P. 1
Revisi Pemanfaatan Sampah Organik Sebagi Kompos (Fix)

Revisi Pemanfaatan Sampah Organik Sebagi Kompos (Fix)

|Views: 171|Likes:
Published by Winda Rianti

More info:

Published by: Winda Rianti on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perguruan tinggi sudah seharusnya menjadi tempat belajar yang baik dan menjadi suri tauladan serta mempunyai manfaat yang baik bagi masyarakat disekitarnya. Tempat belajar yang baik tentu harus memiliki lingkungan yang terjaga kebersihannya agar mahasiswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran. Tidak hanya mahasiswa, masyarakat sekitar perguruuan tinggi pun harus merasa nyaman atas keberadaan perguruan tinggi di daerahnya. Permasalahannya, tidak semua perguruan tinggi menerapkan pengelolaan sampah yang cukup baik sehingga ‘limbah’ perguruaan tinggi tersebut seringkali menjadi masalah bagi masyarakat sekitarnya. Contohnya, banyak perguruan tinggi yang belum mengelola sampah dengan baik. Pengelolaan kebersihan kampus seringkali bertujuan hanya untuk menjaga kebersihan didalam areal kampus namun kurang memperhatikan pengolahan sampah yang jumlahnya tidak sedikit. Sampah inilah yang kemudian menjadi masalah terlebih bila tempat pembuangan sampah berada didekat pemukiman yang tentu akan sangat menganggu masyarakat disekitarnya. Sampah telah menjadi permasalahan sejak lama. Tidak banyak yang menyadari bahwa kian hari kian sulit untuk membuang sampah. Sampah adalah material sisa dari aktivitas manusia yang tidak memiliki keterpakaian, karenanya harus dikelola. Ketika sampah tanpa pengelolaan secara baik dan benar, kerugian akan dirasakan karena timbulnya banjir, meningkatnya pemanasan iklim, menurunnya kandungan organik kebun dan pertanian, sanitasi lingkungan makin buruk dan ancaman meningkatnya berbagai penyakit. Dengan dikelola, sampah akan menjadi berkah, dan sebaliknya, tanpa itu, sampah akan menimbulkan banyak masalah.

1

Sampah, jika tidak diurus dan dikelola dengan baik dapat menyebabkan masalah lingkungan, yang sangat merugikan. Sampah, yang menumpuk dan membusuk didekat tempat hidup manusia dapat menjadi sarang kuman dan binatang, selanjutnya dapat mengganggu kesehatan manusia baik badan maupun jiwa, serta mengganggu estetika lingkungan karena terkontaminasinya pemandangan oleh tumpukan sampah dan bau busuk yang menyengat hidung. Berdasar perhitungan Bappenas dalam buku infrastruktur Indonesia pada tahun 1995 perkiraan timbulan sampah di Indonesia sebesar 22.5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di kota besar produk sampah perkapita berkisar antara 600-830 gram per hari (Mungkasa dalam Nisandi, 2007). Berdasar asalnya sampah (padat) dapat digolongkan sebagai (Suprihatin dalam Nisandi, 2007) : 1. Sampah organik yaitu sampah yang terdiri dari bahan –bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam, atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lainnya. 2. Sampah anorganik yaitu sampah yang berasal dari sumber daya alam tak terbaharui seperti mineral dan minyak bumi atau dari proses industri. Komposisi sampah di Indonesia, merujuk pada data statistik rata-rata 74 % berupa sampah organik dan sisanya berupa kain, logam, plastik, styrofoam, dan aneka sisa kemasan(Studi Komposisi Dan Karakteristik BPPT, 1994). Bayangkan bila 74% sampah yang merupakan sampah

organik mampu di diadur ulang (recycle) betapa tingginya angka penuranan sampah yang selalu menjadi masalah belakangan ini. Namun kenyataannya sangat sulit dilakukannya bila sampah telah bercampur antara organik dan anorganik, pendaur ulangan sampah menjadi tidak efisien karena itu diperlukan adanya pemisahan antara sampah organik dan anorganik. Dan seperti yang telah diketahui sampah yang bisa membusuk dan tempat

2

bersarangnya kuman dan binatang adalah sampah organik. Maka dari itu diperlukan satu sistem pengolahan untuk sampah organik ini. Permasalah sampah juga terlihat di Universitas Singaperbangsa

Karawang yang merupakan calon Universitas Negeri di Karawang. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) limbah hasil dari Universitas Singaperbangsa Karawang berada di samping belakang areal kampus, yang letaknya berdekatan dengan rumah penduduk. Keberadaan TPA ini sangat menganggu aktifitas masyarakat disekitar TPA baik itu dari segi kesehatan maupun estetika lingkungan. Maka dari itu , perlu dilakukan pembenahaan dalam pengelolaan sampah-sampah tersebut. Karena bagaimanapun keberadaan kampus Universitas Singaperbangsa Karawang seharusnya mampu memberi manfaat bahkan menjadi contoh yang baik kepada masyarakat disekitarnya dalam hal ini mengenai pengelolaan sampah yang baik, yang sejak lama memang menjadi masalah masyarakat kebanyakan.

