Pendekatan Pembelajaran Tematik

17 Desember 2009 N.A. Suprawoto Tinggalkan Komentar Go to comments

Proses pembelajaran merupakan fenomena yang kompleks, guru lebih banyak berhubungan dengan pola pikir siswa, dimana setiap siswa, siapapun, dimanapun memiliki setumpuk kata, pikiran, tindakan yang dapat mengubah lingkungan, baik di keluarga di sekolah maupun di masyarakat. Pola pembelajaran yang saat ini sudah disosialisasikan khususnya bagi siswa kelas awal (kelas 1, 2 dan kelas 3) adalah dengan menggunakan pendekatan tematik. Begitu nuansa tematik ini digulirkan di dunia guru, dan sekolah, maka sepertinya terjadi suatu “keributan”. Guru mulai berpikir dan bertanya-tanya, apakah selama ini cara pembelajaran yang rasanya sudah menghasilkan lulusan siswa-siswa berprestasi, yang sudah mencetak dan menghasilkan dokter, insinyur, birokrat dianggap kurang berhasil?. Sehingga ada ungkapan bahwa “saya sudah mengajar puluhan tahun, dan saya sudah mempunyai alumni yang berhasil menjadi pejabat, menjadi dokter, menjadi insinyur dan sebagainya dianggap tidak berhasil? Pemikiran-pemikiran semacam ini akan menjadi penghambat bagi bergulirnya sebuah inovasi dalam bidang pendidikan. Pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi dan metode diharapkan dapat memberi kemungkinan siswa mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi siswa dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi siswa yang berdimensi ketuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral. Pembelajaran yang diciptakan baik di kelas maupun di luar kelas dilaksanakan, diharapkan dapat dikondiskan dalam suasana hubungan siswa dan guru yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, hangat, dan menyenangkan dengan prinsip ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, (di depan memberikan contoh dan teladan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di belakang memberikan daya dan kekuatan). Terlebih bagi siswa yang masih berada di kelas 1, 2 dan 3, yang masih memerlukan bimbingan, perhatian, sebagaimana pelayanan para orang tua yang dengan kasih sayang membimbing mereka. Pelaksanaan pembelajaran seyogyanya dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, multisumber belajar serta teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar). Sebuah model pembelajaran diharapkan dapat dipergunakan sebagai wawasan untuk disesuaikan dengan kondisi siswa di masing-masing sekolah. Siswa perlu dipersiapkan baik secara internal maupun eksternal, baik ketika di dalam kelas maupun di luar kelas. Terlebih bagi siswa yang masih berada di tataran kelas awal, yaitu kelas 1, 2 dan 3 tentu saja tidak dapat disamakan pelayannya dengan siswa yang ada di kelas tinggi, yaitu di kelas 4, 5 dan 6. siswa di kelas 1, 2 dan 3 perlu diperlakukan khusus, antara lain salah satunya dengan cara membelajarkan dengan menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan tematik yang akhir-akhir ini digulirkan dan telah disosialisasikan di lapangan memerlukan penjelasan yang cukup rinci. Apa, bagaimana membelajarkan model secara tematik akan dikupas di dalam naskah ini tetapi tentunya masih diperlukan adaptasi antara guru dan siswa setempat. Karena suatu model pembelajaran sangat cocok dengan siswa di kelas I di suatu tempat belum tentu sama perlakuannya apabila disajikan untuk siswa I di kelas yang lain. Pemahaman Konsep Pendekatan Pembelajaran Tematik Suatu pemikiran tentang pembelajaran tematik sudah dilakukan sejak konsep kurikulum 2004 mulai digulirkankan. Hal ini mengacu pada hakekat perkembangan anak terutama yang sedang berada di posisi kelas awal, kalau diistilahkan kelas rendah yaitu kelas 1, 2, dan kelas 3. Ciri utama dari perkembangan anak sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah adalah pemikiran mereka masih bersifat holistik, perkembangan anak bersifat terpadu. Aspek perkembangan yang satu masih terkait erat antara yang

