P. 1
PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSI DEWASA AKHIR

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSI DEWASA AKHIR

|Views: 2,392|Likes:
Published by Muthia Noor Hikmah

More info:

Published by: Muthia Noor Hikmah on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENGKAJIAN PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL DEWASA AKHIR (LATELY ADULTHOOD

)

A. Pengertian Dewasa Akhir Memasuki lanjut usia merupakan periode akhir dalam rentang kehidupan manusia di dunia ini. Banyak hal penting yang perlu diperhatikan guna mempersiapkan memasuki masa lanjut usia dengan sebaik-baiknya. Kisaran usia yang ada pada periode ini adalah enam puluh tahun ke atas. Ada beberapa orang yang sudah menginjak usia enam puluh,tetapi tidak menampakkan gejala-gejala penuaan fisik maupun mental. Oleh karena itu, usia 65 dianggap sebagai batas awal periode usia lanjut pada orang yang memiliki kondisi hidup yang baik.

B. Karakteristik Masa Dewasa Akhir Menurut Hurlock (1980) ada 8 karakteristik masa dewasa akhir, yaitu : 1. Adanya periode penurunan atau kemunduran. Yang disebabkan oleh faktor fisik dan psikologis. 2. Perbedaan individu dalam efek penuaan. Ada yang menganggap periode ini sebagai waktunya untuk bersantai dan ada pula yang mengaggapnya sebagai hukuman. 3. Ada stereotip-stereotip mengenai usia lanjut. Yang menggambarkan masa tua tidaklah menyenangkan. 4. Sikap sosial terhadap usia lanjut. Kebanyakan masyarakat menganggap orang berusia lanjut tidak begitu dibutuhkan karena energinya sudah melemah. Tetapi, ada juga masyarakat yang masih menghormati orang yang berusia lanjut terutama yang dianggap berjasa bagi masyarakat sekitar. 5. Mempunyai status kelompok minoritas. Adanya sikap sosial yang negatif tentang usia lanjut. 6. Adanya perubahan peran. Karena tidak dapat bersaing lagi dengan kelompok yang lebih muda. 7. Penyesuaian diri yang buruk. Timbul karena adanya konsep diri yang negatif yang disebabkan oleh sikap sosial yang negatif. 8. Ada keinginan untuk menjadi muda kembali. Mencari segala cara untuk memperlambat penuaan.

C. Tugas Perkembangan 1. Menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik. Misalnya adanya perubahan penampilan pada wajah wanita, menggunakan kosmetik untuk menutupi tanda-tanda penuaan pada wajahnya. Pada bagian tubuh, khususnya pada kerangka tubuh, mengerasnya tulang sehingga tulang menjadi mengapur dan mudah retak atau patah. 2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga. 3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup. 4. Menjalin hubungan dengan orang-orang disekitarnya. 5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan. 6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes dan harmonis.

D. Perubahan Kemampuan Mental pada Usia Lanjut Pada masa lalu di duga bahwa kerusakan mental yang tidak dapat dihindari juga diikuti oleh kerusakan fisik. Menurunnya kondisi fisik yang menunjang kerusakan mental telah ditunjukan dengan fakta bahwa perlakuan terhadap hormon seks pada wanita berusia lanjut dapat meningkatkan kemampuan berfikir, mempelajari bahan baru, menghafal, mengingat, dan meningkatkan kemauan untuk mengeluarkan energi intelektual. Pada pihak lain beberapa kondisi pathologis seperti tekanan darah tinggi, mengarah pada hilangnya kemampuan intelektual pada usia lanjut meskipun menurut Wilkie dan Eisdorfer bahwa gangguan-gangguan semacam itu bukan merupakan bagian dari proses ketuaan yang normal (Hurlock, 1980). Seberapa besar penurunan kemampuan mental pada usia lanjut? Ada yang penting untuk diketahui bahwa menurunnya kemampuan mental yang berhubungan dengan usia lanjut mungkin tidak sepopuler yang diduga orang atau seperti yang diduga orang atau seperti yang dilaporkan oleh hasil studi terdahulu. Dalam beberapa hal, adalah untuk penurunan mental yang kelihatatan yang menyertai pertambahan usia. Sebagai tambahan, selama diketahui bahwa kecepatan bergerak menurun secara bertahap sesuai dengan pertambahan usia, maka tes terhadap kemampuan mental yang menekankan pada elemen waktu dianggap tidak sesuai bagi orang berusia lanjut. Karena adanya bukti-bukti yang saling bertentangan dewasa ini tentang menurunnya kemampuan mental, Horn dan Donaldson memperingatkan bahwa (82): Ada hal yang menyebabkan bertentangan pandangan, bahwa semua kemampuan yang dipercayai terlibat dalam kecerdasan menurun atau menurun dalam cara yang sama; beberapa kemampuan menurun atau tidak sama sekali. Disamping itu juga ada