1.2

Perumusan Masalah Berdasarkan penjabaran yang telah di jelaskan diatas, maka rumusan masalah yang muncul adalah: 1. Bagaimana pengaruh sampah terhadap lingkungan sekitar

Universitas Singaperbangsa Karawang. 2. Bagaimana pengelolaan sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang. 3. Bagaimana solusi pengelolaan sampah di Universitas

Singaperbangsa Karawang. 4. Bagaimana cara memanfatkan sampah organik yang menjadi menjadi kompos cair dan padat serta pendayagunaan biopori.

1.3

Gagasan Kreatif Sampah organik yang menjadi masalah di Universitas Singaperbangsa

Karawang mampu dimanfaatkan baik itu menjadi pupuk cair atau padat dari

3

hasil pengkomposan dan menjadi bahan biopori tanah agar penyerapan air tanah (infiltrasi) semakin efektif sehingga mampu mengurangi potensi banjir didaerah sekitar kampus. Sampah organik merupakan penyebab utama TPA (Tempat Pembuangan Akhir) menjadi sangat merugikan lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Karena sampah organik terutama sampah organik basah sangat cepat membusuk yang kemudian menjadi sarang binatang pembawa penyakit.

1.4 Tujuan Penulisan 1. 2. Menjelaskan pengaruh sampah terhadap lingkungan sekitarnya. Menjabarkan pengelolaan sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang 3. Memberi masukan mengenai solusi pengelolaan sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang. 4. Menjelaskan cara memanfaatkan sampah organik menjadi kompos cair dan padat serta pendayagunaan biopori.

1.5 Manfaat Penulisan 1. Dengan tulisan ini diharapkan mampu mengatasi masalah pengelolaan sampah di lingkungan Kampus Universitas

Singaperbangsa Karawang agar lebih ramah lingkungan. 2. Dengan tulisan ini diharapkan agar pembaca atau masyarakat mampu memanfaatkan sampah organik melau solusi yang disampaikan.

4

BAB II TELAAH PUSTAKA

2.1 Sampah Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan (Putra, Aldy. 2012)

2.2 Sampah Anorganik Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng (Suprihatin dalam Nisandi 2007).

2.3 Sampah Organik Menurut Suprihatin (dalam Nisandi 2007), sampah organik yaitu sampah yang terdiri dari bahan –bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam, atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lainnya. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar sampah organik, termasuk sampah organik misalnya : sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah dan daun. (Murtadho dan Said dalam Nisandi 2007) mengklasifikasikan sampah

organik menjadi 2 (dua) kelompok yaitu : 1. Sampah organik yang mudah membusuk (garbage) yaitu limbah padat semi basah berupa bahan-bahan organik yang berasal dari

5

sektor pertanian dan pangan termasuk dari sampah pasar. Sampah ini mempunyai ciri mudah terurai oleh mikroorganisme dan mudah membusuk, karena mempunyai rantai kimia yang relatif pendek. Sampah ini akan menjijikkan jika sudah membusuk apalagi bila terkena genangan air sehingga masyarakat enggan menanganinya. 2. Sampah organik yang tak mudah membusuk (rubish) yaitu limbah padat organik kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme sehingga sulit membusuk. Hal ini karena rantai kimia panjang dan kompleks yang dimilikinya, contoh dari sampah ini adalah kertas dan selulosa. Sampah organik adalah komponen terbesar pada total keseluruhan sampah di Indonesia. Tabel 1.1 Komposisi dan Karakteristik Sampah Rata-Rata No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 total Komponen Organik Kertas Kaca Plastik Logam Kayu Kain Karet Baterai Lain-lain % Kadar Air (%) 47.08 4.97 N kalor (kkal/kg) 674.57 235.55

73.98 10.18 1.75 7.86 2.28 555.46 2.04 0.98 0.32 38.28 1.57 0.63 42.64 0.55 0.02 7.46 0.29 0.86 100 55.3 1553.96 Sumber : Studi Komposisi Dan Karakteristik BPPT, 1994. Dari data tersebut maka komponen sampah organik masih merupakan

komponen terbesar dan menyebabkan tumpukan sampah mempunyai kadar air yang cukup tinggi .karakteristik sampah diatas, maka sehari saja sampah dibiarkan menumpuk maka akan terjadi kegiatan mikroorganisme anarobik yang menyebabkan sampah organik berbau tidak sedap. Disisi lain sampah organik yang tidak terkelola dengan baik akan mengakibatkan

berkembanganya berbagai penyakit.

