P. 1
Penulisan Buku Ajar (Materi Buat Makalah)

Penulisan Buku Ajar (Materi Buat Makalah)

|Views: 578|Likes:
Published by Mihita Binarti

More info:

Published by: Mihita Binarti on Jun 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/24/2013

pdf

text

original

Kualitas Buku Ajar yang Baik Buku ajar sesungguhnya merupakan media yang sangat penting dan strategis

dalam pendidikan. Ia adalah penafsir pertama dan utama dari visi dan misi sebuah pendidikan. Apalagi, menurut Chekley yang dikutip oleh Tim Penilai Buku Ajar Direktorat PAIS buku sebenarnya juga bisa jadi untuk melakukan “jalan pintas” (by pass) dalam peningkatan mutu pendidikan apabila dapat mengeksplorasi lebih dalam topik-topik yang dibahas dalam buku tersebut. Untuk itu diperlukan suatu sinergi bagaimana guru dapat menghasilkan buku yang bukan hanya mencerdaskan, namun juga mencerahkan dan menggugah nalar dan spiritual untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Kita sering menyamakan antara cerdas denganintelligent, padahal buku yang perlukan bukan hanya melulu untuk membuat orang cerdas. Yang diperlukan saat ini dan ke depan adalah buku yang bukan hanya intelligent textbook, melainkan harus mindful textbook. Buku yang mindful adalah buku yang memberi banyak perspektif bagi anak untuk berpikir yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Selain itu buku tersebut juga dapat mengaitkan persepsi lingkungan yang dihadapi anak dan mendorong anak mampu mempersepsi solusi yang mungkin penting untuk anak. Untuk agama, hal ini menjadi penting karena situasi ini menjadi a novel situation, situasi yang senantiasa baru. Ini membuat para guru maupun siswa akan senantiasa merasa tercerahkan dengan situasi dan tantangan-tantangan baru yang menggoda nalar untuk selalu memperbaharui cara pandang kita terhadap situasi yang dirasakan atau diamati di lingkungan kita. Dan ini tentunya tidak mudah, sekalipun bukan mustahil. Buku ibarat lautan yang seolah tak bertepi. Saat seseorang membaca sebuah buku yang cocok dengan seleranya, ia akan tenggelam ke dalam lautan gagasan, pikiran, dan pengalaman penulisnya. Dalam pengamatan Bahrul Hayat yang dikutip oleh tim penilai buku ajar dalam Pedoman Penilaian Buku Ajar, mengatakan bahwa textbook yang baik adalah textbook yang mindful, yang

menggoda otak kita untuk berfikir dengan nalar yang dinamis. Menurutnya, Ciri-ciri buku yang baik adalah sebagai berikut :

Pertama, textbook harus meaningful. Ketika

seorang

anak

membaca

sebuah buku pelajaran, maka anak dipastikan akan dapat menangkap pesan dan makna yang terkandung. Jangan sampai membaca lima halaman buku, namun tidak mendapat sense apa-apa. Sebuah buku yang baik harus mampu menjadikan anak bisa tahu makna dan hasil yang diharapkan. Kedua, buku yang baik harus mengandung aspek motivational to learn dan motivational to unlearn. Ketika membaca sebuah buku pelajaran, anak akan termotivasi untuk belajar tanpa harus dipaksakan oleh guru. Karena buku adalah medium belajar, maka dia juga harus memuat motivational to unlearn. Ketika sesuatu dipersepsi secara salah, maka buku pelajaran juga harus bicara salah. Buku harus berperan untuk mencopot hal-hal yang salah. Banyak pendapat umum yang beredar selama ini yang salah, dan buku harus mengatakan ini salah. Dengan begitu anak tidak lagi bertanya mana yang benar dan mana yang salah. Ketiga, buku yang baik harus keep attentive. Buku yang baik adalah buku yang mendorong anak untuk memiliki atensi, perhatian, terhadap apa yang dia pelajari. Ini memang sulit. Tetapi ketika membaca Kho Ping Hoo atau Harry Potter misalnya, orang akan sulit untuk berhenti. Ada apa ? Ada

magnet attentive dimana penulis berhasil menanamkan kepada pembaca agar pembaca terus mengikuti apa yang akan disampaikan penulis. Keempat, buku pelajaran harus bisa self study. Karena peran guru di kelas juga terbatas, maka buku harus bisa membantu atau mengisi kelemahan ini. Kalau buku-buku dikembangkan secara luas dengan self study, maka para siswa akan terbiasa untuk mengembangkan pola belajar yang mandiri. Kelima, buku yang baik juga harus punya makna untuk menemukan nilai dan etika yang relevan dengan kehidupan kekinian dan moral yang berlaku. Tanpa hal ini, maka anak-anak akan menemukan hal-hal yang kontradiktif dalam dirinya. Kita harus saling melihat seluruh komponen pendidikan itu menyatu dan mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia ini. Dengan kondisi tersebut maka diperlukan suatu buku yang memadai pada dunia sekolah kita sehingga setiap sekolah dapat menyiapkan dunia akademiknya dengan mandiri sesuai dengan kebutuhan dan tantangannya. Sebagai salah satu

indikator adalah, apabila guru-guru sekolah tersebut dapat menyiapkan bahan pembelajarannya sendiri. Namun demikian, keterlibatan kalangan penerbit dalam menyiapkan buku-buku juga patut didukung, sehingga guru-guru mempunyai bahan yang memadai untuk mereka dalam menyiapkan bahan pembelajaran.

Di antara ahli lain yang menetapkan buku ajar yang baik adalah Greene dan Petty yang dikutip oleh Tarigan. Kedua ahli ini menetapkan 10 (sepuluh) kriteria buku ajar yang baik. Kriteria itu sebagai berikut : 1. Buku ajar itu haruslah menarik minat anak-anak, yaitu para siswa yang memakainya. 2. Buku ajar itu haruslah memberi motivasi kepada para siswa yang memakainya. 3. Buku ajar itu haruslah memuat ilustrasi yang menarik hati para siswa yang memanfaatkannya. 4. Buku ajar seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya. 5. Isi buku ajar haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat didukung dengan perencanaan, sehinga semuanya merupakan kebulatan yang utuh dan terpadu. 6. Buku ajar haruslah dapat menstimulasi, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunakannya. 7. Buku ajar harus dengan sadar dan tegas menghindari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa agar tidak sempat membingungkan para siswa yang menggunakannya. 8. Buku ajar harus mempunyai sudut pandang atau point of view yang jelas dan tegas sehingga juga pada akhirnya menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia. 9. Buku ajar harus mampu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa. 10. Buku ajar harus dapat menghargai pribadi-pribadi para siswa.[25]

Ke sepuluh kriteria di atas harus diupayakan penemuannya oleh penulis buku ajar. Di samping itu, penulisan buku ajar perlu memperhatikan kesesuaiannya dengan standar isi dan mengarah kepada tujuan pendidikan, baik tujuan nasional, institusional, maupun tujuan instruksional.

