P. 1
Baja Karbonn

Baja Karbonn

|Views: 299|Likes:
Published by Cindhy Ade Hapsari

More info:

Published by: Cindhy Ade Hapsari on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

MAKALAH

PENGETAHUAN BAHAN TEKNIK
“BAJA KARBON (Carbon Steel)”

Disusun Oleh: Kelompok 2

Mutiara Astari Cindhy Ade Hapsari Zulkifli Faizal Hendy Kusuma Christoper Peter J.H. Soni Fauzi

(F44100007) (F44100008) (F44100009) (F44100010) (F44100011) (I14090071)

Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor 2011

1

Kata Pengantar
Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia serta hidayah-Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan Makalah Pengetahuan Bahan Teknik tentang Baja Karbon tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini merupakan bagian dari penugasan mata kuliah Pengetahuan Bahan Teknik yang merupakan mata kuliah interdepartemen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (SIL), Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Selain itu, penulisan makalah ini juga betujuan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai bahan teknik sehingga di waktu yang akan datang dapat menunjang kemampuan mereka sebagai sarjana seorang lulusan Teknik Sipil dan Lingkungan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa Makalah yang kami buat masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat memerlukan kritik serta saran yang membangun demi penyempurnaan makalah dan demi peningkatan pengetahuan agar menjadi lebih pesat. Semoga Makalah ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kita semua.

Penulis

2

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan kita sehari-hari, baja merupakan bahan yang sangat sering dipergunakan untuk tujuan penggunaan tertentu. Pada bidang teknik sipil dan lingkungan, baja karbon sering digunakan sebagai bahan utama rangka atau pondasi bangunan. Baja sangat penting untuk pembuatan suatu bangunan karena sifatnya yang kokoh, keras dan kuat. Bahan penyusun utama baja yaitu bijih besi murni yang dipanaskan dan dicampur dengan bahanbahan tertentu yang hasil akhirnya yaitu baja. Besi ditemukan dan digunakan pertama kali pada sekitar 1500 SM. Tahun 1100 SM, proses peleburan besi mulai diketahui secara luas. . Tahun 800 SM, India sudah berhasil membuat besi setelah di invansi oleh bangsa Arya. Tahun 700 – 600 SM, Cina belajar membuat besi. Tahun 400 – 500 SM, baja sudah ditemukan penggunaannya di eropa. Tahun 250 SM bangsa India menemukan cara membuat baja. Tahun 1000 M, baja dengan campuran unsur lain ditemukan pertama kali pada 1000 M pada kekaisaran fatim yang disebut dengan baja damascus. 1300 M, rahasia pembuatan baja damaskus hilang dan tahun 1700 M, baja kembali diteliti penggunaan dan pembuatannya di Eropa. (id wikipedia, 2010) 1.2 Tujuan 1. Mengetahui kandungan atom/unsur dan ikatan dari baja karbon. 2. Mempelajari struktur mikro baja karbon. 3. Mengklasifikasikan jenis-jenis baja karbon. 4. Mempelajari sifat mekanik baja karbon 5. Mengetahui proses pembuatan baja karbon. 6. Mengetahui penggunaan/aplikasi kayu di bidang teknik pertanian dan teknik sipil dan lingkungan. 7. Mengetahui standarisasi dan pengkodean baja karbon. 8. Mengetahui bentuk,ukuran,dan harga yang tersedia di pasar indonesia

3

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Kandungan atom/unsur dan ikatan dari baja karbon Baja karbon adalah paduan besi karbon dimana unsur karbon sangat menentukan sifat-sifatnya. pada baja karbon, terkandung sekitar 1.67% C, 0.25% Si, 0.3-1.5% Mn, dan unsur non-logam seperti P dan S sekitar 0.05% serta unsur lainnya, seperti: Cr, Mo, Ni, dan sebagainya.(shinqueena 2011) Prosentase Jumlah karbon yang ada di besi sangat berpengaruh juga terhadap kekerasan dari baja itu sendiri. • Dengan naiknya kadar karbon (0,85%C), maka bertambah besarlah flek hitam ( Flek-perlit ) dan bersama itu berkuranglah flek putih ( Ferrit atau besi murni ) • Pada kadar karbon mencapai 0.85%, maka besi dalam keadaan jenuh terhadap karbon. Struktur tersebut dinamakan Perlit Lamelar, yaitu campuran yang sangat halus yang berbentuk batang kristal. Campuran kristal tersebut terdiri dari Ferrit dan Zementit. • Jika kadar karbon bertambah besar, zementit akan berkurang dan flek perlit akan bertambah. Kadar jenuh karbon sebesar 0.85% yang berdampak bertambah juga kekerasan dari baja.

