P. 1
Bahan Biokim Urin,Salifa

Bahan Biokim Urin,Salifa

|Views: 411|Likes:
Published by Kaka Vhee

More info:

Published by: Kaka Vhee on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

Enzim adalah biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi

) dalam suatu reaksi kimia. Amilase merupakan enzim pencernaan yang terdapat didalam air liur, yang dapat memecah karbohidrat kompleks seperti pati menjadi gula sedrhana seperti glukosa (The Nuttall Encyclopedia ). Menurut Guyton & Hall dalam Textbook of Medical Physiology, air liur atau saliva mengandung dua tipe pengeluaran atau sekresi cairan yang utama yakni sekresi serus yang mengandung ptyalin (suatu alfa amylase) yang merupakan enzim untuk mencernakan karbohidrat dan sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan atau perlindungan permukaan yang sebagian besar dihasilkan oleh kelenjar parotis. Faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas enzim antara lain konsentrasi enzim dan substrat, suhu, pH, dan indikator. Aktivitas enzim meningkat bersamaan dengan peningkatan suhu hingga mencapai suhu optimum, laju berbagai proses metabolisme akan naik sampai batasan suhu maksimal. Prinsip biologis utama adalah homeostatis, yaitu keadaan dalam tubuh yang selalu mempertahankan keadaan normalnya. Perubahan relatif kecil saja dapat mempengaruhi aktivitas banyak enzim. Selain itu, adanya inhibitor non kompetitif irreversibel dan antiseptik dapat menurunkan aktivitas enzim (Suwandi M et al. 1989). Spesifisitas enzim sangat tinggi terhadap substratnya, dan enzim mempercepat reaksi kimia spesifik tanpa pembentukan produk samping. Enzim ini bekerja dalam cairan larutan encer, suhu, dan pH yang sesuai dengan kondisi fisiologis biologis. Melalui aktivitasnya, sistem enzim terkoordinasi dengan baik sehingga menghasilkan hubungan yang harmonis di antara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda, semuanya mengacu untuk menunjang kehidupan. Enzim merupakan suatu protein, maka sintesisnya dalam tubuh diatur dan dikendalikan oleh sistem genetik, seperti halnya dengan sintesis protein pada umumnya (Panil & Zulbadar 2004). Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Jepang pada tahun 2001 seperti yang dikutip dari air ludah mengandung 40 sampai 50 protein. Tiap protein punya fungsi yang berbeda-beda. Satu protein untuk menangkal debu, sinar, dan bahan kimia. Dari 50 protein itu di dalamnya ada 3 protein yang khusus untuk mikroorganisme. air liur mengandung beberapa faktor yang menghancurkan bakteri salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa cairan proteolitik terutama lisosim yang menghancurkan bakteri,membantu ion tiosianat membunuh bakteri,mencerna partikel makanan dan air liur mengandung antibody protein yang menghancurkan bakteri.Atas khasiat itulah, diyakini air liurnya bisa bermanfaat bagi gangguan mata, seperti katarak, rabun jauh dan dekat, atau gangguan mata karena cedera seperti terbentur, terkena benda tumpul maupun benda tajam (http://republika.co.id/berita/24296.html). Air liur atau saliva sebagian besar diproduksi oleh tiga kelenjar utama yakni kelenjar parotis, kelenjar sublingual dan kelenjar submandibula. Volume air liur yang diproduksi bervariasi yaitu 0,5 – 1,5 liter setiap hari tergantung pada tingkat perangsangannya. Keberadaan saliva sangat penting bagi rongga mulut, di mana ia memiliki efek buffer yaitu menjaga keseimbangan cairan, dan menjaga rongga mulut dalam keadaan moist. penurunan produksi saliva mengakibatkan mulut menjadi terasa kering. Bakteri juga berkembang lebih pesat. Bakteri yang memetabolisme karbohidrat akan menghasilkan senyawa sulfur atau yang biasa disebut VSC (Volatile Sulfur Compound), gas inilah yang menyebabkan bau mulut (Anonim 2008).

Enzim yang diuji adalah enzim amilase saliva. Pengujian enzim meliputi uji sifat dan susunan air liur, pengaruh suhu dan pH terhadap aktivitas amilase air liur, dan hidrolisis pati matang dan pati mentah oleh amilase air liur. Sifat dan susunan air liur diuji melalui beberapa pengujian yakni untuk bobot jenis air liur diukur melalui urinometer, derajat keasaman air liur melalui uji reaksi lakmus PP dan MO, keberadaan ikatan peptidaterkandung melalui uji biuret, kandungan protein melalui uji milon, kandungan karbohidrat melalui uji molisch, kandungan mineral melalui uji klorida, sulfat, dan uji fosfat, dan uji musin untuk mengetahui kandungan enzim musin dalam air liur. Urinometer adalah hidrometer untuk menentukan bobot jenis dari urin dan ditera khusus untuk penentuan tersebut. Namun kali ini urinometer digunakan untuk mengukur bobot jenis air liur. Urinometer memiliki skala 1.000-1.060 (tiga desimal) dan umumnya dipergunakan pada temperatur 60oF atau 15,55 oC. Jika temperatur cairan yang akan diukur bukan 15,55oC, maka harus diadakan koreksi. Koreksi tersebut dilakukan dengan cara menambah angka satu pada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3o di atas temperatur peneraan atau mengurangi 1 angka pada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3o di bawah temperatur peneraan. Setelah melakukan pengujian dengan urinometer, diperoleh nilai bobot jenis air liur terukur sebesar 1.002 g/ml dengan suhu alat 20o C dan suhu air liur 28’C, sehingga setelah melalui perhitungan didapat bobot jenis air liur terkoreksi sebesar 1.005 g/ml. Uji reaksi lakmus PP dan MO digunakan untuk menentukan derajat keasaman air liur. PP merupakan pereaksi yang tak berwarna pada pH asam, sedangkan MO merupakan pereaksi yang berwarna orange pada pH asam. Fenolftalein (PP) memiliki rentang pH 8.0 – 9.3 dengan perubahan warna dari tak berwarna menjadi merah muda. Sementara itu, metil orange (MO) memiliki rentang pH 3.1 – 4.4 dengan perubahan warna dari merah menjadi kuning (Harjadi 1086). Air liur yang telah ditetesi pereaksi PP dan MO masing-masing menghasilkan tak berwarna dan warna orange. Tidak berubahnya warna pereaksi setelah dicampur air liur menunjukkan bahwa air liur memiliki pH asam. Kisaran pH air liur antara 6.2 hingga 7.6 dengan rata-rata 6.7 (Girindra 1988). Air liur menghasilkan reaksi positif melalui uji biuret yakni dengan menimbulkan warna ungu. Reaksi positif ini akibat pembentukan senyawa kompleks Cu2+, gugus –CO dan –NH dari rantai peptida dalam suasana basa. Hal ini menunjukkan ikatan peptida dalam air liur masih ada dan belum rusak akibat aktivitas enzim amilase saliva. Jika ikatan peptida yang terkandung dalam air liur telah rusak maka warna ungu tidak akan terbentuk melainkan akan terbentuknya endapan. Prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Air liur yang telah mengalami uji millon menghasilkan reaksi positif yakni membentuk endapan. Hal ini menunjukkan air liur mengandung tirosin sebagai asam amino. Uji molisch dilakukan untuk menentukan karbohidrat secara umum yang ada di dalam larutan. Karbohidrat dalam suatu larutan ditandai dengan warna ungu setelah larutan diberi pereaksi Molisch. Selain diberi pereaksi molisch, larutan juga diberi asam sulfat pekat guna

