P. 1
Teknologi Benih

Teknologi Benih

|Views: 93|Likes:

More info:

Published by: Dhéëèâ Ziebokz Thea on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2013

pdf

text

original

TUGAS

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas

Oleh :

Dea Rahmat A4111952

P. Studi :

Teknik Produksi Benih

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU TERINTEGRASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN POLITEKNIK NEGERI JEMBER 2012

A. Teknologi Benih Teknologi Benih adalah Ilmu pengetahuan yang membahas mengenai cara memperbaiki sifat–sifat genetik dan fisik benih. Kegiatan dalam teknologi benih tersebut terbagi atas beberapa katagori. Kegiatan tersebut bertujuan mencari benih yang baik. Diantara kegiatan tersebut adalah sebagai berikut : 1 2 3 4 5 6 Pengembangan varietas Penilaian dan pelepasan verietas Produksi benih Pengelolaan/proses pembenihan Penyimpanan Pengujian dan sertifikasi

B. Karakteristik Teknologi Benih Teknologi benih ialah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk dapatmemeperbaiki sifat-sifat genetic dan fisik dari benih, yang mencakup kegiatan-kegiatanseperti pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas, produksi benih, pengolahan, penyimpanan, pengujian serta sertifikasi benih. Benih ialah simbol dari suatu permulaan, inti dari kehidupan di alam semestadan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupantanaman. Benih di sini ialah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman.Sehingga masalah teknologi benih berada dalam ruang lingkup agronomi. Agronomisendiri diartikan sebagai suatu gugus ilmu pertanian yang mempelajari pengelolaanlapang produksi dengan segenap unsur alam (iklim, tanah, air), tanaman, hewan, danmanusia untuk mencapai produksi tanaman secara maksimal. Dalam konsep agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi sebab benih harusmampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologiyang maju. Sering petani mengalami kerugian yang tidak sedikit baik

dari segi biayamaupun waktu yang berharga akibat penggunaan benih yang bermutu rendah. Olehkarena itu, meskipun pertumbuhan dan produksi tanaman sangat dipengaruhi olehkeadaan iklim dan cara bercocok tanam, tetapi harus diingat pentingnya pemilihan mutu benih yang akan digunakan. Berarti benih dengan mutu tinggi sangat diperlukan karenamerupakan salah satu sarana untuk dapat menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimal.

C. Penyebab Rendahnya Hasil Belajar Penyebab rendahnya hasil belajar peserta diklat tersebut rendahnya motivasi dan aktivasi belajar siswa dalam belajar khususnya pembelajaran teknologi benih. Di lihat dari adanya siswa yang mengobrol saat pembelaharan berlangsung, selain tu terdapat siswa yang tiduran dan bermalasan saat pembelajaran berlangsung. Siswa terlihat tidak antusias mengikuti pembelajaran teknologi benih hal ini ditandai dengan prilaku siswa seperti tidak memperhatikan penjelasan guru.siswa tidak melakukan interaksi belajar dengan siswa lain, dengan guru maupun dengan bahan ajarnya.

D. Model Pembelajaran Teknologi Benih 1. Training Model: Desain, Demonstrasi, Praktek / Latihan Dan Umpan Balik a. Orientasi Model Pada akhir tahun 1950an empat aliran pemikiran bergabung untuk menemukan pendekatan penyelesaian permasalahan pengorganisasian pendidikan dan pelatihan. Keempat cabang pemikiran itu adalah psikologi pelatihan (training psychology), psikologi sibernetika (cybernetic

psychology), analisis sistem (systems analysis) dan psikologi tingkah laku (behavioral psychology). Psikologi pelatihan menekankan pada analisis tugas dan desain hubungan komponen komponen pelatihan; psikologi sibernetika focus pada dinamika umpan balik dan self regulation, pengembangan system

