P. 1
Paronikia

Paronikia

|Views: 1,092|Likes:
Published by Anggienda Sribuana

More info:

Published by: Anggienda Sribuana on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

Oleh : Anggienda Sribuana 07923016 Preseptor : Dr. Qaira Anum, Sp.

KK

 Definisi  Paronikia adalah suatau reaksi peradangan mengenai

lipatan kulit dan jaringan di sekitar kuku.

 Epidemiologi  Penyakit ini berkembang pada orang-orang yang

tangannya lama terendam air; kalau jari terluka sedikit saja, maka basil atau jamur akan merusak jaringan sekitar kuku. Lebih banyak terjadi pada wanita, pekerja bar, pencuci. Penderita diabetes atau kekurangan gizi lebih mudah diserangnya, kadang-kadang penyakit ini muncul pada anak-anak, khususnya yang gemar menghisap jari tangannya. Setiap jari tangan dapat terkena, tetapi yang lebih sering adalah jari manis dan jari kelingking

 Etiologi  Gejala pertama karena adanya pemisahan lempeng

kuku dari eponikium, biasanya disebabkan oleh trauma karena maserasi pada tangan yang sering kena air. Celah yang lembap itu kemudian terkontaminasi oleh kokus piogenik atau jamur. Paronikia akut paling sering diakibatkan oleh infeksi bakteri, umumnya Staphylococcus aureus atau Pseudomonas aeruginosa, sedangkan Paronikia kronis disebab oleh jamur Candida albicans

 Gejala Klinis  Paronikia ditandai dengan jaringan kuku menjadi

lembut dan membengkak, nyeri serta dapat mengeluarkan pus (nanah). Bila infeksi telah kronis, maka terdapat cerah horizontal pada dasar kuku biasanya menyerang 1-3 jari terutama jari telunjuk dan jari tengah.

 Paronikia Akut  Penyebab paronikia akut yang sering adalah: Staphylococcus

aureus, (80%) sedangkan sisanya adalah Streptococcus dan bakteri gram negatif lain. Paronikia superfisial tampak sebagai daerah kemerahan, nyeri tekan di sekitar lipat kuku, bengkak, adanya abses intra kutikular atau subkutikular dan dapat juga pada sisi lateral lipat kuku. Paronikia yang dalam memberikan gambaran pembengkakan yang nyeri bila ditekan dan selulitis hampir di seluruh jaringan proksimal kuku, yang paling sering dalam eponikium. Infeksi bakteri pada lipat kuku sering terjadi sekunder karena trauma seperti kebiasaan mengisap dan menggigit kuku, tertusuk paku, adanya luka lama dan perawatan kuku yang salah dengan pemakaian alat yang tidak steril yang dapat mengakibatkan robeknya kutikula.

 Paronikia Kronis  Berdasarkan etiologinya dibagi menjadi primer dan sekunder.

Pada keadaan primer ada nyeri dan pembengkakan lipat kuku lateral dan posterior, eritematosa tampak berkilat. Kutikula biasanya terlepas dari lempeng kuku.  Pada stadium awal lempeng kuku masih tampak normal dengan proses lanjut daerah lempeng kuku bagian proksimal dan lateral mengalami perubahan warna bahkan distropi. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita terutama pada usia 30-60 tahun. Kadang-kadang muncul pada anak-anak yang gemar mengisap jari tangannya.  Peradangan ringan yang berlanjut pada lipat kuku sering diikuti serangan akut yang terbentuk bintik-bintik pus yang dapat diketahui dengan penekanan jaringan lipat kuku akan

 keluar material seperi keju. Pus terbentuk dalam kantong

di bawah lipat kuku; tidak terlihat adanya abses dalam perinikium. Serangan akut dan kronis yang berulang-ulang menyebabkan perubahan warna lempeng kuku bagian proksimal dan lateral seperti warna kuning, coklat atau kehitaman  Perubahan warna ini disebabkan oleh dihidroksi aseton yang dihasilkan organisme dalam lipat kuku. Pseudomonas memberikan warna khusus hijau atau biru tergantung dari spesies Pseudomonas. Pseudomonas pyocyanea memberikan warna hijau karena pigmen piosianin, sedangkan Pseudomonas aeruginosa warna hijau

 Paronikia Candida mempunyai tanda sebagai berikut :