Anak diajak memahami konsep melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Membuat anak aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. Tim pengembang PGSD dalam Pembelajaran Terpadu D-II PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar disebutkan bahwa pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai: • Pembelajaran yang beranjak dari satu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain. guru perlu menyiapkan diri untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak dengan cara pembelajaran menggunakan pendekatan tematik yang memadukan berbagai mata pelajaran. Apabila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Menyajikan materi dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dalam menerapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik ini perlu disajikan contoh model penerapan pembelajaran tematik agar guru memperoleh gambaran secara utuh. Perkembangan fisik tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan mental. Belajar secara menyenangkan sangatlah dianjurkan agar supaya siswa tidak merasa sedang di format untuk mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan. yaitu keluarga. Perkembangan anak akan terpadu dengan pengalaman. mulai dari lingkungan yang terdekat ke lingkungan yang semakin jauh. Pembelajaran dengan pendekatan tematik bertolak dari suatu topik atau tema tertentu yang dipilih guru dengan atau bersama anak. dan menyenangkan siswa tidak merasakan bahwa dia sebenarnya sedang belajar dan sedang mentransformasi suatu ilmu pengetahuan ke dalam dirinya. Pembelajaran terpadu melalui tema sebagai pemersatu kegiatan yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka. Karena siswa dalam memahami berbagai konsep yang mereka pelajari selalu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dikuasainya. Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa mata pelajaran diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. sosial dan emosional. Memberikan pengalaman langsung pada anak dan tidak tampak adanya pemisahan antara mata pelajaran yang satu dengan lainnya. Pembelajaran semacam ini diyakini sebagai suatu pembelajaran yang lebih bermakna karena sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Model penerapan pendekatan tematik yang secara utuh diawali dengan pemetaan kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran. Dalam mengakomodasi berbagai aspek tersebut.satu dengan yang lainnya dan mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. Pelaksanaan pendekatan ini berawal dari suatu tema dan atau topik yang dipilih/dikembangkan dan ditemukan oleh guru dan atau bersama anak. • Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi/mata pelajaran yang . Pembelajaran ini cocok sekali dengan konsep dari John Dewey yaitu Learning by Doing. karena suasananya yang ”Joyfull Learning” Aspek yang perlu mendapat perhatian dalam mengoptimalkan pembelajaran di sekolah dasar adalah dengan mewujudkan pembelajaran tematik dengan memperhatikan keterpaduan berbagai mata pelajaran dalam setiap kali tatap muka. dari silabus ini dibuat rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam menyiapkan pembelajaran di kelas awal ini guru perlu mempertimbangkan beberapa aspek agar pembelajaran dapat berdaya guna dan berhasil guna. melainkan dengan pembelajaran yang aktif. setelah itu dituangkan ke dalam format silabus. sekolah. dan masyarakat. membuat anak menjadi aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. kreatif. demikian juga sebaliknya. bersifat fleksibel dan hasil pembelajarannya dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. Pembelajaran tematik dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pembelajaran terpadu. dimaksudkan untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Belajar dengan pendekatan tematik ini lebih banyak menekankan pada keterlibatan anak dalam belajar. kemudian dibuat jaringan KD dan Indikator. kehidupan dan lingkungan kesehariannya. maka pembelajaran terpadu ini tampak lebih menekankan pada keterlibatan anak dalam belajar. baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya. Di mana konsep-konsep suatu mata pelajaran saling terkait dan dijadikan sebagai alat dan wahana untuk mempelajari dan menjelajahi suatu topik atau tema.