Baja karbon terdiri dari besi ( Fe ) dan karbon ( C ) serta tambahan Si, Mn, P dan S yang hanyalah dengan prosentase yang sangat kecil (impurities). Pengaruh dari unsur diatas adalah sebagai berikut : 1. Si dan Mn Biasanya kandungan paling banyak untuk Si adalah 0.4 % dan untuk Mn adalah0.5–0.8%. Kedua unsur ini tidak banyak berarti pengaruhnya terhadap sifat mekanik dari baja. Mn dipakai untuk mengurangi sifat rapuh panas dan mampu menghilangkan lubanglubang pada saat proses penuangan/pembuatan baja.

4

2. Phosphor Phosphor dalam baja karbon akan mengakibatkan kerapuhan dalam keadaan dingin. Semakin besar prosentase phosphor semakin tinggi batas tegangan tariknya, tetapi impact strength dan ductility nya turun. Prosentase phosphor pada baja paling tinggi 0.08 %, tetapi pada baja karbon rendah prosentasenya 0.15 – 0.20 % untuk memperbaiki sifat mach inability nya yaitu supaya chips/tatal yang terjadi tidak sambung-menyambung melainkan dapat putus-

putus.(shinqueena 2011)

2.2 Bentuk struktur mikro baja karbon Unsur C menyusun diri dalam suatu struktur berulang dalam pola tiga dimensi yang dinamakan dengan kristal. Kristal –kristal yang berorientasi (arah pengulangan / susunan ) sama disebut butir. Dan kumpulan butir satu dengan yang lain pada suatu fasa tertentu dinamakan struktur mikro, contoh dari struktur mikro, antara lain: ferit, perlit dan sementit. a. Ferit Ferit yaitu besi murni (Fe) yang terletak rapat, saling berdekatan, tidak teratur, baik bentuk maupun besarnya. Ferit merupakan bagian baja yang paling lunak,ferrit murni tidak akan cocok digunakan sebagai bahan untuk benda kerja yang menahan beban karena kekuatannya kecil (kandungan karbon 0.83%). b. Perlit Perlit, merupakan campuran antara ferrit dan sementit dengan kandungan karbon sebesar 0,8%. Struktur perlitis mempunyai kristal ferrit tersendiri dari serpihan sementit halus yang saling berdampingan dalam lapisan tipis mirip lamel. c. Sementit kandungan karbon mencapai 6.67% dan sifat-sifatnya: sangat keras dan getas (rapuh). d. Martensitik Martensite adalah mikro konstituen yang terbentuk tanpa melalui proses difusi. Konstituen ini terbentuk saat Austenite didinginkan secara sangat

5

cepat, misalnya melalui proses quenching pada medium air. Transformasi berlangsung pada kecepatan sangat cepat, mendekati orde kecepatan suara, sehingga tidak memungkinkan terjadi proses difusi karbon. Transformasi martensite diklasifikasikan sebagai proses transformasi tanpa difusi yang tidak tergantung waktu (diffusionless time-independent transformation). Martensite yang terbentuk berbentuk seperti jarum yang bersifat sangat keras (hard) dan getas (brittle). Fase martensite adalah fase metastabil yang akan membentuk fase yang lebih stabil apabila diberikan perlakuan panas. Martensite yang keras dan getas diduga terjadi karena proses transformasi secara mekanik (geser) akibat adanya atom karbon yang terperangkap pada struktur kristal pada saat terjadi transformasi polimorf dari FCC ke BCC. e. Austenitik Fase Austenite memiliki struktur atom FCC (Face Centered Cubic). Dalam keadaan setimbang fase Austenite ditemukan pada temperatur tinggi. Fase ini bersifat non magnetik dan ulet (ductile) pada temperatur tinggi. Kelarutan atom karbon di dalam larutan padat Austenite lebih besar jika dibandingkan dengan kelarutan atom karbon pada fase Ferrite. Secara geometri, dapat dihitung perbandingan besarnya ruang intertisi di dalam fase Austenite (atau kristal FCC) dan fase Ferrite (atau kristal BCC). Perbedaan ini dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena transformasi fase pada saat pendinginan Austenite yang berlangsung secara cepat.

