P. 1
Model Pengembangan Pertanian

Model Pengembangan Pertanian

|Views: 246|Likes:
Published by Reny Sukmawani

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Reny Sukmawani on Jun 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/08/2015

pdf

text

original

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

MODEL PENGEMBANGAN PERTANIAN KECAMATAN SURADE KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT Oleh: Reny Sukmawani, S.P., M.P (Dosen Program Studi Agribisnis Faperta – Universitas Muhammadiyah Sukabumi) ABSTRAK Menurut Soewardi (2004), Indonesia sudah mencanangkan bahwa haluan pembangunannya adalah menuju tercapainya “industri yang maju, yang ditopang oleh pertanian yang tangguh. Jelas untuk sampai tujuan tersebut, industri dan pertanian harus maju dengan seimbang. Namun sayang sekali dalam pelaksanaannya, titik berat telah bergeser ke industrialisasi dengan dampak-dampak negatif sebagaimana kita rasakan sekarang. Untuk lebih meningkatkan daya saing produk pertanian kita diperlukan upaya yang nyata melalui pengembangan pertanian berbasis potensi wilayah. Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan peran kawasan pertanian yang memiliki nilai potensial dan menjadi penggerak bagi pengembangan kawasan, mengidentifikasi berbagai potensi, peluang dan masalah dalam pengembangan kawasan pertanian dan menyusun rencana strategis pengembangan model usaha tani dalam konsteks pembangunan sektor agribisnis sesuai dengan ciri potensi kawasan. Metode yang digunakan adalah dengan survey langsung ke wilayah sasaran untuk memperoleh data primer sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi/dinas terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surade Kabupaten Sukabumi memiliki potensi untuk pengembangan pertanian dalam rangka meningkatkan pembangunan pertanian yang berimplikasi pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Namun semua itu akan terwujud manakala model pengembangan pembangunan pertanian yang dilaksanakan mengacu pada potensi yang dimilikinya. Potensi itu khususnya akan baik bila fokus mengembangkan usaha tani tanaman pangan dan perkebunan. Dengan demikian model pengembangan pertanian di Kecamatan Surade kabupaten Sukabumi harus berbasis pada potensi wilayahnya.

I.

PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Ketersediaan produk pertanian sebagai kebutuhan dasar manusia merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, dan masyarakat. Oleh sebab itu, untuk menjamin ketersediaan produk pertanian, perlu dilakukan upaya yang optimal dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Upaya yang dilakukan harus benar-benar efektif dengan mengerahkan I-1

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

potensi wilayah dan memperhitungkan tingkat kesesuaian lahan. Hal ini penting dilakukan karena setiap wilayah khususnya di Negara Indonesia ini, memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Sehingga produk yang dihasilkan akan benar-benar memperhatikan kearifan lokal daerah. Disisi lain, untuk menjamin ketersediaan produk pertanian ini, bukan hanya terfokus pada lahan dan kesesuaian lahan saja, melainkan juga diperlukan faktor pendukung lainnya yang menjamin produk ini sampai pada tingkat konsumen. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah adanya teknologi, tersedianya pasar, kemudahan dalam permodalan, dan insfrastruktur yang memadai. Menurut Mosher (1965), terdapat lima macam fasilitas dan jasa yang harus tersedia bagi para petani jika pertanian hendak dimajukan. Masing-masing daripadanya merupakan syarat mutlak (esensial). Sehingga tanpa salah satu dari syarat tersebut maka tidak aka nada pembangunan pertanian. Kelima syarat tersebut adalah: (1) pasar untuk hasil-hasil usahatani; (2) teknologi yang selalu berubah; (3) tersedianya bahan-bahan produksi dan peralatan secara lokal; (4) perangsang produksi bagi para petani; dan (5) pengangkutan. Menurut Soewardi (2004), Indonesia sudah mencanangkan bahwa haluan pembangunannya adalah menuju tercapainya “industri yang maju, yang ditopang oleh pertanian yang tangguh”. Jelas untuk sampai tujuan tersebut, industri dan pertanian harus maju dengan seimbang. Namun sayang sekali dalam pelaksanaannya, titik berat telah bergeser ke industrialisasi dengan dampak-dampak negatif sebagaimana kita rasakan sekarang. Mandeknya sektor pertanian ini berakar pada terlalu berpihaknya pemerintah terhadap sektor industri sejak pertengahan tahun 1980-an. Pemerintah mencurahkan perhatiannya pada sektor industri, yang kemudian diterjemahkan kedalam berbagai kebijakan proteksi yang sistematis, di mana secara sadar atau tidak proteksi ini telah merapuhkan basis pertanian pada tingkat petani (Nugraha, dkk. 2009). Menurut Soewardi (2004), obatnya tak lain adalah menjadikan pertanian sebagai titik sentral kembali dalam pembangunan. Dengan cara ini, akan tercapailah tugas-tugas pembangunan sektor pertanian yang diarahkan dalam rangka mencapai kembali swasembada pangan, daya saing komoditi pertanian, pengentasan kemiskinan, dan memantapkan sistem pendukung. Saragih (2001), mengungkapkan dalam buku kumpulan pemikirannya bahwa pertanian merupakan sektor yang sangat pentng dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional abad 21 masih akan tetap berasis pertanian secara luas. Namun sejalan dengan tahapantahapan perkembangan ekonomi maka kegiatan jasa-jasa dan bisnis yang berbasis pertanian juga meningkat, yaitu kegiatan agribisnis (termasuk agroindustri. Melalui agribisnis diharapkan tingkat kemiskinan penduduk akan semakin menurun, kegiatan agroindustri, perdagangan dan jasa akan semakin maju dan berkembang. Namun untuk mendorong agribisnis perlu sarana dan prasarana yang memadai seperti transportasi, telekomunikasi, penelitian dan sumberdaya manusia yang mendukung. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkannya adalah dengan mengoptimalkan potensi sumberdaya pertanian di tingkat daerah dan untuk I-2