dan Jasmani dan Olah Raga dan kesehatan. Budi pekerti dan moral anak dapat ditumbuhkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi dan kondisi. tidak diberikan contoh perpaduan dalam tematik. yaitu terpadu antara kelompok mata pelajaran Agama (Akhlak Mulia/Budi Pekerti/Tata krama). 6. Matematika. Bersifat luwes. 4. Khusus untuk mata pelajaran agama. Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengaitkan berbagai mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi anak. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak. dengan harapan anak dapat belajar dengan lebih baik dan bermakna Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Tematik Pembelajaran dengan menggunakan tema berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi siswa dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta menambah semangat karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata dan bermakna serta dikenal oleh anak. Memberikan pengalaman langsung pada anak. Memiliki sikap toleransi. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang terdiri dari: (Bahasa Indonesia. Ilmu Pengetahuan Alam). 3. 7. Pemisahan antara bidang studi/mata pelajaran dalam tidak begitu jelas. • Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan • Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang studi/mata pelajaran yang berbeda. Ilmu Pengetahuan Sosial. 4. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna. Mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu. Berpusat pada anak. Kekuatan Tema Dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran terpadu memiliki kekuatan antara lain: 1. Lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas. Pendidikan Kewarganegaraan dan Kepribadian. komunikasi dan tanggap terhadap gagasan oranglain artinya respek terhadap gagasan orang lain. dikarenakan di . menulis. 2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. 4. 6. Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama. Mengembangkan keterampilan berpikir anak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi 5. 5. Mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama. 6. sekaligus mempelajari mata pelajaran yang lain. 3. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali pertemuan bahkan lebih dan/atau pengayaan.mencerminkan dunia nyata di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi/mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Tema berperan sebagai pemersatu kegiatan yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus. Memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan. 3. dengan membuat pembelajaran tematik. 2. 2. 5. Lebih bergairah belajar. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik Pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut : 1. Estetika (Seni Budaya – Keterampilan). Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. Pemilihan dalam pembelajaran tema bertujuan agar supaya anak dapat: 1. karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi yang nyata seperti: bertanya. 8. bercerita.

Bahasa Indonesia. 27 jam pelajaran perminggu untuk kelas 2 dan 28 jam pelajaran perminggu untuk kelas 3. Ilmu Pengetahuan Alam. 35% untuk Pendidikan Kewarganegaraan dan Kepribadian. Jadi jadwal penyajiannya adalah pelajaran tema yang memuat beberapa mata pelajaran sekaligus. Hindu dan Budha). Tema harus sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak d. Tema bermakna. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar f. dan dengan adanya tema tersebut tidak dikehendaki bahwa mata pelajaran tidak dapat dibahas. Katolik dan Protestan. Semua KD dan indikator yang telah dibuat dari semua mata pelajaran (Agama. maka harapan penulis agar sekolah menyesuaikan dengan karakteristik keagamaannya masing-masing. Penentuan tema atau topik yang dipilih diharapkan melibatkan siswa dalam tugas-tugas yang terkait dengan sesuatu yang menjadi bagian dalam kehidupan siswa. Olah Raga dan Kesehatan Alokasi waktu yang disediakan total adalah 26 jam pelajaran perminggu untuk kelas 1. dan 3 ini tidak dikenal adanya jadwal pelajaran. kompetensi dasar dan indikator dari kurilulum 2004. Pendidikan Kewarganegaraan. Ilmu Pengetahuan Sosial. 