P. 1
1

1

|Views: 9|Likes:
Published by Ab Gani

More info:

Published by: Ab Gani on Jun 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2014

pdf

text

original

BAB 2 HASIL PEMBANGUNAN DALAM PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG PERTAMA

BAB 2 HASIL PEMBANGUNAN DALAM PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG PERTAMA I. PENDAHULUAN Sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945 sampai dengan tahun 1965, bangsa Indonesia mengalami gelombang pertentangan politik dan rentetan pergolakan yang terus-menerus sehingga usaha memperbaiki kehidupan sosial ekonomi belum tertangani dengan baik. Hal itu telah mengakibatkan keadaan ekonomi mengalami kemerosotan yang sangat memberatkan dan menyebabkan penderitaan rakyat banyak. Mulai tahun 1966, Orde Baru dengan perjuangan yang sungguh-sungguh telah berhasil menciptakan stabilitas nasional, baik di bidang ekonomi, politik maupun di bidang keamanan, dan telah melakukan serangkaian pembangunan nasional secara terusmenerus, terarah dan terpadu, bertahap dan berencana, serta konstitusional. 79

Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Pertama (PJP I), yang telah dimulai sejak tahun 1969, dilaksanakan dalam rangkaian pembangunan jangka lima tahun, yaitu mulai dari Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama (Repelita I) sampai Repelita V. Pembangunan dalam setiap repelita dilaksanakan berlandaskan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), yang ditetapkan Majelis Permusyawaratan Rakyat setiap lima tahun, sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang menyatakan, "Oleh karena Majelis Permusyawaratan Rakyat memegang kedaulatan negara, maka kekuasaannya tidak terbatas, mengingat dinamika masyarakat, sekali dalam 5 tahun Majelis memperhatikan segala yang terjadi dan segala aliran-aliran pada waktu itu dan menentukan haluan-haluan apa yang hendaknya dipakai untuk kemudian hari. " Setiap repelita pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat serta meletakkan landasan yang kuat bagi pembangunan tahap berikutnya. Sasaran utama PJP I adalah terciptanya landasan yang kuat bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang atas kekuatan sendiri menuju masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Dalam pelaksanaannya, titik berat pembangunan diletakkan pada bidang ekonomi dengan sasaran utama untuk mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri, serta terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Tujuan, sasaran, dan titik berat pembangunan tersebut di atas telah mempertegas pengertian bahwa sebagian besar usaha pembangunan dalam PJP I diarahkan kepada pembangunan ekonomi. Sementara itu, pembangunan di luar bidang ekonomi dilaksanakan secara seirama dan serasi dengan kemajuan yang dicapai dalam bidang ekonomi. Untuk mencapai sasaran utama PJP I, serta sejalan dengan titik berat pembangunan dalam PJP I, telah ditetapkan sasaran tiaptiap bidang pembangunan. Sasaran tersebut pada pokoknya adalah sebagai berikut.

80

(1) Bidang ekonomi: terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat dan tercapainya struktur ekonomi yang seimbang, yaitu kemampuan dan kekuatan industri yang maju didukung oleh kekuatan dan kemampuan pertanian yang tangguh. Struktur ekonomi yang seimbang ini akan dicapai secara bertahap melalui Repelita I sampai Repelita V. (2) Bidang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan sosial-budaya: terciptanya kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia yang selaras baik dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama maupun dengan alam sekitarnya serta memiliki kemantapan keseimbangan dalam kehidupan lahiriah dan batiniah serta mempunyai jiwa yang dinamis dan semangat gotong royong yang berkembang sehingga sanggup serta mampu melanjutkan perjuangan bangsa dalam mencapai tujuan nasional dengan memanfaatkan landasan ekonomi yang seimbang. (3) Bidang politik dalam negeri: mantapnya kesadaran kehidupan politik dan kenegaraan berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945 bagi setiap warga negara sehingga dapat terjamin kelancaran usaha mencapai tujuan nasional, sedangkan pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif diusahakan agar Indonesia dapat terus meningkatkan peranannya dalam memberikan sumbangannya untuk turut serta menciptakan perdamaian dunia yang abadi, adil, dan sejahtera. (4) Bidang pertahanan keamanan: terciptanya sistem pertahanan keamanan rakyat semesta yang mampu menyukseskan dan mengamankan perjuangan nasional pada umumnya, pembangunan nasional pada khususnya, dari setiap ancaman baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

81

Pembangunan jangka panjang tahap pertama ini berakhir pada tahun 1993/94 dengan hasil yang secara garis besar akan diuraikan pada bagianbagian selanjutnya. Selama 25 tahun pelaksanaan pembangunan dalam PJP I, pembangunan telah dilaksanakan secara terus-menerus, makin meningkat, meluas, mendalam, dan makin merata dalam kerangka Trilogi Pembangunan, yaitu perpaduan untuk mewujudkan pemerataan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan stabilitas nasional yang dinamis. Pembangunan dalam PJP I telah berhasil mengatasi berbagai masalah mendasar dan telah memberikan hasil yang berupa peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan serta membangun landasan yang kuat bagi tahap pembangunan berikutnya. Pembangunan dalam PJP I telah berhasil menciptakan kestabilan ekonomi yang mantap dan mengembangkan lembaga ekonomi yang mampu mendukung pembangunan sehingga tercipta landasan yang kuat bagi bangsa Indonesia untuk memasuki proses tinggal landas dalam PJP II. II. PEMBANGUNAN DI BIDANG EKONOMI Pembangunan selama 25 tahun di bidang ekonomi telah dengan pesat mengubah struktur ekonomi Indonesia dari ekonomi terpimpin menjadi ekonomi yang terbuka dan dengan demikian dengan berbagai prinsip ekonomi yang mendasar yang telah diterapkan seperti prinsip anggaran berimbang dan dinamis, sistem devisa bebas, mendorong penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, serta kebijaksanaan ekonomi makro yang berhati-hati telah menghasilkan 82

pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang memungkinkan upaya pemerataan. Struktur ekonomi juga telah berkembang dari ekonomi agraris tradisional menjadi ekonomi yang lebih maju, dengan struktur yang lebih kukuh, yaitu ekonomi yang didukung oleh industri yang makin kuat dan pertanian yang makin tangguh sehingga kebutuhan pokok rakyat telah makin terpenuhi secara makin merata.

1. Pertumbuhan Ekonomi Selama 25 tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai rata-rata 6,8 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi ini telah diiringi dengan keberhasilan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk sehingga secara rata-rata taraf kehidupan rakyat Indonesia terus meningkat. Pendapatan per kapita yang pada tahun 1969 baru mencapai US$70 telah meningkat menjadi sekitar US$700 menjelang akhir PJP I. Pertumbuhan ekonomi secara nasional juga didukung dengan peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) yang cukup tinggi di seluruh propinsi. Peningkatan tiap propinsi bervariasi dari yang terendah sebesar 13 kali dan yang tertinggi sebesar 26 kali dari tahun 1975 sampai tahun 1990, dan secara rata-rata PDRB meningkat sebesar 17 kali. Perlu pula dicatat bahwa peningkatan yang tertinggi justru terjadi di propinsi yang bukan berada di Pulau Jawa, yaitu Propinsi Sulawesi Tenggara dan Propinsi Riau. 2. Penanggulangan Kemiskinan Laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat tersebut juga disertai penyebaran manfaatnya. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan penurunan secara tajam jumlah penduduk miskin. Pada tahun 1970, jumlah penduduk Indonesia yang tergolong miskin masih sekitar 70 juta orang atau 60 persen dari seluruh penduduk. Pada tahun 1976 telah turun menjadi 54,2 juta atau sekitar 40,1 persen, dan pada tahun 1990, jumlah penduduk miskin telah menurun lagi menjadi 27,2 juta orang atau sekitar 15 persen dari seluruh penduduk. 3. Pengendalian Laju Inflasi Laju inflasi yang sebelumnya merupakan masalah besar telah mampu dikendalikan sehingga tercipta stabilitas ekonomi yang

83

mantap. Laju inflasi yang pada tahun 1966 mencapai 650 persen, pada tahun 1970-an telah dapat diturunkan menjadi rata-rata 17,2 persen per tahun. Pada tahun 1980-an laju inflasi ini telah jauh menurun menjadi rata-rata 8,7 persen per tahun. Pada tahun 1990 dan 1991, laju inflasi agak naik, yaitu rata-rata 9,5 persen per tahun karena memanasnya perekonomian Indonesia sebagai akibat peningkatan kegiatan investasi yang luar biasa pada tahun-tahun tersebut. Namun, melalui berbagai kebijaksanaan, tingkat inflasi telah dapat dikendalikan di bawah 5 persen pada tahun 1992. Pada tahun 1993 laju inflasi tetap dipertahankan pada tingkat satu angka. 4. Struktur Ekonomi Nasional

Pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh stabilitas ekonomi yang mantap juga telah diiringi dengan pergeseran pada struktur ekonomi Indonesia ke arah yang makin kukuh dan seimbang. Peranan sektor industri dalam produksi nasional terus meningkat, dan sejak tahun 1991 sumbangan sektor industri sudah melampaui sumbangan sektor pertanian, yaitu dengan perbandingan 20,8 persen dan 19,6 persen. Ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap minyak bumi dan gas juga makin berkurang. Apabila pada tahun 1981 sumbangan sektor migas dalam produksi nasional mencapai 24 persen, pada tahun 1992 sumbangan sektor migas telah turun menjadi 13 persen. Struktur perolehan devisa Indonesia juga makin kukuh dengan makin berkurangnya ketergantungan pada minyak bumi dan gas. 5. Struktur Penerimaan Dalam Negeri dan Peran Sumber Pembiayaan Dalam Negeri

Penerimaan dalam negeri pemerintah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang pesat diikuti dengan perubahan struktur yang makin kukuh. Penerimaan dalam negeri pemerintah yang hanya berjumlah Rp149,7 miliar dalam tahun 1968 diperkirakan mencapai Rp52,8 triliun dalam tahun 1993/94 dengan peranan penerimaan nonmigas mencakup 71,3 persen, yang