6

2.4 Kompos Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003 dalam isroi, 2008). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan (Isroi, 2008). Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara. Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005). Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian dan perkebunan. Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Pengomposan secara

7

aerobik melakukan dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik. Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

2.5 Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya: limbah organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit. Tabel 1.2 Bahan Baku Kompos dan Komposisi C/N Ratio No Jenis Bahan C/N Ratio (%) 20 19 60 170 35 15 450 7 10 100 12 Kadar air (%) 85 85 40 10 80 80 15 7 10 100 50 C (%) 6 6 24 36 8 8 34 30 25 36 20 N (%) 0.3 0.3 0.4 0.2 0.2 0.5 0.8 4.3 2.5 0.4 1.7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Potongan Kertas Gulma/rumput Daun Tanaman Kertas Limbah Buah-buahan Limbah Makanan Serbuk Gergaji Kotoran Ayam Sekam Alas Kandang Ayam Jerami Padi Kotoran Kambing/Sapi

8

Sumber: CSR KIIC 2012 2.6 Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan (Isroi, 2008). 1. Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 20: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 20 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat. 2. Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut. 3. Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan(kelembapan). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos. 4. Porositas Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara.

9

Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu. 5. Kelembapan (Moisture content) Kelembapan memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembapan 40 - 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembapan di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembapan 15%. Apabila kelembapan lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. 6. Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. 7. pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan

10

penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral. 8. Kandungan Hara Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan. 9. Kandungan Bahan Berbahaya Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan. 10. Lama pengomposan Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Tabel 1.3 Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan Kondisi Rasio C/N Kelembapan Konsentrasi oksigen tersedia Ukuran partikel Bulk Density pH Suhu Konsisi yang bisa diterima 20:1 s/d 40:1 40 – 65 % > 5% 1 inchi 1000 lbs/cu yd 5.5 – 9.0 43 – 66oC Ideal 25-35:1 45 – 62 % berat > 10% Bervariasi 1000 lbs/cu yd 6.5 – 8.0 54 -60oC

2.7 Biopori Biopori berasal dari kata Bio (artinya makhluk hidup) dan Pori (artinya lubang), jadi Biopori dapat diartikan sebagai lubang yang terbentuk akibat aktivitas makhluk hidup (mikroba). Lubang Resapan Biopori (LRB)
11

merupakan teknologi sederhana yang dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor. Latar belakang penemuan teknologi Lubang Resapan Biopori ini adalah sering terjadinya banjir di kota-kota besar di Indonesia yang dikarenakan kurangnya daerah resapan air di daerah tersebut. Teknologi Biopori berfungsi untuk meresapkan air ke dalam tanah sehingga air tidak menggenang di permukaan tanah. Selain itu, lubang penampang Biopori juga bisa digunakan untuk membuat kompos dengan cara memasukkan sampah organik ke dalam lubang penampang Biopori (Pandhu,

Aditya .2011)

2.8 Pemecahan Masalah Yang Pernah Dilakukan Model pengelolaan sampah padat telah banyak berkembang di berbagai negara, kota dan diberbagai instasi yang berkepentingan . Tahapan model pengelolaan sampah padat cenderung sama yaitu; tahapan pertama pengumpulan & penyimpanan dilokasi sumber, tahapan kedua tahap

pengankutaun & pensortiran, dan tahapan akhir tahap pemusnahan atau pengolahan sampah. Model pengelolaan sampah padat kampus juga telah di terapkan di Universitas Sumatera Utara, dengan tahapan 1. Sampah diambil dari tempat sampah sementara ke tempat pengangkut. 2. Dibawa ke penampungan sementara atau ke pembuangan/ pengolahan akhir yang berada didalam kampus. Pengolahan sampah di Universitas Sumatera Utara dibagi menjadi dua yaitu pengolahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos dan biogas, sedangkan sampah anorganik dapat dimanfaatkan dengan cara sebagai berikut: a) Dijual ke pasar barang bekas: Sisi lain dari pemanfaatan sampah anorganik, seperti kertas bekas, koran dan majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio dan TV tua adalah dijual ke pasar barang bekas.

12

b) Daur ulang: Berbicara mengenai proses daur ulang sampah, ada baiknya bila mengetahui jenis sampah yang dapat di daur ulang. Sampah yang dapat di daur ulang, antara lain: sampah plastik, sampah logam, sampah kertas, dan sampah kaca. c) Sanitary landfill: Merupakan pemusnahan sampah dengan jalan menimbun sampah dengan tanah yang sebelumnya diratakan dan dipadatkan (demikian juga tanah penutupnya) setiap hari sehabis kerja. Pada bagian dasar tempat tersebut dilengkapi system saluran leachate yang berfungsi sebagai saluran limbah cair sampah yang harus diolah terlebih dulu sebelum dibuang ke sungai atau ke lingkungan. Di sanitary landfill tersebut juga dipasang pipa gas untuk mengalirkan gas hasil aktivitas penguraian sampah. d) Pembakaran: Sampah padat dibakar di dalam incenerator. Hasil pembakaran berupa gas dan residu pembakaran. Cara ini relatif lebih mahal dibanding dengan sanitary landfill. (Iskandar, 2006 dalam Julismin 2011).

