P. 1
komunikasi

komunikasi

|Views: 27|Likes:
Published by vew15

More info:

Published by: vew15 on Jun 15, 2012
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2012

pdf

BAB II PEMBAHASAN 2.

1 Pengertian Mendengar Mendengar merupakan salah satu kegiatan menangkap suara, atau bunyi tanpa direnc akan oleh yang melakukan kegiatan tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moeliono, 1989) dinyatakan bahwa mendengar a rtinya dapat menangkap suara atau bunyi dengan telinga. Pendapat Akhadiah(1991/1992) yang menyatakan bahwa mendengar merupakan kegiatan menangkap suara atau bunyi dengan telinga secara kebetulan atau tidak direncanak an. Mendengarkan memiliki unsur makna mendengar karena orang mendengarkan menggunaka n alat yang sama dengan mendengarkan sungguh-sungguh (Moeliono,1989). Perbedaann ya terdapat pada tingkat kesadaran seseorang melakukan kegiatan atau perbuatan i tu. Bila kegiatan mendengar dilakukan dengan tidak sengaja, maka kegiatan menden garkan dilakukan dengan sengaja, terencana (Akhadiah, 1991/1992) . 2.2 Proses Mendengar Dalam mendengar suatu informasi, terdapat proses yang terdiri dari 5 akt ifitas, yaitu: 1. Merasakan / sensing Dalam tahap ini, kita mendengar suatu suara tetapi kita mungkin mengalami kesuli tan dalam memahami informasi yang terkandung dalam suara tersebut. Hambatan ini bisa berasal dari kurangnya perhatian yang kita berikan, atau adanya suara-suar a lain. Dalam tahap ini, kita akan lebih mampu memahami informasi yang kita dengar jika kita mau menghilangkan suara-suara lain dan memusatkan perhatian kepada suara ya ng ingin kita dengar. 2. Menterjemahkan / interpreting Pada tahap penerjemahan. Kita berusaha untuk mendengarkan suara dengan baik, aga r dapat menangkapinformasi yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, kita ment erjemahkan atau menafsirkan suara sesuai dengan latar belakang, pendidikan, nila i, kepercayaan, peranan, harapan, serta kebutuhan kita. Mungkin terjadi perbedaa n penterjemahan informasi yang terkandung dalam suara yang kita lakukan dengan y ang diharapkan oleh pembicara. Untuk menghindari hal ini, kita harus berusahaunt uk memahami kerangka referensi yang digunakan oleh pembicara. Menaruh perhatian terhadp gerakan non-verbal yang dilakukan oleh pembicara merupakan salah satu ca ra yang dapat kita lakukan untuk membantu pada tahap ini. 3. Evaluasi Setelah menterjemahkan suara yang kita dengar, kemudian kita membentuk suatu opi ni tentang suara atau pesan yang terkandung dalam suara. Kita melakukan pengeval uasian dengan jalan memisahkan fakta dan opini, serta kualitas bukti-bukti yang ada terutama jika subjek yang ada cukup komplek serta melibatkan emosi. Pada saat mengevaluasi kita sering mengabaikan ide-ide yang berasal dari orang-o rang yang kita anggap tidak menarik atau tidak kompeten, padahal tidak jarang id e mereka mengandung kebenaran. 4. Mengingat Menyimpan informasi untuk digunakan dimasa yang akan dating merupakan tahap yang kita lalui setelah tahap evaluasi. Agar tidak lupa terhadap isi pesan dan pokok -pokok pikiran yang disampaikan oleh pembicara maka kita dapat membuat catatan d an ikhtisar. 5. Merespon Setelah melalui tahap-tahap diatas, maka kita akan memasuki tahap akhir yaitu me mberi respon terhadap isi pesan. Dalam suatu percakapan tatap muka yang melibatk an dua orang orang dalam suatu kelompok kecil, kita dapat memberikan respon seca ra verbal. Di lain pihak, jika komunikasi melibatkan suatu kelompok besar dengan jumlah orang yang relative banyak , maka respon yang kita berikan dapat berbent

