P. 1
Dengan Demikian Manusia Agar Mau Mengahayati Dan Mengamalkan Ajaran Agama Islam Tentang Iman Yang Berkaitan Dengan Hubungan Antara Manusia Dan Allah

Dengan Demikian Manusia Agar Mau Mengahayati Dan Mengamalkan Ajaran Agama Islam Tentang Iman Yang Berkaitan Dengan Hubungan Antara Manusia Dan Allah

|Views: 9|Likes:
Published by chayrasyid

More info:

Published by: chayrasyid on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2014

pdf

text

original

5

Dengan demikian manusia agar mau mengahayati dan mengamalkan
ajaran agama Islam tentang iman yang berkaitan dengan hubungan antara
manusia dan Allah, manusia dengan dirinya sendiri. manusia dengan sesama
manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya.

C. Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah SWT
× Sifat Wajib Allah
1. Wujud (ada)
2. Qidam (paling awal)
3. Baqa' (kekal/abadi)
4. Mukhalafatu lil hawaditsi (berbeda dengan semua makhluk/sesuatu)
5. Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri)
6. Wahdaniyat (esa)
7. Qudrat (kuasa)
8. Iradat (berkehendak)
9. Ilmu (maha mengetahui)
10. Hayat (hidup)
11. Sama' (maha mendengar)
12. Bashar (maha melihat)
13. Kalam (berfirman)
14. Qadiran (zat yang berkuasa)
15. muridan (zat yang maha berkehendak)
16. 'Aliman (zat yang maha mengetahui)
17. Hayyan (zat yang hidup)
18. Sami'an (maha mendengar)
19. Bashiran (zat yang maha melihat)
20. Mutakaliman (zat yang berfirman)
× 20 Sifat Mustahil Allah SWT
1. „Adamun ”Tiada”
2. Hudutsun “Baharu”
3. Fanaun “Binasa”
4. Mumatsalatul Lil Hawadisi “Menyamai Dengan Makhluknya”
6

5. Qiyamuhu Bi Ghairihi “Berdiri-Nya Dengan Yang Lain”
6. Ta‟addud “Berbilang-Bilang”
7. Ajzun “Lemah”
8. Karahah “Terpaksa”
9. Jahlun “Bodoh”
10. Mautun “Mati”
11. Summun “Tuli”
12. „Umyun “Buta”
13. Bukmun “Bisu”
14. Ajizan ”Yang Lemah”
15. Karihan “Yang Dipaksa”
16. Jahilan “Yang Dibodohi”
17. Mayyitan “Yang Dimatikan”
18. Asoma “Yang Tuli”
19. A‟ma “Yang Dibutakan”
20. Abkama “Yang Dibisukan”

D. TAUHID RUBUBIYAH DAN TUNTUTANNYA
Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah Ta‟ala dalam penciptaan,
kekuasaan, dan pengaturan dan Maha kuasa atas segala sesuatu. Hal ini wajib
diimani oleh setiap muslim. Allah ta‟ala berfirman:
÷³;©E·^¯- *. ´_±4O
¬--g©ÞUE¬^¯- ^g÷
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”(QS. Al-Fatihah : 2).
Allah ta‟ala juga berfirman:
E´4O4:·> Og~-.- jÞg³4O)
¬l·U÷©^¯- 4O¬-4Ò _OÞ>4N ÷]7
¡7¯/E* vOCg³·~ ^¯÷
“Mahasuci Allah Yang di Tangan-Nya segala kekuasaan, dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk : 1).
Semua orang, bahkan orang yang non muslim jika ditanya mengenai
siapa Tuhannya tentu akan menjawab, “Allah.” Tetapi pengimanan
7

bahwasanya yang menciptakan sesuatu, mengatur dan Maha Kuasa Atas
segala sesuatu mempunyai konsekwensi atau mengharuskan adanya
pembuktian dengan pemurnian peribadatan atau segala bentuk penyembahan
hanya kepada Allah Ta‟ala saja.
Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah,
dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam
kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak
menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa
Ta‟ala ( tauhid uluhiyah, lihat buletin edisi 20 “ Inti Dakwah Para Rasul )
Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah
ma‟bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do‟a kecuali
Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh
dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban
atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh
ibadah kecuali untuk-Nya dan karena-Nya semata.
Tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Allah
membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah
yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala :
Og¬³Ò^4C +EE4¯-
W-Ò÷³+:;N- Nª7¯+4O Og~-.-
¯ª7¯·³ÞU·· 4ׯg~-.-4Ò }g`
¯ª7¯)U¯:·~ ¯ª7¯+UE¬·¯ 4pO¬³+-·>
^g¯÷ Og~-.- ºE¬E_ Nª7¯·¯
4·¯O·- V-4Og·
47.E©OO¯-4Ò w7.E4)
4·4O^Ò¡4Ò =}g` g7.E©OO¯-
w7.4` E¤4Ou=Ò·· ·gO) =}g`
gª4OE©EV¯- +~^ejO ¯ª7¯-¯ W
ºE·· W-O¬UE¬^_Ò` *. -41-E³^Ò¡
¯ª+^Ò¡4Ò ¬]O÷©ÞUu¬·> ^gg÷
8

“Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai
atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan
dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui.” (Al-Baqarah : 21-22 )
Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyembah-
Nya dan beribadah kepada-Nya dengan menunjukkan dalil kepada mereka
dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaan-Nya terhadap manusia dari yang
pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya,
penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buahbuahan
yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tidak pantas bagi mereka
jika menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya, dari bendabenda atau apapun
yang mereka sendiri mengetahui bahwa itu tidak bisa berbuat sesuatu pun dari
hal-hal tersebut di atas dan lainnya.
Tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Allah
banyak berhujjah atas orang-orang musyrik dengan cara ini. Dia juga
memerintahkan Rasul-Nya untuk berhujjah atas mereka seperti itu. Allah
Subhanahu wa Ta‟ala berfirman:
¬~ ^}E©g¢¯ O·¯O·- }4`4Ò
.E_1g· p)³ ¯¦+L¬± ¬]O÷©ÞUu¬·>
^gj÷ 4pO7¯O¬³4OEc *. _ ¯¬~
ºE··Ò¡ ¬]ÒNO-EO·> ^g)÷ ¯¬~ }4`
O··O gª4OE©OO¯- ;7¯lOO¯-
O·4O4Ò +¯OE¬^¯-
g®7g¬E¬^¯- ^gg÷
¬]O7¯O¬³4OEc *. _ ¯¬~ ºE··Ò¡
¬]O¬³+-·> ^g_÷ ¯¬~ }4`
·jÞg³4O) ÷ªO7¯ºU4` ÷]¬±
¡7¯/E* 4O¬-4Ò +OO´_7© ºº4Ò
9

+OO_7© gO^OÞU4N ])³ ¯¦+L7
4pO+···u¬·> ^gg÷ ¬]O7¯O¬³4OEc
*. _ ¯¬~ _O^+Ò·· ¬]ÒNOE·¯O¬
^g_÷
“Artinya : Katakanlah: „Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua
yang ada padanya, jika kamu mengetahui?‟ Mereka akan menjawab:
“Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”
Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya
`Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”
Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah
yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu
mengeta-hui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah:
“(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al- Mu‟minun :
84-89)

Nª¬:g¯·O +.- ¯ª7¯¬4O W ¨º
4O·¯)³ ·º)³ 4O¬- W ÷-)UE= ÷]¬±
¡7¯_E* +ÞÒ÷³+:;N·· _ 4O¬-4Ò
_OÞ>4N ÷]7 ¡7¯/E* ¬O´±4Ò
^¯´g÷
“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan
kamu, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Pencipta segala
sesuatu, maka sembahlah Dia …” (Al- An‟am : 102)
Allah berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hakNya untuk
disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari penciptaan
manusia. Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman:
4`4Ò ¬e^³ÞUE= O}´_^¯-
"·^e"-4Ò ·º)³ ÷pÒ÷³+lu¬4Og¯
^)g÷
10

“Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzariyat : 56)
Arti ” Ya‟buduun ” adalah mentauhidkan Allah dalam ibadah.
Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui tauhid
rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta
mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun
mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam
Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam memerangi mereka.
Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki,
Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Firman Allah Subhanahu wa
Ta‟ala :
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: „Siapakah yang
menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: „Allah‟, …” (Az- Zukhruf :
87 )
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: „Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?‟, niscaya mereka akan menjawab: „Semuanya
diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui‟.” (Az-Zukhruf :
9)
“Katakanlah, „Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit
dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala
urusan?‟ Maka mereka akan menjawab: “Allah”. (Yunus : 31)
Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur‟an. Maka
barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau
meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, ma k a
sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang
dibawa oleh para rasul. Karena itu berarti ia hanya sampai pada dalil tetapi ia
meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut atau ia hanya beramal dalam hati
saja dan tidak beramal dengan lisan dan anggota badannya dan itu menyelisihi
dari makna dan hakekat Iman.

11

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat ditarik beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Iman kepada Allah adalah kepercayaan yang diyakini kebenarannya
adanya Allah SWT dalam hati sanubari, diikrarkan secara lisan dan
direalisasikan dengan perbuatan amal shaleh.
2. Pokok iman kepada Allah adalah menghayati dengan keyakinan yang
benar terhadap Allah SWT sebagai pencipta alam semesta.

B. Saran
Dengan mengetahui tentang iman, para pendidik hendaknya dapat
mengimplementasikan teori tersebut sehingga materi yang disampaikan dapat
dicerna, dikuasi dan dimengerti oleh semua peserta didik dengan baik dan
optimal.


12

DAFTAR PUSTAKA
Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. Al-Fawa„id Menuju Pribadi Taqwa. Jakarta: Al-
Kautsar, 2005.
Departemen Agama RI. al-Qur „an dan Terjemahnya. Jakarta: Toha Putra, 1991.
Hesham A. Hassaballa. Sejarah Islam. Jogjakarta:. Diglossia, 2008.
Said Nursi, Bediuzzaman. Dan Cerminan Ke-Esaan Allah. Jakarta: Siraja, 2003.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->