P. 1
Pembelajaran Tuna Netra

Pembelajaran Tuna Netra

|Views: 1,531|Likes:
Published by Dedi Mukhlas

More info:

Published by: Dedi Mukhlas on Jun 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

Strategi pembelajaran anak tuna netra

Permasalahan strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra didasarkan pada dua pemikiran, yaitu : 1. Upaya memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak (di satu sisi). 2. Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih berfungsi, untuk mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi lain). Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra pada hakekatnya adalah strategi pembelajaran umum yang diterapkan dalam kerangka dua pemikiran di atas. Pertama-tama guru harus menguasai karakteristik/strategi pembelajaran yang umum pada anak-anak awas, meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya. Langkah berikutnya adalah menganalisis komponen-komponen mana saja yang perlu atau tidak perlu dirubah/dimodifikasi dan bagaimana serta sejauh mana modifikasi itu dilakukan jika perlu. Pada tahap berikutnya, pemanfaatan indera yang masih berfungsi secara optimal dan terpadu dalam praktek/proses pembelajaran memegang peran yag sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Dalam pembelajaran anak tunanetra, terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, antara lain :

1) Prinsip Individual
Prinsip individual adalah prinsip umum dalam pembelajaran manapun (PLB maupun pendidikan umum) guru dituntut untuk memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan

individu. Dalam pendidikan tunanetra, dimensi perbedaan individu itu sendiri menjadi lebih luas dan kompleks. Di samping adanya perbedaan-perbedaan umum seperti usia, kemampuan mental, fisik, kesehatan, sosial, dan budaya, anak tunanetra menunjukkan sejumlah perbedaan khusus yang terkait dengan ketunanetraannya (tingkat ketunanetraan, masa terjadinya kecacatan, sebab-sebab ketunanetraan, dampak sosial-psikologis akibat kecacatan, dll). Secara umum, harus ada beberapa perbedaan layanan pendidikan antara anak low vision dengan anak yang buta total. Prinsip layanan individu ini lebih jauh mengisyaratkan perlunya guru untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak. Inilah alasan dasar terhadap perlunya (Individual Education Program – IEP).

2) Prinsip kekonkritan/pengalaman penginderaan
Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru harus memungkinkan anak tunanetra mendapatkan pengalaman secara nyata dari apa yang dipelajarinya. Dalam bahasa Bower (1986) disebut sebagai pengalaman penginderaan langsung. Anak tunanetra tidak dapat belajar melalui pengamatan visual yang memiliki dimensi jarak, bunga yang sedang mekar, pesawat yang sedang terbang, atau seekor semut yang sedang mengangkut makanan. Strategi pembelajaran harus memungkinkan adanya akses langsung terhadap objek, atau situasi. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium, mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga melihat bagi anak low vision. Prinsip ini sangat erat kaitannya dengan komponen alat/media dan lingkungan pembelajaran. Untuk memenuhi prinsip kekonkritan, perlu tersedia alat atau media pembelajaran yang mendukung dan relevan. Pembahasan mengenai alat pembelajaran akan disampaikan pada bagian khusus.

3) Prinsip totalitas
Strategi pembelajaran yang dilakukan guru haruslah memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman objek maupun situasi secara utuh dapat terjadi apabila guru mendorong siswa untuk melibatkan semua pengalaman penginderaannya secara terpadu dalam memahami sebuah konsep. Dalam bahasa Bower (1986) gagasan ini disebut sebagai multi sensory approach, yaitu penggunaan semua alat indera yang masih berfungsi secara menyeluruh mengenai suatu objek. Untuk mendapatkan gambaran mengenai burung, anak tunanetra harus melibatkan perabaan untuk mengenai ukuran bentuk, sifat permukaan, kehangatan. Dia juga harus memanfaatkan pendengarannya untuk mengenali suara burung dan bahkan mungkin

juga penciumannya agar mengenali bau khas burung. Pengalaman anak mengenai burung akan menjadi lebih luas dan menyeluruh dibandingkan dengan anak yang hanya menggunakan satu inderanya dalam mengamati burung tersebut. Hilangnya penglihatan pada anak tunanetra menyebabkan dirinya menjadi sulit untuk mendapatkan gambaran yang utuh/menyeluruh mengenai objek-objek yang tidak bisa diamati secara seretak (suatu situasi atau benda berukuran besar). Oleh sebab itu, perabaan dengan beberapa tekhnik penggunaannya menjadi sangatlah penting.

4) Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity)
Strategi pembelajaran haruslah memungkinkan atau mendorong anak tunanetra belajar secara aktif dan mandiri. Anak belajar mencari dan menemukan, sementara guru adalah fasilitator yang membantu memudahkan siswa untuk belajar dan motivator yang membangkitkan keinginannya untuk belajar. Prinsip ini pun mengisyaratkan bahwa strategi pembelajaran harus memungkinkan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan mendengar dan mencatat. Keharusan ini memiliki implikasi terhadap perlunya siswa mengetahui, menguasai, dan menjalani proses dalam memperoleh fakta atau konsep. Isi pelajaran (fakta, konsep) adalah penting bagi anak, tetapi akan lebih penting lagi bila anak menguasai dan mengalami guna mendapatkan isi pelajaran tersebut.

Pola Pembelajaran
Permasalahan pembelajaran dalam pendidikan tunanetra adalah masalah penyesuaian. Penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran pada anak tunanetra lebih banyak berorientasi pada pendidikan umum, terutama menyangkut tujuan dan muatan kurikulum. Dalam strategi pembelajaran, tugas guru adalah mencermati setiap bagian dari kurikulum, mana yang bisa disampaikan secara utuh tanpa harus mengalami perubahan, mana yang harus dimodifikasi, dan mana yang harus dihilangkan sama sekali.
http://vantheyologi.wordpress.com/2009/10/19/anak-tuna-netra/

ODUL 4 KARAKTERISTIK DAN PENDIDIKAN ANAK TUNANETRA Kegiatan Belajar 1 Pengertian, Klasifikasi, Penyebab, dan Cara Pencegahan Terjadinya Tunanetra 1. Istilah tunanetra digunakan untuk orang yang mengalami gangguan penglihatan yang tergolong berat sampai yang benar-benar buta, yang diklasifikasikan menjadi kurang lihat (low vision/parfially sighted) dan buta. Bedasarkan ketajaman penglihatan, orang yang diklasifikasikan pada kurang lihat mempunyai ketajaman penglihatan antara 20/70 feet sampai 20/200 feet. Sedangkan yang tergolong buta memiliki ketajaman penglihatan 20/200

feet atau kurang; atau lebih dari 20/200 feet, tetapi lantang pandangnya tidak lebih besar dari 20 derajat. 2. Tunanetra dapat diklasifikasikan berdasarkan, tingkat ketajaman penglihatan, saat terjadinya tunanetra, serta adaptasi pendidikannya. 1. Berdasarkan tingkat ketajaman penglihatannya tunanetra dapat dibedakan menjadi: 1. Tunanetra dengan ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m atau 20/70 feet-20/200 feet, yang disebut kurang lihat. 2. Tunanetra dengan ketajaman penglihatan antara 6/60 m atau 20/200 feet atau kurang, yang disebut buta. 3. Tunanetra yang memiliki visus 0, atau yang disebut buta total (tolally blind). 2. Berdasarkan saat terjadinya, tunanetra diklasifikasikan menjadi tunanetra sebelum dan sejak lahir, tunanetra batita, tunanetra balita, tunanetra pada usia sekolah, tunanetra remaja, dan tunanetra dewasa. 3. Berdasarkan adaptasi pendidikannya, tunanetra diklasifikasikan menjadi: 1. ketidakmampuan melihat taraf sedang (moderate visual disability). 2. ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability). 3. ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability). 3. Ketunanetraan dapat disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor dari dalam diri individu, yaitu sering disebut faktor keturunan. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri individu, yang antara lain meliputi: penyakit rubela dan sipilis, glaukoma, retinopati diabetes, retinoblastoma, kekurangan vitamin A, terkena zat kimia, serta karena kecelakaan. 4. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya tunanetra, meliputi tiga cara, yaitu: secara medis, sosial, dan edukatif. Kegiatan Belajar 2 Karakteristik Anak Tunanetra 1. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Akademis Tilman & Osborn (1969) menemukan beberapa perbedaan antara anak tunanetra dan anak awas. 1. Anak tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus seperti halnya anak awas, namun pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan. 2. Anak tunanetra mendapatkan angka yang hampir sama dengan anak awas, dalam hal berhitung, informasi, dan kosakata, tetapi kurang baik dalam hal pemahaman

(comprehention) dan persaman. 3. Kosa kata anak tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang definitif. 2. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek pribadi dan Sosial 1. Ketunanetraan tidak secara langsung menyebabkan timbulnya masalah kepribadian. Masalah kepribadian cenderung diakibatkan oleh sikap negatif yang diterima anak tunanetra dari lingkungan sosialnya. 2. Anak tunanetra mengalami kesulitan dalam menguasai keterampilan sosial, karena keterampilan tersebut biasanya diperoleh individu melalui model atau contoh perilaku dan umpan balik melalui penglihatan. 3. Beberapa karakteristik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari ketunanetraannya, adalah curiga terhadap orang lain, mudah tersinggung, dan ketergantungan pada orang lain. 3. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Fisik/Indera dan Motorik/Perilaku 1. Dilihat secara fisik, akan mudah ditentukan bahwa orang tersebut mengalami tunanetra. Hal itu dapat dilihat dari kondisi matanya yang berbeda dengan mata orang awas dan sikap tubuhnya yang kurang ajeg serta agak kaku. 2. Anak tunanetra pada umumnya menunjukkan kepekaan yang lebih baik pada indera pendengaran dan perabaan dibandingkan dengan anak awas. 3. Dalam aspek motorik/perilaku, gerakan anak tunanetra terlihat agak kaku dan kurang fleksibel, serta sering melakukan perilaku stereotif, seperti menggosok-gosok mata dan menepuk-nepuk tangan. Kegiatan Belajar 3 Kebutuhan dan Layanan Pendidikan bagi Tunanetra 1. Anak tunanetra sebagaimana anak lainnya, membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Oleh karena adanya gangguan penglihatan, anak tunanetra membutuhkan layanan khusus untuk merehabilitasi kelainannya, yang meliputi: latihan membaca dan menulis huruf Braille, penggunaan tongkat, orientasi dan mobilitas, serta latihan visual/fungsional penglihatan. 2. Layanan pendidikan bagi anak tunanetra dapat dilaksanakan melalui sistem segregasi, yaitu secara terpisah dari anak awas; dan integrasi atau terpadu dengan anak awas di sekolah biasa. Tempat pendidikan dengan sistem segregasi, meputi: sekolah khusus (SLB-A), SDLB,

