P. 1
MITOS-MITOS LOKAL BERHADAPAN DENGAN MITOS-MITOS GLOBAL: SUATU REFLEKSI TENTANG EKSISTENSI MITOS TIMOR-DAWAN

MITOS-MITOS LOKAL BERHADAPAN DENGAN MITOS-MITOS GLOBAL: SUATU REFLEKSI TENTANG EKSISTENSI MITOS TIMOR-DAWAN

|Views: 519|Likes:
Published by ymanhitu
Sebuah makalah yang berisikan refleksi tentang realitas mitos-mitos lokal (khususnya mitos-mitos Timor-Dawan) yang berhadapan dengan mitos-mitos global. Makalah ini ditulis pada tanggal 16 September 2011 dan dibawakan ketika menjadi pembicara pertama dalam seminar budaya Timor dengan tema "Eksistensi dan Peranan Budaya Lokal serta Tantangannya di Tengah Globalisasi" di Kampus Fisip Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, 17 September 2011.
Sebuah makalah yang berisikan refleksi tentang realitas mitos-mitos lokal (khususnya mitos-mitos Timor-Dawan) yang berhadapan dengan mitos-mitos global. Makalah ini ditulis pada tanggal 16 September 2011 dan dibawakan ketika menjadi pembicara pertama dalam seminar budaya Timor dengan tema "Eksistensi dan Peranan Budaya Lokal serta Tantangannya di Tengah Globalisasi" di Kampus Fisip Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, 17 September 2011.

More info:

Published by: ymanhitu on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2015

pdf

text

original

1

MITOS-MITOS LOKAL BERHADAPAN DENGAN MITOS-MITOS GLOBAL:
SUATU REFLEKSI TENTANG EKSISTENSI MITOS TIMOR-DAWAN
1
Yohanes Manhitu
2
PENDAHULUAN
Kita hidup di sebuah zaman, di mana isu-isu global terus-menerus menerobos
hampir seluruh aspek kehidupan manusia di berbagai belahan dunia, termasuk pelosok-
pelosok negeri kita yang sebelumnya terisolasi dari pengaruh dunia luar. Disadari atau
tidak, isu-isu tersebut kini menjadi konsumsi kita sehari-hari sebagai topik pembicaraan,
dari tingkat obrolan di meja makan atau di warung kopi yang memicu debat kusir, hingga
ulasan mendalam dan menyeluruh di media televisi oleh pakar-pakar berkelas dunia. Ada
isu yang menarik perhatian dan menggairahkan semangat hidup yang sedang surut. Ada
pula yang membebani pikiran kita, terlebih jika isu-isu itu menimbulkan kekhawatiran
dan keresahan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Istilah Global Village (Dusun Global) yang selalu dihubungkan dengan Marshall
McLuhan
3
, yang populer melalui dua bukunya yang masing-masing berjudul The
Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media
(1964) membangkitkan kesadaran bahwa kita hidup di suatu dunia yang seolah-seolah
semakin menyempit. Di era kemajuan teknologi informasi ini, kita seakan-akan hidup di
dusun yang sama walaupun mungkin tidak sempat berhadapan muka. Dan di dusun yang
sama, banyak hal terus melekat pada kelompok tertentu dan dianggap sebagai hal-hal
yang bersifat lokal. Dan ada pula hal-hal yang telah diterima dan diyakini bersama, baik
secara sukarela maupun terpaksa, dan diberi label ‘global’, yang tidak jarang mendesak
hal-hal yang berlabel ‘lokal’ sehingga semakin kehilangan ruang hidup.
