P. 1
Sejarah Pendidikan Islam

Sejarah Pendidikan Islam

|Views: 223|Likes:
Published by munawaroh

More info:

Published by: munawaroh on Jun 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2014

pdf

text

original

BAB PEMBAHASAN DINASTI BANI UMAYYAH Setelah masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir, pemerintahan umat islam dilanjutkan

oleh Dinasti Bani Umayyah. Pemerintahan demokratis yang dikembangkan pada Masa Rasulullah saw. Dan Khulafaur Rasyidin berubah menjadi pemerintahan model monarki (turun-menurun). A. Sejarah Berdirinya Dinasti Bani Umayyah Sebelum membicarakan lebih lanjut mengenai sejarah Bani Umayyah. Terlebih dahulu akan diuraikan pengertian kata bani,dinasti dan daulah. Kata bani berarti anak, anak cucu atau keturunan, dengan demikian yang dimaksud Bani Umayyah adalah anak, anak cucu atau keturunan Umayyah bin Abdu Syams. Kata Dinasti berarti keturunan raja-raja yang memerintah dan semuanya berasal dari satu keluarga, jadi Dinasti Umayyah adalah keturunan raja-raja yang memerintah yang berasal dari Bani Umayyah. Adapun kata Daulah berarti kekuasaan, pemerintahan atau Negara. Dengan kata lain, Daulah Umayyah adalah Negara yang diperintah oleh Dinasti Umayyah yang raja-rajanya berasal dari Bani Umayyah. Mu’awiyyah bin Abu Sufyan adalah putra dari Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd asy -Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. IA MASUK ISLAM BERSAMA AYAHNYA PADA SAAT Fathu Makkah. Pada masa Nabi Muhammad saw, ia menjadi salah satu periwayat hadist yang baik. Pada masa Khalifah Abu Bakar As-Sidiq. Mu’awiyyah bin Abu Sufyan memimpin tentara islam dalam perang Riddah untuk menumpas kaum murtad. Peranan Mu’awiyyah bin Abu Sufyan bertambah besar pada masa Khalifah Usman bin Affan. Salah satu sebabnya adalah Usman bin Affan juga anggota Bani Umayyah. Pada waktu itu, Mu’awiyyah bin Abu Sufyan menjabat sebagai gubernur di Damaskus (Suriah). Peristiwa terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan menyebabkan perpecahan antara Mu’awiyyah bin Abu Sufyan dengan Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Usman bin Affan sebagai khalifah. Kelompok Bani Umayyah merasa tidak puas terhadap kebijakan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam menangani kasus terbunuhnya Usman bin Affan. Perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyyah bin Abu Sufyan akhirnya pecah menjadi Perang Siffin. Perang tersebut diakhiri dengan peristiwa tahkim yang menyebabkan munculnya kelompok Khawarij, yaitu kelompok dipihak Ali bin Abi Thalib yang tidak mau menerima hasil tahkim. Perselisihan tersebut berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Muljam dari kelompok Khawarij. Sepeninggalan Ali bin Abi Thalib, pemerintah dilanjutkan oleh putranya Hasan bin Ali. Akan tetapi, Hasan bin Ali ini hanya bertahan beberapa bulan. Posisinya yang makin lemah dan keinginannya untuk mempersatukan umat islam membuat Hasan bin Ali menyerahkan pemerintahan kepada Mu’awiyyah bin Abu Sufyan. Hasan bin Ali tidak menginginkan peperangan berkepanjangan yang menyebabkan banyak korban jiwa di kalangan umat islam. Peristiwa penyerahan kekuasaan dari Hasan bin Ali kepada Mu’awiyyah bin Abu Sufyan itu terkenal dengan sebutan amul-jama’ah atau tahun penyatuan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 661 M. Sejak saat itu, secara resmi pemerintahan islam dipegang oleh Mu’awiyyah bin

