“Media dan Perkembangan Moral Agama Anak Usia Dini”

TUGAS INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS PADA MATA KULIAH “PERKEMBANGAN ANAK 2”

DI SUSUN OLEH :

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Henny Fitriyanti Nining Wisanti Ulya Rachmi Ratna Wahyuningsih Ade Sholihat Resti Purwitasari

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BANI SALEH BEKASI

2011 .

Stimulasi untuk perkembangan sel-sel otak ini dapat diberikan salah satunya melalui pendidikan.BAB I PENDAHULUAN Anak merupakan investasi masa depan yang harus dikembangkan secara optimal.dkk. Demikian pula jika di masa kecil anak sering diejek. diharapkan pada tahap perkembangan . Atas dasar pertimbangan hal di atas. Kualitas watak anak sejak kecil akan mewarnai watak seseorang di kemudian hari. Seperti yang sering kita lihat sekarang ini di media masa sering diberitakan tentang perkelaihan. Penelitian membuktikan bahwa sejak lahir seorang anak manusia memiliki kurang lebih 100 miliyar sel otak. Pendidikan anak usia dini sangatlah penting. Yang pernting diingat bahwa tidak semua informaasi yang diperoleh anak dari luar merupakan informasi yang baik dan tepat untuk perkembangan anak. Dengan diberikannya pendidikan nilai dan moral sejak usia dini. maka bagi anak perlu dibekali pengetahuan tentang nilai moral yang baik. ketika dewasa akan mengalami kesulitan untuk mempercayai orang lain. Pentingnya pendidikan anak sejak usia dini juga didasarkan pada UU No. 2005: 3). yang menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar nak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14).. maka ketika dewasa akan sulit menghargai orang lain. Berdasarkan hal-hal tersebut maka jelaslah bahwa pendidikan sejak usia dini sanggatlah penting. Bila di masa kecilnya anak sering dipukuli. tawuran dan tindakan-tindakan lain yang tidak sesuai dengan nilai moral yang ada. 20 Tahun 2003 tentang Sistem sistem Pendidikan Nasional. Anak yang dibesarkan dalam suasana yang curiga mencurigai misalnya. Di era globalisasi seperti sekarang ini tidak menutup kemungkinan anak akan dengan mudah mendapat informasi dari luar melalui media apapun. besar kemungkinan ketika besar akanmenjadi pendendam. Sel-sel otak ini tidak akan tumbuh dan berkembang dengan pesat tanpa adanya stimulasi dan didayagunakan (Gutama.

2009:20). bahkan setelah bekerja dan berumah tangga. sehingga ia dapat menerapkannya dalam kegidupan sehari-harinya. Di dalam keluarga ini anak-anak akan banyak mendapatkan pengalaman untuk tumbuh dan berkembang demi masa depannya. Pendidikan anak dilakukan pada tiga lingkungan pendidikan. Di dalam keluarga orang tua dapat memberikan contoh perilaku yang kelak akan ditiru oleh anak. sejak anak dilahirkan. (Maemunah Hasan. . stabilitas sosioemosional. serta aspirasi anak untuk belajar samapai perguruan tinggi. benar salah. yaitu keluarga. sekolah dan masyarakat. kedisiplinan. anak akan menunjukkan prestasi belajar. Keluarga merupakan tempat yang efektif untuk membelajarkan nilai moral kepada anak. Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan anak. diikuti dengan perbaikan sikap. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua berperan dalam pendidikan. Anak-anak diharapkan akan lebih mudah menyaring perbuatan mana yang perlu diikuti dan perbuatan mana yang harus dihindari.selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk.