menghidrasi senyawa larutan menjadi senyawa furtural atau senyawa furtural yang tersubsidi seperti hidroksimetil furtural. Air liur yang telah melalui uji molisch menunjukkan reaksi positif yaitu menimbulkan cincin ungu. Hasil ini menunjukkan air liur yang direaksikan mengandung karbohidrat karena praktikan yang menjadi probandus telah sarapan sebelum uji dilakukan. Uji musin yang dilakukan menyebabkan timbulnya endapan berwarna putih akibat penambahan asam asetat. Endapan tersebut berupa lendir atau musin yang dapat dipisahkan melalui kertas saring. Pengendapan musin diperkirakan terjadi akibat denaturasi protein (Kleiner & Dotti 1958). Pengujian mineral yang dikandung air liur dilakukan melalui uji klorida, sulfat dan fosfat. Air liur ditambahkan HNO3 10% dalam uji klorida. HNO3 10% berfungsi untuk mengikat klorida yang terkandung dalam air liur. Setelah itu pH air liur diukur dan menghasilkan pH asam. Larutan air liur kembali ditambahkan AgNO3 yang berfungsi membentuk endapan garam AgCl. Hasil yang ditunjukkan oleh air liur setelah penambahan HNO3 10% dan AgNO3 adalah terbentuknya larutan keruh dengan endapan di dalamnya. Hal ini menunjukkan air liur mengandung mineral klorida dan dapat membentuk endapan garam pada pH asam. Uji sulfat yang dilakukan pada air liur menghasilkan reaksi positif yakni menjadikan larutan yang semula tak berwarna menjadi putih keruh. Hal ini terjadi setelah air liur ditambahkan HCl 10 % yang berfungsi mengikat sulfat yang terkandung di dalam air liur. Reaksi positif yang ditimbulkan ini menunjukkan air liur mengandung mineral sulfat. Uji fosfat dilakukan dengan menambahkan air liur dengan urea 1% dan molibdat. Setelah dilakukan pengocokan, larutan ditambahkan ferosulfat. Hasil yang ditunjukkan adalah positif yakni terbentuknya endapan. Hal ini membuktikan air liur mengandung mineral fosfat. Saliva terdiri atas air sebesar 99.5% dan benda padat sebesar 0.5%. Benda padat yang terdapat di dalam saliva berupa bahan organik dan ion anorganik, yaitu SO42-, PO43-, HCO32-, Cl-, Ca2+, Mg2+, Na+, dan K+ (Girindra 1988). Uji iod dilakukan untuk menentukan pati yang terkandung di dalam air liur. Reaksi positif (warna biru) hanya spesifik dengan pati . Hal ini disebabkan karena dalam larutan pati, terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut (Hart, Harold. 1983. Kimia Organik. Jakarta. Erlangga). Hasil yang ditunjukkan oleh air liur yang telah ditambahkan pereaksi iod pada suhu 10’C, 25’C dan 37’C adalah negatif, sedangkan pada suhu 80’C positif atau membentuk warna biru. Hal ini menunjukkan bahwa pada saliva yang dikondisikan pada suhu 80˚C masih mengandung pati. Hal ini disebabkan enzim α-amilase dalam saliva mampu menghidrolisis pati menjadi unit-unit monosakaridanya. Uji benedict dilakukan untuk menentukan karbohidrat lebih spesifik yaitu gula pereduksi. Hasil uji positif ditunjukkan pada air liur yang diberi pereaksi benedict pada suhu 10’C, 25’C dan 37’C, sedangkan pada suhu 80’C negatif. Hal ini menunjukkan di dalam saliva masih mengandung gula pereduksi yakni karbohidrat. Hal ini dikarenakan aldosa atau ketosa yang merupakan golongan karbohidrat positif berada dalam kesetimbangan dengan sedikit rantai terbuka, sehingga gugus aldosa atau ketosa dapat mereduksi berbagai macam reduktor (Hart, Harold. 1983. Kimia Organik. Jakarta. Erlangga). Persamaan reaksi uji benedict dapat dilihat di bawah ini :

Persamaan Reaksi OO || || R — C — H + Cu2+ [o] R — C — OH + Cu2O ↓ (merah bata) OHUji iod negatif pada saliva yang dicampur dengan larutan ber-pH 5,7, dan 9. Uji iod positif pada larutan ber-pH 1. Hal ini menunjukkan pada pH 1 pati yang terkandung di dalam saliva tidak terhidrolisis sehingga bereaksi positif pada pereaksi iod. Saliva tidak bekerja pada pH dibawah 4 (Girindra 1988). Uji benedict negatif pada larutan saliva ber-pH 1 dan positif pada larutan ber-pH 5,7,dan 9. Hal ini menunjukkan pati yang terkandung di dalam larutan saliva ber-pH 5,7, dan 9 terhidrolisis menjadi monomer-monomernya berupa gula, sehingga bereaksi positif pada pereaksi benedict. Titik akromatik adalah titik disaat suatu campuran tidak lagi berwarna jernih terhadap pereaksi iod. Pengujian pati mentah dan pati matang dengan pereaksi iod dan benedict menghasilkan reaksi negatif pada uji iod dan positif pada uji benedict. Titik akromatik yang diperoleh pati matang pada menit ke-50 dan pati mentah pada menit ke-21. Titik akromatik yang paling cepat terjadi pada pati matang karena sebagian pati yang terkandung telah terhidrolisis melalui pemanasan, sehingga pati yang bereaksi dengan pereaksi iod bekerja semakin cepat. Berbedanya waktu yang dihasilkan dikarenakan berbedanya jumlah saliva yang diuji pada pati mentah dan pati matang yakni jumlah saliva pada pati mentah lebih banyak pada pati matang, sehingga hal ini mempengaruhi titik akromatik pati.
http://abdisukamaenkromosom.wordpress.com/2011/05/31/enzim/ CHICAGO, RABU - Para periset di Amerika Serikat telah mengindentifikasi 1.116 protein unik pada kelenjar saliva atau air liur manusia yang dapat mengarah ke uji diagnostik kedokteran yang lebih nyaman dengan air liur ketimbang menggunakan darah. Sebanyak 20 persen kandungan protein yang ditemukan pada saliva juga ditemukan pada darah, kata Fred Hagen, seorang ahli riset di Universitas Rochester Medical Center, New York. "Kandungan tersebut berpotensi untuk dijadikan sebagai pijakan besar yang banyak berimplikasi klinis dalam hal diagnostik penyakit," kata Hagen yang studinya tersebut dimuat di dalam Jurnal Proteome Research. Para ahli riset berharap uji berdasarkan air liur ini dapat digunakan untuk mendiagnosa kanker, penyakit jantung, diabetes, dan sejumlah penyakit lainnya. "Untuk mampu mendiagnosa penyakit dengan menggunakan air liur, Anda harus memahami secara menyeluruh proteome air liur," kata Hagen. Bagaikan genom, yang mencatat seluruh gen pada sebuah organisme, proteome merupakan gambaran lengkap dari berbagai protein. Apabila gen menyediakan instruksi manual, protein melaksanakan instruksi dengan mengatur proses seluler. Para periset dari 5 universitas - University of Rochester, The Scripps Research Institute, the University of Southern California, The University of California San Francisco and the University of