84

meningkat dari 29,4 persen pada tahun 1981/82. Peningkatan penerimaan nonmigas tersebut terutama berasal dari penerimaan pajak, khususnya pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai. Peningkatan penerimaan dalam negeri bahkan lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan penerimaan pembangunan atau bantuan luar negeri. Dalam tahun 1968, seluruh dana pembangunan masih berasal dari bantuan luar negeri. Dalam tahun 1993/94 peranan bantuan luar negeri diperkirakan hanya 15,3 persen dari total penerimaan, yang sebagian besar dalam bentuk bantuan bersyarat lunak. Kemampuan pemerintah yang makin meningkat itu memungkinkan ditingkatkannya kesejahteraan pegawai secara terus menerus, baik dalam bentuk gaji maupun dalam bentuk lainnya seperti pelayanan kesehatan. Meskipun pengeluaran rutin terus meningkat, tabungan pemerintah juga terus meningkat, dari Rp 27,2 miliar dalam tahun 1969/70 diperkirakan menjadi Rp 15,7 triliun pada tahun 1993/94. Dengan meningkatnya tabungan pemerintah, dana pembangunan meningkat pula dengan pesat dari Rp 57,9 miliar pada tahun 1968 diperkirakan menjadi Rp 25,2 triliun dalam tahun 1993/94. Dilihat dari sumber pembiayaannya, sumbangan tabungan pemerintah dalam dana pembangunan meningkat dari tidak ada sama sekali pada tahun 1968 diperkirakan menjadi 62,1 persen pada tahun 1993/94 yang menunjukkan meningkatnya kemandirian dalam pembiayaan pembangunan. 6. Lembaga Keuangan Bidang keuangan dan moneter selama 25 tahun, khususnya selama dasawarsa terakhir, telah mengalami banyak kemajuan. Kemampuan sektor keuangan untuk menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat sangat meningkat. Jumlah dana yang berhasil dihimpun melalui perbankan meningkat dari hanya Rp 76,6 miliar pada tahun 1968 menjadi Rp 141,9 triliun pada tahun 1993. Upaya penghimpunan dana masyarakat untuk pembangunan ini terutama 85

sangat pesat perkembangannya sejak kebijaksanaan deregulasi pada tahun 1983, yang telah memberi peluang lebih besar bagi bank untuk menentukan tingkat suku bunga deposito yang menarik. Pengerahan dana masyarakat oleh perbankan meningkat lebih pesat lagi setelah deregulasi bulan Oktober 1988, yang mempermudah dibukanya bank baru dan kantor cabang sehingga jangkauan jaringan bank makin luas. Sejalan dengan perkembangan tersebut, penyaluran dana melalui kredit perbankan juga meningkat pesat. Jumlah kredit yang disalurkan telah sangat meningkat dari sebesar Rp 126 miliar dalam tahun 1968 menjadi Rp 148, 3 triliun dalam tahun 1993. Jumlah ini telah termasuk kredit yang diperuntukkan bagi usaha golongan ekonomi lemah atau pengusaha kecil melalui berbagai macam kredit dalam rangka meningkatkan usahanya. Kredit yang telah disalurkan untuk pengusaha golongan ekonomi lemah hingga pertengahan tahun 1993 mencapai sekitar 27 persen dari total kredit perbankan. Perkembangan pesat juga terjadi pada lembaga keuangan di luar perbankan, yang mencakup usaha perasuransian, lembaga pembiayaan, lembaga keuangan bukan bank dan dana pensiun. Selain itu, pasar modal yang sudah mulai dirintis pada tahun 1972 dengan berdirinya Badan Pembina Pasar Uang dan Modal, yang selanjutnya diikuti dengan berbagai deregulasi sampai dialihkannya penyelenggaraan bursa efek Jakarta kepada badan swasta pada tahun 1993, telah mendorong peningkatan investasi saham dan obligasi di pasar modal. Pada tahun 1993 investasi saham dan obligasi telah mencapai Rp74,9 triliun. 7. Neraca Pembayaran Internasional Selama 25 tahun pembangunan, sektor perdagangan luar negeri Indonesia meningkat pesat. Nilai keseluruhan ekspor meningkat menjadi sekitar 43 kali, yaitu dari US$872 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$37,2 miliar pada tahun 1993/94. Peningkatan pesat ini terutama berasal dari ekspor nonmigas yang terjadi terutama sejak pertengahan tahun 1980-an

86

setelah langkah deregulasi di berbagai bidang menunjukkan dampaknya. Nilai ekspor nonmigas menjadi makin penting dan meningkat menjadi sekitar 50 kali, yakni dari US$569 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$28,2 miliar pada tahun 1993/94, dan peranannya mencapai 75,8 persen dari nilai seluruh ekspor. Peningkatan nilai ekspor yang pesat ini diikuti pula dengan perubahan komposisi barang dan pasar ekspor yang lebih luas. Seiring dengan perkembangan ekonomi di dalam negeri, perdagangan impor juga mengalami peningkatan. Secara keseluruhan nilai impor meningkat menjadi sekitar 35 kali, yaitu dari US$831 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$29,2 miliar pada tahun 1993/94. Impor dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan, terutama oleh sektor industri, peranannya makin penting dalam komposisi impor. Di bidang jasa, penerimaan devisa dari pariwisata mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Dalam tahun 1968 penerimaan devisa dari pariwisata masih sangat kecil, tetapi sejak dasawarsa 1980-an peningkatannya sangat pesat sehingga diperkirakan mencapai US$3,8 miliar pada tahun 1993/94. Sebagai negara berkembang yang membutuhkan dana pembangunan yang besar, transaksi berjalan Indonesia selama PJP I secara umum menunjukkan defisit kecuali pada tahun 1979/80 dan tahun 1980/81, pada waktu terjadi kenaikan harga minyak bumi dan harga ekspor komoditas lainnya. Namun, defisit transaksi berjalan selalu dapat terkendali dalam batas yang aman. Dalam PJP I pinjaman luar negeri pemerintah meningkat dari US$266 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$5,9 miliar pada tahun 1993/94. Sebagian besar pinjaman tersebut tetap dalam bentuk bantuan bersyarat lunak. Pemasukan modal (neto) swasta meningkat dari US$65 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$6,7 miliar pada tahun 1993/94, dan penanaman modal asing (neto) meningkat dari US$10 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$2,0 miliar pada tahun 1993/94. 87

Cadangan devisa selama PJP I berhasil dipelihara pada tingkat yang memadai untuk menciptakan iklim yang aman bagi kebutuhan transaksi luar negeri dan kebutuhan pembangunan nasional. Jumlah cadangan devisa pada tahun 1993/94 diperkirakan cukup untuk membiayai impor (c. & f.) selama 5,5 bulan. 8. Pertanian, Industri, dan Pertambangan

Dalam PJP I, pembangunan pertanian mendapat prioritas utama dalam pembangunan bidang ekonomi, sasaran pokoknya adalah swasembada beras. Swasembada beras dapat dicapai pada tahun 1984, dan dapat dipertahankan sampai sekarang. Keberhasilan ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang berswasembada. Swasembada beras terwujud dengan berbagai kebijaksanaan yang terpadu sehingga laju peningkatan produksi padi melebihi laju, pertumbuhan penduduk. Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992 berbagai hasil pertanian penting juga mengalami peningkatan produksi. Kesemuanya telah membuat meningkatnya pendapatan petani, dan berperan besar dalam menurunkan kemiskinan. Peningkatan produksi pertanian dapat terwujud antara lain karena dukungan prasarana pengairan yang makin luas. Pembangunan prasarana pengairan mendapatkan prioritas yang tinggi dalam PJP I seiring dengan prioritas yang diberikan pada pembangunan pertanian. Dengan peningkatan produksi basil pertanian, 88

sektor pertanian mengalami pertumbuhan ratarata 3,6 persen per tahun. Penyerapan tenaga kerja di sektor ini meningkat dari 24,9 juta orang pada tahun 1969 menjadi 36,5 juta orang pada tahun 1993. Pertumbuhan sektor pertanian yang cukup tinggi telah disertai peningkatan produktivitas dan luas areal pertanian sehingga meningkatkan kesejahteraan petani. Hal ini dicerminkan oleh

meningkatnya pendapatan dan kemampuan daya beli petani, termasuk nelayan. Produk domestik bruto rill per tenaga kerja per tahun di sektor pertanian meningkat dari sekitar Rp427.000 pada tahun 1971 menjadi Rp625.000 pada tahun 1990. Pembangunan pertanian juga telah berperan dalam mengentaskan penduduk dari kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan telah menurun dari 44,2 juta jiwa pada tahun 1976 menjadi 17,8 juta jiwa pada tahun 1990. Sementara itu, selama 25 tahun terakhir sektor industri mengalami perkembangan yang sangat pesat. Antara tahun 1969 dan tahun 1992, produksi sektor industri telah tumbuh dengan ratarata sekitar 12 persen per tahun. Pertumbuhan yang cepat ini telah meningkatkan sumbangannya dalam produk domestik bruto (PDB) dari 9,2 persen dalam tahun 1969 menjadi 21 persen dalam tahun 1992. Sementara itu, meskipun produksi pertanian juga terus meningkat, sumbangan sektor pertanian dalam produksi nasional telah menurun dari 49,3 persen dalam tahun 1969 menjadi 19,2 persen dalam tahun 1992. Perkembangan ini menunjukkan prestasi yang sangat berarti dan telah memperkukuh struktur ekonomi nasional. Selama PJP I, industri telah dapat menghasilkan berbagai kebutuhan pokok masyarakat seperti pangan, sandang, dan bahan bangunan, serta menghasilkan sarana dan peralatan untuk keperluan peningkatan produksi dan pengolahan hasil pertanian. Pada repelita yang terakhir, industri lebih berkembang sehingga mampu meningkatkan barang-barang modal yang canggih serta rancang bangun dan perekayasaan. Pengembangan industri telah berhasil mendorong perkembangan pesat dalam ekspor. Ekspor nonmigas dalam lima tahun terakhir telah tumbuh dengan rata-rata sekitar 19,1 persen per tahun, dan khususnya industri pengolahan meningkat sekitar 21,1 persen. Sementara itu, industri kecil dan menengah juga berkembang. Industri ini menyerap tenaga kerja yang banyak dan juga merupakan penghasil devisa.

