P. 1
Konsep Trias Politica

Konsep Trias Politica

|Views: 219|Likes:
Published by aghiffara

More info:

Published by: aghiffara on Jun 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2015

pdf

text

original

Perkembangan ke arah adopsi yang makin luas terhadap sistem Hukum Islam yang bersesuaian dengan dinamika kesadaran

hukum dalam masyarakat kita, yang dituangkan dalam berbagai bentuk peraturap. perundang-undangan serta diwujudkan dalam esensi kelembagaan hukum yang dikembangkan dapat dikaitkan pula dengan pertimbanganpertimbangan yang bersifat filosofis dan ketatanegaraan. Secara umum dapar diakui bahwa UUD 1945 mengakui dan menganut ide Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Ide Ketuhanan Yang Maha Esa itu tidak saja ditegaskan dalam rumusan Pembukaan UUD yang menyebut secara eksplesit adanya pengakuan ini, tetapi juga dengan tegas mencantumkan ide Ketuhanan Yang Maha Esa itu sebagai sila pertama dan utama dalam rumusan Pancasila. Bahkan, dalam Pasal 29 UUD 1945. ditegaskan pula bahwa Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan dalam Pasal 9 ditentukan bahwa setiap Presiden dan Wakil Presiden sebelum memangku jabatan diwajibkan untuk bersumpah 'Demi Allah'. Ide Ke-Maha Esaan Tuhan itu bahkan dikaitkan pula dengan ide Ke-Maha Kuasaan Tuhan yang tidak lain merupakan gagasan Kedaulatan Tuhan dalam pemikiran kenegaraan Indonesia. Namun, prinsip Kedaulatan Tuhan itu berbeda dari paham teokrasi barat yang dijelmakan dalam kekuasaan Raja. maka dalam sistem pemikiran ketatanegaraan berdasarkan UUD 1945, hal itu dijelmakan dalam prinsip-prinsip kedaulatan rakyat. Selanjutnya, prinsip kedaulatan rakyat dijelmakan ke dalam sistem kelembagaan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Selanjutnya, prinsip kedaulatan rakyat dijelmakan ke dalam sistem kelembagaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang selanjutnya akan menentukan haluan-haluan dalam penyelenggaraan negara berupa produk-produk hukum tertinggi, yang akan menjadi sumber bagi penataan dan pembinaan sistem hukum nasional. MPRlah yang dijadikan sumber kewenangan hukum bagi upaya pemberlakuan sistem hukum Islam itu dalam kerangka sistem hukum nasional. Dari perspektif Hukum Islam, proses pemikiran demikian dapat dikaitkan dengan pemahaman mengenai konsep 'theistic democracy' yang berdasar atas hukum atau pun konsep 'divine nomocracy' yang demokratis yang berhubungan erat dengan penafsiran inovatif terhadap ayat al-Quran yang mewajibkan ketaatan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada 'ulul amri'. Pengertian 'ulul amri'yang seringkali disalahpahami sebagai konsep mengenai 'pemimpin' (waliyu amri), justru dipahami sebagai konsep mengenai 'perwakilan kepemimpinan' atau 'para pemimpin yang mewakili rakyat' (ulul amri). Karena itu, konsep parlemen dalam pengertian modern dapat diterima dalam kerangka pemikiran Hukum Islam, melalui mana norma-norma hukum Islam itu diberlakukan dengan dukungan otoritas kekuasaan umum, yaitu melalui pelembagaannya menjadi 'qanun' atau peraturan perundangundangan negara. Karena itu, dapat dikatakan bahwa eksistensi Hukum Islam dalam kerangka Sistem Hukum Nasional Indonesia sangat kuat kedudukannya, baik secara filosofis, sosiologis, politits, maupun juridis. Meluasnya kesadaran mengenai reformasi hukum nasional dewasa ini justru memberikan peluang yang makin luas bagi sistem Hukum Islam untuk berkembang makin luas dalam upaya memberikan sumbangan terhadap perwujudan cita-cita menegakkan supremasi sistem hukum sesuai amanat reformasi.

Sumber: Badilag.net

Konsep Trias Politica (www.gaulislam.com) merupakan ide pokok dalam Demokrasi Barat, yang mulai berkembang di Eropa pada abad XVII dan XVIII M. Trias Politica adalah anggapan bahwa kekuasaan negara terdiri dari tiga macam kekuasaan : pertama, kekuasaan legislatif atau membuat undang-undang; kedua, kekuasaan eksekutif atau kekuasaan melaksanakan undangundang; ketiga, kekuasaan yudikatif atau kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang. Trias Politica menganggap kekuasaan-kekuasaan ini sebaiknya tidak diserahkan kepada orang yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian diharapkan hak-hak azasi warga negara dapat lebih terjamin. Konsep tersebut untuk pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755). Filsuf Inggris John Locke mengemukakan konsep tersebut dalam bukunya Two Treatises on Civil Government (1690), yang ditulisnya sebagai kritik terhadap kekuasaan absolut raja-raja Stuart di Inggris serta untuk membenarkan Revolusi Gemilang tahun 1688 (The Glorious Revolution of 1688) yang telah dimenangkan oleh Parlemen Inggris. Menurut Locke, kekuasaan negara harus dibagi dalam tiga kekuasaan yang terpisah satu sama lain; kekuasaan legislatif yang membuat peraturan dan undang-undang, kekuasaan eksekutif yang melaksanakan undang-undang dan di dalamnya termasuk kekuasaan mengadili, dan kekuasaan federatif yang meliputi segala tindakan untuk menjaga keamanan negara dalam hubungan dengan negara lain (dewasa ini disebut hubungan luar negeri). Selanjutnya, pada tahun 1748, filsuf Perancis Montesquieu mengembangkan konsep Locke tersebut lebih jauh dalam bukunya L’Esprit des Lois (The Spirit of Laws), yang ditulisnya setelah dia melihat sifat despotis (sewenang-wenang) dari raja-raja Bourbon di Perancis. Dia ingin menyusun suatu sistem pemerintahan di mana warga negaranya akan merasa lebih terjamin hak-haknya. Dalam uraiannya, Montesquieu membagi kekuasaan dalam tiga cabang yang menurutnya haruslah terpisah satu sama lain; kekuasaan legislatif (kekuasaan untuk membuat undang-undang), kekuasaan eksekutif (kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang, tetapi oleh Montesquieu diutamakan tindakan di bidang politik luar negeri), dan kekuasaan yudikatif (kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang). Ide pemisahan kekuasaan tersebut, menurut Montesquieu, dimaksudkan untuk memelihara kebebasan politik, yang tidak akan terwujud kecuali bila terdapat keamanan masyarakat dalam negeri. Montesquieu menekankan bahwa seseorang akan cenderung untuk mendominasi kekuasaan dan merusak keamanan masyarakat tersebut bila kekuasaan terpusat pada tangannya. Oleh karenanya, dia berpendapat bahwa agar pemusatan kekuasaan tidak terjadi, haruslah ada pemisahan kekuasaan yang akan mencegah adanya dominasi satu kekuasaan terhadap kekuasaan lainnya . Montesquieu juga menekankan bahwa kebebasan akan kehilangan maknanya, tatkala kekuasaan eksekutif dan legislatif terpusat pada satu orang atau satu badan yang menetapkan undang-undang dan menjalankannya secara sewenang-wenang. Demikian pula, kebebasan akan tak bermakna lagi bila pemegang kekuasaan menghimpun kedua kekuasaan tersebut dengan kekuasaan yudikatif. Akan merupakan malapetaka –seperti yang dikemukakan oleh Montesquieu– bila satu orang atau satu badan memegang sekaligus ketiga kekuasaan tersebut dalam suatu masyarakat. Konsep Trias Politica ini bertentangan dengan Islam dalam segi-segi berikut: Pertama, Sumber konsep ini adalah manusia, dimana manusia memberikan penilaian baik buruknya sesuatu menurut akal belaka. Konsep ini dibuat oleh para filsuf sebagai pemecahan terhadap masalah penindasan dan kesewenang-wenangan para raja dan tokoh gereja di Eropa terhadap rakyatnya dalam menjalankan kekuasaan. Dalam Islam, yang berhak memberikan penilaian baik buruknya sesuatu hanyalah Allah SWT semata, yakni syara’, bukan akal. Fungsi akal dalam hal ini hanya terbatas memahami fakta permasalahan dan nash-nash syara’ yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Tetapi fakta bukanlah sumber pemecahan masalah atau sumber konsep/pemahaman tentang hidup, melainkan objek permasalahan yang harus dikaji untuk kemudian dicarikan pemecahannya menurut nash-nash syara’. Pemecahan terhadap suatu permasalahan haruslah berasal dari syara’, bukan bertolak dari fakta permasalahan itu sendiri tanpa merujuk kepada syara’. Firman Allah SWT :

