P. 1
Contoh Laporan Evaluasi Program

Contoh Laporan Evaluasi Program

|Views: 308|Likes:
Published by Gunawan Al-qordowi

More info:

Published by: Gunawan Al-qordowi on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2014

pdf

text

original

Contoh Laporan Evaluasi Program

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab kita bersama baik antara pemerintah maupun masyarakat sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 31 ayat (1) yakni memberi hak kepada setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pengajaran. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 – 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah derah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat. Di bidang pembangunan pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya baik yang berkaitan dengan peningkatan kuantitas maupun kualitasnya. Dalam prakteknya, upaya itu sering kali menghadapi berbagai kendala. Krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia, misalnya disinyalir telah membawa dampak bertambahnya jumlah kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Kondisi ini menyebabkan semakin banyak orang yang tak mampu meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan merupakan masalah tersendiri dalam memberikan layanan pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Sistem pendidikan yang dimungkinkan dapat diterapkan untuk itu adalah sistem pendidikan terbuka jarak jauh. Karena sistem pendidikan ini diterapkan pada jenjang pendidikan menengah khususnya SMP, maka kita sebut dengan SMP Terbuka. Permasalahan dalam pendidikan sangat kompleks. Salah satu alternatif pemecahanya dimulai dari penemuan konsep SMP Terbuka oleh pemerintah yang diilhami oleh berbagai aspirasi masyarakat lapis bawah yang disampaikan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional).

Selama lima tahun masa percepatan penuntasan Program Wajb Belajar Sembilan Tahun, dari tahun 2003-2008 yang lalu, SMP Terbuka telah dapat menampung rata-rata sekitar 50.000 anak usia 13-15 tahun setiap tahun. Upaya ini merupakan karya besar yang ditangani secara sungguh-sungguh oleh Kementerian Pendidikan Nasional bersama pemerintah daerah. Pada saat ini SMP Terbuka yang operasional berjumlah 2.111 sekolah, memiliki 7.417 lokasi Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dengan 248.432 peserta didik secara keseluruhan. Mereka dilayani 26.248 Guru Bina di Sekolah Induk dan 15.221 Guru Pamong yang mendampingi dalam pembelajaran siswa sehari-hari di TKB. Salah satu SMP Terbuka yang ada di Kota Makassar adalah SMP Terbuka Ujung Tanah yang sekolah induknya adalah SMP Negeri 7 Makassar yang beralokasi di jalan Cakalang No. 2 Makassar dengan jumlah TKB (tempat kegiatan belajar) sebanyak 5 TKB. Sebagai sebuah program layanan pendidikan alternatif, pelaksanaan SMP Terbuka perlu dievaluasi. Data yang aktual secara kuantitatif maupun kualitatif dapat dijadikan dasar dalam penetapan keputusan apakah penyelenggaraan program ini perlu perbaikan dan

penyempurnaan atau dihentikan sama sekali. Salah satu bentuk partisipasi untuk melihat pelaksanaan program SMP Terbuka Ujung Tanah di Makassar adalah melalui evaluasi terhadap komponen konteks, input, proses dan produk dari program SMP Terbuka. Dengan harapan bahwa faktor-faktor yang dievaluasi tersebut dapat memberikan sumbangan berarti terhadap peningkatan efektivitas pelaksanaan program SMP Terbuka di Makassar, yang nantinya berujung pada peningkatan mutu siswa SMP Terbuka. B. Tujuan Program Program SMP Terbuka ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam mengsukseskan wajib belajar 9 tahun, terutama diperuntukkan bagi peserta didik yang mempunyai ekonomi lemah.

C.

Sasaran Program

SMP

Terbuka

diperuntukkan

bagi

anggota

masyarakat

usia

sekolah

tertutama bagi mereka yang tidak mampu untuk menempuh pendidikan reguler (sekolah umum), baik karena kemampuan ekonomi, jarak tempuh, waktu dan lain-lain.

BAB II Metode Monitoring dan Evaluasi

A. Jenis dan Pendekatan Model evaluasi yang digunakan dalam memonitoring program ini adalah model evaluasi Context-Input-Process-Product (CIPP). Tujuannya adalah untuk mengumpulkan informasi yang akurat dalam pengambilan keputusan lebih lanjut guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan program SMP Terbuka di masa yang akan datang. Model CIPP digunakan karena dibutuhkan ketersediaan informasi yang akurat dan menyeluruh. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan didukung pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mendapatkan hasil monitoring dan evaluasi yang mendalam dan komprehensif. Pendekatan ini digunakan untuk menangani data-data yang bersifat kuantitatif (angka).

B. Tahapan monitoring dan evaluasi Fokus monitoring dan evaluasi berdasarkan tahapan monitoring dan evaluasi ContextInput-Process-Product dikemukakan sebagai berikut: a. Penilaian konteks meliputi profil TKB (tempat kegiatan belajar), latar belakang program SMP Terbuka Ujung Tanah, faktor geografis-demografis, dan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan orang tua siswa. Informasi yang dikumpulkan digunakan sebagai dasar dalam pertimbangan program. b. Penilaian input meliputi peserta didik, kurikulum, bahan ajar, guru dan tenaga administrasi serta sarana belajar. Data dikumpulkan selama tahap penilaian digunakan sebagai pengambil keputusan. c. Penilaian proses adalah kegiatan penilaian selama pelaksanaan pendidikan. Penilaian ini berkaitan langsung dengan pelaksanaan tutorial, aktivitas belajar, penggunaan media pembelajaran, kemanfaatan laboratorium, kunjungan kepala sekolah, pemberian jenis tugas, fasilitas guru pamong, dan fasilitas guru bina.