13

BAB III METODE PENULISAN

3.1 Pemilihan Masalah Jenis penulisan ini lebih berdasar pada studi pustaka dan di dukung oleh data primer. Pemilihan masalah mengenai tidak adanya pegelolaan sampah yang baik di Universitas Singaperbangsa Karawang dianggap serius karena sangat merugikan masyarakat di sekitar tempat pembuangan sampah Universitas Singaperbangsa Karawang karena selain menimbulkan bau yang tidak sedap, sampah organik yang tidak mengalami proses dekomposisi yang sempurna merupakan tempat bersarangnya kuman, bakteri dan binatang pengearat yang kemudian menjadikan tempat pembuangan sampah menjadi sarang penyakit. Maka dari itu masalah tersebut dianggap penting.

3.2 Pengumpulan Data Data yang dipakai untuk membuat penulisan ini diperoleh dari hasil telaah pustaka melalui buku-buku, artikel, ataupun website yang berhubungan dengan masalah yang ada dalam penulisan ini. Data primer juda didapat melalui wawancara baik itu dari pedagang kantin, pekerja kebersihan lapangan, dokter, ketua himagro, serta ketua yayasan CSR (Corporate Social Responsibility) Kawasan Industri di Karawang.

3.3 Pengolahan Data Data yang diperoleh langsung diolah dengan menggunakan

pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

14

Bagan 1.1 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

website

buku

dikumpulkan

Filtrasi Data

Data Primer

Data yang valid

Diolah dan Dianalisis

Seperti yang telah dijelaskan data mengenai masalah ini didapatkan dari beberapa sumber yaitu website , buku , uji coba, observasi dan

wawancara sebagai data primer. Data-data tersebut kemudian dikumpulkan dan melalui proses pemilahan data-data yang lebih sesuai topik. Setelah mendapatkan data-data yang valid kemudian dilakukang pengolahan dan penganalisisan data-data tersebut.

3.4 Teknik Analisis Sintesis Data Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analitis sintesis dalam menganalisa data-data serta permasalahan yang ada dalam tulisan ini. Analitis sintetis yang ideal dengan mengembangkan pertanyaan terus menerus lalu menyempitkan fokus, sesuai tema dan topik dalam penilisan ini. Berikut adalah bagan dari analitis sintesis dari permasalahan ini.

15

Bagan 1.2 Analitsi Sintesis Permasalahan dalam Penulisan
 Lingkungan bersih  Sumber penyakit berkurang  Mengurangi kemungkinan banjir  Menghasilkan sesuatu yang bermanfaat Pengelolaan (kompos) sampah padat berkelanjutan

Pengelolaan sampah padat kurang baik

Pengelolaan sampah di Kampus UNSIKA

organik  Sumber penyakit  Pencemaran lingkungan Composting Pupuk Kompos cair Pupuk kompos padat

anorganik biopori

3.5 Pengambilan Kesimpulan& Rekomendasi Kesimpulan diambil dari hasil penyaringan dan pengolahan data-data primer dan sekunder yang dapat menopang hasil pembahasan dalam karya ilmiah ini yang kemudian menjadi landasan pembuatan rekomendasi mengenai strategi pengelolaan sampah. Sehingga sampah tidak lagi menjadi masalah di Universitas Singaperbangsa Karawang khususnya bagi

masyarakat di sekitar tempat pembuangan sampah. Sampah bisa sangat bermanfaat bila diolah secara benar dan sangat bermanfaat secara ekonomi, lingkngan, atau bagi tanaman maupun tanah.

16

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS

4.1

Pengaruh Sampah Terhadap Lingkungan Universitas Singaperbangsa Karawang Pengelolaan Sampah di suatu daerah tentu akan membawa pengaruh

terhadap lingkungan atau masyarakat di sekitarnya. Bila pengelolaan sampah dilakukan dengan baik tentu akan membawa pengaruh baik bagi lingkungan atau masyarakat disekitarnya. Begitu pula bila pengeloaan sampah kurang baik akan membawa pengaruh negatif pula bagi lingkungan. Sampah akan sangat beermanfaat bila mampu dimanfaatkan dengan benar namun akan menjadi masalah bila pengelolaannya dilakukan dengan kurang bijak. dr. Dewi Aristi mengatakan keberadaan sampah yang belum mengalami pengolahan atau yang tertumpuk di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sangat merugikan masyarakat baik dari faktor fisik sampah tersebut seperti bau, tempat bersarang binatang pembawa penyakit secara kimiawi sampah juga mencemari tanah dan air. Pengelolaan sampah yang kurang baik juga menyebabkan estetika lingkungan yang kurang sedap dipandang mata juga mampu menganggu kesegaran udara lingkungan masyarakat sekitar. Daerah sekitar kampus merupakan daerah rawan banjir sehingga ketika musim penghujan, sampah yang menumpuk dapat menyebabkan pencemaran pada sumber air permukaan ataupun pada sumur-sumur dangkal. Menurut warga di sekitar TPA, keberadaan TPA sedikit banyak menganggu aktifitas warga. Selain bau yang cukup menyengat dan sumber penyakit, daerah sekitar kampus juga merupakan daerah rawan banjir sehingga ketika air sungai citarum naik, semua sampah juga ikut mengenangi rumah warga. Hal yang juga sangat memprihatinkan adalah

