“Media dan Perkembangan Moral Agama Anak Usia Dini”

TUGAS INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS PADA MATA KULIAH “PERKEMBANGAN ANAK 2”

DI SUSUN OLEH :

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Henny Fitriyanti Nining Wisanti Ulya Rachmi Ratna Wahyuningsih Ade Sholihat Resti Purwitasari

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BANI SALEH BEKASI

2011 .

Stimulasi untuk perkembangan sel-sel otak ini dapat diberikan salah satunya melalui pendidikan. ketika dewasa akan mengalami kesulitan untuk mempercayai orang lain.. Penelitian membuktikan bahwa sejak lahir seorang anak manusia memiliki kurang lebih 100 miliyar sel otak. yang menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar nak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14). Atas dasar pertimbangan hal di atas. diharapkan pada tahap perkembangan . Di era globalisasi seperti sekarang ini tidak menutup kemungkinan anak akan dengan mudah mendapat informasi dari luar melalui media apapun. Demikian pula jika di masa kecil anak sering diejek.BAB I PENDAHULUAN Anak merupakan investasi masa depan yang harus dikembangkan secara optimal. Sel-sel otak ini tidak akan tumbuh dan berkembang dengan pesat tanpa adanya stimulasi dan didayagunakan (Gutama. tawuran dan tindakan-tindakan lain yang tidak sesuai dengan nilai moral yang ada. Seperti yang sering kita lihat sekarang ini di media masa sering diberitakan tentang perkelaihan. Dengan diberikannya pendidikan nilai dan moral sejak usia dini. 2005: 3). Anak yang dibesarkan dalam suasana yang curiga mencurigai misalnya.dkk. Pentingnya pendidikan anak sejak usia dini juga didasarkan pada UU No. Pendidikan anak usia dini sangatlah penting. maka bagi anak perlu dibekali pengetahuan tentang nilai moral yang baik. Berdasarkan hal-hal tersebut maka jelaslah bahwa pendidikan sejak usia dini sanggatlah penting. 20 Tahun 2003 tentang Sistem sistem Pendidikan Nasional. Kualitas watak anak sejak kecil akan mewarnai watak seseorang di kemudian hari. Yang pernting diingat bahwa tidak semua informaasi yang diperoleh anak dari luar merupakan informasi yang baik dan tepat untuk perkembangan anak. Bila di masa kecilnya anak sering dipukuli. besar kemungkinan ketika besar akanmenjadi pendendam. maka ketika dewasa akan sulit menghargai orang lain.

Di dalam keluarga ini anak-anak akan banyak mendapatkan pengalaman untuk tumbuh dan berkembang demi masa depannya. diikuti dengan perbaikan sikap. Pendidikan anak dilakukan pada tiga lingkungan pendidikan. anak akan menunjukkan prestasi belajar. sejak anak dilahirkan. sekolah dan masyarakat. Anak-anak diharapkan akan lebih mudah menyaring perbuatan mana yang perlu diikuti dan perbuatan mana yang harus dihindari. (Maemunah Hasan. Di dalam keluarga orang tua dapat memberikan contoh perilaku yang kelak akan ditiru oleh anak. yaitu keluarga.selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk. 2009:20). stabilitas sosioemosional. kedisiplinan. Keluarga merupakan tempat yang efektif untuk membelajarkan nilai moral kepada anak. bahkan setelah bekerja dan berumah tangga. benar salah. serta aspirasi anak untuk belajar samapai perguruan tinggi. sehingga ia dapat menerapkannya dalam kegidupan sehari-harinya. . Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua berperan dalam pendidikan. Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan anak.