hasil yang bertentangan dengan yang diharapkan, bahwa penurunan kemampuan mental terjadi bagi seluruh sabjek atau yang sudah diatur sedini mungkin seperti yang diharapkan data antar bagian secara terpisah. Tidak ada usia tertentu yang dianggap sebagai awal mula terjadinya penurunan mental dan tidak ada pola khusus dalam penurunan mental yang berlaku untuk semua orang.

E. Lingkungan Sosial Orang Dewasa Lanjut 1. Teori-teori sosial mengenai penuaan Menurut Santrock (2002) Tiga teori yang menonjol, yaitu : a. Teori pemisahan (disangagement theory) Teori pemisahan menyatakan bahwa orang-orang dewasa lanjut secara perlahanlahan menarik diri dari masyarakat (Cumming & Henry (2002), dalam Santrock). Penurunan interaksi sosial dan peningkatan kesibukan terhadap diri sendiri dianggap mampu meningkatkan kepuasan diantara orang-orang dewasa lanjut, rendahnya semangat juang akan mengiringi aktifitas yang tinggi dan pemisahan tidak dapat dihindari bahkan dicari-cari oleh orang usia lanjut. Serangkaian penelitian gagal mendukung penelitian ini (Maddox, 1968; Neugarten, Havighurst & Tobin, 1968; Reichard, Levson & Peterson, 1962). Ketika individu terus hidup secara aktif, energik, dan produktif sebagai orang dewasa lanjut, kepuasan hidup mereaka tidak menurun; sering kali tetap meningkat. b. Teori aktifitas (activity theory) Teori aktifitas menyatakan semakin orang-orang dewasa lanjut aktif dan terlibat, semakin kecil mereka mersa renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupannya. Teori ini menyatakan bahwa individuindividu seharusnya melanjutkan peran-peran masa dewasa tengahnya

disepanjang masa dewasa akhir; jika peran-peran itu diambil dari mereka (PHK), penting bagi mereka untuk menemukan peran-peran pengganti yang

memmelihara keaktifan dan keterlibatan mereka di dalam aktifitas-aktifitas kemasyarakatan. c. Teori rekonstruksi gangguan sosial (social breakdwown-reconstruction theory) Teori ini menyatakan bahwa penuaan dinyatakan melalui fungsi psikologis negatif yang dibawa oleh pandangan-pandang negatif tentang dunia sosial dari orang-orang dewasa lanjut yang tidak memadainya penyediaan layanan untuk

mereka. Rekonstruksi sosial dapat terjadi dengan merubah pandangan dunia sosial dari orang-orang dewasa lanjut dan menyediakan sistem-sistem yang mendukung mereka. Gangguan sosial dimulai dengan pandangan dunia sosial yang negatif dan diakhiri dengan identifikasi serta pemberian label seseorang sebagai individu yang tidak mampu.

masyarakat melihat orang tua sebagai tidak mampu dan kuno Masyarakat memberikan dukungan pelayanan dan dana yang tidak memadai untuk orang tua

Keterampilanketrampilan yang dimiliki orang tua tidak berkembang(arrophy)

Orang tua memberi label dirinya sebagai tidak mampu

Masyarakat membangun label-label untuk orang tua: “tak berguna ”, “tak efektif”, “tak berdaya”

Pada gambar bagan di bawah ini menunjukkan bagaiman rekonstruksi sosial dapat membalikan gangguan sosial. Baik teori aktivitas maupun teori rekonstruksi sosial menyatakan bahwa kapasitas dan kompetensi orang dewasa lanjut jauh lebih tinggi dari pada pengakuan masyarakat pada masa lampau. Dorongan untuk partisipasi aktif orang dewasa lanjut dimasyarakat seharusnya meningkatkan kepuasan hidup dan perasaan positif mereka terhadap dirinya sendiri.
Masyarakat melihat orang tua sebagai orang yang kompeten dan penting