89

Keberhasilan di sektor pertanian dan industri telah pula diikuti keberhasilan pembangunan di sektor pertambangan. Produksi berbagai hasil pertambangan antara tahun 1968 dan 1992/93 meningkat pesat sehingga telah meningkatkan kemampuan dalam menyediakan bahan baku bagi industri dalam negeri, serta meningkatkan ekspor dan penerimaan negara. 9. Prasarana Pembangunan di berbagai sektor produksi tersebut di atas dan sektor lainnya dimungkinkan karena pembangunan berbagai macam prasarana yang mendukung. Jaringan prasarana listrik telah meningkat dan meluas serta makin merata di seluruh penjuru tanah air. Pembangunan tenaga listrik telah meningkatkan kapasitas penyediaan tenaga listrik dari 661,6 megawatt pada tahun 1968 menjadi 21.598 megawatt pada akhir PJP I. Selain itu, desa yang menikmati aliran listrik yang jumlahnya sedikit sekali pada awal Orde Baru telah meningkat menjadi 2,2 ribu desa pada tahun 1978/79, pada saat program listrik perdesaan dimulai dan sekarang pada akhir. Repelita V telah menjangkau 30,4 ribu desa atau mencakup 49 persen dari jumlah seluruh desa. Konsumsi energi secara menyeluruh telah meningkat dari 50,1 juta setara barel minyak (SBM) pada tahun 1969/70 menjadi 449,1 juta SBM pada akhir Repelita V, yang mencerminkan peningkatan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kemajuan ekonomi nasional juga didukung oleh dan tercermin pada peningkatan dan perluasan jaringan pelayanan prasarana perhubungan seperti jalan, pelabuhan, dan telekomunikasi. Pembangunan seperempat abad ini telah mengubah situasi perekonomian Indonesia dari perekonomian yang memiliki jaringan infrastruktur yang serba kurang dan sangat ketinggalan pada akhir dasawarsa 1960-an menjadi perekonomian yang didukung oleh jaringan infrastruktur yang makin baik. Ini merupakan faktor kemajuan yang penting karena tersedianya prasarana dasar yang cukup merupakan salah satu ciri dari, dan sekaligus landasan bagi, perekonomian yang modern dan dinamis. 90

Pembangunan di sektor transportasi telah berhasil memperlancar arus manusia, barang, dan jasa serta informasi ke seluruh penjuru tanah air sehingga dapat mendukung dan mempercepat pencapaian sasaran pembangunan serta memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa dan ketahanan nasional. Panjang jalan secara keseluruhan pada akhir PJP I adalah 244.170 kilometer, dan kondisi jaringan jalan arteri dan jalan kolektor mencapai kondisi 85 persen mantap. Panjang jalan kereta api adalah 5.051 kilometer dengan kondisi 54 persen mantap. Dalam rangka mendorong ekspor nonmigas telah dibangun pelabuhan peti kemas di Belawan, Tanjung Priok, dan Tanjung Perak, serta telah dibuka 127 pelabuhan laut untuk meningkatkan perdagangan luar negeri. Jaringan pelayanan penerbangan telah mencakup 240 rute yang menjangkau seluruh propinsi dan beberapa kawasan dunia. Di samping itu, telah pula ditingkatkan 19 bandar udara yang berfungsi sebagai pintu masuk bagi penerbangan internasional. Di samping kemajuan di sektor transportasi, pengembangan jasa pos dan giro telah memperluas cakupannya sehingga menjangkau seluruh wilayah tanah air. Sampai dengan tahun 1992/93 pelayanan pos dan giro telah dapat menjangkau 3.715 ibukota kecamatan dan 932 lokasi transmigrasi. Sementara itu, jaringan prasarana telekomunikasi sebagai sarana penting dalam pembangunan telah berkembang pesat pula. Apabila pada awal PJP I hanya ada telepon sekitar 172 ribu satuan sambungan dengan teknologi lama, maka pada tahun 1992/93 telah terpasang lebih dari 2,3 juta satuan sambungan dengan teknologi baru dan jaringan distribusi yang menjangkau pelosok di wilayah tanah air. Jaringan sentral telepon otomat telah dapat menjangkau seluruh ibukota daerah tingkat II. Kemajuan dalam pembangunan fasilitas pelayanan pos dan giro, dan jaringan telekomunikasi tersebut telah berhasil meningkatkan arus lalu lintas surat dan informasi antardaerah dan ke seluruh pelosok tanah air serta dari atau ke luar negeri. 91

10. Perdagangan, Dunia Usaha, dan Koperasi Upaya pembangunan di sektor perdagangan telah dapat menyumbangkan sistem tata niaga dan distribusi nasional yang makin efisien dan efektif. Sejalan dengan pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi, peran perdagangan telah meningkat. Dalam tahun 1969 nilai tambah pada harga berlaku yang dihasilkan oleh sektor perdagangan (termasuk hotel dan restoran) masih Rp476 miliar, dan pada tahun 1992 nilai tambah tersebut telah mencapai Rp42,6 triliun. Kemajuan itu didukung oleh pembangunan prasarana fisik perdagangan berupa pasar, pertokoan, dan pusat perbelanjaan, serta pergudangan, baik oleh Pemerintah maupun oleh swasta; pengembangan prasarana kelembagaan perdagangan, yang ditujukan untuk terciptanya tertib niaga, kepastian berusaha serta perlindungan konsumen; upaya peningkatan peranan pedagang nasional termasuk pedagang kecil dan menengah golongan ekonomi lemah dengan memberikan prioritas pembinaan iklim berusaha termasuk fasilitas perkreditan, bimbingan, pelatihan, dan konsultasi, serta pelayanan informasi pasar, dan peningkatan promosi pemasaran hasil produksi dalam negeri. Keberhasilan dalam memajukan sektor perdagangan bersamaan dengan keberhasilan dalam memajukan dunia usaha. Pada akhir PJP I peranan dunia usaha dalam pembangunan sudah sangat meningkat tercermin antara lain dari peningkatan investasi, peningkatan ekspor nonmigas serta peningkatan penerimaan pajak yang sebagian besar berasal dari dunia usaha. Peningkatan investasi ditunjukkan oleh peningkatan yang sangat pesat dalam jumlah dan nilai persetujuan penanaman modal. Jika pada tahun 1967/68 disetujui 45 proyek penanaman modal asing (PMA) dengan nilai investasi sebesar US$471,3 juta, sampai dengan tahun 1992/93 jumlah kumulatif proyek yang disetujui

92

adalah 55 kali lipat, yaitu 2.486 proyek dengan nilai investasi 116 kali lipat, yaitu US$54,9 miliar. Pada tahun 1968 hanya ada persetujuan 26 proyek penanaman modal dalam negeri (PMDN) dengan nilai investasi Rp37 miliar. Sampai dengan tahun 1992/93 jumlah kumulatif proyek PMDN adalah 320 kali lipat menjadi 8.321 proyek, sedangkan nilai investasi meningkat menjadi Rp215,4 triliun atau menjadi 5.821 kali lipat. Selama PJP I sebagian besar investasi PMDN dan PMA masih terpusat di Jawa, tetapi secara bertahap menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Pada Repelita I, nilai PMDN yang disetujui di Jawa mencapai 76 persen, dan pada Repelita V turun menjadi 63,8 persen dari nilai investasi dalam periode yang bersangkutan. Nilai PMA yang disetujui di Jawa pada Repelita I mencapai 85,6 persen, dan pada Repelita V turun menjadi 72,1 persen. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai investasi di luar Jawa. Dunia usaha juga telah disemarakkan oleh perkembangan BUMN yang mantap selama PJP I. Hal ini ditunjukkan oleh makin mampunyai BUMN mengemban fungsinya, baik sebagai sumber penerimaan negara maupun sebagai perintis berbagai kegiatan usaha, dan sebagai badan usaha yang turut menjaga stabilitas harga barang dan jasa yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Keberhasilan BUMN sebagai perintis usaha itu memberikan dampak berupa lebih terbukanya kesempatan bagi koperasi dan swasta untuk memasuki usaha baru. Sementara itu, pengembangan usaha kecil, informal dan tradisional selama PJP I telah meningkatkan kemampuan pengusaha kecil, informal dan tradisional untuk berperan serta dalam pembangunan. Peningkatan kemampuan itu antara lain tercipta melalui berbagai pembinaan usaha untuk mengembangkan kewiraswastaan melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, pembimbingan, dan penyuluhan, serta dengan kemitraan bersama usaha besar dalam hubungan bapak angkat. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan usaha disediakan pula berbagai

93

kemudahan kredit dan permodalan seperti kredit usaha perdesaan (kupedes), serta bantuan untuk tempat berusaha, bimbingan teknologi, informasi pasar, dan pemasaran. Kupedes yang telah disalurkan sampai dengan tahun 1992/93 berjumlah Rp1,7 triliun. Apabila dibandingkan dengan penyaluran kupedes sampai dengan akhir Repelita IV sebesar Rp606,5 miliar, berarti meningkat 180,3 persen. Jumlah nasabah penerima kupedes juga menunjukkan peningkatan. Sampai dengan tahun terakhir Repelita IV, yaitu tahun 1988/89 ada sekitar 1,4 juta nasabah. Sampai dengan tahun 1992/93 menjadi sekitar 1,7 juta nasabah, berarti meningkat sekitar 21,4 persen. Sementara itu, simpanan perdesaan (simpedes) yang terhimpun sampai dengan tahun 1992/93 berjumlah Rpl,7 triliun dengan jumlah penyimpan sebanyak 5,3 juta orang. Sementara itu, pembangunan koperasi sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat dan sebagai salah satu unsur dunia usaha nasional telah makin meluas dan meningkat. Pembangunan koperasi dilakukan melalui Program pembinaan kelembagaan koperasi dan pengembangan usaha koperasi. Program tersebut yang meliputi kegiatan pendidikan dan pelatihan, magang, penyuluhan dan penerangan, bimbingan dan konsultasi, serta ditunjang pula dengan berbagai kegiatan penelitian perkoperasian dan kebijaksanaan makro, baik di bidang fiskal moneter maupun sektor riil, berupa perkreditan, subsidi ataupun proteksi, telah memberikan berbagai hasil. Hasil tersebut antara lain adalah berupa peningkatan jumlah dan ragam koperasi, peningkatan jumlah anggota koperasi, penganekaragaman jenis usaha koperasi, serta peningkatan jumlah simpanan anggota, jumlah modal usaha, dan jumlah nilai usaha koperasi. Koperasi pada akhir Repelita I hanya berjumlah 19.975 buah. Pada tahun keempat Repelita V jumlahnya mencapai 39.031 buah, yang terdiri atas 8.749 buah koperasi unit desa (KUD) dan 30.282 buah koperasi non-KUD. Sebanyak 4.140 buah KUD