dan kelas jauh/kelas kunjung. Bentuk-bentuk keterpaduan yang dapat diikuti oleh anak tunanetra yang mengikuti sistem integrasi, meliputi: kelas biasa dengan guru konsultan, kelas biasa dengan guru kunjung, kelas biasa dengan ruang-ruang sumber, dan kelas khusus. 3. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra; pada dasarnya sama dengan strategi pembelajaran bagi anak awas, hanya dalam pelaksanaannya memerlukan modifikasi sehingga pesan atau materi pelajaran yang disampaikan dapat diterima/ditangkap oleh anak tunanetra melalui indera-indera yang masih berfungsi. 4. Dalam pembelajaran anak tunanetra, terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan,antara lain prinsip: individual, kekonkritan/pengalaman penginderaan, totalitas, dan aktivitas mandiri (selfactivity). 5. Menurut fungsinya, media pembelajaran dapat dibedakan menjadi: media untuk menjelaskan konsep (alat peraga) dan media untuk membantu kelancaran proses pembelajaran (alat bantu pembelajaran). 1. Alat peraga yang dapat digunakan dalam pembelajaran anak tunarungu meliputi: objek atau situasi sebenarnya, benda asli yang diawetkan, tiruan /model (tiga dimensi dan dua dimensi), serta gambar( yang tidak diproyeksikan dan yang diproyeksikan ). 2. Alat bantu pembelajaran, antara lain meliputi: alat bantu menulis huruf Braille (reglet, pen dan mesin ketik Braille); alat bantu membaca huruf Braille (papan huruf dan optacon); alat bantu berhitung (cubaritma, abacus/sempoa, speech calculator), serta alat bantu yang bersifat audio seperti tape-recorder. 6. Evaluasi terhadap pencapaian hasil belajar pada anak tunanetra pada dasarnya sama dengan yang dilakukan terhadap anak awas, namun ada sedikit perbedaan yang menyangkut materi tes/soal dan teknik pelaksanaan tes. Materi tes atau pertanyaan yang diajukan kepada anak tunanetra tidak mengandung unsur-unsur yang memerlukan persepsi visual; apabila menggunakan tes tertulis, soal hendaknya diberikan dalam huruf braille atau menggunakan reader (pembaca) apabila menggunakan huruf awas.
http://inklusif.blogdetik.com/2010/09/24/pengantar-pendidikan-luar-biasa/

INTERAKSI SOSIAL ANAK TUNANETRA DI SLB
28 11 2009

Penulis: Uhay dan Irine Puspita (Guru SLB Negeri Subang) Memasuki lingkungan baru selalu menjadi problema bagi semua orang. Apalagi bagi mereka yang mempunyai kebutuhan khusus yang diakibatkan oleh kelainan. Termasuk anak tunanetra. Baik bagi mereka yang baru masuk sekolah, maupun bagi mereka yang sudah bersekolah. Persoalan berat akan sangat terasa bagi mereka yang baru pertama kali memasuki dunia sekolah. Beragam kesan dan rasa muncul pada dirinya. Umumnya lingkungan baru memberikan rasa tidak nyaman bagi anak tunanetra, kadang dibarengi dengan ketakutan-ketakutan yang sangat berlebihan. Setiap langkah yang ditapaki anak tunanetra menjadi masalah baginya. Teman yang menghampiri, menjadi seseorang yang amat asing untuk dikenalnya. Ia akan menarik diri jika ada yang ingin berkenalan dengannya. Sikap egois, cepat marah, mudah curiga, takut terhadap lingkungan baru, dan sebagainya. Jelasnya, anak tunanetra kurang dapat melakukan interaksi sosial yang memuaskan atau interaksi sosialnya mengalami keterbatasan. Keadaan ini tentunya menimbulkan persoalan tidak saja bagi sang siswa, tetapi juga bagi guru dan teman-teman di lingkungan sekitarnya. Interaksi merupakan perhatian timbal balik antara dua orang atau lebih terhadap suatu objek atau orang ke tiga. Perhatian timbal balik ini sering kali direspon dengan isyarat, ujaran atau tindakan. Soerjono Soekanto (1986: 51) mengutip pendapat Young dan Raymond dan Gillin dan Gillin menjelaskan, bahwa: “Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.”

Anak tunanetra memiliki ganguan fungsi penglihatan baik sebagian atau seluruhnya, sehingga menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan dirinya, seperti: pada perkembangan kognitif, perkembangan akademik, perkembangan orientasi dan mobilitas serta perkembangan sosial dan emosi. Hal ini mengakibatkan anak tunanetra dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial seringkali mengalami hambatan-hambatan. Ini dikarenakan anak tunanetra kurang mampu memiliki persyaratan-persyaratan normatif yang dituntut dari lingkungannya, misal: kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam bergaul, cara menyatakan terimakasih, saling menghormati, kemampuan dalam berekspresi, cara melambaikan tangan, dan lain-lain. Adanya perubahan lingkungan baru bagi anak tunanetra memberikan benturan-benturan, yang dapat mengakibatkan hal-hal yang menyenangkan atau mengecewakan. Anak tunanetra harus dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian sosial dalam lingkungan sekolah. Bagi anak tunanetra hal ini sangatlah sulit, karena anak harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru di sekolah, baik secara pasif maupun secara aktif. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku sosial dalam berinteraksi dengan lingkungan, mereka harus mampu memanfaatkan alat indera lain. Alat indera yang dapat dikembangkan seperti: pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap. Hal ini sebagai upaya memperlancar interaksi sosial dengan lingkungannya, walaupun hasilnya tidak sebaik dan selengkap jika dibarengi dengan adanya indera penglihatan. Selain itu, adanya kesiapan mental anak tunanetra untuk memasuki lingkungan baru atau kelompok lain yang berbeda, akan sangat baik dalam pengembangan sosialnya. Sebaliknya, ketidaksiapan mental anak untuk masuk ke dunia baru sering mengakibatkan anak tunanetra gagal dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosialnya. Jika kegagalan dianggap sebagai tantangan dan merupakan pengalaman yang terbaik, maka hal ini akan menjadi modal utama untuk memasuki lingkungan baru berikutnya. Namun apabila kegagalan tersebut merupakan ketidakmampuan, maka akan timbul rasa frustasi/putus asa, menarik diri dari lingkungan. Keterbatasan interaksi sosial pada anak tunanetra patuh dipahami oleh semua pihak, terutama orang tua dan guru. Orang tua dan guru berkewajiban mengupayakan agar interaksi sosial yang dimiliki anak tunanetra dapat ditingkatkan. Guru mempunyai

peranan penting dalam menghadapi anak tunanetra agar mampu berinteraksi dengan lingkungan di sekolah, sebab guru sebagai orangtua di sekolah yang harus siap melayani pendidikan anak tunanetra dengan segala bentuk kekurangannya, khususnya dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosial anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa. Faktor-faktor yang dapat menghambat interaksi anak tunanetra ketika berada di sekolah yaitu: 1. Pengalaman buruk yang diterima sebelum berada di sekolah. 2. Mobilitas yang belum terlatih, sehingga memunculkan keraguan pada diri anak untuk melakukan kontak sosial dan komunikasi. 3. Persepsi yang ditanamkan orang-orang terdekat terhadap kontak sosial. 4. Minat yang dimiliki anak tunanetra. 5. Peran individu lain di lingkungan sekitarnya terhadap kehadiran dirinya. Interaksi sosial anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa juga dipengaruhi oleh perbedaan kepribadian dan kecakapan yang dimiliki anak. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang sangat besar untuk terlibat dalam interaksi sosial anak tunanetra di sekolah. Peran yang dilakukan guru yaitu, mengadakan hubungan dengan guru-guru lain, teman-teman seusia dan orang lain yang ada disekitar lingkungan sekolah. Pengalaman dalam berinteraksi di lingkungan rumah yang dibimbing orang tua, juga sangat menentukan kepribadian dan kecakapan anak tunanetra pada saat berada di sekolah. Sekolah memiliki norma-norma dan aturan-aturan yang berbeda dengan norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku di rumah. Di sekolah anak tunanetra akan dihadapkan pada berbagai aturan dan disiplin yang berlaku pada lingkungannya. Masa transisi dari orientasi lingkungan keluarga ke sekolah tidaklah mudah. Hal ini sering menimbulkan masalah pada anak tunanetra. Ketidaksiapan mental anak tunanetra dalam menghadapi lingkungan baru di sekolah atau kelompok lain yang berbeda, seringkali mengakibatkan gagal dalam mengembangkan kemampuan sosialnya. Apabila kegagalan tersebut dihadapi pada suatu kenyataan dan tantangan, maka hal ini biasanya menjadi modal utama dalam menghadapi lingkungan yang baru. Namun jika kegagalan dihadapi sebagai suatu ketidakmampuan, maka sikap-sikap ketidakberdayaan yang akan muncul menumpuk menjadi sebuah rasa putus asa yang mendalam dan akhirnya menghindari kontak sosial.

Pengalaman sosial yang dimiliki seseorang dapat menentukan daya yang memungkinkan seseorang dapat menguasai lingkungan, penguasaan diri atau hubungan antara keduanya. Adanya kehilangan fungsi penglihatan pada anak akan mengakibatkan terjadinya keterpisahan sosial. Anak dengan ketunanetraan seringkali mengalami kesulitan untuk menyelaraskan tindakannya pada situasi yang ada. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki membuat anak tunanetra merasa terisolasi dari orang-orang normal, atau dapat menimbulkan perasaan minder, bimbang, ragu, tidak percaya diri, jika berada dalam situasi yang tidak dikenalnya. Situasi dan aktivitas di sekolah bagi anak tunanetra yang hanya beberapa jam dalam sehari, sesungguhnya menggantikan posisi keluarga. Peran orang tua diganti oleh bapak/ibu guru, peran saudara diganti oleh teman-teman, dan sebagainya. Sedangkan kontak sosial dan komunikasi di sekolah terjadi di dalam dan di luar kelas. Interaksi yang terjadi di dalam kelas berlangsung antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Supaya kontak dan komunikasi berjalan lancar, maka setiap warga sekolah harus memahami dalam situasi mana interaksi itu berlaku. Pemahaman dari seluruh warga sekolah dapat membantu anak tunanetra untuk bisa melakukan kontak sosial seperti yang diharapkan. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu anak tunanetra agar mampu mengembangkan potensinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional maupun sosial. Melalui program bimbingan, pengajaran, dan latihan anak tunanetra mendapatkan perhatian khusus dalam hal interaksi sosial di sekolah. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang besar, agar anak tunanetra memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan individu lain yang berada di sekitar sekolah. Guru membimbing anak tunanetra secara bertahap, disesuaikan dengan dasar pengalaman anak tunanetra ketika berada dalam lingkungan rumahnya. Program bimbingan, pengajaran, dan latihan di sekolah yang berkaitan dengan kebutuhan interaksi sosial anak tunanetra dapat diberikan guru dalam bentuk: 1. Bimbingan untuk mengenal situasi sekolah, baik dari sisi fisik bangunan maupun dari sisi interaksi orang per-orang. 2. Menumbuhkembangkan perasaan nyaman, aman, dan senang dalam lingkungan barunya.

