P. 1
Hadits Tentang Menyekutukan Allah Dan 7 Dosa Besar

Hadits Tentang Menyekutukan Allah Dan 7 Dosa Besar

|Views: 270|Likes:
Published by argaputra87

More info:

Published by: argaputra87 on Jun 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2015

pdf

text

original

Hadits tentang Menyekutukan Allah dan 7 Dosa Besar

Diposkan oleh Yusri Blog di 12:34

PEMBAHASAN
A. MENYEKUTUKAN TUHAN (LM: 55) 1. Terjemah Hadits “Anas r.a. berkata, ketika Nabi ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: “Syirik (mempersekutukan Allah), durhaka terhadap kedua ayah-bunda, membunuh jiwa manusia, dan saksi palsu.” (Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab “Syahadat”, bab: Apa yang diucapkan dalam saksi palsu). 2. Tinjauan Bahasa Bentuk jamak dari (

artinya dosa-dosa besar Durhaka Palsu, miring [1]

‫َ َة‬ ٌ‫)اَلْكبِْي ر‬

: : :

‫َ ر‬ ٌُِ‫اَلْكبَائ‬ ‫ُ ْق‬ ٌٌ ‫عُقو‬ ‫َّ ْ ر‬ ٌَ‫الزو‬

3. Penjelasan Hadits Dalam hadits di atas diterangkan empat macam dosa besar, yakni menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh jiwa manusia tanpa hak, dan menjadi saksi palsu. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat. Syirik adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya yang merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Perbuatan lain yang termasuk juga dosa besar adalah durhaka terhadap ayah bunda, membunuh jiwa manusia, dan menjadi saksi palsu. Rasulullah juga memperingatkan agar kita jangan sampai terperosok ke dalam tujuh macam perbuatan dosa yang menghancurkan, terutama perbuatan menduakan Allah. Sebab, syirik adalah dosa yang paling besar, dan perbuatan syirik ibarat menghina Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh alam ini. Apabila seseorang menjadikan Tuhan selain Allah, berarti ia menganggap Allah itu lemah, yang sudah barang tentu merupakan perbuatan kurang ajar terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Agung. a. Syirik (Menyekutukan Allah) Menurut bahasa, syirik berarti persekutuan atau bagian, sedangkan menurut istilah agama adalah mempersekutukan Allah SWT. Dengan selain Allah (makhluk-Nya). Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik adalah kufur atau satu jenis kekufuran. Syirik dalam pembahasan ini adalah syirik besar bukan syirik kecil (riya), syirik disini adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, yaitu memuji-muja dan menyembah makhluk-Nya seperti pada batu besar, kayu, matahari, bulan, nabi, kyai (alim ulama), bintang, raja dan lain-lain. Syirik dikategorikan sebagai dosa paling besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

Al-Qur'an juga memberikan gambaran kepada kita mengenai akibat perbuatan syirik dengan gambaran yang sangat mengerikan: Artinya : “Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31) Al-Qur'an mengatakan: Artinya : “1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1-4) Ayat tersebut dapat diambil suatu pengertian, hanya Allah-lah yang memiliki langit dan bumf. Allah tidak beranak dan tiada yang menyamai-Nya di dalam kekuasaan-Nya. Allah-telah menciptakan segala sesuatu dengan cermat dan teliti, sehingga semua makhluk dibekali dengan kemampuan agar dapat menjalankan fungsinya masing-masing. Tetapi walau demikian orangorang musyrik masih saja menyembah selain Allah yang terdiri dari berhala-hala, berbagai binatang, hewan, bahkan manusia. Padahal, semua yang disembah ini tidaklah mampu berbuat apapun lantaran semuanya adalah makhluk Allah. Mereka takkan mampu menolak datangnya bahaya yang menimpa dirinya, dan tak mampu menghidupkan orang yang telah coati dari kuburnya. Setiap sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat yang telah tersebut, maka tidaklah berhak untuk disembah. Ada pula sebagian umat manusia yang menjadikan pemuka agama sederajat dengan Tuhan. Dan mereka percaya bahwa para. pemimpin dan pemuka agama itu mampu menciptakan kecelakaan dan mampu membuat kebaikan. Lebih dari itu, mereka memiliki hak pengampunan dosa dan memberi berkat. Mereka juga diberi hak membuat undang-undang walaupun pads hakekatnya bertentangan dengan syari'at Islam karenanya, Islam mengajak kepada mereka agar membebaskan diri mereka dari genggaman kekuasaan para pemimpin agama tersebut. Rasulullah juga mengatakan bahwa perbuatan syirik merupakan dosa yang berada di atas dosa-dosa besar lainnya : Artinya : “Ingatlah, aku hendak menceritakan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar beliau mengulanginya tiga kali yaitu syirik (menyekutukan Allah), menyakiti kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu." (HR. Muslim). Pada ayat lain, dinyatakan bahwa perbuatan syirik adalah suatu kezaliman: : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Lukman : 13) Orang yang syirik diharamkan untuk masuk surga, sebagaimana firman Allah:

Artinya

Artinya

:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraca.” (QS. Al-Maidah: 72) Abu Hurairah ra berkata: nabi saw bersabda: Allah ta’ala berfirman: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu, maka barangsiapa melakukan suatu amal dengan menyekutukan sesuatu kepada Ku dengan dia dan terserahlah ia kepada yang disekutukan itu.” (HR. Muslim dan Ibnu Majjah) [2] “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan sesuatu amal dimana Aku dipersekutukan pada sesuatu, maka Aku tinggalkan ia dan yang disekutukannya itu.” (HR. Muslim dan Ibnu Majjah)

Artinya :

Artinya

:

ٌ:ٌ‫عنٌأَنَسٌرضيٌاهللٌُعْنوٌُقَالٌ:ٌَسعتٌرسولٌاهللٌِصلَّىٌاهللٌعليوٌوسلمٌيَقولٌ:ٌقَالٌاهللٌُتَعاَل‬ َ ُ ُْ َ ْ ُ َ ُ ْ َِ َ َ َ ِ َ ٍ ْ َ ََ َ ِ َ َ ِ َ َ َ َ َ ُ ََ ِ ْ َ ََ ِ ْ َ َ َ َ َ َ َ ٌ‫يَاٌابْنٌآدم،ٌإِنَّكٌماٌدعوتَِنٌورجوتَِنٌغفْرتٌلَكٌعلَىٌماكانٌمْنكٌوالٌَأُبَاِل،ٌيَاٌابْنٌآدمٌٌَو‬ ْ‫َ َ َ ل‬ ِ ِ ُ ِ ٌ‫بَلَغَتٌذُنُوبُكٌعنَانٌالسماَءٌُثٌَّاستَ غفْرتَِنٌغفْرتٌلَك،ٌيَاٌابْنٌآدم،ٌإِنَّكٌلَوٌأَتَْيتَِنٌبِقٌراب‬ َ ََ َ َ ُ َ َ ِ َ ْ ْ ُ َّ َ َ َ ْ ْ ْ َ ِ ِ ُ َ ِ ْ ٌ‫اْألَرضٌخطاَياٌَُثٌَّلَقْيتَِنٌالٌَتُشركٌِبٌشْيئاًٌألَتَْيتُكٌبِقراِبَاٌمغفرٌ [رواهٌالرتمذيٌوقالٌحديث‬ ‫َ ُ َ ِ َ ْ ِ َة‬ ً َ ِ ِْ ْ ]ٌ‫حسنٌصحيح‬
Artinya : “Dari Anas r.a. dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak awan di langit kemudian engkau minta ampun kepadaku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan.” (Riwayat Turmudzi dan dia berkata: hadits hasan shahih).[3]

b. Durhaka Terhadap Kedua Orang Tua Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya berarti telah melakukan dan ia akan mendapat hukuman berat di hari kiamat nanti. Bahkan, ketika hidup di dunia pun, ia akan mendapat azab-Nya. Allah SWT mewajibkan setiap anak untuk berbakti kepada ibu-bapaknya. Bagaimana pun keberadaan seseorang di muka bumi tidak terlepas dari peran ibu dan bapaknya. Ibunya yang telah mengandung dan bapaknya yang telah bersusah payah mencari rezeki, tanpa mengenal lebih untuk membiayai anaknya. Allah SWT berfirman: Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan

Artinya

menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14) Setiap anak tidak boleh menyakiti kedua ibu bapaknya, baik dengan perkataan maupun perbuatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan, dalam al-Qur'an disebutkan bahwa seorang anak tidak boleh mengatakan “ah”. Sebagaimana firman Allah SWT: : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra: 23-24) Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat yang menerangkan keharusan berbuat baik terhadap orang tua. Menurut Ibn Abas, dalam al-Qur'an ada tiga hal yang selalu dikaitkan penyebutannya dengan tiga hal lainnya, sehingga tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan lainnya:[4]

a. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya; b. Dirikan shalat dan keluarkan zakat; c. Bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua. Hal itu menandakan bahwa peran dan kedudukan orang tua sangat tinggi di hadapan Allah SWT sehingga Rasulullah SAW bersabda: Artinya : “Keridaan Allah itu terletak pada keridaan kedua ibu-bapaknya dan kemurkaan Allah itu terletak pada kemurkaan kedua ibu bapak pula.” (HR. Muslim, Hakim, dengan syarat Muslim) Allah SWT sangat murka terhadap orang yang menyakiti orang tuanya sendiri dan mengharamkannya untuk masuk surga meskipun ia sangat rajin beribadah. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang mengalami kesulitan untuk meninggal dunia karena ibunya murka kepadanya dan setelah ibunya memaafkan dosa anaknya setelah Rasulullah saw berkata kepadanya bahwa anaknya akan dibakar, sahabat tersebut meninggal dengan mudah. Lebih jauh dalam hadits dinyatakan bahwa terhadap yang menyakiti orang tuanya sendiri, oleh Allah tidak akan mengakhirkan untuk menyiksanya. Rasulullah SAW bersabda: Artinya : “Semua dosa itu azabnya ditunda oleh Allah SWT sampai hari kiamat, kecuali orang yang durhaka kepada orang tuanya. Sesungguhnya Allah akan mempercepat azab kepadanya; dan Allah akan menambah umur seorang hamba jika ia berbuat baik kepada ibu bapaknya, bahkan Allah akan menambah kebaikan kepada siapa saja yang berbuat baik kepada ibu bapaknya serta memberi nafkah kepada mereka, jika diperlukan.” (HR. Ibnu Majah)

Setiap anak harus selalu ingat bahwa pengorbanan kedua orang tuanya sangatlah besar, balikan tidak mungkin dapat dibalas dengan harta sebesar apapun. Alangkah kejam dan tidak berakalnya orang yang berani menyakiti hati kedua orang tuanya sendiri. Tidak heran jika Allah SWT, memberikan keistimewaan kepada setiap orang tua, terutama seorang ibu yang disakiti oleh anak sendiri dengan demikian mengabulkan doanya. Dengan demikian, jika orang tuanya mendoakan agar anaknya celaka, sang anak dipastikan akan celaka. Hal itu dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi: Artinya : “Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang teraniaya, doa orang bepergian, dan doa kedua orang tua kepada anak-nya.” (HR. Turmudzi) c. Membunuh Jiwa Manusia Maksud membunuh dalam pembahasan ini adalah membunuh jiwa yang diharamkan tanpa hak dengan sengaja (Q.S. 25: 68 -70). Orang yang berbuat seperti itu akan dimasukkan ke neraka jahanam dan kekal didalamnya. Sebagaimana firman Allah: Artinya : “Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisa: 93) Sebagaimana halnya perbuatan musyrik, membunuh orang mukmin dengan sengaja juga termasuk dosa yang kemungkinan besar tidak akan mendapat ampunan-Nya. Rasulullah SAW. Bersabda: Artinya : “Semua dosa itu masih dapat diampuni oleh Allah, kecuali dosa orang yang mati kafir atau orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja.” (H.R. Nasai dan Hakim) d. Kesaksian Palsu Maksud dari kesaksian palsu adalah orang yang berdusta ketika diminta oleh hakim untuk menerangkan suatu keadaan yang ia ketahui sehubungan dengan pengadilan terhadap seseorang. Kesaksian dalam suatu pengadilan sangat penting karena sangat membantu hakim dalam memutuskan perkara sehingga keputusannya adil dan hak-hak orang lain tidak terampas atau teraniaya. Dengan demikian, orang yang bersaksi palsu sesungguhnya telah merusak hak orang lain untuk mendapat keadilan. Orang yang bersaksi palsu diancam dengan siksaan pedih. Oleh karena itu, diharuskan untuk menjauhinya, sebagaimana firman-Nya: Artinya “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30