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

mengetahuinya maka perlu dilakukan identifikasi potensi di setiap wilayah / daerah. Pengembangan Pertanian di Kabupaten Sukabumi harus dikembangkan semaksimal mungkin, sehingga mampu memberikan kontribusi baik secara ekonomi regional maupun terhadap penguatan ekonomi masyarakat menjadi lebih optimal. Untuk itu diperlukan suatu langkah strategis bagi pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Sukabumi. Penetapan potensi pengembangan kawasan agribisnis di Wilayah Kabupaten Sukabumi dapat digunakan sebagai salah satu upaya perencanaan pembangunan pertanian secara spesifik lokasi. Pada penelitian ini lokasi yang dipilih adalah Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi. Kecamatan Surade terletak dibagian Selatan Kabupaten Sukabumi dengan jarak dari ibu kota Kabupaten ± 74 km. Kecamatan Surade terdiri dari 11 desa dengan luas seluruhnya seluas 11.784,34 Ha yang meliputi lahan sawah seluas 4.373,9 Ha dan lahan darat seluas 7.337,45 Ha dan lahan pantai 73 Ha. Keadaan tofografi datar 60%, bergelombang 30% dan berbukit 10%. Jenis tanah podsolik merah kuning (PMK) dengan derajat keasaman tanah (PH) 4,2 – 6,8. Berdasarkan karakteristik wilayahnya, kecamatan ini memiliki potensi yang baik untuk pengembangan agribisnis. Berdasarkan hal itulah maka Kecamatan Surade dipilih untuk penelitian ini. 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah karakteristik biofisik lahan, system pertanian, sumberdaya manusia, sosial ekonomi, kelembagaan dan prasarana di Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi. 2. Bagaimanakah kekuatan dan kelemahan serta strategi pengembangan pertanian di Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

II.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian II.1.1. Karakteristik Biofisik Lahan di Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi a. Geografis Kecamatan Surade merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang berbatasan langsung dengan samudra Indonesia. Secara administratif batas kecamatan surade adalah kecamatan Surade : - Sebelah Utara Kecamatan jampang kulon dan Kecamatan Waluran. - Sebelah Barat Kecamatan Ciracap - Sebelah Selatan Samudra Indonesia. - Sebelah Timur Kecamatan Cibitung. Jarak Kecamatan Surade ke Ibukota Kabupaten Sukabumi (Pelabuhan ratu) adalah 74 km. Ketinggian tanah kecamatan surade bervariasi antara 0 – 500 dpl (Gambar 1). II.1. I-3 Gbr 2. Curah hujan di Kabupaten Sukabumi

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

Gbr 1. Persentasi Ketinggian Tanah di Kecamatan Surade Berdasarkan Gambar 1, mayoritas ketinggian tanah di Kecamatan Surade berada antara 25 – 500 m dpl, sedangkan ketinggian 0 – 25% hanya sekitar 2,46%. Dengan ketinggian tempat yang relatif rendah, maka sudah dipastikan suhu di Kecamatan Surade cukup panas dengan suhu maksimal mencapai 32,8oC. Sedangkan kondisi curah hujan di Kecamatan Surade menunjukkan curah hujan tertinggi pada bulan Januari dan terendah bahkan kering antara bulan agustus, September dan oktober (Gambar 2). Data tersebut di atas berdasarkan data BPS, Stasiun Pengamatan di Kecamatan Ciemas. Pada kondisi kering petani di kecamatan Surade sering merasakan kesulitan untuk melaksanakan usahataninya karena keterbatasan sarana irigasi bahkan irigas yang ada pun mengalami kekeringan. b. Penggunaan Lahan. Kecamatan Surade terdiri dari 11 Desa, 96 RW dan 423 RT Adapun nama desa – desa tersebut adalah : Desa Pasiripis, Desa Buniwangi, Desa Cipendeuy, Desa Gunung Sungging, Desa Citanglar, Desa Jagamukti, Desa Swakarya, Desa Kadaleman, Desa Wanasri, Desa Sirnesari dan Desa Sukatani. Penggunaan lahan di Kecamatan Surade hingga tahun 2007 mayoritas adalah lahan sawah, setelah itu adalah hutan negara (Gambar 3). Sedangkan pada Gambar 4 terlihat bahwa luasan lahan sawah yang ada di Kecamatan Surade hingga tahun 2007 mengalami penurunan.

