P. 1
Bab IV Anyar

Bab IV Anyar

|Views: 210|Likes:
Published by Wahyu Nur Hidayat

More info:

Published by: Wahyu Nur Hidayat on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2015

pdf

text

original

III. HASIL KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANG I 3.1. UPBL Probolinggo 3.1.1.

Keadaan Umum Lokasi Unit Pengelola Budidaya Laut (UPBL) Probolinggo, beralamat di jalan Anggrek No 4, Desa Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dengan perbatasan sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : Selat Madura : Desa Mayangan : Desa Tirtanegara : Desa Pilang

Gambar 5. Papan nama pembenihan udang. Sumber : Data Primer, 2012

11

3.1.2. Sejarah Berdirinya Usaha Unit Pengelola Budidaya Laut Probolinggo dulunya bernama Pusat Pembenihan Udang didirikan pada tahun 1974, kemudian diresmikan pada tanggal 10 Juni 1975 oleh Gubernur Daerah Tingkat I Jawa Timur. Pada tanggal 24 februari 1978 No 123/SK/Adm/1978 dan diperkuat dengan surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 23 tahun 1978 maka UPBL Probolinggo merupakan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur yang tugas pokoknya adalah melaksanakan Dinas Perikanan dan Kelautan dibidang teknis. 3.1.3. Struktur Organisasi Stuktur organisasi yang ada di UPBL Probolinggo yang dikepalai oleh Ibu ENDAH KRISTIANI. A.Pi,MT berserta staf yang mendampinginya. Adapun Koordinasi Budidaya yang dikepalai oleh DARU SUDARMA beserta staf yang mendampinginya. Di bawah koordinator budidaya terdapat beberapa kasi yaitu, Kasi Pengadaan Induk, Kasi Pengadaan Benih, Kasi Sub Bag Tata Usaha, Kasi Peng Laboratorium. Adapun struktur organisasi terdapat pada Lampiran 2. 3.1.4. Kegiatan Usaha Adapun kegiatan uasaha yang dilakukan di UPBL Probolinggo adalah mencangkup kegiatan pembenihan dan pembesaran udang galah serta pembesaran vanname, dimana pembenihan udang galah meliputi kegiatan

12 pemeliharaan larva . Adapun larva yang di jual dapat di beli secara langsung maupun di pesan sesuai permintaan konsumen. Pembenihan udang dilakukan di dalam hatchery sedangkan

pembesaran dilakukan dalam tambak. 3.2. PT. Sulindo Probolinggo 3.2.1. Keadaan Umum Lokasi 3.2.2. Sejarah Berdirinya Usaha 3.2.3. Struktur Organisasi 3.2.4. Kegiatan Usaha 3.3. BBAP Situbondo 3.3.1. Letak Geografis Balai Budidaya Air Payau ( BBAP ) secara umum terletak di Dusun Pecaron, Desa Klatakan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo terdiri dari lima divisi yakni, divisi ikan, divisi udang, dan divisi budidaya, instalasi udang Gelung dan instalasi pembenihan udang Tuban. Secara geografis BBAP Situbondo terletak pada posisi 113055’56’’ BT – 114000’00” BT dan 07040’32” LS – 07042’35” LS. Divisi ikan sekaligus sebagai kantor utama BBAP Situbondo terletak di Dusun Pecaron, Desa Klatakan, Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Divisi udang terletak di Desa Blitok, Kecamatan Mlandingan Kabupaten Situbondo. Sedangkan divisi budidaya berlokasi di desa Pulokerto, Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Sedangkan instalasi pembenihan Gelung terletak di Desa

13 Gelung, Kecamatan Panarukan kabupaten Situbondo. Batas – batas lokasi BBAP Situbondo sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Selat Madura : Rumah penduduk desa Klatakan : PT. Central Pertiwi Bahari ( CPB ) : Pemukiman desa Klatakan