kecerdasan emosi.1 Pendidikan Anak Usia Dini Dalam UU No. bahasa dan komunikasdi. 2009:16). Pendidikan anak usia dini. (Maemunah Hasan. khususnya Taman Kanak-Kanak telah diselenggarakan sejak lama. Di sekolah ini anak-anak usia 4-5 tahun atau 6 tahun mendapat tempat untuk mengembangkan potensinya dalam berbagai bentuk kegiatan. Menurut I Wayan Koyan (2000 :12). masyarakat dan pemerintah. nilai adalah segala sesuatu yang berharga. daya cipta. Pendidikan anak usia dini memerlukan perhatian yang sangat penting dari orang tua. yang disesuaikan dengan keuunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. kecerdasan spiritual) Sosioemosional (sikap dan perilaku serta agama).2 Pendidikan Nilai Moral Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Purwodarminto dinyatakan bahwa nilai adalah harga. hal-hal yang berguna bagi manusia. Nilai ideal adalah nilai- . ahli pendidikan. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke beberapa arah berikut: 1.BAB II Media dan Perkembangan Moral Agama Anak Usia Dini 2. 23 Tahun 2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujuak untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar nak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14). Menurutnya ada dua nilai yaitu nilai ideal dan nilai aktual. 2. Kecerdasan (daya pikir. Pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar) 2. yaitu sejak awal kemerdekaan.

yakni nilai hakiki yang berlaku sepanjang masa secara universal. akhlak (K. Hal ini mengingat bahwa dalam berinteraksi dengan orang lain tidak hanya menuntut kecerdasan orang secara kognitif. Kohlberg mengklasifikasikan nilai menjadi dua. membina dan menanamkan nilai moral dan norma. isi dan corak tertentu sesuai dengan waktu.Prent. and meaning”. Nilai obyektif atau nilai universal yaitu nilai yang bersifat instrinsik.nilai yang menjadi cita-cita setiap orang. Pendidikan moral bertujuan pada pembentukan sikap dan perilaku seseorang agar dapat bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang berlaku di lingkungan sosialnya. watak. Sebaliknya jika perilaku individu itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. dari suku kata mos yang artinya adat istiadat. yang susila (Amin Suyitni. tempat dan budaya kelompok masyarakat tertentu. Menurut Richard Merill dalam I Wayan Koyan (2000 : 13) menyatakan bahwa nilai dalah patokan atau standar yang dapat membimbing seseorang atau kelompok ke arah ”satisfication. dalam Soenarjati 1989 : 25). Adapaun nilai subyektif yaitu nilai yang sudah memiliki warna. Seorang individu dapat dikatakan baik secara moral apabila bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang ada. Dari pengertian itu dikatakan bahwa moral adalah berkenaan dengan kesusilaan. keindahan dan keadilan. Oleh karena itu adanya pendidikan moral akan menentukan mudah tidaknya seseorang dapat diterima di dalam lingkungan sosialnya. kelakuan. Adapun pengertian moral berasal dari bahasa latin mores. akan tetapi diperlukan kecerdasan afektif dan psikomotor. Sasaran pendidikan moral adalah sebagai berikut: 1. maka ia akan dikatakan jelek secara moral. yaitu nilai obyektif dan nilai subyektif. Dalam perkembangannya moral diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik. Pendidikan moral penting diberikan kepada anak sejak usia dini. sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. tabiat. et al dalam Soenarjati 1989 : 25). Kecerdasan afektif dapat dikembangkan melalui pendidikan moral. fulfillment. . Termasuk dalam nilai universal ini antara lain hakikat kebenaran. Adanya pendidikan moral bukanlah tanpa tujuan.

meningkatkan kualitas diri manusia. Dalam melaksanakan pendidikan moral untuk anak usia dini dapat melalui beberapa pendekatan seperti yang diungkapkan Dwi Siswoyo. klarifikasi nilai. 2005:7281 adalah indoktrinasi.2. Teladan atau contoh Anak usia dini mempunyai kemampuan yang menonjol dalam hal meniru. 6. baik buruk. kelompok atau kehidupan. Akan tetapi pendekatan ini masih dapat digunakan. memperkecil dan meniadakan hal-hal yang negatif. Jika anak melanggar maka ia dikenai hukuman. meningkatkan dan memperluas tatanan nilai keyakinan seseorang atau kelompok. dan pembiasaan dalam perilaku. Aturan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan disampaiakan secara tegas.com). melakukan klarifikasi nilai intrinsik dari suatu nilai moral dan norma dan kehidupan secara umum. 3. teladan atau contoh. Indoktrinasi Dalam kepustakaan modern. dkk (2005:72-81) sebagai berikut: Adapun beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penanaman nilai moral pada anak usia dini menurut Dwi Siswoyo dkk. anneahira. 3. Klarifikasi Nilai Dalam pendekatan ini. Oleh karena itu orang tua hedaknya dapat dijadikan model yang patut . 4. Dalam pendekatan ini anak diajak untuk mendiskusikan isu-isu moral yang berkembang. 5. pendekatan ini sudah banyak menuai kritik dari para pakar pendidikan. 1. terus menerus dan konsisten. (www. menangkal. membina dan mengupayakan terlaksananya dunia yang diharapkan. orang tua tidak secara langsung menyampaikan kepada anak mengenai benar salah. Anak diajak untuk mengungkapkan mengapa perbuatan ini benar atau buruk. akan tetapi bukan berupa kekerasan. Dalam pendekatan ini orang tua diasumsikan telah memiliki nilai-nilai keutamaan yang dengan tegas dan konsisten ditanamkan kepada anak. akan tetapi anak diberi kesempatan untuk menyampaiakan dan menyatakan nilai-nilai dengan caranya sendiri. 2.