Menurutnya ada dua nilai yaitu nilai ideal dan nilai aktual. kecerdasan emosi. ahli pendidikan. Nilai ideal adalah nilai- . 23 Tahun 2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujuak untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar nak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14). yang disesuaikan dengan keuunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. 2. Di sekolah ini anak-anak usia 4-5 tahun atau 6 tahun mendapat tempat untuk mengembangkan potensinya dalam berbagai bentuk kegiatan. kecerdasan spiritual) Sosioemosional (sikap dan perilaku serta agama). Kecerdasan (daya pikir. daya cipta. yaitu sejak awal kemerdekaan. Pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar) 2.2 Pendidikan Nilai Moral Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Purwodarminto dinyatakan bahwa nilai adalah harga. masyarakat dan pemerintah. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke beberapa arah berikut: 1. bahasa dan komunikasdi. 2009:16). (Maemunah Hasan. hal-hal yang berguna bagi manusia.BAB II Media dan Perkembangan Moral Agama Anak Usia Dini 2. Pendidikan anak usia dini memerlukan perhatian yang sangat penting dari orang tua. Menurut I Wayan Koyan (2000 :12). Pendidikan anak usia dini. nilai adalah segala sesuatu yang berharga. khususnya Taman Kanak-Kanak telah diselenggarakan sejak lama.1 Pendidikan Anak Usia Dini Dalam UU No.

yaitu nilai obyektif dan nilai subyektif. isi dan corak tertentu sesuai dengan waktu. yakni nilai hakiki yang berlaku sepanjang masa secara universal. Oleh karena itu adanya pendidikan moral akan menentukan mudah tidaknya seseorang dapat diterima di dalam lingkungan sosialnya. Adapaun nilai subyektif yaitu nilai yang sudah memiliki warna. akhlak (K. Kohlberg mengklasifikasikan nilai menjadi dua. Nilai obyektif atau nilai universal yaitu nilai yang bersifat instrinsik. maka ia akan dikatakan jelek secara moral.nilai yang menjadi cita-cita setiap orang. tempat dan budaya kelompok masyarakat tertentu. yang susila (Amin Suyitni. keindahan dan keadilan.Prent. Sebaliknya jika perilaku individu itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. kelakuan. tabiat. sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. fulfillment. Dari pengertian itu dikatakan bahwa moral adalah berkenaan dengan kesusilaan. Kecerdasan afektif dapat dikembangkan melalui pendidikan moral. Adanya pendidikan moral bukanlah tanpa tujuan. Menurut Richard Merill dalam I Wayan Koyan (2000 : 13) menyatakan bahwa nilai dalah patokan atau standar yang dapat membimbing seseorang atau kelompok ke arah ”satisfication. dalam Soenarjati 1989 : 25). membina dan menanamkan nilai moral dan norma. Adapun pengertian moral berasal dari bahasa latin mores. Hal ini mengingat bahwa dalam berinteraksi dengan orang lain tidak hanya menuntut kecerdasan orang secara kognitif. dari suku kata mos yang artinya adat istiadat. Pendidikan moral penting diberikan kepada anak sejak usia dini. . Dalam perkembangannya moral diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik. et al dalam Soenarjati 1989 : 25). Pendidikan moral bertujuan pada pembentukan sikap dan perilaku seseorang agar dapat bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang berlaku di lingkungan sosialnya. Sasaran pendidikan moral adalah sebagai berikut: 1. akan tetapi diperlukan kecerdasan afektif dan psikomotor. Termasuk dalam nilai universal ini antara lain hakikat kebenaran. watak. and meaning”. Seorang individu dapat dikatakan baik secara moral apabila bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang ada.

3. meningkatkan dan memperluas tatanan nilai keyakinan seseorang atau kelompok. dan pembiasaan dalam perilaku. Teladan atau contoh Anak usia dini mempunyai kemampuan yang menonjol dalam hal meniru. 3. teladan atau contoh. dkk (2005:72-81) sebagai berikut: Adapun beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penanaman nilai moral pada anak usia dini menurut Dwi Siswoyo dkk. melakukan klarifikasi nilai intrinsik dari suatu nilai moral dan norma dan kehidupan secara umum. menangkal. Klarifikasi Nilai Dalam pendekatan ini.com). 1. orang tua tidak secara langsung menyampaikan kepada anak mengenai benar salah. meningkatkan kualitas diri manusia. baik buruk. 4. 6. 5. kelompok atau kehidupan. membina dan mengupayakan terlaksananya dunia yang diharapkan. pendekatan ini sudah banyak menuai kritik dari para pakar pendidikan. Akan tetapi pendekatan ini masih dapat digunakan. 2005:7281 adalah indoktrinasi. (www. 2.2. akan tetapi anak diberi kesempatan untuk menyampaiakan dan menyatakan nilai-nilai dengan caranya sendiri. Dalam melaksanakan pendidikan moral untuk anak usia dini dapat melalui beberapa pendekatan seperti yang diungkapkan Dwi Siswoyo. Oleh karena itu orang tua hedaknya dapat dijadikan model yang patut . Dalam pendekatan ini anak diajak untuk mendiskusikan isu-isu moral yang berkembang. Aturan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan disampaiakan secara tegas. memperkecil dan meniadakan hal-hal yang negatif. klarifikasi nilai. anneahira. Indoktrinasi Dalam kepustakaan modern. Jika anak melanggar maka ia dikenai hukuman. akan tetapi bukan berupa kekerasan. Dalam pendekatan ini orang tua diasumsikan telah memiliki nilai-nilai keutamaan yang dengan tegas dan konsisten ditanamkan kepada anak. terus menerus dan konsisten. Anak diajak untuk mengungkapkan mengapa perbuatan ini benar atau buruk.