B. TUJUH MACAM DOSA BESAR (LM: 56) 1. Terjemah Hadis:

"Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi SAW. bersabda, "Tinggalkanlah tujuh dosa yang dapat membinasakan. "Sahabat bertanya, "Apakah itu ya Rasulullah?" Jawah Nabi, Syirik (mempersekutukan Allah; Berbuat sihir (tenung); Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali yang hak; Memakan harta riba; Memakan harta anak yatim; Melarikan diri dari perang jihad pada saat berjuang; Dan menuduh wanita mukminat yang baik-baik (berkeluarga) dengan tuduhan zina. 2. Tinjauan Bahasa Jauhilah Yang membinasakan Palsu, perbuatan sihir Berpaling (melarikan diri) Waktu perang Menuduh Wanita yang sudah menikah : : : : : : :

‫ْ ب‬ ٌْ ِ‫اِجتَن‬ ‫ُ ْ َ ات‬ ٌِ ‫اَلْموبِق‬ ‫َّ ْ ر‬ ٌُ‫السح‬ ‫ََل‬ ٌِ‫التَّو‬ ‫ْ َ َّ ْ ف‬ ٌِ ‫يّومٌالزح‬ ‫ْف‬ ٌٌ ‫فَذ‬ ‫ُ ْ َ ات‬ ٌِ َ‫اَلْمحصن‬

3. Penjelasan Hadits Dsari ketujuh dosa diatas, bagian yang telah dibahas adalah tentang syirik dan membunuh tanpa hak. Dengan demikian, bagian yang akan dibahas di bawah ini adalah sisanya, yaitu kelima jenis dosa besar.

1. Berbuat Sihir Sihir yang dimaksud dalam bahasan ini adalah tata cara yang bertujuan merusak rumah tangga orang lain atau menghancurkan orang lain dengan jalan meminta bantuan kepada setan. Hal ini termasuk perbuatan terlarang dan dosa besar. Sebagaimana firman Allah SWT: Artinya “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang

menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102) Tidak diragukan lagi bahwa sihir termasuk dosa besar dan hukumannya pun sangat berat, yakni di penggal dengan pedang. sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Turmudzi: Artinya : “Hukuman bagi tukang sihir itu adalah dipenggal dengan pedang.” (HR. Turmudzi) Menurut hadis yang diriwayatkan secara marfu oleh Ibnu Masud, perbuatan yang termasuk sihir adalah memohon kekuatan pada alam; mempercayai bahwa benda-benda tertentu dapat menolak dari gangguan pada diri; serta memalingkan hati perempuan supaya menyukainya. 2. Memakan Harta Riba Riba menurut Bahasa adalah tambahan, sedangkan mengenai definisi riba menurut syara para ulama berbeda pendapat. Akan tetapi, secara umum riba diartikan sebagai utang-piutang atau pinjam meminjam atau barang yang disertai dengan tambahan bunga. Agama Islam dengan tegas melarang umatnya memakan riba: Sebagaimana firman-Nya. Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali-Imran: 130) Hal itu, antara lain, karena riba merugikan dan mencekik pihak yang berhutang. Ia diharuskan membayar dengan bunga yang berlipat. Seandainya terlambat membayar, bunganya pun akin terus berlipat. Perbuatan seperti itu telah banyak dilakukan pada zaman jahiliyyah, dan para ulama menyebutnya istilah riba nasiah. Adapun bentuk riba lainnya adalah riba riba fadhal, yakni menukar barang dengan barang sejenis, namun salah satunya lebih banyak atau lebih sedikit daripada yang lainnya. Ketika di dunia pun, orang yang berlaku riba walaupun kelihatan memiliki harta berlimpah, hatinya tidak akan tenteram. Dengan kata lain, mereka memiliki harta banayak tetapi tidak berkah sehingga serakah dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapatkannya. (QS. 2: 275-276) Artinya : “Dari Umar bin Khaththab ra., beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: Emas dengan perak itu riba, kecuali begini dan begini, gandum dengan gandum itu riba, kecuali begini dan begini, syair dengan syair itu riba, kecuali begini dan begini, dan karma dengan karma itu riba, kecuali begini dan begini.” (Muttafaq alaih).[5] Maksud hadits tersebut, dijelaskan dalam beberapa hadits lain; di antaranya adalah hadits-hadits berikut: Artinya : "Dari Abu Said Al-Khudri ra. (beliau berkata): Sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda: 'Janganlah kalian menjual emas dengan emas, kecuali sama timbangan beratnya dan janganlah kalian melebihkan sebagian dari sebagian lain; Dan janganlah kalian menjual perak, dengan perak kecuali sama berat timbangannya, dan janganlah kalian melebihkan sebagiannya dari sebagiannya; Dan janganlah kalian melebihkan sebagiannya dari sebagiannya Dan janganlah kalian menjual yang tempo (utang) dengan yang tunai”. (Muttafaq alaih).[6]