17

ketika banyak anak-anak yang bermain disekitar TPA yang merupakan akses satu-satunya menuju jalan raya. Daerah pembuangan sampah juga merupakan tempat bermain anakanak yang sebenarnya sangat tidak dianjurkan. Menurut dr. Dewi, untuk pengaruh keberadaan sampah di tempat bermain anak sebenarnya tidak menimbulkan penyakit spesifik pada anak karena baik pada anak maupun dewasa menyebabkan penyakit yang sama seperti pest (tikus), diare (lalat) dan lain-lain. Namun yang membedakan adalah gejalanya, anak-anak menjadi lebih rentan karena pertahan tubuh yang belum sempurna sehingga gejala menjadi lebih berat pada anak-anak. Seperti yang telah dijelaskan sampah juga bisa memberi pengaruh positif bagi lingkungan disekitarnya bila pengeloloaannya dilakukan dengan benar, diantaranya : 1. Sampah yang telah dipilah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah. 2. Pengelolaan sampah yang benar menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga dan binatang pengerat yang merupakan hewan sumber penyakit. 3. Menurunkan insiden kasus menular yang erat hubunganya dengan sampah. 4. Keadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kemajuan budaya masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan sampah yang benar sangat diperlukan khususnya di Universitas-universitas yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat disekitarnya.

4.2

Pengelolaan Sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang Pengelolaan sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang hanya

berakhir pada bagaimana menjaga kampus ini tetap bersih, namun kurang memperhatikan pengolahan sampah yang jumlahnya tidak sedikit

18

Seperti yang diutarakan salah satu petugas kebersiahan dan pedagang kantin sampah-sampah baik itu sampah organik kering atau basah serta sampah anorganik belum mengalami pemisahan dan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di areal belakang kampus. Diakui kebersihan didalam kampus sendiri cukup baik berdasarkan keterangan sebagian besar mahasiswa. Namun, pengelolaan sampah yang hanya bertujuan menjaga

kebersihan didalam areal kampus kurang cukup baik karena bagaimanapun sampah yang belum mengalami pengolahan akan menjadi masalah baru di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Tempat pembuangan akhir sampah Universitas Singaperbangsa Karawang sendiri berada di area belakang kampus yang jaraknya berdekatan dengan pemukiman penduduk. Menurut dr. Dewi Aristi jarak aman antara TPA dan pemukiman harus lebih dari 100 m, sedangkan jarak TPA Universitas Singaperbangsa Karawang hanya berjarak kurang dari 50 m dari pemukiman. Jelas keberadaan TPA tersebut sangat tidak menguntungkan bagi warga. Seperti yang telah diketaui sampah yang menumpuk dan membusuk didekat tempat hidup manusia dapat menjadi sarang kuman dan binatang, selanjutnya dapat mengganggu kesehatan manusia baik badan maupun jiwa. Seperti yang telah diketahui bahwa sampah yang membusuk dan menimbulkan banyak penyakit adalah sampah organik. Hal ini juga dikeluhkan oleh petugas kebersihan yang menyatakan sampah paling mengganggu adalah keberadaan sampah organik dari bahan makanan yang bersal dari kantin kampus. Sampah organik bila didiamkan selama 24 jam akan menghasilkan bau yang menyengat. Bau itu berasal dari gas hasil pembusukan yang tidak sempurna dari bahan makanan tersebut yaitu metahana (CH4) dan hidrogen sulfida (H2S). Oleh karena itu Universitas Singaperbangsa Karawang harus menerapkan sistem pengelolaan sampah organik yang baik untuk mengatasi masalah tersebut.

19

Bagan 1.3 Prosedur Pengelolaan Sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang
Petugas Kebersihan

4.3

Solusi Pengelolaan Sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang Pengelolaan sampah yang baik sudah menjadi syarat mutlak bagi

terciptanya lingkungan yang sehat. Begitu pula yang diharapkan terjadi di Universitas Singaperbangsa Karawang. Pengelolaan kebersihan seharusnya tidak cukup berhenti di tingkat ‘menjaga lingkungan dalam kampus tetap bersih’ tetapi juga menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitar kampus, memberi manfaat serta menjadi contoh bagi masyarakat disekitarnya. Pengelolaan sampah sebenarnya mampu dilaksanakan dengan sederhana namun berimbas luar biasa kepada lingkungan disekitarnya. Seperti yang telah disampaikan bahwa pengelolaan sampah yang benar mampu memberi pengaruh positif bagi lingkungan disekitarnya. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diambil dalam melakukan pengelolaan sampah : 1. Pemisahan antara sampah organik dan anorganik Pemisahan sampah organik dan organik merupakan ujung tombak dari pengelolaan sampah yang baik. Namun, perlu dilakukan pengedukasian kepada mahasiswa/i dalam proses pelaksanaannya. Tidak sedikit kejadian yang terjadi setelah diberikan tempat sampah yang berbeda masyarakat masih membuang sampah secara sembarangan, contohnya di sepanjang jalan bypass karawang tempat sampah organik dan anorganik hanya

20

menjadi pajangan saja, sedangkan masyarakat masih membuang sampah pada tempat sampah yang belum terpisah. Ada beberapa penyebab kejadian ini terjadi 1. Masyarakat belum terbiasa dalam sistem pengelolaan sampah yang baru. 2. Masyarakat belum mengetahui sampah apa yang harus dimasukan ke tempat sampah mana. Kejadian ini diharapkan tidak terjadi bila pemisahan tempat sampah mulai diterapkan di Universitas Singaperbangsa Karawang. Ada beberapa solusi dalam mengatasi masalah tersebut 1. Dilakukan penyuluhan di setiap fakultas/program studi, serta kepada seluruh masyarakat Universitas Singaperbangsa Karawang tentang kegiatan pemisahan sampah dalam rangka pengelolaan sampah yang lebih baik. 2. Memberi label pada setiap tempat sampah (organik dan anorganik) barang/bahan apa saja yang seharusnya dibuang pada tempat sampah tersebut. 3. Semua tempat sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang baik di dalam maupun diluar gedung diubah menjadi tempat sampah organik dan anorganik tanpa terkecuali. 2. Penyortiran Sampah oleh Petugas Kebersihan. Pemisahan sampah organik dan anorganik tentu tidak berhenti hanya di tempat sampah saja. Namun, diperlukan langkah selanjutnya yaitu pensortiran sampah oleh petugas kebersihan. Akan terasa percuma bila sampah yang telah terpisah akan bersatu kembali bila petugas kebersihan belum memahami mengenai pengelolaan sampah yang baru. Maka dari itu, perlu penyuluhan pula bagi petugas kebersiahan mengenai pensortiran sampah organik dan anorganik. Sampah yang telah terpisah, harus dalam keadaan terpisah pula dalam kendali petugas kebersihan kemudian setelah seluruh sampah dalam kampus

21

terkumpul, petugas kebersihan dapat memberikan sampah-sampah tersebut kepada pihak yang selanjutnya bertangggung jawab.

3. Pengolahan Sampah Pengolahan sampah merupakan hal inti dalam pengelolaan sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang. Sehingga sampah tidak menjadi masalah tetapi memberi manfaat. Berikut beberapa solusi dalam pengolahan sampah organik dan anorganik. 1. Sampah Anorganik Sampah Anorganik bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, bisa pula dilakukan recylce atau pendaur ulangan bahan-bahan anorganik seperti botol, plastik, dan lain-lain. Untuk pengolahan sampah anorganik pihak Universitas Singaperbangsa Karawang juga bisa berkerja sama dengan pihak-pihak yang lebih berkompeten mengolah sampah anorganik. 2. Sampah Organik Sampah organik merupakan sampah yang seringkali menjadi masalah utama di TPA (tempat pembuangan akhir) yang ada disemua daerah. Hal ini disebabkan karena sampah organik khususnya sampah organik basah (sisa makanan dan lain-lain) sangat mudah membusuk sehingga sering menjadi sarang binatang pembawa penyakit dan menimbulkan bau yang cukup menyengat. Oleh karena itu diperlukan penanganan yang baik agar sampah organik ini bisa menjadi manfaat bukan masalah. Banyak pilihan yang dapat diambil dalam pemanfaatan sampah organik ini. Salah satunya adalah pembuatan kompos baik itu menjadi pupuk cair maupun padat serta pendaya gunaan biopori yang bahan dasarnya adalah sampah organik. Himagrotek (Himpunan Mahasiswa Agroteknologi) di bawah Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa, yang cukup

memahami mengenai masalah pengolahan sampah organik merasa siap menjalankan program pengolahan sampah organik menjadi

22

kompos baik itu pupuk cair atau padat serta mendaya gunakan biopori disekitar daerah kampus yang rawan banjir. Kegiatan ini nantinya akan melibatkan seluruh elemen himagrotek dan tidak menutup kemungkinan seluruh elemen universitas yang berniat mempelajari mengenai pengomposan atau pendayagunaan biopori. Bagan 1.4 Prosedur Pengeloaan Sampah yang Direkomendasikan
HIMAGROTEK (Fakultas Pertanian UNSIKA)

Petugas Kebersihan

4.4

Cara Pemanfaatan Sampah Organik a. Pengomposan Cara paling umum dalam pemanfaatan sampah organik adalah dengan melakukan pengomposan. Namun, tidak banyak yang mengetahui mengenai cara pengomposan yang benar, untuk pengomposan sendiri hasil yang dihasilkan bisa merupakan pupuk cair atau padat. Cara yang digunakan untuk menghasilkan pupuk cair dan padat pun berbeda namun tetap mengalami proses dekomposisi.

23

1. Pupuk Padat Untuk membuat pupuk padat diperlukan satu perhitungan agar kadar C/N ratio pupuk dapat memenuhi kebutuhan tanaman yaitu C/N ratio sebesar 20-40. Ini diperlukan karena kandungan hara dalam pupuk kompos padat cukup kecil. Tabel 1.4 C/N ratio bahan-bahan pengomposan No Jenis Bahan C/N Ratio (%) 20 19 60 170 35 15 450 7 10 100 12 Kadar air (%) 85 85 40 10 80 80 15 7 10 100 50 C (%) N (%)

1 Potongan Kertas 6 0.3 2 Gulma/rumput 6 0.3 3 Daun Tanaman 24 0.4 4 Kertas 36 0.2 5 Limbah Buah-buahan 8 0.2 6 Limbah Makanan 8 0.5 7 Serbuk Gergaji 34 0.8 8 Kotoran Ayam 30 4.3 9 Sekam Alas Kandang Ayam 25 2.5 10 Jerami Padi 36 0.4 11 Kotoran Kambing/Sapi 20 1.7 Sumber: CSR KIIC 2012 Dalam perhitungan besaran C/N ratio yang diperlukan, perbandingan yang dapat digunakan adalah 4:4:1 atau 5:4:1 perbandingan ini bersifat bebas dan dapat berubah misalnya jika bahan pengomposan yang tersedia hanya dua maka bisa pula menggunakan perbandingan 5:4 Contoh: Bahan pengomposan yang tersedia : potongan rumput, daun tanaman dan kotoran ternak maka perbandingan yang dapat digunakan adalah 4:4:1 Nilai C/N ratio kompos

=

31

ideal untuk pupuk kompos padat

24

Setelah menentukan bahan yang akan dikomposkan berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan pupuk kompos padat a. Letakan semua bahan yang telah disiapkan disuatu tempat kemudian aduk hingga rata. b. Setelah proses pengdukan lalu campurkan dekomposer yang bertujuan mempercepat proses dekomposisi. c. Campuran bahan kompos dan dekomposer tidak boleh terlalu basah atau kering, cukup hingga campuran lembab namun bila diperas tidak mengeluarkan air d. Lalu tutup mengunakan terpal atau penutup lainnya e. Dalam berjalannya proses selama dua minggu keadaan suhu dalam pengkomposan juga harus dijaga setiap harinya. Bila dirasa cukup panas (sekitar 60oC) terpal harus dibuka dan diaduk karena bila suhu pengkomposan terlalu panas maka mikroorganisme akan mati. f. Setelah proses dua minggu dan suhu dalam pengomposan sudah stabil maka kompos padat telah siap diaplikasikan ke tanaman. 2. Pupuk Kompos Cair Cara pembuatan pupuk kompos cair berbeda dengan pupuk kompos padat, pembuatan pupuk kompos cair tidak

memerlukan perhitungan seperti pupuk kompos padat karena pupuk kompos cair merupakan hasil ekstrak dari

pengkomposan yang berupa cairan (kandungan hara tinggi). Bahan baku organik yang digunakan untuk pupuk kopos cair biasanya merupakan sampah organik basah seperti sisa makanan namun bisa juga ditambahkan sampah organik kering seperti potongan daun, kertas dan lain-lain. Pembuatan pupuk kompos cair juga memerlukan alat komposter rumah tangga yaitu tempat pembuatan pupuk cair yang berupa tong besar disertai keran pada ujung bawah tong

25

serta

mempunyai

saringan

dalam

komposter

tersebut.

Komposter rumah tangga dapat dibuat dengan cara sederhana. Langkah-langkah pembuatan Komposter Rumah Tangga : a. Sediakan tong beserta tutupnya, keran, kayu/pipa paralon, serta ban luar bekas. b. Keran di pasang di ujung paling bawah tong. c. Pembuatan saringan dalam tong dapat dibuat dari tutup tong yang telah ada, lubangi tutup tong mengunakan bor atau alat lainnya. Ban luar bekas digunakan untuk melapisi pinggiran tutup tong agar pas dengan diameter tong. Kayu/pipa paralon digunakan untuk menahan saringan dalam tong untuk menahan berat bahan organik yang di komposkan. d. Tinggi saringan dari permukaan bawah tong setinggi 30 cm. e. Untuk penutup tong sendiri bisa digunakan terpal atau benda lain yang bisa menutup tong tersebut. Setelah komposter siap digunakan berikut langkah-langkah pembuatan pupuk kompos cair : a. Rajam/cincang sampah organik hingga ukuran kecil kurang lebih 2cm. b. Campurkan dekomposer hingga merata. g. Penambahan dekomposer dianggap cukup ketika

campuran bahan organik lembab namun bila diperas tidak mengeluarkan air. c. Masukan sampah organik yang telah tercampur merapa pada komposter. Penambahan sampah organik dapat dilakukan setiap hari dan berulang-ulang hingga

komposter terisi penuh. d. Tutup komposter dengan rapat. e. Pada awal pembuatan pupuk kompos cair, komposter mampu menghasilkan pupuk kompos cair minimum dua

26

minggu, setelah itu pupuk kompos cair bisa dihasilkan setiap hari oleh komposter.

3. Manfaat Kompos Bagi Lingkungan Kampus a. Dapat digunakan dalam proses budidaya tanaman di areal kampus b. Membuat proses budidaya di areal kampus lebih ramah lingkungan karena pemakaian pupuk organik cair maupun padat. c. Pengembangan potensi agribisnis

4. Pendayagunaan Biopori Sampah organik juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan biopori. Pendayagunaan biopori sangat dibutuhakan agar penyerapan air (infiltrasi) mampu dimaksimalkan untuk mengurangi potensi banjir di suatu daerah. Seperti yang telah diketahui bersama, Universitas Singaperbangsa Karawang berada pada daerah rawan banjir. Oleh karena itu pendayagunaan biopori dirasa penting selain untuk memanfaatkan sampah organik yang ada. Berikut adalah alat dan bahan yang perlu disiapkan: 1. Bor biopori 2. Pipa paralon (10-20cm) 3. Sampah organik Cara pembuatan biopori : a. Carilah tempat yang sesuai untuk membuat lubang resapan biopori (seperti: taman, halaman, atau pekarangan rumah) b. Buat lubang vertikal berdiameter 10 - 30 cm dengan kedalaman 100 cm menggunakan bor c. Setelah terbentuk lubang, masukkan pipa ke dalam lubang. Pemasangan pipa ini bertujuan untuk mencegah terjadinya longsor di dalam lubang penampang resapan biopori

27

d. Masukkan sampah organik ke dalam lubang penampang Biopori. Sampah organik mengundang datangnya mikroba yang berujung pada terbentuknya Biopori. Sampah organik juga bisa dipanen sebagai pupuk kompos setelah beberapa lama dipendam.

5. Manfaat Pendayagunaan Biopori Bagi Lingkungan Kampus a. meningkatkan daya resapan air di areal kampus dan sekitarnya b. meningkatkan cadangan air tanah di areal kampus dan sekitarnya c. meminimalisir potensi banjir di areal kampus dan sekitarnya d. mencegah erosi dan longsor di areal sekitar kampus e. Memelihara areal kampus yang merupakan DAS (Daerah Aliran Sungai)
Citarum

28

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1

Kesimpulan 1. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membawa pengaruh negatif pula bagi lingkungan disekitar Universitas Singaperbangsa Karawang. Sangat merugikan masyarakat baik dari faktor fisik sampah tersebut seperti bau, tempat bersarang binatang pembawa penyakit secara kimiawi sampah juga mencemari tanah dan air. 2. Pengelolaan sampah di Universitas Singaperbangsa Karawang hanya berakhir pada bagaimana menjaga kampus ini tetap bersih namun belum pada pengelolaan sampah yang berkelanjutan. 3. Solusi yang dapat diambil dalam melakukan pengelolaan sampah : pemisahan antara sampah organik dan anorganik, penyortiran sampah oleh petugas kebersihan, dan pengolahan sampah. 4. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos baik itu cair maupun padat, serta digunakaan dalam pendayagunaan biopori

5.2

Rekomendasi 1. Melakukan penelitian-penelitian selanjutnya mengenai pengolahan sampah organik. 2. Diperlukan kepedulian dan kerjasama seluruh civitas akademika Universitas Singaperbangsa Karawang dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pengolahan sampah organik.

29

DAFTAR PUSTAKA

Author, 2010. Diperlukan Design Kota Tanpa TPA. http://masalahsampah.info /2010/12/diperlukan-desain -kota-tanpa-tpa.html 20 Februari 2012 Dahlia, 2010. Keluhan gangguan kulit pada petugas pengelola sampah. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20777/4/Chapter%20II.p df. 24 Februari 2012 Gaur, D. C. 1980. Present Status of Composting and Agricultural Aspect, in: Hesse, P. R. (ed). Improvig Soil Fertility Through Organic Recycling, Compost Technology. FAO of United Nation. New Delhi. 19 Februari 2012 Isroi. 2008. KOMPOS. Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. http://petroganik.blogspot.com/2008/03/kompos.html. 7 Maret 2012 Julismin, 2011. Pengelolaan Sampah USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/ 123456789/30162/3/Chapter%20II.pdf. 20 Februari 2012 Mungkasa dalam Nisandi, 2007.Pengolahan Dan Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Briket Arang Dan Asap Cair. 19 Februari 2012 Murtadho dan Said dalam Nisandi 2007. Pengolahan Dan Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Briket Arang Dan Asap Cair. 19 Februari 2012 Nisandi, 2007. Pengolahan Dan Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Briket Arang Dan Asap Cair. 19 Februari 2012 Pandhu , aditya. 2011. Lubang Resapan Biopori. http://adityapandhu.blogspot.com/2011/ 12/lubang-resapan-biopori.html. 20 Februari 2012

Putra, Aldy. 2012. Pengertian Sampah Organik dan Sampah Non-Organik. http://aldyputra.net/2012/01/pengertian-sampah-organik-dan-nonorganik/. 20 Februari 2012 Rohendi, E. 2005. Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta, sebuah prosiding. 20 Februari 2012 Suprihatin dalam Nisandi, 2007. Pengolahan Dan Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Briket Arang Dan Asap Cair. 19 Februari 2012

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->