2) guru melakukan analisis standar kompetensi. namun dapat dengan mudah dipergunakan untuk memadukan banyaknya mata pelajaran b. kompetensi dasar. langkah berikutnya adalah membuat jaringan Kompetensi Dasar (KD) dan indikator. IPA. Pemilihan dan penentuan tema atau topik yang merupakan pemersatu mata pelajaran. Iptek (Bahasa. Dan khusus untuk mata pelajaran agama ini disarankan agar guru kelas dapat berkoordinasi dengan guru agama dan juga guru olah raga untuk bersama-sama membuat kesepakatan mana-mana indikator yang akan dibelajarkan bersamasama dalam naungan tema dan mana yang akan dibelajarkan oleh guru agama dan guru olah raga. Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak di sekolah/kelas e. Oleh karena itu perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : a. Apabila terdapat kompetensi dasar dan indikator yang dibuat ternyata diketahui tidak dapat dipadukan dalam sebuah tema. artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya. tulis dan hitung). Matematika. Pembelajaran tematik bagi siswa kelas 1. Penyepakatan ini mengacu pada bobot penyajian sebagaimana yang tertuang di dalam ketentuan Kerangka Dasar Kurikulum yang disebutkan: 15% untuk Agama. Karena pembelajarannya harus dilakukan oleh guru kelas yang menyajikan secara terpadu dalam naungan sebuah tema. Prinsip Pemilihan Tema Pembelajaran terpadu yang diikat dengan sebuah tema tertentu disebut juga sebagai pembelajaran tematik. IPS dan Matematika). Dalam penyusunannya guru perlu melihat semua kurikulum dan silabus dari semua mata pelajaran untuk menemukan dan menentukan tema dan atau topik yang bisa dikaitkan atau dipadukan. Mempertimbangkan kurikulum yang berlaku dan harapan masyarakat terhadap hasil belajar siswa.. Tema tidak terlalu luas. maka khusus indikator-indikator tersebut perlu dibuatkan tema tersendiri agar dapat mencapai ketuntasan kompetensi dasar. Estetika. 2 dan 3 melalui beberapa tahapan antara lain. 2. dan indikator misalnya ditetapkan 36 minggu efektif dalam satu tahun. 3) membuat hubungan antara kompetensi . Apapun tema yang akan dimunculkan seyogyanya tidak menghalangi masuknya indikator dari kompetensi dasar dari sebuah mata pelajaran yang akan dibahas. Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Tematik Model pembalajaran dengan pendekatan tematik khususnya siswa kelas 1. Mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar. sedangkan jumlah minggu efektif tersedia antara 34 – 40 minggu. sehingga masing-masing semester tersedia 18 minggu. 1) guru harus sudah memiliki tema untuk satu tahun. c. g.Indonesia ada beberapa agama yang diakui (Islam. Estetika/Seni – Budaya dan Olah Raga – Jasmani dan Kesehatan) ditulis dalam jaringan. 50% untuk Calistung (baca. Dan untuk kepentingan analisis standar kompetensi. Setelah guru memiliki tema.

tetapi dapat dilaksanakan bersamaan dengan penentuan jaringan indikator. semua siswa yang memiliki gambar sama berkumpul dalam satu kelompok besar. Semua siswa dalam kelompok empat serangkai ini akan mendapat cerita dari tiga temannya. baik oleh guru kelas maupun oleh guru mata pelajaran (terutama indikator dan kompetensi dasar Agama dan Penjas) Contoh Model Pembelajaran dengan Teknik Jigsaw di Kelas I . selesai hitungan 4. ibu dan 2 anak (laki-perempuan) b. Gambar kakek dan nenek (orang tua dari ayah/ibu) datang d. Dengan demikian kegiatan ini tidak perlu dilakukan secara tersendiri.dasar. guru menyiapkan kertas yang berbeda warna sehingga apabila ada siswa yang salah masuk ke kelompok yang tidak sesuai dengan nomor gambarnya akan mudah diketahui. karena terdiri dari 4 anggota dalam setiap kelompoknya. Gambar keluarga terdiri dari seorang ayah. 6. Semua siswa yang berdekatan dan yang mempunyai angka 1 s. kembali ke 1 begitu seterusnya sampai semua anak mempunyai angka nomor berapa. Setelah berkumpul kembali ke kelompok awal. Ilmu Pengetahuan Alam. Indikator dengan Tema • Mengidentifikasi semua indikator dan kompetensi dasar dari semua mata pelajaran (Agama.Tema: Aku dan Keluargaku Untuk siswa yang masih duduk di kelas I banyak berbicara dengan bahasa gambar. Gambar sebuah ruang tamu dengan seperangkat meja kursi c. 4) membuat jaringan indikator. 