d. Penilaian produk/output, berhubungan dengan hasil pelaksanaan program. Penilaian dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa jauh pelaksanaan program SMP Terbuka di Ujung Tanah telah berhasil mencapai tujuan berdasarkan kriteria yang ditetapkan, yang meliputi hasil belajar peserta didik, nilai rerata dan jumlah kelulusan dalam ujian nasional. Dasar kegiatan dalam evaluasi program pelaksanaan rintisan SMP Terbuka ini melalui tahapan-tahapan konteks, input, proses dan produk. Penggunaan model CIPP dalam evaluasi program ini karena: 1. Dengan model CIPP, maka kegiatan evaluasi pelaksanaan program SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilakukan perbandingan yang mendasar antara data di lapangan dengan standar yang ditentukan. 2. Dapat membuat evaluasi dan penilaian tentang pelaksanaan SMP Terbuka dilihat dari indikator konteks, input, proses dan produk/output. 3. Dengan model CIPP, indikator konteks, input, proses dan produk/output yang dibandingkan tidak hanya untuk menentukan apakah ada perbedaan tujuan dengan keadaan sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang ditentukan. Untuk memudahkan monitoring evaluasi, maka perlu dilihat indikator indikator yang terdapat dalam konteks, input, proses dan output yang digunakan dalam monitoring evaluasi ini, yaitu: Tabel 1 Indikator-indikator Evaluasi Konteks 1. Profil tempat belajar 2. Latar belakang program SMP Terbuka 3. Faktor geografis 4. Latar belakang Input (1) Peserta didik Proses 1. Pelaksanaan tutorial 2. Aktivitas belajar siswa Output (1) Hasil belajar (2) Nilai rerata untuk 10 mapel. (3) Jumlah kelulusan

(2) Kurikulum Penggunaan media 3. (3) Bahan ajar pembelajaran

(4) Guru dan 5. Kunjungan Kep. Sek. tenaga 6. Pemberian jenis tugas

administrasi Fasilitasi guru pamong 7. 8. Fasilitasi guru bina

sosial ekonomi dan (5) Sarana pendidikan orang tua Siswa Belajar

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan sesungguhnya yang terjadi di lapangan, yang kemudian dibandingkan dengan standar pengelolaan SMP Terbuka yang telah disusun oleh Pustekom dan Dikmenum sebagai pedoman pelaksanaan. Subjek informan dalam monitoring evaluasi ini adalah orang-orang yang mengetahui, berkaitan dan atau menjadi pelaku dari suatu kegiatan pendidikan, mereka diharapkan dapat memberikan informasi secara lengkap tentang penyelenggaraan SMP Terbuka. 1. Kepala Sekolah SMP N 7 Makassar sebagai penyelenggara SMP Terbuka dan melakukan supervisi ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB). 2. Guru Bina di SMP Induk yang secara berkala memberikan tutorial kepada siswa di Tempat Kegiatan Belajar 3. Guru pamong di Tempat Kegiatan Belajar yang mempunyai tugas membantu siswa belajar yang dilakukan secara berkala di Tempat Kegiatan Belajar 4. Peserta didik SMP Terbuka Ujung Tanah 5. Masyarakat setempat yang peduli dengan adanya Tempat Kegiatan Belajar bagi peserta didik SMP Terbuka Makassar 6. Kepala Tata Usaha SMP N 7 Makassar Tabel 2 Data dan Sumber Data
KOMPONEN ASPEK INDIKATOR SUMBER DATA INSTRUMEN PENGUMPUL DATA

Konteks

(1) Profil tempat belajar

Nama TKB, tahun dibuka, SMP yang membina, alamat TKB, jadwal KBM, pola pembelajaran. Tujuan, sasaran

Kepala Sekolah

Pedoman wawancara

(2) Latar belakang program SMP Terbuka (3) Faktor geografisdemografis

Kepala sekolah

Pedoman angket

Jarak tempat tinggal peserta didik dengan TKB, transportasi ke TKB, waktu tempuh ke TKB

Pedoman Analisis dokumen Pengelolaan SMP Pedoman angket Terbuka

(4) Latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan orang tua peserta didik

Biaya-pulang pergi ke TKB. Tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua dan alasan peserta didik masuk

Peserta didik

Pedoman angket

Input

(1) Peserta didik

SMP Terbuka. Jumlah peserta didik, jumlah calon peserta didik, latar belakang peserta didik Kurikulum yang digunakan

Kepala sekolah

Pedoman angket

(2) Kurikulum

Kepala sekolah Guru pamong Guru pamong Guru bina Tempat belajar

Pedoman angket

(3)

Bahan ajar Bahan ajar yang digunakan

Pedoman angket

(4) Guru dan tenaga administra-si (5) Sarana belajar

Pedoman angket

Jumlah guru dan tenaga administrasi

Pedoman observasi

Proses

(1) Pelaksanaan tutorial

Ruang tempat belajar, ruang perpustakaan khusus, administarsi laboratorium. Tutorial di sekolah induk, konsultasi di TKB, guru mengajar di TKB. Belajar mandiri, diskusi antar peserta didik, diskusi peserta didik dengan: pamong, guru bantu, dan guru bina Modul pegangan guru, video pembelajaran, audio pembelajaran, OHP Penggunaan laboratorium