94

telah memenuhi kriteria sebagai KUD Mandiri. Sementara itu, jumlah anggota koperasi pada tahun keempat Repelita V telah mencapai sekitar 34 juta orang atau mencapai lebih dari sebelas kali lipat dari jumlahnya pada akhir Repelita I. Dewasa ini lingkup bidang usaha koperasi mencakup, baik usaha pertanian maupun usaha nonpertanian, seperti industri pengolahan dan jasa. Sumbangan koperasi dalam pengadaan pangan nasionalpun terus meningkat dan telah mencapai lebih dari 90 persen. Sementara itu, sumbangan koperasi dalam penyaluran pupuk telah mencapai lebih dari 75 persen dan koperasi susu telah memasok sekitar 55 persen dari kebutuhan susu nasional. 11. Tenaga Kerja Kegiatan pembangunan yang meningkat selama PJP I telah menciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang besar dan mutu yang makin meningkat sehingga sebagian besar angkatan kerja baru dapat diserap dalam lapangan kerja produktif. Antara tahun 1980 dan 1990 angkatan kerja bertambah sebesar 21,5 juta orang dan lapangan kerja tercipta bagi 20 juta orang. Struktur lapangan kerja bergeser dari sektor produksi agraris ke sektor produksi nonagraris dan jasa dengan muatan teknologi yang lebih besar. Pada tahun 1980, sektor pertanian masih menampung 55,9 persen dari seluruh pekerja (angkatan kerja yang bekerja), dan sisanya bekerja di sektor industri dan sektor lainnya. Pada tahun 1990, pekerja di sektor pertanian menurun menjadi 49,9 persen, sedangkan di sektor industri dan jasa meningkat menjadi 50,1 persen. Pergeseran struktur tenaga kerja juga terjadi dari pekerja sektor informal ke sektor formal. Pekerja di sektor informal menurun dari sebesar 69,9 persen pada tahun 1980 menjadi 63,6 persen pada tahun 1990, sebaliknya pekerja di sektor formal meningkat dari 30,1 persen menjadi 36,4 persen. Peningkatan lapangan kerja dengan pergeseran struktur tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lainnya tersebut diiringi pula 95

dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja dan peningkatan mutu produksi barang dan jasa yang dihasilkan. Dalam satu dasawarsa terakhir, produktivitas rata-rata per tenaga kerja meningkat sekitar 24,1 persen. 12. Transmigrasi Segala upaya dalam pembangunan untuk memperluas lapangan kerja dan mengendalikan laju pertumbuhan penduduk telah dilaksanakan seiring dengan upaya pemerataan penyebarannya. Upaya ini antara lain dilaksanakan melalui program transmigrasi yang diarahkan pada penyebaran penduduk dan angkatan kerja yang lebih seimbang di berbagai daerah melalui pendayagunaan tenaga kerja yang berlebih di suatu daerah untuk kegiatan pembangunan di daerah yang kekurangan tenaga kerja. Jumlah kumulatif penduduk yang dipindahkan melalui program transmigrasi umum dan swakarsa selama PJP I mencapai sekitar 1,5 juta kepala keluarga atau mendekati 8 juta jiwa dan membentuk 1931 desa baru di luar Jawa dan Bali. Program transmigrasi juga telah membangun 55 ribu kilometer jalan dan 69 ribu meter jembatan yang menghubungkan permukiman transmigrasi yang pada umumnya terpencil dengan jalan kabupaten dan jalan propinsi, telah membuka 0,9 juta hektare lahan pertanian pangan dan 0,8 juta hektare lahan pertanian komoditas lainnya sehingga dapat membantu mendukung swasembada pangan dan meningkatkan komoditas ekspor hasil pertanian. Selain itu, program transmigrasi juga telah dapat membantu menyelesaikan masalah kependudukan di daerah yang terkena bencana alam serta yang terkena proyek pembangunan, seperti Waduk Gajah Mungkur, Waduk Karang Kates, dan Waduk Kedung Ombo. Upaya pembangunan transmigrasi selama ini telah berhasil mendorong persebaran penduduk yang lebih seimbang. Apabila pada tahun 1971, 65,6 persen penduduk Indonesia berada di Jawa dan Bali, pada tahun 1990 persentase ini turun menjadi 61,5 persen. 96

13. Pembangunan Daerah Pembangunan daerah dalam PJP I telah menghasilkan peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh daerah yang tercermin antara lain dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. Tingkat kesejahteraan penduduk di daerah, yang ditunjukkan oleh beberapa indikator seperti tingkat melek huruf, angka kematian bayi, dan angka harapan hidup, menunjukkan makin baiknya kualitas hidup fisik di seluruh daerah sejalan dengan makin baiknya tingkat pendapatan dan pemerataan pendapatan masyarakat. Kemampuan keuangan pemerintah daerah, sebagai salah satu indikator keberhasilan ekonomi daerah, telah meningkat dengan pesat seperti yang ditunjukkan oleh pertumbuhan penerimaan daerah dari PBB sebesar 262 persen dalam periode 1986/871992/93. Sementara itu, pendapatan asli daerah (PAD) telah pula berkembang pesat. Pertumbuhan rata-rata per tahun bagi PAD pemerintah daerah tingkat I dan II masing-masing adalah 21,4 persen dan 19,2 persen dalam kurun waktu 1986/87-1991/92. Kedua hal ini menunjukkan meningkatnya kemampuan pemerintah daerah dalam pembiayaan pembangunan di daerahnya dan dengan demikian meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam mewujudkan otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab. Dalam pelaksanaan pembangunan yang menjadi tugas Pemerintah Daerah Tingkat I, selama PJP I telah terjadi berbagai perkembangan. Sebelum PJP I, keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah daerah menyebabkan sangat terbatasnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Bantuan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah diberikan melalui berbagai program antara lain program-program Inpres yang terus meningkat sejak Repelita I. Bantuan ini dimaksudkan untuk lebih memeratakan pelaksanaan pembangunan di daerah, dan mempercepat pertumbuhan daerah-daerah yang terbelakang. Dalam 97

PJP I bantuan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam bentuk bantuan Inpres adalah Inpres Dati I, Inpres Dati II, Inpres Desa, Inpres Peningkatan Jalan Propinsi, Inpres Peningkatan Jalan Kabupaten, Inpres Pasar, Inpres SD, Inpres Penghijauan dan Reboisasi, dan Inpres Sarana Kesehatan. Kemampuan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan makin berkembang pula dengan berkembangnya berbagai lembaga kemasyarakatan, kelembagaan adat, lembaga dan bank perkreditan rakyat, koperasi desa, dan organisasi kemasyarakatan dalam bidang kebudayaan, pendidikan, dan keagamaan. Sementara itu, kemampuan aparatur dan perangkat pemerintah daerah telah makin mantap sehingga lebih mampu menjalankan otonomi daerah. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan pembangunan daerah dan administrasi pemerintah daerah, telah dilaksanakan penataan batas wilayah, pemindahan ibukota kabupaten, pemekaran dan penyesuaian status daerah. Pemekaran dan penyesuaian status daerah dilakukan dengan mengukuhkan 5 kota administratif menjadi kotamadya, dan membentuk 397 kecamatan baru, 41 kota administratif baru, 18 kabupaten baru, dan 1 propinsi baru, yaitu Propinsi Timor Timur sejak 1976. Secara keseluruhan pada tahun keempat Repelita V terdapat 27 propinsi, 243 kabupaten, 58 kotamadya, 38 kota administratif, 3.837 kecamatan dan 63.920 desa/kelurahan. Dalam pelaksanaan asas desentralisasi telah diserahkan kepada daerah sebagian dari urusan pemerintahan yang meliputi: pertanian rakyat, perternakan/kehewanan, perikanan darat, pendidikan dan kebudayaan, kesehatan, pekerjaan umum, perindustrian kecil, kehutanan, perikanan laut, karet rakyat, bimbingan dan perbaikan sosial, perumahan rakyat, kesejahteraan buruh, lalu lintas jalan, pemerintahan umum, perusahaan dan proyek negara, pertambangan di luar mijnwet, perkebunan besar dan pariwisata, yang pelaksanaannya bervariasi sesuai dengan kemampuan masingmasing daerah. Urusan tersebut diselenggarakan oleh dinas daerah,

98

baik di tingkat I maupun tingkat II. Untuk menunjang keserasian perencanaan pembangunan, pada tahun 1974 di daerah tingkat I dibentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tingkat I, dan mulai tahun 1980 dibentuk Bappeda tingkat II. Pada akhir PJP I seluruh daerah tingkat I dan II telah memiliki Bappeda. Di samping makin lengkapnya perangkat penyelenggaraan pemerintah daerah, fungsi pemerintah daerah juga makin meningkat dengan berfungsinya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I dan II sesuai dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1974. Dengan demikian, daerah memiliki hak dan kewajiban yang makin besar dan luas dalam melaksanakan pemerintahan umum dan melaksanakan pembangunan di daerah secara efektif dan efisien sesuai dengan prinsip-prinsip otonomi daerah. 14. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Pembangunan dilaksanakan bersamaan dengan upaya pelestarian sumber daya alam. Pada awal pelaksanaan PJP I, untuk menghimpun modal dan kemampuan bagi pelaksanaan pembangunan, pemanfaatan sumber daya alam dalam jumlah yang besar tidak dapat dihindari. Namun, pemanfaatan sumber daya alam tersebut telah diimbangi dengan upaya meningkatkan dan memperluas kesadaran masyarakat dan dunia usaha terhadap pelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber alam. Untuk mempertahankan mutu lingkungan hidup terhadap dampak negatif aktivitas pembangunan, dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pengembangan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), penyempurnaan peraturan perundangundangan dan institusi pengendalian pencemaran lingkungan, penguasaan teknologi bersih lingkungan, dan pengembangan daur ulang. Selain itu, dilaksanakan pula pengembangan keahlian, sarana dan prasarana pengendalian pencemaran, pemantauan pencemaran lingkungan hidup, penegakan hukum, rehabilitasi lingkungan rusak, dan pengembangan sistem informasi dalam pengendalian pencemaran lingkungan hidup. Sejak tahun 1985/86, 99

