutan penciptaan
Perhatikan Kejadian 1:3, "Berfirmanlah Allah: 'Jadilah terang.' Lalu terang itu jadi." Ini adalah hari pertama penciptaan. Lalu perhatikan Kejadian 1:14, "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam." Ini pada hari keempat. Ini sungguh aneh. Orang-orang pada waktu itu - seperti kita juga sekarang - tahu bahwa terang di bumi berasal dari matahari, bulan dan bintang-bintang. Mengapa ditulis bahwa terang diciptakan lebih dahulu daripada sumbernya? Tetapi coba kita bandingkan dengan teori big bang. Pada mulanya, ketika ledakan besar itu terjadi, alam semesta didominasi oleh radiasi. Terang atau cahaya adalah suatu bentuk radiasi. Jadi pada mulanya memang teranglah yang terjadi. Alangkah cocoknya dengan Kejadian 1! Matahari dan bintang-bintang baru terbentuk lama, lama sekali, yaitu ratusan ribu sampai milyaran tahun setelah big bang. Tetapi, seperti akan didiskusikan di bawah, kita juga harus hati-hati dalam menerima kecocokan itu.

b) Waktu penciptaan
Kitab kejadian mengisahkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam enam hari, sedang ilmu pengetahuan menyimpulkan bahwa alam semesta telah mengalami proses selama milyaran tahun. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa satu hari di Kejadian 1 adalah 24 jam kita sekarang. Berikut ini beberapa argumen alkitabiah untuk menafsirkan bahwa hari-hari penciptaan dalam Kejadian 1 sebagai waktu yang panjang dan bukan hanya sekadar 144 jam. 1. Perspektif waktu Tuhan jauh berbeda dengan manusia (Mazmur 90:4; 2 Petrus 3:8). 2. Kata-kata Ibrani yom, 'ereb, dan boqer (hari, petang dan pagi) mempunyai penggunaan yang luwes dan bukan hanya bagian dari 24 jam. Juga jumlah hari tidak selalu merujuk kaku pada selang waktu 24 118

jam. [lihat no.5] 3. Hari ke-tujuh berlangsung mulai Perjanjian Lama, Baru dan seterusnya ke masa depan (Ibrani 4:1-11). 4. Waktu antara penciptaan Adam dan Hawa dalam Kejadian 2 tampak memerlukan selang yang jauh melebihi 24 jam. Misalnya Kejadian 2:20 menyebut bahwa manusia (Adam) memberi nama pada semua hewan. Ahli biologi Linnaeus memerlukan waktu puluhan tahun untuk mengklasifikasi semua jenis species yang diketahui di Eropa pada abad ke-18. 5. Dalam Kejadian 2:4 kata untuk "hari," yom, merujuk pada seluruh waktu penciptaan. Ini untuk memperlihatkan keluwesan penggunaannya (lebih jelas bila dibaca pada Alkitab versi KJV: "These are the generations of the heavens and of the earth when they were created, in the day the LORD God made the earth and the heavens,")

Kesimpulan
Kesimpulan pertama yang bisa diambil, Kejadian 1 tidak seharusnya ditafsirkan secara literal. G.L. Archer dalam bukunya "Encyclopedia of Bible Difficulties" (Zondervan, 1982) mengatakan: "To be sure, if we were to understand Genesis 1 in a completely literal fashion - which some suppose to be the only proper principle of interpretation if the Bible is truly inerrant and completely turstworthy - then there would be no possibility of reconciliation between modern scientific theory and the Genesis account. But true and proper belief in the inerrancy of Scripture involves neither a literal nor a figurative rule of interpretattion." (Jelasnya, bila kita harus memahami Kejadian 1 secara literal sepenuhnya - yang oleh sementara orang dianggap sebagai satu-satunya prinsip penafsiran yang tepat bahwa Alkitab benar-benar tidak salah dan bisa dipercaya sepenuhnya - maka tidak mungkin ada rekonsiliasi antara ilmu pengetahuan modern dengan kisah di Kejadian. Tetapi keyakinan yang benar dan tepat tentang kebenaran Alkitab tidak harus dengan menafsirkannya secara literal maupun figuratif.) Lalu bagaimana kita harus memahami Kejadian 1? Dalam diskusi dengan beberapa ahli dan pengamat teologi dalam suatu milis, penulis berkesimpulan: 119

1. Isunya bukan soal mencocok-cocokkan dua paradigma (Alkitab dan ilmu pengetahuan), namun menerima kedua paradigma pada horisonnya masing-masing. Perlakuan terhadap teks Alkitab dan perlakuan terhadap teks yang dihasilkan ilmu pengetahuan tidak perlu dan tidak boleh sama. Kosmologi Kejadian 1 hanya jembatan menuju refleksi kita mengenai kosmogoni. Bahwa ada satu pencipta yang mencipta semesta dalam keteraturan (harmoni). Bagaimana detailnya, lantas menjadi tugas ilmu pengetahuan. Bisa saja teori big bang, bisa saja yang lain. Memperlakukan Alkitab dengan sikap ilmiah, dengan cara mencari detail jelas keliru. Mereka yang melakukan ini butuh kepastian terlebih dahulu bahwa Alkitab harus inerrant (tidak salah) dalam hal ilmu pengetahuan juga. Namun kalau kita menolak inerrancy (ketidak salahan) dan menerima infallibity (ketidak penyesatan) Alkitab, artinya, menerima pesan utama teks Kejadian 1, maka tidak ada masalah sama sekali dengan bagaimana data, detail dan fakta diungkapkan oleh ilmu pengetahuan. 2. Kejadian 1 adalah narasi mengenai perubahan dari ketidakteraturan menuju keteraturan, dari chaos menuju cosmos, menuju keseimbangan; dimana yang disoroti disana bukanlah berlangsungnya proses itu sendiri melainkan peran Tuhan dalam kerangka ruang dan waktu, yang pada gilirannya melahirkan konsep "Tuhan yang hadir dalam sejarah".

120

Menunggu sabda Prof. Dr. Teuku Jacob
Sekapur Sirih Kritik pedas Prof. Dr. Teuku Jacob terhadap temuan fosil Homo floresiensis bakal diikuti dengan pernyataan ilmiahnya sekira akhir tahun ini, atau paling lambat awal tahun depan. Kita semua menunggu sabda darinya. Ucapan apa yang bakal dia lontarkan untuk menjawab beragam pertanyaan yang hingga kini masih menggantung: Pantaskah 'Manusia Flores' itu disebut Homo floresiensis, ataukah cuma Homo sapiens? Betulkah dia lelaki, bukan perempuan? Benarkah dia cebol secara alami seperti klaim Mike Morwood, ataukah karena penyakit yang membuat kepalanya mengecil? Sungguh hari-hari yang menegangkan. Jacob bisa saja salah, bisa juga benar. Kalau toh ucapannya salah, akankah dia bersikap elegan - meminta maaf kepada Mike Morwood dan Peter Brown? Saat ini Jacob tengah melakukan penelitian ulang pada fosil Homo floresiensis (Hf). Kala diwawancarai Michael Balter dari Science, Jacob berjanji akan menyelesaikan studinya tentang Manusia Flores pada akhir tahun ini. Prof. Dr. RP Soejono juga sebenarnya menunggu tulang belulang itu agar dikembalikan ke Jakarta. Namun ia agak 'sungkan' menagihnya, karena ia menganggap Jacob lebih senior darinya. Sebenarnya, banyak orang yang menyayangkan koreksi dari Jacob – karena dianggap forumnya tak tepat. Akan lebih bijaksana apabila ia membuat sanggahan secara ilmiah di majalah Nature - bukan menggelar konperensi pers. Forum itu dikenal dengan sebutan Letter to Editor. Mike Morwood dan kawan-kawan tentu akan menjawabnya secara ilmiah pula. Sikap R.P. Soejono yang terkesan bimbang juga banyak menuai kritik. Sebagai co-author dalam paper yang dimuat di 121

Nature itu, tak semestinya ia lalu duduk sederet dengan Jacob yang ingin mementahkan temuan fosil tersebut. Jadi, forum jumpa pers di Yogyakarta itu terkesan lebih bernuansa emosional, kurang berbau scientific. Apabila tidak dikelola dengan tepat, perseteruan antara Teuku Jacob dan Mike Morwood dapat merusak hubungan pendidikan antara Indonesia dan Australia. Di UNE saja, tiap tahunnya ada puluhan mahasiswa Indonesia yang belajar disana. Walau bagaimanapun, Australia telah menyumbang dana cukup besar agar ilmuwan kita dapat lebih maju. Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri ----------------------------------------------

Perdebatan ilmiah itu indah
Dr. No <jpch60@yahoo.com> amat menyayangkan sikap Prof. Dr. Teuku Jacob yang menyanggah temuan fosil Hf dengan forum yang tak tepat. "Dalam dunia ilmu pengetahuan, perbedaan pendapat serta perdebatan diantara sesama pakar adalah suatu hal yang wajar, dan disitulah indahnya "ilmu pengetahuan" itu, asal sesuai jalur," ujarnya. "Manuskrip Hf telah terbit di majalah Nature dengan author P. BROWN, T. SUTIKNA, M. J. MORWOOD, R. P. SOEJONO, JATMIKO, E. WAHYU SAPTOMO & ROKUS AWE DUE. Ada tempat khusus untuk melakukan sanggahan terhadap manuskrip yang telah dipublikasikan yaitu di forum 'Letter to Editor', dimana seorang penyanggah akan memaparkan sanggahannya, serta akan dilampiri dengan jawaban dari penulis aslinya (dalam hal ini P. Brown et al.). Mereka akan menanggapi apakah sanggahan tersebut bisa dibenarkan. Sanggahan dan counter-sanggahan ini bisa berlangsung berkali-kali sejauh editor Nature masih melihat apakah sanggahan dan counter-sanggahan itu masih bermanfaat." "Sungguh tidak layak buat Teuku Jacob sebagai ilmuwan membuat sanggahan yang sarat muatan ilmiahnya dengan menggelar konperensi pers. Akan lebih baik kalau Jacob mengirimkan terlebih dulu sanggahannya ke majalah "Nature", dan disana pula para penulis 122

aslinya (yaitu P. Brown et al.) akan memberikan tanggapannya apakah sanggahan dari Teuku Jacob bisa dibenarkan, dan kalau tanggapan P. Brown et al. tidak memuaskan Teuku Jacob, maka ia bisa melakukan sanggahan berikutnya, dan seterusnya." "Saya tidak setuju dengan Teuku Jacob yang mengatakan bahwa nama Hf disebutkan oleh dua peneliti Australia, Mike Morwood dan Peter Brown saja. Kenyataannya, manuskripnya ditulis oleh tujuh orang, dua diantaranya ilmuwan dari Australia. Kalau penamaan Hf cuma ditimpakan kepada dua orang Australia tersebut, itu tidak adil, karena dalam suatu manuskrip yang ditulis secara bersama-sama, maka semua co-authors harus bertanggung jawab atas isi dari manuskrip yang mereka publikasi." "Soal istilah 'terorisme' - walaupun saat ini sedang marak dipergunakan - saya tidak setuju kalau Teuku Jacob ikut-ikutan menggunakan istilah ini. Apalagi kalau pemakaiannya dikait-kaitkan dengan ilmu pengetahuan. Biarkan saja istilah itu dipergunakan oleh George W. Bush di dunia politik, dan kita-kita yang di bagian science tak perlu ikut-ikutan, nanti runyam jadinya. Dan lagi, manuskrip tentang Hf kalau terbukti salah secara ilmiah kan masih bisa didebat. Jadi, istilah 'terorisme ilmiah' sangat tidak pada tempatnya diucapkan oleh seorang ilmuwan."

Kritik pedas berbau kecemburuan?
Menurut Babat Gongso <bgongso@yahoo.com>, 'gegeran' ini ia rasakan berbau sensasionil yang non-scientific. "Itu kan cuma kecemburuan atas ketenaran dan kejengkelan antar peneliti. Jika diteliti, omongan Jacob belum menunjukkan bobotnya, ia terlihat emosional. Terkesan, Jacob merasa ditinggalkan saat ada temuan spektakuler ini. Tentang pengecilan tubuh si Manusia Flores dia mengatakan 'umum terjadi pada binatang, bukan hanya pada manusia'. Lalu ia sebut tentang mikro-cephali. Namun Jacob tidak menyebut apa saja dasar dari insinuasinya itu. Kedua, soal apakah (sub) fosil ini Homo sapiens (Hs) atau Homo erectus (He) adalah suatu hal yang sangat krusial. Paper yang dimuat di Nature itu menyebutkan berbagai ciri fisik - ciri DNA belum diperoleh - mengapa mereka memutuskan bahwa fosil ini lebih ke arah He daripada Hs. "Segala rincian pernyataan ini adalah terbuka untuk didebat, tapi ya 123

mustinya 'scientific debate' berdasarkan bukti-bukti fisik yang jelas. Sedangkan bukti fisik He dan Hs itu sudah dikodifikasi dengan jelas. Yang bisa diperdebatkan adalah interpretasi dari tulang-tulang Manusia Flores itu. Dan sebuah insinuasi keras tentang perubahan species seperti He atau Hs ini jelas suatu kritik yang sangat pedas. Jika kritik ini benar - berdasarkan bukti-bukti riil - maka para penulis pertama yang notabene termasuk RP Soejono juga, harus melakukan sanggahan atau koreksi. Sebaliknya jika kritik ini ngawur, maka Jacob bakal 'jeblok' namanya. Seorang ilmuwan sejati harus berani menarik lagi kata-katanya kalau terbukti salah - bukan cuma berusaha membuat sensasi menunggangi berita Hf yang lagi mendunia secara ngawur. Ingat, fosilnya ada 6, bukan cuma 1. Temuan ilmiah memang 'open to debate', tetapi bentuknya harus jelas, ada kriteria-kriteria debat yang baik dan yang buruk."

Indonesia tak punya dana buat 'mengorekngorek' bumi
Muskitawati binti Muslim <muskitawati@yahoo.com> juga menyayangkan sikap Prof Dr Teuku Jacob. "Untuk hal-hal yang berbau ilmiah, orang Indonesia itu belum bisa mendapatkan kepercayaan dunia. Jadi kalau mau menuduh ahli Australia mau membajak temuannya tentu bisa berbalik, jangan-jangan malah Jacob yang mau membajak temuan itu. Karena seperti kita ketahui, kalau cuma temuan-temuan seperti ini kuncinya cuma pada dana. Indonesia tidak punya dana buat 'mengorek-ngorek' bumi seperti ini, jadi memang orang Australia itulah yang membuang dana berjumlah besar untuk penemuan ini. Hasilnya bisa saja dirampok oleh si Jacob dengan cara menukar kerangka seperti yang dia mau. Seperti jelas diungkapkan oleh para penemu sebelumnya bahwa fosil manusia purba itu berjenis kelamin wanita, namun setelah di tangan Jacob menjadi lelaki. Tidak mungkin ada kesalahan dalam menentukan jenis kelamin dari fosil ini. Cukup dari bentuk tulang panggulnya, karena mahasiswa kedokteran semester 4 pun sudah bisa melakukannya." "Kita tunggu saja berita selanjutnya, karena apa yang dikemukakan Prof.Dr. T. Jacob dari UGM ini amat mencurigakan dan tak masuk akal. Seharusnya kalau dia mau menyanggah, sanggahlah dimuka para penemunya itu sendiri, bukan bikin konperensi pers. Dengan cara-cara seperti ini akan terjadi dekadensi moral ilmuwan Indonesia, yang hanya mencemarkan Indonesia sendiri di dunia internasional." 124

Mengail di air keruh
Waluya <waluya@p...> merasa cemas kalau perdebatan antar ilmuwan ini dimanfaatkan oleh kreasionis semacam Harun Yahya alias Aaron John. "Dia begitu piawai mengutip bagian-bagian tertentu untuk mendukung 'provokasi' nya terhadap Teori Evolusi. Dia sendiri mungkin belum pernah memegang apa itu fossil. Jangan-jangan cuma lihat gambar atau replikanya. Berbeda dengan Prof. T Jacob, yang memang ahli dalam bidang itu dan diakui secara internasional. Tapi anehnya orang Indonesia sekarang ini kalau ngomongin Teori Evolusi kok lebih mengenal Harun Yahya ya daripada Jacob? Padahal Jacob jelas-jelas pakar di bidangnya. Prof Dr. T. Jacob mengawali pendidikannya di bidang kedokteran, lalu melanjutkan pasca sarjananya di bidang antropologi ragawi. Jadi kalau bicara soal anatomi tulang, jelas beliau ahlinya. Sebagai orang awam, saya akan lebih menyimak pendapat beliau daripada pendapat Harun Yahya yang keahliannya juga tidak jelas. Dia itu ilmuwan atau agamawan?" Komentar Mia <aldiy@yahoo.com> senada dengan Waluya. "Harun Yahya bisa kipas-kipas kegirangan lihat perseteruan antar ilmuwan ini, karena dia dapat bahan baru buat menyusun bukunya." Ia menilai, munculnya sosok seperti Harun Yahya karena proses sekularisasi di Turki tak sepenuhnya berhasil. Tentang polemik Hf, ia anggap Peter Brown terlalu buru-buru menggolongkan temuannya ke jenis hominid tersendiri sebelum melakukan falsifikasi metode MitoDNA. "Mungkin persaingan di kalangan palaentolog itu panas banget, belum lagi sensivitas permasalahannya mengenai asal-usul manusia," tutur Mia.