Abu Sufyan. Ia kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Madinah ke Damaskus (Suriah). Keturunan Umayyah memegang kekuasaan islam selama 90 tahun, kemudian dikenal dengan Dinasti Umayyah. Selam kurun waktu tersebut pemerintahan dipegang oleh 14 orang khalifah. Khalifah-khalifah itu adalah sebagai berikut: 1. Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Mu’awiyah I) 661-680 M 2. Yazid bin Mu’awiyah (Yazid I) 680-683 M 3. Mu’awiyah bin Yazid (Mu’awiyah II) 683-684 M 4. Marwan bin Hakam (Marwan I) 684-685 M 5. Abdul Malik bin Marwan 685-705 M 6. Al-Walid bin Abdul Malik (Al-Walid I) 705-715 M 7. Sulaiman bin Abdul Malik 715-717 M 8. Umar bin Abdul Aziz (Umar II) 717-720 M 9. Yazid bin Abdul Malik (Yazid II) 720-724 M 10. Hisyam bin Abdul Malik 724-743 M 11. Al-Walid bin Yazid (Al-Walid II) 743-744 M 12. Yazid bin al-Walid (Yazid II) 744 M 13. Ibrahim bin al-Walid 744 M 14. Marwan bin Muhammad (Marwan II) 744-750 M

B. Perkembangan kebudayaan/peradaban Islam pada Dinasti Umayyah Masa pemerintahan Dinasti Umayyah merupakan masa yang menentukan dalam perkembangan Islam. Pada masa itu, Islam meliputi wilayah yang paling luas dalam

sejarahnya. Seperti halnya bangsa-bangsa yang lain, umat Islam pada masa itu juga mengalami pasang surut. Dalam bahasan yang terdahulu disebutkan bahwa pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, Islam terpecah menjadi beberapa golongan. Setiap golongan mempunyai tokoh yang mereka yakin paling berhak menduduki jabatan khalifah. Dalam perkembangan selanjutnya. Mu’awiyah bin Abu Sufyan berhasil menduduki jabatan khalifah. Pada waktu itu, umat Islam terpecah menjadi tiga golongan besar. Tiga golongan tersebut sebagai berikut: 1. Golongan Pendukung Dinasti Umayyah Golongan ini terdiri dari penduduk Syam suriah, Mesir dan daerah- daerah sekitarnya. Mereka berpendapat bahwa khalifah harus berasal dari orang Quraisy dan keturunan Dinasti Umayyah lebih berhak untuk itu. 2. Golongan Pendukung Au bin Abi Talib Golongan ini disebut juga golongan Syiah, terutama terdiri dari penduduk Irak serta sejumIah kecil penduduk Mesir. Mereka berpendapat bahwa khalifah harus berasal dan orang Quraisy dan Ali bin Abi Talib serta anak turunnya Iebih berhak untuk itu. 3. Golongan Khawarij Golongan ni adalah golongan yang menentang Al bin Abi Talib dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan secara terang-terangan. Golongan ini berpendapat bahwa Ali bin Abi Talib dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan telah keluar dan jalur Islam setelah peristiwa tahkim. GoIongan Khawarij berpendapat bahwa khalifah adalah hak tiap-tiap orang Islam asalkan memenuhi syarat kecakapan dan keagamaan. Dalam menghadapi golongan yang menentangnya, Dinasti Umayyah menggunakan militer dan diplomasi. Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, diplomasi politik dijalankan dengan sangat baik. Khalifah Umar bin Abdul Aziz berhasil menggandeng golongan Syiah dan goIongan Khawarij sehingga pada masa itu Dinasti Umayyah mencapai stabilitas yang tinggi. Hal itu terbukti dengan tidak adanya gangguan keamanan yang berarti pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada,masa Dinasti Umayyah,dibentuk lima lembaga pemerintahan. Lima lembaga tersebuI adalah : 1- Lembaga Politik (an-Nizam as-Siyasi) 2- Lembaga Keuangan (an-Nizam al-Mali) 3- Lembaga Tata Usaha Negara (an-Nizam al-Idari) 4- Lembaga Kehakiman (an-Nizam al-Qoda’i) 5- Lembaga Ketentaraan (an-Nizam al-Harbi) Selain lima lembaga tersebut, dibentuk pula Dewan Sekretaris Negara (Diwanul-Kitabah). Dewan ini bertugas mengurusi berbagai macam urusan pemerintahan. Dewan ini terdiri dari Iima orang seknetaris, yaitu : 12345Sekretaris Persuratan (Katibar-Rasa’il) Sekretaris Keuangan (Katib al-Kharraj) Sekretaris Tentara (Katib al-Jund) Sekretaris Kepolosian (Katib asy-Syurtah) Sekretaris Kehakiman (Katib al-Qadi)