3. Melatih kepekaan indera-indera tubuh yang masih berfungsi sebagai bekal pemahaman kognitif, afektif dan psikomotornya. 4. Melatih keberanian anak tunanetra untuk mengenal hal-hal baru, terutama hal-hal yang tidak ia temui ketika berada di rumah. 5. Menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian dalam berkomunikasi dan melakukan kontak. 6. Melatih mobilitas anak untuk mengembangkan kontak-kontak sosial yang akan dilakukan dengan teman sebaya. 7. Memberikan pendidikan etika dan kesantunan berkaitan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku dalam suatu daerah. Pendidikan etika yang berlaku di rumah dapat berbeda ketika anak tunanetra masuk dalam lingkungan baru dengan beragam kepribadian individu. 8. Mengenalkan anak tunanetra dalam beragam karakter interaksi kelompok. Hal ini dapat memberikan pemahaman bahwa tiap kelompok memiliki karakter interaksi yang berbeda. Misalnya kelompok anak-anak kecil, kelompok remaja, atau kelompok orang dewasa. Interaksi sosial yang baik maupun yang kurang baik merupakan proses yang tidak diturunkan bagi anak tunanetra, melainkan diperoleh melalui proses belajar, bimbingan dan latihan. Pengaruh internal maupun eksternal yang positif dan negatif, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi anak tunanetra dalam berinteraksi. Untuk menghindari terjadinya perilaku yang kurang baik pada anak tunanetra dalam bergaul perlu ditanamkan kemauan yang kuat. Kemauan yang kuat pada diri anak tunanetra dapat menimbulkan kepercayaan pada diri. Anak tunanetra juga dapat membedakan antara perilaku yang baik dan kurang baik dalam berinteraksi dengan lingkungannya melalui program pengembangan interaksi sosial. sumber : http://www.plbjabar.com/old/?inc=artikel&id=44

Komentar : Leave a Comment »

Kategori : Tuna Netra

PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN YANG TEPAT BAGI SISWA TUNANETRA http://pendidikanabk.wordpress.com/category/tuna-netra/
28 11 2009

Oleh : Ipan Hidayatulloh, S.pd Tujuan pembelajaran merupakan sasaran utama yang harus dicapai setelah proses pembelajaran selesai. Metode dan pendekatan yang tepat untuk mengajar dan aktivitas siswa dalam belajar merupakan hal yang harus diperhatikan ketika merancang suatu rencana pembelajaran. Dengan demikian pemilihan metode sangat penting agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Hal itu senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Surakhmad (1986 :75), bahwa metode adalah suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan yang akan dicapai John D. Latuheru (1988 : 14) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik atau warga belajar). Selanjutnya Suharsimi Arikunto (1987 : 16) mengemukakan bahwa media adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk lebih mempertinggi efektifitas serta efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan seoptimal mungkin. Oleh karena itu, dari berbagai pendapat para ahli kita dapat menyimpulkan bahwa: Media pembelajaran merupakan alat bantu pembelajaran yang digunakan sesuai dengan tujuan dan isi materi pembelajaran sebagai usaha untuk mempermudah menyampaikan informasi dari sumber belajar kepada penerima informasi, dengan tujuan untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik dalam kegiatan belajarmengajar. Dengan demikian maka seorang pendidik dalam melakukan proses belajar mengajar harus dapat memilih antara media yang cocok dengan materi yang akan diberikan kepada siswanya. Penggunaan media pembelajaran yang tidak sesuai mengakibatkan materi tidak tersampaikan dengan sempurna. Pemilihan media pembelajaran juga harus memperhatikan kondisi siswa

sebagai subjek pembelajaran. Pemilihan media belajar seyogyanya harus disesuaikan dengan kondisi siswanya. Siswa tunanetra berbeda kondisinya dengan tuna rungu, begitu pula dengan siswa normal, semuah siswa memiliki kekhususan dalam melakukan pembelajaran. Berikut ini kita akan lebih membahas bagaimana siswa tunanetra mengatasi keterbatasannya dalam belajar yang berkaitan dengan pembelajaran menggunakan media peta. Pengetahuan tentang sifat-sifat ruang dari benda yang biasa dilakukan lewat penglihatan, dapat dilakukan pula dengan rabaan. Di sini pengalaman kinestetis memegang peranan penting. Dengan rabaan anak tuna netra bisa tahu tentang bentuk benda, besar kecilnya, bahkan mempunyai kelebihan yaitu bisa mengerti halus kasarnya ( teksture) dan daya lenting ( elastisitas ) serta berat ringannya suatu benda. Tetapi meskipun ada kelebihannya, anak tuna netra memiliki kekurangan. Rabaan dibatasi oleh jarak jangkauan yang pendek, hanya sepanjang tangannya. Meskipun tidak tergantung kepada adanya cahaya, akibatnya benda-benda yang jauh tidak dapat dikenal, atau benda-benda yang terlalau besar sulit untuk dikenali. Demikian pula benda-benda yang tidak mungkin diraba tetap tidak dikenalnya dengan baik karena sifatnya. Misalnya, anak tuna netra tidak bisa menegenal bentuk api karena panasnya. Penglihatan memiliki fungsi yang khas karena itu terpenting, yaitu sebagai indera penyatu dan pemadu. Dengan penglihatannya, orang dapat mengetahui sesuatu secara menyeluruh dan serentak. Berbagai sifat benda dapat dikenal secara rinci dan terpadu. Oleh karena itu, tidak adanya penglihatan telah dibuktikan banyak mempunyai berbagai macam akibat. Hal ini akan menempatkan anak tuna netra dalam kesulitan untuk memperoleh kecakapan atau kemampuan. Persepsi warna adalah juga khas kemampuan penglihatan. Oleh karenanya, tidak mungkin dapat digantikan oleh indera lain utuk mengerti tentang warna. Dengan demikian, ia juga tidak mungkin memiliki konsep warna yang sebenarnya. Ia akan mengembangkan pengertiannya tentang warna secara verbal misalnya, emas dapat diketahui berwarna kuning karena ia pernah mendengar dari orang lain bahwa emas berwarna kuning. Akibat yang jelas dan mudah dilihat jika seseorang kehilangan fungsi penglihatan adalah ketika ia terpaksa melakukan kegiatan berpindah-pindah dan mencari sesuatu yang hilang. Sebagai contoh, ketika media peta timbul digunakan siswa untuk mengenal konsep ruang yang dijelaskan dalam pelajaran sejarah, dimungkinkan siswa akan mengalami kesulitan memahami pelajaran sejarah tersebut melalui cerita. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan daya konsentrasi dan ketertarikan siswa tersebut. Pada saat siswa tunanetra meraba peta timbul dan menerima sensasi raba, siswa diharapkan akan lebih memahami pelajaran yang diberikan, karena mereka telah mengalami perabaan pada media tersebut. Pengalaman

tersebut akan lebih mudah tersimpan dalam memori siswa tunanetra. Sehingga dengan media peta timbul ini akan meningkatkan ketertarikan siswa pada pelajarannya. Lebih jauh lagi, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Begitu pula dengan pelajaran lainnya, diharapkan guru bisa memilih media yang tepat untuk menyampaikan materi yang diajarkan. Kesesuaian media pembelajaran dan materi pelajaran diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa, kesesuaian tersebut juga harus memperhatikan situasi dan kondisi siswa sebagai warga belajar. Sumber : http://plbjabar.com/?inc=info_plb_jabar&kat=artikel&id=67

Komentar : Leave a Comment »

Kategori : Tuna Netra

Strategi pembelajaran anak tuna netra
28 11 2009

Oleh : VANtheyologist 19 Oktober 2009 Permasalahan strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra didasarkan pada dua pemikiran, yaitu : 1. Upaya memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak (di satu sisi). 2. Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih berfungsi, untuk mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi lain). Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra pada hakekatnya adalah strategi pembelajaran umum yang diterapkan dalam kerangka dua pemikiran di atas. Pertama-tama guru harus menguasai karakteristik/strategi pembelajaran yang umum pada anak-anak awas, meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya. Langkah berikutnya adalah menganalisis komponen-komponen mana saja yang perlu atau tidak perlu dirubah/dimodifikasi dan bagaimana serta sejauh mana modifikasi itu dilakukan jika perlu.

Pada tahap berikutnya, pemanfaatan indera yang masih berfungsi secara optimal dan terpadu dalam praktek/proses pembelajaran memegang peran yag sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Dalam pembelajaran anak tunanetra, terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, antara lain : 1) Prinsip Individual Prinsip individual adalah prinsip umum dalam pembelajaran manapun (PLB maupun pendidikan umum) guru dituntut untuk memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individu. Dalam pendidikan tunanetra, dimensi perbedaan individu itu sendiri menjadi lebih luas dan kompleks. Di samping adanya perbedaan-perbedaan umum seperti usia, kemampuan mental, fisik, kesehatan, sosial, dan budaya, anak tunanetra menunjukkan sejumlah perbedaan khusus yang terkait dengan ketunanetraannya (tingkat ketunanetraan, masa terjadinya kecacatan, sebab-sebab ketunanetraan, dampak sosial-psikologis akibat kecacatan, dll). Secara umum, harus ada beberapa perbedaan layanan pendidikan antara anak low vision dengan anak yang buta total. Prinsip layanan individu ini lebih jauh mengisyaratkan perlunya guru untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak. Inilah alasan dasar terhadap perlunya (Individual Education Program – IEP). 2) Prinsip kekonkritan/pengalaman penginderaan Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru harus memungkinkan anak tunanetra mendapatkan pengalaman secara nyata dari apa yang dipelajarinya. Dalam bahasa Bower (1986) disebut sebagai pengalaman penginderaan langsung. Anak tunanetra tidak dapat belajar melalui pengamatan visual yang memiliki dimensi jarak, bunga yang sedang mekar, pesawat yang sedang terbang, atau seekor semut yang sedang mengangkut makanan. Strategi pembelajaran harus memungkinkan adanya akses langsung terhadap objek, atau situasi. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium, mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga melihat bagi anak low vision. Prinsip ini sangat erat kaitannya dengan komponen alat/media dan lingkungan pembelajaran. Untuk memenuhi prinsip kekonkritan, perlu tersedia alat atau media pembelajaran yang mendukung dan relevan. Pembahasan mengenai alat pembelajaran akan disampaikan pada bagian khusus. 3) Prinsip totalitas Strategi pembelajaran yang dilakukan guru haruslah memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman objek maupun situasi secara utuh dapat terjadi apabila guru mendorong siswa