Masyarakat membangun labellabel positif untuk orang tua: “penolong”, “mampu mengontrol”, “bijaksana,” “memiliki kompetensi”

Masyarakat menyediakan sistemsistem pendukung untuk orang tua: dukungan keluarga, rumah, pelayanan kesehatan, ekonomi, gizi, dan pelayanan sosial

Kemampuan orang tua untuk memecahkan masalah meningkat

Orang tua memberi label dirinya sendiri sebagai orang yang berkompeten

2. Stereotipe orang dewasa lanjut Ageisme adalah prasangka terhadap orang-orang dewasa lanjut. Terlalu banyak stereotipe-stereotipe negatif untuk orang-orang dewasa lanjut. Orang usia lanjut dipandang tidak mampu untuk berpikir jernih, mempelajari sesuatu yang baru, menikmati seks, memberi kontribusi terhadap komunitas, dan memegang tanggung jawab pekerjaan/persepsi. Berdasarkan pada jurnal yang berjudul “Ageism: prejudice against our feared future self”. Journal of Social Issues, Vol. 61, No. 2, pp. 207-221. Oleh Todd D. Nelson, 2005. Ageism dewasa lanjut, menunjukkan bahwa stereotip dewasa lanjut lebih kuat dari perkiraan sebelumnya, dan ini merupakan tantangan bagi peneliti untuk lebih mengeksplor mengenai hal ini dan perilaku negatif kearah dewasa akhir.

3. Isu-isu kebijakan terhadap komunitas usia lanjut Menurut Neugarten, beberapa isu kebijakan penting pada komunitas usia lanjut di AS adalah : a. Status ekonomi dan keberlangsungan sistem jaminan sosial, b. Ketersediaan perawatan kesehatan, c. Dukungan untuk keluarga-keluarga yang merawat orang-orang dewasa lanjut, d. Ketidakadilan generasional (generational inequity) 4. Penghasilan Suatu perhatian khusus tertuju pada kemiskinan orang usia lanjut. Orang-orang usia lanjut khususnya yang menjanda atau tinggal sendiri berada pada tingkat kemiskinan yang tinggi, meskipun secara keseluruhan, terdapat lebih sedikit orang-orang dewasa lanjut yang tinggal dalam kemiskinan saat ini dibandingkan awal dekade. Meskipun demikian, mayoritas orang-orang dewasa lanjut menghadapi suatu kehidupan dengan pendapatan yang berkurang. 5. Pengaturan tempat tinggal Satu stereotipe dari orang-orang dewasa lanjut adalah bahwa mereka seringkali tinggal di dalam institusi-institusi (rumah sakit, panti jompo, dll). Namun, hampir 95% dari orang-orang dewasa lanjut tinggal di dalam masyarakat. Hampir dua per tiga dari orang-orang yang lanjut usia tinggal bersama anggota keluarga, misalnya bersama pasangan, saudara kandung, sementara hampir sepertiganya tinggal sendiri. Menurut Church, Siegel, dan Foster (dalam Santrock, 2002), orang-

orang dewasa lanjut yang dapat menompang dirinya sendiri ketika hidup sendiri seringkali memiliki kesehatan yang baik dan sedikit ketidakmampuan, dan mereka selalu memiliki hubungan sosial dengan sanak keluarga, teman-teman, dan para tetangga. Telah lama para peneliti mempelajari pengaturan tempat tinggal dari dewasa lanjut, memusatkan pada situasi-situasi spesifik, seperti rumah-rumah perawatan, perumahan umum, taman-taman untuk rumah mobil, atau komunitas para pensiunan. Namun, kurang dari 10% dari orang-orang dewasa lanjut yang tinggal dalam tipe-tipe rumah semacam itu. Hanya 5% dari oran-orang dewasa 65 tahun dan yang lebih tua yang tinggal di dalam institusi, tetapi semakin tua orang-orang dewasa lanjut, semakin besar kemungkinan mereka tinggal di dalam institusi. Mayoritas orang usia lanjut di dalam institusi menjanda, kebanyakan dari mereka tidak dapat mengarahkan lingkungannya secara fisik, mereka cacat mental atau inkontinen. . F. Etnisitas, Gender dan Kebudayaan 1. Etnisitas dan gender Orang usia lanjut dari etnis minoritas mengalami beban khusus, harus mengatasi kemungkinan kesulitan ganda, baik ageisme maupun rasisme. Banyak wanita usia lanjut mengalami kesulitan ganda seperti ageisme dan seksisme. Penelitian terbaru mengenai penuaan wanita yaitu wanita usia lanjut dari etnis minoritas menghadapi tiga kemungkinan kesulitan seperti : beban dari ageisme, rasisme, dan seksisme. Meskipun demikian stres dan diskriminasi dihadapi oleh orang lanjut usia dari etnis minoritas, banyak diantara mereka yang telah mengembangkan coping mekanisms yang memampukan mereka bertahan di dalam kebudayaan orang Amerika kulit putih yang dominan. 2. Peran-peran gender Terdapat bukti yang lebih kuat bahwa laki-laki menjadi lebih “Feminim” (bersifat pengasuh dan sensitif) sebagai seorang dewasa lanjut dibandingkan bukti yang mendukung bahwa wanita menjadi lebih “maskulin” (asertif dan dominan) sebagai seorang dewasa lanjut. 3. Kebudayaan Selama beberapa generasi, orang lanjut usia di Cina dan Jepang telah menikmati status yang lebih tinggi dibandingkan orang lanjut usia di AS. Saat ini, rasa hormat bagi orang lanjut usia di Jepang telah sedikit berkurang, tetapi masih tetap diats orang