Menurut Greene dan Petty dalam buku Tarigan terdapat beberapa pedoman penilaian buku ajar, yaitu sebagai berikut : 1. Sudut pandang (point of view). Buku ajar harus mempunyai landasan, prinsip, dan sudut pandang tertentu yang melandasi atau menjiwai buku ajar secara keseluruhan. Sudut pandang ini dapat berupa teori psikologi, bahasa, dan sebagainya. 2. Kejelasan konsep. Konsep-konsep yang digunakan dalam buku paket harus jelas. Adanya penafsiran ganda perlu dihindari agar siswa atau pembaca dapat menangkap dan memahami kandungan buku ajar dengan tepat. 3. Relevan dengan kurikulum. Buku paket digunakan di sekolah-sekolah sebagai sumber bahan pelajaran. Oleh karena itu, buku ajar harus relevan dengan kurikulum yang berlaku. 4. Menarik Minat. Buku ajar ditulis untuk siswa. Karena itu penulisan buku ajar harus mempertimbangkan minat para siswa pemakai buku tersebut. Semakin sesuai buku ajar itu dengan minat siswa, semakin tinggi daya tarik buku tersebut. 5. Menumbuhkan Motivasi. Motivasi[26] yang dimaksudkan di sini adalah penciptaan kondisi yang ideal sehingga seseorang ingin, mau, senang mengerjakan sesuatu. Buku ajar yang baik adalah buku ajar yang dapat membuat siswa ingin, mau, senang mengerjakan apa yang diintruksikan dalam buku tersebut. 6. Menstimulasi aktivitas siswa. Buku ajar yang baik adalah buku ajar yang merangsang, menantang dan mengingatkan aktivitas siswa. Hal ini sesuai dengan konsep CBSA. 7. Ilustratif. Buku ajar harus disertai dengan ilustrasi yang mengena dan menarik. Ilustrasi yang relevan akan memperjelas hal yang dibicarakan.

8. Dapat dipahami siswa. Pemahaman harus didahului oleh komunikasi yang tepat. Faktor utama yang berperan adalah bahasa. Bahasa buku ajar hendaknya sesuai dengan bahasa siswa, kalimat efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan, dan menarik. 9. Menunjang mata pelajaran lain. Buku ajar PAI misalnya, di samping menunjang mata pelajaran lain seperti Olahraga, Sejarah, Ekonomi, Matematika, Kesenian, Geografi, dan sebagainya. 10. Menghargai perbedaan individu. Buku ajar yang baik tidak membesarbesarkan perbedaan individu tertentu. Perbedaan dalam kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya dan setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya. 11. Memantapkan nilai-nilai. Buku ajar yang baik berusaha memantapkan nilainilai yang belaku di masyarakat. Uraian-uraian yang menjurus kepada penggoyahan nilai-nilai harus dihindarkan.

Untuk meningkatkan mutu buku, telah ditempuh langkah-langkah konkret mulai dari menyusun kriteria buku pelajaran yang baik. Kriteria itu kemudian disosialisasikan kepada penulis dan penerbit. Menstandarkan bukan berarti menyeragamkan. Di satu pihak, pemerintah memberikan kriteria sebagai pegangan, di pihak lain pemerintah memberikan kebebasan pengembangan buku kepada penulis. Sejalan dengan Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) menjelaskan bahwa ”Buku teks pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dinilai kelayakan-pakainya terlebih dahulu oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebelum digunakan oleh pendidik dan/atau peserta didik sebagai sumber belajar di satuan pendidikan”. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh buku teks pelajaran yang memiliki kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan pada jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK. Dengan cara ini mudah-mudahan kita bisa menghasilkan buku pelajaran yang baik. Bahwa mungkin proses standardisasi itu ada kekurangannya akan diperbaiki berdasarkan pengalaman, baik pengalaman si penulis ketika

menggunakan kriteria yang terlihat dari buku hasil tulisannya maupun pikiranpikiran para penyusun standar tersebut yang terus berkembang. Buku ajar yang baik tentu memuat materi pembelajaran secara lengkap, tersusun baik, dan tidak mengandung hal-hal yang dapat menimbulkan gejolak yang tidak baik pada diri siswa. Dengan buku ajar yang baik, siswa dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan cara yang mudah. Dalam buku Telaah Kurikulum Bahasa Indonesia, menjelaskan kriteria buku ajar yang dianggap baik paling tidak memenuhi delapan kriteria sebagai berikut : a. Organisasi dan Sistematika Pengertian organisasi mengandung arti susunan (atau cara bersusun) sesuatu yang terdiri atas komponen atau topik dengan tujuan tertentu, sedangkan sistematika mengandung arti kaidah atau aturan dalam buku ajar yang harus diikuti. Sebuah buku ajar berisi berbagai informasi yang disusun sedemikian rupa sehingga buku tersebut dapat digunakan untuk memenuhi tujuan pembuatan buku ajar tersebut. Buku ajar PAI SMK tentu mempunyai organisasi dan sistematika yang baik. Dalam arti, buku ajar PAI setidaknya memuat pokok-pokok pembelajaran secara berurutan dan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam standar isi PAI. Organisasi buku ajar sebaiknya memenuhi semua komponen pembelajaran yang dibuat secara terpadu antara pendekatan komunikatif dan kontekstual (CTL). Keterampilan berbahasa dan bersastra, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis harus diurut sesuai dengan tingkat kesulitan dan keterkaitan antara topik yang satu dengan yang lainnya.

b. Kesesuaian isi dengan kurikulum, Maslow, sebagaimana dikutip dari Sudirman dan dikutip lagi oleh Pupuh Fathurrahman berkeyakinan bahwa minat seseorang akan muncul bila suatu itu terkait dengan kebutuhannya. Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu.[30]