Tercatat di sejarah
Ray Indra <anthonyrayindra@yahoo.com> berkomentar tentang satu pelajaran yang bisa kita petik dari perseteruan Teuku Jacob vs Mike Morwood. "Siapa yang menguasai komunikasi dengan baik, dia dapat menguasai dunia. Nama yang akan tercatat di sejarah adalah yang pertama kali mengkomunikasikan temuan ini, dan mungkin orang yang tidak setuju dengan itu. Jadi, kita yang tertarik dan mengetahui pentingnya komunikasi, teruslah mencari 'berita besar', baik berupa kasus besar, inovasi, ide, atau karya. You too, can be famous!" 125

Cara termurah mengungkap temuan fosil
Sebagai penutup, saya tampilkan opini Wasono Adi <adwasono@yahoo.com> yang lain daripada yang lain: "Mustinya tim Indonesia yang ikut ekspedisi itu adalah orang-orang BIN, TNI dan Polri, bukan dari kalangan akademisi yang kerjaannya cuma debat kusir doang. Yang paling penting kan kita butuh keterangan tentang jati diri si fosil tersebut. Jadi tugas mereka tinggal menginterogasi si fosil, dengan cara-cara dipukulin, setrum, sundut rokok dikit, entar kan si fosil lama-lama mau ngaku sendiri. Dan terungkaplah jati dirinya. Sekaligus bisa dipaksa untuk mengaku jadi WNI sekalian. Jadi tak perlu pakai cara-cara ilmiah yang njelimet dan buang-buang duit menebak usia fosil pakai metode radiasi karbon 14 segala. Betul kan?"

126

Gayung Bersambut
Pengantar Kawans, Silakan Anda bertanya apa saja tentang Teori Evolusi vs Adam & Hawa, akan kami coba carikan jawaban. Silakan lempar opini, pernyataan, kritik, usulan, argumentasi dan lainnya, akan kami coba carikan sanggahan. Ucap terima kasih buat yang sudah bertanya dan memberi pertanyaan. Terima kasih juga buat rekan-rekan yang dengan sukarela memberi jawaban maupun sanggahan. Buat yang tidak/belum berlangganan milis, kirim langsung email ke: radityo_dj@yahoo.com Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri E-mail: radityo_dj@yahoo.com

Betulkah di saat ajal mendekat, Charles Darwin mencabut pendapatnya?
Pertanyaan dari Aminta Ginting, Jakarta: Menurut yang saya dengar, menjelang ajal, Charles Darwin akhirnya 'kembali ke jalan yang benar'. Dalam artian, dia mencabut pendapat sebelumnya bahwa nenek moyang manusia punya akar yang serupa dengan sejenis hewan primata yang kemudian berevolusi. Benarkah demikian? Maaf kalau saya keliru. Jawaban dari Handita, Jakarta: Menurut A Teew, begitu sebuah buku terbit, seketika itu penulisnya mati. Kita menilai segala sesuatu dari apa yang sudah tertulis, dan bukan apa yang tidak tertulis. Buku itu akan berbicara sendiri dalam dunianya. Kalau diminati dan menemukan momentumnya, ia akan beranak-pinak seperti kelinci yang punya banyak anak. Kesamaan morfologi kera-manusia sulit dipungkiri dan memerlukan 127

penjelasan yang memadai, bahkan kalau penting dijelaskan kepada kanak-kanak sejak dini. Jika Darwin ingin menarik kalimatnya, yang harus dia lakukan adalah menyusun sejumlah argumentasi untuk mematahkan penelitiannya di Galapagos. Dari Darwin vs kontra Darwin, publik menilai mana yang layak diikuti.

Apa sih 'The Java Man' itu?
Jawaban dari Sato Sakaki, Los Angeles: Pada akhir 90-an seorang ilmuwan AS bernama Dr. Carl C. Swisher, dari The Institute of Human Origins yang berkedudukan di Berkeley, California membuat kesimpulan bahwa nenek moyang manusia berasal dari beberapa tempat, bukan dari satu lokasi saja seperti dugaan semula. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil penelitian pada fosil tengkorak yang selama ini dikenal dunia ilmu pengetahuan sebagai 'The Java Man' atau 'Manusia Jawa', yang ternyata berusia lebih tua dari dugaan semula. Dengan cara baru yang lebih akurat untuk menentukan umur fosil, tengkorak manusia yang disebut 'homo erectus' itu ternyata diduga berumur 1,8 juta tahun, bukan 800 ribu tahun. Perkiraan usia baru 'Manusia Jawa' ini menggoyahkan teori sebelumnya bahwa nenek-moyang manusia berasal dari Afrika, sebab fosil-fosil cikal bakal manusia yang tertua hanya ditemukan di benua itu. Misalnya Australopithecine, Homo habilis dan Homo erectus. Satu diantaranya fosil seorang wanita mirip manusia (Australophitecine) berusia 3,5 juta tahun, yang dijuluki 'Lucy', dan kerangka yang hampir utuh dari seorang anak Homo erectus dari Kenya, yang diberi nama julukan 'The Turkana Boy', berusia 1,6 juta tahun. Jadi berarti fosil 'Manusia Jawa' yang ditemukan oleh Eugene Dubois pada 1891 di desa Trinil, pinggir Bengawan Solo, itu lebih tua dari 'Si Buyung Turkana'. Maka diragukan bahwa cikal bakal manusia berasal dari Afrika karena di tempat lain, di Indonesia, Homo erectus juga sudah ada sejak 1,8 juta tahun yang lalu. Homo erectus adalah manusia pra-sejarah yang berjalan dengan berdiri tegak yang sudah mirip manusia tetapi kepalanya masih mirip primata. Mereka berburu binatang besar dengan perkakas dari batu, dan sudah pandai membuat api. Mereka hidup sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Nenek moyang manusia yang sudah mirip manusia sekarang disebut Homo sapiens sapiens, yang sudah lahir sejak sekitar 40 ribu hingga 100 ribu tahun yang lalu. 128

Kesimpulan Dr. Swisher ini hendak membantah 'The Out of Africa Theory', bahwa nenek-moyang manusia pertama adalah seorang manusia Homo sapiens sapiens yang lahir di Afrika - berjuluk 'Eve' (bukan Eve pasangan Adam). Keberadaan perempuan pertama ini ditelusuri dengan mengikuti jejak DNA mitokondria wanita dari garis keturunan ibu. Jadi dengan teori Dr. Carl C. Swisher itu dapatlah diduga bahwa orang Indonesia dan orang Asia lainnya punya nenek moyang sendiri yang barangkali tidak ada sangkut pautnya dengan Adam yang jadi induk bangsa Yahudi dan Arab, yang diperkirakan usianya baru 6 ribu tahun lalu. Setuju? Sumber: The World Book Encyclopedia, The Nature, The Los Angeles Times

Buku 'The Origin of Species', dimana belinya?
Pertanyaan dari Aminta Ginting, Jakarta: Dimana bisa beli buku 'The Origin of Species'-nya Charles Darwin? Jawaban dari Handita, Jakarta: Buku-buku karya Darwin sudah lewat hak cipta, juga buku-buku klasik lainnya. Buku tersebut dapat diakses secara bebas di Proyek Gutenberg: http://www.gutenberg.org/etext/8205 Jawaban dari Rovicky Dwi Putrohari: Download saja - gratis tis - disini: http://www.talkorigins.org/faqs/origin.html Jawaban dari IGG Maha Adi, Majalah Tempo/Jakarta: Kalau yang terjemahan Bahasa Indonesia, sepertinya masih ada di toko buku. Penerbitnya Yayasan Obor. Jawaban dari Yuli Setyo Indartono, Kobe, Jepang: Coba buka website PBS. Ini salah satu sumber informasi tentang Teori Darwin yang isinya cukup bagus, lumayan lengkap dan ada juga diskusi dengan para pakar. Klik saja: http://www.pbs.org/wgbh/evolution/darwin/diary/index.html

129

Dinosaurus makhluk khayal?
Apakah dinosaurus itu dulunya memang benar-benar ada? Atau hanya binatang alam khayal saja? Yang diciptakan Hollywood dengan Jurassic Park-nya? Jawaban dari Sato Sakaki, Los Angeles: Dinosaurus bukanlah binatang alam khayal. Dinosaurus adalah hewan yang telah punah, yang hidup jutaan tahun yang lalu, lama sebelum manusia pertama hadir di bumi. Dinosaurus jenis besar merupakan binatang terbesar yang pernah hidup di daratan bumi. Beratnya lebih dari sepuluh kali gajah Afrika dewasa. Hewan-hewan purba ini pertama muncul di muka bumi sekitar 220 juta tahun yang lalu. Mereka hidup diberbagai bagian dunia dalam lingkungan alam yang bervariasi, mulai kawasan rawa sampai dataran terbuka. Kemudian, kira-kira 63 juta tahun yang lalu, dinosaurus musnah tiba-tiba. Ada beberapa jenis dinosaurus. Ada jenis pemakan daun-daunan Brontosaurus yang panjangnya bisa mencapai 21 meter. Diplodocus lebih panjang lagi, sekitar 27 meter. Kedua jenis dinosaurus ini memiliki kepala kecil dan leher serta ekor yang sangat panjang. Ada pula jenis dinosaurus buas pemakan daging, Tyrannosaurus Rex. Tingginya hampir tiga meter dan memiliki kepala besar dan deretan gigi yang tajam. Panjangnya mencapai 12 meter. Tetapi tidak semua dinosaurus berukuran raksasa. Yang terkecil kira-kira sebesar ayam. Para pakar purbakala tidak dapat memastikan mengapa dinosaurus lenyap tiba-tiba. Salah satu teori adalah perubahan iklim luar biasa yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan tidak lagi berdaun. Ini menyebabkan jenis pemakan tumbuh-tumbuhan mati dan pemakan daging pun kehabisan mangsa untuk dimakan, lalu ikut punah. Penyebab perubahan iklim itu mungkin sebuah asteroid besar yang menghantam bumi atau letusan gunung berapi raksasa yang menyebabkan bumi gelap karena langit diselimuti debu dan asap tebal selama berbulan-bulan.

130

Darimana orang tahu bahwa di Bumi pernah hidup dinosaurus sekira 63 juta tahun lalu?
Jawaban dari Sato Sakaki, Los Angeles: Para ilmuwan mengetahui mengenai dinosaurus dengan meneliti fosil dinosaurus yang ditemukan. Fosil adalah tulang belulang, gigi, telur atau jejak yang sudah membatu. Sebelum tahun 1800-an tidak ada yang tahu bahwa dinosaurus pernah hidup di bumi. Orang menemukan tulang atau gigi dinosaurus tetapi tidak mengetahui itu apa. Tahun 1822 Mary Ann Mantell, isteri dokter Gideon Mantell di Inggris, menemukan sebuah gigi besar tertancap di sebuah batu. Ia menunjukkan gigi itu kepada suaminya. Suaminya menyimpulkan bahwa gigi itu tampaknya berasal dari seekor kadal raksasa. Beberapa tahun kemudian ditemukan pula tulang belulang reptil raksasa yang menyebabkan para pakar semakin bertanya-tanya. Pada tahun 1841, ilmuwan Inggris Sir Robert Owen mengambil kesimpulan bahwa tulang-belulang tersebut berasal dari sekelompok reptil yang sudah punah jutaan tahun, yang berbeda dengan hewan yang sekarang hidup di bumi. Pada akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an semakin banyak fosil dinosaurus ditemukan di Amerika Utara bagian barat, Eropa, Asia dan Afrika. Di AS, lokasi yang banyak ditemukan fosil dinosaurus adalah situs yang disebut Morrison Formation, serangkaian lapisan batu yang membentang dari negara bagian Colorado, Utah dan Wyoming. Sekarang ini, sebagian besar penemuan berupa telur dan tulang belulang, didapatkan di Cina, Mongolia, Argentina dan Australia. Sejumlah museum di AS memajang tulang belulang dinosaurus yang sudah direkonstruksi kembali, diantaranya kerangka dinosaurus raksasa yang nyaris lengkap.

Adakah makhluk ciptaan Tuhan yang terbuat dari air dan udara?
Pertanyaan dari Panas Siahaan, Jakarta <panas2000@lycos.com>: Menurut Al-Quran, manusia terbuat dari tanah kering (hitam), sedangkan menurut Bible, manusia terbuat dari debu, dan mati pun akan jadi debu - 'from dust to dust'. Menurut Al-Quran pula, malaikat terbuat dari unsur cahaya, sedangkan jin terbuat dari unsur api. Bagaimana menurut kitab suci lainnya? Adakah ciptaan Tuhan yang 131

terbuat dari unsur air dan udara - atau sekadar unsur pelengkap saja? Jawaban dari Upie <upiedesign@yahoo.com> di Guava/Jakarta: Menurut Al-Quran, tak ada makhluk hidup yang terbuat dari unsur air dan udara. Manusia dibuat dari saripati tanah (tertulis dalam AlQuran). Kenapa saripati tanah? Apakah di surga ada tanah? Tanah itu kan unsur Bumi? Berarti Adam diciptakan di Bumi? Ternyata kalau kita meneliti sari pati tanah tersebut, terlihatlah 4 unsur utama dalam tanah yaitu C,N,O dan H. Dan 4 unsur itu ternyata adalah 4 unsur penunjang utama adanya kehidupan. Bila dalam suatu planet ada 4 unsur itu, maka dapat dipastikan di planet itu ada atau bakalan ada kehidupan. Jadi ayat yang mengatakan Adam terbuat dari saripati tanah, sebetulnya lebih kepada informasi Allah kepada manusia tentang unsur-unsur penting penunjang terjadinya proses kehidupan itu sendiri.

Artikel John Gray
Tanya: Adakah yang tahu dimana bisa didapat kumpulan artikel yang ditulis John Gray? Jawaban: http://afr.com/review/2003/01/03/FFX9CQAJFAD.html

Al-Quran kitab suci yang scientific?
Pernyataan dari Ary Unggul: Aku yakin benar bahwa Al-Quran itu selain kitab suci yang diwahyukan dari Allah SWT, juga kitab yang scientific. Tolong disanggah. Sanggahan dari Paulerantausr, Malaysia (Red: maaf, pakai bahasa Siti Nurhaliza): Aku na' bri comment mengena-i kepercayaan ramai urang Moslem bahawa Al Koran yalah selain kitab suci nyang datang daripada Allah SWT juga kitab nyang scientific. Wak sandiri sebut bebrapa misal daripadanya.Semustinya ramai umat Moslem cukop lah hargakan Al Koran sebage kitab suci. Kalo ramai urang campor adok ugama dengen sains, akibatnya yalah terok amat. Kenapa? Kerana sains bolih dengan mudah di-analyze dan di-buktikan. Apa nyang ramai urang Moslem cakap sebage `pre-scientific knowledge'. Di Al Koran, kalo kita orang jujur, bolih ditrangkan sebage 'observable phenomena'. Sayang amat ramai urang Moslem read more than the verses actually say. Juga Islam spin-doctors kemudiannya interpolate information nyang sebenarnya ta' ditulis di ayat berkaitan. 132

Misal 1: jadinya hujan - apa nyang di-tulis di Al Koran ta' lebeh dan ta' kurang yalah observable facts nyang bolih diliat olih ramai urang. Islam spin-doctor kemudiannya tambahkan the scientific bits. Cilakanya ramai urang Islam telan spin ini dan dengen bangganya cakap `Liat Al Koran betul-betul scientific!' Misal 2: embryology - Al Koran cakap bahawa ada 4 darjah perkembangan janin. Ini sahaja tlah salah, kerana janin develops in a `seamless process'. Apa nyang ditulis di ayat Al Koran yalah tepat sama dengen theory mengena-i embryology olih ancient (circa 300 BC) Greek physician, Galen. Nah, apa ini maknanya Galen juga saurang nabi? Nyang ditulis di ayat berkaitan yalah phenomenon nyang ramai goat herders sering liat di kes aborted embryos. One glaring ommission di ayat itu yalah ta' adanya sumbangan daripada si prempuan. Kenapa? Kerana ovum ato sel-telor prempuan ta' kliatan! Misal 3: Allah ciptakan 7 langit dan 7 bumi. Ramai urang Moslem cakap mengena-i 7 lapisan atmosphere. Tulung sebut masing-masing level ini! Tapi ramai urang Moslem juga ta' senang sebut-sebut mengea-i 7 (planet) earths. Apa `ard' ato bumi nyang enam laen tlah diketemukan? Misal 4: fungsi gunung - berlawanan dengen claim Al Koran, sains moden faham bahawa dimana ada gunung-gunung - akibat clash of continental plates ato magma oozing out - yalah tempat nyang ta' stable. Gunung-gunung bukan lah `pegs' guna buat permukaan bumi stable. Di websites Islam kita orang bolih baca puluhan claims mengena-i Qur'anic miracles nyang sayang nya mudah di-debunk kerana mimang ta' benar, ta' scientific. Saran aku, trimalah Al Koran sebage kitab suci ugama dan ta' perlu dusta bahawa dia yalah kitab sains. Aku lampir dibawahnya ini pernyataan awak sandiri di posting kamu: "Kalau ada ajaran agama - yang katanya bersumber dari God's revelation - yang ternyata kontradiktif dengan fakta sains maka sudah sewajarnya ajaran agama tersebut ditinggalkan dan beralih kepada ajaran yang rasional humanis realistis".