Lokasi BBAP Situbondo berjarak 5 meter dari garis pantai dengan ketinggian 0,5 1 meter dari permukaan laut. Pada siang hari suhu berkisar 29310C, sedangkan malam hari berkisar 28-290C. BBAP Situbondo beriklim tropis dengan angin laut yang bertiup dari Selat Madura dengan kecepatan rata-rata 5,8 km/jam. Bentuk pantai BBAP Situbondo adalah pantai berpasir dan berkarang. Lokasi BBAP Situbondo berada dekat dari daerah pengembangan industri perikanan, bebas dari pencemaran, terhindar dari ombak besar dan arus pantai yang besar, persediaan air tawar cukup, dan dekat dengan transportasi darat. 3.3.2. Sejarah Berdirinya Usaha Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada awalnya bernama Sub Center Udang Jawa Timur, berdiri pada tahun 1986. Proyek Sub Center Udang melepaskan diri dari BBAP Jepara dan berganti nama menjadi Loka Budidaya Air Payau (LBAP) Situbondo pada tanggal 18 April 1994 di bawah SK Menteri Pertanian no.264/Kpts/07/210/94. Dalam menunjang pelaksanaan program pembangunan dan peningkatan produksi perikanan. Pada tanggal 1 Mei 2000, status LBAP Situbondo meningkat menjadi BBAP Situbondo (dalam SK Menteri no.26/D/MEN/05/2000).

14

3.3.3. Struktur Organisasi Susunan Organisasi ( BBAP ) Situbondo sesuai tugas masing-masing sebagai berikut: a. Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo Kepala Budidaya Air Payau Situbondo merumuskan kegiatan,

mengkoordinasikan dan mengarahkan tugas budidaya air payau serta membina bawahan di lingkungan Balai Budidaya Air Payau sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas. b. Seksi Standardisasi dan Informasi Seksi Standardisasi dan Informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan budidaya air payau, pengendalian hama dan penyakit, lingkungan, sumber daya induk dan benih, serta pengelolaan jaringan informasi dan perpustakaan. c. Seksi Pelayanan Teknik

15 Seksi Pelayanan Teknik mempunyai tugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pembenihan pengembangan, penerapan serta pengawasan teknik dan budidaya ikan air payau. d. Sub Bagian Tata Usaha Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan administrasi keuangan, kepegawaian, persuratan, dan rumah tangga serta pelaporan. e. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional yang terdiri dari Perekayasa,Pengawas benih, Pranata humas, Pengendalian hama dan penyakit, Pengawas budidaya, Litkayasa, dan Fungsional lainnya mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perekayasaan, pengujian, penerapan dan bimbingan penerapan

standar/sertifikasi budidaya air payau, pengendalian hama dan penyakit, pengawasan benih, budidaya dan penyuluhan, serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3.4. BBI Pesiapan Tabanan 3.4.1. Keadaan Umum Lokasi UPTD BBI Pesiapan berpusat dan berkantor di BBI Pesiapan yang terletak di kota Tabanan, Bali. Tepatnya 1 km ke arah barat kota Tabanan. UPTD BBI Pesiapan terdiri dari empat unit BBI yakni BBI Pesiapan di kecamatan Tabanan, BBI Meliling di kecamatan Kerambitan, serta BBI Penebel dan BBI Bolangan di kecamatan Penebel.

16 Empat unit BBI tersebut berada pada ketinggian 100-570 meter DPL, suhu udara 20-31 0C, debit air 15-75 l/detik dan pH 6.5-8.5. Luas total areal 4.56 Ha yang terdiri dari 2.154 Ha areal perkolaman dan 2.406 Ha lainnya dipergunakan untuk perkantoran, perumahan karryawan serta sarana penunjang lainnya.

Sumber air untuk perkolaman BBI Pesiapan berasal dari sungai Yeh Empas (menggunakan pipa sepanjang 3 km). Sedangkan BBI Bolangan dan Penebel sumber airnya berasal dari saluran irigasi subak. Sementara sumber air di BBI Meliling berasal dari waduk Telaga Tunjung. 3.4.2. Sejarah Berdirinya Usaha Sebelum terbentuk UPTD BBI Pesiapan, di Kabupaten Tabanan pada tahun 2001 sudah terbentuk tiga UPTD BBI, yakni BBI Penebel, UPTD BBI Baturiti dan UPTD BBI Meliling. Meski statusnya sudah menjadi UPTD, tiga unit BBI di lingkungan Dinas Perikanan dan Kelautan tersebut kondisinya belum ideal. Pemkab Tabanan melalui DAK (Dana Alokasi Khusus) kemudian melakukan pembangunan BBI Bolangan yang lebih representatif untuk menggantikan BBI Baturiti yang mengalami kendala pengairan. Pada tahun 2004, BBI Bolangan mulai beroperasi. Berdasarkan peraturan Bupati Kabupaten Tabanan nomor 10 tahun 2006 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan, tiga UPTD BBI yang sudah ada dilebur menjadi UPTD BBI Bolangan yang