Kehadiran dusun global dengan arus globalisasinya itu setali tiga uang dengan
dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita boleh berbesar hati bahwa kita telah menjadi warga
global dengan kemungkinan akses antarbangsa yang lebih luas dan bahkan sangat luas
hingga nyaris tak terbatas. Ini suatu hal yang barangkali tidak pernah dibayangkan
sebelumnya dan merupakan anugerah ilahi melalui tangan-tangan kreatif manusia yang
patut disyukuri. Tetapi di sisi lain, kita harus sungguh-sungguh arif-bijaksana dalam
menyikapi kemungkinan hanyutnya banyak aset budaya lokal oleh arus globalisasi yang
kian deras. Sebagai suatu bangsa yang berkebudayaan adiluhung yang sangat menjunjung
tinggi moto “Bhinneka Tunggal Ika” dengan memajukan ketunggalikaan tanpa
1
Makalah ini disajikan dalam Seminar Budaya “Eksistensi dan Perkembangan Budaya Lokal serta
Tantangannya di Tengah Globalisasi” di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Sabtu, 17 September 2011. Versi daring (online) terdapat di
http://www.scribd.com/doc/97492694/MITOS-MITOS-LOKAL-BERHADAPAN-DENGAN-MITOS-
MITOS-GLOBAL-SUATU-REFLEKSI-TENTANG-EKSISTENSI-MITOS-TIMOR-DAWAN.
2
Yohanes Manhitu adalah penulis, penerjemah, peminat bahasa dan sastra, pengajar lepas bahasa Spanyol
dan Tetun (Timor-Leste). Tulisan-tulisannya dapat dibaca di http://ymanhitu.blogspot.com dan
http://ymanhitu-works.blogspot.com. Pertanyaan-pertanyaan tentang tulisan-tulisannya, termasuk makalah
ini, dapat dikirimkan ke alamat surat elektroniknya: ymanhitu@gmail.com.
3
Marshall McLuhan adalah seorang filsuf Kanada yang kadang-kadang dianggap sebagai ”bapak dunia
maya”. Silakan baca lebih lengkap di http://www.caslon.com.au/biographies/mcluhan.htm.
2
mengorbankan kebhinekaan, kita patut mengaktifkan radar kearifan kita dalam menyikapi
kecenderungan-kecenderungan global yang muncul dari waktu ke waktu, yang dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat lokal. Salah satu dampak
negatif globalisasi terhadap kehidupan masyarakat lokal adalah tergesernya peranan
mitos-mitos lokal, yang mau tidak mau berhadapan dengan mitos-mitos global yang
menerobos berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat melalui berbagai media
komunikasi, misalnya televisi, yang mudah diakses berbagai lapisan masyarakat.
Makalah ini dimaksudkan untuk secara sekilas menyoroti realitas ‘konflik’ yang
terjadi antara mitos-mitos lokal dan mitos-mitos global di masyarakat Dawan, yang
berdiam di Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa realitas yang mirip atau sama juga dapat
ditemukan di daerah-daerah lain di Indonesia, khususnya di Timor Barat (NTT).
ARTI ‘MITOS’, ‘LOKAL’, DAN ‘GLOBAL’
Berikut ini adalah arti mitos lokal dan mitos global menurut kamus:
a. Mitos
Secara etimologis, “mitos” berasal dari kata Yunani mythos yang berarti
omongan, pikiran, kisah, atau dongeng yang asal-usulnya tidak diketahui.
4
Menurut
Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, Sixth Edition (Oxford
University Press, 2000), myth (mitos) berarti (1) a story from ancient times, especially
one that was told to explain natural events or to describe the early history of a people
(suatu cerita dari zaman purbakala, khususnya yang diceritakan untuk menjelaskan
kejadian-kejadian alam atau untuk menggambarkan sejarah awal suatu bangsa) (2)
something that many people believe but that does not exist or is false (sesuatu yang
diyakini banyak orang, tetapi tidak ada atau tidak benar).
b. Lokal
Berarti ‘di suatu tempat’ atau ‘setempat’ (KBBI, 1999). Dalam hal ini masyarakat
Timor-Dawan, khususnya yang mendiami wilayah Timor Tengah Utara (TTU).
c. Global
KBBI menyebutkan dua definisi kata ‘global’: (1) secara umum dan keseluruhan
(2) bersangkut-paut, mengenai, ke ruang lingkup dunia. Dalam hal ini, meliputi seluruh
dunia, tetapi berada di luar wilayah kehidupan masyarakat Dawan (TTU).
MITOS-MITOS LOKAL DAN MITOS-MITOS GLOBAL
Berlandaskan makna kamus di atas, dapat dirumuskan bahwa mitos-mitos lokal
adalah cerita-cerita tentang asal-usul atau kejadian alam masyarakat setempat atau hal-hal
4
Dikutip dari Online Etymology Dictionary <http://www.etymonline.com/index.php?term=myth>
3
yang diyakini masyarakat di suatu tempat walaupun belum terbukti benar. Sedangkan
mitos-mitos global adalah hal-hal yang diyakini secara umum atau menyeluruh dan
mencakup seluruh dunia meskipun kebenarannya belum terbukti.
