P. 1
etika profesi

etika profesi

|Views: 26|Likes:
Published by Astrid Yanliatri

More info:

Published by: Astrid Yanliatri on Jun 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2012

pdf

text

original

Nama : Astrid Yanliatri NPM : 20108351 Kelas : 4KB01 SOAL UTS KASUS 1 Berikut adalah contoh pesan seorang

mahasiswa kepada dosen/dosen pembimbing melalui short message service: 1. Ibuuuu :’( ibu di kalimalangnya kapan?? Kalo gak didepoknya kapan bu? 2. Ciank ibu mav ganggu. Saya sudah di kmpus D Ibu da dmn? 3. Bu, maaf mengganggu, saya tia, mahasiswi cengkareng, hari ini benar mata kuliah ibu, atau bukan ya? Dipandang dari sudut etika, bagaimana pendapat Anda mengenai masing-masing sms diatas?

KASUS 2 Seperti kita ketahui bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat superjet 100 sukhoi beberapa waktu yang lalu. Setelah kejadian tersebut, banyak pihak menyebarkan fotofoto yang diklaim sebagai foto korban kecelakaan pesawat tersebut. Para pakar menyatakan bahwa foto-foto tersebut bukan merupakan foto asli korban kecelakaan pesawat sukhoi superjet 100. Bagaimana menurut pendapat saudara mengenai kasus tersebut ditinjau dari etika profesi?

Jawaban : 1. KASUS 1 : Ketiga pesan mahasiswa melalui media sms diatas, dapat dipandang dari beberapa sudut etika. Pertama, dipandang dari sudut etika berbahasa. Sebagai alat komunikasi, bahasa mempunyai aturan-aturan tertentu yang disesuaikan dengan
Astrid Yanliatri – Etika Profesi 2012 1

situasi dan komunikan yang menggunakannya. Pepatah mengatakan bahasa adalah cerminan pribadi seseorang, karena melalui tutur kata kita dapat menilai pribadi seseorang. Menurut pendapat saya, dipandang dari penggunaan bahasa, sms yang paling melenceng atau diluar dari etika berbahasa adalah sms yang kedua. Mahasiswa tersebut menggunakan bahasa yang seharusnya tidak untuk ditujukan kepada dosennya. Kedua, dipandang dari sudut etika sopan santun. Ketiga sms diatas boleh dikatakan kurang memiliki etika sopan santun. Sms pertama, mahasiswa menuliskan “Ibuuuu :’( ibu di kalimalangnya kapan?? Kalo gak didepoknya kapan bu?”, sms tidak dimulai dengan salam dan tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Sms kedua, mahasiswa menuliskan “Ciank ibu mav ganggu. Saya sudah di kmpus D Ibu da dmn?”, sms tidak menggunakan kata-kata yang formal, misal “Ciank”, padahal orang yang dia sms adalah dosennya yang artinya orang yang lebih tua darinya. Sms ketiga, mahasiswa menuliskan “Bu, maaf mengganggu, saya tia, mahasiswi cengkareng, hari ini benar mata kuliah ibu, atau bukan ya?”, sms tidak dimulai dengan salam. Padahal, dari tata bahasanya sms ini adalah yang paling baik, hanya saja yang membuatnya menjadi buruk adalah isi dari sms yang menanyakan apakah benar hari itu adalah mata kuliah dosennya. Seharusnya sebagai mahasiswa yang baik ia tidak perlu menanyakan hal tersebut karena hal itu membuat jelek etika profesinya sebagai mahasiswa. Ketiga sms diatas merupakan bentuk “sms gaul” yang sudah dianggap biasa bagi kalangan remaja. Sebenarnya, “sms gaul” tidak dilarang dan tidak selalu dianggap tidak sopan. Remaja boleh saja menggunakan “sms gaul” tersebut, namun bagaimanapun remaja harus mengerti akan situasi, kondisi dan tempat. Mungkin jika dengan teman yang sudah akrab, menggunakan “sms gaul” tidaklah menjadi masalah. Namun, jika dengan orang yang lebih tua seperti dosen, tindakan tersebut tentunya bukan tindakan terpuji.