Suharsimi Arikunto yang dikutip Pupuh Fathurrohman mengatakan bahwa materi atau bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik. Karena itu pula, guru khususnya, atau pengembangan kurikulum umumnya, harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan atau topik yang tertera dalam silabus berkaitan dengan kebutuhan peserta didik di masa depan. Sebab, minat peserta didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhannya. Materi merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajaran yang dikonsumsi oleh peserta didik. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Bahan ajar/materi yang diterima anak didik harus mampu merespon setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu persyaratan materi yang harus dipelajari oleh anak didik menghendaki buku ajar PAI SMK harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pembelajaran. Ketentuan itu tertuang dalam standar isi kurikulum mata pelajaran PAI. Selain ketentuan di atas, ada juga ketentuan lain yang tidak bisa diabaikan oleh buku ajar, yaitu: 1) 2) 3) 4) Tujuan pembelajaran Program pembelajaran Alokasi waktu, dan Pendekatan pembelajaran Tujuan pembelajaran mengarahkan ke mana sebuah pembelajaran. Jika ketentuan ini tidak dipenuhi, maka pengajaran akan berpoli arah tak menentu. Tujuan tidak tercapai atau malah tidak dapat diukur ketercapaianya. Penyebutan pembelajaran itu pada dasarnya menyuratkan adanya tujuan. Program pembelajaran juga amat penting untuk disajikan dalam buku ajar. Menurut Crow & Crow yang dikutip oleh Sutari Imam Barnadib mengatakan bahwa buku termasuk salah program satu dari alat-alat pengajaran agar atau tujuan

pembelajaran. Penyusunan

sebenarnya

dilakukan

pembelajaran dapat dicapai dengan baik. Tidak adanya program pembelajaran akan bermuara pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Demikian pula dengan alokasi waktu, juga sangat menentukan tercapainya tujuan. Tidak efisien dalam mengalokasikan waktu akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Mungkin terlalu cepat selesai sehingga banyak materi yang terlalu cepat dibahas, mungkin juga harus menambah banyak waktu tambahan karena terlalu terlena dengan materi yang disukai guru. Akhirnya pendekatan pun sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Pendekatan kognitif menjadikan siswa memahami bahan ajar sebatas

pengetahuannya saja, sedangkan pendekatan keterampilan proses lebih melibatkan unsur kreativitas siswa untuk mencari lebih banyak informasi yang terdapat dalam buku ajar itu.

c. Kesesuaian Pengembangan Materi dengan Tema/Topik Materi-materi pembelajaran dalam buku ajar dikembangkan oleh penulisnya dengan memperhatikan topik-topik pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum. Tujuan pengembangan materi adalah agar materi-materi pembelajaran mudah dicerna oleh pemakai buku, yaitu siswa. Supaya pengembangan materi terarah dan memenuhi sasaran penulisan buku, maka pengembangan materi harus didasarkan pada tema/topik. Tema/topik merupakan titik tolak pembelajaran PAI. Tema/topik selanjutnya akan mengarahkan penyusunan tujuan pembelajaran. Dengan dasar pijak alur penyusunan tersebut, penilaian terhadap buku ajar juga harus diarahkan pada kriteria sesuai tidaknya pengembangan materi dengan tema/topik.

d. Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif siswa juga perlu dipertimbangan dalam penulisan dan pemilihan buku ajar. Jadi untuk dapat memanfaatkan materi-materi pembelajaran yang menunjang kemampuan siswa, sebaiknya memilih materi yang memiliki tingkat kesulitan sedikit di atas rata-rata pada saat proses pembelajaran.

Namun demikian, variasi materi tetap diutamakan untuk menghindari kesulitan menangkap maksud yang ingin disampaikan atau sebaliknya menimbulkan kebosanan pada siswa.

e. Pemakaian/Penggunaan Bahasa Bahasa adalah alat komunikasi.[33] Dalam kaitan dengan pemakaian bahasa, buku ajar harus memenuhi kriteria pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dan mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan zaman dimaksud adalah perkembangan penggunaan bahasa Indonesia dalam buku ajar baik sebagai kutipan maupun bahasa tulis (pemakaian bahasa Indonesia saat ini). Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia dan situasi dan kondisi (konteks) komunikasi. Kriteria bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut : 1) siapa yang mengajarkan, 2) siapa yang menerima ajaran, 3) apa yang diajarkan, 4) kapan diajarkan, 5) di mana diajarkan, dan 6) melalui medium apa diajarkan.

f. Keserasian Ilustrasi dengan Wacana/Teks Bacaan Agar buku ajar menarik bagi siswa, buku ajar harus selalu disertai dengan ilustrai atau gambar. Di samping untuk tujuan menarik perhatian, ilustrasi atau gambar di dalam buku ajar juga mempunyai kegunaan lain, yaitu untuk mempermudah pemahaman dan untuk merangsang pembelajaran PAI secara komunikatif. Supaya kehadiran gambar di dalam buku ajar dapat berfungsi secara optimal, pemilihan dan peletakan gambar harus disesuaikan dengan teks bacaan atau wacana. Teks bacaan atau wacana harus berkaitan atau sejalan dengan ilustrasi atau gambar yang dicantumkan berkenaan dengan teks bacaan tersebut. Kaitan itu tidak cukup hanya dengan informasi-informasi yang ada di dalam buku suatu teks bacaan melainkan juga dengan gagasan-gagasan utama di dalam teks bacaan itu. Dengan demikian, pemilihan dan pencantuman ilustrasi juga akan dengan

sendirinya berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan tema/topik yang telah ditetapkan.

