P. 1
Ikan Mas

Ikan Mas

|Views: 1,208|Likes:
Published by Fatwa Nor Azis

More info:

Published by: Fatwa Nor Azis on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/26/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ikan adalah salah satu diantara organisme pada kelompok vertebrata, bernafas dengan insang dan berdarah dingin. Ikan mendominasi kehidupan di air seluruh permukaan bumi, sangat beragam dalam adaptasi morfologi, fisiologi dan tingkahlakunya. Biologi Perikanan merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang kehidupan ikan-ikan yang berupa pertumbuhan ikan, tentang bagaimana ikan-ikan dalam suatu populasi melakukan pemijahan, pertumbuhan dan menentukan kebiasaan makanan dan

perkembangbiakan ikan. Pada praktikum kali ini akan mempelajari tentang petumbuhan ikan Nilem, reproduksi ikan Nilem yang meliputi tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas, cara makan dan kebiasaan makan Ikan Mas. Reproduksi merupakan aspek biologis yang terkait mulai dari diferensiasi seksual hingga dihasilkan individu baru. Ikan memiliki masa perkembangan gonad yang lama dan waktu berbeda-beda atau ikan sudah mencapai umur untuk mulai matang gonad. Perkembangan gonad ikan pada umumnya berhubungan dengan pertambahan umur ikan, yaitu semakin dewasa seekor ikan maka perkembangan gonadnya akan semakin sempurna untuk mengadakan pembentukan dan pemasakan telur. 1.2 Tujuan 1. Untuk mengetahui bagaimana hubungan panjang dan berat tubuh Ikan Mas 2. Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad (TKG) Ikan Mas 3. Untuk mengetahui dan menghitung indeks kematangan gonad (IKG) Ikan Mas 4. Untuk mengetahui fekunditas Ikan Mas 5. Untuk mengetahui jenis makanan yang dikonsumsi dan kebiasaan makan pada Ikan Mas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Mas Ikan Mas ( Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan air tawar dan banyak di budidayakan di Indonesia . Ikan mas merupakan ikan air tawar yang dikonsumsi, bernilai ekonomis tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan. Ikan mas di sukai masyarakat karena mudah didapatkan, dagingnya empuk, rasanya gurih dan enak. Ikan mas cepat besar dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat karena tergolong responsif terhadap pemberian pakan.

2.1.1Klasifikasi Ikan Mas Klasifikasi ikan mas (Cyprinus carpio) Kingdom : Animalia Filum : Chordata

Subfilum : Pisces Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Teleostei : Ostariophysi : Cyprinidae : Cyprinus : Cyprinus carpio

2.1.2 Morfologi Ikan Mas Secara morfologi, ikan mas memiliki ciri-ciri Bentuk tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (comprossed). Mulutnya terletak di bagian tengah ujung kepala (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Di bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham. Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang berjarikeras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaitu berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi. garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil tidak ditutupi sisik. Sisik ikan

mas berukuran relatif besar dan digolongkan ke dalam tipe sisik sikloid dengan warna yang sangat beragam (Rochdianto 2005). Ikan mas dapat tumbuh cepat pada suhu lingkungan berkisar antara 20-28 °C dan akan mengalami penurunan pertumbuhan bila suhu lingkungan lebih rendah. Pertumbuhan akan menurun dengan cepat di bawah suhu 13°C dan akan berhenti makan apabila suhu berada di bawah 5 °C (Huet 1970 dalam Ariaty 1991). Ikan mas merupakan ikan air tawar yang memiliki sifat tenang, suka menempati perairan yang tidak terlalu bergolak dan senang bersembunyi di kedalaman. Ikan mas termasuk omnivora, biasanya memakan plankton. Larva ikan mas memakan invertebrata air seperti rotifer, copepoda dan kutu air. Kebiasaan makan ikan mas berubah-ubah dari hewan pemakan plankton menjadi pemakan dasar. Ikan mas yang sedang tumbuh memakan organisme bentik dan sedimen organik. Ikan mas jantan akan matang gonad pada umur dua tahun dan ikan mas betina pada umur tiga tahun. Ikan mas akan memijah pada suhu lingkungan berkisar antara 18-20 °C ( Ikenoue 1982 dalam Ariaty 1991).

