P. 1
Gizi Dalam Pembangunan

Gizi Dalam Pembangunan

4.68

|Views: 8,548|Likes:
Published by Valentino Vavayosa

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Valentino Vavayosa on Jan 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

PERBAIKAN GIZI DAN LINGKUNGAN UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP BAYI & ANAK

I.

PENDAHULUAN

Pembangunan suatu bangsa merupakan upaya pemerintah bersama masyarakat dalam mensejahterakan bangsa. Keberhasilan pembangunan nasional ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM). SDM yang berkualitas dicirikan dengan fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi. Indikator yang digunakan untuk pengukur tinggi rendahnya kualitas SDM antara lain indeks kualitas hidup atau yang lebih dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM). Pada dasarnya IPM dan IKM mempunyai komponen yang sama, yaitu angka harapan hidup (tingkat kesehatan), penguasaan ilmu pengetahuan (tingkat pendidikan) dan standar kehidupan yang layak (tingkat ekonomi), Pada IPM standar hidup layak dihitung dari pendapatan per kapita, sementara IKM diukur dengan persentase penduduk tanpa akses terhadap air bersih, fasilitas kesehatan dan balita kurang gizi. Pada tahun 2003 IPM Indonesia pada peringkat 112 dari 175 negara, sementara IKM pada peringkat 33 dari 94 negara, jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti pada tabel berikut; Negara Singapore Brunei Darussalam Malaysia Thailand Philipine Vietnam Indonesia Cambodia Myanmar Laos IPM 88.4 87.2 79.0 76.8 75.1 68.8 68.2 55.6 54.9 52.5 peringkat 28 31 58 74 85 109 112 130 131 135 IKM 6.3 12.9 14.8 19.9 17.9 42.8 25.7 40 Peringkat 6 24 28 39 33 73 45 66

Tiga faktor utama penentu IPM yang dikembangkan UNDP adalah tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ketiga faktor tersebut erat kaitannya dengan status gizi masyarakat. Salah satu prioritas pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah upaya perbaikan gizi yang berbasis pada sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal. Kurang gizi berdampak pada penurunan kualitas SDM yang lebih lanjut dapat berakibat pada kegagalan pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan kecerdasan, menurunkan produktivitas, meningkatkan kesakitan serta kematian.

Seperti halnya di negara berkembang lain, di Indonesia masalah gizi utama adalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Gangguan Akibat Kekurangnan Yodium (GAKY) dan pada kota-kota besar sudah mulai terjadi masalah gizi lebih. II. PENYEBAB MASALAH GIZI

Dampak
Makan Tidak Seimbang

KURANG GIZI

Penyebab langsung

Penyakit Infeksi

Penyebab Tidak langsung

Tidak Cukup Persediaan Pangan

Pola Asuh Anak Tidak Memadai

Sanitasi dan air Bersih/Pelayanan Kesehatan Dasar Tidak memadai

Kurang Pendidikan, Pengetahuan dan Keterampilan

Pokok Masalah di Masyarakat

Kurang pemberdayaan wanita dan keluarga, kurang pemanfaatan sumberdaya masyarakat

Pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan

Akar Masalah (nasional)

Masalah gizi merupakan masalah yang multi dimensi, dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab. Penyebab langsung gizi kurang adalah makan tidak seimbang, baik jumlah dan mutu asupan gizinya, di samping itu asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat adanya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah tidak cukup tersedianya pangan di rumah tangga, kurang baiknya pola pengasuhan anak terutama dalam pola pemberian makan pada balita, kurang memadainya sanitasi dan kesehatan lingkungan serta kurang baiknya pelayanan kesehatan. Semua keadaan ini berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan. Akar masalah gizi adalah terjadinya krisis ekonomi, politik dan sosial termasuk kejadian bencana alam, yang mempengaruhi ketidak seimbangan antara asupan makanan dan adanya penyakit infeksi, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi balita. Kemiskinan dan kurang gizi merupakan suatu fenomena yang saling terkait, oleh karena itu meningkatkan status gizi suatu masyarakat erat kaitannya dengan upaya