g. Segi Moral/Akhlak Moral atau akhlak juga merupakan kriteria penilaian buku ajar. Buku ajar PAI SMK, sebagaimana buku ajar lainnya, harus mempertimbangkan segi moral/akhlak. Hal ini penting karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat memelihara kerukunan umat beragama, yang sangat memperhatikan aspek-aspek moral dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kalau begitu, faktor-faktor apakah yang berkaitan dengan aspek akhlak yang harus dipertimbangkan dalam penulisan buku ajar atau penilaian isi buku ajar saat ini yang telah digunakan di sekolah. Faktor-faktor tersebut

meliputi pertama, sifat-sifat baik seperti kejujuran, sifat amanah (terpercaya), keberanian, selalu menyampaikan hal-hal yang baik, kesopanan, ketaatan beribadah, persaudaraan, kesetiakawanan, mencintai/mengasihi sesama makhluk, berbakti kepada orang tua, taat kepada pemimpin, dan sebagainya. Kedua, hendaknya dalam buku ajar tidak mencantumkan sesuatu yang dapat membangkitkan sifat-sifat buruk seperti kecurangan, pengecut, ketidaksopanan, keingkaran, kemungkaran, kejahilan, kekerasan, keberingasan, permusuhan, kekejian, kemalasan, sering berbohong, dan sebagainya.

h. Idiom Tabu Kedaerahan Kriteria terakhir dalam penilaian buku ajar adalah apakah terdapat idiom tabu kedaerahan? Idiom adalah bahasa dan dialek yang khas menandai suatu bangsa/daerah, suku, kelompok, dan lain-lain, sedangkan tabu adalah sesuatu yang terlarang atau dianggap suci, tidak boleh diraba dan sebagai (pantangan atau larangan). Idiom tabu adalah suatu bahasa atau dialek yang khas dimiliki oleh suatu daerah dan dianggap suci/baik serta tidak boleh dipermainkan. Buku ajar PAI sebagai media dalam proses belajar mengajar, sedapat mungkin terhindar dari idiom-idiom tabu kedaerahan. Suatu idiom dinyatakan tabu oleh suatu kebudayaan biasanya karena kebudayaan atau masyarakat yang

memiliki kebudayaan itu mempunyai pengalaman yang tidak baik, sakral atau dapat menyinggung perasaan orang lain. Bisa jadi juga kebudayaan atau suatu masyarakat itu memiliki sistem nilai yang menolak idiom-idiom tersebut. Oleh karena itu, pencantuman idiom-idiom tabu dapat menyebabkan siswa menjadi terbiasa dengan idiom-idiom itu. Berhati-hatilah dengan pemakaian bahasa yang mengarah ke sana. Akibat sesaat yang ditimbulkan oleh penyebutan idiom-idiom tabu kedaerahan adalah rasa risih, jijik, atau kesan tidak sopan. Akibat yang lebih jauh dari penyebutan idiom-idiom tabu kedaerahan yang berkali-kali adalah rusaknya sistem nilai yang dianut oleh masyarakat atau kebudayaan. Paling tidak penyebutan itu dapat mempengaruhi perkembangan psikhis siswa secara negatif. Selain itu, unsur-unsur yang harus dihindari adalah instabilitas nasional termasuk unsur-unsur SARA. Perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masing-masing suku, agama, ras, dan antargolongan seharusnya tidak dipertajam. Lebih baik apabila menghindari atau menjauhinya. Sedangkan Syamsul Arifin dan Adi Kusrianto memberikan tolok ukur buku ajar yang baik sebagai berikut : 1) Format buku sesuai dengan format ketentuan UNESCO, yaitu ukuran kertas A4 (21 x 29,7 cm), 2) Memiliki ISBN (International Standard Book Number)[34], 3) Dengan gaya bahasa semi formal, 4) Struktur kalimat minimal SPOK, 5) Mencantumkan TIU, 6) TIK dan kompetensi, 7) Disusun sesuai dengan Rencana Pembelajaran, 8) Menyertakan pendapat atau mengutip hasil penelitian pakar, 9) Menggunakan catatan kaki/catatan akhir/daftar pustaka dan jika mungkin menyertakan indek, 10) Mengakomodasi hal-hal/ ide-ide baru, 11) Diterbitkan oleh penerbit yang kredibel, dan 12) Tidak menyimpang dari falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setiap halaman buku hendaknya mengacu pada hal-hal berikut; setiap alinea berisi satu pokok pikiran, menggunakan alinea yang pendek, menggunakan kalimat-kalimat pendek, agar mudah diingat (10-14 kata per kalimat), setiap halaman dibuat menarik dan mudah diingat secara verbal maupum visual (mengindahkan kaidah penggunaan tipografi dan tata letak yang baik), setiap

halaman berisi teks, grafik/diagram, tabel, gambar (berupa foto maupun ilustrasi), inset pengingat, inset history, dan menuliskan kalimat motivasi dan inspirasi.

[22] Tim Penilai Buku Ajar, Pedoman Penilaian Buku Ajar, (Jakarta : Departemen Agama Direktorat PAIS). [23] Bambang Trim, Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku, (Bandung : Kolbu, 2006), hlm. xiv. [24] Tim Penilai Buku Ajar, op. cit. [25] Tarigan, Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung : Angkasa 1993), hlm. 20. Lihat juga Greene and Petty, Developing Language Skills in The Elementary Schools, (Boston : Allyn and Bacon, Inc.), hlm. 545-8. [26] Motivasi berarti pemberian atau penimbulan motif atau hal yang menjadi motif. Tegasnya, motivasi adalah motif atau hal yang sudah menjadi aktif pada saat tertentu, teritama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan terasa sangat mendesak. Abd. Rachman Abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm. 114. Atkitson, (et al) mengatakan “Motivation refers to the factors that energize and direct behavior” (Motivasi mengacu kepada faktor-faktor yang menggerakkan dan mengarahkan tingkah laku). Atkinson, Rita L., (et al.), Introduction to Psychology, (New York : Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1983), hlm. 314. Motivasi (motivation) adalah keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan, dan daya yang sejenis yang mengarahkan perilaku. Harold Koontz O. Donnel dan Heinz Weihrich, Management, (McGraw Hill : Kogaguska, 1980), hlm. 115. Motivasi juga diartikan suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulka faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju satu sasaran. James P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono, judul asli “Dictionary of Psychology”, (Jakarta : Rajawali, 1999), hlm. 310. Dalam diri seseorang, motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha, keinginan, menentukan arah, dan menyeleksi tingkah laku. Richard M. Hodgetts dan Donal F. Kurako, Management, (Sandiego : Harcourt Brace Pub., 1988), hlm. 284. Kemampuan adalah tenaga, kapasitas atau kesanggupan untuk melakukan suatu perbuatan yang dihasilkan dari bawaan sejak lahir atau merupakan hasil dari pengalaman. Usaha adalah penyelesaian suatu tugas untuk mencapai keinginan. Sedang keinginan adalah satu harapan, kemauan, atau dorongan untuk mencapai sesuatu atau untuk membebaskan diri dari suatu perangsang yang tidak menyenangkan. Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 243. [27] Ibid., hlm. 23. [28] Lihat Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) tentang Buku. [29] Telaah Kurikulum Bahasa Indonesia, hlm. 143-150.