Guru pamong Guru bina Tempat belajar Guru pamong

Pedoman angket

Pedoman angket Pedoman observasi Pedoman angket

(2) Aktivitas belajar

(3) Penggunaan media pembelajar-an (4) Kemanfaat-an laboratori-um dan perpustakaan (5) Kunjungan Kep. Sek. (6) Pemberian jenis tugas

Pedoman observasi Pedoman angket Tempat belajar Pedoman angket Pedoman observasi Guru pamong Guru bina Tempat belajar peserta didik

Kunjungan ke TKB

Pedoman angket

Tugas mandiri, tugas akhir unit, tugas akhir modul

Pedoman angket Kepala sekolah

(7) Fasilitasi guru pamong

(8) Fasilitasi guru bina

Menyusun jadwal, membuat alokasi waktu tambahan untuk mata pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, memfasilitasi kegiatan diskusi, membuat catatan segala permasalahan atau kesulitan peserta didik, membuat laporan perkembangan belajar peserta didik Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik, menjawab pertanyaan langsung dari peserta didik,mengoreksi hasi tes akhir modul, melaksanakan kegiatan tutorial, melakukan penilaian.

peserta didik

Pedoman angket

Pedoman angket Guru pamong Guru bina

Pedoman angket

Pedoman angket Guru pamong

Pedoman angket

peserta didik peserta didik Guru pamong

Produk/ Output

(1) Hasil belajar peserta didik

Hasil belajar tes akhir unit, tes akhir modul dan ulangan umum semester. Nilai rerata peserta didik untuk 11 mata pelajaran.

Guru bina

Pedoman angket

(2) Nilai rerata peserta didik untuk 11 mata pelajaran. (3) Jumlah kelulusan peserta didik

Tempat belajar

Analisis dokumen

Jumlah kelulusan peserta didik dalam UN.

Kepala sekolah Tempat belajar

Pedoman angket Analisis dokumen

Teknik pengumpulan data dalam monitoring evaluasi ini terdiri dari: (1) wawancara terbuka dan mendalam; (2) observasi/ pengamatan langsung; dan (2) dokumen tertulis. Sasaran yang menjadi pengamatan untuk kegiatan monitoring evaluasi ini meliputi proses pembelajaran di kelas (sekolah) untuk mengungkap data tentang proses pembelajaran di sekolah dan kelompok belajar serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah dan kelompok belajar. Sedangkan dokumen yang digunakan dalam penelitian adalah arsip evaluasi hasil belajar (ujian formatif/sumatif, UN, uji kompetensi) serta data tertulis lainnya yang dianggap perlu. D. Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif, yaitu dengan mendeskripsikan dan memaknai data dari masing masing indikator komponen konteks, input, proses dan produk/output yang dievaluasi. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menyajikan hasil perhitungan statistik diskriptif berupa tabel frekuensi dan presentase yang didapat dari hasil monitoring evaluasi Untuk memudahkan dalam monitoring evaluasi program, maka diperlukan kriteria evaluasi.

Tabel 3 Aspek- Aspek dan Kriteria Evaluasi Variabel/Objek Penelitian 1. Peserta Didik  Persyaratan Administrasi (STTB/NEM) seleksi awal  Ada persyaratan administrasi (STTB/NEM) Terdapat dokumen 2. Kurikulum  Dokumen kurikulum  Silabi pembelajaran SMP Terbuka kurikulum Terdapat silabi program pembelajaran  Ada hasil kesesuaian materi dengan 3. Kegiatan Belajar Kesesuain materi dengan Mengajar kompetensi yang diajarkan kompetensi yang diajarkan  Adanya SAP Aspek yang Dievaluasi
Kriteria Keberhasilan

 Persiapan Tutorial  Interaksi tutorial  Penggunaan media/modul pembelajaran

 Terdapat Interaksi saat tutorial  Tutor menggunakan media/modul pembelajaran  Adanya hasil penilian sumatif dan formatif  Adanya hasil penilian UAN  Adanya modul pembelajaran  Adanya media pembelajaran  Adanya administrasi penyelenggaraan  Kemampuan pengelolaan guru bina  Adanya guru pamong  Adanya hasil tes akhir modul  Adanya hasil tes semester  Adanya UAN hasil penilaian

4. Penilaian hasil belajar peserta didik

 Penilaian sumatif dan formatif  Hasil penilaian UN

5.Fasilitas Pendidikan  Modul Pembelajaran  Media Pembelajaran

6. Ketenagaan

 Administrasi penyelenggaraan  Fasilitasi guru bina  Fasilitasi guru pamong

7. Hasil belajar

 Penilaian untuk mengetahui hasil belajar peserta didik meliputi :   Tes Akhir Modul (TAM) Tes Akhir Semester (TAS )

 Ujian Akhir Nasional (UAN )  Jumlah kelulusan dalam ujian nasional

BAB III Hasil Monitoring dan Evaluasi

A.

