P. 1
Makalah Sda

Makalah Sda

|Views: 254|Likes:
Published by Yeremia Banyu

More info:

Published by: Yeremia Banyu on Jun 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2014

pdf

text

original

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Manusia hidup dalam ekosistem berdampingan dengan hewan.

Walaupun manusia sebagai mahluk yang memiliki akal budi tetapi kehidupannya tidak bisa lepas dari hewan. Kehidupan manusia sangat bergantung dengan hewan mulai dari pakaian, makanan hingga untuk mempermudah manusia untuk melakukan pekerjaan.

BAB II. Rumusan masalah

B. Rumusan masalah Rumusan masalah dari makalah “interaksi antara manusia dengan hewan dalam ekosistem” dibagi menjadi empat garis besar, yaitu: 1. Bagaimana interaksi antara manusia dengan hewan? 2. Permasalahan apa yang timbul dari interaksi antara manusia dengan hewan? 3. Apa yang menyebabkan kepunahan hewan ? 4. Bagaimana solusi agar terjadi keserasian agar kehidupan manusia dengan hewan seimbang ? C. Tujuan penulisan makalah Tujuan dari penulisan makalah adalah untuk : 1. Mendiskripsikan interaksi antara manusia dengan hewan dalam ekosistem 2. Menjelaskan permasalahan-permasalahan yang timbul dari interaksi antara manusia dengan hewan 3. Menjelaskan dampak yang terjadi jika tidak ada keseimbangan antara populasi manusia dengan hewan 4. Mendiskripsikan solusi agar terjadi keserasian dalam kehidupan manusia dengan hewan

BAB II. PEMBAHASAN

A. Interaksi manusia dengan hewan Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita. Hewan Hewan atau binatang adalah kelompok organisme yang diklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau Metazoa, adalah salah satu dari berbagai makhluk hidup di bumi. Sebutan lainnya adalah fauna dan margasatwa (atau satwa saja). Hewan dalam pengertian sistematika modern mencakup hanya kelompok bersel banyak (multiselular) dan terorganisasi dalam fungsi-fungsi yang berbeda (jaringan), sehingga kelompok ini disebut juga Histozoa. Semua binatang heterotrof, artinya tidak membuat energi sendiri, tetapi harus mengambil dari lingkungan sekitarnya. Hewan mempunyai daya gerak, cepat tanggap terhadap rangsangan eksternal, tumbuh mencapai besar tertentu, memerlukan makanan bentuk kompleks dan jaringan

tubuhnya lunak. Perbedaan itu berlaku secara umum, tentu saja ada kelainankelainannya. Tiap individu, baik pada hewan uniselular maupun pada hewan multiselular, merupakan satu unit. Hewan itu berorganisasi, berarti tiap bagian dari tubuhnya merupakan subordinat dari individu sebagai keseluruhan baik sebagai bagian suatu sel maupun seluruh sel. Inilah yang disebut konsep organismal, suatu konsep yang penting dalam biologi.[1] Secara umum berikut ini adalah ciri-ciri hewan: Hewan merupakan organisme eukariota, multiseluler, heterotrofik. Berbeda dengan nutrisi autotrofik pada tumbuhan, hewan memasukkan bahan organik yang sudah jadi, ke dalam tubuhnya dengan cara menelan (ingestion) atau memakan organisme lain, atau memakan bahan organik yang terurai.[2] 1. Sel-sel hewan tidak memiliki dinding sel yang menyokong tubuh dengan kuat, seperti pada tumbuhan atau jamur. Komponen terbesar sel-sel hewan terdiri atas protein struktural kolagen.[2] 2. Keunikan hewan yang lain adalah adanya dua jaringan yang bertanggung jawab atas penghantaran impuls dan pergerakan, yaitu jaringan saraf dan jaringan otot sehingga dapat bergerak secara aktif.[2] 3. Sebagian besar hewan bereproduksi secara seksual, dengan tahapan diploid yang mendominasi siklus hidupnya.[2] 4. Alat pernapasan pada hewan bermacam-macam tergantung pada temapt hidupya, ada yang bernafas dengan paru-paru seperti kucing, insang seperti ikan, kulit seperti cacing[3], trakea seperti serangga.[4] 5. Memerlukan makanan untuk tumbuh dan bertahan hidup.[3] 6. Tidak mempunyai indra berpikir.[3] 7. Dapat dikendali untuk manusia (hewan piaraan / sirkus).[3] 8. Kehidupan dapat berakhir (mati)[3] Yang menjadi pembeda antara manusia dengan hewan adalah pengetahuan. Cara terbaik untuk mengetahui perbedaan antara pengetahuan manusia dengan binatang adalah dengan memperhatikan orientasi dari setiap tingkah lakunya. Ini dikarenakan pada dasarnya tidak ada tingkah laku yang dilakukan tanpa dasar pengetahuan.