Krisis Ekonomi, Politik, dan Sosial

peningkatan ekonomi. Beberapa penelitian di banyak negara menunjukkan bahwa proporsi bayi dengan BBLR berkurang seiring dengan peningkatan pendapatan nasional suatu negara. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan ekonomi sebagai dampak dari berkurangnya kurang gizi dapat dilihat dari dua sisi, pertama berkurangnya biaya berkaitan dengan kematian dan kesakitan dan di sisi lain akan meningkatkan produktivitas. Manfaat ekonomi yang diperoleh sebagai dampak dari perbaikan status gizi adalah: berkurangnya kematian bayi dan anak balita, berkurangnya biaya perawatan untuk neonatus, bayi dan balita, produktivitas meningkat karena berkurangnya anak yang menderita kurang gizi dan adanya peningkatan kemampuan intelektualitas, berkurangnya biaya karena penyakit kronis serta meningkatnya manfaat “intergenerasi” melalui peningkatan kualitas kesehatan. Berdasarkan analisis HL Bloomm (1978) menunjukan bahwa status kesehatan termasuk status gizi dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku , pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Faktor lingkungan antara lain lingkungan fisik, boilogis dan sosial memegang peranan yang terbesar dalam menentukan status kesehatan dan gizi, selanjutnya faktor yang cukup berpengaruh adalah faktor perilaku yang berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan yang menentukan perilaku seseorang atau kelompok untuk berperilaku sehat atau tidak sehat. Faktor pelayanan kesehatan memegang peranan yang lebih kecil dalam menentukan status kesehatan dan gizi dibandingkan dengan kedua faktor tersebut, sedangkan faktor keturunan mempunyai pengaruh yang lebih kecil dibandingkan faktor lingkungan, perilaku da pelyanan kesahatan. Dengan demikian disarankan dalam meningkatkan status kesehatan dan gizi disamping peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi harus disertai dengan upaya perbaikan lingkungan dan perilaku masyarakat yang berdampak positf pada status kesehatan dan gizi.
Lingkungan

Perilaku Status Kesehatan & Gizi
Genetik/keturunan

Pelayanan Kesehatan

Gambar. Bagan Bloomm

Adanya keterkaitan upaya perbaikan gizi dengan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Sekjen PBB Kofi Annan bahwa : Gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak, meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, melindungi kesehatannya dan meletakan fondasi untuk masa depan produktivitas anak. Faktor Yang Berkaitan dengan Peningkatan Mutu SDM

Kemiskinan Kurang

Ekonomi Meningkat

Peningkatan Produktivitas

Perbaikan Gizi, tumbuh kembang fisik & mental anak

Investasi Sektor Sosial (Gizi, Kes, Pendidikan)

Peningkatan Kualitas SDM
Sumber : Martorell 1992

Investasi di sektor sosial (gizi,kesehatan dan pendidikan) akan memperbaiki keadaan gizi masyarakat yang merupakan salah satu faktor penentu untuk meningkatkan kualitas SDM. Dengan meningkatnya kualitas SDM, akan meningkatkan produktivitas kerja yang selanjutnya akan meningkatkan ekonomi. Dengan terjadinya perbaikan ekonomi akan mengurangi kemiskinan dan selanjutnya akan meningkatkan keadaan gizi, meningkatkan kualitas SDM. Meningkatkan produktivitas dan seterusnya.
KURANG GIZI DAN TINGKAT PEMBANGUNAN
PEMBANGUNAN KURANG BERKEMBANG
Sistem pasar yg buruk

Pengangguran

Produksi pangan Persediaan pangan di pasar Rendahnya Pendapatan

Harga tidak stabil Kebijakan harga

Pendidikan rendah/ rendahnya ketrampilan

Suply pangan Jumlah Anggota kel Perilaku Pola asuh

Konsumsi pangan RT DO sekolah
Lingkungan buruk, sanitasi Sistem yankes tidak baik