Untuk mengurusi keselamatan khalifah, dibentuklah aI-Hijabah atau ajudan. Semua orang yang akan menghadap khalifah harus meminta izin kepada al-Hijabah. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari pembunuhan terhadap khalifah yang sering terjadi sebelumnya. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa system politik pada masa Dinasti Umayyah sudah cukup maju. Pada masa Dinasti Umawah juga dibentuk lembaga ketentraman. Dibentuknya Lembaga Ketentraman itu dimaksudkan oleh para khalifah Dinasti Umayyah untuk menambah kekuatan militer mereka. Selain itu, para khalifah Dinasti Umawah menganut politik ekspansionis, yaitu kebijakan untuk memperluas wilayah kekuasaan. Kebijakan itu tentunya harus didukung oleh militer yang kuat. Lembaga tersebut juga didukung oleh Lembaga Keuangan. Lembaga Keuangan ini mempunyai tugas mengatur keuangan Negara dalam membentuk barisan tentara yang kuat. Disamping itu dalam Dewan Sekretaris Negara juga terdapat sekretaris Negara yang erat dengan militer, yaitu Sekretaris Tentara dan Sekretaris kepolosian. Dengan konsolidasi yang cukup kuat tersebut, para khalifah Dinasti Umayyah mampu mengatasi segala gangguan kemanan dar golongan yang menetangnya. Gangguan-gangguan pemberontakan Husein bin AIi, pemberontakan Mukhtar, dan pemberontakan Abdullah bin Zubair. 1. Pemberontakan Husein bin Alih di Kufah terjadi pada tahun 680 M.Husein bin Ali Terbunuh dalam sebuah pertempuran di Karbala. Tempat itu sampai saat ini banyak didatangi oleh umat Islam dan golongan Syiah yang ingin berziarah ke makam Husein bin Ali. 2. Pemberontakan Mukhtar di Kufah merupakan kelanjutan pemberontakan Husein bin Ali Peristiwa ini terjadi pada tahun 685 M. 3. Pemberontakan Abdullah bin Zubair terjadi di Mekah pada tahun 692 M. Keberhasilan mengatasi gangguan-gangguan tersebut membuka jalan bagi para khalifab, Dinasti Umawah untuk memperluas wilayah. Sampai pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah sudah meliputi Afrika Utara, Spanyol, Suriah, Jazirah Arab, Asia Kecil, Persia, Afganistan, Pakistan dan Turkistan. Wilayah itu merupakan wilayah kekuasaan islam terluas dalam sejarab Islam. Perbaikan system politik Negara pada masa Dinasti Umayyah dilakukan dengan pembentukan lembaga-lembaga pemerintahan . Hal itu banyak membawa pengaruh positif bagi kehidupan masyarakat. Terutama dengan dibentuknya Lembaga Keuangan Negara (an-Nizam aI-Mafi). Tugas lembaga tersebut, antara lain : 1- Mengatur gaji tentara dan pegawai Negara 2- Mengatur biaya tata usaha Negara 3- Mengatur biaya pembangunan sarana pertanian, seperti penggalian terusan dan perbaikan sarana irigasi. 4- Mengatur biaya untuk orang-orang hukuman dan tawanan perang 5- mengatur biaya perlengkapan perang 6- mengatur hadiah-hadiah untuk ulama dan sastrawan Negara.