Tahap ini biasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun atau lebih. maka hendaknya kepada anak diberikan peringatan. peerilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian. Dalam tahap pertama. (Hurlock. 4. Artinya tidak akan pernah tercapai tujuan pendidikan moral apabila hanya dilakukan dalam satu waktu saja. Dalam tahap ini anak menilai tindakannya benar atau salah berdasarkan konsekuensinya dan bukan berdasarkan motivasi di belakangnya. Gagasan yang kaku dan tidak luwes tentang benar salah perilaku mulai dimodifikasi. Pembiasaan dalam perilaku Keberhasilkan pendidikan moral juga tergantung pada kontinyuitas perilaku anak. 2. Artinya baik perilaku baik maupun akan senantiasa dilihat dan ditiru oleh anak. 1998:79). anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. . Nilai-nilai moral yang ditanamkan pada anak harus senantiasa terus menerus dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan pada perilaku anak sehari-hari. yaitu tahap pertama adalah ”tahap realisme moral” atau ”moralitas oleh pembatasan” dan tahap kedua ”tahap moralitas otonomi’ atau”moralitas kerjasama atau hubungan timbal balik”. Oleh karena itu hendaknya orang tua selalu memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak agar anak pun meniru perilaku-perilaku yang baik.3. mengembalikan mainan ke tempatnya. Apabila suatu saat anak tidak melakukan hal tersebut. Anak akan melihat perilaku orang tua secara global. Misalnya berdoa sebelum makan. Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral.1Tahapan Perkembangan Moral Piaget Menurut Piaget perkembangan moral terjadi dalam dua tahapan. dan lain-lain. Mereka menganggap orang tua dan semua orang dewasa yang berwenang sebagai maha kuasa dan mengikuti peraturan yang diberikan pada mereka tanpa mempertanyakan kebenarannya.dicontoh/ditiru oleh anak. Dalam tahap kedua.3 Perkembangan Moral Anak 2. Mereka sama sekali mengabaikan tujuan tindakannya tersebut. cuci tangan secelum makan.

internalisasi. panutan.3. Peran keluarga dalam pendidikan nilai adalah mendukung terjadinya proses identifikasi. Dalam tahap pertama tingkat ini anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman. 2. Dalam tahap kedua tingkat ini anak yakin bahwa bila kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai bagi seluruh anggota kelompok. lingkungan keluarga merupakan faktor dominan yang efektif dan terpenting. Di antara ketiga lingkungan pendidkan tersebut menurut pendapat Dobbert dan Winkler (1985). dan moralitas suatu tindakan pada akibat fisiknya. 3. mereka harus berbuat sesuai dengan peraturan itu agar terhinfdar dari kecaman dan ketidaksetujuan sosial. Tingkat moralitas pasca konvensional Dalam tahap pertama tingkat ini anak yaki bahwa harus ada keluwesan dalam keyakinan-keyakinan moral yang memungkinkan modifikasi dan perubahan standar moral.4 Peran Keluarga Untuk Menanamkan Nilai Moral Bagi Anak Usia Dini Keberhasilan pendidikan moral bagi anak usia dini sangat bergantung pada tiga lingkungan pendidikan yaitu keluarga. yaitu: 1.2. dan masyarakat. Dalam tahap kedua tingkat ini . Tingkat moralitas prakonvensional Pada tahap ini perilaku anak tunduk pada kendali eksternal.2 Tahap Perkembangan Moral Kohlberg Kohlberg mengemukakan ada tiga tahap perkembangan moral. 2. sekolah. dan reproduksi langsung . Tingkat moralitas konvensional Dalam tahap pertama tingkat ini anak menyesuaiakan dengan peraturan untuk endapat persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan mereka. anak menyesuaian terhadap harapan sosial untuk memperoleh penghargaan. orang menyesuaiakan dengan standar sosial dan cita-cita internal terutama untuk menghindari rasa tidak puas demngan diri sendiri dan bukan untuk menghindari kecaman sosial. Pada tahap kedua tingkat ini.