2.2 Pertumbuhan Ikan (hubungan panjang dan berat) Pertumbuhan adalah Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu, akibat terjadinya pembelahan sel secara mitosis yang disebabkan oleh kelebihan jumlah input energi dan asam amino yang berasal dari makanan. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan : 1. Faktor dalam umumnya faktor yang sukar dikontrol, diantaranya adalah keturunan, parasit, penyakit, sex,dan umur,. 2. Faktor luar yang utama mempengaruhi pertumbuhan adalah makanan dan suhu perairan, namun dari kedua faktor itu belum diketahui faktor mana yang memegang peranan yang lebih besar. 3. Faktor kimia perairan dalam keadaan ekstrim mempunyai pengaruh hebat terhadap pertumbuhan, bahkan dapat menyebabkan fatal. Diantaranya adalah oksigen, karbondioksida, hidrogen sulfida, keasaman dan alkalinitas Berat dapat diangggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dengan berat hampir mengikuti hukum kubik yaitu bahwa berat ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya, tetapi hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dari panjang ikan berbeda-beda. Kalau kita plot kan panjang dan berat ikan dalam suatu panjang maka akan kita dapatkan sepertiga bentuk gambar dibawah ini.

Maka hubungan tadi tidak selamanya mengikuti hukum kubik tetapi dalam suatu bentuk rumus yang umum yaitu: W = c x Ln Dimana W = Berat, L = Panjang, c dan n = konstanta
Berat (gr)

Panjang (m)

Gambar grafik hubungan panjang dan berat ikan Kalau rumus umum tadi kita trasnformasikan ke dalam logaritma maka kita akan dapatkan persamaan : Log W = Log c + n Log L, yaitu persamaan linear atau persamaan garis lurus seperti di bawah harga n adalah harga pangkat yang harus cocok dari panjang ikan agar sesuai dengan berat ikan. Menurut carlander (1969) harga ekponen ini telah diketahui dari 398 populasi ikan berkisar 1,2- 4, namun dari kebanyakan harga n tadi berkisar dari 2,4-3,5. Bilamana harga n = 3 menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya. Pertambahan panjang ikan seimbang dengan pertambahan beratnya. Pertumbuhan demikian ialah pertumbuhan isometrik. Sedangkan apabila n > atau n < dinamakan pertumbuhan allometrik. Kalau harga n , dari 3 menunjukkan keadaan ikan yang kurus. Keadaan ikan yang kurus dimana pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat. Kalau angkanya lebih besar dari 3 menunjukkan ikan itu montok.Pertambahan berat lebih cepat daripada perubahan panjangnya.
Log Berat (gr)

Log Panjang

Gambar grafik hubungan panjang dan berat ikan

Apabila kita memperhatikan grafik di atas maka n itu menunjukkan garis persamaan itu dengan sumbu x. sedangkan harga c adalah titik potong dari persamaan sumbu y. cara yanga dapat digunakan untuk menghitung panjang berat ikan ialah dengan menggunakan regresi, dapat mengikuti seperti telah dikemukakan oleh Rousenfell dan Everhart (1953), dan Lagler (1961) yaitu dengan menghitung dahulu logaritma dan tiaptiap panjang dan berat ikan. Atau dapat juga dengan mengikuti jalan pendek seperti dikemukakan oleh Carlander (1968) yaitu dengan mengadakan pengkelasan berdasarkan logaritma. Dasar perhitungan dari cara tersebut adalah sama namun metoda yang dikemukakan oleh Carlander lebih pendek dan dapat dipakai tanpa menggunakan mesin hitung . Nilai praktis yang didapat dari perhitungan panjang berat ini ialah kita dapat menduga berat dari panjang ikan atau sebaliknya, keterangan tentang Sikan mengenai pertumbuhan, kemontokan, perubahan dari lingkungan.