[30] Pupuh Fathurrohman & M Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar : Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Bandung : Refika Aditama, 2009), hlm. 14. [31] Ibid. [32] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta : Andi Offset, 1993), hlm. 95. [33] Jabrohim, Chairul Anwar, dan Suminto A. Sayuti, Cara Menulis Kreatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 3. [34] ISBN sebenarnya lebih berhubungan pada proses pemesanan sebuah buku pada penerbit. Setiap buku yang diterbitkan pasti mempunyai ISBN yang berbeda. Oleh karena itu jika seseorang pembaca ingin memesan suatu buku, ia cukup menyebutkan judul buku dan ISBN-nya. Jika penyebutan ISBN-nya tepat, pasti pembaca akan mendpatkan buku sesuai dengan pesanannya dan tidak akan tertukar dengan judul buku lain atau tertukar dengan buku yang mempunyai judul sama, tetapi dijilid dengan sampul berbeda. Kadang-kadang, di belakang ISBN terdapat kode hb dan pb. Kode hb adalah kde untuk buku bersampul tebal (hb= hardback/hardcover), sedangkan kode pb adalah kode untuk buku yang bersampul tipis (pb = paperback/softcover). ISBN juga merupakan sarana promosi buku. Informasi ISBN ini disebarluaskan oleh Badan Nasional yang berada di Jakarta dan Badan Internasional yang berlokasi di Berlin. Badan Nasional ISBN menyebarkan informasi ISBN melalui berbagai terbitan, Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan majalah berita ISBN. ISBN terdiri atas 10 digit, di mana 1 sampai 3 digit pertama adalah group identity, 2 hingga 7 digit kedua disebut publisher identity, 1 hingga 6 digit adalah title identity (nomor urut buku), dan satu digit terakhir adalah check digit (nomor pemeriksa). Check digit selalu satu angka, jika angkanya lebih dari satu, ditulis dengan huruf romawi, misalnya X untuk 10. Contoh kode ISBN : ISBN 979-20-7304-3 atau 1-85172-034-0.
http://khoirawatidempo.wordpress.com/2012/03/13/tentang-buku-ajar/

http://zulkarnainidiran.wordpress.com/2009/06/28/131/
Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan bahan ajar. Prosedur itu meliputi: (1) memahami standar isi dan standar kompetensi lulusan, silabus, program semeter, dan rencana pelaksanaan pembelajaran; (2) mengidentifikasi jenis materi pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap poin (1); (3) melakuan pemetaan materi; (4) menetapkan bentuk penyajian; (5) menyusun struktur (kerangka) penyajian; (6) membaca buku sumber; (7) mendraf (memburam) bahan ajar; (8) merevisi (menyunting) bahan ajar; (9) mengujicobakan bahan ajar; dan (10) merevisi dan menulis akhir (finalisasi). Memahami standar isi (Permen 22/2006) berarti memahmai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini telah dilakukan guru ketika menyusun silabus, program semester,

dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Memahami standar kompetensi lulusan (Permen 23/2006) juga telah dilakukan ketika menyusun silabus. Walaupun demikian, ketika penyusunan bahan ajar dilakukan, dokumen-dokumen tersebut perlu perlu dihadirkan dan dibaca kembali. Hal itu akan membantu penyusun bahan ajar dalam mengaplikasikan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Selain itu, penyusunan bahan ajar akan terpandu ke arah yang jelas, sehingga bahan ajar yang dihasilkan benar-benar berfungsi. Mengidentifikasi jenis materi dilakukan agar penyusun bahan ajar mengenal tepat jenis-jenis materi yang akan disajikan. Hasil identifikasi itu kemudian dipetakan dan diorganisasikan sesuai dengan pendekatan yang dipilih (prosedural atau hierarkis). Pemetaan materi dilakukan berdasarkan SK, KD, dan SKL. Tentu saja di dalamnya terdapat indikator pencapaian yang telah dirumuskan pada saat menyusun silabus. Jika ketika menyusun silabus telah terpeta dengan baik, pemetaan tidak diperlukan lagi. Penyusun bahan ajar tinggal mempedomani yang ada pada silbus. Akan tetapi jika belum terpetakan dengan baik, perlu pemetaan ulang setelah penyusunan silabus. Langkah berikutnya yaitu menetapkan bentuk penyajian. Bentuk penyajian dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Bentuk-bentuk tersebut adalah seperti buku teks, modul, diktat, lembar informasi, atau bahan ajar sederhana. Masing-masing bentuk penyajian ini dapat dilihat dari berbagai sisi. Di antaranya dapat dilihat dari sisik kekompleksan struktur dan pekerjaannya. Bentuk buku teks tentu lebih kompleks dibandingkan dengan yang lain. Begitu pula halnya modul dengan yang lain. Yang paling kurang kompleksitasnya adalah bahan ajar sederhana. Sesuai dengan namanya ”sederhana”, tentu wujudnya juga sederhana. Jika bentuk penyajian sudah ditetapkan, penyusun bahan ajar menyusun struktur atau kerangka penyajian. Kerangka-kerangka itu diisi dengan materi yang telah diatetapkan. Kegiatan ini sudah termasuk mendraf (membahasakan, membuat ilustrasi, gambar) bahan ajar. Draf itu kemudian direvisi. Hasil revisi diujicobakan, kemudian direvisi lagi, dan selanjutnya ditulis akhir (finalisasi). Selanjutnya, guru telah dapat menggunakan bahan ajar tersebut untuk membelajarkan siswanya.