untuk melibatkan semua pengalaman penginderaannya secara terpadu dalam memahami sebuah konsep. Dalam bahasa Bower (1986) gagasan ini disebut sebagai multi sensory approach, yaitu penggunaan semua alat indera yang masih berfungsi secara menyeluruh mengenai suatu objek. Untuk mendapatkan gambaran mengenai burung, anak tunanetra harus melibatkan perabaan untuk mengenai ukuran bentuk, sifat permukaan, kehangatan. Dia juga harus memanfaatkan pendengarannya untuk mengenali suara burung dan bahkan mungkin juga penciumannya agar mengenali bau khas burung. Pengalaman anak mengenai burung akan menjadi lebih luas dan menyeluruh dibandingkan dengan anak yang hanya menggunakan satu inderanya dalam mengamati burung tersebut. Hilangnya penglihatan pada anak tunanetra menyebabkan dirinya menjadi sulit untuk mendapatkan gambaran yang utuh/menyeluruh mengenai objek-objek yang tidak bisa diamati secara seretak (suatu situasi atau benda berukuran besar). Oleh sebab itu, perabaan dengan beberapa tekhnik penggunaannya menjadi sangatlah penting. 4) Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity) Strategi pembelajaran haruslah memungkinkan atau mendorong anak tunanetra belajar secara aktif dan mandiri. Anak belajar mencari dan menemukan, sementara guru adalah fasilitator yang membantu memudahkan siswa untuk belajar dan motivator yang membangkitkan keinginannya untuk belajar. Prinsip ini pun mengisyaratkan bahwa strategi pembelajaran harus memungkinkan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan mendengar dan mencatat. Keharusan ini memiliki implikasi terhadap perlunya siswa mengetahui, menguasai, dan menjalani proses dalam memperoleh fakta atau konsep. Isi pelajaran (fakta, konsep) adalah penting bagi anak, tetapi akan lebih penting lagi bila anak menguasai dan mengalami guna mendapatkan isi pelajaran tersebut. Pola Pembelajaran Permasalahan pembelajaran dalam pendidikan tunanetra adalah masalah penyesuaian. Penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran pada anak tunanetra lebih banyak berorientasi pada pendidikan umum, terutama menyangkut tujuan dan muatan kurikulum. Dalam strategi pembelajaran, tugas guru adalah mencermati setiap bagian dari kurikulum, mana yang bisa disampaikan secara utuh tanpa harus mengalami perubahan, mana yang harus dimodifikasi, dan mana yang harus dihilangkan sama sekali. Sumber : http://vantheyologi.wordpress.com/2009/10/19/anak-tuna-netra/

Komentar : Leave a Comment »

Kategori : Tuna Netra

Anak Tunanetra
28 11 2009

Oleh : Yanti D.P. 05 Februari 2009, 3:08 pm Definisi : Tunanetra adalah gangguan daya penglihatan, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus, mereka masih tetap memerlukan pendidikan khusus Ciri-ciri : 1. Tidak mampu melihat 2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter 3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata 4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan 5. Mengalami kesulitan saat mengambil benda kecil disekitarnya 6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik/kering 7. Peradangan hebat pada kedua bola mata 8. Mata bergoyang terus Nilai standar: 4 (Artinya 4 dari 8 ciri pada anak, mereka dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan khusus Kelompok yang Mengalami Keterbatasan Penglihatan : • Mengenal bentuk atau obyek dari berbagai jarak • Menghitung jari dari berbagai jarak • Tidak mengenal tangan yang digerakkan

Kelompok yang Mengalami Keterbatasan Penglihatan yang Berat (Buta) : • Yang tergolong mempunyai persepsi cahaya (light perception) • Yang tergolong tidak memiliki persepsi cahaya (no light perception) Layanan Pendidikan Tunanetra Dikelompokkan Menjadi: • Mereka mampu membaca cetakan standart • Mampu membaca cetakan standart dengan menggunakan kaca pembesar • Mampu membaca cetakan besar (ukuran huruf:18) • Mampu membaca cetakan kombinasi cetakan reguler dan catakan besar • Membaca cetakan besar dengan kaca pembesar • Menggunakan Braille tetapi masih bisa melihat cahaya (sangat berguna untuk mobilitas) • Menggunakan Braille tetapi tidak punya persepsi cahaya Keterbatasan Anak Tunanetra : • Keterbatasan dalam konsep dan pengalaman baru • Keterbatasan dalam berinteraksi dengan lingkungan • Keterbatasan dalam mobilitas Kebutuhan Pembelajaran Anak Tunanetra : Karena keterbatasan anak tunanetra, maka pembelajarannya harus mengacu kepada prinsipprinsip: a. Kebutuhan akan pengalaman konkret b. Kebutuhan akan pengalaman memadukan c. Kebutuhan akan berbuat dan bekerja dalam belajar Media Belajar Anak Tunanetra dikelompokkan menjadi dua, yaitu: • Kelompok buta dengan media pembelajarannya adalah tulisan Braille • Kelompok Low Vission dengan medianya adalah tulisan awas yang dimodifikasi (huruf diperbesar, penggunaan alat pembesar tulisan) Keterampilan Kompensatoris bagi anak Tunanetra : • Keterampilan membaca dan menulis huruf Braille • Keterampilan melakukan mobilitas: Perlu latihan Orientasi dan Mobilitas (kemampuan menemukenali lokasi, dan kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tepat dan aman)

Sumber : http://bintangbangsaku.com/artikel/2009/02/anak-tunanetra/

Komentar : Leave a Comment »

Kategori : Tuna Netra

Ajak Anak Tunanetra Mandiri Sejak Dini
28 11 2009

Oleh : Apriani Landa Rabu, 14 Oktober 2009 | 02:04 WITA MEMILIKI kekurangan tidak menghalangi anak-anak usia dini untuk mengembangkan diri. Apalagi sekarang telah hadir Pusat Layanan Dini (Early Intervention Center) untuk anak Tunanetra dan Anak dengan Gangguan Penglihatan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina. Pusat layanan yang diprakarsai oleh Helen Keller International (HKI)/Indonesia dan didukung oleh United States Agency for International Development (USAID) ini diresmikan Gubernur Sulsel melalui Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Rachmat Latief, Selasa (13/10). Melalui pusat layanan dini ini, anak-anak yang menderita tuna netra atau gangguan penglihatan bisa mengembangkan diri lebih terarah karena tenaga didik yang ahli telah mendapat pelatihan dari Helen Keller International (HKI). Untuk tahun ajaran 2009 ini, ada tujuh anak yang mendapat pembinaan yang terarah. Layaknya sekolah taman kanak-kanak (TK) umum, di tempat ini, anak-anak yang memiliki gangguan penglihatan ini juga mendapatkan penanganan dini. Mereka diberikan latihan dasar tentang aktivitas sehari-hari, seperti latihan dasar seperti memakai sepatu, mengancing baju, bahkan membuat teh. Ini semua dilakukan tentu dengan kesabaran yang luar biasa dari pendidik, karena semuanya harus ditangani dengan khusus dan maksimal. “Pada usia ini, mereka belum menemukan jati diri, apalagi dalam kondisi mereka yang kurang tersebut. Di sini, mereka dikenalkan pada diri sendiri dan akhirnya siap masuk pada pembelajaran,” ujar Kepala SLB Pembina, Fatmawati Azis MPd. Fatmawati melanjutkan, dari pengenalan aktivitas sehari-hari, kemudian dilanjutkan pada perhatian orientasi mobilitas, pengenalan huruf braille, sampai anak itu nanti terarah.

Melalui pelayanan dini ini, terlebih dahulu diketahui apa kebutuhan anak. Karena setiap anak memiliki kebutuhan tersendiri, tergantung dengan kondisinya. Ada yang buta total, low vision (penglihatan kabur/samar) yang bisa ditolong dengan kacamata, dan ada juga yang memiliki kecacatan ganda. Seperti tunanetra sekaligus tunarungu atau grahita, atau lainnya. “Selain mengikuti pembelajaran, anak-anak di sini juga menjalani terapi dan layanan kesehatan, untuk memantau perkembangan mereka,” ujar Fatmawati. Ini mengajarkan anakanak lebih mandiri dan tetap merasa percaya meski dalam keterbatasan tersebut. Jika sudah masuk, akan dipindahkan ke jenjang SD, baik di SLB maupun ke SD umum. Mereka juga mendapat pelatihan kekhususan, misalnya mayoritas dilatih dengan tongkat, bagaimana jika berada di lingkungan umum, bagaimana saat akan menyebrang jalan, atau akan naik angkot. Target Lanjut ke SD KEHADIRAN Pusat Layanan Dini untuk anak tunanetra dan anak dengan gangguan penglihatan diharapkan bisa meningkatkan mutu dan kesempatan pendidikan kepada anak, meski dalam keterbatasan. National Program Manager OVC HKI, Emilia Kristiyanti, mengatakan target dalam setahun, ada anak yang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SD, baik di SLB maupun ke sekolah umum. Karena dengan penanganan yang maksimal dan secara khusus dari guru yang telah mendapat pelatihan dari HKI, maka anak-anak bisa tumbuh dan siap untuk berbaur dengan anak-anak normal di sekolah umum sekalipun. Kehadiran HKI ini meningkatkan pelayanan pendidikan kepada anak-anak yang mendapat perlakuan khusus. Menurut Kepala Seksi Pendidikan Luar Biasa dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Andi Patawari, HKI hadir di Sulsel sejak tahun 2007 dan telah melahirkan tenaga pendidik dengan kemampuan dan keahlian hebat dalam melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Sumber : http://www.tribun-timur.com/read/artikel/52811

Komentar : Leave a Comment »

Kategori : Tuna Netra

Belajar Menulis Untuk Tunanetra

28 11 2009

Oleh : Team Andriewongso.com Kamis, 17-April-2008; 08:37:16 WIB Untuk belajar membaca dan menulis, umumnya anak-anak penyandang tunanetra menggunakan huruf braille. Namun, bagi kebanyakan orang, pastilah sulit untuk memahami tulisan mereka tanpa memiliki pengetahuan dasar soal Braille. Hal inilah yang mendasari beberapa ilmuwan untuk mengembangkan teknologi menulis bagi kaum tunanetra. Seperti upaya yang dilakukan oleh Doktor Beryl Plimmer dari Auckland University yang dibantu oleh mahasiswanya Rachel Blagojevic. Mereka mencoba mengembangkan sebuah robot dan komputer khusus yang dapat membantu anak-anak penyandang tunanetra belajar menulis layaknya orang biasa. Teknologi ini nantinya diharapkan dapat memberi pelajaran bagi anak-anak tunanetra untuk mempelajari bentuk huruf dan menggerakkan pena serta dapat membuat tanda tangan seperti orang pada umumnya. Saat ini, biasanya kaum tunanetra membuat tanda tangan dengan menggunakan stensil atau membubuhkan tanda X. Teknologi yang dikembangkan Plimmer dan Blagojevic ini menggunakan metode seperti alat bedah virtual. Cara kerjanya yaitu memadukan komputer layar sentuh dengan sebuah lengan robot. Penggunaannya teknologi ini cukup mudah. Seorang instruktur akan menuliskan huruf di komputer layar sentuh, kemudian gerakan menulis dari instruktur tersebut akan ditiru oleh lengan otot robot yang menggenggam pena. Pada saat yang sama, sang anak yang belajar menulis juga memegang pena dan mempelajari gerak pena tersebut. Sementara tangan satunya meraba papan khusus yang memunculkan tekstur tulisan tersebut. Dengan inovasi tersebut, diharapkan anak-anak tunanetra dapat mempelajari bentuk huruf yang ditulis oleh orang pada umumnya. Mereka pun dapat membubuhkan tanda tangan dengan layak pada dokumen-dokumen penting. Sayang, kapan teknologi tersebut akan diluncurkan ke pasaran belum diketahui.