Komponen Konteks SMP Terbuka Ujung Tanah

1. Profil Tempat Kegiatan Belajar (TKB) a. Profil Umum/Historis SMP Terbuka Ujung Tanah memiliki 5 TKB yang jumlah siswa pasang surut berhubung karena berbagai faktor, misalnya lokasi sekolah induk yang terlalu jauh dari TKB, adanya kerancuan antara guru bina dengan guru pamong. SMP Terbuka Ujung Tanah bernaung di sekolah induk yaitu SMP Negeri 7 Makassar yang berlokasi di Jalan Cakalang No. 2 Makassar. 1) TKB Tabaringan TKB Tabaringan merupakan salah satu TKB yang dibina oleh SMP Terbuka Ujung Tanah. TKB Tabaringan berlokasi di SD Inpres Tabaringan yang terletak di Jalan Tinumbu Pasar Cidu Makassar. Kegiatan belajar di TKB Tabaringan menggunakan pola

belajar 2 : 4, artinya dalam satu minggu 2 hari belajar dengan tatap muka, dan 4 hari belajar secara mandiri dengan bimbingan guru pamong. Kegiatan belajar tatap muka dilaksanakan pada hari Jum’at dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular. Kegiatan belajar dilaksanakan pada sore hari, setelah kegiatan belajar peserta didik kelas reguler selesai. Selama dua hari tersebut peserta didik belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bidang studi sebagai guru bina. Sedangkan yang 4 hari lainnya mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina. Jarak tempat tinggal peserta didik ke sekolah Induk bervariasi, ratra-rata jarak dari rumah ke Sekolah Induk antara 5 km sampai 10 km. Untuk pergi – pulang dari tempat tinggal siswa ke Sekolah Induk pada umumnya peserta didik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi. Sedangkan peserta didik yang jaraknya dekat, biasanya berjalan kaki. Pada umumnya mereka sekali naik angkot sudah sampai di Sekolah Induk. Peserta didik yang paling jauh jarak dari rumah ke Sekolah Induk, paling banyak tiga kali peserta didik pindah angkot untuk sampai ke TKB. TKB Tabaringan pada tahun ajaran 2011 membina 3 kelas, terdiri dari masingmasing satu kelas untuk setiap tingkat yaitu kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Jumlah peserta didik keseluruhan sebanyak 60 orang. Guru Pamong sekaligus penanggung jawab TKB Tabaringan adalah H Asri . Jumlah guru bina di TKB Tabaringan sebanyak 23 orang.

2) TKB Capoa TKB Capoa bertempat di SD Negeri Bertingkat Galangan II . Sistem pembelajaran di TKB Capoa menggunakan pola 2 : 4. Siswa di TKB Capoa belajar 2 hari, yaitu hari Jumat dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah induk. Kegiatan belajar dilaksanakan pada sore hari setelah peserta didik SMP Negeri 7 Makassar pulang. Mereka belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bidang bina dari sekolah tempat TKB diselenggarakan (SMP Negeri 7), sedangkan yang 4 hari mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina. Jarak tempat tinggal siswa ke Sekolah Induk bervariasi, ratra-rata jarak dari rumah ke Sekolah Induk antara 5 km sampai 10 km. Untuk pergi – pulang dari tempat tinggal peserta didik ke Sekolah Induk pada umumnya peserta didik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi. Sedangkan peserta didik yang jaraknya dekat, biasanya berjalan kaki. Pada umumnya mereka sekali naik angkot sudah sampai di Sekolah Induk. Peserta didik yang paling jauh jarak dari rumah ke Sekolah Induk, paling banyak tiga kali peserta didik Capoa pada tahun ajaran 2011 membina 3 kelas, terdiri dari kelas VII satu kelas, kelas VIII satu kelas, dan kelas XI satu kelas. Jumlah peserta didik keseluruhan sebanyak 56 orang, Guru Pamong pada TKB Capoa adalah Kamaruddin, S.Pd Jumlah guru bina sebanyak 4 orang yang berasal dari guru SMP Negeri 7 Makassar. 3) TKB Pannampu TKB Pannampu bertempat di SD Negeri Beroanging Lokasi TKB di jalan Tinumbu NO. 2 Makassar Sistem pembelajarannya menggunakan pola 2 : 4, artinya 2 hari belajar tutorial tatap muka dan 4 hari belajar mandiri. Kegiatan belajar di TKB Pannampu berlangsung 2 hari, yaitu hari Jumat dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular berlangsung pada sore hari. Peserta didik belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bina, sedangkan yang 4 hari mereka belajar mandiri di rumah atau tempat lain. Jarak tempat tinggal peserta didik ke Sekolah Induk bervariasi, ratra-rata jarak dari rumah ke Sekolah Induk antara 5 km sampai 10 km. Untuk pergi – pulang dari tempat tinggal peserta didik ke sekolah Induk pada umumnya menggunakan angkot sebagai sarana transportasi. Sedangkan peserta didik yang jaraknya dekat, biasanya berjalan kaki. Pada umumnya mereka sekali naik angkot sudah sampai di Sekolah Induk. Peserta didik yang paling jauh jarak dari rumah ke Sekolah Induk, paling banyak tiga orang.

TKB Pannampu pada tahun ajaran 2011 membina 3 kelas, terdiri dari kelas VII satu kelas, kelas VIII satu kelas, dan kelas XI satu kelas. Jumlah siswa keseluruhan sebanyak 78 orang,