umatlah yang berhak memilih para penguasa. Dengan demikian. atau pemerintahan. Menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah ” (Al A’raaf : 54) Yang dimiliki oleh rakyat. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu. mua’malah. Islam memberikan ketetapan sebagai berikut: 1. syara’ telah menetapkan bahwa pihak yang berhak memilih dan menetapkan (mentabanni) hukum-hukum yang merupakan keharusan bagi pengaturan urusan rakyat dan pemerintahan. Maka dari itu. Ini semua menunjukkan bahwa kekuasaan yudikatif berada di tangan khalifah dan mereka yang mewakili khalifah dalam urusan ini. Demikian pula Rasulullah saw telah mengangkat Ali bin Abi Thalib ra sebagai qadli di Yaman. bukan kedaulatan.” (Asy Syuura : 10) Kedua. Khalifah tidak boleh menetapkan dan memilih hukum kecuali berupa hukum Allah semata. sebab Demokrasi telah menetapkan bahwa rakyatlah yang memiliki kedaulatan. Haditshadits tentang bai’at menunjukkan bahwa kekuasaan adalah milik umat. Kekuasaan yudikatif hanyalah dipegang oleh khalifah. adalah khalifah saja. Adapun Islam. Dalam hal ini bukan berarti khalifah yang memegang kekuasaan legislatif. dan mengangkat Abdullah bin Naufal ra sebagai qadli di Madinah. Ijma’ Shahabat menetapkan bahwa hanya khalifah sajalah yang berhak memilih dan menetapkan hukum-hukum syara’ sebagai undang-undang dasar dan undang-undang lainnya. 2. dan dijalankan secara riil oleh khalifah –dan para aparatnya– sebagai wakil rakyat untuk melaksanakan hukum-hukum syara’ dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. dan sebagainya. Maka dari itu. hanya Allah SWT sajalah yang menjadi Musyarri’ (Pembuat Hukum) yang menetapkan hukum-hukum dalam segala sesuatu. Di antaranya adalah sabda Nabi saw: “Kami telah membai’at Rasulullah saw untuk didengar dan ditaati. adalah kekuasaan. yakni bahwa bai’at itu berasal dari kaum muslimin untuk khalifah. maka putusannya (terserah) kepada Allah. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya). bukan milik manusia. Syara’lah yang menjadi rujukan tertinggi dalam segala sesuatu. khalifahlah yang mengangkat para qadli (hakim) dan mengangkat orang yang diberi wewenang untuk mengangkat para qadli.” (Shahih Bukhari no. Kekuasaan eksekutif adalah bersumber dari rakyat. tetapi hanya mengambil hukum-hukum syara’ yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Firman Allah SWT : “Menetapkan hukum hanyalah hak Allah” (Al An’aam : 57) Firman Allah SWT : “Ingatlah. Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman. eksekutif. (An Nisaa’ : 59) Sementara dalam hal kekuasaan. baik dalam masalah ibadah. Jadi. Kekuasaan legislatif hanyalah milik Allah semata. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. berdasarkan kriteria kekuatan dalil melalui proses ijtihad yang benar. Hak ini hanya dimiliki oleh khalifah. . dan yudikatif. rakyatlah yang menetapkan peraturan dan undang-undang.” (Al An’aam : 57) Firman Allah SWT: “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih. uqubat. bukan yang lain. menentukan para hakim. bukan dari khalifah untuk kaum muslimin. sebab kekuasaan itu adalah milik umat/rakyat. 7199) 3. Rakyatlah yang berhak memilih serta mengangkat penguasa. bukan yang lain. bukan milik rakyat.“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. atau orang yang mewakili khalifah untuk menjalankan kekuasaan tersebut. Konsep ini merupakan salah satu ide pokok Demokrasi yang kufur. Dengan kata lain. Tak boleh sama sekali seorang pun menetapkan hukum. dalam hal yang kami sukai maupun yang tidak kami sukai. Hal itu karena nash-nash syara’ menunjukkan bahwa Rasulullah saw sebagai kepala negara telah memegang sendiri urusan peradilan (qadla’) dan memberikan keputusan di antara orang-orang yang bersengketa. Namun demikian. dan mengangkat para penguasa. sebab khalifah tidak membuat hukum sendiri. telah menetapkan bahwa kedaulatan adalah milik syara’. walau pun hanya satu hukum. demokrasi menetapkan rakyatlah yang menjadi sumber kekuasaan legislatif. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. dan sekaligus rakyatlah yang menjadi sumber kekuasaan-kekuasaan. Tak ada seorang pun dari rakyat –baik secara individual maupun secara kolektif– yang berhak mengangkat para qadli. agar para penguasa ini menjalankan segala perintah dan larangan Allah dalam pemerintahannya.

” (Shahih Muslim. sebagaimana firman-Nya: “Mereka hendak bertahkim kepada thaghut. Islam tidak mengakui adanya ide kebebasan. yaitu dengan mewajibkan kaum muslimin untuk mengoreksi (muhasabah) dan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para penguasa. Tetapi siapa saja yang ridla (dengan tindakan mereka yang bertentangan dengan syara’) serta mengikuti mereka. Rasulullah saw menetapkan siapa saja yang tidak mengingkari penguasa tersebut. baik dengan tangan. Para shahabat bertanya. Namun hal ini bukanlah kebebasan politik. maka syara’ dalam hal ini telah memberikan pemecahannya. Konsep Trias Politica bertujuan untuk dapat memelihara kebebasan politik warga negara yang hilang karena perilaku penguasa yang bertindak sewenang-wenang. atau menyalahi hukum-hukum Islam. lisan. Mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim (pemutus) dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (An Nisaa’ : 65) Islam memang telah mewajibkan umatnya untuk beraktivitas dalam politik. dan siapa saja yang mengingkari perbuatan mereka (karena bertentangan dengan syara’) maka dia selamat. Konsep Trias Politica tiada lain adalah konsep thaghut. padahal Allah telah mengharamkan kaum muslimin untuk berhukum kepada thaghut dan mengambil konsep pemerintahan thaghut. seperti memilih penguasa. Keterikatan pada hukum syara’ adalah bukti dan buah dari iman. Sebab Allah SWT berfirman : “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Islam mewajibkan setiap muslim untuk terikat dengan hukum-hukum syara’. 1854) Rasulullah saw telah mewajibkan kaum muslimin untuk mengoreksi para penguasa dengan mengingkari mereka tatkala mereka melakukan penyimpangan. Dan Allah pun telah memerintahkan kaum muslimin untuk menentang dan mengingkari thaghut itu. melainkan pelaksanaan dari hukum syara’. Sabda Rasulullah saw: “Akan ada para amir (penguasa). maka dia tidak diminta tanggung jawabnya. Dengan demikian Islam tidak mengkaitkan masalah pemyimpangan penguasa dengan masalah pemisahan kekuasaan. maka kalian (ada yang) mengakui perbuatan mereka. Sebaliknya. sedang masalah kekuasaan telah dijelaskan oleh nash-nash syara’ yang lain. berarti dia telah ikut bersama-sama memikul dosa penguasa itu. selama mereka mendirikan shalat. Apabila penguasa kaum muslimin berlaku dzalim.” (An Nuur : 63) Keempat. Allah SWT berfirman : “Maka demi Rabbmu.”Apakah kita tidak memerangi mereka ?” Jawab Nabi saw. Siapa saja yang mengakui tindakan mereka (karena tidak bertentangan dengan syara’). dengan berbagai sarana yang memungkinkan. yaitu kewajiban berpolitik dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Dan syaithan hendak menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (An Nisaa’ : 60) [Muhammad Shiddiq Al Jawi] . Atas dasar penjelasan di atas.”Tidak. hadits no. yakni kebebasan dalam arti tidak terikat dengan sesuatu apa pun pada saat dilakukannya suatu perbuatan. yakni melakukan koreksi dan amar ma’ruf nahi mungkar. jelaslah bahwa konsep Trias Politica sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam. bukan melakukan pemisahan kekuasaan sebagaimana dalam konsep Trias Politica. melakukan pengawasan dan koreksi terhadap mereka. Dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.Ketiga. maka dia berdosa. sebagaimana yang ada dalam peradaban Barat. dan (ada yang) mengingkari perbuatan mereka. Dan kaum muslimin wajib mengambil pemecahan dari syara’ apabila penguasa berlaku menyimpang. merampas hak-hak rakyat. padahal mereka telah diperintah (untuk) mngingkari thaghut itu.” (Al Hasyr : 7) “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. melalaikan kewajiban mereka terhadap rakyat. Sebaliknya kaum muslimin diharamkan mengambil pemecahan yang tidak berasal dari syara’. Demikian pula seorang muslim tidak boleh berbuat kecuali sesuai dengan hukum-hukum syara’. melalaikan salah satu urusan rakyat. Penyimpangan penguasa telah dipecahkan oleh nash-nash syara’ tertentu. maupun hati bila tidak mampu dengan tangan dan lisan. seperti konsep Trias Politica.