komisi amdal telah dibentuk, baik di tingkat pusat maupun daerah sehingga cakupan wilayah penganalisisan telah dapat diperluas. Upaya tersebut didukung dengan pengembangan laboratorium pemantau pencemaran di berbagai tempat dan pengembangan kegiatan yang lebih terpadu. Selanjutnya, peran serta masyarakat dalam memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup juga makin meningkat dengan digalakkannya pembimbingan dan penyuluhan serta pemberian penghargaan Kalpataru dan Adipura. III. PEMBANGUNAN DI BIDANG AGAMA, KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA, DAN SOSIAL BUDAYA 1. Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Upaya pembangunan dalam sektor agama, antara lain meliputi pembangunan dan rehabilitasi tempat peribadatan dan pengadaan kitab suci yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam kehidupan beragama, peningkatan sarana dan mutu pendidikan agama, serta meningkatkan dan menyempurnakan pelayanan ibadah haji. Bantuan yang diberikan untuk pembangunan dan rehabilitasi tempat peribadatan selama PJP I berdampak positif dalam mendorong peran serta masyarakat untuk membangun tempat peribadatan secara swadana. Jumlah tempat peribadatan yang pada awal PJP I baru sekitar 380 ribu buah, pada tahun 1993/94 diperkirakan meningkat menjadi sekitar 653,6 ribu buah. Selama PJP I, penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan makin membaik, dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan untuk meningkatkan mutu pendidikan agama dan keagamaan. Hal tersebut dilakukan antara lain melalui pembangunan dan rehabilitasi ruang belajar, penataran guru, pengadaan buku pelajaran, dan buku pedoman bagi guru. 100

Untuk meningkatkan dan menyempurnakan pelayanan ibadah haji dan terbinanya jemaah haji yang mabrur, pembinaan dan pembangunan serta rehabilitasi asrama haji telah ditingkatkan terutama di kota pelabuhan laut. Jumlah jemaah yang menunaikan ibadah haji dari tahun ke tahun terus meningkat. Apabila selama Repelita I jemaah haji rata-rata berjumlah sekitar 20,5 ribu orang per tahun, pada tahun 1993/94 diperkirakan mencapai sekitar 120 ribu orang atau meningkat menjadi enam kali lipat. 2. Pendidikan, Olahraga, dan Kebudayaan Berbagai program pembinaan pendidikan yang dilaksanakan sejak Repelita I telah berhasil meningkatkan kesempatan pendidikan, dan menghasilkan rakyat Indonesia yang makin tinggi taraf kecerdasan dan tingkat pendidikannya. Di tingkat pendidikan dasar, angka partisipasi murni (APM) sekolah dasar (SD) atau rasio jumlah murid SD termasuk madrasah ibtidaiyah (SD-MI) usia 7-12 tahun dengan jumlah penduduk kelompok usia tersebut meningkat dari 41,4 persen pada tahun 1968/69 diperkirakan menjadi 93,5 persen pada tahun 1993/94. Angka partisipasi kasar (APK), yaitu rasio murid SDMI terhadap penduduk kelompok usia 7-12 tahun dalam kurun waktu yang lama meningkat dari 68 persen menjadi 109,9 persen. Keberhasilan tersebut dimungkinkan terutama berkat dilancarkannya program Inpres SD sejak tahun 1973/74 yang kemudian diikuti dengan pencanangan Wajib Belajar Enam Tahun pada tahun 1984. Dengan meningkatnya lulusan SD, tuntutan untuk memperoleh kesempatan belajar pada tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) juga meningkat. Sejalan dengan itu, angka partisipasi kasar SLTP termasuk madrasah tsanawiyah (MTs) meningkat dari 16,9 persen pada tahun 1968/69 diperkirakan menjadi sekitar 53 persen pada tahun 1993/94. Dalam kurun waktu tersebut, jumlah murid SLTP

101

termasuk MTs meningkat dari sekitar 1,2 juta siswa menjadi hampir 7 juta siswa. Pada akhir Repelita V (1993/94) jumlah murid sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) diperkirakan mencapai 4,1 juta orang dari sekitar 482 ribu pada tahun 1968 yang meliputi pendidikan SLTA umum, kejuruan, serta madrasah aliyah (MA). Angka partisipasi kasar tingkat SLTA meningkat dari 8,6 persen menjadi 33,2 persen. Di tingkat pendidikan tinggi, termasuk perguruan tinggi agama (PTA), jumlah mahasiswa meningkat pesat dari 156 ribu pada tahun 1968 diperkirakan menjadi lebih dari 2,2 juta orang pada tahun 1993/94, dengan angka partisipasi kasar meningkat dari 1,6 persen menjadi 10,5 persen. Jumlah lulusannya mencapai 217,6 ribu orang atau meningkat lebih dari 28 kali lipat dibanding jumlah lulusan pada akhir Repelita I. Selain melalui jenjang pendidikan, peningkatan pendidikan juga dilakukan melalui program pendidikan masyarakat (PPM). Peningkatan jangkauan program PPM tersebut bersama-sama dengan pendidikan melalui berbagai jenjang telah menurunkan jumlah penduduk berusia di atas 10 tahun yang buta aksara dari 39,1 persen pada awal PJP I menjadi 15,8 persen pada tahun 1990. Sementara itu, pembangunan olahraga dalam PJP I telah makin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya olahraga sebagai satu kebutuhan hidup dan bagi peningkatan derajat kesehatan. Olahraga telah dapat pula dikembangkan sebagai gerakan nasional yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang tercermin dalam berbagai kegiatan olahraga massal. Prestasi para atlet Indonesia terus meningkat. Pemecahan rekor nasional di berbagai cabang olahraga dalam berbagai turnamen ataupun dalam beberapa Pekan Olahraga Nasional (PON) makin sering terjadi. Di arena internasional antara lain menjadi juara bulutangkis All England, Thomas Cup, dan Uber Cup, serta menjadi juara umum Southeast Asian Games, dan mencapai 102

peringkat 7 pada Asian Games tahun 1990 di Beijing, memperoleh medali perak pada Olimpiade Ke-24 di Seoul pada tahun 1988 melalui cabang panahan, memperoleh berbagai medali termasuk 2 medali emas pada Olimpiade Ke-25 di Barcelona dari cabang bulutangkis. Dalam pada itu pembangunan kebudayaan dalam PJP I telah berhasil meningkatkan dan mengembangkan keserasian, keselarasan, serta keseimbangan kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia lahir batin. Hal ini tercermin dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, makin berkembangnya kebudayaan nasional yang dijiwai nilai-nilai luhur Pancasila, di samping melembaganya budaya dan semangat membangun di kalangan masyarakat. 3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Penelitian, dan Statistik Keberhasilan pembangunan selama PJP I telah didukung oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kemajuan ini sangat penting karena iptek memegang peranan yang menentukan, terutama dalam menyiapkan bangsa Indonesia untuk memasuki tahap industrialisasi lebih lanjut. Keberhasilan pembangunan iptek tidak terlepas dari dukungan peneliti yang berkualitas dan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Upaya peningkatan kualitas peneliti dan pembangunan sarana dan prasarana dan kelembagaan iptek sejak awal PJP I telah memberikan hasil yang nyata di bidang iptek yang telah mendukung program di berbagai sektor. Pembangunan nasional telah dapat dilaksanakan secara berhasil karena didukung oleh perencanaan yang andal. Perencanaan pembangunan pada gilirannya dapat dijalankan dengan dukungan statistik.

103

Kegiatan perstatistikan yang penting selama PJP I adalah Sensus Penduduk 1971, 1980, dan 1990, Sensus Pertanian 1973, 1983, dan 1993, serta pelaksanaan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Di samping itu, dilakukan berbagai survei yang dimanfaatkan untuk perencanaan dan kebijaksanaan pembangunan. Kegiatan tersebut meliputi: survei harga, penyusunan statistik Pendapatan Nasional/ Regional, pengolahan data ekspor impor, pengembangan Statistik Neraca Nasional dan Penyusunan Tabel Input-Output, dan penyusunan Sistem Neraca Sosial Ekonomi Nasional (SNSE). Sejalan dengan makin meningkatnya kegiatan pembangunan, kebutuhan pengembangan data statistik kesejahteraan rakyat terus ditingkatkan bersama-sama dengan statistik di bidang ekonomi. Sensus Ekonomi yang merupakan sensus terpadu dari semua sektor ekonomi yang belum dicakup dalam Sensus Pertanian, dilaksanakan untuk pertama kalinya tahun 1986. Dalam rangka menyempurnakan diagram timbangan barang konsumsi yang digunakan dalam perhitungan indeks harga konsumen dilaksanakan Survei Biaya Hidup 1989 yang mencakup seluruh ibukota propinsi. Sementara itu, bersamaan dengan pelaksanaan setiap sensus penduduk, sensus pertanian, dan sensus ekonomi telah dikumpulkan data potensi desa. 4. Kesehatan dan Gizi Selama 25 tahun terakhir, berbagai program kesehatan dan gizi telah berhasil meningkatkan kualitas hidup rakyat. Angka harapan hidup yang pada awal PJP I adalah sekitar 45,7 tahun meningkat menjadi 62,7 tahun pada akhir PJP I. Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup menurun dari 145 pada tahun 1967 menjadi 58 pada akhir tahun 1993. Angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup menurun dari 450 pada tahun 1986 menjadi 425 pada tahun 1992.

