P. 1
Bioekologi Dan Gulma Pada Tanaman Teh

Bioekologi Dan Gulma Pada Tanaman Teh

|Views: 127|Likes:
Published by tulus

More info:

Published by: tulus on Jun 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPSX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

Oleh : CRISTIAN KANA DAVID TULUS YUDI WIDODO WIBOWO

LATAR BELAKANG :
Indonesia merupakan negara produsen teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) ke enam di dunia. Guna meningkatkan kompetisi di pasar dunia, banyak perkebunan berusaha menurunkan biaya produksi di lapangan, salah satunya dengan menekan biaya pengelolaan gulma. Tjitrosoedirjo et al. (1984) dan Suryami (2000) menyatakan bahwa biaya pengelolaan gulma mencakup 22% dari biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) dan merupakan komponen tertinggi dalam pemeliharaan teh. Penelitian Sanusi dan Suhargyanto (1978) menunjukkan kehadiran gulma dapat mengurangi keuntungan hingga 50%, dan Gunawan (1997) menunjukkan penurunan produksi hingga 9% karena kesulitan memupuk dan memetik.

Kehadiran gulma dapat mengubah komposisi mikroba dan jamur simbiosis mutualisme bagi perakaran (Kremer dan Li, 2003; Hart dan Trevors, 2005), menurunkan kesesuaian lahan (Vatovec et al., 2005) dan menurunkan mutu teh jika ikut terolah. Suprianto (1997) mengindentifikasi gulma Commelina nudiflora L. dan Clidemia hirta (L.) D. Don sering terangkut pemetik karena memiliki morfologi daun mirip daun teh. Persoalan gulma pada perkebunan teh meningkat pada areal tanaman belum menghasilkan (TBM) dan areal tanaman yang baru dipangkas. Pada areal TBM, kehadiran gulma dapat memperpanjang masa non produktif teh menjadi lebih dari 2 tahun (Sanusi, 1986). Hingga saat ini, pengelolaan gulma ditentukan berdasarkan referensi umum dan jarang didasarkan pada data pengamatan spesifik. Gulma yang lebih kompleks ditemui pada areal pangkasan karena selain dipengaruhi oleh faktor pergeseran dominansi, juga ada penambahan gulma dari simpanan biji gulma dalam tanah (seed bank).

TEH
CAMELLIA SINENSIS BERASAL DARI DARATAN ASIA SELATAN DAN TENGGARA, NAMUN SEKARANG TELAH DIBUDIDAYAKAN DI SELURUH DUNIA, BAIK DAERAH TROPIS MAUPUN SUBTROPIS. TUMBUHAN INI MERUPAKAN PERDU ATAU POHON KECIL YANG BIASANYA DIPANGKAS BILA DIBUDIDAYAKAN UNTUK DIPANEN DAUNNYA. IA MEMILIKI AKAR TUNGGANG YANG KUAT. BUNGANYA KUNING-PUTIH BERDIAMETER 2,5–4 CM DENGAN 7 HINGGA 8 PETAL.

DEFINISI GULMA
 Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari

spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak timbulnya pertanian. Setiap kali manusia berusaha mengubah salah satu atau seluruh faktor lingkungan alami, seperti pembukaan hutan, pengolahan tanah, pengairan dan sebagainya, maka selalu akan berhadapan dengan masalah baru karena tumbuhnya tumbuhan yang tidak diinginkan yang merupakan salah satu akibat dari perubahan tersebut.

Berbagai batasan (definisi) gulma bersifat temporer (sementara) bergantung pada tempat dan waktu (objektifsubjektif). Beberapa definisi untuk gulma antara lain : 1) gulma adalah tumbuhan yang tidak sesuai dengan tempatnya; 2) gulma adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki; 3) gulma adalah tumbuhan yang bernilai negatif; 4) gulma adalah tumbuhan yang bersaing dengan manusia dalam memanfaatkan lahan; 5) gulma adalah tumbuhan yang tumbuh secara spontan; 6) gulma adalah tumbuhan yang tidak berguna (belum diketahui kegunaannya); 7) gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki pada waktu tertentu sehingga kita berusaha memberantas atau mengendalikannya.

KERUGIAN AKIBAT GULMA
Gulma dapat menyebabkan kerugian pada berbagai bidang kehidupan. Pada bidang pertanian, gulma dapat menurunkan kuantitas hasil tanaman. Penurunan kuantitas hasil tersebut disebabkan oleh adanya kompetisi gulma dengan tanaman dalam memperebutkan air tanah, cahaya matahari, unsur hara, ruang tumbuh dan udara yang menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Pertumbuhan tanaman yang terhambat akan menyebabkan hasil menurun. Besarnya penurunan hasil tanaman tergantung pada varietas tanaman, kesuburan tanah, jenis dan kerapatan gulma, lamanya kompetisi dan tindakan budidaya. Di Indonesia penurunan hasil akibat gulma diperkirakan mencapai 10-20%. Gulma juga dapat menurunkan kualitas hasil pertanian akibat tercampurnya biji-biji gulma dengan hasil panen pada saat panen maupun akibat tercampurnya biji-biji gulma sewaktu pengolahan hasil.

GULMA DAN PENGENDALIAN GULMA gulma di perkebunan teh merupakan salah Pengendalian

satu kegiatan rutin yang sangat penting dalam pemeliharaan tanaman teh. Populasi gulma yang tumbuh tidak terkendali, akan merugikan tanaman teh karena terjadinya persaingan di dalam memperoleh unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh. Jenis – jenis gulma tertentu diduga pula mengeluarkan senyawa racun allelopati (suatu keadaan di mana tanaman/bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanam-an lainnya.) yang membahayakan tanaman teh. Gulma akan menimbulkan masalah besar terutama pada areal tanaman teh muda atau pada areal tanaman teh produktif yang baru dipangkas. Hal ini disebabkan sebagian besar permukaan tanah terbuka dan secara langsung mendapatkan sinar matahari, sehingga perkecambahan maupun laju pertumbuhan berbagai jenis gulma berlangsung sangat cepat.

Pengendalian gulma pada pertanaman teh bertujuan untuk menekan serendah mungkin kerugian yang ditimbulkan akibat gulma, sehingga diperoleh laju pertumbuhan tanaman teh dan produksi pucuk yang maksimal. Diperkebunan teh dikenal gulma yang berbeda – beda jenisnya untuk setiap perkebunan. Jenis – jenis gulma yang banyak dijumpai adalah : Ageratum conyzoides (wedusan, babadotan), Borreria latifolia, Cyperus rotundus (teki), Eleusin indica, Emilia sonchifolia (jonge, jawirowo), Polygonum nepalense (jukut haseum), Oxalis sp. (calingsing, semangi gunung), Euphatorium riparium (teklan), Panicum repens (jajahean, lempuyangan, balungan), Imperata cylindrica (eurih, alang – alang) dan sebagainya.

Gulma utama pada tanaman TEH :
1. Ageratum conyzoides  Klasifikasi  Kingdom : Plantae (Tumbuhan)  Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)  Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)  Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)  Sub Kelas : Asteridae  Ordo : Asterales  Famili : Asteraceae  Genus : Ageratum  Spesies : Ageratum conyzoides L.

Tumbuhan ini merupakan herba menahun, tegak dengan ketinggian 30 - 80 cm dan mempunyai daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah tumbuh di mana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para petani. Gulma ini tumbuh pada daerah tropis berada pada tempat yang tak tergenang air dan pada daerah subtropis berada pada ketinggian 1-1200 m dpl. Suhu optimal untuk tumbuh 16-24˚C. intensitas cahaya tinggi yang dibutuhkan gulma ini sehingga pertumbuhan direduksi bila ternaungi. PENGENDALIAN SECARA KIMIAWI YAITU SECARA UMUM DAPAT DIBERANTAS DENGAN MENGGUNAKAN DALAPON, GLITURAT DAN PARAQUAT TAPI BILA TERASOSIASI DENGAN JAGUNG, KACANG TANAH DAN KEDELAI DAPAT DIGUNAKAN ALACHOR. PENGGUNAAN DALAPON ATAU PARAQUAT LANGSUNG DISEMPROTKAN MENGENAI GULMA TERSEBUT.

2. Borreria latifolia Nama ilmiah Nama umum Nama local Familia : Borreria laevis ( Lank ) Griseb : Button weed : Kutumpang : Rubiaceae

Deskripsi Akar : memiliki akar tunggang. Batang : batangnyaa berbentuk batang basah/herba, tegak, tanaman tahunan, biasanya bercabang pada bagian bawah saja. Tinggi tanaman antara 15-50 cm. Daun : daun pada tanaman ini lebar, berbentuk bulat panjang (folium oblongatum), dengan tulang daun menyirip (penninervis). Bunga : bunganya biseksual, aktinomorfik, terdapat pada ketiak daun, setiap ketiak daun terdiri dari banyak bunga. Buah : buah tanamn ini berambut ditengah-tengah bagian atas mahkota dengan 4 sepala. Habitat : tempat hidup tanaman ini berada daerah yang cukup sinar. matahari sepanjang pinggir jalan, pada tanah-tanah keras. Perbanyakan : perbanyakan yang dilakukan secara generatif dengan biji. Pengendalian : pengendalian yang dilakukan adalah diuron, pada spesies lain digunakan piclorom.

3. CYPERUS ROTUNDUS  KLASIFIKASI :  KINGDOM : PLANTAE  DIVISIO : MAGNOLIOPHYTA  CLASSIS : LILIOPSIDA  SUB CLASSIS : COMMELINIDAE  ORDO : CYPERALES  FAMILIA : CYPERACEAE  GENUS : CYPERUS  SPECIES : CYPERUS ROTUNDUS   NAMA ILMIAH : CYPERUS ROTUNDUS L.  NAMA UMUM : NUT GRASS  NAMA LOCAL : TEKI  FAMILIA : CYPERACEAE

Deskripsi :

 Akar  Batang  Daun

   

: memiliki akar serabut. : batangnya berbentuk segitiga, padat dan licin. : daunnya berjejal pada pangkal batang membentuk roset akar dengan pelepah daun tertutup tanah, helaian daun berbentuk pita, bertulang sejajar, tepi rata, permukaan atas berwarna hijau mengkilap dengan panjang 10-60 cm dan lebar 26 mm. Bunga : bunganya berbentuk bulir dengan 3-10 bulir kecil yang mempunyai 8-25 bunga. Buah : buah batu, kecil dan memanjang. Habitat : tempat tumbuh tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka dan pada ketinggian 1-1000 m dpl pada bermacam-macam tanah. Perbanyakan : perbanyaka yang terjadi secara generatif, dengan biji dan vegetatif, dengan rimpang (stolon).
PENGENDALIAN : SECARA KIMIAWI DENGAN MENGGUNAKAN HERBISIDA 2 LB MSMA DITAMBAH 1 LB 2,4 D DITAMBAH 1 PT SURFACTANT DALAM 40 GALON AIR DAN DIBERIKAN DALAM INTERVAL 1 MINGGU.

Cara Pengendalian Gulma Pada Tanaman Teh Secara Umum
 A. Cara Kultur Teknis

Pengendalian gulma secara kultur teknis merupakan upaya menekan pertumbuhan dan perkembangan gulma melalui pengaturan dcara bertanam, penanaman tanaman penutup tanah, dan atau pemberian mulsa.
 B. Cara Manual / Mekanis

Cara manual merupakan cara pengendalian gulma tradisional dengan menggunakan alat – alat yang sederhana seperti cangkul, kored, garpu, sabit, dan sebagainya.
 C. Cara Kimia

Pengendalian gulma secara kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia berupa racun gulma atau herbisida. Karena sifatnya yang langsung ditujukan pada gulmanya, cara ini mempunyai beberapa keuntungan jika dilaksanakan sesuai anjuran, memperhatian sifat gulmanya, dan juga sifat herbisidanya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->