Menteri Agama K. melalui Perti kemudian diajukan pertanyaan kepada pemerintah dalam sidang DPRS. Faqih Usman dari Muhammadiyah (Masyumi). Penunjukan wali hakim bagi mempelai wanita yang tidak mempunyai wali sendiri harus dilakukan oleh zu syaukah. Jawa Barat.H. Kedua konferensi itu diselenggarakan waktu Menteri Agama dijabat K.Tidak mengherankan kalau kemudian titik berat perhatian Kementerian Agama untuk menjalankan tugas dan wewenangnya dalam bidang ini. pendidikan (dahulu pengajaran) dan lain-lain juga ada. telah melembaga sebelumnya melalui lembaga ninik mamak yang telah mereka akui sebagai lembaga ahl al-hall wa al-'aqd.109 Ketentuan dalam peraturan ini kemudian mendapat reaksi ulama dari Sumatera Barat. tanggal 12-13 Mei 1952. Konferensi juga memutuskan wali termasuk salah satu rukun perkawinan.ll2 Namun terhadap keputusan dua kali konferensi alim ulama itu partai Perti . tanggal 4-5 Mei 1953. Peraturan Menteri Agama nomer 4 tahun 1952 tentang wali hakim untuk luar Jawa dan Madura antara lain menetapkan wewenang penunjukan (pengangkatan) kadi-kadi nikah (pegawai pencatat nikah) oleh kepala kantor urusan agama kabupaten. walaupun sebenamya bidang lain seperti penerangan. karena itu sudah pada tempatnya urusan ini dicampuri oleh Menteri Agama.H.110 Peraturan Menteri Agama nomer 4 tahun 1952 itu dikeluarkan setelah mendengar fatwa dari konferensi alim ulama di Tuga. Akan tetapi dalam seal perkawinan inilah yang menyentuh langsung konsep hukum yang tentu saja memerlukan penataan kewenangan kekuasaan secara sah.111 Konferensi yang kedua ini menyetujui keputusan konferensi sebelumnya dan mengesahkan kewenangan Menteri Agama mengatur ketentuanketentuan yang termuat dalam peraturan tersebut. Masjkur menanggapi pertanyaan tersebut dalam sidang DPRS tanggal 3 September 1953 dan menjanjikan akan mengundang ulama yang lebih luas untuk mengadakan konferensi membicarakan seal tersebut. dihadiri sejumlah ulama dari berbagai golongan memberikan 5 agenda masalah termasuk di antaranya masalah tauliyah (pengangkatan) wali hakim. untuk membahas peraturan tersebut karena adanya protes partai Islam Perti yang tidak menyetujui peraturan tersebut. Konferensi berlangsung tanggal 2-7 Maret 1954. Kemudian konferensi alim ulama diselenggarakan sekali lagi. Di Minangkabau prosedur pengangkatan wali bagi mempelai wanita yang tidak mempunyai wali sendiri.

3.113 Istilah fikih yang dipakai untuk menunjuk seorang imam yang muslim pada negara yang belum memenuhi syarat sebagai negara menurut hukum Islam adalah bi al-syaukah. 2. Sulaiman Arrasuli meralat redaksi keputusan konferensi terdahulu yang tertulis sebelumnya iu syaukah diralat menjadi bi al-syaukah (bisysyaukah). Parlemen dan sebagainya adalah Waliyyu'l Amri Dlaruri bi'Syaukah (waliyy al-amr al-daruri bi al-syaukah). sebab lembaga itu bukanlah lembaga partikelir dari perhimpunan Islam. sebab kata zu syaukah dalam referensi fikih berarti kepala negara yang kafir (sultan kafir). Keputusan konferensi alim ulama dengan Menteri Agama selengkapnya ialah: 1. karena itu sebagai Gubernur Sumatera dan wakil pemerintah pusat telah memerintahkan pembentukan mahkamah syar'iyah di seluruh Sumatera.114 Pernyataan partai Islam Perti sebelumnya yang tidak menyetujui peraturan Menteri Agama nomer 4 tahun 1952 mendapat tanggapan bekas Gubernur Sumatera Tengku Moehammad Hasan.115 Hasan mengusulkan kepada Menteri Agama agar lembaga itu difungsikan kembali. Presiden sebagai Kepala Negara. akan tetapi suatu pengadilan agama. Dalam pernyataannya tanggal 11 Februan 1954. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Menteri Agama berwenang menetapkan peraturan dan menyempurnakan organisasi mahkamah syar'iyah di Sumatera itu dan sekaligus tidak membenarkan pernyataan partai Islam Perti. serta alat-alat Negara sebagai dimaksud dalam UUD pasal 44. maka diajukan pertanyaan kepada Menteri Agama lewat DPRS yang dijawab oleh Menteri Agama akan diselenggarakan konferensi alim ulama yang lebih luas lagi dan konferensi ketiga diselenggarakan tanggal 2-7 Maret 1954. Dalam konferensi alim ulama yang terakhir ini K. sedang kepala negara dan perdana menteri waktu itu seorang muslim. Hasan mengemukakan bahwa Pengadilan Raja (Zelfbestuurschrehclspraak) di Sumatera telah dihapuskan (Lembaran Negara R1 Nomer 23/1947). Tauliyah wali hakim dari Presiden kepada Menteri Aga- .H. waliyy al-amr aldaruri bi al-syaukah. suatu instansi yang sah dari pemerintah. Waliyyul Amri Dlaruri wajib ditaati oleh rakyat dalam hal-hal yang tidak menyalahi Syari'at Islam.masih belum merasa puas. yakni Kabinet.