Guru Pamong pada TKB Capoa adalah Hj . Nurasri, S.Pd Jumlah guru bina sebanyak 4 orang yang berasal dari guru SMP Negeri 7 Makassar. 4) TKB Totaka TKB Totaka bertempat di SD Negeri Totaka. TKB Totaka baru dibuka tahun 2004. Peserta didik di TKB Totaka belajar 2 hari, yaitu hari Sabtu dan Selasa dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular. Mereka belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bidang studi, sedangkan yang 4 hari lainnya mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mereka hanya belajar selama 2 hari di TKB dan tidak pernah ke sekolah induk. Untuk tahun ajaran 2011/2012 TKB Totaka memiliki peserta didik sebanyak 76 yang terbagi dalam tiga kelas yaitu kelas VII sebanyak satu kelas, kelas VIII sebanyak satu kelas, dan kelas IX sebanyak satu kelas. 5) TKB Ujung Tanah TKB Ujung Tanah bertempat di SD Inpres layang TKB Ujung Tanah dibuka tahun 2003. Proses pembelajaran bagi peserta didik di TKB Ujung Tanah yaitu 2 hari, pada hari Jumat dan Sabtu dengan jadwal pelajaran sebagaimana sekolah regular. Mereka belajar secara tatap muka, diajar oleh guru bina, sedangkan yang 4 hari mereka belajar mandiri di rumah tanpa bimbingan atau kendali dari guru pamong, maupun dari guru bina. Jumlah kelas yang dibina TKB Ujung tanah adalah sebanyak tiga kelas dengan masing-masing satu kelas untuk setiap tingkatan kelas, yaitu kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Jumlah peserta didik seluruhnya adalah 80 peserta didik. 2. Faktor Geografis SMP Terbuka dirancang untuk mengatasi kendala geografis para peserta didik. Salah satu kendala geografis adalah jarak tempat tinggal peserta didik yang jauh dari Sekolah Induk atau SMP terdekat, bahkan dari transportasi yang sulit untuk menuju TKB dan waktu tempuh yang cukup jauh, sehingga membutuhkan biaya pulang-pergi menunju TKB cukup besar. a. Jarak dari Rumah ke TKB Hasil evaluasi mengenai jarak dari rumah peserta didik dengan TKB dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4 Jarak dari Rumah ke TKB Frekuensi dan Jarak dari Rumah ke TKB TKB ≤ 2 km 2-5 km 5 - 10 km 10 - 15 km ≥ 15 km Jumlah

Tabaringan Capoa Pannampu Totaka Ujung Tanah Total %

12 6 13 14 20 65 18.57

10 12 17 18 14 71 20.29

8 8 10 15 14 55 15.71

20 16 18 11 15 80 22.86

10 14 20 18 17 79 22.57

60 56 78 76 80 350 100

Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa jarak dari rumah peserta didik dengan TKB yang lebih dari 15 km adalah sebanyak 22,57 %, 10 – 15 km sebanyak 22,86 %, 5-10 km sebanyak 15,71 %, 2-5 km sebanyak 20,19 % dan kurang dari 2 km sebanyak 18,57 %. Untuk menuju TKB, peserta didik menggunakan beberapa jenis sarana transportasi, seperti angkot, ojek, dan ada juga yang jalan kaki. Data mengenai frekuensi dan jenis transportasi yang digunakan oleh para siswa untuk menuju TKB dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5 Transportasi ke TKB Frekuensi dan Sarana Transportasi ke TKB TKB Angkot Ojek Jalan Kaki Tabaringan Capoa Pannampu Totaka Ujung Tanah Total % 31 142 40.58 9 27 7.71 39 161 46 1 20 5.71 30 23 30 28 0 6 8 4 22 26 32 42 Lain-lain 8 1 8 2 60 56 78 76 80 350 100 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa peserta didik yang menggunakan sarana transportasi angkot menuju TKB sebanyak 40,58 %, transportasi ojek sebanyak 7,71 %, jalan kaki sebanyak 46 % dan lain-lain sebanyak 5,71 %. Jumlah

Sedangkan waktu tempuh yang digunakan peserta didik menuju TKB dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6 Waktu Tempuh ke TKB TKB Tabaringan Capoa Pannampu Totaka Ujung Tanah Total % Frekuensi dan Waktu Tempuh ke TKB ≤ 30 0,5 - 1 1-2 ≥2 menit jam jam jam 12 17 18 21 26 94 26.86 8 10 16 10 9 53 15.14 22 12 20 30 19 103 29.43 18 17 24 15 26 100 28.57 Jumlah 60 56 78 76 80 350 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa peserta didik yang memerlukan waktu tempuh menuju TKB kurang dari 30 menit sebanyak 26,86 %, 0.5 – 1 jam sebanyak 15,14 %, 1-2 jam sebanyak 29,43 % dan lebih dari 2 jam sebanyak 28,57 %. Selanjutnya dari sisi biaya, maka besarnya biaya yang dihabiskan untuk menuju TKB dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 7 Biaya Pergi Pulang ke TKB TKB Tabaringan Capoa Pannampu Totaka Ujung Tanah Total % Frekuensi dan Biaya Pergi Pulang ke TKB ≤ Rp 5 Rp5 - 7 Rp 7 -9 rb rb rb ≥ Rp 9 rb 45 33 48 52 54 232 66.29 8 12 16 20 19 75 21.42 5 10 12 3 5 35 10 2 1 2 1 2 8 2.29 Jml 60 56 78 76 80 350 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa peserta didik yang menghabiskan biaya kurang dari Rp 5.000 adalah sebanyak 66,29 %, Rp 5.000 - Rp 7.000 sebanyak 21,42 %, Rp 7.000 9.000 sebanyak 10 %, dan lebih dari Rp 9.000 sebanyak 2,29 %.