Gbr Gbr 3. Penggunaan Lahan di Kecamatan 4. Luas Lahan sawah Kecamatan Surade I-4

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

Surade Gambar 3 menunjukkan bahwa lahan sawah dan hutan negara mendominasi penggunaan lahan di Kecamatan Surade, sedangkan sisanya adalah tegal/kebun, lading/huma, hutan rakyat, perkebunan dan bangunan. Meskipun berdasarkan data BPS lahan sawah di kecamatan Surade mendominasi, tetapi selama periode 2004 – 2007 tampak terjadi penurunan luas lahan sawah yang ada sebanyak 3 hektar. Dari sawah seluas 2471 ha, mayoritas adalah lahan sawah tadah hujan, yaitu sebanyak 46,50% (Gambar 4). Dari lahan sawah tersebut, lahan sawah dengan irigasi teknis baru sedikit yaitu sekitar 6,63% sedangkan irigasi setengah teknis hanya sekitar 12,34%. Kondisi ini masih jauh dari yang seharusnya mengingat kondisi curah hujan di Kecamatan Surade. Luas lahan sawah berdasarkan irigasi per Desa di Kecamatan Surade dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas Lahan Sawah Berdasarkan Jenis Pengairan
No Desa Kelurahan Surade Jagamukti Gunungsunggi ng Cipendeuy Sukatani Pasiripis Buniwangi Citanglar Kadaleman Warnasari Sirnasari Total 283. 9 528 133 125 200 100 50 10 Sawah Pengairan Seten Tekn Pedesaa gah is n Teknis 158.9 35 62 92 125 100 20 225 220 186 100 165 180 1475 Sawah Tadah Hujan (Ha) 30 112 50 175 105 375 420 141 171 284 224 2087 Juml ah (Ha) 285.9 204 175 600 225 650 650 327 404 449 404 4373 .9

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Sumber Data: BP3K Kecamatan Surade 2009 c. Karakteristik Lahan Pertanian di Kecamatan Surade Karakteristik tanah di Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi pada umumnya jenis tanahnya podsolik merah kuning dengan ciri-ciri lempung berpasir. Jenis tanah ini memiliki tekstur agak halus sampai kasar. Kondisi I-5

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

tanah seperti ini memiliki porositas yang tinggi sehingga kemampuan mengikat airnya rendah, maka perlu pengelolaan tanah yang sangat maksimal untuk pertanian sehingga tanah berkualitas baik untuk pertanian. d. Kemampuan Lahan Pertanian Kondisi iklim di Kecamatan Surade hanya sesuai untuk beberapa komoditas tertentu saja. pH tanah rendah (4,2- 6,8 kategori kemampuan lahan termasuk kelas 3 – 5), tanah menjadi masam sehingga memerlukan perlakuan tambahan untuk meningkatkan pH tanah. Kelas tanah 3 – 5 ini sesuai dengan segala jenis pertanian tapi dengan hambatan tidak ada komoditas yang dominan, sedangkan yang paling sesuai dengan kelas tanah tersebut yaitu untuk perkebunan. Disamping itu, berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Surade sangat cocok untuk tanaman pangan lahan basah. Pengidentifikasian tingkat kesesuaian pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan dilakukan melalui penilaian kondisi fisik dasar pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan sebagai faktor daya dukung lahan. Aspek fisik dasar yang dianalisis terdiri dari curah hujan, ketinggian di atas laut, jenis tanah, kedalaman efektif tanah, kemiringan lahan dan irigasi. Melalui pertampalan terhadap peta peta kondisi fisik dan peta pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan didapat peta satuan lahan. Peta satuan lahan ini dikelaskan menurut kemampuan daya dukungnya dengan menggunakan kriteria penilaian kelas kesesuaian lahan.

II.1.2. Karakteristik Pertanian di Kecamatan Surade
Potensi pertanian di Kecamatan Surade sangat bermacam – macam, mulai dari padi, jagung, teh karet, perternakan, perikanan dan lain – lain. Data BPS (2008) menunjukkan bahwa produksi padi, jagung dan ubi kayu selama periode tahun 2002 – 2004 mengalami peningkatan (Gambar 5). Walaupun luas lahan pertanian tiap tahun menurun tetapi hasil produksi pertanian di Kecamatan Surade mengalami peningkatan tiap tahunnya. Lain halnya dengan produksi daging unggas yang tidak menujukkan perubahan signifikan, sedangkan telur unggas justru mengalami sedikit penurunan pada periode 2005 – 2007 (Gambar 6).