6

2.3 Klasifikasi/ penggolongan baja karbon. Klasifikasi atau penggolongan karbon berdasarkan persentase karbon yang dimiliki adalah: Baja Karbon Rendah
• •

Kandungan karbon < 0,30%. Tidak responsif terhadap perlakuan panas yang bertujuan membentuk martensit.

• • • •

Struktur mikronya terdiri ferit dan perlit. Relatif lunak dan lemah, murah. Kemampuan las baik. Penggunaan atau aplikasi berdasarkan persentase karbonnya: 0,05 % – 0,20 % C : automobile bodies, buildings, pipes, chains, rivets, screws, nails.

-

- 0,20 % – 0,30 % C : gears, shafts, bolts, forgings, bridges, buildings.

Baja Karbon Medium
• • • • •

Kandungan karbon 0,30 – 0,60%. Dapat dinaikkan sifat mekaniknya melalui perlakuan panas. Struktur mikronya martensit. Lebih kuat dari baja karbon rendah. Penggunaan atau aplikasi berdasarkan persentase karbonnya:

- 0,30 % – 0,40 % C : connecting rods, crank pins, axles. 0,40 % – 0,50 % C : car axles, crankshafts, rails, boilers, auger bits, screwdrivers.

7

- 0,50 % – 0,60 % C : hammers, sledges.

Baja Karbon Tinggi
• • • •

Kandungan karbonnya 0,60 – 1,5%. Dapat dinaikkan sifat mekaniknya melalui perlakuan panas. Struktur mikronya martensit. Paling keras, paling kuat, paling getas di antara baja karbon lainnya.

Penggunaan atau aplikasi berdasarkan persentase karbonnya: screw drivers, blacksmiths hummers, tables knives, screws, hammers, vise jaws, knives, drills. tools for turning brass and wood, reamers, tools for turning hard metals, saws for cutting steel, wire drawing dies, fine cutters.

-

2.4 Sifat-sifat teknis bahan 2.4.1 Sifat Mekanik Sifat-sifat mekanis baja berdasarkan SNI-2002 pasal 5.1.3 : Tegangan Leleh: Modulus Elastisitas: Modulus Geser: Nisbah Possion: Koefisien Pemuaian: 210-280 MPa E= 200 Gpa G = 80.000 MPa µ = 0,3 α = 12x10-6/oC

8

Sebagai bandingan, modulus elastisitas E berdasarkan British Standard 205 Gpa,berdasarkan AISC 200 Gpa, sedang modulus geser G berdasarkan British Standard 81 Gpa,sedang berdasarkan AISC 77 Gpa. Gambar 1.3.Diagram tegangan-regangan tipikal berbagai baja Struktural

Jika temperatur naik maka modulus elastisitasnya turun

9

Gambar 1.1 Perbandingan antara carbon steels, alloy steels, stainless steels, dan tool steels Properties Density (1000 kg/m3) Elastic Modulus (GPa) Poisson's Ratio Thermal Expansion (10-6/K) Melting Point (°C) Thermal Conductivity (W/m-K) Specific Heat (J/kg-K) Electrical Resistivity (10-9Ω-m) Tensile Strength (MPa) 130-1250 210-1251 75.7-1020 6402000 380-440 5-25 11-16.6 9.0-15 9.0-20.7 9.4-15.1 Carbon Steels Alloy Steels Stainless Steels 7.75-8.1 190-210 0.27-0.3 Tool Steels 7.72-8.0 190-210 0.27-0.3