Pendidikan : Masa Depan Tunanetra dan Optimalisasi Pendidikan Inklusif
Kamis, 15-Mei-2008 - oleh : Mohammad Takdir Ilahi Dibaca 1952 kali Pendahuluan “setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkelainan berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya (anak normal) dalam pendidikan” Tulisan di atas, sengaja saya kutip sebagai langkah awal untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia agar memiliki kepedulian dan perhatian penuh terhadap anak-anak yang menderita kelainan fisik dan mental. Kesadaran ini, tentu bukan karena ingin mendapatkan pujian dan kehormatan dari orang lain, tetapi ini dilakukan atas dasar rasa kemanusiaan sebagai sesama yang juga berkesempatan memperoleh hak-hak hidup secara layak. Terkadang kita berpikiran negatif dan cendrung mengesampingkan anak-anak yang berkelainan dari segi fisik dan mental. Karena alasan itulah, kita kehilangan kesadaran bahwa mereka juga sama dengan kita dan mereka pun mempunyai kedudukan yang sama dalam segala apa pun. Inilah yang terjadi

dengan tunanetra, sosok manusia yang dalam kehidupan masyarakatnya kurang mendapatkan perhatian dan seringkali karena kelainannya itu, mereka termarginalkan oleh lingkungan tempat tinggalnya. Dalam segala aspek kehidupan pun, tunanetra tidak bisa bergaul selayaknya anak-anak normal yang punya gairah bermain, belajar, dan bercanda. Saya punya pengalaman menarik, ketika bertatap muka langsung melihat kondisi tunanetra yang berkecimpung dengan aneka alat, semisal permainan, mesin tik Braille, computer dengan program Braille, printer Braille, abacus, calculator bicara, kertas braille, penggaris Braille, kompas bicara dan lain sebagainya. Pengalaman saya tersebut berkaitan dengan kegairahan dan semangat yang berlipat dari kaum tunanetra yang belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Walaupun secara logika, mereka tidak memiliki masa depan yang cerah seperti anak-anak yang lain, namun semangat kebersamaan mereka dalam menjalani hidup dan proses belajar patut diacungi jempol. Ini karena, mereka bisa menjalin persaudaraan yang kokoh untuk tetap maju menatap masa depan yang menjadi dambaan mereka. Ketika saya bertanya kepada mereka, apa yang anda impikan dengan kondisi anda yang tidak memungkinkan? Mereka menjawab, “saya hanya ingin seperti anak-anak yang lain, yang mempunyai cita-cita tinggi dalam hidup. Di samping itu, harapan saya yang paling besar adalah dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, lingkungan masyarakat, keluarga, teman-teman, tenaga pendidik khusus tunanetra, agar selalu memberikan semangat kepada kami semua yang tidak sama dengan mereka”. Ketika itu pula, saya berpikir bahwa tunenetra mempunyai keinginan yang sama, perlakuan yang baik, dan kesempatan yang setara dalam hidup, terutama ketika memasuki dunia pendidikan formal. Pengalaman saya berkumpul bersama tunanetra, membuat saya semakin dewasa untuk memberikan santunan dan motivasi yang besar bagi mereka. Bahkan, karena seringnya berkumpul, saya termotivasi secara pribadi untuk menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Ini karena, seorang tunanetra bernama Andi yang pernah berkumpul bersama saya, memiliki keinginan yang kuat untuk bertahan dalam kondisi apa pun, dan ketika memasuki pendidikan formal, dia semakin percaya diri dalam menjalankan aktivitasnya sebagai seorang pelajar. Dari segi pergaulan pun, dia selalu fun dengan kondisinya dan tidak ada perasaan terabaikan sedikit pun dari pergaulan bersama teman-temannya yang memiliki fisik sempurna. Dari SLB Menuju Pendidikan Umum Selama ini, saya hanya tahu, bahwa tunanetra lebih banyak di tempatkan di lembaga-lembaga pendidikan yang khusus, semisal Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Berkelainan (SLB), dan Pendidikan Terpadu. Diantara pendidikan khusus bagi tunanetra yang hampir sama dengan pendidikan formal adalah Pendidikan Terpadu. Pendidikan Terpadu ini adalah model penyelenggaraan program pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus yang diselenggarakan bersama-sama dengan anak normal dalam satuan pendidikan yang bersangkutan di sekolah reguler (SD,SMP, SMA dan SMK) dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di lembaga pendidikan yang bersangkutan. (Kepmendikbud No. 002/U/1986). Karena itu, dalam kesempatan ke depan, tunanetra perlu diberikan peluang yang besar untuk memasuki dunia pendidikan umum (formal). Ini dilakukan, agar potensi yang dimiliki tunanetra dapat tersalurkan secara optimal, walaupun pada akhirnya potensi yang berkembang tersebut tidak seperti potensi yang dimiliki anak-anak normal yang lain. Selain itu, dengan kesempatan yang ada ini, diharapkan lembaga pendidikan umum mampu memberikan pelayanan secara khusus kepada tunanetra. Perlu disadari bahwa kesempatan bagi tunanetra untuk memperoleh pendidikan umum, saat ini masih sangat minim. Minimnya kesempatan tersebut, dalam pandangan saya akan semakin mempersulit pengembangan potensi dan skill yang dimiliki tunanetra. Padahal, akses pendidikan yang kita ketahui bukan hanya diberikan kepada anak normal, melainkan tunanetra pun juga berkesempatan untuk mengenyam pendidikan umum. Pendidikan adalah salah satu hak asasi manusia yang dilindungi dan dijamin oleh berbagai instrumen hukum internasional maupun nasional. Dokumen Pendidikan untuk Semua (Deklarasi Dunia Jomtien, 1990) ingin memastikan

bahwa semua anak, tanpa kecuali, memperoleh pendidikan. Akan tetapi, di Indonesia, misalnya, menurut data Depdiknas tahun 202, hanya sekitar 7,5% anak penyandang cacat usia sekolah yang sudah memperoleh pendidikan formal di sekolah. Masuknya tunanetra ke lembaga pendidikan umum (formal), bagi saya tidak hanya sekedar penguatan untuk menghilangkan asumsi negatif yang menganaktirikan kalangan tunanetra, melainkan mesti dilandasi dengan kesadaran baru dalam rangka membantu masa depan mereka agar bisa mengenyam pendidikan formal secara layak tanpa tebang pilih. Kesadaran semua pihak dalam merealisasikan program pendidikan bagi tunanetra ini, pada akhirnya akan membakar semangat mereka untuk belajar lebih giat, tekun, ulet, sungguh-sungguh, dan selalu percaya diri dengan potensi yang dimilikinya. Nah, ketika tunanetra sudah masuk di lembaga pendidikan formal, saya berharap lingkungan baru itu tidak menjadi bumerang bagi proses bejarnya. Ini karena, pendidikan formal bukan merupakan pendidikan khusus atau terpadu bagi tunanetra, tetapi di lembaga pendidikan ini, mereka akan berbaur dengan anak normal yang memiliki pandangan berbeda ketika melihat dan berkumpul dengan anak-anak tunanetra. Melihat kenyataan inilah, Bambang Basuki salah seorang pendiri Yayasan Mitra Netra, yang juga guru SLB mengatakan bahwa tunanetra yang tidak mempunyai gangguan akademik dan juga emosional, mereka hanya membutuhkan rehabilitasi, kemudian aksesibiltas dan perlakuan khusus. Rehabilitasi itu berupa konseling bahwa mereka menerima kebutaannya, baik yang low vision dengan menggunakan pembesaran huruf dan orientasi mobilitas karena tidak bergerak dengan mandiri. Sekarang kita melihat IT sebagai akesiliblitas untuk mendapat informasi maupun komuniaksi secara tertulis itu masih bermasalah. Di samping itu juga, yang menjadi persoalan adalah terkait dengan aksesibilitas transportasi bagi kalangan tunanetra yang menempuh pendidikannya di lembaga pendidikan formal. Optimalisasi Pendidikan Inklusif Ketika anak tunanetra masuk ke lembaga pendidikan formal, maka pendekatan yang dinilai paling efektif adalah dengan jalan optimalisasi pendidikan inklusif secara berkelanjutan kepada tunanetra. Dalam pendidikan terpadu pun, pendidikan inklusif menjadi pilihan yang dirasakan sangat membantu terhadap pengembangan potensi dan skill tunanetra. Pilihan model ini bagi tunanetra, sebenarnya banyak didorong oleh kemudahan yang menjadai karakteristik dari pendidikan inklusif. Sehingga tak heran, jika sistem segregasi tidak lagi dipakai dalam sistem belajar mengajar, dan sebagai pilihan yang dinilai sukses adalah dengan menerapkan pendidikan inklusif bagi kalangan tunanetra. Dalam pandangan Didi Tarsito, pendidikan dalam setting segregasi memang dapat memberikan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan memenuhi kebutuhan khusus anak tunanetra secara akademik, tetapi cenderung memisahkan anak dari lingkungan sosialnya (termasuk dari lingkungan keluarganya), dan kurang memberi kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi secara lebih luas. Pada gilirannya, segregasi tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk mengenal orang tunanetra secara benar. Karena itulah, pendidikan inklusif tampaknya dapat mengatasi kekurangankekurangan yang telah diterapkan oleh sistem regregasi. Saya mengartikan pendidikan inklusif sebagai pendidikan yang memberikan layanan terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk mengembangkan potensi-potensinya secara optimal. Dalam artian, model pendidikan ini, berupaya memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak, termasuk anak tunanetra-agar memperoleh kesempatan belajar yang sama, di mana semua anak memiliki akses yang sama ke sumber-sumber belajar yang tersedia, dan sarana yang dibutuhkan tunanetra dapat terpenuhi dengan baik. Maka tak berlebihan, jika Sekolah reguler dengan orientasi inklusi merupakan alat yang paling efektif untuk memerangi sikap diskriminatif, menciptakan masyarakat yang ramah, membangun masyarakat yang inklusif dan mencapai “pendidikan bagi semua” (education for all). Demi masa depan tunanetra, pendidikan inklusif harus berjalan secara optimal dan segala kebutuhan tunanetra dalam proses belajar mengajar diupayakan dapat terpenuhi. Adanya pendidikan inklusif ini, ternyata

telah dijamin oleh Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dalam penjelasannya disebutkan, bahwa “penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk peraturan operasional”. Dengan jaminan Undang-Undang ini, pelaksanaan pendidikan inklusif bagi tunanetra akan semakin berkembang dan terlaksana sesuai dengan rencana awal yang ingin membimbing tunanetra menjadi manusia-manusia potensial dan tangguh dalam menghadapi segala tantangan hidup di masa depan. Apalagi saat ini, kita sudah memasuki dunia baru yang lebih menantang kita untuk berjuang melawan segala bentuk kebebasan yang pada akhirnya dapat menghambat cita-cita luhur bangsa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itulah, dalam implementasi pendidikan inklusif, kita memerlukan upaya maksimal yang dapat mengantarkan anak-anak tunanetra mencapai pendidikannya secara inklusif dan integral. Dalam hal ini, Sunardi (2002) memberikan lima poin penting penerapan pendidikan inklusif bagi kalangan tunanetra. Pertama, menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang hangat, menerima keanekaragaman, dan menghargai perbedaan. Kedua, mengajar kelas yang heterogen memerlukan perubahan pelaksanaan kurikulum secara mendasar. Ketiga, menyiapkan dan mendorong guru untuk mengajar secara interaktif. Keempat, penyediaan dorongan bagi guru dan kelasnya secara terus menerus dan penghapusan hambatan yang berkaitan dengan isolasi profesi. Kelima, melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses perencanaan. Penutup Dengan setting pendidikan inklusif ini, masa depan tunanetra yang pada awalnya terus menerus termarginalkan dan terabaikan dari lingkungan masyarakat dan pergaulan dengan teman-temannya, diharapkan mampu bangkit dari diskriminasi dan tindakan sewenang-wenang orang-orang yang tidak memiliki kesadaran. Tentu hal ini, dapat terwujud apabila penerapan pendidikan inklusif berjalan optimal dan memberikan kobaran semangat bagi tunanetra.
Penyuntingan oleh editor Kartunet.com http://arsip.kartunet.com/?pilih=lihat2&topik=10&id=82