Dengan adanya lembaga keuangan tersebut pemerintah mampu membangun panti untuk orang jompo dan anak yatim. Selain itu, dibangun saran-sarana umum, seperti masjid, jalan dan saluran air. Di bidang hukum warga Negara mendapat hak perlindungan hukum dan pemerintah. Hal itu dilaksanakan oleh Lembaga Kehakiman Negara (an-Nizam aI-Qada’i). Lembaga ani dipimipin oleh seorang hakim yang bertugas memutuskan suatu perkara dengan ijtihad berdasarkan Al-Qur’an, dan hadist. Adanya perlindungan hukum ini memberikan pengaruh terhadap perkembangan di bidang-bidang yang lain, seperti bahasa, seni dan budaya. C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pusat kegiatan ilmiah masa Dinasti Umawah adalah kota Basrah dan Kufah di Irak Perkembangan ilmu pengetahuan itu ditandai dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan muslim dalam berbagai bidang. Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah adalah orang pertama yang menerjemahkan buku tentang astronomi, kedokteran, dan kimia. Di samping Khalid bin Yazid merupakan seorang penyair dan orator yang terkenal. Pada masa pemerintahnnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz sering mengundang para ulama dan fukaha ke istana untuk mengkaji ilmu dalam berbagai majelis. Ulama-ulama lain yang muncul pada waktu itu adalah Hasan al-Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri dan Wasil bin Ata. Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, bahasa Arab digunakan sebagai bahasa administrasi Negara. Penggunaan bahasa Arab yang makin luas membutuhkan suatu panduan kebahasaan yang dapat dipergunakan oleh semua golongan. Hal itu mendorong Iahirnya seorang bahasawan yang bernama Sibawaih. Ia mengarang sebuah buku yang berisi pokok-pokok kaidah bahasa Arab yang berjudul al-Kitab. Buku tersebut bahkan termasyhur hingga saat ini. Bidang kesastraan juga mengalarni Kemajuan. Hal itu ditandai dengan munculnya sastrawansastrawan berikut, yaitu 1- Qays bin Mulawwah, termasyhur dengan sebutan La/Ia Majnun (wafat 699 M) 2- Jamil aI-Uzri (wafat 701 M) 3- al-Akhtal (wafat 710 M) 4- Umar bin Abi Rabi’ah (wafat 719 M) 5- aI-Farazdaq (wafat 732 M) 6- lbnu al-Muqaffa (wafat 756 M) 7- Jarir (wafat 792 M) Pada masa Dinasti Umayyah pembangunan fisik juga rnendapatkan perhatian yang besar. Dengan berpindahnya pusat kekuasaan keluar dan Jazirah Arab, pembangunan di berbagai bidang digalakkan. Bukti-bukti peninggalan bersejarah dan masa Dinasti Umayyah rnenunjukkan bahwa pada masa itu umat Islam sudah mencapai tingkat peradaban yang tinggi. Hal itu menjadi cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan yang ada saat ini. OIeh karena itu, umat Islam selayaknya berusaha keras untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga Islam kembali mencapai kejayaan. D. Meneladani Kepribadian Umar bin Abdul Aziz Beliau lahir di kota Madinah tahun 63H/683M. Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah daulah Bani Umayyah yang ke-8. BeIiau telah mampu membawa daulah Bani Umayyah ke puncak kejayaan.

