P. 1
Kesehatan dan Lingkungan

Kesehatan dan Lingkungan

|Views: 47|Likes:
Published by Ade Ariawan

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Ade Ariawan on Jun 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2012

pdf

text

original

MODUL IX KULIAH ON LINE DOSEN : Dra.

Eva Maulina, MM KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

1. Perlunya Lingkungan Sehat Pada akhir-akhir ini, Indonesia banyak mendapatkan cobaan berupa banyaknya penyakit yang berhubungan dengan lingkungan. Marak penyakit demam berdarah (DB) yang menelan banyak korban. Penyabab penyakit ini adalah lingkungan yang memungkinkan berkembangnya nyamuk aides agepty. Berkembang juga penyakit Afian Influenza (AI) yaitu penyakit yang ditularkan melalui unggar terutama ayam. Di beberapa daerah juga berkembang penyakit cikungunya yaitu penyakit yang dibawa oleh tikus. Dan banyak penyakit lain yang disebabkan oleh faktor lingkungan kurang bersih. Bagaimana sebetulnya Islam memandang keberhasilan dan kesehatan serta lingkungan? Terkait dengan hal ini, Rosulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan Allah menyukai yang indah. Allah Maha Murah dan suka kepada sifat yang pemurah. Allah Maha bersih dan suka kepada yang bersih”. Dan hadis diatas terlihat bahwa Allah sangat menyukai keindahan dan keberhasilan. Apabila Allah sangat menyukai keindahan dan kebersihan, sudah sewajarnya apabila umat Islam menyukai dan mejaga keindahan dan kebersihan. Dalam menjaga keindahan dan kebersihan, Allah juga suka kepada sifat pemurah, maka hal ini sebenarnya petunjuk bagi manusia, bahwa Allah suka kepada orang yang dengan senang hati dan ringat tangan dalam menjaga kebersihan dan keindahan. Bekerja keras dan bergotong royong dalam menjaga kebersihan sangat dianjurkan dimulai dihadapkan Allah SWT. Terkait dengan bab kesehatan dan lingkungan, maka pada bab ini akan dibahas mengenai masalah kesehatan yang menyangkut kesehatan jasmani dan mental umat Islam, serta faktor lingkungan yang meliputi bagaimana memelihara kesehatan dan kelestarian lingkungan. Pemahaman bab tentang kesehatan dan lingkungan penting bagi umat Islam di Indonesia, agar tercipta lingkungan yang

bersih, kesehatan fisik dan mental yang prima, dan memanfaatkan sumberdaya alam secara lestari sebagaimana diperintahkan Allah SWT. 2. Memelihara Kesehatan Fisik dan Mental 2.1 Perintah Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Allah menyukai hal-hal yang bersih, sehingga manusia tampak bersih dan harum dan dapat beribadah dengan tenang dan khusus. Menjaga kesehatan ini penting, karena kalau sakit maka akan menghambat ibadah dengan sempurna. Orang yang sakit baik yang ringat seperti flue, batuk maupun yang berat seperti kanker dan hati, sedikit banyak akan mengganggu aktivitas baik untuk ibadah, muamalah atau kegiatan lainnya. Begitupula dengan kebersihan, orang yang berpakaian bersih dan harum akan tenang ibadahnya. Coba anda bandingkan, apabila anda sholat dengan orang yang bajunya kotor dan bau, tentu akan mengganggu konsentrasi dalam ibadah. Kebersihan dan kesehatan merupakan kunci mencapai badan yang sehat, dan dengan badan yang sehat maka manusia dapat optimal dalam menjalankan fungsi sebagai pemimpin baik bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Terkait dengan kebersihan, Allah berfirman : “dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah” (QS AlMuddastsir : 4-5). “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air, atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik, sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (QS Al-Maidah : 6) Dua ayat di atas menunjukkan benar-benar Allah sangat menyukai kebersihan bagi pribadi umat Islam. Dari penampilan, Allah memerintahkan kita membersihkan pakaian. Memang pakaian tidak harus baru, tetapi pakaian itu bersih sehingga terbebas dari penyakit yang dibawa seperti kuman, lalat, dan