133

Firdaus itu adanya di belahan bumi mana?
Pertanyaan dari Taruna Ikrar <dr_ikrar_mfar@yahoo.com>, Niigata Unversity, Tokyo: Kalau Firdaus itu di Bumi, adanya di belahan mana? Kemudian rasionalitasnya bagaimana? Masih terdapat beribu-ribu pertanyaan yang sifatnya Mutasabihat. Jawaban dari Aminta Ginting, Jakarta: Tuhan telah menciptakan Adam & Hawa, lalu ditempatkan di den, Taman Eden, Firdaus, paradise, yaitu sebuah tempat - deskriptif - yang nyaman, semua ada, benar-benar 'gemah ripah loh jinawi' - bukan sekadar semboyan. Jadi Firdaus itu bukan di akhirat, bukan juga di alam lain, tapi di planet Bumi. Genesis pada Bible menyebutkan ada 4 sungai yang mengalir, salah satunya Sungai Eufrat, sekitar wilayah Irak-Iran sekarang. Berarti Taman Eden atau Firdaus itu adanya di planet Bumi, bukan di akhirat. Jawaban dari Bono Emiry <whatkindofnews@yahoo.com>: Mengutip dari Alkitab Perjanjian Lama - tepatnya di Kitab Kejadian (Genesis): Adam & Hawa 'turun' di Taman Eden yang berlokasi di daerah Mesopotamia (Irak sekarang), antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Jawaban dari H.M. Nur Abdurrahman, Makassar: Firdaus yang ditinggali Adam & Siti Hawa adanya di Bumi. Ada 6 keberatan apabila mereka tinggal dalam surga (jannah) yang sesungguhnya di akhirat kelak, dengan alasan 'aqliyah (rasional) dan naqliyah (scriptural). Jawaban dari Handita, Jakarta: Gagasan tentang Firdaus - rumah tinggal manusia pertama versi Taurat (Pentateuch) - dicomot dari tradisi Persia/Mesopotamia. Kata Firdaus berasal dari bahasa Persia Kuno, 'pairidaeza', yang berarti taman yang dikelilingi tembok. Bahasa Yunani menyebutnya 'paradeisos' yang dipakai untuk menyebut taman para raja-raja Persia. Septuaginta (LXX) atau naskah Perjanjian Lama menerjemahkan kata tersebut dengan 'gan'eden'. Tradisi Taurat & Persia Purba sampai pada kesimpulan bahwa Taman Eden berada di antara Sungai Tigris, Sungai Eufrat di Mesopotamia Selatan dan Sungai Gihon dan Sungai Pison yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Sejumlah sumber condong menyebut Gihon berada di wilayah Ethiopa sekarang, dan Pison berada di jazirah Arab.

134

Sebuah lempeng yang menggambarkan keadaan Taman Firdaus dapat ditemui dari peninggalan yang ditemukan di Eufrat. Lempeng itu dinamai 'fresco firdaus' atau 'investiture fresco'. Cerita tentang lempeng ini banyak bersesuaian dengan cerita Alkitab. Bedanya, dalam lempeng tersebut yang menjadi tokoh adalah raja-raja, dalam kisah penciptaan versi Pentateuch, yang menjadi tokoh adalah manusia sebagai tuan dari semua ciptaan. Dalam kitab Perjanjian Lama, Eden selalu disebut dengan Taman Eden atau gan'eden. Mengacu pada masa lalu, suatu tempat tidak memiliki kaitan eskhatologis seperti yang kemudian berkembang. Kemudian orang Yahudi percaya bahwa Firdaus ada pada zaman mereka, hanya tersembunyi. Dalam Perjanjian Baru, pengertian paradeisos sudah mengacu pada pemaknaan yang terakhir. Kata Isa kepada penjahat disebelah kanannya: "Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Tidaklah lagi taman dalam konteks purba. Dari sepenggal cerita diatas kita tahu bahwa upaya menuliskan kembali kisah Firdaus dalam PL & PB sudah lebih condong ke arah penyusunan bangunan teologis keberadaan manusia di bumi. Demikian juga kisah tentang Adam-Hawa. hemat saya tidaklah tepat membandingkan 'kata' Adam-Hawa dalam Pentateuch dan Al-Quran, karena keduanya berangkat dalam perspektif yang berbeda dari bangunan teologis masing-masing. Apalagi konteks zaman Al-Quran sudah sangat jauh berbeda dengan tradisi Mesopotamia & Mesir saat itu. Tradisi yang berada disana justru salah satu mazhab Yahudi yang sudah jauh lepas perhatiannya dengan era pembuangan ketika Ezra (400 SM) mengumpulkan kepingan-kepingan naskah dari berbagai sumber yg ada saat itu (Y,E,P,D). Apakah info tersebut lalu tidak boleh dipakai utk penelusuran sejarah?Boleh saja, namun perlu dicatat bahwa kisah atau metafora dalam kitab-kitab tua tersebut sesungguhnya tidak memerlukan bukti dari luar dirinya. Lebih jauh upaya pembuktian Adam-Hawa, Firdaus dalam frame 'ilmiah' justru berisiko. Meminjam Dietrich Bonhoeffer: "A God who let us prove his existence would be an idol". Dikaitkan dengan teori evolusi, adalah bahaya bagi agamawan, karena kurang percaya diri dalam membaca perkembangan teori evolusi saat ini. Apalagi kecenderungan sikap tertutup dalam menyelesaikan kontroversi science vs agama dengan sikap 'fanatisme'. 135

Bagaimana keturunan Adam & Hawa bisa berlipat ganda?
Pertanyaan dari Tis <tis4500@yahoo.com>: Bisa dijelaskan kenapa keturunan Adam & Hawa bisa cepat berlipat ganda? Jawaban dari H.M. Nur Abdurrahman, Makassar: Menurut Nash, setiap Hawa melahirkan selalu kembar silang (lelaki dan perempuan). Syari'at yang berlaku waktu itu ialah tidak boleh kawin dengan saudara kembarnya. Tidak disebutkan dengan jelas dalam Nash berapa pasang anak kembar yang dilahirkan Hawa. Anda tahu Segitiga Pascal? Pada Segitiga Pascal Anda dapat mengetahui perkembang biakan Bani Adam yang pesat.

Adam setua Homo neanderthal?
Pertanyaan dari Tis <tis4500@yahoo.com>: Homo habilis diperkirakan hidup 4 juta tahun lampau. Apakah Adam dan Hawa adanya jauh sebelum Homo habilis atau Homo neandherthal? Jika demikian, hidup kemanusiaannya masih sangat rendah? Homo floresiensis yang diperkirakan hidup 18.000 tahun saja gaya hidupnya sungguh sangat sederhana, apalagi yang 4 juta tahun! Jawaban dari H.M. Nur Abdurrahman, Makassar: Dalam jangkauan milyaran tahun melalui TaqdiruLlah jenis mutasi alamiah terbentuklah antropoid. Lalu kemudian secara tiba-tiba terjadi pertumbuhan yang luar biasa cepatnya. Inteligensi nenek moyang manusia muncul tibatiba secara mendadak yaitu telah tercipta kultur ummat manusia. Sekonyong-konyong sekitar 40.000 tahun lalu terjadi kemajuan pesat: didapatkan gada yang dijadikan senjata, busur panah sebagai senjata untuk berburu, api dipakai sebagai kekuatan pembantu, perkakas dari batu dan muncul kemahiran melukis pada dinding gua. Maka mengapa, oleh apa, oleh siapa, antropoid, hominid dan orang purba yang jutaan tahun tidak mampu belajar apa-apa, lalu tiba-tiba saja muncul manusia modern menjadi cerdas. Itu artinya terjadi "lompatan". Manusia modern adalah Bani Adam, dan lompatan bermakna manusia modern tidak mempunyai hubungan genetis dengan antropoid, hominid dan orang purba pra-Adam.

136

Adam & Hawa: Incest?
Pertanyaan dari dr Kartono Mohamad <kmjp47@indosat.net.id>, Jakarta: Dari Nash yang mana yang menyebutkan bahwa Adam selalu melahirkan anak kembar? Dan dari nash yang mana yang menyebutkan bahwa syari'ah waktu itu melarang perkawinan dengan saudara kembar? Dengan saudara kembar atau tidak, kawin dengan saudara sekandung adalah incest. Jawaban dari H.M. Nur Abdurrahman <nurabdurrahman@telkom.net>, Makassar: Sumbernya dari Hadits-Hadits yang termaktub dalam Kutubu Sittah. Menurut Syari'ah yang ditentukan Allah, Syari'ah pada zaman Nabi Adam AS, kawin dengan bukan saudara kembar tidak terlarang, terminologi incest belum dikenal waktu itu. Incest itu kan terminologi belakangan. Menurut Nash, setiap Hawa melahirkan, bayinya selalu kembar silang (lelaki dan perempuan). Syari'at yang berlaku waktu itu ialah tidak boleh kawin dengan saudara kembarnya. Tidak disebutkan dengan jelas dalam Nash berapa pasang anak kembar yang dilahirkan Hawa. Tahu segi tiga Pascal? Pada segi tiga Pascal anda dapat tahu perkembang biakan Bani Adam yang pesat. Pak KM belum dengar pertikaian/pembunuhan Qabil atas Habil? Karena saudara kembar Qabil cantik, sedangkan saudara kembar Habil tidak cantik. Setelah Qabil membunuh Habil bingunglah dia mau diapakan mayat Qabil itu. Fa Ba'atsa Llahu Ghura-ban Yabhatsu fiy lArdhi liYuriyahu Kayfa Yuwa-riy Sawata Akhiyhi (Al Ma-idah, 31), artinya: Maka Allah mengirim ghurab (gagak) yang melubangi tanah supaya diperlihatkannya kepadanya (Qabil) bagaimana ia menguburkan mayat saudaranya (5:31).

Kita semua keturunan Adam & Hawa?
Pertanyaan dari Ade <ade@yascita.or.id>: Apakah sebagian dari manusia di Bumi adalah keturunan Adam Hawa, dan sebagian lainnya keturunan Homo erectus, Homo sapiens dan Homo floresiensis, andai kita percaya bahwa Adam dan Hawa pernah 'turun' ke bumi? Jawaban dari H.M. Nur Abdurrahman <nurabdurrahman@telkom.net> di Makassar: Seluruh umat manusia di Bumi saat ini adalah turunan dari Adam & Hawa, tidak ada sebagian 137

manusia dari keturunan Homo sapiens dan Homo floresiensis. Adam & Hawa dicipta Allah dengan TaqdiruLlah yang tidak ditanam di alam syahadah, sedangkan Homo sapiens dan rupanya pula Homo floresiensis adalah hasil evolusi dengan mekanisme TaqdiruLlah yang ditanam di alam syahadah.

Stephen Hawking atheis?
Pertanyaan dari Fajar Siswandaru <japar@telkom.net>: Saya baca buku 'History of Time' karya Stephen Hawking. Beberapa artikel di media massa menyebutkan kalau ilmuwan ini taat beragama. Tapi kalau saya baca bukunya, kok sepertinya dia cenderung atheis ya? Jawaban dari Dr. No <jpch60@yahoo.com>: Sifat atheis dari buku yang Anda baca disebabkan oleh science itu sendiri, yang tidak berdasarkan ada-tidaknya Tuhan. Sebagai contoh, science tidak menggunakan '10 Perintah Allah' sebagai landasan berpijaknya, tetapi berdasarkan atas 'Hukum Kekekalan Massa' (yaitu, massa tidak bisa diciptakan maupun dimusnahkan) serta 'Hukum Thermodinamika ke I s/d III' - tentang energi dan entropi. --------------------------------------------------------Kenapa mushaf Al-Quran yang dulu ditulis oleh para sahabat Nabi Muhammad saw harus dimusnahkan? Apa tujuannya? Bukankah itu suatu dokumentasi sejarah Islam yang maha penting? (belum terjawab) --------------------------------------------------------Mungkinkah agama-agama langit disatukan, agar tak membingungkan umat? Jawaban dari Anita Tammy <anitatamara@l...>: Untuk mencari kesamaan tiga agama samawi bisa klik: http://www.unionoffaiths.com/ -----------------------------------------------------------

Adam & Hawa 'turun' ke Bumi naik apa?

Pertanyaan dari Panas Siahaan <panas2000@lycos.com>, Jakarta: Andai Adam & Hawa diciptakan di surga, dengan alat transportasi apa mereka 'diturunkan' oleh Tuhan ke planet bernama Bumi? Pesawat ulang alik? Piring terbang? Kapsul tidur? Dengan Bouraq, alat angkut 138

yang sama seperti Tuhan meng'isra' mi'raj' kan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha? Bekal dan peralatan apa saja yang mereka bawa dari 'langit'? Jawaban dari Arrka Bratasena <arrka@hotmail.com>: Dulu, pas zaman purba, 'manusia pertama' turun ke Bumi pakai UFO, alias pesawat alien. Ceprot. Mereka lalu berkembang biak dan bercampur baur dengan species yang sudah ada di Bumi. Maka jadilah peradaban yang seperti sekarang ini. Mereka sengaja tidak membawa apaapa.Nggak bawa teknologi, nggak bawa ideologi, agama dan sebagainya. Karena alien yang mengirim 'manusia pertama' tadi ogah membawa 'kotoran', dan ingin melihat kehidupan di Bumi ini mulai dari nol, lalu berkembang secara alamiah. Begitu juga suatu saat kelak, ketika manusia menemukan 'persinggahan baru' di planet lain, biarlah manusia baru memulainya dari awal. Nggak usah bawa kotoran bernama teknologi, ideologi dan agama. He he he .. guyon !!