Astrid Yanliatri – Etika Profesi 2012

2

Dari beberapa blog dan website yang saya baca, pada intinya sms formal sebaiknya mengikuti hal-hal berikut: a. Ucapkan salam, b. Pesan boleh singkat tapi jangan terlalu banyak singkatan, c. Sopan dan santun dalam menggunakan kata atau kalimat, d. Perkenalkan identitas diri secara jelas, dan e. Jangan lupa akhiri dengan ucapan terimakasih. Memang tidak semua orang akan bereaksi terhadap isi sms yang tidak berkenan, namun alangkah baiknya jika kita memperhatikan sopan-santun dalam berkirim sms terutama sms formal yang dikirimkan pada atasan, guru, orang tua atau siapapun yang perlu kita hormati.

2. KASUS 2 : Di dalam kasus kedua ini, jika dilihat dari sudut etika profesinya, pihak yang menyebarkan foto-foto tersebut sangatlah tidak memiliki rasa toleransi atas keluarga korban yang tertimpa musibah. Hal seperti itu dilakukan untuk membuat issue yang seolah-olah foto itu benar adanya, pelakunya mungkin melakukan hal tersebut atas dasar tindakan iseng untuk mencari perhatian publik. Kehadiran para pakar dalam kasus ini bisa menjadi bahan pendukung untuk mengklarifikasi benar atau tidaknya foto tersebut. Saat itu kemampuan sang pakar sangat dibutuhkan oleh masyarakat sehingga ada sikap yang diambil oleh sang pakar untuk mengembalikan keadaan masyarkat menjadi kondusif tanpa terpancing dengan ulah oknum atau pelaku penyebaran foto.

Astrid Yanliatri – Etika Profesi 2012

3

SOAL V-CLASS KASUS 1 Indonesia sudah memiliki UU mengenai informasi dan transaksi elektronik. Baca dengan teliti UU tersebut. Bagaimana menurut pendapat anda mengenai perlindungan konsumen terhadap transaksi perdagangan di dunia maya (ecommerce). Apakah UU ITE tersebut sudah mencakup seluruh aspek lubang keamanan dalam bertransaksi melalui dunia maya?

KASUS 2 Bacalah UU No.11 Th. 2008 tentang ITE dengan teliti. Menurut anda apakah ada halhal yang belum tercakup dalam UU tersebut terkait segala kegiatan transaksi yang memanfaatkan media elektronik? Elaborasikan jawaban anda.

Jawaban : 1. KASUS 1 : Tingginya pengguna internet memicu pelaku usaha untuk menempatkan produk mereka dalam layanan-layanan online berbasis web atau yang lebih dikenal dengan istilah perdagangan elektronik (e-commerce). Kesempatan pelaku usaha untuk memanfaatkan internet sebagai sarana promosi, transaksi, toko online, maupun sarana bisnis lainnya tidak dibarengi dengan lahirnya perangkat perundang-undangan yang mengatur hal tersebut. Akibatnya banyak pihak yang dirugikan akibat kekosongan hukum dalam cyberspace. Dengan munculnya undang-undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) memberikan dua hal penting yaitu, pertama pengakuan transaksi elektronik dan dokumen elektronik dalam kerangka hukum sehingga kepastian hukum transaksi elektronik dapat terjamin, dan yang kedua dijabarkannya tindakan-tindakan yang termasuk pelanggaran hukum terkait penyalahgunaan TI (Teknologi Informasi) (Pasal 27 s/d Pasal 37) disertai dengan
Astrid Yanliatri – Etika Profesi 2012 4

sanksi pidananya (Pasal 45 s/d Pasal 52). Dengan adanya pengakuan terhadap transaksi elektronik dan dokumen elektronik maka setidaknya kegiatan e-commerce mempunyai kelegalan.

2. KASUS 2 : Setelah membaca UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE, segala kegiatan transaksi yang memanfaatkan media elektronik sudah cukup tercakup didalamnya. Dalam UU tersebut, terdapat pengakuan transaksi elektronik dan dokumen elektronik dalam hukum dan telah dijabarkannya tindakan yang termasuk kedalam pelanggaran hukum yang terkait dengan penyalahgunaan TI beserta sanksi pidananya.

Astrid Yanliatri – Etika Profesi 2012

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->