P. 1
jurnal_1

jurnal_1

|Views: 785|Likes:
Published by Edward Steeward

More info:

Published by: Edward Steeward on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2013

pdf

text

original

Pemimpin Umum Penanggungjawab Ketua Redaksi Anggota Redaksi

: : : :

Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK- UNAND Dr. dr. Rizanda Machmud, MKes Deni Elnovriza, STP, MSi Nizwardi Azkha, SKM, MPPM, MPd, MSi Syafrawati, SKM Vivi Triana, SKM Masrizal, SKM Fivi Melva Diana, SKM 2 x setahun (Maret, September) Rp.75.000,00 per tahun Rek. a/n Dr. H. Hafni Bachtiar, MPH No. Rek. 0051061837 BNI Padang Cabang Imam Bonjol Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK- UNAND Jln. Perintis Kemerdekaan Padang Telp. (0751) 38613

Penerbitan Langganan

: :

Alamat Redaksi

:

Jurnal Kesehatan Masyarakat merupakan majalah ilmiah Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UNAND. Redaksi menerima sumbangan naskah ilmiah di bidang Gizi, Epidemiologi, Kebijakan Kesehatan, Kesehatan Reproduksi dan bidang-bidang lain yang terkait dengan kesehatan masyarakat. Pedoman penulisan dapat dilihat pada halaman berikut ini. Jurnal Kesehatan Masyarakat dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya. i

PETUNJUK BAGI PENULIS
1. Jurnal ini memuat naskah di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat yang meliputi: Epidemiologi, Biostatistik, Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Kesehatan Lingkungan, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Gizi Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Reproduksi. 2. Naskah yang dikirimkan kepada redaksi adalah naskah hasil penelitian atau studi literatur yang belum pernah dan tidak akan dipublikasikan di tempat lain dalam bentuk cetakan. 3. Naskah hasil penelitian memuat : judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan saran. Naskah studi literatur memuat unsur yang sama kecuali metode dan hasil. 4. Unsur-unsur naskah: a. Judul ditulis dengan singkat, maksimal 15 kata b. Identitas peneliti dicantumkan sebagai catatan kaki pada halaman pertama naskah c. Abstrak ditulis dalam Bahasa Inggris dengan kata kunci dalam 1 (satu) paragraf dengan jumlah maksimal 200 kata. d. Pendahuluan tanpa sub judul, memuat latar belakang masalah, sedikit tinjauan pustaka serta masalah dan tujuan penelitian. e. Metode yang digunakan dijelaskan secara rinci, memaparkan disain atau rancangan penelitian yang digunakan, sasaran penelitian (populasi, sampel dan sumber data), teknik dan instrumen pengumpulan data yang menggambarkan teknik atau prosedur analisis data. f. Pembahasan menginterpretasikan secara tepat hasil penelitian, mengaitkan secara argumentatif temuan penelitian dengan teori yang relevan, menggunakan bahasa dialog yang logis, sistematik dan mengalir g. Tabel diketik satu spasi dengan nomor yang sesuai dengan penyebutan dalam teks. Jumlah maksimal 6 tabel dengan judul singkat. Semua singkatan yang tidak baku dijelaskan dalam catatan kaki. h. Kesimpulan dan saran menjawab masalah penelitian, dibuat berdasarkan hasil penelitian, dan tepat guna. i. Rujukan ditulis sesuai dengan penulisan vancouver, diberi nomor urut sesuai dengan pemunculan dalam keseluruhan teks, dibatasi 25 rujukan. Nama penulis yang dicantumkan maksimal 6 orang, selebihnya diikuti et al. 5. Naskah diketik menggunakan program MS-Word, font Times New Roman 12, spasi ganda, garis tepi kiri 4 cm, tepi kanan 3 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm. 6. Tebal naskah 8-15 halaman. Naskah dikirimkan dalam bentuk CD dan print out. 7. Naskah dikirim kepada: Redaksi Jurnal Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand Jln. Perintis Kemerdekaan Padang Telp. (0751) 38613 Fax. (0751) 38613

ii

DAFTAR ISI
EDITORIAL Pencapaian Tujuan Millenium Development Goals (MDGs) Bidang Kesehatan di Indonesia (1-4) Syafrawati

ARTIKEL PENELITIAN Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi USILA di Kota Padang Tahun 2006 (5-8) Elza Enny, Deni Elnovriza, Sudihati Hamid Analisis Perencanaan Tahunan Kesehatan Sub Dinas Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Depok Tahun 2002 (9-13) Syafrawati Analisis Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah di Kota Padang (14-18) Nizwardi Azkha Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Anak Batita di Kecamatan Kuranji Kelurahan Pasar Ambacang Kota Padang Tahun 2004 (19-23) Fivi Melva Diana

STUDI LITERATUR Strategi Pencegahan Penyakit dan Promosi Kesehatan untuk Penyakit Perlemakan Hati (24-29) Rizanda Machmud Penilaian Tingkat Fertilitas dan Penatalaksanaannya Pada Pria (30-39) Masrizal Khaidir Macam-macam Vitamin dan Fungsinya dalam Tubuh Manusia (40-47) Vivi Triana

MENGENAL PSIKM FK UNAND LEBIH DEKAT (48-49) SEKILAS TENTANG HIMA PSIKM FK UNAND PERIODE 2006/2007 (50-52)

iii

DARI REDAKSI

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat ALLAH SWT, karena atas izin-Nya, jurnal ilmiah dibidang kesehatan masyarakat ini dapat diterbitkan. Berawal dari sebuah kesadaran bahwa karya-karya ilmiah yang dihasilkan oleh kalangan akademisi maupun praktisi bidang kesehatan masyarakat sudah sedemikian banyak, namun sampai saat ini gaungnya dirasakan masih samarsamar. Boleh jadi salah satu penyebabnya adalah karena minimnya publikasi. Untuk itulah jurnal kesehatan masyarakat ini hadir sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut. Pembaca yang budiman, kita tentunya menyadari ada banyak masalah kesehatan masyarakat yang menantang untuk dicarikan solusinya seperti masalah gizi, sampah, penyakit menular dan tidak menular, perilaku, kesehatan reproduksi, maupun manajemen kesehatan. Salah satu contoh masalah dibidang gizi adalah masalah gizi kurang pada masyarakat usia lanjut, selain masalah gizi lebih yang berdampak pada peningkatan penyakit degeneratif pada usila. Gizi anak bawah tiga tahun (batita) perlu juga mendapat perhatian lebih. Status gizi anak batita berkaitan erat dengan pola asuh. Anak yang

dibesarkan dengan pola pengasuhan yang tidak baik ditambah lagi dengan lingkungan yang kurang baik pula maka status gizinya akan lebih buruk dibandingkan dengan anak dengan pola asuh yang baik. Di kota besar sampah selalu menjadi masalah, baik dari segi jumlah maupun dari jenisnya. Untuk itu diperlukan informasi tentang timbulan sampah, komposisi sampah dan karakteristik sampah yang akurat yang akan berguna untuk perencanaan pengelolaan sampah dimasa mendatang khususnya di Kota Padang. Penelitian tentang hal ini bisa anda dapatkan di edisi kali ini. Masih banyak lagi hasil penelitian yang pastinya berguna bagi penyelesaian masalah kesehatan masyarakat. Tentunya kita sepakat bahwa nilai dari sebuah ilmu adalah seberapa besar manfaat ilmu tersebut dalam kehidupan. Ilmu yang bermanfaat ibarat hujan yang menumbuhkan dan menyuburkan segala yang hidup, yang dengannya kehidupan bergerak kearah yang lebih baik, lebih maju dan lebih bermartabat. Selamat membaca. Salam Redaksi

iv

EDITORIAL

PENCAPAIAN TUJUAN MDGs BIDANG KESEHATAN DI INDONESIA

Syafrawati*

What is MDGs? Akhir-akhir ini sering terdengar tentang MDGs. Sebagian orang mungkin sudah sangat familiar dengannya , sebagian lagi mungkin hanya tahu setengah-setengah atau mungkin ada yang tidak tahu sama sekali. Millenium Development Goals (MDGs) yang kalau di Bahasa Indonesiakan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium (TPM), adalah suatu rancangan pembangunan millenium yang disepakati oleh Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan September 2000. Konferensi ini dihadiri oleh 189 negara anggota termasuk Indonesia. MDGs mempunyai 8 tujuan yang memiliki satu atau beberapa target yang harus tercapai pada tahun 2015 dengan dasar situasi dunia pada tahun 1990. Kedelapan tujuan tersebut adalah sebagai berikut : 1 1. Menghapuskan tingkat kemiskinan dan kelaparan Target untuk 2015: Mengurangi setengah dari penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari 1 US$ sehari dan mengalami kelaparan. 2. Mencapai Pendidikan Dasar secara Universal Target 2015: Memastikan bahwa setiap anak laki dan perempuan mendapatkan dan menyelesaikan tahap pendidikan dasar.

3. Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan Target 2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015 4. Mengurangi tingkat kematian anak Target 2015: Mengurangi tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun hingga dua-pertiga 5. Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 2015: Mengurangi rasio kematian ibu hingga 75% dalam proses melahirkan 6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya Target 2015: Menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan gejala malaria penyakit berat lainnya. 7. Menjamin keberkelanjutan lingkungan Target: a. Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta merehabilitasi sumber daya lingkungan yang hilang b. Pada tahun 2015 mendatang diharapkan jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang layak dikonsumsi berkurang setengahnya c. Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai perbaikan kehidupan yang signifikan bagi sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh

* Staf Pengajar PSIKM FK Unand

1

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Target: a. Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang melibatkan komitmen terhadap pengaturan manajemen yang jujur dan bersih, pembangunan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional. b. Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara tertinggal, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauankepulauan kecil. c. Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negaranegara berkembang. d. Mengembangkan usaha produktif yang baik dijalankan untuk kaum muda e. Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi. MDGs BIDANG KESEHATAN Dibidang kesehatan tujuan yang hendak dicapai dalam MDGs adalah sebagai berikut:
Tabel 1. MDGs bidang kesehatan, Tujuan, Target dan Indikator
Tujuan Tujuan 4: Menurunkan angka kematian anak Target Menurunkan angka kematian Balita sebesar 2/3 antara tahun 1990 dan 2015 Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990-2015 Mengendalika n penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada 2015 Indikator Angka Kematian Balita Angka Kematian Bayi Persentase anak dibawah satu tahun yang diimunisasi campak Angka Kematian Ibu Proporsi pertolongan persainan oleh tenaga kesehatan terlatih Angka pemakaian kontrasepsi Prevalensi HIV di kalangan ibu hamil yang berusia antara 15-24 tahun Penggunaan kondom pada pemakai kontrasepsi Persentase anak muda usia 1524 tahun yang mempunyai pengetauan komprehensif tentang HIV/AIDS

8.

diketahui: 1. Menurunkan Angka Kematian Anak a. Angka Kematian Balita (AKBA) Angka kematian Balita dilaporkan menurun dari 97/ 1000 kelahiran hidup pada tahun 1989 menjadi 46/1000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Rata-rata penurunan AKBA pada tahun 1990-an adalah 7 % pertahun. Penting untuk dicatat bahwa pada tahun 2000 Indonesia telah mencapai target yag ditetapkan dalam World Summit for Children (WSC) yaitu 65/ 1000 kelahiran hidup.3 b. Angka Kematian Bayi (AKB) Penurunan Angka Kematian Bayi dilaporkan sudah sangat menggembirakan. Pada tahun 1989 AKB adalah 68/1000 kelahiran hidup sedangkan tahun 1999 sudah mencapai 35/1000 kelahiran hidup. Namun walaupun demikian, AKB di Indonesia masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan negara ASEAN antara lain 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,3 kali dari Filipina dan 1, 8 kali dari Thailand.4 c. Persentase anak di bawah satu tahun yang diimunisasi campak Persentase anak usia 12-23 bulan yang menerima sedikitnya satu kali imunisasi meningkat sebanyak 14 % dalam kurun waktu 1991 (57,5%) dan 2002 (71,6%).2 Sementara itu target Nasional untuk imunisasi campak untuk tahun 2010 ditetapkan 90%.4 2. Meningkatkan Kesehatan Ibu a. Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu menurun dari 400/ 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1990 menjadi 307 /100.000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan negara maju dan beberapa negara ASEAN. Target Nasional pada tahun 2015 Angka Kematian Ibu menjadi 124/100.000 kelahiran.4 Penyebab kematian ibu adalah perdarahan, ekslampia / gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama dan infeksi. Perdarahan yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak bertanggung jawab terhadap 28 % kematian ibu. Ekslamsia merupakan penyebab kedua kematian ibu yaitu 13 %.Aborsi yang tidak aman bertanggung jawab terhadap 11 % kematian ibu di Indonesia. Sepsis, penyebab lain kematian ibu sering terjadi karena kebersihan dan hiygiene yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit akibat

Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu

Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya

Sumber: (Budi Utomo, 2007)

Perkembangan MDGs terakhir disampaikan pemerintah pada tahun 2004. Laporan tersebut merupakan gambaran pencapaian target MDGs selama kurun waktu 1990- 2002/2003. Dibidang kesehatan ada beberapa hal yang penting untuk

2

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

hubungan seks yang tidak diobati berkontribusi pada 10% kematian ibu. Partus lama yang berkontribusi bagi 9 % kematian ibu, sering disebabkan oleh disproposi cephalopelvic, kelainan letak dan gangguan kontraksi uterus. 4 b. Proporsi Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Komplikasi persalinan menurun apabila persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih di lingkungan yang higienis dengan sarana yang memadai. Menurut data Susenas terjadi peningkatan proporsi kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan dari 41% pada tahun 1990 menjadi 68% pada tahun 2003. Sedangkan target Nasional pada tahun 2010 adalah 90%.2 c. Angka Pemakaian Kontrasepsi Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur dilaporkan meningkat sekitar 4% dari 50% pada tahun 1990 menjadi 54 % pada tahun 2002. Sementara itu pasangan usia subur yang tidak menginginkan hamil tetapi tidak memakai kontrasepsi sekitar 9%.2 3. Memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya A. HIV/AIDS Penurunan HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya mendapat perhatian besar dalam MDGs bidang kesehatan. Di Indonesia sendiri sampai akhir September 2003 tercatat 1.239 kasus AIDS dan 2.685 kasus HIV positif. Ini tentu saja bukan angka sebenarnya karena laporan jumlah penderita HIV/ AIDS ini ibarat puncak gunung es, artinya yang menderita jauh lebih banyak dari yang tercatat. Para ahli memperkirakan hingga saat ini terdapat 90.000130.000 orang di Indonesia yang hidup dengan HIV.4 Pola penyebaran yang umum terjadi adalah lewat hubungan seksual, selanjutnya lewat napza suntik. Di Jakarta terjadi kenaikan infeksi HIV pada pengguna napza suntik dari 15% pada tahun 1999 menjadi 47,9 % pada 2002. 5 a. Prevalensi HIV dikalangan ibu hamil yang berusia 15-24 tahun Penelitian di Provinsi Riau pada tahun 19981999 menunjukkan bahwa 0,35% ibu hamil telah terinfeksi HIV. Konseling dan testing sukarela di Jakarta Utara menunjukkan prevalensi HIV dikalangan ibu hamil adalah 1,5 % pada tahun 2000 dan meningkat 2,7 % pada 2001.6 b. Penggunaan kondom pada pemakai kontrasepsi