139

Manusia Flores: "Mister, sesungguhnya siapa sih namaku?"
Sekapur Sirih Heboh penemuan fosil Homo floresiensis di Liang Bua belum usai. Dunia sempat gempar dengan temuan spektakuler itu, apalagi dibumbui bahwa profilnya mirip si Hobbit. Orang-orang dari berbagai negara yang tidak ingin mati penasaran pun lalu sibuk menyusun jadwal 'jalan-jalan' ke Pulau Flores. Mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri, seperti apa sih Liang Bua itu? Mereka juga tentunya dengan harap-harap cemas bisa ketemu si Ebu Gogo -- si nenek pemakan segala -- walau sekelebat. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Prof. Teuku Jacob dari UGM 'berteriak lantang'. Ia mempertanyakan keabsahan penemuan yang ikut melambungkan Pulau Flores tersebut. Pada sebuah konperensi pers yang berlangsung di Yogyakarta (5/11/2004), Jacob sempat menuding Mike Morwood dan Peter Brown dari Universitas New England (UNE) Australia, sebagai 'ilmuwan teroris' -- tepatnya mereka telah melakukan tindakan 'terorisme ilmiah'. Lalu dibumbui dengan sindiran: "Ya tahu sendirilah orang Australia". Maksudnya tentu saja, orang-orang Australia masa kini adalah keturunan para napi kelas kakap asal Inggris yang di masa lalu pernah dibuang ke pulau maha luas hasil jarahan dari suku Aborigin itu. Dunia pun geger! Para ahli bahasa pun bingung dengan istilah baru itu: "Ilmuwan kok jadi teroris? Teroris kok jadi ilmuwan?" Untungnya, Mike dan Peter lebih memilih bersikap diam seribu bahasa - tak membalas hinaan Teuku Jacob yang mungkin menyakitkan hati 140

mereka. Dan lebih untung lagi, para anggota dewan yang konon terhormat itu, tak ikut campur dalam kasus ini. Mereka pikir: "Ah, kasus apa pula ini? Fosil saja diributkan....mana duitnya kecil." Kalau mereka ikut nimbrung, sudah pasti akan mempolitisir dan memelintir perseteruan antar ilmuwan tersebut, dan buntutnya hubungan diplomatik RI - Australia pun bisa merenggang -- seperti pernah terjadi sebelumnya. Perseteruan ini juga tertolong juga oleh media massa yang menulis secara proporsional dan ala kadarnya, sehingga tak sempat memanas. Bayangkan seandainya Jacob, Mike dan Peter adalah artis sinetron Indonesia, sudah pasti bakal 'ludes' - dikejar-kejar, digedor-gedor, disodok-sodok, lalu dilalap habis oleh tim peliput infotainment. Buntutnya: bantah-bantahan, cakar-cakaran, jambak-jambakan, cerai! Sungguh tak lucu kan bila para ilmuwan berbuat senista itu? Kemungkinan besar, Jacob 'meradang' karena membaca artikel Kompas edisi Jumat, 5 November 2004 dengan tajuk 'Fosil manusia Flores itu diumumkan di Australia' - tulisan Etty Indriati, dosen dan peneliti di Laboratorium Bio-paleoantropologi FK UGM. Pasalnya, isi artikel tersebut penuh dengan nuansa kekecewaan para peneliti Indonesia. Seolah-olah yang menuai ketenaran dan pengakuan hanya Mike Morwood dan Peter Brown saja. Makanya pada hari itu juga, Jacob mengajak R.P. Soejono bikin konperensi pers. Adakah faktor kecemburuan? Etiskah seorang ilmuwan cemburu kepada ilmuwan lainnya? Walahualam. Sebenarnya, permasalahan ini tak bakal merunyam andai Mike Morwood dan Peter Brown memahami 'public relations' - etika kehumasan. Walau tak tercantum dalam surat perjanjian, adalah lazim konperensi pers mustinya digelar di Indonesia -- entah di Flores atau di Yogyakarta -- bukan di Sydney, Australia. Kenapa begitu? Karena fosil tersebut ditemukan di bumi Indonesia. Walau pendananya dari Australia, temuan penting ini adalah hasil kerjasama tim ilmuwan dari dua negara. Bila terpaksa konperensi pers harus digelar di negeri jiran, tim Indonesia yang terlibat dalam penemuan fosil tersebut wajib dihadirkan - alias biaya transportasi dan akomodasi harus ditanggung pihak pengundang. Mereka toh posisinya sederajat dengan tim Australia - tak ada istilah 'bos' dan 'kroco', 'bule' dan 'asia', 'penaja' dan yang 'ditaja'. Walhasil, andai etika kehumasan itu diterapkan, 141

kutipan-kutipan yang dimuat di media massa tak cuma bersumber dari Mike dan Peter saja. Meski publisitas temuan Manusia Flores itu punya rating tinggi, namun telah menciptakan kesan jelek: kedua ilmuwan Australia itu sepertinya 'pengen ngetop sendiri', alias telah bertindak secara sepihak. Belum ada informasi, apakah Mike Morwood menggunakan jasa konsultasi PR. Ah, nasi telah menjadi bubur....... Kini yang masih tersisa, masyarakat awam pun lalu bertanya tanya. Siapa pihak yang benar: Mike Morwood atau Teuku Jacob? Lalu nama apa yang paling tepat diberikan buat si Manusia Flores itu? "A", "B", "C", atau "Z"? Andai fosil Homo floresiensis bisa 'ngomong', dia pun pasti akan langsung bertanya: "Mister, sesungguhnya siapa sih namaku yang sebenarnya?" Untuk memberi gambaran yang lebih lengkap, saya pajang sebuah tulisan karya Prof.Boedhihartono, staf pengajar jurusan Antropologi UI bertajuk 'Manusia Flores bersifat partikular' (pernah termuat di harian Sinar Harapan edisi Rabu, 24 November 2004). Ia dengan bijak mencoba menengahi 'perseteruan' tersebut - tak menyalahkan Mike Morwood, tak pula membela Teuku Jacob - sambil sesekali menyentil pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan temuan-temuan pra-sejarah. Tujuannya tentu saja agar kita tak lagi bergantung pada pendanaan asing. Konsekuensinya, ya dana untuk mendukung penelitian dan perawatan benda-benda peninggalan nenek moyang harus lebih banyak digelontorkan. Buat yang satu ini, pemerintah kita memang masih menyepelekannya, mungkindianggap 'sesuatu yang kurang bermanfaat buat hajat hidup orang banyak'. Sebenarnya 'kelemahan' ini justru jadi tantangan luar biasa buat perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam kemasan 'community relations' plus 'government relations': Fund for the Indonesian History, Colours Indonesia, Indonesian Heritage, Research the Past for the Future, proyek menyibak misteri alam, dig our history, proyek penelusuran nenek moyang manusia khas Indonesia, atau apalah namanya -- terserah yang punya duit. Saya sertakan juga artikel berjudul 'Homo floresiensis: Peneliti rugi, penyelenggara wisata untung', termuat di harian Sinar Harapan edisi Rabu, 10 November 2004, plus tulisan Michael Balter berjudul 'Fate of Flores bones in question' yang termuat di Science Now edisi 23 November 2004. Rasanya masih hangat buat kita diskusikan bersama. 142

'Ojo lali yo' kirimkan opini, saran dan kritik Anda. 'Tak enteni rek!' Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri E-mail: radityo_dj@yahoo.com

Manusia Flores bersifat partikular
Oleh Prof. Boedhihartono Penyiaran di dunia luar mengenai keberadaan Homo floresiensis oleh Peter Brown dan Mike Morwood, memang berhasil menarik perhatian dunia paleo-antropologi. Namun baru-baru ini secara resmi di beberapa surat kabar, Prof. Teuku Jacob dan Prof. R.P. Soejono menyatakan bahwa identifikasi penemuan tadi tidak benar. Dalam menyikapi kontroversi ini kita hendaknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan mana yang benar. Namun dalam satu hal bangsa Indonesia memang selalu menjadi penderita, karena baik Peter Brown atau Mike Morwood tidak berkonsultasi dengan pihak Indonesia, bagaimana seharusnya mempublikasikan penemuan tersebut. Suatu penemuan bersama antara Mike Morwood dan Thomas dari Arkenas (Arkeologi Nasional), penulis pernah dimintai bantuan membuat pengantar untuk melakukan foto rontgen penemuan tadi. Penulis juga sempat melihat tengkorak tersebut. Sesuai kode etik, penulis tidak memberi komentar, kecuali pada Peter Brown dan Mike Morwood, dan menyatakan bahwa penemuan tadi yang berwujud tengkorak microcephal bisa bersifat particularity maupun spectacularity. Penulis berpandangan bahwa yang berhak pertama kali mempublikasikan penemuan tadi tentunya pihak Arkenas bersama penyandang dana, yakni pihak Australia. Peter Brown adalah ahli peninggalan Aborigin yang tiba-tiba saja dibawa ke Arkenas oleh Mike Morwood. Penemuan tadi dalam arti particular, kalau benar seperti Teuku Jacob nyatakan adalah dari manusia masa kini (Homo sapiens, yang bertanggal 18.000 tahun lalu), tengkorak ini menurut dia adalah jantan dan berusia sekitar 30 tahun. Dari tulang dahi yang lapisan luarnya terkelupas memang sulit menentukan apakah dahi landai pada jantan (sliding-sloping) atau vertikal pada betina. Kalau taju mastoid kecil (processus mastoideus), memang dapat diartikan sebagai manusia betina saat ini, namun pada Homo erectus memang banyak yang taju mastoidnya kecil (kecuali Sangiran-IV). Sedangkan bentuk dari lekuk ischiadicus (sciatic notch, incisura ischiadica) memang mungkin 143

mendukung dugaan Teuku Jacob. Namun demikian, otak memang terlalu kecil untuk suatu Homo sapiens atau bahkan Homo erectus. Kalau penemuan ini didiagnosis sebagai Homo sapiens, kita bisa saja menduga bahwa makhluk ini lahir tautologik, lahir menyimpang dari wujud seharusnya manusia masa kini. Bentuknya juga tidak mirip penemuan Homo sapiens, sudut tonjolan pada belakang kepala (torus occipitalis) terlalu acute, berangulasi mirip milik Homo erectus. Namun lengkung di atas mata (torus supra orbitalis) relatif tidak terlalu menonjol seperti pada Homo erectus pertama yang juga relatif kecil. Di belakang bagian atap tengkorak ada cekungan yang sangat kentara sekali, di titik pertemuan kiri kanan tulang baji dan tulang occipital lazim disebut post bregmatic depression atau depresi lambdotik. Kalau kita lihat wajah memang tidak terlalu 'manyun' (prognathous) dengan maxilla yang relatif gembung (inflated) seperti misalnya Sangiran-17, tengkorak Homo erectus soloensis yang robust (kasar) dan paling lengkap. Gigi kecil dan rata, bagian depan sudah aus, menunjukkan mati saat sudah dewasa. Namun dagu tidak terlihat menonjol sebagai manusia sekarang, cenderung melengkung tanpa memperlihatkan taju dagu (processus mentalis). Secara keseluruhan tengkorak itu gepeng (flattened), mirip dengan bentuk salah satu manusia purba dari Peking dengan catatan bahwa bagian muka relatif memang kecil. Atap tengkorak, pada pertemuan tulang baji (os parietale) membentuk sudut mirip bentuk atap. Namun lubang persambungan tengkorak dan tulang belakang justru memanjang, depan belakang justru mirip manusia Solo (Homo erectus soloensis). Gigi manusia ini yang lengkap, dan persambungan tulang tengkorak yang lengkap, memperlihatkan bahwa individu ini mampu bertahan hingga dewasa, menimbulkan pertanyaan kalau saja dia kasus tautologik atau penyimpangan, tentunya sulit bertahan hidup sampai dewasa, kecuali ditopang manusia lain. Lebih menarik gigi-giginya halus mirip dan bahkan lebih halus dari manusia saat ini. Tulang post cranial memang sangat kecil dan menggunakan persamaan regresi tentu bisa dihitung tinggi badan makhluk ini, pihak Australia mengklaim tingginya kurang dari satu meter, dan perhitungan dari pihak Teuku Jacob mungkin sekitar 120 cm. Bagaimana dengan penamaan Homo floresiensis, artinya ini merupakan species baru yang berbeda dari baik Homo erectus 144

maupun Homo sapiens, dan memang menempatkan penemuan ini sebagai spektakuler. Benarkah? Dari pertanggalan yang ada sukar dibayangkan bahwa Homo erectus masih hidup pada sekitar 20.000 tahun lalu, sekalipun penemuan Homo sapiens di Australia seperti di Kow Swamp memperlihatkan beberapa karakteristik plesiomorfik dari Homo erectus, tetapi tetap dia merupakan bagian dari Homo sapiens. Ciri fisik dari penemuan di Flores ini memang memperlihatkan ciri-ciri baik metrik maupun morfologik yang patut dipertanyakan kalau kita bandingkan baik dengan tengkorak Homo sapiens maupun Homo erectus. Namun menentukan sebagai species tersendiri masih memerlukan studi menyeluruh dengan saksama dan data lebih lengkap dari tengkorak sejenis yang harus ditemukan di kemudian hari. Kalau tidak mungkin ini hanya partikularitas dari salah satu jenis yang sudah ada. Apakah itu Homo sapiens floresiensis, Homo erectus floresiensis atau memang berhak akan nama species tersendiri seperti klaim Peter Brown dan Mike Morwood? Maka penggalian harus diupayakan menemukan spesimen sejenis lain sebagai pendukung. Apakah dia memang berhak mendapat nama khusus, atau sebenarnya penemuan tadi adalah suatu partikularitas saja. Penjelasan dari mereka yang melihat bagian postcranial menyatakan bahwa yang ditemukan adalah individu-individu lain yang berukuran normal. Mendukung dugaan bahwa tengkorak ini suatu partikularitas, namun pernyataan bahwa ditemukan tulang post cranial dari individu sejenis (ukuran kecil) maka tidak tertutup kemungkinan adanya Homo erectus pigmi. Hanya bagaimanapun kita membutuhkan lagi penemuan cranial atau post cranial (tengkorak atau bagian tubuh) utuh lain yang memperkuat dugaan tadi. Dari pengalaman ini, pemerintah Indonesia hendaknya mulai menyadari bahwa bangsa lain sangat berminat mengeksplorasi dan mengeksplotasi negeri yang sangat kaya ini. Kita kaya bukan hanya dengan sumber daya alam atau sumber daya energi saja, tetapi lebihlebih dengan sumber daya informasi yang jika mampu diterjemahkan sebagai pesan alam atau pesan Tuhan pada kita. Sadarkah bangsa ini akan nilai kekayaan informasi atau tidak? (*)Penulis adalah staf pengajar pada jurusan Antropologi Universitas Indonesia.

145

Homo Floresiensis: Peneliti rugi, penyelenggara wisata untung
Sinar Harapan - Rabu, 10 November 2004 No. 4851 Semenjak penemuan si 'hobbit' dari Liang Bua, Flores, dunia ilmu pengetahuan bidang arkeologi seperti kembali terhentak. Bagaimana tidak, apabila penemuan ini memang bisa dianggap valid, berarti ada kemungkinan teori Darwin yang menggegerkan tersebut bisa dianggap sah keberadaannya. Berbagai polemik kemudian berbuah di belakangnya. Diawali dari keberatan peneliti Indonesia, yang merasa bermacam tindakan yang dilakukan pihak peneliti Australia telah melewati batas etika. Teuku Jacob, Profesor Paleoantropologi Universitas Gajah Mada, berteriak keras mengenai hal ini. Menurutnya para peneliti Autralia yang dipimpin oleh Prof. Peter Brown, telah melakukan kejahatan terorisme ilmu pengetahuan. Karena mereka tidak melakukan konsultasi pendahuluan dengan pihak peneliti Indonesia mengenai masalah publikasi. Selain itu Teuku Jacob juga menyatakan bahwa semua temuan yang dibeberkan pihak Australia adalah kekeliruan semata. Menurutnya manusia kerdil dari Flores yang ditemukan baru-baru ini hanyalah tulang manusia yang mengalami penyakit semacam microcephaly, sebuah kondisi kongenital karena seseorang dilahirkan dengan otak yang kecil. "Sudah banyak yang mengetahui bahwa banyak orang Flores yang mengalami penyakit seperti ini. Namun bukan penyakit sebagian besar populasi," ungkap Jacob pekan lalu. Namun beberapa hari setelahnya semua klaim yang dilemparkan ilmuwan Indonesia tersebut ditolak keabsahannya oleh Chris Stringer, seorang ahli paleoantropologi dari Museum Sejarah Alam di London. Menurutnya laporan yang diberikan Prof. Peter Brown telah direkomendasikan oleh kedua belah pihak sebelum dimuat di majalah Nature. "Sangat tak masuk akal bila mereka mengeluarkan pernyataan penolakan dari laporan yang mereka buat sendiri," ungkapnya, Senin (8/11/2004). Juga menurutnya asumsi mengenai penyakit microcephaly yang kemungkinan diidap oleh spesies tersebut, Stringer menyebutkan bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. "Saat seseorang 146

terserang penyakit microcephaly, hampir semua anggota badannya, kecuali kepala, tetap pada posisi normal," tambahnya. Ini sangat berbeda sekali, pada temuan tujuh manusia purba tersebut, disebutkan hampir keseluruhan tulang yang ditemukan juga berbentuk kecil. "Semua temuan yang dinyatakan sebagai Homo floresiensis tersebut sangat cocok, jadi saya tak melihat adanya kejanggalan yang mendukung bahwa jenis spesies ini adalah manusia purba yang mengalami suatu kondisi tertentu. Hingga kini saya masih percaya bahwa Prof. Brown telah melakukan penemuan luar biasa di Flores."

Wisata
Pahit memang bila melihat semua polemik yang terjadi. Di satu sisi kita mengalami kerugian publisitas yang harus diterima peneliti Indonesia. Namun di sisi lain ternyata ada beberapa pihak yang mulai merasa diuntungkan dalam masalah ini. Salah satunya adalah para penyelenggara perjalanan wisata. Bahkan sebuah berita yang dilansir dari Associated Pers (AP), barubaru ini menyebutkan bahwa sudah ada beberapa operator wisata lokal yang menawarkan perjalanan menuju lokasi gua tersebut. "Beberapa waktu yang lalu ada turis Jerman yang datang kemari," ucap Agustinus Manga, penduduk setempat yang bertugas sebagai penjaga gua setelah kepergian para arkeolog tersebut. Celah tersebut juga kemudian seperti terlihat terang di mata Timbul Marcelius, Kepala Dinas Wisata setempat. Menurutnya hal itu merupakan sebuah keberuntungan bagi mereka. "Pasti akan banyak turis datang," katanya. Dan menurutnya apabila tak banyak turis datang, paling tidak kejadian ini membuat Liang Bua akan tercantum dalam lembaran peta.