3. maka indikator dan kompetensi dasar tersebut dibuatkan atau dicarikan tema khusus dan disajikan tersendiri. Berikutnya guru memanggil satu kelompok secara bergantian untuk maju ke depan kelas menceritakan hasil . untuk mengetahui apakah siswa tersebut masih ingat akan angka/nomor dirinya. sambil belajar angka maka bisa menggunakan teknik menghitung misalnya: jumlah siswa ada 40 anak. Setelah dipastikan semua anak menerima gambar sesuai dengan nomor dirinya masing-masing. Siswa dibagi dalam kelompok kecil. kompetensi dasar dan hasil belajar yang sesuai dengan tema dapat diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah. Sehingga setiap siswa dalam satu kelas akan mempunyai 4 jawaban yang kurang lebih sama. 1. beberapa siswa ditanya dia nomor berapa. Setelah selesai. Contoh penerapan teknik jigsaw bisa seperti di bawah ini: 1. Kalau sudah selesai menghitung semua. Teknik Jigsaw bagi siswa kelas I sekolah dasar bisa juga diterapkan tetapi bukan sebagai ahli informasi dalam pengertian memahami wacana. Kompetensi Dasar dan Indikator Kegiatan untuk melakukan analisis indikator. 3. sehingga dalam satu kelas akan ada 10 kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 anggota dalam satu kelompoknya (apabila di dalam kelas tersebut jumlah siswa ada 40 anak) 3. melainkan informasi tentang bagaimana dapat menceritakan makna gambar yang diperoleh dalam pembelajaran. b) Analisis Standar Kompetensi. Semua anak akan menghitung 1. a) Pemilihan Tema Penentuan tema yang akan dikembangkan di kelas 1 2 dan 3 dapat mempertimbangkan kriteria pembuatan tema seperti yang tertulis di depan tadi. kemudian disepakati kesimpulan dari cerita yang sama. Ilmu Pengetahuan Sosial. 2. memaknai gambarnya yang diterimanya. 2. Pendidikan Kewarganegaraan. Seni-Budaya dan Olah Raga Jasmani dan Kesehatan) • Memasukkan hasil identifikasi ke dalam format (tabel) hubungan indikator dan kompetensi dasar ke dalam tema yang relevan • Jika ada indikator dan kompetensi dasar yang tidak bisa dimasukkan ke dalam suatu tema. Bahasa Indonesia. Dalam kelompok ahli (kelompok gambar yang sama) semua siswa diminta saling bercerita sesuai dengan pemaknaan masing-masing. c) Hubungan Kompetensi Dasar. karena bahasa tulis masih dalam taraf belajar memegang pensil dan belajar huruf. indikator dengan tema. 5) menyusun silabus tematik dan langkah keenam adalah penyusunan rencana pembelajaran tematik. 4. Langkah-langkah tersebut akan dibahas satu per satu di bawah ini. 5. 2. Guru menyajikan beberapa gambar misalnya: a. Gambar adik/bibi dari ibu membacakan cerita untuk anak-anak 4. Setelah selesai berdiskusi tentang gambar semua siswa ditugaskan untuk kembali ke kelompok semula (yang beranggotakan 4 anak) dikatakan sebagai kelompok 4 serangkai.d 4 dikelompokkan menjadi satu kelompok. selanjutnya semua anak ditugaskan mengamati gambarnya yang diterimanya kemudian memaknai gambarnya. Matematika. Untuk mempermudah siswa membentuk kelompok ahli. semua siswa diminta untuk secara bergantian bercerita tentang hasil diskusi di kelompok ahli tadi.

22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Permendiknas No. sambil membiasakan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapatnya. untuk melihat kaitan antara tema dengan kompetensi dasar dari sebuah mata pelajaran. Tahapan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran bermakna yang ditawarkan Puskur adalah sebagai berkut: a. Dan jika salah. Masih banyak teknik lain yang dapat dipergunakan dalam membelajarkan materi yang memadukan materi dari berbagai mata pelajaran yang disatukan dalam sebuah tema. tidak menyalahkan. aspek kurikulum dan aspek belajar mengajar. REFERENSI UU No. Balitbang Depdiknas 2002:2) Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk pelaksanaan pendekatan pembelajaran tematik ini adalah: a. Pemanasan / Apersepsi Mengawali kegiatan pembelajaran. Dan memberikan penguatan jika jawaban siswa benar. guru harus memperhatikan dan melakukan hal-hal berikut: . 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. Pada masa ini pad umumnya siswa melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (Holistik).diskusinya. (Puskur. yaitu • Pendekatan pembelajaran bermakna. 4. Muatlah matrik hubungan kompetensi dasar dengan tema . Penyusun hendaknya memperkirakan dan menentukan kompetensi-kompetensi dasar pada sebuah mata pelajaran yang dikembangkan dan cocok dengan tema. d. Guru memberikan klarifikasi apabila ada cerita siswa/kelompok yang tidak sesuai dengan fakta gambar. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan PENDEKATAN PEMBELAJARAN 27/02/2009 oleh Kang_Herry Puskur Balitbang Depdiknas (2002) menawarkan 2 macampendekatan dalam proses pembelajaran . Pembelajran Bermakna Pembelajaran bermakna merupakan kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada kegunaan pengalaman belajar pada kehidupan nyata peserta didik. Kelompok lain bisa memberikan komentar. Pendekatan Tematik Pendekatan tematik adalah pembelajaran yang melibatkan beberapa beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalamanyang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu. 1. Pembelajaran tematik hanya diberikan pada siswa Sekolah Dasar kelas rendah. atau pertanyaan terhadap cerita temannya di depan kelas. maka guru memberikan pelurusan secara arif. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. e.Pelajran harus dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami siswa . Buatlah pemetaan pembelajaran tematik. sosisl dan emosionalnya. perkembangan fisiknya tidak bisa dipisahkan dari perkembangan mentalnya. Cara ini hanyalah salah satu dari sekian banyak teknik pembelajaran. Eksplorasi . Dalam hal ini guru dituntut mampu meyakinkan secara realistik suatu pengalaman belajar dengan menekankan pada siswa belajar secara aktif dan dapat memotivasi belajar yang tinggi kepada peserta didik. Pelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester uang sama dari setiap mata pelajran b. dan • Pembelajaran tematik Penerapan kedua pendekatan ini disesuaikan dengan tingkat kematangan anak dalam belajar. Pilihlah tema yang dapat mempersatukan kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan semester c. melainkan memberikan rasional yang bijak. Susun silabus berdasarkan matrik atau jaringan topik pembelajran tematik 2.Motivasi siswa ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna .Siswa didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal baru b.

Tahapan pelaksanaan dari pendekatan pembelajaran ini dapat digambarkan sebagai berkut: Pemanasan – Apersepsi Tanya jawab tentang pengetahuan dan pengalaman (Alokasi 5-10%) Eksplorasi Memperoleh/ Mencari Informasi baru (Alokasi 25-30%) Konsolidasi Pembelajaran Negosiasi dalam pencapaian pengetahuan baru (Alokasi 35-40) Pembentukkan Sikap dan Perilaku Pengetahuan diproses menjadi nilai.Gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan dan masalah-masalah yang dihadapi baik oleh siswa maupun guru.Pilih metodologi yang tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku siswa menuju perubahan yang lebih baik.Keterampilan baru yang diperkenalkan . M.Pengembangan sejumlah pengalaman belajar hendaknya memperhatikan: . sikap dan perilaku (Alokasi 10%) Penilaian Formatif Sumber: Dian Sukmara.Menekankan pada kaitan struktural yaitu kaitan antara materi pengalaman baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam lingkungan .Melibatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami pengalaman atau mater baru . Penilaian Formatif Untuk menentukan efektifitas serta keberhasilan proses pembelajaran dapat dilakukan hal-hal berikut: . .Pd.Pilih metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaan siswa akan pengalaman baru yang disajikan c. Mughni Sejahtera Bandung.Kembangkan cara-car menilai hasil belajar siswa secara variatif . Konsolidasi Pelajaran Pemantapan pengalaman belajar siswa dapat dilakukan dengan cara: .Membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan siswa sehari-hari berdasarkan pengalaman belajarnya. Pembetukkan Sikap dan Perilaku Proses internalisasi suatu pengalaman baru dapat dilakukan dengan: .Melibatkan siswa secara aktif dalam pemecahan masalah . .Mendorong siswa menrapkan konsep atau pengertian baru yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.Pilih metodologi yang tepat sehingga pengalaman baru dapat terproses menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari.Pilih metodologi penelitian yang paling tepat dan sesuai dengan tujuan yang mesti dicapai. . d. . 2007 . e. Drs.Kaitkan materi pengalaman belajar dengan pengetahuan yang sudah ada pada siswa sebelumnya. Implementasi Life Skill dalam KTSP.