17 membawahi BBI unit Penebel dan BBI unit Meliling. Sementara BBI unit Baturiti berhenti beroperasi. Mengingat kebutuhan benih ikan yang semakin meningkat, Pemkab Tabanan melalui DAK pada tahun 2006 kembali melakukan pembangunan BBI unit Pesiapan yang sebelumnya kondisinya mangkrak dan berhenti beroperasi pada tahun 1987. BBI yang modern dan representatif pembangunan fisik serta sarana dan prasarananya tetap dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Seiring telah beroperasinya BBI Tabanan, maka berdasarkan Peraturan Bupati No. 11 tahun 2008, kembali diadakan penyempurnaan. UPTD BBI Bolangan akhirnya berganti nama menjadi UPTD BBI Pesiapan yang membawahi unit BBI Pesiapan, BBI Bolangan, BBI Penebel dan BBI Meliling. 3.4.3. Struktur Organisasi KEPALA DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

KEPALA UPTD BBI PESIAPAN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL KASUBAG TATA USAHA

BBI UNIT MELILING

BBI UNIT PESIAPAN

BBI UNIT PENEBEL

BBI UNIT BOLANGAN

18 3.4.4. Kegiatan Usaha

3.5. TPI Muncar Banyuwangi 3.5.1. Keadaan Umum Lokasi Tempat Pelelangan Ikan Muncar terletak di desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Propinsi Batas desa Kedungrejo : 1. Sebelah utara dibatasi desa Tambakrejo 2. Sebelah selatan dibatasi desa Sumberbaru 3. Sebelah barat dibatasi desa Taponrejo 4. Sebelah timur dibatasi Selat Bali Luas wilayah desa Kedungrejo ialah + 851.370 ha dengan jumlah penduduk 125.912 jiwa,terdiri dari bangsa Madura, Jawa, Bugis, dan lain-lain. Penduduk Muncar sebagian bermata pencaharian sebagai nelayan. Jumlah nelayan di kabupaten Muncar + 11.958 jiwa. Pelabuhan Muncar terletak 40 kilometer dari kota Banyuwangi, yang terletak di Selat Bali pada posisi 08.10’-08.50 LS atau 114.15’ – 115.15’ BT yang mempunyai teluk yang bernama teluk Pangpang, mempunyai panjang pantai

19 kurang lebih 13 km dengan pendaratan ikan sepanjang 5,5 km. Jarak TPI dengan ibu kota propinsi 332 km. Kecamatan Muncar memiliki penduduk 140.125 jiwa dan masyarakatnya terutama dari segi struktur budaya nelayan terdiri dari Suku Jawa, Madura, Osing, dan Bugis. Pelabuhan Perikanan yang terletak di Kecamatan Muncar merupakan pelabuhan perikanan yang tergolong ke dalam pelabuhan perikanan tipe c (pantai) yakni pelabuhan perikanan yang mana kegiatan usaha perikanannya mencakup wilayah perairan pedalaman, kepulauan, laut territorial dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEE) yang dapat menampung kapal < 30 GT. 3.5.2. Sejarah Berdirinya TPI Tempat Pelelangan Ikan Muncar Banyuwangi merupakan Unit Pelaksana Teknis ( UPT ) Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Timur, yang pada awalnya tahun 1998 pernah menjadi daerah khusus Perikanan Muncar berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Perikanan Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 15 Tahun 1984. Kemudian pada tahun 1993 berubah menjadi Badan Pengelola

Pangkalan Pendaratan Ikan (BTPII) berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Perikanan Daerah Tingkat 1 Jawa Timur Nomor 24 Tahun 1993 dan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : 12/MK/2004 Muncar ditingkatkan statusnya dari Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (TPI). Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muncar berada di desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur.