67 5.687 800.000 4 700.000 560.4 1 600.000 500.000 400.000 132820 116102 300.000 2 .0 9 23 1.9 4 66 200.000 100.000 0

74 2 805

Padi Jagung

132959

Ubi Kayu

16 0 72

2002

2003

2004

I-6

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

Gbr 5. Produksi Jagung, ubidan Padi di Kabupaten Sukabumi tahun 20022004

Gbr 6. Produksi Daging dan Telur Unggas di Kecamatan Surade Sementara berdasarkan data BPS (2008), komoditas tanaman perkebunan yang banyak diusahakan di Kecamatan Surade diantaranya adalah kelapa, kelapa hibrida, cengkeh, kakao, panili, kopi, aren dan kemiri. Produksi hasil perkebunan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah Produksi Komoditas Perkebunan di Kecamatan Surade (ton) Kelapa Kelapa Cengke Kakao Panili Kopi Aren Kemiri Hibrida h 775,07 58,91 34,99 2,77 0,01 1,1 5,57 8,45 II.1.3. Karakteristik Sumberdaya Manusia, Sosial Ekonomi dan Kelembagaan Jumlah penduduk di Kecamatan Surade sebanyak 70285 jiwa dengan jumlah KK tani sebanyak 17765 (Tabel 3). Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kepala Keluarga (2008) Jumlah Jiwa (orang) Jumlah KK N Desa LakiPerempu Jumla KK KK o laki an h Umum Tani 1 Swakarya 3978 4031 8009 2253 1893 2 Jagamukti 2494 2613 5107 1459 1226 Gunungsunggi 3 ng 2589 2555 5144 1657 1392 4 Cipendeuy 2008 2045 4053 1144 961 5 Sukatani 1739 1650 3389 931 782 6 Pasiripis 5732 5662 11394 3404 2859 7 Buniwangi 4795 4839 9634 3033 2548 8 Citanglar 4692 4701 9393 2765 2323 I-7

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

Kadaleman 2467 2304 Warnasari 1812 1808 Sirnasari 2993 2778 Total 35299 34986 Data BP3K Kec. Surade Tahun 2009

9 10 11

4771 3620 5771 70285

1350 1181 1605 20782

1134 1122 1525 17765

N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Tabel 4. Mata Pencaharian Penduduk di BPK3k Surade PNS/AB Buru Petern Nelany Petani RI h ak an Lainnya Desa (Oran (Orang (Oran (Oran (Orang g) ) g) g) ) (Orang) Swakarya 3896 309 92 50 0 111 Jagamukti 2636 83 39 30 0 72 Gunungsung ging 1953 23 25 37 0 64 Cipendeuy 1926 40 25 40 20 25 Sukatani 1516 14 21 20 10 15 Pasiripis 5584 186 24 60 80 180 Buniwangi 5017 117 23 81 60 30 Citanglar 5177 86 40 59 0 98 Kadaleman 2273 60 31 51 0 103 Warnasari 1573 34 60 67 0 634 Sirnasari 1683 29 73 51 0 1126 Total 33234 981 453 546 170 2458 Data BP3K Kec. Surade Tahun 2009

Jumla h (Oran g) 4458 2860 2102 2076 1596 6114 5328 5460 2518 2368 2962 37842

Tabel 5. Keadaan Penduduk di BP3K Surade Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2008 Tingkat Pendidikan N Belum/ti Desa Jumla o SD SLTP SLA D3 S1/S2 dak h sekolah 1 Swakarya 3345 1686 976 40 124 1838 8009 2 Jagamukti 1911 1040 616 28 76 1436 5107 Gunungsung 3 ging 3003 623 500 15 13 990 5144 4 Cipendeuy 1265 980 763 20 25 1000 4053 5 Sukatani 1641 457 322 10 4 955 3389 6 Pasiripis 6423 1627 1227 35 76 2006 11394 7 Buniwangi 5432 1139 1270 30 104 1659 9634 I-8

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

8 9 10 11

Citanglar 6410 684 446 Kadaleman 1771 478 455 Warnasari 2015 429 346 Sirnasari 3831 463 602 Total 37047 9606 7523 Data BP3K Kec. Surade Tahun 2009

20 10 9 8 225

45 14 28 18 527

1788 2043 793 849 15357

9393 4771 3620 5771 70285

KK tani di Kecamatan Surade cukup banyak dan ini merupakan potensi dalam pengembangan pertanian di Kecamatan Surade apalagi mayoritas mata pencaharian penduduk Kecamatan Surade adalah sebagai petani yaitu sebanyak 33234 orang. Namun tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Surade mayoritas masih rendah. Berdasarkan hasil analisis di lapangan, maka analisis potensi dan permasalahan berdasarkan aspek sosial ekonomi di Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi adalah: Tabel 6. Potensi Sosial Ekonomi Pertanian Potensi Masalah

Mayoritas Petani (Peternak dan Nelayan) 89,71 % dari 37842 Rasio kepemilikan lahan kecil Sistem Usaha tani pelaksanaan pola tanam dikategorikan Dengan pola tanam rata-rata 2 kali menjadi 4 : 1. PS-PS-BR, 2. PL-PS-BR, 3. PL-PL-BR, 4. PG-BR- dalam setahun maka produktivitas BR dengan system petanaman monokultur dan tumpangsari lahan tidak optimal Teknologi produksi yang digunakan PTT (penanaman masih rendahnya tingkat penerapan teknologi terpadu) dengan tingkat penerapan teknologi 60% teknologi di tingkat petani sehingga produktivitas belum mencapai target Permodalan mayoritas petani mengandalkan swadya Minimnya dukungan dari lembagasedangkan lembaga2 lain yang ada seperti KUD, BRI, lembaga keuangan Program BLM peranya masih terbatas Sarana Produksi yang ada seperti Penggilingan (heleran) Rasio penggilingan padi dengan rata2 6 perdesa, traktor 121, sprayer 475, tresher 1, pedal produksi padi tidak sebanding tersher 3, took pupuk 5 (1 toko mencakup 2 desa) jalan yang relatif baik Pemasaran hasil (tengkulak, tidak ada pasar hasil pertanian Rantai tataniaga yang panjang secara khusus) dengan rantai pemasaran pengumpul- mengakibatkan harga yang diterima bandar-pengecer-konsumen. petani rendah Keterlibatan dalam kelompok tani hanya 24,9% (8481 yang Rendahnya keterlibatan petani dalam aktif) terdaftar 14375 (42 %) orang yang terdaftar persen kegiatan kelompok tani yang mengikuti kelompok tani