Mengapa ketika orang melihat rumahnya terbakar dan semua hartanya hangus dia akan menangis, karena dia tahu bahwa rumahnya yang terbakar dan menghanguskan semua hartanya merupakan sebuah kerugian besar dalam hidupnya. Mereka tahu bahwa hari-hari kedepannya dalam hidupnya akan terasa lebih sulit dijalani dibandingkan jika rumahnya tidak terbakar dan semua hartanya tidak hangus. Maka jawaban dari pertanyaan mengapa ada model tingkah laku yang berbeda dalam menyikapi realitas adalah bahwa ada pengetahuan yang berbeda dalam memandang realitas. Realitas yang dipandang oleh binatang adalah realitas hanya sebatas hal-hal fisik. Karena alat pengetahuan yang ada pada binatang hanyalah alat inderawi saja. Binatang tidak punya alat pengetahuan selain dari alat indera. Maka pengetahuannya pun terbatas hanya pada apa yang dipersepsi oleh alat inderanya saja. Binatang tidak mampu memahami realitas yang berada dibalik materi. Binatang tidak memiliki kemampuan untuk memahami hakikat, sehingga binatang tidak akan mampu membuat tidakan untuk mempengaruhi realitas. Sedangkan manusia tidak hanya mampu untuk mengetahui realitas sebatas persepsi inderawi saja. Manusia lebih daripada itu, karena manusia memiliki alat pengetahuan yang lain selain daripada indera. Manusia punya hayal yang menangkap objek-objek hayal dan akal untuk memahami objek-objek akliah[3]. Artinya, manusia dengan alat epistemologinya yang lebih daripada binatang mampu memiliki pengetahuan yang lebih dari pada binatang. Manusia bisa mengetahui hakaket dari setiap realitas, karena itu pula manusia mampu bertingkah laku untuk mempengaruhi realitas. Karena pengetahuan binatang yang hanya terbatas pada persepsi inderawi saja, maka tingkah laku binatang pun hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhankebutuhan fisiknya saja. Karena binatang tidak memiliki pengetahuan yang lebih dari persepsi inderawi termasuk pada dirinya sendiri. Binatang hanya paham pada kebutuhan fisik pada dirinya. Dalam satu hari kehidupannya, orientasi tingkah lakunya hanya difokuskan pada bagaimana melakukan pemenuhan kebutuhan fisik. Seperti makan, minum, istirahat dan berkembang biak. Sedangkan pada manusia, karena dianugerahi alat pengetahuan yang lebih sehingga pengetahuannyapun lebih daripada binatang, pola hidupnyapun tidak hanya didasari pada pemenuhan kebutuhan fisik saja. Manusia memiliki pengetahuan bahwa ada kebutuhan non-material yang juga harus terpenuhi pada kehidupannya. Karena manusia memiliki alat pengetahuan untuk mempersepsi realitas non-material. Manusia pasti akan menganggap hidupnya hampa tanpa cinta, keadilan, keamanan dan lain-lain. Binatang pun tidak memahami adanya hak dan kewajiban. Karena hak dan kewajiban adalah sesuatu yang tidak dapat diinderai. Maka untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, binatang tidak pernah mempersoalkan hak binatang lain. Tidak ada hak milik dalam kehidupan binatang. Maka hukum dalam kehidupan binatang pun adalah “siapa yang kuat dialah yang menang”. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada persaudaraan. Yang ada hanyalah bagaimana hari ini seekor binatang bisa makan dan melanjutkan hidupnya.