Berikut ini, kita akan melihat beberapa contoh mitos masyarakat Dawan (Atoin-
Metô) dan posisinya di hadapan mitos-mitos atau keyakinan global. Untuk memudahkan
pembahasannya, mitos-mitos tersebut kita bagi kedalam beberapa kelompok.
1. Lingkungan Keluarga
a. Kisah kepahlawanan para leluhur: Setiap keluarga di Timor (Dawan) mempunyai
kisah tentang kepahlawan para leluhurnya dan keberanian mereka mengarungi
lautan dan mengatasi berbagai kesulitan hingga tiba di Tanah Timor. Kisah seperti
ini sangat penting untuk memelihara harkat, martabat, dan semangat juang suatu
keluarga (besar). Tetapi sekarang kisah-kisah ini tampaknya kalah populer dengan
kisah-kisah pahlawan impor yang menjadi representasi mitos global.
b. Adalah ‘keramat’ sehingga tidak boleh menggoyang kaki saat duduk di kursi
(karena ibu/bapak akan meninggal), menengadah ketika seorang perempuan
menaiki tangga ke atau sedang berada di loteng (karena bisa buta), menyanyi
ketika makan (tidak bisa menakar persediaan pangan), menggaris-garis tanah
untuk bermain saja (bisa membuat ‘empunya tanah’ murka), duduk di pintu (bisa
sulit bernapas), bermain-main air secara berlebihan (bisa ditelan buaya), dll.
Semua mitos ini harus dipandang sebagai ajaran moral dengan metode lama yang
tetap mengandung kebenaran bila ditafsirkan dengan konteks lama pula. Arus
global dengan pola pikir serba rasional bisa begitu saja menggerus semua ini.
c. Lelaki memegang kapak, perempuan memegang pemintal atau pria membuat,
wanita memelihara. Ini mitos lokal yang menunjukkan pembagian tugas
tradisional di dalam rumah tangga demi kesejahteraan bersama, tanpa bermaksud
mendiskriminasikan jenis kelamin tertentu. Meskipun demikian, tidak dapat
dipungkiri bahwa terjadi penafsiran yang tergesa-gesa dan keliru sehingga
perempuan sering diposisikan secara inferior. Mitos global lebih menekankan
kesederajatan hampir dalam segala aspek kehidupan dan bisa mengabaikan nilai-
nilai lokal sehingga menghasilkan loncatan yang terkesan mendadak dan sangat
jauh. Dewasa ini banyak keluarga di Timor, khususnya TTU, yang terpaksa
tercerai-berai karena para ibu rumah tangga meninggalkan anak-anak dan suami
mereka untuk menjadi TKW di luar negeri. Ini juga akibat tekanan ekonomi
sesuai dengan tuntutan global.
2. Lingkungan Alam
a. Tanah itu ada empunya (naijane nmuî in tuan): Karena mitos ini, orang Timor
pada masa silam sangat menghormati tanah dan segala isinya. Setiap penggalian
tanah dengan kedalaman tertentu, misalnya untuk kuburan, akan didahului doa
‘membuka tanah’. Orang yakin bahwa menggali tanah tanpa tujuan yang jelas
sama dengan melukai bumi. Tetapi pada era globalisasi ini sudah berapa banyak
lupa yang diderita pertiwi, khususnya di Timor, dan lebih khusus lagi TTU?
4
b. Batu dan pohon berpenunggu (fatu nok in tuan, haube nok in tuan): Tidak setiap
batu, bukit, atau gunung bisa didaki semau-maunya. Begitu pula, tidak setiap
pohon bisa dipanjat, apalagi ditebang. Karena ada empunya, orang tidak boleh
berbuat sekehendak hatinya, sebab akibatnya bisa fatal. Mitos ini harus dipandang
sebagai ajakan untuk menghormati alam agar batu/bukit/gunung dan pohon tetap
lestari demi kepentingan masyarakat. Lalu apa yang terjadi setelah mitos-mitos
global yang lebih menekankan aspek fisik batu dan kayu itu menggerogoti orang-
orang tertentu? Batu yang mungkin dulunya menjadi simbol persatuan suku dan
kayu-kayu besar yang tumbuh dekat mata air menjadi raib entah ke mana. Apa
yang sudah terjadi di lingkungan alam kita?
c. Buaya dan belut menjaga air (beï ma tune nane apao-oe(l)): Buaya mempunyai
kekuatan magis dalam kepercayaan lama orang Timor sehingga diberi nama
Besimnasi (secara harfiah berarti “besi tua”).