uk : berdiam diri, tertawa atau memberi applaus. Dari tahap-tahap yang kita lalui dalam mendengar suatu pesan, bisa kita simpulka n bahwa mendengar merupakan suatu aktivitas mental dan fisik. Oleh karena itu, m ak hambatan dalam memahami pesan-pesan yang kita dengarpun dapat berasal dari ha mbatan mental dan fisik pula. Untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, maka kita s ebaiknya berusaha untuk meningkatkan keterampilan mendengar secara terus menerus . 2.3 Gaya Dalam Mendengar Dalam mendengarkan suatu pesan, situasi yang kita hadapi turut menentukan keterampilan mendengar yang akan kita gunakan. Berdasarkan tuj uan dan jumlah interaksi atau feedback yang terjadi, gaya dalam mendengar suatu pesan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu: mendengarkan isi pesan, mendengarka n secara kritis, mendengarkan untuk memahami perasaan pembicara dan mendengar s ecara aktif. 1) Mendengarkan isi pesan Kita menggunakan gaya ini jika kita hanya bermaksud untuk memperoleh dan memhami informasi yang disampaikan oleh pembicara. Mekipun pada dasarnya semua informas i tergantung dari pembicara, kadang-kadang kita mungkin mengajukan pertanyaan –per tanyaan . oleh karena itu, kita bermaksud untuk mengidentifikasi ide-ide utama d alam pean, maka kita berusaha untuk mendengar dan memperhatikan semua petunjuk y ang ada. 2) Mendengarkan secara kritis Mendngar secara kritis bertujuan untuk mengambil suatu kesimpulan dengan jalan m engevaluasi pesan ditinjau dari berbagai segi misalnya: logika suatu argumentasi , kekuatan bukti-bukti yang ada, validitas suatu kesimpulan, implikasi suatu pes an terhadap diri sendiri, serta motivasi pembicara. Menerima sutu informasi sert a mengevaluasinya pada saat yang bersamaan merupakan hal yang tidak mudah dilaku kan, oleh karena itu kesimpulan sebaiknya diambil setelah pembicara menyelesaika n pembicaraannya. Mendengar secara kritis, biasanya memerlukan suatu interaksi a gar kita dapat lebih memahami pendapat pembicara. Selain itu, pengambilan kesimp ulan sbaiknya juga mempertimbangkan kredibilitas serta petunjuk non-verbal yang digunakan oleh pembicara. 3) Mendengar untuk memahami perasaan pembicara Mendengar dengan empati (Emphatic Listening) bertujuan untuk memahami perasaan, kebutuhan serta keinginan pembicara sehingga kita dapat membantu memecahkan prob lem yang sedang dihadapi oleh pembicara. Selain itu, emphatic listening uga bert ujuan untuk member kesempatan kepada pembicar untuk menyalurkan kekesalannya seh ingga pembicara tidak melakukan perbuatan lain yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dalam hal ini, kita tidak berusaha untuk member nasehat mela inkan hanya untuk memberikan kesempatan berbicara. 4) Mendengar secara aktif Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kita sebaiknya menjadi pendengar yang akti f agar dapat memahami pesan dengan benar. Mendengar secara aktif bertujuan untuk menghargai pesan pembicara dengan jalan memahami perasaan serta ide-ide yang me njadi latar belakang pembicara dalam menyampaikan isi pesannya. Seperti halnya d alam mendengar aktif kita hanya berusaha untuk memahami isi pesan tanpa memperti mbangkan apakah kita setuju atau tidak dengan isi pesan tersebut. 2.4 Mengapa Tidak Terampil Dalam Mendengar? Mendengar merupakan keterampilan yang penting dalam komunikasi b isnis. Sebagaimana telah disebutkan sebelumya bahwa kita menghabiskan sebagian b esar waktu kita untuk mendengar. Akan tetapi, banyak diantara kita belum dapat m endengar dengan baik. Menurut Stell (1991) salah satu yang menyebabkan keterampi