http://deyahya.blogspot.com/2011/11/makalah-penilaian-buku-ajar.html KRITERIA PENYUSUNAN BUKU AJAR Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 dijelaskan bahwa buku (teks) pelajaran adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang

memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa buku pelajaran adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional), berkaitan dengan bidang studi tertentu. Buku pelajaran merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya, biasa dilengkapi sarana pembelajaran (seperti pita rekaman), dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran. Kedudukan buku teks pelajaran sangatlah penting, baik bagi siswa maupun guru. Karena tingkat kepentingan itulah buku teks pelajaran haruslah layak untuk dijadikan tempat beroleh pengalaman. Buku teks pelajaran dapat dipandang sebagai simpanan pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan (Pusat Perbukuan, 2005). Karena sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya, buku teks pelajaran itu memberikan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri, baik tentang substansinya maupun tentang caranya. Dengan demikian, penggunaan buku teks pelajaran oleh siswa merupakan bagian dari budaya buku, yang menjadi salah satu tanda dari masyarakat yang maju. Badan standar nasional pendidikan (BSNP) mengeluarkan suatu pedoman penulisan buku teks yang di dalamnya menjelaskan tentang prinsip-prinsip penulisan buku. Ada tujuh prinsip yang di kemukakan BSNP yang di anggap ideal dalam penyusunan buku teks, yaitu sebagai berikut: 1. Kebermaknaan Prinsip ini menekankan pada ide, pikiran, gagasan dan informasi kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan 2. Keotentikan Prinsip ini menekankan kepada pemilihan dan pengembangan materi pelatihan berbahasa, yaitu: Berupa pelajaran atau wacana tulis atau lisan Banyak memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kemahiran fungsi kebahasaannya Menekankan fungsi komunikatif bahasa, yakni menekankan proses belajarmengajar Memenuhi kebutuhan berbahasa siswa Berisi petunjuk, pelatihan, dan tugas-tugas dengan memanfaatkan media cetak atau elektronik seoptimal-optimalnya Didasarkan hasil analisis kebutuhan berbahasa siswa Mengandung pemakaian unsur bahasa yang bersifat selektif dan fungsional, dan Mendukung terbentuknya performansi komunikatif siswa yang andal 3. Keterpaduan Penataan bahasa dan sastra dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut:

4.

5.

6.

7.

Mempertahankan keutuhan bahan Menuntut siswa untuk mengerjakan atau mempelajarinya secara bertahap, dan Secara fungsional, yakni bagian yang satu bergantung kepada bagian yang lain dalam jalinan yang padu dan harmonis menuju kebermaknaan yang maksimal Keberfungsian Keberfungsian ada pada pemilihan metode dan teknik pembelajaran. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam bagian ini adalah : Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamil bagian dalam peristiwa berbahasa yang seluas-luasnya Memberikan kepada siswa informasi, praktik, latihan, dan pengalaman berbahasa yang sesuai dengan kebutuhan berbahasa siswa Mengarahkan kepada siswa penggunaan bahasa bukan penguasaan pengetahuan bahasa Memungkinkan untuk memanfaatkan berbagai ragam bahasa dalam tindak/peristiwa bahasa yabg terjadi Di arahkan untukmengembangkan kemahiran berbahasa, dan Mendorong kemampuan berfikir/bernalar dan kreativitas siswa Performansi komunikatif Pengalaman belajar adalah segala sesuatu yang memungkinakan terjadinya peristiwa belajar. Hal ini dapat berupa kegiatan berbahasa, mengamati, berlatih atau bahkan merenung. Aspek "Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik" yang perlu di perhatikan dalam pemilihan pengalaman belajar ialah mendukung terbentuknya performansi komunikatif siswa yang andal sesuai bahan pelajaran, bermakna bagi perkembangan potensi dan kemahiran berbahasa siswa, sesuai dengan tuntutan didaktik metodik yang mutakhir, disajikan secara keberlanjutan dan berkaitan dengan pengalaman-pengalaman belajar berbahasa yang lain secara terpadu. Kebertautan Agar diperoleh hasil yang optimal, pembelajaran bahasa dengan menggunakan pendekatan komunikatif menurut penggunaan media dan sumber belajar. Usahakan penggunaan media dan sumber belajar yang dapat memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk belajar berbahasa (reseptif maupun produktif, lisan maupun tulis) berupa fakta berbahasa (rekaman peristiwa berbahasa) atau peristiwa aktual. Bahan tersebut bisa dicari oleh siswa atau di adakan oleh guru sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan berbahasa siswa, naik di dalam maupun dluar kelas, materi berbahasa yang disajikan berguna atau dapat dimanfaatkan setiap saat di sekitarnya sesuai dengan tuntutan kegiatan berbahasa yang mungkin dihadapi di masyarakat, bervariasi dan menantang, bermakna bagi pengembangan performansi komunikatif siswa secara optimal. Penilaian

Pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif menuntut penggunaan penilaian yang dapat mengukur secara langsung kemahiran berbahasa siswa secara menyeluruh dan terpadu. Penilaiannya juga yang dapat mendorong siswa agar aktif berlatih berbahasa secara tulis/lisan, secara produktif maupun reseptif, yang menghasilkan wacana tulis/lisan.

INSTRUMEN PENILAIAN BUKU AJAR Buku pelajaran merupakan buku teks yang digunakan siswa di Sekolah sebagai buku penunjang kegiatan pembelajaran. Buku pelajaran pada prosesnya memiliki peranan yang sangat penting bagi siswa karena buku pelajaran merupakan pegangan dan berlatih terhadap sebuah mata pelajaran. Saat ini banyak sekali penerbit buku yang menerbitkan buku pelajaran. Hal ini dapat dipahami karena penerbitan buku pelajaran memiliki sebuah kepastian konsumen yaitu para siswa. Karena banyaknya terbitan buku teks pelajaran yang ada, maka sebelum menentukan buku mana yang akan dipakai terlebih dahulu kita menilai kualitas buku yang ada. Ada beberapa faktor yang dapat kita jadikan bahan penilaian terhadap sebuah buku pelajaran. Kelayakan isi dan kelayakan penyajian merupakan hal yang perlu diperhatikan dari buku teks yang akan dipilih karena kedua hal tersebut menentukan kualitas dan kesesuaianya diterapkan pada siswa. 1. Kelayakan Isi Kelayakan isi menyangkut materi apa yang disajikan dalam buku pelajaran. Ada beberapa hal penting yang harus dipenuhi agar buku teks dapat dikatakan memiliki isi yang layak untuk dipakai. Kelayakan isi terlihat dari kesesuaian uraian materi dengan SK dan KD, keakuratan materi, dan materi pendukung. 2. Kesesuaian Uraian Materi dengan SK dan KD Materi yang termuat dalam buku teks harus jelas dan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan oleh BSNP dalam standar isi. Kesesuain materi ini meliputi kelengkapan materi dan kedalaman materi yang disajikan. 3. Kelengkapan Materi Materi yang disajikan mencakup semua materi yang terkandung dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) tanpa menyebutkan SK dan KD secara eksplisit. 4. Wacana Wacana dapat berupa 1) percakapan, 2) karangan atau laporan utuh: cerpen, novel, buku, artikel, pidato, khotbah; atau puisi merupakan materi utama yang harus ada dalam buku teks pelajaran Bahasa Arab. Wacana biasanya mengawali uraian materi setiap bab. Berdasarkan pada wacana itulah uraian materi, pemahaman wacana, fakta kebahasaan/kesastraan, dan implikasi wacana,