menekankan pada analisa terhadap system dan behavioris menekankan pada demonstrasi dan prakteknya. Psikologi Pelatihan. Cabang pemikiran pertama yang merupakan hasil riset tentang situasi pelatihan yang kompleks yang dikembangkan sebagai reaksi atas sedikitnya teori tentang itu. Psikologi pelatihan focus pada aktivitas dimana orang menampilkan fungsi fungsi yang perlu dikerjakan dengan ketepatan tinggi dan unujuk kerjanya harus benar benar tepat karena menentukan keselamatan diri sendiri maupun tim. Banyak pelatihan dikembangkan dalam merespon kebutuhan kemiliteran seperti pelatihan untuk anggota kru penyelam atau bomber. Waktu pelatihan untuk ketrampilan ini biasanya singkat dan sangat memerlukan koordinasi tingkat tinggi antar anggota. Kesalahan salah satu anggota bisa

membahayakan diri sendiri, anggota yang lain atau bahkan bisa menyebabkan gagalnya suatu operasi militer. Para psikolog menemukan bahwa diperlukan pengetahuan yang lebih kompleks daripada stimulus-respon-reinforcement untuk pelatihan yang komplek semacam itu. Maka lahirlah satu cabang psikologi yang kemudian disebut psikologi pelatihan. Psikologi pelatihan berkonsentrasi pada pengkonsepan tujuan dan hal yang harus dilakukan (tugas) saat unjuk kerja, memerinci tugas tugas menjadi komponen komponennya, mengembangkan komponen komponen pelatihan untuk memastikan tercapainya masing masing sub komponen dan mengatur keseluruhan situasi pembelajaran menjadi suatu urutan yang memastikan akan adanya transfer dari suatu komponen ke komponen lain dan bahwa pembelajaran yang menjadi prasyarat akan dicapai sebelum pembelajaran yang lebih sulit. Seperti psikologi tingkah laku, psikologi pelatihan juga menaruh perhatiannya pada perincian dan pengurutan/perangkaian tingkah laku dan juga membentuk perilaku untuk prestasi atau unjuk kerja terbaik. Psikologi pelatihan juga mementingkan

reinforcement dan umpan balik tetapi kontribusi utamanya adalah pada desain pembelajaran. Psikologi sibernetika. Adalah cabang pemikiran yang dikembangkan selama perang dunia kedua dan sangat dekat dengan riset pelatihan yang bisa juga dianggap sebagai cabangnya, yang didasarkan pada

konseptualisasi manusia secara teknis. Manusia seperti mesin elektronik, system sibernetika, yang menggunakan proses sensory terhadap umpan balik untuk mengontrol dan memodifikasi tingkah lakunya sendiri. Ahli psikologi sibernetika sering kali menggunakan peralatan sebagai simulator untuk mempelajari tingkah laku manusia dan sebagai bagian dari system pelatihan. Karena manusia dipahami sebagai “system yang bisa mengoreksi diri sendiri”, maka manusia memerlukan informasi tentang kemampuannya. Informasi diperlukan bukan hanya tentang hasil tetapi juga sampai dimana level kecakapannya. Desainer pembelajarannya (pelatih) ingi memberikan umpan balik secepatnya dan agar peserta bisa mengetahui letak

kesalahannya. Umpan balik yang tidak akurat atau menyesatkan dapat membuat hasilnya buruk. Dan umpan balik yang segera diberikan dianggap lebih efektif dibandingkan yang tidak langsung. Desain system. Cabang pemikiran ketiga yang sangat dekat dengan psikologi pelatihan dan psikologi sibernetika adalah pengembangan system. Makin bertambahnya ahli psikologi perencana pelatihan, kemiliteran, perindustrian dan pendidikan dan desainer peralatannya menimbulkan kesadaran bahwa setiap tingkah laku orang menjalankan salah satu bagian system yang terorganisasi. Sistem ini tidak hanya terdiri dari manusia „yang bertingkah laku‟ tetapi juga sebagai bagian dari system organisasi, bersama dengan mesin dan system komunikasi membentuk organisasi, cara cara personel disebarkan dan jenis jenis pelatihan yang digunakan. Desainer sekarang