20 Dengan Visi : Menumbuhkembangkan sistem usaha perikanan tangkap yang berkelanjutan berbasis pada pelayanan prima. Dan misi : a. Menyediakan fasilitas jasa yang berorientasi pada tingkat kebutuhan dan pertumbuhan usaha perikanan tangkap b. Menciptakan iklim usaha yang kondusif guna mencapai kepuasan pelanggan. c. Mewujudkan usaha perikanan tangkap sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Tujuan

dari

Tempat

Pelelangan

Ikan

(TPI)

Muncar

ini

adalah

Meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa serta upaya meningkatkan produktifitas masyarakat pelaku usaha perikanan tangkap. Dengan sasaran utama yaitu adalah tercapainya optimalisasi pemanfaatan sarana perikanan dan meningkatkan intensitas serta produktifitas operasional yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 3.5.3. Struktur Organisasi Struktur organisasi dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) adalah Sebagai berikut :  Unsur Pemimpin adalah seseorang yang diserahi tugas sebagai Kepala Pangkalan Pendaratan Ikan.  Unsur Pembantu Pimpinan adalah seseorang yang diserahi tugas sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha yang bertanggung jawab kepada Kepala Pangkalan Pendaratan Ikan.

21  Unsur Pelaksana adalah beberapa orang yang diserahi tugas

sebagai Kepala Seksi yaitu Seksi Kenelayanan, Seksi Kepengusahaan Jasa, dan Seksi Kepala Sarana, yang bertanggung jawab kepada Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar.

3.5.4. Kegiatan Usaha 1.  Kegiatan Pelayanan Kegiatan Pelayanan Pas Masuk dan Parkir Kegiatan pelayanan pas masuk meliputi pas masuk untuk orang, sepeda, becak, rombong, kendaraan roda dua, dan kendaraan roda empat. Pas masuk dilaksanakan di dua dusun yaitu Dusun Sampangan dan dusun Kalimati sesuai dengan kondisi lokasi TPI. Untuk kendaraan roda 4 dengan tujuan rekreasi, sales dan studi tur dapat dipungut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kegiatan pelayanan parkir meliputi parkir untuk roda empat (truk ikan) dan sepeda nelayan yang sedang melaut.

22  Kegiatan Pelayanan Tambat Labuh Kegiatan pelayanan tambat labuh meliputi penarikan pada kapal – kapal nelayan asal Muncar berjalan lancar dengan memperhatikan waktu musim ikan di Pelabuhan Muncar.  Kegiatan Pelayanan Sewa Lahan dan Gedung. Kegiatan pelayanan sewa lahan ini dilakukan terhadap pengasin dan bangunan yang mereka bangun sendiri serta perusahaan pengolah ubur-ubur. Kegiatan pelayanan sewa gedung dilakukan terhadap pemakai gedung pemerintah di TPI kecuali yang dipergunakan oleh instansi terkait, Sat POL AIR, KUD Mino Blambangan,Petugas Syahbandar, Balai Pengobatan, PLN dan Musholla.  Kegiatan Pelayanan Penyewaan Alat – alat. Kegiatan pelayanan ini dilakukan bila terdapat peralatan TPI yang disewakan, misal box, mesin pompa, dan lain-lain.

 Kegiatan Pelayanan Lainnya. Kegiatan pelayanan ini meliputi Pelayanan pemenuhan kebutuhan es batu dan solar yang masuk ke pelabuhan Pelayanan masyarakat sesuai tupoksi a. Workshop dan diseminasi bagi nelayan/agen/unit pengolah ikan b. Penertiban sertifikat hasil tangkapan ikan (SHTI) c. Pembinaan kepada KUB (kelompok usaha bersama) Pelayanan masyarakat non tupoksi a. Verifikator dan petugas penyerahan Jalinkesra b. Enumerator dan operator Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP)

23 c. Verifikator dan koordinator tabulasi kartu nelayan (area Banyuwangi) d. Membantu pengurusan SIUP/SIPI e. Memberikan bimbingan dan pembinaan mahasiswa/mahasiswi dalam melakukan penelitian dan praktek kerja lapangan 2. Kegiatan Pelelangan. Kegiatan pelelangan ikan ada dua cara : a. Cara Sampling Dengan cara menimbang 3 - 5 keranjang ikan, diambil rata-rata beratnya / keranjang x jumlah keranjang b. Cara Truk Ini khusus jenis ikan untuk bahan tepung ikan, kisaran berat / truk sebanyak ± 4 ton / truk Setelah ikan ditimbang, pemilik ikan membayar retribusi pelelangan sebesar 2,5% kepada petugas TPI. 3.6. Unit Usaha Pengolahan Ikan Asin 3.6.1. Keadaan Umum Lokasi Unit usaha pengolahan ikan asin milik Bapak Anton terletak di Desa