Mengenai Saya

dede taufik blog ini saya gunakan sebagai curahan perasaan dan seikit pengetahuan. disini saya simpan beberapa pengetahuan yang mudah2an bermanfaat. Lihat profil lengkapku

Senin, 07 Desember 2009
Makalah Tunanetra BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Usaha pembangunan dalam bidang pendidikan ditandai dengan usaha peningkatan kualitas lulusan pada berbagai jenjang pendidikan. Hal ini membawa implikasi bahwa setiap lembaga pendidikan hendaknya berusaha agar tujuan institusional dan tujuan kurikuler yang telah dirumuskannyadapat dicapai secara lebih baik. Di Indonesia menuntut agar para siswa dalam setiap pertemuan pembelajaran dapat menguasai unit

bahan tertentu secara tuntas. Penguasaan terhadap bahan yang dipelajarinya akan mampunyai pengaruh yang besar terhadap usaha dan keberhasilan siswa dalammenguasai bahan berikutnya. Kenytaan menunjukan kepada kita bahwa tidak semua siswa, pada setip saat berhasil dalam kegiatan belajar yang dilakukanya. Ketidak berhasilan yang dialami siswa dapat bersumber pada keadaan diri siswa sendiri,atou dapat pula bersumber pada faktor yang ada diluar dirinya. Yang pasti membutuhkan bimbingan orang lain dalam usaha mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Layanan bimbingan ini lebih-lebih lagi dirasakan kebutuhanya bagi siswa-siswa anak berkebutuhan khusus, kelainannya yang bermacam-macam dapat merupakan salah satu faktor timbulnya kesulitan belajar di sekolah yang diantaranya:Ngompol(enuresis) dan BAB(encopresis) B. RUMUSAN PERMASALAHAN Bertitik tolak dari latar belakang diatas dan sesuai dengan judul makalah, maka kami membatasi permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, permasalahan tersebut yaitu : 1. Bagaimanakah gangguan fungsi panca indera pada anak itu? 2. Apa saja yang merupakan gangguan fungsi panca indera? 3. Apa saja faktor penyebab gangguan fungsi panca indera? 4. Gejala apa saja yang tampak pada penderita yang mengalami gangguan fungsi panca indera? 5. Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mengobati penderita yang mengalami gangguan fungsi panca indera? C. TUJUAN Tujuan dibuatnya makalah ini diantaranya: 1. Memperoleh pemahaman tentang makna dan prinsip bimbingan 2. Memperoleh pemahaman tentang kedudukan dan kebutuhan akan layanan bimbingan di Sekolah Dasar. 3. Menguraikan karakteristik dari masing-masing anak yang mengalami gangguan fungsi pancaindra. 4. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab anak yang mengalami gangguan fungsi pancaindra. 5. Mengemukakan alternatif bantuan serta teknik-teknik bimbingan khusus yang dikaitkan bagi anak yang mengalami gangguan fungsi pancaindra. D. MANFAAT Adapun manfaat dari makalah ini yaitu : 1. Dapat memberikan pengetahuan tentang anak berkebuthan khusus yang mengalami gangguan fungsi panca indera. 2. Memberikan petunjuk kepada para pendidik mengenai bimbingan anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan fungsi panca indera. 3. Sebagai sumber bacaan mengenai bimbingan anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan fungsi panca indra. E. METODE Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu teknik tinjauan kepustakaan. Penulis mengumpulkan data dengan cara membaca buku sumber dan literatur yang tepat dan sesuai untuk mempermudah dan memperlancar proses penyusunan makalah ini.

F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN Sistematika pembahasan yang penulis gunakan dalam penyusunan makalah ini, yaitu : Kata Pengantar Daftar isi BAB I Pendahuluan Terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, metode dan sistematika pembahasan. BAB II Bimbingan anak berkebutuhan khusus pada anak yang mengalami gangguan fungsi panca indera. Terdiri dari gangguan tuna netra, tuna rungu dan tuna wicara. BAB III Penutup Terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II BIMBINGAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS YANG MENGALAMI GANGGUAN FUNGSI PANCA INDERA A. TUNA NETRA 1. GLAUKOMA a. Pengertian Glaukoma adalah penyakit mata kronis progresif yang mengenai saraf mata dengan neuropati (kelainan saraf) optik disertai kelainan bintik buta (lapang pandang) yang khas. Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di dalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan. Faktor utamanya adalah tekanan bola mata yang tinggi. Glaukoma adalah penyakit yang merusak saraf mata yang terjadi akibat tekanan bola mata atau tekanan intra okulat yang tinggi. Glaukoma merupakan sebuah penyakit mata yang bisa berakhir dengan kebutaan. Walau belum sepopuler katarak, glaukoma tidak kalah berbahaya. Di Indonesia kini glaukoma sudah menjadi ancaman kebutaan nomor dua setelah katarak dengan angka prevalensi 0,20 persen. Sementara katarak memiliki angka prevalensi 0,78 persen dari penduduk Indonesia. Berbeda dengan katarak yang merupakan kondisi di mana lensa mata keruh atau berkabut sehingga terjadi gangguan penglihatan, glaukoma jauh lebih serius lagi. Glaukoma adalah penyakit yang merusak saraf mata yang terjadi akibat tekanan bola mata atau tekanan intra okulat yang tinggi. Pada mata normal, saraf berfungsi meneruskan bayangan yang kita lihat ke otak. Di otak, bayangan tersebut akan bergabung di pusat penglihatan dan membentuk suatu sensasi penglihatan. Bila tekanan bola mata seseorang sudah di atas 21 mmHg, maka orang tersebut pantas dicurigai menderita glaukoma. Tekanan pada bola mata ini dipicu oleh tersumbatnya akous humor, yakni cairan jernih yang terdapat di dalam bola mata bagian depan. Cairan ini dengan teratur mengalir dari tempat pembentukannya ke saluran keluarnya, seperti air keran. Apabila dapat diatasi dengan baik sebelum terjadi kerusakan retina dan saraf mata, biasanya ada harapan untuk pulih kembali. Namun yang terjadi, seringkali orang tidak menyadari kalau salah satu dari matanya kena glaukoma. Dari berbagai kasus yang ada, banyak pasien yang datang ke ahli medis setelah kedua bola matanya terkena glaukoma. Terdapat dua jenis gloukoma, yaitu glaukoma akut dan glaukoma kronis. Glaukoma akut menyerang

kedua mata sekaligus. Penderita akan mengalami gejala mata merah, pandangan kabur, nyeri pada mata disertai sakit kepala, juga rasa mual dan muntah-muntah. Secara fisik kemampuan penglihatan mata akan menurun. Beberapa kasus akan mengalami kondisi yang mirip dengan katarak. Setelah diketahui bahwa pasien menderita glaukoma akut maka dokter bisa memeriksanya dengan gonioskopi, yakni semacam alat untuk mengetahui apakah sudut mata yang tertutup masih bisa terbuka atau tidak. Sedangkan pada glaukoma kronis peningkatan tekanan di dalam mata terjadi dalam masa beberapa bulan atau tahun tanpa terjadi gejala apa-apa. Namun kalau tidak diobati, glaukoma kronis akhirnya mengakibatkan kebutaan total. Pada penderita glaukoma kronis tindakan serupa bisa juga dilakukan, tapi dengan waktu yang tidak terlalu mendesak sebab ancaman kebutaan tidak sebesar pada penderita glaukoma akut. b. Penyebab Faktor utama penyebab penyakit gloukoma adalah akibat tekanan bola mata atau tekanan intra okulat yang tinggi. Selain itu, gejala lain yang dapat menyebabkan gloukoma adalah akibat tekanan cairan yang terlalu tinggi didalam bola mata. Tekanan cairan yang tinggi ini akan merusak sel retina dan serabut saraf, sehingga penglihatan seseorang yang mengidap gloukoma akan semakin sempit dan akhirnya akan menjadi buta. Glaukoma terjadi ketika produksi dari cairan bola mata meningkat atau cairan bola mata tidak mengalir dengan sempurna sehingga tekanan bola mata tinggi, serabutserabut saraf di dalam saraf mata menjadi terjepit dan mengalami kematian. Akibatnya, hubungan penglihatan ke otak terganggu dan terjadi kebutaan.Tekanan cairan didalam bola mata meningkat karena saluran cairan tersekat akibat kerusakan saraf. Pada mata yang sehat/normal aliran keluar masuk cairan dalam bola mata akan seimbang. Tekanan bola mata ini gunanya untuk membentuk bola mata. Kalau tekanannya normal, berarti bola mata itu terbentuk dengan baik. Kalau tekanannya terlalu rendah, bola matanya menjadi kempes. Kalau tekanannya terlalu tinggi, berarti bola mata itu menjadi keras seperti kelereng. Akibatnya, akan menekan saraf mata ke belakang dan menekan saraf papil N II dan serabut-serabut saraf N II. Saraf-saraf yang tertekan itu dan yang menekan saraf papil II ini terjadi penggaungan. c. Gejala Gejala yang tampak pada gloukoma diantaranya adalah pandangan kabur, mata merah dan terasa nyeri, merasa sakit didalam dan sekitar bola mata, ruang penglihatan semakin sempit, penglihatan menjadi kabur dan rabun, sulit menyesuaikan penglihatan dalam keadaan gelap. d. Terapi Pengobatan Apabila seseorang menunjukkan gejala - gejala glaukoma, maka harus segera mendapatkan perawatan sejak dini. Semua jenis glaukoma harus dikontrol secara teratur kedokter mata selama hidupnya. Hal tersebut dikarenakan ketajaman penglihatan dapat menghilang secara perlahan tanpa diketahui penderitanya. Obat-obatan yang dipakai perlu dikontrol oleh dokter spesialis mata agar disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Satu hal yang perlu ditekankan adalah, bahwa saraf mata yang sudah mati tidak dapat diperbaiki lagi. Obat-obatan seperti obat tetes mata, obat makan, dan tindakan seperti laser dan bedah hanya untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari saraf mata tersebut. Pengobatan pertama penderita glaukoma adalah dengan pemberian obat tetes mata, kemudian pemberian tablet. Obat- obatan tersebut dapat menurunkan produksi atau meningkatkan pengeluaran cairan bola mata yang berada di dalam bola mata sehingga didapatkan tekanan bola mata sesuai yang diinginkan. Untuk mendapat- kan hasil terapi yang efektif, maka obat-obatan harus digunakan secara teratur dan terus-menerus. Tidak jarang obat-obatan tersebut memberikan efek samping, terutama jika pemakaian dalam jangka panjang. Obat tetes dapat menimbulkan rasa perih, kadang-kadang disertai mata merah dan dapat menyebabkan tajam penglihatan terganggu. Namun