3. Memakan Harta Anak Yatim Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya ketika ia masih kecil atau dengan kata lain ditinggal mati oleh orang yang menanggung nafkahnya. Dengan demikian, anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya tidak dikatakan yatim. Ini karena dalam Islam, penanggung jawab untuk mencari nafkah adalah ayah. Sebutan yang lazim di kalangan masyarakat bagi anak kecil yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya adalah yatim piatu. Memakan harta anak yatim dilarang apabila dilakukan secara zalim. Seperti firman Allah SWT: Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10) Dengan demikian apabila dilakukan dengan cara yang patut (baik), orang yang memelihara anak yatim boleh mengambil sedikit harta anak tersebut (QS. 6: 152) yaitu mengambil sebatas biaya pemeliharaannya. Itupun kalau si anak sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, apabila mampu, sebaiknya ia tidak mengambil harta yatim tersebut (QS. 4: 6). Islam sangat memperhatikan nasib anak yatim. Allah SWT akan memberikan pahala yang besar kepada siapa saja yang memelihara anak yatim. Nabi akan berada di sisi orang yang memelihara anak yatim dan jarak antara beliau dengannya bagaikan antara dua jari. Selain itu, Allah pun akan mencukupkan orang yang memelihara anak yatim, dan menjanjikan pahala surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Barang siapa yang menanggung makan dan minum (memelihara) anak yatim dari orang Islam, Allah SWT akan mencukupkan dia dan menghasurkannya masuk surga, kecuali ia melakukan dosa yang tak terampunkan.” (HR. Turmudzi) 4. Melarikan Diri Dari Perang (Jihad) Islam mewajibkan umatnya untuk memelihara, menjaga, mempertahankan, dan membela agamanya. Jika islam diserang dan diperangi musuh, umat Islam diwajibkan berperang. (QS. 22: 39) Islam melarang umatnya untuk berpaling atau melarikan diri dari medan perang, sebagaimana firman-Nya: Artinya : “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al-Anfal: 16) Orang yang lari dari perang (jihad) telah menipu dirinya sendiri dan telah berkhianat kepada Allah SWT dan ia dianggap tidak lagi meyakini kemahakuasaan Allah SWT yang senantiasa menolong setiap hamba-Nya yang sedang berjuang menegakkan agama Allah SWT. Oleh karena itu, meninggalkan medan jihad tanpa alasan yang dapat diterima akal termasuk dosa besar dan pelakunya akan mendapat azab Allah SWT 5. Menuduh Wanita Mukminat Yang Baik-Baik (Berkeluarga) Dengan Tuduhan Zina. Perempuan baik-baik dalam Islam ialah seorang mukminat yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan menjaga kehormatannya dari perbuatan keji (zina).

Apabila wanita seperti itu dituduh zina tanpa disertai syarat yang telah ditetapkan syara’, seperti mendatangkan empat saksi an menyaksikan dengan kepala sendiri, maka penuduhnya wajib didera delapan puluh kali dan kesaksiannya tidak boleh diterima selama-lamanya. Allah SWT berfirman: Artinya : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 4)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->