enggan mengembangkan peralatan tanpa mengkonseptualisasikannya sebagai bagian dari system manusia-mesin - melihat bagaimana kecocokan dengan mesin yang lain, dengan manusia sebagai operatornya dan dengan komunikasinya. Dengan pikiran yang sehat, desainer merencanakan untuk membuat mesin yang bisa dioperasikan oleh banyak orang. Pendekatan system membuat desain dengan melihat semua komponen, memadukan sumber yang tersedia dengan kebutuhan. Intisari dari analisis system adalah membuat model yang

menggambarkan keseluruhan organisasi. Dalam perencanaan system yang pertama dibuat adalah indentifikasi system secara keseluruhan, sub system dan fungsinya, kemudian menyusun detail system, termasuk spesifikasi jenis manusia-mesin tertentu untuk bisa berfungsi dalam system yang lebih besar.. Sebagai contoh , pelajar yang mencoba melewati ujian kecakapan sekolah menengah yang mengindikasikan kompetensi “kecapakan dasar” , saat staf administrasi dan guru memberikan soal sesuai kenyataan dilapangan sering kali siswa tidak mampu, mereka tidak mampu membaca peta jalan raya, mengisi form pajak, atau membuat perencanaan transportasi menggunakan jadwal penerbangan pesawat. Jika situasi pembelajaran bersifat khas seharusnya digabungkan antara prinsip prinsip psikologi pelatihan dan desain system dalam perencanaannya,

permasalahan transfer tidak akan menjadi besar. Kebanyakan pendidik (para guru, penyusun kurikulum, penulis buku) berpikir tentang pemerolehan materi pelajaran daripada tugas tugas fungsional dan hasilnya terlihat dengan rendahnya hasil ujian kompetensi. Psikologi tingkah laku. Cabang pemikiran keempat yang meneliti permasalahan pada pelatihan adalah teknik teknik modeling psikologi tingkah laku. Ciri ciri penting modeling adalah peserta pelatihan

menampilkan demonstrasi baik secara langsung atau simbolis satu tingkah laku baru dan prakteknya dengan petunjuk dari instruktur. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa observasi sangat berguna untuk

mengembangkan tingkah laku baru, yang paling efektif adalah modeling (demonstrasi) dengan informasi dan praktek. Modelling biasa digunakan untuk mempermudah pembentukan

tingkah laku , mengurangi ketakutan dan kegelisahan, juga bisa untuk melatih tingkah laku baru seperti pengembangan bahasa dan kecakapan kecakapan psikomotor. Penarikan diri, isolasi dan tingkah laku

hiperagresive juga menggunakan modeling untuk terapinya. Prosedur yang dihubungkan dengan modeling didasarkan pada prinsip prinsip dari teori behavior seperti reinforcement dan perkiraan berturut turut. Rimm dan Masters mengidentifikasi empat factor yang efektif dalam modeling yaitu: 1) Peserta mengobservasi ada tidaknya yang konsekuensi menakutkan. 2) Mereka memperoleh pengetahuan teknis dan informasi selama demonstrasi. 3) Kecakapan kecakapan itu diperbaiki selama fase latihan. Pada fase ini kegelisahan atau ketakutan berkurang dan kepercayaan diri meningkat. 4) Dukungan dari instruktur membantu peserta. Modeling adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi tingkah laku pada saat memberikan perlakuan (treatment) pada masalah masalah tingkah laku seperti ketakutan atau fobia. Juga terbukti berhasil untuk terapi pengembangan kemampuan bicara dan tingkah laku social pada anak autis. Terbukti, bidang bidang lain menggunakan prosedur

demonstrasi dan praktek selama bertahun tahun dalam pelatihan, tetapi sedikit yang melakukan seempiris dan sepenuhnya seperti behavioris (penganut aliran behavioristik).