demikian, efek samping ini biasanya akan hilang dalam beberapa waktu. Efek samping yang jarang terjadi adalah perubahan detak jantung, detak nadi, dan perubahan pernapasan. Obat-obatan berupa tablet sering menyebabkan rasa kesemutan pada ujung kaki dan tangan, rasa lemas, hilangnya rasa lapar, dan adanya batu ginjal. Penderita sebaiknya membicarakan adanya efek samping tersebut kepada dokter agar dapat dipertimbangkan pemakaian selanjutnya. Pengobatan dengan laser cukup berguna untuk beberapa jenis glaukoma. Pada glaukoma primer sudut terbuka, pengobatan dengan laser trabekuloplasti cukup efektif untuk jangka waktu tertentu. Pada glaukoma primer sudut tertutup, iridektomi perifer dapat dilakukan dengan laser, yaitu membuat saluran dari bilik mata belakang ke bilik mata depan. Tindakan ini sangat efektif untuk menurunkan tekanan bola mata. Apabila dibutuhkan, maka tindakan operasi dapat dilakukan. Operasi ini disebut sebagai trabekulektomi, yaitu suatu tindakan yang membuat saluran kecil dari bilik mata depan ke konjungtiva, untuk menurunkan tekanan di dalam bola mata. Dokter spesialis mata akan menggunakan alat operasi yang sangat kecil dan membutuhkan mikroskop khusus untuk operasi mata. 2. KATARAK a. Pengertian Katarak adalah sejenis kerusakan mata yang menyebabkan lensa mata berselaput dan rabun. Lensa mata menjadi keruh dan cahaya tidak dapat masuk kedalam mata. Keadaan ini menjadikan penglihatan seseorang dan akan menjadi buta jika tidak segera dirawat. Masalah katarak berbeda dengan Glaukoma yang merupakan sejenis kerusakan mata yang disebabkan oleh tekanan cairan yang terlalu tinggi di dalam bola mata. Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang mengakibatkan penglihatan menjadi kabur. Istilah katarak berasal dari bahasa Yunani yang berarti air terjun, karena orang yang menderita katarak memiliki penglihatan yang kabur, seolah-olah dibatasi air terjun. Pada mata sehat, lensa yang jernih berfungsi meneruskan sinar/cahaya ke dalam mata, sehingga mata dapat memfokuskan objek dari jarak yang berbeda-beda. Sebaliknya pada penderita katarak, lensa mata yang keruh menyebabkan jalannya sinar berkurang atau terhambat, sehingga lensa tidak dapat memfokuskan sinar yang masuk. b. Penyebab Katarak disebabkan hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa, proses penuaan (degeneratif). Meskipun tidak jarang ditemui pada orang muda, bahkan pada bayi yang baru lahir sebagai cacat bawaan, infeksi virus (rubela) di masa pertumbuhan janin, genetik, gangguan pertumbuhan, penyakit mata, cedera pada lensa mata, peregangan pada retina mata dan pemaparan berlebihan dari sinar ultraviolet. c. Gejala Gejala yang tampak pada katarak adalah penglihatan semakin kabur, sukar membaca kerana penglihatan tidak jelas, kerap menukar cermin mata kerana penglihatan tidak terang, selaput putih pada anak mata, merasa silau terhadap cahaya matahari. Gejala utama katarak adalah penglihatan kabur, daya penglihatan berkurang secara progresif, adanya selaput tipis yang menghalangi pandangan, sangat silau jika berada di bawah cahaya yang terang, mata tidak sakit dan tidak berwarna merah. Pada perkembangan selanjutnya penglihatan semakin memburuk, pupil akan tampak berwarna putih (ada putih-putih pada hitam mata), sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif. Penderita juga dapat merasa silau pada siang hari atau jika terkena sinar lampu mobil. Penglihatan pada malam hari yang lebih baik. Selain itu, pada gejala awal terdapat perbaikan

penglihatan dekat tanpa memakai kaca mata atau second sight. Bila dibiarkan, katarak dapat menyebabkan komplikasi seperti glaukoma dan kebutaan, karena lensa yang keruh menghalangi pemeriksaan bagian dalam mata yang lain, seperti perubahan pada keadaan retina atau kerusakan saraf mata yang meneruskan perintah dari mata ke otak. d. Terapi Pengobatan Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu normal pada penderita diabetes mellitus, senantiasa menjaga kesehatan mata, mengkonsumsi makanan yang dapat melindungi kelainan degeneratif pada mata dan antioksidan seperti buah-buahan banyak yang mengandung vitamin C, minyak sayuran, sayuran hijau, kacang-kacangan, kecambah, buncis, telur, hati dan susu yang merupakan makanan dengan kandungan vitamin E, selenium, dan tembaga tinggi. Vitamin C dan E dapat memperjelas penglihatan. Vitamin C dan E merupakan antioksidan yang dapat meminimalisasi kerusakan oksidatif pada mata, sebagai salah satu penyebab katarak. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 3.000 orang dewasa selama lima tahun menunjukkan, orang dewasa yang mengonsumsi multivitamin atau suplemen lain yang mengandung vitamin C dan E selama lebih dari 10 tahun, ternyata risiko terkena katarak 60% lebih kecil. Katarak dapat disembuhkan, terlebih dengan semakin majunya teknologi kedokteran saat ini. Upaya pengobatan katarak yang paling efektif adalah dengan pembedahan. Lensa mata yang telah keruh diangkat dan diganti dengan lensa buatan (keratoplasty) yang ditanam (intra ocular lens). Dengan teknologi terbaru yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi (phacoelmusification), maka luka yang dibuat/sayatan untuk mengambil lensa yang keruh menjadi lebih kecil. Selain itu, penderita katarak dapat juga mengenakan kaca mata khusus yang telah diatur ketebalannya (kaca mata aphakia). Hasil penelitian para ahli dari University of Southern California (IPTEKnet, 2004) ada cara baru untuk mendapatkan kembali penglihatan bagi penderita katarak, yaitu dengan teknologi Implantasi Microchip pada retina. Microchip ini dapat bekerja baik pada sel-sel saraf retina mata yang masih sehat serta utuh, namun sel-selnya mengalami kemunduran penglihatan (photoreceptor). Microchip dapat mengubah sebentuk citra menjadi rangsangan elektrik. Alat ini bekerja dengan cara mengonversi citra menjadi sinyal elektronik yang ditransmisikan melalui silicon biochip fleksibel yang disematkan dekat retina mata. Microchip dengan daya elektronis dapat merangsang sel-sel penglihatan pada retina mata, kemudian meneruskan sinyal ke otak untuk diproses menjadi citra yang sesungguhnya seperti halnya pada mata normal. 3. JULING a. Pengertian Anatomi indera penglihatan dikatakan normal jika bayangan sebuah benda yang dilihat oleh kedua mata diterima dengan ketajaman yang sama. Bayangan ini secara serentak lalu dikirim ke susunan saraf pusat untuk diolah menjadi sensasi penglihatan tunggal. Penglihatan tunggal ini bisa terjadi kalau kedua mata dapat mempertahankan daya koordinasi untuk menjadikan kedua bayangan suatu benda menjadi satu (fusi). Sebaliknya, fusi akan hilang bila daya penglihatan salah satu mata kurang atau tidak ada. Pada penderita mata juling atau strabismus, mata tidak mempunyai kesatuan titik pandang. Kedudukan sumbu kedua bola mata itu tidak searah. Akibatnya, dua mata akan melihat dua benda atau dua bayangan (diplopia). Jadi, mata juling / strabismus adalah efek penglihatan dimana kedua mata tidak tertuju pada satu obyek yang menjadi pusat perhatian. b. Penyebab Pada mata normal, bayangan yang diproyeksikan ke otak akan membentuk gambar tiga dimensi. Sementara pada mata juling - karena tidak mempunyai kesatuan titik pandang - bentuk tiga dimensi

itu tidak didapat. Tidak jarang kita menjumpai mata yang terkesan juling. Tetapi kalau itu diperiksa, tidak terdapat tanda-tanda juling. Pakar kedokteran mata menyebut kesan ini sebagai pseudostrabismus / Juling palsu. Kasus ini banyak terjadi pada ras Mongol yang berhidung datar. Hal ini terjadi karena lipatan vertikal kulit pangkal hidung membuat sclera hidung tidak terlihat dengan jelas sehingga mata tampak juling ke atas. Ada lagi kasus lain yang disebut hipertelorisme. Pada kasus ini bola mata terdorong ke luar rongga orbita sehingga menimbulkan gambaran bola mata yang menyebar ke luar. Keadaan ini memberi kesan, mata tinggi sebelah. Dalam beberapa kasus, otot mata sering menjadi salah satu penyebabnya. Untuk menggerakkan bola mata digunakan enam macam otot mata. Bila semua otot itu tak ngadat alias bekerja normal, kedua mata akan berfungsi secara seimbang. Normal-tidaknya otot mata tergantung pada tebal-tipis, panjang-pendek, dan berfungsi-tidaknya saraf-saraf mata. Maka, jika di antara otot atau saraf ini ada yang tidak normal, keadaan itu bisa menyebabkan seseorang menderita juling. Tidak sedikit pula kasus mata juling disebabkan oleh gangguan perbedaan ketajaman penglihatan yang sangat besar antara kedua mata. Misalnya, mata kiri -2 (minus dua), mata kanan -9 (minus sembilan) atau lebih. Perbedaan ukuran antara mata kiri dan kanan yang masih bisa ditoleransi tidak boleh lebih dari 3. Mata juling bisa juga bisa dipicu oleh terjadinya kemunduran daya penglihatan yang dinamakan lazy eyes (mata malas), atau disebut juga ambliopia. Mata malas ini akibat satu mata mempunyai visus(ketajaman mata)rendah yang tidak dapat ditingkatkan lagi karena terlalu lama dibiarkan. Akibatnya, penglihatan didominasi oleh mata yang sehat saja. Mata juling bisa juga terjadi gara-gara munculnya tumor jinak atau pun ganas. Misalnya, akibat tumor otak, retinoblastoma (kanker mata), dan kanker yang sudah menyebar dan menekan saraf di bagian otak. Kondisi itu menyebabkan kelumpuhan otot-otot mata. Selain itu faktor bawaan (kongenital), trauma mata (tertusuk benda tajam atau tumpul), dan infeksi virus atau bakteri, infeksi toksoplasma yang ditularkan melalui kucing atau daging yang mengandung kuman toksoplasma tidak dimasak dengan baik juga merupakan faktor penyebab terjadinya mata juling. c. Gejala Penderita sering mengeluh matanya mudah lelah atau merasa penglihatannya berkurang pada satu mata, bila mata yang satu digunakan untuk melihat mata yang lain akan bergulir, akibat gangguan otot mata, terjadinya kemunduran daya penglihatan yang dinamakan lazy eyes (mata malas), atau disebut juga ambliopia. Bila melirik, perguliran bola mata tidak sampai ke ujung. Itu bisa karena terjadinya hambatan pada pergerakan bola mata sehingga mata tidak bisa bergerak ke segala arah dengan leluasa. Sering melihat sesuatu dengan posisi kepala miring ke kanan atau kiri, tengadah atau tertunduk. d. Terapi Pengobatan Terapi yang perlu dilakukan untuk menanggulangi kelainan mata juling adalah memulihkan kembali kesatuan titik pandang. Misalnya dengan menggunakan kaca mata. Usaha lain ialah dengan melakukan koreksi bedah refraktif untuk mengurangi kelainan rabun dengan menggunakan pisau bedah atau laser excimer. Selain itu juga dapat digunakan dengan cara menutup salah satu mata, sampai ototnya kembali normal. Mata yang ditutup, bisa yang sehat atau yang sakit. Dengan menutup mata yang sakit, diharapkan mendapatkan rangsangan dari mata sehat yang dipakai. Penderita juga diharapkan memeriksakan kondisi matanya ke dokter mata. 4. RABUN a. Pengertian Keadaan dimana mata tidak dapat melihat dengan jelas atau sempurna dalam jarak atau waktu