Dengan pertimbangan bahwa di dalam negara RI ummat Islam merupakan bagian terbesar dari warga negaranya. dan Ruju' harus ada surat peresmian (tertulis pengresmian) lebih dahulu dari pemerintah. imarah. Talaq.118 Diakui bahwa sultan menurut hukum Islam adalah pemegang kekuasaan yang berwenang melaksanakan hukum Islam dalam kehidupan bernegara. tetapi kekuasaan negara RI belumlah dianggap memenuhi konsep imamah di atas.117 Dengan menunjuk pendapat sejumlah ahli fikih dikemukakan argumentasi mengenai dasar-dasar imamah (kekuasaan politik) yang dalam berbagai referensi tersebut diungkapkan dengan beberapa istilah antara lain khilafah.116 Dengan keputusan ini maka di tempat-tempat (negeri. maka nyatalah bahwa Peraturan Menteri Agama Nomer 4 Tahun 1952 tentang Wali Hakim untuk luar Jawa dan Madura adalah sah. 4. adalah sah. dan 3 tersebut di atas. Tidak logis di tengah kekuasaan itu kaum muslimin membangun kekuasaan politik sendiri terpisah dari kekuasaan kenegaraan RI untuk menjalankan hukum Islam.119 adalah kekuasaan yang defakto memiliki kekuasaan (syaukah) dengan istilah waliyy al-amr al-daruri bi al-syaukah (kekuasaan temperer yang defakto). Atas dasar ini konferensi alim ulama itu kemudian memutuskan bahwa kekuasaan kenegaraan RI yang dicerminkan dalam kekusaan kepala negara dan pemegang kekuasaan lembaga kenegaraan lainnya. atau mulk. Berhubung dengan ayat 1. sesuai dengan yang dimaksud oleh UU Pencatatan Perkawinan. Mengingat tidak mungkin mem- . 2. maka kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten dapat mengesahkannya sebagai pejabat pencatat perkawinan yang sekaligus menjalankan wewenang sebagai wali hakim. Walaupun demikian kekuasaan itu adalah defakto memiliki kekuatan (syaukah) dan diakui oleh seluruh rakyat Indonesia. marga dan sebagainya) yang menurut kebiasaan yang hidup kadi-kadi nikah dipilih oleh ahl al-hall wa al-'aqd. maka dapat dimengerti kalau kemudian kekuasaan kenegaraan RI juga mengikat kepada ummat Islam di Indonesia.ma dan seterusnya kepada siapa saja yang ditunjuk. termasuk pula Tauliah Wali Hakim yang menurut kebiasaan yang hidup di tempat-tempat yang ditunjuk oleh Ahlu'l-halli Wa'l-aqdi. Untuk menjalankan aqad-aqad nikah Wali Hakim.

123 Namun kenferensi itu tidak melihat arti kata Darul-Islam sebagai negara Islam dalam arti formal. Dalam hubungan dengan soal perkawinan dan tauliyah wali hakim. Prosedur pengangkatan kepala negaranya (waktu itu) dan pejabat kenegaraan lainnya dipandang belum memenuhi ketentuan yang sah.122 Tentulah harus dipahami bahwa kekuasaan Menteri Agama bukanlah Menteri Agama itu sendiri yang memiliki kekuasaan asal. maka kekuasaan yang memiliki syaukah itu diterima dalam keadaan darurat atau temporer. dan sebagainya. sebab Menteri Agama adalah pemimpin sebuah lembaga yang berada di dalam negara RI. Konferensi juga menggarisbawahi pendapat 'Abd alRahman Ba'lawi bahwa Tanah Jawa (Indonesia) adalah Darul-Islam. dasar yang digunakan ialah hadis Nabi alsultan wa-liyy man la waliyya laha (sultan ddalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali). atau walinya sendiri gaib. dengan alasan pernah ada kekuasaan politik di tangan ummat Islam yaitu ketika zaman kerajaan-kerajaan Islam dahulu dan bagian terbesar penduduknya beragama Islam.121 Dalam peraturan Menteri Agama tersebut kewenangan tersebut dilimpahkan kepada Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten dan seterusnya kepada pejabat bawahan mereka para kadi atau pegawai pencatat perkawinan. selain persyaratan pribadi belum terpenuhi. Karena itu kepala negara RI belumlah memenuhi syarat disebut sebagai sultan atau imam al. Suatu negara disebut negara Islam ialah apabila negara itu berdasar Islam dan peraturan hukum perundang-undangannya berdasar syari'ah Islam.a'zam pemegang kekuasaan tertinggi yang lazimnya digunakan dalam negara atau kerajaan Islam. Negara Indonesia jelas bukan negara yang demikian itu. Dengan demikian tradisi pengangkatan (tauliyah) wali hakim yang biasanya dilakukan oleh ninik mamak di Minangkabau tidak berlaku lagi dengan alasan tidak mungkin dua kekuasaan samasama berlaku untuk satu masalah tauliyah. sebab dar di situ berarti "daerah" tempat masyarakat Islam menetap bahkan menjadi bagian terbesar penduduknya.bangun kekuasaan politik sendiri untuk menjalankan hukum Islam.120 Konferensi itu kemudian menyatakan setuju dan menguatkan peraturan Menteri Agama nomer 4 tahun 1952 dan mengakui hak Menteri Agama untuk mengangkat serta menunjuk (tauliyah) wali hakim bagi perkawinan wanita yang tidak mempunyai wali nasb (sedarah). Ada perbedaan pen- . di bawah pemerintah.'udl (menolak).

Ke dalam pengertian yang kedua inilah: agaknya konferensi alim ulama berkecenderungan. Di pihak lain kata itu berarti lembaga kekuasaan politik yang formal seperti khilafah.125 Persis menuduh para ulama itu tidak mampu mengambil hukum dari sumber ajaran Islam yaitu Qur'an dan hadis dan mengusulkan supaya Menteri Agama mengundang konferensi yang lebih luas lingkupnya untuk membatalkan keputusan konferensi itu.dapat dalam penafsiran kata sultan dalam hadis tersebut. Presiden RI tunduk kepada hukum yang bukan hukum Islam. Oleh sebab itu Presiden RI tidak bisa menjadi waliyyul-amri daruri. bukan kepada Islam. sultanah. atau negara. Dan nampaknya kecenderungan itu beralasan mengingat hukum perkawinan Islam hendak ditata ke dalam sistem hukum nasional Negara RI. Ada yang berpendapat kata itu menunjuk kepada lembagalembaga masyarakat yang hidup dan berfungsi seperti ninik mamak di Minangkabau dan mungkin rembug desa di Jawa atau lembaga kyai dan organisasi-organisasi sosial formal lainnya. karena tidak berdasar Islam. Keputusan ini ditanggapi antara lain sebagai pemberian "gelar" kepada Presiden Soekarno. Arudji Kartawinata (PSII) mengatakan keputusan konferensi alim ulama melanggar UUD. karena itu maka pelimpahan wewenang kekuasaannya dapat dijabarkan melalui berbagai lembaga yang berada di bawahnya menurut hirarki dan jenjang organisasi kelembagaan negara. kabinet juga tidak bisa dianggap demikian. Dalam hubungan sultan yang akan bertindak sebagai wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali sendiri. dan perkawinan itu pun sah.128 Hubungan antara "gelar" dengan soal perkawinan dianggap tidak benar karena selama ini perkawinan dilakukan tanpa menyebut atau menghubungkan dengan "gelar" itu.127 Presiden RI mengangkat sumpah setia kepada Pancasila dan UUD. Tanggapan mengenai perkawinan tanpa dihubungkan de- . Tentu saja sultan tersebut tidak mungkin bertindak sendiri untuk melaksanakan tugas ditil.124 Istilah waliyyul-amr dianggap tidak tepat karena istilah itu hanya benar untuk kepala negara Islam. dan bagi ummat Islam Nusantara adalah Negara Republik Indonesia itu sendiri. maka sultan yang defakto memiliki kekuasaan itu diterima sebagai kenyataan temporer (daruri). Tidak lain sultan yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah lembaga politik negara. Islam tidak mengenal kepala negara konstitusional seperti yang dianut UUDS 1950.