KURANG GIZI
SAKIT MENINGGAL

Sumber: The National BIDANI Network 1998, UPLB III. DAMPAK KURANG GIZI Kehidupan manusia dimulai sejak di dalam kandungan ibu. Sehingga calon ibu perlu memounyai kondisi yang baik. Kesehatan dan gizi ibu hamil USI A LANJ UT merupakan kondisi yang ZI KURANG GI sangat diperlukan bagi sang bayi untuk menjadi sehat. Jika tidak, maka dari awal kehidupan kehidupan manusia akan BBLR bermasalah pada kehidupan selanjutnya. BALI TA KEP Masalah Gizi Menurut Siklus Kehidupan
IMR, perkembangan mental terhambat, risiko penyakit kronis pada usia dewasa Kurang makan, sering terkena infeksi, pelayanan kesehatan kurang, pola asuh tidak memadai Pelayanan Kesehatan kurang memadai Konsumsi tidak seimbang Proses Pertumbuhan lambat, ASI ekslusif kurang, MP-ASI tidak benar Tumbuh kembang terhambat Gizi janin tidak baik

WUS KEK BUMI L KEK (KENAI KAN BB RENDAH)
MMR

Konsumsi gizi tidak cukup, pola asuh kurang

Pelayanan kesehatan tidak memadai

REMAJ A & USI A SEKOLAH GANGGUAN PERTUMBUHAN
Produktivitas fisik berkurang/rendah

Konsumsi Kurang

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah keadaan bayi lahir dengan berat badan <2500 gram. Keadaan gizi ibu yang kurang baik sebelum hamil dan pada waktu hamil cenderung melahirkan BBLR, bahkan kemungkinan bayi meninggal dunia. Sejak anak dalam kandungan hingga berumur 2 tahun merupakan masa emas yang merupakan masa kritis untuk tumbuh kembang fisik, mental dan sosial. Pada masa ini tumbuh kembang otak paling pesat (80%) yang akan menentukan kualitas SDM pada masa dewasa. Sehingga potensi anak dengan IQ yang rendah sangat memungkinkan. Anak yang dilahirkan dengan berat badan rendah berpotensi menjadi anak dengan gizi kurang bahkan menjadi buruk. Lebih lanjut lagi gizi buruk pada anak balita berdampak pada penurunan tingkat kecerdasan atau IQ. Setiap anak gizi buruk mempunyai risiko kehilangan IQ 10-13 poin. Lebih jauh lagi dampak yang diakibatkan adalah meningkatnya kejadian kesakitan bahkan kematian. Mereka yang masih dapat bertahan hidup akibat kekurangan gizi yang bersifat permanen kualitas hidup selanjutnya mempunyai tingkat yang sangat rendah dan tidak dapat diperbaiki meskipun pada usia berikutnya kebutuhan gizinya sudah terpenuhi. Istilah “generasi hilang” terutama disebabkan pada awal kehidupannya sulit memperoleh pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Gambaran kurang gizi lainnya yang juga menjadi masalah gizi utama adalah Kurang zat gizi mikro, seperti kurang vitamin A, kurang zat besi, dan kurang yodium terutama di beberapa daerah endemis. Lebih dari 100 juta penduduk berisiko untuk kurang zat gizi mikro ini. Kurang zat besi pada wanita hamil meningkatkan risiko kematian wanita pada saat melahirkan, dan meningkatkan risiko kematian risiko bayi yang dilahirkan kurang zat besi. Bayi yang kurang besi dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan sel-sel otak yang dikemudian hari dapat mengurangi IQ anak Kurang vitamin A selain berdampak pada risiko kebutaan juga risiko kematian balita karena infeksi. Kurang vitamin A ikut berperan pada

tingginya angka kematian balita di Indonesia dan berpotensi terhadap rendahnya produktivitas kerja. Kekurangan Yodium dapat menyebabkan kerusakan mental. Pada ibu yang kekurangan yodium menyebabkan bayi lahir mati, cacat fisik atau kerusakan berat pada otak. Penduduk yang tinggal di daerah rawan kurang yodium berpotensi kehilangan IQ sebesar 50 poin IQ per orang. Diperkirakan 10% penduduk usia dewasa di perkotaan atau 10 juta orang mengalami gizi lebih. Hal ini perlu disikapi mengingat kelebihan gizi dapat menyebabkan penyakit degeneratif seperti diabet, jantung koroner, hypertensi, osteoporosis dan kanker. IV. KEBIJAKAN