5
Walaupun belut tidak sepopuler
buaya, ia pun dianggap sebagai penjaga air (apao-oe(l)). Bahkan ikan-ikan besar
pun diberi predikat yang sama. Dengan mitos ini, habitat hewan-hewan air tidak
terancam rusak. Pada zaman sekarang, rasa hormat kepada air dan segala isinya
seakan hilang begitu saja. Orang menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan. Tidak heran kita melihat orang meracuni ikan, belut, udang, dan bahkan
buaya di sungai tanpa memikirkan akibatnya terhadap ekosistem air tawar.
d. Burung-burung itu pemberi tanda baik dan buruk (kolo nfe ʽtakaf alekot ma
amleüt): Hal ini telah lama diyakini orang Timor. Ada sejumlah burung yang
berperan aktif dalam siklus kehidupan manusia, mulai dari mengabarkan
kedatangan tamu, musibah ringan dan berat, ancaman santet, pergantian musim,
kunjungan arwah leluhur, dll. Hewan unggas ini sekarang hampir punah akibat
pemburuan tak terkontrol dengan senapan angin berteleskop dan racun unggas.
Globalisasi lebih mengedepankan sirene-sirene bahaya yang baru dibunyikan
beberapa menit sebelum suatu kejadian buruk akan timbul. Korban berjatuhan
karena orang sama sekali tidak membaca pertanda musibah itu sebelumnya.
3. Lingkungan Masyarakat
a. Orang tidak bisa hidup sendiri (tmatulun-tmabab, tmafít-tmatòp): Mitos ini
mendorong orang Timor untuk hidup bersama dan saling menolong, terutama
dalam wujud gotong-royong. Karena itu, prinsip nekaf mesê-ansaof mesê (sehati-
sejiwa) melandasi kebersamaan. Namun pada zaman sekarang, dengan pengaruh
globalisasi yang makin mengedepankan individualisme dan egoisme, kebiasaan
bekerja sama perlahan-lahan mulai berkurang. Ada orang yang masa bodoh dan
menutup rapat pintu rumahnya ketika tetangganya mendapat musibah.
b. Setiap tempat ada penjaganya (bale es-es nok kun in tuan), biasanya disebutkan
dalam rangkaian empat nama penghuni perdana (misalnya Ato-Bana-Lake-Sanak,
keempat pemangku adat di Bikomi, TTU): Mitos ini akan menolong kita untuk
menelusuri kehidupan awal di suatu tempat. Berdasarkan tutur adat terpercaya
mengenai awal mula terbentuknya sebuah wilayah, dapat diketahui siapa yang
layak menjadi pemangku adat lokal. Dengan demikian, akan dapat diketahui
5
Lihat pembahasan Andreas Tefa Sawu tentang Besimnasi: Dewa Air dalam buku Di Bawah Naungan
Gunung Mutis hlm. 109
5
pembagian wilayah dan hak atas tanah di daerah tersebut. Pada masa kini,
pembagian wilayah yang tidak mempertimbangkan mitos akan menimbulkan
konflik perampasan hak atas tanah yang menelan korban jiwa dan materi.
HAMBATAN DALAM PELESTARIAN MITOS-MITOS LOKAL
Mitos-mitos lokal adalah bagian dari kebudayaan lokal yang ikut membentuk pola
pikir masyarakat lokal. Artinya cara berpikir dan bertindak masyarakat lokal dipengaruhi
dan pada taraf tertentu bahkan ditentukan oleh mitos-mitos mereka. Semakin kuat mitos-
mitos itu, makin kuat pula pengaruhnya terhadap cara berpikir dan bertindak masyarakat.