Data Susenas menunjukkan bahwa pengguna kondom sebagai alat KB pada wanita menikah usia subur sangat rendah yaitu 0,4% pada tahun 2002. 4 c. Persentase anak muda usia 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan komprehensif tentang HIV/ AIDS Sebuah penelitian pada tahun 2002 menunjukkan bahwa ada 38,4 % dari pelajar sekolah menengah atas usia 15-19 tahun di Jakarta yang menunjukkan secara benar cara penularan HIV dan menolak konsep yang salah tentang penularan HIV. B. Malaria Hampir separuh dari penduduk Indonesia tinggal di daerah endemik malaria. Rata-rata prevalensi malaria diperkirakan 850/100.000 penduduk, dengan angka tertinggi di Gorontalo, menyusul NTT dan Papua. Angka Kematian spesifik karena malaria diperkirakan 10/100.000 penduduk. Dari Anak balita dengan gejala klinis malaria hanya 4,4 % yang menerima pengobatan. Kelambu dan penyemprotan rumah dapat meminimalisir penularan malaria. Anak Balita yang tidurnya menggunakan kelambu diperkirakan 32 % sedangkan penggunaan kelambu yang telah direndam dengan insekisida hanya 0,2 %.2 c. Tuberkulosis (TB) Indonesia menempati urutan ke tiga kasus TB terbanyak didunia. Dilaporkan ada 582.000 kasus baru per tahun hampir separuhnya adalah BTA positif. Artinya dalam 100.000 penduduk terdapat 271 yang menderita TB dengan 122 diantaranya adalah BTA positif. Angka Kematian Spesifik karena TB adalah 68/100.000 penduduk. Penyakit TB merupakan penyakit kronik, melemahkan tubuh dan sangat menular. Penyembuhan memerlukan diagnosis akurat melalui pemeriksaan mikroskopis, pengobatan jangka panjang dengan ketaatan meminum obat anti TB. Analisis kohor tahun 2001 menunjukkan bahwa 85, 7 % penderita menyelesaikan pengobatan (pengobatan lengkap dan sembuh). Dibeberapa propinsi seperti Riau Bali dan Gorontalo angka kesembuhan lebih dari 95% sedangkan di Papua hanya 15,7% Kelangsungan berobat pada penderita TB tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan berobat, tetapi juga ketersediaan obat yang tidak terputus di fasilitas kesehatan. Survei tahun 2000 terhadap stok obat anti TB di fasilitas kesehatan menunjukkan angka kehabisan stok bervariasi dari 2-8%.2

3

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Daftar Pustaka

1. 2. 3.

Tujuan Pembangunan Millenium .htm.http:// Wikipedia.com Utomo, Budi, 2007. Tantangan Pencapaian Millenium Development Goal Bidang Kesehatan di Indonesia. Jurnal Nasional Kesehatan Masyarakat, Juni 2007 Central Bureau of Statistics,2000. End Decade Statistical Report; Data and Descriptive Analysis, Jakarta

4. 5. 6.

Laporan Millenium Development Goals (MDG) Indonesia.htm.http://Bappenas go.id Depkes RI, 2002. Rencana Strategis Penanggulangan HIV/AIDS Indonesia 2003-2007, Jakarta National AIDS Commision, Republic of Indonesia, May 2003. Country Report on Follow-up to The Declaration of Commitment on HIV/AIDS (UNGASS), Reporting period 2001-2003

4

ARTIKEL PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI USILA DI KOTA PADANG TAHUN 2006
Elza Enny*, Deni Elnovriza**, Sudihati Hamid***

ABSTRACT
The aged is the last segment in human life, where it has been growth and develop from the baby, adult and old. It turn out the increasing number of ages are not followed by good treatment toward of the aged-only about 15,6% of the aged in Padang can be managed by the posyandu (the center for integrated health care at the district). Then, in order to know about nutritional status of the aged therefore we did the research about ‘the factors that relating to the nutritional status af the aged in Padang’. The characteristic in this research is analytic to use the cross-sectional study. The research is doing at may 2006 in 2 location is Puskesmas Kuranji sub district Kuranji and Puskesmas Ulak Karang sub district North Padang with 108 samples. The results of this research indicated that 50,9% of the aged are 70 year old, 65,7% are the women, 84,3% live with their family, and 40-60% have physical disturbance problems, meanwhile 50% of the aged have the level of nutritional substances sufficiency with 80% of the suggested number of nutrition sufficiency and 25,9% of the aged have less of nutrition. The statement no significant relationships between ages and life’s companion with nutrition intake of the aged, but have inclination of the aged is about 70 years old and stay alone have less of nutrition. Another that, are significant relationship between the sex with nutrition intake, and are significant relationship between nutrition intake (energy/protein) with nutritional status and no significant relationships between fat intake with of the aged nutritional status. Futhermore, there are significant relationships between the ages and life’s companion with the nutritional status of the aged, and no significant relationship between the sex and nutritional status of the aged yet there is a tendency that most cases about less of nutrition found in men aged. Keywords : The aged, malnutrition, life’s companion

PENDAHULUAN Berbagai pihak menyadari bahwa dengan bertambahnya jumlah usila di Indonesia akan membawa pengaruh besar dalam pengelolaan kesehatannya. Saat ini angka kesakitan akibat penyakit degeneratif meningkat jumlahnya disamping masih adanya kasus penyakit infeksi dan kekurangan gizi.(3) Selain masalah gizi lebih yang berdampak pada peningkatan penyakit degeneratif pada usila, masalah gizi lain yang sering diderita usila adalah masalah gizi kurang. Banyak penelitian tentang status gizi usila yang telah dilakukan sehubungan dengan hal ini, seperti penelitian yang dilakukan oleh Bardosono dkk (1997) sebuah studi komparatif tentang status gizi usila di Jawa Barat menemukan
* Mahasiswa PSIKM FK Unand, ** Dosen PSIKM FK Unand, *** Dosen Poltekkes Padang

bahwa lebih dari 50 % usila di perkotaan dan pedesaan mempunyai pola makan tidak baik. Kejadian status gizi kurang, cukup tinggi pada usila dipedesaan (25,2%), sedangkan konsumsi energi dan protein rata-rata usila < 80% AKG kecuali untuk asupan protein pada usila di perkotaan ” 80 % AKG.
(6)

Pada umumnya masalah gizi kurang yang dialami usila tersebut dapat terjadi secara mendadak akibat adanya gangguan kesehatan pada usila. Keadaan ini membuat usila cenderung digolongkan sebagai salah satu kelompok yang rentan gizi, walaupun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan badan. Timbulnya kerentanan terhadap masalah gizi pada usila disebabkan oleh penurunan kondisi fisik, baik anatomis maupun fungsionalnya. (9) Beragamnya masalah kesehatan dan gizi yang dihadapi oleh usila, maka sudah selayaknya kelompok ini mendapat perhatian lebih dari berbagai kalangan,

5

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

untuk itu perlu kiranya dilakukan penelitian yang sama di Kota Padang guna memberi gambaran status gizi pada kelompok tersebut. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Usila di Kota Padang”. Penelitian dilakukan pada usila di dua wilayah kerja puskesmas Kota Padang yaitu Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji dan Puskesmas Ulak Karang Kecamatan Padang Utara. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apakah faktor-faktor (karakteristik, kondisi fisik dan asupan gizi) berhubungan dengan status gizi usila di Kota Padang. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan rancangan penelitian potong lintang atau cross sectional study. Jumlah sampel ditambah 10% sehingga didapat jumlah sampel keseluruhan menjadi 108 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Usila Rata-rata usia berumur 69,4 tahun. Umur terendah adalah 61 tahun sedangkan umur tertinggi adalah 93 tahun. Berdasarkan hasil penelitian ini distribusi responden terbanyak yaitu pada kelompok umur 70 tahun (50,9%). Proporsi responden perempuan lebih banyak dibandingkan dengan responden laki-laki, dan sebagian besar responden tinggal bersama keluarga. Kondisi Fisik Berdasarkan kondisi penglihatan sebagian besar penglihatan responden telah mengalami gangguan (65,7%) dan hampir separuh dari responden kondisi motoriknya telah mengalami gangguan (47,2%). Asupan Zat Gizi Responden a. Tingkat Kecukupan Zat Gizi Berdasarkan tingkat kecukupan lemak sebagian besar responden sudah baik (80% AKG) yaitu 78,7%. Untuk kecukupan energi dan protein persentase responden yang konsumsinya cukup baru diatas separuh yaitu energi (57,4%) dan protein (50,9%) b. Rerata Asupan Zat Gizi Responden Berdasarkan rerata asupan zat gizi responden terlihat bahwa persentase rata-rata asupan zat gizi perempuan lebih mendekati AKG yang dianjurkan untuk usila dibandingkan persentase rata-rata asupan zat gizi laki-laki, bahkan asupan lemak persentasenya

jauh diatas AKG yaitu energi (90,6%), protein (84,6%) dan lemak (118,9%). Status Gizi Responden Berdasarkan perhitungan IMT tersebut maka ditemukan responden yang berstatus gizi kurang sebanyak 28 orang (25,9%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan Status Gizi Usila Hubungan Karakteristik Usila dengan Asupan Gizi a. Hubungan Umur dengan Asupan Gizi
Tabel 1. Distribusi Asupan Zat Gizi Berdasarkan Umur