104

Sebelum Repelita I jumlah puskesmas adalah 1.227 buah. Pada tahun 1992/93 meningkat menjadi 6.277 buah. Jika pada tahun 1968 setiap puskesmas rata-rata melayani 96 ribu penduduk, pada tahun 1992/93 setiap puskesmas rata-rata melayani 28 ribu penduduk. Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit, kegiatan imunisasi terus ditingkatkan sehingga pada tahun 1992/93 secara nasional cakupan imunisasi lengkap telah mencapai 89,9 persen, lebih tinggi dari pada sasaran yang ditetapkan World Health Organization (WHO) secara internasional, yaitu 80 persen. Pembangunan kesehatan berpengaruh pula terhadap produktivitas dan peningkatan pendapatan rakyat sehingga juga berpengaruh pada pengurangan kemiskinan. Peningkatan taraf kehidupan masyarakat terlihat juga pada keadaan gizi masyarakat, khususnya masyarakat miskin yang antara lain tercermin dari adanya peningkatan konsumsi pangan yang bermutu dan makin menurunnya angka prevalensi berbagai masalah gizi-kurang. Prevalensi kurang energi protein (KEP) total pada anak balita menurun dari 48,2 persen pada tahun 1978 menjadi 40 persen pada tahun 1992. Kebutaan karena kekurangan vitamin A (KVA) pada akhir PJP I sudah hampir tidak ditemukan lagi. Secara keseluruhan, perbaikan gizi masyarakat juga meningkatkan produktivitas kerja yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi. 5. Kependudukan dan Keluarga Berencana

Program Keluarga Berencana dan program lain yang terkait telah berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia secara nyata dari 2,32 persen per tahun selama periode 1971-1980 menjadi sekitar 1,66 persen pada akhir PJP I. Bersamaan dengan penurunan laju pertumbuhan penduduk tersebut, tingkat kesejahteraan rakyat terus membaik. Angka kematian kasar telah turun dari 19,1 per seribu penduduk pada kurun waktu 1967-1970 menjadi 7,9 per seribu penduduk pada tahun 1993. Angka 105

kelahiran total per wanita juga menurun dari 5,6 anak dalam kurun waktu 1967-1970 menjadi 2,87 anak pada akhir PJP I. Perkembangan itu mencerminkan peningkatan derajat kesehatan rakyat yang sekaligus mendorong bertambah panjangnya umur rata-rata orang Indonesia. 6. Perumahan dan Permukiman Pembangunan sektor perumahan dan permukiman dilaksanakan melalui 3 program utama, yaitu program perumahan rakyat, program penyediaan air bersih, dan program penyehatan lingkungan permukiman. Pelaksanaan ketiga program tersebut diupayakan secara terpadu yang melibatkan seluruh potensi masyarakat dengan menyediakan prasarana dan sarana penunjang yang dibutuhkan, memperlancar pemberian kredit pemilikan rumah (KPR), dan kemudahan lainnya dalam bidang peraturan dan perizinan. Kegiatan dalam program perumahan rakyat dilaksanakan melalui, antara lain penyediaan rumah sederhana, perbaikan kampung, peremajaan kawasan perumahan kota, dan pemugaran perumahan desa dengan tujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kelompok masyarakat yang menghuni kawasan kumuh. Secara kumulatif, sejak Repelita II hingga tahun keempat Repelita V telah dibangun oleh Perumnas sejumlah 216.210 rumah sederhana dan sangat sederhana dan sekitar 536 ribu rumah sederhana lain dibangun oleh swasta. Prioritas utama program penyediaan air bersih diberikan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan, dan sekaligus menunjang kebutuhan air bersih bagi sektor lainnya, seperti industri, perhubungan, perdagangan, dan pariwisata. Secara kumulatif sejak Repelita II hingga tahun keempat Repelita V, air bersih yang berhasil diproduksikan mencapai sekitar 62 ribu liter per detik di daerah perkotaan dan kurang lebih 3.600 liter per detik di daerah perdesaan. 106

Program penyehatan lingkungan permukiman yang sejak Repelita IV diterapkan secara terpadu, khususnya untuk pengadaan sistem pembuangan sampah, pembuangan air limbah, dan drainase, telah meningkatkan mutu lingkungan dan permukiman. Peningkatan mutu tersebut dicapai, antara lain melalui pengelolaan sampah di 454 kota dengan volume sampah yang diangkut mencapai 55 persen dari produksinya, dan penanganan limbah air yang telah dilaksanakan di 337 kota. 7. Kesejahteraan Sosial

Di bidang kesejahteraan sosial pembangunan ditujukan, terutama untuk kelompok masyarakat yang tidak mampu dan tidak beruntung karena belum sepenuhnya memperoleh manfaat hasil pembangunan, yaitu anak terlantar, yatim piatu, penyandang cacat, fakir miskin, para lanjut usia (lansia) yang tidak mampu, korban bencana alam, masyarakat terasing, anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika. Selama PJP I telah diberikan santunan kepada sekitar 891 ribu anak terlantar, lebih dari 384 ribu para penyandang cacat, dan kepada lebih dari 511 ribu orang lansia tidak mampu. Penanganan masyarakat terasing dilakukan melalui upaya untuk meningkatkan taraf hidup mereka sehingga tidak terlalu jauh berbeda dengan masyarakat sekelilingnya. Secara kumulatif sejak awal PJP I sampai dengan tahun 1992/93 jumlah masyarakat terasing yang telah mendapatkan pembinaan adalah sekitar 40 ribu kepala keluarga. 8. Pembinaan Generasi Muda dan Peranan Wanita dalam Pembangunan Bangsa

Pembinaan generasi muda telah diupayakan dalam PJP I untuk meningkatkan kualitas generasi muda sebagai kader penerus dan manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila melalui pembinaan

107

kepramukaan, pertukaran pemuda antarpropinsi dan antarbangsa, menapak tilas jejak pahlawan, dan pelatihan kepemimpinan serta kemandirian. Selain itu, sejak Repelita V dilakukan pengerahan sarjana baru dengan berbagai bidang keahlian melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Perdesaan (SP3). Peranan wanita dalam pembangunan mendapat perhatian dalam PJP I. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan peranan wanita, sebagai mitra sejajar pria dalam pembangunan. Berbagai program peningkatan peranan wanita, seperti kegiatan pelatihan dan penyuluhan, gerakan PKK, gerakan Bina Keluarga Balita (BKB), program terpadu Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) di samping kegiatan lain yang diintegrasikan dalam berbagai sektor pembangunan, telah memberikan kesempatan yang makin terbuka bagi wanita untuk turut serta dalam kegiatan pembangunan. Berbagai indikator menunjukkan bahwa selama PJP I banyak kemajuan yang telah dicapai oleh wanita Indonesia. Kemajuan ini antara lain ditunjukkan oleh menurunnya angka buta aksara penduduk wanita usia 10 tahun ke atas dari 53,1 persen pada tahun 1971 menjadi 21,3 persen pada tahun 1990. Perubahan perilaku reproduksi wanita ditunjukkan oleh meningkatnya usia kawin pertama di kalangan wanita dari 20 tahun pada tahun 1980 menjadi 21,9 tahun pada tahun 1990. Selain itu, peningkatan peranan wanita dalam pembangunan secara nyata tercermin dari meningkatnya tingkat partisipasi tenaga kerja wanita dari 32,4 persen pada tahun 1980 menjadi 38,8 persen pada tahun 1990.

108

IV. PEMBANGUNAN DI BIDANG POLITIK, APARATUR PEMERINTAH, HUKUM, PENERANGAN DAN MEDIA MASSA, DAN HUBUNGAN LUAR NEGERI 1. Politik Dalam PJP I pembangunan di bidang politik telah berhasil mewujudkan landasan politik nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang intinya adalah demokrasi Pancasila, sebagai landasan yang kuat bagi kemajuan dan kemandirian bangsa. Orde Baru berhasil meletakkan dasar bagi pemurnian pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 secara nyata, konsekuen, dan dinamis, yang meliputi penataan suprastruktur politik, pengembangan budaya politik dan mekanisme demokrasi Pancasila. Upaya itu lebih dimantapkan dengan pelembagaan Wawasan Nusantara. Kesadaran akan pentingnya pembangunan politik bagi keberhasilan pembangunan nasional secara menyeluruh mendorong dilakukannya kebijaksanaan yang menyangkut penataan kehidupan politik. Salah satu upaya penataan infrastruktur politik diwujudkan melalui berfungsinya sejumlah partai politik menjadi dua partai politik dan Golongan Karya serta penyederhanaan keormasan. Sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita Orde Baru, pada tahun 1978 MPR dengan Ketetapan Nomor II/MPR/1978 telah menetapkan Eka Prasetya Pancakarsa sebagai Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Dengan demikian, telah ada penuntun dan pegangan bagi sikap dan tingkah laku setiap manusia Indonesia dalam penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara. Kemajuan dalam pembangunan politik yang amat mendasar dalam PJP I adalah tercapainya kesepakatan politik untuk menegaskan kembali dan menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara dan satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, 109

berbangsa dan bernegara. Secara konstitusional kesepakatan tersebut dituangkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor II/MPR/1983. Kemudian melalui Undang-undang No. 3 Tahun 1985 Pancasila ditetapkan sebagai satu-satunya asas bagi partai politik dan golongan karya. Selanjutnya, Undang-undang No. 8 Tahun 1985 telah menetapkan pula Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi kemasyarakatan dengan tidak menghilangkan ciri dari masing-masing organisasi kemasyarakatan tersebut. Pemilihan umum (pemilu) telah dilaksanakan lima kali secara tepat waktu dan makin meningkat kualitasnya. Pelaksanaan Pemilu yang diikuti oleh sembilan dari sepuluh rakyat yang berhak memilih telah menggairahkan peran serta masyarakat dalam pembangunan politik. Kualitas kampanye telah meningkat, kampanye bersifat primordial secara bertahap telah berkurang dan digantikan dengan kampanye yang lebih menonjolkan program pembangunan organisasi peserta pemilu (OPP). Dengan demikian, mekanisme pelaksanaan demokrasi Pancasila telah makin jelas memperlihatkan wujudnya dan mekanisme kepemimpinan nasional lima tahunan telah berjalan makin mantap, teratur, dinamis, dan konstitusional. Dwifungsi ABRI telah menjadi keyakinan dan milik bersama. Keberadaan ABRI sebagai kekuatan sosial politik dalam sistem politik Indonesia telah ikut menumbuhkembangkan demokrasi Pancasila bersama kekuatan sosial politik lainnya. Pembangunan politik selama kurun waktu PJP I telah dapat mewujudkan tingkat stabilitas nasional yang mantap dan dinamis sehingga memungkinkan pembangunan nasional yang menghasilkan kesejahteraan rakyat yang makin baik. Pembangunan politik telah mengembangkan pula iklim keterbukaan yang bertanggung jawab dalam demokrasi Pancasila.

110

2.