. Dalam tahap pertama. maka hendaknya kepada anak diberikan peringatan. 2. (Hurlock. Apabila suatu saat anak tidak melakukan hal tersebut. Mereka sama sekali mengabaikan tujuan tindakannya tersebut. peerilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian.3 Perkembangan Moral Anak 2. Dalam tahap ini anak menilai tindakannya benar atau salah berdasarkan konsekuensinya dan bukan berdasarkan motivasi di belakangnya. Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral. 1998:79). dan lain-lain.3. anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Nilai-nilai moral yang ditanamkan pada anak harus senantiasa terus menerus dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan pada perilaku anak sehari-hari. Artinya tidak akan pernah tercapai tujuan pendidikan moral apabila hanya dilakukan dalam satu waktu saja. Gagasan yang kaku dan tidak luwes tentang benar salah perilaku mulai dimodifikasi. yaitu tahap pertama adalah ”tahap realisme moral” atau ”moralitas oleh pembatasan” dan tahap kedua ”tahap moralitas otonomi’ atau”moralitas kerjasama atau hubungan timbal balik”. Pembiasaan dalam perilaku Keberhasilkan pendidikan moral juga tergantung pada kontinyuitas perilaku anak. Artinya baik perilaku baik maupun akan senantiasa dilihat dan ditiru oleh anak. Dalam tahap kedua.dicontoh/ditiru oleh anak. cuci tangan secelum makan.1Tahapan Perkembangan Moral Piaget Menurut Piaget perkembangan moral terjadi dalam dua tahapan. 4. Mereka menganggap orang tua dan semua orang dewasa yang berwenang sebagai maha kuasa dan mengikuti peraturan yang diberikan pada mereka tanpa mempertanyakan kebenarannya. Tahap ini biasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun atau lebih. Anak akan melihat perilaku orang tua secara global. Misalnya berdoa sebelum makan. mengembalikan mainan ke tempatnya. Oleh karena itu hendaknya orang tua selalu memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak agar anak pun meniru perilaku-perilaku yang baik.

3. anak menyesuaian terhadap harapan sosial untuk memperoleh penghargaan. panutan. Dalam tahap pertama tingkat ini anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman. Peran keluarga dalam pendidikan nilai adalah mendukung terjadinya proses identifikasi.2 Tahap Perkembangan Moral Kohlberg Kohlberg mengemukakan ada tiga tahap perkembangan moral. yaitu: 1. dan moralitas suatu tindakan pada akibat fisiknya. mereka harus berbuat sesuai dengan peraturan itu agar terhinfdar dari kecaman dan ketidaksetujuan sosial. dan reproduksi langsung . Tingkat moralitas pasca konvensional Dalam tahap pertama tingkat ini anak yaki bahwa harus ada keluwesan dalam keyakinan-keyakinan moral yang memungkinkan modifikasi dan perubahan standar moral.4 Peran Keluarga Untuk Menanamkan Nilai Moral Bagi Anak Usia Dini Keberhasilan pendidikan moral bagi anak usia dini sangat bergantung pada tiga lingkungan pendidikan yaitu keluarga. internalisasi. Tingkat moralitas konvensional Dalam tahap pertama tingkat ini anak menyesuaiakan dengan peraturan untuk endapat persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan mereka. 2. Dalam tahap kedua tingkat ini . lingkungan keluarga merupakan faktor dominan yang efektif dan terpenting. Di antara ketiga lingkungan pendidkan tersebut menurut pendapat Dobbert dan Winkler (1985). 2. dan masyarakat. 3. orang menyesuaiakan dengan standar sosial dan cita-cita internal terutama untuk menghindari rasa tidak puas demngan diri sendiri dan bukan untuk menghindari kecaman sosial. Tingkat moralitas prakonvensional Pada tahap ini perilaku anak tunduk pada kendali eksternal.2. Pada tahap kedua tingkat ini. Dalam tahap kedua tingkat ini anak yakin bahwa bila kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai bagi seluruh anggota kelompok. sekolah.