2.3 Food Habits and Feeding Habits Food habits adalah pengelompokan ikan berdasarkan makanan, ada ikan Pemakan plankton, Pemakan tanaman, Pemakan dasar, Pemakan detritus, Ikan buas dan Ikan pemakan campuran. B erdasarkan kepada jumlah variasi dari macam-macam makanan tadi, ikan dapat dibagi menjadi euryphagic yaitu ikan pemakan bermacam-macam makanan, stenophagic yaitu ikan pemakan makan yang macamnya sedikit dan monophagic yaitu ikan yang makanannya terdiri dari satu macam makanan saja. Berdasarkan tempat atau lokasi makan ikan dapat dibagi menjadi : Pemakan di dasar perairan, Pemakan di lapisan tengah, Pemakan di permukaan, Pemakan penempel. Berdasarkan waktu makan: Siang hari (diurnal), Malam hari (noktural). Feeding habits berhubungan dengan fungsional morfologi tubuh ikan, seperti tengkorak, rahang dan alat pencernaan. Adaptasi akibat kebiasaan makan dibagi menjadi 4, yaitu: Gigi cardifornis, Gigi canine, Gigi molariformis, Gigi pharynk. Adaptasi terhadap tipe mulut dibagi menjadi 4, yaitu: inferior (di bawah kepala), Terminal (di ujung depan kepala), Superior (di bagian atas).

2.4 Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Perkembangan gonad pada ikan menjadi perhatian para peneliti reproduksi dimana peninjauan perkembangan tadi dilakukan dari berbagai aspek termasuk prosesproses yan gterjadi didalam gonad baik terhadap individu maupun populasi.

Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Dalam individu telur terdapat proses yang dinamakan vitellogenesis yaitu terjadinya pengendapan kuning telur pada tiap-tiap individu telur. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam gonad. Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan sebesar 5-10%. Dari TKG ini dapat diketahui bilamana ikan itu akan memijah, baru memijah, atau sudah selesai memijah. Tiap-tiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya menjadi masak tidak sama ukurannya. Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara. Yang pertama cara histology dilakukan di laboratorium, yang kedua dengan cara pengamatan morfologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan di lapangan. Dasar yang dipakai untuk menentukan TKG dengan cara morfologi ialah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Perkembangan ikan betina lebih banyak dilihat dari pada ikan jantan karena perkembangan diameter telur yang terdapat dalam gonad lebih mudah dilihat dari pada sperma yang terdapat didalam testis. Tingkat kematangan gonad menurut Kesteven (Bagenal dan Braum, 1968) : 1. Dara : Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung. Testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai berwarna abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa. 2. Dara Berkembang : Testes dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar. 3. Perkembangan I : Testes dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna kemerahmerahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah, telur dapat terlihat seperti serbuk putih. 4. Perkembangan II : Testes berwarna putih kemerah-merahan. Tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna orange kemerah-merahan. Telur jelas dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisi kira-kira dua per tiga ruang bawah. 5. Bunting : Organ seksual mengisi ruang bawah. Testes berwarna putih, keluar testesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari padanya jernih dan masak.

6. Mijah : Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut. Kebanyakan telur berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur di dalam ovarium. 7. Mijah/salin : Gonad belum kosong sama sekali tidak ada telur yang bulat telur. 8. Salin : Testes dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur sedang ada dalam keadaan dihisap kembali. 9. Pulih salin : Testes dan ovarium berwarna jernih, abu-abu sampai merah.

2.5 Indeks Kematangan Gonad Menurut Nikolsky (1969) dapat menggunakan tanda utama untuk membedakan kematangan gonad berdasarkan berat gonad. Secara ilmiah hal ini berhubungan dengan ukuran dan berat tubuh ikan keseluruhannya atau tanpa berat gonad. Perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh, Nikolsky menamakannya “coeficient kematangan” yang dinyatakan dalam persen.