lan mendengar lemah dibandingkn dengan keterampilan komunikasi yang lain karena keterampilan mendengar tidak atau jarang sekali diajarkan di sekolah, berbeda d engan keterampilan menulis dan berpidato. 2.5 Alasan Belum Terampil Dalam Mendengar Ada beberapa alas an yang menyebabkan keterampilan mendengar kit a belum begitu baik. Alasan tersebut antara lain (Penrose 2004): • Kurangnya pendidikan yang layak Sebagaimana telah dikemukakan oleh Steil bahwa, kita hanya mendapat sedikit seka li pengarahan atau pembelajaran tentang bagaimana menjadi pendengar yang lebih baik. Hal ini berbeda dengan keterampilan komunikasi yang lain seperti misalnya menulis dan berpidato. Padahal, pada kehidupan dan aktivitas sehari-hari mendeng ar merupakan keterampilan yang paling banyak digunakan. Hal inilah yang menyebab kan kita secara terus menerus mengembangkan kebiasaan yang buruk dalam mendengar . • Perbedaan persepsi Persepsi setiap orang tentang dunia, tentang suatu objek, kejadian akan berbeda. Jika seorang pendengar menggunakan saringan persepsi ini untuk melakukan pre-ev aluasi pembicara, dan ia mengasumsikan bahwa si pembicara membosankan dan topik yang dibicarakan tidak menarik atau tidak penting, maka selanjutnya si pendengar tidak akan dapat mendengar dengan tepat dan mengerti apa yang dikatakan pembica ra. • Kesenjangan waktu

• Fungsi otak berjalan seperti komputer dengan kecepatan tinggi dimana dapat mempr oses lebih dari 500 kata setiap menit, akan tetapi rara-rata inividu berbicara d engan kecepatan 140 kata per menit. Hal ini menimbulkan “ kesenjangan waktu” dari pi hak pendengar. Untuk mengisi kekosongan waktu, maka otak akan menuju ke pikiran yang lain, akan tetapi secara bersamaan tetap mendengarkan pembicara. Selama and a di kelas, lakukan percobaan : Mendengarlah untuk beberapa menit perkuliahan y ang sedang dilakukan, dan selanjutnya buatlah suatu daftar tentang berbagai piki ran yang keluar masuk otak anda selagi anda mendengar perkuliahan tersebut. Hal ini terjadi bukan karena pembicara yang membosankan, akan tetapi karena proses p sikologi. • Perilaku yang aktif dan pasif Karena kita tidak mempelajari teknik mendengar yang benar, dank arena kita malas mengisi kesenjangan waktu, maka akhirnya kita mengembangkan perilaku yang pasif . Pendengar yang pasif, duduk berdiam diri seperti dalam keadan tidak sadar, dan membiarkan kata-kata dan tindakan yang terjadi keluar masuk otak mereka tanpa d ipedulikan Selain alasan diatas, masih banyak alasan lain yang dapat menyebabkan rendahnya keterampilan mendengar , misalnya karena perbedaan status dalam organisasi. Misa lnya, seorang Direktur akan lebih mendengarkan perkataan Direktur yang lainnya a tau orang yang kedudukannya lebih tinggi. Jenis Pendengar Yang Buruk Karena kita tidak mendapat pembelajaran yang layak untuk mendeng ar dengan baik dan kita hanya mengandalkan kemampuan yang kita kembangkan sendir i, maka kita menjadi pendengar yang buruk. Ada beberapa jenis pendengar yang bur uk dalam lingkungan bisnis, seperti: o Si pura-pura ( The Faker) Pendengar jenis ini adalah orang atau individu yang berpura-pura mengerjakan ses uatu yang benar. Si pura-pura memperlihatkan anggukan kepala yang kelihatannya m enerima atau menolak apa yang sedang dikatakan oleh pembicara dan menambahkan ko 2.6