Setelah dilakukan uji kemaknaan antara umur dengan status gizi usila maka ditemukan hasil yang Umur Asupan Zat Gizi ≥ 70 status 60-69,9 Total menguatkan dimana tahun gizi kurang lebih banyak tahun dijumpai pada usila % berumur 70 tahun. Menurut n n % N % 1. Energi Rochmah dkk (2001) 49,1 19 lanjut umur seseorang semakin 35,8 46 Kurang (<80% AKG) 27 42,6 Cukup (≥80% AKG) 28 50,9 34 64,2 57,4 maka semakin terbatas kemampuan62organ-organ Total 55 100 53 100 108 100 2. pencernaannya seperti : kemampuan mengunyah yang Protein Kurang (<80% karena semakin 26 49,1 berkurangAKG) 27 49,1 banyak gigi53 yang 49,1 tanggal, Cukup (≥80% AKG) 28 50,9 27 50,9 55 50,9 Total 55 100 53 100 108 100 sensitifitas indera pengecap dan pencium yang 3. Lemak menurun AKG) 11 20,0 12 makan23 berkurang, Kurang (<80% sehingga selera 22,6 21,3 Cukup (≥80% AKG) 44 80,0 41 77,4 85 78,7 kemampuan motorik yang menurun sehingga Total 55 100 53 100 108 100 menimbulkan gangguan menyuap dan lain-lain. Hal ini lama kelamaan akan berpengaruh pada menurunnya asupan zat gizi usila akibatnya usila menjadi rentan terhadap masalah gizi kurang. (3) b. Hubungan Jenis Kelamin dengan Asupan Gizi
Tabel 2. Distribusi Asupan Zat Gizi Berdasarkan Jenis Kelamin
Asupan Zat Gizi 1. Energi Kurang (<80% AKG) Cukup (≥80% AKG) Total 2. Protein Kurang (<80% AKG) Cukup (≥80% AKG) Total 3. Lemak Kurang (<80% AKG) Cukup (≥80% AKG) Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan n % n % 30 7 37 33 4 37 14 23 37 81,1 18,9 100 89,2 10,8 100 37,8 62,2 100 16 55 71 20 51 71 9 62 71 22,5 77,5 100 28,2 71,8 100 12,7 87,3 100 Total N 46 62 108 53 55 108 23 85 108 % 42,6 57,4 100 49,1 50,9 100 21,3 78,7 100

6

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Jenis kelamin - Asupan energi: X2 = 34.098 df = 1 p = 0.000 Jenis kelamin - Asupan protein: X2 = df = p = 0.000 Jenis kelamin - Asupan lemak: X2 = 9.188 df = 1p = 0.002

Pada Tabel 2 terlihat bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan asupan zat gizi (p<0,05), .Temuan ini sesuai dengan penelitian dari Bardosono, dkk (1997) dimana usila laki-laki diperkotaan mempunyai proporsi tertinggi untuk status gizi kurang (29,2%) dikarenakan rendahnya asupan makanan dan pola makan yang tidak baik. Temuan ini juga hampir sama dengan survei status gizi yang dilakukan Kanwil Depkes Sumatera Barat pada tahun 1997, dimana persentase usila kurus untuk laki-laki (21,4%) dan perempuan (19,4%). c. Hubungan Status Teman Tinggal dengan Asupan Gizi
Tabel 3. Distribusi Asupan Zat Gizi Berdasarkan Status Teman Tinggal
Asupan Zat Gizi Status Teman Tinggal Tinggal Tinggal sendiri bersm kelg n % n % 8 9 17 8 9 17 5 12 17 47,1 52,9 100 47,1 52,9 100 29,4 70,6 100 38 53 91 45 46 91 18 73 91 41,8 58,2 100 49,5 50,5 100 19,8 80,2 100 Total N 46 62 108 53 55 108 23 85 108 % 42,6 57,4 100 49,1 50,9 100 21,3 78,7 100

itu pada penelitian ini juga ditemukan bahwa kurang pekanya keluarga dalam merawat usila seperti tidak adanya penyediaan makanan yang khusus untuk usila sesuai dengan kondisinya mengakibatkan status gizi kurang juga dijumpai pada usila yang tinggal bersama keluarga. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Berdasarkan karakteristik responden : rata-rata umur responden adalah 69,4 tahun, dimana responden terbanyak terdapat pada kelompok umur 70 tahun, jenis kelamin responden sebagian besar adalah perempuan, dan status teman tinggal yaitu kebanyakan responden tinggal bersama keluarga. 2. Kondisi fisik: sebagian besar responden kondisi penglihatannya telah mengalami gangguan, sedangkan kondisi motoriknya hampir separuh dari responden telah mengalami gangguan. 3. Rata-rata asupan zat gizi usila, untuk tingkat kecukupan lemak sebagian besar responden sudah baik (80% AKG), sedangkan untuk kecukupan energi dan protein persentase responden yang konsumsinya cukup baru diatas separuh. 4. Berdasarkan status gizi, sekitar seperempat dari responden mempunyai status gizi kurang. 5. Secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan asupan zat gizi (energi/protein/lemak) p<0,05 dan hubungan yang tidak bermakna antara umur, status teman tinggal dengan asupan zat gizi (energi/protein/ lemak) p>0,05, namun ada kecenderungan asupan zat gizi kurang lebih banyak dijumpai pada usila berumur 70 tahun dan usila yang tinggal sendiri. 6. Secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dan protein dengan status gizi (p<0,05) dan hubungan yang tidak bermakna antara asupan lemak dengan status gizi (p>0,05), namun ada kecenderungan bahwa usila berstatus gizi kurang lebih banyak dijumpai pada usila dengan asupan lemak kurang. 7. Secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara umur dan status teman tinggal dengan status gizi (p<0,05) dan hubungan yang tidak bermakna antara jenis kelamin dengan status gizi (p>0,05), namun ada kecenderungan

1. Energi Kurang (<80% AKG) Cukup (≥80% AKG) Total 2. Protein Kurang (<80% AKG) Cukup (≥80% AKG) Total 3. Lemak Kurang (<80% AKG) Cukup (≥80% AKG) Total

St teman tinggal - Asupan energi: X2 = 0.165 df = 1 p = 0.685 St teman tinggal - Asupan protein: X2 = 0.033 df = 1 p = 0.856 St teman tinggal - Asupan lemak: X2 = 0.793 df = 1 p = 0.373

Kesimpulannya setelah dilakukan uji kemaknaan antara status teman tinggal dengan status gizi usila maka ditemukan hasil yang menguatkan dimana status gizi kurang lebih banyak dijumpai pada usila yang tinggal sendiri, secara statistik hubungannya bermakna (p<0,05). Menurut Davies, (1991) yang dikutip dari penelitian Bardosono dkk menyebutkan bahwa status gizi usila sangat ditentukan oleh tempat tinggal (dengan siapa usila tinggal) mengingat usia yang lanjut dan terbatasnya fungsi organ maka kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada orang lain, keadaan ini akan berpengaruh pada persediaan makanan dirumah atau ditemukannya keadaan depresi / kesepian, sehingga kelompok usila menjadi peka terhadap masalah maltnutrisi.(6) Selain

7

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

bahwa usila yang berstatus gizi kurang lebih banyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki. A. Saran Dari hasil penelitian yang telah diperoleh maka penulis menyarankan : 1. Berbagai pihak terkait seperti jajaran DKK Padang dan Pemda Kota Padang agar lebih memperhatikan kondisi usila di Kota Padang terutama dalam hal konsumsinya, untuk itu diharapkan pada usila yang berstatus gizi kurang lebih meningkatkan asupan zat gizinya 2. Bagi petugas kesehatan dan usila itu sendiri agar selalu memonitoring status gizinya melalui posyandu usila.

3. Menyebarluaskan informasi tentang pentingnya pola makan seimbang sesuai dengan Pola Umum Gizi Seimbang (PUGS) kepada masyarakat terutama usila. 4. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini dengan menggali lebih banyak lagi hubungan asupan gizi dengan status gizi usila tetapi lebih mengarahkan kepada peran micro nutrient seperti: kalsium, vitamin A, besi, selenium dan zink terhadap status gizi usila. 5. Selain itu diharapkan juga peneliti lain melanjutkan penelitian ini dengan melihat hubungan antara kajian masalah psikologis dengan asupan gizi pada usila.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1.