Manusia dan hewan dalam ekosistem Manusia dengan hewan hidup berdampingan dalam ekosistem. ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem. Ekosistem adalah suatu komunitas tumbuhan, hewan dan mikroorganisme beserta lingkungan non-hayati yang dinamis dan kompleks, serta saling berinteraksi sebagai suatu unit yang fungsional. Manusia merupakan bagian yang terintegrasi dalam ekosistem. Ekosistem sangat bervariasi dalam hal ukuran – dapat berupa genangan air pada suatu lubang pohon hingga ke samudera luas. Hubungan antara manusia dengan hewan Dalam ekosistem hubungan setiap organisme memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Hasil dari interaksi tersebut bisa menguntungkan namun bisa juga merugikan. Interaksi antara organisme tersbut disebut simbiosis. Ada beberapa bentuk simbiosis yaitu :  Simbiosis parasitisme adalah di mana pihak yang satu mendapat keuntungan dan merugikan pihak lainnya. Contoh : cacing perut dan cacing tambang yang hidup di dalam usus manusia   Simbiosis mutualisme adalah hubungan sesama mahkluk hidup yang saling menguntungkan kedua pihak. Contohnya: Ikan Remora dan Ikan hiu Simbiosis komensalisme adalah di mana pihak yang satu mendapat keuntungan tapi pihak lainnya tidak dirugikan dan tidak diuntungkan. Contoh: Ikan badut dengan anemon laut    Simbiosis Amensalisme, yaitu saat satu pihak dirugikan dan pihak lainnya tidak diuntungkan maupun dirugikan. Kompetisi, di mana kedua pihak saling merugikan, biasanya terjadi melalui kompetisi dalam memperebutkan makanan. Simbiosis netralisme, dimana kedua pihak tidak saling diuntungkan maupun dirugikan. Interaksi antar kedua spesies tidak menyebabkan keuntungan maupun

kerugian bagi keduanya.

Manusia dengan hewan hidup berdampingan. Di satu sisi manusia membutuhkan hewan untuk kelangsungan hidupnya. Di sisi yang lainnya hewan juga membutuhkan manusia untuk bisa terus berkembang biak dan menjaga jumlah populasinya tetap seimbang. Hubungan manusia dengan hewan. Manusia dengan hewan memiliki hubungan simbiosis mutualisme dimana kedua pihak saling membutuhkan dan memberikan manfaat tersendiri. manfaat hewan bagi manusia Hewan adalah organisme yang banyak dimanfaatkan untuk keperluan hidup umat manusia. Mereka dapat digunakan sebagai bahan pangan (makanan), sandang (pakaian), obat-obatan, perhiasan dan kerajinan, membantu pekerjaan manusia dan percobaan/penelitian. Berikut ini adalah contoh-contohnya:    hewan sebagai bahan makanan sapi, ikan, ayam, kambing, hewan sebagai sandang ulat sutra, biri-biri, dan domba hewan untuk membantu pekerjaan manusia sapi, kuda, kerbau, gajah, unta, dan keledai

manfaat manusia bagi hewan manusia sangat membantu hewan dalam mempertahankan keturunannya. Cara-cara yang dilakaukan manusia dalam menjaga keturunan hewan agar tidak punah 1. Menjaga habitat cara ini dilakukan dengan tujuan agar hewan langka tetap berada di habitatnya. 2. Penangkaran penangkaran dilakukan dengan cara menangkap hewan dari alam bebas, misalnya penangkaran buaya. Hewan ditangkap, kemudian dirawat dan dikembangkan dalam