Menurut ketentuan fikih. Dalam suatu negara atau kerajaan. nampaknya tidak berangkat dari pemahaman fikih yang baik. Lembaga itu biasanya terdiri dari kepala-kepala adat. seorang hakim atau qadhi diangkat atau ditunjuk oleh ahl al-hall wa al-'aqd dengan cara bai'ah. seperti ninik mamak di Minangkabau. ninik mamak. maka penghulu yang bertindak sebagai wali. parlemen. pemimpin masyarakat yang diakui secara 'urf. padahal keputusan konferensi tidak menyebutkan terbatas kepada presiden dan wakil belaka. tidak diakui lagi agar tidak menimbulkan dualisme kekuasaan. mahkamah agung dan dewan pengawas keuangan. Padahal penghulu itu diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah kolonial Belanda yang "kafir". karena itu lembaga adat. Sejak zaman Belanda perkawinan bagi wanita yang tidak mempunyai wali. pada masyarakat yang sudah teratur. adat. Oleh sebab itu. haruslah diakui sebagai kekuasaan yang sah pula untuk menjalankan hukum Islam. Mengutip beberapa . diakui sebagai lembaga ahl al-hall wa al-'aqd. Tidak mengakui negara RI sebagai negara ummat Islam berarti suatu pengingkaran terhadap jerih payah perjuangan mereka sendiri dalam perang kemerdekaan. Bahkan perang itu dinyatakan sebagai jihad yang wajib secara 'ainiyah (individual). pengangkatan hakim atau qadhi dilakukan oleh pemegang kekuasaan negara atau kerajaan. Sementara di Minangkabau berlaku kekuasaan adat. oleh masyarakat. melainkan lembaga negara lainnya seperti kabinet.130 Tentu saja di Indonesia yang sudah berdiri kekuasaan kenegaraan secara sah dan diperjuangkan dengan darah dan harta. Komentar lain mengenai keputusan konferensi umumnya juga berkaitan dengan anggapan presiden sebagai waliyy al-amr. negara RI harus diterima sebagai kenyataan adalah negara ummat Islam sendiri. Dengan asumsi ini maka upaya menjadikan hukum Islam (dalam arti baru mungkin hukum perkawinan) sebagai bagian dari sistem hukum nasional dalam negara RI adalah suatu yang wajar karena negara ini adalah negara ummat Islam sendiri. Keterlibatan para penyusun konsep keputusan konferensi alim ulama dalam birokrasi negara menjadikan konsep pemikiran mereka berangkat dari asumsi kenegaraan yang telah melembaga yaitu negara RI.ngan waliyy al-amr yang telah berjalan dan dinilai sah. Lembaga kepenghuluan itu "menempel" pada lembaga kenegaraan yang "kafir". untuk mengangkat dengan cara bai'ah seorang wali hakim.

penetapan imam sebelumnya yang masih hidup terhadap seseorang untuk menggantikannya setelah dia meninggal. pengangkatan imam dengan cara militer dan paksaan. Dengan cara istila'. tidak terbatas para hakim atau ulama. Tentang kategori daruri. Kepala negara yang berkuasa. melainkan termasuk komandan militer. Cara yang sah ialah jika dilakukan terhadap imam yang meninggal tanpa ada penggantinya (tidak ada imam) atau imam yang digulingkan dulunya mendapatkan kekuasaan karena istila' dan ternyata tidak cakap.sumber tafsir al-Qur'an. peryataan persetujuan atau kesetiaan dari ahl al-hall wa al-'aqd terhadap sesorang yang disepakati untuk diangkat menjadi imam. Demikian pula pemimpin pemberontak. Kepala negara yang berkuasa yang tidak diangkat me- . dipatuhi dan perintahnya ditaati. imam yang diangkat dengan cara bai'ah atau istikhlaf disebut waliyy al-amr. disebut zu syaukah. Moenawar Chalil berpendapat bahwa ulu al-amr (walyy al-amr) yang wajib dtaati ialah ahl al-hall wa al-'aqd. Dengan cara bai'ah. Cara yang tidak sah ialah jika imam yang digulingkan mendapat jabatan melalui bai'ah atau yang menggulingkan (melakukan istila') orang kafir. maka imam yang tidak memenuhi syarat itu diterima mengingat kebutuhan. Imam yang demikian ini disebut daruri. Kewajiban taat kepada ulu al-amr terbatas pada urusan kebajikan. Tentang kewajiban taat ini dikatakan telah disepakati (ijma') ahli fikih. legitimasi terhadap imam yang nyata berkuasa. Selanjutnya mengutip kitab fikih al-Iqna' 'ala Syarh al-I'anah dikatakan wajib taat kepada imam. hal-hal yang tidak membawa durhaka kepada Tuhan. meskipun zalim. dalam lingkungan wilayah kekuasaannya. sementara yang memperoleh jabatan dengan cara ketiga disebut waliyy al-amr bi al-syaukah. sepanjang tidak melanggar larangan agama (Islam). Dengan cara istikhlaf.132 Menurut Lubis sesuai dengan ketentuan fikih ada tiga cara pengangkatan imam. pemimpin partai dan lain-lain.131 Sementara itu Arsjad Lubis mengomentari keputusan konferensi dengan judul tulisan "Soal Kepala Negara atau Waliyyul Amri di dalam Islam". Lubis mengatakan apabila tidak ada imam yang mencukupi syarat sedang ummat Islam memerlukan imam. meskipun negaranya tidak berdasar Islam. Selanjutnya menurut Lubis. Cara yang ketiga ini ada yang sah dan tidak sah.

nurut cara-cara di atas dan tidak menjalankan tugas sebagai "pengganti Nabi untuk menegakkan dan memelihara agama dan siasat dunia". sedang menurut UUD 1950 tidak.l36 Walaupun secara langsung peristiwa di atas mengenai soal kebutuhan lembaga kekuasaan hukum untuk melegimitasi kekuasaan menjalankan hukum perkawinan Islam dalam negara RI sejauh yang bisa diterima menurut kaidah hukum.134 Namun Lubis tidak menyinggung tentang pemberian kekuasaan pemerintahan kepada wazir yang menurut referensi fikih ada dua yaitu wizarah al-tafwid (kurang lebih seperti kabinet parlementer) dan wizarah al-tanfiz (kurang lebih seperti kabinet presidensiil). tidak dapat dianggap sebagai imam atau waliyy al-amr secara Islam. Sehubungan dengan itu pengangkatan wali hakim atau kadi sesuai dengan ketentuan fikih dapat dilakukan oleh ahl al-hall wa al-'aqd atau zu syaukah. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Menteri Agama dinilai memiliki syaukah. sementara yang kedua hanya terbatas sebagai pelaksana saja.133 Lain bagaimana dapat dipahami seorang imam yang zalim dapat dianggap "menegakkan dan memelihara agama Islam dan siasat dunia dan menjalankan kekuasaan menurut syari'ah Islam?" Dengan keterangan di atas Lubis membuat kesimpulan bahwa pengangkatan kepala negara RT menurut UUD 1950 berbeda dengan pengangkatan kepala negara menurut UUD 1945. karena itu tidak ada kewajiban taat kepadanya. bukan sebagai penguasa atau diberi kekuasaan.l35 Bentuk kekuasaan pertama wazir (kabinet?) memiliki kekuasaan penuh atas pemerintahan negara. atau waliyy al-amr menurut Islam". bukan karena pemerintah RI sebagai waliyy al. Pendekatan fikih yang dilakukan dalam memandang soal politik merupakan salah satu alternatif menghadapi jalan buntu untuk melahirkan suatu kekuasaan kenegaraan sendiri yang gagal diperjuangkan secara sah dalam sidang BPUPKI awal kemerdekaan. Meskipun demikian dengan penegasan bahwa . adalah zu syaukah. Kepala negara RI menurut UUD 1950 "belum mempunyai ikatan hukum secara Islam yang dapat disebut sebagai khilafah. Kepala negara menurut UUD 1945 memiliki syaukah.amr. imam. memperlihatkan kecenderungan yang dekat sekali hubungan konsep politik dengan fikih. amir almukminin. Namun sebelumnya Lubis menyetujui pendapat ahli fikih dan dikatakan sudah ijma' tentang keajiban taat kepada imam meskipun zalim.