Berdasarkan data tersebut maka perlunya pendekatan-pendekatan dari pihak pemerintah dan intansi terkait terhadap sektor pertanian, karena sebagian besar penduduk di Kecamatan Surade 89 % adalah petani. II.1.4. Karakteristik Prasarana Wilayah Secara umum sarana dan prasarana di Kecamatan Surade cukup baik. Tetapi apabila dibandingkan dengan luasan wilayahnya, keberadaannya belum dapat dikatakan memadai. Jarak yang jauh dari ibu kota kabupaten menjadi salah satu penghambat karena sarana jalan yang kurang baik dan berkelok-kelok. Akses ke pasar juga cukup jauh sehingga memelukan waktu yang panjang dalam memasarkan produk pertaniannya. Keberadaan penggilingan padi juga belum seimbang dengan banyaknya I-9

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

luasan sawah yang menjadi mayoritas di kecamatan ini. Namun demikian terdapat komitmen dari pemerintah yang cukup baik karena dalam perjalanannya akses jalan desa ke kota mengalami perbaikan secara bertahap. II.1.5.Matrik Strategy Berdasarkan potret kekuatan dan kelemahan terhadap kecamatan Surade, matriks rekomendasi strategi yang disarankan untuk pengembangan pertaniannya adalah sebagai berikut: Tabel 8. Matrik Strategi
OPPORTUNITIES EKSTERNAL Sumberdaya manusia = 4 Point Faktor geografi = 3 Point Faktor permodalan = 2 Point Sarana Fisik = 2 Point Teknologi = 1 Point THREATS Sumberdaya manusia = 5 Point Faktor geografi = 5 Point Faktor permodalan = 4 Point Sarana Fisik = 2 Point Teknologi = 1 Point

INTERNAL

STRENGTHS S - O Strategy S – T Strategy Sumberdaya manusia = 5 Point SUMBERDAYA MANUSIA SUMBERDAYA MANUSIA Faktor geografi = 6 Point • Meningkatkan partisipasi • Menumbuhkan kesadaran dan Faktor permodalan = 3 Point masyarakat dalam pembinaan terhadap Sarana Fisik = 3 Point pendayagunaan sumber daya pembentukan akhlak masyarakat Teknologi = 2 Point alam dan lapangan usaha yang agamis agar kerja produktif yang berdaya terinternalisasikannya ajaransaing tinggi; ajaran agama dalam upaya • Meningkatkan partisipasi membangun keshalihan sosial; masyarakat dalam • Pembinaan dan Optimalisasi pembangunan peran masyarakat khususnya • Meningkatkan pendidikan, pemuda dalam pembangunan. pengetahuan dan pemahaman masyarakat • Meningkatkan daya beli masyarakat • Membangun upaya FAKTOR GEOGRAFI Reinventing Goverment proteksi untuk melalui pemberdayaan • Menerapkan meminimalisir pengaruh-pengaruh masyarakat negatif sebagai konsekuensi dari FAKTOR GEOGRAFI letak geografis negara yang • Optimalisasi potensi wilayah strategis dalam rangka • Meningkatkan pemanfaatan lahanmengembangkan lahan tidur perekonomian untuk • Meningkatkan pengelolaan serta meningkatkan kesejahteraan pengawetan tanah dan air untuk masyarakat mengurangi terjadinya bencana • Meningkatkan fungsi laut, alam sungai, danau, dan lahan FAKTOR PERMODALAN FAKTOR PERMODALAN • Membuat sistem penyediaan • Membuat kebijakan ekonomi yang berpihak pada masyarakat modal yang mudah di akses • Membuat program yang dapat dan ringan persyaratan memperkecil resiko akibat inflasi, • Membentuk dan krisis ekonomi dan moneter. mengembangkan • Meningkatkan peran dan fungsi kelembagaan ekonomi lembaga-lembaga keuangan • Meningkatkan pemanfaatan dalam meningkatkan sumberdaya sebagai modal perekonomian dasar yang berpotensi SARANA FISIK SARANA FISIK • Optimalisasi pemanfaatan sarana prasarana yang • Membuat peraturan tersedia kebijakan daerah atau tentang

I - 10

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi
konversi dan tata guna lahan • Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya TEKNOLOGI memelihara sarana dan prasarana yang sudah ada • Meningkatkan implementasi TEKNOLOGI teknologi secara tepat guna • Optimalisasi peran dan fungsi • Proteksi terhadap teknologi lembaga penelitian dan -teknologi yang tidak tepat guna pendidikan tinggi sebagai dan informasi-informasi yang lembaga pengkajian teknologi menyesatkan • Meningkatkan infrastruktur pembangunan