Nama lengkap beliau adalah Abu Hafs Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakan bin As bin Umayyah bin Abdu Syams. Ibunya bernama Laila Ummu Ashim bin Umar bin Khattab. Beliau memilik gaya kepemimpinan seperti khalifah Umar bin Khattab. Beliau memiliki gaya kepemimpinan seperti khalifah Umar bin Khattab. Maka beliau dijuluki Umar bin Khattab II. Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini sangat disegani oleh kawan maupun Iawan politiknya, bahkan dia adalah satu-satunya khalifah dari Bani Umayyah yang tidak pernah dicela para khaIifah Bani Abbasiyah pada masa selanjutnya. 1) Biografi Umar bin Abdul Aziz Pada waktu kecil, Umar bin Abdul Aziz sering berkunjung ke rumah paman dan ibunya. Abdullah bin Umar bin Khattab, dia sering mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin hidup seperti kakeknya, Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah hingga ayahnya wafat tahun 704 M. Kemudian, pamannya yang bernama Abdul Malik bin Marwan membawanya ke Damaskus dan menikahkannya dengan putrinya, Fatimah. Umar bin Abdul Aziz memperoleh pendidikan di Madinah. Pada waktu itu, Kota Madinah merupakan pusat ilmu pengetahuan serta gudang para ulama hadis dan tafsir. Pendidikan yang ia peroleh sangat memengaruhi kehidupan pribadinya dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Dinasti Umayyah. Pada masa pemerintahan al-Walid bin Abdul MaIik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Gubernur Hijaz yang berkedudukan di Madinah. Ketika itu, ia baru berumur 24 tahun. Ketik Masjid Nabawi dibongkar atas penintah al-Walid bin Abdul Malik untuk diganti dengan bangunan yang baru. Umar bin Abdul Aziz dipercaya sebagai pengawas pelaksana pembangunan. Penampilan Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur sangat benbeda dengan gubernur yang lain. Ia dikenal sebagai gubernur yang adil, bijaksana, mengutamakan dan memerhatikan kepentingan rakyat, serta mau mendiskusikan berbagai masalah penting yang berkaitan dengan agama, urusan rakyat dan pemerintahan. Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah Dinasti Umawah berdasarkan wasiat khalifah Dinasti Umawah sebelumnya. Suliaman bin Abdul Malik. Setelah mejadi khalifah, terjadi suatu perubahan atas dirinya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz meninggalkan cara hidup bermewahmewahan dan menjadi seorang yang zahid dan abid. Ia selalu melakukan cara hidup yang ketat atas diri dan keluarganya. Khaiifah Umar bin Abdul Aziz mengembalikan semua harta yang ada pada dirinya ke baitulmal, Berlian yang ada pada istrinya dikembalikan ada pada dirinya ke baitumal. Ia mengharamkan atas dininya untuk mengambil apa pun dari baitulmal. 2) Usaha-usaha Khalifah timar bin Abdui Aziz Dalam sub bab ini dibahas usaha-usaha Khalifah Umar bin Abdui Aziz dalam bidang agama, pengetahuan, sosial, poltik, ekonomi, militer, serta dakwah dan perluasan wilayah. a. Bidarig Agama Dalam bidang usaha yang dilakukan adalah sebagai benikut: 1- Menghidupkan kembali ajaran AlQur’an dan sunnah nabi 2- Mengadakan kerja sama dengan ulama-ulama besar, seperti Hasan al-Basri dan Sulaiman bin Umar 3- Menerapkan hukum syariah Islam secara serius

4- Memerintahkan Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri mengumpulkan hadis-hadis untuk diseleksi apakah palsu atau tidak. b. Bidang pengetahuan Dalam bidang ini usaha yang dilakukan adalah memindahkan sekolah kedokteran yang ada di lskadariah (Mesin) ke Antiokia dan Harran (Turki) c. Bidang Social Politik Dalam bidang ini usaha yang dilakukan adaIah sebagai berikut: 1- Menerapkan politik yang menjunjung tinggi nilai kebenaran dan keadilan di atas segalanya. 2- Mengirim utusan-utusan ke berbagai negeri untuk melihat Iangsung cara kerja para gubernur dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan. 3- Memecat gubernur yang tidak taat menjalankan agama dan bertindak zalim terhadap rakyat. d. Bidang Ekonomi Dalam bidang ini, usaha yang dilakukan adalah 1- Mengurangi beban pajak 2- Membuat aturan mengenai timbangan dan takaran 3- Membasmi system kerja paksa 4- Memperbaiki tanah pertanian,irigasi,pengairan surnur-sumurdan pembangunan jalan raya 5- Menyantuni fakir miskin dan anak yatim. e. Bidang Militer Dalam bidang ini, Khalifah Umar bin Abdul Aziz kurang menaruh perhatian untuk membangun angkatan perang yang tangguh. Ia Iebih mengutamakan urusan dalam negeri, yaitu meningkatkan taraf hidup rakyat. f. Bidang Dakwah dan Perluasan Wiiayah Menurut Khalifah Umar bin Abdul Aziz, perluasan wilayah tidak harus diIakukan dengan kekuatan militer tetapi dapat dilakukan dengan cara berdakwah amar makruf nahi munkar. Selain itu Umar bin Abdul Aziz berusaha menghapus kebiasaan mencela Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dalam khotbah setiap salat Jum’at. Kebiasaan yang tidak baik itu ia ganti dengan pembacaan firman Allah swt. Dalam Surat an-NahI Ayat 90 yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” 3) Jasa-Jasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz Adapun jasa-jasa Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi khalifah Dinasti Umayyah adalah a. Menciptakan perdamaian yang dilandasi ajaran Islam b. Meningkatkan kesejahteraan rakyat c. Melindungi hak asasi manusia d. Menyusun undang-undang tentang pertahan e. Membangun tanah pertanian Iengkap dengan pengairan f. Membangun masjid-masjid sebagai syiar Islam g. Menyediakan dana khusus untuk menolong orang-orang miskin