tertentu. b. Penyebab Avitaminosis ( kekurangan vitamin A ), trauma pada daerah mata yang mengakibatkan disfungsi syaraf optikus. c. Gejala Tidak dapat melihat dengan jelas atau sempurna dalam jarak dan waktu tertentu. d. Terapi Pengobatan Salah satu terapi yang dapat digunakan untuk mengobati kelainan mata rabun yaitu dengan cara makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung vitamin A, gunakan kaca mata yang dapat membantu daya penglihatan, dan dengan cara mengoperasi mata. B. TUNA RUNGU 1. HEARING IMPAIRMENT a. Pengertian Hearing Impirment yaitu disfungsi indera pendengaran atau tidak dapat mendengar dengan baik / tuli. b. Penyebab Dugaan penyebab terjadinya hearing impairment yaitu karena cacat bawaan sejak lahir, trauma, dan infeksi virus atau bakteri. c. Gejala Gejala yang tampak pada penderita hearing imapirment diantaranya disfungsi indera pendengaran atau tidak dapat mendengar. d. Terapi Pengobatan Untuk mengobati penderita yang mengalami hearing impairment dapat dilakukan dngan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi dan mengandung banyak vitamin, menggunakan alat bantu pendengaran dan melakukan operasi. 2. CONGEK a. Pengertian Congek yaitu keluarnya cairan berwarna putih kekuningan mirip ingus dari dalam telinga. b. Penyebab Pilek biasanya bisa menjadi awal mula masalah. Peradangan (apapun sebabnya, infeksi atau alergi) di hidung, bila menjalar sampai ke belakang, akan mencapai terowongan tadi. Terjadi proses di telinga tengah sebagai lanjutannya dan akhirnya menumpuklah cairan yang bisa mengandung kuman di telinga tengah tersebut. Cairan yang menumpuk dan tak bisa mengalir ini akan mendorong gendang telinga. Karena tekanan yang makin besar, akhirnya cairan tersebut menjebol gendang telinga, dan keluar dari liang telinga. Infeksi kronis telinga tengah ditandai dengan perforasi (lubang-lubang kecil) pada membran timpani dan keluarnya cairan terus-menerus atau hilang timbul. Cairan ini dapat berbentuk nanah, lendir kental atau encer. Penyebab lain juga bisa terjadi karena rusaknya gendang telinga, cedera kepala, tekanan darah tinggi, infeksi telinga, meningitis atau tumor, Ada pula beberapa macam kerusakan pendengaran yang bersifat turunan. c. Gejala Telinga mengeluarkan cairan berupa lendir disertai gatal – gatal pada daerah telinga bagian

tengah.Terganggunya fungsi pendengaran akibat cairan yang mongering sehimgga menutupi bagian lubang telinga. d. Terapi Pengobatan Upaya untuk menangani penderita yang mengalami congek dapat dilakukan dengan Cara menusuk gendang telinga dengan alat khusus, sehingga bila proses peradangan itu telah membaik, maka gendang telinga dapat pulih tertutup sebagai semula. Perbaikan untuk rongga telinga tengah yang meradang ada beberapa langkah. Liang telinga harus dibersihkan dulu dengan cairan tertentu agar bebas dari nanah atau cairan kotor yang menggenanginya. Kalau dokter tidak punya alat untuk mengisap cairan tersebut, dokter bisanya menyarankan untuk menggunakan larutan H2O2 3 persen. Hal ini dilakukan beberapa kali sehari selama 5 - 7 hari. Kadangkala juga ditambahkan obat yang harus ditelan untuk melegakan terowongan dan menurunkan panas. C. TUNA WICARA 1. BISU a. Pengertian Bisu adalah gangguan dimana penderita tidak dapat atau tidak mampu berbicara / berkomunikasi. Bisu adalah ketidakmampuan seseorang untuk berbicara b. Penyebab Bisu bisa terjadi karena beberapa penyebab, diantaranya cacat bawaan, adapula yang terjadi karena kecelakaan, selain itu bisu juga disebabkan oleh gangguan pada organ-organ seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru, mulut, lidah dan lain - lain. Bisu umumnya diasosiasikan dengan tuli. c. Gejala Gejala yang tampak pada penderita yang bisu yaitu tidak dapat berbicara atau disfungsi verbal communication. d. Terapi Pengobatan Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan berkonsultasi dengan dokter ahli. 2. GAGAP a. Pengertian Gagap adalah suatu gangguan bicara di mana aliran bicara terganggu tanpa disadari oleh pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata, atau frasa; serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Kegagapan merupakan sebuah gangguan bicara pada seseorang dimana dia mengetahui apa yang ingin dikatakan tetapi pada saat tersebut dia tidak dapat mengatakannya. Gagap memiliki beberapa jenis, diantaranya adalah blocks atau tertahan terjadi ketika berhenti berbicara sebelum mengeluarkan suara atau ketika berbicara atau ketika mengucapkan sebuah kata, pengulangan terjadi ketika suara, silabel atau sebuah kata diucapkan berulang-ulang. Contohnya pengulangan pada suara (p-p-p-pulpen). Kemudian perpanjangan terjadi ketika memanjangkan suara pada saat di awal kata. contohnya: ‘s—–>aya’ atau di dalam kata. Berhenti ketika berbicara terjadi ketika diam dan bicara yang tidak terkendali, jeda akan terjadi setelah kata-kata atau didalam kata-kata. b. Penyebab Kegagapan adalah dalam koordinasi pada bicara, bagaimanapun sebab yang sesungguhnya belum diketahui. Walaupun penyebab utama gagap tidak diketahui, faktor genetik dan neurofisiologi

diduga berperan atas timbulnya gangguan ini. Selain itu, kegagapan juga terjadi karena aliran udara, suara, dan otot yang terlibat ketika berbicara tiba-tiba berhenti berkerja sama dan menjadi terhenti. Penyebab lain disebabkan oleh psychogenic / berasal dalam pemikiran. c. Gejala Gejala yang tampak pada penderita gagap yaitu gangguan komunikasi verbal, berbicara terbata – bata, sering mengulag kata saat berbicara, kesulitan saat akan berbicara, dan lain – lain. d. Terapi Pengobatan Kegagapan pada umumnya terjadi pada anak – anak dan pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya saat anak tersebut mulai beranjak dewasa. Namun ada beberapa upaya untuk mengobati orang yang mengidap gagap, diantaranya yaitu orang yang gagap diharapkan tenang dan tidak rusuh atau terburu – buru saat akan berbicara. 3. TELOR a. Pengertian Telor yaitu gangguan komunikasi berupa berbicara tidak sempurna. b. Penyebab Telor terjadi karena bawaan sejak lahir dan faktor psikologis. c. Gejala Gejala yang tampak pada penderita telor yaitu berbicara tidak sempurna. d. Terapi Pengobatan Terapi yang dapat dilakukan untuk mengobati penderita telor yaitu dengan melatih komunikasi verbal dengan cara perlahan dan tenang atau tidak terburu–buru. 4. NASAL a. Pengertian Nasal adalah fonem yang direalisasikan melalui rongga hidung. Juga disebut sebagai bunyi sengau. Nasal merupakan gangguan pada nada suara dimana bada suara bicara tidak lepas dan tidak jelas. b. Penyebab Faktor penyebab nasal yaitu karena virus atau bakteri, pendarahan pada hidung, infeksi kronis pada hidung, seperti sinusitis atau rhinitis, yang dapat menyebabkan penyumbatan dan akhirnya pendarahan pembuluh darah kapiler. Dapat juga merupakan akibat menghirup bahan-bahan kimia yang menyebabkan iritasi pada mukosa nasal. c. Gejala Gejala yang tampak pada penderita nasal yaitu nada suara bicara tidak lepas dan tidak jelas. d. Terapi Pengobatan Terapi yang dapat dilakukan yaitu dengan mengajarkan pada penderita agar bernafas dengan benar , bernafas dengan menarik nafas lewat hidung dan dikeluarkan dari mulut.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pendidikan adalah suatu pembinaan/bimbingan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak

(yang dianggap belum dewasa) untuk mencapai tingkat kedewasaan. Dalam pendidikan, terdapat anak berkelainan yang membutuhkan bimbingan khusus. Salah satu kelainan tersebut yaitu gangguan fungsi panca indera. Gangguan fungsi panca indera terdapat beberapa macam, yaitu tuna netra terdiri dari visual impairment, juling, rabun, katarak, dan glaukoma. Tuna rungu terdiri dari hearing impairment dan congek. Tuna wicara terdiri dari bisu, gagap, telor, dan nasal. Untuk memberikan pendidikan pada anak yang mengalami gangguan fungsi panca indera harus dilakukan dengan bimbingan khusus. Bimbingan tersebut dapat dilakukan apabila kita mengetahui faktor penyebab dan gejalanya. Apabila faktor penyebab dan gejalanya sudah diketahui maka kita sebagai pendidik akan leih mudah dalam memberikan bimbingan pada anak berkebutuhan khusus tersebut. B. Saran Dalam proses pendidikan, pencapaian pendidikan merupakan tanggung jawab yang harus dipikul bersama antara pendidik/guru dan siswa. Oleh karena itu untuk memberikan bimbingan pada anak yang mengalami kelainan atau anak berkebutuhan khusus, seorang pendidik diharapkan dapat memahami dan mengetahui bagaimana memberikan pendidikan dan bimbingan pada anak berkebutuhan khusus. Sehingga seorang pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana pendidikan yang kondusif bagi proses pendidikan.

Diposkan oleh dede taufik di 14:43 Label: Anak Berkebutuhan Khusus http://dedetaufik.blogspot.com/2009/12/makalah-tunanetra.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->