lain-lain. Dan terkait dengan pakaian, Allah menyukai pakaian yang juga harum, sehingga dapat tercium bau yang enak dan membuat orang tentram. Selain Allah senang pada penampilan, Allah juga menyukai kebersihan fisik badan. QS Al-Maidah ayat 6, menunjukkan bahwa apabila kita akan sholat, diminta untuk wudhu. Dalam wudhu kita persyaratkan membasuh dengan air bersih untuk muka, tangan, kaki dan kepala. Dapat kita bayangkan, setiap umat Islam badannya dibasuh dengan air, paling tidak 5 kali dalam sehari. Dan apabila ditambahkan dengan mandi yang paling tidak 2 kali sehari, maka tubuh kita dibasuh air sebanyak 7 kali sehari. Dengan demikian, seyogyanya badan kita secara fisik bersih, dan sehat. Oleh sebab itu, apabila ada umat Islam yang tidak terlihat bersih, maka seyogyanya dapat memahami tata cara berwudhu dan mandi yang benar. Dan wudhu merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan. Kebesihan badan, dan pakaian sudah dilakukan, dan tertinggal satu hal yaitu kebersihan mulut. Mulut yang tidak bersih menimbulkan penyakit gigi, dan bau yang tidak mengenakan, karena dimulut terjadi proses pengolahan makanan, dan apabila ada makanan yang tertinggal akan menyebabkan bau. Oleh sebab itu, kebersihan mulut sangat diutamakan. Dalam hal ini, Rosul bersabda : “Apabila aku tidak membuat kesukaran terhadap umatku, mereka akan aku perintahkan untuk membersihkan giginya dengan siwak setiap hendak sholat” (Al- Hadist) Hadis di atas juga menunjukkan betapa Rosul sangat perhatian kepada kebersihan mulut. Dengan berkumur dan menggosok gigi sebanyak 5 kali dalam sehari, maka dapat diyakini bahwa mulut akan bersih, tidak berbau, dan menyehatkan. 2.2 Mengetahui Sumber Penyakit Untuk tetap menjaga kesehatan yang prima sehingga dapat bekerja dan beribadah dengan prima juga, maka perlu bagi umat Islam mengetahui sumbersumber penyakit. Dengan mengetahui sumber penyakit, maka kita dapat berusaha mencegahnya dan memperbaiki kondisi tubuh. Sumber penyakit yang pertama menurut Allah adalah dari makan dan minuman yang berlebih-lebihan. Firman Allah sebagai berikut :

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS Al-A’raf : 31). Allah sudah ribuan tahun yang lalu menyadarkan kita untuk tyidak makan yang berlebih-lebihan, karema ini merupakan sumber utama penyakit. Makan yang berlebih dapat menyebabkan obesitas atau kegemukan. Akibat dari kegemukan akan berdampak banyak ke penyakit turunannya seperti, penyakit jantung, diabetes yang menyebabkan tubuhnya kalau luka sukar disembuhkan bahkan dapat diamputasi dan dapat mengakibatkan kebutaan. Penyakit diabetes bagi laki-laki juga dapat berakibat impotensi yang dapat berganggu hubungan suami istri. Penyakit asam urat juga berasal dari makanan yaitu apabila seseorang anyak makanan kacang-kacangan secara berlebihan. Penyakit kanker di antaranya disebabkan oleh faktor makanan seperti makanan junk food, dan makanan yang digoreng dengan minyak bekas. Sedangkan minum-minuman keras dapat mengakibatkan turunnya daya kesadaran otak dan gangguan fungsi hati. Demikian banyaknya penyakit yang dapat berasal dari makanan. Oleh sebab itu, untuk mencegah penyakit kita harus mengatur makanan dan minuman. Tidak ada makanan yang jahat dan menimbulkan penyakit, sepanjang makanan tersebut dimakan tidak berlebihan dan berhenti makan sebelum kenyang. Dan untuk kondisi badan yang sehat, usahakan dalam perut terdiri dari ½ dari bagian perut adalah air ¼ bagian makanan dan ¼ bagian ruang kosong. Dengan komposisi tersebut diharapkan kondisi badan kita akan sehat. Sumber penyakit lain adalah penyakit jiwa. Penyakit yang berasal dari ketidakwarasan hati, hati yang gelisah, hati yang sombong dan lain-lain. Penyakit yang demikian berasal dari perilaku seperti pemabok sehingga otaknya tidak berpikir dengan kesadaran penuh, berjudi yang disebabkan angan-angan kosong, menyembah berhala yang disebabkan kekafiran dan musyrik dan segala macam bentuk pertaruan lainnya. Penyakit yang demikian dinamakan Qolbun Mayyit atau hati yang mati. Ciri dari penyakit ini adalah menolak kebenaran dari Allah dan selalu gemar berlaku zhalim terhadap sesama. Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khmer, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS Al-Maa-idah ; 90)