Aparatur Pemerintah

Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh kemampuan aparatur pemerintah dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan umum dan pembangunan. Sejak awal PJP I, pendayagunaan aparatur pemerintah ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan nasional, meliputi upaya penempatan kembali dan pemantapan lembaga tertinggi dan tinggi negara dalam posisi dan fungsinya sebagaimana ditetapkan UUD 1945; peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan penataan kelembagaan, termasuk aspek organisasi dan ketatalaksanaan aparatur pemerintah serta pelembagaan mekanisme kepemimpinan nasional, sistem pengawasan serta penelitian dan pengembangan administrasi pemerintahan dan pembangunan. Dalam rangka pendayagunaan aparatur pemerintah pusat telah diterbitkan Keppres No. 44 Tahun 1974 tentang Organisasi Departemen sebagai Landasan bagi Penataan Organisasi Departemen; dan dalam pendayagunaan aparatur pemerintah daerah telah diterbitkan Undang-undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, menggantikan Undangundang No. 18 Tahun 1965 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan pembangunan. Di samping itu, dalam upaya memperkuat aparatur pemerintah daerah, telah dibentuk antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tingkat I dan Tingkat II, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD), Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal), Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan dinas daerah. Selanjutnya, untuk memantapkan penyelenggaraan dan perwujudan otonomi daerah yang nyata, dinamis, dan bertanggung jawab dengan titik berat otonomi pada daerah tingkat II sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1974, telah dibentuk Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dengan Keppres No. 23 Tahun 1975. Kemudian, untuk lebih mendayagunakan pemerintahan desa 111

telah diterbitkan Undang-undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Dalam rangka pendayagunaan manajemen pembangunan telah dikembangkan sistem perencanaan yang muncul sebagai unsur manajemen pembangunan yang penting dan tumbuh pula sebagai instrumen kebijaksanaan ekonomi yang mantap, khususnya dalam peningkatan efisiensi alokasi anggaran yang disesuaikan dengan prioritas strategi pembangunan. Melalui mekanisme perencanaan tersebut, alokasi sumber yang terbatas diupayakan mencapai sasaran secara optimal. Selain itu permasalahan yang diperkirakan akan dihadapi pada masa depan diperhitungkan sebelumnya dan berbagai potensi, kendala, ataupun peluang diidentifikasi secara cermat. Selanjutnya, berbagai langkah kebijaksanaan untuk mengatasi berbagai permasalahan dan untuk mencapai berbagai tujuan nasional disiapkan lebih dini. Dalam rangka sistem perencanaan pembangunan tersebut, dikembangkan pula "proses perencanaan dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah" (bottom up and top down planning), melalui musyawarah pembangunan tingkat desa/kelurahan, temu karya pembangunan tingkat kecamatan, rapat koordinasi pembangunan (rakorbang) daerah tingkat II, rakorbang dati I, konsultasi regional pembangunan, dan konsultasi nasional pembangunan. Dengan demikian, berbagai program dan proyek pembangunan yang direncanakan telah sejauh mungkin menampung aspirasi, kebutuhan, permasalahan, dan spesifikasi daerah, dan dilaksanakan dengan mengupayakan peran serta masyarakat di daerah. Kemudian, agar pelaksanaan proyek pembangunan berjalan secara efisien dan efektif, telah dikembangkan sistem pemantauan dan pengendalian pelaksanaan proyek pembangunan. Seiring dengan itu, pengawasan pembangunan terus dikembangkan dan didayagunakan, meliputi pengawasan melekat (waskat), pengawasan fungsional (wasnal), dan pengawasan masyarakat (wasmas). Melalui Keppres No. 31 Tahun 1983, wasnal lebih ditingkatkan lagi dengan pembentukan BPKP, sedangkan waskat lebih ditingkatkan dengan pedoman pelaksanaan 112

yang ditetapkan melalui Inpres No. 1 Tahun 1989, dan wasmas lebih didayagunakan terutama dengan dibukanya Tromol Pos 5000 pada Kantor Wakil Presiden pada bulan April 1988. Hasil-hasil dari pemantapan dan pelaksanaan sistem pemantauan, pengendalian, dan pengawasan tersebut terlihat antara lain dari meningkatnya penyelesaian proyek sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan, penghematan pengeluaran negara dan penambahan penerimaan negara; meningkatnya disiplin aparatur negara dan kelancaran pelayanan kepada masyarakat. 3. Hukum

Selama PJP I sampai dengan akhir Maret tahun 1993, telah berhasil disusun berbagai perangkat peraturan perundangundangan, yang meliputi Undang-undang sebanyak 239 buah; Peraturan Pemerintah sebanyak 1.060 buah; Keputusan Presiden sebanyak 1.561 buah; Instruksi Presiden sebanyak 252 buah; dan sejumlah penelitian hukum serta naskah akademis peraturan perundangundangan. Untuk menunjang tugas penegakan hukum, sampai dengan akhir PJP I telah dibentuk sebanyak 27 kejaksaan tinggi, 297 kejaksaan negeri, dan 143 cabang kejaksaan negeri. Di bidang keimigrasian telah dibentuk 83 kantor imigrasi, 64 pos imigrasi, dan 51 karantina imigrasi. Di bidang peradilan telah dibentuk pula 295 pengadilan negeri, 26 pengadilan tinggi, 399 tempat sidang tetap, 4 pengadilan tinggi tata usaha negara, 14 pengadilan tata usaha negara, 21 pengadilan tinggi agama, 305 pengadilan agama, 3 mahkamah militer tinggi, dan 23 mahkamah militer. Di samping itu, lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara telah berjumlah 375 buah yang tersebar di 27 propinsi, dan telah dibangun sebuah rumah tempat penitipan benda-benda sitaan negara (rupbasan). Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat telah dilaksanakan pemberian bantuan hukum, terutama bagi golongan masyarakat yang kurang mampu, penyederhanaan tata laksana

113

pelayanan hukum, antara lain dalam hal pemberian kewarganegaraan, perizinan, dan pengesahan badan hukum, pelayanan bidang hak cipta, paten, dan merek serta pelayanan keimigrasian. 4. Penerangan dan Media Massa

Di bidang penerangan dan media massa selama PJP I telah dilaksanakan berbagai kegiatan pembangunan untuk memperluas penyebaran informasi tentang kebijaksanaan dan hasil pembangunan kepada masyarakat melalui media informasi, seperti radio, televisi, film, pers, pameran, dan penerangan serta tatap muka. Penyebaran informasi melalui surat kabar telah meningkat pesat. Apabila pada awal pelaksanaan PJP I jumlah tiras surat kabar tercatat sekitar 1,05 juta eksemplar per hari dengan rasio surat kabar per jumlah penduduk berusia 10 tahun ke atas 1:47, pada tahun 1992/93 jumlah tiras surat kabar mencapai sekitar 5,38 juta eksemplar per hari dengan rasio 1:26. Demikian pula, stasiun pemancar Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI) telah meningkat dari 107 buah dan 7 buah pada awal PJP I menjadi 398 buah dan 314 buah pada tahun 1992/93. 5. Hubungan Luar Negeri

Dalam PJP I Indonesia makin berhasil membuktikan dan memantapkan posisinya sebagai negara yang aktif dalam membina persahabatan dengan negara lain. Stabilitas sosial politik, keamanan, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah memberikan momentum yang besar dalam pembangunan hubungan luar negeri. Penerapan prinsip politik luar negeri bebas aktif secara konsekuen dalam hubungan internasional, memungkinkan Indonesia berperan aktif dalam menggalang kerja sama luar negeri secara bilateral dan melalui berbagai organisasi internasional. Hal 114

tersebut telah meningkatkan citra, wibawa, kedudukan, dan peranan Indonesia dalam ikut serta menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia yang abadi, adil, dan sejahtera. Terbentuknya Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada tahun 1967, yang dalam hal ini Indonesia turut mengambil prakarsa, merupakan tekad baik Indonesia untuk membina kerja sama dengan para tetangganya di Asia Tenggara untuk membangun kawasan yang damai, adil, dan sejahtera. Dalam memasuki usianya yang ke-27, ASEAN telah menjadi organisasi regional yang secara luas diakui amat penting, baik posisi maupun sumbangannya di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam di dunia saat ini. Selanjutnya, sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan selalu diarahkan untuk mendukung terciptanya perdamaian dunia telah menempatkan posisi Indonesia dalam posisi dan peranan yang makin mantap dan dipercaya dalam percaturan politik regional dan global. Di kelompok negara berkembang, Indonesia telah berhasil membangun kepercayaan dan rasa solidaritas yang mendalam antara negara yang tergabung dalam Gerakan Nonblok (GNB). Hal ini mencapai puncaknya ketika Indonesia dipilih sebagai ketua dan sekaligus menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-10 yang cakupannya tidak saja bidang politik, tetapi juga bidang ekonomi dan bidang sosial budaya. Keberhasilan penting lainnya dalam bidang politik luar negeri adalah diterimanya konsep negara kepulauan oleh dunia internasional yang kemudian dituangkan dalam konvensi PBB tentang hukum laut pada tahun 1982. Sejak itu telah disepakati bahwa Zone Ekonomi Eksklusif berada hingga jarak 200 mil dari garis pantai suatu negara kepulauan. Hal ini memberikan sumbangan besar bagi pembangunan nasional, baik secara politis maupun ekonomis.