Pertentangan
Antropolog Desmond John Morris, penulis buku Naked Ape and The Human Zoo kepada BBC News Online menyatakan bahwa penemuan manusia hobbit bisa menantang kaum rohaniwan untuk menguji keyakinan basis mereka. Di sejumlah negara Barat, pertentangan antara kaum ilmuwan dan rohaniwan mengenai asal-usul manusia tak pernah menemui titik akhir. Bahkan sempat memanas beberapa waktu 147

silam sehingga sejumlah sekolah menutup kurikulum berbasis agama atau sebaliknya. Dengan temuan manusia hobbit belum lama ini, kembali perseteruan antara dua kalangan tersebut merebak. Temuan atas fosil berusia 18.000 tahun tersebut mengejutkan baik kalangan ilmuwan maupun ahli agama. Kalangan agama meyakini bahwa manusia diciptakan sekitar 6.000 tahun silam. Dari sini saja sudah sangat berbantahan dengan segala temuan fosil makhluk hewan purba yang oleh arkeolog diprediksikan sudah jutaan tahun usianya. Belum lagi Teori Darwin yang banyak dikecam oleh kalangan rohaniwan di seantero dunia. Darwinis menyatakan bahwa manusia modern saat ini berevolusi dari makhluk serupa kera. Menurut mereka, selama proses evolusi yang diperkirakan berawal 4-5 juta tahun lalu, terdapat beberapa 'bentuk transisi' antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sepenuhnya rekaan ini, terdapat empat kategori dasar, yakni Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus dan Homo sapiens. Evolusionis menyebut nenek moyang pertama manusia dan kera sebagai Australopithecus, yang berarti 'Kera Afrika Selatan'. Australopithecus hanyalah spesies kera kuno yang telah punah, dan memiliki beragam tipe. Sebagian berperawakan tegap, dan sebagian lain bertubuh kecil dan ramping. Mereka menggolongkan tahapan evolusi manusia berikutnya sebagai 'homo' yang berarti 'manusia'. Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok homo lebih berkembang daripada Australopithecus, dan tidak terlalu berbeda dengan manusia modern. Manusia modern di zaman kita, Homo sapiens, dikatakan terbentuk pada tahapan terakhir evolusi spesies ini. Memang di kitab-kitab suci agama disebutkan bahwa Tuhan juga menciptakan makhluk hidup lain di luar manusia. Disebutkan pula manusialah yang paling bertanggung jawab untuk menguasai alam dunia. Namun itu belum menjadi jawaban mengenai keterkaitan antara Teori Evolusi dengan paham agama. Fosil Hobbit yang sungguh berbeda dari spesies manusia sebelumnya membuka pengetahuan baru bahwa jenis manusia sangatlah beragam. Ini berarti Tuhan memang menciptakan manusia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Lalu yang menjadi pertentangan adalah: 148

"Sungguhkah seperti yang ditulis dalam Kitab Suci bahwa Tuhan menciptakan Adam dan Hawa seketika langsung dalam bentuk manusia modern seperti yang hidup di masa kini?" David Wilkinson, dosen teologi dan ilmu pengetahuan di University of Durham beranggapan bahwa sejauh ini tak ada yang perlu dipermasalahkan dengan temuan tersebut. "Bisa saja kita kelak akan menemukan beragam hal di dunia ini. Dan apabila Homo floresiensis masih eksis maka mereka harus diperlakukan secara respek walaupun kalangan antropolog akan mengklasifikasikan mereka sebagai manusia atau bukan," komentar Wilkinson.

Tidak Terpengaruh
Hal serupa juga dikemukakan Thomas Sutikno, peneliti ahli arkeologi dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang terlibat dengan studi Homo floresiensis. "Kami murni ilmuwan yang sama sekali tidak terpengaruh dengan paham-paham lain. Yang kami lakukan adalah membeberkan fakta dan bukti adanya temuan baru. Kami sama sekali tidak ikut-ikutan dengan pertentangan dengan paham lain," ujar Sutikno kepada SH di Jakarta, pekan lalu. Ia juga merasa bahwa perdebatan di kalangan agama dengan ilmuwan di luar negeri tidak akan merebak di Indonesia sebab memang pada dasarnya ilmuwan Indonesia tak pernah mencampuradukkan ilmu dengan paham lain. Fosil manusia mini Flores saat ini tersimpan rapi di Jakarta dan masih terus menjalani analisis oleh ilmuwan Indonesia dan Australia. Menurut Sutikno, fosil tersebut masih merupakan temuan awal yang menyimpan banyak sekali misteri. Masih banyak informasi yang bisa digali dari temuan tersebut. Maka fosil itu merupakan barang berharga yang harus dijaga dengan baik. (SH/str-sulung prasetyo/merry magdalena) -----------------------------------------------------Science Now, 23 November 2004 by Michael Balter A leading Indonesian paleoanthropologist who doubts that a recently discovered, tiny 18,000-year-old hominid is really a new species has taken the matter into his own hands. Earlier this month he took 149

Fate of Flores Bones in Question

possession of the skeleton, and he plans to acquire other hominid bones from the same excavation. The move worries many researchers, who fear it will limit access to the valuable remains. The original discovery stunned paleoanthropologists: A research team last month announced that it had found the bones of a new species of human in a cave on the Indonesian island of Flores (Science Now, 27 October). The discovery of meter-tall humans suggested that until relatively recently, Homo sapiens was not the only human species on the planet. But a small group of skeptics argued that the skeleton belonged to a modern human afflicted with microcephaly, a deformity characterized by a very small brain and head ( Science, 12 November, p. 1116). Earlier this month, one of the skeptics, Teuku Jacob of Gadjah Mada University in Yogyakarta, had the skull of the hominid--dubbed Homo floresiensis by the Indonesian-Australian team that discovered it-transferred to his own laboratory from its official depository at the Center for Archaeology in Jakarta. Center officials have agreed to Jacob's request to have the skeleton's remaining bones, as well as the fragmentary remains of several other tiny hominids unearthed during this year's season, transported to Gadjah Mada as well, according to Radien Soejono, the center's senior archaeologist and co-leader of the discovery team. Some researchers are worried that Jacob will prevent others from studying the bones; he is well known for guarding access to fossils in his possession (Science, 6 March 1998, p. 1482). "This development seems to threaten all future studies of Homo floresiensis," says Chris Stringer, a paleoanthropologist at the Natural History Museum in London. Stringer's concerns are echoed by a number of other researchers. "We are very unhappy," said one Indonesian archaeologist, who asked not to be identified. Paleoanthropologist Peter Brown of the University of New England in Armidale, Australia, who originally analyzed the skeleton, says, "I doubt that the material will ever be studied again." Soejono expects Jacob to return all of the bones to Jakarta eventually, although he's not sure when. "I am not going to push" for their return, Soejono says, adding that Jacob is a "very experienced" scientist. Jacob told Science he will probably need until the end of this year to complete his study. 150

He says that it is up to the Center for Archaeology to decide the bones' ultimate fate but adds that the remains would be "much safer" in his own vaults in Yogyakarta, where many of Indonesia's famous hominid fossils are also stored.

151

Teori Evolusi: Tiada kepulan asap tanpa ada kobaran api
Pengantar Rangkaian opini pada diskusi lintas milis kali ini masih membahas seputar Teori Evolusi, dampaknya di masa kini dan masa depan. Menyimak alur diskusi ini sedari awal, ternyata untuk membahas teori evolusi tak bisa lepas dari bayang-bayang agama, beda dengan teoriteori lainnya yang bisa dibahas tuntas tanpa embel-embel agama murni dengan pendekatan ilmiah. Namun 'gesekan' itu tak bisa ditawar-tawar lagi. Kenapa? Penyebab utamanya adalah pada pokok bahasan 'penciptaan manusia', menyangkut sejarah kehidupan kita semua di planet Bumi. Maka, diskusi ini pun berupaya menguak kisah penciptaan Adam & Hawa menurut kitab-kitab suci secara proporsional. Di masa depan, Teori Evolusi yang pertama kali dicetuskan oleh Charles Darwin memang 'ditakdirkan' untuk terus digugat sepanjang masa kehidupan. Sebenarnya sang pencipta teori sendiri tentunya tak berharap hasil penelitian dan pemikirannya dikaitkan-kaitkan dengan eksistensi 'agama-agama langit'. Namun harapan lain dengan kenyataan. Sejak teori evolusi pertama kali digulirkan, sudah muncul reaksi, dari yang lunak sampai keras, khususnya dari kaum agamawan. Kini giliran kaum kreasionis yang buka front perlawanan. Segala daya dan upaya mereka lakukan, mulai dari cara yang paling halus hingga yang paling kasar. Intinya, mereka ingin membentuk opini masyarakat bahwa teori evolusi cuma bualan belaka; hanya kandungan kitab-kitab sucilah yang paling benar. Ada pepatah mengatakan: "Tiada kepulan asap tanpa ada kobaran api." Kian besar jilatan si lidah api, asapnya pun kian membubung tinggi. Akankah api itu padam dengan sendirinya, atau musti diguyur air? Dapatkah api yang dipantik tetap berkobar, namun gerayangan 152

asapnya yang bikin sesak nafas itu bisa sirna? Adakah satu titik temu? Waktu jua yang menentukan. Apa jadinya kalau ada pihak ketiga yang mengkipas-kipasi alias mengail di air keruh? Kita tunggu saja hasil akhirnya, entah kapan. Tanpa perlu ada pihak yang merasa jadi pemenang, dan tak ada yang merasa dikalahkan - apalagi merasa dipermalukan. Walau dalam dunia kasunyatan, kita dihadapkan hanya pada dua pilihan: benar dan salah. Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri

Kerisauan dari negeri jiran
Rekan Julie Lau <ulysee@singnet.com.sg>, warganegara Indonesia yang mukim di Singapura merasa risau, kok Teori Darwin dan Kitab Penciptaan terus saja dipertentangkan? "Kenapa kita tidak ambil jalan tengahnya saja. Misal dengan menyelaraskan keduanya, bahwa memang ada kemungkinan manusia itu adalah hasil evolusi, dan bahwa Adam dan Hawa itu memang ada, bukan tokoh khayal," saran Julie. Lagi pula, masih menurut Julie, Teori Darwin itu baru sekadar teori, belum jadi 'hukum', alias masih ada kelemahan-kelemahannya misal soal 'missing link' yang belum ketemu hingga kini. Julie bilang, menurut kitab suci yang ia baca, binatang diciptakan oleh Tuhan lebih dulu, terakhir baru manusia. "Barangkali saja si manusia kera itu prototype untuk menjadi manusia yang (katanya) sempurna. Sementara selama proses penyempurnaan itu, Sang Pencipta terus berperan dan terus mendampingi sampai si manusia kera jadi manusia dan bisa baca tulis, lalu menuliskan: bagaimana dia muncul, mengapa dia muncul, dan untuk apa dia muncul di bumi. Bukankah lebih bahagia membayangkan bahwa Sang Pencipta itu terus peduli dan mendampingi ciptaanNya daripada membayangkan sesudah menciptakan terus dicuekin begitu saja?"

Sebuah teori ilmiah mengandung arti kebenaran, juga penyimpangan
Menurut rekan Wishnu Sukmantoro <wishnubio@yahoo.com>, sebuah teori ilmiah mengandung arti kebenaran, dan juga penyimpangan. 153

Teori yang belum mengandung kebenaran mutlak, dapat saja salah atau benar secara mutlak di kemudian hari. Adalah hal yang bijaksana apabila mereka atau anak-anak kita sekalipun tidak dijerumuskan dalam satu pilihan pemikiran. Biarkan mereka memilih dan menentukan pikiran-pikirannya secara baik sehingga dapat menentukan pilihan yang setidaknya benar menurut mereka. Ia memberikan ilustrasi tentang teori Generatio Spontanea yang dikemukakan Aristoteles pada 300 SM, sampai Needhant pada abad 18. Teori ini sampai ribuan tahun lamanya tetap bertahan sebagai suatu kebenaran mutlak. Pada masa Spalanzani sampai pada eksperimen Schultz dan Schwann, teori Generatio Spontanea mulai goyah. Puncaknya adalah percobaan yang dilakukan Pasteur pada 1865. Teori Generatio Spontanea pun runtuh melalui suatu percobaan yang sederhana. Tetapi disini ada proses berjalannya waktu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, logika berpikir dan teknologi. Kontribusi kuat terhadap runtuhnya generatio spontanea secara tidak langsung adalah dari penemuan mikroskop yang pada abad sebelumnya belum pernah diciptakan. Sama halnya pernyataan 'bumi itu bulat' yang dibuktikan dengan teknologi dan perkembangan cara berpikir manusia yang maju. Tumbangnya teori Darwin atau kebenaran mutlaknya teori ini terletak pada perkembangan teknologi saat ini dan di masa datang. Pada saat dimana teori tersebut hanya diperdengarkan atau diperdebatkan suatu forum tanpa bukti konkrit, teori Darwin tetaplah menjadi teori. Teori kuantum yang ramai dibicarakan saat ini, ataupun studi bintang muda sebenarnya dapat menjawab dari kebenaran Darwin, tetapi terbatasnya teknologi luar angkasa saat ini, sehingga belum bisa menyajikan secara lebih jelas dan detail mengenai perkembangan suatu tata surya apalagi terhadap sebuah kehidupan. Terjadinya suatu 'spesiasi', allopatrik dan mutasi adalah sebuah misteri yang berkenaan dengan perubahan material genetik yang dipengaruhi oleh lingkungannya dalam kurun waktu panjang. Perkembangan ras-ras manusia di dunia dan perkawinan diantara ras-ras (cross breeding) tersebut merupakan suatu hal yang luar biasa dari perkembangan kehidupan manusia. Pertentangan-pertentangan diantara manusia sendiri yang saling mengalahkan: yang kaya mengalahkan yang miskin, yang memiliki kekuasaan mengalahkan yang lemah, yang berteknologi maju membasmi bangsa yang tertinggal. Evolusikah itu? Mungkin iya. 154

Karena dalam 'natural selection' hal-hal seperti itu mungkin alami, dimana kompetisi seperti itu akan menghasilkan pemenang yang 'kosmopolitan' dan unggul. Pihak yang tidak unggul pun dimusnahkan, atau musnah dengan sendirinya. Dan ini sedang terjadi, kan?

Kebenaran absolut vs fakta ilmiah
Rekan Octa aka Angelo Shien <dayan@hot-shot.com> berpendapat: "Jika kita mengatakan bahwa sesuatu itu adalah kebohongan, tentu kita berpijak pada kebenaran yang kita yakini. Itu pulalah yang kita alami ketika mengatakan bahwa teori evolusi adalah suatu kebohongan, karena kita berpijak pada kebenaran absolut dari kitab suci yang mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa." "Tetapi menurut Darwinian dan ilmuwan penerus teorinya, bahwa evolusi adalah suatu kebenaran dengan berbagai macam fakta ilmiah yang mereka temukan. Ini semua tentu berdasar pada rasionalitas manusia yang ingin mencari jawaban atas apa yang mereka temukan." "Dalam kitab suci tidak pernah disinggung masalah dinosaurus dan makhluk-makhluk lain pada zamannya. Tetapi, ketika para ilmuwan itu - yang mungkin sebelumnya juga yakin bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa - mendapati bahwa ada sisa-sisa peningggalan biologis yang notabene berasal dari jenis makhluk mirip manusia, tetapi tidak persis seperti manusia pada umumnya. Mirip hewan bukan seperti hewan-hewan yang kita ketahui saat ini. Hal ini tentu saja membutuhkan sebuah jawaban yang paling tidak mendekati kebenaran tentang apa pun itu yang mereka telah temukan dan klaim sebagai manusia purba, dinosaurus, dan sebagainya." "Ilmu pengetahuan memang ada batasnya. Saya yakin, pada dasarnya ilmu pengetahuan dikaruniakan oleh Tuhan bagi manusia yang berakal budi bukan untuk mencari kebenaran baru - karena kebenaran sudah pasti seperti yang kita yakini selama ini, yaitu Tuhan YME - tetapi untuk membantu manusia mengarahkan diri kepada kebenaran itu sendiri. Apapun bentuk penemuan manusia selama ini, menurut hemat saya pada dasarnya itu semua merupakan bagian dari rencanaNya dengan akal budi kita."