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

dibahas. Wacana yang disajikan mencakup ruang lingkup yang ada dalam standar isi berupa empat aspek keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) mulai dari pengenalan konsep sesuai dengan tuntutan yang ada di Standar Komptensi maupun Kompetensi Dasar pelajaran.. Pemahaman wacana Pemahaman wacana merupakan tahapan lanjut setelah membaca dan menyimak wacana. Pemahaman wacana berisi perintah, tugas. atau pelatihan yang mengarahkan peserta didik untuk memahami isi/pesan wacana Fakta kebahasaan / kesastraan Uraian materi berisi fakta kebahasaan: kalimat, kosa kata, istilah, ungkapan, peribahasa, atau kesastraan sesuai tuntutan SK dan KD Implikasi wacana Implikasi wacana merupakan unsur di luar wacana, bisa berupa analogi, perbandingan, kesejajaran wacana yang mampu memperkuat penyampaian materi sesuai dengan tuntutan SK dan KD. Implikasi wacana berisi konsep dasar keluasan materi melalui pelatihan, tugas, dan kegiatan mandiri sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik mampu menggali dan memanfaatkan informasi, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan dalam kerja ilmiah Kedalaman materi Materi memberikan ketuntasan belajar sesuai dengan tingkat pendidikan dan sesuai dengan SK dan KD. Tingkat kesulitan konsep sesuai dengan perkembangan peserta didik dan tidak ada tumpang tindih antarkelas, maupun antarjenjang pendidikan Kesuaian wacana Mengacu pada ruang lingkup yang ada dalam pada standar isi (empat aspek keterampilan berbahasa). Empat aspek keterampilan bahasa dimaksudkan meliputi: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Wujud uraian, mulai pengenalan konsep sampai dengan interaksi antarkonsep, dan memperhatikan tuntutan SK dan KD. Tingkat kesulitan disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik yang lebih menekankan pada “concreteoperational” dan “system of operations” . Kuantitas wacana Ditunjukkan oleh jumlah minimal yang sesuai dengan tuntutan SK dan KD. Untuk mencapai kedalaman materi, maka kuantitas wacana ditentukan oleh pengembangan atau penambahan dengan jenis wacana lain yang dapat berfungsi sebagai pembanding, penjelas, analogi, atau kebutuhan lain yang sejalan dengan tuntutan materi. Dengan demikian materi yang disajikan memuat sumber-sumber tambahan itu mencerminkan kontinuitas, dengan kedalaman spiralitas mengembangan materi. Materi yang ditampilkan menjadi lebih menarik dan inovatif, serta memotivasi peserta didik senang belajar Kualitas wacana

12.

13.

14.

15.

16.

Mencerminkan kedalaman materi yang ditentukan oleh keaktualan, kemutakhiran, kefaktualan, dan kevariasian topik. Kualitas wacana mencerminkan kedalaman isi/pesan dengan spiralitas pengembangan materi pelajaran bahasa. Keakuratan Materi Setelah materi memiliki kesesuaian dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditentukan pemilihan materi yang digunakan juga harus akurat. Jangan sampai ketika membahas kompetensi dasar tertentu materi yang disajikan kurang relevan terhadap pencapaian kompetensi dasar. Keakuratan materi dalam buku teks bahasa Indonesia tercermin dari hal-hal berikut, yaitu: Keakuratan dalam pemilihan wacana Wacana yang disajikan berdasarkan kenyataan yang ada (faktual) serta sedang hangat dibicarakan (aktual) dengan menyebutkan sumber yang jelas sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik. Keakuratan dalam konsep dan teori Konsep dan teori yang disajikan untuk mencapai KD sesuai dengan definisi sesuai dengan bidnag keilmuan (linguistik tidak menimbulkan banyak tafsir dan ilmu sastra, digunakan secara tepat sesuai dengan fenomena yang dibahas dan tidak menimbulkan banyak tafsir). Keakuratan dalam pemilihan contoh Uraian dan contoh menanamkan keruntutan konsep: yang mudah, sukar, konkret, abstrak, yang sederhana, kompleks yang telah dikenal dan yang belum dikenal. Contoh yang disajikan mengandung keunggulan nilai-nilai moral seperti keteladanan, kejujuran, tanggungjawab, kedisiplinan, kerja sama, dan toleransi. Keakuratan dalam pelatihan Pelatihan yang disajikan diawali dari konsep yang sederhana berkembang ke yang kompleks; konkret ke abstrak, mudah ke sulit, lingkungan dekat ke yang jauh secara bertahap dan berkesinambungan (continuity) sesuai dengan prinsip proses belajar.

http://blog.um.ac.id/rastrapermana/2011/12/09/pedoman-penulisan-buku/

Pedoman Penulisan Buku
Posted on December 9, 2011

A.