rasa aman. Keluarga menurut Ahmadi seperti dikutip Fitria Susanti dan Novita (2009) adalah kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat.dari nilai-nilai moral yang hendak ditanamkan sebagai pola orientasi dari kehidupan keluarga. nilai yang ditanamkan harus jelas. kemudian menirunya dalam jangka waktu tertentu. budi pekerti. Peranan keluarga adalah mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai. dan keterampilan dasar. Keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi anak sejak anak dilahirkan. Dalam upaya menjalankan perannya dalam pendidikan moral untuk anak usia dini lingkungan keluarga harus mampu menciptakan suasana yang kondusif untuk pembelajaran nilai moral bagi anak. Peristiwa sehari-hari bisa dijadikan sebagai alat bagi orang tua untuk menginternalisasikan nilai moral kepada anak. Anak perlu mendapat pendampingan dalam perkembangan nilai moral. (www. sikap. anak akan memperhatikan perilaku tersebut. Artinya bahwa dalam menyampaikan nilai moral kepada anak harus menggunakan bahasa sederhana yang dapat diterima oleh anak. . Pertama. dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. sopan sdantun. Di dalam keluarga anak memperoleh banyak pengalaman dan stimulus untuk tumbuh dan berkembang.com). estetika. Dengan melihat perilaku orang dewasa di dalam lingkungan keluarga dimana anak tinggal. dasar-dasar untuk mematuhi peraturan. Jadi keluarga dalam bentuk murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari suami. Keluarga merupakan sebuah kelompok yang terbentuk dari hubungan antara laki-laki dan perempuan yang berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak. Dengan demikian keluarga merupakan tempat yang sangat efektif untuk menginternalisasikan nilai moral kepada anak. Peran orang tua di dalam keluarga bagi perkembangan moral anak sangatlah besar. Peran utama orang tua dalam pendampingan ini sangatlah besar. seperti agama. istri dan anak-anak. tetapi juga berupaya agar anak dapat belajar tentang penerapan dari konsep-kpnsep moral tersebut dari perilaku anggota keluarga sehari-hari. kasih saying. Artinya bahwa keluarga tidak hanya memberikan konsep-konsep moral secara abstrak. Orang tua pada saat menginternalisasikan nilai moral kepada anak di dalam keluarga harus memperhatikan beberapa hal. Peran orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan. Pengaruh keluarga terhadap perkembangan moral anak sangatlah besar. anneahira.