3. Latar Belakang Sosial Ekonomi dan Pendidikan Orang Tua Peserta Didik

Latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan orang tua yang masih rendah merupakan salah satu faktor yang mendorong peserta didik memeilih atau masuk ke SMP Terbuka. Klasifikasi besarnya penghasilan orang tua peserta didik setiap TKB di SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8 Penghasilan Orang Tua Peserta Didik SMP Terbuka Ujung Tanah per TKB
Frekuensi dan Presentase Penghasilan Orang Tua per TKB SMP terbuka Ujung Tanah

Penghasilan

Tabaringan f % f

Capoa %

Pannampu f %

Totaka f %

Ujung Tanah f %

Jumlah f 193 %

≤ 200 rb 200 – 400 400 – 600 600 – 800 ≥ 800 Total Dari

30 50 33 59 44 56 45 59 41 51 55 94 15 25 18 32 16 21 21 28 24 30 27 45 12 20 4 7 12 15 7 9 10 13 13 12 2 3 1 2 4 5 2 3 3 4 3 6 1 2 0 2 3 1 1 2 3 2 60 100 56 100 78 100 76 100 80 100 350 100 tabel di atas menunjukkan bahwa orang tua peserta didik yang mempunyai Rp 200.000 - 400.000

penghasilan kurang dari Rp 200.000 adalah sebanyak 55 %,

sebanyak 27 %, penghasilan Rp 400.000 - 600.000 sebanyak 13 %, dan penghasilan Rp 600.000 - 800.000 sebanyak 3 % dan penghasilan di atas Rp 800.000 sebanyak 2 %. Jenis pekerjaan orang tua peserta didik sebagian besar adalah buruh, nelayan, sopir, dan ada juga yang wirausaha serta Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hasil evaluasi mengenai jenis pekerjaan orangtua peserta didik pada setiap TKB SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 9 Pekerjaan Orang Tua Peserta Didik SMP Terbuka Ujung Tanah per TKB
Frekuensi dan Presentase Pekerjaan Orang Tua per TKB SMP terbuka Ujung Tanah

Pekerjaan Tabaringan f % Buruh Nelayan Supir PNS W. Usaha lain-lain Total 32 10 10 53 17 17 0 0 13 100 f Capoa % 61 18 7 0 4 11 100 Pannampu F % 37 18 12 0 5 6 78 47 23 15 0 6 8 100 Totaka f % 36 19 11 0 1 9 76 47 25 14 0 1 12 100

Ujung Tanah f % 41 26 8 0 3 2 80 51 33 10 0 4 3 100

Jumlah f 180 83 45 0 11 31 350 % 51 24 13 0 3 9 100

34 10 4 2 6 56

8 60

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa sebahagian besar (51 %) pekerjaan dari orang tua peserta didik adalah sebagai buruh. Sedangkan yang lainnya adalah sebagai nelayan (24

%), sopir (13 %), PNS (0 %), wirausaha (3 %), dan lain-lain (9 %). Selanjutnya hasil evaluasi mengenai tingkat pendidikan orang tua peserta didik SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 10 Tingkat Pendidikan Orang Tua Peserta Didik SMP Terbuka Ujung Tanah per TKB
Frekuensi dan Presentase Pekerjaan Orang Tua per TKB SMP terbuka Ujung Tanah

Pendidikan

Tabaringan Capoa f % f % ≤ SD 8 13 15 27 SD 22 37 15 27 ≤SMP 13 22 17 30 SMP 15 25 8 14 SMA 2 3 1 2 Total 60 100 56 100 Dari tabel di atas menunjukkan

Pannampu Totaka f % f % 17 22 32 42 22 28 22 29 31 40 9 12 8 10 12 16 0 1 1 78 100 76 100 bahwa sebahagian besar

Ujung Tanah Jumlah f % F % 32 40 104 30 29 36 110 31 13 16 83 24 5 6 48 14 1 1 5 1 80 100 350 100 (31 %) tingkat pendidikan

dari orang tua peserta didik di SMP Terbuka Ujung Tanah adalah SD, dan yang tidak tamat SD sebanyak 30 %, tidak tamat SMP sebanyak 24 %, tamat SMP sebanyak 14 %, tamat SMA hanya sebanyak 1 %. Berbagai alasan melatarbelakangi para siswa untuk belajar di SMP Terbuka Ujung Tanah. Hasil evaluasi mengenai alasan peserta didik untuk mengikuti pendidikan SMP Terbuka Ujung Tanah dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 11 Alasan Peserta Didik Masuk SMP Terbuka
Frekuensi dan TKB SMP terbuka Ujung Tanah

Pendidikan

Jumlah f 196 117 37 % 56 33 11

TBR F 45 11 4 60

CAP f 24 29 3 56

PNM F 38 26 14 78

TOT U.T f F 44 23 9 76 45 28 7 80

Tidak dipungut Biaya Biaya Rendah Waktu belajar dapat diatur Total

350 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa alasan yang terbesar para peserta didik untuk mengikuti pendidikan di SMP Terbuka adalah tidak dipungut biaya (56 %), alasan karena biaya rendah sebanyak 33 % dan alasan karena waktu belajar dapat di atur sebanyak 11 %.

Secara konteks, SMP Terbuka dirancang untuk peserta didik yang memiliki kendala waktu untuk belajar di sekolah reguler. Data dari berbagai komponen konteks yang telah diuraikan di atas, menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti pendidikan di SMP Terbuka Ujung Tanah sebenarnya karena di latar belakangi oleh masalah ekonomi, bukan karena mereka memiliki jarak tempat tinggal yang jauh dari TKB atau pun di latar belakangi oleh kendala waktu untuk belajar. Kondisi yang ada sebenarnya menunjukkan bahwa mereka belajar di SMP Terbuka karena kendala ekonomi keluarga untuk membiayai pendidikan anaknya pada sekolah reguler, sementara sekolah di SMP Terbuka tidak dipungut biaya. Latar belakang ekonomi keluarga tergolong miskin dapat

terlihat dari penghasilan orang tua peserta didik tergolong sangat rendah, yakni kurang dari Rp 200.000,-/bulan (dibawah UMR), serta latar belakang pendidikan orangtua peserta didik juga tergolong minim yaitu berpendidikan dasar (SD). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang belajar di SMP Terbuka Ujung Tanah rata-rata adalah peserta didik yang memiliki kendala ekonomi dan latar belakang pendidikan orang tua yang tidak memadai.