Penyakit hati yang mati, biasanya dimulai dari pergaulan yang salah. Bermula dari hanya sekedar minum untuk pergaulan, kemudian menjadi pemabuk berat bahkan pecandu narkoba. Dari sekedar teman bermain kartu kemudian bermain judi. Dari sekedar ingin kaya dengan berjudi buntut akhirnya kafir karena menyembah berhala dan bersekutu dengan setan. Dari sekedar menonton pertandingan menjadi berjudi dan bertaruh nasib. Hal-hal demikian harus kita perhatikan, bermula dari yang kecil kemudian menjadi masalah besar dan termasuk perbuatan zhalim yang Allah menjanjikan neraka jahanam sebagai imbalannya. Oleh sebab itu, menjadi perhatian kita semua untuk memperhatikan pergaulan, dan usahakan tidak melampaui batas yang sudah Allah tentukan. 2.3 Menyembuhkan Penyakit Penyakit seringkali juga tidak dapat dihindarkan. Seringkali godaan setan menang pada saat iman kita lemah, sehingga kita makan dan minum berlebihan atau melakukan perbuatan yang tercela sehingga menimbulkan penyakit jiwa,. Terhadap penyakit yang mungkin derita bagaimana menyembuhkannya? “dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku” (QS Asy-syu’ara : 80) Firman Allah dalam Asy-syu’ara ayat 80, menyatakan bahwa apabila kita sakit, maka kita minta kepada Allah untuk menyembuhkan. Kenapa demikian? Karena pada dasarnya Allah yang menciptakan, memelihara dan mematikan kita. Apabila kita mengalami sakit, maka yang pertama kita lakukan adalah berdoa dan meminta kesembuhan kepada Allah. Setelah kita berdoa memohon kesembuhan kepada Allah, maka selanjutnya kita berusaha untuk mendapatkan pengobatan sebagai usaha fisik. Allah berfirman : “kemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam warnanya di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tadan kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang memikirkan”. (QS An-Nahl ; 69) Terdapat penyakit yang mungkin kita derita, kita harus mendapakan obat. Dalam Al-Qur’an, madu yang dihasilkan oleh lebah dapat menjadi penawar bagi penyakit. Namun dalam ayat ini, Allah juga menyerukan agar manusia