Artinya bahwa ketika anak berperilaku negative. Dengan demikian perilaku orang tua di rumah harus senantiasa menunjukkan perilaku yang positif dari sisi nilai moral. maka ia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya tersebut. maka hindarilah sanksi yang bersifat fisik. teladan. maka ia juga cenderung akan sering berbohong kepada orang lain. anak akan sulit menghubungkan antara perilaku negatifnya dengan peringatan dari orang tua. Mengapa? Karena jika sudah berselang lama. memukul. jika ia bersalah maka akan diberi sanksi. Jika anak sering dibohongi di rumah. maka bapak pun harus berkata demikian. Hal ini terkait dengan kemampuan berpikir nak yang masih terbatas. kemudian diberi peringatan. Keempat. Sanksi yang diberikan kepada anak dapat berupa penghentian . Konsisten antara kedua orang tua dan anggota keluarga yang ada di rumah sangat penting dalam menunjang keberhasilan penanaman nilai moral kepada anak. konsisten atau ajeg. Sehingga tidak ada persepsi anak bahwa ia akan memperoleh “perlindungan” dari salah satu orang tuanya jika ia salah. Apalagi terkait dengan konsep nilai moral yang sangat abstrak. Anak cenderung belum mampu menguasai bahasa yang kompleks. Anak-anak dibiasakan untuk memilih konsekuensi terhadap apa yang dilakukan. Kecuali harus konsisten. Kedua. konsekuensi. Keteladanan dari orang tua sangat berperan demi keberhasilan penanaman nilai moral untuk anak usia dini di lingkungan keluarga. maka dalam waktu yang lain jika anak kembali berperilaku negative juga harus diberikan peringatan. Jika konsep yang diterima anak kurang jelas. Jika anak bersalah. Ketiga. Jika terpaksa harus memberikan sanksi. atau menyakiti badan lainnya. Artinya bahwa dalam suatu waktu perilaku anak sianggap salah. maka nilai moral yang diinternalisasikan oleh orang tua tidak akan diterima oleh anak dengan optimal. maka sanksi yang diberikan orang tua bukanlah dengan mencubit. dalam pendidikan moral di lingkungan keluarga diperlukan adanya keajegan.Mengingat anak usia dini perkembangan bahasanya masih cukup sederhana. Dengan demikian anak akan lebih mudah mengingat di masa yang akan datang. Penting diingat bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang sangat mudah untuk meniru perilaku orang lain yang dilihatnya. Dengan cara apa? Berikan sanksi seketika setelah anak melakukan kesalahan. Jika suatu tindakan dinyatakan salah oleh ibu misalnya. Peringatan yang diberikan harus sesegera mungkin sejak anak berperilaku negative.

Masa perkembangan yang penting bagi anak ini. Moral merupakan penting untuk mengembangkan pemahaman akan agama atau kepercayaaan terhadap anak. Oleh sebab itu. ulama. di berbagai media cetak/elektronika ekstrim. Masa ini juga masa yang paling penting dalam masa perkembangan anak. 2. 12. bahkan cenderung meminta perhatian terutama bagi para pendidik. kita hendaknya ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri.Didalam memaksakan Keinginannya sesuai kehendaknya.di sekolah guru sering memberikan tekanan (preasure) tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tugas kita sebagai orang dewasa dan pendidik adalah memberikan sarana dorongan belajar dan memfasilitasinya ketika mereka telah siap untuk mempelajari sesuatu.sementara aktivitas yang disenangi anak sebagai konsekuensi dari perilaku anak yang negative. tidak orang sesuai tua dengan sering tingkat Banyak contoh yang menunjukkan betapa para orang tua dan masyarakat pada perkembangananya. dalam praktik pendidikan sehari-hari. perlunya penanaman pendidikan moral sejak usia dini. baik secara fisik. masyarakat dan orang tua. anak harus diperlakukan sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. umumnya memperlakukan anak keluarga tidak selalu demikian yang terjadi. Hanya saja.1) mengatakan bahwa ketika mendidik anak-anak. Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa-masa yang sangat baik untuk suatu formasio atau pembentukan. Peran keluarga dalam memberikan stimulasi untuk perkembangan moral anak harus tepat dan optimal. Montessori dalam Rini Hildayani (2005 . mental maupun spritual. Banyak berita tentang tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh anak – . Masalah moral merupakan masalah yang sekarang ini sangat banyak tekanan ini lebih tidakterbatas lagi.5 Pengaruh Media Terhadap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Berdasarkan uraian-uraian di atas tersebut jelaslah bahwa peran keluarga dalam menanamkan nilai kepada anak sangat besar. Tokoh pendidikan anak usia dini.