B.

Komponen Input SMP Terbuka Ujung Tanah Sajian aspek input dalam penelitian evaluasi ini meliputi: (1) peserta didik yang mengikuti pendidikan di SMP Terbuka Ujung Tanah, (2) kurikulum, (3) bahan ajar, (4) guru dan tenaga administrasi, (5) sarana dan prasarana relajar. 1. Peserta Didik Hasil evaluasi mengenai peserta didik yang mengikuti pendidikan di SMP Terbuka Ujung Tanah untuk tahun ajaran 2011/2012 adalah sebanyak 350 orang. 2. Kurikulum Dari hasil evaluasi yang dilakukan, ditemukan bahwa kurikulum yang digunakan di SMP Terbuka Ujung Tanah menggunakan kurikulum yang sama dengan SMP reguler, secara umum meliputi mata pelajaran: (1) Pendidikan Agama, (2) PKn, (3)Seni Budaya, (4) Pendidikan Jasmani , (5) Bahasa Indonesia , (6)Bahasa Inggeris, (7) Matematika, (8) IPA ,(9) IPS , (10) TIK , (11) Muatan Lokal. 3. Bahan Ajar Dari hasil evaluasi ditemukan bahwa bahan ajar utama di SMP Terbuka Ujung Tanah adalah bahan ajar cetak berupa modul, yang dirancang secara khusus oleh Pustekkom dan Dikmenum sehingga dapat dipelajari peserta didik secara mandiri. Selain modul, di SMP Terbuka Ujung Tanah juga dikembangkan bahan ajar penunjang seperti program audio,

video/VCD dan media lainnya. Namun sarana penunjang tersebut hanya terdapat pada SMP induk, sehingga peserta didik yang ada pada TKB tidak dapat menggunakannya. 4. Guru dan Tenaga Administrasi Guru yang terdapat di SMP Terbuka terdiri dari guru bina, guru pamong, guru pamong khusus, dan guru BK (bimbingan konseling). Guru bina adalah guru mata pelajaran di sekolah penyelenggara yang bertugas membina kegiatan pembelajaran peserta didik SMP Terbuka sesuai mata pelajaran yang menjadi kewenangannya. Sedangkan guru pamong, adalah anggota masyarakat yang diserahi tugas untuk membimbing kegiatan belajar peserta didik di TKB. Setiap TKB mempunyai seorang guru pamong, yang bisa berasal dan guru SD atau tokoh masyarakat setempat. Guru pamong khusus, yaitu warga masyarakat di sekitar TKB yang memiliki keterampilan tertentu dan berperan sebagai nara sumber sesuai keterampilan yang dimiliki. Guru pamong khusus yang biasanya diperlukan misalnya: tokoh agama, pengusaha, wiraswastawan, seniman, olahragawan atau tokoh masyarakat lain yang memiliki keterampilan khusus. Sedangkan guru bimbingan dan konseling (BK), adalah guru BK yang juga bertugas di SMP induk. Di samping itu SMP Terbuka juga dilengkapi dengan tenaga administrasi, dengan memanfaatkan satu atau beberapa tenaga administrasi dari sekolah induk yang diberi tugas khusus untuk mengelola administrasi SMP Terbuka. Dari hasil evaluasi ditemukan bahwa masing-masing TKB memiliki lebih dari satu orang guru pamong, sedangkan guru bina tidak ada. 5. Sarana Belajar a. Ruang Tempat Belajar Tempat pelaksanaan belajar untuk SMP Terbuka bisa beragam, di

antaranya ada yang menempati bangunan sekolah, rumah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ruang belajar yang digunakan oleh TKB secara keseluruhan adalah bangunan sekolah (100 %). Karena TKB didirikan di sekolah induk,

sehingga untuk ketersediaan ruang belajar beserta muebilernya mencukupi dan layak digunakan. b. Ruang Perpustakaan Khusus Hasil monitoring evaluasi menunjukkan bahwa ketersediaan ruang perpustakaan khusus untuk masing-masing TKB belum ada (0 %), sehingga untuk sarana perpustakaan ini masih bergabung dengan sekolah induk. c. Laboratorium Ketersediaan laboratorium di sekolah induk SMP Terbuka yang dimaksud adalah laboratorium IPA dan laboratorium komputer. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa

keberadaan laboratorium tersebut untuk masing-masing TKB seluruhnya (100 %) disediakan oleh sekolah induk. d. Administrasi Dari hasil evaluasi ditemukan bahwa administrasi mengenai kesiswaan, kepegawaian, keuangan lengkap. dan daftar peralatan di masing-masing TKB ada, tapi kurang

Administrasi secara lengkap terdapat di sekolah induk.

Di setiap TKB

memiliki daftar kehadiran peserta didik, guru pamong dan guru bina.