Kalimati, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Wilayah Desa Kalimati ini adalah daerah pelabuhan perikanan pantai Muncar yang mayoritas

masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan pengusaha pengolahan hasil perikanan. Adapun batas-batas wilayah dari tempat pengasinan milik Bapak Anton adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Selat Bali (2500 km2)

24 Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : TPI Muncar : Pemukiman nelayan. : Laut Muncar

Tempat pengolahan ikan asin milik Bapak Anton terletak di tepi jalan yang berseberangan menuju TPI Pantai Muncar yang berjarak + 230 meter. Semua proses produksi dilakukan di tempat tersebut karena lokasinya yang berdekatan dengan TPI Muncar sehingga mempermudah untuk pengiriman bahan baku, Sedangkan untuk proses penjemuran ikan juga dilakukan diatas lahan yang sama dan bersemen ditepi jalan yang berseberangan menuju TPI Muncar

3.6.2. Sejarah Berdirinya Usaha Usaha pengolahan ikan asin milik Bapak Anton yang berlokasi di Desa Kalimati, kecamatan Muncar, kabupaten Banyuwangi ini sudah berdiri sejak tahun 1977 silam. Beliau merintis usaha ini mulai dari nol. Dari mulai usaha dulu sampai sekarang Bapak Anton hanya mempekerjakan 9 orang karyawan yang merupakan keluarganya sendiri dan warga yang tinggal berdomisili di Desa Kalimati. Jadi dapat disimpulkan bahwa usaha tersebut dikelola oleh satu lingkup keluarga dan untuk pembagian gaji disesuaikan dengan penghasilan ikan asin dari banyak sedikitnya tangkapan ikan di laut. 3.6.3. Struktur Organisasi Unit usaha pengolahan ikan asin yang telah dijalankan oleh Bapak Anton memiliki struktur organisasi yang sederhana, ada kurang lebih 10 orang beserta

25 Bapak Anton, tetapi hal ini tidak dapat dipisahkan dengan proses pembagian kerja sehingga proses produksi berjalan dengan lancar. Pemilik Usaha / Pengawas Bagian Pencucian Bagian Pemrosesan Bagian Pemasaran : 1 Orang (Bapak Anton) : 5 Orang : 8 Orang : 3 Orang

Kegiatan pembelian bahan baku dan pemasaran dilakukan oleh saudara Bapak Anton yang bekerja sebagai karyawannya. Sedangkan kegiatan proses dilakukan sekaligus oleh 8 pekerja dan diawasi langsung oleh bapak Anton. Para karyawan di unit usaha milik Bapak Anton berasal dari keluarga dan tetangga.

3.6.4. Kegiatan Usaha Pokok Kegiatan pokok di unit usaha milik bapak Anton hanya membuat ikan asin. Usaha ini dilakukan secara terus-menerus tanpa ada hari libur jika pada waktu musim ikan, kecuali jika tidak ada bahan baku untuk diproses. Tetapi sebagian bahan baku lainnya didatangkan atau dikirim oleh pengepul kepada unit usaha milik Bapak Anton yang berasal dari luar daerah seperti; Brondong, Jember, Tuban, Situbondo, Bali. 3.6.4.1. Penyediaan Bahan Baku Bahan baku yang digunakan oleh Bapak Anton untuk pengolahan ikan asin adalah ikan teri, ikan layang, ikan teri nasi, ikan teri mahero, ikan bangkuk, ikan petek, ikan sembulak. Bahan baku yang baik digunakan untuk pembuatan ikan asin adalah ikan hasil tangkapan pada Bulan Januari sampai Bulan Mei, karena pada bulan-bulan tersebut ikan hasil tangkapan yang diperoleh tidak