b. Tujuan dan asumsi Meskipun empat bidang yang dibahas diatas memiliki spesifikasi tetapi keempatnya memiliki filosofi umum yang sama. Keempatnya terutama menaruh perhatian pada tujuan pelatihan dan desain pelatihan daripada aspek filosofis konsepsi psikologis manusia atau masyarakat. Ahli psikologi sibernetika, psikologi tingkah laku, psikologi pelatihan dan desain system bekerja untuk mempelajari desain pelatihan dan tingkah laku manusia saat pelatihan. Mereka menanyakan, Apakah tujuan yang hendak dicapai? Sifat dasar dari program pelatihan adalah berasal dari analisa tujuan dan usaha membuat kondisi pelatihan yang akan membentuk „ketrampilan‟ peserta menjadi seperti yang diinginkan. Kelompok desainer pembelajaran ini umumnya ingin memecahkan masalah masalah pelatihan yang luas cakupannya mulai dari kecakapan psikomotor, kecakapan memecahkan masalah yang kompleks dan bahkan kadang terapi dan pelatihan interpersonal. Oleh karena itu model modelnya diaplikasikan secara luas pada pendidikan dan pelatihan.

c. Sintaks (urutan kegiatan) Model Pengajaran Training menurut Joyce dan Weil (1980) memiliki lima fase yaitu klarifikasi tujuan, penjelasan teori, demonstrasi unjuk kerja yang benar, praktek simulasi dengan feed dan transfer training. Fase pertama klarifikasi, dimulai dengan pernyataan tujuan, hal ini penting karena tujuan harus spesifik dan jelas dipahami siswa. Fase kedua, penjelasan teori, setelah tujuan disampaikan maka dibutuhkan penjelasan teoritis tentang mengapa tujuan itu diperlukan dan unjuk kerja apa yang harus dicapai. Fase ketiga demonstrasi, pada fase ini ditunjukkan gambaran , model tingkah laku , film, video atau demonstrasi secara langsung unjuk kerja yang tepat. Fase keempat praktek simulasi, siswa atau peserta training akan mengerjakan tugas dari tiap tiap elemen

prosedur dan diberikan feedback sebagai control ketepatan unjuk kerja yang ditampilkan. Fase kelima, transfer pada kondisi yang

sesungguhnya. Pada awalnya transfer diawali dengan control dari guru atau pelatih tetapi kemudian siswa atau peserta akan mengoreksi tindaknnya sendiri dan secara bertahap kecakapannya meningkat.

d. Sistem social Para pebelajar memiliki pilihan yang berbeda dalam pelatihan. Ada yang menyukai dikontrol dan ada yang tidak. Pebelajar yang tidak suka dikontrol akan sulit belajar apabila pelatih terlalu mengontrolnya. Mereka memerlukan otonomi yang lebih besar untuk menyelesaikan tugasnya dan akan memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri. Tetapi pebelajar yang lain mungkin memerlukan umpan balik dari luar untuk bisa belajar. Sistem sosial yang optimal untuk aplikasi training model memadukan tujuan dan pola pelatihan yang cocok untuk bermacam macam tipe pebelajar.

e. Prinsip prinsip reaksi Pelatih, guru atau tutor menggunakan training model memberikan umpan balik sesuai tingkat kemampuan peserta. Baik pelatih maupun “system analisis tingkat kemampuan peserta pelatihan” memberikan umpan balik tentang rangkaian pembelajaran yang harus dilakukan hingga benar benar mampu. Hal yang sangat penting adalah bahwa umpan balik yang diberikan cukup akurat, lengkap dan detail untuk peserta pelatihan memahami kemampuannya. Idealnya pelatih atau system memberikan cara bagi peserta untuk mengoreksi dirinya sendiri. Prinsip prinsip ini mengacu pada teori bahwa manusia merupakan system yang mampu mengoreksi informasi bagi dirinya sendiri, jika diberika umpan balik

tentang sifat dan akibat unjuk kerjanya, mereka akan mengoreksi dirinya sendiri.