C. C. Komponen Proses SMP Terbuka Ujung Tanah Sajian aspek proses dalam monitoring evaluasi ini meliputi: (1) pelaksanaan tutorial pembelajaran; (2) aktivitas belajar; (3) penggunaan media pembelajaran; (4) kemanfaatan laboratorium dan perpustakaan; (5) kunjungan kepala sekolah ke TKB; (6) pemberian jenis tugas; (7) fasilitasi guru pamong; (8) dan fasilitasi guru bina. 1. Pelaksanaan Tutorial Pembelajaran di SMP Terbuka Ujung Tanah Tutorial adalah bimbingan belajar yang dilakukan oleh guru bina kepada para peserta didik SMP Terbuka yang dilaksanakan di sekolah induk dengan waktu pelaksanaan bimbingan terjadwal. Tutorial merupakan ciri khas dari sistem pendidikan terbuka. Aktivitas Belajar Peserta Didik Ciri khusus pembelajaran di SMP Terbuka antara lain adalah: (1) mewajibkan kepada peserta didik untuk mampu belajar mandiri; (2) mampu berdiskusi antar teman untuk mencari penyelesailan persoalan kesulitan belajar; (3) mampu berdiskusi dengan guru pomong dalam mencari penyelesaian persoalan kesulitan belajar; dan (4) mampu serta mempunyai keberanian berdiskusi, bertanya permasalahan kesulitan belajar. Aktivitas belajar peserta didik di SMP Terbuka Ujung Tanah meliputi kegiatan belajar mandiri, diskusi antar teman, diskusi dengan guru pamong, diskusi dengan guru bina, dan mendengarkan guru bina mengajar. dengan guru bina untuk mencari jawaban tentang

D. Komponen Produk SMP Terbuka Ujung Tanah Sajian aspek produk/output pada hasil penelitian ini meliputi: (1) pencapaian hasil belajar peserta didik per TKB SMP Terbuka Ujung Tanah; (2) dan jumlah kelulusan peserta didik SMP Terbuka Ujung Tanah dalam ujian nasional. 1. Hasil Belajar Peserta Didik SMP Terbuka Ujung Tanah

Setiap TKB memiliki daftar pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui tes akhir unit, tes akhir modul, dan tes akhir semester. Dari

hasil evaluasi menunjukkan bahwa pencapaian hasil belajar peserta didik dari tes.

2.

Nilai Rerata Peserta Didik SMP Terbuka Ujung Tanah untuk 10 Mata Pelajaran Dari nilai rerata tes akhir semester genap, dibuat rerata untuk menghasilkan nilai rerata setiap TKB dari 10 mata pelajaran. Tabel di bawah ini adalah nilai rerata tes akhir semester genap peserta didik dari kelas 1, 2 dan 3 dari 11 mata pelajaran di setiap TKB. Tabel 12 Nilai Rerata Setiap TKB SMP Terbuka Ujung Tanah
Nilai Rerata 11 Mata Pelajaran TKB
PAI Tbr Capoa Panpu Totaka Ujung Tanah
71.2 71.7 65.23 62.77 61.8

PKn
69.53 61 67.77 63.5 61.6

B.Ind
69.6 69 66.83 64.63 61.35

B.Ing
62.1 62.3 50 50.5 45.9

Mat
65.97 52.75 53.3 51.17 47.75

IPA
65.63 68.75 61.37 61.2 55.4

IPS
64.33 62.65 59.6 57.63 57.05

SBK
61.5 70.45 60.2 58.8 59.95

Penjas
65.5 64.65 66.57 63.47 60.35

TIK
64.33 62.65 50 50.5 45.9

M. LKL
67.6 66.6 76.3 72.7 70

Rt Jumlah
727.29 712.5 677.17 656.87 627.05 66 65 62 60 57

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik diTKB Tabaringan berada pada peringkat teratas dan TKB Ujung Tanah berada pada tingkat paling bawah.

BAB IV Simpulan dan Rekomendasi A. Simpulan 1. Dari faktor geografis-demografis, pelaksanan program kurang tepat karena lokasi tempat kegiatan belajar (TKB) tersebut berada dekat dengan sekolah-sekolah regular, dan dapat ditempuh oleh peserta didik dalam waktu yang tidak lama (1 sampai 2 jam) dengan ketersediaan sarana transportasi yang cukup seperti angkot atau kenderaan lainnya. 2. Sedangkan secara sosial ekonomi, pelaksanan program pengelolaan rintisan SMP Terbuka dibutuhkan oleh masyarakat di Kota Makassar sebagai pengganti SMP

regular bagi sebagian warga masyarakat yang memiliki kehidupan sosial ekonomi yang tidak mapan sehingga tidak dapat menyekolahkan anaknya di SMP regular. 3. Belum tersedianyan perpustakaan dan laboratorium untuk masing-masing TKB.

4. Evaluasi proses tentang pelaksanaan tutorial pada SMP Terbuka Ujung Tanah ratarata kurang mencukupi. 5. Evaluasi produk/output mengenai pencapaian hasil belajar peserta didik yang diperoleh pada semua TKB melalui tes akhir semester masih kurang baik. B. 1. Saran/Rekomendasi Disarankan kepada pihak guru pengelola dari SMP Terbuka agar pada lebih saat selektif

rekruitmen/penentuan

pamong

masyarakat

supaya

dan professional agar guru pamong tersebut mempunyai waktu yang cukup dan serius dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik. 2. Dilihat dari komponen proses, pelaksanaan tutorial SMP terbuka maka program pengelolaan SMP Terbuka di Makassar ini perlu perlu disempurnakan. Diposkan oleh Izham Az Zahiri di 3/26/2012 01:30:00 AM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->