7.85 190-210 0.27-0.3

7.85 190-210 0.27-0.3

-

-

1371-1454

19.948.3 -

24.3-65.2

26-48.6

11.2-36.7

450-2081

452-1499

420-500

276-1882

758-1882

515-827

Yield Strength (MPa) Percent Elongation (%) Hardness (Brinell 3000kg)

186-758 10-32

366-1793 4-31

207-552 12-40

86-388

149-627

137-595

210-620

10

Dari tabel diatas didapat sifat dari baja karbon yaitu : Sifat fisik baja karbon: Machinability Kemampuan pengerjaan mesin pada baja karbon sangat di pengaruhi oleh kadar karbon yang terdapat pada baja tersebut. Semakin tinggi kandungan karbon yang terdapat pada baja tersebut semakin sulit proses pengerajaan mesin pada baja karbon tersebut. Weldability Penambahanan karbon sementit dapat memperkeras sifat baja sehingga memiliki kemampuan tempa yang lebih besar Kemampuan Tempa Baja karbon rendah memiliki karbon antara 0,10 - 0,25 %C, 1018, 1019. Sifatnya mudah ditempa,semakin tinggi kandungan karbon yang terdapat pada baja maka akan memiliki kemampuan tempa yang lebih besar dari sebelumnya. 2.4.2 Sifat-sifat baja karbon karena pengaruh lingkungan: Karat (korosi) Sejak pemakaian baja pertama,salah satu kelemahan utamanya adalah memerlukan pengecatan untuk mencegah kerusakan logam akibat karatan (korosi). Baja karbon yang kekuatannya rendah, tidak mahal tetapi sangat mudah berkarat. Sifat tahan karat dapat ditingkatkan dengan

menambahkan tembaga sebagai unsure paduan. Namun baja karbon yang mengandung tembaga terlalu mahal untuk pemakaian umum. Kelakuan pada suhu tinggi Bila suhu melampaui 93˚C, kurva tegangan-regangan mulai menjadi tak linear dan secara bertahap titik leleh yang jelas menghilang. Modulus elastisitas, kekuatan leleh, dan kekuatan tarik akan menurun bila suhu

11

naik. Pada suhu antara 430˚C-540˚C terjadi laju penurunan maksimum. Baja dengan persentase karbon yang tinggi, seperti A36 dan A440 menunjukkan “pelapukan regangan” pada suhu 150˚C-370˚C. pelapukan regangan mengakibatkan turunnya daktilitas. Patah getas Patah getas didefinisikan sebagai jenis keruntuhan berbahaya yang terjadi tanpa deformasi plastis lebih dahulu dan dalam waktu yang sangat singkat. Kelakuan patah dipengaruhi oleh suhu, laju pembebanan, tingkat tegangan, ukuran cacat, tebal atau tipisnya pembatas plat, geometri sambungan dan mutu pengerjaan. Jika suhu berada di atas 540C akan mengakibatkan pengendapan senyawa karbon dan elemen paduan terjadi, sehingga mikrostruktunya lebih getas. Akibat proses pembuatan, plat tebal cenderung lebih getas dibandingkan plat tipis. Kandungan karbon yang lebih tinggi juga mengasilkan bahan yang lebih getas. Pengaruh beban juga mengakibatkan peningkatan kegetasan baja karbon. Case hardening Case hardening adalah proses pengerasan bagian luar baja. Proses ini menciptakan baja yang keras, permukaan yang tahan aus, tetapi tetap mempertahankan sifat-sifat interior yang tangguh dan ulet. Baja karbon tidak memiliki sifat kekerasan yang baik. Sifat baja karbon ini sangat menguntungkan karena dengan case hardening akan memberikan karakterisik permukaan yang baik, namun memberikan inti yang tetap tangguh. 2.5 Proses pembuatan baja karbon. Baja diproduksi didalam dapur pengerolan baja dari besi kasar baik padat maupun cair, besi bekas (Skrap) dan beberapa paduan logam. Ada beberapa proses pembuatan baja antara lain: I. Proses Konventor