WEAKNESS

W - O Strategy

W – T Strategy
SUMBERDAYA MANUSIA • Menumbuhkembangkan lapangan usaha kerja produktif agar terjadi pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran; • Menegakan Supremasi Hukum demi terjaminnya kepastian hukum bagi seluruh masyarakat • Meningkatkan daya saing masyarakat • Meningkatkan kualitas dan etos kerja tenaga kerja (masyarakat) FAKTOR GEOGRAFI • Meningkatkan pengawasan terhadap dampak pembangunan yang dapat merusak kelestarian Lingkungan Hidup; • Meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai hal yang dapat mengganggu ketertiban, keamanan dan ketentraman. FAKTOR PERMODALAN • Mendatangkan investor-investor yang perduli terhadap peningkatan perekonomian masyarakat • Mempermudah akses masyarakat terhadap permodalan SARANA FISIK • Meningkatkan ketersediaan serta kualitas prasarana dan sarana dasar; • Meningkatkan ketersediaan infrastruktur yang mendukung terhadap akselerasi pembangunan dan peningkatan perekonomian TEKNOLOGI • Membuat program yang dapat memperkecil kesenjangan antara hasil-hasil penelitian dan implementasinya di masyarakat

Sumberdaya manusia = 9 Point SUMBERDAYA MANUSIA Faktor geografi = 3 Point Meningkatkan kompetensi Faktor permodalan = 3 Point aparatur pemerintah yang Sarana Fisik = 4 Point profesional dalam rangka Teknologi = 2 Point pelayanan prima Meningkatkan kualitas SDM melalui pengembangan layanan pendidikan secara optimal serta mewujudkan Angka Partisipasi Sekolah secara signifikan;

Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan secara menyeluruh dan merata melalui peningkatan kualitas seumberdaya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi (daya beli)

(Lihat Tabel)

Meningkatkan Pelayanan Sosial FAKTOR GEOGRAFI • Meningkatkan pengawasan wilayah • Menumbuhkembangkan potensi berbagai wilayah secara merata • Penguatan peraturan daerah FAKTOR PERMODALAN • Meningkatkan iklim inverstasi • Optimalisasi sumberdaya sebagai modal dasar dalam peningkatan perekonomian masyarakat SARANA FISIK • Meningkatkan pemerataan pembangunan di semua wilayah yang ada di kabupaten Sukabumi • Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur TEKNOLOGI • Meningkatkan kualitas proses adopsi inovasi teknologi • Malakukan pengkajian teknologi yang tepat guna

4.2. Pembahasan I - 11

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

Potensi yang dimiliki Kecamatan Surade yakni sumber daya alam berupa hamparan areal pertanian. Pemanfaatan dan pengembangan potensi alam tersebut menjadi sangat strategis jika dikaitkan dengan fungsi Kecamatan Surade sebagai salah satu daerah penghasil padi. Pengembangan sektor pertanian oleh masyarakat dilakukan secara sporadis dan sangat dipengaruhi oleh informasi pasar suatu komoditas. Hal ini mengakibatkan suatu komoditas yang dikembangkan tidak mempertimbangkan kelayakan fisik sehingga input yang diberikan menjadi tinggi. Dampak akhir dari kondisi ini adalah komoditas yang dikembangkan masyarakat menjadi tidak menguntungkan. Melalui pinsip Sustainable Agricultural sumber daya lokal dikembangkan secara maksimal dan terpadu. Dengan sistem ini diharapkan masyarakat dapat memberdayakan sumber daya dan memberikan hasil bagi kehidupan para petani. Dalam pendekatan ini masyarakat dituntut untuk berpikir bahwa di sekitar mereka berdiri banyak terdapat potensi yang bila dikembangkan akan menghasilkan capaian yang positif bagi kehidupan. Agar seluruh potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan bagi kelancaran program semua sektor, maka program pembangunan suatu kawasan perlu terencana dan terpadu. Keterpaduan program pembangunan khususnya sektor pertanian dibutuhkan dalam upaya mewujudkan pertanian yang tangguh. Pengembangan komoditas pertanian yang sesuai secara biofisik dan menguntungkan secara ekonomi, sangat penting dalam perencanaan pengkajian teknologi untuk pengembangan komoditas unggulan dengan mempertimbangkan kemampuan sumber daya lahan, sumber daya manusia, dan kelembagaan sehingga pengembangan suatu komoditas unggulan dapat berkelanjutan. Dengan demikian program pengambangan kawasan pertanian terpadu perlu dirancang dalam satu kesatuan yang saling berkaitan dan dilaksanakan dalam kerangka upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian fungsi lingkungan. Pemilihan sistem usahatani di Kecamatan Surade bersifat spesifik dan dinamis, disesuaikan dengan karakteristik biofisik lahan dan kondisi sosial ekonomi setempat serta kemampuan dan preferensi masyarakatnya. Usahataninya harus diarahkan kepada pengembangan aneka komoditas dalam suatu sistem usahatani terpadu disesuaikan dengan karakteristik lahan dan prospek pemasaran hasil pertaniannya. Penganekaragaman komoditas ini perlu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi resiko kegagalan usahatani. Dilihat dari pelaku dan tujuan pengembangannya, secara garis besar ada dua sistem usahatani terpadu yang bisa dikembangkan di Kecamatan Surade yaitu sistem usahatani berbasis tanaman pangan dan sistem usahatani berbasis komoditas agribisnis. Sistem usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan utamanya untuk menjamin keamanan pangan bagi petani dan sekaligus mendukung peningkatan ketahanan pangan nasional. Sedangkan sistem usahatani berbasis komoditas agribisnis dapat dikembangkan dalam skala luas dengan perspektif dalam pengembangan usaha agribisnis oleh pengusaha. Sistem usahatani berbasis tanaman pangan sangat sesuai bagi petani kecil. I - 12