155

"Ketika kita serta merta mengatakan evolusi adalah tidak benar, tetapi ketidak benaran itu sebagian nyata dengan adanya fosil-fosil yang ditemukan, tetapi memang itu belum tentu evolusi. Bisa jadi itu memang berasal dari jenis makhluk dari spesies tertentu yang memang sudah punah. Dan satu hal, usia alam semesta hingga saat ini hanyalah sebatas perkiraan, tidak ada yang mengetahui angkanya yang pasti. Ada yang mengatakan usia bumi sudah sekitar 5 milyar tahun, tetapi tidak ada yang tahu persis berapa usia sebenarnya. Kalaupun kita tahu, tentunya sudah dari dulu kita memiliki tradisi hari ulang tahun untuk bumi dengan kue tart spesial yang dibuat khusus tiap tahunnya."

Periode Legenda dan Sejarah
Octa lalu mencoba mengklasifikasikan periode sejarah pada kitab suci,"Mohon maaf, ini hanya sebatas yang saya tahu, mohon kritik dan saran Anda," ujarnya. Menurutnya, klasifikasi periode sejarah kitab suci terbagi dua, yaitu Periode Legenda dan Periode Sejarah. Periode Legenda ini dimulai dari periode penciptaan manusia (Adam & Hawa) hingga zaman Nabi Nuh (termasuk kisah nabi Sulaiman dan lainnya). Sebagai catatan, kisah penciptaan manusia pada kitab suci serupa dengan kisah penciptaan manusia yang berasal dari daerah Skandinavia, hanya nama tokohnya saja yang berbeda. Sedangkan Periode Sejarah dimulai semenjak Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad SAW. "Saya membagi periode ini dengan dasar historis ada tidaknya catatan-catatan sejarah pada masing-masing periode," ujarnya. "Lalu bagaimana dengan cerita mengenai manusia purba, dinosaurus, dan sebagainya yang saat ini saya akui memang masih kontroversial, terutama bagi kaum agamis? Apakah kita menyangkal teori evolusi itu dan mengatakan bahwa fosil-fosil itu bukan dari makhluk yang menjadi nenek moyang kita, tetapi mungkin berasal dari spesies makhluk tertentu yang pernah hidup? Bisakah kita menjelaskannya dan mencari jalan tengah yang - paling tidak - mendekati kebenaran?" "Manusia diciptakan dengan disertai akal budi. Sedangkan segala bentuk penemuan artefak pra-sejarah tak lepas dari kerangka sains yang tentunya didasarkan pada akal budi manusia itu sendiri. Apakah dengan kata lain kita juga menganggap karunia Tuhan yang satu itu tidak benar ketika akal budi itu menuntun manusia kepada sebuah penemuan yang disebut evolusi?" 156

"Kita bisa saja memangkas perdebatan ini dengan beralih pada apa yang dikatakan oleh kitab suci. Tetapi cukupkah itu menjawab beberapa misteri yang masih tersisa? Apakah lalu kita mengarangngarang saja mengenai asal-usul suatu fosil, yang penting pokoknya manusia pertama adalah Adam dan Hawa. Secara iman ya, tetapi secara ilmu pengetahuan tidak. Saya pikir biarlah masing-masing berjalan pada relnya: iman & sains. Tetapi pada hal yang mendasar, yaitu iman, ada sesuatu yang tidak mungkin kita ganggu gugat. Memang tak mungkin mempertemukan iman dan sains ketika muncul sebuah dikotomi dalam memandang sebuah masalah."

Kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan
Octa melanjutkan argumentasinya, "Secara biologis, seks merupakan bagian dari proses regenerasi manusia, tetapi agamalah yang membuat aturan main untuk hubungan seks yang benar menurut Tuhan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan mencari, merumuskan, dan menemukan jawaban bagi persoalan hidup manusia yang sifatnya duniawi. Tetapi agamalah yang menentukan aturan main bagi batasbatas antara yang benar dan yang tidak benar dari ilmu pengetahuan itu sendiri untuk kita terapkan. Dengan catatan bukan untuk memvonis bahwa ilmu pengetahuan itu salah. Salah atau benar hanya Tuhan yang tahu, dan tentunya dengan penemuan-penemuan manusia, Tuhan punya maksud atau rencana tertentu, yang pasti adalah untuk makin memuliakan NamaNya, bukan agar kita dapat menentukan apakah itu salah atau benar. Karena kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan. Sama halnya ketika menentukan apakah seseorang berdosa atau tidak, dan seberapa berat kalau memang berdosa, atau seberapa bersih kalau tidak berdosa. Tanpa akal budi, kita pun tidak akan mungkin mengenal Tuhan."

Superman makan sayur
Rekan Tumpal S. <jobalius@yahoo.com> cukup tergelitik untuk memberikan opini, "Benar atau tidak, mohon diterima karena baru sekian kadar pengetahuan saya, dan maaf kalau pendapat saya rendah mutunya." Menurutnya, Teori Evolusi memang harus disikapi dengan cara pandang multidimensi, mengutip pernyataan rekan Andreas Mihardja di posting sebelumnya. 157

"Jika kita menilik apa yang tertulis di kitab-kitab suci, terlalu sombong rasanya jika kita sudah merasa 100% memahami makna-makna Ilahi yang hendak disampaikan oleh Allah. Saya bukan seorang pro Darwin juga bukan anti agama, tetapi saya percaya bahwa Tuhan bersabda dan berbicara pada manusia lewat kitab-kitab suci dengan 'bahasa' dan 'cara pandang' yang dapat diterima oleh manusia zaman dulu kala. Saya tak hendak menyamakan manusia zaman dahulu hanya memiliki kepandaian atau inteligensi setingkat ayam atau ikan, tetapi realitanya bahwa akal budi manusia berkembang seiring dengan perjalanan waktu. Dasar-dasar pemikiran yang ditemukan oleh orang-orang zaman dahulu dijadikan landasan untuk suatu penemuan yang lebih maju. Seorang penemu teknologi ponsel misalnya, tidaklah merasa bahwa sang penemu pesawat telepon Alexander Graham Bell, adalah orang yang bodoh. Justru sebaliknya, iya kan," ujar Tumpal. Sebagai ilustrasi, ia teringat kembali pada pengalaman di masa kecilnya. "Sewaktu ayah menyuruh saya untuk menghabiskan sayur dan wortel dengan memberitahukan bahwa jika saya menghabiskan wortel dan sayur yang tersaji, maka kelak jika besar saya akan sekuat Superman, sebab sayur dan wortel mengandung zat besi dan vitamin A. Pemikiran sederhana saya sebagai anak berumur 5 tahun adalah: Superman itu 'si manusia besi baja' dan sayur mengandung zat besi, maka nampak 'logis' dalam kerangka berpikir seorang balita bahwa ia akan tumbuh sekuat Superman jika banyak mengkonsumsi sayur mayur. Akan menjadi kurang efektif jika ayah waktu itu menyuruh saya untuk makan sayur bergaya seperti sebuah iklan minuman suplemen berserat: tubuh manusia membutuhkan berbagai macam zat mineral, serat, vitamin dan sebagainya."Hikmah yang ingin saya sampaikan: Tuhan tidak memberi wahyu dengan bahasa atau cara pikir yang jauh di luar pemahaman umat manusia di zaman itu, tapi dengan simbol-simbol yang lebih mudah dipahami. Jika kemudian saya dewasa dan menyadari bahwa saya tidak berubah menjadi sekuat Superman, saya tidak menuduh Bapak saya berbohong, melainkan perasaan takzim dan haru, menyadari bahwa dengan cara demikianlah beliau menyampaikan pesan kasihnya. Saya yakin Anda pasti mengerti dan pernah mengalami hal ini."

158

Kodok hanya bisa memandangi bulan sambil menangkap nyamuk
"Kembali ke pokok diskusi mengenai Darwin, apakah teori evolusi benar atau tidak? Terlalu dini untuk kita menghakimi bahwa itu salah dan juga terlalu dini jika kita menganggap teori tersebut benar 100%," ujar Tumpal. "Untuk sampai pada kesimpulan yang sahih, diperlukan penelitan secara ilmiah, dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang obyektif yang hanya mungkin dilakukan dengan satu syarat: 'pikiran yang jernih dan terbuka'.Tuhan memberikan akal budi kepada manusia untuk secara bertahap menyibak lembar demi lembar rahasia alam,. Saya rasa itu yang Tuhan mau, sebab jika tidak untuk apa Dia memberikan kita akal budi, yang membedakan kita dari hewan. Tuhan seolah secara perlahan mengajak manusia untuk mengenali eksistensi manusia agar manusia menyadari betapa besar kuasa Allah Sang Khalik," lanjutnya. "Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang menggelitik keimanan sekaligus rasa keingintahuan kita, seperti misalnya: Berapa lama Bumi dan Alam Semesta diciptakan? Jawaban Al Kitab adalah 7 hari dimana pada hari ke 7 Allah beristirahat. Bukan maksud saya membuka polemik baru, jika ada teori ilmiah yang mengatakan bahwa usia Bumi adalah 5 milyar tahun dan usia alam semesta adalah sekian trilyun tahun, hal ini juga berarti bahwa proses terbentuknya bumi sampai manusia menghuni muka bumi adalah sekian milyar tahun. Apakah bukan mustahil bahwa temuan-temuan para ilmuwan adalah sinyalsinyal atau jejak yang menuntun kita makin dekat untuk memahami makna yang tersirat di kitab-kitab suci? Sampai kapan kita temukan? Menurut saya, selama akal budi manusia terus berkembang dan makin maju, makin dekatlah ia kepada Penciptanya, makin banyak yang diketahui bukan makin sombong, tetapi makin takzim dan terpesona, bahwa sedemikian luas rahasia alam semesta, dan Allah telah memberikan kesempatan pada manusia dengan akal budi nya untuk terus berproses, menghayati, dan mengapresiasi kebesaran alam ciptaanNya. Bukankah ini suatu anugerah juga? Yang jelas anugerah ini membedakan manusia dari kodok misalnya, yang hanya bisa memandangi bulan sambil menangkap nyamuk. Demikian opini saya."

159

Teori Evolusi adalah ilusi waktu
Menurut rekan Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@Gmail.com>, adalah bagus mengenal lebih dulu Teori Darwin sebelum mengikuti perkembangan teori evolusi yang terus bergulir. "Ada beberapa hal dari Teori Darwin terbukti kurang tepat, namun akhirnya banyak teori yang mempertepat teori evolusinya. Darwin masih berpusar dengan 'natural selection', sedangkan pembaruan teorinya sudah menjangkau hingga 'punctuation equilibrium' dan sebagainya. Bicara soal evolusi pun musti mengenal Lamarck, juga Wallace yang menemukan Wallace Line - garis pemisahan Indonesia Barat dan Timur," ujar Rovicky. "Evolusi juga sudah banyak dibuktikan tidak mengarah ke satu tujuan tertentu. Kalau Anda menganggap bahwa secara fisik manusia merupakan hasil evolusi terakhir dan paling sempurna, itu kurang tepat. Kenyataannya, masih kita temukan bagian-bagian tubuh manusia yang tidak sempurna secara parsial. Misal bicara soal fungsi mata untuk melihat, fungsi mata paling bagus justru terdapat pada cumi-cumi, bukan manusia. Jadi pekembangan evolusi juga tidak mengarah ke arah sempurna." "Menurut saya, evolusi ini merupakan 'teori ilusi waktu', Anda tak bakalan dapat membuktikan munculnya satu species baru secara fisik selama jangka hidup manusia. Karena perkembangan (munculnya) species hanya dapat dilihat dalam jangka waktu jutaan tahun. Kalau Anda lihat usia bumi 4.5 milyar tahun, maka munculnya fosil yang pertama baru ada setelah 2 milyar tahun berikutnya. Nah, kalau Anda percaya DNA yang merupakan ciri terkecil mahkluk hidup, maka perkembangan serta perubahan DNA pada makhluk terkecil – misal virus - mungkin saja merupakan 'clue' (petunjuk) cikal-bakal munculnya species baru. Nah disinilah perubahan DNA dapat teramati masa hidup Anda, katakan kurang dari satu generasi manusia."

Perang gerilya
Rekan Handita <handita@centrin.net.id> mengaku tak memiliki persoalan dengan Teori Evolusi, karena teori ini terbit dari tradisi ilmiah yang terbuka, berlangsung sekian lama dan setiap saat bisa disanggah atau diruntuhkan dengan temuan atau argumen-argumen baru sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. "Untuk membantah teori 160

ini berarti musti menyiapkan argumentasi cukup komprehensif dari area evolusi yang demikian luas, mulai dari astronomi, geologi, paleontologi sampai biologi dan lainnya. Kreasionisme justru probematik. Di satu pihak ia meletakkan kaki pada tradisi teks agama dengan sistem kepercayaannya, di lain pihak dia bersikap semi-ilmiah dengan 'menggugat' Teori Evolusi namun tidak pada forumnya, melainkan langsung ke publik dalam bentuk 'perang-perang gerilya'. Bisa dikatakan peperangan ini lebih bersifat politis dibanding ilmiah," ujar Handita. "Persoalan lain kreasionisme, sejauh mana teks tersebut dibaca dalam konteks zaman dan budayanya? Mengambil kesesuaian kata tetapi bukan makna - diluar konteks kosmogoni & teologi bangsa Israel atau pembaca tradisi Taurat (Pentateuch) - saya kira tidak bijaksana," jelasnya.

Teilhard: Memanusiakan manusia
Menurut Handita, Teori Evolusi kini sudah jauh lebih kompleks dari Darwinian. Sebuah upaya 'sintesis' yang cukup menarik antara iman dan evolusi dapat ditemukan dalam karya Teilhard de Chardin asal Perancis. Karya Teilhard cukup menarik karena sempat dilarang: disingkirkan dari rak dan laci para pejabat agama di Vatikan. "Info ini mungkin punya arti penting bagi mereka yang skeptis dengan netralitas agama," ungkap Handita. Teilhard yang meraih gelar profesor pada usia 25 tahun, karyakaryanya diakui sarjana ilmu bumi, paleontologi, dan antropologi. Bersama paleoantropolog G.H. Ralph von Koeningswald, ia pernah mampir ke Indonesia, menyisir tepian sungai Trinil, Ngandong dan Sangiran. Dia pulalah yang menemukan fosil-fosil 'Sinanthropus' di Mesir dan karya monumental lainnya. Teilhard punya pandangan bahwa evolusi tidak berhenti pada visi-visi morfologis, tetapi antropologis. 'Memanusiakan manusia' adalah tema yang amat mendalam baginya, juga kesadaran-kesadaran moral, sosial dan kosmis. Paling tidak, terlepas sejauh mana kebenaran Teori Teilhard, gagasan evolusinya menepis pandangan oposisi biner: "jika evolusionis pasti atheis, jika kreasionis pasti theistis". "Kedewasaan kita mustinya sudah mampu menyelamatkan kita dari simplifikasi semacam itu," tegas Handita. Yang menarik dari gagasan-gagasan Teilhard adalah tentang evolusi peradaban manusia dan kemanusiaan 161

menuju pada 'cyber consciousness'. Sebuah tulisan yang beranakpinak dari gagasan Teilhard dapat ditelusur dari ratusan link di internet, berikut salah satunya: Cyberspace and the Dream of Teilhard de Chardin: http://theoblogical.org/dlature/united/ph2paper/noosph.html

Penutup
Beragam opini, kritik dan saran masih saja mengalir ke mailbox. Salah satunya dari Putri Swastika <putriswastika@yahoo.com>, siswi SMA 6 Yogyakarta. Ia merasa terbantu dengan adanya diskusi ini. Pasalnya ia sedang mendapat tugas dari gurunya tentang Teori Evolusi. "Saya salut dengan Darwin yang bisa bikin gempar dunia karena teorinya. Sejak dulu kala hingga kini teori ciptaannya tiada habisnya dibahas oleh manusia di berbagai belahan bumi," tutur Putri. Bharata Kusuma, seorang eksekutif muda, merasa senang melihat jelujur diskusi yang bersahutan seperti ini. "Dari deretan judul diskusi yang pernah ditampilkan saya melihat adanya suatu benang merah kehausan kita semua untuk menjawab berbagai 'password' dunia yang diciptakan pencipta alam semesta ini, untuk masuk ke suatu alam yang akan menjawab 'semua' pertanyaan. Bila kata kunci itu telah terangkai, selanjutnya kita perlu belajar Tauhid," ujar Bharata. Sedangkan rekan Reny Kusumastuti <kusumastutir@rocketmail.com> tertarik pada segmen Evolutionism vs Creationism plus Adam & Hawa. Namun karena 'loncat-loncat', ia jadi pusing membacanya. "Baru meresapi satu topik, tiba-tiba ganti topik lagi," keluhnya. Ia berharap dapat diterangkan 'step by step' mulai dari teori-teori para evolusionis dan phylogeny: Darwin, Lamarck, Haeckel dan lainnya. "Atau kalau bisa mulai dari masa sebelumnya, ide evolusinya Goethe sampai penemuan-penemuan phylogenetic terbaru, sekaligus map 'phylogenetic tree' terbaru seperti apa." Reny juga bertanya: "Kenapa ya kok cuma Darwin yang diserang teorinya? Biar adil, sekaligus bahas dong mengenai teori creationism (young earth creationism, old earth creationism yang dibagi lagi menjadi theistic evolution dan progressive creationism). Nah, ini baru teori creationismnya Kristen lho, belum yang milik Islam. Untuk Islam, memangnya hanya Harun Yahya yang diakui? Dan bagaimana dengan agama-agama lain atau malah sekte lain seperti Raelian? Tapi tolong penjelasannya 'step by step', biar kami yang awam ini jadi mengerti 162

alurnya." Apakah diskusi ini memberi manfaat buat Anda, atau sebaliknya? Jawabnya ada di hati Anda semua, tak perlu tanya pada rumput yang bergoyang. Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <radityo_dj@yahoo.com>