com). . sopan sdantun. anneahira. budi pekerti. sikap. rasa aman. Di dalam keluarga anak memperoleh banyak pengalaman dan stimulus untuk tumbuh dan berkembang. Peran orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan. Dengan melihat perilaku orang dewasa di dalam lingkungan keluarga dimana anak tinggal. Keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi anak sejak anak dilahirkan. anak akan memperhatikan perilaku tersebut. Anak perlu mendapat pendampingan dalam perkembangan nilai moral. tetapi juga berupaya agar anak dapat belajar tentang penerapan dari konsep-kpnsep moral tersebut dari perilaku anggota keluarga sehari-hari. Peristiwa sehari-hari bisa dijadikan sebagai alat bagi orang tua untuk menginternalisasikan nilai moral kepada anak. Dalam upaya menjalankan perannya dalam pendidikan moral untuk anak usia dini lingkungan keluarga harus mampu menciptakan suasana yang kondusif untuk pembelajaran nilai moral bagi anak. Peran orang tua di dalam keluarga bagi perkembangan moral anak sangatlah besar. Peran utama orang tua dalam pendampingan ini sangatlah besar. istri dan anak-anak. Dengan demikian keluarga merupakan tempat yang sangat efektif untuk menginternalisasikan nilai moral kepada anak. Orang tua pada saat menginternalisasikan nilai moral kepada anak di dalam keluarga harus memperhatikan beberapa hal. (www. nilai yang ditanamkan harus jelas. Keluarga merupakan sebuah kelompok yang terbentuk dari hubungan antara laki-laki dan perempuan yang berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak. Jadi keluarga dalam bentuk murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari suami. Artinya bahwa dalam menyampaikan nilai moral kepada anak harus menggunakan bahasa sederhana yang dapat diterima oleh anak. dasar-dasar untuk mematuhi peraturan. seperti agama. estetika. dan keterampilan dasar. Pengaruh keluarga terhadap perkembangan moral anak sangatlah besar.dari nilai-nilai moral yang hendak ditanamkan sebagai pola orientasi dari kehidupan keluarga. Artinya bahwa keluarga tidak hanya memberikan konsep-konsep moral secara abstrak. Pertama. dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. kasih saying. kemudian menirunya dalam jangka waktu tertentu. Keluarga menurut Ahmadi seperti dikutip Fitria Susanti dan Novita (2009) adalah kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Peranan keluarga adalah mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai.