Kebijakan upaya perbaikan gizi dikembangkan dan diarahkan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, Pada saat krisis ekonomi di Indonesia yang berlangsung cukup lama, kebijakan yang dilakukan bersifat penyelamatan (rescue) dan pencegahan “lost generation”, sekaligus pembaharuan (reform) agar kejadian ini tidak terulang kembali. Untuk itu maka kebijakan harus menjangkau berbagai faktor, yaitu: Kebijakan jangka pendek, bertujuan menangani anak dan keluarga yang terpuruk akibat krisis. Program penyelamatan ini dikenal dengan Jaring Pengaman Sosial Bidang kesehatan (JPSBK) termasuk perbaikan gizi. Kebijakan diarahkan pada peningkatan upaya penanggulangan kasus pemulihan keadaan gizi anak, penurunan kematian akibat gizi buruk dan peningkatan mutu sumberdaya manusia melaui peningkatan keadaan gizi masyarakat. Pemberian makanan tambahan untuk bayi dan anak umur 6 – 24 bulan serta ibu hamil dan menyusui yang berasal dari keluarga miskin. Revitalisasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dalam rangka identifikasi dini kekurangan pangan dan gizi di suatu daerah, Revitalisasi pos pelayanan terpadu (Posyandu) untuk menggalakkan kembali peran serta masyarakat. Kebijakan jangka menengah dan panjang, berupa reformasi kebijakan yang tujuannya adalah menyempurnakan subsistem pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan agar menjadi lebih proaktif, professional serta mandiri. Untuk melakukan kebijakan ini maka diperlukan hal-hal yang menunjang, yaitu:  Mengembangkan sistem ketahanan pangan dan gizi berbasis keluarga dan kemampuan produksi, keragaman sumberdaya bahan pangan serta kelembagaan dan budaya lokal.  Mengembangkan agribisnis komoditas pangan berorientasi global dengan membangun keunggulan lokal.  Pola pengasuhan yang tepat dan bermutu pada anak termasuk asuhan nutrisi.

 Pendelegasian wewenang yang lebih besar kepada pemerintah daerah (desentralisasi) dan menyelenggarakan upaya penanganan masalah spesifik daerah.  Pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Pada dasarnya kemampuan daya beli pangan dan akses pelayanan sosial sangat mempengaruhi keadan gizi masyarakat V. STRATEGI

1. Pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui peningkatan lintas sektor dan melibatkan sektor swasta dan dunia usaha. Pemberdayaan diarahkan pada peningkatan pengetahuan, kesadaran serta kemampuan keluarga berperilaku sadar gizi serta mampu memanfaatkan sumberdaya keluarga untuk meningkatkan status gizi keluarga. 2. Pelaksanaan intervensi harus dilakukan secara fokus pada upaya menurunkan kematian bayi, ibu, anak dan gizi kurang, dengan pendekatan pada daur kehidupan dan multi-program/pelayanan kepada masyarakat secara terpadu. 3. Mengkaji semua komponen yang berakibat pada tingginya angka kematian tersebut terutama yang berkait pada indikator IPM, IKM. Komponen tersebut antara lain angka harapan hidup, angka melek huruf, pendapatan perkapita, presentase penduduk tanpa akses air bersih, fasilitas kesehatan dan persentase balita kurang gizi. 4. Menggunakan peluang desentralisasi, yaitu pendelegasian wewenang yang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk mengatur sistem pemerintah sendiri dan menyelenggarakan upaya penanganan masalah gizi harus mulai dari masalah dan potensi masing-masing daerah. 5. Pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Pada dasarnya kemampuan daya beli pangan dan akses pelayanan sosial sangat mempengaruhi keadaan gizi masyarakat 6. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dengan meningkatkan cakupan pelayanan serta profesionalisme petugas 7. Mengalokasikan anggaran secara efektif sesuai skala prioritas (wilayah dan sasaran) VI. POKOK PROGRAM

1. Program pemberdayaan keluarga, melalui Upaya Perbaikan Gizi Keluarga secara terintegrasi dengan upaya peningkatan ekonomi dan ketahanan pangan 2. Pemantauan dan promosi pertumbuhan balita, pokok program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan keluarga melakukan deteksi dini gangguan pertumbuhan pada anak. 3. Program Pendidikan gizi, untuk mendukung tercapainya keluarga sadar gizi.