Rohmah, 2001. Tua dan Proses Menua dalam Kumpulan Makalah Short Course Magister Gizi dan Kesehatan, UGM 2. Setia B & Hardy W, 1999. Panduan Gerantologi Tinjauan dari berbagai Aspek, Jakarta : PT Gramedia Utama 3. Depkes RI, 2003. Pedoman Tata Laksana Gizi Usila untuk Tenaga Kesehatan, Jakarta 4. Dinkes Propinsi Sumbar, Laporan Tahunan, Tahun 2003 dan Tahun 2004 5. Dinas Kesehatan Kota Padang, Laporan Tahunan Usila Tahun 2004 dan Tahun 2005 6. Bardosono S, dkk,1999. Studi Mengenai Kebiasaan Makan, Status Gizi dan Penyakit Degeneratif pada Kelompok Usila di Daerah Perkotaan dan Pedesaan di Jawa Barat, Bina Diknakes 13; 17-18 7. Christiani R, 2003. Status Gizi dan Pola Penyakit pada Lansia, WWW. Litbang Gizi Depkes. go. Id 8. Defriani D, 2005. Gambaran dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Lansia di propinsi Sumatera Barat, Padang 9. Sediaoetama A, 2004. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid I, Jakarta : Dian Rakyat 10. Supariasa- I, Bakri B & Fajar I, 2002. Penilaian Status Gizi, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC 11. Jellife, 1995. Nutrition Food the Environment 12. Isbagio H, 1993. Menuju Lansia yang Sehat, Jakarta : IKOMI 13. Roesma S, 2001. Silver Age Menggapai Usila Sejahtera, Jakarta : Ketujuh Communication

14. WHO, 2003. Aging and Nutrition : A Growing Global Challenge Available. Majalah Profesi Gizi Medik Indonesia volume 3 No. 8 April 2004, hal 20-25 15. Wirakusumah, ES, 2003. Menu Sehat Lanjut Usia, Jakarta : Puspa Swara 16. Budiman H, 2003. Nutrisi pada Lanjut Usia, Jakarta : Majalah Kedokteran Atmajaya 2:51-59 17. Jellife, 1989. Community Nutritional Assesment, USA Oxford Univercity Press 18. The Asia-Pacific Perspective. dalam Redefining Obesity and its Treatment. Health Comunications Australia Pty. Limited, 2000 19. Walhqvist M L, 1997. Requrment in Maturity and Aging dalam : Walhqvist Mark L, ed Food and Nutrition Australia, Asia and the Pacific Australia : Allen & Unwin 20. Depkes RI, 2004. Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan Tahun 2004 bagi Orang Indonesia , WWW.gizinet.Id 21. Singarimbun M, 1995. Metode dan Proses Penelitian dalam Singarimbun-Masri Efendi, Syofyan (eds) edisi revisi Metode Penelitian Survei, Jakarta : LP3ES 22. Notoatmojo S, 1995. Metodologi Penelitian Kesehatan, edisi revisi, Jakarta : Rineka Cipta 23. R.Boedhi D, 1999. Teori Proses Menua, Jakarta : Balai Penerbit FKUI 24. Sukmaniah S, dkk, 2004. Nutrisi Pada Lanjut Usia, Jakarta : Majalah Gizi Medik vol. 8 hal : 8-10 25. Rosmah W, dkk, 2001. Tua dan Proses Menua, Berkala Ilmu Kedokteran : hal 221-223

8

ARTIKEL PENELITIAN

ANALISIS PERENCANAAN TAHUNAN KESEHATAN SUB DINAS PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT DINAS KESEHATAN KOTA DEPOK TAHUN 2002
Syafrawati*

ABSTRACT
Planning is the important function of management. An ideal health planning is planning that create base on fact and condition of teritory area. The goal of this research is to analyse annuall health planning in Sub Dinas Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Depok on the year of 2002. The research is descriptive study with qualitative data. Data collected with deep interview and document observation. The result is planning process need to be improve in quality ang quantity of planner, fund for making ideal planning, facilites and writing procedur. Situation analysis does not use health determination, problem priority use mathematic methode and intervention comes from central government. The form of POA (Plan of Action ) are not specific describe the need of teritory area. Keywords : annual health planning, evidence based data, bottom up

PENDAHULUAN Dengan diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah No. 22 dan 25 tahun 1999 Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan yang lebih besar dalam melaksanakan program pembangunan kesehatan. Wewenang tersebut meliputi kegiatan perencanaan sampai dengan evaluasi program. Perencanaan program kesehatan kabupaten/ kota selama ini dirasakan lebih didominasi oleh proses top down. Target-target yang ditentukan dari pusat biasanya berdasarkan proyeksi nasional dan tidak sesuai dengan situasi riil di daerah. Ketidaksesuaian ini bukan saja dalam hal penetapan target program, namun kadangkala juga dalam hal penentuan prioritas masalah.1 Kota Depok memiliki permasalahan dibidang kesehatan yang cukup banyak. CFR (Case Fatality Rate) dari penyakit DHF meningkat dari tahun ke tahun. Diare dan ISPA selalu menjadi prioritas dalam penanggulangannya. Selain itu penyakit menular seksual pun mengalami peningkatan yang cukup signifikan dikarenakan
*Staf Pengajar PSIKM FK UNAND

tingginya aksesitas Depok dengan Jakarta. Dengan mengetahui kodisi ini tentunya diharapkan Dinas Kesehatan Kota Depok dapat merumuskan programprogram kerja yang sesuai dengan kondisi daerahnya agar permasalahan kesehatan tersebut mendapatkan solusi yang tepat. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses perencanaan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Depok tahun 2002 khususnya Sub Dinas Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit. KERANGKA KONSEP Perencanaan kesehatan pada dasarnya adalah merupakan salah satu fungsi manajemen untuk memecahkan masalah-masalah kesehatan. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini untuk melihat proses perencanaan yang dilakukan adalah pendekatan sistem yang dimaksudkan unutk menerapkan cara berfikir sistematis dan logis dalam mencari pemecahan suatu masalah kesehatan yang dihadapi.

9

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

METODOLOGI PENELITIAN Studi deskriptif dengan data kualitatif ini dilakukan di Sub Dinas Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Depok pada bulan Juli tahun 2002. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan telaah dokumen. HASIL DAN PEMBAHASAN Komponen Input Sub Dinas Pencegahan dan Pemberantasan penyakit terdiri dari tiga seksi, yaitu Seksi Pengamatan Penyakit, Seksi Pencegahan Penyakit dan Seksi Pemberantasan Penyakit. Jumlah tenaga yang ada di Subdin P2P adalah 10 orang yang terdiri dari satu orang kepala subdin, dua orang kepala seksi dan tujuh orang staf. Pada saat dilakukan penelitian jabatan kepala seksi pencegahan penyakit masih kosong. Dari jumlah tersebut sebagian besar (60) % berpendidikan dibawah S1. Silalahi (1983) berpendapat bahwa keberhasilan suatu rencana erat kaitannya dengan kemampuan seseorang. Faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang adalah pendidikan dan pelatihan. Tenaga perencana yang baik adalah apabila mereka mempunyai pendidikan tertinggi S1/S2/S3. Namun menurut Erlan (1988) dengan hanya melihat tingkat pendidikan tanpa melihat latar belakang pendidikan belum menjamin kualitas rencana yang dibuat itu lebih baik. Kepala Seksi Program dan Anggaran mengatakan bahwa pernah dilakukan Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Terpadu (P2KT) sebanyak dua kali. Akan tetapi banyak yang tidak menghadiri acara sempai selesai sehingga dirasakan pelatihan tersebut tidak mencapai tujuan yang yang diharapkan. Padahal untuk melakukan perencanaan yang baik dibutuhkan pelatihan yang cukup karena pelatihan bertujuan agar pekerja dapat melaksanakan tugasnya dengan efektif dan efisien. Jenis data yang digunakan dalam perencanaan adalah data tentang derajat kesehatan masyarakat berupa data morbilitas dan mortalitas, data sarana dan prasarana kesehatan, utilisasi vaksin dan data jumlah penduduk serta kondisi lingkungan. Namun ada informan yang meragukan keakuratan data tersebut. Salah satu data yang diragukan keakuratannya adalah data tentang cakupan imunisasi. Keakuratan data merupakan syarat untuk menentukan nilai informasi. Semakin akurat informasi tersebut, semakin aman manajer dalam