Mengapa? Karena jika sudah berselang lama. maka ia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya tersebut. Jika konsep yang diterima anak kurang jelas. maka bapak pun harus berkata demikian. maka ia juga cenderung akan sering berbohong kepada orang lain. Artinya bahwa ketika anak berperilaku negative. Artinya bahwa dalam suatu waktu perilaku anak sianggap salah. maka sanksi yang diberikan orang tua bukanlah dengan mencubit. Jika anak sering dibohongi di rumah. Anak cenderung belum mampu menguasai bahasa yang kompleks. jika ia bersalah maka akan diberi sanksi. konsisten atau ajeg. Dengan demikian anak akan lebih mudah mengingat di masa yang akan datang. Jika terpaksa harus memberikan sanksi. Hal ini terkait dengan kemampuan berpikir nak yang masih terbatas. maka hindarilah sanksi yang bersifat fisik. Peringatan yang diberikan harus sesegera mungkin sejak anak berperilaku negative. Konsisten antara kedua orang tua dan anggota keluarga yang ada di rumah sangat penting dalam menunjang keberhasilan penanaman nilai moral kepada anak. Penting diingat bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang sangat mudah untuk meniru perilaku orang lain yang dilihatnya. Jika suatu tindakan dinyatakan salah oleh ibu misalnya. anak akan sulit menghubungkan antara perilaku negatifnya dengan peringatan dari orang tua. Dengan cara apa? Berikan sanksi seketika setelah anak melakukan kesalahan. Keteladanan dari orang tua sangat berperan demi keberhasilan penanaman nilai moral untuk anak usia dini di lingkungan keluarga. Ketiga. Sanksi yang diberikan kepada anak dapat berupa penghentian . konsekuensi. kemudian diberi peringatan. Jika anak bersalah. Sehingga tidak ada persepsi anak bahwa ia akan memperoleh “perlindungan” dari salah satu orang tuanya jika ia salah. Keempat. maka dalam waktu yang lain jika anak kembali berperilaku negative juga harus diberikan peringatan. atau menyakiti badan lainnya. Apalagi terkait dengan konsep nilai moral yang sangat abstrak. Kecuali harus konsisten. dalam pendidikan moral di lingkungan keluarga diperlukan adanya keajegan. maka nilai moral yang diinternalisasikan oleh orang tua tidak akan diterima oleh anak dengan optimal. Kedua. Anak-anak dibiasakan untuk memilih konsekuensi terhadap apa yang dilakukan.Mengingat anak usia dini perkembangan bahasanya masih cukup sederhana. memukul. teladan. Dengan demikian perilaku orang tua di rumah harus senantiasa menunjukkan perilaku yang positif dari sisi nilai moral.

masyarakat dan orang tua. Masa ini juga masa yang paling penting dalam masa perkembangan anak. Oleh sebab itu.di sekolah guru sering memberikan tekanan (preasure) tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Moral merupakan penting untuk mengembangkan pemahaman akan agama atau kepercayaaan terhadap anak. Banyak berita tentang tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh anak – . di berbagai media cetak/elektronika ekstrim. Masa perkembangan yang penting bagi anak ini. perlunya penanaman pendidikan moral sejak usia dini. Masalah moral merupakan masalah yang sekarang ini sangat banyak tekanan ini lebih tidakterbatas lagi. Tokoh pendidikan anak usia dini.sementara aktivitas yang disenangi anak sebagai konsekuensi dari perilaku anak yang negative.5 Pengaruh Media Terhadap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. anak harus diperlakukan sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. tidak orang sesuai tua dengan sering tingkat Banyak contoh yang menunjukkan betapa para orang tua dan masyarakat pada perkembangananya. baik secara fisik. Montessori dalam Rini Hildayani (2005 . Berdasarkan uraian-uraian di atas tersebut jelaslah bahwa peran keluarga dalam menanamkan nilai kepada anak sangat besar. 12. 2. kita hendaknya ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri.1) mengatakan bahwa ketika mendidik anak-anak. bahkan cenderung meminta perhatian terutama bagi para pendidik. ulama. umumnya memperlakukan anak keluarga tidak selalu demikian yang terjadi.Didalam memaksakan Keinginannya sesuai kehendaknya. mental maupun spritual. Hanya saja. dalam praktik pendidikan sehari-hari. Tugas kita sebagai orang dewasa dan pendidik adalah memberikan sarana dorongan belajar dan memfasilitasinya ketika mereka telah siap untuk mempelajari sesuatu. Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa-masa yang sangat baik untuk suatu formasio atau pembentukan. Peran keluarga dalam memberikan stimulasi untuk perkembangan moral anak harus tepat dan optimal.