IKG = Berat Gonad Ikan Berat Tubuh Ikan

X 100%

Jonson (1971) menamakan perbandingan tersebut ialah “Index of maturity”, namun diantara banyak peneliti menamakan indeks tadi ialah “Gonado Somatic Index”. Indeks ini diterima oleh para peneliti reproduksi ikan sebagai salah satu pengukur aktifitas gonad (Saigal, 1967; Dennison dan Bulkley, 1972), Brulhet (1974) dan beberapa peneliti lainnya menamakan indeks yang sama dengan nama “Raport Gonosomatique”.“Gonado Somatic Index” (GSI) = Wg/W X 100% akan semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Pada ikan betina nilai GSI lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan. Johnson (1971) mendapatkan nilai GSI ikan thread fin berkisar antara 1-25%. Ikan dengan GSI 19% ada yang sanggup mengeluarkan telurnya. Adakalanya nilai GSI ini dihubungkan dengan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) yang pengamatannya berdasarkan ciri-ciri morfologi kematangan gonad. Dengan memperbandingkan demikian akan tampak hubungan antara perkembangan di dalam dan di luar gonad, nilai-nilai morfologi yang dikuantitatifkan. Bergantung pada macam dan pola pemijahannya, maka akan didapatkan nilai indeks yang sangat bervariasi pada setiap saat.

2.6 Fekunditas Fekunditas adalah semua telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan. Fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Menurut Nikolsky (1963) jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan dinamakan fekunditas individu, fekunditas mutlak atau fekunditas total. Fekunditas individu akan sukar diterapkan untuk ikan-ikan yang mengadakan pemijahanm beberapa kali dalam setahun, karena mengandung telur dari berbagai tingkat dan akan lebih sulit lagi menentukan telur yang benar-benar akan dikeluarkan pada tahun yang akan datang. Menurut Royce (1972) meyatakan bahwa fekunditas total ialah jumlah telur yang dihasilkan dalam ikan selama hidup. Fekunditas relative adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang. Ikan-ikan yang tuda dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relative lebih kecil.Umumnya fekunditas relative lebih tinggi disbanding dengan fekunditas individu. Fekunditas relative akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky). Menurut Bagenal (1967), untuk ikan-ikan tropic dan sub-tropik, definisi fekunditas yang paling cocok mengingat kondisinya ialah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya. Parameter ini sesuai dengan studi populasi dan dapat ditentukan karena kematangan tiap-tiap ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistic kecepatan mortalitasnya dapat ditentukan pula dalam pengelolaan perikanan yang baik. Secara sederhana fekuinditas dapat diartikan oleh jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan. Terdapat beberapa jenis fekuinditas diantaranya :    Fekuinditas individu adalah jumlah telur yang dikeluarkan dari generasi tahun itu dan akan dikeluarkan pada tahun itu pula. Fekuindita relatif adalah jumlah telur per atuan panjang dan berat. Fekuinditas total adalah jumlah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama hidupnya.

Metode Penghitungan Fekuinditas Dalam menghitung fekuinditas dikenal dua metode, yaitu a. Metode Numerik, metode sensus dengan menghitung semua jumlah telur yang ada pada gonad secara manual (satu per saru).

b. Metode Volumetrik, perhitungan sampel, caranya sebagai berikut : 1. Menghitung volume gonad keseluruhan (dapat dilakukan engan memasukannya pada gelas ukur berisi air, dan menghitung selisis volume awal air saja dan volume akhir, yaitu air dan gonad). (V) 2. Membagi kedua gonad dalam 3 bagian (anterior A, tengah T, dan posterior, P)

3. Menghitung volume ke-3 bagian gonad tersebut di setiap gonad (jadi ada 6 bagian). (seperti pada cara yang pertama). (v)
A A

T

T

P

P

4. Menghitung telur pada 6 bagian telur tersebut secara manual. (x) 5. Menghitung fekuinditas dengan memasukannya pada rumus. (X)
X  V . x v