h. Melakukan pembukuan terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah selama dua setengah tahun. Waktu yang relatif singkat itu ia gunakan untuk membuat kebijaksanaan di berbagai bidang. DaIam melaksanakan kebijaksanaannya, ia tidak memanfaatkan kebijaksanaan itu untuk memperkaya diri. Bahkan menerapkan pola hidup sederhana. Sebagai keluarga bangsawan,ia sangat mungkin hidup mewah Sebelum menjadi khalifah, ia pun gemar memakai wangi-wangian dan pakaian sutra. Setelah menjadi khalifah, keadaannya berbalik. Pakaian yang ia kenakan diganti dengan kain kasar.Tanah perkebunan dan perhiasan istrinya ia jual dan hasilnya dimasukan ke baitul mal. E. Runtuhnya Dinasti Umayyah Dinasti Bani Umayyah dan dinasti Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan islam yang besar, namun tidak dapat bertahan sampal sekarang. Dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus (Syiria) dihancurkan oleb dinasti Abbasiyah (743 M), sedangkan yang berpusat di Andalusia (spanyol) diserang oleh kerajaan kristen Eropa yang berhasil mengusir hampir seluruh kaum muslim yang ada di Spanyol (1031 M). Dinasti Abbasiyah runtuh karena serangan tentara mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan (1258) sehingga berakhirlah masa pemerintahan dinasti Islam yang sudah dibangun selama bertahun-tahun, Setelah masa kedua dinasti besar itu, Islam memasuki masa yang dalam sejarah dikenal dengan masa pertengahan sekitar tahun 1250-1800 M. Sebab-sebab runtuhnya Bani Umayyah adalah sebagai berikut: 1. Figur Khalifah yang Lemah Pemindahan ibuu kota dari Madinah ke Damaskus merupakan sebab awal munculnya faktor kelemahan ini. Seperti diketahui, Damaskus merupakan bekas ibu kota Kerajaan Bizantium mulai mempengaruhi dan akhirnya menjadi gaya hidup dinasti Umayyah. Mereka terbiasa menjalani kehidupan mewah dan jauh dari gaya hidup Islami seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Hal ini menyebabkan figur-figur Khalifah menjadi figur yang lemah. Hanya ada lima khalifah yang besar dan mampu memerintah dengan kuat. Mereka adalah Mu’awiyah, Abdul Malik, al Walid, Umar II dan Hisyam. Hisyam adalah negarawan kelima yang besar dari Dinasti Umayyah. Sebelum masa Hisyam, seperti yang ditunjukkan oleh yazid II, para khaNlfah bahkan menghabiskan waktu dengan berburu.dan minum anggur. Mereka Iebih sibuk idengen musik clan syair-syair clan pacia Al-Ouran dan urusan Negara. Karena harta kekayaan melimpah jumlah budak menjadi berlebihan. Akhimya, mereka tidak bisa mengendalikan hidupnya Para khalifah juga tidak lagi bisa membanggakan darah bangsawan Arabnya yang murni. Yazid III merupakan khalifah Islam pertama yang ibunya seorang budak belian yang dimerdekakan. Semua itu telah melemahkan semangat dan daya juang keluarga Dinasti Umayyah. Flak Istimewa Bangsa Arab Suriah Umayyah bin Khalat merupakan moyang Dinasti Umayyah yang telah lamB menetap di Suriah jauh sebelum j_datang. OIe1 karena itu[iTidupaThan 5HangUEh Dinasti Uma ah tidak bisa dilepaskan dali orang-orang Suriah. SelanjutnyaDinasti Umayyah membentuk aristokrasi