California Los Angeles -- berupaya menentukan kandungan protein lengkap yang terdapat pada kelenjar air liur pada umumnya. Darah, Air Liur dan Air Mata Para periset tersebut mengumpulkan air liur dari 23 pria dan wanita sehat dari berbagai ras. Periset menggunakan sampel air liur dengan menggunakan spectrometry massa yang menentukan identitas protein berdasarkan ukuran massa dan charge (berat kosong). Periset membandingkan penemuan mereka tersebut dengan pemetaan protein dari darah dan air mata manusia yang ditemukan belakangan. Hasil analisa awal menunjukkan terdapat sejumlah protein yang dikenal berperan dalam Alzheimer, Huntington, Parkinson, kanker payudara, kanker pankreas, kanker colorectal (kanker yang berkembang pada colon atau usus besar dan rectum atau anus), serta diabetes. Hegen menjelaskan pemetaan tersebut seharusnya mempercepat pengembangan media baru untuk melacak penyakit di seluruh tubuh. Menurut Hagen, telah terdapat uji anti body yang berpijak pada air liur untuk mendeteksi virus HIV serta infeksi hepatitis. Hagen menerangkan protein tersebut akan bertugas dalam menginformasikan target deteksi penyakit baru. "Memonitor penyakit serta penggunaan obat dapat dilakukan secara lebih mudah dengan air liur ketimbang dengan darah atau urin," kata Hagen. "Kami membayangkan petunjuk keberadaan penyakit seperti kanker dapat dideteksi hanya dengan melihat indikator air liur. Hal ini akan jauh lebih mudah dilakukan terutama di rumah," jelasnya. Hagen berharap identifikasi penyakit dengan air liur ini nantinya dapat menggantikan fungsi tes diagnostik pada mammograms yang tidak nyaman dan menelan biaya besar. http://nasional.kompas.com/read/2008/03/26/09270643

Air seni atau urin berisi berbagai zat limbah yang dikeluarkan dari tubuh. Namun, selain membuang limbah, urin juga berisi informasi mengenai apa yang terjadi di tubuh Anda. Urin yang mengandung glukosa, terlalu banyak protein, atau zat lainnya dapat menjadi pertanda masalah kesehatan. Urin dapat dievaluasi dari penampilan fisiknya, kandungan zat kimia dan zat mikroskopik di dalamnya. Sedemikian banyak informasi yang dapat kita peroleh dari urin sehingga ada lebih dari 100 tes yang berbeda dapat dilakukan pada urin.

Tes urin digunakan secara luas untuk skrining, diagnosis dan memantau efektivitas pengobatan. Tes urin rutin dapat dilakukan ketika Anda dirawat di rumah sakit atau menjadi bagian dari medical checkup, uji kehamilan atau persiapan operasi.

Penampilan fisik urin
Penampilan fisik urin bisa dilihat dengan pemeriksaan visual. Selama pemeriksaan visual, dokter atau staf laboratorium dapat mengamati warna, kejernihan dan baunya yang akan dikonfirmasi dengan pemeriksaan kimia dan mikroskopis. Penampilan fisik urin yang dapat dilihat dengan observasi langsung adalah: 1. Warna. Warna urin dapat bervariasi dari bening kekuningan sampai gelap kecoklatan. Banyak hal yang berpengaruh pada warna urin, termasuk banyaknya cairan yang Anda minum, jenis makanan yang Anda makan, obat-obatan yang Anda ambil dan penyakit tertentu yang Anda miliki. Bila Anda kurang minum, warna urin cenderung gelap. Dehidrasi dan demam juga menyebabkan urin lebih pekat sehingga berwarna lebih gelap. Bila Anda memakan bit merah, warna urin Anda akan kemerahan karena pigmen bit yang dikeluarkan. Suplemen vitamin B dapat membuat urin berwarna kuning cerah. Obat-obatan dan darah dapat membuat urin berwarna merah kecoklatan. 2. Kejernihan. Urin biasanya jernih. Banyak zat yang dapat menyebabkan urin menjadi keruh. Zat yang menyebabkan kekeruhan namun dianggap normal adalah lendir, sperma dan cairan prostat, sel-sel kulit, kristal urin normal, dan kontaminan seperti salep dan bedak. Zat lain yang bisa membuat urin keruh dan mengindikasikan penyakit adalah sel darah merah, sel darah putih atau bakteri. 3. Bau. Urin berbau sedikit pesing yang khas. Beberapa penyakit menyebabkan perubahan bau urin, misalnya infeksi bakteri E. coli menyebabkan bau tidak sedap dan diabetes menyebabkan bau amis.

Zat kimia di urin
Komposisi kimia urin diketahui dengan pemeriksaan kimia. Untuk keperluan ini, staf laboratorium menggunakan strip-strip reagan yang berisi bahan kimia tertentu. Ketika strip dicelupkan ke dalam urin, strip akan menyerap urin dan reaksi kimia akan mengubah warnanya dalam hitungan detik atau menit. Staf laboratorium atau komputer akan membandingkan perubahan warna pada setiap reaksi dengan bagan warna masing-masing strip penguji untuk menentukan hasil tes. Jenis dan tingkat perubahan warna memberikan jenis dan kadar zat-zat kimia tertentu yang hadir di urin. Kandungan urin yang dapat diketahui dengan pemeriksaan kimia antara lain: 1. Kepekatan. Kepekatan urin (disebut juga osmolalitas atau specific gravity) dapat dihitung dengan berat jenisnya. Berat jenis adalah perbandingan berat urin dengan air murni dalam volume yang sama. Semakin banyak bahan padat dalam urin, semakin tinggi berat jenis urin. Ketika Anda minum banyak cairan, ginjal akan membuat urin yang encer sehingga berat jenisnya rendah. Bila Anda tidak minum cukup cairan, ginjal Anda membuat urin yang pekat sehingga berat jenisnya tinggi. Mengetahui kepekatan urin membantu penyedia layanan kesehatan memutuskan apakah sampel urin yang mereka dapatkan adalah yang terbaik untuk mendeteksi zat tertentu. Misalnya, jika mereka mencari jumlah protein yang sangat kecil di urin, sampel urin yang pekat di pagi hari adalah yang terbaik. 2. Keasaman. Ginjal berperan penting dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Oleh karena itu, kondisi apapun yang menghasilkan asam atau basa dalam tubuh atau konsumsi makanan yang bersifat asam atau basa, secara langsung dapat memengaruhi

3.

4.

5.

6.

7.

pH urin. Keasaman diukur dengan pH. Urin bersifat asam jika pH-nya kurang dari 7, bersifat basa jika pH-nya lebih dari 7. Urin yang bersifat asam berkaitan dengan risiko penyakit asam urat dan batu ginjal. Sebagian besar penyakit degeneratif berkaitan dengan defisiensi mineral yang menyebabkan cairan tubuh, termasuk urin, menjadi lebih asam. Diet dapat digunakan untuk mengendalikan pH urin. Diet tinggi protein akan membuat urin lebih asam. Diet vegetarian, diet rendah karbohidrat, atau konsumsi buah akan membuat urin lebih basa. Protein. Protein biasanya tidak ditemukan dalam urin. Demam, olahraga keras, kehamilan, dan beberapa penyakit dapat menyebabkan protein berada dalam urin. Kondisi di mana terdapat protein di dalam urin disebut proteinuria. Albumin adalah jenis protein yang lebih kecil dari protein lainnnya dan keberadaannya dalam urin mengindikasikan tahap awal kerusakan ginjal. Keberadaan albumin dalam urin disebut albuminuria. Kondisi lain yang dapat menyebabkan proteinuria adalah gangguan yang meningkatkan protein dalam darah, seperti multiple myeloma, kerusakan sel-sel darah merah, peradangan, keganasan (kanker), atau cedera pada saluran kemih. Glukosa. Glukosa adalah jenis gula yang ditemukan dalam darah. Biasanya glukosa sangat sedikit atau tidak ada dalam urin. Ketika tingkat gula darah sangat tinggi– seperti pada diabetes yang tidak terkontrol– ginjal mengekskresikan glukosa ke dalam urin untuk mengurangi konsentrasinya di darah. Keberadaan glukosa dalam urin, yang disebut glukosuria, juga dapat disebabkan oleh gangguan hormonal, penyakit hati, obat-obatan, dan kehamilan. Ketika terjadi glukosuria, tes lain seperti tes glukosa darah biasanya dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab yang lebih spesifik. Keton. Bila karbohidrat tidak tersedia, tubuh memetabolisme lemak untuk mendapatkan energi yang dibutuhkan. Pemecahan lemak untuk energi menghasilkan zat limbah yang disebut keton. Keton biasanya tidak ditemukan dalam urin. Sejumlah besar keton dalam urin dapat menunjukkan kondisi sangat serius yang disebut ketoasidosis diabetik. Diet rendah gula dan karbohidrat, kelaparan, atau muntah parah juga dapat menyebabkan keton berada di urin (ketonuria). Nitrit. Bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) membuat enzim yang mengubah nitrat menjadi nitrit. Nitrit dalam urin menunjukkan adanya infeksi saluran kemih (ISK). Esterase leukosit. Esterase leukosit adalah enzim yang ditemukan dalam sel-sel darah putih. Kehadiran esterase leukosit di urin merupakan pertanda peradangan, yang umumnya disebabkan oleh infeksi saluran kemih.