lanjut usia di AS. Faktor-faktor yang menentukan status tinggi untuk orang lanjut usia di setiap kebudayaan meliputi: pengetahuan berharga yang dimilikinya, kontrolnya terhadap sumber daya keluarga atau komunitas, orang lanjut usia diperkenankan untuk terlibat dalam fungsi-fungsi yang berguna, adanya kontinuitas peran, perubahan-perubahan peran yang terkait dengan usia yang melibatkan tanggung jawab besar, integrasi didalam keluarga luas, serta orientasi kebudayaan yang lebih bersifat kolektivistik daripada individualistik.

G. Keluarga dan Hubungan Sosial 1. Pasangan usia lanjut, gaya hidup, kencan, dan persahabatan Masa saat mulai pensiun sampai meninggal sering kali mengarah pada “tahap akhir didalam proses pernikahan”. Pensiun merubah gaya hidup pasangan, dan membutuhkan adaptasi. Orang-orang yang menikah di masa dewasa akhir biasanya lebih bahagia dibandingkan orang-orang yang hidup sendiri, walaupun orang-orang dewasa yang sendirian lebih mudah beradaptasi dengan kesepian. Kencan telah menjadi hal yang umum diantara orang-orang dewasa lanjut. Dalam beberapa kasus, kegiatan ini mirip dengan kencan pada orang-orang dewasa muda, dan pada kasus berbeda. Tanpa menghiraukan usia, persahabatan merupakan dimensi yang penting dari hubungan sosial, mereka menguat saat kehilangan. Kebahagiaan pernikahan sebagai seorang dewasa lanjut juga dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing pasangan untuk menghadapi konflik-konflik personal, termasuk penuaan, sakit, dan tentunya kematian (Condi et.al, dalam Santrock 2002) 2. Menjadi kakek/nenek Sekitar 80% kakek nenek mengatakan bahwa mereka bahagia dalam hubungannya dengan cucu. Kakek/nenek sering berinteraksi dengan cucunya dari pada kakek/nenek dari ayah. Peran sebagai kakek/nenek setidaknya memiliki dua makna, yaitu biologis, emosional, dan terpencil. Setidaknya memiliki ketiga interaksi yaitu forma, mencari kesenangan, dan figur yang jauh. Peran sebagai kakek/nenek dapat beraneka ragam disetiap kebudayaan dan kelompok etnis dan karena proses penuaan dimasyarakat kita, peningkatan jumlah kakek/nenek berarti juga peningkatan kakek/nenek buyut. Seperti halnya perceraian dan pernikahan kembali merupakan hal yang umum, suatu operhatian khusus tertuju pada hak-hak mengunjungi untuk kakek/nenek.