163

Harun Yahya laris manis
Sekapur Sirih Beragam judul buku karya Harun Yahya -- juga DVD/VCD-nya -ternyata laris manis di Indonesia. Beberapa pengelola toko buku di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang dan Surabaya mengaku, karya Harun Yahya alias Adnan Oktar alias Aaron John cukup diminati masyarakat - khususnya dari kalangan ibu-ibu rumah tangga dan mahasiswa. Pada Ramadhan lalu, jumlah pembeli buku itu meningkat cukup tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Di sebuah toko buku di bilangan Jakarta Selatan, Nyonya Damayanti Singgih, ibu rumah tangga, terlihat sibuk beberapa buku karya Harun Yahya sebagai kado ulang tahun anak semata wayangnya. "Saya hadiahkan buku ini keimanannya bertambah kuat," ujarnya. Darimana Anda tahu tentang Harun Yahya? "Ada ibu-ibu teman pengajian yang bercerita tentang buku-buku Harun Yahya," jawab nyonya berjilbab itu. Harun memang menerbitkan juga beberapa buku dan DVD khusus anak-anak. Berdasarkan pengamatan, hampir semua toko buku memajang karya Harun Yahya di rak bagian Agama, bukan di rak berlabel Science. Harun Yahya adalah salah seorang 'penabuh genderang perang' melawan segala sesuatu yang berbau Darwinisme dan Teori Evolusi. Menurut sang kreasionis ini, Teori Evolusi adalah ancaman besar terhadap nilai-nilai akhlak yang musti disingkirkan jauh-jauh. Teori Evolusi ditengarai berlatar belakang ambisi meniadakan (peran) Tuhan dalam segala penciptaannya. Harun menguraikan dalam pengantar bukunya bahwa Teori Evolusi adalah misi besar nan berbahaya dimana penyebarluasannya harus segera ditangkal. Harun yang mengaku punya pemahaman yang dalam pada filsafat materialisme - yang menjadi dasar Darwinisme - bisa dengan mudah mengungkap kelemahan mendasar teori evolusi secara ilmiah dan faktual. Pembeberan 'bukti-bukti ilmiah' berdasarkan temuan iptek mutakhir kemudian meruntuhkan satu persatu propaganda kaum evolusionis. Cita-citanya mungkin luhur. Ia ingin meruntuhkan sampai ke akarakarnya segala 'kegombalan' Teori Evolusi. 164

Kehadiran buku Harun Yahya dalam edisi Bahasa Indonesia kian menambah daftar pengagum beratnya. Maya Fajar <mayafajarism@yahoo.com> adalah salah satunya. Ia yang sudah termakan indoktrinasi 'ajaran' Harun begitu antipati dan sinis terhadap segala sesuatu yang berbau teori evolusi. Link dari Harun yang ia sukai: http://www.evolutiondeceit.com/indonesian/index.php Lalu di Samarinda ada Hery Romadan <romadan@samarinda.org>. Pada awalnya ia sangat percaya pada Teori Darwin karena dari SMP sampai kuliah selalu dicekoki bahwa teori itu mengandung kebenaran. Namun ia lalu membaca buku karya Harun Yahya yang dengan tegas membantah teori tersebut. Usai membaca buku itu, ia semakin percaya bahwa setiap makhluk hidup diciptakan sesuai kekhasannya. "Dan kalaupun ada Homo floresiensis yang hidup 18.000 tahun lalu, itu adalah makhluk yang sudah punah dan tidak mungkin berevolusi," kilahnya. Syafruddin Ngulma Simeulue <concern@indosat.net.id> di Mojokerto, Jawa Timur, juga salah seorang penggemar Harun Yahya. Ia mengaku kecewa kepada para guru di sekolah yang mencekoki muridnya dengan Teori Darwin yang menurutnya hasil manipulasi ilmiah. "Sudah sekian lama kita menikmati kebohongan berbalut penelitian ilmiah itu," keluhnya. Perasaan itu ia ungkapkan usai membaca buku karya Harun Yahya berjudul 'Keruntuhan Teori Evolusi' terbitan Dzikra, Bandung hasil terjemahan dari buku 'The Evolution Deceit'. Ia bercerita, anak ketiganya yang baru kelas lima SD - anggota Pro Fauna Indonesia telah berulang-ulang membaca buku tersebut. Hasilnya? "Kini anak saya hanya senyum-senyum saja kalau gurunya menyinggung Evolusi Darwin itu," ujar Syafruddin. Sedangkan Ade Tri <ade_tr@yahoo.com> tak setuju dengan Teori Darwin karena tak mau dibilang keturunan manusia monyet. Alasannya sepele: karena tubuh monyet penuh bulu, sedangkan dirinya mulus. "Emang enak disamain sama orang utan!!???" Anda penasaran sama Harun Yahya? Silakan kunjungi toko buku terdekat. Sekadar info, buku termurah adalah yang dalam format booklet. Globalmedia menerbitkan booklet berjudul 'Menjawab tuntas polemik evolusi' yang dijual dengan harga Rp 15,000. Sayangnya, si penerbit membungkus rapat buku-buku itu dengan plastik tembus pandang. Orang yang penasaran atau sekadar ingin 'mengintip' 165

pemikiran penulis asal Turki itu pun terpaksa hanya bisa menikmati keelokan sampulnya saja. Kalau ingin baca isinya ya musti beli. Masih juga penasaran? Klik saja www.harunyahya.com - sebagian informasi bisa didapatkan disana. Harus kita akui, Harun Yahya telah menuai sukses sebagai penulis buku ilmiah 'berbungkuskan' Islam, dengan konsentrasi pada topik perlawanan terhadap Teori Evolusi. Ceruk itulah yang jarang dimasuki oleh penulis lainnya. Seberapa besarkah gagasan-gagasan Harun Yahya mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia? Apakah karyakaryanya sudah masuk dalam daftar buku wajib kurikulum pendidikan di Indonesia? Betulkah ia seorang ilmuwan, sekaligus agamawan, atau sekadar 'science writer'? Berhasilkah ia meruntuhkan teori evolusi sampai ke akar-akarnya? Gentarkah para ilmuwan pro evolusi menghadapinya? Untuk menguak lebih jauh tentang Harun Yahya, saya sampaikan secuil kisah hidupnya, serta paparan dari para peserta diskusi lintas milis tentangnya. Akankah Harun Yahya tetap laris manis seperti gula, atau bakal bernasib buruk sepahit empedu? Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri ------------------------------------------

Harun Yahya, siapa dia?
Untuk lebih mengenal siapa Harun Yahya, berikut secuil profilnya, bersumber dari situs jejaring miliknya di www.harunyahya.com dan sumber lainnya: Harun Yahya adalah nama pena Adnan Oktar yang lahir di Ankara, Turki, pada 1956. Nama pena itu berasal dari dua nama Nabi: "Harun" (Aaron) dan "Yahya" (John) untuk mengenang perjuangan dua orang Nabi tersebut melawan kekufuran. Namun banyak orang bingung dengan permak nama itu, pasalnya nama John bukanlah 'family name'. "Kok jadi terdengar sumbang di telinga ya. Rasanya ganjil, sepertinya dipaksakan," ujar Sato Sakaki <satosakaki2004@yahoo.com> di Los Angeles, AS. "Kan lucu kedengarannya kalau nama Ibrahim Isa dipermak menjadi Abraham Jesus, nama Aisyah Amini menjadi Ayesha Amen, lalu nama Datuk 166

Musa Hitam menjadi Datuk Moses Black." Harun yang mengaku dirinya sebagai seorang da'i dan ilmuwan terkemuka, sangat menjunjung tinggi nilai akhlaq dan mengabdikan hidupnya untuk mendakwahkan ajaran agama kepada masyarakat. Adnan Oktar memulai perjuangan intelektualnya pada 1979, yakni ketika menuntut ilmu di Akademi Seni, Universitas Mimar Sinan, Turki. Selama berada di perguruan tinggi tersebut, ia melakukan pengkajian mendalam tentang berbagai filsafat dan ideologi materialistik yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat sekitar. Hal ini menjadikannya lebih tahu dan paham dibandingkan dengan para pendukung filsafat atau ideologi itu sendiri. Berbekal informasi dan pengetahuan yang mendalam, Harun menulis berbagai buku tentang bahaya Darwinisme dan teori evolusi, yang merupakan ancaman terhadap nilai-nilai akhlak, terhadap dunia; serta buku tentang keruntuhan teori ini oleh ilmu pengetahuan. Majalah ilmiah populer terkenal 'New Scientist' edisi 22 April 2000 menjuluki Adnan Oktar sebagai 'pahlawan dunia' yang telah membongkar kebohongan teori evolusi dan mengemukakan fakta adanya penciptaan. Ia juga telah menghasilkan berbagai karya tentang Zionisme dan Freemasonry, serta ratusan buku yang mengulas masalah akhlaq dalam Al-Qur'an dan bahasan-bahasan lain yang berhubungan dengan akidah. Deretan buku karyanya yaitu 'Bencana Kemanusiaan Akibat Ulah Darwinisme', 'Kebohongan Teori Evolusi', 'Kebesaran Allah disetiap sudut Alam Semesta', 'Pengakuan Kaum Evolusionis', 'Kekeliruan Kaum Evolusionis', 'Sihir Darwinisme, 'Agama Darwinisme', 'Penciptaan Alam Semesta', 'Desain Pada Alam', 'Perilaku Pengorbanan Diri dan Kecerdasan Pada Dunia Hewan', 'Keabadian Telah Berlangsung', 'Anakku Darwin Telah Berbohong!', Berakhirnya Darwinisme', 'Misteri DNA', berbagai seri keajaiban makhluk hidup, dan lainnya. Harun juga menerbitkan bukunya dalam bentuk booklet, seperti: 'Keruntuhan Teori Evolusi: Fakta Penciptaan, Keruntuhan Materialisme', 'Kekeliruan Kaum Evolusionis' 'Mikrobiologi Meruntuhkan Teori Evolusi', 'Fakta Penciptaan', '20 Pertanyaan Yang Meruntuhkan Teori Evolusi', 'Kebohongan Terbesar Dalam Sejarah Biologi: Darwinisme'. Beberapa bukunya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Urdu, Polandia, Portugis, Melayu, Arab, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Spanyol, Albania, Serbo167

Kroasia (Bosnia), Malayalam, Melayu dan Bahasa Indonesia. "Tujuan utama saya menerjemahkan karya-karya ke dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa lainnya dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia adalah agar bermanfaat bagi semua orang," ungkap Harun Yahya. "Semua buku karya saya topiknya disampaikan sesuai dengan ajaran Al-Qur'an. Bahkan topik-topik yang menggunakan bahasa ilmiah, yang kadang dianggap rumit dan membingungkan, saya uraikan dengan sangat lugas dan jelas," tambahnya.

Harun Yahya meruntuhkan Darwin?
Waluya <waluya@p...> mengaku pernah membaca beberapa buku karya Harun Yahya. Namun ia kecewa, "Tak satupun dalam bukunya yang menyinggung apa yang pernah dikerjakannya dalam bidang ilmu ini. Ia banyak mengutip dari perdebatan para ilmuwan evolusionis kesemuanya Darwinian - terutama dari majalah Nature. Kemudian kutipan itu disusun sedemikian rupa, sehingga pembaca bukunya mempunyai keyakinan Teori Darwin telah runtuh. Maaf kalau saya bilang begitu, karena tidak ada satupun di dalam bukunya adalah hasil penelitiannya sendiri. Saya kira ilmu paleontologi/ilmu biologi adalah ilmu yang sarat dengan pekerjaan lapangan dan laboratorium, bukan ilmu yang bisa dipelajari dengan hanya duduk membaca di perpustakaan saja." "Orang yang mengatakan Teori Darwin telah runtuh itu lupa bahwa semangat penyelidikan tentang asal-usul manusia itu karena didorong oleh adanya Teori Darwin ini, yaitu adanya "missing link". Teori itu perlu fakta dan data. Oleh karena itu, sampai sekarang pun penelitian itu tetap berlangsung dan akan terus berlangsung di masa depan, walaupun ada sebagian (kecil) orang 'berteriak-teriak' bahwa Teori Evolusi telah runtuh. Lalu apanya yang runtuh? Saya juga ragu apakah sebenarnya ada istilah ilmuwan kreasionis? Lalu siapa orangnya?"

Harun Yahya, international hero?
Dwi W. Soegardi <soegardi@gmail.com> mengaku penasaran kala membaca profil Harun Yahya di situsnya. Pasalnya, tercantum kutipan yang mengklaim majalah New Scientist pernah menabalkan Harun Yahya sebagai 'the international hero' - pahlawan dunia. Karena New Scientist cukup punya reputasi, Dwi pun curiga. Ia menyempatkan 168

googling di internet, sekadar mencari arsip New Scientist no 2235 edisi 22 April 2000 tersebut. Sebagai catatan, majalah ini terbit mingguan. Namun hasilnya nihil. "Di berbagai artikel tersebut tak ada sama sekali tulisan yang menyebut Harun Yahya sebagai pahlawan dunia. Memang laporan utama edisi tersebut adalah tentang Evolusi dan Kreasi bertajuk Beyond Belief. Tapi saya ragu kalau majalah tersebut mendukung kreasionis, apalagi sampai memberi sanjungan kepada Harun Yahya sebagai 'international hero'. Malah New Scientist dengan tegas menyatakan 'whatever else creationism is, it is not science'." "Latar belakang diangkatnya isu ini adalah pelarangan pengajaran teori evolusi oleh Badan Pendidikan Negara Bagian Kansas. Di AS sendiri masih hangat perdebatan tentang pengajaran evolusi-kreasi ini, seiring dengan tarik ulur kekuatan Kristen Evangelis dengan basis kuatnya di Bible Belt...waduh euforia Pemilu belum ilang," tutur Dwi. Menurut Dwi, dari survei di majalah itu suara terbanyak adalah mengajarkan teori evolusi saja di mata pelajaran IPA (science), sebanyak 37%. Berikutnya, mengajarkan evolusi di kelas IPA dan juga mendiskusikan kreasi sebagai kepercayaan bukan science sebanyak 29%. Ada juga yang ngotot mengajarkan kreasi saja di kelas IPA dan memberangus pengajaran evolusi sebanyak 16%. Ada yang 'sok adil' mengajarkan dua-duanya sebagai science sebanyak 13%. Ada yang bingung, ingin mengajarkan keduanya, tapi tak tahu bagaimana caranya sebanyak 4%.

Teori Evolusi runtuh bagai durian?
Dwi menambahkan bahwa Harun Yahya bukan satu-satunya orang yang meruntuhkan' Teori Evolusi. Ada juga lainnya, misalnya Jack Chick, seorang Kristen fundamentalis. Ia memegang pendapat bahwa umur bumi adalah 6.000 tahun, tidak ada evolusi, tidak percaya c-14, dinosaurus hidup semasa dengan manusia dan lainnya. Chick rajin menerbitkan komik, dan tulisan-tulisannya menyebarkan pandangan Kristen literalisnya. Ia kerap menyerang dan memandang sesat pandangan lain termasuk Katolik, Islam, Yahudi dan bahkan sesama Protestan. Nah, buat Anda yang ingin tahu bagaimana runtuhnya Teori Evolusi, 169

secara ringkas, sederhana, simpel, visual, tidak perlu baca banyak buku, cukup selembar komik dengan tampilan yang 'meyakinkan', silakan buka: http://www.chick.com/reading/tracts/0055/0055_01.asp Di tangan Jack Chick, 'runtuhlah' Teori Evolusi bagai buah durian yang jatuh dari pohon.....