ml ter rab yang secara turuntemurun membentuk kelas-kelas sosial dan tingkatan masyarakat. Tentara Suriah adalah Jantung kekuatan militer Dinasti Uma Sebagai s.rteIcuatanatan, mereka memperole bagianterbesardariharta rampasarL Perang. Masyarakat Suriah pada umumnya juga mendapat hak yang isUmewa itu. Tidak mengherankan apabila kemudian terjadi kesenjangan yang dalam antara masyarakat Suriah dan golongan Iainnya. Keadaan mi menimbulkan kecemburuankaum muslim Arab di Madinah Mekah, dan I kepadaorang-orang muslin non-Arab (mawali) dan non muslim. Akan tetapi kehidupan mereka tidak Iebih balk dibanding dengan keluarga-keluarga Suriah pada 1 ecmbun Yan1tbesar ditini2lea2r!2aoranrnuslinil:h mnya dan dan _____ sus lagi a a ah orang-orang Islam_Persj. ermusuhan den an Dinasti Umayyah bahkan menunjukkan ika anmerekatiamemperoIehpersamaandahmbidangekonomidan itu oran sosial pupus sudah. Kedudukan mer an diturunkan menjadi mawali ya yang sangat berganiUsinyapadamajikanmerekaorang-angraLiMere mengeluh atas perlakuan engan memanoangnya seoagai nai tiflak sesuai a prinsip-prinsip dan ajaran Islam Pemerintah yang Tidak Demokratis dan Korup Pada masa Khulafaurrosidin, pemilihan khalifah dilakukan secara musyawarah dan demokratis. Dalam Perjanjian ‘Amul Jama’ah antara Hasan bin All dan Mu’awiyah menyflgu.Qpemiliahan khalifah sesudahnya dilAkukan dengen musyawaroh dan pemilihan yangdkaidnurMrImmENamurnvtuaw1yarrniungmRafl9anjiltu,la sebagal putra mahkota dan khalifah sesudahnya. Hal itu berFangsung secara turun temurun. Disamping menghianati Perjanjian ‘Amul Jam’àh, penunjukan itu juga berlawanan dengan prinsip senioritas dalam pemilihan pimpinan di kalangan Bangsa Arab. Pemimpmn adalah orang yang dianggap dan dianggap paling mampu serta berpengalaman. Akibatnya, beberapa khalifah Dinasti Mu’awiyah berasal bukan dan garis keturunan Mu’awiyah. Corftohnya adalah Marwan. Keadaan menjadi Iebih sulit lagi ketika Marwan juga menginginkan anaknya, Abdul Malik, sebagai khalifall sesudahnya. Selain itu, Marwan juga merencanakan Abdul Azis, anaknya yang lain, sebagai khalifah sesudah Abdul Màlik. Hal itu tentu saja membuat keadaan dalam istana serta 2. 3. pemerintah tidak setabil serta mengancam kelangsungan Dinasti Umayyah. Keadaan it.. membuat administrasi pemerintah terlalaikan. Hal itu juga mendorong para pejabatnya melakukan korupsi dan mementingkan din sendiri. Pemerintahan menjadi lamban dan tidak etesien. Rakyat makin tidak menyukai pemerintahan Dinasti Umayyah. Akibatnya, penentangan pun bermunculan dimana-mana. 4. Persaingan Antar Suku

Persaingan antar suku sudah lama menjadi ciri Bangsa Arab. Sikap Dinasti Umayyah kembali memunculkan hal tu. Suku-suku Arab terbagi menjadi dua kelompok besar. yaitu Bangsa Arab Utara disebut Arab Qaisy atau Maduri dan Bangsa Arab Seatan disebut Arab Yamani atau Himyari. Dalam pertikaian itu, Dinasti Umayyah mendukung suku Arab Yamani yang lebih cocok dengan mereka. Serangkaian Deperangan antara dua suku Arab itu sangat memperlemah kekuatan Dinasti Umayyah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->