mengambil keputusan.2 Menurut informan data yang paling akurat adalah data dari Rumah Sakit karena menggunakan pemeriksaan laboratorium. Diketahui juga 80% ketepatan waktu pengumpulan data terutama data dari Puskesmas telah tercapai. Sayangnya dalam melakukan perencanaan tidak ada dana khusus karena dianggap perencanaan tersebut merupakan sesuatu yang sudah rutin dilakukan.Sarana penunjang juga dirasakan kurang karena hanya terdapat satu buah komputer untuk keperluan tiga seksi. Pelaksanaan perencanaan Dinas Kesehatan Kota Depok menggunakan pedoman pada langkahlangkah perencanaan dan penganggaran Propinsi Jawa Barat. Protap tersebut mengatur tentang tahapan-tahapan atau prosedur perencanaan kesehatan mulai dari tingkat Puskesmas, tingkat Dinas Kesehatan sampai tingkat propinsi. Dalam protap tersebut diatur juga tentang waktu dan jadwal perencanaan setiap tahap. Dari hasil wawancara tentang waktu dan jadwal perumusan rencana tahunan pada subdin P2P ini peneliti tidak menemukan waktu yang pasti kapan proses perrencanaan dimulai. Salah seorang informan ada yang mengatakan bahwa perencanaan dimulai pada pertengahan tahun, tapi ada juga yang mengatakan pada bulan Oktober baru membuat perencanaan.
Tabel 1. Jadwal dan Waktu Proses Perencanaan Kesehatan Propinsi Jawa Barat Tahun 2002
Bulan Januari Februari April Mei Agustus November Desember Januari Kegiatan Programer Dinkes memasukkan data ke sie program dan anggaran Forum koordinasi dan konsultasi Puskesmas (FKKP) untuk melakukan desk analisis program puskesmas dengan program Dinas Mengirim usulan untuk APBD II ke PEMDA kota Depok dan untuk APBD I dan APBN ke Bandung (Ibu kota propinsi) MUSBANGKEL (Musyawarah Pembangunan Kelurahan) dan UDKP tingkat kecamatan Forum koordinasi dan konsultasi Pembangunan (FKKP) tingkat dati II Pembentukan panitia anggaran tingkat kota Depok Pembuatan Lembar Kerja (LK), daftar isian proyek (DIP), dan perencanaan operasional (PO) DIP di PERDA-kan

KOMPONEN PROSES Analisa Situasi Analisis situasi hendaknya memanfaatkan ”evidence based” yang menghimpun data apa saja kebutuhan lokal.3 Sebaiknya data meliputi keadaan umum dan lingkungan (geografis, pendidikan, pekerjaan, sosial, budaya), data derajat kesehatan

10

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

masyarakat (status kesehatan penduduk, kesehatan lingkungan pemukiman) dan data upaya kesehatan (fasilitas dan pelayanan kesehatan).4 Data yang diperoleh Subdin P2P didapatkan dari berbagai sumber, yaitu rumah sakit, puskesmas, dan unit pelayanan kesehatan lainnya. Penetapan Masalah dan prioritas Masalah Masalah kesehatan yang diprioritaskan di Subdin P2P adalah DBD, TBC, kusta dan penyakit kelamin. DBD diprioritaskan karena incidence ratenya yang tinggi dan cenderung tidak pernah turun, selain itu karena Depok adalah daerah endemis demam berdarah. Dari hasil telaah dokumen diketahui angka CFR (Case Fatality Rate) DBD adalah 2,7 % sampai dengan Mei 2002. Tujuan yang ingin dicapai dari program pemberantasan DBD adalah menurunkan angka CFR agar berada dibawah 2%. Penyakit TBC menjadi prioritas utama karena masih banyaknya kasus TBC di masyarakat terutama pada penduduk dengan ekonomi lemah. Faktor kepadatan penduduk dan sanitasi lingkungan yang tidak sehat turut pula mempengaruhi peningkatan kasus TBC di Kota Depok. Penyakit ini menjadi prioritas juga karena cukup meresahkan masyarakat. Penyakit kusta menjadi salah satu penyakit yang diprioritaskan P2P karena mengakibatkan kecacatan permanen bagi penderitanya. Selain itu dikarenakan penyakit kusta banyak diderita oleh penduduk ekonomi lemah. Dana untuk penanggulangan penyakit kusta ini berasal dari bantuan luar negeri yaitu dari Nedherland Lectosil Release (NRL). Meningkatnya kasus narkoba di Kota Depok diperkirakan akan meningkatkan kasus HIV/AIDS. Selain itu di Depok semakin menjamur tempat-tempat hiburan seperti diskotik dan panti pijat yang merupakan tempat-tempat yang beresiko tinggi terhadap penularan penyakit kelamin. Indikator yang digunakan informan dalam menemukan masalah adalah indikator negatif yaitu gangguan kesehatan. Informan tidak melakukan identifikasi masalah sebelum menentukan prioritas masalah. Prioritas masalah diambil langsung dengan pertimbangan tingginya incidence penyakit, tingginya CFR dan kasus yang meresahkan masyarakat. Menurut peneliti dalam menentukan prioritas masalah digunakan metode-metode tertentu seperti metode matematik dengan kriteria penilaian magnitude (luasnya masalah), severity (beratnya kerugian yang ditimbulkan), vulnerability

(tersedianya teknologi atau obat untuk mengatasi maslah tersebut), community and political concern (kepedulian masyarakat dan keberpihakan politik serta affordability (keterjangkauan). Atau bisa juga dengan menggunakan metode Delbeque dan Delphi dimana prioritas masalah ditentukan oleh panel expert. Metode Estimasi beban kerugian digunakan dengan cara menhitung waktu produktif yang hilang (DALY). Penetapan Tujuan dan Alternatif Intervensi Tujuan yang ingin dicapai dalam pemberantasan penyakit demam berdarah adalah menurunkan CFR agar berada dibawah 2%. Intervensi yang dilakukan adalah mengadakan pelatihan petugas, pelatihan kader, penyuluhan, abatesasi, fogging focus dan PSN serta penyuluhan kepada anak sekolah. Hal menarik yang ditemukan dalam perumusan program ini adalah program fogging focus. Fogging focus ini sebenarnya kurang efektif dibandingkan dengan PSN. Namun menurut masyarakat fogging focus ini merupakan alternatif terbaik untuk menaggulangi masalah DBD sehingga kalau lingkungan mereka tidak difogging maka berarti pemerintah tidak memberikan perhatian kepada masyarakat. Oleh karena itu fogging focus dimasukkan sebagai salah satu intervensi DBD. Tujuan yang ingin dicapai dari program TBC adalah memutuskan mata rantai penularan, menurunkan angka kesakitan dan kematian. Target program kesembuhan TBC adalah 85%, angka konversi 80% dan errror rate 5 %. Intervensi yang dilakukan oleh subdin P2P adalah pertemuan petugas, penemuan penderita, pemeriksaan laboratorium, pengobatan, supervisi dan pembentukan Gerdunas TB ( Gerakan Terpadu Nasional Tuberculosis). Tujuan dari program pencegahan dan pemberantasan penyakit kelamin adalah untuk memutuskan rantai penularan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibentuklah tim KPAD (Komisi Penanggulangan AIDS Daerah) untuk mendapatkan dukungan politis dari pemerintah. Selain itu juga dilaksanakan survei darah untuk menemukan kasus, pemeriksaan hasil survei untuk menemukan kasus HIV positif. Penyuluhan pada daerah resiko tinggi dilakukan khusus untuk penyakit HIV/AIDS karena intervensi berupa pengobatan tidak dapat dilakukan . Intervensi berupa pengobatan dapat dilakukan untuk penyakit syphilis.Tujuan dan intervensi masingmasing program tersebut ditetapkan dari pusat. Menurut peneliti tujuan yang hendak dicapai dari masing-masing program sebaiknya ditetapkan