12

Proses konventor terdiri dari suatu tabung yang berbentuk bulat lonjong yang menghadap kesamping. Sistem Kerja : a. Dipanaskan dengan kokas sampai 1500 derajat Celcius b. Dimiringkan untuk memasukan bahan baku baja ( 1/8 dari volume konventor ) c. Kembali ditegakkan d. Udara dengan tekanan 1,5 - 2 atm atau dihembuskan dengan kompresor skala dapur tinggi. Proses Konventor terbagi dua yaitu : A. Proses Konventor Basemer ( Asam ) adalah lapisan bagian dalam tersebut dari batu tahan api yang mengandung kwarsa asam atau axid asam (Si O2 ). Bahan dapat diolah besi kasar kelabu cair ( CaO) tidak ditambahkan sebab dapat bereaksi dengan (Si O2 -> Si O2 + CaO -> CaSi O3. B. Proses Thomas (Basa) adalah lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bisa atau dolomit (kalsium karbonat dan magnesium (CaO + MgCo3) besi yang diolah besi kasar putih yang mengandung (P) antara 1,7- 2%, Mn 1-2% dan Si 0,6-0,8 %. Setelah Mn dan Si terbakar, P membuat oksida phospor ( P2O5) untuk mengeluarkan besi cair ditambahkan zat kapur (CaO), 3CaO + P2O5 -> Ca3 PO4. II. Proses Siemens Martin Menggunakan sistem regenerator (+- 3000 derajat C). Fungsi dari regenerator adalah : a. memanaskan gas dan udara atau dengan menambah temperatur dapur. b. sebagai fundamen/ landasan dapur.

13

c. menghemat pemakaian tempat d. bisa digunakan baik besi kelabu maupun putih besi kelabu dinding dalamnya dilapisi batu silika ( SiO2 ), sedangkan besi putih CaCO3 dilapisi dengan batu dolomit ( 40% Mg CO3 + 60% )

III. Proses Basic Oxygen Furnance a. Logam cair dimasukan keruang bakar ( dimiringkan lalu ditegakkan ) b. Oxigen ( +- 1000 ) ditiupkan lewat Oxigen lance keruang bakar dengan kecepatan tinggi ( 55 m3 ( 995 % O2) tiap satuan ion muatan ) c. Ditambahkan bubuk kapur ( CaO ) untuk menurunkan kadar P dan S Keuntungan BOF adalah: - BOF menggunakan O2 murni tanpa Nitrogen - Proses hanya lebih kurang 50 menit. - Phospor dan Sulfur dapat terusir dulu dari pada karbon IV. Proses Dapur Listrik Pada temperatur tinggi dengan menggunakan busur cahaya elektroda dan induksi listrik. Keuntungan: a. Mudah mencapai temperatur tinggi dalam waktu singkat b. Temperatur dapat diatur c. Efisiensi termis dapur tinggi d. Cairan besi terlindungi dari kotoran dan pengaruh sehingga kualitasnya baik.

14

V. Proses dapur kopel Mengolah besi kasar kelabu dan besi bekas menjadi baja atau besi tuang. Proses: 1) Pemanasan pendahuluan agar bebas dari uap cair. 2) Bahan bakar(arang kayu dan kokas) dinyalakan selama ± 15 jam. 3) kokas dan udara dihembuskan dengan kecepatan rendah hingga kokas mencapai 700 – 800 mm dari dasar tungku. Besi kasar dan baja bekas kira-kira 10 – 15 % ton/jam dimasukkan. 15 menit baja cair dikeluarkan dari lubang pengeluaran. Untuk membentuk terak dan menurunkan kadar P dan S ditambahkan batu kapur (CaCO3) dan akan terurai menjadi: CaCO3 CaO CO2

CO2 akan bereaksi dengan karbon: CO2 + C 2CO

Gas CO yang dikeluarkan melalui cerobong, panasnya dapat imanfaatkan untuk pembangkit mesin-mesin lain. VI. Proses dapur Cawan Proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan besi kasar dalam cawan, kemudian dapur ditutup rapat. Kemudian dimasukkan gas-gas panas yang memanaskan sekeliling cawan dan muatan dalam cawan akan mencair. Baja cair tersebut siap dituang untuk dijadikan baja-baja istimewa dengan menambahkan unsur-unsur paduan yang diperlukan