Penghitungan kedua metode diharapkan memberi hasil yang mendekati.

c. Metode gravimetrik, prinsipnya sama dengan volumetrik, bedanya hanya pada ukuran volume diganti dengan ukuran berat gonad. Rumus : X: x=G:g Keterangan : X : Jumlah telur yang akan dicari x : Jumlah telur contoh G : Berat seluruh gonad g : Berat gonad contoh d. Metode gabungan (hitung gravimetrik dan volumetrik). Rumus : F = (G x V x X) / Q

Keterangan : F : Fekunditas G : Berat gonad total V : Volume pengenceran X : Jumlah telur Q : Berat telur contoh e. Metode Van Bayers Adalah metode penghitungan fekunditas dengan menggunakan tabel yang sudah ada dilihat dari diameter telur Ikan Mas.

BAB III METODE PENGAMATAN 3.1 Waktu Praktikum Praktikum mengenai tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas, makanan dan kebiasaan makan ikan dan menentukan umur ikan ini dilaksanakan pada Hari Tanggal Waktu Tempat : Rabu : 23 Mei 2012 : Pukul 08.00 WIB : Laboratorium Fisiologi Hewan Air gd.FPIK UNPAD

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat 1. Mikroskop untuk mengamati otolith ikan dan mengetahui isi perut ikan objek. 2. Alat-alat bedah untuk membedah kepala ikan dan membedah perut ikan objek. 3. Mistar (ketelitian 0,1 cm) untuk mengukur SL dan TL ikan objek. 4. Timbangan digital (ketelitian 0,1 gr) untuk menimbang ikan objek dan gonad. 5. Cawan petri untuk mengencerkan isi usus ikan objek dan menghitung telur (fekunditas). 6. Pipet untuk mengambil isi usus ikan yang sudah diencerkan. 7. Alat tulis untuk mencatat data.

3.2.2 Bahan 1. Ikan Mas 2. NaCl

3.3 Prosedur Pengamatan 3.3.1 Prosedur Pengamatan Aspek pertumbuhan A. Mengukur Relasi panjang dan Berat Ikan 1. Mengukur panjang total ikan (TL) dari ujung anterior mulut sampai ujung posterior ekor (satuan ukur panjang mm)

2. Mengukur panjang standar (SL) dari ujung anterior mulut sampai pangkal ekor. 3. Menimbang berat ikan di timbangan digital (satuan ukur berat gram) 4. Menghitung nilai b, selanjutnya deskripsikan nilai tersebut apakah pertumbuhan itu bersifat allometrik atau isometric. b= 3.3.2 Aspek Reproduksi A. Rasio Kelamin (Sex Ratio) Menentukan jenis kelamin dengan mengidentifikasi berdasarkan cirri-ciri morfologi jenis kelaminnya. B. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) 1. Membedah ikan dengan alat bedah secara hati-hati. Membedah dilakukan dari lubang anus mengarah vertical ke arah dorsal lalu secara horizontal ke arah kepala dan secara vertical ke arah ventral. 2. Mengamati lalu mengambil bagian gonadnya dan mencocokan dengan literature yang telah disediakan untuk mengetahui tingkat kematangan gonad ikan.

C. Indeks Kematangan Gonad 1. Menimbang berat ikan tanpa organ-organ dalamnya (berat kosong) 2. Menimbang berat gonad ikan menggunakan timbangan digital 3. Menghitung IKG dengan menggunakan rumus: IKG = 4. Mencatat hasil yang diperoleh D. Fekunditas Jika ikan tersebut berjenis kelamin betina, maka kita dapat menghitung fekunditasnya dengan salah satu metode yang dapat digunakan. Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah  Metode Gravimetrik dengan prosedur kerja: 1. Timbang gonad menggunakan timbangan digital (gonad awal) 2. Membagi gonad menjadi 5 bagian secara vertical 3. Mengambil bagian anterior, tengah dan posterior dari gonad tersebut sebagai sampel