11

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

dengan melihat pencapaian tahun sebelumnya. Jadi sebelum target ditetapkan dilakukan evaluasi pencapaian tahun lalu. Analisis ini disebut juga analisis kecenderungan (trend analisis). Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penentuan target program adalah fenomena diminishing return, maksudnya apabila cakupan program sudah tinggi maka akan lebih sulit mencapai tujuan yang besar. Oleh karena itu perencana perlu menetapkan target yang konservatif. Tujuan program sebaiknya dirumuskan secara spesifik dan kuantitatif, jelas waktu dan lokasi yang dituju serta dapat diukur. Dalam penelitian ini semua itu belum terlihat. Tujuan program memang sudah dinyatakan dalam persentase namun belum jelas pada kelompok masyarakat mana tujuan tersebut akan diterapkan dan kapan tujuan tersebut akan tercapai. Peneliti menilai dalam menetapkan alternatif intervensi para perencana belum mempertimbangkan aspek determinan kesehatan seperti yang terdapat dalam konsep Blum. Hal ini mungkin karena tujuan program ditetapkan berdasarkan tujuan nasional dan analisa situasi pun tidak menggunakan konsep Blum, sehingga dalam alternatif intervensi pendekatan ini kurang terlihat. Penyusunan Program POA dibuat pada saat sudah diketahui jumlah dana yang turun ke tiap seksi. lewat Daftar Isian Proyek (DIP). Petugas yang terlibat dalam penyusunan program adalah kepala seksi dan staf. Setelah itu POA akan dirangkum oleh Kepala Subdin P2P. Penyusunan POA dilakukan di Kantor Dinas Kesehatan dan selesai sekitar bulan November. Menurut FKM UI (1998) penyusunan rencana operasional membutuhkan pertimbangan dan keputusan sesuai dengan langkah-langkah yang ada

dari berbagai bidang keahlian seperti ahli epidemiologi, ahli statistik, ahli perkiraan kebutuhan sumber daya dan ahli hubungan perilaku untuk menentukan langkah-langkah operasional. Hal ini belum dilaksanakan di subdin P2P. KOMPONEN OUTPUT Format POA Menurut Wijono (1997) format Plan of Action (POA) adalah seperti lazimnya sebuah makalah yang menguraikan aspek-aspek pelaksanaan program dari pendahuluan sampai dengan penutup. Rumusan program yang dibuat haruslah dituliskan dalam hal apa, bagaimana, siapa terlibat , kapan dilibatkan. Hal-hal seperti itu tidak ditemukan dalam POA Sub Dinas P2P. Unsur-unsur yang seharusnya ada dalam POA seperti hasil analisa situasi keadaan daerah dan sarana upaya kesehatan, pokok-pokok kebijaksanaan, bimbingan, motivasi, penilaian, IPTEK, informasi kebijakan peraturan perundangan , faktor-faktor penyokong dan penghambat belum dicamtumkan dalan POA. KESIMPULAN DAN SARAN Dinas Kesehatan Kota Depok khususnya Subdinas Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit belum sepenuhnya melakukan perencanaan berdasarkan kondisi daerahnya. Kurangnya analisa situasi kesehatan daerah dan masih banyaknya target program yang ditentukan oleh pusat menyebabkan program kesehatan yang digulirkan belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan daerah. Kedepan diharapkan peran tenaga perencana dapat lebih dioptimalkan lewat pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Terpadu (P2KT) untuk merumuskan program kerja daerah yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. FKM UI, 1998. Modul Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Terpadu Handoko, T. Hani, 1985. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, Liberty, Yokyakarta Handayani, Dyah Tut Wuri, 2001. Analisis Perencanaan Kesehatan Tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat Tahun 1999/2000, Tesis, FKM UI Azwar, Azrul, Pengantar Administrasi Kesehatan. Bina Rupa Aksara, Jakarta Arikalang, Saul Elias, 1997. Analisis Proses Perencanaan Kesehatan Tahunan di Dinas Kesehatan Dati II Kabupaten Bandnung Tahun 1995/1996, Tesis, FKMUI Azwar, Azrul, 1982. Dasar-dasar Perencanaan di Bidang Kesehatan. Bagian IKM & IKP FKUI Jakarta Benge, Eugene J, 1993. Pokok-Pokok Manajemen Modern. PT 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Pustaka Binaman Pressindo, Jakrta Departemen Kesehatan RI, 1999. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta Departemen Kesehatan, 1986. Lokakarya Nasional Perencanaan Kesehatan, Jakarta Dinas Kesehatan Kota Depok. Rencana Kesehatan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Depok Tahun 2002 Wijono, Djoko, 1997. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Airlangga University Press, Surabaya Erlan, Indriati RB, 1988. Analisa Fungsi Perencanaan Kesehatan Tingkat Kabupaten di Jawa Barat, Tesis FKM UI Falah, Tatang Sahibul, 1996. Hubungan Faktor Input, Proses dan Output Usulan Rencana Tahunan Program Perbaikan Gizi Daerah Tk II Propinsi Jawa Timur, Tesis, FKM UI FKMUI, 1999. Kumpulan Modul Pelatihan Perencanaan

12

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Kesehatan Terpadu, Jakarta 15. Gani, Ascobat, dkk, 1987. Modul Pelatihan Perencanaan Kesehatan Daerah Tk II, Depkes-FKMUI, Jakarta 16. Kustantini, Ellia, 1999. Gambaran Keadaaan Komponen Input dan Komponen Proses pada Tim Perencana Program Gizi Tahun 1998/1999 di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Skripsi, FKMUI 17. Moleong, L.J, 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya, Bandung 18. Muninjaya, AA.Gde, 1999. Manajemen Kesehatan EGC, Jakarta 19. Reike, W, 1994. Perencanaan Kesehatan untuk Meningkatkan Efektifitas Manajemen, Terjemahan Trisnantoro, L & S. Gajah Mada University Press, Yokyakarta

20. Ravianto, J, 1985. Produktifitas dan Tenaga Kerja Indonesia. Lembaga Informasi Usaha dan Produktivitas, Jakarta 21. Riyadi, Slamet, A.L, 1982. Public Health Publication, Edisi Revisi. Usaha Nasional, Surabaya 22. Saragih, Laidin, 1984. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Usulan Rencana Tahunan Kesehatan Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, Tesis, FKM UI 23. Soetikno, Sri Suryaningsih, 1986. Kualitas Usulan Rencana Tahunan Kesehatan Dati II 1980-1987 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya di Dati II Aceh, Tesis, FKM UI 24. Sopia, Poppi, 2001. Analisis Perencanaan Kesehatan Tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Tahun 1999. Skripsi, FKMUI

13

ARTIKEL PENELITIAN

ANALISIS TIMBULAN, KOMPOSISI DAN KARAKTERISTIK SAMPAH DI KOTA PADANG
Nizwardi Azkha*

ABSTRACT
There are still some household throw away garbage in promiscuoulsy place and not yet all garbage managed better by Padang government. The goal of this research for arise, composition and characteristics analysis garbage domestic in Padang City. The result of research for arise of garbage from domestic its avarage 2,26 l/p/days. The composition of garbage domestic consist of organic garbage 94,24% and anorganic garbage 5,75 %. For Physics cover to specific gravity (0,15 kg/l), size measure 250 mm (54,86%). For chemical to cover dampness (32%), volatil rate (58%), dusty rate (10%), C/N ratio (27,30) and enery content 7422 Btu/lb. For biology of size measure wearedby crowded fly of garbage during six hour obtained density of fly 7/ grill fly. For the planning of management of ideal garbage in Padang city, dissociating garbage start from home doorstep, need the existence of socialization in making of compost, and also management with sanitary landfill system or incenerator also still represent good enough alternative. Keywords : garbage, composition, characteristics