15

a. Sifat selama proses pembentukan Kekeras dan kekuatan dapat ditingkatkan tanpa penambahan

kandungan karbondengan proses heat-treatment ( Quenching ). Sifat permukaan dapat ditingkatkan dengan carburising. Daktilitas tinggi mengakibatkan machinability rendah. Kandungan sulfur dan fosfor tinggi membuat machinability lebih baik. Kekerasan meningkat las sebanding harus dengan kandungan efek

karbon. Tukang

sekarang

memperhatikan

pengerasan di zona yang terkena panas dan mengambil tindakan pencegahan terhadap input energi yang berlebihan, sebagai hasil kekerasan yang meningkat, kemungkinan peningkatan struktur rapuh terbentuk. Dalam kondisi normal, machinability meningkat karena rendahnya diaktilitas mereka dan dapat lebih ditingkatkan dengan

penambahan belerang Sifat karena pengaruh lingkungan Korosi Pada kenaikan suhu 10°C, korosi akan terjadi 2 kali lebih cepat Korosi terjadi jika kelembapan relatif udara >80% CO2 mempercepat terjadinya korosi

16

Suhu Baja karbon sangat rendah tidak dapat dimodifikasi dengan perlakuan panas, murah, tetapi aplikasi rekayasa dibatasi untuk komponen non-kritis dan panel umum dan pekerjaan fabrikasi. Pada baja karbon rendah tidak ada masalah yang terkait panas dalam pengelasan. Kandungan kromium 0,1% dan vanadium serta molibdenum 0,05% mempengaruhi kekerasan. Baja ini sangat rentan terhadap perlakuan panas. Daya tahan terhadap beban 2.6 Rantan terhadap beban yang diberikan jika terlalu besar

Standarisasi dan pengkodean baja karbon Standardisasi merupakan penetapan dan penerapan standar secara tertib dan kerjasama dengan semua pihak. Ada beberapa tipe standarisasi yang umumnya digunakan pada baja karbon, diantaranya :
• • • • • AISI (American Iron Steel Institute). ASTM (American Society for Testing Materials) SAE (Society for Automotive Engineering). JIS (Japanese Industrial Standard). SNI (Standar Nasional Indonesia).

I. AISI dan SAE Kedua standarisasi ini merupakan tipe standarisasi berdasarkan susunan atau komposisi kimia yang tersusun. Ada beberapa ketentuan dalam standarisasinya, yaitu :
Dengan 4 atau 5 angka: 1. Angka pertama adalah jenis baja. 2. Angka kedua: a. Kadar unsur paduan untuk baja paduan sederhana. b. Modifikasi jenis baja paduan untuk baja paduan yang kompleks. 3. Dua angka atau tiga angka terakhir adalah kadar karbon per seratus persen.

17

4. Bila terdapat huruf di depan angka maka huruf tersebut merupakan proses pembuatannya. Contohnya saja SAE 1045, artinya angka 1 adalah baja karbon, angka 0 adalah persentase bahan alloy 0 %, dan angka 45 adalah kadar karbonnya 0,45%.

II.

JIS (Japanese Industrial Standard) Merupakan standarisasi yang dikembangkan oleh Japanese Industrial Standards Comitee yang merupakan bagian dari Kementrian Industri dan Perdagangan Internasional di Tokyo. Ketentuan JIS adalah:
1. Diawali SS atau G, diikuti bilangan yang menunjukkan kekuatan tarik minimum (kg/mm2) 2. 3. Diawali S, diikuti bilangan yang menunjukkan komposisi kimia. Pada Stainless Steel digunakan grade dari ASTM dengan kode huruf SUS diikuti kode angka sesuai AISI atau SAE. Contoh standarisasi dengan JIS yang diketahui : JIS G 5101 (Baja karbon cor). JIS G 3201 (Baja karbon tempa). JIS G 3102 (Baja karbon untuk konstruksi mesin). JIS G 3101 (Baja karbon untuk konstruksi biasa).

III.