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

Dengan menggunakan varietas yang adaptif dan teknik budidaya yang tepat , komoditas pangan khususnya padi dapat memberikan hasil tinggi sedangkan yang lainnya sebagai penunjang diusahakan dalam skala kecil untuk sumber tambahan pendapatan. Prasarana pertanian yang perlu dirancang meliputi terutama jaringan tata air berupa saluran drainase utama dan saluran drainase cabang-cabang serta pintu air serta gudang dan prasarana pengolahan hasil. Tata letak jaringan tata air serta dimensi saluran dan bangunan air dirancang berdasarkan data fisiografi dan hidro-topografi lahan serta fisik tanahnya, sedangkan rancangan jalan usahatani disesuaikan dengan rancangan jaringan tata air atau saluran drainase. Dimensi saluran yang perlu ditetapkan meliputi kedalaman dan lebar saluran serta lebar dan tinggi tanggul saluran. Bangunan gudang dan prasarana pengolahan hasil pertannian dirancang sesuai dengan komoditas yang dikembangkan. Pengembangan kelembagaan penunjang diarahkan kepada penyempurnaan pola kerja dari kelembagaan yang ada dan apabila diperlukan dapat dikembangkan kelembagaan baru yang memang dapat mendukung keberhasilan pengembangan lahan di Kecamatan Surade. Idealnya kelembagaan penunjang tersebut meliputi : kelompok tani, pengelola air, koperasi, keuangan, dan permodalan, penyedia sarana produksi, informasi dan penyuluhan. Pengembangan kelembagaan penunjang diutamakan pada kelembagaan yang melibatkan kelompok atau koperasi petani dan pengusaha swasta lokal melalui kemitraan. Kelembagaan tersebut harus dirancang sesederhana mungkin dengan pola atau mekanisme kerja yang sederhana pula. Khusus untuk kelembagaan informasi dan penyuluhan, selain peningkatan kemampuan penyuluh dan pola kerja diidentifikasi pula sarana penunjang yang perlu ditingkatkan. Penerapan pendekatan agribisnis bagi Kecamatan Surade sangat relevan dan praktis ditinjau dari lingkungan lokal spesifik yang menuntut perbaikan. Pendekatan agribisnis yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan ekonomi kerakyatan yang berorentasi global sesuai dengan kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan keunggulan komparatif sesuai kompetensi dan produk unggulan spesifik lokasi berbasis sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Pengembangan ekonomi kerakyatan ini dapat dilakukan dengan memberdayakan pengusaha kecil, menengah dan koperasi agar lebih efisien, produktif dan berdaya saing serta mengoptimalkan peran Pemerintah Daerah. Di samping itu perlu dirancang/dijembatani suatu kemitraan antara petani-nelayan dengan pengusaha penyedia modal, pemasaran dan pengolahan. Satu hal yang sangat kritis dalam sektor pertanian adalah bahwa meningkatnya produksi pertanian selama ini belum dapat disertai dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani secara signifikan. Petani Surade sebagai unit agribisnis terkecil belum mampu meraih nilai tambah yang rasional sesuai skala usaha tani terpadu (integrated farming system). Oleh karena itu, persoalan membangun kelembagaan (institution) di bidang pertanian dalam pengertian yang luas menjadi semakin penting, I - 13