Pendahuluan

Mengutip Kep. Mendikbud No. 025/O/1995 tentang Petunjuk Tehnis Jabatan Fungsional Guru hal 9 dan Suharjono 2001:41 menyatakan :

Buku pelajaran, adalah bahan/materi pelajaran yang dituangkan secara tertulis dalam bentuk buku yang digunakan sebagai bahan pegangan belajar dan mengajar baik sebagai pegangan pokok maupun pelengkap. Dalam menulis buku pelajaran, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah meneliti dan melihat kurikulum yang berlaku, materi, pokok bahasan atau sub pokok bahasan apa yang tercantum dalam kurikulum. Dengan kegiatan tersebut, Penulis tidak akan sia-sia menulis buku pelajaran yang sudah disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Buku pelajaran ada yang bertaraf nasional dan propinsi. Apabila buku tersebut bertaraf nasional, maka harus ada pengesahan dari Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, atau Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Diknas atau yang ditunjuk. Nilai angka kredit buku bertaraf nasional ini 5 setiap buku. Apabila bertaraf propinsi, harus ada pengesahan dari Kepala Dinas Pendidikan Propinsi penulis, dan buku tersebut digunakan di daerah propinsi yang bersangkutan Nilai angka kredit buku bertaraf propinsi ini adalah 3 untuk setiap bukunya. Dalam menulis buku pelajaran, guru diperbolehkan menulis buku mata pelajaran yang dikuasai, tidak harus sesuai dengan disiplin ilmu yang diampu di sekolah yang bersangkutan. Tidak setiap guru akan mampu menulis buku semua mata pelajaran. Oleh karena itu dipilihlah materi pelajaran yang benar-benar dikuasai, akan lebih baik kalau sesuai dengan mata pelajaran yang diampu di sekolah. Apabila menulis buku pelajaran yang sesuai dengan kemampuan, dan bidang mata pelajaran yang diampunya, akan lebih mudah dalam penulisannya, disamping isinya juga akan lebih berbobot. Sepanjang buku tersebut belum disyahkan oleh Ditjen Managemen Pendas dan Menengah atau Ditjen PMPTK Diknas, atau Kepala Diknas Propinsi penulis, maka buku pelajaran atau karya ilmiah itu belum dapat diakui dan tidak dapat dinilai.

B.

Kaidah Penulisan Buku Pelajaran

Kaidah isi buku pelajaran mencakup : (1). Cakupan isi sesuai dengan kurikulum yang berlaku, (2). Urutan sajiannya sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam

kurikulum, (3). Tingkat kesulitan sesuai dengan tahapan pembelajaran yang ditentukan di kurikulum. Sedangkan kaidah/teknik penulisan seyogyanya; (1). Menggunakan bahasa Indonesia yang baku, (2). Menggunakan kalimat efektif, (3). Menggunakan huruf yang standar, (4). Dilengkapi contoh dan gambar yang memperjelas materi.

C.

Kerangka Penulisan

a. Kerangka Penulisan Buku Pelajaran adalah : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Tujuan pembelajaran umum Tujuan pembelajaran khusus Judul/Sub judul Uraian singkat isi pokok bahasan Uraian pokok isi pelajaran Ringkasan, Rangkuman Latihan, tugas, soal Sumber buku

b. Pendahuluan
   

Kata Pengantar Daftar Isi Penjelasan tujuan buku pelajaran Petunjuk Penggunaan Buku

Petunjuk Pengerjaan Soal

Bagian Isi
        

Judul bab atau topik isi bahasan Uraian singkat isi pokok bahasan Penjelasan tujuan bab Uraian isi pelajaran Penjelasan teori Sajian Contoh Ringkasan isi buku Soal Latihan Kunci jawaban, soal latihan

Bagian Penunjang
 

Daftar Pustaka Lampiran-lampiran

Buku ajar adalah buku yang digunakan dalam proses kegiatan belajar. Buku ajar dikenal pula dengan sebutan buku teks, buku materi, buku paket, atau buku panduan belajar. Untuk menjadi penulis buku ajar, dapat diawali dengan tahapan-tahapan berikut. 1. Membaca dan menelaah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD). SKKD adalah standar isi buku yang mengacu kepada kurikulum yang sedang digunakan. 2. Menyusun peta konsep. Peta konsep adalah sistematika pendistribusian materi yang mengacu kepada SKKD, semacam daftar isi. 3. Mengumpulkan materi yang relevan dengan SKKD untuk dijabarkan sesuai dengan peta konsep. Materi ini harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, aktualitas, kemenarikan, kegunaan, dan eksklusivisme.

4. Membaca buku ajar yang telah dinyatakan lolos BSNP agar memperoleh inspirasi dan dapat membuat modifikasi. 5. Memahami instrumen penilaian buku ajar yang telah ditetapkan BSNP. Ini disebabkan setiap buku ajar harus dinilaikan ke BSNP agar diperoleh standar isi yang sama. 6. Mengembangkan materi sesuai dengan peta konsep. Akan lebih baik jika diawali dari tingkat kebahasaan yang dikuasai. 7. Merefleksikan koherensi materi dalam satu bab/unit untuk ditemukan kekurangan, 8. Minta pertimbangan pihak lain untuk memberi kritikan atau input. 9. Buku siap dicetak Buku pengayaan yaitu buku yang disusun untuk memperkaya dan memperkuat materi yang telah disajikan dalam buku ajar. Buku pengayaan mempunyai banyak kelebihan dibandingkan buku ajar, seperti tidak dibatasi usia kurikulum, mempunyai cakupan materi lebih luas, masa edar lebih lama, dan tidak dibatasi waktu (deadline). Untuk menulis buku pengayaan, seorang penulis sebaiknya memahami langkah-langkah di bawah ini. 1. Memahami dengan baik SKKD sesuai dengan jenjang pendidikan. 2. Mengidentifikasi komponen SKKD yang masih memerlukan buku pengayaan. 3. Menyusun mind set (semacam daftar isi). 4. Mengumpulkan bahan. 5. Mengembangkan bahan sesuai dengan yang telah dibuat. 6. Meminta pihak ketiga untuk memberi masukan atau input. 7. Buku siap dicetak. Daftar Pustaka Akhadiah, Sabarti dkk. 2002. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Profesi 2006, Sosialisasi Sertifikasi Guru.

Departemen Pendidikan Nasional, 2004, Penulisan Karya Ilmiah. Departemen Pendidikan Nasional, 1993, Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru. Johan Wahyudi, 2010. Meningkatkan Profesionalisme Guru Dengan Menulis Buku. (http://www.gurumenulisbuku.blogspot.com/ , diakses tanggal 21 Oktober 2011) Prof. Dr. Supardi, 2006, Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Non Penelitian. Prof. Dr. Suhardjono, 2001, Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Pengembangan Profesi. Pusbuk Depdiknas. 2008. Sosialisasi Penilaian Standar Buku Teks Pelajaran 2008 (Periode 1). Solo : Pusbuk-Ikapi Jawa Tengah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->