menunjuk kadi-kadi nikah (pembantu pegawai pencatat nikah) untuk menjalankan perkawinan wali hakim. seperti dikemukakan al-Mawardi di awal bab ini. Peraturan Menteri Agama nomer 4 tahun 1952 antara lain menetapkan mencabut kekuasaan penunjukan wali hakim dengan lisan yang telah diberikan oleh Menteri Agama kepada Kepala Kantor Urusan Agama Propinsi dan membatalkan tauliyah-tauliyah wali hakim yang telah diberikan instansi-instansi pemerintah dan swapraja serta tauliyah-tauliyah wali hakim lainnya yang bertentangan dengan praturan ini. telah cukup sebagai alasan kekuasaan kenegaraan RI telah memiliki legitimasi yang sah untuk menjalankan kekuasaan hukum Islam. 6 orang dari Perti.asas Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sebagai dasar negara merupakan pencerminan asas tauhid dalam Islam. 807. untuk atas nama Menteri Agama. 1955). 110. Pertemuan pendahuluan dihadiri 11 orang utusan. khususnya dalam bidang perkawinan dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Ulama yang diundang berasal dari 13 daerah di Indonesia. (Jakarta: Bagian Penerbitan. dan 2 orang dari Muhammadiyah. hadir 20 orang dan tidak hadir 18 orang. untuk sebagian kekuasaan pemerintahan negara RI telah dianggap memenuhi definisi itu. Pasal 2 peraturan tersebut menetapkan bahwa Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten diberi kuasa. Laporan Tahunan 1954. setidaknya menurut kalangan Islam sendiri. Kementerian Agama. "untuk (tujuan) menjaga agama dan mengatur dunia". . _________________________________________________________ _________________________________________________________ Catatan 109. Konferensi diselenggarakan tanggal 3-6 Maret 1954. sehari sebelumnya diselenggarakan pertemuan pendahuluan di Jakarta dan penutupan juga di Jakarta. Selanjutnya dikutip Laporan Tahunan. Bahwa secara nyata kekuasaan negara RI telah "menjaga" agama dengan pembentukan lembaga Kementerian Agama (sekarang Departemen Agama) merupakan alasan yang kuat terhadap pengakuan kekuasaan kenegaraan RI itu telah memenuhi syarat berwenang untuk menjalankan kekuasaan hukum Islam. 3 orang dari NU. Tujuan dilembagakannya kekuasaan politik (imamah). h.

Laporan Tahunan. Laporan Tahunan. diwajibkan meninggalkan upaya itu dan tetap wajib loyal (taat).H. maka dengan sendirinya negara itu sedikit banyak telah memenuhi kualifikasi imamah di atas. nomer 456. Al-Mawardi sendiri mengemukakan tujuan imamah dilembagakan untuk "menjaga" agama dan mengatur dunia. 120. K. Alasannya karena Nabi Muhammad me- . 808. 7. Laporan Tahunan. Z. Lihat al-Ahkam. Laporan Tahunan. Lihat Berita NO. h. Dengan adanya lembaga yang tersendiri yaitu Kementerian Agama yang tujuannya antara lain untuk "menjaga" agama. 809-810. nomer 2. 115. 113. 117. K. 811. 1937. h.Noeh.A. "Walijjul-Amri Dlaruri Bissyaukah: Antara Fakta Historis dan Politis".. dewan perwakilan rakyat. h. menteri-menteri. Ibid 119. Alat kekuasaan negara RI sebagaimana dimaksud ialah pasal 44 UUDS tahun 1952 (yang berlaku ketika itu): presiden dan wakil presiden. terhadap penguasa (sultan) yang zalim dan bodoh tetapi memiliki kekuatan (syaukah) dan melawan atau menjatuhkan penguasa tersebut akan menimbulkan anarki (fitnah) yang tidak tertanggung. isinya antara lain tidak menyetujui rencana perkawinan tercatat dan pemindahan soal waris ke pengadilan negeri biasa yang ramai dibicarakan masyarakat Islam sekitar tahun 1937. Setelah itu dilanjutkan K. Ibid. h. Th. 114. 118. h. 802-805. 116.H.H. Th. Lihat Kementerian Agama. Panji Masyarakat. 5. 1985. mahkamah agung. Laporan Tahunan. h. Ibid. dan dewan pengawas keuangan negara. Sulaiman Arrasuli pernah menjabat sebagai ketua Mahkamah Sya'iyah Propinsi Sumatera sebelum tahun 1950. Menurut al-Ghazali. Hasan pernah menulis buku yang diterbitkan kira-kira tahun 1937. 1 Agustus 1953 sampai 12 Agustus 1955. 112. 111. 804. 811. Faqih Usman menjabat Menteri Agama mulai 3 April 1952 sampai 1 Agustus 1953. Masjkur.

Arsjad Th. 245. Lihat Zain al-Din al-Malibari. maka yang bertindak sebagai wali adalah sultan. VII. Ihya' Ulum al-Din. atau walinya menolak dengan berbagai alasan atau tidak berada di tempat. Kalau calon mempelai wanita tidak mempunyai wali sedarah. Th.). 124. (Kairo: al-Masyhad al-Husaini. 139-140.t. 136139.. h.). Bughyah al-Mustarsyidin. nomer 61. Fath al-Mu'in Syarh Qurah al-'Ain.. atau hakim sebagai wakil sultan. 'Abd al-Rahman Ibn Muhammad Ba'lawi.t. kalau tidak ada maka saudara laki-laki bertindak sebagai wali. Aliran Islam. yang Wadjib Ditha'ati?" Ibid. jilid II.merintahkan taat kepada umara' dan melarang pertumpahan darah (sal al-yad). 126. 343. (Misr: Syirkah Mustafa al-Babi al-Halabi. Mengenai tauliyah wali hakim dapat ditetapkan terlepas dari persoalan waliyyul-amr. Salah satu ketentuan hukum Islam mengenai perkawinan ialah seorang calon mempelai wanita harus mempunyai wali. Lubis. M. Kabinet. (tiga sumber tersebut di atas). h. pengangkatan oleh pemegang kekuasaan dalam negara atau kerajaan. Sedang dalam suatu negara atau kerajaan. "Presiden Soekarno Walijjul Amri 'Dharuri'?". Pernyataan PSII tetap hanya mengakui status Presiden. h. 13-15. jabatan itu dilakukan dengan tauliyah. 1939). nomer 58. 122. 13-19. Lihat halaman 361. Deliar Noer. (Bandung: Almaarif. Ibid. 123. h. nomer 60. seperti zaman Belanda atau ummat Islam di negara lain yang tidak mempunyai waliyyul-amr (Tiongkok). h. t. N. Firdaus A. Dalam suatu masyarakat yang teratur. Ibid. Belum ada aturan yang menambah status lain bagi ketiga organ kenegaraan tersebut. 36-46. 1954. "Soal Kepala Negara atau Walijjul Amri di dalam Islam". catatan kaki nomer 19. Moenawar Chalil. dan Parlemen sesuai UUDS (1950). 127. Partai Islam. pemerintah tidak mempunyai wewenang . h. Menurut PSII.. 121. 125. "Siapakah 'Ulil-Amri. t. jabatan hakim atau qadi dapat dilakukan secara pemilihan atau bai'ah oleh ahl al-hall wa al-'aqd majelis atau kumpulan'pemuka masyarakat. Prinsipnya wali adalah orang tua (ayah) sedarah atau kakek. Perubahan hanya sah oleh lembaga yang berwenang yaitu Konstituante. h. Ibid.

maka pemerintahnya pun dapat dianggap sebagai waliyy al-amr bi al-syaukah? 135. Fath al-Mu'in. h. nomer 60.tripod.txt) Arti Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Ibid. 343. Ibid. Ibid. h. Partai Islam. h. nomer 61. h. tetapi diberi wewenang penuh oleh imam yang berkuasa. 132. M. h. Istilah ini dirumuskan oleh ulama fiqih untuk sebutan bagi orang-orang yang berhak sebagai wakil umat untuk menyuarakan hati nurani mereka.Ahlul al-halli wa al-‘aqd ( baca Ahlul Halli wal ‘aqdi ) diartikan dengan “orang-orang yang mempunyai wewenang untuk melonggarkan dan mengikat”. tanggal 26 April 1954. 136. Lihat Sikap PSII Mengenai Putusan Konferensi Alim Ulama di Sindanglaja tentang Walijjul-Amri Dharuri. Sebelum abad ke-20 ini kekuasaan kenegaraan dalam Islam belum mengenal lembaga perwakilan rakyat seperti abad modern ini. Keterangan ini agak membingungkan sebab sebelumnya dikatakan "apabila kekuasaan imam diperoleh dengan jalan syaukah maka kekuasaan itu disebut walyy al-amr bi al-syaukah". karena itu imam yang berkuasa umumnya di-"pilih" melalui istikhlaf atau istila'. 13-19. (http://pcinu-mesir. 136-139. . "Soal Kepala Negara atau Walijjul Amri di dalam Islam". Kekuasaan wazir al-tafwid dengan sendirinya tidak dipertanggungjawabkan kepada parlemen. 133. Bukankah kalau Menteri Agama dinilai memiliki syaukah. 129. ditandatangani Arudji Kartawinata (Presiden) dan Sukardjo (Penulis). Lihat catatan kaki nomer 120 134. 131. 22-23. Arsjad Th. 1954. 130. "Siapakah Ulil Amri yang wadjib Ditha'ati?". Sekelompok orang yang memilih imam atau kepala negara sesekali dinamkan ahlul halli wal ‘aqdi.. h. Th. sesekali ahlul ijtihad dan sesekali ahlul ikhtiyar. Moenawal Chalil. 128. Pendapat partai ini sudah dinyatakan sejak sebelum perang.mencampuri seal perkawinan ummat Islam selain dalam hal administrasi.. VII. Lubis. Zain al-Din al-Malibari. AI-Ahkam.com/ilmiah/pusaka/ispustaka/buku02/006_4. Al-Mawardi. Aliran Islam. 344. 36-46.

Orang yang melaksanakan kepemimpinan sebagai kepala keluarga. [4] 5. Tugas dari ahlul halli wal ‘aqdi antara lain memilih khalifah. Ia merupakan derajat keistiqamahan yang menjadikan pemiliknya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam hal amanah dan kejujurannya. para militer. para hakim. Karena itu ahlul halli wal ‘aqdi juga disebut oleh Al-Mawardi sebagai ahl al-ikhtiyar ( golongan yang berhak memilih ). para pemimpin redaksi surat kabar yang islami dan para pelopor kemerdekaan. Peranan golongan ini sangat penting untuk memilih salah seorang di antara ahl alimamah ( golongan yang berhak dipilih ) untuk menjadi khalifah. Muhammad Abduh menyamakan ahl al-hall wa al’aqd dengan ulil amri yang disebut dalam Al-Qur’an surat al-Nisa ayat 59 yang menyatakan : “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah. Seperti pemimpin perdagangan. [3] 4. Abduh menyatakan yang dimaksud dengan ulil amri adalah “Golongan ahl al-hall wa al-‘aqd dari kalangan orang-orang muslim. 2.Tafsir Al-Manar menyatakan bahwa Ulil Amri itu adalah Ahlul Halli wal ‘Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan umat Sifat-sifat Ahlul Halli wal ‘Aqdi. para ulama. Syarat moral ( akhlak ) yaitu keadilan. PENDAPAT BEBERAPA PARA AHLI. Lebih dekat kepada persyaratan pengetahuan politik dan kemasyarakatan. Ahlul Halli wal ‘aqdi bisa terdiri dari ulama. atau golongan. para pemuka masyarakat sebagai unsur-unsur masyarakat yang berusaha mewujudkan kemaslahatan rakyat. panglima perang dan para pemimpin kemaslahatan umum. Orang yang berpengalaman dalam urusan-urusan rakyat. TUGAS DARI AHLUL HALLI WAL ‘AQDI. Rasyid Ridha juga berpendapat ulil amri adalah al-hall wa al-‘aqd. pertanian. Al-Razi juga menyamakan pengertian antara ahl al-hall wa al-‘aqd dan ulil amri yaitu para pemimpin dan penguasa. Al-Maraghi rumusannya sama seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka itu adalah para amir. Ilmu yang dapat mengantarkannya mengetahui dengan baik orang yang pantas menduduki jabatan imamah. partai. Ia menyatakan “kumpulan ulil amri dan mereka yang disebut ahl al-hall wa al-‘aqd adalah mereka yang mendapat kepercayaan dari umat yang terdiri dari para ulama. para pemimpin militer. D. Sifat-sifat Ahlul Halli wal ‘Aqdi menurut elaborasi fiqih dapat ditetapkan pada tiga golongan : 1. dan semua penguasa dan pemimpin yang dijadikan rujukan oleh umat dalam masalah kebutuhan dan kemaslahatan publik”[2] lebih lanjut ia menjelaskan apabila mereka sepakat atas suatau urusan stau hukum maka umat wajib mentaatinya dengan syarat mereka itu adalah orang-orang muslim dan tidak melanggar perintah Allah dan Sunnah Rasul yang mutawatir. para pemimpin partai politik dan para tokoh wartawan”. 3. para pemimpin pekerja untuk kemaslahatan publik seperti pedagang. 1. dan taatilah Rasul ( Nya ) dan ulil amri di antara kamu”. yaitu berlaku adil dalam segala sikap dan tindakan. 3. Ahlul halli wal ‘aqdi ialah orang-orang . petani. [6] C. kepala negara secara langsung. imam. Faqih yang mampu menemukan penyelesaian terhadap masalah-masalah yang muncul dengan memakai metode ijtihad. Al-Mawardi merumuskan beberapa syarat. kebudayaan. para kepala. wawasan dan khususnya wawasan kefiqihan perundangundangan. 2. para pemimpin perusahaan. tukang. Baik ilmu teoritis. suku. Termasuk juga para pemimpin buruh. SYARAT KECAKAPAN AHLUL HALLI WAL ‘AQD. perindustrian. An-Nawawi dalam Al-Minhaj Ahl Halli waal ‘Aqd adalah para ulama. Ia menafsirkan ulil amri atau ahl al-hall wa al-‘aqd sebagai kumpulan orang dari berbagai profesi dan keahlian yang ada dalam masyarakat. Al-Qadhi Aby Ya’la telah menetapkan beberapa syarat kecakapan bagi ahlul halli wal ‘aqd : 1. B. berilmu pengetahuan dan memiliki wawasan dan kearifan. 3. [5] 6. [1] 2.

2. sekalipun mereka mewakili rakyat. Sifat-sifat Ahlul Halli wal ‘aqdi. Ia hendak membiarkan mayoritas ahlu ar-ra’yi memilih sang imam. adil. Peranan ahlul halli wal ‘aqdi di indonesia dari segi fungsionalnya. yaitu : “Apakah boleh bagi seorang khalifah mengangkat ahlu ikhtiyar sebagaimana ia mengangkat ahlu ‘aqd ( para pengganti ) ?” Jawabnya adalah : ada yang berpendapat boleh. Faqih yang mampu menemukan penyelesaian terhadap masalah-masalah yang muncul dengan memakai metode ijtihad. [9] E. [10] F. yaitu penduduk ibu kota. sama seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat ( MPR ) yaitu sebagai lembaga tertinggi negara dan perwakilan yang personal-personalnya merupakan wakil-wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat dalam pemilu dan salah satu tugasnya ialah memilih presiden ( sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan ). [8] Sejauh ini belum ditemui penjelasan tentang hak-hak lain ahl al-hall wa al-‘aqd seperti pembatasan kekuasaan khilafah. Karena tak ada maksud untuk mengistimewakan. konsekwen. yaitu : 1. mengetahui kematian sang kepala negara. Orang yang melaksanakan kepemimpinan sebagai kepala keluarga. Manfaat dari ahlul halli wal ‘aqdi sangatlah penting yaitu untuk menjaga keamana dan pertahanan serta urusan lain yang berkaitan dengan kemaslahatan umum. menurut Ridha adalah menjatuhkan khalifah jika terdapat hal-hal yang mengharuskan pemecatannya. Para fuqaha tidak menyebutkan cara untuk menentukan atau menetapkan mereka itu. menurut Rasyid Ridha. Sekalipun mereka menyebutkan beberapa masalah yang berkaitan dengan tema ini. tidak identik dengan parlemen di zaman modern yang memiliki kekuasaan legislatif dan berhak membatasi kekuasaan kepala negara melalui undang-undang. karena ia merupakan di antara hakhak kekhalifahannya. MENENTUKAN ATAU MENETAPKAN AHLUL HALLI WAL ‘AQDI. Jika khalifah memutuskan memilih dan menentukan mereka. Ia sesuai dengan maksud si pembuat syari’at. mekanisme pembentukan lembaga itu. rakyat dan ahl al-hall wa al-‘aqd berhak untuk menyampaikan “mosi tidak percaya” kepadanya. . Di samping punya hak pilih. maka seketika itu ia berarti bertindak sesuka hati di dalam memilih orang yang akan menggantikannya secara tidak langsung. KESIMPULAN(PENUTUP) Sekelompok orang yang memilih imam atau kepala negara dinamakan Ahlul Halli wal ‘Aqdi. 3. dan kecermelangan pikiran serta kegigihan mereka di dalam memperjuangkan kepentingan rakyatnya. Sedangkan qiyas madzhab kita berpendapat tidak boleh. yaitu : 1. Sekalipun praktiknya mereka lebih dahulu dari yang lain. Mereka menyetujui pendapat wakil-wakil itu karena ikhlas. Apalagi ahl al-hall wa al-‘aqd. [11] Al-Qadhi Abu Ya’la di dalam kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah membahas masalah lain yang penting. Di antaranya adalah mereka ( ahlul halli wal ‘aqdi ) tidak diisyaratkan berasal dari penduduk yang senegeri dengan sang imam. hak kontrol dan sebagainya. takwa. Dan karena pada umumnya orang yang layak menduduki kekhalifahan ada di negeri ( ibu kota ) mereka. [7] Al-Mawardi juga berpendapat jika kepala negara melakukan tindakan yang bertentangan dengan agama. Syarat kecakapan bagi ahlul halli wal ‘aqd. eksekutif dan yudikatif. Sementara khalifah adalah kepala negara yang memegang kekuasaan legislatif. kepala negara. Orang yang berpengalaman dalam urusan-urusan rakyat.yang berkecimpung langsung dengan rakyat yang telah memberi kepercayaan kepada mereka. PERANAN DAN MANFAAT AHLUL HALLI WAL ‘AQDI. Syarat moral ( akhlak ) yaitu keadilan. atau golongan. Namun dalam beberapa segi lain antara ahlul halli wal ‘aqdi dan MPR tidak identik. suku.” [12] Pendapat Al-Qadhi Abu Ya’la yang mengatakan bahwa tidaklah diperkenankan bagi khalifah menentukan ( mengangkat ) orang-orang yang akan memilih khalifah sesudahnya adalah pendapat yang benar.

Tafsir al-Maraghi Jilid V. Op. 170. Cara menetapkan ahlu halli wal ‘aqdi adalah suatu perkara yang diserahkan kepada kebijaksanaan setiap masa-masa dan negeri.Pertama. [9] Rasyid Ridha. Agustus. secara langsung dari lafazh-lafazh al-Quran maupun as-Sunah. Raja Grafindo Persada. Jilid V. [8] Al-Mawardi. 181. 28. Suyuthi Pulungan M. 149.Kedua. hlm. Cit. hlm. Ilmu yang dapat mengantarkannya mengetahui dengan baik orang yang pantas menduduki jabatan imamah.Sedangkan para ulama menyebutnya sebagai manthûq. Syamsuri Rifaa’i. hlm.Yakni pengertian tersurat. Prof. [4] Muhammad Al-Razi Fakhr al-Din bin Dhiya al-Din Umar. Op. Al-Khilafat. [5] Ahmad Mushthafa al-Maraghi. Tafsir al-Manar. 17. Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa dalam memahami ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits nabi saw digunakan dua pendekatan. Menjatuhkan khalifah jika terdapat hal-hal yang mengharuskan pemecatannya. hlm. Op.A. Muhammad Al-Mubarak. Khalid Ibrahim Jindan. imam. Cit. j. Sejarah dan Pemikiran. Marhaba at Mshthafa al-Bat al-Halabi. 1991 mengupas ayat-ayat kepemimpinan. Tugas dari Ahlul Halli wal ‘Aqd. DAFTAR PUSTAKA Sistem Pemerintahan dalam persepektif Islam. hlm. Teori Pemerintahan Islam menurut Ibnu aimiyah. memahami pengertian secara tersurat. [7] Rasyid Ridha. 167 – 168. Op.Kita sering menyebutnya sebagai pengertian kontekstual.2. Memilih khalifah. [11] Abu Ya’la. Mumtaz ahmad ( ED ). Fiqih Siyasah. 2. Op. 4. 72 & 73. [2] Muhammad Rasyid Ridha. Dar al-Fikr. yaitu : 1. Cit. [10] Rashid Ridha.Ini yang sering dikatakan sebagai pengertian secara harfiah. Tafsir Fakhr al-Razi. hlm. Muhammad Al-Razi Fakhr al-Din bin Dhiya al-Din Umar. Masalah-masalah Teori Politik Islam. Jakarta : 1994. Cit. Lebih dekat kepada persyaratan pengetahuan politik dan kemasyarakatan. Mishr 1389 / 1979. 15.Makna ini merupakan akibat (konsekuensi) logis makna yang dipahami secara . Dr. 3.Yaitu pengertian yang dipahami bukan dari lafazh atau bentuk lafazh secara langsung.Sedang para ulama menyebutnya dengan istilah mafhûm. hlm.t. Manfaat dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi yaitu untuk menjaga keamanan dan pertahanan serta urusan lain yang berkaitan dengan kemaslahatan umum. 6. Jilid V. t. Al-Ahkam as-Sulthaniyyah. pengertian secara tersirat. hlm. tetapi dipahami melalui penafsiran secara logis dari petunjuk atau makna lafazh atau makna keseluruhan kalimat yang dinyatakan dalam nash. hlm. Tafsir al-Maraghi. Muhammad Rasyid Ridha. pengertian yang langsung dipahami dari lafazh (kata) atau dari bentuk lafazh yang terkandung dalam nash. Tafsir Fakhr al-Razi. [12] Ibid. Jilid V. hlm. 15. hlm. [6] Al-Mawardi. Tafsir Al-Mizan. hlm. Ahmad Mushthafa al-Maraghi. 10. Cit. [1] Di kutip dalam Muhammad Dhiya al-Din al-rayis. Tafsir Al-Manar. [3] Muhammad Dhiya al-Din al-Rayis. kepala negara secara langsung.

Dalâlah al-iltizâm ini dapat dibagi menjadi : dalâlah al-iqtidhâ’. dalâlah tanbîh wa al-imâ’.Makna ini menjadi kelaziman makna lafazh secara langsung.Artinya makna ini menjadi keharusan atau tuntutan makna lafazh.langsung dari lafazh. dalâlah isyârah dam dalâlah al-mafhûm yang terdiri dari mafhûm muwâfaqah dan mafhûm mukhâlafah (pengertian berkebalikan).Namun perlu diingat bahwa pengambilan pengertian dari nash syara’ baik secara manthuq maupun secara mafhum tidak boleh keluar dari ketentuan pengambilan pengertian dalam bahasa arab .Dan para ulama menyebutnya sebagai dalâlah al-iltizâm.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->