Upaya pelestariannya tidak terlepas dari hambatan, baik internal maupun
eksternal. Di sini, secara asumtif
6
dapat dilihat beberapa hambatan umum dalam
melestarikan mitos-mitos lokal di Timor, khususnya di Kabupaten Timor Tengah Utara.
a. Ketiadaan tradisi tulis (yang kuat) dalam masyarakat lokal: Sebagaimana
diketahui, karena tidak pernah mempunyai aksara sendiri (seperti yang dimiliki
suku bangsa Jawa, Bali, Sunda, Batak, Bugis-Makasar, dll.), sebagian besar
kebudayaan lokal di Indonesia bagian timur tidak mempunyai tradisi tulis
sehingga mitos-mitos lokal diwariskan secara lisan saja. Dengan demikian, ada
kemungkinan banyak mitos lokal sudah punah.
b. Ketiadaan mitologi
7
lokal yang lengkap dan tuntas: Sampai saat ini belum
dijumpai mitologi yang terdokumentasi secara lengkap dalam suku-suku bangsa
di Indonesia bagian timur, khususnya di Pulau Timor. Dalam hal ini, mitologi
Yunani boleh dipandang sebagai contoh yang ideal.
c. Kurangnya minat dan perhatian generasi masa kini pada kebudayaan lokal,
terutama bahasa daerah: Tanpa pemahaman bahasa daerah yang baik, seorang
anak Timor pada masa kini akan sulit memahami dan mengakpresiasi kekayaan
budaya lokal, termasuk mitos-mitos lokal. Perlu diingat bahwa suatu kebudayaan
tidak akan bisa dimengerti secara penuh tanpa memahami bahasa kebudayaan
tersebut, apalagi bahasa-bahasa daerah Timor, misalnya bahasa Dawan (Uab
Metô), yang sangat kaya akan simbol.
d. Secara global terdapat anggapan sebagian orang bahwa mitos-mitos (lokal) itu
harus dihancurleburkan untuk menciptakan yang baru, yang lebih sesuai dengan
kebutuhan zaman. Hal ini ditunjukkan dengan jelas oleh Franz Boas
8
sebagai
berikut: ”On dirait que les univers mythologiques sont destinés à être pulvérisés à
peine formés, pour que de nouveaux univers naissent de leurs débris.”
9
(Rupanya
dunia mitologis ditakdirkan untuk dihacurleburkan menjadi bagian-bagian yang
6
Penulis belum melakukan penelitian lapangan dan mengkaji benturan mitos-mitos lokal dan mitos-mitos
global di tingkat masyarakat lokal. Tetapi sebagai bagian dari masyarakat Dawan (orang Timor-Dawan),
penulis mencoba secara empiris mengedepankan hambatan-hambatan yang terdapat di masyarakat.
7
Mitologi adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai
kehidupan dewa dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan. (KBBI, 1999)
8
Franz Boas adalah seorang antropolog Amerika kelahiran Prusia (Jerman) dari penghujung abad ke-19
dan ke-20, pendiri aliran antropologi relativis dan kultursentris yang dominan pada abad ke-20. Biografinya
dapat dibaca lebih lengkap di http://www.biography.com/articles/Franz-Boas-9216786.
9
Dikutip oleh Claude Lévi-Strauss dalam karyanya yang berjudul Anthropologie Sctructurele (hlm. 227).
Aslinya terdapat dalam pendahuluan buku James Teit tentang Traditions of the Thompson River Indians of
British Columbia yang berjudul Memoirs of the American Folklore Society, VI (1898), hlm. 18.
6
nyaris tak ada, agar di atas puing-puingnya dibangun dunia yang baru). Jika
anggapan ini semakin menguat melalui kehadiran mitos-mitos global di tingkat
lokal, maka hambatan dalam pelestarian mitos-mitos lokal akan semakin besar.