115

V. PEMBANGUNAN DI BIDANG PERTAHANAN KEAMANAN Pembangunan hankam selama PJP I masih menitikberatkan pada pembangunan komponen kekuatan inti, yaitu ABRI, sedangkan komponen lainnya baru dimulai dengan penyusunan dan pemantapan konsepsinya meskipun di masyarakat sendiri telah ada unsur yang secara terbatas memiliki kemampuan sebagai ratih, linmas, dan pendukung, yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganda kekuatan ABRI. Terpeliharanya stabilitas keamanan nasional yang mantap dan terkendali. selama PJP I menggambarkan keberhasilan pembangunan bidang hankam sehingga pembangunan nasional dapat dilaksanakan secara aman dan lancar. Keberhasilan ini dicapai melalui serangkaian kebijaksanaan dan upaya yang dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Pada awal PJP I telah dilaksanakan konsolidasi dan integrasi kekuatan ABRI sehingga pada Repelita II dapat dimulai pemantapan kekuatan melalui kegiatan penyatuan kembali kekuatan yang ada. Pemantapan satuan-satuan ABRI mulai dilaksanakan pada Repelita III melalui kegiatan peningkatan kualitas kekuatan, pembangunan dan rehabilitasi pangkalan, serta penggantian peralatan yang sudah tua dengan yang lebih baik. Pada Repelita IV telah dilaksanakan reorganisasi hankam/ABRI dalam rangka ABRI kecil, efektif, dan efisien, dan kemudian dilanjutkan perwujudannya pada Repelita V. Dengan demikian, secara umum pembangunan hankam pada PJP I telah dapat mencapai sasaran yang ditetapkan berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh bangsa dan negara Republik Indonesia. VI. KESIMPULAN Hasil-hasil pembangunan yang antara lain telah diuraikan secara garis besar di atas telah dinilai oleh rakyat melalui wakilnya dalam Sidang Umum MPR tahun 1993. Kesimpulan dari penilaian tersebut dicantumkan dalam GBHN 1993 sebagai berikut. 116

Pembangunan Jangka Panjang Pertama telah menghasilkan kemajuan dalam segenap aspek kehidupan bangsa dan telah meletakkan landasan yang cukup kuat bagi bangsa Indonesia untuk memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua sebagai awal bagi kebangkitan nasional kedua dan proses tinggal landas. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan dapat dicapai berkat peran serta rakyat secara menyeluruh, mantapnya pemerintahan dan kepemimpinan nasional yang didukung oleh stabilitas nasional yang sehat dan dinamis yang meliputi stabilitas ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan yang tercermin dalam terwujudnya ketahanan nasional yang tangguh. Pembangunan ekonomi pada Pembangunan Jangka Panjang Pertama telah banyak mencapai kemajuan dan telah berhasil meningkatkan taraf hidup serta harkat dan martabat rakyat Indonesia. Sasaran pembangunan ekonomi pada Pembangunan Jangka Panjang Pertama telah dapat diwujudkan, yaitu telah terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat dan struktur ekonomi yang makin seimbang antara industri dan pertanian. Keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi telah memberikan dukungan dan dorongan terhadap pembangunan di bidang lainnya sehingga terciptalah landasan yang mantap bagi bangsa Indonesia untuk memasuki tahap pembangunan berikutnya. Meskipun telah tercapai banyak kemajuan, masih banyak pula tantangan atau masalah yang belum sepenuhnya terpecahkan yang masih perlu dilanjutkan upaya mengatasinya pada Pembangunan Jangka Panjang Kedua. Pertumbuhan di berbagai sektor ekonomi, terutama di sektor pertanian, antara lain telah mencapai swasembada pangan dan di sektor industri telah mulai menjadi tumpuan ekonomi menggantikan sektor yang menghasilkan minyak dan gas bumi, didukung oleh berbagai kebijaksanaan ekonomi dan moneter yang telah menciptakan kondisi stabilitas ekonomi serta memungkinkan memanfaatkan peluang yang tercipta di pasar dunia dan di pasar 117

dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi telah pula memungkinkan terjadinya pemerataan pembangunan sehingga rakyat telah makin menikmati hasilnya serta lebih aktif terlibat dalam upaya pembangunan. Dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama, pembangunan telah menyebar di seluruh penjuru tanah air dan jumlah rakyat yang hidup di dalam kemiskinan telah sangat banyak berkurang. Upaya untuk lebih memeratakan pembangunan serta menanggulangi kemiskinan dan keterbelakangan masih perlu terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Dalam rangka ini, penataan peran ketiga wadah kegiatan ekonomi dalam ekonomi nasional sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 masih perlu terus dilanjutkan, terutama peranan koperasi. Perhatian secara khusus perlu diberikan kepada pembinaan usaha golongan masyarakat yang berkemampuan lemah serta upaya untuk menciptakan lapangan kerja guna menampung angkatan kerja yang terus meningkat. Dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama kesejahteraan rakyat telah makin meningkat, tercermin dalam peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia. Pendidikan telah diselenggarakan merata dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, antara lain dengan wajib belajar tingkat pendidikan dasar bagi setiap warga negara. Pendidikan nasional, di samping menghasilkan kader pembangunan, juga telah makin memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Upaya pembangunan pendidikan masih perlu terus dilanjutkan untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga mampu menghasilkan manusia pembangunan yang berkualitas. Pelayanan kesehatan telah pula meningkat dan telah mampu menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan di bidang kesehatan serta keluarga berencana telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup dan telah menekan laju pertumbuhan penduduk yang didukung oleh perumahan dan permukiman yang layak. Pembangunan kesehatan masih perlu terus dilanjutkan, terutama guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan serta jangkauan pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan yang hidup di daerah

118

terpencil. Laju pertumbuhan penduduk masih perlu terus ditekan sehingga jumlah penduduk mencapai tingkat keseimbangan. Pembangunan perumahan dan permukiman yang layak masih perlu dilanjutkan. Kerukunan hidup antar dan antara umat beragama dan penganut Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, peran serta umat beragama dalam pembangunan, dan kualitas kehidupan beragama makin meningkat; tata nilai dan norma kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara makin mantap serta pengaruh nilai baru yang positif menumbuhkan dan memperkukuh sikap dan perilaku manusia Indonesia yang makin maju, mandiri, dan berkepribadian luhur. Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil memajukan tingkat kecerdasan masyarakat, mengembangkan kemampuan bangsa serta ikut mendorong proses pembaruan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin pesat, persaingan antarbangsa yang makin ketat, serta dampak arus globalisasi yang makin meluas, menuntut pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara lebih tepat, cepat, dan cermat serta bertanggung jawab agar mampu memacu pembangunan menuju terwujudnya masyarakat yang mandiri, maju, dan sejahtera. Pembangunan hukum dan perundang-undangan telah menciptakan sistem hukum dan produk hukum yang mengayomi dan memberikan landasan hukum bagi kegiatan masyarakat dan pembangunan. Kesadaran hukum yang makin meningkat dan makin lajunya pembangunan menuntut terbentuknya sistem hukum nasional dan produk hukum yang mendukung dan bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pembangunan hukum selanjutnya masih perlu memperhatikan peningkatan pemasyarakatan hukum, peningkatan pelaksanaan penegakan hukum secara konsisten dan konsekuen, peningkatan aparat hukum yang

119

berkualitas dan bertanggung jawab, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Keberhasilan pembangunan politik telah makin memantapkan tatanan kehidupan politik dan kenegaraan berdasarkan Demokrasi Pancasila yang mendorong makin berfungsi dan berperannya lembaga politik, mantapnya perkembangan organisasi kekuatan sosial politik dan organisasi kemasyarakatan, serta mendorong meningkatnya kesadaran politik masyarakat. Organisasi kekuatan sosial politik makin dituntut untuk lebih berkualitas dan mandiri sehingga lebih berperan dalam menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Aparatur negara sebagai abdi negara dan abdi masyarakat makin dituntut untuk lebih terbuka dan peka dalam menanggapi dinamika aspirasi masyarakat. Peranan penerangan, komunikasi, dan media massa dalam pembangunan nasional makin menumbuhkembangkan peran serta masyarakat. Keterbukaan yang bertanggung jawab telah makin meningkat dan berkembang, sementara arus komunikasi timbal balik dan penyaluran aspirasi politik masih memerlukan perhatian. Pembangunan daerah sebagai bagian integral pembangunan nasional telah makin mendorong dan meningkatkan stabilitas, pemerataan, pertumbuhan, dan pengembangan daerah serta peran serta dan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan upaya pembangunan daerah harus senantiasa didasarkan pada otonomi yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab dalam rangka lebih meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, dan mendorong pemerataan pembangunan dan hasilnya di seluruh tanah air. Perkembangan penyelenggaraan hubungan luar negeri berdasarkan prinsip politik bebas aktif dan diabdikan bagi kepentingan nasional, pada tingkat regional cenderung makin positif. Namun, dalam menghadapi tantangan pada tingkat global masih perlu terus ditingkatkan kewaspadaan, keteguhan sikap, dan kemantapan ideologi dalam memelihara Ketahanan Nasional dan 120

menghadapi tantangan karena adanya kecenderungan dan gejala dominasi negara adikuasa yang selalu memaksakan kehendaknya yang berdampak negatif bagi kepentingan negara berkembang. Pembangunan pertahanan keamanan negara selama Pembangunan Jangka Panjang Pertama telah berhasil meningkatkan kesadaran bela negara dan mengembangkan kemampuan bangsa untuk mengatasi segala tantangan yang dihadapi bangsa dan negara, yang tercermin dalam terpeliharanya stabilitas nasional yang dinamis sehingga pembangunan nasional dapat berlangsung dengan lancar dan aman. Kebutuhan personel, alat utama, serta sarana dan prasarana pendukungnya, baik jumlah maupun kualitas, masih perlu ditingkatkan sesuai dengan tuntutan pengamanan pembangunan mengingat luas, posisi wilayah negara, dan jumlah penduduk yang besar, serta kemungkinan tantangan global yang makin meningkat. Dari uraian hasil pembangunan dan penilaian di atas secara umum dapat disimpulkan bahwa pembangunan dalam PJP I telah berhasil mencapai tujuannya, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat serta meletakkan landasan yang kuat bagi tahap pembangunan selanjutnya. Namun, disadari pula bahwa masih terdapat berbagai masalah yang sifatnya mendasar yang belum terselesaikan sampai dengan akhir Repelita V yang sekaligus akhir PJP I. Masih ada ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang menuntut usaha sungguh-sungguh untuk mengatasinya agar tidak berlanjut dan berkembang ke arah keangkuhan dan kecemburuan sosial yang dapat menghambat pembangunan. Jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan secara absolut masih cukup tinggi. Pertambahan jumlah penduduk dan persebaran penduduk yang masih belum merata menimbulkan masalah pengembangan sumber daya manusia, khususnya masalah peningkatan kualitas, penyediaan lapangan kerja, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Mutu pendidikan masih perlu ditingkatkan. Peningkatan mutu, pemerataan pelayanan kesehatan dan perbaikan 121

gizi masyarakat masih memerlukan perhatian lebih besar lagi. Perhatian yang lebih besar masih perlu diberikan khususnya kepada daerah terbelakang, daerah yang padat, dan daerah yang sangat kurang penduduknya, daerah transmigrasi, daerah terpencil, dan daerah perbatasan, serta daerah yang memiliki khas, seperti daerah tertentu di kawasan timur Indonesia. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya lahan, air, dan hutan, serta pola tata ruang masih belum sepenuhnya dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sehingga perlu terus diperhatikan bersamaan dengan pemeliharaan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Semuanya itu perlu diupayakan pemecahannya dalam PJP II yang dimulai dengan Repelita VI.

122

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->