 1. Kurangnya rasa sakit.
 2. Pada perabaan kurang hangat, jika dibandingkan

dengan paronikia bakterial.  3. Tidak adanya pus atau nanah.  4. Berjalan secara kronis.  5. Sering disertai onikolisis

 Pada paronikia Candida, lempeng kuku dipengaruhi secara sekunder. Lempeng

kuku kelihatan lebih gelap, cembung, kadang-kadang lebih tipis, jarang terdapat adanya sub ungual hiperkeratosis. Sedangkan pada Candidiasis kuku klinis di-tandai dengan adanya sub ungual hiperkeratosis. Gambaran klinis Candidiasis kuku sulit dibedakan dari tinea unguium. Perbedaan dapat diketahui dengan cara biakan jamur dengan adanya jamur Candida dan respon pengobatan yang tidak baik dengan griseofulvin. Sedangkan pada tinea unguium, biakan tumbuh jamur penyebab dermatofit, respon pengobatan dengan griseofulvin membaik

 Pada Paronikia sekunder, infeksi kuku biasanya disebabkan oleh :

Hendersonula toruloidea atau Scytalidium hyalinum. Mekanisme terjadinya paronikia kronis sekunder serupa dengan paronikia primer. Gangguan pertama berupa lepasnya eponikium dari lempeng kuku akibat perendaman dalam air yang berlangsung lama. Paparan tersebut menyebabkan kutikula lunak dan akhirnya lepas, sehingga terjadi invasi bakteri dan jamur.

 Penatalaksanaan  Cegah adanya trauma dan jaga agar kulit yanh dikenai tetap

  


kering. Jika akan mencuci sebaiknya memakai sarung tangan karet. Paronikia akut umumnya disebabkan oleh bakteri, pengobatan pilihan preparat flucloxacilin 4 x 250 mg/hari. Bila terbentuk pus dilakukan drainase dengan 5 prinsip pengobatan infeksi yaitu : 1. Pemberian antibiotik 2. Istirahat dan elevasi bagian yang terkena infeksi 3. Pengenalan lebih dini adanya pus dan daerah pus yang tepat 4. Keluarkan pus, kalau perlu dilakukan debridemen pada ruang abses 5. Pengobatan yang adekuat setelah tindakan

 Pada Paronikia superfisial umumnya pus terlokalisasi dan terlihat

dengan jelas, dapat dilakukan drainase dengan insisi bentuk bayonet atau skalpel lancip yang tajam dimasukkan ke dalam sulcus dengan sudut oblique, dilakukan harus sejajar dengan lempeng kuku. Setelah drainase maka dikompres dengan larutan garam fisiologis hangat untuk memacu drainase luka, pada beberapa kasus cukup dilakukan kompres dan antibiotik topikal.  Pada Paronikia dalam, sering ditemukan gejala klinis pembengkakan, eritem tanpa titik pus yang jelas, dapat diberikan antibiotika yang sensitif seperti kloksasilin atau eritromisin. Setelah diberikan antibiotika dan kompres hangat akan terjadi pus yang terlokalisata, kemudian terjadi drainase spontan melalui lekukan lipat kuku, atau dapat dilakukan insisi seperti Paronikia superfisial. Pada Paronikia sub ungual yang tidak responsif terhadap antibiotika setelah 2 hari, perlu dilakukan tindakan pembedahan dengan menghilangkan 1/3 proksimal lempeng kuku; lempeng kuku dipotong secara tranversal dengan gunting kuku di bawah anestesi lokal tanpa adrenalin, dapat juga dengan ethylchloride spray atau nitrogen cair.

 IDENTITAS PASIEN  Nama  Umur  Jenis kelamin  Pekerjaan

 Alamat
 No. telepon  Status perkawinan  Negeri asal  Agama  Suku

: Ny. W : 30 tahun : perempuan : ibu rumah tangga : Sawahan no. 3 Padang : 081363624144 : Menikah : Padang : Islam : Minang

 Seorang pasien wanita berumur 30 tahun datang

berobat ke Poli Kulit dan Kelamin RSUP DR. M. Djamil Padang dengan,
Keluhan Utama : Bengkak kemerahan, nyeri, dan bernanah pada ibu jari kaki kanan sejak 3 hari yang lalu.