KEMUNGKINAN PENCEGAHAN DAN PEMECAHAN
Benturan antara mitos-mitos lokal dan mitos-mitos global telah, sedang, dan akan
terjadi. Lebih-kurang ada tiga cara orang menyikapi kehadiran mitos-mitos global:
melawan sekuat tenaga, mencari jalan tengah (via media, via bona) agar tidak menggerus
mitos lokal, atau membiarkan saja globalisasi merajalela tanpa kontrol. Tampaknya kita
tidak mungkin bisa menolak globalisasi secara mutlak, tetapi tetap selektif menerima
kehadirannya. Dan untuk mencegah hilangnya mitos-mitos lokal yang masih relevan
pada masa sekarang, terutama agar identitas lokal masih terus terpelihara, hal-hal berikut
dapat dipandang sebagai tawaran solusi:
a. Membentuk lembaga adat baru atau meningkatkan fungsi lembaga-lembaga
kebudayaan yang telah ada sebelumnya dengan tugas mempromosikan
kebudayaan lokal, terutama yang bersifat mitologis. Lembaga ini menjadi mitra
dekat pemerintah daerah dalam pemajuan kebudayaan lokal dan harus mudah
diakses oleh masyarakat setempat.
b. Menginventarisasikan dan mengkaji mitos-mitos lokal agar dapat dikenal lebih
luas dan dijadikan pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara. Hal ini tentu
tidak dimaksudkan untuk menggantikan posisi kitab suci atau doktrin agama
tertentu, tetapi menjadi bahan studi kebudayaan dan penelitian ilmiah demi
pencerahan masyarakat dan pencerdasan kehidupan bangsa.
c. Menyusun suatu mitologi yang komprehensif dalam setiap suku bangsa di
Indonesia, terutama yang mendiami wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara,
NTT. Ini bisa dilakukan secara pribadi atau kelompok dalam kerja sama yang erat
dengan para tokoh ada suku tersebut, terutama dengan para ahli silsilah.
d. Menggunakan kearifan lokal sebagai titik tolak penyelesaian isu-isu lokal.
Melibatkan para tokoh adat dan ahli tradisi dalam penyelesaikan suatu masalah
tempatan akan lebih mudah daripada mendudukkan seseorang yang kurang paham
tentang situasi dan kondisi suatu masyarakat lokal.
PENUTUP
Sebagai penutup, dapat diulangi di sini bahwa: (1) Isu-isu global termasuk mitos-
mitos global telah menerobos segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia, terutama
masyarakat wilayah Biimaffo (Biboki, Insana, Miomaffo) di Provinsi Nusa Tenggara
Timur; (2) Kehadiran dusun global membawa dampak yang menguntungkan dan juga
merugikan; (3) Mitos-mitos lokal dan mitos-mitos global terus bersaing dalam
memperebutkan pengaruh dalam masyarakat lokal, terutama di Kabupaten Timor Tengah
Utara; (4) Masyarakat TTU masih kaya akan mitos-mitos lokal yang relevan dengan
kehidupan masa ini asal diinterpretasikan dengan semangat baru, dan (4) Perlu diambil
langkah-langkah konkret demi pelestarian dan kelestarian mitos-mitos lokal yang
menjadi aset kebudayaan Nusantara.
7
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Hornby, A.S. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Sixth Edition. Oxford:
Oxford University Press.
Lévi-Strauss, Claude. 1958 et 1974. Anthropologie Structurale. Paris: Libraire Plon
Parera, ADM, dan (editor) Gregor Neonbasu. 1994. Sejarah Pemerintahan Raja-Raja
Timor. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Sa’u (Sawu), Andreas Tefa. 2004. Di Bawah Naungan Gunung Mutis. Ende: Penerbit
Nusa Indah
Schulte Nordholt, H.G. 1971. The Political System of the Atoni of Timor. Den Haag:
Martinus Nijhoff
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1999. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka
Situs dan Blog
Franz Boas Biography. 2010. Encyclopædia Britannica, Inc
<http://www.biography.com/articles/Franz-Boas-9216786?part=0> Diakses pada
tanggal 16 September 2011
Manhitu, Yohanes. 2007. Kearifan lokal: mutiara yang ditemukan kembali. Sebuah
artikel <http://ymanhitu.blogspot.com/2007/07/kearifan-lokal-mutiara-yang-
ditemukan.html> Diakses pada tanggal 16 September 2011
Marshall McLuhan. 2006. Caslon Analytics: Biographies
<http://www.caslon.com.au/biographies/mcluhan.htm> Diakses pada tanggal 16
September 2011
Online Etymology Dictionary <http://www.etymonline.com/index.php?term=myth>
Diakses pada tanggal 16 September 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->