P. 1
Apa Hukum Pidana Dan Perdata Itu

Apa Hukum Pidana Dan Perdata Itu

|Views: 359|Likes:
Published by Abdi Dzil Ikhram W

More info:

Published by: Abdi Dzil Ikhram W on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2014

pdf

text

original

APA HUKUM PIDANA DAN PERDATA ITU ?

Mungkin anda tidak menyadari dalam keseharian anda selalu melakukan tindakan atau beraktifitas hukum, atau berperilaku yang memiliki akibat hukum. Mengapa ? karena anda hidup di negara yang menganut Rule of Law atau yang menjujung tinggi keberadaan hukum, baik itu hukum Positif maupun yang timbul akibat kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat. Misalnya sewa menyewa, jual beli, perjanjian kredit, dll. Sebuah tindakan disebut perbuatan hukum jika mempunyai akibat yang dapat dipertangguangjawabkan secara hukum atau diakui oleh negara. Untuk mendapatkan pengakuan dari Negara, dalam melakukan tindakan hukum diperlukan syarat-syarat yang bersifat administratif. Misal: dalam melakukan perjanjian jual beli barang/ material/ tanah, agar dianggap sah maka diperlukan bukti-bukti seperti akta jual beli barang/ material/ tanah, kwitansi pembayaran dll. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya tindakan sepihak atau wanprestasi salah satu pihak di kemudian hari. Aturan-aturan mengenai tindakan hukum tersebut dibedakan menjadi dua (2) yaitu: Hukum Perdata & Pidana. Apa itu hukum Perdata & Pidana ? Hukum Perdata mengatur hubungan hukum seseorang dengan menitikberatkan pada kepentingan perseorangan. Sedangkan hukum Pidana adalah aturan yang mengatur hubungan seseorang (sebagai warga negara) dengan Negara (sebagai penguasa tata tertib masyarakat). BAGAIMANA PENERAPAN HUKUM PERDATA & PIDANA ? Pelanggaran terhadap aturan hukum perdata baru dapat diambil tindakan oleh Pengadilan setelah ada pengaduan oleh pihak yang berkepentingan yang merasa dirugikan (Penggugat). Pelanggaran terhadap aturan hukum pidana segera diambil tindakan oleh aparat hukum tanpa ada pengaduan/laporan dari pihak yang dirugikan, kecuali tindak pidana yang termasuk dalam delik aduan seperti perkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, pencurian oleh keluarga, dll. Dalam hal terjadi tindakan diluar hukum baik pidana maupun perdata, penanganannya diatur dalam Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata APA BEDA HUKUM ACARA PERDATA & PIDANA ? 1. Cara Mengadili : · Perdata mengatur cara mengadili perkara di muka Pengadilan Perdata. · Pidana mengatur cara mengadili perkara Pidana di muka Pengadilan Pidana oleh hakim Pidana. 2. Pelaksanaan : · Perdata: inisiatif berasal dari pihak yang dirugikan (berkepentingan). · Pidana: Inisiatif datang dari Penuntut Umum/ Jaksa. 3. Penuntutan : · Perdata: yang menuntut tergugat adalah pihak yang dirugikan/ Penggugat yang berhadapan dengan tergugat. Tidak ada Penuntut Umum/ Jaksa. · Pidana: Terdapat seorang Jaksa sebagai penuntut umum di Pengadilan. Jaksa menjadi Penuntut Umum yang mewakili Negara, berhadapan dengan terdakwa. 4. Alat Bukti : · Perdata: terdapat 5 alat bukti, yaitu: tulisan, saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah.

· Pidana: alat bukti bisa berupa: tulisan, saksi, persangkaan, dan pengakuan (tidak termasuk sumpah). 5. Penarikan Kembali Perkara : · Perdata: sebelum ada putusan hakim, pihak-pihak yang terkait boleh menarik kembali perkaranya. · Pidana: perkara yang sudah masuk tidak dapat ditarik kembali. 6. Kedudukan Pihak : · Perdata: para pihak mempunyai kedudukan yang sama. Hakim bertindak sebagai wasit yang bersifat pasif. · Pidana: Kedudukan Jaksa lebih tinggi dari pada terdakwa. Hakim turut bersifat aktif. 7. Dasar Keputusan Hakim : · Perdata: putusan hakim dapat mendasarkan diri pada kebenaran formal saja. · Pidana: putusan hakim harus mencari kebenaran material (menurut keyakinan dan perasaan keadilan). 8. Hukuman : · Perdata: tergugat yang terbukti kesalahannya dihukum denda atau kurungan sebagi pengganti denda. Pidana: terdakwa yang terbukti kesalahannya dapat dipidana mati/ penjara/ kurungan atau denda, bisa juga dengan pidana tambahan seperti pencabutan hak-hak tertentu.