Harun Yahya tukang bajak?
Mia <aldiy@yahoo.com> mengaku tertawa geli sampai jatuh ke kolong meja kala pertama kali mendengar bahwa Aaron John itu ternyata adalah Harun Yahya yang punya nama asli Adnan Octar - pemimpin Yayasan Harun Yahya. Ia menengarai, buku-buku karya Harun Yahya itu digarap oleh tim penulis yang bekerja di yayasan itu. "Rasanya mustahil satu orang 'Harun Yahya' mampu menulis 'karya ilmiah' sebanyak itu dalam waktu singkat. Selain menulis buku, Harun juga kerap mengadakan seminar keliling. Disokong kelompok fundamentalis Kristen, ia berceramah keliling AS. Pada 2002 lalu, ia pernah pula diundang oleh sebuah gereja di Semarang sebagai pembicara dalam seminar tentang evolusi." Mia tak setuju dengan ulah Harun Yahya menabalkan dirinya sendiri sebagai ilmuwan. "Kalau berjuluk science writer bolehlah. Isi bukunya kan bukan buah penelitian dia sendiri, tapi rangkuman dari berbagai pemikiran orang lain, khususnya dari pakar ID Dembsky dan Michael Behe," ujarnya. Ia juga tak setuju dengan istilah 'meruntuhkan teori evolusi sampai ke akar-akarnya' seperti kerap didengungkan Harun. "Keren bener ada orang yang bisa meruntuhkan teori evolusi sampai keakar-akarnya. Lagi pula evolusi itu bukan sekadar teori, tapi wacana - new paradigm. Seperti misalnya ajaran Buddha Gautama mengulas tentang perubahan. Segalanya berubah, semuanya berevolusi, dan bagaimana manusia sebagai individu layaknya hidup ditengah perubahan. Tentu saja Buddha tak bicara genetika, tapi bahasanya lain. Buddha secara intuitif sudah bisa mengadopsi perubahan/evolusi yang terjadi pada semua makhluk ini, dengan praktek ibadah/disiplin secara perseorangan. Nabi Muhammad menyebutnya ajaran Tauhid. Kalau zaman sekarang ini bisa disebut psikologi - tapi psikologikan lebih berbau sekuler ketimbang Tauhid, dan psikologi masih jadi barang mewah bagi kebanyakan orang." "Kala menulis bukunya, frasa Darwin itu mengacu pada serangkaian hipotesa di luar jangkauannya. Ini sih wajar saja bagi seorang 170

ilmuwan menulis begitu. Niatnya adalah supaya ilmuwan berikutnya dapat memecahkan masalah yang belum terungkap. Rangkaian hipotesa yang Darwin maksud dalam frasa itu, dan kini sudah terbukti, adalah 'molecular biology', disiplin mikro yang bahkan mendukung wacana evolusinya. Kalau Darwin sendiri kadang 'menyimpulkan kekeliruan' itu sih biasa, karena dia adalah manusia pada zamannya. Misalnya Darwin juga 'chauvinistic' dalam pandangannya. Banyak kesimpulan yang ia bikin selalu berpusat pada laki-laki. Ternyata ilmuwan-ilmuwan berikutnya bersepakat bahwa jenis perempuan memegang peran penting pula, kalau bukan 'kuncinya', dalam evolusi. Misalnya prinsip 'sexual selection'." "Tentang argumen 'irreducibly complexity' (kerumitan tak tersederhanakan) itu kan argumen filosofis, yang jadi andalan pewacana ID (intelligent design), kelompok anti-evolusinya fundamentalis Kristen di Amerika. Dibilang anti evolusi, karena pemahaman Bible-nya sangat harafiah. Sebagian ilmuwan Muslim latah, serta merta mengadopsi teori ID ini. Padahal orang Islam kan biasanya tak begitu bermasalah dengan wacana ilmiah. Tapi rupanya mereka kesal (cemburu) lantaran bukan mereka yang menggairahkan wacana evolusi dan cabang-cabangnya, tapi lagi-lagi ilmuwan non Muslim. Padahal, kalo dirunut-runut ke sejarah dulu, evolusi ini dipelopori oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim abad 10. Karena cemburu, ngomongnya heboh, meruntuhkan teori evolusilah..." Tentang Jack Chick, Mia menduga dari mazhab Old Earth-Young Earth, generasi lama Bible yang menafsirkan kitab ini dengan sangat harafiah. "Yang bener saja, masak sih umur bumi 6000 tahun?" Ia menilai Aaron John jauh 'lebih canggih' daripada Jack Chick. Pertama, Al-Quran sendiri 'lebih canggih' daripada Bible kalau soal evolusi. Nah, hal ini memudahkan kerja Aaron John. Kedua, Aaron John itu jauh lebih dinamis dan adaptif, karena 'teori-teorinya' mengadopsi perkembangan terakhir Intelligent Design (ID), ciptaan pakar ID Michael Behe, biochemist dari Universitas Lehigh, yang mempromosikan teori irreducibly complexity, 'teori ecek-ecek' yang disebut orang telah meruntuhkan wacana evolusi. "Saya bilang si Aaron mengadopsi lho, bukan membajak...:-)." "Yang bikin saya prihatin, beberapa keluarga dan teman-teman saya yang dengan bangganya cerita, mereka telah beli buku-buku dan DVD Harun Yahya untuk anak-anaknya. Jadi sudah ada alat tangkal untuk meruntuhkan wacana evolusi, dan alat bantu pendidikan untuk 171

memahami betapa ajaibnya alam raya ciptaan Tuhan ini. Namun saya sekarang lega, karena sebagian dari kita juga nggak bodoh-bodoh amat menelan DVD Harun Yahya begitu saja. Ada yang hanya mengambil 'semangatnya' Harun Yahya, sekadar melawan sekularisme yang kebablasan. Kita pun bisa memilah-milah. I hope this is not a wishful thinking."

Tulisan Harun Yahya musti dikritisi oleh kaum Muslim
Handita di Jakarta tak percaya bahwa tulisan-tulisan yang ada pada bukunya Harun Yahya adalah gagasan asli Harun. "Lihat saja di situsnya. Kalau dicermati, setiap fakta yang diungkap itu sumbernya darimana? Laboratium? Penelitian lapangan?" "Saya justru tidak memiliki persoalan dengan teori evolusi, karena teori ini terbit dari tradisi ilmiah yang terbuka, berlangsung sekian lama dan setiap saat bisa disanggah/diruntuhkan dengan temuan atau argumenargumen baru sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. Membantah teori ini berarti musti menyiapkan argumentasi yang cukup komprehensif dari area evolusi yang demikian luas, dari astronomi, geologi, paleontologi sampai biologi, dan sebagainya." "Kreasionisme justru problematik. Di satu pihak ia meletakkan kaki pada tradisi teks agama dengan sistem kepercayaannya, dilain pihak dia bersikap semi-ilmiah dengan 'menggugat' teori evolusi namun tidak pada forumnya, melainkan langsung ke publik dalam bentuk perangperang 'gerilya'. Bisa dikatakan peperangan ini lebih bersifat politis dibanding ilmiah. Persoalan lain kreasionisme, sejauh mana teks tersebut dibaca dalam konteks zaman dan budayanya? Mengambil kesesuaian kata tetapi bukan makna - diluar konteks kosmogoni & teologi bangsa Israel atau pembaca tradisi Pentateuch - saya kira tidak bijaksana." "Adalah bahaya kekurang PD-an kaum agamawan dalam membaca perkembangan teori evolusi saat ini. Apalagi kecenderungan sikap tertutup dalam menyelesaiakan kontroversi science vs agama dengan sikap 'fanatisme'. Creationism dalam Kekristenan hemat saya hanya dimiliki golongan fundamentalis dan penganut kuat innerency teks. Saya lihat mainstream pandangan yang berkembang justru tidak memutlakkan tafsir literal teks. Dengan kata lain, info-info tersebut 172

hanya berarti dalam konteks teologis dan iman mereka yaitu lebih mengarah pada sesuatu yang tersirat. Jadi, creationism dalam Kekristenan pun mendapat hantaman yang luar biasa sengit karena sikap-sikapnya yang pseudo-ilmiah tersebut." "Semestinya tulisan-tulisan Harun Yahya dikritisi dengan cermat oleh kaum Muslim sendiri agar tercipta dialog yang sehat antara iman vs rasio yang membangun. Sejauh mana teks-teks agama tersebut dapat diekstrapolasi dalam frame-frame ilmiah." "Another striking aspect of Yahya's material is how much of it is taken, with minimal changes, from Western creationist literature such as that associated with the Institute for Creation Research (ICR)." http://www2.truman.edu/~edis/writings/articles/hyahya.html Sebagai penutup, Reny Kusumastuti" <kusumastutir@rocketmail.com> membeberkan pertanyaan seputar evolusi vs kreasi: 1. Apakah perang paham evolusi vs kreasi di Indonesia sudah sebesar situasi di Amerika? 2. Apakah Creationism vs Evolutionism selalu harus diterjemahkan sebagai agama vs science? "Beberapa minggu yang lalu di NBC saya menyaksikan seorang lawyer creationist dengan bangga memperlihatkan contoh 'warning sign sticker' yang harus ditempelkan di buku-buku yang berisi evolution theory di negara bagian Georgia. Warning sign ini bertuliskan 'Evolution is a theory, not a fact'. Dan kalau tidak salah mulai 2002 senator dari ID (intellegent Design) Creation berhasil mempengaruhi state board of education salah satu negara bagian di AS (Ohio atau Kansas?) untuk memasukkan 'teori lain yang secara kritis menganalisa teori evolusi' ke dalam kurikulum standar pendidikan di negara bagian tersebut." "Seperti creationist yang mungkin sebenarnya terjebak hanya berperang dengan Darwinism (padahal teori evolusi sudah berkembang jauh dari teori "natural selection"nya Darwin-mungkin ya untuk developmental genetics tapi bagaimana dengan population genetics?). Banyak orang yang mengaku evolutionist terjebak hanya berperang dengan young earth creationism yang anggotanya adalah kaum fundamentalist. Padahal creationism sudah pula berkembang, 173

contohnya para anggota ID mostly adalah orang-orang progressive creationism yang menolak hipotesa kaum young earth creationism bahwa umur bumi kurang dari 10,000 tahun." "Beberapa buku scientific pun dikeluarkan kaum ID seperti Pandas and People oleh Dean Kanyon dari SFSU dan Darwin's Black Box oleh Michael Behe, asisten profesor biokimia yang satu perguruan tinggi dengan Nelson Tansu (Lehigh University). Saya pernah membaca Darwin's Black Box ini dan teorinya mengenai irreducible complexity sebenarnya cukup make sense. Maaf ini saya bilang teori. Sebagai pembanding, silakan juga baca jawaban buku itu dari seorang theistic evolution Kenneth R. Miller dalam bukunya Finding's Darwin's God. Cukup menarik membaca bagaimana mereka berpolemik dalam bahasa biokimia dan bukan dalam bahasa otoritas agama. Untuk Harun Yahya saya setuju bahwa teori-teorinya (dari website) mirip dengan teori kaum young earth creationism atau tepatnya dari kelompok Answer in Genesisnya (AIG) Ken Ham," ujar Reny. Dirangkum dan diracik seperlunya oleh Radityo Djadjoeri radityo_dj@yahoo.com

174

Misteri kekerdilan manusia prasejarah dari Liang Bua
MANUSIA Liang Bua (Homo floresiensis) mendapat julukan hobbit dari berbagai media nasional dan internasional, yang terpengaruh dengan diumumkannya temuan para arkeolog dari Indonesia dan Australia tersebut, beberapa waktu lalu. Julukan yang diambil dari salah satu tokoh manusia kerdil dalam trilogi Lord of The Ring karya JRR Tolken, setidaknya ingin menggambarkan mungilnya tubuh manusia prasejarah dari Liang Bua, yang diperkirakan hanya sekitar satu meter dan meninggal sekitar 18.000 tahun lalu (agak berbeda dengan Prof Dr T Jacob dari Laboratorium BioPaleoantropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang memperkirakan temuan itu berusia sekitar 7.000 tahun). Apalagi dari penelitian sementara terhadap temuan sebuah tengkorak berukuran sangat kecil dan sejumlah rangka, Jacob memperkirakan temuan di Liang Bua, kawasan Manggarai, Flores, itu merupakan manusia dewasa berusia sekitar 25 tahun. Salah satu yang menarik untuk dikuak adalah misteri dibalik ukuran dan tinggi badan yang tidak biasa tersebut. Terutama jika dibandingkan dengan manusia modern saat ini. DALAM seminar sehari bertajuk "Manusia Prasejarah Flores" di Jakarta, pekan lalu, berbagai kemungkinan dipaparkan. Termasuk berlakunya endogami atau perkawinan sedarah kandung berupa kawin tungku atau perkawinan sedapur di Manggarai. Dugaan ini dilontarkan oleh Prof Josef Glinka SVD dari Jurusan Antropologi FISIP dan Seksi Antropologi Ragawi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya (Unair), yang pernah meneliti tinggi badan di Nusa Tenggara Timur (NTT). "Perkawinan tungku atau sedapur berupa cross cousin married. Perlu diingat, orangtua menurunkan masing-masing separuh dari genomnya. 175

Kalau perkawinan makin banyak dari luar, sedikit yang bersama. Dengan kawin tungku, kemungkinan mereka homozigot jatuh seperenam belas persen. Sementara kalau sudah lebih jauh, bisa satu per-125. Hubungan kerabat sampai empat generasi dianggap kerabat. Lebih jauh dari itu sudah tidak resmi," kata Glinka. Jacob dalam penelitiannya juga menemui sebuah kampung dan dua dusun di sekitar Liang Bua yang didiami orang-orang katai. Tinggi badan mereka umumnya di bawah 150 cm. Ada beberapa orang yang sedikit lebih tinggi dari 150 cm karena perkawinan dengan orang kampung sekitar yang lebih tinggi. Pada umumnya mereka mempraktikkan endogami yang ketat dengan kawin tungku, yaitu kawin sedarah (kosanguin). NTT mulai tahun 1920-an sudah menjadi obyek penelitian para antropolog Barat. Penelitian Bijlmer (1929) secara jelas menyatakan, penduduk NTT berbadan agak pendek. Penelitian Keers (1948) tidak jauh berbeda. Meski penduduk Alor dan Pantar disebutkan sedikit lebih tinggi, tetapi variasinya hampir sama dengan Bijlmer. "Dibaca dengan situasi waktu itu, dapat diduga bahwa hal itu-baik hasil adaptasi maupun inbreeding depression- karena di beberapa tempat adat perkawinan mengutamakan endogami suku, atau malah endogami kerabat," kata Glinka. Glinka pernah meneliti hal yang sama. Dalam penelitiannya pada pertengahan tahun 1970-an di Paroki Koting, Flores, terkuak pada awalnya perkawinan umumnya dengan warga dari desa yang sama atau desa tetangga. Namun, sejak tahun 1945 mereka mulai keluar, bahkan tahun 1950 ada yang keluar dari pulau. "Penelitian saya buat di Flores karena mayoritas Katolik sehingga perkawinan dicatat. Terlebih lagi di Paroki Koting, buku perkawinan paling lama sudah ada sejak abad kesembilan belas," katanya. Dari observasi di pedesaan pada berbagai daerah di Indonesia, nyata bahwa 80-90 persen perkawinan terjadi justru antara penduduk desa, sehingga memungkinkan inbreeding. Sementara di kota jarang terjadi endogami lokal. Pasangan suami istri di kota acapkali berasal dari populasi berbeda. Penelitian Glinka untuk seluruh Indonesia menggambarkan bahwa dalam kurun waktu puluhan tahun orang Indonesia bertambah tinggi. 176

Kecepatannya berbeda antara perempuan dan laki-laki. Dalam jangka waktu sepuluh tahun, pria bertambah rata-rata 0,75 cm, sedangkan wanita 0.69 cm. Dia menambahkan, tinggi badan individu merupakan interaksi dua faktor dasar, yakni genetis dan lingkungan. Yang menentukan dalam lingkungan adalah keadaan gizi, beban kerja, dan kesehatan, khususnya pada masa pertumbuhan. Dalam jangka panjang, iklim dapat berfungsi sebagai selektor agar populasi adaptif terhadap situasi setempat. Pada populasi terisolasi dan secara geografis atau budaya gampang terjadi inbreeding, umumnya ukuran badan turun. Jenis makanan dalam jangka panjang juga memengaruhi besarnya badan populasi. Apa pun, manusia dari Liang Bua masih menyisakan misteri yang belum sepenuhnya terjawab. Termasuk apakah kekerdilannya sebagai kelainan individu atau populasional.(Indira Permanasasari) http://www.kompas.co.id/kompascetak/0501/17/humaniora/1503361.htm

177

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->