memikirkan proses penyembuhan, dimana madu sebagai sarana obat. Obat inilah sebagai sarana penyembuhan. Dan dalam konteks modern sudah banyak obat yang dihasilkan dari laboratorium, dan madu merupakan salah satu sumber obat. Dan dalam konteks modern pula, penyembuhan dengan menggunakan obat harus dilakukan orang yang ahli yaitu dokter. Oleh sebab itu apabila kita sakit, maka kita perlu pergi ke dokter untuk berobat dan berdoa kepada Allah untuk mendapatkan kesembuhan. Bagaimana dengan penyakit hati ? Penyakit hati terjadi karena kemenangan setan dalam tubuh kita. Oleh sebab itu, untuk mengobati penyakit hati kita harus mengusir dan mengalahkan setan dari diri kita. Untuk menunjukkan setan, maka kita harus kembali kepada kita Allah yaitu Al-Qur’an. Allah berfirman : “dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dari rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidak menambah kepada orangorang zalim selain kerugian” (QS Al-Israa : 82) Orang-orang yang berpenyakit hati atau orang yang zhalim, selama dia zhalim maka ia mendapat kerugian. Oleh sebab itu, orang yang zhalim harus muloai sadar kalau perbuatannya termasuk perbuatan jahat dan jelek. Orang yang berpenyakit hati harus mulai kembali ke jalan Allah dengan mulai belajar, mengerti dan melaksanakan isi-isi kandungan Al-Qur’an yang di dalamnya banyak petunjuk Allah yang menjaga manusia dari kesesatan dan setan. Kita juga harus mulai membangun diri dengan meningkatkan Iman dan Islam, kita harus mulai mempelajari Al-Qur’an dengan benar. Keimanan tidak hanya cukup diucapkan dan diyakini, tetapi kita juga harus melaksanakan. Mari kita mulai mengamalkan Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, sehingga kita termasuk orang yang beruntung di sisi Allah SWT. 3. Memelihara Lingkungan Banyak kejadian yang harus umat Islam perhatian terhadap lingkungan dimana mereka tinggal. Manusia harus berhubungan baik dengan lingkungan alam, karena kehidupan manusia banyak tergantung pada alam. Manusia seperti hari harus makan, dan makanan tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan baik berupa tanaman pangan seperti padi, buah-buahan dan sayuran. Apabila manusia merusak alam, maka tanah menjadi tandus, dan tidak dapat

memproduksi bahan makanan. Pada akhir-akhir umat Islam banyak mengalami bencana banjir dan kekeringan. Mengapa hal tersebut terjadi ? Bencana banjir dan kekeringan banyak yang disebabkan karena perbuatan manusia. Pembabatan hutan, penebangan pohon di perkotaan, dan habisnya permukaan tanah untuk perumahan sehingga terbatasnya resapan air hujan. Sebagai akibatnya pada saat turun hujan, yang semestinya menjadi rahmat karena menumbukan tumbuh-tumbuhyan sera hewan, justru menjadi bencana karena banjir. Ribuan orang suadh mati karena banjir. Kekeringan juga menjadi bencanan, manusia banyak merusak hutan, sehingga kadar CO2 (karbon dioksida) meningkat, suhu meningkat dan akibatnya merubah iklim di dunia. Sebagai akibatnya banyak sekali iklim yang sangat ekstrim seperti hujan yang sangat lebat dengan seketika, dan kemarau yang berkepanjangan. Kebanyakan memang manusia seringkali lupa, atau sedikit serakah dalam rangka mencari nafkah. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan serta meningkatnya kebutuhan hidup seringkali membuat manusia berpikir pendek. Sebagai contoh, untuk meningkatkan produksi pangan, banyak petani menggunakan pupuk kimia dan pestisiad yang pada akhirnya banyak merusak tanah. Kebutuhan kayu untuk perumahan dan kertas, telah mendorong manusia untuk menebang hutan. Dan banyak contoh lain, dari perbuatan manusia yang merusak alam, padahal kehidupan manusia sangat tergantung pada kelestarian alam. Terkait dengan alam, bagaimana sebenarnya manusia harus mengerti, memahami dan memanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia sendiri? 3.1 Manusia membutuhkan Kesenangan dan Keindahan Pada dasarnya manusia sangat menyenangi akan kesenangan dalam hidup dan keindahan. Pada saat liburan, banyak sekali manusia pergi ketempattempat yang indah untuk memberi kesenangan. Alam-alam yang indah dan sering didatangi saat liburan seperti Puncak di Bogor, Tangkuban Prahu di Jawa Barat, Dieng id Jawa Tengah, Bromo di Jawa Timur, Malino dan Bunaken di Sulawesi, Bukit Tinggi dan Toba di Sumatera dan banyak tempat lain di Indonesia. Memang salah satu tujuan dari penciptaan alam oleh Allah adalah untuk memberikan keindahan alam. Alah berfirman tentang keindahan alam :