kandang. Setelah itu, anak hasil perkembangbiakan dilepas pada habitat yang sesuai. 3. Pembuatan taman nasional atau suaka margasatwa taman nasional ini dibuat khusus untuk melestarikan hewan, misalnya Taman Nasional Ujung Kulon yang melindungi badak bercula satu. Umur binatang yang ada di dunia ini semua tergantung manusia, bagaimana cara mereka menjaga juga merawat, jika semua orang tidak ada rasa kasihan sama hewan Apakah ada di dunia ini hewan yang bisa bersahabat dengan manusia ? Bahkan bisa menolong manusia. Contoh-contoh interaksi manusia dengan hewan Kerbau diandalkan untuk membajak sawah Memakai caping warna hijau di kepalanya, pagi itu Muhsinin (43) sudah mandi keringat saat membajak sawah. Tapi petani warga Dusun Ngelo, Desa Jombor, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang Jawa Tengah ini tetap bersemangat saat mengendalikan dua ekor kerbau miliknya untuk membajak lahan sawah. “Meski ada yang memakai traktor, tapi petani di sini masih banyak menggunakan kerbau untuk membajak sawah,” kata Muhsinin di sela kegiatannya pagi itu. Ayah dari dua anak ini mengemukakan, membajak sawah dengan traktor atau tenaga kerbau, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau memakai traktor, memang lebih praktis dan hasil bajakannya lebih padat. Selain itu mereka juga harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar bensin atau solar untuk mesin traktor. Pencegahan hewan yang akan punah Program Pelestarian Penyu Sisik di Kepulauan Seribu dilaksanakan melalui kegiatan penangkaran yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam ( Ditjen PHPA ) di Pulau Semak Daun sejak tahun

1984 sampai 1990 dengan sumber dana berasal dari APBN melalui Proyek Penangkaran Penyu. Program ini bertujuan untuk melindungi habitat dan jumlah populasi Penyu Sisik ( Eretmochelys imbricata) yang keberadaannya sudah semakin berkurang di Perairan Kepulauan Seribu. Kegiatan Pelestarian Penyu Sisik di Pulau Pramuka ini secara formal diserahkan untuk dikelola oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, sesuai dengan Berita Acara Serah Terima Nomor. 254/ V/ KK-4/ 2001 tanggal 12 April 2001. Untuk kelanjutan operasionalnya, kegiatan ini didanai oleh Sumber Dana APBN tahun Anggaran 2005 Interaksi manusia dengan hewan liar Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang kontak antara manusia dengan satwa liar seperti harimau dan gajah yang semakin sering terjadi. Hal ini tentu hal yang sangat menarik, karena satwa liar yang hidup biasanya jauh dari manusia, kini sering bertemu atau berdekatan dengan manusia. Tentu saja, kedekatan ini menimbulkan polemic baru yang terjadi masyarakat. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Pekanbaru, belasan ekor harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) berkeliaran di permukiman warga Desa Tanjung Sari, Kecamatan Kuala Cinaku, Kabupaten Inhu, Riau, hal ini menimbulkan keresahan dari warga karena harimau yang berkeliaran tersebut telah memakan ternak warga atau dapat mengancam keselamatan hidup dari warga desa. (okezone, 23 desember 2009). Ini merupakan salah satu contoh nyata yang menunjukkan hewan-hewan liar mulai hidup dekat dengan manusia. Kedekatan hidup dari hewan liar dengan manusia tentulah menimbulkan kekhawatiran, karena semakin dekat kehidupan liar dengan manusia maka konflik yang terjadi antara manusia dan hewan-hewan liar ini akan semakin sering terjadi. Konflik antara manusia dan hewan liar dapat menyebabkan berbagai macam hal seperti kematian manusia, kematian hewan liar, kehilangan hewan-hewan ternak atau rusaknya kebun-kebun warga. Konflik anatar mnusia dan hewan-hewan liar ini selain mengancam keselamatan manusia yang didatangi tapi juga keberadaan dari hewan-hewan liar ini, mengingat sebagian besar hewan-hewan liar ini merupakan hewan yang dilindungi oleh Negara dalam artian bahwa hewan-hewan ini merupakan hewan langka yang terancam punah. Hewan-hewan liar yang mulia mendekat ke kehidupan manusia disebabkan oleh berbagai macam hal salah satunya ialah adanya kerusakan hutan lindung habitat