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

agar petani mampu melaksanakan kegiatan yang tidak hanya menyangkut on farm bussiness saja, akan tetapi juga terkait erat dengan aspek-aspek off farm agribussinessnya. Jika ditelaah, beberapa kondisi yang dihadapi petani Surade di dalam mengembangkan kegiatan usaha produktifnya, yaitu: 1. Akses yang semakin kurang baik terhadap sumberdaya (access to resources), seperti keterbatasan aset lahan, infrastruktur serta sarana dan prasarana penunjang kegiatan produktif lainnya; 2. Produktivitas tenaga kerja yang relatif rendah (productive and remmunerative employment), sebagai akibat keterbatasan investasi, teknologi, keterampilan dan pengelolaan sumberdaya yang efisien; 3. Perasaan ketidakmerataan dan ketidakadilan akses pelayanan (access to services)sebagai akibat kurang terperhatikannya rangsangan bagi tumbuhnya lembaga-lembaga sosial (social capital) dari bawah; 4. Kurangnya rasa percaya diri (self reliances), akibat kondisi yang dihadapi dalam menciptakan rasa akan keamanan pangan, pasar, harga dan lingkungan. Sampai dengan akhir tahun 2008, penduduk Kecamatan Surade yang bermata pencaharian sebagai petani berjumlah 33.234 jiwa atau 88 % dari jumlah total profesi lainnya. Selanjutnya dari jumlah angkatan kerja yang ada di Kecamatan Surade yang memiliki kesempatan kerja (bekerja), lebih dari 50% bekerja di sektor pertanian. Selain itu dari struktur ekonomi Kecamatan Surade menunjukkan bahwa lebih dari 21%, perekonomian di Kecamatan Surade digerakan oleh sektor pertanian. Artinya peranan sektor pertanian cukup dominan dalam menggerakan roda perekonomian atau sebagai leading sektor dalam perekonomian Kecamatan Surade. Oleh karena itu, pembangunan pedesaan dan revitalisasi pertanian di Kecamatan Surade sangat penting untuk dilaksanakan guna pengembangan lapangan kerja di pedesaan serta menekan angka kemiskinan dan migrasi penduduk ke perkotaan yang terus meningkat. III. Penutup Pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok-pokok kemakmuran rakyat dilakukan secara terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab dan sesuai dengan kemampuan daya dukungnya dan diutamakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup. Pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu. Pembangunan sumber daya manusia dan sumber daya buatan harus sesuai dengan pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis. Dengan demikian diperlukan identifikasi pola kesesuaian lahan sebagai pedoman bagi perencanaan pembangunan agar penataan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan seara aman, tertib, efisien,dan efektif. Berdasarkan hal itu maka model pengembangan pertanian di Kecamatan Surade kabupaten Sukabumi harus berbasis pada potensi wilayahnya. I - 14

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2002. Pembangunan Sistem Agribisnis Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional, Departemen Pertanian, Jakarta. _______, 2003. Ekonomi Kerakyatan Dalam Kancah Globalisasi. Kantor Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. Arief, Sritua., 1997. Pembangunan dan Ekonomi Indonesia: Pemberdayaan Rakyatdalam Arus Globalisasi. CPSM, Bandung.

Arifin, B. 2004. Menterjemahkan Keberpihakan Terhadap Sektor Pertanian: Suatu Telaah Ekonomi Politik. Dalam: Rudi Wibowo dkk (Ed)., Rekonstruksi dan Restrukturisasi Pertanian. PERHEPI, Jakarta 2004. Baharsjah, S. 1996. Kemitraan Dalam Pembangunan Nasional Memasuki Abad 21 : Peningkatan Ekonomi Pertanian. Makalah disampaikan pada Simposium Nasional Cendekiawan Indonesia Ke III. Jakarta, 27-28 Agustus 1996 Chairil Anwar Rasahan dan Rudi Wibowo, 1996. Pemantapan Kebijakan Pembangunan Pertanian Yang Mendukung Meningkatnya Kemandirian dan Daya Saing Pertanian. Kertas Makalah pada Konpernas Perhepi XII. Denpasar 7-9 Agustus 1996. Departemen Pertanian, 2002. Penjabaran Program dan Kegiatan Pembangunan Pertanian 2001-2004. Departemen Pertanian, Jakarta. Korten, David C., 1980, Community Organization and Rural Development : A Learning Process Approach, dalam Public Administration Review, No.40 tahun 1980 Krisnamurthi, B., 2003. Analisis Grand Strategy Pembangunan Pertanian: Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis dan Implementasi Pembangunan Pertanian. Makalah, disampaikan pada Lokakarya Penyusunan Evaluasi Kinerja Pembangunan Pertanian. Jakarta, 10-11 Desember 2003. Menteri Pertanian RI., 2000. Memposisikan Pertanian Sebagai Poros Penggerak Perekonomian Nasional. Departemen Pertanian, Januari 2000. Pakpahan., 2004. Petani Menggugat. Max Havelaar Indonesia dan GAPPERINDO, Jakarta. Mosher, A.T. 1965. Diterjemahkan oleh Krisnandhi. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. CV. Yasaguna. Djakarta. I - 15

Model Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

Nugraha, Nunu., Reny Sukmawani, Asep Ramdhan, Dede, Gunawan. 2009. Identifikasi Ruang Kawasan Strategis Pengembangan Pertanian Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi. (tidak dipublikasikan) Rudi Wibowo., 1999. Refleksi Teori Ekonomi Klasik Dalam Manajemen Pemanfaatan Sumberdaya Pertanian Pada Milenium Ke Tiga. Dalam Refleksi Pertanian Tanaman pangan dan Hortikultura. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. __________., 2001. Mewujudkan Visi Agribisnis Berdaya Saing Melalui Pembangunan Wilayah Yang Selaras Dengan Alam. Orasi Ilmiah Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember. Jember, 12 Nopember 2001. Saragih, Bungaran. 2001. AGRIBISNIS, Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. (Buku Kumpulan Pemikiran). Pustaka Wirausahamuda. Bogor. Soewardi, Herman. 2004. Nasib Sektor pertanian Sebagai Tumpuan Pembangunan. Bakti mandiri. Bandung.

I - 16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->