“Bukanlah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan kami jadikan gunung sebagai pasak, dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan kami bangun di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh, dan Kami jadikan matahari pelita yang amat terang, dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan dan kebun-kebun yang lebat” (QS An-Naba : 6 – 16) Dapatkah Anda bayangkan keindahan alam ciptaan Allah sebagaimana diayat-NYa di atas. Bumi sebagai hamparan dalam bentuk dataran rendah yang dapat dimanfaatkan untuk persawahan yang memberikan keindahan seperti menguningnya padi dan membawa rejeki. Dijadikan gunung sebagai pasak dari bumi, dan memberikan keindahan dalam pemandangan dan memberikan manfaat untuk menahan air hujan sehingga tidak menjadi bencana banjir, dan letusan gunung dapat menyuburkan tanah. Allah menjadikan langit yang indah diterangi di matahari di siang hari dan bulan di malam hari. Allah memberikan hujan yang dapat menumbuhkan biji-bijian, tumbuh-tumbuhan, dan kebun yang lebat. Begitulah Allah telah membuat alam yang indah untuk manusia supaya dapat dinikmati dan memberikan kemakmuran, namun kepada kita senang merusaknya? 3.2 Tujuan Allah Menciptakan Alam Semesta Allah menciptakan alam seisinya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan menunjukkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Allah menciptakan bumi lengkap dengan isinya, tanah yang terhampar, gunung dan bukit, dihidupkan tumbuh-tumbuhan dan hewan, diciptakan laut dan langit serta alam semesta. Terkait dengan tujuan penciptakan alam, Allah berfirman : “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir” (QS Al-Jaatsiyah : 13). Allah menciptakan langit dan bumi sebagai rahmat bagi manusia. Manusia dapat memanfaatkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Namun demikian, Allah meminta manusia untuk berpikir atas penciptaan Allah tersebut,

betapa besar dan pemurahnya Allah terhadap manusia. Oleh sebab itu, manusia tidak pantas untuk sombong kepada Allah dan sudah semestinya untuk taat dan bersyukur kepada Allah atas rahmatnya itu. Bagaimana bentuk syukur manusia kepada Allah atas rahmat alam semesta? Bentuk syukur itu dapat diwujudkan dengan berpikir bagaimana memanfaatkan alam tanpa harus merusaknya. Manusia harus belajar keras dari proses penciptaan alam, kemudian menjadikan ilmu yang bermanfaat bagi pemanfaatan alam. Allah memberi contoh, menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan. Apabila kita memikirkan ayat Allah ini, sebenarnya Allah mengajarkan bagaimana proses memanfaatkan alam dengan bercocok tanaman. Apabila manusia ingin memakan buah-buahan, maka tanamlah biji, siramlah dengan air, sehingga tanaman tersebut besar dan dapat berbuah untuk kepentingan manusia. Pada saat ini ilmu tanaman tersebut berkembang menjadi budidaya pertanian. Proses budidaya ini mengajarkan manusia untuk menanam, membudidaya, dan tidak hanya mengambil atau mengektrasi dari alam. Kemalasan manusia untuk belajar dan keengganan untuk menanam dan hanya senang mengambil untuk kesenangan inilah menjadikan kerusakan alam. Terkait dengan pemanfaatan alam, Allah memerintahkan manusia untuk bekerja keras dan bersyukur, sebagaimana firmannya : “Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya seizing-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS Al-Jaatsiyah : 12) Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menciptakan lautan untuk keperluan manusia. Di dalam laut terdapat bermacam tumbuhan dan hewan yang bermanfaat seperti rumpat laut, dan berjuta-juta jenis ikan dan tambang. Di atas laut dapat dipergunakan sebagai sarana transportasi. Namun demikian untuk memanfaatkan laut, manusia harus berusaha, mencari, dan bersyukur. Allah mengindikasikan pemanfaatan laut dengan kapal-kapal, sudah sepantasnya kalau umat Islam belajar tentang bagaimana membuat kapal baik sebagai sarana transportasi maupun memanfaatkan sumberdaya laut. Di bawah laut masih banyak hasil laut yang belum kita manfaatkan, kita dapat mengembangkan teknologi penangkapan hasil laut dan menciptakan kapal yang sesuai.