4. Program supplementasi gizi, bertujuan untuk memberikan tambahan gizi kepada kelompok rawan utamanya untuk keluarga miskin dalam jangka pendek. Jenis suplementasi gizi yang diberikan berupa : • Makanan Pendamping Asi untuk anak usia 6-11 bulan pada keluarga miskin • Pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil • Supplemntasi kapsul Vitamin A untuk anak balita dan ibu nifas • Supplementansi zat besi untuk ibu hamil dan sirup besi untuk anak balita. • Suppplementasi kapsul Yodium terutama pada daerah endemis sedang dan berat. 5. Program Fortifikasi bahan makanan, bertujuan meningkatkan mutu gizi pada bahan makanan yang sering dan banyak dikonsumsi masyarakat utamanya pada keluarga miskin dan rawan gizi. 6. Program pelayanan gizi, mencakup pengembangan tatalaksana kasus salah gizi, konsultasi gizi dan pelayanan gizi di institusi kesehatan dan non kesehatan. Program surveilans gizi, bertujuan menyediakan sistem informasi untuk mendukung strategi dan kebijakan program gizi. Terdiri dari: pemantauan status gizi, surveilans gizi, jejaring informasi pangan dan gizi VII. HASIL

Masalah gizi utama di Indonesia masih di dominasi oleh masalah gizi kurang atau Kurang Energi Protein (KEP), anemia gizi besi, Gangguan Akibat kekurangan Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A (KVA). Masalah gizi lebih (obesitas) terutama sudah mulai terjadi terutama di kota-kota besar. A. GIZI KURANG Anak umur di bawah lima tahun (balita) Prevalensi Gizi kurang dan buruk menurut SUSENAS tahun 1989 - 2003
40 35 37.5 35.6 31.6 29.5 26.4 24.7 26.1 27.3 27.5

presen (%)

30 25 20 15 10 5 0 1989 1992 1995

.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1989– 2003 prevalensi gizi-kurang secara perlahan menurun dari 37,5% (tahun 1989) menjadi 27,5%, walaupun pada saat krisis angka tersebut tetap pada prevalensi 20– 30 persen.

1998

1999

2000

2001

2002

2003

tahun

Jumlah gizi kurang dan buruk menurut SUSENAS tahun 1989 – 2003 Jumlah Jumlah Tahu Jumlah balita gizi balita gizi n penduduk kurang buruk dan buruk 1989 177.614.965 7.986.279 1.324.769 1992 185.323.456 7.910.346 1.607.866 1995 95.860.899 6.803.816 2.490.567 1998 206.398.340 6.090.815 2.169.247 1999 209.910.821 5.256.587 1.617.258 2000 203.456.005 4.415.158 1.348.181 2001 206.070.000 4.733.028 1.142.455 2002 208.749.460 5.014.028 1.469.596 2004 211.567.577 5.119.935 1.528.676 Catatan: Jumlah balita tahun 2003 diperkirakan 8,5% dari jumlah penduduk Jika dilakukan estimasi berdasarkan laju pertumbuhan penduduk, maka jumlah balita yang menderita gizi-kurang dan buruk tahun 1989 sebesar 7.986.279 menurun menjadi 5.119.935 pada tahun 2003. Namun demikian angka tersebut masih ‘ stagnant ‘ diantara tahun 1999 sampai tahun 2003 VIII. GIZI MASALAH, TANTANGAN DAN PEMIKIRAN PROGRAM PERBAIKAN PADA MASA YANG AKAN DATANG.

Besar dan luasnya masalah gizi pada setiap kelompok umur menurut siklus kehidupan dan saling berpengaruhnya masalah gizi kepada siklus kehidupan (intergenerational impact), maka diperlukan kebijakan dan strategi baru perbaikan gizi di setiap siklus kehidupan. Faktor geografis dan demografi. Lebih dari 50% penduduk tinggal di daerah perdesaan dan daerah sulit. Untuk meningkatkan pelayanan gizi dan pemantauan pertumbuhan pada masyarakat sasaran yang sulit dijangkau dengan fasilitas