dari hewan-hewan tersebut, maraknya penebangan liar atau perluasan pemukiman juga dituding sebagai semakin tingginya konflik antara manusia dan hewan liar ini. Selain itu bencanan alam juga dapat menyebabkan hewan-hewan liar ini mendekat kepemukiman-pemukiman masyarakat seperti yang terjadi di Pekanbaru, Sebanyak lima ekor harimau Sumatera terpaksa turun gunung ke Desa Tanjung Sari, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhu), Riau. Berkeliaran harimau itu disebabkan salah satunya karena kawasan habitat raja hutan dikepung banjir (okezone: 14 Januari 2010) Hutan yang harusnya menjadi tempat ditinggal hewan-hewan liar ini kini banyak mengalami kerusakan oleh manusia hingga menyebabkan luas area untuk mencari makan dari hewan liar ini berkurang hal ini tentu mambuat hewan-hewan liar ini mau tidak mau harus menyambangi kehidupan sekitar manusia yang menyediakan cukup makanan, selain itu pengurangan dari habitat hewan-hewan liar ini ditambah dengan adanya pemukiman atau perkebunan yang berasal dari area pembukaan hutan. Sebenarnya perlu kita sadari bahwa sebagian besar konflik yang terjadi antar manusia dan hewan ini merupakan kesalahan dari manusia juga, dan sesungguhnya bukan hewan-hewan ini yang mengganggu keberadaan manusia tapi kitalah! manusia yang merebut habitat dari hewan-hewan ini. Hal ini juga perlu menjadi perhatian pemerintah karena keberadaan hewanhewan ini tentu dilindungi oleh undang-undang, selain itu keberadaan hewanhewan ini merupakan bagian dari ekosisitem alam yang perlu kita jaga dan kita lindungi.

B. Permasalahan yang pernah timbul dari interaksi manusia dengan hewan Hama tikus menyerang petani wajo, Sulawesi selatan Ratusan hektar tanaman padi siap panen di Jongkang, Kelurahan Tangkoli, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, gagal panen, gara-gara hampir sepekan ini diserang hama tikus. Lahan yang biasanya menghasilkan 70 karung, menyusut drastis hanya bisa menghasilkan empat karung, akibat serangan hama tikus. Banyaknya hama yang menyerang sawah petani menjadi tanda tannya petani, mengingat sejauh ini lahan persawahan di daerah tersebut memang tidak penah diserang hama tikus.

Serangan hama ulat bulu Serangan ribuan hama ulat bulu di enam desa di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (28/3), semakin menjadi. Dinas Pertanian pun melakukan penyemprotan disinfektan.

Desa Sumber Kedawung dan Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, adalah daerah terparah yang diserang ulat bulu. Penyemprotan ditujukan ke rumah warga dan beberapa titik yang menjadi tempat berkembang biak hama. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Hasyim Ashari mengatakan serangan hama ulat bulu kali ini lebih parah dari beberapa tahun sebelumnya. Perubahan cuaca ekstrem diduga menjadi penyebab utama. Selain menyemprot, petugas juga mengambil sampel ulat dan kepompong untuk diteliti. Hama ulat bulu diklasifikasi sebagai desiciria inclusa atau ulat bulu gatal. Meski dianggap terlambat, langkah penyemprotan disambut gembira warga. Akibat serangan ulat, puluhan orang dilaporkan terkena sejumlah penyakit kulit. Flue burung Flu burung (bahasa Inggris: avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan mamalia. Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas alih-alih jalur migrasi burung liar. Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga. Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah. Unggas sebaiknya tidak dipelihara di dalam rumah atau ruangan tempat tinggal. Peternakan harus dijauhkan dari perumahan untuk mengurangi risiko penularan. Tidak

