P. 1
LAPORAN

LAPORAN

|Views: 768|Likes:
Published by Rachmania Budiati

More info:

Published by: Rachmania Budiati on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

9

Vaksin hepatitis B harus segera diberikan setelah lahir, karena vaksinasi
HepB merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan
rantai penularan dari ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Jadi imunisasi
HepB-1 diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, mengingat sedikitnya
3,9% ibu hamil mengidap hepatitis B aktif dengan resiko penularan kepada
bayi sebesar 45%.

Sumber: Satgas IDAI

Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan setelah imunisasi HepB-1
yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Imunisasi HepB-3 diberikan pada umur 6
bulan. (Satgas Imunisasi PP IDAI, 2011)
Vaksinasi BCG optimal diberikan pada umur 2 sampai 3 bulan. Bila vaksin
BCG akan diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu dilakukan uji tuberkulin. Bila
uji tuberkulin pra-BCG tidak dimungkinkan, BCG dapat diberikan, namun
harus diobservasi dalam 7 hari. Bila ada reaksi lokal cepat di tempat suntikan
(accelerated local reaction), perlu dievaluasi lebih lanjut (diagnostik TB).
Vaksinasi BCG ulangan tidak dianjurkan.

Imunisasi DTP dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan ( DTP tidak boleh
diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan jarak 4-8 minggu. Dapat diberikan
vaksin DTwP atau DTaP atau kombinasi dengan Hepatitis B atau Hib. DTP-1
diberikan pada umur 2 bulan, DTP-2 pada umur 4 bulan dan DTP-3 pada umur
6 bulan. Ulangan DTP selanjutnya diberikan satu tahun setelah DTP-3 yaitu

10

pada umur 18-24 bulan dan DTP-5 pada saat mausk sekolah dasar umur 5
tahun.

Vaksin polio diberikan 5 kali sejak bayi lahir. Polio-0 diberikan saat bayi
meninggalkan rumah sakit /rumah bersalin agar tidak mencemari bayi lain
karena virus polio vaksin dapat dikeluarkan melalui tinja. Untuk imunisasi
polio dasar (polio-2, 3, 4) diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan, interval antara
dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu. Vaksinasi polio ulangan diberikan
satu tahun sejak imunisasi polio-4 dan imunisasi selanjutnya dilakukan saat
masuk sekolah (5-6 tahun).

Vaksin campak disuntikkan pada umur 9 bulan. Dari hasil studi Badan
Penelitian dan pengembangan dan Dirjen PPM&PL Kementrian Kesehatan di 4
provinsi, 18,6-32,6% anak sekolah mempunyai kadar campak di bawah batas
perlindungan, sehingga dijumpai kasus campak pada anak usia sekolah. Karena
itu selain vaksinasi umur 9 bulan, vaknisasi campak dapat diberikan pada
kesempatan kedua pada mur 6-59 bulan dan SD kelas 1-6.

Vaksin Hib (Haemophillus influenza tipe b) disuntikkan pada umur 2, 4 dan
6 bulan, dapat diberikan dalam bentuk kombinasi, yang bertujuan untuk
mempersingkat jadwal vaksinasi, mengurangi jumlah suntikkan dan
mengurangi kunjungan. Vaksin Hib perlu diulang pada umur 15 bulan.

Vaksin pneumokokus dapat diberikan pada umur 2, 4, 6, 12-15 bulan. Pada
umur 7-12 bulan, diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; pada umur > 1 tahun
diberikan 1 kali, namun keduanya perlu dosis ulangan 1 kali pada umur > 12
bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2
tahun PCV diberikan cukup satu kali.

Vaksin influenza berisi dua virus influenza subtipa A dan subtype B.Vaksin
influenza untuk mencegah flu berat yang disebabkan oleh virus influenza.
Vaksin influenza disuntikkan pada anak umur 6-23 bulan, setiap tahun. Untuk
vaksinasi primer anak diberikan pada umur 6 bulan - <9 tahun.diberikan 2 kali
dengan interval minimal 4 minggu.

11

Vaksin MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan jika anak belum
mendapat vaksinasi campak pada umur 9 bulan. Selanjutnya vaksinasi ulangan
diberikan pada umur 5-7 tahun.

Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, vaksin rotavirus pentavalen
diberikan 3 kali. Vaksin rotavirus monovalen dosis I diberikan umur 6-14
minggu, dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Sebaiknya
vaksin rotavirus monovalen selesai diberikan sebelum umur 16 minggu dan
tidak melampaui umur 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen : dosis ke-1
diberikan umur 6-12 minggu, interval dosis ke-2, dan ke-3 4-10 minggu, dosis
ke-3 diberikan pada umur < 32 minggu (interval minimal 4 minggu).

Vaksin varisela dapat diberikan setelah umur 12 bulan, terbaik pada umur
sebelum masuk sekolah dasar. Bila diberikan pada umur > 12 tahun, perlu 2
dosis dengan interval minimal 4 minggu.

D.KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) dan Penanganannya

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau adverse events following
immunization
adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam
masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI
dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau
bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine-strain pada pasien
imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik serta infeksi
virus polio vaccine-strain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien
imunodefisiensi pasca vaksinasi polio).
Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi
simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek
langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek
farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi
idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan.
Efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi

12

karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan
seseorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi
dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan
demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur
lain yang terkandung dalam vaksin.

Menurut Departemen Kesehatan (2005), KIPI adalah semua kejadian
sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi,
yang diduga ada hubungannya dengan pemberian imunisasi. Menurut
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), KIPI dibagi menjadi 3 (tiga)kategori,
yaitu:

1.Related programme atau hal – hal berkaitan dengan kegiatan imunisasi,
misalnya timbul bengkak bahkan abses pada bekas suntikan vaksin.
Biasanya karena jarum tidak steril. Contoh lain adalah kelenjar limfe
misalnya di daerah ketiak, atau lipat paha membengkak dan terasa sedikit
nyeri. Ini akibat aktivitas sistem kekebalan tubuh yang menerima vaksin
tersebut.
2.Reaction related to properties of vaccine atau reaksi terhadap sifat – sifat
yang dimiliki oleh vaksin yang bersangkutan. Misalnya saja reaksi terhadap
bahan campuran vaksin. Reaksi ini biasanya berupa pembengkakan,
kemerahan, demam (misalnya terhadap vaksin campak, biasanya akan
normal kembali dalam satu hari).
3.Coincidental atau koinsidensi. Koinsidensi adalah dua kejadian secara
bersama tanpa adanya hubungan satu sama lain. Ketika anak menerima
imunisasi, sebenarnya dia sudah dalam keadaan masa perjalanan penyakit
yang sama atau penyakit lain (masa tunas) yang tidak ada hubungannya
dengan vaksin yang bersangkutan. Misalnya saja, anak sedang dalam
perjalanan mau sakit batuk pilek atau diare bahkan seringkali penyakit akut
yang lebih serius disertai demam.

13

Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi
karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta
penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi,
atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan. Sesuai telaah
laporan KIPI oleh Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM)
USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena kebetulan saja.
Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan
prosedur dan teknik pelaksanaan (pragmatic errors).

Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian
besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu
unutk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai:

1.besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu

2.sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik

3.derajat sakit resipien

4.apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti

5.apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin,
kesalahan produksi, atau kesalahan prosedur

Ada 5 (lima) kelompok faktor etologi yang dapat menyebabkan KIPI
menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->