SNI (Standar Nasional Indonesia) Merupakan standar yang ditetapkan instansi teknis setelah mendapat persetujuan Dewan Standardisasi Nasional, dan berlaku secara nasional di Indonesia. Struktur penomoran SNI terdiri atas serangkaian kode dengan arti tertentu yaitu: 1. SNI sebagai kode bahwa dokumen tersebut milik SNI 2. Nomor unit, yaitu identifikasi dari suatu standar tertentu yang jumlah digitnya sesuai kebutuhan. Minimal 4 digit, diawali angka 0. 3. Nomor bagian, merupakan identifikasi yang menunjukan nomor urut bagian dari suatu standar

18

4. Nomor seksi, yang merupakan identifikasi yang menunjukan nomor urut seksi dari suatu standar bagian tertentu, serta tahun penetapan. Contoh standarisasi SNI yaitu:
SNI 07-0040-2006 (Kawat baja karbon rendah). SNI 07-0053-2006 (Batang kawat baja karbon rendah).

SNI 07-0053-2006 (Batang kawat baja karbon rendah Produk Baja Karbon).
SNI 07-2052-2002 (Baja karbon untuk tulang beton). SNI 07-0601-2006 (baja karbon dalam bentuk plat).

2.7 Aplikasi di bidang teknik pertanian/ teknik sipil Penggunaan baja karbon untuk suatu tujuan pemakaian tertentu tergantung dari sifat-sifat baja yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan. Jenis-jenis baja karbon yang mempunyai persyaratan untuk tujuan pemakaian tertentu antara lain dapat dikemukan sebagai berikut : a. Baja Karbon Rendah 1) Baja karbon rendah mengandung 0,04 % C digunakan untuk plat-plat strip. 2) Baja karbon rendah mengandung 0,05 % C digunakan untuk badan kenderaan. 3) Baja karbon rendah mengandung 0,05 – 0,25 % C digunakan untuk konstruksi jembatan dan bangunan 4) Baja karbon rendah mengandung 0,05 – 0,3 % digunakan untuk baut paku keling, karena kepalanya harus di bentuk. b. Baja Karbon Menengah 1) Baja karbon menengah mengandung 0,35 – 0,45 % C digunakan untuk roda gigi, poros. 2) Baja karbon menengah mengandung 0,4 % C di gunakan untuk keperlukan industri kenderaan seperti baut dan mur, poros engkol dan batang torak. 3) Baja karbon menengah mengandung 0,5 % C di gunakan untuk roda gigi dan clamp.

19

4) Baja karbon menengah mengandung 0,5 – 0,6 % C di gunakan untuk pegas. c. Baja Karbon Tinggi Pada pegas, pisau cukur, kawat kekuatan tinggi, dan rel.

BENTUK DAN HARGA YANG TERSEDIA DI PASAR
Di pasaran, baja karbon dijual dalam bentuk pipa dan besi beton. Adapun kisran harganya adalah sebagai berikut: Baja Karbon dalam bentuk pipa Panjang pipa : 6 meter

Diameter (inch) 0.5 0.75 1 1.25 1.5 2 Baja Karbon dalam bentuk besi beton Panjang : 12 meter Diameter (inch) 6 8 10

Harga / batang Rp 150.000 Rp 175.000 Rp 250.000 Rp 300.000 Rp 375.000 Rp 450.000

Harga / buah Rp 30.000 Rp 38.000 Rp 68.000

20

12 16 19 22 25

Rp 91.000 Rp 162.000 Rp 228.000 Rp 305.000 Rp 392.000

Sumber : Toko Amazon Jaya, Bogor

21

Daftar Pustaka
[anonim].2011.Komposisi Kimia Baja (terhubung berkala).http:// steelindonesia.com (29 november 2011) [anonim].2011. Sejarah Baja dan Baja Ringan (terhubung berkala).http:// teknologi.kompasiana.com (29 november 2011) [anonim].2011.Baja Karbon (terhubung berkala).http://scribd.com (29 november 2011) shinqueena.2011.Baja Karbon (terhubung berkala).http:// shinqueena.wordpress.com (29 november 2011) Winda.2008.Pengolahan Baja (terhubung berkala).http:// harikuyangcerah.blogspot.com (29 november 2011)

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->