f. Sistem pendukung Guru atau pelatih yang baik, bekerja sendiri, dapat menyediakan berbagai unsure yang diperlukan untuk system pelatihan secara sederhana dengan memberikan “arena (kesempatan)” untuk latihan kecakapan yang sedang diajarkan. Misalnya guru bahasa Inggris mengajarkan bahwa untuk penyusunan essay diperlukan pensil, kertas dan siswa yang aktif. Peralatan peralatan teknis berguna khususnya untuk kecakapan

psikomotor yang kompleks yang banyak dibidang atletik. Pelatih sepakbola menggunakan film, rintangan, simulasi sesudah gol secara bersama yang mirip kondisi permainan yang sebenarnya dan melatih

dengan menekankan satu kecakapan saja pada satu waktu. Semua itu berguna. Camp tenis menyediakan berbagai film pendek yang

mendemonstrasikan pemain dalam kondisi yang bervariasi.

g. Aplikasi Training Model bisa diaplikasikan untuk berbagai permasalahan pendidikan. Banyak guru menggunakan untuk ketrampilan dasar

membaca dan menulis. Disamping itu juga untuk membantu dalam permasalahan perilaku social dan menghilangkan rasa takut. Guru olah raga dan pelatih kursus mengemudi adalah orang orang yang paling sering menggunakan model ini. Aspek dari model ini kebanyakan berdasarkan intuisi- saat kita bekerja dengan peserta pelatihan, kita melakukan demonstrasi dan kemudian memberi petunjuk saat mereka berlatih. Untuk tingkah laku (ketrampilan) yang sederhana, yang diperlukan hanya demonstrasi dan pemberian petunjuk saat latihan. Tantangan untuk pendidik ketrampilan yang lebih kompleks tergantung pada

konseptualisasi yang masuk akal dan definisi tugas, pengurutan yang teliti dan demonstrasi yang diikuti dengan pemberian petunjuk saat latihan, pertama dibawah kondisi simulasi untuk memastikan tercapainya kemampuan komponen komponen kecakapan dan integrasi kecakapan kecakapan itu menjadi satu kesatuan yang coherent. Training model bisa menggunakan mediasi instruktur ataupun dengan mediasi bahan lain. Bahan ini didesain sesuai dengan prinsip prinsip desain pembelajaran ( yaitu, konseptualisasi kemampuan akhir yang diharapkan, memerincinya menjadi komponen komponen tugas dan menyusunnya menjadi rangkaian tindakan untuk mencapai kelulusan, memperjelas pelatihan dengan informasi tugas dan sub sub tugas dan memberikan informasi saat demonstrasi, petunjuk saat latihan, umpan balik dan reinforcement.) Pembelajaran ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja kadang dibutuhkan pemikiran yang melebihi kemampuan guru. Tetapi apabila guru benar benar menguasai ketrampilan itu dengan baik tidak sulit untuk membuat analisis tugas dan membuat urutannya. Hunziker mengembangkan langkah langkah pelatihan berenang untuk orang yang takut air.

E. Langkah-langkah Pembelajaran Training Model Jika dilihat dari pembahasan teori training model, maka banyak sekali proses pembelajaran di SPP yang menggunakan model pembelajaran ini. Saat guru reproduksi ternak mengajarkan Inseminasi Buatan, atau saat guru makanan ternak mengajarkan pembuatan silase atau siapa saja yang mengajarkan ketrampilan biasa menggunakan model pembelajaran ini. Guru menjelaskan tujuan, kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan teori tentang materi yang diajarkan. Setelah itu guru mendemonstrasikan langkah langkah yang benar. Kemudian siswa akan mencoba mempraktekkannya, baik

