P. 1
kejaksaan

kejaksaan

|Views: 205|Likes:
Published by Azim

More info:

Published by: Azim on Jun 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2014

pdf

text

original

KEJAKSAAN NEGERI YOGAYAKARTA
Jalan Sukonandi No. 6 Yogyakarta
Telp. (0274) 512521

PENUNTUTAN DAN PENEGAKAN
HUKUM

(Disampaikan dalam acara DIKLATSARKUM XI
PSKH

Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta,10 Maret 2012 )

A. Sejarah Singkat Kejaksaan RI.

Istilah Kejaksaan sebenarnya sudah lama ada sejak
lama di Indonesia. Pada zaman kerajaan Hindu-
Jawa di Jawa Timur, yaitu pada masa Kerajaan
Majapahit, istilah dhyaksa, adhyaksa, dan
dharmadhyaksa sudah mengacu pada posisi dan
jabatan tertentu di kerajaan. Istilah-istilah ini
berasal dari bahasa kuno, yakni dari kata-kata
yang sama dalam Bahasa Sansekerta.

Pada masa pendudukan Belanda, badan
yang ada relevasinya dengan jaksa dan
kejaksaan antara lain adalah Openbaar
Ministerie.

Lembaga

ini

yang

memerintahkan

pegawai-pegawainya
berperan sebagai Magistraat dan Officier
Van Justitie di dalam siding Landraad
(Pengadilan Negeri), Jurisdictie Geschillen
(Pengadilan Justisi) dan Hooggerechtshof
(Mahkamah Agung) dibawah perintah
langsung dari Residen / Asisten Residen

Peranan Kejaksaan sebagai satu-satunya lembaga
penuntut secara resmi difingsikan pertama kali
oleh Undang-Undang pemerintahan zaman
pendudukantentara Jepang No. 1/1942, yang
kemudian diganti oleh Osamu Seirei No. 3/1942,
No. 2/1944 dan No. 49/1944. Eksistensi Kejaksaan
itu berada pada semua jenjang Pengadilan, yakni
sejak Saikoo Hooin (Pengadilan Agung), Koootooo
Hooin(Pengadilan Tinggi) dan Tihooo Hooin
(Pengadilan Negeri)

Begitu Indonesia merdeka, fungsi seperti itu tetap
dipertahankan dalam Negara Republik Indonesia. Hal
itu ditegaskan dalam pasal II Aturan Peralihan UUD
1945, yang diperjelas oleh Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 2 Tahun 1945. Isinya mengamanatkan bahwa
sebelum Negara R.I. membentuk badan-badan
peraturan negaranya sendiri sesuai dengan ketentuan
Undang-Undang Dasar, maka segala badan dan
peraturan yang ada masih langsung berlaku. Karena
itulah, secara yuridis formal, Kejaksaan R.I. telah ada
sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, yakni
tanggal 17 Agustus 1945.

Undang Nomor 15 tahun 1961 Ketentuan-Ketentua
Pokok Kejaksaan RI. Undang-Undang ini menegaskan
Kejaksaan sebagai alat Negara penegak hukum yang
bertugas sebagai penuntut umum (Pasal 1),
penyelenggaraan tugas departemen Kejaksaan
dilakukan Menteri / Jaksa Agung (Pasal 5) dan
susunan organisasi yang diatur oleh Keputusan
Presiden. Terkait kedudukan, tugas dan wewenang
Kejaksaan dalam rangka sebagai alat revolusi dan
penempatan Kejaksaan dalam struktur organisasi
departemen, disahkan Undang-Undang Nomor 16
tahun 1961 tentang Pembentukan Kejaksaan Tinggi.

Pada masa Orde Baru ada perkembangan baru yang
menyangkut Kejaksaan RI sesuai dengan perubahan
dari Undang-Undang Nomor 15 tahun 1961 kepada
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991, tentang
Kejaksaan Repunlik Indonesia. Perkembangan itu juga
mencakup perubahan mendasar pada susunan
organisasi serta tata cara institusi Kejaksaan yang
didasarkan pada adanya Keputusan Presiden No. 55
Tahun 1991 tertanggal 20 November 1991

Masa reformasi Undang-Undang tentang Kejaksaan

juga

mengalami

perubahan,

yaknidengan
diundangkannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2004 untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1991. Dalam Undang-undang No. 16 Tahun
2004 tentang Kejaksaan RI, Pasal 2 ayat (1) ditegaskan
bahwa Kejaksaan R.I. dalah lembaga pemerintahan
yang melaksanakan kekuasaan Negara dalam bidang
penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan
Undang-undang .

Tugas dan Kewenangan Kejaksaan berdasarkan UU No.
16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI.

Pasal 30 :
(1) Di bidang pidana, Kejaksaan mempunyai tugas dan
wewenang :
a. Melakukan penuntutan;
b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap;

c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan
pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan dan
keputusan bersyarat;

d. Melaksanakan penyidikan terhadap tindak pidana
tertentu berdasarkan Undang-undang;
e. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu
dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum
dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaanya
dikoordinasikan dengan penyidik.