Tahap penalaran moral remaja dapat dimulai sejak dini. Perbuatan salah dianggap benar. Jiwa anak yang kosong diperburuk dengan tontonan kekerasan yang vulgar di televisi merupakan inspirasi untuk keluar dari tekanan. Majalah porno bahkan sekarang melalui hp terdapat video porno yang disebarluaskan dengan mudah dan anak – anak sampai orang dewasa dapat melihatnya. yaitu sejak masih anak – anak dengan menanamkan nilai – nilai moral. banyak sudah kehilangan akal sehatnya.anak maupun orang dewasa. Menurut Baron.83) mengatakan bahwa seseorang yang bermoral dengan sendirinya akan tampak dalam penilaian atau penalaran moralnya serta pada perilakunya yang baik. mahasiswa. Seseorang dikatakan bermoral jika memiliki kesadaran moral. kebenaran semakin jauh dari genggaman. serta hal – hal yang etis dan tidak etis. terdapat 25 terpidana mati beberapa daerah yang narkoba. seperti yang terjadi di Sebagai contoh. banyak yang sudah bisa mengkonsumsi barang haram ini.75) menjelaskan bahwa penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan dari pada sekedar arti suatu tindakan. birokrat sampai anak pejabat. dieksekusi. hal – hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Dari rentang waktu 15 Februari 2003 sampai dengan 9 Juni 2004 sudah tercatat 11 kali bocah berusia 11 sampai 15 tahun bunuh diri. beberapa diberitakan di berbagai media. hal ini akan berpengaruh terhadap penyimpangan seksual. Setiono (1994. Insan sudah tidak lagi cerdas membedakan mana yang baik dan benar. sehingga dapat dinilai suatu tindakan tersebut baik atau buruk. benar dan sesuai dengan etika. Anak sekolah. Mengacu pada teori perkembangan penalaran Kohlberg. Melihat fenomena ini. Tokan (dalam Budiningsih. 11 Juni 2008). Artinya ada kesatuan antara penalaran moral dengan perilaku moralnya. standar kebenaran dan standar moral telah tereliminasi. idealnya penalaran moral sendiri yang bisa . kasus diantaranya warga negara indonesia. dkk (1980) mengatakan bahwa moral adalah hal – hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. baik media cetak maupun media elektronik. yaitu dapat menilai hal yang baik dan buruk. 2006. (Republika. yang sampai saat ini belum satupun suami istri. sehingga akan merusak moral.

karena hal ini akan mewarnai karakter dan kepribadian pada usia selanjutnya. seorang anak bergerak ke tingkat perkembangan penalaran moral yang lebih tinggi. 1991.123) dipengaruhi oleh 2 faktor.sama atau berbeda dengan sistem moral masyarakat. Selanjutnya Yusuf (2003. 2.88) mengemukakan bahwa dalam rangka membimbing perkembangan penalaran moral anak prasekolah dan anak sekolah. Menanamkan kedislipinan kepada anak. Anak akan menduplikasi yang dirasa. yaitu orang tua yang merupakan pendidikan awal bagi anak dalam penanaman nilai moral. Bila masyarakat dan sekolah tidak memiliki komitmen dalam memberdayakan moral. Kebudayaan akan mempengaruhi cepat lambatnya pencapaian tahap – tahap perkembangan moral dan juga mempengaruhi batas tahap perkembangan yang dicapai. Sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan keluarga. karena mereka belum dapat mengembangkan hati nurani. bahkan tidak tertutup terjadi degradasi (Pikiran Rakyat. Dengan kata lain bahwa individu yang mempunyai latar belakang budaya tertentu dapat berbeda perkembangan moralnya dengan individu lain yang berasal dari kebudayaan lain. Anak membutuhkan bimbingan dan teladan. . Perkembangan penalaran moral anak menurut Harlock (1992. Faktor pembawaan terkait dengan perkembangan kecerdasan anak dengan berubahnya kemampuan menangkap dan mengerti. dalam berbagai aspek kehidupan. yaitu pembawaan (heredity) dan faktor lingkungan. dilihat dan didengarnya. sebaiknya orang tua atau guru melakukan upaya – upaya sebagai berikut : 1. dalam berperilaku/bertutur kata. Keluarga bertanggung jawab terhadap pendidikan anggotanya dengan menanamkan pendidikan moral di usia sedini mungkin. maka standar moral yang telah dibangun akan mengalami stagnan. anak akan bergaul dengan moral masyarakat dan sekolah. lingkungan sebaya yaitu interaksi dengan teman sebaya dalam berbagai pengalaman yang ada. Memberikan contoh atau teladan yang baik. 15 Juli 2008). seperti memelihara kebersihan atau kesehatan dan tata krama atau berbudi pekerti luhur.64) mengemukakan bahwa perkembangan penalaran moral juga dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Lebih lanjut Martani (dalam Pratidarmanastiti. Setelah dasar moral terpatri.