 Bengkak kemerahan, nyeri, dan bernanah pada ibu jari 

 

kaki kanan sejak 3 hari yang lalu. Awalnya satu minggu yang lalu pasien memotong kuku terlalu dalam, dan mencongkel-congkel pinggir-pinggir kuku terutama pada ibu jari kaki kanan karena terdapat banyak kotoran di pinggir kuku tersebut. Setelah itu, 4 hari kemudian ibu jari kaki kanan pasien merah, bengkak dan terasa sangat nyeri. Pasien mencongkel-congkelnya sampai keluar nanah. Demam sejak 3 hari yang lalu. Bengkak, nyeri dan bernanah hanya di ibu jari kaki kanan, di jari lain tidak ada.

 Pasien mempunyai hobi berkebun dan kadang-kadang  


tidak memakai alas kaki saat berkebun. Pasien sering berkontak dengan air tetapi tidak mengelap kakinya setelah itu. Pasien sudah berobat ke bidan 2 hari lalu dan diberi salap Mikonazol yang dioleskan 2 kali sehari selama 2 hari ini, namun bengkak dan nyeri pada ibu jari kaki kanan pasien tidak berkurang dan juga masih bernanah. Riwayat menggunakan sepatu yang sempit tidak ada. Riwayat kaki terkena benturan tidak ada.

 Riwayat penyakit dahulu:

Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.
 Riwayat penyakit keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

 Status Generalis  Keadaan umum     

: baik Kesadaran : komposmentis kooperatif BB : 50 kg TB : 165 cm Status gizi : baik Suhu : febris Pemeriksaan thorax : diharapkan dalam batas normal Pemeriksaan abdomen : diharapkan dalam batas normal

 Status Dermatologikus:

Lokasi : Ibu jari kaki kanan Distribusi : Terlokalisir Bentuk dan susunan : Tidak khas Batas : Tidak tegas Ukuran : Numular Efloresensi : Onycodistrofi (-), warna kuku tidak berubah, jaringan sekitar kuku oedem eritem, terdapat pus, dan ekskoriasi

 Status Venereologikus : tidak diperiksa

Kelainan Selaput : tidak ada kelainan Kelainan Kuku : tidak ada kelainan Kelainan Rambut : tidak ada kelainan
 PEMERIKSAAN LABOR

- Kultur pus dan sensitivity test

 Bengkak kemerahan, nyeri, dan bernanah pada ibu jari kaki

kanan sejak 3 hari yang lalu. Awalnya satu minggu yang lalu pasien memotong kuku terlalu dalam, dan mencongkel-congkel pinggir-pinggir kuku terutama pada ibu jari kaki kanan karena terdapat banyak kotoran di pinggir kuku tersebut. Setelah itu, 4 hari kemudian ibu jari kaki kanan pasien merah, bengkak dan terasa sangat nyeri. Pasien mencongkel-congkelnya sampai keluar nanah. Demam sejak 3 hari yang lalu. Pasien mempunyai hobi berkebun dan kadang-kadang tidak memakai alas kaki saat berkebun. Pasien sering berkontak dengan air tetapi tidak mengelap kakinya setelah itu. Pasien sudah berobat ke bidan 2 hari lalu dan diberi salap Mikonazol yang dioleskan 2 kali sehari selama 2 hari ini, namun bengkak dan nyeri pada ibu jari kaki kanan pasien tidak berkurang dan juga masih bernanah.

 Status Dermatologikus:

Lokasi : Jempol kaki kanan Distribusi : Terlokalisir Bentuk dan susunan : Tidak khas Batas : Tidak tegas Ukuran : Numuler Efloresensi : Onycodistrofi (-), warna kuku tidak berubah, jaringan sekitar kuku oedem eritem, terdapat pus dan ekskoriasi

 DIAGNOSIS

Paronikia

 DIAGNOSIS BANDING

Pionikia

 UMUM:

Jangan mencongkel-congkel kuku jari kaki. Menjaga kebersihan kaki, setelah berkontak dengan air kotor, dan tanah kaki segera dicuci, serta menjaga agar kaki tetap kering. Meminum obat teratur

 KHUSUS:

Sistemik: Amoxycillin 500 mg 3 x 1 tab Paracetamol 500 mg 3 x 1 tab Topikal : Kompres dengan Pemangas Kalikulus (PK) dengan pengenceran 1:10.000 3x sehari selama 15 menit.

Quo ad sanam :bonam Quo ad vitam :bonam Quo ad kosmetikum :bonam Quo ad functionam :bonam

Terima kasih

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->