(2) Di bidang perdata dan tata
usaha Negara, Kejaksaan dengan
kuasa khusus dapat bertindak di
dalam meupun di luar pengadilan
untuk dan atas nama negara atau
pemerintah.

(3) Dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum,
Kejaksaan turut
menyelengarakan kegiatan :
a. Peningkatan kesadaran hukum masyarakat;
b. Pengamanan kebijakan penegakan hukum;
c. Pengamanan peredaran barang cetakan;
d. Pengawasan aliran kepercayaan yang dapat
membahayakan masyarakat dan Negara;
e. Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan
agama;
f. Penelitian dan pengembangan hukum statistik
kriminal.

Pasal 31 UU No. 16 Tahun 2004
menegaskan bahwa Kejaksaan dapat
meminta kepada hakim untuk
menetapkan seorang terdakwa di
rumah sakit atau tempat perawatan
jiwa, atau tempat lain yang layak larena
bersangkutan tidak mampu berdiri
sendiri atau disebabkan oleh hal-hal
yang dapat membahayakan orang lain,
lingkungan atau dirinya sendiri

Pasal 32 Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tersebut
menetapkan bahwa di samping tugas dan wewenang
tersebut dalam Undang-undang ini, Kejaksaan dapat
diserhi tugas dan wewenang lain berdasarkan
Undang-undang.
Selanjutnya Pasal 33 mengatur bahwa dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya, Kejaksaan
membina hubungan kerjasama dengan badan penegak
hokum dan keadilan serta badan egara atau instansi
lainnya.
Kemudian Pasal 34 menetapkan bahwa Kejaksaan
dapat memeberikan pertimbagan dalam bidang
hukum kepada instansi pemerintah lainnya

Penyidikan;

Pengertian Penyidikan berdasarkan pasal 1 Ayat (2)
KUHAP : Penyidikan adalah serangkaian tindakan
penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur
dalam undang-undang ini untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat
terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna
menemukan tersangkanya.

Siapa yang berwenang sebagai
Penyidik;
Berdasarkan pasal 1 angka 1 KUHAP :
Penyidik adalah pejabat polisi negara
Republik Indonesia atau pejabat
pegawai negeri sipil tertentu yang
diberi wewenang khusus oleh undang-
undang untuk melakukan penyidikan.

Kewenangan penyidik Pasal 7 :

a. menerima Iaporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya
tindak pidana;
b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda
pengenal diri tersangka;
d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan
penyitaan;
e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. mengambil sidik jari dan memotret seorang;
g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
h. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya
dengan pemeriksaan perkara;
i. mengadakan penghentian penyidikan;
j. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Apakah Jaksa sebagai Penyidik
Tindak pidana Korupsi ?

Apabila mengacu pada pasal 1 angka (6) KUHAP maka
Jaksa adalah
a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh
undang-undang ini untuk bertindak sebagai penuntut
umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
b. Penuntut umum adalah jaksa yang diberi
wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan
penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

Pasal 284 KUHAP

(2) Dalam waktu dua tahun setelah undang undang ini
diundangkan maka terhadap semua perkara
diberlakukan ketentuan undang undang ini, dengan
pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan
khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada
undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan
atau dinyatakan tidak berlaku lagi.

Periode

1941-1971,

Kejaksaan

mempunyai

kewenangan

untuk
melakukan penyidikan (termasuk di
dalamnya perkara tindak pidana
korupsi atau sejenisnya). Berdasarkan
HIR, Kejaksaan mempunyai wewenang
penyidikan lanjutan dan sekaligus
berwenang melakukan upaya paksa
untuk

kepentingan

penyidikan,
bahkan berfungsi sebagai koordinator
penyidik.

Pasal 2 ayat (2) UU No. 15 Tahun 1961 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Kejaksaan yang
menyatakan “Dalam melaksanakan ketentuan-
ketentuan dalam pasal 1, Kejaksaan mempunyai tugas:
mengadakan penyidikan lanjutan terhadap kejahatan
dan

pelanggaran

serta

mengawasi

dan
mengkoordinasikan alat-alat penyidik menurut
ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang Hukum
Acara Pidana dan lain-lain peraturan Negara”, maka
Kejaksaan masih berfungsi sebagai koordinator
penyidik

berdasarkan UU No. 24/prp/1960
tentang Pengusutan, Penunututan
dan Pemeriksaan Tindak Pidana
Korupsi, Kejaksaan mempunyai
wewenang melakukan penyidikan
dan penuntutan. Hal ini dapat
dilihat dalam Pasal 2, 4, 5, 6, 7, 8
dan 9 UU No. 24/Prp/1960.