4. Timbang kembali gonad sampel yang sudah di dapat dengan timbangan digital (gonad contoh) 5. Menghitung jumlah telur sampel 6. Menghitung fekunditasnya dengan menggunakan rumus:

X 

G. x g

 Metode Volumetric dengan prosedur kerja: 1. Mengisi gelas ukur dengan air secukupnya. Catat volume air tersebut (volume awal) 2. Memasukkan seluruh gonad pada gelas ukur tersebut. Catat volumenya (volume akhir) 3. Mengurangkan antara volume akgir dengan volume awal sehingga mendapatkan V 4. Membagi gonad menjadi 5 bagian secara vertical 5. Mengambil bagian anterior, tengah dan posterior dari gonad tersebut sebagai sampel 6. Melakukan seperti pada langkah 1, 2, dan 3 sehingga didapatkan v 7. Menghitung jumlah telur sampel 8. Menghitung fekunditasnya dengan menggunakan rumus:
X  V. x v

 Metode Gabungan 1. Ambil data yang sudah di dapat dari metoda gravimetri dan volumetrik 2. Masukan data ke dalam rumus : F = (G x V x X) / Q  Metode Van Bayers 1. Cari modus diameter telur Ikan Mas dari 15 kali pengamatan pengukuran diameter telur 2. Ubah satuan ukuran diameter telur dari mm ke inch 3. Lihat hasil fekunditas dalam tabel

E. Diameter Telur Pengukuran diameter telur dilakukan dengan cara mengukur langsung telur sampel menggunakan mikroskop okuler. 1. Mengambil beberapa telur untuk dijadikan sampel

2. Meletakkan telur sampel tersebut pada gelas objek untuk kemudian dilihat pada mikroskop ukuran diameternya 3. Mencatat hasilnya.

F. Food and Feeding Habits 1. Mengambil usus ikan 2. Mengerok seluruh isi usus ke cawan petri 3. Mengencerkan isi usus tersebut menggunakan air 4. Mengambil cairan tersebut dengan menggunakan pipet beberapa tetes ke objek glass 5. Mengamati dibawah mikroskop 6. Mengidentifikasi dan mencatat apa saja yang ada

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan a. Diameter telur adalah garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur yang diukur dengan mikrometer berskala (1 mm). b. Modus Diameter Telur Ikan Mas adalah 0,8 mm c. Tingkat kematangan gonad pada Perkembangan I karena warna gonad kemerahmerahan dengan pembuluh darah kapiler dan telur dapat terlihat oleh mata seperti serbuk putih. d. Indeks kematangan gonad Ikan Mas yang kami peroleh yaitu sebesar 4,59 % e. Fekunditas adalah jumlah telur yang terdapat pada ovari ikan betina yang telah matang gonad dan siap untuk dikeluarkan pada waktu memijah. f. Dalam analisis fekunditas metode yang digunakan adalah metode gabungan dari beberapa metode yang ada yaitu : metode gravimetrik, metode volumetric, metode gabungan (hitung gravimetrik dan volumetrik) dan metode Van Bayers. g. Fekunditas yang diperoleh dari hasil praktikum adalah     Metode Gravimetrik adalah 4.241 butir. Metode Volumetric adalah 4.374 butir. Metode Gabungan adalah 16.496 butir. Metode Van Bayers adalah 2.271.500 butir.

5.2. Saran

Tolong tambahin kesimpulannya y dian n saran hehehe mksih

Darpus http://hobiikan.blogspot.com/2009/09/ciri-morfologi-ikan-mas.html http://hobiikan.blogspot.com/2009/09/klasifikasi-ikan-mas.html Effendie, Ichsan . 1997. Biologi Perikanan, Bogor, Yayasan Pustaka Nusantama http://www.scribd.com/doc/53758702/Tingkat-Kematangan-Gonad http://blogs.unpad.ac.id/alfarico/2011/08/07/tingkat-kematangan-gonad/ http://alx-fransblog.blogspot.com/2009/05/fekunditas.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->