Bagi umat Islam Indonesia hal ini harus dipikirkan, karena Indonesia masih sangat jauh tertinggal dalam hal pemanfaatan laut dibandingkan dengan Thailand dan Taiwan. Kita harus bekerja keras menguasai teknologi kelautan, sehingga tujuan Allah memberikan rahmat berupa laut dapat kita peroleh dan untuk kesejahteraan umat. 3.3 Jangan Merusak dan Menghancurkan Alam Manusia sering kali karena terdesak kebutuhan hidup, terbatasnya kemampuan pengetahuan dan semakin tingginya keinginan karena budaya konsumerisme, menyebabkan manusia mengambil jalan pintas dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Akibat banyaknya manusia mengambil jalan pintas ini, maka banyak sekali kerusakan yang ditimbulkannya dan menyebabkan banyak bencana. Allah dalam QS Al-Araaf ayat 56, sangat melarang manusia membuat kerusakan dibumi : “dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-Araaf : 56). Ayat diatas dengan tegas melarang manusia membuat kerusakan dimuka bumi, dan Allah sangat menyukai orang yang berbuat baik. Seringkali kita melihat di taman ada tulisan “dilarang menginjak rumput”, rumput-rumput tersebut kalau diinjak-injak tentu akan mati. Namun demikian Allah dengan mekanisme alam, menghidupkan kembali rumput tersebut dengan menurunkan hujan dan menyemai. Namun kenapa manusia merusak kembali. Manusia diperbolehkan menebang pohon untuk kebutuhan hidupnya. Dan secara alamiah, Allah menumbuhkan kembali hutan dalam bentuk hutan sekunder, sehingga hutan yang sudah tebang, akan tumbuh hutan kembali. Tapi kenapa manusia merusak dan mengambil secara berlebih-lebihan? Manusia sering membuang sampah sembarangan, dan sampah ini sering menimbulkan saluran air macet, pemandangan tidak indah dan banyak penyakit. Akhirnya Allah membersihkan sampah melalui petugas kebersihan, namun kepada manusia tetap membuang sampah sembarangan?