Bahwa UU 31/1999 tidak memberikan kewenangan
penyidikan tindak pidana korupsi kepada Kejaksaan.
Tidak ada pasal secara tegas menyatakan bahwa
kejaksaan mempunyai kewenangan dalam melakukan
penyidikan. Namun, ada setidaknya 3 Pasal dalam UU
31/1999 yang ditafsirkan bahwa Kejaksaan masih
mempunyai kewenangan untuk melakukan
penyidikan tindak pidana korupsi sebagaimana
tercantum dalam Pasal 26, Pasal 27 dan Pasal 39:

Pasal 26 “Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan
disidang pengadilan terhadap tindak pidana korupsi,
dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang
berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-
undang ini”.
Pasal 27 “Dalam hal ditemukan tindak pidana korupsi
yang sulit pembuktiannya, maka dapat dibentuk tim
gabungan di bawah koordinasi Jaksa Agung”.
Pasal 39 “Jaksa Agung mengkoordinasikan dan
mengendalikan Penyelidikan, penyidikan, dan
penuntut tindak pidana korupsi yang dilakukan
bersama-sama oleh orang yang tunduk pada Peradilan
Umum dan Peradilan Militer”.

Beberapa ketentuan UU
30/2002 yang mengganggap
kejaksaan masih mempunyai
kewenangan penyidikan antara
lain terlihat dalam Pasal 44 ayat
(4), (5) dan Pasal 50 ayat (1), (2),
(3) dan (4), dan Penjelasan
Umum.

Pasal 44 ayat (4) UU 30/2002: Dalam hal Komisi
Pemberantasan Korupsi berpendapat bahwa perkara
tersebut diteruskan, Komisi Pemberantasan Korupsi
melaksanakan penyidikan sendiri atau dapat
melimpahkan perkara tersebut kepada penyidik
kepolisian atau kejaksaan.
Pasal 44 ayat (5) UU 30/2002 Dalam hal penyidikan
dilimpahkan kepada kepolisian atau kejaksaan
sebagaimana dimaksud pada Ayat (4), kepolisian atau
kejaksaan wajib melaksanakan koordinasi dan
melaporkan perkembangan penyidikan kepada Komisi
Pemberantasan Korupsi.

Pasal 50 ayat (1) UU 30/2002 Dalam hal suatu tindak
pidana korupsi terjadi dan Komisi Pemberantasan
Korupsi belum melakukan penyidikan, sedangkan
perkara tersebut telah dilakukan penyidikan oleh
kepolisian atau kejaksaan, instansi tersebut wajib
memberitahukan kepada Komisi Pemberantasan
Korupsi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja
terhitung sejak tanggal dimulainya penyidikan.
Pasal 50 ayat (2) UU 30/2002 Penyidikan yang
dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan sebagaimana
dimaksud pada Ayat (1) wajib dilakukan koordinasi
secara terus menerus dengan Komisi Pemberantasan
Korupsi.

Pasal 50 ayat (3) UU 30/2002 Dalam hal Komisi
Pemberantasan Korupsi sudah mulai melakukan
penyidikan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1),
kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang lagi
melakukan penyidikan.
Pasal 50 ayat (4) UU 30/2002 : Dalam hal penyidikan
dilakukan secara bersamaan oleh kepolisian dan/atau
kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi,
penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian atau
kejaksaan tersebut segera dihentikan.

Pasal 30 ayat (1) huruf d UU 16/2004 yang
menyatakan “Di bidang pidana, kejaksaan
mempunyai tugas dan wewenang: d) melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana tertentu,
berdasarkan undang-undang”
. Dalam Penjelasan
Pasal 30 ayat (1) huruf d menyatakan “Kewenangan
dalam ketentuan ini adalah kewewenangan
sebagaimana diatur misalnya adalah Undang-Undang
Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindakan Pidana Korupsi
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001.

YUDICIAL REVIEW

(Sekarang proses Yudicial Review yang diajukan oleh
M. ZAENAL ARIFIN dan Pemohon lain Iwan Budi
Santoso dan Ardion Sitompul dalam perkara nomor
16/PUU-X/2012, dalam sidang pendahuluan Jum’at
(17/2) di ruang sidang MK. Selain Zainal, mereka
berprofesi sebagai advokat. Dalam hal ini, para
Pemohon menguji Pasal 30 ayat (1) huruf d UU No.
16/2004 tentang Kejaksaan RI, Pasal 39 UU No.
31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor, serta Pasal 44
ayat (4), (5), Pasal 50 ayat (1), (2), (3), dan ayat (4) UU
No. 30/2002 tentang KPK).

Surat Dakwaan

Surat dakwaan adalah surat atau akta yang memuat
rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada
Terdakwa yang disimpulkan dan ditarik dari hasil
pemeriksaan penyidikan, dan merupakan dasar serta
landasan bagi Hakim dalam pemeriksaan perkara di
muka sidang Pengadilan. Pemeriksaan sidang tidak
boleh menyimpang dari apa yang dirumuskan dalam
surat dakwaan.

Surat Dakwaan;

Pasal 140 KUHAP
(1) Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa
dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan, ia
dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->