mentar seperti “ saya mengerti” , “ hal ini sangat menarik” dan “ ya..ya”. o Si tukang bicara ( The Continual Talker) Pendengar yang termasuk kategori ini seperti tidak pernah kehilangan sesuatu unt uk dikatakan. Dia mengambil setiap kesempatan yang ada untuk memotong pembicaraa n, dan senang mendengarkan pembicaraan dirinya sendiri.apabila anda memberi kese mpatan berbicara kepada orang lain, maka anda mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mengambil alih pembicaraan kembali. o Pencatat yang tepat ( The Rapid Writing Note Taker) Pendengar ini berpendapat bahwa mencatat semua isi pembicaraan kata-perkata ada lah merupakan suatu hal yang penting utuk dilakukan selama mendengar , sayangnya ia tidak dapat mencatat semua isi pembicaraan sehingga kehilangan poin-poin yan g penting dalam suatu pembicaraan. o Pengkritik ( The Critic) Pendengar jenis ini selalu mencela atau mengkritik semua hal yang berhubungan de ngan pembicaraan. Bentuk kritiknya dapat beragam . pendengar ini misalnya mengat akan bahwa topiknya tidak menarik, mencela gaya penyampaian pembicara. Bias prib adi sering menimbulkan emosi yang antagonis. o Si sibuk ( I am in a Hurry Listener) Orang yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah orang yang tidak pernah rileks dan memandang mata anda pada saat berbicara. Ia akan berbicara dan mendengar sam bil mengerjakan hal lain, misalnya membuka surat, menelpon atau mencari sesuatu di tumpukan kertas yang ada di mejanya. Kadang-kadang hal ini membuat kesal pemb icara sehingga pembicara ingin menghentikan kesibukan si pendengar dan mendengar kan apa yang dikatakan oleh pembicara. Akan tetapi yang terjadi adalah pembicara bergegas menyelesaikan pembicara dan pergi tanpa peduli pada si pendengar. o Pengkoreksi ( The Make Sure It Is Correct Listener) Pendengar jenis ini dapat ditemukan di setiap kantor. Dalam suatu rapat atau per cakapan ia akan mendengarkan dengan sangat hati-hati terhadap semua fakta yang d ibicarakan dan ia akan merupakan orang yang pertama memberi tanda bila terjadi k esalahan. Walaupun informasi yang diberikan oleh pendengar jenis ini mungkin saj a sangat penting, akan tetapi metode yang digunakannya yaitu menginterupsi pembi caraan dan membuat pembicara terlihat bodoh merupakan hal yang seharusnya dihind ari. o Pendengar yang menyelesaikan kalimat pembicara (The Finish The Sentence For You Listener) Pendengar ini kelihatannya kurang sabar dalam mendengar, dan kelihatan selalu te rgesa-gesa serta ia merasa bahwa ia mengetahui dengan tepat apa yang akan diucap akan oleh si pembicara selanjutnya. Ia akan menjadi penolong apabila si pembicar a lupa atau mengalami kesulitan mencari fakta atau kata-kata. Akan tetapi, akan menjadi pengganggu bila ia melanjutkan pembicaraab padahal si pembicara sedang mengambil nafas sejenak. Kita semua mungkin masuk kedalam salah satu kategori pendengar yang buruk dari w aktu ke waktu. Akan terapi,kita dapat memperbaiki kemampuan mendengar kita sebel um menjadi kebiasaan yang sulit untuk diperbaiki. 2.7 Memperbaiki Keterampilan Mendengar Walaupun mendengar seringkali tidak dianggap sebagai sua tu keterampilan yang diajarkan, akan tetapi keterampilan ini dapat diperbaiki da n ditingkatkan. Untuk memperbaiki keterampilan mendengar dibutuhkan petunjuk ata u instruksi. Berikut ini akan disajikan petunjuk untuk memperbaiki kemempuan men dengar. Dengan berlatih dan mempraktekkan petunjuk ini secara terus menerus maka diharapkan keterampilan mendengar akan meningkat sehingga kita dapat berkomunik asi dengan efektif.