2006. dkk (1980) mengatakan bahwa moral adalah hal – hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. Insan sudah tidak lagi cerdas membedakan mana yang baik dan benar. baik media cetak maupun media elektronik.83) mengatakan bahwa seseorang yang bermoral dengan sendirinya akan tampak dalam penilaian atau penalaran moralnya serta pada perilakunya yang baik. yang sampai saat ini belum satupun suami istri. beberapa diberitakan di berbagai media. kasus diantaranya warga negara indonesia. Tokan (dalam Budiningsih. dieksekusi. idealnya penalaran moral sendiri yang bisa . Menurut Baron. terdapat 25 terpidana mati beberapa daerah yang narkoba. hal ini akan berpengaruh terhadap penyimpangan seksual. hal – hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. sehingga dapat dinilai suatu tindakan tersebut baik atau buruk. birokrat sampai anak pejabat. Perbuatan salah dianggap benar. Dari rentang waktu 15 Februari 2003 sampai dengan 9 Juni 2004 sudah tercatat 11 kali bocah berusia 11 sampai 15 tahun bunuh diri. yaitu sejak masih anak – anak dengan menanamkan nilai – nilai moral. Jiwa anak yang kosong diperburuk dengan tontonan kekerasan yang vulgar di televisi merupakan inspirasi untuk keluar dari tekanan. mahasiswa. Tahap penalaran moral remaja dapat dimulai sejak dini. banyak yang sudah bisa mengkonsumsi barang haram ini.anak maupun orang dewasa. Anak sekolah. 11 Juni 2008). seperti yang terjadi di Sebagai contoh. Seseorang dikatakan bermoral jika memiliki kesadaran moral. Majalah porno bahkan sekarang melalui hp terdapat video porno yang disebarluaskan dengan mudah dan anak – anak sampai orang dewasa dapat melihatnya. Mengacu pada teori perkembangan penalaran Kohlberg. serta hal – hal yang etis dan tidak etis.75) menjelaskan bahwa penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan dari pada sekedar arti suatu tindakan. yaitu dapat menilai hal yang baik dan buruk. kebenaran semakin jauh dari genggaman. benar dan sesuai dengan etika. Setiono (1994. Artinya ada kesatuan antara penalaran moral dengan perilaku moralnya. sehingga akan merusak moral. standar kebenaran dan standar moral telah tereliminasi. (Republika. Melihat fenomena ini. banyak sudah kehilangan akal sehatnya.

dalam berbagai aspek kehidupan. anak akan bergaul dengan moral masyarakat dan sekolah. bahkan tidak tertutup terjadi degradasi (Pikiran Rakyat. Keluarga bertanggung jawab terhadap pendidikan anggotanya dengan menanamkan pendidikan moral di usia sedini mungkin.123) dipengaruhi oleh 2 faktor. seorang anak bergerak ke tingkat perkembangan penalaran moral yang lebih tinggi. Faktor pembawaan terkait dengan perkembangan kecerdasan anak dengan berubahnya kemampuan menangkap dan mengerti. . 1991. maka standar moral yang telah dibangun akan mengalami stagnan. Lebih lanjut Martani (dalam Pratidarmanastiti. Bila masyarakat dan sekolah tidak memiliki komitmen dalam memberdayakan moral. Selanjutnya Yusuf (2003. karena hal ini akan mewarnai karakter dan kepribadian pada usia selanjutnya. Anak akan menduplikasi yang dirasa. karena mereka belum dapat mengembangkan hati nurani. Dengan kata lain bahwa individu yang mempunyai latar belakang budaya tertentu dapat berbeda perkembangan moralnya dengan individu lain yang berasal dari kebudayaan lain. sebaiknya orang tua atau guru melakukan upaya – upaya sebagai berikut : 1. seperti memelihara kebersihan atau kesehatan dan tata krama atau berbudi pekerti luhur. 15 Juli 2008). Memberikan contoh atau teladan yang baik. Perkembangan penalaran moral anak menurut Harlock (1992. yaitu orang tua yang merupakan pendidikan awal bagi anak dalam penanaman nilai moral.88) mengemukakan bahwa dalam rangka membimbing perkembangan penalaran moral anak prasekolah dan anak sekolah. lingkungan sebaya yaitu interaksi dengan teman sebaya dalam berbagai pengalaman yang ada.64) mengemukakan bahwa perkembangan penalaran moral juga dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Setelah dasar moral terpatri. dalam berperilaku/bertutur kata. 2. yaitu pembawaan (heredity) dan faktor lingkungan. Anak membutuhkan bimbingan dan teladan. Menanamkan kedislipinan kepada anak. Sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan keluarga. Kebudayaan akan mempengaruhi cepat lambatnya pencapaian tahap – tahap perkembangan moral dan juga mempengaruhi batas tahap perkembangan yang dicapai.sama atau berbeda dengan sistem moral masyarakat. dilihat dan didengarnya.