Menurut Darshana (2002) dalam jurnalnya yang berjudul Socio-Emotional and Psychological Problems of Retired Elderly in Haryana : A Comprehensive View, menerangkan bahwa masa pensiun tua ini memiliki resiko tinggi terhadap penyakit, depresi, serangan jantung, dan kematian. Selain itu hilangnya status, pendapatan rendah, serta pengisolasi sosial. Dan juga bagaimana faktor personal dan situasional mempengaruhi peningkatan meraka setelah pensiun. Hipotesis dari penelitian ini tidak ada perbedaan gender pada permasalahan terhadap pria lansia dan wanita lansia. Orang-orang lansia mengalami kesendirian dan menghindari penerimaan dalam hidup mereka. hampir semua penerimaan masalah finansial kehilangan status pendampingan oleh rasa pengasingan dan putus asa. Dibutuhkan konseling pada dewasa akhir dan hubungan generasi kedua.

H. Perkembangan Kepribadian, Kepuasan Hidup, dan Penuaan Yang Sukses 1. Hakikat perkembangan kepribadian Erikson mengatakan bahwa masa dewasa akhir dicirikan dengan tahap integritas keputus asaan, saat dimana orang-orang dewasa lanjut melihat kembali dan mengevaluasi apa yang telah mereka kerjakan dengan hidupnya. Berdasarkan tahap akhir dari Erikson, Peck menyatakan 3 (tiga) tugas perkembangan yang dihadapi orang-orang dewasa lanjut: diferensisasi versus kesibukan peran, melampaui tubuh versus kesibukan dengan tubuh, dan melampaui ego versus kesibukan dengan ego. Tinjauan hidup merupakan suatu tema umum dalam teori-teori kepribadian di masa dewasa akhir. 2. Kepuasan hidup Kepuasan hidup mengarah pada kesejahteraan psikologis secara umum. Pendapatan, kesehatan, gaya hidup yang aktif, serta jaringan keluarga dan pertemanan dikaitkan dengan jalan yang memungkinkan tercapainya hidup orang dewasa lanjut. orangorang dewasa lanjut dengan pendapatan yang layak dan kesehatan yang baik lebih cenderung untuk puas dengan kehidupannya dibandingkan rekan sebayanya yang memiliki pendapatan lebih rendah dan kesehatan yang kurang baik (Markides & Martin, dalam Santrock, 2002). Orang-orang dewasa lanjut memiliki persepsi yang lebih optimis mengenai perkembangan akhir kehidupannya daripada orang-orang dewasa yang berusia muda atau paruh baya.

3. Penuaan yang berhasil Penuaan yang berhasil terjadi ketika orang-orang dewasa lanjut mengikuti diet yang sesuai, olahraga, pencarian stimulasi mental yang tepat, dan memiliki relasi dan dukungan sosial yang baik. Penuaan yang berhasil membutuhkan usaha dan keterampilan pemecahan masalah. Terdapat peningkatan perhatian pada suatu model dari penuaan yang berhasil, yang melibatkan 3 (tiga) faktor dari seleksi, optimisasi, dan kompensasi. Itu dapat diwujudkan terutama saat kehilangan terjadi. a. Seleksi  didasarkan pada konsep bahwa pada usia lanjut terdapat suatu penuruna kapasitas dan hilangnya fungsi-fungsi tertentu, yang mengarah pada penurunan kemampuan pada sebagian besar kehidupannya. b. Optimisasi  bahwa ada suatu kemungkinan untuk mempertahankan kemampuan yang terdapat pada diri orang dewasa lanjut. c. Kompensasi  suatu tingkat kapasitas tertentu melebihi tingkat saat dari kemampuan dewasa lanjut yang potensial.

I. Daftar Pustaka

Darshana. 2002. Socio-Emotional and Psychological Problems of Retired Elderly in Haryana : A Comprehensive View, Journal Hum. Ecol. Vol.13. p.455-458. Hurlock, Elizabeth B., 1980. A Life-Span Approach, Jakarta: Erlangga Santrock, John W., 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga. Shigehiro Oishi dan Ulrich Schimmack, 2010. Residential Mobility, Well-Being and Mortality. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 98, No. 6, pp. 980994 Todd D. Nelson. 2005. Ageism: prejudice against our feared future self. Journal of Social Issues, Vol. 61, No. 2, pp. 207-221 Sara J. McLaughlin, dkk. Successful aging in united states: prevalence estimates from a national sample of older adults. Journal of Gerontology: Social Sciences. Vol. 65, No. 2, pp. 216-226.
Heying Jenny Zhan dan Rhonda J. 2009.Gender and Elder Care In China: the influence of Filial Piety and Structural Constrains. Journal Gender and Society, vol. 17, no 2, pp. 209-229.