selamanya jika tertular virus akan menimbulkan sakit. Namun demikian, hal ini dapat membahayakan di kemudian hari karena virus selalu bermutasi sehingga memiliki potensi patogen pada suatu saat. Oleh karena itu, jika ditemukan hewan atau burung yang mati mendadak pihak otoritas akan membuat dugaan adanya flu burung. Untuk mencegah penularan, hewan lain di sekitar daerah yang berkasus flu burung perlu dimusnahkan.dan dicegah penyebarannya Penyakit antrak Antraks atau anthrax adalah penyakit menular akut yang disebabkan bakteria Bacillus anthracis dan sangat mematikan dalam bentuknya yang paling ganas. Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan, namun juga dapat menjangkiti manusia karena terekspos hewan-hewan yang telah dijangkiti, jaringan hewan yang tertular, atau spora antraks dalam kadar tinggi.Meskipun begitu, hingga kini belum ada kasus manusia tertular melalui sentuhan atau kontak dengan orang yang mengidap antraks. Antraks bermakna “batubara” dalam bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam. Infeksi antraks jarang terjadi namun hal yang sama tidak berlaku kepada herbivoraherbivora seperti ternak, kambing, unta, dan antelop. Antraks dapat ditemukan di seluruh dunia. Penyakit ini lebih umum di negara-negara berkembang atau negaranegara tanpa program kesehatan umum untuk penyakit-penyakit hewan. Beberapa daerah di dunia (Amerika Selatan dan Tengah, Eropa Selatan dan Timur, Asia, Afrika, Karibia dan Timur Tengah) melaporkan kejadian antraks yang lebih banyak terhadap hewan-hewan dibandingkan manusia Penyakit antrak sebenarnya berasal dari hewan bukan dari tumbuh-tumbuhan, dan penyakit antrak yang menyerang hewan biasanya seperti penyakit sapi ngorok (SE). Untuk menjaga penyebaran virus antrak dari hewan ke manusia, hendaknya masyarakat tidak mengkonsumsi hewan yang terkena antrak

C. Kepunahan hewan karena manusia Tanpa disadari tindakan manusia yang memanfaatkan hewan untuk kelangsungan hidup dirinya telah membawa dampak buruk bagi keturunan hewan tersebut. Pemanfaatan hewan untuk kebutuhan manusia secara berlebihan telah menyebabkan sebagian hewan terancam kelangsungan hidupnya. Perbuatan manusia yang membuat kelangsungan hidup satwa terancam antara lain : Manusia menyebabkan pencemaran udara dari teknologi yang diciptakannya Isu global yang sedang panas dibicarakan oleh internasional saat ini adalah global warming yang terjadi karena perbuatan manusia. Global warming membuat suhu bumi naik dan mengakibatkan perubahan iklim yang ekstrim. Perubahan suhu tersebut membuat beberapa spesies hewan terancam kelangsungan hidupnya seperti beruang kutub. Naiknya suhu bumi menjadikan es di kutub yang merupakan habitat dari beruang kutub mencair dan diperkirakan akan segera habis sehingga beruang kutub akan kehilangan tempat tinggalnya. Perburuan Hewan secara Terus-Menerus

Apakah fungsi hewan bagi manusia? Banyak kegiatan manusia yang merusak keseimbangan ekosistem misalnya penangkapan ikan di laut dengan racun atau peledak. Hal ini dapat menyebabkan rusaknya terumbu karang. Terumbu karang merupakan tempat hidup ikan-ikan kecil yang merupakan makanan ikan yang lebih besar. Penangkan ikan dengan kapalkapal pukat harimau dapat menimbulkan penurunan jumlah ikan di laut. Sebab dengan pukat harimau ikan kecil akan ikut terjaring. Penangkapan secara liar pada beberapa hewan, seperti penyu, cendrawasih, badak, dan harimau dapat menyebabkan hewan-hewan tersebut menjadi langka. Manusia ada yang berburu hewan hanya untuk bersenang-senang. Juga ada yang memanfaatkan sebagai bahan makanan, hiasan, atau pakaian. Pemanfaatan hewan untuk koleksi Manusia banyak memanfaatkan hewan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Coba perhatikan alat-alat keperluan sehari-hari atau hiasanhiasan, adakah yang bahannya berasal dari hewan? Apakah hewan-hewan yang digunakannya berasal dari hewan langka. Perburuan liar dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab karena sengaja membunuh hewan-hewan tersebut untuk memanfaatkan bagianbagian tubuhnya. Misalnya, perburuan gajah untuk diambil gadingnya atau macan tutul untuk diambil kulitnya. Gading gajah digunakan untuk hiasan. Buaya dan ular juga diburu untuk diambil kulitnya sebagai bahan tas atau sepatu, sedangkan badak Jawa diburu untuk diambil culanya karena dianggap berkhasiat menyembuhkan penyakit. Hewan itu semuanya termasuk hewan langka. Jadi, jika terus-menerus diburu, lama-kelamaan hewan ini akan musnah. Oleh karena itu, penggunaan bagianbagian tubuh hewan-hewan langka tersebut dilarang keras oleh pemerintah. Bagaimana cara melestarikan hewan-hewan langka ini? Usaha-usaha yang harus kita lakukan untuk melestarikan hewan-hewan langka tersebut, di antaranya sebagai berikut: 1. Tidak boleh berburu hewan sembarangan;