26 mengandung minyak. Sedangkan pada Bulan Agustus sampai Bulan Desember, ikan hasil tangkapan yang diperoleh banyak mengandung minyak sehingga tidak cocok untuk dijadikan produk ikan asin. Bahan baku ini diperoleh dari pasar, tempat pelelangan. Bahan baku yang dibeli dari pasar langsung diantar oleh pedagangnya ke tempat Bapak Anton. Setelah itu langsung dicuci dan disortir menurut jenis dan ukurannya, Namun untuk yang sudah busuk langsung dibuang. Proses pengantarannya menggunakan kendaraan seperti pick up tanpa adanya perlakuan khusus untuk mempertahankan mutu ikan. Sebenarnya cara memperoleh bahan baku ini kurang efektif karena kualitas ikan yang diperoleh dari pasar atau penjual ikan langganannya ini bisa saja kurang baik atau kurang berkualitas. Bapak Anton biasa memperoleh bahan baku yang segar dan berkualitas dengan datang langsung ke pelabuhan Muncar yang tidak jauh dari rumahnya. Di sana Bapak Anton bisa memilih jenis ikan yang akan dijadikan ikan asin dan kualitas ikan juga lebih baik. 3.6.4.2. Proses Pembuatan Ikan Asin Proses pengolahan ikan asin pada unit usaha milik Bapak Anton adalah sebagai berikut : 1. Pemilihan Bahan Baku dan Sortasi Bahan baku yang didapatkan selain dari nelayan sekitar pelabuhan Muncar, juga didapatkan dari pasar tempat penjualan ikan asin dan pedagang ikan langganannya yang mau mengantarkan ikan langsung kerumahnya. Banyaknya bahan baku yang diperoleh oleh Bapak Anton tergantung pada musim ikan. Berdasarkan banyaknya ikan yaitu pada saat tidak muncul bulan (petengan). Musim ikan mempengaruhi banyaknya ikan yang ditangkap oleh

27 para nelayan atau penjual ikan. Semakin sedikit jumlah ikan yang ditangkap maka semakin mahal nilai jualnya, sedangkan jika ikan yang ditangkap dalam jumlah banyak maka harganya mengikuti standart harga pasar. Setelah bahan baku diperoleh, langsung dilakukan sortasi pada bahan baku tersebut. Bahan baku yang busuk dibuang agar tidak mengkontaminasi ikan lain yang masih segar. Pada saat sortasi ikan dibedakan berdasarkan ukuran dan, jenisnya. Selain memisahkan ikan berdasarkan ukurannya, Bapak Anton juga memisahkan ikan berdasarkan tingkat kesegaran ikan.

2. Penyiangan Bahan baku ikan yang diperoleh kemudian disiangi untuk menghilangkan insang, isi perut, sisik pada ikan untuk ikan yang berukuran agak besar, namun untuk yang ukurannya kecil langsung dibersihkan menggunakan air bersih atau air sumur. Penyiangan pada ikan bertujuan untuk menghambat proses pembusukan ikan yang disebabkan oleh bakteri pembusuk. Pada saat pembersihan ini juga dilakukan sortasi untuk membuang ikan yang sudah busuk agar tidak menyebarkan bakteri pembusuk pada ikan yang lainnya. Sortasi ini merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas produk akhir yang berkualitas. Untuk memperoleh produk akhir yang berkualitas oleh karena itu Bapak Anton menggunakan bahan baku yang baik dan segar. Menurut Suseno (2008) ciri-ciri ikan yang baik dan segar adalah ikan yang mempunyai daging

28 elastis, warna cerah, bau ikan segar, sisik buikan melekat kuat pada daging ikan, mata menonjol, dan belum banyak keluar lendir dari tubuh ikan. Pada saat proses pembersihan ini membutuhkan waktu yang lama karena banyaknya ikan yang akan dibersihkan. Sedangkan jumlah orang yang melakukan pembersihan ini adalah 5 orang saja. Pada saat proses Penyiangan juga terjadi kemunduran mutu pada ikan karena pada saat penyiangan tidak dilakukan perlakuan apapun pada ikan yang sudah maupun yang belum dibersihkan. Misalnya saja dengan memberi es pada ikan agar suhu tubuh ikan tetap terjaga sehingga tidak terjadi kemunduran mutu.