Bukti dalam pengertian sehari-hari adalah segala hal yang dipergunakan untuk meyakinkan pihak lain yang dapat dikatakan macamnya tidak terbatas asalkan bukti tersebut bisa meyakinkan pihak lain tetang pendapat, peristiwa, keadaan. Tetapi Pengertian bukti menurut hukum adalah sudah ditentukan menurut UU, apa saja? Yuk kita simak dibawah ini: Didalam ilmu hukum acara perdata, untuk membuktikan suatu dalih tentang hak dan kewajiban didalam sengketa pengadilan, macamnya telah ditentukan oleh UU yaitu: 1. alat bukti tertulis 2. alat bukti saksi 3. alat bukti persangkaaan 4. alat bukti pengakuan 5. alat bukti sumpah Dalam hukum acara perdata penyebutan alat bukti tertulis (surat) merupakan alat bukti yang utama, karena surat justru dibuat untuk membuktikan suatu keadaan, atau kejadian yang telah terjadi atau perbuatan hukum yang harus dilakukan oleh seseorang nantinya. (Pasal 164 HIR/Pasal 284 RBg/Pasal 1866 BW) Hal ini berbeda dengan penyebutan alat-alat bukti dalam hukum acara pidana yang urut-urutan alat bukti itu sebagai berikut: 1. Keterangan saksi 2. Keterangan ahli 3. Surat 4. Petunjuk 5. Keterangan terdakwa. Jadi keterangan saksi disini adalah alat bukti yang utama. Kenapa? Karena seseorang didalam melakukan kejahatan tentu akan berusaha menghilangkan jejaknya, sehingga dalam perkara pidana, pembuktian akan dititikberatkan pada keterangan saksi. (KUHAP, Pasal 184 ayat 1) Perluasan pengertian alat bukti yang sah dalan KUHAP sesuai dengan perkembangan teknologi telah diatur dalam pasal 26 A UU No.31 Tahun 1999 yaitu: Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam pasal 188 ayat 2 UU No.8 tahun 1981

tentang KUHAP, khususnya untuk tidak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari: a. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan b. dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dilihat, dibaca, dan atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang diatas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekan secara elektronik yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka atau perforasi yang memiliki makna. Semua alat bukti tersebut tentunya untuk dipergunakan membuktikan peristiwa yang dikemukakan di muka sidang.

Sumber: http://id.shvoong.com/law-and-politics/1922279-alat-bukti/#ixzz1fCk1CuV4

Alat Bukti dan Barang Bukti: Segi Pidana
POSTED BY BRIAN PRASTYO

Dalam sebuah acara diskusi yang diselenggarakan oleh hukum online, seorang jaksa dari kejaksaan agung yang pada saat itu bersama saya sebagai pembicara, menjelaskan perbedaan mendasar dari alat bukti dan barang bukti. Penjelasannya begitu sederhana, sehingga saya dengan mudah mengingatnya sampai sekarang. Beliau mengatakan, “alat bukti ialah sesuatu yang jika dihadirkan ke hadapan hakim dapat bercerita sendiri, sedangkan barang bukti belum bisa bercerita sendiri.”Karena barang bukti belum bisa “bercerita” sendiri, maka yang dapat menceritakan keterkaitan barang tersebut dengan perkara yang disidangkan adalah terdakwa, saksi, atau ahli. Keterangan terdakwa, saksi, dan ahli itulah yang kelak akan menjadi alat bukti, yang dapat dipergunakan oleh hakim sebagai dasar untuk menjatuhkan putusan. Untuk membantu anda yang tidak mendalami ilmu hukum untuk memahami konsep penting tersebut, berikut saya berikan contoh mudahnya. Anggap saja kasusnya pembunuhan. A menusuk B dengan pisau, sehingga B mati karena kehabisan darah. Pisau tersebut adalah barang bukti. Menunjukkan saja pisau itu ke hadapan hakim tidak akan membuat hakim memperoleh informasi mengenai peran A dalam kasus pembunuhan itu, karena sebagai benda mati hakim tentu saja tidak bisa menanyai si pisau di sidangnya. Oleh karena itu, sebelum ditunjukkan di saat persidangan, penyidik akan membawa pisau itu ke seorang ahli. Sang ahli akan menjelaskan apakah sidik jari dalam pisau itu adalah sidik jari A dan apakah darah di pisau itu adalah darah B. Pendapat sang ahli yang dibuat secara tertulis, kelak dapat dihadirkan ke persidangan sebagai alat bukti: SURAT. Setelah dibawa pada ahli, penyidik akan mencari keterangan atau mengklarifikasi pisau tersebut dari tersangka dan saksi, misalnya dengan menanyakan: apakah tersangka/saksi pernah melihat pisau tersebut, apakah tersangka memegang pisau tersebut saat terjadinya pembunuhan B, apakah tersangka menggunakan pisau tersebut untuk menusuk B, dlsb. Jawaban dari tersangka dan saksi akan dicatat dalam sebuah Berkas Acara Pemeriksaan (BAP). Kelak BAP tersebut dapat dihadirkan ke persidangan sebagai alat bukti: SURAT. Dalam persidangan nanti, keterangan terdakwa, saksi, dan ahli, masing-masing akan bernilai sebagai alat

bukti: KETERANGAN TERDAKWA, KETERANGAN SAKSI, DAN KETERANGAN AHLI. Berdasarkan keterangan terdakwa, saksi, atau ahli itulah hakim dapat menarik alat bukti: PETUNJUK. Pada akhir persidangan, SURAT, KETERANGAN TERDAKWA, KETERANGAN SAKSI, KETERANGAN AHLI, dan PETUNJUK itulah yang dapat menjadi landasan bagi hakim dalam menjatuhkan putusan. Sekarang anda paham kan mengapa dalam suatu perkara tindak pidana barang bukti memiliki kedudukan yang suangat penting? Nah, lalu bagaimana kita memandang konsep ini dalam konteks kejahatan telematika atau cybercrime? Nanti saya bahas di posting yang lain.
PEMBUKTIAN PERKARA PIDANA Pembuktian dalam perkara pidana berbeda dengan pembuktian dalam perkara perdata. Hukum acara pidana itu: Bertujuan mencari kebenaran material, yaitu kebenaran sejati atau yang sesungguhnya Hakimnya bersifat aktif. Hakim berkewajiban untuk mendapatkan bukti yang cukup untuk membuktikan tuduhan kepada tertuduh Alat buktinya bisa berupa keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa. DASAR HUKUM PEMBUKTIAN DALAM PERKARA PIDANA Dasar hukum tentang pembuktian dalam hukum acara pidana mengacu pada pasal 183-189 KUHAP (Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana). JENIS ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA Menurut pasal 184 KUHAP, alat bukti dalam perkara pidana bisa berupa keterangan saksi,keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Hal-hal yang sudah diketahui umum, tidak perlu dibuktikan lagi. Pada prinsipnya, penggunaan alat bukti saksi dansurat dalam hukum acara pidana tidak berbeda dengan hukum acara perdata. Baik dalam bentukmaupun kekuatannya. Namun, ada alat bukti lain yang perlu diketahui dalam perkara pidana, diantaranya adalah: 1. Keterangan Ahli Keterangan Ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahliankhusus tentang suatu hal yang diperlukan untuk memperjelas perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Misal: Dalam pelaksanaan PPK telah terjadi penyalahgunaan dana oleh oknum. Fakta itu ditemukan setelah ada pemeriksaan (audit) oleh auditorBPKP. Nah, auditor BPKP ini dapat menjadi saksi ahli atas peristiwa

yang terjadi. Keterangannya dapat digunakan dalam proses perkara pidana.Jadi, seorang ahli itu dapat menjadi saksi. Hanya saja, saksi ahli ini tidak mendengar, mengalami dan/atau melihat langsung peristiwa pidana yang terjadi. Berbeda dengan ”saksi” yang memberi keterangan tentang apa yang didengar, dialami dan/ atau dilihatnya secara langsung terkait dengan peristiwa pidana yang terjadi.Sama halnya dengan seorang ”saksi”, menurut hukum, seorang saksi ahli yang dipanggil di depan persidangan, setelah dipanggil dengan

tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka dia dapat dikenai sanksi berupa membayar segala biaya yang telah dikeluarkan dan kerugian yang telah terjadi. Akan tetapi seorang ahli dapat tidak menghadiri persidangan jika memiliki alasan yang sah. Menurut pasal 180 KUHAP, keterangan seorang ahli dapat saja ditolak untuk menjernihkan duduk persoalan. Baik oleh hakim ketua sidang maupun terdakwa/ penasehat hukum. Terhadap kondisi ini, hakim dapat memerintahkan melakukan penelitian ulang oleh instansi semula dengankomposisi personil yang berbeda, serta instansi lain yang memiliki kewenangan. Kekuatan keterangan ahli ini bersifat bebas dan tidak mengikat hakim untuk menggunakannya apabila bertentangan dengan keyakinan hakim. Dalam hal ini, hakim masih membutuhkan alat bukti lain untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya. 2. Alat Bukti Petunjuk Menurut pasal 188 KUHAP, Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang diduga memiliki kaitan, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, yang menandakan telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.Petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa. Oleh karena itu, petunjuk juga merupakan alat bukti tidak langsung.Penilaian terhadap kekuatan pembuktian sebuah petunjuk dari keadaan tertentu, dapat dilakukan oleh hakim secara arif dan bijaksana, setelah melewati pemeriksaan yang cermat dan seksama berdasarkan hati nuraninya. 3. Keterangan Terdakwa/ Pelaku Menurut pasal 194 KUHAP, yang dimaksud keterangan terdakwa itu adalah apa yang telah dinyatakan terdakwa di muka sidang, tentang perbuatan yang dilakukannya atau yang diketahui dan alami sendiri.Pengertian keterangan terdakwa memiliki aspek yang lebih luas dari pengakuan, karena tidak selalu berisi pengakuan dari terdakwa. Keterangan terdakwa bersifat bebas (tidak dalam tekanan) dan ia memiliki hak untuk tidak menjawab Kekuatan alat bukti keterangan terdakwa, tergantung pada alat bukti lainnya (keterangan terdakwa saja tidak cukup) dan hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. BARANG BUKTI & KEGUNAANNYA Barang bukti adalah benda bergerak atau tidak berwujud yang dikuasai oleh penyidik sebagai hasil dari serangkaian tindakan penyidik dalam melakukan penyitaan dan atau penggeledahan dan atau pemeriksaan surat untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan, dan peradilan. Secara material, barang bukti yang ada bermanfaat bagi hakim untuk memperkuat keyakinan hakim dalam

proses persidangan. Bahkan sering kali hakim dapat membebaskan seorang terdakwa berdasarkan barang bukti yang ada dalam proses persidangan (setelah melewati proses yang arif, bijaksana, teliti, cermat dan saksama). Jika dicermati, pembuktian dalam proses perkara pidana tidak mudah. Oleh karena itu, jika terjadi kasus pidana dalam pelaksanaan PPK, sebaiknya terlebih dahulu dimanfaatkan berbagai alternative penanganan yang mudah, murah dan praktis untuk lebih mempercepat penyelesaian masalah. Proses hukum dapat dipilih sebagai alternatif terakhir apabila ditemui jalan buntu dalam penyelesaian masalah PPK. Pecinta PPK yang Kompak! Pada September 2006 ini, Unit Penanaganan Masalah bersama Unit Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) menyajikan leaflet yang masih berkaitan dengan informasi hukum dengan tema ”Pembuktian Dalam Perkara Pidana”. Tema ini diketengahkan untuk lebih memperkaya pemahaman kita dalam menangani kasus-kasus pidana yang terjadi dalam pelaksanaan PPK. Salam SiKompak

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->