ANALISIS JURNAL

1. Jurnal Socio-Emotional and Psychological Problems of Retired Elderly in Haryana : A Comprehensive View, Journal Hum. Ecol. Vol.13. p.455-458. Oleh: Darshana. 2002. Hasil penelitian: penelitian ini mengindikasikan perbedaan tipe masalah pada pria lansia dan wanita lansia. Responden perempuan lebih memiliki masalah pada perkawinan dibandingkan pria. Kehilangan pasangan hidup pada usia lansia menyebabkan tidak banyak orang mau mendengarkan dan berdiskusi tentang masalah mereka. orang-orang lansia mengalami kesendirian dan menghindari penerimaan dalam hidup mereka. Hampir semua penerimaan masalah finansial, kehilangan status pendampingan oleh rasa pengasingan dan putus asa. Dibutuhkan konseling pada dewasa akhir dan hubungan generasi kedua. 2. Residential Mobility, Well-Being and Mortality. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 98, No. 6, pp. 980-994 Oleh: Shigehiro Oishi dan Ulrich Schimmack, 2010 Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara mobilitas perumahan dan well being. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 7.108 orang dewasa, terdiri dari 3.395 laki-laki dan 3.632 perempuan, serta 81 orang yang lain tidak terdefinisi jenis kelaminnya. Hasil dari penelitian ini adalah dari hubungan antara variable memprediksi bahwa ada hubungan yang hampir signifikan dan ada dampak utama dari berpindah-pindah terhadap kematian yang mendekati signifikan, meskipun dalam sampel yang besar. Berpindah-pindah rumah memiliki hubungan rata-rata negative terhadap well being dan juga tingginya kematian pada dewasa lanjut. Dari penelitian ini juga menemukan bahwa anak-anak yang sering berpindah-pindah rumah pernah mengalami introvert dan neurotis memiliki tingkat well being yang rendah. Sering berpindah-pindah rumah pada masa kanak-kanak dikaitkan denga resiko kematian yang lebih tinggi pada orang dewasa yang introvert. 3. Ageism: prejudice against our feared future self. Journal of Social Issues, Vol. 61, No. 2, pp. 207-221 Oleh: Todd D. Nelson, 2005 Penelitian ini menyoroti persepsi sosial secara empiris dan teoritis pada para peneliti di ilmu mengenai usia lanjut, psikologi, komunikasi dan bidang-bidang yang terkait

pada pemahaman asal-usul,stereotipe dan prasangka pada dewasa lanjut. Hasil dari penelitian ini secara teoritis menunjukkan bahwa peneliti harus mengadopsi perspetif yang berbeda, tidak hanya bergantung pada kategori usia melainkan pada perbedaan usia dan pengalaman penuaan subjektif masing-masing orang. Berdasarkan dari pendirian dari ageism, menunjukkan bahwa stereotip dewasa lanjut lebih kuat dari perkiraan sebelumnya, dan ini merupakan tantangan bagi peneliti untuk lebih mengeksplor mengenai hal ini dan perilaku negatif kea rah dewasa akhir. 4. Successful aging in united states: prevalence estimates from a national sample of older adults. Journal of Gerontology: Social Sciences. Vol. 65, No. 2, pp. 216-226. Oleh: Sara J. McLaughlin, dkk Tujuan penelitian ini memperkirakan prevalensi kesuksesan usia tua di Amerika Serikat. Metode yang digunakan adalah data dari studi kesehatan dan pensiun yang berusia 65 tahun ke atas, dan dilihat dari 4 waktu, yakni 1998, 2000, 2002, dan 2004. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa tidak lebih dari 11,9 % dewasa lansia mendapatkan kesuksesan usia tua setiap tahunnya. Kesuksesan usia tua umumnya lebih rendah pada usia lanjut, jenis kelamin laki-laki dan status sosial ekonomi rendah. Diperkirakan antara tahun 1998 dan 2004 kesuskesan usia tua menurun sebesar 25 %. 5. Gender and Elder Care In China: the influence of Filial Piety and Structural Constrains. Journal Gender and Society, vol. 17, no 2, pp. 209-229 Oleh: Heying Jenny Zhan dan Rhonda J. 2009 Peneliti mengeksplor perubahan dinamis dari pelayanan pada orang tua di China pada konteks ekonomi dan dampak kebudayaan. Hasil dari analisis memberikan bukti pembagian tugas gender dalam perawatan orangtua, menurunnya tradisi patriokal terkait dengan pengasuhan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->