Kenapa manusia tetap senang menginjak-injak rumput, merusak hutan dan membuang sampah sembarangan? Jawabnya karena manusia tersebut telah menjadi sekutu setan. Allah berfirman : “dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan menyuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah, lalu mereka benar-benar merubahnya. Barang siapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata” (QS An-Nisaa : 119). Dari ayat tersebut jelas bahwa setan telah menyesatkan manusia sehingga manusia menjadi manusia yang merugi. Manusia telah tergoda oleh setan sehingga manusia melakukan kerusakan dengan angan-angan yang kosong dalam wujud keinginan yang sangat tinggi namun tidak mampu mewujudkannya, sehingga mencari jalan pintsa dengan merusak alam seperti memotong telinga ternak atau bahkan merubah ciptaan Allah. Allah membuat bumi indah, manusia merusakkan, Allah membuat hutan, manusia menebanginya, Allah membuat tempat sampah, manusia membuang sembarang. Kenapa hal tersebut terjadi? Sekali lagi karena manusia telah bersahabat dengan setan, dan sebenar-benarnya manusia yang merusak ciptaan Allah adalah manusia yang merugi baik di dunia dan akherat. 3.4 Memelihara Alam Kerusakan alam di Indonesia sudah semakin nyata. Hutan kita sudah gundul. Banjir sudah melanda dimana-mana dan telah menelan korban ribuan jiwa. Sampah ada dimana-mana dan banyak menimbulkan lalat dan penyakit. Apakah kerusakan dan bencana harus terus terjadi di negara dimana Umat Islam terbesar di dunia? Tentu jawabannya tidak. Umat Islam mulai saat ini dan seterusnya sudah mencukupkan kerusakan yang terjadi. Cukup sudah kerusakan yang ada. Kedepan kita harus mulai memelihara alam, dan memanfaatkan dengan benar, sehingga bencana dapat dihindari dan generasi mendatang masing dapat menikmati keindahan alam yang diciptakan Allah SWT. Allah memerintahkan kita umat Islam untuk memelihara alam. Allah berfirman :

“dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan): hingga apabila angin itu telah mambawa awan mendung. Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buahbuahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran” (QS Al-Araaf : 57). Ayat di atas, kita mengetahui bahwa Allah memberi pelajaran dan ilmu kepada kita umat Islam untuk memelihara alam. Tanah yang tandus dan rusak karena kebanyakan bahan kimia dan kerusakan dapat kita perbaiki dengan cara menanam biji-bijian dan tumbuhan. Pada saat ini dapat kita lakukan dengan reboisasi atau penanaman hutan kembali pada hutan yang rusak, menanam tanaman mangrove untuk menahan abrasi laut. Dan pada lahan subur, kita berlaku adil terhadap alam, mulai belajar membudidayakan tanaman, membuat tanaman organik, mengumpulkan sampah dan membuat pupuk organik. Terhadap pegunungan yang indah, mari kita nikmati dan pelihara. “Tanah yang baik akan mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya (yang baik) dengan izin Tuhannya. Dan tanah yang jelek tidak akan mengeluarkan kecuali yang jelek. Seperti itulah kami jelaskan ayat-ayat kami bagi kaum yang bersyukur (QS Al-Araaf : 58). Allah dari ayat 57 dan 58 Al-Araaf juga mengajarkan kepada kita tentang memelihara alam dengan menggunakan teknologi pengairan, bahkan teknologi hujan buatan. Untuk daerah-daerah tandus dan kering, dimana air tidak cukup untuk menyiram, maka apa yang harus kita lakukan? Pada daerah tandus sebenarnya masih dapat ditanami, karena Allah sudah menyatakan yang demikian, sekarang sudah saatnya belajar bagaimana menanam pada tanah tandus. Pada daerah tandus, maka kita harus memilih tanaman yang tidak membutuhkan banyak air. Pada daerah tandus juga harus dibangun tempat penampungan air seperti “embung”, yang dapat memberikan pada musim kering atau teknologi pompanisasi. Untuk musim kering yang panjang, kita dapat mengembangkan hujan buatan. Awan-awan tipis dapat dikondenisasi dengan memberikan urea, sehingga awan tersebut menjadi berat, dan dapat turun ke bumi sebagai hujan. Banyak teknologi dalam memanfaatkan alam, dan sudah saatnya umat Islam banyak belajar dan menguasainya.

Allah sangat sayang terhadap umat Islam, Allah tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana memelihara alam, tetapi juga bagaimana memanfatkan hasil alam. Terkait dengan ini, Allah berfirman : “dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: apakah dua yang jantang yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menentukan ini? Maka siapakah yang lebih zhalim dari orang-orang yang membuat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim” (QS Al-An-aam ; 144). Terkait dengan ayat diatas, ada sebuah cerita dari seorang anak dan bapaknya yang sedang memancing di sungai di Australia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->