2.8

Langkah-Langkah Untuk Memperbaiki Keterampilan Mendengar

1. Coba untuk menimbulkan minat terhadap topik yang dibicarakan. Sebelum mulai mendengarkan suatu topic sebaiknya kita menyiapkan diri ki ta dengan melakukan brainstorming dengan memikirkan berbagai hal yang ingin anda ketahui tentang topic yang dibicarakan. Dengan berpikiran terbuka untuk mengawa li proses mendengar yang kita lakukan dan perilaku yang positif, maka kita akan lebih mudah untuk mengerti apa yang dibicarakan pembicara. Selama pembicaraan be rlangsung, berusahalah untuk tetap bersikap positif dan mencari hal yang menarik walaupun mungkin anda kecewa dengan isi pembicaraan. 2. Mengevaluasi isi pembicaraan, bukan cara penyampaiannya. Pada saat mendengar, mungkin kita melihat atau mendengar beberapa kesalahan dal am penyampaian pesan, tetapi hal ini sebaiknya jangan dijadikan alasan untuk tid ak mendengar ide-ide utama yang disampaikan. 3. Menjaga emosi. Kita sebaiknya tidak mudah terpancing untuk melakukan suatu argumentasi. Untuk m enghindari argument yang tidak perlu, biarkan pembicara menyelesaikan pembicaraa nnya , baru kemudian kita menyimpulkan isi pembicaraan. Dengan demikian, kita ha nya menginterupsi pembicara, jika kita belum memahami isi pesan yang disampaikan . 4. Mendengar ide-ide. Kita sebaiknya tidak terpaku pada wfakta yang disampaikan, melainkan juga berusa ha memahami ide utama atau maksud di balik penyampaian fakta-fakta tersebut. 5. Fleksibel. Pada saat mendengar suatu pesan, kita mungkin melakukan pencatatan. Pencatatan s ebaiknya tidak hanya menggunakan satu metode saja, akan tetapi gunakan beberapa metode. 6. Selalu berusaha mengatasi hambatan. Pada saat mendengar suatu pesan, konsentrasi kita mungkin dapat terganggu oleh b erbagai hambatan yang timbul, baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar diri kita. Pendengar yang baik akan selalu berusaha agar berbagai gangguan ters ebut tidak membuyarkan konsentrasinya. 7. Bersikap terbuka. Banyak orang yang sulit memahami pesan yang diterima karena tersebut sudah mempu nyai pendapat tersendiri sehingga pendapat yang berbeda dianggap sebagai sesuat u yang salah. Sebagai akibatnya, orang semacam ini akan mengalami kesulitan dala m memahami pendapat orang lain. Untuk menghindari hal yang sama, sebaiknya kita mencoba memahami pendapat orang lain tanpa berusaha membandingkannya dengan pen dapat kita. Selain itu, kita sebaiknya juga tidak bereaksi terhadap kata-kata ya ng bersifat emosional, melainkan berusaha untuk mengartikan kata-kata tersebut. 8. Selalu berusaha untuk melatih pikiran. Pendengar yang tidak efektif cenderung menghindari topic-topik yang sulit, padah al sebenarnya topik tersebut dapat digunakan untuk melatih daya analisa dan pema haman kita. 9. Berusaha untuk menjaga kontak mata. Dengan melakukan kontak mata dengan pembicara , maka kita akan lebih mudah untuk berkonsentrasi dengan isi pembicaraan. 10. Kadangkala melalui bahasa non-verbal yang digunakan oleh pembicara. Kita dapat memahami isi pesan meskipun kita tidak dapat mendengarkan isi pembica raan dengan jelas. Selain itu dengan memperhatikan bahasa non-verbal , kita dapa t juga mengetahui suasana hati pembicara sehingga kita bisa menentukan apakah pe mbicara sedang serius, gelisah, senang, bersemangat dan lain sebagainya.

11. Berikan feedback. Dalam komunikasi feedback merupakan sesuatu yang sangat penting. Melalui feedbac k kita apat mengetahui apakah kita mengerti isi pembicaraan atau tidak . Agar fe edback yang diberikan dapat bermanfaat bagi orang yang menerimanya , maka inform asi yang diberikan harus jelas, dapat dimengerti , dapat diterima dengan baik, d an dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->