Zat mikroskopik di urin
Kandungan zat-zat mikroskopik dalam urin dapat dilihat melalui mikroskop. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan sebagai tindak lanjut temuan abnormal pada pemeriksaan fisik atau kimia. Sebelum diperiksa di bawah mikroskop, urin diproses sentrifugasi untuk memisahkan komponen cairan dan padatannya. Zat-zat padat di dalamnya akan mengendap di bagian bawah tabung. Cairan di bagian atas tabung kemudian dibuang dan sedimen yang tersisa diperiksa di bawah mikroskop. Sel, kristal, dan zat lainnya dihitung dan dilaporkan secara agregat dan spesifik masing-masing. Kandungan urin yang dapat diperiksa dengan analisis mikroskopik antara lain: 1. Sel darah merah (eritrosit). Biasanya, sel darah merah hanya sedikit hadir dalam urin. Peradangan, cedera, atau penyakit di ginjal atau di tempat lain di saluran kemih

2.

3.

4.

5.

6.

7.

dapat menyebabkan sel darah merah bocor dari pembuluh darah ke dalam urin. Sel darah merah juga bisa merupakan kontaminan karena koleksi sampel yang tidak benar sehingga tercampur darah dari wasir atau menstruasi. Kadang-kadang, tes kimia darah dalam urin negatif tetapi pengujian mikroskopis menunjukkan peningkatan jumlah sel darah merah. Bila hal ini terjadi, staf laboratorium akan menguji kandungan asam askorbat (vitamin C) di urin karena vitamin C dapat menyebabkan hasil tes menjadi rendah atau negatif palsu. Sel darah putih (leukosit). Jumlah leukosit dalam urin biasanya rendah. Jumlahnya yang tinggi dapat menunjukkan infeksi atau peradangan di saluran kemih. Leukosit juga bisa menjadi kontaminan, misalnya dari sekresi vagina. Sel epitel. Sel-sel epitel dari kandung kemih atau uretra dapat ditemukan dalam urin. Sel-sel dari ginjal kurang umum. Ketika saluran kemih bermasalah karena infeksi, peradangan, dan keganasan, sel-sel epitel lebih banyak hadir di urin. Jenis sel epitel menunjukkan secara tepat di mana kondisinya berada. Mikroorganisme. Saluran kemih seharusnya steril sehingga tidak akan ada mikroorganisme dalam urin. Kehadiran bakteri di urin menandakan infeksi. Bakteri dapat memasuki saluran kemih melalui uretra dan naik ke kandung kemih, menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK). Jika infeksi tidak diobati, pada akhirnya infeksi dapat bergerak ke ginjal dan menyebabkan pielonefritis. Kurang sering, bakteri dari infeksi darah (septikemia) dapat pindah ke saluran kemih. Bakteri juga dapat merupakan kontaminan, terutama pada wanita, di mana bakteri yang biasanya hidup di kulit atau di cairan vagina mengontaminasi urin. Jamur juga dapat hadir dalam urin, terutama pada wanita yang memiliki infeksi jamur vagina. Jika jamur teramati dalam urin, maka tes untuk infeksi jamur dapat dilakukan pada cairan vagina. Kristal. Urin mengandung banyak bahan limbah dari tubuh. Zat-zat ini dapat membentuk padatan kristal yang tidak beraturan atau seperti jarum. Kristal dianggap normal jika berasal dari zat terlarut yang biasanya ditemukan dalam urin. Beberapa contoh dari kristal yang dapat ditemukan dalam urin orang yang sehat adalah kristal asam urat, kalsium oksalat, kalsium karbonat, dll. Jika kristal berasal dari zat yang seharusnya tidak ada dalam urin, seperti kristal sistin dan tirosin, maka dapat mengindikasikan masalah metabolisme. Obat-obatan dan pewarna kontras sinar-xjuga dapat mengkristal di dalam urin. Bilirubin. Bilirubin adalah produk limbah dari sel darah merah yang dibuang dari peredaran oleh hati. Zat ini menjadi bagian dari cairan empedu yang disekresikan ke usus untuk membantu pencernaan makanan. Bilirubin tidak hadir dalam urin normal. Pada penyakit tertentu, seperti obstruksi bilier atau hepatitis, bilirubin bocor kembali ke aliran darah dan diekskresikan ke urin. Kehadiran bilirubin dalam urin merupakan indikator awal penyakit hati (liver). Urobilinogen. Urobilinogen biasanya hadir dalam urin dalam konsentrasi rendah. Zat ini terbentuk di dalam usus dari bilirubin dan sebagian diserap kembali ke dalam aliran darah. Konsentrasi tinggi urobilinogen di urin mengindikasikan penyakit seperti hepatitis, sirosis hati dan anemia hemolitik.

Catatan untuk Anda
Hasil pemeriksaan urin dapat memiliki banyak interpretasi. Temuan abnormal mengindikasikan ada sesuatu yang salah dan perlu dievaluasi lebih lanjut. Semakin besar deviasi dari normal, semakin besar kemungkinan adanya masalah. Namun, hasil normal tidak menjamin bahwa tidak ada penyakit. Beberapa orang tidak memberikan kondisi abnormal dalam tes urin di awal proses penyakit, dan yang lainnya memberikan kondisi abnormal

secara sporadis sepanjang hari sehingga tidak terdeteksi oleh sampel urin tunggal. Selain itu, bila urin sangat encer maka bahan kimia dalam jumlah kecil mungkin tidak terdeteksi. Dokter Anda harus menganalisis hasil tes urin dengan gejala dan temuan klinis lain untuk menegakkan diagnosis. http://majalahkesehatan.com/bagaimana-memahami-hasil-tes-urin-anda/Pembentukan Urin Proses pembentukan urin meliputi tiga tahap, yaitu: • Filtrasi glomerulus • Reabsorbsi tubular • Sekresi tubular Filtrasi Glomerulus. Pembentukan urin dimulai ketika air dan berbagai bahan terlarut lainnya disarng melalui kapiler glomerulus dan masuk ke kapsul glomerulus (kapsul Bowman. Penyaringan bahan-bahan ini melalui dinding kapiler kurang lebih sama seperti pada penyaringan yang terjadi pada ujung arteriol pada kapiler lain di seluruh tubuh. Hanya saja, kapiler glemerulus bersifat lebih permeabel karena adanya fenestrae pada dindingnya. Reabsorbsi tubular. Reabsorbsi tubular adalah proses dimana bahan-bahan diangkut keluar dari filtrat glomerulus, melalui epitelium tubulus ginjal ke dalam darh di kapiler peritubulus. Walaupun reabsorbsi tubulat terjadi di seluruh tubulus ginjal, peritiwa ini sebagian besar terjadi di tubulus proksimal. Adanya mikrovili di tubulus proksimal akan meningkatkan luas permukaan yang bersentuhan dengan filtart glomerulus sehingga meningkatkan proses reabsorbsi. Berbagai bagian dari tubulus ginjal berfungsi untuk mereabsorbsi zat yang spesifik. Sebagai contoh, reabsorbsi glukosa terjadi terutama melalui dinding tubulus proksimal dengan cara transpor aktif. Air juga direabsorbsi dengan cepat melalui epitelium tubulus proksimal dengan osmosis. Sekresi tubular. Sekresi tubular adalah proses dimana bahan-bahan (zat) diangkut dari plasma kapiler peritubulus menuju ke cairan tubulus ginjal. Sebagai hasilnya, jumlah zat tertentu diekskresikan melalui urin dapat lebih banyak daripada jumlah zat yang diperoleh melalui filtrasi plasma di glomerulus. Urin mengandung: 1. Air dan garam-garam dalam jumlah sedemikian rupa sehingga terdapat keseimbangan antara cairan ekstrasel dan cairan intrasel. 2. Asam dan basa Sisa-sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh 3. Zat-zat yang dikeluarkan dari darah karena kadarnya berlebihan. Jika kita melakukan urinalisa dengan memakai urin kumpulan sepanjang 24 jam pada seseorang, ternyata susunan urin itu tidak banyak berbeda dari susunan urin 24 jam berikutnya. Akan tetap, jika kita mengadakan pemeriksaan dengan sampel-sampel urin pada saat-saat yang tidak menentu di waktu siang atau malam, akan terlihat bahwa sampel urin dapat berbeda jauh dari sampel lain. Oleh karena itu, penting sekali untuk memilih sampel urin sesuai dengan tujuan pemeriksaan. Komponen utama Urin manusia Komponen Garam per 24 jam Perkiraan nisbah Konsentrasi urin plasma Glukosa Asam amino

Amonia Urea Kreatinin Asam urat H+ Na+ K+ Ca2+ Mg2+ ClHPO42SO42HCO3- <0,05 0,80 0,80 25 1,5 0,7 pH 5-8 3,0 1,7 0,2 0,15 6,3 1,2 gr P 1,4 gr S 0-3 <0,05 1,0 100 70 70 20 Sampai 300 1,0 15 5 2 1,5 25 50 0,2 2. Memilih Sampel Urin  Urin sewaktu Yaitu urin yang dikeluarkan pada satu waktu yang tidak ditentukan dengan khusus. Urin sewaktu cukup baik untuk pemeriksaan rutin.  Urin pagi Yaitu urin yang pertama-tama dikeluarkan pada pagi hari setelah bangun tidur. Urin ini lebih pekat dari urin yang dikeluarkan pada siang hari. Urin pagi baik untuk pemeriksaan sedimen,

protein, berat jenis dll.  Urin post prandial Merupakan urin yang pertama kali dikeluarkan 1 ½ – 3 jam setelah makan. Sampel urin ini baik untuk pemeriksaan terhadap glukosuria.  Urin 24 jam Yaitu urin yang dikumpulkan selama 24 jam. Ccara mengumpulkannya sebagai berikut: jam 7 pagi urin pertama dikeluarkan, urin ini dibuang. Semua urin yang dikeluarkan kemudian, termasuk juga urin jam 7 pagi esok harinya, harus dapat ditampung dalam botol urin yang tersedia dan isinya dicampur. Botol harus bersih dan biasanya memerlukan zat pengawet. Urin 24 jam dapat digunakan untuk pemeriksaan kuantitatif semua zat dalam urin. Selain itu, dikenal juga urin siang 12 jam, urin malam 12 jam, urin 2 jam, urin 3 gelas, urin 2 gelas dsb. III. ALAT DAN BAHAN Alat :  Tabung Reaksi  Pipet Volumetri  Labu takar 100 ml  Hidrometer  Tabung Urinometer  Indikator Universal  Kertas lakmus  Penangas air  Kertas saring  Labu Erlenmeyer  Cawan penguap  Buret dan statif  Bunsen  pipet tetes Bahan:  Urin 24 jam  Ag Nitrat  Fenolftalein  Kristal Asam urat  NaOH  Asam asetat 2%  NH4OH  Asam sulfosalisilat 3%  Eter  Glukosa 0,3% ; 1%;2%;5%  Pereaksi Nessler  Pereaksi Benedict  HCL encer  Larutan standar kreatinin.  BaCl2  Zn

 Larutan Pb-asetat  Asam pikrat  Asam nitrat IV. PROSEDUR Percobaan Urin 1. Sifat-sifat Urin Catatlah hal-hal dibawah ini : 1. Volume dalam ml. 2. Warna, bau dan kejernihan. 3. pH urin dengan menguji reaksi terhadap lakmus dan kertas indicator universal. Juga dengan fenolftalein. 4. Berat Jenis Terlebih dahulu ketelitian hydrometer yang akan digunakan harus diuji terhadap air suling. Bila kesalahan tidak terlalu besar, dapat dilakukan koreksi. Perlu diperhatikan bahwa semua toluene harus dibuang. Metoda : Isilah sebuah tabung urinometer dengan urin. Busa yang mungkin dibuang dengan memeakai sepotong kertas saring atau dengan setetes eter. Letakkan hydrometer didalamnya. Hydrometer tidak boleh menyentuh tabung. Catatlah suhu urin tersebut. Tiap-tiap urinometer telah ditera pada suhu tertentu. Bila suhu urin tidak sama dengan suhu tera, lakukan koreksi sebagai berikut : Tambahkan 0,001 pada angka yang dinyatakan urinometer bagi tiap penambahan suhu 3 0C diatas suhu tera, atau dikurangi 0,001 untuk setiap perbedaan suhu 3 0C dibawah suhu tera. Pengamatan : 1. Volume : 1,5 liter 2. Warna urin : Kuning tua. Bau urin : Ammonia Kejernihan : Jernih 3. pH urin : 6 (Indikator universal) Lakmus biru : merah Lakmus merah : merah. Fenolftalein : tetap jernih 4. Berat Jenis urin : 1.0058 2. Jumlah zat padat total Kalikan kedua angka terakhir dari BJ urin tersebut dengan angka 2,6. hasilnya menyatakan secara kasar jumlah zat padat total (gram) dalam 1 liter urin/24 jam. Pengamatan : b.j urin x 2,6 = 58 x 2.6 = 150.8 dalam 1 liter urin 3. Garam-garam ammonium Metoda : Tambahkan NaOH pada beberapa ml urin hingga reaksinya alkalis. Panaskan. Perhatikan bau

yang timbul dan uji uap yang terbentuk dengan kertas lakmus yang dibasahi atau dengan pereaksi nessler yang diteteskan pada kertas saring. Pengamatan : Bau yang timbul adalah bau ammoniak. Uji uap dengan kertas lakmus merah : biru Dengan pereaksi nessler yang diteteskan pada kertas saring : noda berwarna coklat 4. Belerang dalam urin Belerang yang terdapat dalam urin dibedakan atas 3 bentuk : a. Belerang Anorganik Merupakan bagian terbesar (85-90%) dari belerang teroksidasi dan berasal terutana dari metabolisme protein. Metoda : Pada 10 ml urin tambahkan sedikit HCl encer dan BaCl2. terlihat endapan putih. Saringlah campuran ini, uji filtrate terhadap belerang etereal. Pengamatan : Terbentuk Endapan putih. b. Belerang etereal Merupakan senyawaan asam sulfat dengan zat0zat organic seperti indol, kresol, fenol dan sebagainya. Zat-zat organic tersebut berasal dari metabolisme protein, atau pembusukan protein dalam lumen usus. Semuanya terurai pada pemanasan dengan asam. Merupakan 515% dari belerang total urin. Metoda : Didihkan filtrate dari percobaan (a) selama beberapa menit. Bila tidak terbentuk endapan, tambahkan lagi HCl dan panaskanlah, mungkin perlu ditambahkan BaCl2. Pengamatan : Terbentuk endapan putih. c. Belerang yang tak teroksidasi Adalah senyawa yang mempunyai gugus –SH, -S dan _SCN, misalnya asam amino yang mengandung S (sistin), tiosulfat, sulfide dan sebagainya. Jumlahnya 5-25% dari belerang total. Metoda : Masukkan 10 ml urin dalam tabung reaksi. Masukkan Zn dan sedikit HCl 6N. Tutup tabung

tersebut dengan kertas saring yang dibasahi dengan larutan Pb-asetat. Terlihat kertas berwarna hitam. Pengamatan : Kertas berwarna hitam 5. Asam Urat Test Mureksida Asam urat dioksidasi oleh asam nitrat pekat membentuk asam dialurat dan aloksan. Zat-zat ini berkondensasi dengan ammonia membentuk mureksida (ammonium purpurat) yang berwarna ungu kemerahan. Metoda: 5 tetes urin diletakkan dalam sebuah cawan penguap. Tambahkan 3 tetes asam nitrat pekat, lalu panaskan sehingga kering pada penangas uap, perhatikan warna merah yang timbul. Setelah dingin tambahkan satu tetes ammonia encer (1 : 100). Perhatikan warna yang terbentuk. Bandingkan dengan menggunakan 0.1 g Kristal asam urat. Pengamatan : Setelah pemanasan : Cawan I (urin) : Kuning Muda Cawan II (as. urat) : Kuning kemerahan Setelah penambahan 1 tetes ammoniak. Cawan I (urin) : Kuning muda Cawan II (as.urat) : Kemerahan 6. Kreatinin Reaksi Jaffe Reaksi ini berdasarkan pembentukan tautometer kreatinin pikrat yang berwarna merah bila kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis. Warna ini akan berubah menjadi kuning apabila larutan diasamkan. Metoda : Masukkan 5 ml urin ke dalam sebuah tabung reaksi dan 5 ml ke dalam tabung yang lain. Tambahkan pada masing-masing tabung 1 ml larutan asam pikrat jenuh dan 1 ml NaOH 10%. Perhatikan warna yang terbentuk. Tambahkan HCl pada salah satu tabung. Bandingkan hasilnya terhadap tabung yang ditambahkan HCl. Pengamatan :

Tabung I dan II setelah ditambahkan asam pikrat jenuh dan NaOH 10% terbentuk warna merah coklat (terang-jernih). Tabung II setelah ditambahkan HCl terbentuk warna kuning. 7. Glukosa Adanya glukosa dalam urin dapat dinyatakan berdasarkan sifat glukosa yang dapat mereduksi ion-ion logam tertentu dalam larutan alkalis. Test ini tidak spesifik terhadap glukosa, gulagula lain yang berdaya reduksi maupun zat-zat lain yang bukan gula dapat juga memperlihatkan hasil positif. Test Benedict (Semi Kuantitatif) Dengan test ini dapat diperhitungkan secara kasar kadar gula dalam urin (semi kuantitatif). Metoda: Campurlah 2.5 ml pereaksi benedict kualitatif dengan 4 tetes urin. Panaskan selam 5 menit pada penangas air mendidih. Biarkan menjadi dingin perlahan-lahan. Lakukan test ini terhadap urin yang mengandung (1) glukosa 3%; (2) glukosa 1%; (3) glukosa 2% dan (4) glukosa 5%. Penafsiran : Warna Penilaian Kadar Biru/ hijau keruh Hijau/ kuning hijau Kuning/ kuning kehijauan Jingga Merah 0 + ++ +++ ++++ Kurang dari 0,5% 0,5 – 1,0 % 1,0 – 2,0 % Lebih dari 2,0 % Pengamatan : Tabung I = hasil negative Tabung II = kuning hijau endapan merah + ( < 0,5 % ) Tabung III = larutan kuning kehijauan dengan endapan merah ++ ( 2,0 % ) Percobaan Urin Kuantitatif 1. Penetapan Kadar Kreatinin Urin (Folin)

Dasarnya adalah metode Jeffe. Kreatinin bereaksi dengan asam pikrat dalam larutan alkalis membentuk tautometer kreatinin pikrat yang berwarna merah. Pereaksi : 1. Larutan Asam pikrat jenuh 2. NaOH 10% 3. Larutan Standard kreatinin mengandung 1 mg/ml Metoda : Sediakan 2 labu takar 100 ml. isilah labu pertama dengan urin 1 ml dan labu kedua dengan 1 ml larutan standard. Tambahkan pada masing-masing labu tepat 20 ml larutan asam pikrat jenuh dan 1,5 ml larutan NaOH 10%. Kocok perlahan-lahan dan biarkan selama 25 menit. Encerkan sampai 100 ml dan campur dengan sebaik-baiknya. Lakukan pembacaan segera dengan calorimeter visual. Pada panjang gelombang 540 nm. Buat blanko dengan menggunakan 1 ml air suling. Penghitungan : Kadar Kreatinin (g/24jam) = Rs/Ru X 1 ml urin 24 jam/1 X 1/1000 Pengamatan Rs = 0, 249 nm Ru = 0, 375 nm Kadar kreatinin = 0,249/0,375 X 1/1 X 1/1000 = 6,64 x 10-4 g/24jam 2. Penetapan Kadar Klorida Urin (Schales dan Schales) Urin dititrasi dengan Merkuri nitrat dalam suasana asam. Ion-ion Cl diikat oleh merkuri membentuk HgCl2 yang tidak terionisasi. Bila terdapat merkuri nitrat berlebihan, maka ionion merkuri tersebut dengan indicator difenilkarbazon akan membentuk warna ungu. Pereaksi : 1. Larutan Indikator difenilkarbazon 0.1% 2. Larutan Merkuri nitrat N/60 3. Larutan Standard klorida mengandung 10 meq Cl/Liter. Metoda : Masukkan dengan pipet volumetric 5 ml urin ke dalam sebuah gelas Erlenmeyer, kemudian tambahkan 5 tetes indicator. Lakukan dalam duplo. Lakukan titrasi dengan larutan merkuri nitrat. Lakukan juga titrasi terhadap 5 ml larutan standard NaCl. Hitunglah jumlah NaCl dalam urin 24 jam. Penghitungan : Kadar Klorida Urin = ml merkuri nitrat yang dipakai x 100/A 9meq/Liter) A = Jumlah ml merkuri nitrat untuk titrasi 5 ml larutan Standard NaCl. Kadar NaCl urin (mg/Liter) = meq Klorida/Liter X 58,5

Pengamatan : TE sampel I = 15,5 ml (menggunakan sampel urin 1 ml) TE sampel II = 15,3 ml (menggunakan sampel urin 1 ml) TE standard = 4,25 ml (menggunakan standard NaCl 5 ml) V. PEMBAHASAN Percobaan Urin 1. Sifat-sifat urin Pada percobaan sifat-sifat urin, volume urin yang dikumpulkan selama waktu 24 jam sebanyak 1500 ml. Volume yang dapat dikumpulkan atau yang diekskresikan tergantung dari beberapa faktor seperti suhu, intake cairan, kerja fisik, dan faktor patologi seperti penyakit ginjal atau diabetes mellitus. Pada orang dewasa normal volume urin adalah sekitar 600-2500 ml/ 24 jam. Berarti volume urin tersebut masih tergolong normal. Bau yang tercium pada urin adalah sedikit bau toluen, karena digunakan pengawet toluen. Warna dari urin tersebut adalah kuning tua. Warna urin dapat berubah karena faktor makanan atau faktor patologik. Warna dari urin ini disebabkan oleh adanya zat warna urin yaitu urokrom yang terdiri dari uroflavin dan laktoflavin atau riboflavin dan uropterin. Warna urin dapat berubah karena pengaruh obat-obatan, misalnya karena meminum antibiotik atau dapat juga karena adanya penyakit hati. Bau urin yang pesing karena adanya ammonia yang disekresikan dalam urin. Dalam menguji pH urin, digunakan indikator universal. Urin sampel memilki pH 6 (pH asam), dan dapat dikatakan normal karena umumnya pH urin dalam manusia bervariasi dari 4,5-8,0 (urin dapat bersifat asam, netral, atau basa). Ekskresi urin yang pada pH berbeda dari cairan tubuh, mempunyai dampak yang penting bagi elektrolit tubuh dan penghematan asambasa. Setelah dilakukan pengujian terhadap berat jenis urin, didapatkan angka 1,0058. Berat jenis urin yang normal berkisar antara 1,003-1,030 g/cm3, maka dapat disimpulkan bahwa urin yang diuji memiliki berat jenis yang termasuk dalam range yang normal. Berat jenis suatu larutan tergantung pada sifat maupun jumlah partikel terlarut yang ada di dalamnya. Berat jenis kadang-kadang masih diukur sebagai suatu indeks konsentrasi urin, disamping osmolalitas. 2. Jumlah zat padat total Jumlah zat padat total normal dalam urin 24 jam kira-kira 150.8 g/l urin 24 jam. Sampel urin mengandung jumlah zat padat total 36,4 g/l urin. Jadi hasil ini dapat dikatakan menyimpang dari kisaran normal. Berat jenis suatu larutan tergantung pada sifat maupun jumlah partikel terlarut yang ada di dalamnya, karena itu berat jenis dapat digunakan untuk menentukan jumlah zat padat yang dikandung urin. Mungkin hasil yang menyimpang ini terjadi karena faktor asupan makanan yang masuk ke tubuh atau karena faktor kelainan pada tubuh. Hasil yang didapatkan memang tidak akurat karena hanya menghitung secara kasar saja jumlah zat padat total dalam urin. 3. Garam-garam ammonium Pada percobaan adanya garam-garam ammonium, urin dibasakan terlebih dahulu menggunakan NaOH dan kemudian dipanaskan. Bau yang timbul akibat pemanasan adalah

bau amoniak yang menandakan bahwa ammonium yang terkandung di dalam urin terlepas ke udara atau telah menguap. Berarti urin sampel mengandung garam amonium. Reaksi utama pada tubuh yang menghasilkan NH4+ terjadi di dalam sel, yaitu perubahan glutamin menjadi glutamat yang dikatalisis oleh enzim glutaminase yang terdapat di dalam sel tubulus renalis. Glutamat dehidrogenase mengkatalisis perubahan glutamat menjadi αketoglutarat. Glutamin → glutamat + NH4+ Glutamate → α-ketoglutarat + NH4+ Di dalam cairan interstisial dan urin tubulus, NH3 bergabung dengan H+ membentuk NH4+ yang menyingkirkan NH3 dan mempertahankan perbedaan konsentrasi yang memudahkan difusi NH3 keluar sel. Bila pH urin7,0 maka rasio NH3 : NH4+ = 1 : 100. Bila urin lebih asam, maka keseimbangan berubah lebih lanjut ke NH4+. Proses NH3 disekresikan disebut difusi non-ionik. Salisilat dan sejumlah obat lain yang merupakan basa lemah atau asam lemah juga disekresi oleh difusi non ionik. Ion ammonium berasal dari makanan, obat-obatan dan hasil hidrolisa urea. Mekanisme dari tubulus renalis dalam memproduksi ammonia sangat penting untuk mengatur keseimbangan asam basa dan penghematan kation, meningkat dengan nyata pada asidosis metabolik tetapi sebagian besar akan diekskresikan dalam bentuk urea yaitu komponen utama urin. Ammonia secara konstan diproduksi dalam jaringan tapi hanya ditemukan dalam jumlah kecil pada darah tepi yang dengan cepat dikeluarkan dari dalam darah oleh hati dan diubah menjadi glutamat, glutamin, ataupun urea (urin). Dengan pereaksi nessler memberikan hasil negatif karena apabila dengan pereaksi nessler maka warna yang dihasilkan adalah warna merah. 4. Belerang dalam urin  Belerang anorganik Belerang anorganik merupakan bagian terbesar dari belerang teroksidasi (85-90 %) dan berasal terutama dari metabolisme protein. Pada percobaan ini, urin 24 jam direaksikan dengan HCl encer dan BaCl2. Maka akan terbentuk endapan putih yang menunjukkan adanya belerang anorganik, reaksi yang terjadi adalah : BaCl2 + SO42- → BaSO4 ↓ + 2 Cl Belerang etereal Belerang etereal merupakan senyawaan asam sulfat dengan zat-zat organik. Sulfat etereal di dalam urin merupakan ester sulfat organik (R-O-SO3H) yang dibentuk di dalam hati dari fenol endogen dan eksogen, yang mencakup indol, kresol, esterogen, steroid lain, dan obatobatan. Zat-zat organik tersebut berasal dari metabolisme protein atau pembusukan protein dalam lumen usus. Semuanya terurai pada pemanasan dengan asam. Jumlahnya 5-15 % dari belerang total urin. Dari percobaan tersebut, terbentuk endapan putih karena adanya endapan BaSO4 dari belerang etereal yang memiliki senyawa sulfat akan bereaksi dengan BaCl2.  Belerang yang tak teroksidasi Belerang tak teroksidasi merupakan senyawa yeng mempunyai gugus –SH, -S, -SCN, misalnya asam amino yang mengandung S (sistin), tiosulfat, tiosianat, sulfida, dsb. Jumlahnya adalah 5-25 % dari belerang total urin. Pada percobaan ini, kertas saring yang dibasahi dengan Pb-asetat menjadi berwarna hitam (hasil reaksi positif). Hal itu terjadi karena adanya gas hidrogen sulfida yang dilepaskan yang dapat diidentifikasi dari baunya yang khas

atau dari menghitamnya kertas saring yang telah dibasahi larutan timbal asetat. Reaksi yang terjadi adalah : S2- + 2 H+ → H2S ↑ H2S + Pb2+ → PbS ↓ 5. Asam urat Pada percobaan ini, digunakan tes mureksida yaitu dengan memanaskan sampai kering urin yang yang telah ditambah HNO3 pekat. Asam urat akan dioksidasi oleh HNO3 pekat membentuk asam dialurat dan aloksan. Setelah dingin, ditambahkan satu tetes ammonia encer (1 : 100), maka asam dialurat dan aloksan berkondensasi dengan amonia membentuk mureksida (ammonia purpurat) yang berwarna ungu kemerahan. Mekanisme reaksi yang terjadi adalah: Bila urin setelah ditambahkan ammonia encer tetap berwarna merah, maka hal itu menyatakan adanya asam urat. Pada percobaan, setelah ditambahkan HNO3 pekat dan dipanaskan hingga kering, urin membentuk warna kuning muda. Hal ini berarti bahwa pada urin yang diuji, tidak terdapat asam urat. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan blanko berupa kristal asam urat. Setelah ditambahjann HNO3 pekat dan dipanaskan hingga kering, terbentuk warna kuning jingga. Seharusnya warna yang tebentuk adalah warna ungu kemerahan, tetapi warna yang terbentuk adalah kuning jingga, hal itu mungkin disebabkan karena kekurangketelitian praktikan dalam melakukan percobaan. 6. Kreatinin Pada percobaan untuk mengetahui adanya kreatinin dalam urin, dilakukan reaksi Jaffe. Reaksi Jaffe berdasarkan pembentukan tautomer kreatin pikrat yang berwarna merah bila kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis. Warna ini akan berubah menjadi kuning apabila larutan diasamkan. Dari hasil percobaan, dipeoleh warna merah kecoklatan (jernih) dari penambahan urin dengan asam pikrat jenuh dan NaOH 10 %. Warna larutan pada salah satu tabung berubah menjadi kuning setelah ditambah HCl (tabung yang lain tidak ditambahkan HCl dan larutan tetap berwarna merah kecoklatan). Hal ini menunjukkan bahwa di dalam urin yang diuji, terdapat kreatinin. 7. Glukosa Pereaksi Benedict yang mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan tereduksi oleh gula yang menpunyai gugus aldehid atau keton bebas (misal oleh glukosa), yang dibuktikan dengan terbentuknya kuprooksida berwarna merah. Reaksi : Pada uji adanya glukosa dalam urin dilakukan tes Benedict, yaitu dengan mereaksikan urin dengan pereaksi Benedict yang telah dipanaskan dengan glukosa 0,3 %; 1 %; 2 %; 5 % dan urin tanpa penambahan apapun. Ternyata dari hasil pengujian diperoleh urin blanko tetap berwarna biru setelah ditambahkan larutan Benedict, untuk urin dengan penambahan glukosa 0,3 % akan memberi warna kuning kehijauan dengan endapan merah, untuk urin dengan penambahan glukosa 1 % akan memberi warna kuning kehijauan dengan adanya endapan merah yang lebih banyak dari yang 0,3 %, untuk urin dengan penambahan glukosa 2 % akan memberi warna jingga dengan endapan merah dari yang ditambahkan glukosa 1 % dan untuk

urin dengan penambahan glukosa 5 % akan memberi warna jingga kemerahan dengan endapan merah yang lebih banyak. Terbentuknya warna-warna tersebut, sesuai dengan konsentrasi glukosa dalam larutan. Makin besar kadar glukosa, makin banyak endapan oranye yang terbentuk. Tidak tebentuknya endapan oranye pada larutan glukosa konsentrasi rendah disebabkan karena baru sedikit glukosa yang mereduksi kuprisulfat dan kemudian tertutup warnanya dengan reagen Benedict yang berwarna biru. Tampak bahwa glukosa dengan kadar 5% baru memberikan endapan oranye paling banyak. Dari uji tersebut memberikan hasil bahwa urin yang diperiksa oleh praktikan tidak mengandung glukosa karena tidak memberi hasil positif terhadap tes Benedict. Berarti urin tersebut adalah urin yang normal. Percobaan Urin Kuantitatif 1. Penetapan Kadar Kreatinin Urin (Folin) Rs = 0, 249 nm Ru = 0, 375 nm Kadar kreatinin = 0,249/0,375 X 1500/1 X 1/1000 = 0,996 g/24jam Kreatinin disintesis di dalam hati dari metionin, glisin, dan arginin. Dalam otot rangka kreatinin difosforilasi untuk membentuk fosforilkreatin yang merupakan simpanan tenaga penting bagi sintesis ATP. ATP yang terbentuk oleh glikolisis dan fosforilasi oksidatif bereaksi dengan kreatin untuk membentuk ADP dan banyak fosforilkreatin. Urin Pria dewasa mengandung keratin 25mg/kg BB, berarti pada urin sample terdapat kreatinin sebanyak : 25 mg x 60 = 1500 mg (1,375g). Kreatinin dari hasil percobaan didapat kadar kreatinin sebanyak 0,996 g. jumlah kreatinin sampel masih dibawah kadar normal. Kreatinin meninggi pada insufisiensi ginjal yang akut atau kronis, obstruksi traktus urinarius dan gangguan faal ginjal yang ditimbulkan oleh beberapa jenis obat. Bahan-bahan yang bukan kreatinin dapat bereaksi sehingga memberi hasil positif dengan metode alkalis pikrat (reaksi jaffe). Bahan-bahan tersebut adalah asetoasetat, aseton, β-Hidroksibutirat, αketoglutarat, piruvat, glukosa bilirubin, hemoglobin, urea dan asam urat. Perbedaan hasil dapat disebabkan oleh beberapa factor seperti : usia, suku bangsa, jenis kelamin, lingkungan, sikap tubuh, makanan yang dimakan, obat-obatan dan kadar aktivitas. 2. Penetapan Kadar Klorida Urin (Schales dan Schales) Dalam penetapan kadar Klorida dalam urin, digunakan cara Schales dan Schales. Urin dititrasi dengan merkuri nitrat dalam suasana asam. Ion-ion Cl- diikat oleh ion merkuri membentuk Hg Cl2 yang tidak terionisasi. Bila terdapat merkuri nitrat yang berlebihy, ionion merkuri ini akan bereaski dengan indicator difenilkarbazon membentuk warna ungu (Urin ditambahkan difenilkarbazon 0,1% lalu dititrasi dengan merkuri nitrat sampai berwarna ungu). Dari percobaan terhadap urin 24 jam, diperoleh data sebagai berikut : A = ml (jumlah merkuri nitrat untuk titrasi 5 ml larutan standard NaCl) Sampel urin merkuri nitrat I = 15,50 ml Sampel urin merkuri nitrat II = 15,55 ml Kadar Klorida urin (meq/liter) = ml merkuri nitrat yang dipakai x 100/A

A = Jumlah ml merkuri nitrat untuk titrasi 5ml larutan standard NaCl. Maka : i. Kadar Klorida urin = 15,5 x 100/4,25 = 364,706 meq/liter Kadar NaCl urin = 364,706 x 58,5 = 21335,301 mg/liter = 21,34 g/liter ii. Kadar Klorida urin = 15,5 x 100/4,25 = 364,705 meq/liter Kadar NaCl urin = 364,705 x 58,5 = 21335,242 mg/litrer = 21,34 g/liter VI. KESIMPULAN Dari percobaan urin ini, volume urin yang diperoleh adalam 1500 ml yang beraati volume ini masih dalam batas normal, urin tersebut memiliki bau amoniak, berwarna kuning tua, jernih, ber pH 6 memiliki BJ sebesar 1,0058 dan kandungan zat padat dalam urin 150.8 g / l. Pada urin dormal terkandung garam-garam amonium , belerang anorganik, belerang yang tak teroksidasi, klorida dan kreatinin. Pada urin yang diuji oleh praktikan tidak terdapat asam urat maupun glukosa menandakan bahwa urin tersebut dalam keadaan normal. Pada percobaan kuantitatif diperoleh kadar kreatinin urin sebesar 0,996 g / 24 jam dan kadar NaCl rata-rata sebesar 21,34 g/liter. DAFTAR PUSTAKA Azizahwati, Penuntun Praktikum Biokimia, Laboratorium Biokimia Jurusan Farmasi FMIPA UI, 1994, Hal 36-44. Ganong, W. F, Fisiologi Kedokteran edisi 14, Penerbit buku kedokteran, EGC, alih bahasa oleh dr. Petrus Andrianto. Murray, K. Robert, Daryl K. Granner, Peter A. Mayes, Victor W.R, Biokimia Harper edisi 22, Penerbit bku kedokteran, EGC.
http://filzahazny.wordpress.com/2009/07/10/urin/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->