pelayanan yang ada seperti puskesmas dan posyandu, perlu ada upaya khusus untuk mendekatkan pelayanan kepada kelompok ini. Dampak krisis ekonomi telah menurunkan kemampuan daya beli masyarakat. Jumlah penduduk miskin masih 18% atau sekitar 38 juta. Pada masyarakat ini daya beli terhadap makanan dan pelayanan kesehatan sangat terbatas, oleh karena itu untuk mencegah kurang gizi, upaya peningkatan daya beli melalui pemberian kredit usaha kecil dan menegah dan bantuan pemasarannya dan peningkatan keterampilan (income generating) yang disertai dengan upaya KIE gizi menuju keluarga sadar gizi kepada masyarakat miskin menjadi sangat penting. Meningkatnya kasus gizi buruk, hal ini menunjukkan rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, untuk mengatasi situasi ini upaya pemenuhan kesehatan dan gizi melalui program jaring pengaman sosial masih perlu mendapat prioritas, misalnya pemberian supplementasi gizi yang tepat sasaran, tepat waktu dengan mutu yang baik, perlu mendapat prioritas. Melakukan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara profesional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. Transisi bidang kesehatan dan gizi. Indonesia dan juga negara berkembang lainnya sedang menghadapi transisi epidemiologi, demografi, dan urbanisasi. Di bidang gizi telah terjadi perubahan pola makan seperti rendahnya konsumsi buah dan sayur, tingginya konsumsi garam dan meningkatnya konsumsi makananan yang tinggi lemak serta berkurangnya aktifitas olah raga pada sebagian masyarakat terutama di perkotaan. Gaya hidup demikian akan meningkatkan gizi lebih yang merupakan faktor risiko terhadap penyakit tidak menular dan kematian. Untuk mengatasi masalah gizi ganda diperlukan upaya lebih komprehensif melalui pemberdayaan keluarga, masyarakat, peningkatan kerjasama lintas sektor, kemitraan dengan LSM dan swasta dan terintegrasi dengan intervensi diberbagai bidang seperti konseling kesehatan dan gizi, pencegahan penyakit tidak menular, kebugaran jasmani, olah raga, pendidikan dll. Oleh karena itu sudah saatnya mengembangkan strategi nasional gizi, aktifitas fisik dan kesehatan, yang bertujuan untuk mencegah meningkatnya masalah gizi lebih dan penyakit degeneratif. Tingkat pendidikan. Meskipun tingkat melek huruf relatif tinggi (90%), akan tetapi pengetahuan dan kesadaran gizi masyarakat akan pentingnya gizi masih kurang, oleh karena itu upaya peningkatan pengetahuan dan sadar gizi kepada keluarga dan masyarakat perlu diprioritaskan dan mendapat dukungan dari berbagai sektor termasuk masyarakat. Secara bertahap mutu pendidikan ditingkatkan, karena dalam jangka panjang akan memberi kontribusi yang besar mengatasi masalah kesehatan dan gizi masyarakat. Ketersediaan data yang akurat. Monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan terbatas hanya pada program perbaikan gizi berskala nasional seperti program penanggulangan GAKY. Untuk menghasilkan program yang efektif diperlukan

ketersediaan data dan informasi secara periodik baik untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya perbaikan gizi kedepan adalah sebagai berikut: 1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait. 2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat, sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan. 3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian ‘best practice’ (efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan publik. 4 Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan. 5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi, misalnya kesehatan, pertanian, pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. 6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta, LSM dan masyarakat. IX. PENUTUP

Upaya perbaikan gizi masyarakat yang dilaksanakan secara intensif selama 30 tahun terakhir secara umum telah dapat menurunkan prevalensi beberapa masalah gizi utama, walaupun masih jauh tertinggal dari negara lain. Namun demikian masih perlu adanya perbaikan secara holistik, karena pada saat krisis prevalensi masalah gizi meningkat dengan tajam. Program perbaikan gizi kedepan lebih diharapkan menggunakan pendekatan preventif selain kuratif. Target perlu tepat dan benar-benar pada sasaran yang membutuhkan, tidak hanya berorientasi pada pemberian makan tambahan saja akan tetapi juga pada pendidikan gizi serta pemberdayaan masyarakat pada kemandirian gizi yang mengarah pada hidup sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Martorell The National BIDANI

……………………………………. 1992 ……………………………………. 1998, UPLB

PERBAIKAN GIZI DAN LINGKUNAN UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP BAYI & ANAK

D I S U S U N

OLEH : BERLIANA HARIANJA NIM : 0704045

S1 KESEHATAN MASYARAKAT SUMATERA UTARA MEDAN 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->