3. Penggaraman Pada unit usaha pengolahan ikan asin milik Bapak Anton proses

penggaramannya menggunakan metode penggaraman basah. Hal ini sudah sesuai dengan pendapat Moeljanto (1992), mengenai salah satu penggolongan metode penggaraman. Metode penggaraman basah yaitu membuat larutan garam terlebih dahulu kemudian merendam ikan yang akan dijadikan ikan asin. Garam yang digunakan oleh Bapak Anton dalam pengolahan ikan asin tidak menggunakan takaran tapi hanya sesuai dengan kebutuhan yang dirasa cukup untuk mengasinkan jumlah ikan yang akan diolah untuk 70 kg dibutuhkan 40 kg garam dengan penambahan 30 liter air. Hal ini tidak sependapat dengan Murniyati dan Sunarman (2000), yang berpendapat bahwa dalam proses

29 penggaraman dibutuhkan garam kristal 30 – 50 %. Setiap 100 liter larutan garam berisi 30 – 50 kg ikan. Ikan yang yang sudah dibersihkan dan disiangi kemudian dimasukkan kedalam larutan garam dan direndam selama 6-8 jam. Untuk ikan yang berukuran besar seperti ikan sembulak, dilakukan perendaman yang lebih lama dari ikan yang lain. 4. Pencucian Ikan yang telah direndam dengan larutan garam, lalu ikan dicuci dengan air sumur untuk menghilangkan lendir dan sisa-sisa larutan garam. Pendapat ini sudah sesuai dengan pendapat Djarijah (1995), setelah ikan dicuci bersih kemudian ikan ditiriskan sampai tidak ada air yang menetes. Pencucian ikan setelah digarami ini menggunakan air yang berasal dari sumur,

5. Penjemuran Ikan yang sudah dicuci dengan air bersih selanjutnya disusun di atas widik (para-para) yang terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk persegi panjang. Cara menyusun ikan diatas widik (para – para) yaitu bagian kulit ikan menghadap ke atas, ke arah sinar matahari dan sesekali dilakukan pembalikan untuk mencapai proses pengeringan dan ikan dapat kering secara merata. Pengeringan diatas widik( para-para) ini bertujuan untuk menghindari debu dan kotoran. Untuk proses pengeringan dibutuhkan waktu 1 hari pada saat cuaca cerah tetep pada saat cuaca tidak cerah biasanya sampai 2-3 hari. Pada saat penjemuran ikan akan mengalami pengurangan berat. Hal ini disebabkan karena kadar air di dalam tubuh ikan secara perlahan akan berkurang sehingga ikan akan menjadi kering. Ikan yang beratnya 1 kwintal beratnya menjadi 30 kg pada

30 saat ikan sudah kering. Jika ikan asin tidak kering dengan baik maka penampilan luar dan warna ikan kurang menarik. Hal ini akan membuat konsumen kecewa dengan hasil ikan asin yang akan dibelinya (daya tarik konsumen berkurang). 6.Penyortiran II Hasil ikan asin yang sudah jadi dilakukan penyortiran lagi untuk memisahkan antara ikan asin yang berkualitas baik dengan ikan yang mengalami kerusakan seperti daging yang berlubang dan daging ikan yang tidak kering secara merata.

7. Pengemasan Ikan yang sudah kering kemudian dikemas menggunakan kardus dan plastik. Jadi pada penyusunannya yaitu kardus dilapisi dengan plastik di dalamya. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Djarijah (1995), ikan asin yang sudah kering disusun rapi di dalam packing dengan kotak kayu (peti) atau keranjang yang dilapisi kertas dan ditaruh dalam ruangan (gedung) yang sejuk dan kering serta memiliki ventilasi udara yang baik. Dalam pengemasan ini Bapak Anton menggunakan karton atau kardus untuk membeli kemasan. 8. Pemasaran Produk Ikan Asin dengan pertimbangan biaya

31 Ikan asin yang sudah kering lalu diikat dan selanjutnya siap untuk dipasarkan. Daerah pemasaran ikan asin yang diproduksi oleh Bapak Anton adalah daerah Situbondo, Brondong, Jember, Bali, Tuban. Biasanya Bapak

Anton tidak menjual ikan asin tersebut ke pasar tetapi para Konsumen langsung datang kerumah untuk membeli ikan asin buatannya. 3.7. PT. Sumber Yala Samudra 3.7.1. Keadaan Umum Lokasi 3.7.2. Sejarah Berdirinya Usaha 3.7.3. Struktur Organisasi 3.7.4. Kegiatan Usaha 3.8. PT. ICS Banyuwangi 3.8.1. Keadaan Umum Lokasi 3.8.2. Sejarah Berdirinya Usaha 3.8.3. Struktur Organisasi 3.8.4. Kegiatan Usaha

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->