Doraemon. kedermawanan. 2003 : 10). dongeng binatang yang mengisahkan tentang nilai – nilai kejujuran. kedermawanan. dunia binatang yang mengisahkan tentang nilai– nilai kejujuran. Selama ini anak kita memang terlalu di didik oleh dongeng fantasi yang bebas nilai. 2003. Nilai – nilai yang mereka bisa membedakan yang baik dan yang benar serta bagaimana mereka bisa bersikap. Mengembangkan wawasan tentang nilai – nilai moral kepada anak. Telah dikemukakan diatas bahwa salah satu upaya dalam membimbing perkembangan penalaran moral anak adalah mengembangkan wawasan tentang nilai – nilai moral. Dragonball.3. Mendongeng memberikan rangsangan terhadap otak anak sehingga bisa mempengaruhi perkembangan anak baik secara kognitif. melalui pemberian informasi atau melalui cerita atau dongeng seperti cerita riwayat orang baik (para Nabi dan Pahlawan).77) mendongeng adalah cara paling praktis untuk menanamkan nilai – nilai kepada anak. Setiono (2004: 67) menjelaskan bahwa orang jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh . afektif maupun psikomotorik. lewat dongeng selain bisa menimbulkan imajinasi anak. Avatar. merangsang anak bersikap aktif dan menjadikan anak suka membaca. Shincan dan sejenisnya sebagai idola. Dongeng mempunyai manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhan mental anak. Dongeng merupakan metode yang tepat dan penyampaianya tidak disadari oleh anak (Taufik. Power Rangers. Menurut Mulyadi (dalam Taufik. baik melalui pemberian informasi atau melalui cerita atau dongeng seperti cerita riwayat orang – orang baik (para Nabi & Pahlawan). Bagaimana dengan dongeng budaya yang berisi cerita pewayangan seperti kisah Ramayana atau Mahabharata yang sarat sekali akan nilai – nilai moral dan budaya. juga bisa mendidik anak mengenal hal baik dan buruk. kesetiakawanan atau kerajinan maupun cerita pewayangan seperti kisah Ramayana dan Mahabharata. mereka menjadikan Naruto. Dongeng merupakan sarana dalam membimbing dan mengembangkan wawasan tentang nilai – nilai moral anak pada anak. kesetiakawanan atau kerajinan maupun cerita pewayangan. mungkin jarang atau bahkan anak – anak sekarang tidak mengenal sama sekali tokoh pewayangan tersebut. karena nilai – nilai yang terkandung dalam dongeng tersebut dengan cepat akan diserap otak anak yang membekas sampai mereka dewasa. sehingga anakpun tumbuh menjadi pribadi yang tidak terkontrol nilai – nilai pendidikanya.

Berdasarkan uraian diatas. wayang bagi simbolisme pandangan hidup mengenahi hal – hal kehidupan yang tertuang dalam dialog di alur cerita yang ditampilkan. Mendongeng adalah cara paling praktis untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak karena nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng tersebut dengan cepat akan diserap otak anak yang membekas sampai mereka dewasa. Selain sebagai alat komunikasi yang ampuh orang jawa merupakan serta sarana memahami kehidupan. peneliti tertarik untuk mengadakan Dongeng merupakan sarana dalam membimbing dan mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral pada anak. Sehingga anak-anak bisa membedakan yang baik dan benar serta bagaimana mereka bisa bersikap.hati sanubari dan menggetarkan jiwa yaitu seni pewayangan. afektif maupun psikomotorik. . Mendongeng memberikan rangsangan terhadap otak anak sehingga bisa mempengaruhi perkembangan anak baik secara kognitif.

html) . yaitu Pertama.BAB III PENUTUP Peran keluarga dalam penanaman nilai moral anak usia dini sangatlah besar. Keempat. Kedua.php/buletin-istiqomah/52-buletin-desember2009/163-menanamkan-kepekaan-sosial-pada-anak. Harus ada konsistensi atau keajegan.adanya keteladanan dari orang tua. adanya sikap konsekuensi terhadap aturan yang diberlakukan. Dalam rangka penanaman nilai moral pada anak usia dini di dalam keluarga ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan anak. Figur yang ditunjukkan oleh anggota keluarga dalam bentuk perilaku sehari-hari akan diamati oleh anak. DAFTAR PUSTAKA (http://paistiqomah. nilai yang ditanamkan harus jelas. dan kemudian diikuti dan ditiru oleh anak.com/index. Dengan demikian orang tua dalam keluarga sebisa mungkin harus mencontohkan perilaku yang positif kepada anak. Ketiga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful