P. 1
Dialog Jumat

Dialog Jumat

5.0

|Views: 1,647|Likes:
Published by Indonesia
Dialog Jumat - Republika edisi 28-12-2007
Dialog Jumat - Republika edisi 28-12-2007

More info:

Published by: Indonesia on Jan 09, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/02/2012

pdf

text

original

16

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

TA B L O I D R E P U B L I K A
JUMAT, 28 DESEMBER 2007

PENGALAMAN ROHANI

DIALOG

Rohani
Tayangan sinetron menyadarkan Rida RSD untuk segera mengubah diri. Setelah melewati berbagai perenungan, ia kemudian memutuskan berhijrah hati. Apa kabar dia kini?

RIDA RSD

DIINGATKAN ALLAH LEWAT SINETRON

F

ilm televisi bertema Islami mungkin hanya sebagai tontonan hiburan untuk Anda, tapi tidak bagi Rida Farida (36 tahun), mantan vokalis trio RSD (Rida Sita Dewi). Wanita asli Tanah Pasundan ini mengaku mendapat hidayah setelah menonton film tersebut pada 2005 lalu. Adalah cerita tentang siksa kubur yang membuatnya tertegun saat itu. ”Saya sampai menangis seperti anak kecil setelahnya,’’ tutur ibu dari Rifki Eldrida M Jackie ini yang mengaku dirinya sebetulnya bukan penggemar tayangan sinetron. Hidayah tersebut disambutnya dengan banyak membaca buku Islami untuk menambah pemahamannya. Rida mengakui sangat beruntung karena diingatkan oleh Allah ketika masih ada waktu untuk merubah hidupnya. Selang enam bulan setelah merasa mendapat hidayah, dirinya memutuskan menutup auratnya dengan mengenakan jilbab pada 10 Januari 2006. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan

hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1426 H. Adanya selang waktu sejak dirinya mendapatkan hidayah, diakui Rida karena dirinya ingin menyiapkan mental dan mengukuhkan hati. ‘’Saya diyakinkan oleh suami agar lebih mantap dalam mengubah penampilan, dia tidak ingin saya berubah karena emosional, bukan dari hati,’’ ujar isti Jackie Zakaria Yusuf tersebut. Ketakutan mengubah penampilannya pun muncul karena dirinya melihat banyak artis lain yang dengan mudah melepaskan jilbabnya. Tapi kekhawatiran itu akhirnya sirna ketika dia merasa nyaman dan tenang setelah berjilbab. ‘’Jilbab memperjelas bahwa saya seorang Muslimah,’’ tambahnya. Rida mengungkapkan setelah menutup aurat, dia menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta. Ibadah shalat tak lagi dipandang sebagai kewajiban tapi lebih pada kebutuhan. Suami dan anak pun senang dengan keputusan tersebut. Walaupun Jackie tidak pernah memaksanya agar tampil cantik, namun Rida selalu mengupayakan agar jilbab yang dikenakannya tetap menarik. ‘’Saya masih terus bereksperimen dengan gaya jilbab yang pas untuk saya. Saya tidak mau suami malu kalau jalan berdua, meski suami saya tidak pernah mengeluh masalah itu,’’ ungkapnya. Teman-temannya juga lebih menghargainya setelah berjilbab. Rida mengaku tetap bergaul dengan siapa saja tanpa memandang siapa orang tersebut. ‘’Saya juga kan manusia. Manusia itu semua sama di mata Allah, jadi saya tidak merasa beda dengan yang lain. Yang penting saya harus terus meningkatkan hubungan dengan Yang Mahakuasa,’’ jelas pengajar vokal di sekolah musik Purwacaraka ini. Ia bersyukur, beberapa teman akhirnya mengenakan jilbab setelah mendengar ceritanya. ‘’Saya sangat bersyukur jika saya bisa menjadi inspirasi untuk orang lain. Meski begitu saya tidak mau takabur dan terus belajar untuk memperdalam agama,’’ tutur anak ketujuh dari delapan bersaudara itu. Meski mendapat dukungan penuh keluarga, ada juga kerabat dan teman yang khawatir rezekinya berkurang. Rida mengakui pasrah mengenai hal itu, karena menurutnya rezeki sudah ada yang mengatur. Ternyata kepasrahannya membuahkan hasil karena siapa sangka setelah berjilbab anak pasangan Ahmad Subardjah dan Entin Sutinah itu malah kebanjiran tawaran menjadi presenter di beberapa televisi lokal. Selain menjadi pengajar vokal privat, Rida juga ditunjuk sebagai duta Dompet Dhuafa. Mantan vokalis RSD ini mempunyai satu citacita yang lama terpendam: membuat sebuah album religi. Kini tidak terasa hampir dua tahun dirinya ”berhijrah”. Siapa sangka film televisi yang dianggap remeh oleh sebagian orang telah membawanya ”pulang”. Coba diingat-ingat, apakah Anda juga telah mendapat hidayah melalui kejadian sehari-hari seperti Rida? Mengapa masih menunda untuk kembali ke jalan-Nya? mj04

JUMAT

Hlm. 16

Dunia Islam
Pemerintah Yordania meminta Israel menjelaskan mengenai dilanjutkannya proyek penggalian terowongan di bawah masjid Al-Aqsha. Mengapa Israel gencar melakukan penggalian itu?

Hlm. 14

J U M AT, 2 8 D E S E M B E R 2 0 0 7 / 1 8 D Z U L H I J J A H 1 4 2 8 H

Tahun 2007 sebentar lagi kita tinggalkan. Banyak ”pekerjaan rumah” umat Islam yang tersisa dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Mari bermuhasabah, kemudian menyusun langkah demi masa depan yang lebih baik lagi.

YURRI ERFANSYAH/REPUBLIKA

ISLAMONLINE

CMYK

CMYK

2

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

3

KABAR

LAPORAN UTAMA ENSIKLOPEDIA ISLAM

LPGNM RI’AYATUL UMMAH

GELAR SMART MUSLIM CLUB
DOKPRI

Para santri TPQ mengikuti aneka kegiatan petualangan sains yang dikemas dengan model outbound.

H

Haji
aji berarti menuju atau menziarahi suatu tempat; menurut istilah fikih ziarah ke Baitullah, Mekah, untuk melaksanakan ibadah dengan cara tertentu, dalam waktu dan tempat-tempat tertentu. Ia adalah salah satu dari rukun Islam yang lima yang diwajibkan pada tahun kesembilan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Ibadah haji sudah dikenal dari masa Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim beserta putranya Ismail disuruh Allah SWT membangun Baitullah (Ka’bah). Kemudian ia disuruh mengajak umat manusia menziarahi rumah Allah tersebut. Dari waktu itu bangsa Arab di sekitarnya setiap tahun berbondong-bondong menuju Ka’bah untuk melakukan ibadah haji dengan cara syariat Nabi Ibrahim. Pelaksanaan haji berjalan terus sampai masa Muhammad diutus menjadi Rasulullah. Dalam kurun waktu yang begitu panjang, pelaksanaan haji sedikit demi sedikit berubah dari ajaran semula, tidak lagi secara murni dilaksanakan seperti petunjuk Nabi Ibrahim. Kalau dalam ajaran semula kedatangan jamaah haji ke Ka’bah secara bersama-sama untuk menghubungkan diri dengan Allah, bersih dari menyekutukan-Nya, maka secara berangsur-angsur ketauhidan itu menjadi samar, dan akhirnya sampai berratus-ratus berhala digantungkan di sekeliling Ka’bah, dan kepada berhala-berhala itulah mereka memohon apa yang mereka inginkan. Pelaksanaan korban binatang ternak pun ditujukan kepada pembesar-pembesar berhala itu. Kalau pada mulanya di antara hikmah ibadah haji yang ditujui agar umat manusia berlatih merasa kebersamaan derajat di hadapan Tuhan mereka, maka pada masa Jahiliyah terjadi sebaliknya, suatu kelompok yang khusus mengurusi Ka’bah dan memegang kuncinya adalah kelompok yang menganggap dirinya lebih tinggi dari masyarakat lainnya, merasa tidak setarap dengan sesamanya. Rasulullah SAW datang mengajak umat manusia untuk kembali kepada agama tauhid, agama Nabi Ibrahim. ‘’Katakanlah, sesungguhnya aku (Muhammad) telah ditunjuki Tuhanku ke jalan yang lurus, agama yang benar, yaitu agama Nabi Ibrahim, yang baik dan ia bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.’’ (QS ArA’raf [7]: 161). Rasulullah SAW mendapati pelaksanaan haji yang tidak sesuai lagi dengan agama tauhid. Oleh sebab itu, termasuk tugas kerasulannya untuk mengembalikan ibadah haji ke dalam bentuk ibadah agama tauhid. Maka, mulai tahun kesembilan hijrah kepada Rasulullah SAW diberikan petunjuk-petunjuk tentang pelaksanaan haji seperti yang dilaksanakan Nabi Ibrahim. Mulai dari saat itu, ibadah haji kembali murni, bersih dari syirik jahiliyah dan berhala-berhala yang bergantungan di sekeliling Ka’bah dibuang. Pelaksanaan kurban yang tadinya dipersembahkan kepada pembesar-pembesar berhala tersebut, dibersihkan oleh Islam untuk semata-mata secara ikhlas dipersembahkan kepada Allah SWT. Hal itu mengingatkan umat manusia betapa tinggi kesediaan berkurban yang dimiliki Nabi Ibrahim yang tidak ragu hendak menebas pisau tajam di leher putranya tercinta, pengorbanan jiwa untuk nilai yang lebih tinggi dari nilai jiwa itu sendiri, yaitu karena mematuhi perintah Allah SWT.
dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam Indonesia terbitan PT Djambatan Jakarta

MARI BERMUHASABAH
Kesalahan dan kegagalan masa lalu seyogyanya dijadikan pelajaran dalam menanamkan sikap dan tekad baru; untuk beribadah lebih sungguh-sungguh dan bekerja lebih baik lagi.

L

embaga Pembinaan Generasi Dini Muslim (LPGDM) Ri’ayatul Ummah di wilayah Jakarta Barat, Bekasi dan Tangerang, selama satu hari, Ahad (23/12) mengadakan kegiatan Smart Moslem Club (SMC). Acara ini diikuti ratusan santri taman pendidikan Alquran (TPQ) se-DKI Jakarta dan sekitarnya. Menurut Sunarsih Wijaya, penggagas kegiatan tersebut, SMC dilatarbelakangi oleh keprihatinan masih rendahnya penguasaan iptek dan kemampuan bahasa asing di kalangan anak-anak Muslim. Di sisi lain, etos kerja mereka juga masih memprihatinkan. ”Melalui ajang ini, kami ingin membenahi, mulai dari lingkup terkecil. Ini adalah satu pekerjaan kecil dari sebuah mimpi,” ujar Sunarsih, yang biasa disapa Umi Ninie ini. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB itu diikuti dengan sangat antusias oleh para santri TPQ. Mereka mengikuti aneka kegiatan petualangan sains yang dikemas dengan model outbound. ”Mereka kita ajarkan memilah mana yang baik mana yang buruk. Lalu mereka disuruh mengamati langsung lingkungan sekitar, ada etika Muslim. Mereka sangat enjoy dengan

M

petualangan sains,’’ ungkap Umi Ninie. LPGDM Ri’ayatul Ummah yang merupakan wadah kerja dari Yayasan Keluarga Sakinah yang beralamat di Taman Permata Buana Jl P Pelangi Raya No. 22 Kembangan Utara Jakarta Barat memiliki visi untuk mewujudkan generasi Muslim beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Misinya untuk meningkatkan mutu pendidikan keagamaan dengan

pola partisipatif, konseptional serta keteladanan serta meningkatkan pemahaman keagamaan secara terpadu dan berkesinambungan dari usia balita. LPGDM Ri’ayatul Ummah, sambung Umi Ninie, membina 274 TPQ dengan santri mulai dari anak-anak usia sekolah dasar hingga tingkat SMP. Saat ini, jumlah santri yang dimiliki sebanyak 29 ribu dengan tenaga pengajar sebanyak 1131 orang dan tersebar di Jakarta Barat, Bekasi, Tangerang, dan Parung (Bogor). Untuk kegiatan SMC Ahad lalu, para peserta dipilih dari setiap santri TPQ yang terbaik dengan nilai di TPQ rata-rata 8 (delapan), kemampuan tadarusnya bagus, bisa baca Alquran dengan tartil dan ratarata nilai di sekolahnya juga 8 (delapan). Kegitan pertama, mereka wajib untuk mengenal saudaranya. Tujuannya mereka ke sini adalah untuk meningkatkan kecerdasan iman dan takwa serta iptek. ‘’Kita tempatkan mereka di dalam tenda, kemudian mereka diminta menulis nama temannya dua orang di samping kanan, dua orang di samping kiri, dua orang di depan dan dua orang di belakang. Setelah itu mereka menulis namanya dan lebih mendalam perkenalannya.’’ Setelah tadarus Alquran dengan membaca surat Ar-Rahman, para santri dibekali akidah anak-anak dengan mengenalkan Allah, Yang Maha Rahman. ”Mereka diberi bola lalu kita jatuhkan. Kenapa bola bisa jatuh, karena ada gaya tarik bumi. Dari sana kita ngomong soal sains,” jelas Umi Ninie. dam

uhasabah berasal dari kata hasiba-yahsabu yang artinya menghisab atau menghitung. Atau dengan kata lain, melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Rasulullah SAW menyuruh kita untuk melakukan muhasabah setiap hari. Saat menjelang tidur, kita mengevaluasi diri kita, apakah kita hari ini sudah melakukan banyak kebajikan atau kejahatan. Hari, menjadi patokan Rasul SAW menilai diri. Beliau membagi manusia dalam tiga golongan, yaitu beruntung, jika hari ini lebih baik dari hari kemarin; merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin; dan celaka, jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin. Akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah. Tentu dengan tekad untuk berubah menjadi lebih baik di tahun yang sebentar lagi menjelang. Ketua umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr KH Ahmad Satori Ismail mengungkapkan, dalam perputaran siang dan malam, pergantian bulan dan tahun, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Akhir tahun baik Hijriyah maupun Miladiyah, kata dia, harus dijadikan momen penting untuk muhasabah individual maupun nasional. ‘’Kegagalan yang lalu dijadikan pelajaran. Kemaksiatan akibatkan kesengsaraan, kedustaan menyebabkan musibah, khianat menghasilkan kehancuran,’’ ujarnya kepada Republika Selasa (25/12). Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengingatkan, agar kita tidak rugi dan terhindar dari kehancuran, kita harus

mawas diri dan kembali kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan meningkatkan taqarrub (pendekatan) kepada-Nya, manjauhi maksiat, dan kedustaan. ‘’Kokohkan persatuan dan hindari semua penyebab perpecahan,’’ tegasnya. Bagi orang yang berakal, kata dia, waktu adalah modal beramal. ”Kita hanyalah himpunan dari hari-hari dan bulan yang menjadi tahun dan menjadi umur kita. Umur akan dimintai pertanggungjawaban. Seyogyanya waktu hanya dibagi untuk empat hal: bermunajat kepada Allah SWT, merenungi ciptaan-Nnya, muhasabah diri, dan mencari maisyah atau nafkah.” Perlunya kita bermuhasabah juga dijelaskan ketua MUI Pusat Drs KH Amidhan. ‘’Sebaiknya dilakukan muhasabah, instrospeksi atas kesalahan dan kegagalan masa lalu untuk dijadikan pelajaran dalam menanamkan sikap dan tekad baru untuk beribadah lebih sungguh-sungguh dan bekerja lebih baik lagi. Sehingga, hidup tahun depan akan lebih baik dari tahun yang lalu. Bertambah tahun dan bertambah usia hendaknya bertambah bijak dan arif,’’ tandas Amidhan. Tanpa terkecuali, kata Amidhan lebih lanjut, para pemimpin kita juga harus melakukan muhasabah. ‘’Harus diakhiri tingkah politik yang selalu berebut kekuasaan, tapi tidak memikirkan serius kesulitan rakyat. Jika para pemimpin bersama-sama dan bersatu menyejahterakan rakyat dengan tidak melihat dari golongan mana, mereka tentunya tidak akan terus menerus terjebak kepada kesulitan demi kesulitan.’’ Pimpinan Pesantren Rafah Ciawa Bogor Jawa Barat KH Anwar Sanusi menegaskan musibah demi musibah yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh keserakahan para penguasa yang berkolusi dengan para pengusaha. Karena itu, kata Kiai Anwar, pembangunan harus berpihak kepada rakyat miskin yang selama ini terpinggirkan. Dalam muhasabah, perlu kita renungkan langkah ke depan. Tentu, agar hal-hal yang masih kurang bisa digenapkan di tahun depan. Sejumlah ”pekerjaan rumah” yang menumpuk, bisa segera dituntaskan. Selamat datang 2008, semoga esok lebih baik dari hari ini. dam

ISLAMONLINE

4

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

5

LAPORAN UTAMA

WAWANCARA

PEKERJAAN RUMAH ITU...
T
M
ahun 2007 akan segera berakhir, namun berbagai persoalan umat masih banyak yang belum terselesaikan dengan baik. Sebut misalnya munculnya beberapa aliran sesat yang seolah muncul tiba-tiba dan ”mencuri” energi kita: sebagian menyikapi dengan proporsional, sebagian lagi menyikapinya dengan amuk –– sikap yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Karena itulah, berbagai kalangan mengusulkan perlunya pemetaan dakwah yang lebih baik di masa-masa yang akan datang. Persoalan lain adalah perlunya sosialiasi zakat yang harus terus dilakukan sehingga hasil yang diraih bisa lebih besar dan optimal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini pandangan empat cendekiawan Muslim kita tentang persoalan-persoalan yang mencuat di tahun 2007 dan solusinya agar menjadi lebih baik di tahun 2008.

’MASYARAKAT SUDAH DISORIENTASI’

DR MOESLIM ABDURRAHMAN

S

Drs KH Amidhan, Ketua MUI Pusat

Dakwah Harus Lebih Tepat Sasaran
ateri dakwah terlalu kering karena hanya mengedepankan materi fikihiyah; soal halal dan haram serta boleh dan tidak boleh. Sangat kurang pendalaman materi akidah dan materi yang bersifat tasaufiyah. Sementara itu, lingkungan strategis masyarakat kita masih dipengaruhi oleh kepercayaan lokal. Ingat lebih 300 macam aliran kepercayaan yang menyelinap ke bawah sadar tapi sewaktu-waktu bisa muncul di permukaan. Materi dakwah sering tidak menjawab pertanyaan rohaniah dari kalangan masyarakat kita termasuk kalangan intelektual. Oleh karena itu tidak heran bila tidak hanya masyarakat bawah, kalangan masyarakat terpelajar pun dapat terperosok ke aliran sesat. Di sisi lain

masyarakat miskin tidak membutuhkan ceramah agama saja, tapi dakwah sosial ekonomi. Yang ideal, diadakan dulu Kongres Dakwah se-Indonesia dan dirampungkan peta dakwah untuk melakukan perkiraan yang akurat. Untuk gerak cepat setiap da’i terjun ke lapangan hendaknya mempelajari dulu kondisi masyarakat setempat untuk mengetahui apa yang dibutuhkan mereka. Mungkin perbaikan ekonomi yang dibutuhkannya atau mungkin juga akidah yang dikedepankan. Hati mereka yang perlu direbut.

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc, Ketua Umum Baznas

Potensi Zakat Belum Tergarap

P

otensi zakat sesungguhnya di Indonesia cukup besar. Dalam sebuah penelitian yang pernah disiarkan kepada masyarakat, disebutkan tak kurang dari Rp 20 triliun potensi zakat yang ada di dalam masyarakat Muslim Indonesia. Sayangnya, potensi tersebut, belum mampu digali. Solusinya, zakat perlu dikelolah oleh sebuah lembaga, bukan diberikan pada orang perorang. Badan Amil Zakat ataupun Lembaga Amil Zakat itu harus amanah, profesional, transparan, dan dipercaya oleh masyarakat maupun pemerintah. Sebagaimana disebutkan dalam QS At-Taubah (9)
EDI YUSUF/REPUBLIKA

ayat 60 dan 103, zakat bukanlah urusan pribadi semata, bukan urusan muzakki (yang mengeluarkan zakat) dengan mustahik (yang menerima zakat). Bila zakat selalu diberikan langsung oleh muzakki kepada mustahik, saya yakin tidak akan menyelesaikan masalah. Paling-paling hanya sebatas sementara yang sifatnya konsumtif. Karenanya ada empat hal besar yang harus dilakukan, yaitu sosialisasi yang harus terus dilakukan, penguatan kelembagaan termasuk penyiapan sumber daya manusia (SDM) zakat, sinergi antar sesama badan atau amil zakat termasuk komponen umat lainnya, serta pendayagunaan zakat yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

atu hal yang membuat miris cendekiawan Muslim Dr Moeslim Abdurrahman adalah soal berbagai aksi kerusuhan dan kekerasan dan frekuensinya semakin meningkat. Sebut satu contoh, adalah ketidakpuasan masyarakat pada proses pemilihan kepala daerah yang kerap berujung rusuh. Atau contoh sederhana, ia menyebut, adalah pembagian daging kurban yang juga berujung kisruh. ”Bila tidak ditangani dengan baik, maka akan menjadi ‘tabungan’ persoalan di kemudian hari,” ujar direktur Ma’arif Institute for Culture, dan direktur Lembaga Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (LPIS) ini. Menurut dia, aneka kejadian itu merupakan suatu pertanda. ”Di dalam masyarakat kita memang sudah terjadi disorientasi,’’ tambahnya. Berikut ini kutipan wawancara refleksi akhir tahun wartawan Republika Damanhuri Zuhri dengan doktor antropologi dari University of Illinois, Urbana, Amerika Serikat ini:
DARMAWAN/REPUBLIKA

Sebentar lagi tahun 2007 akan berakhir, apa yang harus dilakukan baik sebagai umat, pribadi, maupun sebagai bangsa? Sekarang ini yang paling harus dijadikan fokus bersama adalah soal kesejahteraan masyarakat yang semakin lama semakin susah, terutama karena daya beli yang sangat rendah. Yang kedua karena lapangan kerja semakin sulit. Nah, ini saya kira yang harus jadi perhatian bersama, dan harus dievaluasi mengapa proses demokratisasi kita tidak begitu maju, seolah-olah tidak ada hubungan dengan persoalan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Nah, kalau kemudian masalah kesejahteraan ini tidak tertangani dengan baik, kita takutkan akan terjadi social gap (kesenjangan masyarakat) di manamana. Sekarang ini kan kerusuhan sudah sangat memrihatinkan. Bukan saja beberapa pilkada (pemilihan kepala daerah) menghasilkan juga kerusuhan, tapi juga soal antri pembagian daging korban belum lama ini. Artinya, di masyarakat kita memang sudah terjadi disorientasi, tidak jelas ke mana arahnya. Memang soal kesejahteraan, soal keadilan dan pemerataan sekarang ini menjadi masalah yang sangat penting. Munculnya masyarakat yang disorientasi, apakah disebabkan karena mereka kehilangan figur? Iya, yang ironis proses demokratisasi kita melalui pemilu maupun pilkada berjalan begitu rupa dengan jadwalnya yang tidak jelas, kapan harus dilaksanakan? Ternyata itu tidak membawa satu perubahan yang cukup baik. Bahkan ironisnya, ternyata pemilu dan pilkada itu tidak menghasilkan pemimpin yang kemudian mempunyai wibawa dan pengaruh untuk mengatasi masalah-masalah yang objektif yang dihadapi masyarakat. Nah ini sangat ironis, karena di era reformasi ketika era kebebasan berpolitik tetapi kemudian kita kekurangan dan tidak mempunyai etos demokrasi, tidak punya kultur demokrasi sehingga pilkada-pilkada itu menimbulkan kerusuhan. Menurut pengamatan Anda, kalau kondisi dibiarkan, apa yang bakal terjadi? Kondisi yang makin memburuk. Sekarang secara umum karena kita mengalami social gap, maka apa yang terjadi adalah kita melihat hilangnya solidaritas sosial. Jadi, orang gampang berkelahi, orang gampang bertikai karena hal-hal yang tidak jelas dan kita sebagai bangsa ini malah kehilangan apa yang sebenarnya masih bisa kita impikan bersama. Misalnya tentang kapan datangnya kesejahteraan tadi? Malah sekarang seolah-

olah tidak jelas, kalau dulu kan masih ada GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara), ada Pelita (Pembangunan Lima Tahun) dan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), tapi sekarang ini kan semua tergantung pemimpin, sementara pemimpin yang dihasilkan oleh proses demokrasi kita tidak terlalu kuat, tidak terlalu mempunyai visi ke depan yang jelas, tidak bisa memberi harapan dan arahan ke mana seharusnya masa depan ini kita bawa. Selain itu, kita juga lihat bagian dari social gap itu juga akhirnya banyak orang mengalihkan persoalan-persoalan objektif yang seharusnya masalah lapangan kerja yang susah, masalah kemiskinan yang makin merata ke mana-mana, kemudian juga masalah konflik intern agama, masalah-masalahnya yang seharusnya tidak seharusnya terjadi, kita seharusnya mempunyai satu kekuatan kultur yang menjaga itu sejak lama tapi tiba-tiba sekarang ini gampang digoyahkan. Lantas menurut Anda di mana peran para tokoh agama? Tokoh agama seharusnya ikut berbicara hal-hal yang objektif tadi, halhal yang berkaitan dengan makin susahnya masyarakat sekarang dengan daya beli yang rendah, orang makin susah menyekolahkan anaknya karena sekolah semakin mahal, orang sakit juga jarang diobati, dan seolah-olah pemerintah ini tidak berdaya atau memang melakukan pembiaran? Bagaimana seharusnya negara bisa melindungi warganya, karena peran dari negara paling kurang adalah melindungi. Apakah dia sebagai migran dan sebagainya. Jadi hal-hal seperti itu kita kelihatan lemah sekali. Anda melihat tahun depan 2008 ini sangat berat? Ya, sangat berat kalau tidak muncul seorang tokoh besar, tokoh yang kuat yang berani melakukan risiko dan pemihakan terhadap problem bangsa dan rakyat ini. Jadi harus ada tokoh yang sangat tegas, yang bisa diikuti bersama bahwa kita masih punya keyakinan bangsa ini masih ada di masa depan dan mempunyai martabatnya. Sebenarnya terpulang ke masalah tadi, yakni pemimpin yang kuat. Masalah pemberantasan korupsi, misalnya, itu kan bukan sekadar masalah hukum, tapi juga masalah kultur. Jadi kalau misalnya apa yang menjadi pilar kultur kita seperti agama Islam misalnya, kemudian tidak ikut mendorong terhadap pemberantasan korupsi, maka akan menjadi susah menciptakan sebuah kultur yang anti korupsi. Harus ada kemauan bersama untuk berubah menjadi lebih baik.

Masykuri Abdillah Guru Besar Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Umat Harus Lebih Dewasa
disertai pula munculnya fanatisme berlebihan yang kadang fanatisme tersebut diwujudkan dalam bentuk kekerasan dengan dalih agama seperti yang terjadi di beberapa daerah. Harus diakui, permasalahan yang muncul di masa-masa lalu, belakangan ini muncul kembali seperti tudingn bid’ah, khurafat dan lainnya yang jika dibiarkan bisa berdampak sangat buruk. Solusinya, perlunya kesadaran kerukunan baik internal maupun eksternal. Di situlah pentingnya tasamuh (toleransi) baik internal maupun eksternal. Adanya perbedaan-perbedaan furu’iyah (cabang) dan bukan perbedaan yang fondasi, harus bisa disikapi dengan arif. Saya setuju keluarnya fatwa MUI tentang aliran sesat, karena memang harus ada ketegasan dari MUI tentang masalah tersebut. Hanya saja, menurut saya, perlu ada ketegasan pula dari MUI bahwa melakukan pengrusakan atas dalih apa pun tidak bisa dibenarkan dan itu diharamkan. Jadi, harus ada ketegasan MUI yang melarang adanya pengrusakan terhadap aliran sesat, karena itu terhadap pelaku pengrusakan, harus dilakukan proses hukum. dam

Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia

Ada Masalah dalam Akidah Umat

M

asalah keagamaan yang sangat menonjol tahun 2007 adalah masalah aliran sesat terutama aliran Alqiyadah al Islamiyah. Munculnya aliran ini menunjukkan adanya permasalahan di dalam tubuh umat dan juga merupakan cermin dari kualitas akidahnya. Buktinya, ajaran aliran itu tidak masuk akal tapi tetap dipercaya dan diterima, seperti masalah pembayaran uang sebesar Rp 800 ribu yang diyakini bisa masuk surga. Solusinya, tentu perlunya pembinaan umat yang lebih tinggi lagi oleh

Demonstrasi menentang aliran Al Qiyadah Al Islamiyah di Jakarta bulan Oktober lalu. Banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan di tahun 2008.
ormas dan sikap tegas dari pemerintah untuk tidak membiarkan berkembangan aliran-aliran yang jelas-jelas yang bertentangan dengan Islam.

D

i bidang sosial keagamaan adanya kesadaran keagamaan yang makin tinggi di kalangan masyarakat. Hanya saja, dari semakin tingginya kesadaran keagamaan itu

6

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

INFO HALAL
Semua hewan air halal dikonsumsi, sepanjang tidak menyebabkan kemudharatan bagi manusia.
”Dan tiada sama antara dua laut; yang ini tawar, segar, dan sedap diminum yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar...” (QS Faathir [35]: 12) Ayat-ayat di atas menerangkan bagaimana kehalalan binatang air. Semua binatang yang hidup, tanpa terkecuali, halal untuk dikonsumsi. Beberapa hadis juga menegaskan hal itu. Dalam sebuah hadis, misalnya, disebutkan beberapa sahabat pulang dengan membawa seekor ikan yang sangat besar, ada yang menyebut sejenis ikan paus. Mereka saling berdebat tentang kehalalan binatang itu, karena saat ditemukan, binatang itu telah mati. Sebagian menyebutnya halal, sebagian lagi menyatakan haram. Akhirnya diputuskan binatang itu dikonsumsi saja dengan pertimbangan mereka membutuhkan makanan. Sesampainya di rumah, mereka menginformasikan hal itu pada Rasulullah SAW. Mereka mendapati penjelasan bahwa hewan itu dihalalkan oleh Allah berdasarkan surat di atas. Berbicara tentang binatang air, ada satu binatang yang status haramnya jelas, yaitu binatang yang hidup di dua alam seperti katak. Binatang ini jelas haram, sehingga dalam keadaan apapun terlarang untuk dikonsumsi. Para pakar hukum Islam terbelah pendapatnya dalam soal kehalalan seafood. Ada yang menghalalkan binatang laut tanpa kecuali, namun ada juga yang membedakan berdasarkan saat penemuannya. Bila binatang itu ditangkap dalam keadaan hidup, maka halal. Namun sebaliknya, bila saat ditemukan binatang air itu telah mati, maka haram hukumnya. Yang mengharamkan, mendasarkan pendapatnya pada ayat yang menyebut bangkai adalah haram, sedang yang menghalalkan, mendasarkannya pada hadis di atas. Ada lagi yang menyebut, jika binatang itu ditangkap di air adalah halal namun jika ditangkap tidak di dalam air adalah haram. Termasuk dalam katagori ini adalah hewanhewan dua alam kepiting, kura-kura, katak, dan sejenisnya. Namun mereka sama-sama sepakat, di luar binatang itu, semua spesies binatang laut adalah halal untuk dikonsumsi. Bagaimana status rajungan dan kepiting yang sering dipertanyakan? Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam rapat Komisi bersama dengan Pengurus Harian MUI dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI), pada hari Sabtu, 4 Rabiul Akhir 1423 H/15 Juni 2002, memutuskan kepiting adalah halal dikonsumsi, sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Dasar pertimbangannya, jenis kepiting bakau yang oleh masyarakat umum hanya disebut dengan ”kepiting” saja ini adalah jenis binatang air, dengan alasan bernafas dengan insang, berhabitat di air, dan tidak akan pernah mengeluarkan telur di darat, melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air. tri/ifanca.org

K

ata seafood dalam tulisan ini tidak hanya merujuk pada hewan laut saja. Namun semua jenis hewan yang hidup di sungai, danau, laut, dan samudera lepas, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Maidah (5) ayat 96, ”Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan yang berasal dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu menangkap binatang buruan darat, selama kamu dalam keadaan ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.” Dalam ayat lain Allah berfirman, ”Dan Dia lah Allah yang menundukkan lautan untukmu agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar...” (QS An-Nahl [16]: 14)

SEAFOOD

Halaman ini merupakan kerja sama Tabloid Dialog Jumat Republika dengan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika MUI

WWW.GOCRAZYBUFFET.COM

MANA YANG HALAL TIDAK?

8

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

9

SILATURAHIM

SILATURAHIM

El Manik Icuk Sugiarto dan Istri Kiki Zakiah

Ketika Seni dan Agama Bersatu
Ayu Soraya

Yoyok S

Purwati Purwandodjo

PENGAJIAN AL HAKIM TAK HANYA UNTUK ORANG MENTENG

I
Tresna Jero Wacik

Latifa

slam merupakan ajaran yang mencakupi seluruh aspek kehidupan termasuk seni budaya. Tak heran jika kesenian dan agama sangat erat kaitannya. Hal ini dibuktikan Muhammadiyah dengan menggelar Anugerah Wastra Waditra Nusantara. Ini merupakan komitmen dan bentuk perhatian Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah terhadap seni budaya Indonesia. ‘’Kesenian merupakan bagian dari keberagamaan. Seni menjadi hal yang wajib jika digunakan untuk sebagai sarana dakwah dan beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,’’ ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, Sabtu (15/12). Ketua Panitia Lomba Wastra Waditra Nusantara 2007, El Manik menambahkan, penyelenggaraan lomba ini penting artinya bagi eksistensi sebuah bangsa. Meskipun pengaruh asing sangat kuat pada dunia mode dan fashion, animo masyarakat untuk mengikuti lomba yang terbagi

dua kategori yaitu lomba rancang busana muslim dan desain motif tradisional sangat tinggi. Tercatat, terdapat 185 peserta yang mendaftar untuk lomba rancang busana dan 76 peserta desain motif tradisional. Dari jumlah tersebut juri akhirnya menyeleksi 10 peserta lomba rancang busana muslim dan 12 peserta desain motif tradisional yang bertanding di tingkat final. Tampil sebagai juara I dari kategori rancang busana muslim adalah Lu’lu Lutfi Labibi dari Yogyakarta yang membawakan tema The Spririt of Jogja. Wastra Waditra diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti kain dan musik. Wasdtra Waditra merupakan produk budaya masyarakat tradisional sebagai bagian dari gaya hidup dan pengembangan citra diri bangsa Indonesia. Hadir dalam acara tersebut Trisna Jero Wacik (mewakili Mufidah Jusuf Kalla), Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Icuk Sugiarto, serta kalangan artis seperti Iis Dahlia, Anneke Putri, Agus Idwar (Snada), Primus Yustisio dan Jihan Fahira, Ayu Soraya dan Tinna Harahap. mth

M
Mediana Hutomo

ajelis Ta’lim Al Hakim dimulai pada tahun 1987, dipelopori oleh (Alm) Datuk Hakim. Pengajian ini rutin diadakan setiap Sabtu pagi. Hari Sabtu dipilih karena banyak anggota yang bekerja pada Senin hingga Jumat. Sehingga Sabtu dianggap merupakan hari yang pas agar semua anggota dapat datang dan mengikuti pengajian. Ketika Masjid Al Hakim, Menteng, Jakarta Pusat, selesai dibangun, pengajian pun menempati ruangan baru. Dari sekitar 50-70 orang anggota pada awal pengajian didirikan, kini anggotanya telah mencapai ratusan. Peserta pengajian tidak hanya datang dari lingkungan sekitar Menteng, tapi juga dari Tangerang, Bekasi, Bogor dan tidak hanya mengadopsi kalangan tertentu. ‘’Pengajian ini untuk semua kalangan baik muda maupun tua. Jangan terkecoh oleh kata ‘Menteng’ yang kami akui masih identik dengan kalangan tertentu. Lihat dan buktikan saja dengan datang ke pengajian setiap hari Sabtu,’’ papar salah seorang pengurus MT Al Hakim, Lia Alwiyah. Seperti yang dilihat oleh Republika pekan silam, peserta penga-

jian sangat bervariasi. Mulai dari yang muda, tua hingga kalangan menengah sampai atas. Pengajian yang dimulai pada pukul 10.00 WIB sudah tanpak ramai setengah jam sebelumnya. Sebelum dimulai, ada tradisi melakukan tadarusan yang dipimpin oleh salah seorang imam mesjid. Di sini, setiap peserta membaca beberapa ayat Alquran dan akan langsung diperbaiki bacaannya jika salah. Lewat setengah jam kemudian, pengajian pun dimulai. Saat itu, Ustadz Arifin Nababan membawakan tema Mewaspadai dan Mengantisipasi Aliran Sesat. Menurutnya, modus maraknya aliran sesat di Indonesia karena faktor ekonomi, pendidikan dan belum terwujudnya ukhuwah Islamiyah dengan baik di antara sesama umat Muslim. Mengenai pemilihan ustadz dan tema yang dibicarakan dalam pengajian ditentukan pihak mesjid. Agar menjaga kenetralan pengajian, para ustadz diminta untuk tidak membawa aliran tertentu dalam pengajian. Pihak masjid selalu memberitahu ustadz agar menyampaikan materi sesuai dengan high-light yang telah dibuat pihak masjid dan tercamtum dalam program selama 1 tahun. mth

Lia Alwiyah

Debris Yuni A

Aisyah Susanti dan putrinya

Iis Dahlia

Tinna Harahap

Ny Din Syamsuddin

Tati Herawati

Siti Fadillah Supari

Eva Ngadimin

Dwi Handayani

Navitri Ciptotomo

10

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

11
IQRA

HAJI & UMRAH

MENJAGA IBADAH PASKA HAJI
Harus ada yang mau mengingatkan seorang haji manakala ia terlupa atau lalai.
M SYAKIR/REPUBLIKA

KEAJAIBAN DESAIN DI ALAM
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS An Nahl [16]: 66)
LINTERNAUTE.COM

MATEMATIKA

S

etiap jamaah haji ingin meraih predikat haji mabrur (haji yang diterima oleh Allah SWT). Kemabruran itu tidak hanya selama menunaikan ibadah haji, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari setelah berada kembali di Tanah Air. ‘’Kunci menjaga kemabruran haji terletak pada tawaashaw bil haqqi wa tawaashaw bish-shabri (saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran),’’ jelas Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Prof Dr KH Ahmad Satori Ismal, kepada Republika. Menurut Ustadz Satori, semua pihak (masyarakat) punya peran yang cukup besar dalam mengingatkan jamaah haji. ‘’Mereka itu manusia yang bisa lupa dan lalai, karena itu harus ada yang mau mengingatkannya. Baik ulama, ustadz, pemerintah, masyarakat, keluarga, tetangga maupun lainnya,’’ jelasnya. Jika tidak ada yang mengingatkannya, kata Ustadz Satori, maka jamaah haji sendiri yang harus selalu mengingatnya. ‘’Pimpinan agama juga harus mau menasehatinya. Kalau tidak, buat apa peranannya sebagai ustadz, da’i dan ulama,’’ tegasnya. Menurut dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, dalam Alquran Surah Al-Mu’minun Ayat 1-2 dijelaskan, ‘’Sungguh sangat beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu mereka yang senantiasa memelihara (menjaga) shalatnya.’’ Dari ayat tersebut, paparnya, maka jamaah haji harus menunjukkan semangatnya dalam memelihara shalatnya. ‘’Jangan hanya melaksanakan shalat ketika haji saja, sementara sekembalinya ke Tanah Air,

shalat ditinggalkan. Ini jelas hajinya tidak mabrur,’’ paparnya. Ustadz Satori menjelaskan, ciri haji mabrur itu tercermin dalam pelaksanaan haji. Pertama, memelihara akidah. Hal ini dicontohkan ketika seluruh jamaah haji mengucapkan talbiyah dan memuji kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kedua, gemar melaksanakan shalat secara berjamaah. Selama di Tanah Suci, hampir tidak ada sedikitpun waktu shalat yang terlewatkan tanpa shalat jamaah. Ketiga, memiliki akhlak yang baik. Seluruh jamaah haji, selama melaksanakan ibadah haji dilarang melakukan pertengkaran, berbuat zalim, fasiq dan melakukan persetubuhan walaupun terhadap isterinya sendiri. Laa rafatsa, wa laa fusuuqa, wala jidaala fi al-hajj. Keempat, memiliki wawasan yang luas. Selama melaksanakan ibadah haji, jamaah haji banyak menemukan berbagai perbedaan dalam beribadah. Namun, mereka lapang dada menerima perbedaan itu. ‘’Mereka menjadi sangat toleran demi kedamaian,’’ ungkapnya. Kelima, mampu melawan hawa

nafsu. Selama melaksanakan ibadah haji, jamaah mampu menjaga sikap dan nafsunya, demi menggapai haji mabrur. Mereka tidak mudah marah dan bisa mengekang hawa nafsunya selama haji dari keinginan untuk ‘kumpul’ bersama isterinya. Keenam, menjadi manusia yang disiplin. Jamaah haji bisa melaksanakan aturan yang telah digariskan untuk ditaati dan jamaah tidak boleh melanggarnya. Misalnya, melaksanakan wukuf dan melontar jumrah pada waktunya. Ini, jelas Ustadz Satori, mencerminkan sikap disiplin jamaah dalam semua urusan. Ketujuh, kreatif dalam menggunakan waktu. Sebab, jamaah haji bisa menggunakan waktu yang singkat secara maksimal dalam memperbanyak ibadah. Dan kedelapan, haji menumbuhkan sikap kepedulian dan kedermawanan. ‘’Apabila ada teman, saudara bahkan orang yang tidak dikenalnya sekalipun terjatuh dan membutuhkan pertolongan, mereka tak segan-segan untuk membantunya. Mereka benar-benar ingin menjadi orang yang manfaat bagi

orang lain,’’ jelasnya. Jika kedelapan sikap di atas bisa dipahami secara benar, kata Ustadz Satori, niscaya jamaah haji akan sepenuhnya menjaga dan memelihara ibadah haji yang dilaksanakannya itu dengan baik. Karena itu, lanjutnya, peran kita semua untuk mengingatkan mereka jika lalai dan lupa. Ini disebabkan, perubahan situasi dan kondisi yang memungkinkan jamaah menjadi lupa. Misalnya, karena pekerjaan, mengurus bisnis dan rumah tangga serta urusan duniawi lainnya. ‘’Tetapi, semuanya berpulang pada pribadi jamaahnya sendiri untuk selalu menjaga kemabruran itu,’’ tegasnya. Di sinilah, menurutnya, pentingnya ada lembaga pengajian paska haji, dan bukan hanya sekadar temu kangen semata. Tujuannya adalah silaturahim dan saling mengingatkan. Ketua Umum Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (FK-KBIH), Prof Dr Abdul Majid menegaskan, jamaah haji harus menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat lainnya. ‘’Jika mereka sudah berhaji, harus memiliki rasa malu untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama, atau melalaikan perintah agama,’’ jelasnya. Hal ini juga ditegaskan Ustadz Satori. Menurutnya, jamaah haji harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa dirinya sudah berhaji. ‘’Artinya, kalau mereka lalai dalam melaksanakan shalat sementara saat di Tanah Suci begitu menggebu, harusnya mereka malu dan segera sadar untuk mengerjakannya,’ paparnya. Jika semua jamaah haji benar-benar menjaga kemabruran haji yang telah dilaksanakannya, kata Ustadz Satori, niscaya masyarakat dan bangsa ini, akan menjadi bangsa yang aman, tentram dan sejahtera. Hal itu sebagaimana yang dicita-citakan Alquran, yakni ‘’Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafuur’’ (Negara yang aman dan tentram yang senantiasa mendapatkan ampunan dari Allah). sya

BIOLOGI FISIKA

S

Info Haji

Kabupaten Boyolali Berangkatkan 637 Calon Jamaah Haji
(KBIH). Sedangkan sisanya di bawah koordinasi IPHI Boyolali. ‘’IPHI menugasi pengurusnya yang berangkat menunaikan ibadah haji untuk menjadi pembimbing ibadah bagi jamaah haji asal Boyolali,’’ tuturnya. Dibandingkan tahun lalu, kata Fahruri, jumlah jamaah haji asal Kabupaten Boyolali tahun ini relatif sama. Tahun 2006, Kabupaten Boyolali memberangkatkan sekitar 630 jamaah haji. ‘’Sebetulnya peminat haji di Kabupaten Boyolali sangat banyak. Namun mereka terikat oleh porsi jamaah haji yang terbatas, sehingga harus rela antre hingga tahun-tahun berikutnya,’’ ujarnya. Ia menjelaskan porsi jamaah haji Kabupaten Boyolali tergabung dalam porsi Jawa Tengah. ‘’Jatah jamaah haji Provinsi Jawa Tengah sekitar 30.000 orang. Jatah tahun 2008 sudah habis, sehingga kalau masyarakat Boyolali baru mendaftar sekarang berarti paling cepat berangkat haji tahun 2009,’’ ujanya. Fahruri menambahkan, IPHI Boyolali menaruh perhatian besar terhadap para calon jamaah haji agar mereka bisa meraih haji yang mabrur. Untuk itu, IPHI Boyolali menggelar acara manasik haji sejak Maret - September 2007. Manasik haji tersebut terbuka untuk siapa saja, dan tidak dipungut bayaran. ‘’Dengan adanya manasik selama tujuh bulan, kami berharap para calon jamaah haji benar-benar memahami ilmu dan praktik berhaji. Dengan demikian, insya Allah mereka meraih predikat haji mabrur,’’ tandas Ustadz Matyoto Fahruri. ika

K

abupaten Boyolali pada musim haji tahun 2007 memberangkatkan 637 calon jamaah haji. ‘’Alhamdulillah, musim haji tahun ini kami telah memberangkatkan sebanyak 637 calon jamaah haji,’’ ungkap Ketua I Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Boyolali, Ustadz Matyoto Fahruri kepada Republika. Ia menambahkan, dari jumlah tersebut, sebanyak 140 calon jamaah haji berangkat melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji

ebelum ilmuwan serta pakar penelitian dan pengembangan memulai suatu proyek baru, mereka biasanya mencari contoh atau model pada makhluk hidup, dan meniru sistem dan desain makhluk hidup tersebut. Dengan kata lain, mereka mengamati dan mempelajari rancangan-rancangan yang diciptakan di alam oleh Allah, dan, setelah terilhami olehnya, mereka pun lalu mengembangkan teknologi baru mereka sendiri. Pendekatan ini telah melahirkan biomimetics atau biomimetika, cabang baru ilmu pengetahuan yang mencoba meniru makhluk hidup. Baru-baru ini, cabang ilmu pengetahuan ini telah secara luas diterapkan dalam dunia teknologi. Biomimetika mengacu pada seluruh bahan, perlengkapan, cara kerja, dan sistem yang dibuat manusia untuk meniru sistem yang ada di alam. Masyarakat ilmiah kini merasakan kebutuhan yang sangat besar terhadap perangkat semacam itu, khususnya dalam bidang nanoteknologi, teknologi robot, kecerdasan buatan, kedokteran, dan militer. Biomimikri pertama kali dikemukakan oleh Janine M Benyus, seorang penulis dan pengamat ilmiah dari Montana. Gagasan ini kemudi-

an dikaji oleh oleh banyak orang dan mulai dapat diterapkan dalam sejumlah hal. David Oakey, perancang strategi produk untuk Interface Inc, sebuah perusahaan yang menerapkan desain di alam untuk meningkatkan mutu produk dan produktivitas, mengatakan, ”Alam adalah guru saya untuk bisnis dan desain, sebuah panutan cara hidup. Sistem yang dimiliki alam telah bekerja dengan baik selama jutaan tahun Biomimikri adalah sebuah cara belajar dari alam.” Para ilmuwan yang mulai menyukai gagasan yang cepat menyebar ini mempercepat kajian mereka dengan menggunakan desain yang tak tertandingi dan tanpa cacat yang dimiliki alam sebagai contoh acuan. Dengan menggunakan sistem di alam sebagai contoh acuan, kita dapat menciptakan teknologi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan yang digunakan saat ini. Janine M Benyus, yang percaya bahwa model-model di alam sepatutnya ditiru, dan memberikan sejumlah contoh berikut dalam bukunya, Biomimicry: Innovation Inspired by Nature (Biomimikri: Karya Baru yang Terilhami oleh Alam): burung kolibri melintasi Teluk Mexico dengan menghabiskan kurang dari 3 gram bahan bakar;

capung mampu bermanuver melebihi helikopter tercanggih kita; sistem pemanas dan pengatur udara di dalam sarang rayap jauh lebih baik dari segi perangkat dan penggunaan energi dibandingkan buatan manusia; pemancar frekuensi tinggi kelelawar bekerja lebih baik dan lebih peka daripada sistem radar kita sendiri; ganggang penghasil cahaya mencampur aneka zat kimia untuk menjadikan tubuh mereka bercahaya; ikan dan katak Kutub Utara membeku padat dan kemudian dapat hidup kembali, karena mampu menjaga organ tubuhnya dari kerusakan akibat proses pembekuan es; dan bunglon dan gurita dengan cepat mengubah pola dan warna kulit mereka untuk menyelaraskan diri dengan lingkungan sekitar. Cara kerja dan rancangan makhluk hidup di alam yang mengagumkan ini, sebagian kecil di antaranya telah kita sebut, berkemungkinan dikembangkan untuk memperkaya teknologi di beragam banyak bidang. Kemungkinan pengembangan ini menjadi semakin tampak nyata seiring dengan semakin bertambahnya perbendaharaan pengetahuan dan sarana teknologi kita. Seluruh satwa memiliki banyak ciri dan sifat yang memukau manusia. Sebagian memiliki bentuk

hidrodinamik yang sangat baik yang memungkinkan mereka bergerak di perairan, dan sebagian lagi menggunakan pengindraan yang terlihat sangat asing bagi kita. Kebanyakan dari ini semua adalah sifat-sifat yang baru dijumpai pertama kali oleh para peneliti, atau, lebih tepatnya, yang hanya mereka temukan baru-baru ini saja. Seringkali, para ilmuwan terkemuka dari bidangbidang seperti teknologi komputer, teknik mesin, elektronika, matematika, fisika, kimia, dan biologi sangat dibutuhkan untuk saling dipertemukan dalam rangka meniru satu sifat saja dari suatu makhluk hidup. Para ilmuwan takjub ketika menghadapi kenyataan bahwa rancang bangun dan sistem tak tertandingi yang mereka temukan seiring dengan bergantinya hari. Mereka mewujudkan kekaguman ini dan menjadi terilhami untuk membuat beragam teknologi baru untuk kemaslahatan umat manusia. Kini kita menyaksikan teknologi yang sedang berkembang, yang sedikit demi sedikit menemukan keajaibankeajaiban penciptaan dan menerapkan desain luar biasa yang dimiliki makhluk hidup, sebagaimana yang terjadi pada biomimetika. Subhanallah, mahasuci Allah.
dari serial harunyahya

GEOGRAFI KEDOKTERAN

12

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

JUMAT, 28 DESEMBER 2007 JUMAT, 28 DESEMBER 2007

MUHIBAH
PONDOK PESANTREN AL-HIKAMUSSALAFIYAH CIPULUS PURWAKARTA
Dok .ACT

DIALOG JUMAT

13

WIRAUSAHA JADI PRIMADONA
FOTO-FOTO: DOKPRI

Selain mempelajari agama, santri pun diwajibkan mengikuti sekolah umum dan kegiatan kewirausahaan berupa budidaya pertanian, perkebunan, dan perikanan.

P

ondok Pesantren AlHikamussalafiyah yang lokasinya di Desa Cipulus Kec Wanayasa Kab Purwakarta atau lebih dikenal dengan Pesantren Cipulus, banyak didatangi santri dari berbagai penjuru Jawa Barat. Bahkan, tidak sedikit santri yang menimba ilmu agama ini datang dari pulau Sumatera dan Batam. Karena, selain menyediakan tempat untuk menimba ilmu agama, pesantren ini juga menyediakan lembaga sekolah secara umum. Itu sebabnya, orang menyebut Pesantren Cipulus ini merupakan pesantren modern yang tetap mempartahankan kesalafannya. Tahun ini, jumlah santri mukim (santri yang tinggal di pondokan, red) yang ada di Pesantren Cipulus sebanyak lebih dari 700 santri. Usia santri beragam, mulai dari lima hingga 40 tahun. Yang menarik, selain ilmu agama dan umum, santri wajib mengikuti pelajaran

tambahan lain, yaitu ilmu kewirausahaan. ”Kami ingin para alumni bisa mandiri secara ekonomi,” ujar Haji Abdul Jabar, yang juga merupakan salah satu anggota Dewan Kyai dan penanggungjawab asrama Nugraha I di pondok pesantren itu. Para santri itu dikelompokkan dalam empat kelas. Diantaranya, kelas Ba Nun, kelas I atau Ibtida, kelas II Mutawasith (pertengahan), kelas III atau kelas ‘Aly (lanjutan). Kelas Ibtida merupakan kelas bagi santri pemula atau santri pindahan dari pondok lain. Di kelas ini, santri dituntut untuk menghafal Alquran, bacaan shalat, dan Juz ‘Amma.

Setelah satu tahun dan santri dianggap mampu mengikuti pembelajaran tingkat selanjutnya, maka santri berhak naik ke kelas selanjutnya, yakni kelas I. Di kelas I ini, santri diwajibkan memperdalam Alquran, akhlaq lil banin, durusul fiqhiyyah, tijan, safinah dan jurumiyah, serta amtsilati. Selain itu, santri digembleng hafalan nadzom aqo’idul iman. Setelah dianggap mampu, maka santri melanjutkan pendidikannya ke kelas II dan seterusnya. ‘’Di sini, selain mempelajari agama, santri pun diwajibkan mengikuti sekolah umum. Itu yang menjadikan pesantren kami menjadi pesantren favorit pilihan masyarakat. Istilahnya sekali

mendayung dua tiga pulau terlampaui,” tambah Abdul Jabar. Jadwal santri dari mulai sebelum Subuh sampai menjelang tidur pukul 21.30 WIB sangatlah padat. Pasalnya, banyak kegiatan-kegiatan baik keagamaan ataupun kegiatan ekstrakulikuler yang wajib diikuti para santri ini. Salah satu contohnya, kegiatan pengajian atau hafalan Alquran dan hafalan kitab kuning yang dilaksanakan setelah lepas sahalat lima waktu. Selain mendapatkan pelajaran yang wajib, para santri tersebut bebas mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang tersedia. Di antaranya, ekstrakulikuler bahasa Arab, pertanian dan perkebunan, serta budidaya ikan. Untuk ekstrakulikuler bahasa Arab, semua santri dari berbagai kelas wajib mengikutinya. Sedangkan, untuk ekstrakulikuler pertanian, perkebunan, dan perikanan lebih dikhususkan bagi santri tingkat lanjut. ”Hanya santri yang dianggap sudah dewasa yang mampu mengikuti kegiatan ekstrakulikuler ini,” jelas Abdul Jabar. Tujuannya, supaya santri ini mengetahui cara mempertahankan hidup dari himpitan ekonomi, dengan cara berwiraswasta dari hasil dia bercocok tanam dan budidaya ikan. Santri yang dilibatkan dalam kegiatan ekstrakulikuler pertanian, perkebunan, serta budidaya ikan ini akan mendapatkan upah dari hasil jerih payahnya dengan cara bagi hasil. Selain untuk melatih wira usaha, budidaya itu juga untuk menghidupi pesantren. Hasil pertanian dan perikanan itu dijual dan hasilnya digunakan sebagai salah satu ”bahan bakar” kegiatan kepondokan. Boleh juga! win

Jangan Lupakan (Tsunami) Aceh Muliakan Pekurban 2 dan Penerima Kurban
6 Desember 2007, masyarakat Nangroe Aceh Darussalam dan Nias khususnya, serta rakyat Indonesia secara umum memeringati tiga tahun bencana alam gempa bumi dan tsunami yang memakan korban jiwa hingga 300 ribu jiwa. Siapapun yang pernah menyaksikan tayangan kejadian tsunami di ujung Sumatera itu tidak akan pernah lupa, bahkan jika tayangan-tayangan itu diputar kembali, air mata akan kembali menetes mengingat dahsyatnya bencana yang merenggut ratusan ribu jiwa itu. Terlebih masyarakat Aceh yang benar-benar mengalami dan merasakan terjangan ombak besar pasca gempa dan membawa serta orang-orang yang dicintai. 26 Desember tiga tahun silam, Indonesia berduka setelah gempa dan tsunami. Namun dibalik bencana alam terbesar –setidaknya diukur dari jumlah korban jiwa- sepanjang sejarah bangsa Indonesia itu, terbit sebuah harapan dan semangat baru. Harapan baru itu bernama kerelawanan, sedangkan semangat baru yang dimaksud adalah kepedulian. Ya, kerelawan dan kepedulian seperti bahu membahu di hari itu, juga berbilang tahun pasca tsunami itu. ACT, sebagai salah satu lembaga kemanusiaan yang hadir dalam aksi kerelawanan di saat tsunami itu terus menerus menggelembungkan ide menjadikan tanggal 26 Desember sebagai hari relawan Indonesia. Selama ini, berbagai lembaga dan masyarakat yang peduli kemanusiaan masih memeringati hari kerelawanan sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Desember setiap tahunnya. "Sudah saatnya Indonesia punya hari kerelawanan nasional, dan moment paling tepat adalah tsunami Aceh yakni tanggal 26 Desember," tegas Ahyudin, Direktur Eksekutif ACT. Melihat aksi ribuan relawan yang tumpah ruah berpeluh keringat menguras tenaga tak kenal lelah di Aceh, nampaknya tak ada alasan untuk tak meneguhkan 26 Desember sebagai hari relawan (kerelawanan) nasional. Menurut Ahyudin, selain karena moment yang luar biasa, tanggal 26 Desember juga akan selalu mengingatkan segenap masyarakat negeri ini akan sebuah bencana yang tercatat tebal-tebal dalam buku sejarah negeri ini. Tentu saja gunanya untuk menjadi pelajaran khusus bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di daerah pesisir agar senantiasa waspada akan potensi tsunami. Sedangkan dari sisi semangat kepedulian, peristiwa tsunami di Aceh dan Nias seolah membangkitkan kembali nilai-nilai luhur masyarakat negeri ini, yakni gotong royong dan kasih sayang. Begitu tersiar bencana di ujung Sumatera itu, tak terbilang bantuan dikirimkan ke lokasi bencana, mulai dari individuindividu yang tak mengenal strata, hingga ke perusahaan-perusahaan besar dan kecil. Ketika tsunami baru saja terjadi, pernah seorang pengamen datang ke kantor ACT di Ciputat membawa sekantong uang receh. "Mohon titip uang saya untuk saudara-saudara di Aceh. Maaf, meski sedikit tetapi saya merasa ingin membantu," ujarnya. Dan setelah dihitung sekantong koin hasil mengamen itu, memang hanya berjumlah tidak lebih dari tiga ribu rupiah. Luar biasa, satu bentuk kerelawanan yang dibingkai

llah memuliakan para pekurban dengan janji-Nya yang tak pernah diingkari. Beberapa janji Allah bagi para pekurban diantaranya pengampunan dari Allah. Rasulullah SAW bersabda kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan kurban. "Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan …" (HR. Abu Dawud dan At Tirmizi). Hewan kurban pun akan menjadi saksi pada hari kiamat, "Sesungguhnya hewan kurban itu akan dating pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu bahagiankan dirimu dengannya" (HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan Hakim). Bahkan, Rasulullah SAW menggambarkan betapa besarnya pahala berkurban dengan salah satu sabdanya, "Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan" (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Jika Allah memuliakan para pekurban, apakah para penerima kurban tidak berhak mendapat kemuliaan? Meski hanya dari para panitia kurban. Lihatlah beberapa fakta tentang penyaluran hewan kurban di berbagai kota dan daerah di negeri ini.

A

kasih sayang antar sesama dan dibalut keikhlasan dari seorang pengamen. Relawan ACT yang menerima uluran tangan dari pengamen itu terharu dan tak kuasa menahan air mata. Ternyata, kepedulian tak hanya milik orang-orang berpunya. Satu lagi hal positif pasca tsunami Aceh itu, masyarakat Indonesia menjadi lebih tanggap dan waspada terhadap bencana. Ini merupakan hasil kerja luar biasa dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah dan instansi terkait serta media yang tak henti memberikan informasi bencana, serta berbagai pelatihan dan edukasi yang dilakukan banyak lembaga kemanusiaan langsung ke lapisan masyarakat. Kini, setelah tiga tahun tsunami, masihkan harapan (kerelawanan) dan semangat kepedulian itu terus terjaga? Jika di Aceh –juga di berbagai lokasi bencana lain seperti di Jogjakarta dan lainnya- masih tak ter-

1. Antrian panjang Sebelum matahari terbit, bahkan ratusan orang rela menunggu pembagian jatah kurban sebelum sholat Ied diselenggarakan. Mereka khawatir tidak mendapatkan bagian daging kurban. Antrian panjang para calon penerima kurban itu lebih mirip parade kemiskinan bangsa ini 2. Berebut daging kurban Sudah menjadi pemandangan yang biasa, pembagian daging kurban diiringi dengan kerusuhan, saling sikut, saling injak untuk berebut jatah daging kurban yang jumlahnya tak seberapa. 3. Penerima bukan yang benar-benar berhak Ini juga fenomena yang terjadi di hari raya Idul Kurban setiap tahun penyelenggaraannya. Banyak yang sebenarnya tidak berhak menerima daging kurban, justru menjadi penikmat daging. Padahal, banyak kaum dhuafa (lemah) yang tak beranjak dari rumah mereka, berharap panitia kurban mengetuk pintu dan memberinya daging kurban. 4. Mubazir Hal ini juga seringkali tidak terhindarkan. Lantaran banyak penyelenggara kurban tidak memiliki cukup data mustahik/calon penerima daging kurban. Maka dari itu, di tahun ini Program "KURBANKU untuk korban bencana" tak sekadar menyalurkan hewan kurban itu ke berbagai daerah bencana, baik bencana alam, konflik sosial dan bencana kemiskinan. Dalam pelaksanaannya, ACT pun meminimalisir terjadinya fakta-fakta di atas. Program "KURBANKU untuk korban bencana" tak sekadar menggalang kurban, kemudian mendistribusikannya ke berbagai daerah bencana. Salah satu keunggulan program ini adalah dalam hal packaging (pengemasan) daging kurban serta sistem distribusinya. Berikut sistem pelaksanaan program kurban yang dilakukan ACT di berbagai daerah; 1. Sentralisasi pemotongan di masing-masing wilayah Area daerah bencana sangat luas, misalnya Bengkulu atau Jogjakarta. Sentralisasi pemotongan hanya di beberapa titik utama agar lebih efisien untuk menjamin distribusi lebih merata dan tepat sasaran serta memudahkan pemantauan. 2. Pemberdayaan relawan berbasis masyarakat lokal Semua program ACT berbasis kerelawanan, begitu juga program kurban. Segenap relawan ACT, mulai dari kantor pusat di Ciputat hingga di berbagai daerah Dok .ACT seperti Aceh, Jogjakarta, Bengkulu, Sumatera Barat, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya serempak bekerja mulai dari penggalangan hingga pemotongan dan pendistribusian. 3. Pemberdayaan peternak Pengadaan hewan kurban langsung dari peternak, bukan dari pedagang. Kebijakan ini sebagai bagian dari keberpihakan terhadap peternak yang selama ini sering tak mendapatkan perilaku tak adil dalam proses transaksi. Pengadaan hewan dari lokasi terdekat sehingga menghidupkan perekonomian lokal. 4. Kemasan sehat dan higienis Pemuliaan penerima menjadi prioritas ACT selain memuliakan para pekurban. Kemasan daging kurban bukan dengan kantong plastik seperti yang biasanya dilakukan di hampir semua tempat. Kami menggunakan kemasan yang lebih bersih dan higienis, yakni bahan sterofoam yang ditutup dengan plastik cling wrap. Kemasan ini menjaga kesegaran dan kebersihan daging, dan langsung terlihat dengan jelas dari penutup transparannya. 5. Tanpa antrian dan tidak perlu berebut Para penerima kurban cukup duduk tenang di rumah. Relawan-relawan ACT sudah mendata nama-nama penerima dan akan mendistribusikannya langsung ke rumah-rumah para penerima. Ini pun merupakan bagian dari pemuliaan penerima kurban. 6. Laporan pertanggungjawaban kepada para pekurban Agar menambah keyakinan para pekurban, ACT memberikan laporan pelaksanaan pemotongan dan distribusi kepada setiap pekurban. Laporan tersebut berisi dua foto sebelum dan saat pemotongan, nama (atas nama) pekurban serta lokasi pemotongan. /Adv

Dok .ACT

bilang warga yang tetap tinggal di barak-barak atau tenda pengungsi, kemanakah semangat kepedulian itu? Cukupkah kepedulian dan kerelawanan ditunjukkan hanya dalam sepekan atau sebulan pasca bencana? *** Dari peringatan tiga tahun tsunami Aceh, semoga tidak lagi jatuh korban yang banyak saat kembali terjadi tsunami maupun gempa. Kuncinya hanya pada latihan dan simulasi lebih intensif, mengingat Indonesia merupakan negeri kepulauan yang diapit oleh tiga lempeng benua sehingga selalu berpotensi terjadinya gempa dan tsunami. / Adv (gaw)

SalurkanBantuan Anda Melalui Rekening ACT di:

Disaster Response:
1. 2. 3. 4. 5. BCA BSM Mandiri Muamalat BII Syariah # # # # # 676 101 128 304 270 030 2021 000 1114 000 4593 338 0023 015 2000 256

14

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

JUMAT, 28 DESEMBER 2007

DIALOG JUMAT

TABLOID REPUBLIKA

15

DUNIA ISLAM

TELAAH

Pintu-pintu Ampunan Allah
Ternyata pintu-pintu ampunan yang disediakan oleh Allah sangat banyak. Dalam buku ini penulis mengungkapkan sedikitnya 38 cara menghapus dosa, sesuai dengan berat-ringannya kesalahan yang dilakukan.Baik dosa kecil, besar, yang tersembunyi, maupun terang-terangan. Untuk dosa yang agak berat, cara menghapusnya agak rumit, tapi untuk dosa yang tergolong ringan, cara menghapusnya pun ringan. Pembahasan tiap bab diawali dengan dalil naqli dari Alquran dan Sunnah Rasul, kemudian dilanjutkan dengan definisi ringan dan mutiara kisah sesuai dengan tema yang digarap. Pintupintu ampunan Allah itu antara lain shalat, wudhu dan banyak melangkah ke masjid, zakat dan sedekah. Selain itu, tobat, istighfar, puasa, doa, dan berbakti kepada orang tua. Cara lainnya adalah menahan marah, pemaaf, infak, dan berjabat tangan dengan sesame Muslim. Bahkan penyakit pun merupakan pintu Allah mengampuni dosa kita. Tentang wudhu dan pergi ke masjid, Rasulullah bersabda, ‘’Orang yang berwduhu di rumahnya, kemudian berjalan menuju masjid untuk mendirikan shalat fardhu, maka setiap langkahnya menuju masjid itu akan menghapus dosa dan kesalahan, serta mengangkat derajatnya.’’ (hlm 23) Tentang sedekah, Rasulullah bersabda, ‘’Sesungguhnya sedekah itu benarbenar akan memadamkan murka Allah dan akan menghindarkan (yang bersedekah) dari mati yang tidak baik.’’ (hlm 42) Banyak hadis yang mengungkapkan penyakit sebagai penghapus dosa. Salah satunya adalah, ‘’Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan sakit, sehingga keadaan yang tidak menyenangkan itu akan menjadi penghapus dosa dan kesalahannya.’’ (hlm 218) Buku ini sangat tepat dibaca oleh setiap Muslim. Mengetahui banyaknya pintu ampunan Allah akan menyadarkan kita betapa Allah Mahasayang kepada kita. ika

Bekal Hidup Bahagia
hanya fatamorgana. Setelah didekati dan diselami, ternyata wujud yang sebenarnya adalah kesengsaraan. Andai saja mereka mau berpegang teguh pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup yang mereka dambakan. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Hal itulah yang ditegaskan oleh penulis buku ini. Sesuai dengan judulnya, penulis yang juga seorang politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ingin mengajak para pembacanya untuk menggapai hidup yang lebih baik. Bagaimana caranya? Hidup dengan selalu bersandarkan pada ajaran Alquran dan Sunnah Rasulullah. Itulah bekal hidup selamat dan bahagia dunia dan akhirat. Banyak hal yang bersifat panduan praktis bagaimana menjalani keseharian kita terangkum dalam buku ini. Misalnya, tentang pentingnya menyadari dimensi waktu, jangan berspekulasi melakukan dosa sekecil apa pun, mewaspadai jebakan-jebakan setan untuk berbuat dosa dan kesia-siaan, mengatur pola makan yang sehat, ingat dan melakukan bersiapan untuk mati, serta percaya akhirat. Salah satu hal terpenting yang harus dilakukan oleh Muslim yang ingin sukses dunia dan akhirat adalah berani berkorban. ‘’Pengorbananlah yang menentukan umur dari amal usaha yang kita lakukan. Pengorbanan, itulah yang dilakukan oleh orang-orang besar dalam sejarah-sejarah besar, yang hidup bahkan hingga sekarang.’’ (hlm 27) ‘’Hakikat dari pengorbanan adalah ujian, seyakin apa kita pada keyakinan yang kita yakini, sehingga melahirkan pengorbanan yang memang menjadi syarat kemenangan.’’ (hlm 71) Buku ini sangat menggugah. Siapa pun bisa menjadi lebih baik asalkan mau berubah.
ika

INFOPALESTINS

P

emerintah Yordania barubaru ini meminta Israel menjelaskan mengenai dilanjutkannya proyek penggalian terowongan di bawah masjid Al-Aqsha (pintu AlMaghariba), dengan dalih untuk mencari salah satu bagian dari Kuil Sulaiman yang mereka klaim. Menteri Penerangan dan Komunikasi Yordania, Nasher Gauda menegaskan bahayanya penggalian terowongan yang dilakukan Israel di pintu Al-Maghariba di bawah masjid Al- Aqsha. ”Wilayah Islam di kota AlQuds merupakan tanah wakaf Islam,” ujarnya. Dia mengisyaratkan bahayanya langkah-langkah Israel yang menyerang wakaf Islam di sana. Pada kesempatan itu, Gauda juga menegaskan Yordania monolak sama sekali langkah sepihak apapun yang dilakukan Israel di Al-Quds timur yang merupakan bagian tanah Palestina terjajah. Langkah Israel ini bertentangan dengan undang undang internasional dan asas-asas proses perdamaian. Sebelumnya, Komisi Islam Kristen untuk Menjaga Tempat-tempat Suci Islam dan Kristen di Al-Quds, telah mengingatkan mengenai penggalian terowongan ini. Dalam pernyataannya komisi ini mengisyaratkan bahwa langkah Israel ini bisa mengakibatkan hancurnya masjid Al-Aqsha secara keseluruhan. Berita penggalian kembali terowongan itu terungkap antara lain melalui foto-foto satelit yang diambil kantor berita Aljazeera beberapa

bulan sebelumnya. Sejumlah foto baru menunjukkan Israel terus melakukan penggalian terowongan di Yerussalem lama dan sekitarnya. Dalam foto-foto itu terlihat adanya sejumlah lubang baru yang dibuat oleh Israel di kota Jerussalem atau Al-Quds. Galian yang paling besar adalah sebuah lorong yang tampaknya berusaha digali memanjang antara lokasi Magharibalokasi yang saat ini secara terang-terangan akan dihancurkan Israel-hingga lokasi Aen Salwan. Terowongan ini menghubungkan antara kota Salwan Palestina dengan tembok Al-Buraq yang dinamakan oleh orang Yahudi sebagai Tembok Menangis. Yang dimaksud dengan Masjid AlAqsha adalah areal yang dikelilingi pagar yang terletak di dalam pagar Al-Quds di sebalah timur dan selatanya. Adapun pagar sebelah timurnya menyatu dengan pagar alQuds dan bagian baratnya lebih dekat dengan tembok bagian timur Al-Quds yang juga menyatu. Sementara di sebelah selatan barat dan bagian utaranya merupakan pagar khusus yang berada di dalam kota yang membentuk masjid agak bengkok. Ia punya empat sudut salah satunya berjarak 491 m. sebelah timurnya 462 m. dan yang paling pendek berada di sebelah selatan 281 dan utara 330 m. Masjid seluas 142 hektare ini terletak di dataran tinggi Baitul Maqdis yang dikelilingi pagar. Masjid Al-Aqsha adaah satu-satunya masjid yang ada di dunia ini yang dipenuhi sejumlah bangunan di sekililingnya. infopalestina

Tempat-tempat Bersejarah di Al-Aqsha
Menara Babul Asbath Bangunan ini terletak di sebelah utara AlHaram antara gerbang Hittah dan Gebang AlAshbath. Berdasar prasasti yang terdapat di sana, bangunan ini didirakan pada zaman Sultan Al-Muluk Al-Asyraf Sya’ban (764-778 H/13631376 M) yang dipimpin oleh Gubernur Saifuddin Qatlubigo tahun 769 H/1367 M. Menara ini terdiri dari delapan sudut, bukan empat sudut seperti biasanya. Bangunan ini mengalami perbaikan pada zaman kekhalifahan Usmaniyah dan dibentuk menyerupai selinder. Qubbah Al-Silsilah Bangunan ini terletak beberapa meter di sebelah timur Qubbah Sakhra. Qubbah Al-Silsilah ini dibangun oleh Khalifah Bani Umayah, Abdul Muluk bin Marwan (65-68 H/507-685 M) sementara Qubbah Sakhra dibangun antara tahun 66-72 H oleh Kholifah yang sama. Qubbah ini berdiri di atas bangunan segi enam yang ditopang oleh enam tiang. Bangunan ini dikelilingi oleh serambi yang terdiri dari 11 segi dan beradadi atas 11 tiang yang kokoh. Sebagaimana mihrab yang berada di sebelah selatannya. Bangunan ini pernah direnovasi sebanyak dua kali yaitu, pada masa kerajaan Mamlukiyah dan kekhalifahan Ustmaniyah. Yaitu pada masa Sulatn Al-Malik Al-Dzahir Bebres (658676 H) dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (926-974). Menara Gerbang Silsilah Bangunan ini terletak di sebelah barat AlHaram Al-Syarif, antara gerbang Silsilah dan Sekolah Al-Asurafiyah. Bangunan ini didirkan pada

zaman Sultan Al-Nashir Muhammad bin Qalawan tepatnya pada tahun ketiga dari kesultanannya (741-809 H/ 1309-1340 M) berdasarkan perintah dari wakilnya, Al-Amir Saifuddin Tunkaz Al-Nashir ke enam tahun 730 H/1329 M. Tahun ini sesuai dengan prasasti yang terdapat di sebalh timurnya dari bangunan menara tersebut. Menara Al-Maghoribah Bangunan ini terletak di bagian barat daya dari al-Haram Al-Qudsi. Menara ini terkenal dengan kemegahanya yang dibangun oleh Hakim Syarifuddin Abdurrahman bin Al-Shahib salah seorang menteri dari sultan Fakhruddin Al-Kholili (4) Bangunan ini didirikan pada masa keemasanya Syarifuddin yang menjadi penjaga Al-Haramain alSyarifain (di AL-Quds dan Hebron) tahun 677 H./7812 M. pada masa Sultan Al-Malik al-said Nashiruddin Barkat Khan (676-678 H) Qubbah Mi’raj Bangunan ini terletak di sebelah barat Qubbah Al-Shakhra agak miring ke belah utara. Pendirian bangunan ini terjadi pada masa keislaman, yaitu pada masa kesultanan Al-Ayubiyah tepatnya pada masa Sulatan Al-Amlik Al-Adil Saifuddin Abi Bakar (596-615 H/1200-1218 M) atas perintah dari Amir Al-Zanjili wali kota Al-Quds, sebagaimana tertulis pada prasasti di pintu masuk utama. Qubbah Nahwiyah Qubbah ini terletak di pojok Barat Daya Qubbah Shakhra, dibangun pada zaman AlAyubiyah tepatnya pada Sultan MAlik Isa tahun 604 H/1207 M. Dulu bangunan ini digunakan sebagai tempat belajar Bahasa Arab, karena Sultan Malik Isa terkenal dengan kecintaanya pada bahasa Arab. Qubbah ini terdiri dari dua ruangan dan satu aula yang memanjang yang bisa dimasuki dari pintu utama. Ruangan ini dihiasi dengan ukiranukiran dan pepohonan. Demikian juga dengan tiang-tiangnya yang kokoh yang dihiasi dengan berbagai ukiran yang menunjukan bahwa bangunan ini didirikan pada dua zaman Sahlibiyah dan Ayubiyah. infopalestina

Judul buku Penulis Penerbit Cetakan Tebal

: 38 Cara Menghapus Dosa : Muhammad Ali ‘Utsman Mujahid : Senayan Abadi : I, 2007 : x + 294 hlm

Judul buku Penulis Penerbit Cetakan Tebal

: Demi Hidup Lebih Baik : Anis Matta : Cakrawala Publishing : I, 2007 : xii + 190 hlm

T

ak ada manusia yang bebas dari salah dan dosa. Selama ini, kita selalu mengira hanya ada dua cara untuk menghapuskan dosa, yakni : dosa kepada Tuhan bisa dihapus dengan bertobat dan beristighfar, sedangkan dosa kepada sesama manusia cukup dengan meminta maaf.

B

anyak orang yang mencari kebahagiaan hidup, namun tidak berhasil meraihnya. Mereka mencari kebahagiaan itu dalam bentuk harta, jabatan, popularitas dan hal-hal yang bersifat materi lainnya. Namun mereka tertipu oleh setan. Kebahagiaan yang mereka kejar ternyata

Islam di Ibu Kota
Oleh Rakhmad Zailani Kiki Staf Seksi Pengkajian CC-JIC

KODI

Jakarta Berkurban
penerima daging kurban, dan panitia kurban: daging kurban yang mereka terima dijual kembali. Fenomena ini menjadi keprihatinan seorang faqih terkemuka di Betawi, mu`allim KH M Syafi`i Hadzami, yang diketahuinya secara langsung atau dari pertanyaan-pertanyaan para jamaahnya sehingga beliau mengeluarkan fatwa sebagai berikut: pertama, pengorban (shohibul qurban) tidak boleh menjual daging kurbannya, demikan pula kulit, tanduk dan sebagainya; kedua, penerima yang fakir miskin boleh menjual daging kurban tetapi harus kepada orang Islam; dan ketiga, apabila orang kaya dikirimi atau diberikan daging kurban maka tidak boleh dijual hanya dibolehkan seperti untuk makan, bersedekah dan sebagai jamuan. Layaknya sebuah fatwa, mu`allim melandasinya dengan dalil-dalil yang mengingatkan kita tentang hakekat kurban sebenarnya agar kurban sebagai sebuah kegiatan ibadah sampai kepada tujuan yang dikehendaki Allah SWT. Dari ketiga unsur yang terlibat dalam kegiatan ibadah qurban yang sering menjadi sorotan adalah panitia kurban. Umumnya di Jakarta, pelaksanaan kurban dilakukan di halaman masjid sehingga panitia kurban dirangkap oleh pengurus masjid. Kontrol yang ketat oleh ketua panitia atau ketua masjid menjadi suatu keharusan agar daging kurban yang didistribusikan sampai kepada tujuan yang Allah kehendaki, tidak diperjualbelikan dan mayoritas dinikmati fakir miskin. Kontrol ketat inilah yang telah dilaksanakan

I

dul Adha yang dirayakan bukan sekedar berdimensi ibadah tetapi juga berdimensi sosial dan ekonomi dengan penyembelihan hewan ternak, seperti kambing, sapi dan kerbau atau unta sebagai sentrum perayaannya yang bisa dilaksanakan pada tiga hari setelahnya atau yang dikenal dengan istilah hari-hari Tasyrik. Yang menarik, khususnya di Jakarta, dimensi ekonomi dari Idul Adha terasa lebih kuat daripada dimensi lainnya. Idul Adha telah membentuk pasar hewan ternak; harga hewan ternak melambung tinggi pada hari-hari menjelang Idul Adha. Ironisnya, dimensi atau cara pandang ekonomi yang kapitalis ini menghinggapi juga sebagian shohibul qurban ( si pemilik hewan kurban),

oleh Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC) selama enam tahun, sejak tahun 2001, dalam melayani umat yang mempercayai hewan kurbannya untuk disembelih dan didistribusikan oleh panitia kurban JIC sehingga setiap tahunnya hewan kurban yang diserahkan ke panita qurban JIC selalu bertambah, baik berupa kambing, domba, maupun sapi. Untuk Idul Adha tahun ini, panitia kurban JIC mengambil tema Jakarta Berqurban yang dimaksudkan antara lain mengoptimalkan jumlah umat Islam yang berkurban dan mendistirbusikan daging kurban dengan mengutamakan fakir miskin. JIC telah memperbaharui data base fakir miskin yang berhak menerima daging kurban dari tempat-tempat kumuh dan padat penduduk miskin yang di DKI Jakarta paling banyak berada di wilayah Jakarta Utara. Bagi kaum Muslimin yang berminat untuk berqurban dapat menghubungi panitia Jakarta Berqurban di nomor telepon (021) 441-3069.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->