2. Hewan-hewan langka harus dilindungi dari perburuan liar; 3. Hewan langka dibudidayakan; 4. Untuk mengurangi perburuan gajah, dibuat gading tiruan. Penebangan Pohon secara Liar dan Pembakaran Hutan Perhatikan alat-alat rumah tangga yang ada di rumahmu. Apakah ada yang berasal dari kayu? Jenis kayu yang banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, contohnya meranti, kamper, jati, dan mahoni. Jenis-jenis kayu tersebut diambil dari hutan. Adanya penebangan hutan secara liar dapat menimbulkan kerusakan pada tempat hidup tumbuhan dan habitat hewan. Akibatnya banyak jenis tumbuhan yang menjadi berkurang dan lama-lama menjadi langka. Hal ini terjadi karena pengambilan secara terus-menerus tetapi tidak dilakukan penanaman kembali. Tumbuhan yang menjadi langka akibat kerusakan habitatnya misalnya pohon jati, bunga anggrek, dan bunga rafflesia. Hutan mempunyai peran yang sangat penting bagi ekosistem. Didalam hutan hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Hutan menyediakan makanan, tempat tinggal, dan perlindungan bagi hewanhewan tersebut. Jika pohon-pohon ditebang terus, sumber makanan untuk hewanhewan yang hidup di pohon tersebut juga akan berkurang atau tidak ada, karena itu banyak hewan yang kekurangan makanan. Akibatnya banyak hewan yang musnah dan menjadi langka. Selain menebang pohon, manusia kadangkadang membuka lahan pertanian dan perumahan dengan cara membakar hutan. Akibatnya lapisan tanah dapat terbakar, tanah menjadi kering dan tidak subur. Hewanhewan tanah tidak dapat hidup, hewan-hewan besar banyak yang mencari makan ke tempat lain bahkan sampai ke pemukiman manusia. Hal ini juga dapat merusak keseimbangan ekosistem.

D. Solusi agar interaksi manusia dan hewan berjalan seimbang Yang utama dalam menjaga keseimbangan hidup antara manusia dengan hewan adalah harus menjaga ekosistem tetap seimbang. BAB III. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Manusia dengan hewan hidup berdampingan dan saling membutuhkan. Manusia membutuhkan hewan untuk memenuhi kebutuhannya sehari seperti makan, dan kebutuhan sandang hingga untuk membantu mempermudah melakukan pekerjaan. Sedangkan hewan membutuhkan manusia untuk menjaga keseimbangan rantai makanan dam mempertahankan kelangsungan hidup hewan. 2. Dari hasil interaksi hewan dengan manusia timbul permasalahan-permasalahan yang menyebabkan kerugian. Permasalahan tersebut antara lain : i. ii. iii. iv. v. Perubahan iklim karena perbuatan manusia Serangan hama tikus Serangan ulat bulu Flu burung Antrak

Selain limat permasalahan tersebut masih banyak lagi permasalahan lain yang ditimbulkan. 3.

B. Saran C. Daftar pustaka

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->