kedermawanan. 2003 : 10). juga bisa mendidik anak mengenal hal baik dan buruk. sehingga anakpun tumbuh menjadi pribadi yang tidak terkontrol nilai – nilai pendidikanya.3. Power Rangers. kesetiakawanan atau kerajinan maupun cerita pewayangan seperti kisah Ramayana dan Mahabharata. afektif maupun psikomotorik. Avatar. melalui pemberian informasi atau melalui cerita atau dongeng seperti cerita riwayat orang baik (para Nabi dan Pahlawan). Shincan dan sejenisnya sebagai idola. lewat dongeng selain bisa menimbulkan imajinasi anak. 2003.77) mendongeng adalah cara paling praktis untuk menanamkan nilai – nilai kepada anak. Mendongeng memberikan rangsangan terhadap otak anak sehingga bisa mempengaruhi perkembangan anak baik secara kognitif. mungkin jarang atau bahkan anak – anak sekarang tidak mengenal sama sekali tokoh pewayangan tersebut. Dongeng merupakan metode yang tepat dan penyampaianya tidak disadari oleh anak (Taufik. Dragonball. Doraemon. mereka menjadikan Naruto. baik melalui pemberian informasi atau melalui cerita atau dongeng seperti cerita riwayat orang – orang baik (para Nabi & Pahlawan). Nilai – nilai yang mereka bisa membedakan yang baik dan yang benar serta bagaimana mereka bisa bersikap. dunia binatang yang mengisahkan tentang nilai– nilai kejujuran. dongeng binatang yang mengisahkan tentang nilai – nilai kejujuran. Telah dikemukakan diatas bahwa salah satu upaya dalam membimbing perkembangan penalaran moral anak adalah mengembangkan wawasan tentang nilai – nilai moral. Mengembangkan wawasan tentang nilai – nilai moral kepada anak. Selama ini anak kita memang terlalu di didik oleh dongeng fantasi yang bebas nilai. Menurut Mulyadi (dalam Taufik. Dongeng merupakan sarana dalam membimbing dan mengembangkan wawasan tentang nilai – nilai moral anak pada anak. kedermawanan. Setiono (2004: 67) menjelaskan bahwa orang jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh . karena nilai – nilai yang terkandung dalam dongeng tersebut dengan cepat akan diserap otak anak yang membekas sampai mereka dewasa. Dongeng mempunyai manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhan mental anak. merangsang anak bersikap aktif dan menjadikan anak suka membaca. kesetiakawanan atau kerajinan maupun cerita pewayangan. Bagaimana dengan dongeng budaya yang berisi cerita pewayangan seperti kisah Ramayana atau Mahabharata yang sarat sekali akan nilai – nilai moral dan budaya.

Sehingga anak-anak bisa membedakan yang baik dan benar serta bagaimana mereka bisa bersikap. afektif maupun psikomotorik. Berdasarkan uraian diatas. Selain sebagai alat komunikasi yang ampuh orang jawa merupakan serta sarana memahami kehidupan. wayang bagi simbolisme pandangan hidup mengenahi hal – hal kehidupan yang tertuang dalam dialog di alur cerita yang ditampilkan. Mendongeng memberikan rangsangan terhadap otak anak sehingga bisa mempengaruhi perkembangan anak baik secara kognitif. .hati sanubari dan menggetarkan jiwa yaitu seni pewayangan. peneliti tertarik untuk mengadakan Dongeng merupakan sarana dalam membimbing dan mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral pada anak. Mendongeng adalah cara paling praktis untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak karena nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng tersebut dengan cepat akan diserap otak anak yang membekas sampai mereka dewasa.

BAB III PENUTUP Peran keluarga dalam penanaman nilai moral anak usia dini sangatlah besar. Harus ada konsistensi atau keajegan. Dengan demikian orang tua dalam keluarga sebisa mungkin harus mencontohkan perilaku yang positif kepada anak. Dalam rangka penanaman nilai moral pada anak usia dini di dalam keluarga ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. dan kemudian diikuti dan ditiru oleh anak. yaitu Pertama. Ketiga. Keempat. Figur yang ditunjukkan oleh anggota keluarga dalam bentuk perilaku sehari-hari akan diamati oleh anak.com/index. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan anak. Kedua. DAFTAR PUSTAKA (http://paistiqomah.php/buletin-istiqomah/52-buletin-desember2009/163-menanamkan-kepekaan-sosial-pada-anak. adanya sikap konsekuensi terhadap aturan yang diberlakukan. nilai yang ditanamkan harus jelas.html) .adanya keteladanan dari orang tua.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful