P. 1
100 Tahun Bung Hatta

100 Tahun Bung Hatta

|Views: 262|Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2013

pdf

text

original

1 0 0 t a h u n b u n g h a t t a (d o c l i n k : J a c k We s t

)
Saudaraku Jachrizal, Saudara yang lain, Terima kasih untuk turut mengangkat sejarah salah seorang nasionalis sejati, seorang puritan, seperti yang ditulis Suryana Sudrajat. Saya terharu menyaksikan tidak adanya tanggapan prihal mengenang 100 tahun Bung Hatta. Saya akan coba cari di internet apakah ada tulisan, peringatan prihal kehidupan beliau almarhum di koran-koran Indonesia pada tgl 12 Agustus 2002. Mungkin anda dapat membantu saya? Bila ada jiwa-jiwa muda yang memiliki hasrat mengenal dan mengenang tokoh (Bung) Mohamad Hatta, 'Pak Des Alwi (and I) telah membuat film dokumenter prihal kehidupan beliau dari sejak pra '45 sampai usia lanjutnya, sebelum beliau meninggal. (Maaf saya tidak memiliki copy-nya). Des Alwi adalah "anak angkat" keluarga almarhum Sutan Sjahrir, dan sempat juga "diangkat anak", oleh keluarga almarhum Mohamad Hatta. Bila ada yang ingin menghubungi Des Alwi: Banda's Culture and Heritage Foundation Jln. Narada 36, Tanah Tinggi, Jakarta ph (021) 4240151 atau di Banda Naira ph. 0910 - 21022. Des Alwi himself is a remarkable person, who has contributed significantly toward eg Indonesia's diplomatic, historical, development, tourism film making. Julukan "Raja" Banda layak ia terima, mengingat akan peran beliau membangun Banda Naira. Konon kakeknya adalah tokoh pembawa agama Islam ke daerah Maluku. Des Alwi, paling tidak, akan senantiasa dikenang oleh para keluarga pengungsi dari Ambon yang telah ia selamatkan dari usaha pembunuhan masal di Banda, ketika terjadinya perang saudara di Maluku. Konon, Des Alwi menempatkan dirinya di muka keluarga yang hendak dibunuh dengan keberanian seorang pahlawan: "Dorang trada salah. Dorang lari ke beta pung kakek pung tanah. Seh mau bunuh mereka, bunuh beta juga. Mari jo, sapa brani." Ketika Des Alwi menceritakan hal tersebut ia berkata: "Ik beef nog als ik er aan denk" meaning, "beta masih gemetar inga' kejadian itu," so banyak orang kristen Banda dorang bunuh maar ini (pengungsi dari Ambon JW), mereka hidup sampai sekarang. Des Alwi berhasil membawa damai di kepulauan Banda, dimana umat Islam dan Kristen telah hidup bersaudara, bertetangga, berpela, sedarah - setanah seair - salaut. Kembali kepada Bung Hatta: marilah kita kenang bersama seorang nasionalis

sejati, seorang ayah bangsa Indonesia, tokoh pejuang tanpa kekerasan, yang sampai akhir hidupnya mungkin tidak ada tandingannya dalam tauladan dan iman percayanya. Saya harap saya salah, maybe I am biased. Namun berilah, umumkanlah tokoh-tokoh lain yang sebanding dengan almarhum Bung Hatta, rekan proklamator kemerdekaan R.I. Assalamu'alaikum Wr.Wb. Jack Jachrizal Sumabrata wrote: Temans, FYI, ada tulisan dari Indonesia, Good luck, J A. Suryana Sudrajat: Tanggal 12 Agustus 2002 Bung Hatta yang telah meninggalkan kita 22 tahun yang silam, genap berusia satu abad. Salah satu yang menjadi pusat perhatian proklamator itu adalah soal kemiskinan, baik ketika ia masih menjabat wakil presiden, maupun sesudah mempesiunkan diri. "Pada tahun 1970 memang sudah ada milyarder orang Indonesia, berpuluh-puluh milyuner, beratus-ratus perniagaan dengan hubungan luar negeri, dan tidak sedikit pedagang dalam negeri," kata Hatta ketika menyampaikan pidato Sesudah 25 Tahun di Kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 2 September 1970. "Tetapi bagi rakyat jelata yang terbanyak, yang menjadi petani, buruh dan pegawai negeri serta yang telah pensiun, mereka menderita kemunduran dibandingkan dengan keadaan mereka di masa Hindia Belanda." Bapak Koperasi ini menunjuk upah minimum pada masa Hindia Belanda senilai 5 kg beras/hari, yang pada tahun itu tidak berlaku. Tapi, apakah sesudah 57 tahun kita merdeka, keadaan rakyat jelata sudah lebih baik di tengah para milyarder yang sekarang jumlahnya mungkin sudah beratus-ratus? Jika suatu daerah masih ada yang menerapkan upah minimum regional Rp235.000 per bulan atau Rp9400 per hari, bukankah UMR itu lebih rendah ketimbang pada zaman kolonial, jika harga beras sekarang rata-rata Rp2.500 per kg? Tahun lalu, ketika Wakil Presiden Hamzah Haz ketika meresmikan selesainya renovasi makam Bung Hatta di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, ia mengatakan, "Mungkin, krisis yang melanda Indonesia tidak akan seburuk ini jika perekonomian kita berbasis pada ekonomi rakyat, sehingga upaya pemulihan ekonomi dibanding negara tetangga kita agak tersendat." Menurutnya pula, upaya pemulihan juga cukup sulit karena sekitar 72% dari total tenaga kerja Indonesia tingkat pendidikan rata-ratanya hanya SD. "Persoalan ini yang menjadi perhatian Bung Hatta.

Mudah-mudahan setelah saya menjadi Wakil Presiden, saya dapat melaksanakan apa yang menjadi cita-cita Bung Hatta," katanya. "Jadi, bukan soal balas jasa atau apa pun namanya, tetapi bagaimana kita bisa mengimplementasikan ajaran beliau dalam kehidupan nyata rakyat Indonesia." Persoalan ekonomi kita sekarang menjadi tambah runyam menyusul gelombang pemulangan TKI ilegal oleh Malaysia, dan datangnya musim kering yang panjang yang sudah menghancurkan beberapa sentra pertanian di Tanah Air. Hatta sendiri, setelah mengundurkan diri dari wakil presiden pada 1956, sering menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Meski pendapatannya -- berasal dari honor tulisan, pensiun pemerintah, dan kekayaan keluarga -- di atas rata-rata orang Indonesia, masih di bawah penghasilan elite Indonesia. Maka, tidak aneh jika pada Februari 1966, Bung Hatta, misalnya, menolak membayar rekening listrik dan gas yang jumlahnya Rp155,50, sedangkan pensiunnya hanya Rp149,22. Dalam suratnya kepada Menteri Koordinator Suprajogi, Hatta mengatakan bahwa "kita selalu mencela dasar l'exploitation de l'homme par l'homme yang berlaku di zaman imperialisme klonial. tetapi jangan dasar yang jelek itu diganti dalam Republik Indonesia kita inidengan sistem yang lebih jelek lagi, yaitu l'exploitation de l'homme par l'etat (eksploitasi manusia untuk negara)." Untuk tarif listrik bungalownya di Megamendung yang jumlahnya 3/4 dari pensiunnya, Hatta dalam suratnya kepada Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai tarif pemerasan yang tidak ada duanya dalam sejarah Indonesia sejak dari zaman kolonial, dan lebih jahat dari pemerasan fasis. "Saya kira negara kita tidak mestinya menjadi uitbuitende staat (negara pengeksploitasi manusia)." Bagi golongan kapitalis yang sedikit, yang dapat menimbun kekayaan dalam waktu singkat, kata Hatta, tarif semacam itu mudah dibayar. "Tapi buat pegaai negeri dan pensiunan, tarif itu mencekek leher." Mengapa Hatta tampak begitu cerewet mempersoalkan uang pensiunnya? Hatta bukannya tidak bisa hidup secara lain yang secara materiil akan jauh sangat menyenangkan. Ia mengakui, hidupnya akan hebat, jika waktu berhenti sebagai wakil presiden ia menerima tawaran perusahaan asing dan nasional. "Tapi saya pandang itu sebagai penghinaan untuk negara. Adakah Hatta ingin dipandang sebagai negarawan yang bersih, dan untuk itu berpahit-pahit? Ataukah dia menyadari berbagai akibat jika seorang pejabat (bisa melalui anggota keluarga, atau membentuk berbagai yayasan) terlibat dalam bisnis? Hatta memang dikenal sangat puritan. Juga termasuk dalam urusan

perempuan. Maka, tak heran jika ia, misalnya, menentang perkawinan Bung Karno dengan Hartini yang waktu itu reputasinya kurang baik. Menurutnya, baik cara pertemuan maupun cara perkawinan mereka kurang wajar. Hatta juga tidak menyetujui sikap BK terhadap Fatmawati yang "digantung tidak bertali". Fatmawati memang mengajukan gugatan cerai baik kepada suaminya maupun pemerintah. BK menolak, dan tak ada seorang pun yang mencoba menyelesaikannya. Fatmawati akhirnya hidup berpisah tanpa surat cerai dari sang suami. Dalam pandangan Hatta, perkawinan seorang presiden, baik untuk yang pertama maupun kedua kalinya, perlu dikaitkan dengan pertanyaan, "apakah perkawinan itu tidak merusak kehormatan negara dan tidak membahayakan keselamatan negara". Karena presiden duduk pada puncak pimpinan negara dan menjadi lambang kehormatan negara, maka perkawinan tersebut tidak bisa dipandang sebagai "sesuatu hal yang prive".*** Jack West COGNIS AUSTRALIA Pty. Ltd. Engineering and Maintenance 71-77 Taunton Drive Cheltenham VIC 3192 - Australia Phone: + 61 3 9584 4588 extn. 111, Fax: + 61 3 9585 5314 Mobile: + 61 414 530 607 Australia: 0414 530 607 E-mail: Jack.West@cognis.com

Bung Hatta dan Pendanaan Mikro
* Thoby Mutis DALAM pidato Mohammad Hatta pada Hari Koperasi III, 12 juli 1953, antara lain ditegaskan, "Apabila kita uraikan lagi jumlah simpanan tahun 1952 dijadikan simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan mana suka (sukarela-Red) dan lainnya, maka terdapat angka-angka yang menggembirakan. Di sebelah simpanan pokok dan simpanan wajib yang telah bertambah jumlahnya, kita dapati simpanan sukarela yang jumlahnya juga bertambah. Di sini terbayang kemajuan dari semangat mau menyimpan! " Selanjutnya Bung Hatta mengatakan, "Kemauan menyimpan itu adalah gambaran dari keadaan koperasi dan keyakinan berkoperasi. Jiwa pendorong koperasi ialah self-help. Dan self-help inilah, yaitu prinsip tolong diri sendiri, yang harus dipupuk senantiasa, harus diperbesar. Gerakan koperasi yang berjiwa self-help, yang berani bertanggung jawab dan mengatasi kesulitan sendiri lebih dahulu, akan menemui zaman emasnya di masa datang." Tentu saja, Pemerintah Republik Indonesia wajib membantu perkembangan koperasi. Tetapi hal itu jangan sampai kita lupa, dasar hidup koperasi ialah auto-aktivita dan self-help. Atas keinsafan bahwa koperasi bermanfaat membela keperluan hidup bersama atas tanggung jawab bersama, maka koperasi harus senantiasa menghidupkan auto-aktivita dan berpegang senantiasa kepada prinsip self-help.

Selain menekankan prinsip self-help, Hatta dalam peringatan Hari Koperasi ke-3 tahun 1953, juga menanyakan, sudahkah tiap-tiap desa mempunyai lumbung padi? Sudahkah berkembang peternakan di kalangan rakyat yang dibiayai oleh pinjaman koperasi? Sudahkah terlaksana di mana-mana kebun sayur dibiayai dengan pinjaman koperasinya? Bagaimana koperasi di kalangan pertukangan dan kerajinan? Sampai di manakah hasil yang diperoleh dengan koperasi untuk mengatasi ijon dengan pinjaman kecil-kecil sesuai kebutuan dan lain-lainnya? Penegasan Bung Hatta jelas menunjukkan peran koperasi untuk menyediakan modal kerja (working capital) dengan apa yang disebut micro finance itu! Berkaitan dengan peran koperasi sebagai penyedia pendanaan mikro, Bung Hatta mengatakan pula bahwa masyarakat kita kekurangan modal untuk menyelenggarakan berbagai usaha. Perlu ada pemanduan kapital dalam masyarakat kita sendiri. Sebab itu pula perlu "Pekan Tabungan Rakyat" sebagai gerakan koperasi pada setiap perayaan Hari Koperasi setiap tahun. Selama sepekan, hati rakyat digerakkan untuk menyimpan, terutama dalam lingkungan koperasi sendiri. Kegiatan menabung itu harus diperbesar dan diperluas keluar lingkungan koperasi sampai ke dalam lingkungan rakyat seluruhnya. Dianjurkan supaya seluruh anggota dan rakyat menabung secara teratur, menyimpan tiap-tiap minggu dalam jumlah yang tertentu pula. Hatta mengingatkan, tiap-tiap orang menyimpan sesuai dengan kesanggupan, misalnya sepuluh sen atau setali atau serupiah. Tetap teratur, dengan tak ada yang dilangkahi. Upaya menabung sebenarnya tidak terlalu berat, tidak melewati kesanggupan anak-anak yang biasa membeli jajan tiap-tiap hari. Yang sukar ialah mengadakan organisasinya, menyusun kemauan yang teratur. Bagi simpanan anak-anak sekolah seharusnya dapat dilakukan oleh guruguru sekolah, yang kemudian dapat dihubungkan dengan Bank Tabungan Pos. Selain itu, tiaptiap koperasi hendaklah bersedia mengorganisasi dan menerima simpanan rakyat, asal dipenuhi syaratnya, yaitu simpanan teratur tiap-tiap minggu dalam jumlah tertentu. Aneka koperasi di Indonesia dapat memacu pendanaan mikro dengan menggerakkan simpanan pokok, simpanan wajib serta simpanan sukarela secara pantas. Keluarga miskin pun bisa menabung, jika mau digerakkan dan dipacu secara tepat. Sebaliknya juga koperasi-koperasi kredit juga mampu menggerakkan micro finance untuk melatih menabung teratur dan mampu mengembangkan akses perkreditan atau pinjaman kepada orang kecil. Beberapa koperasi kredit di Indonesia saat ini berhasil menggerakkan pendanaan mikro di lingkungan keluarga miskin baik yang menjadi anggota dan calon anggotanya. Koperasi kredit mampu menunjukkan bahwa masyarakat miskin yang menjadi anggota itu layak untuk mendapat fasilitas kredit (creditworthy). Pelayanan-pelayanan finansial yang disediakan oleh institusi micro finance kiranya dapat diakses oleh masyarakat miskin sehingga menampilkan nuansa yang memacu efisiensi simpanan dan pinjaman dengan pengadaan biaya transaksi yang rendah tanpa melulu mengandalkan jaminan fisik. Menurut Bank Pembangunan Asia (ADB), jasa-jasa yang mampu ditampilkan oleh lembaga pendanaan mikro antara lain koperasi kredit, yang memicu proses pemberdayaan pasar keuangan di masyarakat pedesaan. Lembaga-lembaga pendanaan mikro juga mampu memperkuat modal sosial dan modal individu dari kalangan masyarakat miskin, terutama bagi kaum wanita, rumah tangga, usaha kecil dan kelompok masyarakat.

Pendayagunaan jasa-jasa pembiayaan mikro yang berkelanjutan dalam skala yang lebih besar di beberapa negara telah mampu menggerakkan pembangunan ke arah yang positif dalam penentuan kebijakan-kebijakan pembiayaan mikro itu sendiri. Ada aneka koperasi yang patut dijadikan acuan secara intens dan terencana dalam pengembangan pendanaan mikro, yaitu koperasi Kospin Pekalongan dan Koperasi Kodanua, gerakkan koperasi kredit yang dahulunya disebut Credit Union yang berjumlah 1.200 buah di seluruh Indonesia. Juga di Jepang dan Korea Selatan, pembiayaan mikro lebih didominasi oleh jaringan bisnis koperasi yang merambah dari desa sampai ke kota. ADB baru mulai tertarik dengan pembiayaan mikro sejak 10 tahun terakhir ini, namun kebijakan-kebijakannya sering kali belum terarah atau belum tepat sasaran karena ADB masih menggunakan lembaga-lembaga pemerintah dan swasta untuk menjadi mitranya. Hal inilah yang disayangkan oleh sementara kalangan koperasi. Strategi pendanaan mikro yang diterapkan di Jepang dan Korea Selatan dengan menggunakan jaringan-jaringan koperasi merupakan suatu contoh keberhasilan yang patut diteladani oleh ADB. Menurut ADB, berkembangnya pendanaan mikro dalam suatu wilayah mampu membawa perubahan dalam perilaku dari perilaku yang biasanya hanya mengandalkan subsidi menjadi perilaku yang mampu menjalankan bisnisnya secara optimal. Pendidikan bagi kepentingan anggota koperasi sebagai pemilik dan pelanggan koperasi merupakan proses yang penting dalam mencerdaskan kehidupan berkoperasi. Kebanyakan pendidikan kepada anggota ini jarang dilakukan oleh koperasi-koperasi yang dibentuk dari atas (top down) atau orang-orang di luar koperasi. Biasanya koperasi-koperasi itu tidak bertahan lama. Menurut perkiraan kami, hanya 15 persen dari koperasi-koperasi yang ada sekarang ini melakukan pendidikan kepada anggotanya secara teratur. Kelemahan menata pendidikan anggota inilah yang membuat cukup banyak koperasi-koperasi yang gulung tikar. Kompetensi Dalam menyoroti pemikiran Hatta tentang koperasi, kiranya menarik bila diletakkan dalam perspektif sustainable collective intelligence (SCI) seperti yang dipaparkan oleh Kazimierz. SCI terkait dengan kompetensi yang bermakna secara kolektif memacu kecerdasan yang dapat menghasilkan sinergi. Misalnya, sesuatu lebih bermanfaat jika dikerjakan bersama-sama ketimbang sendiri-sendiri. Ungkapan tentang bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh dalam lingkup kolektif, tergantung juga pada kompetensi yang memacu kecerdasan kolektif itu. Bila solidaritas dalam lingkup kolektif itu tidak memacu kecerdasan untuk memacu sinergi dalam lingkkup ekonomi dan sosial, maka kelangsungan usaha koperasi bisa meredup. Pandangan Hatta tentang SCI sangat jelas antara lain ketika dia mengatakan, koperasi perlu melakukan pendidikan kepada para anggota-anggotanya secara langsung maupun tidak langsung melalui kegiatan-kegiatan yang secara sengaja direncanakan. Hal ini harus menjadi agenda koperasi. Bung Hatta mengatakan, "Budi pemangku kooperasi yang ideal terletak di dalam daerah pendidikan penghidupan sosial maupun perusahaan. Dan apa yang harus dihidupkan dalam lingkungan keluarga kooperasi sebagai peribudi istimewa ialah sifat-sifat tegas dan paham dan

juga kemampuan dan kemauan untuk menolong diri sendiri, kecondongan bersekutu dan solidaritas. Pendek kata setia kepada kawan dan setia terhadap perusahaan sekawan." Selanjutnya Bung Hatta mengatakan, "Pengalaman kita sehari-hari menunjukkan betapa sukarnya mendidik sifat dan budi-pekerti yang dikehendaki itu. Itu adalah suatu pekerjaan yang meminta waktu, tetapi sebaliknya juga berkehendak dikerjakan sekarang juga. Menyesuaikan program jangka pendek ke dalam program jangka panjang adalah suatu kebijakan organisasi yang diperlukan." Tetapi pokok dari segala-galanya, menurut Hatta, sikap percaya dan yakin tentang kebaikan masyarakat. Sikap saling percaya itu harus dibangun berangsur-angsur dengan kekerasan hati yang tak kunjung patah! Juga dikatakan oleh Bung Hatta, "Dari uraian saya ini, jelaslah kiranya bahwa bukan semboyan yang muluk-muluk yang terutama perlu untuk mencapai masyarakat kooperasi yang kita ciptakan, melainkan amalnya yang berupa pendidikan atas diri sendiri dan perbuatan. Tak ada sifat yang lebih bertentangan dengan dasar kooperasi daripada perasaan segala cukup. Kita harus membangun suatu dunia baru dari ramuan yang serba kurang. Dengan perasaan segalanya genap tak ada yang akan bangun, sebab semua terasa sudah cukup. Di atas jalan menuju masyarakat koperatif, belum ada yang sempurna, sebab itu dasar kita bekerja ialah mencapai perbaikan senantiasa!" Dengan keadaan yang selalu berubah, Hatta mengingatkan, "Apa yang telah terasa baik sekarang, di kemudian hari sudah kurang baik rupanya, oleh karena dunia selalu dalam perubahan. Janganlah pula ada di antara kita yang merasa sombong melihat hasil yang telah tercapai. Sikap yang harus dicapai dalam membangun kooperasi mestilah sesuai dengan ilmu padi, semakin masak semakin runduk."

Posisi Pendanaan Mikro Pendanaan mikro di Indonesia telah berjalan lama, bisa terlihat dari banyaknya arisan-arisan uang yang tumbuh subur di kalangan masyarakat. Belum ada statistik resmi yang telah memantau kuantitas mereka, namun diperkirakan mencapai Rp 500.000-Rp 800.000. Arisan mampu mengumpulkan dana dan disalurkan antara lain untuk modal kerja di antara kelompok. Seseorang mendapat giliran untuk "menang" memperoleh kesempatan mendapatkan dana yang antara lain dapat digunakan untuk modal kerja dalam melakukan usaha yang produktif. Kelompok arisan yang bisa menyalurkan dana bagi para peserta yang membutuhkan modal kerja mampu tampil sebagai pemasok informal dari pendanaan mikro. Selain itu, bentuk pendanaan mikro informal yang hidup di masyarakat Indonesia dipraktikkan juga oleh tukang riba dan sistem ijon, di mana pendanaan ini kerap digunakan untuk membiayai usaha-usaha kecil yang tidak berbadan hukum (micro enterprise). Mereka menggunakan caracara yang fleksibel, jemput bola dan mengenali pelanggannya dengan baik. Tukang riba dan pengijon menjadi sumber utama kredit di pasar-pasar kota dan desa saat kini. Persoalan micro finance menjadi menarik karena dianggap seolah-olah itu adalah hal baru, padahal itu sudah lama dibicarakan, kurang lebih 30 tahun yang lalu. Credit Union (koperasi kredit) hadir di Indonesia dengan tujuan antara lain juga untuk akumulasi simpanan yang antara lain dapat digunakan pendanaan mikro. Koperasi Kredit (CU) secara bijak dengan kearifan tertentu bisa menghindarkan intervensi birokrasi pemerintah yang tidak berkualitas di era Orde Baru.

Di Amerika Serikat, pendanaan mikro yang dikontribusikan oleh credit union (koperasi kredit )itu sudah mencapai 11 persen. Jumlah anggota Koperasi Kredit di sana adalah sebesar 80 juta dari total jumlah penduduk yang berjumlah 240 juta jiwa. Jadi semua jenis pendanaan mikro di AS secara nominal 11 persen berasal dari koperasi kredit. Sementara itu di Indonesia masih belum mencapai 1 persen. Biasanya pendanaan mikro di dalamnya mengandung unsur poverty reduction atau poverty alleviation, yaitu adanya upaya untuk mengurangi kemiskinan dengan income-saving generating activities. Sekitar 20 tahun yang lalu, di Sumatera Utara sudah ada program-program yang disebut "Kewirausahaan Koperasi" yang diperuntukkan bagi kalangan bawah, seperti kaki lima, pedagang kaki kecil di pasar dan di kalangan janda-janda. Program tersebut digerakkan oleh Credit Union melalui Pusatnya Badan Koordinasi Koperasi Kredit ( BK3D ). Artinya Credit Union sudah bertindak sebagai sebuah lembaga ekonomi yang mempunyai isian sosial (social content). Isian sosialnya itu antara lain adalah dengan menggerakkan micro finance bagi kelompok-kelompok miskin tersebut. Dan justru hal-hal yang telah dilakukan itu merupakan juga hal yang menjadi kekuatan Credit Union di AS. Atau untuk skala Indonesia lebih dikenal dengan nama gerakan ekonomi yang berpijak pada social capital. Secara kasar dapat diperkirakan, sekitar 25 - 40 persen dari dana-dana CU berputar sebagai micro funding pada kalangan miskin atau kalangan-kalangan lain yang perlu dibantu. Hanya harus diakui bahwa CU atau koperasi kredit memiliki kekurangan, antara lain bagaimana mencari dana-dana segar dari luar yang berfungsi sebagai matching fund untuk membantu kelompok tersebut. Baik yang sudah menjadi anggota (CU) dan juga bagi calon yang belum menjadi anggota tersebut agar dapat tertarik menjadi anggota sehingga mereka terlepas dari pada tukang riba. Walaupun tukang riba sebenarnya berfungsi menjalankan micro financing yang juga bergerak di sektor informal dengan memberikan pelayanan pada bidang jasa keuangan. Karena di Indonesia ini yang bisa masuk ke Bank hanyalah 5 persen dari pedagang kecil, dan pengusaha kecil lainnya sedangkan 95 persen pedagang lainnya belum pernah "masuk" ke bank, atau dengan kata lain belum pernah mendapatkan kredit dari bank. Dan ironisnya mayoritas tersebut belum pernah disentuh oleh lembaga-lembaga keuangan bank dan non-bank. Lantas siapa yang akan menyentuh mereka? Kebutuhan modal kerja usahanya dalam lingkup pendanaan mikro bersumber darimana? Ya itu tadi, antara lain dari tukang riba, mindring atau utang pada tetangganya. Biasanya orang yang akan melakukan pendanaan Micro Business tersebut memacu tingkat bunga yang sangat tinggi. Sebagai contoh, jika seorang pedagang kecil meminjam Rp 100.000,- disuruh mencicil Rp 4.000,- sehari, selama sebulan, sehingga yang terjadi adalah bunganya bisa mencapai 20 persen. Dan contoh ini sungguh terjadi dan bisa dilihat dari pinjaman para pedagang-pedagang kecil di pasar-pasar Kota Jakarta. Hal tersebut tidak bisa dicegah. Karena kebutuhannya sangat besar di pasar. Seorang tukang sayur, membayar cicilan pokok dan bunga sehari Rp 4.000 untuk pinjaman sebesar Rp 100.000, maka dalam sebulan bunga sebesar 20 persen. Tingkat bunga dari tukang riba sering diterima secara terpaksa, namun dari kacamata tingkat bunga di koperasi penilaian terhadap tentunya akan berlainan. Dan koperasi yang murni bisa mengatakan bahwa pemberi pinjaman tersebut pasti adalah seorang moneylender yang eksploitatif, kendati tukang riba tersebut sudah menjalankan micro financing. Cuma persoalannya bagi anggota koperasi sebagai insan bisnis punya keinginan bahwa micro financing yang di jalankan itu harus berbunga rendah, tidak mengisap, di sini senang, di sana senang sama-sama oke! Karena itu anggota koperasi harus menabung dulu baru pinjam saving

formation first. Akumulasi aneka simpanan atau tabungan tabungan yang baik supaya bisa disalurkan untuk pinjaman dari dalam dengan bunga yang rendah. Tanpa kita sadari, sebenarnya program pelayanan micro finance itu sudah berhasil dijalankan oleh cukup banyak koperasi di Indonesia saat kini. Dan itu terbukti berdampak besar sekali bagi perkembangan koperasi kredit yang bersangkutan. Seperti yang terjadi pada sebuah koperasi kredit di Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Kopdit yang saat ini beraset enam setengah milyar rupiah tersebut mampu menggaji 50 karyawan, bahkan sanggup menggaji manajernya sebesar tiga juta rupiah per bulan. Hal yang sama terjadi pula dengan banyak kopdit yang berada di Kalimantan Barat, juga aneka koperasi kredit (CU) yang ada di Tanah Air dewasa ini antara lain Jawa, Bali, Flores, Irian Jaya, dan Sulawesi. Jika koperasi kredit di Indonesia sebagai fasilitator sekaligus sebagai micro finance provider, bisa digerakkan dengan baik maka hasilnya akan menjadi sangat luar biasa. Kalau orang bicara micro finance, maka sebenarnya counter-nya itu apa? Dalam literatur ada yang namanya microenterprise, micro business entity, microentrepreneurs. Semua itu ada kaitanya dengan usaha-usaha kecil. Kemudian dalam micro business entity ini berapa batasan jumlah kredit yang dapat diberikan? Misalnya berkisar dari Rp 50.000 sampai dengan Rp 1.000.000. Hal ini harus ditilik secara saksama oleh setiap koperasi kredit secara komprehensif. Sebab bisnis mikro ini yang tahan banting selama krisis ekonomi berlangsung di Indonesia. Dalam melihat perkembangan suatu koperasi mungkin ada baiknya bila kita melihat beberapa tinjauan tentang the core processes of cooperative community (proses-proses inti suatu komunitas koperasi). Gagasan tentang proses inti ini didasari oleh pandangan Juanita Brown (2000), Mohammad Hatta (1953) dan para pakar manajemen koperasi antara lain, Abat Elias, Ibnoe Soedjono. Komunitas koperasi bisa memiliki kapabilitas karena mempunyai keuletan, keterampilan , pengetahuan, kualitas personal, juga gaya hidup menabung, mengubah perilaku dan sikap mental untuk berhemat, memperbaharui diri, sembari merumuskan tujuan dan langkah kerja yang berkualitas. Mereka melakukan ini melalui suatu proses pembelajaran dan pengembangan kreativitas dan inovasi - inovasi di sekitar lingkungan bisnisnya, baik secara individu maupun secara kolektif. Peter Senge memfokuskan pada tiga macam kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan suatu komunitas bisnis untuk berkembang, yaitu (1) aspirasi yang kreatif serta terfokus, (2) kemampuan reflektif, dan (3) konseptualisasi. Aspirasi berkualitas yang terfokus menuntut pengembangan keterampilan dan ketekunan untuk memutuskan apa yang penting dilakukan sebagai anggota koperasi. Juga memperhatikan masa depan yang diinginkan sesuai dengan konteks kemampuan yang ada maupun yang akan berkembang. Untuk kebanyakan koperasi kesuksesan akan terjadi apabila proses inovasi mendapat tempat yang layak di mana setiap individu anggota dalam organisasi memperoleh kesempatan untuk menampilkan komitmen dan inspirasi yang terpendam. Inti pengembangan koperasi sebenarnya adalah bagaimana membentuk jaringan koperasi yang didukung oleh partisipasi anggota. Pemimpin koperasi harus mampu membangun suasana berkoperasi sehingga partisipasi anggota bersifat sukarela dan tanpa paksaan. Dr Thoby Mutis Rektor Universitas Trisakti Jakarta, pemerhati koperasi dan usaha menengah/kecil

Bung Hatta di Tengah Krisis Multidimensi Orde Baru
* Mochtar Pabottingi MUNGKIN seperti zaman "tempo doeloe" yang digambarkan secara mengharukan oleh Nieuwenhuys, Mohammad Hatta pun adalah prototipe tokoh dari zaman yang kini terasa sudah sama jauhnya dengan "tempo doeloe" itu. Hatta bukanlah kekecualian dalam hal integritas untuk lebih mengutamakan kepentingan nasion daripada kepentingan pribadi atau keluarga selagi berada di ketinggian jabatan publik. Tak terbetik sedikit pun jejak atau niat untuk merampok uang rakyat secara besar-besaran, ketika kesempatan baginya terbuka atau dapat diciptakannya untuk itu, apalagi untuk menginjak-injak nasion-dua keburukan puncak yang dilakukan oleh Soeharto sepanjang pemerintahannya. Dalam kedua keutamaan itu, sekadar menyebut beberapa, Hatta sekelompok dengan Soekarno, Sutan Sjahrir, Wilopo, dan Hamengku Buwono IX. Akan tetapi, jika keseluruhan keutamaan Hatta yang sempat terekam kita hitung dalam retrospeksi, agaknya kita harus menempatkannya sebagai melampaui semua tokoh pendiri republik kita. Dengan kata lain, waktu- hakim yang luar biasa itu- kian hari menyingkap cahaya yang terpancar dari sosok pribadi dan sosok politik seorang Hatta. Hatta telah membuktikan dirinya sebagai seorang demokrat dan pluralis sejati, seorang negarawan yang matang, tabah, dan rendah hati, komunikan atau interlokutor politik yang terus berpikiran dan bertindak positif meskipun di saat sudah tersingkir dari kekuasaan, sekaligus seorang dengan religiositas yang istimewa. Dia tak pernah mengidap sindrom sakit hati dan tak pernah masuk "barisan sakit hati," suatu istilah yang bagi telinga waras dan normal akan terasa aneh. Bung Hatta pastilah mengatasi Bung Karno dalam hitungan seorang demokrat, sepasti Bung Karno mengatasinya dalam hitungan seorang nasionalis. Tetapi perlu diutarakan, dalam pemahaman politiknya, Hatta lebih berhasil mencapai titik keseimbangan yang paling maju dan paling rasional antara diri nasionalis dan diri demokratnya. Mungkin ada satu dua tokoh yang patut disebut senapas dengannya dari sisi kesantunan pada nasion dan demokrasi dalam pluralitas. Soedjatmoko, misalnya. Namun, napas demokrat dan pluralis Hatta tetap saja lebih menggugah lantaran dia membuktikan hal itu pada salah satu momen yang paling illustrious di awal sejarah negaranasion kita. Sudah menjadi legendaris bahwa ia, seorang Muslim yang taat, menolak diberlakukannya "ketujuh kata" dalam Piagam Jakarta karena mengindahkan keberatankeberatan dari sejumlah wakil daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, demi nasion dan demokrasi sekaligus. Begitu pula ketika dia menolak dan mengecam keras gerakan PRRI-Permesta dan sekaligus berusaha untuk menengahinya agar tidak berubah menjadi pertumpahan darah kendati untuk itu dia gagal. Masih ada satu hal lagi yang membedakan Hatta dengan tokoh-tokoh pejuang pergerakan seangkatannya, sebut saja Angkatan '28, yaitu kesediaannya untuk melakukan introspeksi, kritik diri, dan untuk menarik jarak dari kecenderungan pembutaan atau keterseretan secara ideologis. Ia lebih kuat dan lebih arif dibanding Soekarno dalam menekan ego. Pada titik inilah Hatta cenderung bertolak-belakang dengan Soekarno dan lebih dekat pada Sjahrir.

Jika bagi Soekarno, "pembangunan karakter" lebih dikaitkan pada semangat nasionalisme, pada nation-building, dan pada "kepribadian bangsa," bagi Hatta itu lebih dikaitkan pada sikap jiwa yang lapang dan jernih, pada pendidikan menuju kedewasaan dan keberanian bersikap pertama sekali secara individual dan dari diri sendiri. Bagi Soekarno, karakter senantiasa terkait dengan semangat revolusioner. Tiap kali ia berbicara tentang nation and character building, yang ia tolak lewat ungkapan-ungkapan sarat retorikanya adalah "(pembudakan) mental pada (bangsa) lain" atau geboren en getogen in de oude orde dan yang dicitakannya tak lain dari samenbundeling van alle revolutionaire krachten, "Rakjat-badjatempaan-badja-gemblengan," confrontation de tous les jours, atau "satu gunung-karang-sarangpetir di tengah-tengah samudra perdjoangan Ummat Manusia." Lain halnya dengan Hatta. Baginya karakter berarti kejernihan dalam menilik dan menempatkan masalah secara jujur dan ilmiah, keberanian untuk tegak kokoh secara individual, dan kesediaan untuk mengkritisi diri sendiri termasuk pelbagai motif serta kecenderungan kelompok sendiri. Beda dengan Soekarno yang selalu menempatkan karakter dalam kerangka kolektivitas bangsa, bagi Hatta karakter selamanya bermula pada dan memancar dari individu, dari diri sendiriindividualitas yang dilompati begitu saja oleh Soekarno. Hatta menginginkan agar rakyat-secara individual maupun secara kolektif- mampu berbicara untuk dirinya sendiri, tanpa "penyambung lidah." Dalam kata-kata Deliar Noer, dia tak ingin "rakyat hanya sebagai perkakas"; "rakyat itu sendirilah yang harus memimpin dirinya." Memang ada semacam individualitas luar biasa pada Soekarno, semacam supra-individualitas yang cenderung mereduksi atau men-zero-sum-kan posisi relasionalnya dengan segenap individualitas di luarnya. Sepanjang perjuangan politiknya dalam rentang kurang lebih enam dekade (1922-1981), Hatta praktis selalu siap secara fisik dan mental. Dan, kendati Hatta gagal memperjuangkan aspirasi politiknya karena berbenturan dengan Soekarno (yang harus diakui memang paling dekat di hati masyarakat bangsa kita), ia berhasil memancangkan tonggak-tonggak teladan kenegarawanan yang terbukti jauh lebih banyak dan lebih positif mengilhami generasi-generasi sesudahnya. Mengingat bahwa sudah sejak keruntuhan tragis Demokrasi Terpimpin hingga saat ini sinar sosok Hatta terpancar jauh lebih kuat dibanding seluruh rekan seangkatannya, sulit bagi kita untuk menyatakan bahwa dia gagal. Bukankah keutamaan seorang pemimpin mesti selalu dihitung dari daya ilhamnya bagi generasi-generasi sesudahnya? Oleh karena itu, kita tidaklah mengada-ada jika menyatakan over time kecintaan kepada Hatta dari bangsa kita akan melampaui kecintaan pada Soekarno. Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan bahwa hanya dengan kekuatan serat-serat nasion demikian bangsa dan negara kita dapat bertahan dalam kesatuannya hingga detik ini di tengahtengah kehancuran sendi-sendi politik, ekonomi, hukum, dan kepemimpinan yang dihasilkan oleh Orde Baru atau Rezim Soeharto. Dengan kata lain, meskipun kini Angkatan '28 ini boleh dikata sudah tiada, atas kumulasi hasil kerja dan jasa mereka dalam bina nasion itulah bangsa dan negara kita tetap bertahan hingga kini menghadapi kebangkrutan multidimensi. Pencerahan Apakah yang membuat Hatta, Soekarno, dan Sjahrir beserta para pendiri republik kita umumnya begitu kukuh dalam hal integritas menyantuni nasion, pluralitas, dan sekaligus membuat mereka relatif bersih dari hawa nafsu untuk memperkaya diri dan keluarga? Jawabannya, bagi saya, tak lain dari kenyataan bahwa mereka semua bertumbuh menjadi dewasa di masa sedang berlangsungnya "pencerahan" dalam politik kolonial Hindia Belanda. Diakui atau tidak, mereka adalah anak-anak dari ereschuld dan etische politiek.

Ofensif politik pencerahan itulah yang membuat mereka semua memperoleh pendidikan yang istimewa sehingga mentransformasikan mereka sebagai generasi pertama yang giat membaca dan menyingkap keadaan bangsanya sendiri maupun keadaan mancanegara serta menyatu atau bergumul dengan gagasan-gagasan yang maju dan universal. Mereka pastilah menyerap prinsip kehormatan dan etika itu melalui guru-guru liberal mereka dari Belanda, langsung maupun tak langsung. Mereka semua tumbuh dan mulai membaca persis ketika sekolah-sekolah di Hindia Belanda begitu gencar dimasuki oleh pandangan kaum liberal yang sedang marak di negeri Tanah Rendah (Netherlands). Itulah yang membuat mereka senantiasa berpihak pada bangsa sendiri dan menyantuni rakyat. Sepanjang periode tahun 1910-an hingga tahun 1960-an, hanya pada mereka yang orientasi komunisnya lebih kuat atau yang paham Islamnya mengalami radikalisasi terjadi penipisan penyantunan pada nasion. Makin kental radikalisme ideologis seperti ini makin kental pula penafian terhadap simpul politik yang bernama nasion. Namun dapat dipastikan bahwa komunisme maupun Islamisme radikal yang menafikan nasion tidak pernah merupakan aliran politik dominan dalam sejarah politik bangsa kita. Yang dominan adalah kontinuum nasionalismeIslam-sosialisme. Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan dan pasca-proklamasi boleh dikata sepenuhnya bertumpu, tetapi sekaligus terperangkap dalam semangat dan bacaan zamannya, khususnya semangat dan bacaan revolusioner dalam tiga anti, yakni terhadap kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme beserta sejumlah derivasinya. Ketiga paham ini mereka persepsi sebagai biang dari pelanggaran keji dan sistemik terhadap universalitas harkat dan kesederajatan kemanusiaan. Itulah sebabnya, sosialisme, demokrasi sosial (social democracy), komunisme, termasuk nasionalisme, Islamisme, maupun varian-varian tradisionalisme (sejauh itu semua bersifat antipenindasan atas harkat dan kesederajatan kemanusiaan) begitu tersebar dalam pasar intelektual di negeri kita sejak dekade kedua abad ke-20. Dalam kacamata Hatta dan rekan-rekan seangkatannya, kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme senantiasa merampas hak-hak rakyat dan menginjak-injak harkat kemanusiaan. Meskipun mereka jarang mengeksplisitkannya dalam wacana, korupsi- yang juga terjadi di sanasini pada tahun 1950-an-dengan sendirinya tetap merupakan aib besar, sebab itu merampas hak-hak rakyat. Maka, bagi angkatan para pendiri republik kita, yang ideologis-politis berjalin tak terpisahkan dengan yang etis-terhormat secara sama sentralnya. Ketegaran integritas politik Hatta, Soekarno, Sjahrir, dan lain-lain mustahil dipahami secara utuh di luar konteks ini. Perjalinan antara yang ideologis politis dan yang etis-terhormat ini tampaknya menjadi aksiomatis terutama jika Angkatan '28 kita bandingkan dengan Angkatan '45, khususnya para penguasa Orde Baru yang boleh dikata masih terus berkiprah hingga saat ini di ketiga cabang pemerintahan kita. Pada yang akhir ini, kepapaan ideologis politis, kemalasan membaca dan dari situ kepandiran referensi tentang riwayat dan pikiran para pejuang besar telah membuat mereka menjadi orang-orang yang paling miskin dalam hal etika dan kehormatan. Political positioning mereka sama sekali tidak diterangi oleh intellectual positioning. Maka, jadilah para penguasa Orde Baru yang bisa memanjang hingga ke Kepresidenan Megawati Soekarnoputri saat ini orang-orang yang paling miskin integritas politik, paling tak peka membedakan ranah privat dari ranah publik, dan karena itu paling tak bermalu melahap uang rakyat (termasuk dana untuk yatim-piatu dan orang-orang telantar) seperti dalam pelbagai kasus yang melibatkan Soeharto sekeluarga-sekroni dan/atau yang misalnya "terbongkar" dalam kasus Buloggate II. Hampir semua kasus korupsi yang sudah mulai melanda para praktisi politik kita di tahun 1950an harus dihitung sebagai akibat tidak koterminusnya komitmen pada rakyat dan komitmen pada nasion. Begitu juga halnya dengan rangkaian pemberontakan atas nama komunisme dan Islam yang menikam nasion kita, termasuk pembantaian ratusan ribu warga sendiri di penghujung

tahun 1965 hingga awal-awal tahun 1966-salah satu dari sedikit kebiadaban praktik politik yang sekaligus draconian dan gargantuan dalam sejarah umat manusia. Momen teramat kelam dalam sejarah republik kita mustahil dipahami secara terlepas dari "jorjoran Nasakom"-dari mobilisasi dan antagonisasi dalam rangka konsistensi ideologis. Kurang lebih satu dekade setelah pembantaian besar-besaran pada nasion Indonesia yang dilakukan oleh Rezim Soeharto dengan dukungan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Inggris ini berlangsunglah perampokan uang rakyat yang sama draconian dan gargantuan-nya. Keluar dari perangkap mulut buaya, bangsa kita masuk ke dalam perangkap mulut singa. Bertumpuknya dua hal terburuk dalam sejarah politik umat manusia pada rezim Soeharto tak lain adalah lantaran para penguasa rezim ini tidak memiliki komitmen ideologis sama sekali. Jika Angkatan '28 tertolong sedikit oleh ideologi-ideologi nasionalisme, sosialisme, dan komunisme, yang membuat mereka sedikit banyaknya memiliki integritas kerakyatan, Angkatan '45 dalam versi Orde Baru sama sekali tidak tertolong. Terlepas dari onggokan slogan kejuangan (yang distorsinya sampai pada pendewaan serta pembenaran kebiadaban Gadjah Mada), mereka harus dinilai sebagai angkatan tanpa integritas kerakyatan dan integritas nasion sekaligus. Itulah sebabnya unsur-unsur Orde Baru yang hingga kini masih terus mengangkangi republik kita tetap saja meneruskan praktik dan kebijakan suprakebiadaban dan supra-korupsinya. Dari seluruh pengalaman amat getir di atas, suatu pelajaran politik dapat ditarik. Pelajaran ini terdiri atas beberapa butir yang saling berjalin. Pertama, pemahaman para pendiri republik kita tentang demokrasi, terutama pada Soekarno sendiri, sangat miskin. Ini banyak bersumber dari sikap apriorinya sedari awal, yang lantas abai membaca prinsip-prinsip, teknik-teknik, dan kebajikan-kebajikan demokrasi. Memang ada tuntutan bahwa mereka perlu mengembangkan sistem demokrasinya sendiri, tetapi karena pemahaman awalnya sudah keliru, mereka pun tak mampu dan/atau tak berhasil menemukannya. Kedua, para pendiri republik kita tidak memahami, seperti mayoritas bangsa kita dan bangsabangsa lain di dunia pun masih (termasuk para ilmuwan nasionalisme di Barat), bahwa demokrasi bertolak dari nasion, bukan nasionalisme, dan bahwa ada kaitan simbiosis antara nasion dan demokrasi. Kita tahu bahwa Soekarno menafikan demokrasi, yang selalu dianggapnya sebagai kiat politik banyak cacat dari Barat. Kita juga tahu bahwa nasionlah yang hendak ia bela baik ketika ia menganjurkan-seiring dengan Hatta-niscayanya "demokrasi ekonomi," maupun ketika ia menafikan niscayanya keabsahan prosedural dalam demokrasi dengan mengangkat para anggota DPR GR dan MPRS tanpa pemilihan umum di awal Demokrasi Terpimpin. Akibatnya, alih-alih membina nasion dan melakukan pemerataan sumber daya ekonomi, ia justru membuka pintu lebar-lebar bagi rezim berikutnya untuk menginjak-injak nasion dan melancarkan multiplikasi kesenjangan antarsektor ekonomi dalam masyarakat Indonesia secara yang sulit dicari tandingannya di dunia. Ketiga, terperangkap dalam kurun pertandingan ideologi, pada tangga-tangga kemajuan atau modernitas (berideologi, memperdalam ideologi, dan memantapkan konsistensi ideologis) para pendiri republik kita umumnya tak mampu menangkap kebajikan demokrasi. Kebajikan dari sistem pemerintahan demokrasi tampil dalam bentuk ditundanya setiap upaya untuk melakukan ultimasi atau finalisasi atas kebenaran, apalagi kebenaran ideologis, kebenaran dalam huruf besar, lewat prinsip pergiliran (turn-taking) dan prinsip saling kontrol saling imbang (checks and balances) dalam pemerintahan. Ia juga tampil dalam bentuk disantuninya secara sama penuhnya keabsahan esensial dan keabsahan prosedural.

Pengaruh Orde Baru Kita kerap mempersalahkan Soekarno sebagai sumber utama dari rangkaian roller coaster krisis politik pada bangsa kita, khususnya karena "konsepsi" Demokrasi Terpimpinnya. Dan, kita cenderung untuk langsung merasa wajar saja jika kita kian melihat pancaran cahaya dari sosok dan perilaku politik seorang Hatta. Tetapi, dalam retrospeksi, dan dari penempatan masalah seperti di atas, kita dapat berkata bahwa krisis politik yang terus mendera bangsa kita sedari penyerahan kedaulatan di akhir 1949 hingga di pengujung Rezim Soeharto sudah memiliki alur logisnya. Pada titik ini, kita mau tak mau harus menyinggung ketiga serangkai dari apa yang disebut Michel Foucault episteme, synchrony, dan discontinuity. Episte atau posisi kognisi politik dari para pendiri republik kita maupun sinkroni atau bulatan dunia politik mereka benar-benar lahir dari kontradiksi-kontradiksi politik internasional, khususnya antara negara-negara Eropa Barat yang sedang mengalami revolusi industri berhadapan dengan bangsa-bangsa koloni, termasuk bangsa kita. Epistem atau sinkroni itulah yang melahirkan apa yang disebut Hobsbawm, a worldwide zone of revolution. Jadinya hampir seluruh alam kesadaran politik yang menjadi sumber aksi politik para pendiri republik terpenjara para realitas yang memang sangat getir itu-realitas getir yang milenial dan apokaliptik sekaligus. Realitas getir demikianlah yang melahirkan Marx dan Lenin, yang selanjutnya melahirkan Mao, Ho Chi Minh, Nehru, Nasser, Nkrumah, Soekarno, Castro, dan Che Guevara. Praktis seluruh visi dan kognisi politik kelompok tokoh dunia ini tersita ke situ dan terpenjara di situ.

Karakter mulia Jika Hatta gagal menangkap dan menjabarkan demokrasi dalam wacana rasionalitas politik, dia berhasil mengatasinya secara intuitif dan dengan karakternya yang luhur. Tidaklah berlebihan kalau Nurcholish Madjid menyebutnya "seorang sufi." Seperti beberapa rekan seperjuangannya, sulit untuk tidak memasukkan Hatta pada jajaran para pendiri dan penegak Republik Amerika Serikat, yang disebut oleh Tocqueville sebagai the best minds dan the noblest characters. Pada kerelaannya mengalahkan kepentingan dari aliran Islam politik besar dengan menggugurkan "tujuh kata" dari Piagam Jakarta, ia telah mengamalkan salah satu diktum pokok demokrasi, yakni penundaan kebenaran-kebenaran final. Pada penolakannya terhadap pemberontakan PRRI-Permesta, dia telah mengamalkan diktum lainnya, yaitu no resort to violence serta kesabaran untuk senantiasa melakukan musyawarah. Dan, pada pengunduran dirinya sebagai Wakil Presiden ketika sudah jelas ia tak mungkin bekerja sama lagi dengan Soekarno, ia mengamalkan diktum lainnya lagi, yaitu turn-taking in democracy, kesediaan untuk memberi Soekarno kesempatan kendati ia secara gamblang melihat kekeliruan di situ. Atas niat baik berlandaskan praktik demokrasi itulah ia tak henti-henti memberikan saran-saran positifnya kepada pemerintah. Di tengah-tengah berlanjutnya kebangkrutan multidimensi yang hingga kini ujungnya belum kelihatan; di tengah-tengah kepailitan moralitas dari mereka yang kini menguasai panggung politik kita, yang merasa hebat dan benar-benar tak bermalu memamerkan gemerlap harta kekayaan yang kita semua mengetahuinya berasal dari hasil korupsi atas dana publik lewat pelbagai muslihat yang zalim (yang buruk busuknya mudah-mudahan akan menyembur sebagai porsi mereka di akhirat); di tengah-tengah komat-kamit dan mondar-mandirnya para penguasa memamerkan ayat-ayat suci selagi di pundaknya terus terseret berkarung-karung hak-hak anak yatim dan orang miskin; di tengah-tengah lembaga peradilan yang atas dasar sumpah

jabatannya telah melecehkan rakyat dan Yang Maha Kuasa sekaligus; di tengah-tengah itu semua sosok Hatta semakin bersinar. Mohammad Hatta telah membuktikan secara gamblang bahwa iman, roh agama, roh religiositas bisa menatahkan permata yang terindah bagi suatu demokrasi, bagi suatu nasion. Maka, jika pada pelbagai kesempatan saya mengikuti Hatta, selalu menganjurkan dipisahkannya agama dari negara, di sini saya ingin, juga mengikuti Hatta, menekankan relevansi iman, relevansi karakter yang luhur, relevansi roh agama, relevansi yang transendental dan yang mustahil dikenai akuntabilitas indrawi dalam politik. Mochtar Pabottingi Peneliti senior LIPI

Bung Hatta: Kepala Keluarga, Pemimpin Rumah Tangga
* Meutia Farida Hatta Swasono "KESAN apa yang Anda miliki tentang Bung Hatta, ayah Anda? Pesan-pesan apa yang beliau berikan kepada Anda?" Dua pertanyaan itu amat sering ditanyakan kepada saya hampir tiap tahun oleh insan pers, menjelang peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, karena hanya pada saat itulah, di sepanjang tahun, nama Mohammad Hatta sering disebut-sebut orang. Sekaligus tampak di sini bahwa insan pers masa kini pun, yang umumnya masih berusia muda, tidak banyak tahu tentang proklamator kemerdekaan Indonesia sehingga hanya mengajukan pertanyaan yang umum dan senada saja sebagai materi wawancara. Namun, saya maklum, publikasi tentang dan oleh Bung Hatta memang amat langka diperoleh sejak sekitar tiga dasawarsa terakhir. Sejumlah orang muda yang belum lahir atau masih kecil ketika Bung Hatta wafat mengatakan kepada saya bahwa yang mereka dengar, Bung Hatta itu pendiam, kaku, tidak mudah dipahami, tidak humoris, dan kutu buku. Lalu bagaimana saya melihat ayah saya, Bung Hatta dalam posisinya sebagai kepala keluarga kami? Memang betul, Bung Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun, mungkin yang lebih tepat adalah, ia hemat bicara, yang selalu memilih kata-kata yang singkat, tetapi padat isinya jika berbicara. Hanya orang-orang yang sempat mengenalnya secara akrab saja yang bisa mengatakan bahwa Bung Hatta sebetulnya bukan orang yang pendiam dan kaku. Sebagai anak, saya melihatnya sebagai ayah yang berwibawa tetapi penuh kasih sayang. Kewibawaan Ayah terasa khas, munculnya tidak dibuat-buat, yang sekadar untuk menunjukkan otoritas seorang ayah kepada anaknya. Sebaliknya, kewibawaan memang sudah terbentuk dalam dirinya. Jika kini istilah inner beauty makin sering terdengar, saya dan kedua adik saya, Gemala dan Halida, dari kecil telah merasakan kewibawaan yang memancar dari dalam diri ayah kami secara alamiah. Menurut saya, sifat semacam ini merupakan anugerah khusus dari Tuhan karena tidak banyak orang yang memilikinya. Karena kewibawaannya itu, kami bertiga selalu merasa hormat kepada beliau, tidak berani memeluk Ayah semaunya, meskipun suasana hati tetap akrab dan penuh kasih sayang. Curahan rasa kasih sayang pun terasa unik karena Ayah bukan orang yang suka memuji, membelai, atau menyanjung kami berkepanjangan, apalagi bercanda ria seperti kebanyakan ayah masa kini terhadap anak-anaknya. Sebaliknya, kami merasakan kasih sayang itu melalui

tutur katanya yang lembut jika berbicara kepada kami, bahkan sejak kami masih kanak-kanak. Ayah tidak pernah menyapa kami dengan sebutan "kamu", melainkan dengan nama. Misalnya, "Meutia sudah membaca tulisan ini?" Atau, "Gemala, di mana Gemala letakkan buku tadi?" Bahasa Indonesia yang digunakan adalah Bahasa Indonesia standar, tanpa kata-kata enggak, dong, deh, gitu, atau semacamnya. Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa Indonesia kami bertiga di sekolah selalu 8 atau 9 karena kami terbiasa mendengar Ayah menggunakan Bahasa Indonesia standar. Maka kalau sekali-sekali terdengar ucapan "dong" mewarnai ucapannya, itu pasti karena bergurau, dan kami semua tertawa karena tidak sari-sarinya beliau menggunakan kata seperti itu. Dalam rumah tangga, kami hidup dalam Indonesia kecil. Ayah orang Minangkabau. Ibu lahir dari ayah yang Jawa dan ibu yang Aceh. Sekretaris pribadi Bung Hatta, Pak Wangsa orang Sunda yang Islam dan Oom Hutabarat adalah orang Batak yang Kristen. Dulu, pustakawan Ayah orang Ambon yang Kristen. Di "barisan belakang", sopir orang Betawi, sedangkan para pembantu orang Jawa dan Sunda. Bung Hatta juga pernah mempunyai "anak angkat" dari Aceh bernama Banta Sidi, dari Sangir Talaud bernama Gemma Kansil-Pontoh, dan dari Bandaneira bernama Des Alwi. Kami tidak membedakan mereka atas dasar suku bangsa atau agama karena dasar hubungan kami adalah hubungan antarpersonal, lepas dari atribut agama dan suku bangsa. Sejak mudanya, Bung Hatta berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan untuk kemajuan Tanah Air dan bangsanya. Karena perjuangan kemerdekaan itu pula, Bung Hatta bersumpah takkan menikah sebelum Indonesia merdeka sehingga baru pada usia 43 tahun, tepatnya pada tanggal 18 November 1945, beliau menikah. Itu pun karena dijodohkan oleh Bung Karno dengan Rahmi Rachim (ibu saya), yang saat itu berusia 19 tahun, putri sulung Bapak dan Ibu Abdul Rachim, teman baik Bung Karno. Bung Karno mengenal ibu saya sejak ia masih menjadi gadis kecil. Ibu juga merupakan pribadi unik. Pertama kali Ibu muncul di masyarakat sebagai istri Ayah sehingga identitas dan citranya terkait dengan nama besar Bung Hatta. Namun, melalui pengalaman hidupnya hingga akhir hayatnya, Ibu telah membuktikan bahwa beliau bukan sekadar pendamping Ayah, melainkan Ibu Rahmi Hatta yang mempunyai nama dan tempatnya sendiri di hati orang Indonesia. Segala nuansa pengalaman hidupnya telah membentuknya untuk menjadi figur tersendiri dalam periode sejarah Indonesia yang memunculkan nama dan peranan Hatta. Salah satu bentuk keteguhan prinsip Ibu adalah tidak menghalangi Ayah, yang demi prinsipnya, mundur dari jabatan Wakil Presiden, yang amat dihormati orang pula. Ibu tegar menghadapi kehidupan yang sulit dengan pensiun Ayah yang kecil, padahal usianya baru 30 tahun. Umumnya istri-istri pejabat, pada usia sekian, enggan suaminya meletakkan jabatan dan meninggalkan fasilitas dan penghormatan formal dari orang banyak, apalagi berhentinya bukan karena dipecat! Ibu tetap tegar waktu disuatu periode yang cukup lama, sebagian dari para pejabat dan handaitaulan "takut" bertemu Ayah, khawatir dicap "berseberangan" dengan Bung Karno jika mereka kelihatan dekat dengan Bung Hatta. Ibu adalah istri yang mampu menjaga citra, harkat, dan martabat suami dengan mengasah pengetahuan dan gaya hidupnya hingga mencapai taraf yang canggih. Setelah Ayah wafat, Ibu tetap menjadi tiang keluarga dalam menjaga hati nurani, prinsip, dan martabat Bung Hatta. Membandingkan kehidupan kami dengan keluarga pejabat lain yang berlimpahan dengan kemewahan, Ibu hanya berkata, "Kita sudah cukup hidup begini, yang kita miliki hanya nama baik, itu yang harus kita jaga terus." Mengapa Ibu dapat menjadi seperti itu, tak lain karena kewibawaan Ayah yang diselubungi kasih sayang, yang membuat Ibu, sepeninggal Ayah, sampai akhir hayatnya dapat terus-menerus membimbing kami agar tetap berada dalam jalur prinsip hidup Ayah.

Disiplin memenuhi jadwal rutin, seperti makan siang dan makan malam, tidak menjadikan beban karena acara itu selalu diisi dengan kegiatan yang bermutu. Makan bersama terasa menyenangkan karena selain bisa berkumpul, kami biasa membicarakan berbagai macam persoalan, dari teman, pelajaran sekolah, hingga berita koran dan TV tentang keadaan Ibu Kota atau negara saat itu. Namun, kadang-kadang Ayah tak mendengarkan kami bila topik beralih kepada urusan baju, aksesori atau urusan wanita lainnya. Beliau sibuk dengan pikirannya sendiri sambil makan. Sementara kami makan siang atau makan malam, kucing-kucing peliharaan kami sudah duduk dengan rapi dan diam di samping kursi makan Ayah. Begitu selesai makan, Ayah mempersiapkan piring-piring kecil untuk diisi nasi dan daging giling bagi si kucing-kucing. Begitu Ayah bangkit dari kursi makannya, larilah mereka ke dekat meja telepon karena di situlah Ayah menaruh piring-piring makan bagi kucing-kucingnya. Kata Gemala, "Di rumah kita, kucing-kucing pun ikut disiplin." Kami juga dibiasakan terlibat dalam pergaulan orangtua kami dan sejak kecil terbiasa untuk menjadi tuan-rumah kecil dalam acara-acara open-house di rumah, saat Idul Fitri atau ulang tahun Ayah dan Ibu. Ini telah berlangsung sejak kami masing-masing masih kecil. Kami juga terbiasa mengantar tamu pulang hingga di pintu depan, ketika mereka masuk mobil. Karena itu saya bersyukur bahwa jika membaca nama-nama pelaku sejarah di buku-buku sejarah, saya bukan saja pernah mengenal mereka, melainkan juga mampu mengenang mereka sebagai teman Ayah dan Ibu, lengkap dengan ingatan mengenai gaya bicara mereka, atau pengalaman khusus tertentu. Karena itu pula maka lama setelah Ayah meninggal pun, kami masih tetap bisa menjalin silaturahmi dengan teman-teman beliau. Di kala orangtua, kakeknenek, paman dan bibi kami sendiri sudah meninggal, kami masih memiliki mereka sebagai sesepuh yang dihormati dan menjadi tempat bertanya. Setelah mundur Perjalanan hidup saya sebagai anak sulung Bung Hatta terasa kaya nuansa. Di waktu kecil, saya melihat ayah saya sebagai Bung Hatta, Wakil Presiden yang dicintai rakyat. Saya melihat sendiri, waktu turne ke daerah, rakyat datang berbondong-bondong menyambut dengan bendera kecil merah-putih di tangan. Mereka menyalaminya dengan hangat. Kabarnya, ada yang selama seminggu tidak mencuci tangannya setelah bersalaman dengan Ayah. Mungkin itu dibesarbesarkan, namun di beberapa tempat di negara kita, kebiasaan semacam itu ternyata memang ada. Yang jelas, rakyat secara tulus menyalaminya karena merasa dekat dengan pemimpinnya. Dari anak Wakil Presiden menjadi anak orang biasa, saya juga mengalami perubahan sikap teman-teman saat masih di kelas IV SD. Pada suatu hari, teman dekat saya mengatakan, "Tahun depan ayah kamu tidak jadi Wakil Presiden lagi." Saya tidak begitu menanggapinya. Entah ada kaitannya atau tidak, saya tidak tahu, namun teman yang sama, ketika Ayah sudah bukan Wapres lagi, menghimpun hampir satu kelas untuk "musuhan" dengan saya. Mungkin hal itu diawali oleh suatu pertengkaran antara dia dan saya, yang saya telah lupa alasannya. Maka, selama lebih dari dua bulan saya benar-benar dikucilkan, kecuali oleh teman sebangku saya dan sebagian anak laki-laki yang duduk dekat bangku saya di kelas. Karena itu Ibu merasa perlu meminta kepada Kepala Sekolah agar saya dipindahkan ke kelas IVB, di mana saya memperoleh teman-teman baru yang menerima saya di kelas dengan hati tulus. Di kelas baru saya bisa membangun persahabatan dengan tiga teman. Kami bahkan berjanji, kalau kelak sudah menikah, kami harus mempunyai satu rumah besar yang dibagi empat, masing-masing hidup dengan anak dan suami, agar tetap dekat sampai tua. Tim kami ini diberi nama "Sufamea", kependekan dari Sutanti, Farini, Meutia, dan Aida.

Kecilnya gaji pensiun bekas Wakil Presiden yang mengharuskan kami hidup hemat, menyebabkan saya di kelas VI SD hanya mempunyai tiga baju sekolah, masing-masing dipakai dua kali seminggu. Maka ketika saya mempunyai baju baru, sopir saya yang menjemput di sekolah kaget karena tiba-tiba saya sudah membuka pintu mobil. Katanya, "Eeeh, bajunya lain sih, jadi Pak Dali kira masih di kelas." Sebagai anak sulung saya biasa mengalah dalam fasilitas. Saat kuliah di Rawamangun, saya pulang-pergi naik bus. Mobil hanya dipakai mengantar adikadik ke sekolah di Lapangan Banteng. Waktu SD saya bisa dijemput dengan mobil karena Gemala bersekolah di tempat yang sama, sedangkan Halida yang masih balita belum bersekolah. Namun, saya juga mengalami pengalaman khusus yang saya syukuri, yaitu dapat bertemu dengan Ketua Mao Zedong, PM Chou En Lai, dan para pejabat tinggi terkemuka lainnya di RRC, ketika saya mengikuti kunjungan Ayah dan Ibu ke RRC selama 10 hari, pada bulan Oktober 1957. Bung Hatta tidak cocok dengan PKI dan paham komunis, namun karena integritasnya, beliau disambut di Bandara Beijing oleh PM Chou sebagaimana layaknya kepala negara. Ratusan atau barangkali seribuan orang RRC menyambut di bandara yang luas itu dalam upacara yang megah. Demikian seterusnya sampai pelepasan di bandara ketika kami meneruskan perjalanan ke Tokyo, juga atas undangan resmi Pemerintah Jepang. Penyambutan Bung Hatta yang tidak jauh dari penyambutan kepala negara, termasuk undangan bagi rombongan kami menghadiri upacara kenegaraan 1 Oktober di Tien An Men, memberikan kenangan tersendiri hingga saat ini. Hadiah sebuah buku perangko yang penuh berisi perangkoperangko RRC dari PM Chou En Lai telah mendorong minat saya sebagai kolektor perangko hingga hari ini. Undangan bagi Ayah ke Eropa dari pemerintah yang bersangkutan biasanya termasuk pendamping. Karena itu Ibu dan salah satu anak, Pak Wangsa (atau juga Oom Hutabarat), dapat ikut. Di sana kami tidak sekadar melancong, tetapi belajar banyak, melihat banyak museum, istana kuno, masjid atau gereja terkemuka, serta sejumlah pertunjukan konser musik klasik, opera, dan play (sandiwara), dan ... toko buku. Semua ini telah memperkaya pengetahuan kami tentang seni budaya Eropa yang bernilai tinggi. Begitu pula waktu ke New York, AS. Sebagai anak sulung, saya diberi Ibu tugas "berat" untuk mendampingi Ayah ketika beliau di tahun 1968 menjadi Senior Fellow di East-West Center, di Honolulu, Hawaii selama 6 bulan. Saya ikut Ayah, yang berarti sekaligus menjadi pengurus rumah, harus masak, mencuci, setrika, menyapu, dan mengepel. Saya sudah kuliah di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI. Di masa itu belum ada sistem SKS, sehingga saya diizinkan absen kuliah, asalkan membuat sejumlah makalah yang ditugaskan dosen-dosen saya di UI pada semester itu. Saya pun ikut "kursus" kilat masak pada Mbah Surip, koki kami yang sudah ikut Ibu sejak saya berusia 6 bulan dan sering menyebut saya putune mbah (cucu saya/Mbah Surip). Ia biasa memanjakan saya, maka dilarangnya saya mempraktikkan masak. "Cukup lihat saja, nanti tangannya kotor," begitu katanya, seperti biasanya sejak saya masih kecil. Akibatnya, pada hari pertama di apartemen kami di Honolulu, di hadapan kompor gas mutakhir saat itu, lengkap dengan penggorengan, botol minyak goreng, sodet, dua butir telur, tahu, dan sayuran yang sudah saya potong-potong sesuai petunjuk dalam "catatan kuliah masak" Mbah Surip yang sudah saya siapkan, saya tercenung karena bingung, saya harus mulai dari mana? Ayah menangkap kebingungan saya dan segera mengambil sodet dari tangan saya. Mulailah beliau memasak, diawali dengan membuat telur mata sapi goreng hingga tumis sayuran. Saya heran, kapan terakhir Ayah memasak? Memang Ayah lama membujang, tetapi sudah selama itu, kok masih bisa? Sementara itu, saya sendiri yang perempuan, sudah berusia 21 tahun saat itu, masih sedemikian bodohnya.

Peristiwa ini takkan terlupakan seumur hidup, namun telah pula menjadi cambuk bagi saya untuk bisa melakukan pekerjaan rumah tangga selama berada di Honolulu. Ayah juga tak pernah menegur keras kalau saya lalai atau "bekerja berantakan". Paling jauh beliau mengatakan, "Wah, bersih ya rumah hari ini," atau "Harum ya bau ruangan ini" (tandanya lantai sudah bersih setelah beberapa hari absen mengepel karena sibuk membuat makalah di perpustakaan universitas). Persahabatan saya dengan para mahasiswa Indonesia yang belajar di University of Hawaii menyebabkan saya belajar macam-macam masakan dari Mbak Aida Idris, dan suka diajak jalanjalan oleh rombongan mahasiswa Indonesia ke Chinatown untuk mencari cabai di toko makanan Korea. Waktu itu cabai sulit dijumpai di supermarket Amerika. Suatu hari kami undang mereka makan malam di rumah, Mbak Aida dan saya yang memasak. Tentu saya cuma menjadi asisten, karena Mbak Aida amat mahir memasak. Pada akhir makan malam, saya bertanya, "Mau minum teh atau kopi?" dan mereka pun menentukan pilihannya. Dua dari mereka, Mas Does Sampoerno dan Mas Kuswata Kartawinata (kini keduanya telah menjadi gurubesar), terlonjak kaget dari tempat duduknya karena Bung Hatta sendiri yang membuatkan kopi dan mengantarnya kepada mereka. Rupanya perjanjian antara Ayah dan saya bahwa Ayah yang membuat kopi (untuk dirinya sendiri), dan saya membuat teh (untuk saya sendiri) tetap berlaku pada jamuan makan itu, walaupun malam itu Mbak Aida dan saya yang memasak. Kami berdua tertawa-tawa melihat kedua kawan yang terperangah karena dibuatkan kopi oleh Bung Hatta. Dari pengalaman ini saya melihat bahwa Ayah tidak menuntut penghormatan. Sebaliknya, dengan menghormati orang lain, termasuk yang jauh lebih muda daripadanya, Ayah memperoleh penghargaan dan penghormatan dari mereka yang merasa dihormati olehnya. Secara keseluruhan, berada di Hawaii dengan Ayah menyebabkan saya belajar banyak, dari ilmu sampai belajar hidup mandiri tanpa ditolong pembantu, dan belajar menjadi seseorang yang menghargai orang lain. Apa adanya Hidup dalam aneka pengalaman yang telah saya jalani menyebabkan saya tidak canggung menghadapi bermacam-macam lingkungan yang kontras satu sama lain. Hari ini hadir dalam upacara perkawinan gemerlapan yang dihadiri Presiden Soeharto, tiga hari kemudian berada di tengah masyarakat miskin waktu penelitian. Amat sering saya bertemu orang tanpa mereka tahu siapa Ayah saya. Dengan begitu, saya beruntung karena orang melihat saya sebagaimana adanya. Jika mereka menyukai saya, itu adalah karena memang saya dinilai baik oleh mereka, bukan karena saya anak Bung Hatta. Kalau mereka tak menyukai saya, bukan karena mereka tak menyukai ayah saya, melainkan karena persoalan antara mereka dengan saya sendiri. Apakah dengan cara pendidikan yang kami terima, lalu kami berkualitas lebih dari orang lain? Tidak juga! Ayah dan Ibu mengajarkan prinsip hidup dan aturan, namun masing-masing individulah yang harus menerapkannya pada dirinya dan keluarganya kelak, sementara masingmasing pribadi mempunyai sifat, pembawaan, dan kemampuan yang berbeda. Dalam praktik juga tidak mudah. Zaman berubah, formula baru dalam membina keluarga diperlukan. Waktu saya mau menikah, nasihatnya cuma satu, "Dalam perkawinan harus ada toleransi". Saya melihat bahwa nasihat ini sangat bemanfaat. Namun, kami bertiga harus mencari sendiri formula mendidik anak tunggal karena kami masing-masing hanya mempunyai satu anak. Itu tak dialami Ayah dan Ibu. Belum lagi tantangan masa kini yang dulu juga tidak mereka alami waktu mendidik kami. Namun, tata cara sopan santun dan prinsip dasar untuk hidup dalam masyarakat dan membantu masyarakat, tetap kami ajarkan kepada anak-anak kami.

Ada pertanyaan yang sering pula diajukan kepada saya, "apakah saya terbebani menjadi anak Bung Hatta?" Kalau menyangkut artibut, saya tidak merasakannya karena saya sering pergi ke mana saja tanpa orang tahu, saya anak siapa. Yang penting, bersikap dan berperilaku baik. Namun, saya memang merasa "terbebani" karena merasa bahwa sebagai pendidik dan antropolog, saya belum bisa memberikan kontribusi yang cukup untuk membuat masyarakat kita hidup cerdas, sesuai cita-cita Bung Hatta. Bukan cerdas otaknya, tetapi cerdas hidupnya, artinya tahu harkat dan martabatnya, tidak rendah diri dan berkarakter kuat. Begitu banyak masyarakat kita, kaya maupun miskin, yang kini masih belum cerdas hidupnya. Mereka belum tanggap lingkungan, hidup tanpa disiplin diri, dan tidak taat aturan di berbagai lingkungan kehidupan, sebagian lagi berbuat jahat atau kejam karena alasan sepele. Banyak yang kaya raya tetapi belum bisa menyesuaikan perilakunya dengan peralatan canggih yang mereka bisa beli, bahkan menjadi sombong dan egoistis. Sebagian lagi pandai tetapi mudah didikte orang asing karena karakternya lemah. Akibatnya, negara pun ikut amburadul diisi oleh orang-orang yang tidak cerdas hidupnya, apalagi jika mereka sempat menjadi penguasa. Mendisiplinkan diri sendiri, sebelum mendisiplinkan orang lain, jauh dari nilai-nilai yang mereka anut. Apalagi mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi sebagai penguasa. Mengenai hal itu, saya sering berpikir, berapa banyakkah keluarga-keluarga Indonesia yang mempunyai kepala keluarga dan pemimpin rumah tangga seperti yang saya pernah miliki? Dr Meutia farida Hatta Swasono Putri sulung Bung Hatta

Demokrasi dan Nasionalisme Hatta

Antara Menang dan Kerbau
Indra J Piliang MOHAMMAD HATTA tanggal 11 Juni 1957 menegaskan, "Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosialnya.... Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib." (Deliar Noer, Mohammad Hatta: Biografi Politik, LPE3S, Jakarta, 1990, halaman 504-505. Bandingkan, Mohammad Hatta, Bung Hatta Berpidato Bung Hatta Menulis, Penerbit Mutiara, Jakarta, 1979, halaman 73-93) Barangkali, dari beragam sumbangan pemikiran, perilaku, tindakan, dan capaian kehidupan Hatta, yang terus akan berkembang dan bermasalah menyangkut demokrasi dan nasionalisme di Indonesia. Rujukan Hatta tentang demokrasi juga beragam, mulai dari alam pikiran Yunani, sampai alam pedesaan Indonesia. Atas dasar demokrasi dan nasionalisme, Perhimpunan Indonesia (PI) menerbitkan buletin paling terkenal di Belanda, Indonesia Merdeka, yang

menyebabkan Hatta dan kawan-kawan diadili yang, uniknya, justru tak dibela kalangan komunis Belanda yang getol berbicara tentang kolonialisme (MR JEW Duijs, Membela Mahasiswa Indonesia Di Depan Pengadilan Belanda, PT Gunung Agung, Jakarta, 1985, halaman 3), sebagaimana dukungan yang diterima oleh Ibrahim Tan Malaka ketika ditangkap dan dibuang ke Belanda, lalu menetap di Moskwa, Uni Soviet. (Harry A Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik (I), PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1988, halaman 263) Di bidang ekonomi, Hatta tak lupa mencantumkan demokrasi ekonomi, lalu menemukan bentuk ideal koperasi berdasarkan ritual perjalanannya di negara-negara Skandinavia dan akarnya dalam masyarakat desa. Begitupun dalam sosialisme, ia tak lupa mencantumkan sosialisme demokrasi. Tanpa demokrasi, sosialisme akan kehilangan arah, dukungan, dan tujuan. Dari keseluruhan bangunan pikiran itu, Hatta dengan tegas menyebutkan agama yang ia anut, Islam, sebagai fundamen. Ia menjadikan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai roh atau landasan tauhid sila-sila berikutnya. Ini juga sesuai dengan falsafah utama alam Minangkabau, adat basandi syara' (agama, syariat), dan syara' basandi Kitabullah (Al Quran). Demi penghormatan atas demokrasi, Hatta mundur dari pemerintahan, mengubah dwitunggal menjadi dwitanggal, di alam kemerdekaan. Sekalipun para pendukungnya meradang, lalu meletuskan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berbasis di kampung kelahirannya, yang didominasi oleh panglima militer di Sumatera dan Sulawesi, juga Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Masyumi, Hatta menolak bergabung. Sebaliknya, ia mengecam kekerasan militer dalam memadamkan pembangkangan itu.

Hatta menulis risalah kecil bernama "Demokrasi Kita" (DK). "Apa yang terjadi sekarang ialah krisis daripada demokrasi. Atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya, lupa syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki, (yang) lambat laun digantikan oleh diktator. Ini adalah hukum besi dari sejarah dunia! (Sri Edi Swasono dan Fauzie Ridjal (penyunting), Mohammad Hatta: Beberapa Pokok Pikiran, UI Press, Jakarta, 1992, halaman 112) Ketika Hatta mengecam Bung Karno yang tidak mendorong proses demokratisasi, ia tidak mengalami tindakan fisik, berupa penahanan. Padahal, Sutan Sjahrir, Muhammad Natsir, Ida Anak Agung Gde Agung, dan tokoh Masyumi dan PSI lainnya masuk penjara. Soekarno hanya menyindir Hatta, berdasarkan bisikan orang-orang di sekelilingnya. Hatta juga tak memilih kawan bergaul, saking demokratis dan egaliternya. Ia "tersandung" dalam kasus Sawito yang sebetulnya kasus biasa, tetapi menjadi luar biasa ketika tokoh-tokoh seperti Hatta, Buya Hamka, Kardinal Justinus Darmojuwono, dan TB Simatupang ikut menandatangani dokumen yang dijadikan oleh Soeharto untuk menyatakan konspirasi politik penggulingannya. Padahal, usia Hatta sudah 74 tahun bahkan ia harus memakai kaca pembesar untuk membaca. (Tempo, 2 Oktober 1976) Sikap Hatta yang 'kurang teliti' itu mendapat perlakuan buruk. Ia dipaksa menandatangani konsep surat yang bukan ditulisnya sendiri, sehingga tidak menggambarkan kekhasan bahasanya. Ia "diinterogasi" oleh Jaksa Agung lewat surat tanggal 18 Desember 1976. Ia juga ditanya soal pemberian maaf untuk Soekarno. Hatta mengalami gangguan yang tak masuk akal, diusik, untuk sekadar pertaruhan politik di sekitar pembantu-pembantu Soeharto.

Hatta juga dikenal sebagai nasionalis sejati. Ia berjuang di Belanda dan daratan Eropa, bersama dengan pejuang-pejuang lain dari beragam garis ideologi dan negara di tengah bangkitnya kerja sama antikolonialisme di kalangan kaum pergerakan di berbagai belahan Dunia Ketiga. Ia amat percaya Indonesia pasti merdeka. Demi tujuan itu, Hatta rela untuk tidak menikah. Pepatah klasik adat Minangkabau, "Kawinilah ibumu sebelum kawin dengan orang lain!" hidup dalam dirinya. Mengawini ibu ini maksudnya adalah mencukupi kebutuhan ibu kandung, bahkan kalau bisa mencari uang agar ibu bisa pergi ke tanah suci, Mekah, Arab Saudi. Hatta menerapkannya dengan cara yang lain, tidak menikah sebelum Ibu Pertiwi merdeka. Parameter pencapaian kemerdekaan hakiki, langsung melekat dalam dirinya, sebagaimana ukuran lain dalam kedisiplinan, ketelitian, pendidikan, demokrasi, agama, dan kemajemukan. Hatta tidak hanya menulis dan berpidato, tetapi langsung memakainya. Hatta bisa disebut "buah pikiran yang berjalan". Ia hidup dari pikiran-pikirannya, dan pikiran-pikirannya hidup dari dia. Satu kombinasi yang kemudian secara tajam diterjemahkan oleh Nurcholis Madjid sebagai sufi dalam bidang agama Islam (Nurcholish Madjid, Bung Hatta: Dari Demokrasi Minangkabau ke Demokrasi Indonesia, pada Pidato Kebudayaan untuk Acara Peringatan 100 Tahun Bung Hatta, Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha Indonesia, Jakarta, 7 Juni 2002). Tepatnya, sikap zuhud terhadap dunia. Dari mana Hatta memperoleh seluruh esensi demokrasi dan nasionalisme itu? Kenapa nasib demokrasi dan nasionalisme meredup, atau menyimpang? Sebaiknya kita menyelam ke masa silam, menyangkut pergumulan Sumatera Barat (Sumbar) dalam awal abad ke-20, ketika kaki Gunung Merapi dan Singgalang dikuasai oleh bangsa kulit putih, sejak tahun 1837. Sumbar pada tahun-tahun itu menjadi muntahan lava berbagai bentuk pemikiran. Sekolah gabungan modern dengan tradisional sedang marak. (Taufik Ismail et.al., (ed), Manusia Dalam Kemelut Sejarah, LP3S, Jakarta, 1978, halaman 219-243) Kaum adat dan kaum agama menjadikan sekolah dan media massa sebagai arena perdebatan. (Khairul Jasmi, Surat Kabar Minang: Konfigurasi Pemikiran Menakjubkan, dalam majalah Pantau, Tahun II Nomor 022 - Februari 2002, Jakarta, halaman 56-59) Di Batavia, sastrawan-sastrawan Minang sedang riuh-rendahnya memikirkan, merenungkan, mengolok-olok, atau merumuskan kebudayaan modern. (Pamusuk Eneste, Leksikon Kesusasteraan Indonesia Modern, edisi baru, cetakan ke-3, Djambatan, Jakarta, 1990, halaman xii-xiv). Padang, Medan dan Jakarta adalah segitiga pertumbuhan pengetahuan dan kebudayaan dalam skala massif, dengan lingua franca Melayu yang egaliter. Sementara, Belanda sedang mengalami pendinginan arah invasi teritorial, setelah lelah menghadapi perjuangan rakyat Aceh yang baru berakhir tahun 1904. Dalam tingkat global, Jepang baru saja mengalahkan Rusia dalam perang tahun 1905. Kekalahan Rusia adalah awal kebangkitan Asia atas dominasi bangsa-bangsa kulit putih Eropa. Dunia Eropa-Amerika juga sedang bergejolak dengan Perang Dunia Pertama dan dilanjutkan dengan Perang Dunia Kedua. Nasionalisme dan demokrasi Hatta adalah tipikal manusia yang berjalan lurus. Satu pepatah Minang mungkin hidup dalam dirinya, sejauh-jauhnya terbang bangau, pasti kembali ke kubangan. Sekalipun terkenal sebagai orang yang berpendidikan Belanda dan modern, Hatta tak kehilangan jati dirinya. Ia hanya mengambil apa yang dianggap perlu dari pemikiran, struktur pemerintahan, sampai konsepsi demokrasi dan nasionalisme yang didapatkan dari pengembaraan di Eropa. Hampir keseluruhan rujukannya dapat dipulangkan ke Nagari asal, sekaligus kontra interpretasinya.

Dari Nagari, Hatta menemukan prototipe dari Indonesia, kebudayaannya, juga bentuk hubungan kekuasaan dalam bingkai demokrasi. Ketika bercerita tentang pasar di Bukittinggi, Hatta menulis, "Pasar dan pekan (pasar-Red) itu teratur baik". Bukan pemerintah setempat yang mengaturnya, melainkan Nagari menurut tradisi. Waktu politik mulai masuk ke daerah Minangkabau sering terdengar perkataan orang di pasar Bukittinggi dengan menunjuk ke rumah Asisten Residen yang tidak jauh dari situ: 'Beliau itu di situ berkuasa, memerintah seluruh Agam, tetapi di sini kita yang kuasa. Ini anak negeri yang punya. Di sini masih berlaku Plakat Panjang, yang sudah dirobekrobek oleh Belanda." (Mohammad Hatta, Memoir, Tintamas, Jakarta, 1979, halaman 4).

Hatta termasuk salah satu pemikir besar Indonesia yang tak memutuskan mata rantai atau talitemali budaya dari daerah asalnya, termasuk dari dunia pertamanya. Ia tak mengalami sindroma budaya, sebagaimana digambarkan dalam novel Salah Asuhan. Hatta juga bercerita tentang linglungnya orang-orang Indo yang sekapal dengannya ketika sampai di Pelabuhan Rotterdam (Mohammad Hatta, op.cit., halaman 104). Tetapi ia juga tak terjebak dengan simbol-simbol adat, sebagaimana juga tidak dalam posisi anti-asing secara kurang proporsional. Dalam berpakaian, Hatta malah lebih dikenal dengan pakaian resmi, dan tidak pernah menggunakan pakaian adat. Istri Hatta bahkan menggunakan kebaya dan tidak menggunakan kerudung yang tertutup ketika menikah tanggal 18 November 1945, sebagai tanda ia bukanlah orang yang terjebak dengan simbol-simbol agama. Hatta tak punya dan tak memakai gelar Datuk (penghulu). Ia mengaku lupa nama suku ibunya, padahal suku penting bagi orang Minang, mungkin juga sebagai penghormatan kepada ayah tirinya Mas Agus Haji Ning yang merupakan keturunan ketujuh dari Pangeran Sidang Bajak, atau bisa jadi sebagai kritikan atas adat istiadat yang tak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Keadaan ini sangat berbeda dengan Orde Baru, ketika Minang mengalami Golkarisasi dan feodalisasi, yang terlihat dari penggunaan gelar Datuk oleh hampir seluruh pejabat di Minang, bahkan juga turut dilekatkan kepada pejabat di luar Minang. Dalam demokrasi, Hatta malah pernah berpolemik tajam dengan seorang penulis yang menyebut nama "Si Rakyat" yang menulis di majalah Persatoean Indonesia. "Si Rakyat" mengkritik penggunaan nama Volkssouvereiniteit sebagai bahasa Belanda dan menyimpulkan demokrasi Indonesia sebagai barang impor. Hatta membalas: "...perkataan 'demokrasi' yang dipakai oleh Si Rakyat tidak asli. Perkataan itu juga import!....Partai-partai Indonesia disuruh memakai semboyan 'Demokrasi Indonesia'... "Sebagai contoh disebutnya pengertian demokrasi di Minangkabau: Sepakat. .... ia mengutip suatu pepatah Minangkabau, yaitu: 'Kemenakan beraja (tunduk seperti diperintah raja-Red) ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke mufakat'. Mufakat siapa? Bukan mufakat rakyat, melainkan mufakat penghulu saja. ... sudah banyak benar sekarang jumlah kemenakan yang tiada mau lagi 'beraja' ke mamak dan penghulu...." (Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1976, cet. 2, halaman 123-129) Inilah kritik Hatta atas model "permufakatan" adat yang esensinya tidak melibatkan masyarakat. Idealisasi Hatta atas adat Minang dalam sejumlah hal justru bertentangan dengan pemahaman orang banyak. Hatta tak mengalami semangat nasionalisme radikal, sebagaimana label yang diberikan kepada Tan Malaka. Ia juga tak berubah menjadi seorang yang sangat liberal, sekalipun pengacaranya berasal dari kalangan liberal Belanda, apalagi nasionalisme puritan ala Soekarno yang terkenal dengan Trisaktinya (merdeka di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berdaulat di bidang budaya). Ia tak suka menggado-gadokan berbagai aliran ideologi yang saling bertentangan, sebagaimana dilakukan oleh Soekarno atas Marxisme, Islamisme, dan nasionalisme, yang berubah menjadi Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis) di usia tua.

Dalam membangun pemikiran, Hatta amat hati-hati, nyaris kompromis. Tetapi kompromismenya bukan tanpa batas, ketika ia mundur dari kursi Wapres, juga tidak bersedia bergabung dengan PRRI, atau memilih Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), ketimbang bergabung dalam Partai Rakyat Indonesia (Partindo) dalam urusan koperasi dan nonkoperasi dengan Belanda. Hatta bukan orang yang melampaui batas-batas yang sanggup dijalani. Dalam nasionalisme, ia tahu dan mengerti mana yang tubuh, mana bayangan dari tubuh ketika diterpa matahari. Ia tak melangkah melebihi bayangan diri sendiri, atas nama utopianisme semu. Makanya, ia jarang terjerembab. Dalam demokrasi, ia memilih pendekatan kemanusiaan, walau sering disatu-nafaskan dengan pemikiran sosialisme. Dasar kerakyatan Hatta dalam demokrasi, dibangun atas kesadaran rakyat sendiri, dan bukan elite. Dalam bentuk negara, pemikiran Hatta berkembang menjadikan Indonesia sebagai negara serikat, walau gagal. Tetapi ia tetap mampu memasukkan Pasal 18 dalam UUD 1945, juga berbagai catatan di seputar UUD 1945, dalam Aturan Penjelasan dan Aturan Peralihan. Hatta juga dikenal sebagai penggagas awal desentralisasi dalam skala luas, termasuk desentralisasi partai politik dan pemilu sistem distrik. Minang, memang terkenal dengan susunan Nagarinya, membentuk "pemerintahan" berdasarkan konfederasi Nagari. Demokrasi model Hatta juga bukan demokrasi yang bersifat tunggal. Ia suka demokrasi multipartai, dengan melahirkan Maklumat X tahun 1945, untuk menolak fasisme Jepang. Namun ia kecewa Pemilu 1955 tidak menghasilkan pimpinan-pimpinan politik yang andal, akibat banyak anggota DPR yang sebetulnya "ditunjuk" oleh partainya, bukan langsung dipilih rakyat. Yang dipilih rakyat ialah partai atau kelompok dalam daftar Pemilu. Sistem daftar seperti ini mengurangi demokrasi, katanya, dan malah cenderung pada oligarki. Tapi Hatta juga bukan tokoh yang anti pada partai, atau bermaksud menguburkan partai-partai. Hatta malah mengingatkan berbahayanya sistem kepartaian yang dibangun oleh Soeharto, yang membatasi jumlah partai dan melahirkan massa mengambang. Dalam nasionalisme, Hatta tak berlaku chauvinistik. Ia bukan lagi orang pemerintah ketika Soekarno atas nama Demokrasi Terpimpin mengusir 40.000 orang Belanda dari Indonesia, dan melakukan nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan Belanda di bidang perkebunan dan eksploitasi minyak tahun 1957. Ia tak punya peran ketika Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) awal tahun 1965 dan Soekarno mempersiapkan suatu konferensi besar New Emerging Forces (Conefo). Padahal, sebelumnya, Hatta penyumbang konsep "Mendayung di Antara Dua Karang", lalu prinsip itu lebur termuat dalam Dasasila Bandung dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955. (Mohammad Hatta-Gde Agung, Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung: Menjunjung Tinggi Keagungan Demokrasi dan Mengutuk Kelaliman Diktatur, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1987, halaman) Hatta juga menggagas Program Ekonomi Benteng, mirip dengan yang dilakukan oleh Mahathir Mohamad di Malaysia, untuk melindungi ekonomi pribumi. Dalam metode perjuangan yang terbagi menjadi koperasi dan nonkoperasi di masa Jepang, Hatta memilih menempuh cara koperasi, lalu bergabung dalam Poetera (Pusat Tenaga Rakyat). Bersama Soekarno dan Ki Bagus Hadikusumo, ia pergi ke Tokyo bulan November 1943, lalu bertemuTenno Heika. Ketiganya dianugerahi Bintang Ratna Suci, Kelas II untuk Soekarno, dan kelas III untuk Ki Bagus dan Hatta, hingga menggemparkan golongan Kempetai (polisi rahasia) Jepang. Tetapi ketika dibuang ke Bangka, dengan tegas Hatta menolak menemui pimpinan Belanda di Jakarta untuk berunding, karena ia wakil presiden. "Bukan aku yang perlu bicara dengan PM Drees, tetapi mungkin ia yang perlu dengan aku. Sebab itu ia mesti datang ke Bangka," kata Hatta. (Mohammad Hatta, Memoir, op.cit., halaman 546)

Hatta tak kehilangan gagasan-gagasannya, dalam dua rezim otoriter pribumi. Ia bergerak dengan cara tersendiri. Ia tetap menulis surat kepada Soekarno, juga ke berbagai orang dekat dan jauh. Ia rajin mendatangi tempat-tempat di seluruh negeri, lantas menuliskan pemikirannya atas masalah yang dihadapi rakyat. Di masa Orde Baru, ia nyaris sangat miskin, tak mampu membayar kebutuhan rumah tangganya. Gubernur DKI Ali Sadikin, atas dasar keprihatinan, membantu Hatta untuk mendapatkan keringanan biaya listrik dan air untuk rumahnya dengan terlebih dahulu minta persetujuan DPRD DKI Jakarta. (Ramadhan KH, Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992, halaman 240) Ia jarang berkunjung ke luar negeri, dan memilih membaca dan menulis. Ia tak mengalami sindroma apapun, setelah tak lagi aktif, dan tetap disiplin dalam hidupnya, dengan bangun pagi. Masa depan nasionalisme dan demokrasi Ketika Hatta meninggal tahun 1980, jutaan rakyat Indonesia menangisi kepergiannya. Penyanyi Iwan Fals membuatkan lagu khusus untuknya. Iwan seperti mengeluh pada Tuhan dengan lirik lagunya; "Tuhan, begitu cepat semua. Kau panggil satu-satunya yang tersisa, proklamator tercinta. Jujur, lugu, dan bijaksana, mengerti apa yang tersimpan dalam jiwa, Indonesia. Hujan air mata dari pelosok negeri, waktu mendengar engkau pergi. Berjuta kepala tertunduk haru, mengenang seorang sahabat..." Padahal, Iwan jarang memuja orang. Hatta pergi, tetapi tidak hilang dari ingatan orang-orang. Di tengah krisis nasionalisme, dalam arus globalisasi yang menghempaskan identitas primordial dan sektarian, apa yang bisa dipelajari dari Hatta? Banyak, sekalipun realisasinya sungguh tak ada, kalau kita melihat dangkalnya nilai perdebatan di kalangan pemimpin Indonesia kini. International Monetary Fund (IMF) hendak ditendang, padahal Indonesia berutang. Indonesia kini adalah sebuah negeri yang sangat miskin, korupsi menggurita, juga penuh dengan konflik vertikal, horizontal, dan komunal yang ironisnya berpusar pada elitisme dan egoisme chauvinistik. Metode nasionalisasi diulangi, bahkan dalam bentuk sempit kedaerahan, dalam kasus Maklumat Rakyat Sumbar tanggal 1 November 2001, tanpa kejelasan apakah keuntungan yang didapatkan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Semen Padang jauh lebih besar dari mudaratnya, atau hanya menguntungkan segelintir kalangan. Di tingkat nasional, politisi yang sekaligus negarawan sungguh jarang menyampaikan visi tentang Indonesia kini dan masa depan, sekaligus menyelamatkan agar perahu retak Indonesia tak lantas tenggelam. Lalu, apa manfaat dari mempelajari riwayat Hatta? Keprihatinan. Ia telah menyusun bangunan pikiran tentang Republik Indonesia. Hampir tak ada yang terlewatkan. Prinsip-prinsip nasionalisme dan demokrasi telah ia tegaskan dan perjuangkan. Menonton apa yang terjadi di negeri ini, sungguh tak sebanding dengan apa yang telah dikerjakan Hatta. Mengingat Hatta, dalam kondisi elite negeri ini yang lebih suka berbeda untuk persoalan yang sudah jelas, seperti korupsi, hanyalah menonton sampah-sampah kehidupan yang tak berarti apa-apa bagi pembangunan (kembali) demokrasi. Indra J Piliang Peneliti politik dan perubahan sosial Center for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta

Hatta dan Kaderisasi
Mestika Zed TAHUN 1927, dan tahun-tahun berikutnya, selepas pemberontakan komunis yang gagal di Sumatera Barat dan Banten adalah masa-masa sulit bagi kaum pergerakan, baik di Indonesia maupun di Belanda. Pemberontakan itu bukan saja membuat pemerintah kolonial terkejut, tetapi juga merupakan awal malapetaka bagi pergerakan nasional. Sebab sejak itu aparat keamanan semakin bertindak keras terhadap semua kegiatan politik kaum nasionalis.

Akibatnya, banyak pemimpin partai yang ditangkap dan dibuang ke Digul, Papua. Mohammad Hatta (1902-1980) dan mahasiswa aktivis Indonesia di Belanda juga ikut kena getahnya. Bulan September 1927 Hatta dan tiga orang temannya (Nazir Sutan Pamoentjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdoel Madjid Djojodiningrat) ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Dua tahun berikutnya Soekarno dengan beberapa orang temannya di Bandung juga mengalami nasib yang sama. Tidak terhitung jumlah mereka yang ditangkap di daerah. Peristiwa ini, berikut sikap represif penguasa Dokumentasi Kompas kolonial Belanda menjadi alasan utama mengapa Hatta akhirnya sampai kepada kesimpulan tentang perlunya kaderisasi. Namun, gagasan kaderisasi Hatta juga berkaitan erat dengan visinya tentang pentingnya menyiapkan pemimpin bangsa di masa depan. Bagaimana Hatta merumuskan konsep kaderisasi dan mengamalkannya dalam perjalanan karier politiknya dan dalam perjalanan hidupnya sebagai rakyat biasa? Pada akhirnya akan ditunjukkan, sesungguhnya warisan Hatta yang paling diabaikan oleh generasi sesudahnya ialah cara baik Bung Hatta dalam pengaderan ini. Mengapa bisa demikian? Inilah yang akan dibahas dalam tulisan sederhana ini. Moral pemimpin bangsa Kebanyakan tokoh nasionalis dan pemimpin partai sejak zaman pergerakan awal abad ke-20 sampai zaman merdeka dan bahkan di zaman Orde Lama dan Orde Baru menaruh cukup perhatian terhadap masalah pengaderan. Hiruk-pikuk acara "temu kader" di zaman Orde Baru bahkan masih terngiang-ngiang di zaman Orde Reformasi sekarang ini. Namun, tidak ada tokoh bangsa yang paling konsisten dan paling intens mengabdikan diri dan partainya demi kaderisasi pemimpin bangsa, kecuali Hatta. Sebagai seorang yang sangat terpelajar sejak usia mudanya, dan aktivis politik yang tak kenal menyerah (atau minta ampun) dalam perjuangannya, Hatta mulai menyaksikan gejala yang kurang menguntungkan dalam kepemimpinan pergerakan nasional sejak pertengahan 1920-an. Meskipun Hatta tak meragukan nasionalisme mereka, ia mulai kecewa terhadap gerakan nasionalis waktu itu. Dua partai terbesar di Tanah Air saat itu, Sarekat Islam (SI, kemudian PSII) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) makin radikal dan menyuarakan ideologi parokial.

Hatta sebenarnya menaruh harapan terhadap Partai Nasional Indonesia (PNI) Soekarno. Namun, ia juga tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia tentu tak hendak menyindir, ketika mengatakan bahwa "kita tidak perlu tepuk dan sorak, kalau kita tidak sanggup berjuang ... di luar ruangan rapat. Indonesia Merdeka tidak akan tercapai dengan agitasi. Hatta tidak suka bila rakyat dikondisikan membeo kepada pemimpin, apalagi menjadi obyek tipu daya (dan pembodohan diam-diam) demi kepentingan pemimpin sehingga segala sesuatu keputusan pemimpin harus diterima dengan sukarela. "Negeri yang rakyatnya hanya tahu menerima perintah dan tidak pernah turut memperhatikan atau mengatur pemerintahan negerinya," tulis Hatta, "tidak memiliki kemauan dan tidak melakukan kemauan itu dengan rasa tanggung jawab penuh." Jika demikian, rakyat tidak akan pernah insyaf akan harga diri dan kedaulatannya sehingga ia mudah tunduk ke bawah kekuasaan apa dan siapa saja. Dengan begitu, "bila Indonesia merdeka, rakyat akan tetap tertindas oleh orang yang berkuasa." Dalam pengamatannya, Hatta menyaksikan tiga macam "kebangsaan" atau nasionalisme yang berkembang di Hindia Belanda (Indonesia) waktu itu dan ketiganya diyakininya merupakan gejala universal. Ketiga jenis kebangsaan itu, dalam bahasanya sendiri ialah (i) kebangsaan "cap ningrat", (ii) kebangsaan "cap intelek", dan (iii) kebangsaan "cap rakyat". Hatta membentangkan ciri-ciri masing-masingnya. Pertama, kebangsaan "cap ningrat" mengukur kebangsaan menurut golongannya sendiri. Dari zaman kerajaan dulu sampai zaman penjajahan Belanda kaum ningrat (bangsawan) termasuk golongan yang memerintah. Penguasa Belanda mengerti betul, rakyat Indonesia lebih mudah diperintah oleh Inlandsche Hoofden, yaitu para kepala-kepala pribumi yang berkuasa sebelumnya. Jadi, dalam kebanyakan alam pikiran kaum ningrat, tertanam jiwa kebangsaan "cap ningrat", yang merasa bahwa kalau Indonesia sudah merdeka, merekalah yang berhak berkuasa. Menurut mereka, itu sudah merupakan historisch recht (hukum sejarah). Sebab itu "mereka mencita-citakan kembalinya Kerajaan Majapahit ke atas Indonesia ini." Dalam faham kebangsaan semacam itu, rakyat banyak tak dihitung, kecuali untuk mengabdi kepada penguasa, alias "Daulat Tuanku". Kedua, faham kebangsaan "cap intelek", mirip dengan "cap ningrat", berpandangan bahwa jika Indonesia suatu saat mencapai kemerdekaannya, merekalah yang akan diprioritaskan untuk berkuasa. Bagi mereka orang yang duduk di pemerintahan bukan karena keturunan, melainkan karena kecakapannya sendiri. Bukan bangsawan karena darah, tetapi bangsawan baru karena otak dan kecakapan. Sebab itu, nasib rakyat dan urusan negeri biar diserahkan saja ke tangan kaum intelek. Dalam pikiran mereka tertanam anggapan bahwa rakyat banyak itu bodoh, malas, miskin, dan suka menurut. Oleh karena rakyat hidupnya sengsara, tidak ada waktu bagi mereka untuk memikirkan politik. Jadi, tak perlu ikut campur dalam mengurus negeri. Kebangsaan "cap intelek", seperti halnya dengan "cap ningrat" memperlakukan rakyat sebagai "perkakas" kaum intelek atau cerdik pandai saja. Akan halnya kebangsaan yang ketiga, yaitu "cap rakyat", adalah tipe yang langka. Bukan kebangsaan "cap intelek" dan bukan pula "cap ningrat", melainkan kebangsaan "cap rakyat" itulah menurut Hatta yang harus dibangun. Mengapa? Sebab, rakyat itulah badan dan jiwa bangsa. Rakyatlah yang menjadi ukuran tinggi rendahnya derajat suatu bangsa. Dengan rakyat kita akan naik dan dengan rakyat kita akan turun. Dalam bahasa kias Minangkabau, "ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun". Tegasnya, hidup matinya Indonesia sebagai sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari rakyat, dan pemimpin sejati adalah pemimpin yang bisa membaca rakyat dan meletakkan kepentingan

rakyat dan bangsa di atas lain-lain kepentingan. Konsep kebangsaan "cap rakyat" adalah temuan Hatta yang unik, karena "kebangsaan" tidak bisa dipisahkan dari "kerakyatan". Kedua kata itu merupakan butir pemikiran Hatta yang paling mendasar dalam satu tarikan napas dan sekaligus melintasi semua gagasan Hatta tentang persatuan, kemerdekaan, demokrasi, ekonomi dan sejumlah gagasan politiknya yang lain, termasuk kaderisasi. Tak syak lagi, konsep kebangsaaan "cap rakyat" adalah gagasan otentik Hatta yang diinspirasikan oleh kombinasi pengalaman belajar dari masyarakatnya sendiri, Minangkabau dan Indonesia secara keseluruhan serta dari Barat saat ia menjadi mahasiswa di Belanda. Memang Hatta adalah tokoh yang mampu menjadi rasional tanpa harus kebarat-baratan. Pada saat yang sama ia tak perlu terjebak dengan mentalitas kebangsaan "cap intelek", meskipun ia termasuk kaum terpelajar yang menempuh pendidikan terbaik pada masanya. Sudah barang tentu ajaran merantau Minangkabau juga ikut menolongnya. Bukankah adat memesankan "ingat-ingat kampung halaman supaya menjadi orang berguna". Kampung halaman Hatta yang sudah tercerahkan itu ialah Indonesia. Ia tak takut dibuang ke mana pun di Hindia Belanda karena menurut dia, semuanya adalah "kampung halaman kita juga". Kerisauan Hatta ketika menjadi mahasiswa di Belanda, justru memikirkan "bagaimana mencari jalan pulang ke masyarakat sendiri bagi ontworteling der Indonesiche intellectuelen, kaum terpelajar yang tercerabut dari masyakaratnya sendiri. Dengan kaderisasi, mereka justru bisa menjadi kekuatan. Ini pertama-tama harus lewat partai karena, menurut Hatta, partailah tempat penggodokan pemimpin. Pernyataan bahwa kesetiaan pemimpin kepada partainya harus berakhir ketika kesetiaannya kepada negara dan bangsa dimulai, bukan dari Hatta, melainkan dari Soekarno, tetapi Hatta-lah yang melaksanakannya. Partai kader Digagas di Belanda dan didirikan di Yogyakarta di pengujung tahun 1931, Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), atau sering disebut PNI Hatta untuk membedakannya dengan PNI Soekarno yang telah dibubarkan sebelumnya dan menggantinya dengan partai baru, Partindo, lebih menekankan kegiatannya pada pendidikan kader pemimpin. Hatta dan Sutan Sjahrir sepakat untuk tidak menyinggung-nyinggung kata partai dalam partai baru mereka. Salah satu alasannya ialah, kalau sikap politik kolonial terus-menerus semakin represif dan menangkapi semua pucuk pimpinan partai, siapakah yang akan meneruskan perjuangan? Tetapi, argumen Hatta lebih dari sekadar alasan praktis demikian. Kaderisasi erat kaitannya dengan kesinambungan kepemimpinan bangsa, atau dalam idiom politik Orde Baru, suksesi. Sebab, di mata Hatta muda, kemerdekaan pada akhirnya pasti datang. "Cepat atau lambat setiap bangsa yang ditindas pasti memperoleh kemerdekaannya kembali, itulah hukum sejarah yang tidak dapat dimungkiri. Hanya soal proses [waktu] dan cara bagaimana mereka memperoleh kembali kemerdekaan itu ...." Karena itu perlu disiapkan pemimpin di masa depan. Sehubungan dengan itu, maka kaderisasi anggota partai, bagi Hatta, sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada zamannya harus menanam. Bibit yang baik akan menghasilkan buah yang bernas, terutama kalau dilakukan dengan pengkaderan yang benar. Pengaderan yang benar ialah meletakkan nilai-nilai "kebangsaan" dan "kerakyatan" sebagai roh atau suluh moral kepemimpinan. Jadi, meskipun partai baru itu keluarnya tampil dalam bentuk pendidikan, tetapi pada saat yang sama berusaha menciptakan kerangka kerja organisasi partai di pusat dan di daerah. Calon anggota dipilih dengan hati-hati, tidak sembarangan yang berminat. Mereka hanya diterima menjadi anggota penuh setelah melalui masa percobaan. Para calon anggota mula-mula dituntut

mengikuti kursus-kursus dan menunjukkan kesetiaan dan pengertian tentang prinsip-prinsip partai. Bahan kursus antara lain didasarkan pada sebuah pamflet yang ditulis oleh Hatta pada akhir 1932 berjudul Ke arah Indonesia Merdeka. Selain mengadakan kursus-kursus pendidikan untuk calon anggotanya, partai baru itu juga mengadakan rapat umum, kongres, menerbitkan majalah dan "kitab-kitab sebaran" (brosur) dan mendirikan majelis-majelis "pemberi keterangan" (informasi). Nama majalah partai PNI Hatta ialah Kedaulatan Rakyat. Hampir setiap pagi, setelah shalat subuh, Hatta menyisihkan waktunya untuk membuat karangan di Kedaulatan Rakyat atau di penerbitan partai lain, meskipun tidak sehaluan dengan partainya. Hatta, seperti kebanyakan pemimpin segenerasi dengannya adalah pemimpin yang mampu menulis baik, tajam, tetapi mudah dicerna pikiran awam. Bacaannya luas dan sewaktu menjadi mahasiswa ia dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki buku paling banyak di antara mahasiswa Indonesia di Belanda. Ini menjadi referensi baginya untuk memikirkan masalahmasalah sosial, ekonomi, dan terutama masalah politik di Tanah Airnya. Pemimpin adalah orang yang mendidik Bagi Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi. "Pendidikan! belum atau tidak politik", tulis Hatta tahun 1932. "Politik di negeri terjajah terutama berarti pendidikan". Akan tetapi, pendidikan di sini tidak mesti diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah Hatta "sekolah-sekolahan", melainkan pendidikan dalam arti luas. Tugas pemimpin pertama-tama ialah mendidik rakyat, dan bukan memperalatnya. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran rakyat serta memberi inspirasi agar rakyat bisa keluar dari kesulitan yang membebaninya, baik karena sistem kolonial itu sendiri maupun karena keterbatasan mereka dalam memecahkan persoalan sehari-hari. Untuk itu, fondasi pendidikan kader pemimpin ialah "kebangsaan" dan "kerakyatan". "Membangun semangat kebangsaan pada bangsa yang tidak merdeka," demikian Hatta, "ialah membangun kemanusiaannya." Selanjutnya membangkitkan kegembiraan dan keberanian hati [jadi tidak mesti otot] pada rakyat banyak yang dulunya sudah kehilangan sifat dan budi!" Mereka memerlukan bimbingan dan penerangan setidaknya dalam tiga aspek berikut. Pertama, pendidikan politik diperlukan agar rakyat insyaf dan sadar terhadap hak dan kedaulatannya. Begitu juga supaya pengetahuannya tentang politik, hukum dan pemerintahan negeri bertambah luas. Kedua, pendidikan ekonomi bagi rakyat dimaksudkan agar membuka mata mereka terhadap kondisi keterbelakangan selama ini, seraya memberi jalan terhadap kemungkinan berkembangnya suatu perekonomian baru, seperti koperasi dan bentuk-bentuk usaha baru lainnya. Ketiga, pendidikan sosial bagi rakyat diperlukan agar mereka dapat mempertinggi keselamatan penghidupan bersama. Ini antara lain dengan memberi pelajaran umum dan memajukan kesadaran tentang arti disiplin, hemat, jujur, bersih, baik dalam arti kesehatan fisik maupun bersih secara moral dan batiniah. Akan tetapi, semua ini tidak mungkin dilakukan kalau pemimpin itu sendiri tidak terpelajar dan mendapat gemblengan dalam organisasi. Sebelum mendidik orang lain, "pemimpin itu sendirilah yang terlebih dulu mendidik dirinya sendiri". Hatta tidak menolak kehadiran koloniaal onderwijs (pendidikan kolonial) karena, menurut dia, pendidikan Barat itu superieur, ilmunya teratur [maju] dan tekniknya tinggi. Ia sendiri belajar di sekolah Belanda mulai sekolah dasar Belanda (ELS) di Padang sampai ke perguruan tinggi di Rotterdam, Belanda, (1922-1932). Yang ditolak tegastegas oleh Hatta dari pendidikan kolonial adalah sistemnya. Sistem pendidikan kolonial didasarkan pada asas utiliteit, atau "siap pakai" dalam jargon pendidikan Indonesia sekarang. Konsep pendidikan semacam itu, menurut Hatta, lebih berorientasi pada keperluan penjajah Belanda dan bukan kepada peningkatan kualiteit kamanusiaan dalam arti luas. Selaku demikian,

pendidikan akhirnya tak lebih dari sekadar perkakas kaum penjajah, atau sebaliknya hanya untuk kepentingan pribadi kaum terdidik sendiri. Pendidikan kolonial hanya melahirkan ontworteling der Indonesiche intellectuelen dan pada gilirannya hanya akan menjadi kaum borjuis baru, orang yang cenderung memikirkan senangnya sendiri tanpa peduli dengan lingkungannya. Inilah aspek moral yang dikhawatirkan Hatta. Dalam pengamatannya, tidak sedikit kaum terpelajar Indonesia yang terjebak di antara dua pusat gravitasi, yakni antara kepentingan penguasa dan pengusaha kolonial di satu pihak dan kepentingan individual di lain pihak. Dengan demikian, pada saat yang sama di situ terdapat rongga kosong yang ditelantarkan, yaitu masyarakat bangsa dan/atau rakyat banyak. Ke sanalah pemimpin partai yang sudah dikaderkan itu diterjunkan. Karena Hatta lebih memikirkan pendidikan untuk rakyat banyak ketimbang politik an sich, maka berpolitik di negeri yang sedang terjajah tidak terutama berarti urusan kekuasaan, atau soal parlementaire srijd (perjuangan di parlemen), melainkan mendidik rakyat agar mereka insyaf akan kesadaran dirinya dan kondisi riil yang membelenggunya. Kondisi riil yang dimaksudkan Hatta ialah bahwa rakyat Indonesia dalam keadaan terjajah dengan segala keterbelakangan yang ditimbulkannya. Meskipun penjajahan Belanda di Indonesia, di mata Hatta, tampak luarnya lebih senonoh karena mempergunakan instrumen wet (hukum), tetapi batin dan praktiknya tidak. Mentaliteit kolonial ialah otoriter karena asas pemerintahan kolonial menurut Hatta ialah "perkosa" (paksaan?). Pada abad-abad sebelumnya, kekuasaan kolonial dilawan dengan kekerasan. Tetapi karena senjata mereka lebih unggul, begitu juga administrasinya, maka segala perlawanan di masa lalu ditundukkan dengan "perkosa-buta", lalu diperintah dengan memperalat penguasa pribumi juga. Hatta mengkhawatirkan berkembangnya kebangsaan "cap ningrat" di kalangan kaum pergerakan. Untuk itulah perlunya kaderisasi. Inti asasi dari pendidikan kader pemimpin menurut Hatta ialah membentuk budi dan pekerti serta memperkuat iman. Di situ pendidikan watak lebih diutamakan. Dengan kaderisasi, para pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya memiliki kemampuan, tidak hanya dalam arti kecerdasan intelektual, tetapi yang lebih dipentingkan ialah memiliki pijakan moral dan emosional yang tercerahkan dengan suluh moral "kebangsaan" dan "kerakyatan". Krisis kepemimpinan Pada masa perjuangan kemerdekaan (1945-1950) Hatta dan para the founding fathers (para pendiri bangsa) masih dapat menyaksikan buah yang mereka tanam sebelumnya. Para pemimpin pada masa ini tidak hanya mampu memberi visi, inspirasi, semangat kepada rakyat, tetapi juga teladan dan arah yang nyata untuk mengabdikan dirinya demi kepentingan bangsa. Ucapan para pemimpin meresap ke dalam hati, bahkan masih diingat dan dikutip oleh rakyat di pelosok yang paling jauh sekalipun. Perang melawan Belanda dimenangkan bukan karena keunggulan senjata juga bukan karena kecerdasan bangsa ini, tetapi lebih ditentukan oleh keuletan dan kekuatan mental pemimpin dan rakyat yang telah ditempa dalam berjuang di medan gerilya dan di meja perundingan di bawah suluh moral kebangsaan dan kerakyatan, sekalipun dalam serba berkekurangan. Namun, pada masa Orde Lama kaderisasi semakin identik dengan indoktrinasi. Orde Lama yang diawali dengan "Dekrit Presiden 1959 menguburkan demokrasi dengan demokrasi, yaitu "Demokrasi Terpimpin". Atas nama "Demokrasi Terpimpin" semua lembaga demokrasi yang tak disukai Presiden Soekarno dibubarkan, termasuk parlemen, partai-partai besar sekalipun (seperti Partai Masyumi dan partai sosialis Sjahrir), di samping pemberedelan surat kabar dan penangkapan sejumlah pemimpin terkemuka. Dalam iklim yang semakin represif dan otoriter semacam itu tak ada yang dapat dinamakan kaderisasi, kecuali indoktrinasi.

Obsesi Soekarno yang berlebihan terhadap persatuan versinya sendiri lewat "Nasakom" dan dengan pelbagai idiom dan konsepsi politik yang diciptakanya, menyita perhatian dan energi ke pusat kekuasaan yang terkonsentrasi di tangannya. Sementara itu, Hatta yang sudah menjadi rakyat biasa sejak pengunduran dirinya dari kursi wakil presiden akhir 1956, tidak bisa menyembunyikan kegusarannya. Ia melihat langkah-langkah yang diambil Soekarno sudah terlalu jauh. Dengan santun ia sering mengingatkan Presiden lewat surat-surat pribadinya. Sekali-sekali Soekarno membalasnya juga, tetapi karena tidak ada tanda-tanda diindahkan, Hatta sekali waktu terpaksa menyurati dengan agak tajam. "Apa yang kita cela dan tantang di zaman kolonial Belanda [dulu] sekarang berulang kali terjadi, dilakukan atas nama Saudara. Harap Saudara renungkan sedalam-dalamnya hal ini...." Ironisnya, kejatuhan Soekarno justru karena kegagalannya mengelola bara api di bawah kakinya, militer di satu sisi dan komunis di sisi lain. Lebih ironis lagi, kejatuhannya harus dibayar dengan mengorbankan ratusan ribu anak bangsa. Orde Baru sedikit banyak adalah kelanjutan dari Orde Lama. Pelan-pelan tapi pasti, rezim Soeharto juga membunuh demokrasi dengan demokrasi. Dulu "Demokarsi Terpimpin, sekarang "Demokrasi Pancasila" dengan monopoli penafsiran di tangan penguasa. Di masa Orde Lama adalah militer dan komunis (PKI) sebagai mesin politiknya. Orde Baru juga menggunakan militer dan Golkar, seperti halnya PKI, berperan sebagai mesin politik kekuasaan Orde Baru. Sampai tingkat tertentu, Orde Baru Soeharto menduplikasikan secara cerdas watak politik kolonial dan Orde Lama. Dulu di zaman kolonial, khususnya selepas pemberontakan PKI 1927, setiap pemimpin yang "berbahaya" dicap komunis. Praktik semacam ini juga dilakukan rezim Soeharto. Sikap represif penguasa, depolitisasi masa lewat formula "massa mengambang," pendekatan rust en orde yang dalam bahasa politik Orde Baru disebut "stabilitas dan keamanan" mematahkan tunas pemimpin yang tumbuh di luar lingkaran kekuasaan (baca Golkar). Namun, keliru mengatakan Orde Baru tak mengenal kaderisasi. Apa yang disebut dengan "temu kader" berlangsung secara teratur. Tidak hanya menjelang Pemilu. Golkar khususnya karena didukung dana yang melimpah hampir sepanjang tahun dan di setiap tingkat mengadakan "temu kader" dengan biaya yang tidak sedikit. Dengan sistem yang monolitik dan "komando" dari atas, "temu kader" bukan untuk mendidik bagaimana menjadi pemimpin sejati seperti yang dibangun Hatta, melainkan menggalang massa untuk mengejar mayoritas tunggal. Tidak heran jika pemimpin yang dihasilkannya adalah para pemimpin medioker dan oportunistik yang memperoleh posisi-posisi tertentu karena restu dari atasan. Untuk kelompok militer sebagai salah satu sumber pemasok pemimpin selain Golkar keadaannya agak sedikit berbeda. Militer atau ABRI yang dianggap "superior" dan memiliki sistem pengaderan terbaik di masa rezim Orde Baru, cukup puas dengan memerankan dirinya sebagai sumber legitimasi pemimpin sipil dan sekaligus pangeran di sekitar Soeharto. Meskipun banyak jenderalnya, rezim militer Orde Baru bukan hanya tidak mampu melahirkan pemimpin besar, kecuali "jenderal besar", tetapi juga menggeser posisinya yang di masa perjuangan kemerdekaan menjadi "benteng terakhir" dalam melindungi negara dan bangsa menjadi alat kekuasaan orang yang berkuasa. Kini di gerbang abad ke-21, setelah 57 tahun Indonesia merdeka apa yang tersisa dari kaderisasi Hatta. Dalam periode panjang interupsi otorianisme Orde Lama dan Orde Baru, tunas pemimpin bangsa telah patah tanpa bisa tumbuh lagi. Dalam keadaan semacam itu bangsa ini kehilangan kepemimpinan yang akarnya merambat kokoh ke bumi pertiwi. Suluh moral "kebangsaan" dan "kerakyatan" yang menerangi perjalanan bangsa ke depan sebagaimana dicita-citakan Hatta semakin redup. Pragmatisme hidup telah menjadi nilai baru yang dominan bagi generasi masa kini, termasuk para pemimpinnya. Mereka yang tak suka dengan pemikiran Hatta mungkin akan mengatakan globalisasi terlalu tangguh untuk dilawan dengan nasionalisme. Dibutuhkan kekuatan dan

kepintaran dan bukan nasionalisme. Tetapi globalisasi moralnya apa? Bila tantangan terbesar bangsa ini, hic et nunc (di sini dan sekarang), adalah krisis kepemimpinan, maka tidak ada jalan lain kecuali membangun kader pemimpin bangsa sebagaimana yang telah diletakkan dasardasarnya oleh Hatta, guru bangsa yang sejati, yang memberikan pencerahan terhadap rakyatnya. Mestika Zed Tamatan Vrije Universiteit Amsterdam, kini staf pengajar Universitas Negeri Padang

Hatta dan Politik Luar Negeri u
Dewi Fortuna Anwar

MOHAMMAD HATTA adalah bapak politik luar negeri Indonesia. Doktrin politik luar negeri "bebas aktif", yang sampai sekarang masih tetap dianut Republik Indonesia, merupakan buah pikir Hatta, yang dicetuskannya pertama kali dalam rapat KNIP di Yogyakarta tanggal 2 September 1998 (H Roeslan Abdul Gani, The Origins of the Concept 'Free and Active' in Indonesian Policy, Indonesian Quaterly, Vol.IV No.1, October 1975). Doktrin "bebas aktif" ini merupakan tanggapan dan strategi Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaan menghadapi Perang Dingin, yang membelah dunia dalam dua blok ideologi yang saling bertentangan.
Seperti diketahui setelah Perang Dunia II berakhir, kekuatan Sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa Barat, antara lain Inggris dan Perancis, pecah kongsi dengan mantan sekutunya Uni Soviet yang komunis. Baik Blok Barat maupun Blok Komunis saling berebut pengaruh secara global, dengan berupaya menarik negara-negara lainnya untuk masuk ke dalam kampnya, atau setidaknya mencegah agar negara-negara tersebut tidak memihak kepada blok musuh. Perang Dingin ini berlangsung selama lebih dari 50 tahun sampai robohnya Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat yang nonkomunis dengan Jerman Timur yang komunis tahun 1990. Walaupun dinamakan Perang Dingin karena kedua negara adidaya, AS dan Uni Soviet, tidak pernah terlibat konflik terbuka, pada kenyataannya Perang Dingin menyulut banyak peperangan terbuka di Dunia Ketiga. Negara-negara berkembang diperlakukan sebagai bidak-bidak atau proxy oleh negara-negara besar sehingga mempertajam konflik antarnegara maupun intranegara berdasarkan perbedaan ideologi. Sebagai negara yang waktu itu sedang menghadapi agresi Belanda yang ingin kembali berkuasa, Indonesia dihadapkan pada situasi yang sulit. Kelompok kiri menginginkan agar Indonesia bergabung dengan Blok Komunis yang sangat anti-Barat untuk memperkuat perjuangan melawan Belanda yang merupakan anggota Blok Barat. Mengingat Blok Barat terdiri

dari banyak negara bekas penjajah, sementara Indonesia memiliki semangat nasionalisme dan antipenjajahan yang sangat tinggi, tidak banyak pihak yang waktu itu menginginkan supaya Indonesia bergabung dengan Blok Barat. Namun, para pemimpin nasional utama, seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir, tidak ingin Indonesia dikuasai komunis, walaupun mereka memiliki pandangan yang sama mengenai penjajahan. Perlu diingat bahwa doktrin politik luar negeri bebas aktif dicetuskan tidak lama sebelum pemberontakan PKI di Madiun terjadi. Inilah alasan utama mengapa akhirnya Pemerintah Indonesia memilih jalan tengah, yaitu tidak memihak ke Blok Barat maupun Blok Timur/Komunis. Indonesia memutuskan untuk menentukan jalan sendiri. Hatta mengibaratkan strategi Indonesia dalam menghadapi dunia luar sebagai berlayar antara dua karang. Kalau kapal bergerak terlalu dekat dengan salah satu "karang" atau blok politik, maka keselamatan kapal akan terancam. Hatta dan para pemimpin nasional lainnya waktu itu berpendapat bahwa perjuangan berat Indonesia untuk meraih kemerdekaan akan sia-sia apabila setelah merdeka nasib negara ini diserahkan pada kekuatan lain. Walaupun bergabung dalam salah satu blok juga memiliki berbagai keuntungan, misalnya, bantuan ekonomi dan dukungan militer penuh dari negara patron, negara-negara anggota blok tentu harus mengikuti berbagai kebijakan bloknya, yang nota bene ditentukan sepenuhnya oleh negara adidaya yang memimpin blok bersangkutan (Mohammad Hatta, An Independent Active Foreign Policy, dalam Herbert Feith and Lance Castles (eds), Indonesian Political Thinking 19451965, Cornell University Press, Ithaca and London, 1970, halaman 449-453). Dua unsur Politik luar negeri yang bebas aktif mengandung dua unsur pokok. Pertama, "bebas" biasanya diartikan tidak terlibat dalam aliansi militer atau pakta pertahanan dengan kekuatan luar yang merupakan ciri Perang Dingin. Dalam arti lebih luas politik luar negeri yang bebas menunjukkan tingkat nasionalisme yang tinggi, yang menolak keterlibatan atau ketergantungan terhadap pihak luar yang dapat mengurangi kedaulatan Indonesia. Kedua, kata "aktif" menunjukkan bahwa politik luar negeri Indonesia tidaklah pasif dan hanya mengambil sikap netral dalam menghadapi permasalahan-permasalahan internasional. Pembukaan UUD 1945 secara jelas menuntut Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan dan ikut memajukan perdamaian dunia. Doktrin politik luar negeri bebas aktif ini sejak awal dianggap sebagai komitmen nasional yang harus dipegang teguh, sehingga pelanggaran terhadap doktrin tersebut mengundang kritik yang tajam. Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Sukiman jatuh tahun 1952 ketika diketahui, Menteri Luar Negeri (Menlu) Subarjo secara diam-diam sepakat menerima bantuan ekonomi AS berdasarkan syarat-syarat yang tertuang dalam Mutual Security Act of 1951. Berdasarkan akta ini negara yang menerima bantuan ekonomi dan teknis AS terikat dalam perjanjian pertahanan keamanan dengan negara adidaya tersebut. Dengan demikian, Kabinet Sukiman telah menjadikan Indonesia sebagai negara sekutu AS, sehingga secara jelas telah melanggar doktrin politik luar negeri bebas aktif. Hal tersebut mengakibatkan kejatuhan Kabinet Sukiman. Sejak saat itu juga diputuskan, setiap perjanjian internasional harus diratifikasi parlemen, sehingga eksekutif tidak dapat lagi menjalankan diplomasi rahasia (Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, Cornell University Press, Itacha and London, 1962, halaman 198-200). Presiden Soekarno pada akhir masa jabatannya juga dianggap telah melanggar doktrin bebas aktif ketika ia mencetuskan gagasan poros Jakarta-Phnom Penh-HanoiPyongyang-Peking. Tuduhan bahwa Soekarno telah memihak Blok Komunis merupakan salah satu faktor utama yang menjatuhkannya dari tampuk kekuasaan.

Dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memainkan peranan yang cukup besar di panggung internasional dalam dua dekade pertama kemerdekaan. Indonesia turut menggalang negara-negara Asia dan Afrika untuk meningkatkan daya tawar negara-negara berkembang dalam percaturan global yang didominasi AS dan Uni Soviet. Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan pertama negara-negara Asia dan Afrika tahun 1955 di Bandung. Konferensi Asia-Afrika (KAA) tersebut menghasilkan Dasasila Bandung, yang antara lain menegaskan penolakan pada penjajahan dan intervensi masalah dalam negeri masing-masing, serta mengimbau agar masyarakat dunia menghindari konflik dengan mewujudkan prinsip peaceful coexistence atau hidup berdampingan secara damai. Artinya, negara-negara yang berbeda secara ideologi hendaknya dapat saling menghormati dan bukannya berusaha saling mematikan. Dasasila Bandung juga melarang para anggotanya untuk terlibat dalam pakta pertahanan yang ditujukan terhadap negara lain (Ide Anak Agung Gde Agung, Twenty Years Indonesian Foreign Policy, Mouton & Co, Den Hague, 1973). KAA Bandung merupakan cikal bakal Gerakan Nonblok (GNB) yang didirikan di Beograd, Yugoslavia, tahun 1961. GNB merupakan alternatif bagi negara-negara yang tidak ingin terlibat langsung dalam Perang Dingin, umumnya negara-negara berkembang, dan pernah menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan dalam politik internasional. Peran aktif Indonesia dalam gerakan Asia-Afrika dan Gerakan Nonblok menjadikan Indonesia sebagai salah satu juru bicara negara berkembang. Walaupun doktrin politik luar negeri bebas aktif yang dicetuskan Hatta disepakati bangsa Indonesia sebagai strategi yang tepat, guna menjamin kedaulatan bangsa dan mengoptimalkan peranan Indonesia di panggung regional dan internasional, pada kenyataannya mengimplementasikan doktrin tersebut tidaklah mudah. Indonesia, seperti negara-negara berkembang lainnya, menghadapi dilema antara keinginan berdaulat dan tuntutan pembangunan. Sebagai negara yang baru merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, masyarakat Indonesia umumnya sangat nasionalis dan peka terhadap intervensi asing, sehingga tidak ingin tergantung pada kekuatan luar. Di lain pihak, sebagai negara berkembang dengan segala keterbatasannya, Indonesia mau tidak mau harus berpaling kepada negara-negara industri maju, yang umumnya merupakan negara-negara bekas penjajah, apabila hendak memajukan pembangunan ekonomi. Mencapai keseimbangan antara tuntutan kedaulatan dan pembangunan bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi di masa Perang Dingin di mana setiap bantuan negara maju pada negara berkembang umumnya didasari oleh kepentingan geo-strategis. Negara-negara berkembang akhirnya dihadapkan pada pilihan untuk memprioritaskan kemandirian, yang berarti sulit mendapatkan bantuan ekonomi, atau memprioritaskan pembangunan ekonomi, yang berarti mengurangi kemandirian. Dilema ini sangat dirasakan oleh Indonesia, sehingga orientasi kebijakan luar negeri menjadi suatu hal yang memiliki makna penting dalam kehidupan bangsa dan negara secara keseluruhan, dan memberi warna tersendiri pada suatu pemerintahan(Franklin B Weinstein, Indonesian Foreign Policy and the Dilema of Dependence, From Sukarno to Suharto, Cornell University Press, Ithaca and London, 1976). Hatta adalah seorang idealis yang juga sangat pragmatis, sehingga ia mencoba untuk menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif tanpa harus mengorbankan kepentingan ekonomi nasional. Di satu pihak Indonesia menolak segala bentuk aliansi militer dengan kekuatan luar, apalagi kehadiran pangkalan militer asing di wilayah Indonesia. Di lain pihak, Hatta juga mendorong terciptanya kerja sama ekonomi dengan negara-negara lain, termasuk dengan negara-negara bekas penjajah. Setelah pengakuan kemerdekaan oleh Belanda dikeluarkan pada Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, bulan Desember 1949, Hatta ingin agar suasana revolusi diakhiri untuk memberi kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk membangun dan memajukan kehidupan bangsa. Hatta memfokuskan perhatiannya pada pengelolaan negara secara amanah

dan profesional agar dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kepemimpinan Hatta yang demikian dikategorikan oleh Herbert Feith sebagai tipe "administrator". Sebaliknya Soekarno menganggap, revolusi belum selesai, antara lain karena Irian Barat (kini Papua) masih dikuasai Belanda dan perekonomian dunia masih dikuasai oleh negara-negara imperialis. Pengobaran semangat revolusi oleh Soekarno antara lain ditujukan untuk memupuk semangat nasionalisme masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga Feith menjuluki Soekarno sebagai seorang solidarity-maker (Herbert Feith, op.cit.,). Sebagai seorang administrator yang sangat peduli terhadap keterbelakangan rakyat Indonesia, Hatta yang ahli ekonomi memberikan perhatian khusus pada masalah ekonomi. Hal demikian tentu berimplikasi terhadap kebijakan luar negeri yang harus ditempuh. Dalam masalah Irian, Hatta mendorong agar penyelesaiannya dilakukan melalui perundingan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda. Hatta juga tidak mempersoalkan aset-aset yang masih dikuasai Belanda di Indonesia. Indonesia juga berupaya menjalin kerja sama ekonomi dengan negara-negara industri maju, seperti AS , Jepang dan negara-negara Eropa Barat. Kebijakan luar negeri Indonesia yang kooperatif ini, tanpa meninggalkan prinsip bebas aktif, ditujukan untuk mengundang simpati dan dukungan internasional bagi pembangunan Indonesia, serta untuk menciptakan suasana yang kondusif di dalam negeri. Dari sini kita lihat, bagi Hatta prinsip bebas aktif lebih diartikan sebagai tidak memihak secara politik dalam Perang Dingin, dan tidak mengikatkan diri dalam aliansi militer, bukan independensi dalam bidang ekonomi. Dalam hal ini Hatta berbeda pendapat dengan Soekarno yang mendorong agar masyarakat Indonesia berdikari, walaupun sikap tersebut terbukti merugikan pertumbuhan ekonomi nasional. Perbedaan dalam masalah luar negeri antara Soekarno dan Hatta merupakan salah satu faktor penting pecahnya Dwitunggal Soekarno-Hatta. Sangat disayangkan, kebijakan dan strategi luar negeri yang mengedepankan dialog dalam penyelesaian konflik dengan Belanda mengenai Irian Barat tidak berhasil, sehingga mendorong radikalisasi politik luar negeri Indonesia. Upaya untuk tetap mempertahankan kerja sama ekonomi dengan negara-negara Barat serta membiarkan Belanda tetap menjalankan usahausahanya di Indonesia untuk menjamin kelangsungan roda ekonomi kandas ketika Dewan Keamanan PBB gagal mengeluarkan resolusi untuk memaksa Belanda berunding dengan Indonesia tanggal 29 November 1957. Perlu dicatat, sejak 1 Desember 1956, Hatta mengundurkan diri dari kursi Wakil Presiden karena perbedaan pendapat yang semakin tajam dengan Presiden Soekarno. Dengan demikian, sama halnya dengan perkembangan politik domestik, pengaruh Hatta yang selalu mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi, dialog dan kerja sama juga hilang dari kebijakan politik luar negeri Indonesia. Berhentinya Hatta sebagai wakil presiden merupakan salah satu faktor penting yang memicu pemberontakan regional serta lahirnya pemerintahan yang semakin otoriter dalam bentuk "Demokrasi Terpimpin" di bawah Presiden Soekarno. Distorsi Tidak kalah pentingnya, doktrin politik luar negeri bebas aktif yang tidak membenarkan Indonesia memihak pada satu blok mengalami distorsi ketika Indonesia berkonfrontasi dengan negaranegara Barat dan pada saat bersamaan menjalin hubungan yang semakin erat dengan negaranegara komunis. Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno menganggap negaranegara Barat sebagai kekuatan Nekolim (neo-kolonial-dan imperialis) atau Oldefos (old established forces) yang harus dihadapi dan dikalahkan oleh negara-negara Nefos (new

emerging forces), yang terdiri dari negara-negara komunis, sosialis dan negara-negara berkembang. Pergeseran ke kiri dalam politik luar negeri Indonesia dipicu oleh kekecewaan terhadap AS dan sekutunya yang tidak mendukung Indonesia dalam memperjuangkan Irian Barat sehingga Belanda menolak untuk berunding dengan Indonesia. Sebaliknya negara-negara komunis seperti Uni Soviet dan RRC mendukung perjuangan Indonesia merebut kembali Irian Barat, termasuk dengan memberikan dukungan senjata. Seperti diketahui setelah Irian Barat dapat direbut kembali dari Belanda, antara lain karena tekanan AS terhadap Belanda untuk mencegah agar Indonesia tidak terlalu dekat pada negaranegara komunis, Indonesia justru melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia tahun 1963. Permusuhan Indonesia dengan Blok Barat dan kedekatan Indonesia dengan negara-negara komunis di Asia semakin kental ketika Soekarno mencetuskan Poros Jakarta-Phnom PenhHanoi-Pyongyang-Peking seperti telah disinggung sebelumnya. Tahun 1965 Indonesia juga menyatakan diri keluar dari PBB (walaupun Dubes RI di PBB hanya membekukan keanggotaan RI), sebagai protes atas diterimanya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB (JAC Mackie, Konfrontasi: The Indonesia-Malaysia Dispute, 1963-1966, Oxford University Press, Kuala Lumpur etc, 1974). Kekuasaan Presiden Soekarno berakhir setelah peristiwa G30S, yang merupakan puncak dari konflik antara PKI dan Angkatan Darat, di mana sejumlah perwira tinggi diculik dan dibunuh. PKI dianggap bertanggung jawab terhadap pembunuhan tersebut, dan kedekatan Presiden Soekarno dengan PKI menyebabkan dirinya dicopot dari jabatan presiden seumur hidup. Salah satu prioritas pemerintahan Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto adalah "meluruskan" kembali pelaksanaan politik luar negeri Indonesia, yang dianggap telah melenceng jauh dari doktrin bebas dan aktif. Namun, pada kenyataannya hal tersebut juga sulit diwujudkan. Pertama, sebagai pemerintahan yang sangat antikomunis rezim Orde Baru membekukan hubungan dengan RRC yang dituduh terlibat dalam G30S, serta menjaga jarak dengan negara-negara komunis lainnya. Kedua, untuk mendukung pembangunan ekonomi yang menjadi fokus utama Orde Baru, Presiden Soeharto menjalin hubungan yang erat dengan negara-negara industri maju, seperti AS, Jepang dan negara-negara Eropa Barat. Sebatas pernyataan Sejak Orde Baru berdiri sampai Perang Dingin berakhir tahun 1990, politik luar negeri yang bebas aktif dapat dikatakan sebatas pernyataan resmi. Indonesia memang tidak pernah menandatangani perjanjian pertahanan atau menjadi anggota pakta militer, namun kerja sama militer antara Indonesia dan AS pada masa ini sangatlah erat. Para perwira militer Indonesia mendapatkan kesempatan belajar dan berlatih di AS. Washington juga menjual perlengkapan persenjataan canggih seperti pesawat tempur F-16 ke Indonesia, yang biasanya hanya dijual kepada negara-negara sekutunya, sehingga Indonesia pada waktu itu dapat dikatakan telah menjadi sekutu AS secara de facto (Juwono Sudarsono, Indonesia and the United States, 19661975. An Inquiry into a de facto Alliance Association. PhD Thesis, London School of Economics, University of London, 1979). Walaupun secara resmi Indonesia tetap memegang teguh doktrin politik luar negeri yang bebas dan aktif, tampaknya memang sulit bagi negara ini untuk betul-betul menjaga jarak dan tidak terlibat dalam konflik Perang Dingin selama dunia masih terbelah dalam dua blok yang berlawanan. Meskipun raison d'etre politik luar negeri bebas aktif adalah keinginan untuk menentukan jalan sendiri dalam percaturan internasional yang didominasi AS dan Uni Soviet, tuntutan dalam negeri akhirnya memaksa Indonesia untuk condong ke satu blok atau lainnya, sesuai dengan kebutuhan. Ketika prioritas dalam negeri adalah merebut kembali Irian Barat dari

tangan penjajah, Indonesia terpaksa mencari dukungan dari negara-negara yang juga menentang kolonialisme dan imperialisme. Dalam menjalin kerja sama regional ASEAN (Association of South East Asian Nations) misalnya, di mana sebagain anggota terikat dalam perjanjian pertahanan dengan kekuatan luar, Indonesia senantiasa berupaya memberikan warna politik luar negeri bebas aktif. Atas desakan Indonesia, Deklarasi ASEAN menyatakan, pangkalan militer asing di kawasan ini bersifat sementara dan tidak ditujukan terhadap negara anggota lainya. Indonesia juga mendukung terciptanya Zone of Peace, Freedom and Neutality (ZOPFAN) di Asia Tenggara, yang dimaksudkan untuk mencegah intervensi kekuatan asing, khususnya dalam bidang keamanan. Wujud dari sikap antipenjajahan antara lain ditunjukkan Indonesia dengan tidak mengakui pemerintahan apartheid di Afrika Selatan ataupun Israel yang telah menduduki wilayah Palestina. Secara konsisten, terlepas dari prioritas dalam negeri, Indonesia selalu mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk membentuk negara sendiri. Indonesia juga mendukung perjuangan kemerdekaan Namibia dari Afrika Selatan. Sejak pertengahan tahun 1980-an Presiden Soeharto mulai berupaya menyeimbangkan hubungan luar negeri Indonesia dengan memberikan perhatian yang lebih besar kepada negaranegara berkembang, sambil tetap menjaga hubungan dengan negara-negara maju yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Misalnya Indonesia memperingati 30 tahun KAA bulan April 1985 dengan mengundang pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika untuk menghadiri perayaan di Bandung. Indonesia juga meningkatkan perhatian pada Gerakan Nonblok sehingga Indonesia terpilih menjadi Ketua GNB pertama setelah Perang Dingin berakhir untuk periode tahun 19921995. Keterlibatan dalam Gerakan Nonblok menjadi salah satu simbol komitmen Indonesia terhadap doktrin politik luar negeri bebas aktif. Namun, dengan berakhirnya Perang Dingin makna ataupun relevansi politik luar negeri bebas aktif mulai dipertanyakan. Misalnya, apakah prinsip bebas aktif semata-mata diartikan sebagai nonblok, sementara sistem bipolar antara Blok Barat dan Blok Komunis telah berakhir? Kalau demikian banyak pihak pasti akan mengatakan, doktrin ini menjadi kurang relevan dengan situasi dunia dewasa ini. Gerakan Nonblok sendiri tentu harus melakukan redefinisi terhadap visi dan misinya untuk tetap eksis di era pasca-Perang Dingin, walaupun nama GNB sendiri memiliki nilai sejarah sehingga perlu dipertahankan. Di samping itu apakah sikap Indonesia mengenai kerja sama militer dengan pihak luar-selalu menolak aliansi pertahanan-perlu dipertahankan? Perdebatan-perdebatan ini mulai muncul sejak Perang Dingin berakhir, yang melahirkan berbagai kesempatan dan tantangan baru. Dewi Fortuna Anwar Peneliti LIPI dan Habibie Center

Mendayung di Antara Asketik dan Politik
* Ignas Kleden PADA tahun 1976, diterbitkan sebuah buku kecil Bung Hatta berjudul Mendayung Di Antara Dua Karang (Bulan Bintang, Jakarta, 1976), yang berisikan tiga pidatonya sebagai wakil pemerintah. Isi pokok ketiga pidato tersebut adalah penjelasan dan pertanggungan jawab kepada Badan

Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), mengenai garis politik luar negeri yang diambil oleh Republik Indonesia. Garis itu adalah garis bebas aktif, yaitu tidak memihak kepada salah satu dari dua blok ideologi pada waktu itu, yaitu blok Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah pimpinan Uni Soviet. Indonesia akan menentukan garisnya sendiri, yang dapat menyumbang kepada terjaminnya kedaulatan tiap-tiap negara dan terbentuknya perdamaian dunia. Bukan kebetulan bahwa buku kecil itu mengambil judul Mendayung Di Antara Dua Karang karena sikap bebas-aktif seperti itu pada hemat penulis, ini menjadi sikap dasar dari Mohammad Hatta, yang selalu mendayung di antara dua karang dalam hidupnya, yakni di antara keharusan menyelesaikan studi di perguruan tinggi dan kewajiban untuk terlibat dalam perjuangan politik untuk Indonesia Merdeka, di antara hormat dan kepatuhannya kepada keluarga besarnya dan panggilan untuk menjadi patriot paripurna, di antara pilihan politik kooperasi dan nonkooperasi sebagaimana terlihat dalam polemiknya yang keras dan jernih dengan Soekarno (sehubungan dengan pencalonan Hatta sebagai anggota Tweede Kamer di Belanda), dan di antara pendidikan politik dan mobilisasi politik yang menjadi pokok perbedaan strategi. Partindo dan PNI Baru yang menyebabkan kedua partai politik itu akhirnya bertukar jalan. Yang paling tragis di atas segala-galanya adalah pilihan sulit untuk mempertahankan keutuhan Dwitunggal Soekarno-Hatta, dan dengan cara itu menyelamatkan kepemimpinan nasional, atau sikap tanpa tawar-menawar dalam mengikuti prinsip-prinsip yang menentukan moralitas dari tindak tanduk politiknya. Esai kecil ini ingin memperlihatkan bahwa sudah dari awal riwayat hidupnya, Hatta rupanya terlempar dalam ketegangan arus tarik-menarik itu dalam keluarga besarnya, yang dari pihak ayah mewariskan suatu tradisi keagamaan yang lama berakar dalam komunitas sufi, dan yang dari pihak ibu membuka lebar suatu cakrawala modernisme, bisnis dan ilmu pengetahuan. Apakah Hatta selalu berhasil dengan selamat mendayung di antara dua karang terjal itu, hal itu akan dicoba diuraikan dalam bagian-bagian berikut tulisan ini. Bukan paksaan keadaan Hatta adalah seorang pemimpin yang bertindak menurut pikiran dan hati nuraninya, dan bukannya menurut paksaan keadaan, atau senang menumpang kemungkinan yang diberikan oleh kesempatan. Hampir tidak ada peristiwa dalam hidupnya bahwa Hatta mengambil langkah yang tidak konsisten dengan apa yang dipikirkan, diucapkan atau ditulisnya, atau memakai suatu kesempatan yang datang secara kebetulan yang tidak diperhitungkannya sebelumnya. Membaca riwayat hidup dan perjuangannya bukanlah menyaksikan sepak bola indah yang penuh warna-warni dan kejutan, tetapi melihat suatu permainan yang dingin, penuh perhitungan, taat asas, dan kadang-kadang membosankan, tetapi yang efektivitasnya didukung oleh disiplin tinggi dan keyakinan yang teguh. Keberaniannya tidak tampak dalam gemuruh pidato yang berapi-api, tetapi dalam ketenangan menghadapi penderitaan, tahanan dan pembuangan. Dari segi ini, Hatta dan Soekarno dapat merupakan perpaduan yang sangat ideal untuk bangsa dan rakyat Indonesia-yaitu perpaduan antara karisma dan rasionalitas-sekalipun kombinasi ini sangat sulit untuk kedua tokoh ini sendiri. Di banyak tempat dalam tulisannya, ia menekankan berulang kali bahwa pemimpin yang dapat diandalkan oleh pengikutnya adalah pemimpin yang mempunyai keberanian untuk menderita dan menahan rasa sakit. Sementara Soekarno memandang revolusi dari akibat yang ditimbulkannya, yaitu menjebol dan membangun, maka Hatta melihat revolusi dari kondisi agen yang menjalankannya. Untuk mengutip kata-katanya sendiri, "Tanda revolusioner, bukan bermata gelap, melainkan beriman, berani menanggung siksa dengan sabar hati, sambil tidak melupakan

asas dan tujuan sekejap mata juga. (Emil Salim et al, Karya Lengkap Bung Hatta, Buku 1: Kebangsaan dan Kerakyatan, LP3ES, Jakarta, 1998, halaman 270) Dilihat dengan cara itu, Hatta bukanlah pemimpin yang disorak-soraki para pengikutnya ketika menikmati kejayaan atau yang diratapi selagi ia dirundung malang. Ia adalah tokoh yang terbiasa dengan kesunyian dan kesendirian karena hanya seorang yang dapat mempertahankan kesendirian dalam kesunyian dapat berpikir, merenung dan menulis demikian banyak dalam hidupnya, dan dapat menetapkan tiap jejak langkahnya dengan pemikiran yang matang dan tenang. Dapat dikatakan dengan pasti bahwa Hatta adalah tokoh dari generasi founding fathers yang paling banyak menghasilkan karya tulis. Ketika Soekarno dibuang ke Ende, Flores, ia membentuk kelompok sandiwara yang dipimpinnya sendiri. Ketika Sjahrir dibuang di Bandaneira, ia menghabiskan sebagian besar waktunya bermain dengan anak-anak dan mengajar mereka. Tetapi, ketika Hatta dibuang ke Boven Digul, ia mempelajari filsafat Yunani dan mengajarnya kepada kawan-kawannya sesama tahanan. Dengan yakin ia menulis, "... filosofi berguna untuk penerang pikiran dan penetapan hati. Ia membawa kita ke dalam alam pikiran, alam nurani semata-mata. Dan oleh karena itu melepaskan kita daripada pengaruh tempat dan waktu." Dalam pergaulan hidup yang begitu menindas akan rohani, sebagai di tanah pembuangan Digul, keamanan perasaan itu perlu ada. Siapa yang hidup dalam dunia pikiran, dapat melepaskan dirinya daripada gangguan hidup sehari-hari." (M Hatta, Alam Pikiran Yunani, Tintamas, Jakarta, 1983, Pengantar Kalam) Kata-kata itu ditulisnya tahun 1941 ketika Hatta sudah dipindahkan ke Bandaneira. Dengan istilah-istilah yang jamak dalam studi filsafat, keteguhan seseorang dalam imanensi, yaitu dalam pergulatannya sehari-hari menghadapi situasi sosial-politik yang terus berubah dan penuh pergolakan, hanya dimungkinkan oleh kemampuan transendensi, yaitu kesanggupan untuk melepaskan diri sewaktu-waktu dari keadaan itu, kembali ke dalam alam pikiran dan hati nurani, bukan untuk tujuan melarikan diri, tetapi untuk "penerang pikiran dan penetapan hati". Setiap tokoh kita yang pernah mengalami pembuangan melakukannya, meskipun barangkali tidak dengan kesadaran yang demikian eksplisit seperti pada Hatta. Ketika Soekarno dibuang ke Ende, ia mulai memperdalam studi dan keyakinannya tentang Islam, ketika berada di Bandaneira, Sjahrir menulis renungan-renungan kebudayaan terbaik yang pernah dihasilkannya, yang, seperti juga pada Hatta, tujuannya adalah mengambil jarak dari "pergaulan hidup yang begitu menindas akan rohani." Atau dalam ungkapan yang lebih teologis, aktivisme politik rupanya harus ditunjang juga oleh semacam asketisme spiritual dan kontemplasi rohani. Ibaratnya, semakin tinggi pohon, semakin dalam pula akarnya harus menghunjam ke Bumi. Untuk Hatta sendiri, sikap dan pandangan hidup seperti ini, bukanlah sesuatu yang ditemukannya secara kebetulan, atau muncul berkat pengalaman pergaulannya di Eropa. Pendirian dan keyakinan seperti itu sepertinya sudah disiapkan oleh riwayat hidupnya semenjak kecil, dan diberikan oleh warisan rohani keluarganya sendiri. Semenjak kecil, Hatta seakan berada dalam ketegangan antara dunia tradisi dan sufi pada satu pihak dan modernitas, ilmu pengetahuan, bisnis dan dunia perdagangan pada pihak lainnya. Jauh di kemudian hari, Hatta merumuskan hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama secara lebih sistematis, "Sungguh pun agama mempunyai medannya sendiri, terpisah dari medan ilmu, agama adalah datum bagi ilmu. Sebagaimana ilmu yang dipahamkan dapat memperdalam keyakinan agama, demikian juga kepercayaan agama dapat memperkuat keyakinan ilmu dalam menuju cita-citanya. Juga ilmu dituntut, pada hakikatnya, untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia. Tidak sedikit korban yang diberikan oleh pujangga

ilmu untuk mencapai pengetahuan yang dapat memperbaiki keadaan masyarakat. Kekuatan jiwa untuk berkorban itu sering diperoleh dari tekad dan keyakinan agama." (Mohammad Hatta, Pengantar Ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan, Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 1987, cetakan 7, halaman 41) Ketegangan di antara Islam dan Barat, sufisme dan modernisme, agama dan ilmu pengetahuan, tidak menimbulkan antagonisme dalam diri Hatta, tetapi justru membuat dia berkembang secara matang dalam kedua bidang tersebut, yaitu mendalami ilmu pengetahuan secara tekun, sambil mempertahankan disiplin spiritualnya tanpa diguncang oleh segi-segi yang lebih liberal dalam moral orang-orang Eropa. Pada diri Hatta tidak pernah kelihatan dualisme antara agama dan ilmu pengetahuan, antara politik sekular dan keyakinan religius yang mendalam, mungkin karena kedua bidang itu tidak dihayati sebagai dua kutub yang saling bertentangan, tetapi sebagai dua kekuatan yang dapat terpadu secara harmonis dalam apa yang oleh ahli perbandingan agama, Mircea Eliade, dinamakan coincidentia oppositorum (bertemunya berbagai kontradiksi dalam diri seseorang tanpa menimbulkan konflik) yang menjadi kebajikan para sufi. (Wendell C Beane & William G Doly (eds), Myths, Rites, Symbols: A Mircea Eliade Reader, vol 2, Harper & Row, New York, 1976, hal 449) Seni berprinsip Dalam sebuah karangan yang dapat dianggap sebagai pesan untuk PNI, Hatta menulis tentang Soekarno dan tokoh-tokoh lainnya yang ditahan sebagai berikut, "Kita masgul, kita bersedih hati, karena ketua kita, Ir Soekarno, serta beberapa pemimpin kita yang lain, masih dalam tahanan. Kita sakit hati melihat nasibnya di dalam bui. Akan tetapi, kita tak harus menundukkan kepala. Apa juga yang akan jatuh pada diri saudara-saudara Soekarno dan yang lain-lain yang tertahan, kita mesti tahu bahwa mereka itu sudah dengan segala ketetapan hati menanggung segala deritaan yang akan jatuh pada diri mereka. (......) Tiap-tiap pemimpin yang menyerbukan dirinya ke dalam golongan rakyat telah mengetahui lebih dahulu, bahwa hidupnya tidak akan senang, bahwa ia tidak selama-lamanya akan tidur di atas kasur kapas yang enak. (Emil Salim et al op cit, halaman 110) Terlihat di sini, betapa Hatta tidak hanya percaya kepada dirinya sendiri dalam berhadapan dengan kesulitan dan penderitaan, tetapi dia pun mempunyai keyakinan yang sama terhadap rekan-rekan seperjuangannya yang dianggap sebagai sesama pemimpin pergerakan dan pemimpin bangsa. Kalau Otto von Bismarck dari Prusia pernah mendefinisikan politik sebagai Kunst des Moeglichen, yaitu seni memakai kemungkinan-kemungkinan, maka kehidupan Hatta secara politik memberikan gambaran sebaliknya bahwa politik dapat juga dihayati sebagai seni mempertahankan prinsip-prinsip. Pada diri tokoh ini politik tidaklah begitu tampil sebagai the art of the possible, tetapi justru sebagai the art of principles. Sikap seperti ini menyebabkan bahwa tokoh seperti Hatta seringkali memperlihatkan suatu jenis keberanian, yang tidak dapat diterangkan hanya sebagai pembawaan psikologis (misalnya karena seseorang dilahirkan tanpa kepekaan terhadap rasa takut), tetapi suatu jenis keberanian yang hanya dapat dipahami sebagai konsekuensi dari suatu kesimpulan filosofis. Sikap ini dapat dinamakan posisi Socratik karena merupakan ajaran hidup dan contoh hidup yang diberikan oleh Socrates sendiri. Pemahaman Hatta tentang Socrates dalam studi-studi sejarah filsafat yang dilakukannya, merupakan suatu tafsiran yang tepat sekali, karena filsafat pada Socrates bukanlah disiplin untuk mendapatkan dan menguji keabsahan pengetahuan, melainkan disiplin untuk mengetahui sesuatu dengan benar, supaya pada akhirnya seseorang dapat mengambil sikap yang benar, yang berdiri di atas pengetahuan yang benar.

Pengetahuan pada Socrates bukanlah suatu kategori epistemologis, sebagaimana kemudian dibakukan dalam filsafat Plato. Pengetahuan pada Socrates pertama-tama adalah suatu kategori etis. Pengetahuan bukanlah teori atau doktrin, melainkan sikap hidup. Demikian pun pertanyaan yang diajukan Socrates bukanlah pertanyaan ilmiah (Apa sebab seseorang menjadi takut, faktorfaktor apa yang membuat seseorang cenderung merasa takut dan apa pula latar belakangnya), melainkan pertanyaan filosofis (Apa itu rasa takut, apa hakikat dari ketakutan itu, dan apa rasa takut itu sesuatu yang benar-benar ada). Apa yang ditulis Hatta tentang Socrates merupakan suatu pelajaran yang sangat mungkin dihayati Hatta sendiri dalam kehidupan pribadi dan kehidupan politiknya. Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malahan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang bersandarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir. (Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, Tintamas, Jakarta, 1983, halaman 80) Menarik untuk dicatat, Hatta juga menemukan pada diri Socrates suatu keyakinan lainnya bahwa kebenaran selalu merupakan hasil dari suatu pencarian bersama dan bukan hasil renungan perorangan. Hal ini menjadi semakin menarik karena dalam paham politiknya, Socrates dikenal sebagai orang yang menolak demokrasi, dengan alasan bahwa pemerintahan oleh rakyat hanya memberi kemungkinan negara diatur oleh sembarang orang, termasuk oleh orang-orang bodoh dan tak bermoral. Sekalipun demikian dalam paham filsafatnya, Socrates justru menerapkan demokrasi itu secara konsisten dan tuntas, dengan menekankan bahwa kebenaran bisa lahir dari diri siapa saja, asal saja kita pandai membantu proses lahirnya kebenaran itu dari diri orang bersangkutan dan tidak malah menghalanginya. Pada titik inilah filosof seperti Karl Popper dengan tegas menggariskan perbedaan pokok di antara rasionalisme Socrates dan intelektualisme Plato. (Karl R Popper, Die Offene Gesellschaft Und Ihre Feinde, Bd 2, Francke Verlag, Muenchen, 1980, halaman 279) Menurut Popper, seorang intelektual adalah seseorang yang merasa mempunyai pengetahuan lebih, dan kemudian mengklaim juga kedudukan dan status khusus dalam masyarakat berdasarkan pengetahuannya itu. Ideal Plato tentang kepala negara sebagai gabungan filosofraja (the philosopher-king), dalam pandangan Popper mencerminkan pandangan seorang intelektual. Rasionalisme Socrates justru mulai dengan kesadaran bahwa saya tidak tahu dan karena itu mungkin orang lain dapat membantu saya mendapatkan pengetahuan yang saya perlukan. Kebenaran adalah sesuatu yang didapat dalam pergaulan dengan orang lain, asal saja kita menghadapi orang lain dengan sikap seorang pencari kebenaran, dan bukannya dengan sikap seorang pemilik kebenaran. Posisi ini ditangkap oleh Hatta dengan amat tepatnya ketika dia menulis, "Dalam mencari kebenaran itu, ia (Socrates, penulis/IK) tidak memikir sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Sebab itu, metodenya itu disebutnya maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai dukun beranak." (Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, halaman 81) Tidak ada petunjuk dalam tulisan-tulisan Hatta apakah keyakinannya tentang demokrasi sebagai bentuk politik yang setepat-tepatnya untuk sebuah negara modern telah diilhami juga oleh posisi Socratik yang dilukiskannya dengan amat indahnya. Namun demikian, dapat dikatakan dengan

pasti bahwa keberanian moral dan keteguhan hati yang berulang kali diperlihatkan oleh Hatta dalam berhadapan dengan kesulitan-kesulitan politik, jelas merupakan keberanian filosofis (dan bukan sekadar keberanian psikologis) yang berasal dari suatu posisi Socratik yang telah dipelajarinya dengan baik dalam studinya tentang sejarah filsafat Barat. Ia adalah seorang yang bersedia dan terlatih memakai logikanya secara ketat untuk mempertimbangkan segala sesuatu, terutama mempertimbangkan alasan mengapa suatu tindakan harus dilakukan atau tidak harus dilakukan, dan bukannya apakah tindakan itu membawa akibat baik atau akibat yang merugikan. Dengan lain perkataan, kalau Hatta harus menghadapi keadaan di mana ia harus memilih untuk setia kepada norma-norma dan prinsipnya sendiri atau harus berkompromi dengan situasi dan kenyataan, maka ia lebih cenderung memilih bersiteguh pada norma-norma dan prinsipnya sendiri. Seperti sudah dikatakan sebelum ini, pendirian etis seperti ini memang memberikan keteguhan batin yang luar biasa kepada Hatta dalam menghadapi saat-saat sulit, tetapi tidak selalu membawa manfaat secara politis. Kisah berakhirnya kerja sama Dwitunggal Soekarno-Hatta adalah juga sebuah konsekuensi dari pilihan etis Hatta. Buat sebagiannya, Hatta mengalami kesulitan dengan gaya Soekarno yang sangat flamboyan, menarik dan mempesona orang, tetapi tidak banyak memperhitungkan akibatnya secara administratif dan keuangan. Kritik Hatta terhadap perjalanan Bung Karno yang terlalu sering ke luar negeri disertai rombongan besar adalah sebuah pemborosan. Sementara itu Hatta merasa, beberapa tindakan Presiden Soekarno telah diambil tanpa membicarakannya dengan dirinya sebagai Wakil Presiden, padahal dia turut bertanggung jawab secara moral terhadap akibat tindakan tersebut, tetapi merasa tidak berdaya mempengaruhinya. Pemberian grasi oleh Presiden Soekarno kepada Djody Gondokusumo, misalnya, telah dilakukan tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan Hatta. (Deliar Noer, op cit, halaman 484) Akhir dari situasi ini adalah sepucuk surat yang dilayangkannya kepada DPR hasil pemilihan umum yang berisikan kalimat-kalimat yang tak mungkin disalahartikan, "... setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden." Selanjutnya pada tanggal 1 Desember 1956, Hatta benar-benar meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden. Pengunduran diri itu diperkuat oleh Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1957, ketika Presiden Soekarno secara resmi memberhentikan Mohammad Hatta dari jabatannya selaku Wakil Presiden. Keputusan ini jelas membawa kesedihan dan kekecewaan kepada pengikut dan para pendukung dan pengagumnya. Keputusan ini juga sudah jelas mempunyai banyak akibat secara politik, di mana berbagai kesulitan politik yang timbul semenjak masa itu barangkali saja dapat dicegah seandainya masih ada Hatta di samping Soekarno. Akan tetapi, Hatta terlalu logis untuk membiarkan demikian banyak kontradiksi yang berkecamuk di hadapan matanya dan yang akibatnya harus ditanggungnya pula. Uniknya ialah bahwa pada titik yang penting ini Hatta yang rasionalis tidak bisa diatasi oleh Hatta yang dibesarkan dalam komunitas sufi, di mana coincidentia oppositorum adalah sesuatu yang dapat diterima dan dihayati tanpa menimbulkan konflik. Apa yang terjadi setelah itu sudah diketahui semua orang, Pemberlakuan Demokrasi Terpimpin, di mana Presiden mengambil kembali kekuasaan eksekutif ke dalam tangannya, dengan cara memberlakukan kembali UUD 1945. Soekarno kehilangan seseorang yang mempunyai keberanian untuk mengatakan sesuatu yang benar kepadanya, sekalipun hal itu akan merupakan pengalaman pahit bagi yang mendengar maupun yang mengatakannya. Hatta kembali menjadi warga negara biasa, menjadi "hati nurani" bangsanya, tetapi tanpa ada kekuasaan di tangan yang dapat menentukan arah perkembangan bangsa dan negaranya. Di antara moralitas dan kekuasaan, ia telah memilih yang pertama, dengan akibat bahwa kekuasaan politik yang dijalankan setelah ia mengundurkan diri sedikit banyaknya lepas dari ketatnya kontrol moral.

Seorang yang dibesarkan dalam tradisi sufi, barangkali dapat menanggung banyak penderitaannya secara pribadi, tetapi seseorang yang matang dalam ilmu pengetahuan dan digembleng dalam perjuangan politik, pada akhirnya tidak dapat menanggung beban yang diakibatkan oleh perkembangan politik, yang dalam pandangannya tidak bersifat politically correct. Hatta secara pribadi adalah sebuah monumen dalam ingatan kolektif bangsa ini, tetapi secara politik ia telah mengundurkan diri terlalu cepat dari suatu kegalauan yang diakibatkan oleh dominasi the art of the possible dan menyempitnya ruangan untuk the art of principles. Dr Ignas Kleden Sosiolog, Direktur Center for East Indonesian Affairs (CEIA)/Pusat Pengkajian Indonesia Timur, Jakarta.

Pencerahan Diri Hatta Memilih antara Takwa dan Kekuasaan
* Deliar Noer ALMARHUM Mohammad Hatta, seorang dari dua proklamator kemerdekaan kita dan wakil presiden negeri kita yang pertama, menjalani beragam hidup, yakni yang menyenangkan, yang memberi harapan bagi diri dan bangsa, tetapi juga bisa yang menyedihkan, yang seharusnya tidak ditemui dan dijalani olehnya untuk kepentingan bangsa dan negara. Ia seorang Muslim yang taat, boleh dikatakan kehidupan dunia tidak menarik hatinya benar, atau kehidupan dunia menariknya sejauh yang ia kaitkan dengan tugasnya sebagai manusia. Tiap tindakan dan langkahnya senantiasa ia hubungkan dengan kepentingan orang banyak, dan kepentingan ketenteraman dirinya sendiri sebagai tanggung jawabnya kepada Allah. Namun, akhirnya kita juga bertanya, apakah segala langkah yang dipilihnya, segala kerja yang diusahakannya, segala pengorbanan yang ia berikan, sesuai dengan harapannya sendiri; atau sesuai dengan kebahagiaan yang tentu ia bayangkan, sekurang-kurangnya kebahagiaan batin. Atau juga sesuai dengan harapan masyarakat, bangsa, dan negara, atau sebaliknya. Yang jelas kekuasaan negara yang ia tinggalkan karena ia berhenti sebagai wakil presiden atas kemauannya sendiri (Desember 1956) tidak memperlihatkan perubahan ke arah yang baik. Bisa dicatat, sejak Hatta berhenti sebagai Wakil Presiden, keadaan kehidupan negara tidaklah membaik dengan bergantinya demokrasi dengan kekuasaan, musyawarah dengan kemauan penguasaan sendiri, partai-partai dan manusia yang lebih mendukung apa saja yang dikatakan Presiden sehingga cita-cita negara merdeka, yaitu masyarakat adil, makmur, dan sejahtera jauh panggang dari api. Ada cetusan harapan terbayang pada akhir tahun 1965 dan tahun 1966 serta tahun 1967 dengan perubahan pemerintahan dari Soekarno kepada Soeharto, tetapi harapan ini pun cepat berganti dengan kekecewaan. Ada yang perlu dikemukakan lebih dahulu sebelum kita melanjutkan cerita tentang Hatta. Berbeda dari pengalaman banyak manusia Barat yang mengenal pencerahan dengan lebih banyak menolak tradisi dengan mengembangkan apa yang disebut modern, Hatta dalam pencerahan dirinya tampaknya bisa menerima tradisi, sekurang-kurangnya sebagian tradisi yang tergambar dalam ketaatannya pada ajaran Islam dan adat yang diwarisinya dari bangsanya. Pengaruh sosialisme demokrasi Barat pada dirinya pun bagai sejalan dengan sifat gotong royong yang dijumpai dalam kehidupan asli bangsanya. Ajaran agama Islam yang terkesan kuat pada dirinya. Malah pembawaannya mencerminkan ajaran agama tersebut, walaupun ia sendiri tiap menghadapi masalah tidak selalu dengan

sengaja merujuk pada ajaran itu. Maka, mudahlah kita berkata bahwa ia taqwa, tawakal, serta sabar menghadapi cobaan, berserah diri kepada Allah SWT, berusaha untuk bersikap lurus dan amanah, satu kata dengan perbuatan, ramah, sopan, dan santun; menyayangi yang kecil, menghormati yang tua. Ia tidak pula besar pasak daripada tiang, ia hemat. Dalam kesempatan apa pun, ia tidak mengejar harta, padahal kesempatan tersebut terbuka sangat baginya. Tetapi, ia tegas, namun tidak keras menghadapi orang lain. Ia pun teguh memegang adat, adat Minang. Dalam hubungan dengan ajaran Islam di atas, ia berpegang pada kata-kata; syara' mangato, adat memakai (syara'-hukum agama Islammenentukan, adat memakainya). Ia berpegang pada kebersamaan sebagai salah satu kearifanan adat Minang. Sesuai dengan kearifatan adat Minang pula, ia juga memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Tidak ada kompromi tentang hal ini. Dengan demikian, walaupun tidak banyak ia kemukakan dengan kata-kata, namun pada akhirnya dapat juga diperhatikan bahwa ia memegang teguh adat Minang karena memang banyak persesuaiannya dengan ajaran agama, dan juga dengan bagian pemahaman tertentu dari apa yang berkembang di Barat-pengaruh ketiga pada dirinya. Pengaruh ketiga ini berkembang padanya karena memang ia melanjutkan sekolahnya di sekolah Barat, apalagi di dunia Barat, khususnya Belanda. Namun, perlu juga dicatat bahwa ia pun memilih-milih pula dalam rangka ini. Apalagi ia memang sangat suka membaca, bukan saja buku wajib di sekolah, tetapi juga buku yang dianjurkan, malah yang diusahakannya sendiri. Dalam rangka belajar di Barat ini, ia tentu memilih, sesuai dengan keperluan yang akan disumbangkannya kemudian kepada bangsa dan Tanah Air-nya. Ia memang dari masa mudanya benar bergerak dalam pergerakan, mulanya bersifat daerah, kemudian bersifat nasional. Namun, Hatta gembira juga ketika menjelang tahun 1930, Barat (dan umumnya dunia karena pengaruh Barat) dilanda krisis, yang menyebabkan perhatian di Barat, termasuk si kapitalis, mulai diarahkan kepada penduduk yang lemah, termasuk kaum buruh. Tak kurang dari Presiden Roosevelt sendiri yang menerapkan perbaikan nasib buruh, dan manusia umumnya. Walau masih mengaku sebagai kapitalis, negeri-negeri Barat tersebut sudah memperhatikan perlunya pemerataan pendapatan. Apalagi, seperti dikatakan oleh pemilik pabrik mobil Ford ketika datang ke negeri Belanda tahun 1925, dan para wartawan mewawancarainya, bahwa keadaan sosial buruh ia perhatikan di pabriknya, bukan karena ia sudah menjadi sosialis, tetapi karena dengan keadaan buruh yang sejahtera dan senang, mereka akan bekerja tambah keras di pabriknya. Hubungan penguasa pabrik dengan buruh yang berubah bagai bersaudara itu dilihat sendiri oleh Hatta ketika ia, tahun 1961, diundang ke Amerika Serikat dengan menyinggahi perusahaanperusahaan besar serta lembaga-lembaga universitas. Ia bercerita antara lain bahwa ia heran melihat manajer atau direktur pabrik yang disapa oleh buruhnya dengan kata "hallo John" atau "Hi (baca hai), John", suatu sapaan akrab bagaikan antara sesama dan bukan antara buruh dengan majikan. Terhadap pemikiran Marx sendiri Hatta tidak menerimanya sepenuhnya. Sifat tesis, antitesis, dan sintesis Marx bisa ia pahami, tetapi sikap bermusuhan yang mendasar dari pihak buruh kepada majikan, tidak ia terima bulat-bulat. Akhirnya, Hatta tidak bisa menerima susunan masyarakat komunis yang menurut Marx akan sangat membahagiakan umat manusia, karena praktis kekuasaan tidak ada lagi, dan orang akan "memberikan apa saja yang dapat ia berikan (untuk kehidupan bersama), dan (sebaliknya), ia akan menerima apa saja sesuai dengan keperluannya"-to each according to his needs, from each according to his ability.

Dengan sikap dan keadaan demikian, kehidupan masyarakat yang dibayangkan oleh Marx bagaikan di surga saja. Pemikirannya berakhir dalam kerangka utopia. Maka, mudahlah dipahami mengapa Hatta berhati-hati sekali menerima tawaran Semaun, tokoh PKI yang tahun 1920-an menjadi buronan Belanda, untuk memimpin pergerakan nasional Indonesia. Semula, Semaun sengaja menjumpainya di Belanda untuk membahas tentang hal ini. Ia kurang percaya dengan tawaran Semaun terutama karena siasat PKI ketika itu adalah tunduk pada perintah dan pendirian Stalin, Kepala Negara Rusia yang menguasai negeri ini sesudah Lenin. Ini segera terbukti ketika Stalin, yang menguasai Rusia dan diakui sebagai pemimpin semua kalangan komunis dunia ketika itu, menyalahkan Semaun dalam hal tawarannya kepada Hatta. Kalangan komunis Rusia juga mengecam dan mengganggu Hatta saat ia memimpin beberapa konferensi internasional di Eropa yang menentang penjajahan, termasuk pada tahun 1927 di Brussels (Belgia) dan 1929 di Frankfurt (Jerman). Sikap bermusuhan kalangan komunis terhadap Hatta itu dilanjutkan dengan pertentangan dalam kalangan Perhimpunan Indonesia, yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda, yang dipimpinnya dari tahun 1926-1931. Mulai tahun 1932, mahasiswa Indonesia yang komunis pun di dalam Perhimpunan Indonesia mengganggu Hatta sampai ia dikeluarkan dari organisasi itu. Sikap kalangan komunis ini setelah proklamasi kemerdekaan juga mengganggu sekali bagi Hatta. Mulanya, kalangan komunis Indonesia memunculkan faham dan partainya dalam lingkungan Partai Sosialis (yang kemudian pecah menjadi Partai Sosialis dan Partai Sosialis Indonesia), kemudian dalam Front Demokrasi Rakyat (1948), dan akhirnya Partai Komunis Indonesia yang memberontak di Madiun, tahun 1948, ketika Hatta menjadi perdana menteri. Sikap Hatta ini agak berbeda dari sikapnya terhadap Tan Malaka (tokoh komunis yang ditolak oleh Stalin, dan yang memang tidak mau tunduk pada Stalin). Umpamanya, Hatta bisa menyetujui testamen yang dibuat Presiden Soekarno bagi Tan Malaka yang akan menggantikan pimpinan perjuangan revolusi bila Soekarno dan Hatta meninggal dunia, asalkan pengganti ini bukan satu orang. Maka, calon pengganti pun terdiri dari empat orang, termasuk Tan Malaka, Achmad Soebardjo, Wongsonegoro, dan Iwa Kusumasumantri, Tan Malaka mengagumi Marx, tetapi mengakui bahwa agama terserah kepada masing-masing orang. Kembali di Tanah Air Tidak ada pilihan lagi bagi Hatta sekembali ke Tanah Air, kecuali mengabdikan pengetahuan dan pengalaman yang ia peroleh untuk kepentingan kemajuan Tanah Air; termasuk memerdekakannya. Dalam rangka ini, ia sebenarnya bisa memilih, apakah akan bekerja dengan Pemerintah Belanda di departemen perekonomian dengan gaji besar, atau melanjutkan perjuangan kemerdekaan. Pendiriannya tetap tidak berubah. Ia pun membawa partainya, Pendidikan Nasional Indonesia, dengan menekankan kaderisasi. Ia tidak mau mengikuti gaya Soekarno dengan PNI-nya yang lebih menekankan penggalangan massa, tetapi yang mudah pula menurun semangatnya sebagai terbukti ketika Soekarno ditangkap. Soekarno malah meminta maaf kepada Pemerintah Hindia Belanda, dan berjanji tidak akan aktif lagi dalam pergerakan. Juga PNI dibubarkan, walaupun kemudian gantinya, Partai Indonesia (Partindo) didirikan, mulanya di bawah pimpinan Sartono, kemudian setelah Soekarno bebas, ia pimpin sendiri. Kaderisasi yang diselenggarakan Hatta berbuah juga. Ketika ia dan Sjahrir ditangkap Belanda pada tahun 1934, pimpinan lapisan kedua dalam partainya menggantikan mereka. Dan, ketika pimpinan lapisan kedua ini juga dipenjarakan, lapisan ketiga tampil. Baru sesudah lapisan ketiga pun terkena tahanan, Pendidikan Nasional Indonesia praktis tak tampak lagi. Pemimpin lanjutan belum siap.

Kegiatan Hatta dalam pembuangan di Digul dan di Banda Neira dipergunakan Hatta juga sebagai ia berada dalam kehidupan biasa. Ia tetap menjaga waktu, yakni antara beribadah, membaca, dan melanjutkan kaderisasi. Ia membuka kursus bagi sesama tahanan di Digul, dan di Banda Neira beberapa orang anak muda dididiknya dalam ekonomi. Di masa Jepang, ia tentu tidak bisa memilih antara bekerja sama atau tidak bekerja sama dengan pihak Jepang. Tetapi, ia masih bisa bekerja dengan membantu Jepang sambil berusaha tetap bekerja mencapai cita-cita merdeka. Ia berusaha melaksanakan yang kedua, tentu dengan berbagai kelemahan yang memang terpaksa ia lakukan. Tingkah laku, gerak, dan pidatonya, masyarakat pada umumnya melihat bahwa Hatta mempergunakan kesempatan bekerja sama dengan Jepang itu untuk juga menyadarkan rakyat tentang cita-cita semula. Dalam hal ini, ia berbeda dengan Soekarno yang memang menggalakkan rakyat banyak untuk membantu Jepang dalam peperangan. Sebagai contoh, Hatta dalam pidatonya dalam memperingati setahun Peperangan Asia Timur Raya 8 Desember 1942, mengingatkan, "Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan karena itu, ia tidak ingin menjadi jajahan kembali...." "Bagi pemuda Indonesia, ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali." Tentu ia dalam hal ini menyindir Jepang, dan banyak orang khawatir juga tentang kemungkinan akibatnya bagi dirinya. Masa merdeka Masa ini bisa kita bagi tiga, yakni masa revolusi, masa tahun 1950-an sampai Hatta berhenti sebagai wakil presiden (Desember 1956), dan masa sesudahnya ketika ia menjadi orang biasa, tanpa kedudukan dan jabatan, malah tanpa sumber hidup kecuali dari pensiun. Kedudukan Hatta sebagai wakil presiden bagai wajar saja. Sudah dari zaman Jepang, ia merupakan tokoh kedua sesudah Soekarno. Tetapi di masa ini, sifat pemerintahan berubah, masih tahun 1945, dengan pembentukan kabinet Sjahrir, yang boleh dikatakan merupakan kabinet parlementer yang bertanggung jawab kepada Komite Nasional Indonesia Pusat, pengganti parlemen. KNIP ini mempunyai Badan Pekerja pula yang bertindak melakukan kerja parlemen sehari-hari. Januari 1948, sebagai akibat persetujuan Renville dengan pihak Belanda yang ditandatangani dari pihak Indonesia oleh Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, Hatta ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai perdana menteri. Praktis semua pihak di Republik Indonesia menolak persetujuan Renville ini. Maka, tugas berat ini pun ia pikul; ia bagai menjadi wakil kepala negara yang berkuasa kembali. Hatta tetap saja berpegang pada tugas yang diembannya, antara lain wakil presiden konstitusional menurut UUD Sementara 1950. Sifat kedudukan konstitusional ini tampaknya kurang dapat dipatuhi oleh Soekarno. Umpamanya, setelah perundingan pihak Indonesia dengan Belanda tentang Irian Barat gagal di masa kabinet Natsir, Presiden Soekarno mengatakan kepada sidang kabinet agar antara lain diadakan rapat-rapat massa di mana ia akan bicara tentang soal Irian Barat. Masalah seperti ini tampaknya makin meningkat pada tahun-tahun menjelang Pemilihan Umum 1955. Pada tahun 1952, umpamanya pertikaian terjadi antara Soekarno dengan pimpinan Angkatan Darat karena seorang perwira, Letnan Kolonel Bambang Supeno, berhubungan langsung dengan Presiden Soekarno tentang masalah angkatan darat tanpa sepengetahuan kepala staf, Kolonel AH Nasution. Di samping itu, pada waktu yang hampir bersamaan, pihak DPR membicarakan pula soal dalam Angkatan Darat, yang menyebabkan pihak pimpinan angkatan darat juga tidak senang melihatnya. Akibatnya terjadi demonstrasi besar-besaran di depan Istana Merdeka tanggal 17 Oktober 1952 dengan tuntutan agar

parlemen dibubarkan. Ternyata kemudian bahwa pimpinan Angkatan Darat turut mengusahakan demonstrasi ini. Walaupun kolonel Nasution akhirnya diganti, namun perkembangan keadaan tidaklah menenteramkan Hatta. Ini terlihat dari tidak jadinya Hatta memberi kata sambutan pada buku tulisan Nasution, kata sambutan yang sebenarnya diminta Nasution sendiri kepada Hatta. Hatta menghendaki agar ia membaca lebih dahulu buku tersebut. Ia juga menyarankan beberapa perubahan yang ditolak oleh Nasution. Akhirnya, Nasution sendiri membatalkan permintaannya kepada Hatta untuk menulis kata pembukaan bagi buku tersebut. Hal yang tidak pula disukai Hatta adalah keputusan Perdana Menteri Boerhanoedin Harahap (dari Masyumi) untuk mengangkat Nasution kembali sebagai Kepala Staf Angkatan Darat tahun 1956. Menurut Hatta, Nasution ketika itu sudah berpolitik, ia calon Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, sebuah partai baru yang didirikan oleh umumnya veteran dan didukung tampaknya oleh Angkatan Darat, dalam Pemilihan Umum 1955. Hatta memang dari semula tidak menyetujui militer turut serta berpolitik, kecuali kalau militer bersangkutan lepas benar-benar dari angkatannya -berhenti atau pensiun. Sebaliknya, Boerhanoedin Harahap sukar juga menolak pengangkatan Nasution ini karena ia menjadi calon pertama yang diusulkan oleh pihak Angkatan Darat sendiri. Tetapi, ketidaksetujuan Hatta tentang pengangkatan Nasution kembali sebagai KSAD tidaklah dikemukakan Hatta secara terbuka. Hal lain yang kurang menyenangkan Hatta adalah kenyataan bahwa Presiden Soekarno sendiri berpolitik praktis dalam rangka mendukung atau menolak golongan tertentu dalam masyarakat. Maka, pada tahun 1953, Soekarno berpidato di Amuntai, Kalimantan Selatan, menganjurkan kepada rakyat banyak agar menolak gagasan negara Islam. Keberpihakan seperti ini, menurut Hatta, tidak pada tempatnya dilakukan oleh seorang presiden konstitusional. Hatta juga menyesali pemecatan Sosrodanukusumo, pegawai tinggi kepolisian yang menangani soal intel, oleh Kabinet Ali Sastroamidjojo I tahun 1955 dengan ditandatangani Presiden Soekarno. Hatta menyesali sekali Soekarno tentang hal ini karena tidak lebih dahulu membicarakannya dengannya. Katanya, pemecatan ini berlawanan dengan sila ke-2 Pancasila, sila perikemanusiaan, apalagi pemecatan lebih bersifat politis ketimbang hukum. Malah tentang tindakan Soekarno yang banyak tidak membicarakan hal ini lebih dahulu dengannya, Hatta berkomentar dalam suratnya kepada Soekarno (25 Maret 1995). Hatta juga tidak menyetujui keputusan Presiden Soekarno untuk memberi grasi kepada Djody Gondokusumo, menteri kehakiman pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I. Djody yang terkena hukuman penjara 1 tahun karena penyelewengannya ketika menjadi menteri Soekarno juga disesali Hatta karena tidak mau menandatangani RUU pembatalan perjanjian KMB yang telah disetujui DPR pada tahun 1956 dengan alasan rapat DPR tidak sah, padahal Mahkamah Agung sendiri telah mengemukakan bahwa rapat DPR bersangkutan sah. Desakan Hatta agar RUU itu disahkan oleh Presiden Soekarno ditolak oleh Soekarno. Hatta juga tidak setuju dengan gagasan Soekarno untuk langsung menyelesaikan Peristiwa Cililitan, padahal kabinet (Boerhanoedin) berpendapat lain. Peristiwa Cililitan, peristiwa yang menggagalkan pelantikan wakil kepala staf Angkatan Udara Sujono karena bangkangan dari pihak anggota Angkatan Udara yang didalangi oleh Laksamana Udara Suryadarma sendiri. Hatta juga melihat perubahan pada Soekarno ketika ia pada tahun 1956 tidak segera mengesahkan Kabinet Ali Sastroamidjojo II karena Soekarno menginginkan kabinet "kaki empat", yang terdiri dari PNI, Masjumi, NU, dan PKI. Tetapi, Kabinet seperti ini akan pasti ditolak oleh Masjumi dan NU.

Tentu kritik terhadap hal-hal di atas tidak dapat dilakukan Hatta secara terbuka. Kritik terbuka akan menyebabkan ia dinilai melanggar konstitusi. Lagi pula kritik terbuka akan lebih membingungkan rakyat padahal rakyat melihat Soekarno-Hatta masih sebagai dwitunggal. Akan tetapi, yang sangat menyedihkan Hatta, dan ini merupakan bahan pertimbangan pokok baginya dalam menilai Soekarno adalah hubungan Soekarno yang tidak lagi baik, jangankan mesra, dengan istrinya, Fatmawati. Hatta menilai Fatmawati tidak lagi diperhatikan oleh Soekarno. Ia melihatnya bagai "digantung tidak bertali". Di samping itu, Hatta sangat tidak setuju dengan perkawinan Soekarno dengan Hartini karena perkawinan seorang presiden "tidak dapat dipandang sebagai suatu hal prive". Presiden menjadi "lambang kehormatan negara", tegasnya. Dan oleh sebab itu, istrinya haruslah pula bisa melambangkan hal ini. Maka, tidak sembarang orang dapat menjadi istri seorang presiden. Kemudian Presiden Soekarno mulai pula sering bepergian ke luar negeri dengan mempergunakan waktu lama. Cerita-cerita tentang kepergian Soekarno ke luar negeri ini sangat "miring" kedengaran, dan Hatta, sebagai orang puritein (menjaga tingkah laku dan akhlak) tidak dapat menerima hal ini. Juga penghamburan uang negara dalam rangka ini ia tolak. Tentu Hatta juga menyesali orang-orang sekitar Soekarno dalam hal ini karena tidak turut menjaga martabat negara. Maka, berhentilah Hatta sebagai wakil presiden tanggal 1 Desember 1956, dan menjadi warga negara biasa. Setelah G30S/PKI, Hatta mempunyai banyak harapan, meski kurang kenal dengan Soeharto. Namun, kemudian harapan itu berubah menjadi kekecewaan. Dua penyebab kekecewaan. Pertama, Soeharto melarang Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII) yang didirikannya. Kedua, tim ekonomi Soeharto yang tidak mendukung cita-cita ekonomi semula, yaitu ekonomi kerakyatan. Ketidakpercayaan Hatta terhadap Soeharto dalam membangun demokrasi-hal yang sebenarnya merupakan cita-cita yang hendak ditegakkan kembali setelah Peristiwa Gestapu-buyar dengan Pemilihan Umum 1971 yang mengalokasikan anggota yang diangkat sebanyak lebih dari 100 orang. Dr Deliar Noer Pakar ilmu politik

Rakyat dalam Pusaran Globalisasi
* B Herry-Priyono

PERTENGAHAN dasawarsa 1970-an, ketika ditanya hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh generasi pemimpin Orde Baru, Mohammad Hatta antara lain menunjuk pokok berikut: "...Agar dalam proses membuka ekonomi kita bagi lalu lintas dagang dan investasi dunia luar, jangan sampai orang luar itu menunjukkan tanda dominasi yang menyolok." (Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab,Gunung Agung, Jakarta, 1980, halaman 87) Itu masa ketika baru saja terjadi peristiwa Malari (15 Januari 1974). Itu juga periode ketika Orde Baru gencar memacu pertumbuhan ekonomi. baldi fauzi Bagi kita yang berdiri di zaman ketika ekonomi negeri ini semakin terayun-ayun dalam jaring globalisasi, peringatan di atas mungkin kedengaran usang. Sebagai seorang kosmopolitan yang biasa hidup di negeri-negeri jauh dan senantiasa bersentuhan dengan gagasan-gagasan perbatasan, Bung Hatta tidak sedang menyatakan chauvinisme ekonomi. Dalam bingkai banyak pidato, tulisan dan kebijakannya sebagai negarawan, ia sedang mengajukan satu implikasi ekonomi kerakyatan: akumulasi modal ada untuk rakyat, bukan rakyat untuk akumulasi modal. Bila ia banyak menganjurkan koperasi, itu karena koperasi merupakan salah satu kemungkinan bentuk unit ekonomi kerakyatan yang sedang banyak dicoba di Eropa pada paruh pertama abad 20. Dalam tuturan Bung Hatta: "Sandarannya [koperasi] adalah orang, bukan uang! Koperasi merupakan kumpulan manusia, sedang uang faktor kedua." (Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, op.cit., halaman 183). Kita mengerti, sekian dasawarsa kemudian suatu proses depersonalisasi ekonomi sedang melaju dalam globalisasi. Ambivalensi globalisasi Seperti tercatat dalam Memoir (1982), ketika Bung Hatta berlayar dari Pelabuhan Teluk Bayur tanggal 3 Agustus 1921, ia membutuhkan waktu 33 hari untuk mencapai Rotterdam. Hari ini, dengan biaya sama seorang hanya butuh 13 jam mencapai kota itu dengan pesawat terbang. Apa yang "dipotong" bukan hanya waktu dan ruang, melainkan juga biaya. Kata Giddens (1979), "Masyarakat adalah pelintas waktu." "Pemotongan" waktu-ruang itu pula yang berlangsung dalam globalisasi ekonomi. Dahulu kala, untuk membeli kain batik di Kota Gede, Yogyakarta (tempat), seorang dari Magelang harus berjalan seharian (waktu). Artinya, transaksi jual-beli menuntut temu muka penjual dan pembeli, suatu peristiwa yang hanya bisa terjadi dengan pertemuan keduanya pada titik waktu dan tempat yang sama (kesatuan waktu-ruang). Sekarang, transaksi jual-beli bisa dilakukan dalam sekejap lewat telepon, faksimile, dan e-mail: pembeli di Magelang, penjual di Kota Gede, namun pada titik waktu yang sama (pemisahan waktu dari ruang). Definisi jual-beli tidak lagi ditentukan oleh kesatuan waktu-ruang. Dalam arti itu, kerja pemasaran (marketing) dalam ekonomi modern merupakan kerja "mencabut" keterikatan waktu dari ruang. Dalam bahasa manajemen: menggaet sebanyak mungkin konsumen di manapun dalam tempo sesingkat-singkatnya. Maka, menjamurlah agen pemasaran

di pelosok-pelosok. Begitu pula pada lingkup global. Dengan mudah bisa kita kenali, gegapgempita globalisasi dan daya jelajah modal mengandaikan gejala "pencabutan" dan sekaligus "pemadatan" waktu dan ruang. Pada dataran empirik, globalisasi berisi proses kaitan yang semakin erat dari hampir semua aspek kehidupan, suatu gejala yang muncul dari interaksi yang semakin intensif dalam perdagangan, transaksi finansial, media, dan teknologi. Lonjakan terbesar volume perdagangan mulai terjadi di paruh dasawarsa 1970-an. Antara 1973 dan 1995, porsi negara sedang berkembang dalam perdagangan global melonjak dari 6,6 persen menjadi 24,7 persen. Dari paruh dekade 1970-an sampai 1996, perdagangan valuta asing melonjak lebih dari seribu kali, dari 1 milyar menjadi 1,2 trilyun dollar AS per hari (Crafts 2000). Statistik ini bisa diperpanjang lagi. Apa yang terlibat dalam statistik sederhana itu bukan sebatas ramainya lalu-lintas barang dan uang, melainkan lonjakan drastis interaksi cara hidup, rasa, pikir, dan tindakan. Dengan itu berlangsung pula pergeseran arti 'masyarakat' (society). 'Masyarakat' bukan lagi sebatas negarabangsa (state-nation), tapi juga seluruh dunia (the globe). Pergeseran ini tak hanya menyangkut tata ontologis (sosio-faktual) melainkan juga tata epistemologis (cara pandang). Artinya, globalisasi bukan hanya kaitan integral antara berbagai tindakan kita (misalnya, transaksi finansial), tetapi juga cara baru memandang persoalan. Ringkasnya, seluruh dunia merupakan unit tindakan dan pemikiran. Globalisasi bisnis Mengatakan bahwa semua orang terlibat dalam globalisasi memang tidak keliru, namun juga tidak mengatakan apa pun. Paling tidak ada tiga aspek mengenai soal apa dan siapa. Pertama, di jantung globalisasi yang berlangsung dewasa ini adalah berbagai praktik bisnis transnasional (perdagangan, keuangan, media, perbankan, transportansi, jasa, dan sebagainya). Kedua, aktor utama ialah para pelaku bisnis yang terutama terkonsentrasi di berbagai perusahaan transnasional. Ketiga, corak globalisasi yang berlangsung dewasa ini hanya bisa berlanjut dengan perluasan kultur-ideologi konsumerisme. Banyak pengamat mengasalkan proses itu pada revolusi neoliberal yang dilancarkan rezim Margareth Thatcher di Inggris dan Ronald Reagan di Amerika Serikat (AS) di awal dasawarsa 1980-an. Apa yang jarang disebut ialah tata finansial siluman yang muncul di awal dasawarsa 1950-an, dan yang memungkinkan terjadinya proses globalisasi selama 25 tahun terakhir. Sesudah Revolusi di Cina tahun 1949, pemerintah AS coba membekukan rekening bank milik pihak-pihak yang terkait dengan pemerintah Cina. Untuk menghindar, mereka memindahkan rekening ke sebuah bank milik pemerintah Uni Soviet di Paris, Banque Commerciale pour l'Europe du Nord. Kebetulan cable address-nya adalah 'Eurobank'. Yang disimpan kemudian dinamakan 'Eurodollar', dollar di bank-bank luar AS dan di AS yang lolos dari regulasi pemerintah. Ketika Perang Dingin berlangsung semakin sengit, pemerintah Uni Soviet memindah simpanan dollar ke banknya sendiri di London, Moscow Narodny Bank. Saat itu, London merupakan kantung finansial otonom yang memberi kerahasiaan dan proteksi ketat. Meskipun masih tetap serba rahasia, Eurodollar mulai menjadi bagian tak terpisah dari perdagangan internasional. Business Week menggambarkan Eurodollar sebagai "uang global yang menumpuk, yang berputar ke seluruh dunia tanpa batasan dan dengan operasi 24 jam sehari." Ciri siluman Eurodollar tetap bertahan, bahkan sampai akhir dasawarsa 1950-an, kecuali bagi Uni Soviet dan negara-negara satelitnya yang butuh tempat aman bagi dollar mereka.

Paul Einzig (1965), seorang investigator Eurodollar yang ulung, memberi kesaksian berikut: "Selama bertahun-tahun, pasar Eurodollar tersembunyi dari para ekonom dan pembaca media keuangan. Secara sangat kebetulan, saya temui keberadaannya di bulan Oktober 1959, dan ketika saya mulai mencari tahu di lingkungan perbankan London, beberapa bankir mendesak saya untuk tidak menuliskan apa pun juga." Dalam hitungan konservatif, beginilah perkembangan jumlah Eurodollars: 11 milyar dollar AS di tahun 1964, 40 milyar (1969), 117 milyar (1973), 425 milyar (1979). Setelah sistem Bretton Woods gagal (1971-1973), dan ditambah dengan surplus besar negara-negara penghasil minyak (OPEC), angka pertumbuhan Eurodollar per tahun berkisar 25 persen. Di tahun 1984 jumlahnya sudah melebihi 1 trilyun dollar AS. Ciri silumannya bisa diringkas begini: Eurodollars tak memerlukan cadangan devisa (reserve) dan tidak juga kena regulasi. Tumpukan uang global yang lolos dari regulasi telah tercipta sebagai supply. Dalam perkembangan selanjutnya, menurut investigasi Business Week, "...dari semua kekuatan yang melahirkan ekspansi sistem keuangan tanpa negara dan regulasi ini, tidak ada yang lebih menentukan daripada kebutuhan finansial 450 perusahaan multinasional. Untuk ekspansi global mereka, perusahaan-perusahaan itu telah menciptakan demand yang berupa akses bebas pada uang tanpa regulasi apa pun..." Sebuah perkawinan global telah tercipta. Namun, seperti dicatat Wachtel (1990), pool Eurodollars yang begitu besar tidak bisa seluruhnya diserap oleh kebutuhan perusahaan-perusahaan raksasa itu. Aktor baru segera muncul: negaranegara sedang berkembang yang sangat butuh utang. Entah langsung atau lewat lembaga seperti World Bank dan IMF, bank-bank Eurodollars ini kemudian memburu negara sedang berkembang sebagai targetnya seperti Brazil, Turki, Zaire, Meksiko, Argentina, Filipina, Indonesia, dan lain-lain. Melalui proses ini, di akhir dasawarsa 1970-an jumlah utang negaranegara sedang berkembang sudah mencapai 400 milyar dollar AS, sedang pool Eurodollars (1979) adalah 425 milyar dollar AS. Begitulah kisah kikir tentang proses tersembunyi di balik globalisasi. Daya jelajah bisnis yang semakin global (entah properti, manufaktur, media ataupun jasa) tidak akan berlangsung secepat seperti sekarang tanpa tata finansial di atas. Begitu pula, tanpa tata itu masalah utang yang menjebak kita barangkali tidak akan seganas seperti sekarang. Dalam catatan The Economist (16/6/2001), para pemain utama tata global itu adalah 425 bilyuner, 274 di antaranya ada di AS. Di sekitar mereka adalah 7-15 juta orang yang masing-masing menguasai asset tertanam minimal 1 juta dollar. Dari 100 unit ekonomi terbesar, 51 berupa perusahaan transnasional dan hanya 49 berupa negara-bangsa, 75 persen perdagangan global dikuasai 500 perusahaan. Di Indonesia, 61,7 persen kapitalisasi pasar dikuasai 15 keluarga (Claessens, dkk, 1999). Maka mengatakan bahwa para chief executive officers (CEOs) beberapa ratus perusahaan transnasional mengontrol kinerja globalisasi yang sedang berlangsung dewasa ini tidaklah berbeda dengan menyatakan bahwa kodrat anjing adalah menyalak. Artinya, sudah barang tentu. Di manakah rakyat yang tidak mempunyai asset? Jawabannya: dalam pusaran kinerja global mereka. Dan bila kita bertanya, basic instinct apa yang menyangga itu semua, jawabnya sederhana: soal kuasa (power). Proyek deregulasi kaum neo-liberal sesungguhnya berisi deregulasi atas dayajangkau kekuasaan pemilik modal dan asset finansial. Penghapusan berbagai aturan operasi bisnis per definisi merupakan langkah pemberian hak istimewa dan kekuasaan yang begitu besar kepada mereka. Keluar-masuknya modal tanpa regulasi akhirnya menjadi truf (senjata pamungkas) yang secara gratis diberikan kepada mereka. Sebagaimana kebanyakan kisah kekuasaan dalam sejarah, para penguasa menggenggam kekuasaan bukan karena kita membutuhkannya, tetapi karena mereka mempergunakan kita bagi keuntungan mereka. Untuk mengakumulasi laba, mereka tidak lagi terikat aturan lokasi produksi, sumber modal, teknologi, partisipasi penduduk lokal, dan sebagainya. Dalam corak globalisasi yang sedang berlangsung dewasa ini, mereka dengan mudah dapat menolak tuntutan buruh maupun

peraturan pemerintah, dengan cara memboikot investasi ataupun mengancam hengkang dari satu negara ke negara lain yang punya syarat lunak dan memberi insentif akumulasi laba lebih tinggi dan cepat. Sebagaimana lantang dinyatakan Theodore Levitt (1958) dan Milton Friedman (1962), bisnis tak punya tanggung jawab lain kecuali menumpuk laba. Kekuasaan ekonomi dalam corak globalisasi yang berlangsung dewasa ini pertama-tama berupa kapasitas yang semakin besar untuk memindah hasil produksi yang diciptakan melalui keringat begitu banyak warga masyarakat ke tangan sedikit orang. Dalam arti itu, deregulasi yang serampangan de facto merupakan resep memindahkan berbagai sumber daya masyarakat ke tangan para pemilik modal dan asset finansial. Maka, yang kemudian muncul adalah kesenjangan income yang semakin tajam (lihat Tabel 2). Menuntut persamaaan akses tentu sebuah utopia. Namun, bukanlah mimpi menuntut agar tajamnya kesenjangan akses menjadi berkurang. Antara pro dan kontra Bagaimana kaum neoliberal memberi pembenaran kesenjangan itu? Simaklah sirkuit sederhana berikut: pertumbuhan ekonomi - investasi tabungan - income - tabungan - investasi pertumbuhan ekonomi - dan seterusnya. Income kaum miskin tidak menjadi tabungan, karena mereka menghabiskannya untuk bertahan hidup (pangan, sandang, papan). Hanya orang kaya yang akan menabung, karena mereka punya income berlebih. Karena itu, investasi juga hanya akan datang dari orang-orang kaya. Maka, semakin tinggi income kaum kaya, semakin tinggi pula pool modal, dan pada gilirannya semakin tinggi juga investasi yang melahirkan pertumbuhan ekonomi. Dalam gagasan ini, pertumbuhan cepat income kaum kaya dianggap sebagai satu-satunya prasyarat investasi dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Akibatnya, seandainya pun terjadi pembangunan ekonomi, dari pengandaian awalnya 'pembangunan' dalam gagasan neo-liberal berupa efek tetesan-ke-bawah (trickle-down effect). Tentu, maksudnya adalah tetesan pertumbuhan income golongan atas ke kelompok-kelompok ekonomi bawah. Sudah barang tentu logikanya tidak akan dikatakan dengan cara selugas itu. Untuk mempercantik, biasanya diajukan rumusan ini: pertumbuhan ekonomi maksimal dicapai hanya dengan membiarkan distribusi income ditentukan oleh kinerja pasar bebas. Tak satu pun instansi pemerintah boleh membuat kebijakan atau program pemindahan income dari golongan kaya ke kaum miskin. Oleh karena itu, pajak progresif, subsidi pangan, ketetapan upah minimum, perlindungan buruh dan petani, program khusus penciptaan lapangan kerja, jaring pengaman, dan program-program semacam merupakan tabu bagi ekonomi-politik neoliberal. Jika cara-pikir ini merupakan cara mendekati persoalan, tentu saja lalu tak ada beda antara argumentasi dan demagogi. Ujaran "selalu ada korban dalam pembangunan" memang klise paling murahan. Dalam konteks itulah kita bisa mengerti mengapa otoritas legitimate pemerintah untuk mengelola urusan bersama juga semakin dilucuti. Akibatnya, pada saat pemerintah kita sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai masalah, ia sudah tidak berdaya, seperti yang kini kita temui di Indonesia. Bagi tata hidup bersama, suatu pemerintah yang tak berdaya sama berbahayanya dengan pemerintah yang represif. Apa kaitan semua perkara ini dengan gagasan Bung Hatta? Gagasan ekonomi kerakyatan Bung Hatta lahir pada kondisi historis tertentu: kondisi dominasi "asing" atas ekonomi Indonesia. Di tahun 1925, misalnya, dari seluruh industri yang mempekerjakan lebih dari enam orang, 2.816 dimiliki orang-orang Eropa, 1.516 milik kelompok Cina, dan hanya 865 milik pribumi, Arab, dan kelompok non-Eropa serta non-Cina (Kahin 1952: 29). Agenda kemerdekaan dalam tata negara, tidak bisa tidak, juga mencakup kemerdekaan dalam tata ekonomi.

Pada tataran pemikiran, gagasannya lahir dari refleksinya di tengah tegangan antara berbagai ideologi besar di Eropa. Apa yang ia ajukan adalah semacam "jalan tengah" yang cukup dekat dengan pemikiran ekonomi yang mulai dikembangkan oleh Mazhab Freiburg antara 1928-1930. Di situ berkumpul para pemikir seperti Wilhelm Rvpke, Walter Eucken, Franz Bvhm, Alexander R|stow, Alfred M|ller-Armack, dan lain-lain. Intinya adalah apa yang disebut 'ekonomi pasar sosial' (soziale Marktwirtschaft; social market economy): sebuah sistem ekonomi bebas (dalam pembedaan dengan ekonomi komando), namun dikawal dengan berbagai regulasi yang diciptakan untuk mencegah konsentrasi kekuasaan ekonomi yang biasanya terjadi dalam bentuk kartel, trusts, dan perusahaan-perusahaan raksasa. Dalam rumusan Franz Bvhm, gagasan ekonomi pasar sosial, di satu pihak, "memerangi dominasi sektor privat maupun publik atas pasar"; di lain pihak "memerangi, baik pasar bebas tanpa regulasi maupun tendensi etatisme ekonomi." Ada dua ciri utama gagasan 'ekonomi pasar sosial'. Pertama, pasar dan transaksi ekonomi hanyalah salah satu dari berbagai bentuk hubungan sosial manusia. Pasar bukan dewi keadilan. Dalam kesaksian Soros, "tak ada pasar (apalagi finansial) yang bekerja menurut dalil ekuilibrium; karenanya butuh 'tangan yang kelihatan' untuk menatanya." John Maynard Keynes sudah mengingatkan itu 75 tahun lalu. Gagasan ini sangat berbeda dengan gagasan neo-liberal yang berkembang dewasa ini: sistem pasar secara inheren bersifat ekuilibrium, dan merupakan satusatunya dasar bagi hubungan sosial lain (entah itu relasi keluarga, cinta, politik, hukum, dan sebagainya). Implikasinya jauh. Kedua, karena transaksi ekonomi hanya salah satu bentuk dari relasi sosial, maka kinerja ekonomi tidak seharusnya diasalkan pada logika otonomi modal. Hubungan-hubungan sosial manusia ada bukan untuk mengabdi kapitalisme, melainkan kapitalisme ada untuk membantu berlangsungnya relasi sosial manusia. Maka, perdebatannya bergeser ke soal berikut: jika kapitalisme merupakan sistem ciptaan manusia, pastilah kita dapat mengubahnya. Dalam proses mengubah itu, kita melakukan transformasi kapitalisme dan sekaligus menciptakan bentuk-bentuk baru kapitalisme. Agenda utamanya lalu terletak pada upaya menciptakan bentukbentuk baru kapitalisme yang lebih sesuai dengan kebutuhan relasi sosial kita. Gejala konsentrasi kekuasaan bisnis di tangan perusahaan-perusahaan raksasa, monopoli, dan kartel bukanlah "nasib alami" ekonomi kapitalis, melainkan produk strategi ekonomi-politik yang gagal. Dalam arti itu, relevansi gagasan ekonomi kerakyatan Bung Hatta rupanya bukan soal pilihan antara Kapitalisme dan Sosialisme, melainkan soal mengembalikan proses dan sumber daya ekonomi kepada rakyat. Dan justru dalam pusaran corak globalisasi yang punya pola seperti diurai di atas, gagasan Bung Hatta punya dering lebih nyaring. Seandainya, Bung Hatta masih ada di tengah kita, mungkin seperti kita, ia juga gagap menerjemahkan gagasan ekonomi kerakyatan. Seperti kita, ia juga akan terdera oleh dilema. Di satu pihak, kita tidak bisa mengelak dari lintasan sejarah yang sedang ditandai globalisasi. Di lain pihak, hanya orang bebal yang tidak mengerti implikasi brutal dari corak globalisasi yang terjadi dewasa ini. Dalam arti itu, fanatisme "pro" mungkin sama kerdilnya dengan fanatisme "kontra". Di antara keduanya, apa yang sering dilupakan adalah bahwa pada jantung globalisasi bersarang urusan kekuasaan. Seperti sudah diurai secara kikir, globalisasi yang berlangsung dewasa ini terutama berisi ekspansi kekuasan bisnis yang besar. Kalau globalisasi merupakan fakta sejarah (dan karena kekuasaan adalah fakta yang akan selalu hadir dalam hidup kita), soalnya lalu bukan "menerima" atau "menolak" globalisasi, melainkan bagaimana membuat sosok-sosok kekuasaan yang terlibat dalam globalisasi menjadi akuntabel. Dalam arti itu pula, kisah ekonomi kerakyatan di masa depan rupanya bukan soal pilihan antara koperasi (cooperative) atau korporasi (corporation), melainkan perkara gerakan untuk

menciptakan proses dan mekanisme agar berbagai sumber daya masyarakat tidak semakin lepas dari tangan mayoritas rakyat. Menjadi minimalis memang bukan sebuah keutamaan. Akan tetapi, andai saja kreativitas kita berhasil menciptakan mekanisme akuntabilitas kekuasaan bisnis bagi kesejahteraan mayoritas rakyat, tentulah sebuah terobosan kecil telah tercipta. Tanpa akuntabilitas demokratis yang dikenakan pada kekuasaan raksasa yang ada di balik globalisasi itu, setiap musim yang lewat akan mendamparkan kita ke dalam situasi yang semakin tidak bernama. Dan, kalau sumberdaya serta kelimpahan dunia semakin jauh dari jangkauan, hidup mayoritas rakyat juga akan tersingkir dari sejarah. Dr B Herry-Priyono Peneliti, alumnus London School of Economics (LSE), Inggris

Semestinya Hatta Menang
* Suharso Monoarfa CITA-CITA Mohammad Hatta, Wakil Presiden yang pertama, dan populer dipanggil Bung Hatta, menyaksikan "tiadanya kesempatan bagi kapitalisme muda Indonesia berkembang", tidak kesampaian. Ketika Hatta masih hidup, di depan matanya kapitalisme muda Indonesia berkembang dengan amat pesatnya sebagai buah kebijakan politik pembangunan pemerintah Orde Baru yang baru saja mentas dari era Orde Lama. Kontras dengan cita-citanya itu, Hatta yang dikenal sederhana, hemat, dan rendah hati toh pernah bercita-cita ingin membeli sepasang sepatu Bally yang ia simpan sobekan iklannya. Sayang, sampai akhir hayatnya sepatu itu tidak pernah terbeli oleh daya beli tabungan seorang Hatta dari hasil penyisihan sebagian uang pensiunan seorang Wakil Presiden. Maka, sebuah pertanyaan muncul? Apakah Hatta yang keliru memahami realitas sosial ekonomi bangsanya, ataukah Hatta tidak pernah memperoleh kesempatan mendemonstrasikan citacitanya ke dalam kebijakan publik yang efektif? Artinya, cita-cita Hatta hanya sampai di benaknya sendiri, meskipun ia memiliki hati yang kuat dan sangat percaya diri pada gagasan dan pemikirannya. Bahkan, Hatta pernah disebut sebagai pejuang yang sendirian. Satu kesempatan yang pernah diperoleh Hatta untuk membekaskan gagasannya pada kebijakan publik adalah ketika ia memimpin sebuah Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang dibentuk tanggal 12 April 1947 dengan sekretaris Dr Sumitro Djojohadikusumo. Panitia ini bertugas mengumpulkan dan mempersiapkan bahan yang bakal dijadikan landasan pemikiran untuk merumuskan dasar-dasar ekonomi Indonesia. Hasil yang dicetuskan di Yogyakarta ini kemudian lebih dikenal sebagai Siasat Hatta. Hal utama yang perlu segera diwujudkan, menurut Siasat Hatta itu, ialah memakmurkan rakyat secara material dan moral melalui usaha meningkatkan kemampuan memproduksi kebutuhan barang keperluan rakyat. Berproduksi berarti sekaligus menciptakan dan memperluas kesempatan kerja sehingga mendorong peningkatan daya beli rakyat setinggi-tingginya. Dasardasar ekonomi itu dapat berwujud dengan terlebih dahulu perlu dibuat rencana lima tahunan dengan program-program yang bertujuan meningkatkan dan menyebarkan kemakmuran rakyat melalui intensifikasi produksi, mendorong perdagangan internasional, meningkatkan standar hidup dan menambah kemampuan serta pengetahuan rakyat. Sedangkan, dalam program kemakmuran disebutkan antara lain penetapan upah minimum bagi pekerja, perbaikan perumahan rakyat, industrialisasi yang dikaitkan dengan transmigrasi. Penghitungan upah minimum tersebut didasarkan pada patokan harga beras, sementara dalam hal transmigrasi, direncanakan agar di dalam jangka 10-15 tahun dilakukan pemindahan

penduduk sejumlah 20 juta orang dari Pulau Jawa ke pulau-pulau lain. Dan, pemindahan itu bukan sekadar memindahkan kemiskinan yang melekat pada orang yang dipindahkan, tetapi harus meningkatkan taraf hidup yang bersangkutan dan masyarakat setempat di daerah tujuan transmigrasi. Siasat Hatta juga menyinggung soal pemupukan modal nasional (national capital formation). Konsepnya adalah pemupukan modal nasional dibentuk dengan pinjaman pemerintah, tabungan nasional, tukar menukar (barter), dan pinjaman luar negeri. Sementara, lapangan usaha yang berada dalam monopoli negara, meliputi usaha listrik, gas, air bersih, kereta api, trem, pos, telegraf, telepon, dan pertambangan. Usaha nasional diatur, perusahaan swasta diberi kesempatan memasuki industri, yang berskala besar diawasi pemerintah, dan koperasi dikembangkan di antara pekerja serta dapat dibantu dengan modal asing dan pemerintah. Seperti yang ditulis sejarah, Siasat Hatta - yang diharapkan dapat menjadi peletak dasar pembangunan ekonomi nasional - dan rencana lima tahunan tidak selesai disusun. Memang, dalam kurun waktu itu, sebagai negara yang sangat muda, Indonesia teramat sibuk dengan persoalan politik dalam negeri dan menghadapi ancaman agresi Belanda. Dengan demikian, terkesan pemerintahan di masa itu tersita waktunya untuk mengatasi gejolak pertikaian dan pemberontakan di dalam negeri, serta juga mempersiapkan berbagai siasat diplomasi terhadap dunia internasional untuk memenangkan perundingan demi perundingan dengan pihak Belanda.

Soal utang Salah satu perundingan itu adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan pada 23 Agustus - 2 November 1949 di Den Haag, Belanda. Dalam perundingan ini sekali lagi Hatta dan Sumitro Djojohadikusumo berada dalam satu tim yang menjadi juru runding dari pihak Indonesia. Bedanya dengan Panitia Pemikir Siasat Ekonomi 1947, Hatta dan Sumitro di KMB ini berselisih pendapat soal salah satu isu yang kritikal. Yakni, menyangkut utang pemerintah kolonial Belanda yang digunakan di Indonesia dan dibuat semenjak tahun 1896. Belanda meminta agar jumlah utang sebesar 776.5 juta gulden dengan tingkat bunga 3 persen per tahun dan jatuh tempo pada Juni 1964 menjadi tanggung jawab Indonesia. Sumitro berpendapat, tidaklah pada tempatnya utang itu menjadi tanggung jawab Indonesia, sebab Indonesia- dalam hal ini Republik Indonesia Serikat (RIS)- bukanlah kelanjutan dari pemerintahan kolonial Belanda. Apalagi, menurut perhitungan Sumitro, justru terdapat surplus pada neraca perdagangan pemerintahan kolonial Belanda yang setidaknya dalam kurun waktu tahun 1921 - 1940 dapat menutupi defisit devisa Kerajaan Belanda. Dalam kurun waktu itu terjadi rata-rata surplus 350 juta dollar AS per tahun dalam neraca perdagangan Indonesia dan hampir seluruhnya dinikmati Kerajaan Belanda, dan sisanya menjadi milik para pengusaha Cina, India, dan bukan pribumi. Perdebatan itu berakhir dengan Indonesia tetap menerima klausul utang tersebut. Di dalam negeri, hasil perundingan KMB tidak sepenuhnya diterima terutama soal utang itu dan juga soal penyerahan Irian Barat (kini Papua). Tetapi hampir tujuh tahun kemudian, 3 Mei 1956, Kabinet Ali Sastroamidjojo II membatalkan secara sepihak perjanjian KMB tersebut. Meski Sumitro kecewa soal utang tersebut, ia respek pada Hatta yang dalam waktu singkat sejak KMB, berhasil menarik kembali seluruh negara bagian ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga Belanda merasa dikelabui oleh negara-negara bagian yang notabene adalah negara bentukan untuk kepentingan kelanjutan kolonialisme Belanda atas Indonesia. Hiruk-pikuk kondisi politik nasional yang cenderung tidak stabil di masa awal pascaproklamasi itu, menyebabkan kepedulian yang serius terhadap pembangunan ekonomi, seakan tak terhiraukan. Kalaupun ada, sifatnya sangat parsial dan jauh dari setting perencanaan yang komprehensif,

disiplin, dan konsisten. Sebagian besar politik ekonomi berakhir pada penyelesaian persoalan sesaat dan bersifat ambivalen terhadap cita-cita kemerdekaan, dengan kata lain tidak ada strategi besar dalam rangka politik ekonomi yang dikehendaki konstitusi UUD 1945. Dalam konteks ini, sekalipun Hatta adalah salah satu arsiteknya dan bahkan salah satu dari Dwitunggal, tak dapat berbuat banyak terhadap cita-cita yang khususnya termuat dalam Bab Kesejahteraan Sosial UUD 1945. Bung Hatta kemudian meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden atas kemauan sendiri setelah pemilihan DPR dan Konstituante akhir tahun 1956. Perekonomian Indonesia ketika itu bergerak memilukan yang berpuncak antara lain dengan inflasi 650 persen pada tahun 1965/1966. Meski tidak secara langsung di pemerintahan, Hatta pada tahun 1969 ditunjuk sebagai penasihat presiden dan penasehat Komisi Empat tentang masalah korupsi. Setelah meletakkan jabatan Wakil Presiden, Hatta seakan terasing dari domain kebijakan publik. Meski demikian, Hatta terus-menerus menyosialisasikan gagasannya tanpa mengenal surut dari forum ke forum. Dalam rangkaian itu, gagasan Hatta tentang politik ekonomi lebih banyak diserap di Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor-yang sebelumnya merupakan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, dan Universitas Padjajaran. Hatta memang mengajar di berbagai universitas dan juga di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat, Bandung, (1951-1959). Pada 1954-1961, Hatta mengajar di Universitas Gadjah Mada, dan di masa Orde Baru, menjadi guru besar luar biasa di Universitas Padjajaran Bandung, dan Universitas Hasanudin, Makassar. Mungkin karena terkesan sangat normatif dan filosofis penjelasan Hatta tentang Bab Kesejahteraan Sosial UUD 1945, terutama Pasal 33 UUD 1945 sering kali mengundang adu tafsir. Tidak terkecuali di batas tertentu dikesankan Hatta dan Sumitro berada pada dua mainstream politik perekonomian yang berbeda. Padahal sesungguhnya, Sumitro mengikuti jalan pikiran Hatta, setidaknya itu ditunjukkan Sumitro dalam apa yang dikenal sebagai Sumitro Plan atau Rencana Urgensi Perindustrian - yang semula disebut Rencana Urgensi Perekonomian (1951-1952). Sumitro Plan itu tak dapat diingkari berinduk kepada Siasat Hatta 1947, yang di dalamnya Sumitro juga ikut berperan. Benang merah kepentingan yang diperjuangkan ialah mendorong produksi untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan sekaligus berarti menciptakan lapangan kerja bagi rakyat sehingga rakyat berdaya beli. Tetapi memang, Sumitro Plan sekali lagi bukanlah sebuah strategi besar, sebagaimana juga tadinya diharapkan terhadap Siasat Hatta yang tidak selesai itu. Sikap berbeda Di antara gelanggang adu tafsir itu pula ada yang tak terhindarkan kemudian, yakni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) dianggap sebagai representasi ekonomi kapitalis, yang free competition. Hubungan yang relatif longgar antara Hatta dan para teknokrat FE-UI tampaknya karena sikap yang berbeda terhadap teori ekonomi ganda Dr Boeke, yang sering disebut teori dualisme ekonomi. Hatta mungkin dianggap sebagai pengikut Boeke, sementara Boeke dikritik habis di FE-UI dan bahkan cenderung ditabukan untuk diikuti jalan pikirannya. Selain Sumitro, Dr Mohammad Sadli tercatat sebagai pengkritik Boeke. Padahal, Hatta hanya menggunakan analisis Boeke untuk menjelaskan realitas sosial ekonomi Indonesia di masa kolonial. Dengan meminjam analisis Boeke, Hatta ingin mengatakan, politik ekonomi kolonial telah membuka pintu selebar-lebarnya untuk kapitalisme yang keras hati dan merusak infrastruktur sosial yang ada tanpa menggantikannya. Justru dengan keyakinan itu sesungguhnya Hatta berharap bahwa setelah proklamasi dikumandangkan, tidak akan ada peluang bagi berkembangnya kapitalisme muda Indonesia, dan

bahkan percaya bahwa semangat kolektivisme masih hidup dan berkobar, termasuk ketegaran seluruh sendi-sendi kehidupan sosial Nusantara yang masih melekat dan kental di masyarakat Indonesia. Jadi, sesungguhnya Hatta memberikan peringatan dini kepada kita, agar setelah proklamasi kita tidak tergelincir ke dalam pilihan politik perekonomian yang keliru, yaitu yang membunuh akar kolektivisme itu perlahan-lahan dan membuka peluang seluas-luasnya kepada kapitalisme, yang seperti kata Boeke, "...kapitalisme yang berusia penuh ini masuk ke Indonesia sebagai perampas dan menaklukannya dalam beberapa puluh tahun saja ...." Bagi Hatta dasar dan orientasi politik perekonomian Indonesia adalah sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 33 UUD 1945. Dalam pidato Dies Natalis ke-9 Universitas Syah Kuala Darussalam, Banda Aceh, 2 September 1970, Hatta menyatakan, "Pasal 33 UUD 1945 itu ialah kebulatan pendapat yang hidup dalam perjuangan kemerdekaan pada zaman Hindia Belanda dahulu. Apabila diperhatikan struktur perekonomian di masa itu, akan terdapatlah tiga golongan ekonomi yang tersusun bertingkat. Golongan atas ialah perekonomian kulit putih, terutama bangsa Belanda. Produksi yang berhubungan dengan dunia luaran (internasional, tafsiran penulis) hampir rata-rata di tangan mereka, yaitu produksi perkebunan, produksi industri, jalan perhubungan di laut, sebagian di darat dan di udara, ekspor dan impor, bank dan asuransi. Lapis ekonomi kedua, yang menjadi perantara dan hubungan dengan masyarakat Indonesia berada kira-kira 90 persen di tangan orang Cina dan orang Asia lainnya. Orang Indonesia yang dapat dimasukkan ke dalam lapis kedua ini paling banyak mengisi 10 persen dari lapis itu. Itu pun menduduki tingkat sebelah bawah. Mereka sanggup masuk ke dalam lapis kedua itu karena kegiatannya bekerja dibantu oleh modal yang dimilikinya. Lapis ketiga ialah perekonomian yang segala kecil, yakni pertanian kecil, pertukangan kecil, perdagangan kecil, dan lain-lain. Itulah daerah ekonomi bangsa Indonesia. Pun pekerja segala kecil, buruh kecil, dan pegawai kecil diambil dari dalam masyarakat Indonesia ini. Dalam perekonomian yang segala kecil itu tak mungkin orang-seorang dengan tenaga sendiri sanggup maju ke atas. Hatta demikian yakin, struktur peninggalan kolonial itu dapat diatasi dengan membagi habis pelaksanaan perekonomian bangsa ke dalam tiga pelaku utama. Yakni, koperasi, pemerintah, dan swasta. Hatta mengalokasikan peranan perekonomian rakyat yang kecil-kecil pada koperasi, dengan harapan berangsur-angsur meningkat ke atas, artinya koperasi mendapatkan peranan membangun dari bawah. Sedangkan, peranan pemerintah oleh Hatta dialokasikan untuk melaksanakan dan mengusahakan segala hal yang terutama berkaitan dengan prasarana, sarana, dan layanan publik- dalam istilah Hatta, peranan pemerintah yang seperti ini disebut sebagai membangun dari atas. Sementara peranan swasta masih cukup luas, terbentang di antara peranan koperasi yang dari bawah dan peranan pemerintah yang dari atas. Sangat menyesal Struktur alokasi peranan pelaku ekonomi dalam perekonomian Indonesia yang diidealisasikan Hatta, terkesan sederhana dan mudah untuk diterapkan. Kenyataannya tidaklah demikian, apalagi pendekatan pelaku ekonomi cenderung berada dalam kerangka ekonomi mikro. Padahal untuk mewujudkan politik perekonomian yang disebut dalam UUD 1945 itu diperlukan taktik dan strategi yang cerdas dalam kerangka ekonomi makro. Hatta dari horizon normatif filosofis langsung menukik ke distribusi peranan pelaku ekonomi sehingga terhampar peluang perdebatan yang luas di antara keduanya. Padahal, hamparan yang luas itu semestinya adalah wilayah yang mengabdi kepada politik ekonomi yang telah jelas dalam versi keyakinan Hatta. Kekosongan ini pula yang mengakibatkan-apa boleh buat-kapitalisme muda Indonesia tumbuh berkembang yang antara lain didemonstrasikan oleh para pemburu rente ekonomi. Bersamaan dengan itu konglomerasi hadir tanpa kebijakan koreksi yang memadai. Tentu, Hatta sangat menyesali keadaan itu.

Memang, dalam masa Orde Baru, Ketetapan MPR tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dari satu periode ke periode lainnya antara lain menjadi dorongan dasar (basic drive) politik ekonomi. Akan tetapi, kenyataannya GBHN hanya menjadi dokumen sejarah, dikutip sebagai pidato dan bahan seminar. Praktik kebijakan publik yang memihak kepada cita-cita proklamasi semakin jauh panggang dari api. Pembangunan fisik tampak di mana-mana dan senantiasa bergandengan dengan peluang kebocoran anggaran. Seketika, kita ditakjubkan dengan kebijakan ekonomi pertumbuhan dalam dimensi disiplin ekonomi. Mesin pertumbuhan itu tiada lain adalah kapital. Karena National Capital Formation kita terperangkap ke dalam ketergantungan pada capital inflow yang sesungguhnya berupa debt inflow, maka ketika badai moneter datang menghantamnya, seluruh tiang-tiang penyangga pertumbuhan dengan serta merta ambruk. Maka tetaplah sebuah pertanyaan yang menggoda, di manakah sebenarnya letak missing link Hatta dalam peta pemikiran dan praktik politik perekonomian Indonesia yang menyebabkan Hatta seakan ditempatkan sebagai resi sang empunya ide yang dihormati luar biasa tapi tidak diikuti, seperti dikalahkan. Dan, yang luar biasa dalam posisi seperti itu, Hatta masih sempat menyaksikan mimpi indahnya menjadi peristiwa yang sebaliknya. Tetapi, betapapun Hatta telah memenangkan hati rakyat Indonesia. Karena itu, semestinya pula Hatta menang. Sejarah akan beraksi di suatu waktu .....( Suharso Monoarfa Pengusaha, majelis pakar DPP Partai Persatuan Pembangunan, tinggal di Bogor )

Silang Pendapat Sekitar Pengunduran Diri Hatta
* In Nugroho Budisantoso PENGUNDURAN diri Mohammad Hatta dari jabatan Wakil Presiden tanggal 1 Desember 1956 hampir selalu dipersoalkan. Sepertinya, itulah antiklimaks perjuangan Hatta sejak masa mudanya. Bahkan, seringkali putusan final Hatta tersebut dilihat sebagai pengingkaran tesis-tesis Hatta sendiri sebagai pemikir yang menjunjung tinggi faham kerakyatan. Sebab, dengan menjadi orang kebanyakan di luar arena pengambilan keputusan, mana mungkin Hatta dapat total berperan di dalam menata Indonesia yang sepenuhnya untuk rakyat? Ataukah pengunduran diri itu cara Hatta mendidik Soekarno dalam memahami kekuasaan? Atau justru letusan dari akumulasi kekecewaan Hatta terhadap Soekarno? Berlainan dengan Soekarno yang mencita-citakan persatuan ibarat luluhan massa yang mempunyai satu semangat dan tidak berbeda-beda kemauannya, seperti yang akhirnya tercermin dalam gagasan mengenai persatuan golongan nasionalis, agama, dan komunis (Nasakom), bagi Hatta, konsep persatuan, meskipun harus dimengerti sebagai satu bangsa yang tidak bisa dibagi-bagi, harus diletakkan dalam kondisi kemajemukan. Di dalam bangsa Indonesia yang satu itu boleh terdapat berbagai paham politik. Dan tiap-tiap paham itu harus mendapat kesempatan bergerak untuk menyuarakan asasnya. Hatta mengkritik persatuan yang sebetulnya hanya dipahami sebagai persatuan dalam Daulat Ra'jat Nomor 22, 20 April 1932. "... Daging kerbau, daging sapi, dan daging kambing dapat disate jadi satu. Akan tetapi, kepahaman rakyat dan kepahaman borjuis atau ningrat tidak dapat disatukan. Persatuan segala golongan ini sama artinya dengan mengorbankan asas masing-

masing." Negara tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri secara monologis sebagai penentu kebenaran untuk segala macam perkara. Pada awal-awal penyusunan konstitusi pertama (1945), Hatta menangkap gelagat bahwa negara yang sedang dilahirkan akan berkembang menjadi negara totaliter. Gelagat itu ditangkap Hatta ketika Soekarno menentang dimasukkannya butir-butir hak-hak asasi manusia dan hak-hak warga negara ke dalam konstitusi. Alasan Soekarno, panitia perancang konstitusi telah menyetujui adanya prinsip keadilan sosial. Prinsip keadilan sosial ini harus dipegang untuk menangkal paham individualisme yang tidak menjamin kesejahteraan rakyat. Terlebih lagi, menurut Soekarno, dasar yang dipakai untuk merancang konstitusi bukan kedaulatan individu melainkan kedaulatan rakyat. Mengenai individualisme ini, Hatta tidak berlainan pendapat dengan Soekarno. Hanya, Hatta mengingatkan bahwa kalau hak-hak individu tidak diperhatikan, dominasi negara terhadap rakyatnya akan tumbuh menjadi besar. Maka, Hatta menyerukan untuk diberikan hak kepada rakyat kebebasan bersuara dan berserikat. Menurut Hatta, keberadaan atau eksistensi warga negara harus diakui secara nyata. Hatta mengingatkan, janganlah warga negara hanya dipandang sebagai people melainkan juga sebagai human being yang mempunyai harga diri dan posisi tawar (bargaining power) berhadapan dengan negara sebagai lembaga. Rakyat harus (di)mampu(kan) untuk bertanya kepada negara, yakni atas dasar apa negara menjalankan kekuasaannya dan memerintah rakyat? Maka pendidikan untuk rakyat menjadi sungguh penting. Sebab, keterdidikan seseorang membimbing orang tersebut untuk membaca realitas secara jernih, termasuk dalam membaca tindakan-tindakan negara. Namun demikian, keterdidikan seseorang ini tidak datang begitu saja dari langit, tetapi harus diusahakan. Maka, Hatta mendorong lahirnya semakin banyak kaum terdidik dengan model-model kaderisasi sejak keterlibatannya dalam pergerakan nasional pada awal tahun 1930-an. Cara mendidik rakyat Perihal cara mendidik rakyat ini tentu saja berbeda dari Soekarno yang menempatkan dirinya di tengah-tengah massa sebagai orator yang mengajar dan beragitasi. Bahkan, Soekarno seolah membiarkan dirinya dipahami dalam kacamata supranatural oleh massa rakyat tradisional yang mengelu-elukannya. Di sinilah Hatta memandang ketidakefektivan cara Soekarno. Sebab, secara tidak langsung Soekarno memelihara cara-cara rakyat yang cenderung kurang rasional dalam membaca situasi di sekelilingnya. Agak provokatif memang tulisan Hatta yang pertama kali diterbitkan dalam Daulat Ra'jat No 37, 20 September 1932. "... Kita mau bersekolah dulu, bersekolah membentuk budi dan pekerti, bersekolah dalam memperkuat iman. Ternyata dalam riwayat yang baru lalu, bahwa budi, pekerti dan iman itu yang paling perlu bagi pergerakan kita. Tidak perlu tepuk dan sorak, kalau kita tidak sanggup berjuang, tidak tahu menahan sakit. Indonesia merdeka tidak akan tercapai dengan agitasi saja. Perlu kita tahu bekerja dengan teratur; dari agitasi ke organisasi!" Dalam konteks ini Hatta menganjurkan untuk tidak mendewa-dewakan pemimpin. Sebab, yang terpenting adalah keterdidikan rakyat. "Bagaimana juga cakap dan pandai seorang pemimpin," demikian Hatta, "kalau rakyat tidak mempunyai kemauan dan keinsafan, pergerakan akan tinggal sia-sia." Kondisi real pemahaman rakyat tradisional mengenai kepemimpinan seperti itu merupakan fakta di depan mata Hatta yang mencita-citakan tata negara modern yang demokratis.

Adapun dunia adil makmur dalam pandangan Hatta adalah sebentuk masyarakat sosialis masa depan. Paham ini diperoleh Hatta melalui persentuhannya dengan pemikiran-pemikiran seputar Marxisme. Dalam pikiran Hatta, sosialisme itu harus timbul pertama-tama oleh karena suruhan agama, bukan mentah-mentah karena pertentangan kelas menurut Karl Marx. Maka tidak mengherankan kalau sosialisme Hatta disebut sosialisme religius. Sebagai seorang muslim yang saleh, Hatta selalu mendasarkan segala sesuatunya pada asal dan tujuan kehidupan, yaitu Allah. Aliran berkat Allah mendapat jalan dalam maksud-maksud lurus manusia. Maka politik bagi Hatta sesungguhnya tidak kotor, tetapi suci. Berhentinya perjuangan rakyat itu hanyalah bahasa lain dari kurang seriusnya perencanaan dan pemborosan energi perjuangan yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Pilihan Soekarno untuk menempatkan diri sebagai satu-satunya pemimpin di depan rakyat, dan menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah, dalam pandangan Hatta bisa menjadi batu sandungan keberlanjutan perjuangan. Sebab, terbukti bahwa untuk beberapa kali Soekarno tertangkap pemerintah kolonial. Tertangkapnya Soekarno tersebut menyebabkan pergerakan menjadi terhenti. Sebaliknya Hatta menekankan pentingnya kehadiran pemimpin-pemimpin lapis kedua sehingga kepemimpinan pergerakan jalan terus. Tidak tergantung pada satu pemimpin. Perihal revolusi sosial dan peran daerah Bagi Hatta, pembangunan masyarakat dan negara merupakan bagian terbesar dari seluruh revolusi. Dalam konteks revolusi sosial, Hatta menulis dalam Mimbar Indonesia Nomor 32, Tahun IV, 12 Agustus 1950. "Perjuangan mencapai kemakmuran berlainan coraknya daripada perjuangan menuju kemerdekaan. Semboyan yang membakar semangat dan membangunkan jiwa romantik tidak terpakai lagi. Semboyan untuk merintis jalan ke padang kemakmuran rakyat harus ditujukan kepada keinsafan tentang tanggung jawab dan disiplin serta keinsyafan tentang realitas." Hal ini menegaskan sikap Hatta yang berlainan dengan Soekarno dalam memandang revolusi. Soekarno menyerukan bahwa revolusi belum selesai dan dalam kerangka menuju pemenuhan revolusi itu, ia selalu mengaduk-aduk emosi rakyat dengan janji-janji, sedang Hatta merasa bahwa sudah saatnya janji-janji mendapatkan perwujudannya. Menurut Hatta, salah benar kalau orang mengatakan bahwa revolusi nasional belum selesai. Revolusi nasional tidak dapat berlaku terlalu lama. Revolusi nasional harus dipimpin secara teratur untuk mendidik orang banyak ke jalan menginsyafi tanggung jawab di dalam demokrasi. Di dalam demokrasi itu pembangunan dijalankan menurut kehendak rakyat. Pembangunan yang menurut kehendak rakyat dalam revolusi sosial itu dijalankan dengan prinsip mengedepankan peran serta daerah. Pemberdayaan rakyat harus nyata di daerah-daerah. Hanya urusan-urusan besar dan menyangkut hajat hidup orang banyak yang diurus oleh pusat. Suatu kali Hatta menggambarkan peran serta daerah itu, yaitu yang paling sesuai dengan situasi adalah otonomi yang diletakkan pada kabupaten. Kelak dalam tulisannya Demokrasi Kita (1959), Hatta mengkritik cara kerja Soekarno yang "dalam segala ciptaannya memandang garis besarnya saja. Hal-hal yang mengenai detail, yang mungkin menyangkut dan menentukan dalam pelaksanaannya tidak dihiraukannya. Sebab itu, ia sering mencapai yang sebaliknya dari yang ditujunya." Setidaknya sekali, ruang luas sempat hadir di hadapan. Hatta untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu ketika situasi memaksanya menjadi perdana menteri (1948-1950) selain jadi Wakil Presiden. Harus diakui, pemerintahan Hatta waktu itu cukup stabil dan terprogram jelas, sekalipun berangkat dari situasi kekalahan diplomasi Indonesia dalam Perjanjian Renville.

Keberhasilan Kabinet Hatta, misalnya dapat diamati dalam pencapaian Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, rasionalisasi dalam kepegawaian, penanganan pengangguran, pembentukan koperasi-koperasi pertanian, pencegahan penimbunan barang-barang pokok, perluasan sawah, dan dimulainya pelaksanaan gagasan otonomi yang luas untuk daerah-daerah. Adapun mengenai perangkapan jabatan Hatta ini, sesungguhnyalah dengan menjadi perdana menteri itu banyak hal yang bisa dibuat oleh Hatta daripada "hanya" sebagai wakil Presiden saja. Bahkan, dapat dikatakan de facto Hatta lebih berkuasa daripada Soekarno. (Apakah ini bermasalah buat Soekarno?) Hatta di tengah kekuatan politik Pada tanggal 22 Agustus 1945, Presiden Soekarno dalam pidatonya di depan sidang PPKI mengumumkan terbentuknya Komite Nasional Indonesia (KNI), Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Setelah itu, rupanya pembentukan komite nasional mendapat porsi perhatian lebih. Pembentukan partai nasional tertunda. Dalam perkembangannya, atas usul KNI-Pusat (KNIP) dalam sidangnya tanggal 16 Oktober 1945, dikeluarkan Maklumat Nomor X dari Wakil Presiden yang memberikan kekuasaan legislatif dan wewenang ikut serta menetapkan Garis-garis Besar Halauan Negara (GBHN) kepada KNIP sebelum MPR terbentuk. Waktu itu dirasa bahwa rumusan Aturan Peralihan pasal IV UUD 1945 yang menyatakan sebelum lembaga-lembaga negara dibentuk "segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah komite nasional" terlalu mengesankan kekuasaan Presiden yang amat besar dan bisa dilihat sebagai fasis baru setelah Jepang. Dengan perubahan status KNIP itu, Indonesia menganut sistem parlementer. Konsekuensinya, suara rakyat harus disalurkan melalui organisasi politik. Artinya partai-partai harus didirikan. Berkenaan dengan ini akhirnya pada tanggal 3 November 1945 dikeluarkan maklumat dari Wakil Presiden (juga) yang berisi pencabutan diadakannya gerakan untuk membentuk Partai Nasional Indonesia dan sebagai gantinya dianjurkan pembentukan partai-partai. Berubahnya kedudukan KNIP, selain karena alasan mengenai pasal peralihan tersebut, berangkat pula dari kondisi bahwa kabinet Soekarno - Hatta mengalami kesulitan dalam diplomasi. Kalangan Barat memandang Soekarno dan Hatta mempunyai hubungan khusus dengan Jepang. Hal ini tentu saja tidak menguntungkan Indonesia. Dalam berubahnya kedudukan KNIP ini pun, ada yang menyebut bahwa telah terjadi kudeta sipil dengan tokoh sentral Sjahrir yang terlibat penuh dalam KNI -sebagai ketua Badan Pekerja KNIPdan yang telah mempengaruhi aksi-aksi KNIP. Dan akhirnya Sjahrir-lah yang dipandang cocok menjawab situasi dengan menjadi perdana menteri karena dikenal anti-Jepang, berpendidikan Barat, serta diterima kalangan pejuang tua dan muda. Namun, sejak munculnya partai-partai berkenaan dengan sistem parlementer ini, situasi pemerintahan justru bergolak. Soekarno di kemudian hari sangat menyesalkan keputusan yang ditandatangani Hatta mengenai berdirinya partai-partai itu. Dalam sebuah pidatonya pada tahun 1956 di hadapan pemuda, Soekarno mengatakan, "Ada penyakit yang kadang-kadang bahkan lebih parah daripada perasaan kesukuan dan kedaerahan! Engkau bertanya, penyakit apakah itu? Itulah penyakit kepartaian, saudara-saudara! Ya, aku akan berterus terang; itu penyakit kepartaian. Pada bulan November 1945-baiklah kita berterus terang-kita telah membuat kesalahan besar. Kita menganjur-anjurkan pembentukan partai-partai, partai-partai, partai-partai. Itulah salah satu kesalahan pada bulan November 1945. Sekarang kita menanggung akibat- akibatnya. Lihatlah keadaan kita! Selain penyakit kesukuan dan kesetiaan kedaerahan, kita terkena penyakit kepartaian yang sayang sekali, sayang sekali, menyebabkan

kita selalu cakar-cakaran satu sama lain ... Sekarang marilah kita bersama-sama mengubur semua partai...." Sedangkan Hatta berpendapat lain. Dalam pidatonya di Universitas Gadjah Mada pada 27 November 1956, ia mengungkapkan, masalahnya bukan semata-mata karena keberadaan partai-partai tetapi pada waktu-waktu itu pemerintahan dalam kondisinya yang tidak berwibawa. Yang berkembang justru proses demoralisasi dan melenyapnya tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya. Segala pergerakan dan semboyan nasional diperalat. Partai-partai politik ditunggangi untuk mencapai kepentingan sendiri. Partai-partai, menyuruh orang-orangnya, bahkan yang kelas dua, untuk duduk di dalam kabinet sehingga lembaga pemerintah seperti suruhan partai saja. Namun, untuk mengembangkan demokrasi tidak bisa dengan jalan seperti yang ditempuh Soekarno, dengan mengubur semua partai-partai. Menjalankan demokrasi itu perlu latihan, termasuk dalam menghadapi saat-saat sulit. Dalam bentangan waktu sejak Agustus 1945, selain partai-partai juga muncul kekuatan nasional yang lain yaitu tentara, perkembangan dari BKR. Soekarno sebagai Presiden di samping harus menjalin hubungan dengan partai-partai, juga harus menjalin hubungan dengan tentara dalam strategi politiknya. Adapun sepeninggal Jenderal Soedirman, Januari 1950, tentara dibangun menurut rancangan Nasution yang menggantikannya. Pada saat RIS berdiri, berdasarkan konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS), Soekarno sebagai Presiden kekuasaannya kecil saja. Juga peran tentara sedikit terpinggirkan. Maka Soekarno dan Nasution kemudian memperjuangkan penghapusan sistem federal dalam bentuk RIS-yang notabene menempatkan Hatta relatif lebih berkuasa daripada Soekarno-dan menegakkan (kembali) negara kesatuan. Mengenai aksi-aksi mengembalikan negara kesatuan ini, Hatta berpendapat dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1950. "Aturan menyusun dan menyatukan tenaga untuk pembangunan, banyak tenaga terbuang untuk memperjuangkan negara kesatuan itu. Selagi yang urgent, ialah pemecahan soal-soal hidup dalam praktik, segala tenaga diadu dalam pergolakan cita-cita. Pemimpin-pemimpin yang katanya membela kepentingan rakyat, perbuatannya membawa rakyat bertarung." Pada kesempatan yang sama Hatta mengatakan, "Demokrasi membawa kebebasan, tetapi demokrasi yang tidak kenal batasnya meluap menjadi anarki. Pada mulanya disangka bahwa status quo Konferensi Inter-Indonesia, yang menjadi dasar penetapan Undang-Undang Dasar RIS sementara pada KMB, dapat dipertahankan sampai terbentuknya konstituante atas pemilihan umum yang bebas dengan pemungutan suara yang rahasia. Konstituante itu nanti yang akan menetapkan corak dan bentuk tata negara Indonesia. Akan tetapi, demi RIS mulai berkembang, timbullah di segala daerah di luar Republik, gerakan dan tindakan yang menuntut supaya negaranya dibubarkan dan daerahnya digabungkan dengan Republik Indonesia." Sekalipun sejak masa di dalam Perhimpunan Indonesia, dulu Hatta dikenal sebagai penganjur federalisme, tetapi ketika bentuk federal sudah nyata dalam RIS, ia tidak memegangnya sebagai tujuan mati. Yang ia sayangkan adalah mengapa orang tidak sabar menunggu berjalannya proses. Sebab, di dalam RIS itu pun nantinya akan diadakan pemilihan umum yang menghasilkan wakil-wakil rakyat yang akan menetapkan bentuk negara. Perjuangan nasional akhirnya terpatah-patah karena menghendaki perubahan-perubahan sekejab. Sementara itu, keeratan Soekarno dan Nasution terjalin ketika politisi partai-partai di parlemen sibuk untuk menjatuhkan kabinet, dan melupakan tugas menyusun perundangundangan. Dalam situasi kabinet jatuh bangun dan diiringi dengan kekacauan tersebut, tentara berperan besar dalam (tugas) menanggulangi segala kekacauan. Namun, rupanya Soekarno tidak sabar melihat kekacauan yang menurut pandangannya kian tak terselesaikan dengan jalurjalur yang ada.

Maka, untuk menyelesaikan kekalutan politik tersebut sekaligus berdasarkan premis bahwa revolusi belum selesai dan segala susunan tata politik bersifat sementara, Soekarno menyerukan dilaksanakannya Demokrasi Terpimpin. Prinsip Demokrasi Terpimpin adalah melaksanakan rencana-rencana pembangunan dengan satu tindakan kuat di bawah satu pimpinan yang didukung kekuatan golongan terbesar dan berpengaruh di dalam masyarakat, yaitu golongangolongan nasionalis, Islam, komunis, dan tentara. Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat, yang semua anggotanya ditunjuk oleh Soekarno, tugasnya hanya memberikan dasar hukum kepada keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pemerintah. Soekarno merasa dengan cara demikian, pembicaraan-pembicaraan dapat cepat selesai, tidak bertele-tele. Hatta menentang Demokrasi Terpimpin yang digagas Soekarno ini. Dalam "Demokrasi Kita" Hatta menunjukkan sejumlah tindakan Soekarno yang tidak bertanggung jawab. Dengan dijalankannya Demokrasi Terpimpin itu, Hatta menilai, "lenyaplah sisa-sisa demokrasi yang penghabisan." Yang ada tinggal Soekarno sebagai diktator yang didukung kalangan tertentu. Dan dalam paparan yang sama Hatta pun berujar, "Bagi saya yang lama bertengkar dengan Soekarno tentang bentuk dan susunan pemerintahan yang efisien, ada baiknya diberikan fair chance dalam waktu yang layak kepada Presiden Soekarno untuk mengalami sendiri, apakah sistemnya itu akan menjadi suatu sukses atau suatu kegagalan... Tercapaikah atau tidak kemakmuran rakyat dengan itu, kemakmuran rakyat yang Soekarno sendiri juga menciptakannya dengan sepenuh-penuh fantasinya? Sanggupkah ia menahan kemerosotan taraf hidup rakyat dalam tempo yang singkat? Dapatkah ia menyetop inflasi yang membawa orang putus harapan?" Dalam semuanya itu tidak bisa dimungkiri, Soekarno ingin mengontrol semuanya, termasuk terhadap partai-partai dan tentara. Berangkat dari jaring-jaring relasi Soekarno-partai-partai dan Soekarno-tentara, intrik-intrik politik berkembang. Di sini pula bergema kata-kata, kawan politik tidak pernah abadi, tetapi yang abadi adalah kepentingan. Melihat ini Hatta berkomentar dalam"Demokrasi Kita" bahwa pada permulaan kemerdekaan ... orang merasai benar tanggung jawabnya. Tetapi setelah kemerdekaan itu diakui oleh seluruh dunia sebagai hasil daripada Konferensi Meja Bundar ... orang melupakan syarat-syarat untuk membangun demokrasi di dalam praktik. Politik menjadi ajang mempertahankan kekuasaan (dan merebut kekuasaan) dalam jaring-jaring relasi yang dijalankan. Pengunduran diri Hatta dari jabatan "wakil-nya Soekarno" kiranya dapat diletakkan dalam kerangka hal-hal itu. Sedang, menurut UUDS 1950 pun, Hatta tidak mempunyai kekuasaan konkret, hanya mempunyai tugas seremonial saja. Hingga Hatta tidak bisa berbuat apa-apa meski terjadi banyak hal yang menyimpang. Padahal, ia ikut memikul tanggung jawab moral. Hatta merasa bahwa kekuasaan yang ada padanya tidak efektif lagi. Setelah mengundurkan diri, Hatta memang masih mencoba berkiprah melalui tulisan yang isinya lebih banyak mengenai pemberian peringatan, baik lewat surat-surat pribadi kepada Soekarno maupun lewat tulisan-tulisan di media publik. Tetapi dapat dibaca dari memori sejarah kita, seberapa besar peran Hatta mulai saat itu? In Nugroho BudisantosoBekerja di Kolese Le Cocq d'Armandville Nabire-Papua

Tidak Generasi Kerdil
* Taufik Abdullah DALAM salah satu sidang dari Konferensi Sejarah Indonesia-Belanda yang diadakan di Belanda (1976), seorang guru besar Belanda, ahli sastra Indonesia, bertanya kepada sang pemakalah.

"Selain kedekatan bahasa Minangkabau dengan bahasa Indonesia, apakah yang menyebabkan pengarang dari Minangkabau bisa tampil sebagai pelopor sastra Indonesia modern? Mengapa sebagian besar dari penulis roman terbitan Balai Pustaka berasal dari Minangkabau?" Sang pemakalah sama sekali tidak menyangka datangnya pertanyaan seperti itu. Sebab, makalah yang diajukannya ialah sebuah interpretasi historis tentang penghadapan Minangkabau dengan masalah kolonialisme setelah Perang Padri berakhir. Apakah kekalahan harus diterima sebagaimana adanya ataukah dikaburkan secara kultural sehingga kepedihan itu tak lagi terasa? Atau bagaimana? Pada tahun 1832, benteng Bonjol jatuh ke tangan serdadu Kompeni. Intervensi Kompeni, yang sejak abad ke-17 telah bercokol di kota Padang, pada tahun 1821 masuk ke dalam konflik internal Minangkabau, kini, sebelas tahun kemudian, seakan-akan telah berakhir dengan kekalahan kaum Padri. Perilaku serdadu Kompeni pun menunjukkan keyakinan mereka bahwa perang yang melelahkan itu telah berakhir dengan kemenangan mereka. Tidak ubahnya dengan gaya orang yang menang perang, para serdadu itu pun berbuat sekehendak hati mereka. Masjid dijadikan asrama dan ternak, serta bahan makanan lain dirampas begitu saja. Tetapi, perasaan menang perang itu hanyalah ilusi saja. Tiba-tiba di suatu malam, seruan "Allahu Akbar" berkumandang, ratusan "kaum Putih" menyerbu serdadu Kompeni yang sedang pulas dalam mabuk kemenangan itu. Hanya beberapa orang serdadu Kompeni yang lolos untuk menceritakan kisah tragis yang telah mereka alami. Lonceng bermulanya perlawanan baru telah dimulai. Kompeni menghadapi kenyataan bahwa "kaum hitam", para pendukung tatanan sosial dan kehidupan keagamaan yang lama, yang mereka bela dalam menghadapi "kaum putih", yang secara radikal menginginkan pembaruan sosial-keagamaan yang total, telah banyak yang berpaling. Babak ketiga dari Perang Padri-yang pertama merupakan konflik internal, dan kedua intervensi Belanda ( 1821)-telah bermula. Kini yang terjadi ialah perlawanan Minangkabau melawan Kompeni. Pada fase ketiga inilah "raja alam" Minangkabau, yang bersemayam di Pagaruruyung, Sultan Bagagarsyah Alam, dibuang ke Batavia. Ia telah memperlihatkan tanda-tanda bersimpati pada kaum Padri. Sentot Alibasyah, salah seorang bekas panglima pasukan Pangeran Diponegoro di masa Perang Jawa (1825-1830), yang sempat berpihak pada Kompeni, dibuang ke Bengkulu. Ia dan beberapa orang penghulu adat dicurigai telah "bermain mata" dengan kaum Padri. Nasib para penghulu adat lebih parah. Mereka dihukum gantung. Pemerintah Hindia Belanda kini telah menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya menghadapi "kaum putih" yang radikal, tetapi masyarakat Minangkabau. Maka pemerintah pun mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang (1833)-sebuah pernyataan yang sampai sekarang tidak pernah terhapus dari ingatan kolektif Minangkabau. Pernyataan itu mengatakan bahwa kedatangan Kompeni ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri ini, mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan. Penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak atau belasting. Hanya saja, karena usaha Kompeni untuk menjaga keamanan, mencegah terjadinya "perang antar-nagari", membuat jalan-jalan, membuka sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka penduduk diwajibkan menanam kopi dan menjual hasilnya ke gudang-gudang pengumpulan kopi, pakhuis, Kompeni. Tetapi perang terus juga berlanjut. Akhirnya benteng Bonjol jatuh juga untuk kedua kalinya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1837. Tuanku Imam Bonjol yang datang menemui panglima Belanda untuk berunding, malah ditangkap dan langsung dibawa ke Padang, untuk selanjutnya dibuang Jawa. Ia akhirnya menemui

pencipta-Nya di Lotak, tanah Minahasa. Meskipun secara resmi Perang Padri berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol, tetapi benteng terakhir Padri, Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai, barulah jatuh pada tahun 1838. Alam Minangkabau telah menjadi bagian dari pax neerlandica. Tetapi pada tahun 1842, pemberontakan Regent Batipuh-regent yang diangkat pemerintah Hindia Belanda karena membantu Kompeni - meletus dengan dahsyat. Setelah pemberontakan ini berhasil dipadamkan, tanaman paksa kopi dilaksanakan. Anak negeri pun diharuskan menjual kopi hasil mereka ke pakhuis, gudang pembelian, Kompeni dengan harga yang telah ditetapkan. Provinsi Sumatra's Westkust telah berdiri dengan segala kelengkapannya. Seperti halnya dengan kebanyakan daerah di Hindia Belanda, Minangkabau pun diperintah dengan gaya "tidak langsung", indirect, artinya Belanda bertengger di atas sistem kekuasaan tradisional. Untuk keperluan itu pemerintah memperkuat sistem kekuasaan adat ini dengan memperkenalkan pemerintahan yang supra Nagari, di bawah pimpinan seorang tuanku laras. Karena itulah dampak kekuasaan Belanda menukik jauh ke bawah, apalagi dengan sistem tanam paksa kopi dan keharusan rodi atau heerendiensten alias kerja paksa untuk membuat jalan dan fasilitas umum lainnya. Hanya penghulu adat dan kerabat dekatnya yang terbebas dari wajib rodi. Realitas politik dan ekonomi dengan keras bisa bersaksi bahwa sejak jatuhnya benteng Bonjol, "alam Minangkabau" praktis telah berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda (meskipun, perlu juga dicatat bahwa proses penetrasi kekuasaan Belanda ke daerah-daerah terpencil masih berjalan sampai dengan awal abad 20), tetapi tidak demikian halnya dalam kesadaran masyarakat dan tidak pula begitu dalam paradigma politik yang berlaku. Bukankah Plakat Panjang telah mengatakan bahwa Kompeni datang untuk berdagang dan menjaga keamanan? Bukankah pula pemegang kekuasaan yang tampak dalam keseharian adalah para penghulu adat mereka juga dan bukankah pula para penghulu itu senantiasa berunding di balai adat juga? Tidakkah tuanku laras, yang menjadi kepala federasi nagari adalah seorang penghulu adat? Rodi memberatkan dan menjengkelkan, tetapi bukankah yang mengaturnya seorang "penghulu rodi"? Maka, begitulah masyarakat Minangkabau berbuat sesuai dengan paradigma yang dibentuk oleh pemahaman tentang Plakat Panjang ini, betapapun mungkin realitas politik dan ekonomi yang keras mengatakan sebaliknya. Pola perilaku terhadap kekuasan pun dibentuk oleh paradigma ini. Kalau keluarga penghulu bisa bebas dari rodi, mengapa keluarga yang kaya tidak "mendirikan" kepenghuluan sendiri atau keluarga penghulu yang besar membagi dua kepenghuluannya? Apalagi pengangkatan seorang penghulu hanya memerlukan sakato alam, artinya persetujuan komunitas adat, yang memang hanya sebatas nagari saja. Kalau harga kopi ditentukan pemerintah, sang pemegang monopoli tidak pernah mengalami perbaikan, mengapa tidak berdagang komoditas lain? Bila perilaku ekonomi ini telah dijalankan, siapakah yang akan heran kalau produksi kopi terus menurun? Pemasukan ke dalam kas pemerintah secara pasti menurun pula dari tahun ke tahun. Minangkabau pun melanjutkan kehidupan politik dan ekonomi dalam suasana kepura-puraan ini, seakan-akan Kompeni hanyalah tamu kaya yang pantas disegani saja. Landasan baru, konservatisme baru "Kemenangan" Minangkabau setelah Perang Padri berakhir ini tidaklah hanya terletak pada kemampuannya menghadapi tantangan kolonialisme, tetapi juga pada keberhasilan relatif untuk mengatasi dilema kultural yang dihadapinya. Bagaimanakah kesaktian adaik nan kawi, yang dikatakan "tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan" bisa dipertahankan, kalau

pengabdian kepada agama akan ditegakkan? Bagaimanakah sistem kekerabatan yang matrilineal harus dipelihara kalau ketentuan fikih yang cenderung patrilineal harus diikuti pula? Bukankah keduanya sekadar masalah kekerabatan, tetapi juga melibatkan sistem kekuasaan dan hukum waris? Kesalahan dalam menjalankan ketentuan warisan ini hukumnya tak pula kurang daripada haram. Syekh Ahmad Chatib al-Minangkabawi, yang berasal dari Kota Gadang dan menjadi salah seorang Imam dari Mazhab Syafei di Masjidil Haram, Mekkah, tidak mau pulang ke tanah kelahirannya karena hukum waris Minangkabau telah menyebabkan masyarakat ini menanggung dosa kolektif. Sebab-sebab ideologis dari Perang Padri, di samping faktor ekonomi dan status sosial, yang mendukungnya, sesungguhnya bermula dari hasrat reformasi yang keras dari para ulama muda, yang telah terpengaruh oleh gerakan radikal yang sedang mekar di Tanah Suci. Dalam perang-perang yang saling menghancurkan nagari ini-sesuatu yang seingat masyarakat tidak pernah terjadi-pelan-pelan, tetapi pasti kearifan baru muncul juga. Akhir dari Perang Padri memang telah menjadikan daerah pedalaman Minangkabau jatuh ke bawah kekuasaan Belanda, tetapi struktur kekuasaan adat baru dan lebih penting lagi, pemahaman baru tentang hubungan adat dan agama didapatkan juga. Wacana adat tidak menafikkan gejolak perubahan yang sedang melanda masyarakat, tetapi bukankah yang terpenting ialah kemaslahatan bersama? Karena itulah semua harus dimusyawarahkan. Buku Datuk Sangguno Diradjo, yang berjudul, Mustiko adat Alam Minangkabau, yang ditulis sebagai kisah fiktif, menghadapkan dirinya kepada dilema antara perubahan hasil musyawarah dengan kearifan yang terlekat pada tatanan sosial yang diwarisi. Merantau adalah suatu keharusan demi tercapainya keluasan wawasan dan sebagainya, tetapi bukankah merantau bisa menyebabkan sang perantau menginginkan sesuatu yang baru di kampung halamannya? Maka, sebuah diktum adat pun diperkenalkan dan selalu diajarkan, Elok di awak, katuju di urang- "yang bagus bagi kita , (mestilah pula) disenangi orang lain". Pergolakan intelektual Konservatisme tidaklah landasan dari perilaku reaksioner, yang menolak segala perubahan dan ingin kembali ke tatanan lama yang telah diidealkan. Konservatisme bertolak dari keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap terbukti baik. Maka mestikah diherankan kalau ketika perubahan yang datang dari luar terasa menggugah kemantapan tata cara yang telah diyakini sebagai sesuatu yang baik itu, para literati, sang penjaga kemantapan, dipaksa juga untuk menggali unsur dinamis dari konservatisme? Inilah yang terjadi ketika seruan "kemajuan" telah semakin bergema. Ketika inilah seorang ideolog dan sekaligus literati adat Minangkabau, Datuk St Maharadja, menganjurkan pendidikan perempuan. Ia pun mendirikan beberapa kursus tenun bagi perempuan dan menerbitkan surat kabar perempuan, Soenting Melajoe (1915-1920), dengan redaksi Rohana Kudus (kakak seayah Sutan Sjahrir) dan anaknya sendiri, Ratna Djoewita, yang masih bersekolah, tetapi telah dikhayalkannya sebagai "Kartini Kecil". Bukankah, katanya, adat Minangkabau bertolak dari garis keibuan? Tetapi, mengapa dibiarkan kaum ibu tertinggal dalam peredaran zaman? Jadi, perempuan bersekolah bukanlah akibat pengaruh Barat, tetapi keharusan kultural yang telah terlekat dalam adat Minangkabau. Dengan kata lain, adat Minangkabau pada dasarnya adalah peletak dasar "kemajuan". Dengan alur argumen seperti ini pula ia memimpin "revolusi adat", yang menyerang sistem status sosial Kota Padang, yang dipengaruhi Aceh.

Hatta dan cendekiawan Minangkabau "Sebuah abad besar telah lahir. Tetapi, ia menemukan generasi yang kerdil." Bung Hatta tidak pernah lupa dengan kuplet sajak Schiller ini. Ia bahkan sering sekali mengutipnya, sejak ia mulai memperkenalkannya di tahun 1920-an. Barangkali ia merasakan bahwa abad ke-20 adalah sebuah abad yang melahirkan berbagai kesempatan. Bukankah ia, seorang anak dari negeri jajahan, bisa juga menimba ilmu di Eropa, bahkan memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya di negeri sang penjajah? Tetapi, mengapakah sedemikian cepat ia telah terbawa oleh suasana "abad besar" itu? Mungkinkah pengalaman dan suasana kampung halamannya mempengaruhi juga pembentukan pribadi dan sikapnya? Ketika pemberontakan anti-belasting terjadi di Kamang, sebuah nagari yang terletak tidak jauh dari Kota Bukittinggi, pada tahun 1908, Hatta telah berumur enam tahun. Ia mungkin tidak tahu apa yang terjadi di dekat kota kelahirannya itu. Tetapi, mitos Plakat Panjang yang dikhianati tidak pernah dilupakannya, meskipun kemudian, di masa tuanya, ia bisa melihatnya dengan rasa kelucuan. Sebagai anak MULO, yang bersekolah di Padang, ia pun-seperti juga teman akrabnya Bahder Djohan-bukan saja aktif membantu penerbitan Soeara Perempoean (dengan tugas mengepak majalah untuk dikirim), tetapi juga telah ikut menjadi pengurus cabang JSB. Ia pun tidak pernah melupakan keakraban hubungan mereka, anak-anak sekolah menengah Barat, dengan para pentolan Sarekat Oesaha, para pedagang besar, yang berpusat di Pasar Gadang (Padang) dan ulama "kaum muda". H Abdullah Ahmad, pemimpin "kaum muda" di Padang adalah juga guru agama Islam di sekolah MULO. Hatta-seperti juga kawan-kawan seangkatannya dan yang lebih muda -memang ditempa oleh Minangkabau yang sedang berada di persimpangan jalan ketika hasrat "kemajuan" telah menggoyah validitas landasan konservatismenya dan ketika hasrat kebebasan individu harus ditempa oleh keterikatan pada komunitas. Ia dibesarkan di saat optimisme memasuki "dunia maju" masih terus dibayangi oleh mitos Plakat Panjang yang dikhianati. "Tradisi penentangan" masih merupakan bagian dari kesadaran masyarakat, meskipun kesempatan yang dibukakan oleh kekuasaan kolonial tidak pula dibiarkan lewat begitu saja. Ia pula adalah seorang "anak kota" yang merasakan apa pula artinya berada dalam situasi multikultural dan suasana sosial hierarki sosial yang ditentukan oleh ras. Suasana kultural dan sosial inilah yang menghilangkan perbedaan mendasar antara Hatta, yang berlatar belakang keulamaan dan dunia dagang, dengan kawan seangkatan atau yang lebih muda. Seperti halnya dengan Hatta, Natsir, dan Assaat, bahkan juga Tan Malaka, bersekolah "Belanda", tetapi mereka adalah keturunan penghulu adat, yang kemudian menduduki jabatan itu di pesukuan mereka masing-masing. Sjahrir, seperti juga the grand old man Haji Agus Salim, adalah keturunan pejabat pemerintah. Yamin adalah anak guru. Tetapi kesemuanya, di samping yang lain, lagi, seakan-akan menolak "ketakutan" Schiller, yang selalu diingat Hatta- mereka bukanlah generasi yang kerdil ketika "abad besar" telah datang. Hatta mungkin yang paling terkemuka, tetapi ia di tengah-tengah kawan segenerasinya, bahkan juga yang lebih muda, tidaklah unik. Mereka adalah generasi yang ditempa oleh sebuah masyarakat yang sedang mengalami self-examination. Seakan-akan mewujudkan dalam kehidupan pribadi pandangan kesejarahan tambo mereka tidak berhenti pada terciptanya kesempurnaan "alam", tetapi melanjutkan eksplorasi ke "rantau" dan menjinakkannya. Secara konseptual, mereka menjadikan rantau sebagai "kampung halaman". Maka Hatta pun menulis, beberapa saat sebelum ia ditangkap dan dibuang," Di atas segala

lapangan tanah air aku hidup,aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku". Kalau telah begini, mestikah diherankan kalau dalam pidato pembelaannya di Belanda (1928) ia menyudahinya dengan sebuah doa harapan," Semoga bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan di bawah langit yang biru dan merasa dirinya sebagai yang mempunyai negeri, karunia rahmat Tuhan". Dan mengakhirinya dengan mengutib sekuplet sajak Renne de Clerq, "Hanya satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan adalah usahaku." Kesudahannya? The rest is history. Kesudahannya adalah sejarah yang masih merupakan bagian dari ingatan kolektif bangsa. Sentralisasi kekuasaan, otoritarianisme, serta hegemoni wacana dari pemegang kekuasaan tanpa disengaja telah mengancam "kampung halaman "kembali menjadi rantau-rantau yang asing dan nan batuah". Mungkin, sebuah "kecelakaan sejarah" ketika tantangan sentralisasi kekuasaan hegemoni wacana ini datang, Minangkabau tak lebih daripada "murid yang baik" saja. Sebuah "kesalahan historis" yang nyaris fatal telah menyebabkannya kehilangan pilihan, selain mengikuti pada yang diinginkan oleh sang pemegang kuasa. "Kesalahan historis" ternyata telah menghambat lahirnya "abad besar". Dr Taufik Abdullah Ketua LIPI

Tragedi Hatta pada Masa Senja Usia
* Daniel Dhakidae Kompas/AM Dewabrata Sawito Kartowibowo sedang hadir di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 1977.

MASA tua Mohammad Hatta diisi oleh penarikan diri dari kegiatan politik terbuka sambil sekali-sekali keluar sebagai simbol moral politik bangsa ini. Pada pandangan pertama ini ditandai oleh sesuatu yang unhattaistic, sama sekali lain dan sama sekali bertolak belakang dengan seluruh perangai politik yang selama ini kita kenal, yaitu sebagai seorang skolastik, the rational-democratic figure. Ada sekurang-kurangnya dua ciri utama politik ini. Pertama, politik ini ditandai oleh hasil yang tidak sepantar malah sama sekali bertolak belakang dengan semua tujuan yang ditetapkan dengan menguras daya dan pikiran yang disumbangkan Hatta sehingga politik ini lebih ditakar oleh akibat yang dihasilkan dan bukan oleh pencapaian politik seperti yang dimaksudkan. Motivasi politik sangat tinggi dengan harapan mencapai daya efektivitas yang sepantar dalam konsekuensi sosial dan politik, tetapi-dalam kenyataannya-hasil yang dicapai tidak berarti terutama karena dibikin tidak berdaya. Kedua, lebih merupakan upaya terakhir tentang mana tidak dipersoalkan hasil, tetapi aksi. Motivasi berada di atas segala-galanya, semua jalan yang berada dalam batas-batas etis politik

diambil. Ukurannya adalah lebih-lebih kemurnian motivasi dan mempersetankan konsekuensi. Beberapa episode penting dalam politik masa tuanya menunjukkan apa yang dimaksudkan itu. Hatta dan Komisi Empat Sebetulnya Hatta sudah menjalankan peran ini jauh-jauh hari pada tahun 1970 ketika Hatta diangkat sebagai penasihat Komite Empat yang diketuai Wilopo dengan suatu keputusan presiden. Pada saat itu, Hatta bersama sederet nama-nama besar-seperti Profesor Johanes, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada, dan IJ Kasimo, mantan Ketua Partai Katolik-yang oleh koran Australia disebut sebagai suatu tim macan ompong yang karena wibawa moralnya diberikan wewenang untuk memeriksa Pertamina, Bulog, antara lain, dan memberikan rekomendasi kepada Presiden Soeharto untuk mengambil langkah-langkah untuk mengatasi korupsi. Namun, seperti semua sama tahu, seluruh jerih payah meneliti, mengumpulkan bahan, sebagaimana dituntut oleh seluruh rangkaian peristiwa pergolakan mahasiswa, berakhir dengan diadilinya sembilan orang pegawai PLN: empat dengan tuduhan korupsi Rp 20.000 sampai Rp 34.000 (kira-kira 90 dollar AS dengan kurs waktu itu) dan lima orang dengan tuduhan Rp 2.000(5 dollar) dan yang terendah adalah dengan tuduhan Rp 150 (kira-kira 40 sen dollar). Orde Baru mau menunjukkan bahwa perhatiannya begitu besar terhadap rekomendasinya sehingga kepada hal-hal kecil pun diberikan perhatian. Tidak ada catatan resmi mengenai reaksi Hatta. Namun, bisa diperkirakan hal tersebut merupakan tamparan maut ke wajah Hatta. Hatta dan peristiwa Sawito Yang paling menentukan politik masa tuanya dalam arti sebenarnya adalah dalam versi kedua, yaitu dalam peristiwa Sawito pada tahun 1976 ketika Hatta termasuk yang memberikan tanda tangan dalam suatu naskah penyerahan kekuasaan. Di sini bukan tempatnya untuk menceritakan peristiwa itu sampai tuntas. Tetapi, yang penting, di sana Sawito ditangkap, diadili, dan diputuskan bersalah karena berencana untuk menggulingkan kekuasaan yang sah. Mari kita coba melihatnya dari segi Hatta. Ada beberapa pertanyaan di sana yang harus dijawab untuk membuat analisa kita ini cukup masuk ke dalam soalnya. Pertama, apakah betul Hatta terlibat di dalam peristiwa itu? Kedua, apa reaksi Hatta ketika suatu gerak yang bersifat "messianik" menjadi "politik"? Ketiga, bagaimana Hatta menyelesaikan kesulitan politik semacam itu? Untuk menjawab pertanyaan pertama coba kita perhatikan peristiwa berikut ini, pada ulang tahun ke-72 Hatta tahun 1974. Saran supaya Hatta menggantikan Soeharto bagi suatu periode peralihan untuk pertama kalinya dibicarakan secara terbuka di dalam kelompok tersebut. Jenderal Ishak Juarsa, mantan panglima militer di Aceh dan Sumatera Selatan, pada tahun 1970 pernah mendesak Hatta supaya menjadi presiden sebagai tindakan sementara. Hatta, dalam perayaan ulang tahun tersebut, menunjukkan kemauannya untuk bertindak sebagai presiden, dengan syarat bahwa pemindahan kekuasaan berlangsung secara konstitusional dan tanpa disertai dengan kekerasan. (Deliar Noer, Mohammad Hatta, Biografi Politik, 1990) Melihat keterlibatan nama-nama besar yang terdiri dari orang-orang yang memiliki otoritas moral yang tinggi di dalam masyarakat Indonesia seperti Iskaq Tjokrohadisurjo, Kardinal Justinus Darmojuwono, TB Simatupang, Buya Hamka, untuk menyebut beberapa, sangat tipis kemungkinan bahwa gerak kelompok tersebut adalah karena "dihipnotis" oleh kekuatan gaib yang dimiliki oleh Sawito. Kedua, apa reaksi Hatta ketika gerakan messianik menjadi politik? Di sini harus dibedakan antara reaksi simpatisan Hatta yang sangat menaruh perhatian kepada Hatta dan reaksi Hatta sendiri.

Hatta menulis surat kepada presiden yang menyatakan bahwa Hatta mau menandatangani dokumen tersebut karena "isinya mempertahankan Pancasila dengan caranya dengan semangat kebatinan dan bukan untuk diumumkan kepada khalayak ramai". Surat itu ternyata dianggap tidak cukup. Oleh karena merasa bahwa pernyataan Hatta tidak cukup, Profesor Emil Salim masih berusaha keras untuk "menyelamatkan Hatta" dan membawa lagi satu rancangan surat untuk ditandatangani Hatta di mana dinyatakan, "Saya sama sekali tidak menyadari bahwa surat-surat dan tanda tangan saya itu dapat digunakan untuk tujuan yang mengacaukan keadaan dan mengganggu stabilitas nasional yang dibina pemerintah. Andaikata saya ketahui maksud, isi, dan tujuan yang sebenarnya dari suratsurat tersebut, maka saya tidak akan menyetujui, dan tidak akan saya tandatangani surat-surat tersebut. Saya merasa menyesal bahwa tanda tangan saya telah disalahgunakan, dan untuk ini saya minta pengertian Saudara Presiden." Menurut Deliar Noer, yang cukup rinci membahas persoalan ini, gaya bahasa ini jelas bukan gaya bahasa Hatta. Belum cukup dengan itu, masih ada lagi satu dokumen yang dibawa Profesor Emil Salim untuk ditandatangani Hatta. Isinya kira-kira sama dengan di atas, perbedaannya hanya pada titik berat yang menyatakan bahwa Hatta membaca tidak teliti, dan tanda tangan Hatta disalahgunakan. Namun, Hatta sendiri membuang satu bagian dan tidak diikutsertakan ke dalam naskah yang ditandatanganinya yang berbunyi sebagai berikut: "Usaha-usaha Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto sekarang ini, yang selalu mengusahakan tumbuhnya kehidupan konstitusional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 perlu dilanjutkan dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada alat-alat pemerintah, yang telah dapat membongkar perbuatan jahat dan berbahaya dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang akan mendiskreditkan pemerintah dan akan mencemarkan nama baik saya." (Deliar Noer, op. cit, halaman 697) Ketiga, bagaimana Hatta menyelesaikan peristiwa itu? Sebenarnya pertanyaan ini salah karena Hatta tidak berusaha untuk menyelesaikan persoalan itu. Semua orang lain yang berusaha untuk menyelesaikan peristiwa itu untuk tidak "menodai" nama baik Hatta. Hatta sendiri cenderung untuk menyepelekan peristiwa itu dengan mengatakan "dokumen Sawito yang tidak berarti itu, sudah 'diberi' bobot politik oleh pemerintah." Namun, kalau dia menyepelekan peristiwa Sawito, dia tidak menyepelekan dirinya sendiri dengan membuang satu paragraf yang dia anggap tidak memenuhi etosnya yang lama, yaitu the rational-democratic ethos. Melihat urut-urutan peristiwa dan kemampuan Hatta menyortir sendiri paragraf dan isinya, meskipun dokumen-dokumen itu tidak dibikinnya sendiri, jelas bahwa Hatta tidak "seuzur dan tidak sadar" seperti yang sering diumumkan. Artinya, macan tua itu masih jeli melihat persoalan. Kalau dalam pandangan pertama dikatakan bahwa seluruh rangkaian peristiwa ini adalah unhattaistic, maka analisis yang lebih jauh menunjukkan bahwa semuanya sangat hatta-istic. Etos yang sama, yaitu nonkoperatif (nonko) masih terus berada di dalam pikirannya. Kalau the politics of romanticism pada masa mudanya lebih didikte oleh idealisasi sesuatu yang heroik, penuh petualangan, maka kini dia masih berpijak pada politik yang sama meski lebih didikte oleh idealisasi sesuatu yang penuh petualangan dan misterius di mana agama dan kebatinan, menjadi jalan terakhir kalau semua jalan yang lain ternyata tidak pernah membuahkan hasil untuk melayani politik romantisme Hatta. Kepribadian politik dan politik kepribadian Hatta

Kepribadian Hatta yang tenang dan sederhana, lebih sering menimbulkan salah tafsir tentang sosok seorang pemain politik utama bangsa ini. Para penulis Barat selalu mendapatkan kesan itu. Tentang Hatta, antropolog Belanda, Profesor HG Schulte Nord Holt, melukiskannya sebagai seorang yang: kort van stuk, een weinig gezet, met een bril, op een stoel zittend als een Indonesische Boeddha, kalm, onverstoorbaar en met vastberaden blik. ... Zo met zijn handen rustig gevouwen in zijn schoot, leek hij wat op een professor (berperawakan pendek, agak gemuk, berkacamata. Kalau duduk di kursi menjadi Buddha Indonesia, tenang, kokoh, dengan pandangan mata yang tertebar luas .... Demikian dengan tangan terkatup tenang di pangkuannya dia lebih merupakan seorang profesor). Namun, dalam analisis lebih jauh Hatta lebih dari itu. Akal tajam yang selalu membelah persoalan ke akar-akarnya selalu diselimuti oleh gaya tulisan yang lugas dan dingin. Semuanya memberikan kesan Hatta bagaikan gunung es yang tak bakal lumer. Namun, sebetulnya yang kita hadapi adalah suatu pribadi yang hanya dari luar saja bersifat linear. Perlawanan intelektualnya keras. Kalau suatu persoalan yang dikritik berada di luar kuasanya dan dia tidak mampu melawan maka ia berbalik mencemooh seorang, teman atau lawan, sampai ke bulubulunya. Semuanya sebetulnya menampilkan liku-liku hidup pribadi, intelektual, dan politiknya yang berbelit-belit dan menunjukkan suatu pribadi yang sama kompleksnya seperti Bung Karno. Dia dilukiskan orang sebagai pribadi yang tenang, kokoh (onverstoorbar), namun di dalam dirinya hidup api membara, semangat menggelora, yang tidak sabar melihat kemandekan, kekerdilan, miopia politik, manusia korup yang bergelimang kekuasaan. Pujangga Jerman Johann Christoph Friedrich von Schiller (1759-1805) adalah pujaannya dari siapa dia sering mencari dan mendapat inspirasi. Inspirasi itulah yang semakin memupuk politik romantisme Hatta. Namun, dari seorang pujangga Jerman lain lagi, Heinrich Heine (1797-1856) dipelajarinya bahwa dari waktu ke waktu dia harus melagukan madah baru bahkan tentang pangan yang cukup untuk manusia. Ein neues Lied, ein besseres Lied, O Freunde, will ich dichten Wir wollen hier auf Erden Schon das Himmelreich erreichen Es waechst hienieden Brot genug fuer alle Menschenkinder (Madah baru, madah lebih merdu Hai Kawan, kan kudendang Di Bumi Pertiwi mari kita Bangun swarga kuasa Di sini di bawah kolong langit Bagi anak manusia takkan pangan habis terkuras) Demikian bunyi salah satu baris sanjak Heinrich Heine, sesuatu yang mungkin membawanya kepada konsep negara adil dan makmur, untuk membangun yang tak mungkin, dan memikirkan yang tak terpikirkan.

Pangan atau roti yang dikatakannya cukup untuk semua anak manusia, tidak pernah bisa diperoleh terutama karena salah urus, korupsi, justru sesudah merdeka. Maka, ketidaksabarannya ia tumpahkan-saya pikir mungkin juga untuk dirinya sendiri yang dilihatnya seperti tidak berdaya-terutama kepada para penguasa korup yang berkekuatan, tetapi tidak mampu memakmurkan rakyat. Sekali lagi para penyair Jerman dan kini Schiller jadi inspirasi untuk melampiaskan amarahnya: Zamannya zaman agung, tetapi masa agung hanya dihuni manusia kerdil (eine grosse Epoche hat das Jahrhundert geboren, aber der grosse Moment findet ein kleines Geschlecht). Sebagai intelektual, Hatta adalah intellectual-politician, di mana kemampuan rasionya yang pada dasarnya sangat skolastik adalah modal politiknya. Di samping akal, dialah seorang yang berpegang teguh pada suatu moralitas rasional demokratik yang tetap bersikap nonko abadi baik terhadap penjajahan Belanda, Demokrasi Terpimpin, maupun terhadap Orde Baru. Peristiwa Sawito atau The Sawito Affair adalah suatu misnomer, salah namanya. Sawito tahu bahwa dia tidak ada artinya. Hatta juga pasti sangat tahu bahwa semuanya hanya berarti kalau ada Hatta. Pada gilirannya, negara pun tahu dan hanya memberikan perhatian karena di sana ada Hatta. Karena itu, nama sebetulnya harus diubah menjadi "Peristiwa Hatta" atau The Hatta Affair yang lebih merupakan menggeliatnya seorang raksasa pada detik-detik terakhir hidupnya dalam bentuk menikmati keasyikan politik terakhir, semacam the political bliss of death bagi Hatta. Dan, ini sangat bisa dimengerti. Skandal Pertamina yang dia sendiri periksa tahun 1970 dan terbukanya lagi skandal utang tak terbayar sebanyak 10 milyar dollar AS pada tahun 1976 membuat sang proklamator belingsatan. Dia tentu saja tidak mungkin tahan nuraninya dan dia luapkan dalam cara yang tidak sebagaimana biasanya. Tetapi, di sana tetap ada Hatta yang dulu juga. Sebagai politikus, dialah politician-intellectual yang setiap kali kepentingan politiknya dikorbankan-tanpa rasa sesal-demi suatu makna. Dalam hubungan ini, the politics of romanticism tidak pernah mampu ia tinggalkan. Di sana justru letak soalnya. Kalau pada suatu saat the politics of romanticism adalah senjata yang tepat untuk melawan kolonialisme, pada saat yang lain ia menjadi anakronis, yang berubah menjadi tragedi Hatta. Romantisme politik itulah yang menyebabkan dia dari waktu ke waktu ditahan Belanda dan berakhir dengan dibuang, diputuskan dari politik massa-actie. Dia dibuang ke Bandaneira, Maluku, tahun 1934 dan dibuang lagi pada tahun 1949 ke Bangka untuk melahirkan Republik Indonesia. Dilihat dari sisi Hatta, Republik Indonesia adalah anak kandung dari perjuangan political exile. Mohammad Hatta dalam renungan Menginjak masa merdeka, the politics of romanticism Hatta berubah menjadi tragedi Hatta. Kalau masa Belanda politik ini menyebabkan dia dibuang Belanda, maka dalam masa merdeka politik ini menyebabkan dia membuang dirinya sendiri ke dalam pembuangan politik. Ketika dia dilupakan orang, publik politik Indonesia juga menguncinya dalam pengasingan politik. Hanya sekali-sekali pintu itu dibuka lagi kalau bangsa ini ingin memeriksa nuraninya. Sejarah Hatta adalah a history of political exile. Kalau massa menjadi histeris pada saat wafatnya, maka semua orang, seluruh bangsa, sebenarnya menjawab romantisme anakronis Hatta dengan suatu romantisme yang tidak kurang anakronisnya, yaitu melepaskan rindu terhadap sesuatu yang mereka sendiri tidak mampu rumuskan, sesuatu yang akan hilang dan sesuatu yang justru tidak mereka hargai pada saat dia hidup.

Ketika Bung Karno meninggal bulan Juni 1970, penulis pribadi rasakan rasa geram, lebih karena tidak berdaya sebagai rakyat. Pikiran yang mengusik adalah bagaimana mungkin the founding father harus mengembuskan napas terakhir di dalam pengasingan politik. Namun, kalau massa menjadi histeris pada hari meninggalnya Soekarno agak lebih mudah dipahami karena Soekarno hanya hidup di tengah massa dan sebaliknya massa berubah jadi api bila di tengahnya ada Bung Karno dalam tubuhnya yang bernyawa atau dalam jasadnya yang tak bernyawa. Namun, bagaimana menjelaskan histeria massa pada saat meninggalnya Bung Hatta sepuluh tahun berselang? Hatta tidak pernah memiliki kemampuan untuk menyulap massa jadi api. Ketajaman akalnya lebih sering diselimuti kekeringan analisisnya, hal yang tidak mungkin menyulut sumbu pembakar massa. Namun, ketika Bung Hatta meninggal, penulis juga mengambil bagian dalam rasa yang sama seperti yang dirasakan semua massa rakyat lainnya yaitu rasa hampa, an existential vaccuum. Kalau Bung Karno-dalam hidup dan mati-mengandung karisma untuk mengubah massa jadi api, wafatnya Bung Hatta dalam ketenangan mengubah massa jadi hampa. Lantas ke sana bayu bertiup memenuhi hukum alam biasa. Namun, justru karena Hatta di ruang hidup hampa yang mengisap bayu, maka bayu pun berubah jadi badai. Mungkin itu yang bisa menjelaskan histeria massa pada saat Bung Hatta dikuburkan. Pribadi Hatta adalah pribadi kompleks penuh paradoks yang tidak dia selesaikan dalam hidupnya. Dia orang pusat yang gelisah bila daerah bergolak. Kegelisahannya bukan terhadap perpecahan suatu bangsa, tetapi sebaliknya, yaitu kesatuan akan menjadi kesatuan berdarah dan menyiksa sepanjang masa. Penyelesaian pusat terhadap persoalan daerah hanya akan menghasilkan kebersatuan yang tidak memberikan peluang kepada tumbuhnya kekuatan lokal yang justru diperlukan oleh suatu negara kesatuan. Dia orang yang percaya bahwa kekuatan bukan terletak dalam keseragaman karena persatuan yang demikian disebutnya "persatean". Hanya dengan menumbuhkan keragaman, suatu nasion bisa bertumbuh kuat. Simpatinya terhadap daerah berdiri atas dasar ini. Karena itu dialah sebetulnya orang daerah yang berdiri sekukuh-kukuhnya di pusat. Dia seorang demokrat yang tidak sabar. Dia orang Barat yang rasional dan demokratis di dunia Timur yang tidak bisa dipahami akal, tetapi hanya bisa didekati rasa, seorang romantik di dalam dunia yang penuh disilusi. Romantikanya itulah yang menyebabkan dia dibuang Belanda, dibuang oleh dirinya sendiri, dan terakhir dibuang oleh bangsanya sendiri. Kalau sekiranya Sawito Affair adalah perjalanan politik terbuka terakhir bagi Bung Hatta maka politik romantisme dan romantisme politik terakhir itu membuka kembali pintu besi yang lama itu jua-mungkin yang sama dengan cat baru-yakni pintu pengasingan politik dan politik pengasingan untuk Hatta. Dari sana dia tidak pernah lagi kembali! Dr Daniel Dhakidae Kepala Litbang Kompas

Jejak Pemikiran Hatta dalam UUD 1945
* Adnan Buyung Nasution Pendahuluan INDONESIA beruntung memiliki seorang Mohammad Hatta. Di balik segala kesederhanannya, Hatta memiliki pemikiran yang melampaui anak-anak muda pada zamannya. Ia memang bukan

anak muda terasing. Lompatan-lompatan pemikirannya berjalan sesuai dengan perkembangan hidupnya, dari bujang muda di Minangkabau, Hatta pindah ke Jakarta dan mendapat lingkungan internasional pada usia 22 tahun. Lingkungan inilah yang membentuk Hatta sebagai sosok yang rasional dan kosmopolitan. Sumbangan Hatta dalam menciptakan fondasi negara demokrasi pada awal berdirinya Republik Indonesia, tercatat dalam dokumen sejarah, sekitar sebelum dan sesudah proklamasi. Bahkan, dalam praktik ketatanegaraan, Hatta sesungguhnya telah melakukan terobosan konstitusi. Sebab, sebagaimana diketahui bahwa konstitusi, termasuk konstitusi Negara Indonesia, bukan saja mengenai apa yang tertulis dan dirumuskan dalam pasal-pasal UUD 1945, melainkan juga aspirasi, nilai-nilai, dan norma-norma kehidupan bernegara dan berbangsa yang dicita-citakan maupun yang dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Semuanya menggambarkan bagaimana Hatta merupakan salah seorang peletak dasar utama negara demokrasi konstitusional, baik dalam tataran konsep, pelembagaan maupun praktik pelaksanaanya. Sebab, sekalipun teks atau Batang Tubuh UUD 45 tidak tegas dan jelas menggambarkan negara konstitusional, namun dalam praktik ketatanegaraan, Hatta terus berupaya menerjemahkan dan menjalankannya dengan menggunakan perspektif negara demokrasi konstitusional. Dalam penelitian untuk disertasi saya (Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio Legal atas Konstituante 1956- 1959 ), ditemukan sejumlah langkah yang memperlihatkan keterlibatan Hatta dalam mendekatkan cita-cita menunju negara demokrasi konstitusional itu, yaitu (i) mengeluarkan Maklumat X 16 Oktober 1945, yang melepaskan penumpukan kekuasaan MPR, DPR di tangan Presiden yang memegang kendali eksekutif, ke lembaga Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP); (ii) Manifesto Politik 1 November yang berisi asas-asas dasar negara yang telah disetujui oleh Badan Pekerja KNIP; (iii) Maklumat 3 November 1945 tentang seruan pembentukan partai-partai politik; (iv) Dekrit pemerintah 14 November 1945 tentang pembentukan Kabinet Parlementer; (v) janji untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum. Dimensi lain dari Hatta adalah sosoknya yang rasional. Dalam menentukan batas wilayah negara, Hatta telah melihat secara realistis bahwa wilayah Indonesia adalah eks Hindia Belanda. Sedangkan sebagian pemimpin Indonesia ketika itu masih berpikir ke masa lalu tentang kejayaan Nusantara dalam membahas masalah batas-batas negara di sidang Badan Penyelidik Usahausaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Soekarno dan Mohammad Yamin berketetapan, wilayah Indonesia adalah eks Hindia Belanda ditambah dengan Borneo Utara, Timor Portugis, dan Papua. Saat itu sebagian besar pemimpin masih terlena oleh kejayaan masa silam antara kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, yang konon wilayahnya menjangkau dari daratan Asia Tenggara ke Kepulauan Solomon di Pasifik. Namun, Hatta tidak memimpikan dan mengagungkan kejayaan masa silam. Ia mengecam Mohammad Yamin dan Soekarno tentang wilayah Indonesia yang mengacu kepada Nusantara, karena bagi Hatta ini menunjukkan praktik imperialis yang bertahun-tahun justru mereka tentang. Konsep kenegaraan Hatta Bagaimana daya jangkau pemikiran Hatta yang jauh ke depan, terlihat pada pergulatan pemikiran antara Hatta dan Soepomo dalam merumuskan pasal-pasal UUD 1945 sebagaimana yang dikenal sekarang ini. Paling tidak, jejak pemikiran Hatta yang kini tertuang dalam UUD 1945 mencakup tiga hal. Pertama, di dalam naskah Mukadimah UUD 1945. Kedua, mengenai pasal yang menyangkut hak-hak warga negara yang meliputi Pasal 26, 27, dan 28. Ketiga, yang berkaitan dengan

jaminan negara untuk masalah kesejahteraan rakyat (demokrasi ekonomi), yang meliputi Pasal 33 dan 34, tapi bukan dalam pengertian etatisme. Keempat, kepiawaian Hatta dalam mempengaruhi tokoh-tokoh Islam agar mencabut tujuh anak kalimat bersyarat dalam naskah pembukaan UUD 1945 yang semula berbunyi, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" menjadi kata "Ketuhanan Yang Maha Esa". Khusus mengenai butir keempat ini, Hatta memiliki pertimbangan obyektif dan subyektif, yang mungkin dapat menjadi bahan pemikiran anggota MPR sekarang. Pertimbangan obyektifnya karena berdasarkan aspirasi yang berkembang antara lain didukung oleh laporan intelejen Jepang bahwa di wilayah-wilayah yang bukan merupakan basis Islam seperti Sulawesi Utara, sebagian Maluku dan Nusa Tenggara Timur, tidak akan menggabungkan diri ke wilayah Indonesia apabila tujuh kata itu tidak dihapus dari Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 29 UUD 1945. Sedangkan pertimbangan subyektifnya adalah penghayatan Hatta yang mendalam mengenai hakikat demokrasi selama tinggal di Eropa, di mana masalah agama merupakan urusan pribadi yang terpisah dari campur tangan negara. Sejak menjadi tokoh pergerakan di Eropa, antara lain pernah memimpin Perhimpunan Indonesia, Hatta dengan tepat merumuskan nilai-nilai demokrasi yang tidak dapat diganggu gugat, antara lain membuka kran partisipasi yang luas bagi rakyat tanpa membedakan latar belakang suku dan agama. Selain itu, pencantuman kata syariat Islam juga menunjukkan sikap diskriminatif terhadap golongan minoritas yang bukan Islam. Dalam perdebatan mengenai Undang-Undang Dasar pada tanggal 11 Juli 1945, tujuh kata itu memang sudah dipersoalkan oleh Latuharhary dan didukung oleh Wongsonegoro dan Djajadiningrat. Maka, Hatta mengakomodir usulan agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapuskan dari Mukadimah dan Pasal 29 UUD 1945. Dalam kumpulan notulensi sidang BPUPK yang disusun oleh Muhammad Yamin dengan judul "Naskah Persiapan Undang undang Dasar 1945", maupun risalah "Sidang BPUPKI dan PPKI" yang diterbitkan Sekneg, dengan jelas terlihat pemikiran Hatta yang rasional saat pembahasan Undang Undang Dasar 1945. Hatta ketika itu sudah menyadari bahwa kekuasaan selalu merupakan masalah yang kronis. Di satu pihak, negara memerlukan kekuasaan, tetapi di lain pihak, kekuasaan tidak boleh tidak dibatasi. Oleh karena itu, ia menolak konsep negara integralistik karena negara seperti itu memberikan peluang dan legitimasi terhadap kekuasaan yang mutlak pada negara. Sebab, dalam perspektif negara dan rakyat menjadi satu sehingga tidak ada pemisahan antara negara dan rakyat, maka dianggap tidak perlu ada kekhawatiran bahwa negara akan menindas rakyatnya. Di dalam negara yang menyatu, maka kekuasaan adalah tunggal, satu, tidak bisa dipecah-pecah. Dalam konsepsi Jawa, kekuasaan yang menyebar akan melahirkan ketidakseimbangan (disharmoni) antara dunia mikro dan makro. Oleh karena itu, kekuasaan adalah satu kesatuan tunggal antara rakyat dan pemimpin (kawulo dan gusti). Sedangkan Hatta cenderung memilih model negara pengurus yang kekuasaannya dibatasi (power must be tamed), sejalan dengan konsep negara demokrasi konstitusional. Di dalam negara pengurus karena kekuasaan tersebar, maka rakyat cukup mendapatkan akses untuk menyuarakan pendapatnya melalui lembaga-lembaga demokrasi seperti partai, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pers. Dalam pidatonya yang singkat, Hatta melihat, konsep negara integralistik (kekeluargaan) sebagaimana yang digagas oleh Soepomo mengandung bahaya bahwa dalam praktiknya negara itu akan menjadi negara kekuasaan (machtstaat). Untuk itu, Hatta mengingatkan, "Hendaklah kita

memperhatikan syarat-syarat supaya negara yang kita bikin, jangan menjadi negara kekuasaan." Kita menghendaki negara pengurus, kita membangunkan masyarakat baru yang berdasar kepada gotong royong, usaha bersama, tujuan kita ialah memperbaharui masyarakat. Tetapi di sebelah itu, janganlah kita memberi kekuasaan yang tidak terbatas kepada negara untuk menjadikan di atas negara baru itu suatu negara kekuasaan." Selanjutnya Hatta mengusulkan, "Supaya tiap-tiap warga negara jangan takut mengeluarkan suaranya. Yang perlu disebut di sini, hak untuk berkumpul dan bersidang atau menyurat dan lainlain." Usulan Hatta yang dicetuskan pada tanggal 15 Juli 1945 ini kemudian dirumuskan dalam Pasal 28 UUD 1945 yang selengkapnya berbunyi, "Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang" Memang perumusan pasal di atas, ibarat seekor ayam yang lepas kepalanya namun masih dipegang buntutnya. Kemerdekaan setiap warga negara untuk berserikat, berkumpul, dan berpendapat bukan dianggap hak asasi yang melekat pada diri tiap orang dan dijamin oleh negara, melainkan sesuatu yang akan diberikan dan diatur oleh undang-undang. Dengan demikian, pada hakikatnya, tidak ada jaminan dari negara bahwa rakyat dapat mengekspresikan pikiran-pikirannya. Rumusan ini belum sesuai dengan kehendak Hatta, karena dapat dengan mudah dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan sebagaimana yang terjadi pada era Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila. Namun, bila melihat konteks pemikiran yang berkembang saat UUD 1945 dirumuskan, pandangan Hatta ini paling tidak sudah merupakan perjuangan maksimal, mengingat semangat yang berkembang ketika itu menganggap bahwa hak asasi manusia dan demokrasi yang berlaku universal didasari oleh semangat individualisme yang melahirkan kapitalisme dengan spirit free fight liberalism dan berujung pada imperialisme. Pada rapat BPUPK, 31 Mei 1945, Soepomo berpidato tentang teori-teori negara. Pertama disebutnya teori negara individualistis yang dikembangkan oleh Thomas Hobbes, John Locke, JJ Rousseau, Herbert Spencer, dan HJ Laski yang berlaku di Eropa Barat dan Amerika. Kedua, teori pertentangan kelas sebagaimana yang diajarkan oleh Karl Marx. Dan ketiga, teori negara integralistik yang diajarkan oleh Spinoza, Hegel, dan Adam Muller. Teori ini mengungkapkan, "Negara ialah susunan masyarakat yang integral, segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama dan merupakan persatuan masyarakat yang organis." Soepomo menegaskan, yang terpenting dalam negara integralistik ini adalah penghidupan bangsa secara keseluruhan. Negara tidak memihak kepada sesuatu golongan yang paling kuat, atau paling besar, tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat, akan tetapi negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai persatuan yang tidak dapat dipisahpisahkan. Untuk itu pula Supomo memuji pemerintahan Dai Nippon yang berdasarkan persatuan lahir dan batin yang kekal antara Tenno Heika, negara, dan rakyat Jepang secara keseluruhan. Supomo juga mengagumi persatuan antara pemimpin dan rakyat dalam pemerintahan Nazi Jerman yang disebutnya cocok dengan aliran pikiran ketimuran. Berdasarkan perbandingan teori-teori negara itu, Soepomo berpendapat, teori negara integralistik sesuai dengan lembaga-lembaga sosial yang asli dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Struktur kebatinan (kerohanian) bangsa Indonesia, menurut dia, bercorak persatuan hidup, persatuan kawulo-gusti, persatuan antara dunia luar dan dunia batin, persatuan antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara rakyat dan pemimpinnya. Dengan demikian, Soepomo yang ditunjuk sebagai salah satu anggota tim penyusun naskah UUD 1945, menghendaki suatu negara yang totaliter.

Hatta tidak secara diametral menolak ide negara kekeluargaan sebagaimana yang diusulkan oleh Soepomo, kendati itu bertentangan dengan konsepsi negara pengurus yang digagasnya. Hatta hanya mengingatkan, dalam satu keluarga pun ayah mesti mendengar perasaan dan pikiran yang berkembang dalam diri sang anak. Dengan kata lain, Hatta menerima UUD 1945 bukan karena isinya sudah sesuai dengan citacitanya dalam perjuangan kemerdekaan. Sebagai sarjana didikan Belanda, tentu Hatta melihat keganjilan-keganjilan yang ada pada naskah UUD 1945, terutama dalam pasal-pasalnya yang terlalu sederhana dan mudah ditafsirkan untuk kepentingan apa saja yang diinginkan oleh penguasa. Namun, Hatta sebagaimana Bung Karno ketika itu, menerimanya sebagai suatu kesementaraan. Sambil menunggu waktu yang lebih tenang, saat MPR yang benar-benar pilihan rakyat terbentuk dan memiliki legitimasi yang kuat untuk menyusun Undang-Undang Dasar yang lebih definitif. Paling tidak, dengan adanya UUD 1945, Indonesia tidak mengalami kekosongan konstitusi yang dianggap beberapa kalangan membahayakan eksistensi negara. Keadilan sosial Dalam kaitannya dengan kapitalisme, sebagai intelektual yang lahir dari rahim penindasan kapitalis dan kolonialis, Hatta sebagaimana pemimpin pejuang kemerdekaan segenerasinya, bersikap kritis. Sebaliknya, Hatta juga tidak setuju dengan sistem ekonomi dan politik sosialis yang berlaku di Uni Soviet dan Cina yang cenderung etatis. Untuk itu, pada tahun 1921-1922 Hatta telah melakukan studi mengenai masalah ekonomi di Inggris, Jerman, dan Swedia. Dalam studinya, Hatta tertarik terhadap bentuk usaha yang dilakukan oleh masyarakat menengah ke bawah di tiga negara tersebut. Bentuk usaha ini disebut koperasi yang selanjutnya dirumuskan secara umum dalam Pasal 33 UUD 1945. Bila dikaitkan dengan pidatonya dalam BPUPK mengenai negara pengurus, Hatta tidak setuju 100 persen bila warga negara hanya dijamin hak-hak politiknya. Negara juga harus mampu menjamin kesejahteraan warganya. Hal ini tentu saja bertentangan dengan ide negara liberal yang hanya menjamin kemerdekaan politik warganya, tanpa mempersoalkan kesenjangan taraf hidup warga negaranya. Gagasan Hatta itu sejalan dengan konsep negara kesejahteraan (welfare state). Belakangan, meskipun kelembagaan koperasi surut di balik program privatisasi, namun hal ini dibarengi adanya pajak progresif, dan berbagai bentuk jaminan sosial lainnya. Ide semacam ini telah dilaksanakan di hampir semua negara yang sebelumnya kita sebut sebagai penjajah. Layak pula dikedepankan di sini, Pasal 33 ini sebenarnya pernah diseminarkan tahun 1950-an dan dipertanyakan oleh ekonom Widjojo Nitisastro. Menurut Widjojo, koperasi tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan ekonomi modern. Kepemilikan bersama dalam bentuk koperasi itu dinilainya tidak efisien. Karena pengambilan keputusan bertele-tele melalui mekanisme kuorum dan serangkaian rapat. Ekonomi modern membutuhkan modal, keterampilan dan efisiensi. Untuk itu, pokok persoalannya, menurut Widjojo, bukan kepada kepemilikan bersama, melainkan bagaimana hasilnya bisa dinikmati secara bersama-sama. Namun, kenyataannya pendapat Widjojo dan kawan-kawan yang diterapkan di bawah pemerintahan Soeharto terbukti gagal memberikan kesejahteraan yang merata karena tidak terjadi trickle down effect sebagaimana yang diharapkan. Yang justru muncul adalah konglomerasi. Pemusatan modal hanya dikuasai oleh segelintir orang.

Maklumat X Oleh karena konsep dan pandangan Hatta yang demikian itulah maka begitu naskah Proklamasi dibacakan dan Hatta ditunjuk mendampingi Soekarno sebagai wakil Presiden, dua bulan kemudian Hatta mengeluarkan Maklumat X. Maklumat itu berisi pemberian kekuasaan legislatif terhadap Komite Nasional Indonesia Pusat, sekaligus membentuk Badan Pekerjanya. Ketika itu Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat belum terbentuk sehingga untuk menjamin agar rakyat tetap berdaulat, maka harus ada badan yang ikut bertanggung jawab tentang nasib bangsa Indonesia, selain eksekutif. Hatta melihat tanpa kontrol lembaga legislatif, terutama yang berfungsi menyusun Garis-Garis Besar Haluan, maka pemerintah akan berjalan secara absolut karena kekuasaan terkonsentrasi di lembaga eksekutif. Pandangan Hatta tentang kekuasaan sama dengan adagium Lord Acton, yakni kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut niscaya korup secara absolut pula. Terobosan lainnya dilakukan Hatta adalah "Maklumat Pemerintah 3 November 1946" yang berisi anjuran pemerintah tentang pembentukan partai-partai politik. Landasan hukum maklumat ini, sebagaimana ia sebutkan, adalah usulan Badan Pekerja KNIP. Sebagian elite politik ketika itu lebih setuju dengan ide Partai Tunggal, yaitu Partai Nasional Indonesia. Namun, Hatta menerabas dengan maklumat 3 November 1945. Hatta menyadari, untuk mempertahankan eksistensi Republik Indonesia, diperlukan partisipasi luas dari masyarakat. Apalagi, masyarakat tidak bersifat tunggal, melainkan terdiri dari berbagai golongan dan aliran politik, maka mustahil bila "kenyataan sosiologis" yang hidup dalam masyarakat Indonesia ini hanya diwadahi oleh satu partai politik. Hatta sadar bahaya penyeragaman aspirasi dan kepentingan karena dapat menimbulkan totaliterisme. Melalui maklumat ini, Hatta menghendaki berdirinya partai-partai politik, baik yang sudah terbentuk dalam fase perjuangan merebut kemerdekaan maupun partai yang baru sama sekali dan dimaksudkan untuk mendukung perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Dalam praktik pemerintahan pun Hatta melakukan inovasi politik. Bila dalam UUD 1945, kepala pemerintahan dijabat oleh Presiden, Hatta membentuk lembaga perdana menteri (PM) yang tidak dikenal dalam pasal UUD 1945. Sejak itu hingga tahun 1959 dikenal jabatan PM. Apabila negara dalam keadaan normal, PM dapat memimpin pemerintahan, sedangkan bila dalam keadaan bahaya seperti yang terjadi dalam peristiwa penculikan PM Sjahrir Juli 1946, dan peristiwa Pemberontakan Madiun 1948, PM menyerahkan kekuasaannya kepada Presiden untuk batas waktu tertentu, yaitu tiga bulan. Tindakan Hatta membentuk kabinet parlementer yang didukung oleh sebagian pemimpin ketika itu didorong oleh paling tidak dua pertimbangan. Pertama, adanya sikap antifasisme di antara pemimpin bawah tanah yang menolak bekerja sama dengan Jepang. Golongan ini menghendaki agar kepemimpinan nasional bersih dari unsur-unsur kolaborator Jepang. Kedua, pertimbangan strategis untuk mendapatkan simpati dari negara-negara Barat yang diharapkan dapat memperluas dukungan diplomatik terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini tentu saja akan sulit didapatkan bila pihak Sekutu, yang memenangkan perang melawan Jepang dan Jerman, berpendapat bahwa RI hanyalah negara bikinan Jepang dan terbukti pula telah mengadopsi konstitusi yang bercorak fasistik. Sekalipun konsep demokratik konstitusional tidak tegas dan jelas terakomodir pada pasal-pasal UUD 1945, namun Hatta berhasil selangkah demi selangkah untuk membawa Indonesia ke arah negara demokrasi konstitusional dengan terbitnya Maklumat X Oktober 1946, Maklumat

Pemerintah 3 November 1946 tentang pendirian partai-partai, manifesto politik tentang kemerdekaan ke dalam, manifesto politik tentang kemerdekaan ke luar, pembentukan kabinet parlementer, dan janji pemilihan umum. Ini membuktikan Hatta memang seorang demokrat sejati. Penutup Meskipun dalam memperjuangkan negara demokratis konstitusional, Hatta banyak berbeda pendapat
atau harus berseberangan dengan pemimpin-pemimpin lain, namun ia tetap seorang yang berpikiran terbuka. Hatta tidak pernah membenci secara pribadi pemimpin-pemimpin yang tidak setuju atau menentang konsep, inovasi atau pendiriannya, termasuk Soekarno. Saat menulis Tragedi Soekarno pada tanggal 30 November 1933, dia mengimbau agar rakyat Indonesia tidak membenci Soekarno, kendati Soekarno menyatakan mengundurkan diri dari pergerakan. Sikap ini yang mestinya menjadi suri teladan pemimpin-pemimpin kita, hari ini dan masa depan. Dr Adnan Buyung Nasution Pengacara senior

Bung Hatta Kita
* AA Navis SEMUA kita tahu, Mohammad Hatta seorang berwatak jujur dan disiplin, seorang Muslim yang saleh, seorang negarawan yang demokrat, seorang ekonom yang berideologi kerakyatan. Semua kita juga tahu, ia seseorang dibentuk dari gen dan lingkungan serta pengalaman hidupnya sedari kecil serta dimatangkan oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Dalam buku Memoir, Bung Hatta menjelaskan bahwa asal-usul dari pihak ayahnya dari turunan ulama tarekat terkemuka, Syekh Abdurrahamn, yang dikenal sebagai Syekh Batu Hampar. Anak Syekh tersebut yang dipanggilnya Ayah Gaek Arsad,

marthias d pandu

juga dikenal sebagai Syekh Batu Hampar. Akan tetapi, masyarakat umum memanggil Tuanku nan Mudo, sebagaimana kelaziman pada ulama kaum tarekat, yang hingga kini masih berlaku. Selama berada di Bukittinggi, sekali enam bulan Bung Hatta menemui Ayah Gaek itu ke Batu Hampar. Kepadanyalah Bung Hatta bertanya dengan kritis tentang pemahaman tauhid dan akidah yang tidak masuk akalnya tapi diyakini masyarakat pada umumnya. Misalnya tentang keberadaan Tuhan di langit ketujuh dan perintahnya dilayani oleh malaikat dan bidadari. Meskipun tidak menganut ajaran tarekat, Bung Hatta menjadi Muslim yang saleh demi menghormati predikat moyangnya yang ulama terkemuka itu, di samping keyakinannya sendiri tentang agama yang dianutnya. Namun, dalam buku itu Bung Hatta kurang menjelaskan asal-usul dari ibunya. Yang dikenalnya hanya ayah dari ibunya, seorang pengusaha angkutan pos antara Bukit Tinggi dan Lubuk Sikaping dengan menggunakan kuda, Ilyas Bagindo Marah dengan istrinya Aminah. Bung Hatta menyebut keduanya dengan Pak Gaek dan Mak Gaek. Ibu Bung Hatta bernama Saleha. Dua orang adiknya Saleh dan Idris.

Tidak ada keterangan dari mana asal-usul Pak Gaek dan Mak Gaeknya. Saleha menikah dengan Muhammad Djamil, cucu Syekh Batu Hampar. Dari pernikahan itu lahirlah Rafi'ah dan Bung Hatta. Ketika berusia 8 tahun, ayahnya meninggal. Ibunya menikah lagi dengan Haji Ning, pengusaha asal Palembang. Dari pernikahan itu lahir empat orang adik perempuan Bung Hatta. Pada masa sekitar awal abad lalu, ketika masyarakat masih amat kuat menganut tradisinya, tidak terlihat kehadiran sistem matrilineal Minangkabau dalam kehidupan kaum keluarga Bung Hatta. Gelar adat, Bagindo Marah, yang dipakai oleh Pak Gaeknya serta bangunan rumah tempat mereka sekeluarga, berada di luar sistem budaya masyarakat Bukittinggi. Lazim, laki-laki yang menikah diberi gelar oleh mamak atau pamannya. Kata yang dipakai pada gelar tersebut berakar dari bahasa Sansekarta. Yang memakai kata bukan berasal dari bahasa tersebut, biasanya dipakaikan kepada mereka yang salah satu atau kedua orangtuanya berdarah campuran dengan pendatang atau turunannya yang telah berintegrasi. Misalnya, letak kata Bagindo pada awal gelar adalah tidak lazim. Kata itu lazim dipakai pada urutan kedua. Misalnya Sutan Bagindo atau Datuk Bagindo. Pemakaian kata Bagindo pada awal gelar dipakai oleh masyarakat pesisir Kabupaten Pariaman. Diletakkan sebelum nama aslinya. Misalnya Bagindo Ilyas. Kata Marah lazim dipakai oleh masyarakat pesisir Padang yang diletakkan sebelum nama aslinya. Misalnya Marah Ilyas. Kata itu berasal dari Aceh, Meurah, yang artinya raja kecil. Maka, gelar Bagindo Marah jelas tidak dipakai oleh penduduk asli Minangkabau dari tanah darat, yaitu tanah asal Minangkabau. Menurut Prof AR Sjahrial, salah seorang keponakan Bung Hatta yang kini menetap di Padang, Pak Gaek Bung Hatta itu berasal dari Rao. Yaitu suatu nagari dekat perbatasan utara Sumatera Barat. Yang menurut antropologi Minangkabau termasuk daerah rantau yang menjadi daerah tempat pertemuan dan pembauran aneka suku bangsa. Demikian juga halnya jika melihat rumah tempat Bung Hatta dilahirkan di Bukitinggi yang bergaya lazimnya di wilayah rantau pesisir. Juga menurut informasi dari Prof Sjahrial, bahwa nenek dari ibunda Bung Hatta disebut oleh anak-cucunya dengan panggilan Nenek Jawa. Seorang perempuan dari Jawa, tapi tidak pernah mau mengisahkan dari mana dia datang dan siapa namanya yang sebenarnya, serta siapa bapak anaknya. Diduga (ya, diduga) dia ikut seorang Belanda atau Indo ke Minangkabau beberapa waktu setelah Perang Padri usai. Mungkin Belanda itu meninggal pada pertempuranpertempuran kecil yang banyak terjadi di masa itu. Hal itu kentara pada postur, kulit dan warna mata dari paman Bung Hatta, Saleh. Mak Gaek Bung Hatta dikisahkan sebagai perempuan pemberani. Konon, bila ditemukannya sesuatu perlakuan pemerintah yang tak menyenangkan, dia akan datang ke Kantor Asisten Residen yang Belanda untuk menyatakan protes. Bila keluar rumah, di pinggangnya selalu terselip pistol kecil. Demikian pula bila dia mengantarkan Bung Hatta kecil pergi mengaji di sore hari ke surau Syekh Djamil Djambek yang berjarak hampir satu kilo meter dari rumahnya. Ibunda Bung Hatta bersama seluruh anak dan suaminya yang Haji Ning tinggal bersama Pak Gaeknya, sebagaimana tradisi matrilineal. Namun, faktor posisi sentral Pak Gaek sebagai kepala rumah tangga memperlihatkan bahwa Bung Hatta berada di luar konstruksi sosial budaya Minangkabau. Sama seperti lazimnya dalam rumah tangga di kota-kota umumnya. Kondisi rumah tangga semasa kecil demikian sangat berpengaruh dalam pola hidup Bung Hatta yang terlepas dari pola budaya Minangkabau tradisional yang lazimnya konservatif, adakalanya cenderung reaksioner. Sama halnya dengan pemuka gerakan nasional sezamannya yang berasal dari tanah kelahiran Minangkabau. Seperti Ibrahim Marah Sutan, Rustam Effendi, A Muis, Bahder Djohan, Muhammad Yamin, Sutan Sjahrir, Hazairin, Syekh M Djamil Djambek, Syekh Abdullah Ahmad, dan lain-lainnya. Namun, pola egaliterian dan kosmopolitan yang

menjadi ciri khas dari budaya Minangkabau sangat menonjol dalam karakter perjuangan mereka. Selanjutnya akan dibicarakan pada halaman lain. Demikian pula pengalaman hidup dalam lingkungan pengusaha yang berkolaborasi dengan pemerintah dan perusahaan Belanda, seperti Pak Gaek dan Haji Ning, memberi pengaruh pada sikap mental Bung Hatta. Menurut Dr Meutia Hatta Swasono, putri tertua Bung Hatta, Pak Gaek yang pengusaha angkutan pos, sangat menuntut kerja tepat waktu, menyiapkan perangkat pendukung seperti petugas dan kuda harus bersih dan sehat, serta menuntut perawatan yang prima setiap hari. Apalagi mengingat rute perjalanan dari Bukittinggi ke Lubuk Sikaping melalui hutan belantara serta melewati bekas lokasi Perang Padri yang belum begitu lama usai. Pengalaman hidup sedari kecil di rumah tangga demikian dan ditambah oleh sikap Mak Gaeknya yang nyinyir dalam memelihara aturan dan kemudian disiplin yang berlaku pada sekolah seperti HIS dan MULO, sangat kuat membentuk sikap mental Bung Hatta sebagaimana yang dikenal.

***
Pada awalnya kesepakatan antara Pak Gaek dan Ayah Gaek yang di Batu Hampar, ialah untuk menyekolahkan Bung Hatta ke Mesir guna melanjutkan tradisi keulamaan moyangnya. Sedianya keberangkatan bersama Pak Gaek yang akan menunaikan ibadah Haji ke Makkah. Rencana itu batal karena tidak ada lagi kapal ke Tanah Suci itu, sehubungan Perang Dunia Kedua sudah di ambang pintu. Sebaliknya, sekolah Bung Hatta dipindahkan dari Sekolah Rendah Melayu ke HIS, yang berbahasa Belanda atas gagasan ayah tirinya, Haji Ning. Setamat dari HIS Bung Hatta melanjutkan ke MULO di Padang. Dalam buku Memoir, Bung Hatta mengemukakan kekagumannya kepada seorang idealis bernama Taher Marah Sutan. Dia bekerja pada suatu kantor keagenan perkapalan di pelabuhan Teluk Bayur. Sorenya dia melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris dari Syarikat Usaha di Kota Padang. Kata Bung Hatta: "Kalau tidak karena dia, Syarikat Usaha tidak menjadi pusat pertemuan orang-orang terkemuka dan cerdik pandai di Kota Padang." Dia seorang pekerja keras, kadang-kadang sampai pukul 20.00 dia masih di kantor itu. Pendidikannya hanya di sekolah dasar, namun dia bisa berbahasa Belanda dengan belajar sendiri atau berguru di mana dapat. Syarikat Usaha adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang sosial ekonomi. Pendirinya adalah Syekh Abdullah Ahmad, salah seorang dari tiga serangkai pembaharu faham Islam pada awal abad yang lalu. Dua orang lainnya ialah Syekh A Karim Amrullah dan Syekh M Djamil Djambek. Pada tahun 1906 atas dukungan para saudagar di Padang didirikannya sebuah sekolah agama yang pertama menggunakan bangku. Diniyah School "Adabiah" namanya. Meneladani Iqbal School di Singapura yang didirikan oleh sahabatnya Syekh Taher Djalaluddin dan Raja Haji Ali. Selanjutnya, Syekh Abdullah Ahmad pun menerbitkan Majalah "Al Munir", seperti juga yang diterbitkan oleh Syeck Taher Djalaluddin dengan nama "Al Manar". Dari penerbitan majalah ini Syarikat Usaha tumbuh menjadi organisasi sosial ekonomi dengan berbagai bidang kegiatannya. Mulai dari pengurusan perguruan "Adabiyah" sampai kepada usaha percetakan, penerbitan, dan pertokoan kue kering. Selanjutnya usaha menghimpun tukang kayu untuk secara bersama-sama mengerjakan order dari berbagai pihak, usaha mengelola bioskop yang diserahkan pemiliknya, bahkan juga semacam usaha asuransi jiwa. Untuk memberikan informasi diterbitkan organ bulanan seukuran tabloid bernama Syarikat Usaha pada 10 April 1914.

Dari bundelan organ tersebut dapat dibaca apa-apa saja kegiatan organisasi dan usaha yang sedang berjalan. Juga sumbangan dan derma pada simpatisan. Dari jumlah Rp 0,10 sampai Rp 240 dari Haji Ning. Juga diberitakan klaim asuransi Rp 100 atas kematian orangtua H Abdul Gani. Jumlah yang tidak sedikit untuk masa itu. Agaknya pola kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang dibangun pada dekade pertama abad yang lalu itu, adalah sama semangatnya atau visinya dengan gerakan sosial ekonomi masyarakat Minangkabau ketika mendirikan Gerakan Seribu Minang atau "Gebu Minang" pada dekade akhir abad yang lalu. Yaitu organisasi yang menghimpun dana dari para perantau untuk membantu pemodalan usaha masyarakat di kampung halaman mereka, melalui Bank Perkreditan Rakyat itu. Sangat boleh jadi dari hubungan dengan Taher Marah Sutan selaku sekretaris organisasi yang mengelola semua kegiatan Syarikat Usaha itu, Bung Hatta menemukan ide dari suatu sistem ekonomi kerakyatan. Organisasi Syarikat Usaha merupakan perserikatan orang-orang yang berusaha bersama atau bekerja sama, selain sesuai dengan pola budaya Minangkabau, juga sangat dibutuhkan oleh rakyat yang ingin bangkit dari dominasi sistem ekonomi yang kapitalistis. Bung Hatta mungkin melihat bahwa organisasi usaha semacam itu memerlukan manajemen yang profesioal agar mampu sama-sama berdiri dengan perusahaan perorangan yang kapitalistis. Karena itulah dia memilih pendidikan ke bidang studi ekonomi di Jakarta kemudian dilanjutkannya ke Rotterdam.

***
Dalam perjalanan sejarah hidupnya, Bung Hatta cenderung dipandang orang sebagai negarawan dan koproklamator, RI daripada seorang ekonom kerakyatan. Gagasan ekonomi kerakyatan bagai tenggelam dalam gegap gempita gerakan politik. Pada masa Orde Baru gagasan ekonomi kerakyatan itu dipandang sebagai telah kuno oleh banyak pakar. Namun, demi penyamaran politik pro-ekonomi konglomerat, pemerintah menggunakan kebijaksanaan mendirikan Departemen Koperasi. Seseorang yang mengikuti gerakan politik yang radikal ataupun nonkoperasi terhadap pemerintah yang berkuasa selalu sadar akan risiko ditangkap dan dibuang ke pulau jauh seperti Digul. Keikutan Bung Hatta dalam gerakan politik itu tentu saja oleh suatu motivasi yang kuat, kemudian dimatangkan oleh lingkungannya. Lingkungan yang dipilih dengan kesadaran maupun tidak. Begitulah Bung Hatta yang lahir dan tinggal dalam lingkungan pengusaha yang berkolaborasi dengan pemerintah jajahan, akhirnya menjadi seorang politisi yang nonkooperatif terhadap pemerintah jajahan, adalah karena peristiwa yang menyinggung perasaannya seorang bocah yang masih lugu. Dalam Memoir dikisahkan bahwa pada masa kecilnya, Bung Hatta setiap hari melihat serdadu Belanda menista secara fisik dan mental setiap orang kampung yang melewati pos tentara. Pos tentara yang terletak persis di depan rumahnya di Bukittinggi. Waktu itu tahun 1908 sedang terjadi Perang Kamang. Rakyat pedesaan tidak bisa lagi keluar-masuk Kota Bukittinggi dengan leluasa. Jiwa Bung Hatta tertusuk berat tampaknya. Meski dalam Memoir tidak dikisahkan secara emosional, namun dengan memuat peristiwa demikian dalam buku tersebut lebih menjelaskan bahwa peristiwa itu demikian mencekam dalam pada jiwanya. Ketika bersekolah MULO di Padang, Bung Hatta sering bergaul dengan pemuka masyarakat yang bergabung dalam organisasi sosial-ekonomi Syarikat Usaha yang bertujuan meningkatkan harkat bangsa. Di sana dia mulai memahami apa fungsi seseorang sebagai bangsa dan fungsi

seorang Muslim sebagai umat. Amat boleh jadi selama bergaul di sana, Bung Hatta memperoleh wawasan yang kemudian menjadikannya sebagai seorang tokoh besar yang konsekuen pada prinsip hidup dan ideologinya. Dari pergaulan semasa remaja dengan para pemuka masyarakat Kota Padang itu, secara samarsamar Bung Hatta menemukan konsep kebersamaan hidup dan perjuangan orang-orang sehaluan dan sependeritaan dalam organisasi Syarikat Usaha, yang kemudian bermuara menjadi konsep koperasi ekonomi. Dari pengalaman kegiatan organisasi yang senantiasa terhalang oleh pemikiran sempit para anggota dan bangsanya, menumbuhkan pemikiran Bung Hatta akan arti pentingnya pendidikan politik bagi bangsa Indonesia daripada bentuk gerakan massal yang tergantung pada seorang tokoh. Dari pengamatannya bagaimana cara pengurus Syarikat Usaha membuat keputusan, Bung Hatta melihat arti pentingnya musyawarah mufakat dalam suatu sistem kebersamaan, yang kemudian disebut demokrasi. Dari pergaulannya itu juga, Bung Hatta mengenal pola budaya bersuku-suku dan berkampung-kampung dari negeri kelahirannya, Minangkabau, menyadari bahwa manusia hidup bersama bukan bersatu. Oleh karena itu, bersatu menuntut ketergantungan kepada seorang tokoh dan menuntut peleburan perbedaan-perbedaan. Pemikiran terakhir itu kemudian tersimpulkan ketika mendirikan organisasi Jong Sumantranen Bond sehabis pertemuan dengan Pengurus Jong Sumatra yang datang dari Jakarta, M Nazir Pamuntjak. Keragaman pemikiran kian berkembang waktu melanjutkan pendidikan di Jakarta ketika bertemu dengan banyak tokoh pemuda yang mulai memikirkan nasionalisme Indonesia. Ikut sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia pada masa pendidikan di Belanda mengkristalkan pemikiran Bung Hatta tentang bentuk negara bangsa Indonesia setelah mencapai kemerdekaan. Setelah mengunjungi berbagai negara Eropa, terutama negara Skandinavia yang melaksanakan koperasi pada sistem ekonomi negara mereka, menurutnya tidak ada sistem lain yang terbaik selain sistem demokrasi dalam bentuk federasi serta sistem ekonomi kerakyatan dalam bentuk koperasi. Sistem demokrasi dalam negara kapitalis sama halnya dengan negara monarki yang melaksanakan sistem demokrasi. Maka, dia tidak dapat berdamai dengan pola pemerintahan Belanda di Indonesia. Dan ketika Bung Hatta terpilih menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia, organisasi itu ikut terbawa napas radikal pula. Sehingga akibat pengajuan Westenenk, seorang bekas pejabat kolonial yang memimpin perang melawan rakyat Kamang dekat Bukittinggi, Pemerintah Belanda melakukan penangkapan terhadap beberapa pengurus.

***
Dalam hukum pembuangan ke Bandaneira, Maluku, oleh Pemerintah Hindia Belanda, Bung Hatta menulis buku berjudul Alam Pikiran Yunani. Buku yang berisikan sejarah pertumbuhan filsafat Yunani dari masa ke masa. Bahwa seorang seperti Bung Hatta yang berpikir realis dan rasional dalam masa pembuangannya di pulau sepi, seyogianya akan menulis konsep ekonomi rakyat yang jadi cita-citanya. Jika mengingat Bung Hatta mendirikan PNI Pendidikan ketika PNI dibubarkan Sartono setelah Bung Karno dipenjarakan, tampaknya masalah pendidikan politik jadi prioritas pemikiran Bung Hatta. Pendidikan politik amat penting untuk mencapai dan mengisi kemerdekan agar Indonesia tidak menjadi negara demokrasi yang amburadul. Buku Alam Pikiran Yunani itu berisikan buah pikiran filsuf Yunani tentang susunan dan sistem pemerintahan negara yang berdasarkan kedaulatan rakyat.

Bukan suatu kebetulan barangkali apabila filsafat alam dan sistem kemasyarakatan dari negeri kelahiran Bung Hatta, Minangkabau, banyak persamaannya dengan apa yang tertera dalam buku filsafat Yunani tersebut. Misalnya, tentang hukum alam yang serba empat menjadi hukum dan etika budaya Minangkabau yang juga serba empat. Bahwa susunan ketatanegaraan yang terdiri dari polis-polis yang berdiri sendiri berbentuk federasi dalam ikatan sesamanya, sama halnya dengan sistem pemerintahan nagari di Minangkabau yang terdiri dari berbagai koto (kota = benteng). Pemerintahan di bawah pimpinan senat di Yunani, sama dengan Minangkabau dalam balairung adat. Sistem demokrasi egaliter serta dengan sistem ekonomi dalam masyarakat komunal di Yunani banyak persamaannya dengan apa yang dapat ditemukan dalam masyarakat Minangkabau. Bukan suatu kebetulan, sistem demokrasi yang berakar dari pola budaya masyarakat egaliter Minangkabau sangat mempengaruhi pandangan Bung Hatta dalam bentuk dan sistem kenegaraan serta ekonomi kerakyatan yang dicita-citakannya. Akan tetapi, cita-citanya itu tidak semuanya berhasil diperjuangkannya di kala menyusun UUD Republik oleh karena sebagai negarawan berposisi minoritas, Bung Hatta kalah suara. Sebagai demokrat, dia menerima kemenangan kelompok mayoritas dalam permusyawarahan itu. Itulah salah satu ideologi yang tertanam dalam diri Bung Hatta yang terus-menerus dikumandangkannya sampai akhir hayatnya. Namun, sebagai tokoh anti-otokrasi, Bung Hatta menunjukkan sikapnya yang nonkooperatif terhadap penjajahan dengan menghadang risiko dibui dan dibuang ke pulau di ujung Indonesia. Dan ketika Bung Karno sebagai Presiden RI mulai bersikap otoriter, Bung Hatta mundur dari jabatan Wakil Presiden. Hal yang sama dilakukannya juga ketika Sartono bersikap otoriter ketika membubarkan PNI tanpa minta persetujuan para anggota. Bung Hatta mendirikan PNI Pendidikan pada tahun 1932. Namun, terhadap Republik Indonesia, Bung Hatta, seperti juga Sutan Sjahrir, sama sekali tidak berminat mendirikan negara baru, bahkan sama sekali tidak mau ikut pemberontakan PRRI yang berbasis di tanah kelahiran mereka itu dalam menentang Soekarno. Semangat ingin tetap bersama dan tidak terpecah dengan RI adalah sikap umumnya masyarakat Minangkabau. Sangat kentara terlihat ketidakberhasilan Van Mook mendirikan Negara Minangkabau seperti yang mudah saja dilakukannya di daerah-daerah lain pada masa revolusi dulu. Sepertinya tidak ada dalam tradisi budaya Minangkabau untuk memecah-belah kampung halamannya karena tidak suka pada pimpinan yang ada. Juga tidak ada tradisi menjatuhkan pimpinan untuk diganti dengan yang lain. Tradisi mereka yang ada ialah kalau tidak suka pada pimpinan kampung halaman atau penghulunya, tinggalkan negeri itu. Pergi merantau. Menunggu pimpinan berganti. Sikap Bung Hatta mendirikan partai baru karena tidak suka pada kepemimpinan Sartono membubarkan PNI, merupakan sikap umumnya para negarawan berasal dari Minangkabau. Umpamanya H Agus Salim keluar dari PSII dan mendirikan PSII Penyadar karena tidak setuju pada cara Kongres yang menetapkan formatur tunggal untuk menyusun pengurus baru. Oleh karena itu, formatur tunggal adalah bentuk lain dari budaya otokrasi. H Agus Salim (umumnya utusan luar Jawa), menghendaki pengurus dipilih oleh anggota kongres secara demokratis. Demikian yang dilakukan M Yamin ketika keluar dari Partai Gerindo; Sjamsuddin St Makmur dari PRN; Hazairin dari PIR. Bahkan, Tan Malaka keluar dari Komintern lalu menjadikan Partai Rakyat di luar negeri, karena dia tidak setuju pada sikap Stalin yang otoriter. "Punggung saya belum bisa bungkuk." katanya ketika ditanyai Bung Hatta kenapa dia keluar dari Komintern. Seperti yang dapat ditemui dalam buku Memoir.

AA Navis Sastrawan

Bung Hatta dan Semangat Zaman
* Emil Salim SIDANG pleno Komite Persiapan Konferensi Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tanggal 27 Mei sampai dengan 7 Juni 2002, dibuka tepat waktu di Bali. Tetapi, ruang besar gedung Pusat Konvensi Hotel Nusa Dua masih kosong melompong. Sudah menjadi kebiasaan, sidang PBB selalu dimulai terlambat. Ingatan melayang ke Mohammad Hatta dengan kebiasaannya untuk selalu tepat waktu. Dengan demikian, kami selalu bisa mencocokkan jam tangan dengan masuknya mobil Bung Hatta ke kantor Wakil Presiden di sebelah Istana Merdeka yang senantiasa bertepatan waktu dengan bunyi lonceng tepat pukul delapan pagi waktu mulai jam kerja pemerintah. Begitu pula surat kabar Pemandangan terbitan Jakarta tahun 1930-an sudah bisa yakin bahwa artikel Bung Hatta akan tiba dua kali sebulan tepat waktu di Jakarta, walaupun Bung Hatta dipenjarakan di Boven Digul, Irian Barat (kini Papua), maupun di Bandaneira, Maluku. Dan bila Bung Hatta berbulat tekad menyelesaikan studinya di Rotterdam, Belanda, dalam tahun 1932, tak syak lagi di tahun itu pula beliau tamat belajar sungguhpun tuntutan perjuangan menggebu-gebu menyeret beliau ke kancah politik. Tepat waktu adalah ciri khas kecil yang Bung Hatta contohkan pada bangsa kita. Tetapi, alangkah sulitnya ini diwariskan pada pemimpin-pemimpin bangsa kita sekarang ini. Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat tingkat nasional dan daerah, sidang pengadilan dan sidang kabinet selalu dimulai terlambat. Kebiasaan "jam karet" lebih lazim ketimbang "tepat waktu." Dan sasaran kebijakan ekonomi yang sudah disepakati dan tercantumkan dalam Rencana Pembangunan Tahunan maupun kesepakatan dengan International Monetary Fund (IMF) seperti tertuang dalam Letter of Intent pemerintah tidak dilaksanakan tepat waktu. Ada lagi ciri Bung Hatta yang khas, yakni telaten-rapi atau dalam bahasa Belanda, netjes. Dalam berpakaian dan penampilan tampak ciri khas Bung Hatta untuk telaten rapi. Dari sisiran rambutnya, pemakaian kupiah, cara berpakaian sampai ke sepatu Bung Hatta selalu telaten rapi. Ciri ini juga tampak dalam cara berpikir Bung Hatta, sistematis, teratur rapi. Tidak ada kata-kata berlebihan. Tulisan Bung Hatta padat, to the point langsung kena sasaran. Begitu pula pidato beliau, tanpa bunga-bunga kata. Langsung mengutarakan pendapat tanpa tedeng aling-aling, secara telaten rapi, zakelijk dan rasional. Di balik tulisan dan pidato yang telaten dan rapi ini tersimpul buah pikiran yang bertumpu pada bacaan luas dari buku dalam berbagai bahasa, Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis. Bung Hatta pencinta buku, di mana saja beliau dipenjarakan atau dibuang, buku senantiasa mendampinginya. Bahkan, ketika di bulan Desember 1935 Kapten Wiarda selaku kepala pemerintahan di tempat pembuangan Boven Digul, memerintahkan Bung Hatta untuk bersama Sutan Syahrir dalam waktu empat hari segera pindah ke Bandaneira, setelah ditahan selama sebelas bulan, Bung Hatta mengusulkan agar pemindahan ini diulur tiga minggu untuk memberi kesempatan mengatur dan mengepak buku-bukunya.

Dan dalam penjara di Den Haag, Belanda (1927-1928) serta tempat pembuangan di Indonesia (1934-1935), Bung Hatta terus belajar, membaca dan menulis dan selalu dikelilingi oleh bukubuku. Bahkan, dalam penjara di Den Haag (1927) Bung Hatta belajar menyiapkan diri untuk tentamen ujian pendahuluan di Sekolah Tinggi Ekonomi, Rotterdam. Artikel Bung Hatta selalu ditulis tangan. Huruf-huruf tulisannya rapi dalam susunan kalimat dengan gramatikanya yang baik. Dan lembaran tulisannya kemudian tersimpan rapi. Ia tahu persis siapa yang meminjam arsip tulisannya. Pidato pentingnya tentang Pasal 33 UndangUndang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia dipinjam Professor Soepomo yang kemudian menitipkannya kepada Mr Muhammad Yamin, yang alpa mengembalikannya kepada Bung Hatta. Akibatnya, tulisan Bung Hatta tentang sistem ekonomi yang tersimpul di balik Pasal 33 UUD tidak bisa kita gali dari sumbernya. Karangan Bung Hatta mencerminkan hasil pikiran yang jernih, cakrawala wawasan yang luas, sikap hidup tanpa pamrih dan pengalaman perjuangan yang matang. Banyak pemimpin tampil di panggung politik sekarang ini. Tapi sulit kita temukan tokoh pemimpin yang memiliki ciri watak pribadi Bung Hatta ini. Kebanyakan pemimpin kita kurang membaca. Dan mengandalkan diri pada penulis pidato sehingga kalimat kata-kata tidak dihayatinya. Menjadi keringlah pidato para pemimpin-pemimpin kita sekarang dari semangat dan jiwa perjuangan. Kebanyakan pidato pemimpin-pemimpin sekarang adalah klise, mulai dari "memanjat puji syukur" hingga kata akhir yang tidak berkesan. Maka mencoloklah ciri-ciri khas Bung Hatta, seperti tepat waktu, telaten rapi, kecintaan pada buku dan ilmu dan sikap hidup untuk berjuang tanpa pamrih. Ciri-ciri ini tidak datang dengan sendiri, tetapi tumbuh dari disiplin tinggi dan hasil gemblengan semangat zaman. Ditempa semangat zaman Bung Hatta, lahir tahun 1902 dan menempuh tahun formatif serta kedewasaan pribadi dalam masa Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan sesudahnya. Perang dunia ini berdampak pada lahirnya kebangkitan Asia dari belenggu dominasi asing dan kaum feodal. Jepang berhasil mendepak Rusia ke luar. Cina menghapus Dinasti Manchu. Gerakan kebangsaan mulai tercetus di Indonesia. Boedi Oetomo lahir di Sekolah Kedokteran STOVIA (1908). Syarikat Islam menyusul dipelopori kaum pedagang (1912). Indische Partij lahir di kalangan menengah dan atas. Disusul dengan gelombang kebangkitan pemuda dalam Jong Java (1915) dan Jong Sumatranen Bond (1917). Perang dunia telah melahirkan gerakan kebangsaan tidak saja di Indonesia, tetapi juga di India, Cina, Korea, dan Jepang. Setelah perang berakhir, Belanda ingin menyalurkan gelombang pasang semangat kebangsaan ini dengan menjanjikan "hak rakyat bumiputera memimpin negaranya sendiri" yang diucapkan sebagai "Janji November" atau November Belofte Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Limburg Stirum, 18 November 1918. Tetapi, fakta bahwa Janji November ini tidak ditindaklanjuti membangkitkan semangat protes begitu pula tindakan kesewenangan pemerintah kolonial terhadap rakyat kecil menjadikan Bung Hatta ujung tombak gerakan nonkooperasi. Gerakan ini diperkuat oleh peristiwa yang menyentuh secara mendalam hati nurani Bung Hatta ketika mengetahui besarnya kekejaman pemerintahan kolonial. Rakyat desa dipaksa, di bawah ancaman senjata, menjual padinya kepada Pemerintah. Dan areal tanah tanaman padi milik rakyat desa dilarang untuk ditanami padi dan tanah ini harus disewakan kepada perusahaan gula untuk tanaman tebu, sungguhpun penduduk desa membutuhkannya untuk mengatasi kekurangan pangan.

Dengan bekal pengalaman pahit ini, Bung Hatta berangkat ke negeri Belanda untuk belajar pada Handel Hooge School, Rotterdam (1921). Dari negeri induk semang pemerintahan kolonial dan berkesempatan menyaksikan keadaan Indonesia dari jauh dan sudut pandang holistik berkembanglah ketetapan hati Bung Hatta untuk berjuang bagi kemerdekaan Indonesia at all costs. Tekad dan komitmen Bung Hatta sudah terpateri dalam usia muda duapuluhan tahun dan tertuang dalam kata-kata pujangga Rene de Clercq yang gemar dikutipnya, Hanya satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku. Bung Hatta meletakkan keseluruhan jiwa dan raganya untuk perjuangan mencapai Indonesia Merdeka. Untuk ini ia tahu besar risiko bisa ditawan, dipenjarakan, dan dibuang. Bung Hatta juga sadar bahwa berbagai kecukupan hidup material harus dikorbankan. Ia harus tahan banting untuk hidup dalam kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan. Dalam penjara pembuangan Boven Digoel, Irian Jaya, Bung Hatta harus hidup dengan pembagian rangsum dalam natura tiap bulan berupa 18 kilogram beras, satu kilogram kacang hijau, dua kilogram ikan asin, 400 gram teh dan satu blok kecil garam, semuanya senilai 2 gulden dan 40 sen. Ini adalah ganjaran yang paling berat ketimbang mereka yang bersedia bekerja untuk Pemerintah Kolonial dengan upah 40 sen sehari. Dan selama Bung Hatta teguh menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan bersikap nonkooperatif, maka penguasa penjara mengancam tidak ada harapan untuk bisa keluar dari tempat pembuangan Boven Digoel. Namun, dalam menghadapi pilihan yang demikian berat, Bung Hatta teguh pada pendiriannya, yakni menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Dengan demikian, berlakulah bagi Bung Hatta ucapan pujangga Nietzsche yang suka dikutipnya, Wass Mich nicht umbringt, macht Mich starker, yakni "apa yang tidak menumbangkan diriku, akan memperkuat diriku." Berat konsekuensi yang harus dipikul Bung Hatta dalam bersikap nonkooperatif ini. Ia harus bertahan hidup dengan mengandalkan honorarium hasil imbalan tulisannya di surat kabar dan majalah dalam serta luar negeri. Tanpa terikat pada pemerintah, Bung Hatta leluasa aktif dalam pergerakan politik baik di negeri penjajah Belanda dalam Perhimpunan Indonesia selaku ketua umum maupun dalam pergerakan internasional melalui "Liga Menentang Imperialisme dan Untuk Kemerdekaan Nasional" selaku anggota presidium bersama Jawaharlal Nehru dari India. Bung Hatta juga mengambil janji pribadi untuk tidak menikah sebelum tercapai Indonesia Merdeka. Janji ini ia patuhi. Dan, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, di bulan November 1945 di Megamendung, Bogor, ia menikah pada usia 43 tahun. Penuh dan total komitmen Bung Hatta untuk perjuangan mencapai Indonesia Merdeka. Bung Hatta menjadi pejuang yang teguh pendirian ditempa oleh semangat zaman. Ia sangat yakin bahwa suatu ketika Indonesia pasti merdeka. Tanda-tanda dan semangat zaman padi milik rakyat desa dilarang untuk ditanami padi dan tanah ini harus disewakan kepada perusahaan gula untuk tanaman tebu, sungguhpun penduduk desa membutuhkannya untuk mengatasi kekurangan pangan.

Dengan bekal pengalaman pahit ini, Bung Hatta berangkat ke negeri Belanda untuk belajar pada Handel Hooge School, Rotterdam (1921). Dari negeri induk semang pemerintahan kolonial dan berkesempatan menyaksikan keadaan Indonesia dari jauh dan sudut pandang holistik berkembanglah ketetapan hati Bung Hatta untuk berjuang bagi kemerdekaan Indonesia at all costs. Tekad dan komitmen Bung Hatta sudah terpateri dalam usia muda duapuluhan tahun dan tertuang dalam kata-kata pujangga Rene de Clercq yang gemar dikutipnya, Hanya satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku. Bung Hatta meletakkan keseluruhan jiwa dan raganya untuk perjuangan mencapai Indonesia Merdeka. Untuk ini ia tahu besar risiko bisa ditawan, dipenjarakan, dan dibuang. Bung Hatta juga sadar bahwa berbagai kecukupan hidup material harus dikorbankan. Ia harus tahan banting untuk hidup dalam kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan. Dalam penjara pembuangan Boven Digoel, Irian Jaya, Bung Hatta harus hidup dengan pembagian rangsum dalam natura tiap bulan berupa 18 kilogram beras, satu kilogram kacang hijau, dua kilogram ikan asin, 400 gram teh dan satu blok kecil garam, semuanya senilai 2 gulden dan 40 sen. Ini adalah ganjaran yang paling berat ketimbang mereka yang bersedia bekerja untuk Pemerintah Kolonial dengan upah 40 sen sehari. Dan selama Bung Hatta teguh menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan bersikap nonkooperatif, maka penguasa penjara mengancam tidak ada harapan untuk bisa keluar dari tempat pembuangan Boven Digoel. Namun, dalam menghadapi pilihan yang demikian berat, Bung Hatta teguh pada pendiriannya, yakni menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Dengan demikian, berlakulah bagi Bung Hatta ucapan pujangga Nietzsche yang suka dikutipnya, Wass Mich nicht umbringt, macht Mich starker, yakni "apa yang tidak menumbangkan diriku, akan memperkuat diriku." Berat konsekuensi yang harus dipikul Bung Hatta dalam bersikap nonkooperatif ini. Ia harus bertahan hidup dengan mengandalkan honorarium hasil imbalan tulisannya di surat kabar dan majalah dalam serta luar negeri. Tanpa terikat pada pemerintah, Bung Hatta leluasa aktif dalam pergerakan politik baik di negeri penjajah Belanda dalam Perhimpunan Indonesia selaku ketua umum maupun dalam pergerakan internasional melalui "Liga Menentang Imperialisme dan Untuk Kemerdekaan Nasional" selaku anggota presidium bersama Jawaharlal Nehru dari India. Bung Hatta juga mengambil janji pribadi untuk tidak menikah sebelum tercapai Indonesia Merdeka. Janji ini ia patuhi. Dan, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, di bulan November 1945 di Megamendung, Bogor, ia menikah pada usia 43 tahun. Penuh dan total komitmen Bung Hatta untuk perjuangan mencapai Indonesia Merdeka. Bung Hatta menjadi pejuang yang teguh pendirian ditempa oleh semangat zaman. Ia sangat yakin bahwa suatu ketika Indonesia pasti merdeka. Tanda-tanda dan semangat zaman sudah tampak. Akan ada kelak benturan antarkekuatan imperialis di kawasan Asia yang akan menghasilkan kondisi matang bagi lahirnya Indonesia Merdeka. Dengan penuh keyakinan ramalan ini dilontarkan dalam pembelaannya di hadapan ketua dan para hakim Mahkamah Belanda di Den Haag, Belanda, Maret 1928.

Cita-cita Demokrasi Sebagai pemuda yang menikmati keberuntungan dan privilese untuk belajar di luar negeri dibandingkan dengan rakyat miskin yang serba kekurangan di Tanah Air, tumbuh kesadaran mengesampingkan kepentingan diri dan mengorbankan diri pribadi untuk perjuangan kemerdekaan. Bagaikan sebatang lilin, biarkan diri luluh asalkan sinar terang menembus kegelapan. Tetapi, kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, tetapi sekadar jembatan membawa bangsa melalui alur demokrasi politik dan demokrasi sosial menuju masyarakat yang adil, makmur dan lestari. Bung Hatta menolak demokrasi yang bertumpu pada kepentingan feodal, sungguhpun Indonesia pernah mengalami sejarah kepemimpinan raja-raja. Juga ditolak demokrasi yang bertumpu pada dominasi kepentingan satu golongan agama yang menindas golongan agama lainnya, seperti pernah berlangsung di Abad Pertengahan ketika Eropa terbenam dalam peperangan antaragama. Rousseau, mencetuskan semboyan "kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan" (1789) yang menjadi dasar pengembangan demokrasi. Hakikat demokrasi ini ketika itu adalah pembebasan individu dari dominasi agama. Dan kemerdekaan individu diagung-agungkan. Bahkan, diartikan begitu ekstrem sehingga dalam Undang-Undang Dasar Perancis yang pertama, tercantum larangan orang berserikat. Karena perserikatan itu membatasi kemerdekaan individu. Dan dalam ekonomi bergemalah semboyan laissez faire, laissez passer yakni "merdeka berbuat, merdeka berjalan." Individualisme dianggap ketika itu penting untuk melepaskan jiwa manusia dari kungkungan buatan manusia, seperti feodalisme dan dominasi agama. Individualisme juga penting menumbuhkan daya cipta manusia sehingga tumbuh berkembang teknologi yang memicu revolusi industri. Sungguh pun individualisme ini penting namun perlu ada kekuatan pengimbang untuk mengendalikannya agar tidak mendominasi kehidupan. Dari sudut inilah Bung Hatta beranjak. Beliau menolak demokrasi yang mengutamakan individualisme. Karena dalam perkembangan masyarakat kemudian, kaum bermodallah yang paling cepat bisa memanfaatkan demokrasi seperti ini. Dan kaum pemodal, kapitalis, bisa tumbuh bila tidak ada kekuatan pengimbang terhadap dirinya. Dengan demikian, tumbuh dominan kaum kapitalis dalam demokrasi kapitalis ini. Dalam demokrasi kapitalis inilah terbuka lebar jalan l'exploitation de l'homme par l'homme yakni "eksploitasi manusia atas manusia." Manusia buruh dieksploitasi oleh manusia kapitalis. Manusia petani kecil dieksploitasi oleh manusia pemilik tanah besar. Yang lemah dieksploitasi yang kuat. Bung Hatta menginginkan demokrasi yang mengoreksi kekurangan ini. Hak politik harus berada di tangan rakyat. Supaya rakyat bisa mengembangkan hak demokrasinya, secara sadar perlu ditumbuhkan kekuatan pengimbang guna mencegah dominasi kaum kapitalis dan feodal. Dalam kaitan inilah sangat penting adanya: Pertama, kebebasan berserikat dan berorganisasi, sebagai kebalikan dari sikap Perancis dengan UUD yang pertama. Tumbuhnya organisasi perlu sebagai kekuatan pengimbang bagi kelompok bermodal, kelompok bersenjata dan kelompok yang mendominasi masyarakat politik. Dominasi kelompok cenderung bergeser ke jurusan penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang. Untuk mencegah inilah harus ada kekuatan pengimbang. Dan untuk inilah perlu dijamin kebebasan berorganisasi. Kedua, kebebasan menyatakan pendapat dalam tulisan dan lisan. Karena itu beliau menolak sensor pers. Dalam konteks masa sekarang perlu juga diberantas "praktik amplop" bagi

wartawan guna mencegah hilangnya obyektivitas pemberitaan. Pemaksaan pendapat pun harus dicegah agar masyarakat tidak tertipu oleh informasi yang cenderung bersifat indoktrinasi. Ketiga, hak sanggahan secara massal, mass protes, yang memang sudah dikenal masyarakat desa di Jawa, dan dilakukan tanpa kekerasan. Dalam masa sekarang sanggahan massal bisa terwujud dalam bentuk surat protes massal, polling publik, gugatan publik, aksi dan wacana publik. Penguasa berkepentingan memahami dan menanggapi sanggahan publik ini. Keempat, pembangkitan semangat gotong-royong, rasa bersama, kolektivitas untuk bersamasama menerima atau menolak sesuatu. Di masa kini ini terwujud dalam ikhtiar pemberdayaan masyarakat madani, pengembangan kapasitas masyarakat desa, lembaga berbasis komunitas, lembaga swadaya masyarakat dan lain-lain. Pemberdayaan kelompok menggalang kekuatan pengimbang, terutama bagi yang lemah terhadap yang kuat. Kelima, pemberdayaan kekuatan ekonomi masyarakat dari bawah, bottom-up, dengan membuka aksesibilitas rakyat kecil pada pengelolaan sumber daya alam, seperti tanah, hutan, laut, pantai, bahan mineral, fauna, flora. Juga membuka aksesibilitas rakyat kecil pada sumber pembiayaan berupa modal, kredit perbankan. Dan membuka aksesibilitas rakyat kecil pada fasilitas pendidikan, kesehatan, pengembangan kapasitas teknologi, pemasaran dan modal buatan manusia. Dengan mewujudkan kelima-lima pokok ini demokrasi politik tumbuh berimbang dengan demokrasi ekonomi yang terjalin dalam demokrasi kerakyatan. Dan, "medan kerja" (level playing field) yang dihadapi rakyat adalah adil, fair, dan berimbang dengan dorongan kebijakan pembangunan yang memberi pengutamaan, affirmasi, dan perlindungan bagi mereka yang lemah dan miskin. Demokrasi kerakyatan yang didambakan Bung Hatta mempunyai berbagai lapis. Lapisan pertama di tingkat desa, yang memungkinkan pemilihan langsung wakil rakyat oleh rakyat pemilih di desa. Lapisan kedua di tingkat provinsi melalui pemilihan wakil rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dan lapisan ketiga di tingkat nasional melalui pemilihan wakil rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Tercermin dalam pola ini struktur pemerintahan dan sistem ekonomi yang terdesentralisasi. Desentralisasi politik terwujud melalui pemilihan wakil rakyat di daerah dan desentralisasi ekonomi dilakukan melalui persebaran usaha oleh rakyat desa dan daerah antara lain melalui bentuk koperasi. Tekanan Bung Hatta adalah pada bentuk perekonomian yang hasilnya dipungut rakyat. Bila Indonesia diibaratkan satu taman luas, maka koperasi adalah pohon-pohon yang membuahkan hasil yang dipungut rakyat penanam pohon itu sendiri. Semangat zaman beralih Indonesia Merdeka sudah tercapai. Bahkan, Republik Indonesia kini berusia 57 tahun. Dan selama ini telah dipimpin oleh lima Presiden dan sembilan Wakil Presiden. Jumlah penduduknya pun meningkat dari 50 juta pada permulaan kemerdekaan menjadi210 juta jiwa sekarang ini. Laju pertumbuhan penduduk yang semulanya 2,5 persen setahun di tahun 1950-an berhasil diturunkan dengan separuh di tahun 1990-an. Program Keluarga Berencana yang berhasil menurunkannya ini memperoleh penghargaan Lembaga Kependudukan dan Keluarga Berencana PBB tahun 1980-an. Tingkat buta huruf penduduk berhasil diturunkan. Kebanyakan anak-anak berusia 6-12 tahun sudah masuk sekolah dasar. Indonesia sudah mempunyai banyak sarjana dalam berbagai

bidang. Banyak perempuan sekarang turut mengenyam pendidikan dan menduduki posisi dalam masyarakat. Tingkat kematian penduduk sudah menurun. Dan panjang usia penduduk sudah semakin membaik. Berbagai penyakit rakyat sudah bisa dikendalikan. Penduduk Indonesia tidak menderita tingkat kelaparan yang akut. Pangan cukup tersedia didukung oleh program produksi swasembada pangan yang memperoleh penghargaan Food and Agriculture dari PBB tahun 1980-an. Dalam perkembangan pembangunan, Indonesia sudah menunjukkan perobahan stuktur ekonomi yang cukup berarti. Pola produksi secara berangsur menuju ke arah keseimbangan antara sektor produksi primer dengan sektor produksi sekunder. Jaringan prasarana jalan, jembatan, saluran irigasi, listrik dan telekomunikasi sudah membaik dan mampu menunjang mobilitas horizontal penduduk yang berlalu-lalang dari Sabang sampai Merauke. Dampak positif semua ini menaikkan pendapatan per jiwa penduduk setahun dari 300 dollar AS (1950) menjadi 1.200 dollar (1995). Dan jutaan penduduk di bawah garis kemiskinan tahun 1970an berhasil dikurangi di tahun sembilan-puluhan. Prestasi pembangunan ini mendorong United Nations of Development Program (UNDP) dari PBB memberi penghargaan tahun 1990-an. Demikianlah beberapa cuplikan kemajuan yang dicapai bangsa Indonesia dalam kurun waktu 57 tahun ini. Selama itu Indonesia dipimpin oleh lima Presiden dan sembilan Wakil Presiden. Setiap pergantian jabatan Presiden tidak berlangsung lancar dan acapkali disertai guncangan politik yang cukup besar. Indonesia belum menemukan format pergantian kepemimpinan negara secara demokratis dan damai. Di samping kemajuan yang dicapai, cukup banyak pula kekurangan selama perjalanan hidup kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satu kekurangan yang sangat mengganggu adalah rendahnya kualitas good governance. Ini tercermin pada gawatnya korupsi, kolusi dan nepotisme di lingkungan eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Pengembangan lembaga politik pun tertinggal dibandingkan dengan kebutuhan guna menopang laju pembangunan ekonomi. Sehingga pada suatu saat akan terjadi krisis akibat mismatch pengembangan berbagai institusi ini. Selama tahun 1970-1995 kebijakan pembangunan telah berhasil mengangkat posisi Indonesia dari negara berpendapatan rendah di tahun 1960-an menjadi negara berpendapatan menengah tahun 1990-an. Prestasi perkembangan Indonesia merupakan bagian dari apa yang dijuluki Bank Dunia sebagai the East Asian Miracle atau "keajaiban pembangunan Asia Timur." Dalam pertemuan Consortium Group on Indonesia (CGI) di Tokyo, April 1997, semua indikator ekonomi menunjukkan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi bisa berlanjut. Sehingga Bank Dunia, selaku Ketua CGI, meramalkan pada permulaan abad ke-21 ekonomi Indonesia akan memasuki tahapan permulaan negara industri. Ambruknya nilai mata uang baht Thailand 2 Juli, 1997, disusul dengan anjloknya nilai mata uang Korea, Indonesia, Malaysia, dan Filipina sungguh mengejutkan. Sebagai bagian dari proses globalisasi, liberalisasi pasar modal dan finansial di negara-negara ini berlangsung terlalu cepat sehingga menciptakan kondisi spekulasi mata uang. Arsitektur finansial global tidak memadai untuk mencegah usaha spekulasi ini sehingga memicu krisis finansial. Untuk Indonesia krisis keuangan berkembang menjadi krisis ekonomi yang serius sehingga berimbas kemudian pada krisis politik. Liberalisasi perkembangan ekonomi tidak disertai liberalisasi perkembangan politik, sehingga institusi politik tidak berjalan seiring dengan

kebutuhan untuk mendukung perkembangan ekonomi. Lembaga demokrasi tidak berfungsi dalam struktur politik yang terkendali ketat. Krisis ekonomi menggoncangkan struktur politik begitu besar sehingga merobohkan penguasa pemegang tampuk politik. Indonesia mengalami pergantian Presiden dan Wakil Presiden sebanyak tiga kali dalam kurun waktu krisis 1997-2002 ini. Dan Indonesia kini sedang dalam proses menemukan jalan yang sebaiknya mengatasi krisis dan memulihkan proses pembangunan bangsa. Banyak tantangan baru yang dihadapi Indonesia kini. Proses demokrasi dan desentralisasi sedang bergerak mencari bentuknya yang pas. Tak ayal lagi tentu timbul berbagai ekses-ekses negatif dalam proses transisi dari pola lama ke yang baru ini. Dalam menempuh proses pengembangan bangsa di masa krisis dan transisi ini, dibutuhkan kepemimpinan yang mantap mampu mengemudikan "kapal" bangsa ini dengan selamat di tengah amukan badai globalisasi dengan hujan kompetisi yang keras di bawah kekuasaan dunia yang tidak simetris, serba jomplang, menguntungkan negara maju dan merugikan negara berkembang. Dalam menanggapi badai globalisasi ini, "awak kapal" serba sibuk mengutamakan kepentingan diri dan saling berebut mencari keuntungan diri. Dalam keadaan ini dibutuhkan tipe kepemimpinan Bung Hatta yang bercirikan: penyerahan diri secara total berjuang tanpa pamrih bagi pembangunan bangsa dengan meletakkan kepentingan diri jauh di belakang berkarakter yang jujur serta bersih dalam kehidupan di atas jalan lurus yang diridai Tuhan Maha Esa berkomitmen penuh pada perbaikan nasib dan tingkat hidup rakyat kecil menegakkan dan menjalankan secara konsekuen nilai-nilai demokrasi kerakyatan mengutamakan rasio ketimbang emosi dan karena itu gandrung pada usaha mendidik rakyat ketimbang agitasi membangkitkan emosi rakyat dalam pembangunan bangsa Semangat zaman memang sudah berubah, namun ciri-ciri kepemimpinan Bung Hatta dan esensi perjuangan memerdekakan dan membangun bangsa seperti yang dihayatinya selama hidupnya tetap kekal abadi sebagai warisan bagi generasi kini dan nanti. Emil Salim Ekonom

DWITUNGGAL TERCETUS DI ORANJE BOULEVARD 57
Garis kehidupan tak pernah ada yang bisa menebak. Soekarno dan Hatta muda pun tanpa sadar seperti sudah ditakdirkan bakal tampil bersama di panggung sejarah. Menimba ilmu di sekolahsekolah jempolan, membaca banyak buku, berkenalan dengan orang besar, bahkan meringkuk di penjara, menjadi bagian dari proses itu. Dua orang berbeda latar belakang, gaya, serta kepribadian ini mengadakan pertemuan bersejarah di Oranje Boulevard 57 (kini Jln. Diponegoro) Jakarta, dan lahirlah Dwitunggal. Proses kelahiran Dwitunggal dan pertemuan terakhir keduanya yang dramatis - dua hari sebelum Soekarno wafat - dipaparkan oleh P. Swantoro dalam buku Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Rumah Budaya TeMBI (2001).

Menyimak peristiwa itu dan perjalanan sejarah bangsa ini, orang lantas sering melontarkan pertanyaan retrospektif, apa yang terjadi dengan bangsa ini seandainya Soekarno - Hatta tidak bertemu? Atau keduanya hidup di zaman yang berbeda? Namun, sejarah tidak pernah berjalan dengan pengandaian. Sejarah bergulir dengan kenyataan.
Hatta dan Soekarno pun barangkali tidak pernah membayangkan bahwa keduanya bakal tampil sebagai pemimpin. Juga ketika pada 12 Agustus 1902 lahir seorang bocah Mohammad Hatta di Bukittinggi, kota indah di kaki Gunung Merapi dan Singgalang. Nama kecil Mohammad Hatta sebenarnya Mohammad Athar. ”Athar” berarti harum. Namun, karena penduduk setempat sulit mengucapkan kata Athar, panggilan sehari-harinya menjadi ”Atta”. Lama-kelamaan panggilan itu menjadi ”Hatta”. Sementara di Tanah Jawa, sekitar setahun sebelumnya, lahir Soekarno di kota pahlawan Surabaya pada 6 Juni 1901. Ia putra pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo asal Blitar dan Ida Ayu Nyoman Rai dari Singaraja, Bali. Di kota kelahirannya Soekarno menjalani pendidikan dasar dan menengah. Sekolah tingkat menengah yang ditempuhnya di Surabaya adalah HBS (Hogere Burgerschool) dengan masa belajar lima tahun. Mohammad Hatta, setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Padang, meneruskan ke Sekolah Dagang Prins Hendrik School (PHS) di Batavia. Sekolah Dagang ini dasarnya adalah tiga tahun HBS. Dasar tiga tahun HBS bisa digantikan dengan pendidikan MULO yang lamanya juga tiga tahun. Ketika Soekarno lulus HBS di Surabaya pada 10 Juni 1921, 15 orang dari 67 teman sekelasnya gugur dalam ujian. Di antara yang lulus, hanya lima orang yang bukan kulit putih.

Dilarang ibu
Selama menempuh pendidikan baik Soekarno maupun Hatta pernah mengalami intervensi dari ibu mereka masing-masing. Hampir saja Hatta tidak meneruskan ke MULO dan bekerja sebagai pegawai pos. Sedangkan

Soekarno nyaris mengurungkan niat menjadi mahasiswa Technische Hogeschool atau Sekolah Teknik Tinggi (sekarang Institut Teknologi Bandung - Red.) dan belajar di Belanda.

Pada usia 14 tahun, Hatta sudah tamat dari HIS dan telah lulus ujian masuk HBS. Saat ia tengah bersiap pergi ke Batavia, tiba-tiba ibunya tidak mengizinkannya pergi. Ia dianggap masih terlalu muda untuk tinggal sendiri di sana. Sependengaran ibunya, anak muda yang dikirim ke ”kota pesiar” itu banyak yang putus sekolah di tengah jalan. Lebih baik ia masuk MULO di Padang, baru kemudian melanjutkan ke HBS. Permintaan itu sangat berat bagi Hatta. Ia rugi satu tahun kalau masuk HBS dari MULO. Lulusan MULO hanya diterima di kelas tiga HBS karena ilmu kimia tidak diajarkan di MULO, sedangkan di HBS pelajaran kimia dimulai di kelas tiga. ”Untuk pertama kali aku menghadapi ‘krisis pelajaran’. Karena bingung dan patah hati, aku mau berhenti saja bersekolah dan mulai makan gaji,” ungkap Hatta. Jabatan yang ditujunya adalah asisten pos. Di tempat ini gaji permulaannya sudah relatif tinggi. Meskipun prospek pekerjaan itu cukup menarik bagi Hatta, akhirnya ia menyerah pada bujukan ibu dan pamannya untuk memasuki MULO di Padang. Ia lulus pada Mei 1919 sehingga dapat melanjutkan ke Sekolah Dagang PHS di Batavia. Mei 1921 ia lulus dari sekolah ini. Pada 3 Agustus 1921, Hatta sudah berada di Kapal Tambora, dan 5 September 1921 berlabuh di Rotterdam, untuk selanjutnya menjadi mahasiswa di Handels Hogeschool, Rotterdam. Seandainya Soekarno diizinkan ibunya meneruskan studi di Belanda setamatnya dari HBS Surabaya 10 Juni 1921, tentu ia akan bertemu dengan Hatta sebagai mahasiswa di Negeri Kincir Angin. Kalau ini terjadi, barangkali suasana Perhimpunan Indonesia di Nederland bisa jadi berbeda, dan mungkin akan mengubah hubungan Soekarno - Hatta. Kenyataannya, nasib menentukan lain bagi Soekarno. Dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, terjadi dialog antara Soekarno dengan ibunya, agar Soekarno tidak berlayar ke Belanda. ”Ibu,” kata Soekarno, ”semua pelajar yang sudah lulus HBS, otomatis pergi ke Negeri Belanda. Siapa pun yang ingin mendapat pendidikan universiter, mesti ke Holland.” ”Tidak. Sama sekali tidak,” sahut ibunya. ”Anakku tidak akan ke Negeri Belanda.” ”Tetapi apa salahnya pergi ke luar negeri?” ”Memang tidak ada salahnya. Tetapi banyak kelirunya pergi ke Negeri Belanda. Apa yang menarik kamu? Harapan akan mendapat gelar universiter, atau keinginan akan perempuan kulit putih?” ”Saya mau ke universitas, Ibu.” ”Kalau demikian, kamu masuk universitas di sini. Pertama, kita harus mempertimbangkan hal pokok yakni uang. Terlalu mahal pergi ke luar negeri. Lagi pula kamu seorang anak yang lahir dengan darah Hindia. Saya mau kamu tinggal di sini di antara bangsamu sendiri. Jangan pernah lupa, Anakku, tempatmu, tujuan hidupmu, warisanmu, adalah di Pulau ini.”

Lain dengan Soekarno yang tertahan di Tanah Air, Mohammad Hatta dapat meneruskan pelajarannya di Nederland karena memperoleh beasiswa dari Yayasan Van Deventer. Beasiswa itu mula-mula untuk studi selama dua tahun, dan kemudian untuk tiga tahun. Saat ia berangkat ke Nederland, beasiswa itu belum dia peroleh, karena terlambat mengajukan permintaan. Untung ia masih mempunyai uang simpanan yang cukup untuk membiayai pelayaran dari Betawi ke Rotterdam. Ongkos pelayaran 1.100 gulden, dan sisa tabungannya kurang lebih 2.500 gulden yang diperkirakan cukup untuk biaya hidup di Rotterdam selama setahun.

Berkenalan dengan tokoh besar
Di samping belajar, Soekarno mulai berkenalan dengan kegiatan politik. Proses perkenalannya pada politik dimulai ketika ia belajar di HBS Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, seorang tokoh Sarekat Islam yang disegani. ”I soaked up more and more politics at Tjokro’s house, the cookshop of nationalism,” kata Soekarno.

Soekarno pun mulai menulis di Majalah Utusan Hindia dengan nama samaran Bima, ksatria perkasa dalam kisah pewayangan yang berani dan heroik. Konon jumlah tulisannya lebih dari 500 buah dan menjadi bahan pembicaraan orang di seluruh Hindia Belanda. Seperti halnya Soekarno di Surabaya yang bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan, demikian pula Mohammad Hatta. Ia berkenalan antara lain dengan Abdul Muis dan Haji Agus Salim. Hatta memang memiliki kesan terhadap Abdul Muis yang pernah datang ke Sumatra Barat pada Agustus atau September 1918. Ketika itu Abdul Muis baru saja menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Hatta ditunjuk mewakili Jong Sumatranen Bond bersama seorang temannya, Hussein, menyambut Abdul Muis di Pelabuhan Teluk Bayur. Sambutan meriah, karena Abdul Muis memang pemuka rakyat yang terkenal. Hatta dan Soekarno juga rakus membaca buku, bahkan sejak sebelum meneruskan belajar di perguruan tinggi. Soekarno meminjam dari perpustakaan Theosophical Society, Perhimpunan Teosofi, yang memang lengkap. Fasilitas ini dapat dia gunakan karena ayahnya seorang teosofis. Buku-buku bacaan Soekarno terutama berkisar pada tokoh-tokoh politik, negarawan, seperti George Washington, Thomas Jefferson, Gladstone, Mazzini, Cavour, Rousseau, Voltaire, Danton, dan Jean Jaures. Yang disebut terakhir dia katakan sebagai ”orator terbesar dalam sejarah Prancis”. Tidak hanya membaca buku-buku mereka, Soekarno pun membayangkan dirinya seperti mereka. Bahkan Soekarno sudah mencatat sebelum meninggalkan bangku HBS, bahwa dirinya diramalkan oleh beberapa orang penting akan menjadi pemimpin. Pemimpin besar, pemimpin

bangsa. Catatan Soekarno dalam biografinya mengingatkan kita pada ramalan-ramalan dalam Babad Tanah Djawi mengenai raja-raja Jawa. Ramalan yang oleh Soekarno disebut ”golden prophecy”, ramalan emas, mula-mula diucapkan ibunya sendiri ketika ia baru lahir, dandiulangi oleh neneknya sewaktu ia masih kanak-kanak. Peramal berikutnya adalah gurunya, Prof. Hartagh, ketika Soekarno masih belasan tahun. Bahkan Dr. Douwes Dekker Setiabudi mengatakan, ”Anak kecil ini kelak akan menjadi penyelamat bangsanya.” Tjokroaminoto pun berpesan kepada seluruh keluarganya pada suatu sore yang sedang diguyur hujan, ”Ikutilah anak ini. Ia diutus Allah untuk menjadi Pemimpin Besar. Saya bangga memberinya tempat berteduh di rumah saya.” Berbeda dengan Mohammad Hatta. Ia tidak pernah mendapat bekal ramalan dalam menempuh perjalanan hidupnya. Apa pegangannya? ”Cepat, tepat, dan teratur, itulah warisan yang kubawa dari PHS, plus didikan dari Handels-hogeschool di Rotterdam.” ”’Berbuat karena Allah’ menjadi dasar didikanku dari rumah yang membentuk aku sebagaimana aku dalam pelajaran, pendidikan, dan perjuangan untuk bangsa dan negara selama hidupku. Carilah kebenaran, tuntutlah kebenaran, dan laksanakan kebenaran itu dalam masyarakat, senantiasa menjadi peganganku dalam segala tindakan,” ungkap Hatta. Di perguruan tinggi Soekarno maupun Hatta tidak selalu menemukan jalan yang lancar. Baru sekitar dua bulan menjadi mahasiswa THS di Bandung pada 1921, Soekarno terpaksa kembali ke Surabaya, dan selama satu tahun bekerja sebagai pegawai Dinas Kereta Api. Ia harus memperoleh penghasilan guna menghidupi keluarga mertuanya, Pak Tjokroaminoto, yang ditahan oleh pemerintah kolonial. Karena itu, Soekarno terlambat satu tahun dalam menyelesaikan kuliahnya. Ia meraih gelar insinyur pada 1926. Hatta memang mengawali kuliah pada 1921, tetapi baru berhasil memperoleh gelar doctorandus ekonomi pada 1932. Penyebabnya, tahun 1925 - 1926 ia pindah ke jurusan baru di tingkat doktoral. Ketika itu jurusan tersebut dikenal sebagai Saatkundig-economische Richting atau politik ekonomi.

Ditahan di Den Haag
Setiba di Nederland, kepiawaian Hatta sebagai organisator dan bendahara sudah langsung tersebar di kalangan mahasiswa Indonesia. Karena itu, sejak 1922 hingga 1925 ia selalu menjadi bendahara organisasi mahasiswa itu. Kecuali selama 1924 ia tidak menjadi pengurus, karena berencana menempuh ujian doktoral akhir 1925, dan ujian akhir pada 1926.

Rencana itu pun batal karena ia pindah ke jurusan baru. Ia didesak lagi oleh rekan-rekannya untuk kembali menjadi pengurus organisasi mereka, Perhimpunan Indonesia (PI). Kali itu bukan sebagai bendahara, melainkan ketua. Ini berakibat fatal bagi studinya, karena ia memangku

posisi itu terus-menerus (1926 - 1930). Sebagai ketua PI Hatta menyampaikan pidato berjudul ”Economische Wereldbouw en Machttegenstellingen” atau ”Tata Perekonomian Dunia dan Pertentangan Kekuasaan”, yang dia sampaikan pada 17 Januari 1926. Dalam posisinya ini ia harus tampil dalam pertemuan-pertemuan internasional serta menjamin tetap terbitnya Majalah Indonesia Merdeka. Selain itu ia mengusahakan bergeraknya roda organisasi yang tengah terlibat langsung dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan. Hatta sempat ditahan di Den Haag selama enam bulan karena didakwa menghasut perlawanan terhadap Kerajaan Belanda. Ia dibebaskan setelah pengadilan menyatakan dakwaan itu tidak terbukti. Sekembali ke Indonesia Hatta yang aktif di pergerakan kebangsaan non-kooperasi PNIBaru waswas ketika pemerintah melarang kegiatan Partindo dan PNI-Baru. Benar saja, atas dukungan Dewan Hindia - Sekretaris Umum A.D.A. de Kat Angelino dan Jaksa Agung R.J.M. Verheijen - pada malam Minggu, 24 - 25 Februari 1934, para pemimpin PNI-Baru ditangkap. Mereka terdiri atas Mohammad Hatta, Sjahrir, Maskoen, Boerhanoeddin, Soeka, Bondan, dan Moerwoto. Tidak lama setelah penangkapan para pemimpin PNI-Baru, Bung Karno yang sudah ditangkap sebelumnya, 1 Agustus 1933, pun dibuang ke Ende, Flores. Ikut bersamanya istri (Inggit Garnasih), keponakan Inggit yang sudah diangkat anak (Ratna Djuami), dan ibu mertua (Ibu Amsi). Setelah empat tahun di Pulau Bunga itu, ia dipindahkan ke Bengkulu. Setahun kemudian, minggu pertama Januari 1935, menyusul Mohammad Hatta, Soetan Sjahrir, Mohammad Bondan, Boerhanoeddin, Soeka Soemitro, Maskoen Soemadiredja, dan Moerwoto dibuang ke Boven Digoel. Dalam buku Mohammad Hatta Biografi Politik tulisan Deliar Noer tergambar bagaimana kehidupan Hatta di sana. Tanah buangan itu sangat ditakuti oleh umumnya orang pergerakan. Di Digul Hatta diperlakukan sama dengan orang buangan lain: mengatur sendiri rumah atau gubuk tempatnya tinggal, menanam sayuran di halaman, membeli dari uang f 2,50, yang diberikan kepada tiap orang buangan yang tidak mau bekerja sama dengan pejabat setempat. Oleh pengawas kamp ia pernah ditawari untuk bekerja sama dengannya, dengan demikian ia bisa memperoleh bantuan uang f 7,50 sebulan. Tawaran itu ia tolak dengan mengatakan, kalau mau bekerja sama, ia dengan mudah memperoleh gaji f 500 sebulan di Jakarta. Namun, setahun kemudian, awal Januari 1936, ia dipindah ke Banda Neira. Kedua tokoh itu baru dapat meninggalkan tempat pengasingan setelah Jepang menguasai Hindia Belanda pada 1942.

Prakarsa Haji Oesman
Sebelum keduanya diasingkan, hanya satu kali Soekarno dan Hatta sempat bertemu muka. Itulah pertemuan pertama mereka. Dalam buku Biografi Politik Mohammad Hatta diungkapkan, ”Hatta bertemu dengan Soekarno di Bandung tanggal 25 September, lebih sebulan setelah ia tiba dari Negeri Belanda.

Sebelumnya ia belum pernah kenal dengan pemimpin ini, kecuali sepak terjangnya melalui suratsurat kabar dan korespondensi dengan kawan-kawannya.”

Menurut cerita Hatta dalam buku Menjadi Indonesia tulisan Parakitri T. Simbolon, pertemuannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi berkat prakarsa Haji Oesman, seorang pedagang asal Padang di Batavia. Bung Hatta menerima baik ajakan itu. Mereka datang di Astana Anjar, rumah Bung Karno di Bandung, tapi tidak bertemu. Sesuai pesan, Bung Karno datang ke hotel tempat Bung Hatta menginap. Sayang, keduanya tak bisa berunding, mungkin karena kehadiran Haji Oesman. Ketika hendak berpisah, Bung Karno meminta Bung Hatta agar datang lagi di Bandung untuk merundingkan penyatuan PNI-Baru dan Partindo. Bung Hatta bersedia. Pertemuan kedua berlangsung berkat saran Mr. Sartono, pendiri PNI-Baru. Rupanya, Soekarno meminta Sartono menyampaikan kepada Hatta, agar empat orang bertemu di rumah Soekarno antara tanggal 20 dan 30 September 1932. Selain mereka bertiga, Sjahrir juga diharapkan ikut. Tujuan pertemuan untuk penyatuan Partindo dan PNI-Baru. Sjahrir menolak ikut. Ia menyarankan agar Maskoen diminta menggantikannya jika Soekarno menghendaki juga dua orang dari PNI-Baru. Ternyata Maskoen juga menolak, ketika Hatta menemuinya di rumahnya di Kopoweg, Bandung. Akhirnya, pertemuan di rumah Soekarno itu hanya dihadiri oleh tiga orang, yakni Hatta, Soekarno, dan Sartono. Hasil pertemuan, tidak perlu penyatuan organisasi, tetapi perlu untuk bekerja sama dan tidak saling menyerang. Setelah pertemuan itu mereka makan bersama di rumah itu juga. Hatta kemudian pamit dan pergi ke rumah Hamdani, tempatnya menginap. Tidak seperti Hatta yang secara singkat menceritakan pertemuannya dengan Soekarno, Soekarno mengisahkannya dengan panjang lebar. Soekarno mengatakan, pertemuannya dengan Hatta terjadi di rumah Gatot Mangkoepradja. Bagaimanapun, inti keterangan kedua tokoh itu sama. Mereka tidak dapat bergabung dalam satu organisasi. Soekarno bahkan mengatakan, sifat dirinya dan Hatta memang berlawanan total. ”Hatta, a man totally opposite to me in nature,” kata Soekarno dalam biografinya. Hatta mengatakan, konsepnya didasarkan pada pendidikan praktis rakyat, dan tidak pada magnetisme seorang pemimpin. Dengan demikian partai akan jalan terus, apabila para pemimpin puncaknya disingkirkan, karena lapisan bawah pun tahu apa yang mesti diperjuangkan. Lantas mengapa dua orang yang punya sifat berbeda itu kemudian pada zaman Jepang, dan sesudahnya yakni pada awal berdirinya Republik Indonesia sampai menjelang tahun 1960, dapat tetap menjalin hubungan hingga melahirkan apa yang disebut Dwitunggal? Jawaban atas pertanyaan ini diberikan oleh Soekarno dan Hatta ketika pada 9 Juli 1942 sekitar pukul 20.30 mereka bertemu untuk kedua kali di rumah Bung Hatta, Oranje Boulevard 57 (sekarang Jln. Diponegoro Jakarta). Dalam biografinya Bung Karno menyebut pertemuan malam itu sebagai our first tactical meeting, pertemuan yang pertama secara taktis. Menurut Bung Karno, mereka berdua telah lama hidup dalam suasana percekcokan. Meskipun ketika itu tidak saling menyenangi, mereka sama-sama tengah menghadapi tugas yang terlalu besar untuk dipikul sendiri-sendiri. Oleh karena itu perbedaan dalam hal partai maupun strategi pun tiada lagi. ”Sekarang kita satu. Dipersatukan dalam perjuangan bersama,” begitu ujar Soekarno.

”Setuju,” sahut Hatta. Mereka lalu berjabat tangan dengan khidmat. ”Ini lambang Dwitunggal kita, dua dalam kesatuan,” kata Bung Karno melanjutkan. ”Inilah sumpah khidmat kita berdua untuk bekerja berdampingan, dan tidak pernah terpisahkan lagi sampai negara kita merdeka sepenuhnya.” Ketika itu awal zaman Jepang. Penuturan Bung Karno itu tidak terdapat dalam buku Memoir Bung Hatta, meskipun Bung Hatta juga mengemukakan pertemuan itu, yang diadakan di rumahnya. Bahwa Hatta ketika itu tidak menyinggung soal Dwitunggal tidaklah berarti bahwa mantan wakil presiden itu tidak menilai penting peran Dwitunggal dalam sejarah Indonesia. Dalam artikelnya ”Demokrasi Kita”, Bung Hatta menulis tentang pentingnya Dwitunggal. ”Orang lupa bahwa Indonesia dalam masa peralihan ke pemerintahan nasional yang demokratis perlu akan suatu pemerintahan yang kuat. Sejarah Indonesia sejak proklamasi 17 Agustus 1945 menyatakan bahwa pemerintahan yang kuat di Indonesia ialah pemerintah presidensiil di bawah Dwitunggal Soekarno-Hatta.” Setelah zaman Jepang dan masa awal Republik berlalu, memang terbukti benar yang dikatakan Bung Karno kepada Bung Hatta malam itu, 9 Juli 1942, bahwa tugas yang akan mereka hadapi sangat berat, tidak akan terpikul hanya oleh salah satu dari mereka berdua. Bung Hatta juga sudah dapat menduganya. Kepentingan seluruh bangsalah yang dipertaruhkan. Karena itu Bung Hatta pun mengatakan, lahirnya Dwitunggal waktu itu bukanlah suatu hal yang dibuat-buat, melainkan suatu kenyataan yang dikehendaki oleh keadaan. Maka dilupakanlah semua perbedaan pendapat dan pertentangan yang terjadi sebelum mereka bertemu kembali pada awal zaman Jepang itu. Yang lebih mengesankan dari kedwitunggalan mereka adalah semangat yang terjalin di antara keduanya selama masa revolusi, yang bersifat solider dalam kebersamaan, saling membantu dan menunjang, sehingga benar-benar keputusan seseorang diakui sebagai keputusan bersama. Selama revolusi berjalan, banyak sekali perjalanan ke daerah-daerah di Jawa dilakukan bersama oleh Soekarno dan Hatta. Bahan-bahan pidato Soekarno yang resmi, seperti pidato peringatan Hari Proklamasi, pada KNIP, atau pidato Soekarno sekembali dari Yogya, biasanya dipersiapkan oleh Hatta. Atau pidato Soekarno yang telah dipersiapkannya sendiri, dibaca dahulu oleh Hatta. Kedwitunggalan itu bisa dipandang sebagai prolog kebersamaan mereka dalam menempuh berbagai kesulitan untuk melahirkan dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kebersamaan itu jelas memperlancar peran mereka pada awal kemerdekaan, termasuk tampil sebagai proklamator. Bagaimanapun juga Soekarno dan Hatta tetap berbeda. Terlalu jauh perbedaan mereka sebagai pribadi dan dalam cara mereka bertindak, baik di masa Pergerakan Nasional maupun penyelenggaraan negara. Ini diakui sendiri oleh yang bersangkutan masing-masing. Soekarno menyatakannya dalam pertemuan pertamanya dengan Hatta pada 1932, dan dalam pertemuan mereka yang pertama pula pada awal zaman Jepang, 9 Juli 1942.

Sementara itu Hatta mengungkapkannya dalam artikelnya ”Demokrasi Kita” 1 Mei 1960 di Majalah Pandji Masyarakat, setelah empat tahun sebelumnya, 1956, ia menegaskan pengunduran dirinya sebagai wakil presiden. Dengan demikian mengakhiri kedwitunggalannya dengan Soekarno. Namun, ada satu hal penting yang mesti dikemukakan. Betapapun kerasnya mereka saling mengkritik di bidang politik dan dalam persoalan penyelenggaraan negara, mereka toh tidak saling membenci. Tetap terpelihara sikap saling menghargai jerih payah perjuangan masingmasing. Ini terungkap jelas dalam pesan Bung Hatta kepada para aktivis Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru), setelah Bung Karno menyatakan keluar dari Partindo dan PPPKI. Meskipun dalam reaksinya Hatta mengatakan bahwa sikap Soekarno itu mencemarkan seluruh pergerakan nasional, ia pun mengingatkan jasa-jasa Soekarno bagi pergerakan.

Air mata menetes ke bantal
Pertemuan terakhir mereka terjadi di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta, dua hari sebelum Bung Karno tutup usia. Itu mencerminkan kedalaman hubungan mereka sebagai teman seperjuangan.

Rachmawati dalam bukunya Bapakku-Ibuku, Dua Manusia yang Kucintai tulisan Titiek W.S. mengutarakan, ”Pertemuan kedua sahabat itu amat mengharukan. Apa pun yang telah terjadi antara mereka, pada detik-detik terakhir hanya Bung Hatta yang menjumpai Bapak. Kedua pemimpin itu sulit untuk dipisahkan.” Sementara itu putri Bung Hatta, Meutia, dalam bukunya Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan mengisahkan, ”Ibu mengatakan, bahwa kemarahan mereka satu sama lain, hanya dapat dipahami oleh mereka sendiri, sehingga orang yang tak mengenal Soekarno - Hatta mungkin bisa salah interpretasi. Pada saat-saatnya, mereka saling memaafkan satu sama lain dan pada saat tertentu, respek Bung Karno terhadap Ayah atau sebaliknya sangat kelihatan. ”Pada suatu hari Ayah mengajukan permohonan kepada Presiden Soeharto untuk menengok Bung Karno yang sakit berat. Kami melihat sesuatu yang mengharukan: pertemuan antara dua Proklamator untuk yang terakhir kalinya. Begitu masuk ruangan, Ayah langsung menuju ke tempat tidur Bung Karno sambil berkata, ’Aa, No, apa kabar?’ ”Bung Karno diam saja, memandang Ayah beberapa lama, kemudian mengucapkan kata-kata yang sulit kami tangkap, tetapi kira-kira berbunyi, ’Hoe gaat het met jou?’ (Apa kabar). ”Tak lama kemudian, beberapa kali air mata beliau menetes ke bantal, sambil memandang Ayah beberapa lama yang terus memijiti lengan Bung Karno. Beliau malah minta dipasangkan kacamata, agar dapat memandang Ayah lebih jelas lagi. ”Tak ada kata-kata lebih lanjut, namun kiranya hati keduanya saling berbicara. Mungkin juga beliau berdua mengenangkan suka-duka di masa perjuangan bersama sejak puluhan tahun yang silam, masa-masa pergaulan bersama dan mungkin saling memaafkan.”

Tugas sejarah telah dituntaskan oleh keduanya. Dwitunggal Soekarno - Hatta meninggalkan kesan dan teladan yang mendalam bagi bangsa ini. Sesuatu yang kini makin langka untuk ditemui.

Apa Kabar Koperasi Indonesia
* Dawam Rahardjo KOPERASI sebagai suatu sistem ekonomi, mempunyai kedudukan politik yang cukup kuat karena memiliki cantolan konstitusional, yaitu berpegang pada Pasal 33 UUD 1945, khususnya Ayat 1 yang menyebutkan bahwa "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan". Dalam Penjelasan UUD 1945 itu dikatakan bahwa bangun usaha yang paling cocok dengan asas kekeluargaan itu adalah koperasi. Tafsiran itu sering pula dikemukakan oleh Mohammad Hatta, yang sering disebut sebagai perumus pasal tersebut. Dalam Penjelasan konstitusi tersebut juga dikatakan, bahwa sistem ekonomi Indonesia didasarkan pada asas Demokrasi Ekonomi, di mana produksi dilakukan oleh semua dan untuk semua yang wujudnya dapat ditafsirkan sebagai koperasi. Dalam wacana sistem ekonomi dunia, koperasi disebut juga sebagai the third way, atau "jalan ketiga", istilah yang akhir-akhir ini dipopulerkan oleh sosiolog Inggris, Anthony Giddens, yaitu sebagai "jalan tengah" antara kapitalisme dan sosialisme. Gagasan tentang koperasi itu sendiri telah dikenal di Indonesia sejak akhir abad 19, dengan dibentuknya organisasi swadaya (self-help organization) untuk menanggulangi kemiskinan di kalangan pegawai dan petani, oleh Patih Purwokerto, Tirto Adisuryo, yang kemudian dibantu pengembangannya oleh pejabat Belanda dan akhirnya menjadi program resmi pemerintah. Seorang pejabat pemerintah Belanda, yang kemudian menjadi sarjana ekonomi, Booke, juga menaruh perhatian terhadap koperasi. Atas dasar tesisnya, tentang dualisme sosial budaya masyarakat Indonesia, antara sektor modern dan sektor tradisional, ia berkesimpulan bahwa sistem usaha koperasi lebih cocok bagi kaum pribumi daripada bentuk badan-badan usaha kapitalis, Pandangan ini agaknya disetujui oleh pemerintah Hindia Belanda sehingga pemerintah kolonial itu mengadopsi kebijakan pembinaan koperasi. Namun, koperasi yang timbul, misalnya mencapai puncak perkembangannya pada tahun 1933an, bukanlah hasil pembinaan Pemerintah melainkan karena dibangun sendiri oleh gerakan kebangsaan yang dipimpin oleh kaum cendekiawan. Di samping itu, pada akhir dasawarsa 1930an, Pemerintah kolonial mulai juga membina industri kecil. Jika koperasi merespons kemiskinan, maka industri kecil lebih diarahkan untuk mengatasi masalah pengangguran yang meluas sejak depresi besar tahun 1930-an. Bung Hatta sebenarnya hanya meneruskan tradisi pemikiran ekonomi sebelumnya. Ketertarikannya kepada sistem koperasi agaknya adalah karena pengaruh kunjungannya ke negara-negara Skandinavia, khususnya Denmark, pada akhir tahun 1930-an. Walaupun ia sering mengaitkan koperasi dengan nilai dan lembaga tradisional gotong-royong, namun persepsinya tentang koperasi adalah sebuah organisasi ekonomi modern yang berkembang di Eropa Barat. Ia pernah juga membedakan antara "koperasi sosial" yang berdasarkan asas gotong royong, dengan "koperasi ekonomi" yang berdasarkan asas-asas ekonomi pasar yang rasional dan kompetitif.

Bagi Bung Hatta, koperasi bukanlah sebuah lembaga yang antipasar atau nonpasar dalam masyarakat tradisional. Koperasi, baginya adalah sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat yang lemah atau rakyat kecil untuk bisa mengendalikan pasar. Karena itu koperasi harus bisa bekerja dalam sistem pasar, dengan cara menerapkan prinsip efisiensi. Koperasi juga bukan sebuah komunitas tertutup, tetapi terbuka, dengan melayani non-anggota, walaupun dengan maksud untuk menarik mereka menjadi anggota koperasi, setelah merasakan manfaat berhubungan dengan koperasi. Dengan cara itulah sistem koperasi akan mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas (kompetisi), menjadi sistem yang lebih bersandar kepada kerja sama atau koperasi, tanpa menghancurkan pasar yang kompetitif itu sendiri. Dewasa ini, di dunia ada dua macam model koperasi. Pertama, adalah koperasi yang dibina oleh pemerintah dalam kerangka sistem sosialis. Kedua, adalah koperasi yang dibiarkan berkembang di pasar oleh masyarakat sendiri, tanpa bantuan pemerintah. Tapi, di negara sosialis seperti RRC, koperasi adalah counterpart sector negara, karena itu koperasi disebut juga sebagai "sektor sosial" (social sector) yang merupakan wadah dari usaha individu dan usaha rumah tangga. Jika badan usaha milik negara merupakan usaha skala besar, maka koperasi mewadahi usahausaha kecil, walaupun jika telah bergabung dalam koperasi menjadi badan usaha skala besar juga. Di negara-negara kapitalis, baik di Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australia, koperasi juga menjadi wadah usaha kecil dan konsumen berpendapatan rendah, Di Jepang, koperasi telah menjadi wadah perekonomian pedesaan yang berbasis pertanian. Di pedesaan Jepang, koperasi menggantikan peranan bank atau menjadi semacam "bank rakyat", yaitu koperasi yang beroperasi dengan sistem perbankan. Di Indonesia, Bung Hatta sendiri menganjurkan didirikannya tiga macam koperasi. Pertama, adalah koperasi konsumsi yang terutama melayani kebutuhan kaum buruh dan pegawai. Kedua, adalah koperasi produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak atau nelayan). Ketiga, adalah koperasi kredit yang melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna memenuhi kebutuhan modal. Bung Hatta juga menganjurkan pengorganisasian industri kecil dan koperasi produksi, guna memenuhi kebutuhan bahan baku dan pemasaran hasil. Menurut Bung Hatta, tujuan koperasi bukanlah mencari laba yang sebesar-besarnya, melainkan melayani kebutuhan bersama dan wadah partisipasi pelaku ekonomi skala kecil. Tapi, ini tidak berarti, bahwa koperasi itu identik dengan usaha skala kecil. Koperasi bisa pula membangun usaha skala besar berdasarkan modal yang bisa dikumpulkan dari anggotanya, baik anggota koperasi primer maupun anggota koperasi sekunder. Contohnya adalah industri tekstil yang dibangun oleh GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) dan berbagai koperasi batik primer. Dalam kasus GKBI, Pemerintah mengambil peranan penting, ketika memberikan hak monopoli impor kain putih (cambridge) kepada GKBI untuk disalurkan kepada anggota koperasi industri batik, melalui koperasi primer. Dari peranannya sebagai distributor itulah, koperasi primer dan sekundernya bisa mengambil keuntungan yang dipupuk menjadi modal. Hanya saja, industri besar tekstil yang dikembangkan oleh GKBI adalah karena kerja samanya dengan badan usaha swasta asing, terutama dari Jepang yang dulu mengekspor kain putih ke Indonesia. Sekarang, GKBI adalah salah sebuah grup usaha konglomerasi (yang mempunyai anak-anak perusahaan di berbagai cabang usaha) yang cukup tangguh yang termasuk ke dalam sembilan calon pembeli bank BCA.

Karena kedudukannya yang cukup kuat dalam konstitusi, maka tidak sebuah pemerintahpun yang berani meninggalkan kebijakan dan program pembinaan koperasi. Semua partai politik, dari dulu hingga kini, dari Masyumi hingga PKI, mencantumkan koperasi sebagai program utama. Hanya saja kantor menteri negara dan departemen koperasi baru lahir di masa Orde Baru pada akhir dasarwarsa 1970-an. Karena itu, gagasan sekarang untuk menghapuskan departemen koperasi dan pembinaan usaha kecil dan menengah, bukan hal yang mengejutkan, karena sebelum Orde Baru tidak dikenal kantor menteri negara atau departemen koperasi. Bahkan, kabinet-kabinet yang dipimpin oleh Bung Hatta sendiri pun tidak ada departemen atau menteri negara yang khusus membina koperasi. Masalahnya adalah, apakah koperasi bisa lebih berkembang dan maju tanpa atau dengan departemen dan menteri negara koperasi? Konon, Radius Prawiro, ketika bersama-sama menghadiri sidang IGGI di Den Haag, secara guyon bertanya kepada Bustanil Arifin, Menteri Koperasi saat itu, "Mengapa koperasi cukup maju di Negeri Belanda?" Tanpa menunggu jawaban yang ditanya, Radius yang memang suka humor itu menjawabnya sendiri, "Karena di sini tidak ada departemen koperasi". Walaupun keterangan mantan Menkeu dan Menko Ekuin itu hanya senda gurau, namun di Belanda yang tidak mengenal departemen atau menteri negara urusan koperasi, koperasi ternyata cukup maju dan menjadi bagian perekonomian yang penting. Di Negeri Bunga Tulip itu, Rabbo Bank, yaitu bank milik koperasi, adalah bank ketiga terbesar dan konon bank ke 13 terbesar di dunia. Di negara-negara industri maju, koperasi juga sudah menjadi bagian dari sistem perekonomian. Ternyata koperasi bisa bersaing dalam sistem pasar bebas, walaupun menerapkan asas kerja sama daripada persaingan. Di AS, 90 persen lebih distribusi listrik desa dikuasai oleh koperasi. Di Kanada, koperasi pertanian mendirikan industri pupuk dan pengeboran minyak bumi. Dan, di negara-negara Skandinavia, koperasi menjadi soko guru perekonomian. Di Jerman, bank koperasi Raifaissen sangat maju dan penting peranannya, dengan kantor-kantor cabangnya di kota maupun desa. Tak menggembirakan Di Indonesia, kabar tentang koperasi tidak menggembirakan. Di antara tiga pilar perekonomian, koperasi adalah sektor yang paling tertinggal. Bahkan, koperasi dikaitkan dengan gejala KKN. Asas kekeluargaan diterapkan sebagai "asas keluarga", walaupun di AS, yang namanya "bisnis keluarga" (family business), sangat berkembang, baik dalam skala kecil, menengah, maupun besar. Hal ini erat kaitannya dengan kebijakan "jatah" dan "fasilitas" khusus dari Pemerintah, terutama di masa Orde Baru. Orang masuk koperasi bukan karena ingin bekerja sama dalam kegiatan produktif, melainkan karena ingin menikmati fasilitas dan jatah dari Pemerintah. Sebenarnya koperasi adalah sebuah lembaga instrumen penghimpun dana masyarakat lewat tabungan, tapi dalam kenyataannya, koperasi selalu menadah dan mendapatkan dana dari pemerintah. Karena pengalaman perkembangan koperasi yang pahit itulah, maka akhir-akhir ini timbul gagasan atau usul menghapuskan asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas "pasar berkeadilan". Menurut pengusulnya, maksud dari istilah baru itu pada hakikatnya sama saja dengan istilah kekeluargaan. Hanya saja, istilah kekeluargaan telah mengalami "polusi" makna, yaitu diduga merupakan sumber KKN.

Sebenarnya asas kekeluargaan yang menurut keterangan Bung Hatta diambilnya dari Taman Siswa yang menggambarkan hubungan antara murid dan guru sebagai satu keluarga, yang berlawanan dengan hubungan kelas antara buruh dan majikan, terjemahannya dengan istilah modern sebenarnya cooperation atau demokrasi ekonomi yang terdiri dari dua asas yang saling berkaitan, yaitu solidaritas dan individualitas. Sementara itu, jika kekeluargaan dikonotasikan sebagai "usaha keluarga", sistem usaha mikro itu sendiri di negara-negara maju justru dikembangkan kembali sebagai upaya membuka "pintu masuk" (entry point) ke dunia usaha, yang merupakan terjemahan dari kebebasan usaha (business freedom). Di Indonesia, saluran usaha keluarga dan usaha individu itu adalah mekanisme koperasi. Bung Hatta mengatakan bahwa pengembangan koperasi memerlukan perjuangan dan keuletan yang tak mengenal putus asa. Keuletan semacam itu pernah ditunjukkan oleh gerakan koperasi listrik di AS melawan power company raksasa, yang ketika berhasil menguasai jaringan distribusi listrik pedesaan di AS, dinilai sebagai sebuah langkah raksasa (giant step) dalam gerakan koperasi. Di Indonesia, keuletan itu diperlihatkan misalnya oleh Koperasi "Jasa" Pekalongan, yang mampu berkompetisi di pasar bebas, walaupun menjumpai banyak hambatan dalam beroperasi dalam sistem perbankan, misalnya tidak bisa membuka rekening giro. Keuletan yang mirip diperlihatkan pula oleh Koperasi Waung "Jembatan Kesejahteraan" atau Koperasi BMT (Bait al Maal wa al Tamwil). Jika kita mengikuti arahan Bung Hatta secara konsekuen dan mengembangkan koperasi sistemis dan sistematis, maka kini mungkin koperasi telah berhasil mendirikan usaha-usaha besar semacam GKBI. Mungkin pula koperasi telah memiliki bank koperasi yang lebih besar dari Bukopin sekarang yang tidak berubah menjadi badan hukum perseroan terbatas. Bung Hatta memang mengatakan bahwa koperasi adalah wadah "rakyat kecil "(petit people). Akan tetapi, koperasi untuk bisa berkembang, perlu didukung oleh orang yang berpenghasilan di atas garis kemiskinan, orang yang bekerja (bukan penganggur) dan pengusaha yang produktif. Menurut Prof Hans Munker, ahli koperasi dari Jerman, adanya penghasilan adalah prasyarat bagi perkembangan koperasi. Hal ini sejalan dengan pandangan Prof Sumitro Djojohadikusumo yang pernah mengatakan bahwa pengembangan koperasi di pedesaan perlu didahului dengan pembangunan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja dan penghasilan. Dari situlah koperasi dapat menghimpun tabungan. Pada gilirannya tabungan akan merupakan sumber permodalan. Dewasa ini penghimpunan modal lebih banyak dilakukan oleh lembaga perbankan. Hanya saja lembaga perbankan ini menyalurkan dananya kepada pengusaha-pengusaha atau perusahaan-perusahaan yang sudah berhasil, bahkan perusahaan-perusahaan besar. Usaha pemula, yang umurnya kurang dari dua tahun, sesuai dengan prinsip pick the winners, tidak akan bisa memperoleh modal usaha. Koperasi bisa melayani pemula, asalkan telah mampu menabung dalam jangka waktu tertentu atau jumlah tertentu. Mereka yang belum mampu menabung, dianggap belum siap untuk berusaha. Prinsip koperasi ini akan mendorong anggota masyarakat dan calon entrepreneur untuk menabung. Walaupun koperasi didefinisikan sebagai "kumpulan orang" dan bukannya "kumpulan modal", namun koperasi adalah lembaga penghimpun modal melalui partisipasi anggotanya. Sejalan dengan pandangan Munker dan Sumitro, maka dalam konteks sekarang, perkembangan koperasi mensyaratkan pemberdayaan ekonomi rakyat kecil. Itulah agaknya yang melatarbelakangi dibentuknya direktorat pengembangan usaha kecil dan menengah dalam departemen

koperasi lama. Bung Hatta sendiri juga punya perhatian lain dari koperasi, yaitu "ekonomi rakyat". Bung Hatta bukan hanya seorang ekonom dalam arti sempit. Ia juga belajar dan bahkan pernah menulis buku tentang ekonomi-sosiologi yang mengikuti tradisi pemikiran ekonomi Belanda dan ekonomi Eropa Barat pada umumnya. Disamping melihat pasar, Bung Hatta juga melihat struktur masyarakat. Kaum ekonom memang tidak mampu melihat gejala sosial karena itu tidak bisa melihat struktur ekonomi apalagi sistem budaya, sebagaimana Booke atau Burger melihat perekonomian Indonesia. Itulah sebabnya Bung Hatta bisa melihat dengan gambling, gejala "ekonomi rakyat" yang bagi ekonomi murni adalah sebuah ilusi. Karena itu, maka dalam mengembangkan koperasi, Bung Hatta mengandaikan pengembangan ekonomi rakyat. Di zaman kolonial, bahkan hingga kini, kita bisa melihat gejala seperti kerajinan rakyat, perkebunan rakyat, pelayaran rakyat, bank perkreditan rakyat, pertambangan rakyat, penggaraman rakyat, pertambakan rakyat, dan semua bidang usaha yang digarap oleh pelaku ekonomi kecil. Harus diakui bahwa ekonomi rakyat itu merupakan sektor perekonomian yang tertinggal, padahal perhatian pemerintah dari satu ke lain kabinet cukup besar. Bahkan, Pemerintah juga melakukan kebijakan subsidi dan proteksi, walaupun secara tidak konsisten. Tapi, dalam alokasi kredit perbankan umpamanya, ekonomi rakyat tidak mampu bersaing dengan perusahaan besar dalam mengakses dana. Tapi, akses kredit oleh konglomerat itu dilakukan melalui mekanisme KKN dan hubungan politik dengan penguasa. Sekarang ini, konon alokasi dana bank-bank, terutama bank-bank pemerintah,kepada usaha kecil dan menengah (UKM). Sebagai penjelasan mengatakan hal ini terjadi karena perubahan sikap dan apresiasi terhadap UKM yang membaik, sebagian lagi mengatakan bahwa kecenderungan itu terjadi karena perusahaan-perusahaan besar pada umumnya sedang mengalami krisis sehingga tidak layak menerima kredit. Karena banyak UKM yang mampu survive terhadap krisis, alokasi kredit kepada UKM adalah pilihan yang rasional. Apabila kondisi ini konsisten di masa mendatang, mungkin akan terjadi perkembangan positif di sektor UKM. Pada saat itulah koperasi atau lembaga keuangan mikro yang berbentuk koperasi harus siap menarik dana dari UKM. Di satu pihak ada upaya untuk menyalurkan dana perbankan ke sektor UKM, sebagaimana sedang diusahakan oleh Menkop. UKM sekarang ini, di lain pihak ada inisiatif dari pihak gerakan koperasi untuk menampung dana yang dihasilkan dari perkembangan UKM yang produktif. Karena itu, walaupun ada gambaran muram dari status perkembangan koperasi dan ekonomi rakyat dewasa ini, namun bukannya tidak mungkin akan terjadi kebangkitan kembali sektor UKM, sebagaimana telah terjadi di Italia, AS, dan lebih dahulu, Taiwan. Lonceng kematian? Yang menjadi masalah adalah, apakah yang menjadi kunci perkembangan koperasi peranan pemerintah ataukah pasar. Dalam kenyataannya, peranan Pemerintah kini telah menyurut. Bank Indonesia tidak lagi menyediakan kredit program melalui KLBI. Departemen Koperasi dan UKM telah direduksi peranannya menjadi Kantor Menteri Negara. Bahkan Badan Pengembangan Koperasi dan UKM yang tadinya berfungsi operasional dan dibiayai dengan APBN telah dihapus juga. Apakah itu lonceng kematian bagi koperasi? Namun, mengingat pengalaman peranan pemerintah di masa lalu yang melemahkan kemandirian koperasi, maka timbul pandangan bahwa koperasi dan UKM justru akan bisa bangkit melalui mekanisme pasar. Sebagai senjata kaum lemah, seperti kata Bung Hatta, koperasi mulai menggeliat dari bawah melalui lembaga keuangan mikro, seperti koperasi simpan pinjam (Kospin) dan BMT yang beroperasi berdasarkan syariah.

Hingga sekarang, koperasi masih dianggap sebagai lembaga yang paling tepat untuk menghimpun kegiatan petani, pedagang kecil, perajin, nelayan, petambak, bahkan juga dapat dipakai instrumen peningkatan kesejahteraan kaum buruh, karyawan dan pegawai. Dalam pengembangan koperasi, tulisan-tulisan Bung Hatta masih sangat relevan untuk dibaca. Kumpulan pikiran Bung Hatta, dapat dianggap sebagai warisan tradisi, yaitu tradisi pemikiran cendekiawan. Tapi, tradisi itu harus dibaca kembali secara kritis, karena perkembangan dan perubahan besar yang telah terjadi pada abad ke-21 ini. Dalam perubahan itu telah timbul teori-teori baru, misalnya saja teori mengenai high trust society versus low trust society, yang dikemukakan oleh Francis Fukuyuma. Dalam masyarakat dengan ciri rendahnya tingkat trust (amanah) seperti di Indonesia, mungkin koperasi adalah sebuah lembaga yang dapat dipakai untuk membangun mutual-trust, yang merupakan kuncibagi suatu bangsa untuk membangun organisasi skala besar karena koperasi, menurut Bung Hatta, bukan semata-mata lembaga ekonomi, melainkan juga lembaga pendidikan demokrasi. M Dawam Rahardjo Ekonom

Kota Bukittinggi
WISATA dan belanja adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan kota ini. Keelokan alam di beberapa sisi wilayahnya menjadi daya tarik tersendiri. Pusat perdagangan pun begitu mudah dijumpai.Kota kecil yang luasnya hanya 0,06 persen dari luas Provinsi Sumatera Barat ini populer dengan sebutan Kota Jam Gadang. Jam Gadang yang artinya jam besar menjadi simbol sekaligus pusat keramaian kota. Dari menara tempat berdiri Jam Gadang inilah kegiatan wisata dan belanja bisa segera dimulai. Pasalnya, tempat-tempat bernuansa sejarah yang menjadi saksi perkembangan kota di masa lalu seperti bekas kediaman Bung Hatta, Benteng Fort de Kock, dan Lubang Jepang berada tak jauh darinya. Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang usianya tergolong tua pun mudah dijangkau dari tempat ini. Agak ke pinggir kota, di perbatasan Bukittinggi dengan kaki Gunung Singgalang terdapat lembah atau lebih dikenal dengan sebutan Ngarai Sianok yang menjadi magnet kunjungan wisata. Tebing berketinggian 100-120 meter dan dengan panjang sungai 15 kilometer ini tak hanya indah dipandang mata, tetapi juga menjadi ajang pendakian wisatawan mancanegara yang melancong ke sana. Setelah menyusuri obyek wisata, mengunjungi pasar yang berada tepat di utara Jam Gadang adalah agenda selanjutnya. Pasar Atas, nama pusat perdagangan tadi, merupakan salah satu kebanggaan Bukittinggi. Di sinilah hasil kerajinan daerah terutama bordir yang menghiasi beraneka model kebaya dan mukena ditawarkan. Harganya pun bervariasi dari Rp 150.000 hingga Rp 900.000 per potong. Mengenali bordir asli daerah ini membutuhkan keahlian tersendiri mengingat ada pula barang serupa buatan Tasikmalaya, Jawa Barat, yang lebih banyak menggunakan teknik krancang solder. Bordir asli Bukittinggi biasanya memanfaatkan teknik krancang langsung yang tergolong agak rumit dan makan waktu.

Pasar Atas adalah salah satu wadah masyarakat melakukan kegiatan ekonomi di samping pusat perdagangan lain, seperti Pasar Lereng, Pasar Bawah, Pasar Banto, serta Pasar Aur Kuning. Kecuali pasar lainnya yang menjual barang eceran, Pasar Aur Kuning khusus melayani permintaan barang dalam jumlah besar atau grosir. Sama halnya dengan Pasar Tanah Abang Jakarta, demikian pula masyarakat setempat menyebut pasar ini sebagai Tanah Abangnya Bukittinggi. Pasar Aur Kuning adalah yang terbesar dengan menempati bangunan 12.872 meter persegi. Di dalamnya terdapat 1.340 unit toko dan petak los 3.557 unit yang semuanya terisi penuh. Dua pasar lain yang tergolong besar adalah Pasar Atas dan Pasar Bawah. Masing-masing menampung 1.153 dan 1.379 pedagang. Dunia perdagangan yang ditandai dengan banyaknya tempat perbelanjaan, toko, dan restoran sangat lekat dengan keseharian masyarakat Bukittinggi. Hasil sensus terakhir tahun 2000 mencatat 36.389 tenaga kerja yang 38,5 persen berkecimpung di bidang ini. Meski bukan yang utama, perdagangan termasuk usaha hotel dan restoran, merupakan penyumbang terbesar ketiga kegiatan ekonomi wilayah ini. Jumlahnya Rp 107,6 milyar dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Penyumbang utama kegiatan ekonomi Kota Bukittinggi berasal dari jasa, terutama jasa pemerintahan (27,14 persen), disusul pengangkutan dan komunikasi (22,04 persen). Kegiatan ekonomi kota tahun 2000, Rp 590,5 milyar. Bagi Pemerintah Kota Bukittinggi, bergairahnya transaksi jual beli berdampak sangat positif. Selain mengantungi sekurang-kurangnya Rp 1,4 milyar dari retribusi pasar, mereka juga mampu meraup keuntungan dari berkembangnya jumlah angkutan yang makin marak. Dari hasil bagi pajak bahan bakar kendaraan bermotor tahun 2001 diperoleh pemasukan Rp 1 milyar. Majunya usaha perdagangan, menyisakan pula hal-hal yang kurang menguntungkan. Pemusatan kawasan perdagangan berdampingan dengan arena wisata seperti saat ini, perlahan mulai menimbulkan masalah. Guguk Panjang tercatat sebagai kecamatan terpadat dibanding dua kecamatan lainnya. Selain menjadi kawasan bisnis, daerah ini juga disesaki permukiman penduduk. Arus lalu lintas yang padat akibat penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir seperti di Jalan A Yani, misalnya, sangat mengurangi kenyamanan berkendara. Kerapian kota pun terlihat kurang diperhatikan. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk 1,02 persen selama 10 tahun sejak 1990 serta dijadikannya Bukittinggi sebagai tujuan wisata masyarakat daerah sekitar, turut menjadi biang keladi kotornya kota. Bertebarannya sampah di mana-mana muncul sebagai masalah klasik. Tahun 2000 perkiraan sampah yang dihasilkan tiap hari rata-rata 292 meter kubik. Dari jumlah itu tidak semuanya terangkut. Dalam sehari setidaknya tersisa empat persen. Jika tak cepat diantisipasi, buruknya pengelolaan sampah lambat laun akan memperburuk wajah Bukittinggi. Apalagi mengingat sarana kebersihan seperti truk sampah yang jumlahnya 17 buah dan gerobak sampah 36 buah. Masih banyak yang harus dibenahi di Bukittinggi. Penataan kota yang lebih manusiawi dengan pembagian wilayah berdasarkan fungsi wisata, perdagangan, konservasi industri, maupun permukiman perlu segera direalisasikan. Niscaya acara wisata serta belanja di udara sejuk dan nyaman di antara keindahan alam akan terus dapat dinikmati. Gunung Singgalang, Gunung Merapi, dan Gunung Sago yang mengelilingi akan menjadi saksi munculnya kembali decak kekaguman. Rancak bana..., indah nian Bukittinggi. (Nila Kirana/ Litbang Kompas)

Mengenang Bung Hatta
TANGGAL 18 Agustus 1945, Mohammad Hatta menjabat sebagai Wakil Presiden. Selama menjadi Wakil Presiden, Hatta sempat merangkap jabatan Perdana Menteri (PM) dan Menteri Pertahanan pada bulan Januari 1948 sampai Desember 1949. Selain itu, ia juga merangkap menjadi PM dan Menteri Luar Negeri dalam kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), Desember 1949-Agustus 1950. Sebagai Wakil Presiden, Hatta tidak dapat menghindari tugas-tugas kenegaraan. Ia menghadiri rapat-rapat umum, upacara kenegaraan, menerima tamu negara, dan melakukan perjalanan ke luar negeri. Setelah mengundurkan diri pada tanggal 1 Desember 1956, Hatta kembali menjadi orang biasa. Ia giat mengajar, memberikan ceramah, dan menulis di media massa. Jasa-jasanya, antara lain sebagai salah seorang Proklamator Kemerdekaan Indonesia tidak pernah dilupakan. Itu sebabnya Mohammad Hatta menerima Bintang RI Kelas I dalam suatu upacara di Istana Negara. *

dok kompas Senyum - Dalam sebuah acara Bung Hatta duduk diapit istri Presiden Soekarno, Ny Fatmawati (kiri berkerudung), dan Ny Rahmi Rahim, istri Bung Hatta. Senyum mereka terkembang.

dok kompas Taj Mahal - Dalam sebuah kunjungan ke India tahun 1955, Bung Hatta sempat melihat dari dekat bangunan bersejarah di India, Taj Mahal. Keakraban Bung Hatta dengan India juga ditunjukkan dengan penyamarannya sebagai kopilot pesawat terbang dengan nama (sandi) Abdullah dalam kaitan menemui Perdana Menteri India, Nehru, untuk minta bantuan persenjataan pada tahun 1947.

dok kompas Rapat - Bung Hatta menghadiri sebuah rapat umum di Jakarta, 3 Februari 1948, puluhan ribu rakyat memenuhi lapangan tempat rapat. Di antara mereka tampak pelajar dan pemuda yang mengacungkan tangan saat Bung Hatta lewat di depannya.

Bukittinggi, Menjadi Laboratorium Kinerja
INGAT Jam Gadang, ingat Kota Bukittinggi. Kepopuleran kota berhawa sejuk dan beralam rancak ini terkenal di Nusantara dan mancanegara. Bukan saja karena menjadi daerah utama tujuan wisata, tetapi karena di masa perjuangan, Bukittinggi pernah menjadi ibu kota Republik, saat Indonesia dalam keadaan darurat, menyusul dikuasainya Jakarta dan Yogyakarta serta ditawannya Soekarno-Hatta oleh Belanda. Melalui Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara, Indonesia dikendalikan dari Bukittinggi. Sebelumnya, selama lebih kurang tujuh bulan (Juli 1947 sampai Februari 1948), Wakil Presiden Mohammad Hatta (Bung Hatta) pun bertugas di Sumatera (Bukittinggi). Menurut sejarawan Dr Mestika Zed MA, sesungguhnya ketika Hatta berada di Bukittinggi itulah perjuangan kemerdekaan Indonesia memperoleh ciri yang lebih internasional.

Oleh karena Bung Hatta dilahirkan dan pernah bertugas di Bukittinggi, Sabtu (10/8) besok, Bukittinggi menjadi pusat Peringatan 100 Tahun Bung Hatta. Jadilah Bukittinggi bertambah sibuk dan padat.

***
BARANGKALI banyak yang tak menduga, Bukittinggi adalah kota kecil. Dengan luas 25,24 km persegi, Bukittinggi kota nomor dua paling kecil di Sumatera Barat (Sumbar). Meski kecil, penduduknya relatif padat. Menurut hasil sensus (2000) jumlah penduduk 91.983 jiwa (kepadatan 3.644 jiwa per kilometer persegi), tetapi pada siang hari jumlah penduduk melonjak menjadi sekitar 350.000 jiwa. "Meski kecil, Bukittinggi berdaya saing tinggi. Untuk lebih meningkatkan daya saing, Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam bidang teknologi, perdagangan, dan pariwisata," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bukittinggi, Usman Amir. Didampingi Kepala Bidang Ekonomi Milwizardi dan Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Adlir Adnan, Usman Amir menjelaskan, bukti Bukittinggi berdaya saing tinggi, tanpa repot-repot menjual potensi, investor banyak masuk dan masih banyak yang ingin menanam modalnya. Pemerintah Kota Bukittinggi kewalahan dan repot menolaknya, padahal lahan yang dibutuhkan investor sulit dicarikan. Bukittinggi berdaya saing tinggi, karena menjadi daerah tujuan utama wisata di Sumbar, dengan obyek wisata alam dan sejarah yang relatif unggul-seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lubang Jepang, Taman Margasatwa, dan banyak yang lainnya-juga memiliki sarana dan prasarana penunjang yang memadai seperti 60 hotel (tujuh hotel berbintang dan 53 hotel nonbintang dengan jumlah kamar 1.268 atau 2.286 tempat tidur) dan 15 biro perjalanan. Kemudian, Bukittinggi juga dikenal sebagai kota perdagangan dan jasa. Menurut Usman, keberadaan Pasar Atas, Pasar Bawah, dan Pasar Simpang Aur, atau Pasar Aur Kuning cukup dikenal. Bahkan Pasar Aur Kuning, misalnya, merupakan pusat pasar grosir di Sumatera. Menurut data Badan Musyawarah Perbankan Bukittinggi, dari kegiatan perdagangan di Pasar Simpang Aur terjadi kelebihan lalu lintas uang sebesar Rp 140 milyar-Rp 170 milyar per bulan. Omzet salah satu bank Rp 25 milyar sampai Rp 35 milyar per/minggu. Itu baru transaksi melalui bank, belum lagi omzet perdagangan langsung. Pasar Simpang Aur dekat dengan terminal antarkota dan antarprovinsi, sehingga hal itu menguntungkan kon-sumen. Soal kualitas barang tak kalah, bahkan wisatawan dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan lainnya suka belanja ke Bukittinggi. Sebab, barang produksi Bukittinggi yang memakai label Singapura, misalnya, harganya dua kali-sampai tiga kali lipat dari harga di Bukittinggi. Oleh karena berhawa sejuk dan topografi kota yang bervariasi (ada dataran, bukit, lembah/ngarai), Bukittinggi pun dinilai sangat cocok sebagai kota pendidikan. Pendidikan di Bukittinggi relatif maju dibanding daerah lain di Sumbar. Tahun 1957 sudah ada Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang di Bukittinggi, juga Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP) IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang), ada Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), Sekolah Raja, dan SMU 2 Birugo sekolah tertua dan banyak melahirkan tokoh berkaliber nasional. Meski sebagian di antaranya sudah dilikuidasi atau pusat pendidikannya dipindah ke Kota Padang, kini juga berdiri akademi yang satu-satunya di Sumbar, seperti Akademi Kebidanan, Akademi Keperawatan, Akademi Farmasi, dan Akademi Keperawatan Gigi.

"Yang jadi obsesi Pemerintah Kota Bukittinggi sekarang adalah bagaimana Universitas Negeri Padang kembali membuat kampus satelit di Bukittinggi. Sebab, posisi Bukittinggi sangat strategis, dekat dan bisa dijadikan pusat pendidikan untuk Sumbar bagian utara, Sumatera Utara bagian selatan, dan Riau," papar Usman. Masih di bidang pendidikan, Bukittinggi kini melakukan sejumlah terobosan di Sumbar, antara lain mengembangkan manajemen sekolah berdasarkan kompetensi, pelajar/siswa berpakaian budaya Minang, guru mengajar pakai dasi, ada sekolah sistem modul (SD-SMU), punya suatu badan tempat tokoh profesional dan tokoh masyarakat yang peduli pendidikan, bernama Dewan Sekolah. Juga ada program kelas akselerasi SD, SMP, dan SMU/SMK, di mana terbuka kesempatan bagi murid/pelajar untuk menyelesaikan SD lima tahun, SMP/SMU/SMK dua tahun. Artinya, lulusan program ini usia 16 tahun duduk di perguruan tinggi. Oleh karena baru-baru ini diresmikan berdirinya Rumah Sakit Khusus Pusat Pengembangan dan Pengobatan Stroke Nasional (pertama di Indonesia dan ketiga di dunia), Bukittinggi akan menjadi pusat pelayanan kesehatan. Selain itu, terdapat empat rumah sakit lainnya, dengan ruang rawat inap sekelas hotel berbintang. (YURNALDI)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->