P. 1
BaTuk Efektif

BaTuk Efektif

|Views: 57|Likes:

More info:

Published by: Yhuattuchiha Al Jannah on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2012

pdf

text

original

MANFAAT

1. Untuk mengeluarkan sekret yang menyumbat jalan nafas 2. Untuk memperingan keluhan saat terjadi sesak nafas pada penderita jantung.

Cara Batuk Efektif

1. 2. 3. 4. 5.

Tarik nafas dalam 4-5 kali Pada tarikan selanjutnya nafas ditahan selama 1-2 detik Angkat bahu dan dada dilonggarkan serta batukan dengan kuat Lakukan empat kali setiap batuk efektif, frekuensi disesuaikan dengan kebutuhan Perhatikan kondisi penderita

MALARIA
pada sel darah merah. Penyakit malaria ini ditularkan oleh nyamuk yang membawa parasit yang menyebabkan malaria. Penyakit Malaria adalah salah satu dari jenis penyakit menular dan disebabkan oleh parasit ( plasmodium ) yang ditularkan oleh nyamuk malaria ( Anopheles ) dan menginfeksi sel-sel darah merah. Itu adalahpengertian malaria menurut tinjauan dari sisi medis. Kali ini seperti biasanya blog Keperawatan akan mencoba share mengenai askep malaria ini yang tentunya ditinjau dari segi bidang keperawatan dan semoga askep malaria ini dapat memberikan manfaat.

Langsung saja sahabat kedalam topik pembahasan ini yaitu askep malaria.Tentunya hal pertama yang diulas dalam sebuah asuhan keperawatanadalah pengkajian. Berikut adalah beberapa pengkajian yang dilakukan dalam melaksanakan askep malaria ini. 1. Aktifitas / Istirahat. Gejala yang dikaji : Kelemahan, keletihan, malaise umum. Tanda yang didapatkan : Kelemahan otot, takikardia (nadi <100X/menit), penurunan kekuatan. 2. Sirkulasi. Tanda yang didapatkan dalam sistem sirkulasi ini diantaranya yaitu tekanan darah bisa normal atau turun, denyut perifer kuat dan cepat(pada fase demam), kulit terasa hangat, diuresis (diaphoresis ) karena vasodilatasi pembuluh darah perifer, hipovolemia, penurunan aliran darah, pucat dan juga lembab (karena vasokontriksi). 3. Eliminasi. Gejala yang dikaji : Penurunan haluaran urine dan juga bisa terjadi diare atau konstipasi. yang didapatkan : Adanya distensi abdomen. 4. Makanan serta cairan. Gejala yang dikaji : Mual, muntah, anoreksia. Tanda yang didapatkan : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan penurunan masa otot, penurunan haluaran urine, konsentrasi urine. 5. Neuro sensori. yang dikaji : Pusing, sakit kepala, pingsan. Tanda yang didapatkan : Cemas, gelisah, kacau mental, disorientasi, ketakutan. Bisa terjadi delirium / koma. 6. Pernafasan. Gejala yang dikaji : Takipnoe dengan penurunan kedalaman pernafasan. Tanda yang didapatkan : Nafas pendek disaat intirahat dan juga aktifitas. Selanjutnya setelah melakukan pengkajian pada askep malaria di atas, langkah selanjutnya adalah dengan menentukan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari tanda dan gejala yang timbul dapat diuraikan seperti dibawah ini (Doengoes, Moorhouse dan Geissler, 1999). Diagnosa keperawatan asuhan keperawatan malaria ini diantaranya yaitu : 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan

yang tidak adekuat, anorexia, mual / muntah. Intervensi Keperawatan :

 

Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. Observasi dan catat masukan makanan klien. Rasional tindakan ini yaitu mengawasi masukan kalori atau kualitas kekeurangan konsumsi makanan. Berikan makan sedikit dan makanan tambahan kecil yang tepat. Rasional tindakan ini yaitu dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode anoreksia. Pertahankan jadwal penimbangan berat badan secara teratur. Rasional tindakan ini yaitu mengawasi penurunan berat badan atau efektifitas intervensi pemberian nutrisi. Diskusikan yang disukai klien dan masukan dalam diet murni. Rasional tindakan ini ysitu dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa berpartisipasi / kontrol diet. Observasi dan catat kejadian mual / muntah, dan gejala lain yang berhubungan. Rasional tindakan ini yaitu gejala Gastro Intestinal dapat menunjukan efek anemia (hipoksia) pada organ. Kolaborasi untuk melakukan rujukan ke ahli gizi. Rasional tindakan ini yaitu perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi klien.

2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan sistem tubuh (pertahanan utama tidak adekuat), prosedur invasif. Intervensi Keperawatan :

 

 

Pantau terhadap kecenderungan peningkatan suhu tubuh. Rasional tindakan ini yaitu bahwa demam disebabkan oleh efek endoktoksin pada hipotalamus dan hipotermia adalah tanda-tanda penting yang merefleksikan perkembangan status syok / penurunan perfusi jaringan. Amati adanya menggigil dan diaforesis. Rasional tindakan ini yaitu menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu yang terjadi pada infeksi umum. Memantau tanda - tanda penyimpangan kondisi / kegagalan untuk memperbaiki selama masa terapi. Rasional tindakan ini adalah dapat menunjukkan ketidak tepatan terapi antibiotik atau pertumbuhan dari organisme. Berikan obat anti infeksi sesuai petunjuk. Rasional tindakan ini yaitu dapat membasmi / memberikan imunitas sementara untuk infeksi umum. Dapatkan sample darah. Rasional tindakan ini yaitu untuk identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi penyakit malaria.

3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme dehirasi efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. Intervensi Keperawatan :

 

 

Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil. Rasional tindakan ini yaitu hipertermi menunjukan proses penyakit infeksi akut. Pola demam menunjukkan diagnosis penyakit malaria. Pantau suhu lingkungan. Rasional tindakan ini yaitu suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu yang mendekati normal. Berikan kompres mandi hangat, hindari penggunaan alkohol. Rasional tndakan ini yaitu dapat membantu mengurangi demam, penggunaan es / alkohol mungkin menyebabkan kedinginan. Selain itu alkohol dapat juga mennyebabkan mengeringkan kulit. Berikan obat antipiretik. Rasional tindakan ini yaitu digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. Berikan selimut pendingin. Rasional tindakan ini yaitu selimut ini digunakan untuk mengurangi demam dengan hipertermi.

4. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. Intervensi Keperawatan :

Pertahankan tirah baring bantu dengan aktivitas perawatan. Rasional tindakan ini adalah menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi oksigen, memaksimalkan efektifitas dari perfusi jaringan. Pantau terhadap kecenderungan tekanan darah, mencatat perkembangan hipotensi dan perubahan pada tekanan nadi. Rasional tindakan ini adalah bahwa hipotensi akan berkembang bersamaan dengan kuman yang menyerang darah. Perhatikan kualitas, kekuatan dari denyut perifer. Rasional tindakan ini adalah bahwa pada ada awal nadi cepat kuat karena peningkatan curah jantung, nadi dapat lemah atau lambat karena hipotensi yang terus menerus, penurunan curah jantung dan vaso kontriksi perifer. Kaji frukuensi pernafasan kedalaman dan kualitas. Perhatikan dispnea berat. Rasional tindakan ini adalah peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon terhadap efek-efek langsung dari kuman pada pusat pernafasan. Pernafasan menjadi dangkal bila terjadi insufisiensi pernafasan, menimbulkan resiko kegagalan pernafasan akut. Berikan cairan parenteral. Rasional tindakan ini adalah untuk mempertahankan perfusi jaringan, sejumlah besar cairan mungkin dibutuhkan untuk mendukung volume sirkulasi.

5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan / mengingat kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif. Intervensi Keperawatan :

 

 

Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan. Rasional tindakan ini adalah bahwa memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan. Berikan informasi mengenai pemberian obat- obatan, interaksi obat, efek samping dan ketaatan terhadap program. Rasional tindakan ini adalah meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan dan mengurangi kambuhnya komplikasi. Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan nutrisional yang tepat dan seimbang. Rasional tindakan ini adalah bahwa perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum. Dorong periode istirahat dan aktivitas yang terjadwal. Rasional tindakan ini adalah bahwa mencegah pemenatan, penghematan energi dan meningkatkan penyembuhan. Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan. Rasional tindakan ini adalah membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah penyebab penyakit yang ada. Identifikasi tanda dan gejala yang membutuhkan evaluasi medis. Rasional tindakan ini adalah pengenalan dini dari perkembangan / kambuhnya infeksi. Tekankan pentingnya pengobatan antibiotik sesuai kebutuhan. Rasional tindakan ini adalah penggunaan terhadap pencegahan terhadap infeksi.

MALARIA A. KONSEP DASAR 1. DEFINISI Malaria adalah suatu penyakit akut dan bisa menjadi kronik, disebabkan protozoa yang hidup intra sel, genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia, dan splenomegali. 2. ETIOLOGI Plasmodium sebagai penyebab malaria terdiri dari 4 spesies, yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Malaria juga melibatkan hospes perantara, yaitu manusia maupun vertebra lainnya, dan hospes definitif, yaitu nyamuk Anopheles.

3. PATOFISIOLOGI Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual eksogen (sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan hospes vertebra termasuk manusia. a. Fase aseksual Fase aseksual terbagi atas fase jaringan dan fase eritrosit. Pada fase jaringan, sporozoit masuk dalam aliran darah ke sel hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit. Proses ini disebut skizogoni praeritrosit. Lama fase ini berbeda untuk tiap fase. Pada akhir fase ini, skizon pecah dan merozoit keluar dan masuk aliran darah, disebut sporulasi. Pada Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, sebagian sporozoit membentuk hipnozoit dalam hati sehingga dapat mengakibatkan relaps jangka panjang dan rekurens. Fase eritrosit dimulai dan merozoit dalam darah menyerang eritrosit membentuk trofozoit. Proses berlanjut menjadi trofozoit-skizon-merozoit. Setelah 2-3 generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. Masa antara permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten, sedangkan masa tunas/inkubasi intrinsik dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam. b. Fase seksual Parasit seksual masuk dalam lambung betina nyamuk. Bentuk ini mengalami pematangan menjadi mikro dan makrogametosit dan terjadilah pembuahan yang disebut zigot (ookinet). Ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Bila ookista pecah, ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar liur nyamuk. 4. MANIFESTASI KLINIK Pada anamnesis ditanyakan gejala penyakit dan riwayat bepergian ke daerah endemik malaria. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan adalah: a. Demam

Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporulasi). Pada malaria tertiana (Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale), pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan malaria kuartana (Plasmodium malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan ditandai dengan beberapa serangan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium, yaitu menggigil (15 menit-1 jam), puncak demam (2-6 jam), dan berkeringat (2-4 jam). Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respons imun.

b. Splenomegali Slenomegali merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam, dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang bertambah. c. Anemia Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena Plasmodium falciparum. Anemia disebabkan oleh: 1) Penghancuran eritrosit yang berlebihan. 2) Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time). 3) Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sum-sum tulang (diseritropoesis). d. Ikterus Ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar. Malaria laten adalah masa pasien di luar masa serangan demam. Periode ini terjadi bila parasit tidak dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit masih bertahan dalam jaringan hati. Relaps adalah timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama. Relaps dapat bersifat: Relaps jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah serangan pertama hilang karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak. Relaps jangka panjang (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebih setelah serangan pertama hilang karena parasit eksoeritrosit hati masuk ke darah dan berkembang biak. 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG Analisis darah akan memperlihatkan adanya parasit sel darah merah. 6. PENATALAKSANAAN Terapi profilaktik terhadap malaria dianjurkan bagi orang yang bepergian ke daerah endemik. Pencegahan di daerah endemik antara lain terdiri dari eliminasi sumber-sumber genangan air dan penggunaan insektisida, kelambu, dan insect reppelent. Tersedia obat antimalaria untuk mengatasi penyakit apabila terjangkit. Kadang-kadang dilakukan transfusi darah. Namun, di daerah-daerah endemik dapat terjadi penularan virus imunodefisiensi manusia (HIV). Baru-baru ini diciptakan vaksin yang tidak mencegah infeksi oleh parasit, tetapi tampaknya

dapat mengurangi keparahan penyakit.

B. ASUHAN KEPERAWATAN I. PENGKAJIAN Aktivitas/istirahat Gejala: Malaise. Sirkulasi Tanda: TD normal/sedikit dibawah jangkauan normal. Kulit hangat, kering, bercahaya (vasodilasi), pucat, lembab, burik (vasokonstriksi). Makanan/cairan Gejala: Anoreksia, mual/muntah. Tanda: Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot. Penurunan haluaran, konsentrasi urine; perkembangan ke arah oliguria, anuria. Neurosensori Gejala: Sakit kepala, pusing, pingsan. Tanda: Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium/koma. Nyeri/kenyamanan Gejala: Kejang abdominal, lokalisasi rasa sakit/ketidaknyamanan. Pernapasan Gejala: Takipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan, penggunaan kortikosteroid, infeksi baru. Tanda: Suhu: umumnya meningkat (37,95oC atau lebih) tetapi mungkin normal pada lansia. Menggigil, ruang eritema makular, drainase purulen. II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Risiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem imun. 2. Hipertermia b/d perubahan pada regulasi temperatur. 3. Risiko kekurangan volume cairan b/d peningkatan metabolisme tubuh. 4. Intoleran aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan nutrisi dari kebutuhan. 5. Nyeri b/d proses inflamasi. III. INTERVENSI 1. Risiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem imun. Tujuan : Menunjukkan penyembuhan seiring perjalanan waktu, bebas dari tanda-tanda infeksi. Intervensi : 1) Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi. R/ Mengurangi risiko kemungkinan infeksi. 2) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan steril. R/ Mengurangi kontaminasi silang. 3) Pantau kecenderungan suhu. R/ Demam disebabkan oleh efek-efek dari endotoksin pada hipotalamus dan endorfin yang melepaskan pirogen. Hipotermia adalah tanda-tanda genting yang merefleksikan

perkembangan status syok/penurunan perfusi jaringan. 4) Amati adanya menggigil dan diaforesis. R/ Menggigil seringkali mendahului memuncaknya suhu pada infeksi. 5) Pantau tanda-tanda penyimpangan kondisi/kegagalan untuk membaik selama masa terapi. R/ Dapat menunjukkan ketidaktepatan/ketidakadekuatan terapi antibiotik atau pertumbuhan berlebihan dari organisme resisten/oportunistik. 6) Kolaborasi pemberian obat anti infeksi sesuai indikasi. R/ Dapat membasmi/memberikan imunitas sementara untuk infeksi. 2. Hipertermia b/d perubahan pada regulasi temperatur. Tujuan : Menunjukkan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan. Intervensi : 1) Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan adanya menggigil/ diaforesis. R/ Suhu 38,9oC-41,1oC menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis. Menggigil sering mendahului puncak suhu. 2) Pantau suhu lingkungan, tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. R/ Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. 3) Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan alkohol. R/ Membantu mengurangi demam. Alkohol mungkin menyebabkan kedinginan dan dapat mengeringkan kulit. 4) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai indikasi. R/ Mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. 3. Risiko kekurangan volume cairan b/d peningkatan metabolisme tubuh. Tujuan : Mempertahankan volume sirkulasi adekuat dengan tanda-tanda vital dalam batas normal pasien, nadi perifer teraba, dan haluaran urine adekuat. Intervensi : 1) Ukur/catat haluaran urine dan berat jenis. Catat ketidakseimbangan masukan dan haluaran kumulatif (termasuk semua kehilangan/tak kasat mata). R/ Penurunan haluaran urine dan berat jenis akan menyebabkan hipovolemia. 2) Dorong masukan cairan sesuai toleransi. R/ Memenuhi kebutuhan cairan, mencegah dehidrasi. 3) Kaji membran mukosa kering, turgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus. R/ Hipovolemia akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi. 4) Berikan cairan IV sesuai indikasi. R/ Menggantikan kehilangan dengan meningkatkan permeabilitas kapiler dan meningkatkan sumber-sumber tak kasat mata, mis: demam/diaforesis. 4. Intoleran aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan nutrisi dari kebutuhan.

Tujuan : Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari). Intervensi : 1) Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/AKS normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas. R/ Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan. 2) Awasi TD, nadi, pernapasan, selama dan sesudah aktivitas. Catat respons terhadap aktivitas (mis: peningkatan denyut jantung/TD, disritmia, pusing, dispnea, takipnea, dan sebagainya). R/ Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. 3) Berikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan. R/ Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru. 4) Gunakan teknik penghematan energi, mis: mandi dengan duduk, duduk untuk melakukan tugas-tugas. R/ Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan. 5) Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi. R/ Regangan/stres kardiopulmonal berlebihan/stress dapat menimbulkan dekompensasi/kegagalan. 5. Nyeri b/d proses inflamasi. Tujuan : Melaporkan nyeri hilang/terkontrol. Intervensi : 1) Observasi dan catat lokasi, beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri. R/ Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi, dan keefektifan intervensi. 2) Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman. R/ Tirah baring pada posisi Fowler rendah menurunkan tekanan intra abdomen, namun pasien akan melakukan posisi yang menghilangkan nyeri secara alamiah. 3) Kontrol suhu lingkungan. R/ Dingin pada sekitar ruangan membantu meminimalkan ketidaknyamanan kulit. 4) Dorong menggunakan teknik relaksasi. Berikan aktivitas senggang. R/ Meningkatkan istirahat dan dapat meningkatkan koping. 5) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi. R/ Menghilangkan/membantu dalam manajemen nyeri. IV. EVALUASI 1. Menunjukkan penyembuhan seiring perjalanan waktu, bebas dari tanda-tanda infeksi. 2. Menunjukkan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan. 3. Mempertahankan volume sirkulasi adekuat dengan tanda-tanda vital dalam batas normal

pasien, nadi perifer teraba, dan haluaran urine adekuat. 4. Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas harian). 5. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol. DAFTAR PUSTAKA Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed.3.EGC. Jakarta. Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Ed. 3 Jilid 1. Media Aesculapius. Jakarta. Slamet suyono, dkk. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Ed.3. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Cara Penularan dan siklus hidup Tergantung faktor setempat; seperti pola curah air hujan, kedekatan antara lokasi perkembangbiakan nyamuk dengan manusia, dan jenis nyamuk di wilayah tersebut. Dikenal istilah ‘endemis malaria’ dan ‘musim malaria’ Epidemik yang luas dan berbahaya dapat terjadi ketika parasit yang bersumber dari nyamuk masuk ke wilayah di mana masyaratnya memiliki kontak dengan parasit namun memiliki sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki kekebalan terhadapa malaria. Atau, ketika orang dengan tingkat kekebalan rendah pindah ke wilayah yang memiliki kasus malaria tetap. Epidemik ini dapat dipicu dengan kondisi iklim basah dan banjir, atau perpindahan masyarakat akibat konflik. Selengkapnya Download disini

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->