dalam simulasi maupun langsung dalam kondisi nyata. Pada saat siswa praktek, guru mengoreksi tindakan siswa yang tidak sesuai prosedur yang benar (memberikan umpan balik). Biasanya simulasi dilakukan apabila latihan dengan kondisi nyata tidak memungkinkan. Alasannya bisa bervariasi, dari tingkat resiko hingga factor biaya. Dibawah ini dua contoh pembelajaran yang menggunakan training model dengan metode yang disesuaikan dengan karakteristik materi ketrampilan. Contoh ketrampilan 1: Mata Pelajaran Standar kompetensi Kompetensi Dasar Langkah langkah Tahap persiapan guru sebelum jam belajar. Sama dengan penggunaan model lain, pada penggunaan metode training model guru lebih memilih media yang akan digunakan. Untuk ketrampilan teknologi benih, media video dan sekaligus alat dan bahan aslinya, merupakan alternative yang bisa dipilih. Untuk pengolahan pasca panen, guru menyiapkan alat dan bahan berupa benih yang yang mau di ekstrak, alat dan bahan yang akan digunakan untuk proses exstraksi benih (sesuai anggaran). Guru menentukan anggota kelompok (2-3 orang). Pembatasan anggota memungkinkan siswa untuk bekerja sama tanpa mengurangi kesempatan belajarnya (time on task). Tahap tahap selama pembelajaran 1 2 3 Guru menjelaskan tujuan ekstraksi benih Guru menjelaskan mengapa siswa belajar ekstraksi benih 3. Guru mendemonstrasikan ekstraksi benih: : Teknologi benih semester 3 : Pengolahan pasca panen : ekstrak benih cabe

Menggunakan video pembelajaran. Merupakan aternatif pertama karena meskipun pembuatan awalnya memerlukan waktu dan biaya, tetapi sekali dibuat bisa digunakan berulang kali. Untuk mengajar langkah demi langkah suatu proses, guru dapat menunjukkan dengan waktu yang sesungguhnya, tetapi dengan media proses bisa dipercepat atau

diperlambat. Dalam hal ini, proses dipercepat untuk menghemat waktu.  Atau menyiapkan bahan, benih yang dudah di ekstrak. Guru menunjukkan bahan yang diperlukan. Kemudian guru menunjukkan langkah langkahnya dengan praktek. Karena proses pembuatannya cukup lama, maka guru lebih dahulu menyiapkan bahan setengah jadi dan bahan jadi untuk mempersingkat waktu. Siswa mengamati tindakan guru.

4

Siswa mempraktekkan ekstraksi benih dengan bimbingan guru (feed back). Pemberian umpan balik untuk prosedur yang merupakan urutan aksi, hendaknya menunjukkan secara tepat dalam hal aplikasi itu tidak betul atau secara tepat bagaimana cepatnya suatu prosedur yang betul diterapkan (Dahar, 1988). Guru bisa menggabungkan langkah ketiga dan keempat. Guru mempraktekkan langkah pertama. Siswa langsung mengikuti. Setelah langkah pertama diselesaikan siswa, guru melanjutkan ke langkah kedua, dan seterusnya sampai selesai. Untuk ketrampilan ini bisa tanpa penggunaan langkah simulasi. Pertimbangannya adalah bahwa ketrampilan ini tidak beresiko dan pengadaan bahan bahannya mudah. Pembelajaran ekstraksi benih sampai pada tahap trampil untuk melaksanakan prosedur, cocok menggunakan traning model. Tetapi untuk selanjutnya dimana siswa dikembangkan kreativitasnya dengan membuat variasi ekstrak benih lain, model ini tidak sesuai. Pembelajaran bisa

dikembangkan dengan model lain yang memungkinkan siswa membuat pilihan subtitusi bahan untuk pengembangan produk. Misalnya siswa bisa dilibatkan dalam diskusi untuk menentukan : gimana proses yang paling sesuai untuk subtitusi salah satu ekstrak benih, mencari alasan mengapa bahan tersebut dipilih, siapa kira kira calon konsumennya, atau seberapa pengaruhnya terhadap biaya produksi. Sebagai assessment yang terbaik dilakukan dengan uji kompetensi. Siswa melakukan ekstark benih dengan penilaian mulai dari langkah kerja dan komposisi penggunaan bahan yang sesuai dengan saat pembelajaran dilakukan.

Daftar Pustaka Akbar, Sa‟dun. 2011. Pembelajaran Nilai dan Karakter: Pendekatan dan Strategi Pembelajaran untuk Pengembangan dan Pembinaan karakter. Makalah seminar. Malang Dahar, R.W. 1988. Teori Teori Belajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta Fleming, M. and W. H. Levie. 1978. Instructional Message Design. Principles from the Behavioral Sciences. Educational Technology Publications. Englewood Cliffs, New Jersey 07632

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->