Pendahuhuan Faktor lingkungan dan faktor perilaku merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat, karenanya perlu memperoleh perhatian secara sungguh-sungguh. Faktor perilaku sehat diharapkan untuk dapat memelihara, meningkatkan kesehatan dan melindungi diri dari ancaman penyakit, sedangkan lingkungan sehat diharapkan terciptanya lingkungan yang kondusif, bebas polusi, pemukiman sehat dan pengelolaan sampah yang sehat. Dikota besar sampah menjadi masalah baik dari segi jumlah maupun dari jenisnya. Besar kecilnya masalah sampah tumbuh seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang ada dikota tersebut. Persoalan dapat berkurang tidak hanya oleh pihak pemerintah, tetapi juga masyarakat. Keiikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan sampah perlu ada peningkatan dari waktu ke waktu, selain itu pengetahuan dari berbagai pihak yang peduli lingkungan perlu digalakkan melalui jalur pendidikan. Pengelolaan sampah merupakan upaya dalam mengurangi, mengumpulkan, memindahkan, menyimpan sementara, mengolah dan menimbun
* Staf Pengajar PSIKM FK UNAND Padang

sampah. Pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan berat yang harus dihadapi oleh banyak kota dewasa ini. Secara umum pengelolaan sampah dengan biaya murah, layak dari segi kesehatan dan tidak membawa implikasi yang negatif terhadap lingkungan, merupakan salah satu permasalahan serius yang harus dihadapi oleh pemerintah kota dan harus dipikirkan oleh semua elemen masyarakat. Kota Padang yang merupakan ibu kota Propinsi Sumatera Barat, sudah barang tentu dari tahun ke tahun jumlah penduduknya makin meningkat. Hal ini disebabkan Padang merupakan pusat pendidikan, industri, perdagangan dan pariwisata. Untuk itu pemerintah kota harus berusaha supaya kota selalu bersih dan sehat, salah satunya adalah dalam pengelolaan sampah. Volume sampah yang dapat dikelola oleh Dinas Kebersihan & Pertamanan (DKP) dari semua kecamatan baru mencapai 400 ton perhari, dan telah semua kecamatan yang dapat dikelola. Berarti baru sekitar 89% dari sampah keseluruhan yang bisa dikumpulkan kemudian diangkut ke TPA Air Dingin. Sisa yang tidak terangkut berupa sampah yang masih bisa dimanfaatkan sendiri oleh masyarakat, sebagian dimusnahkan secara tradisional, sebagian diolah menjadi kompos. Namun tak jarang pula terlihat

14

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

masih ada yang berserakan yang berupa timbulan sampah dipinggir jalan, di komplek pemukiman, serta dipusat keramaian seperti pasar dan terminal. Konsep Reduction, Reuse, Recovery dan Recycling merupakan pendekatan yang telah lama diperkenalkan dalam upaya mengurangi sampah mulai dari sumbernya sampai di akhir pemusnahan. Biasanya konsep ini terkait dan terpadu dengan sistem penanganan sampah secara keseluruhan, dan menjadi kebijakan pemerintah dengan target yang telah ditentukan. Untuk itu diperlukan informasi tentang timbulan sampah, komposisi sampah dan karakteristik sampah yang akurat yang akan berguna untuk perencanaan pengelolaan sampah dimasa mendatang khususnya di Kota Padang. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui pengaruh timbulan sampah pada pemukiman terhadap pola pengelolaan sampah 2. Mengetahui pengaruh komposisi sampah pada pemukiman terhadap pola pengelolaan sampah 3. Mengetahui pengaruh karateristik sampah pada pemukiman terhadap pola pengelolaan sampah. Metodologi Penelitian Lokasi dan Waktu penelitian Penelitian dilakukan pada 6 Kelurahan di Kota Padang. Kelurahan-kelurahan tersebut dibagi menjadi daerah pusat kota yang diwakili oleh Surau Gadang, Sawahan dan Air Tawar, dan daerah pinggir kota yang diwakili oleh Parupuk Tabing, Koto Gadang dan Pegambiran. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2004. Tahapan penelitian 1. Studi literatur 2. Pengumpulan data sekunder 3. Penyebaran kuesioner 4. Pengumpulan data primer, berupa jumlah sampel sampah domestik Kota Padang yang dibagi atas tingkat pendapatan penduduk. Jumlah sampel sampah didasarkan pada metode SNI 19-39641994. 5. Pengujian sampel sampah, yang dilakukan di lapangan dan di laboratorium. Pengujian sampel sampah di lapangan adalah analisis timbulan sampah secara berat dan volume sampah, berat jenis sampah, faktor pemadatan dan komposisi sampah serta karakteristik biologi sampah. Di Laboratorioum untuk pengujian sampel sampah berupa analisis karakteristik fisik sampah dan kimia. 6. Pengolahan data, berupa analisis timbulan,

komposisi dan karakteristik sampah domestik. 7. Berdasarkan perhitungan didapatkan jumlah sampel sampah yang diambil dari setiap rumah di Kota Padang adalah 200 jumlah sampel sampah. 8. Penentuan lokasi pengambilan sampel sampah dilakukan dengan menggunakan metode stratified random sampling.
Tabel 1. Lokasi pengambilan sampel sampah Domestik Kota Padang
Kelurahan Pusat Kota Urban) 1. Surau Gadang 2. Sawahan 3. Air Tawar Barat Pinggiran Kota (Non Urban) 1. Parupuk Tabing 2. Korong Gadang 3. Pegambiran Jumlah HI 13 9 9 14 7 8 60 Jumlah Sampel MI LI 24 16 16 27 12 15 110 7 5 4 7 3 4 30 Jumlah 44 30 29

48 22 27 200

Hasil dan Pembahasan 1. Timbulan sampah domestik Timbulan sampah adalah jumlah atau banyaknya sampah yang dihasilkan oleh manusia pada suatu daerah. Data mengenai timbulan sampah ini sangat diperlukan untuk desain sistem pengelolaan persampahan, seleksi jenis/tipe peralatan untuk transportasi sampah dan desain TPA. Untuk penentuan timbulan sampah ini dapat digunakan satuan volume dan satuan berat. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata timbulan sampah domestik Kota Padang untuk satuan volume adalah 2,26 liter/orang/hari dan untuk satuan berat adalah 0,35 kg/orang/hari. Hasil rata-rata timbulan sampah domestik Kota Padang adalah 2,52 l/o/h untuk pendapatan tinggi, dan 2,40 l/o/h untuk pendapatan sedang dan 1,85 l/o/h untuk pendapatan rendah. Sedangkan untuk satuan berat didapatkan rata-rata timbulan sampah untuk untuk masyarakat pendapatan tinggi 0,42 kg/o/h, pendapatan sedang 0,37 kg/o/h dan pendapatan rendah 0,26 kg/o/h. Tingginya timbulan sampah untuk masyarakat pendapatan tinggi ini dikarenakan perbedaan tingkat ekonomi, gaya hidup, pendidikan dan mobilitas penduduk. Untuk satuan volume, rata-rata timbulan sampah domestik pusat kota sebesar 2,40 l/o/h dan pinggir kota sebesar 2,11 l/o/h. Sedangkan untuk timbulan dengan satuan berat, rata-rata timbulan sampah domestik pusat kota sebesar 0,38 kg/o/h dan pinggir kota sebesar 0,31 kg/o/h. Dengan demikian,

15

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

pengaruh tingkat pendapatan lebih besar terhadap timbulan sampah domestik dibandingkan dengan lokasi wilayah antara pusat kota dan pinggir kota. Timbulan sampah yang dihasilkan oleh sumber domestik (rumah tangga) pada hari libur yaitu Sabtu (2,28 l/o/h) dan Minggu (2,43 l/o/h) cenderung lebih banyak dibandingkan pada hari kerja. Tingginya timbulan sampah pada hari libur ini, disebabkan kecenderungan masyarakat yang memanfaatkan waktu libur untuk beraktivitas bersama keluarga, sehingga mengakibatkan jumlah sampah pun meningkat. Hal ini terutama terlihat pada daerah pusat kota dan pada golongan masyarakat pendapatan tinggi. 2. Komposisi Sampah Domestik Komposisi sampah merupakan penggambaran dari masing-masisng komponen yang terdapat dalam buangan padat dan distribusinya. Biasanya dinyatakan dalam persen berat (%). Komposisi sampah organik di Kota Padang jauh lebih besar dibandingkan dengan sampah anorganik. Komposisi sampah organik sebesar 94%, sedangkan sisanya atau 6% merupakan sampah anorganik. Jenis sampah organik yang paling banyak adalah sampah sisa makanan (66 %), sampah plastik (12%) , sampah kertas (7%) dan sampah halaman (7%). Jenis sampah anorganik adalah kaca dan logam yang masingmasing sebesar 2%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara komposisi sampah pada daerah yang terletak di pusat kota dan daerah pinggir kota. Komposisi sampah dikarenakan gaya hidup dan kebiasaan dari masing-masing golongan masyarakat tersebut hampir sama, seperti dalam penyajian makanan. Dari literatur didapatkan tipikal komposisi sampah domestik untuk negara dengan pendapatan rendah ini adalah jenis sampah sisa makanan (40-85%), sampah kertas (1-10%), sampah plastik, tekstil, karet, kayu dan halaman (15%), logam (1-5%), dan kaca (1-10%) (Tchobanoglous, 1993). Informasi tentang komposisi sampah dibutuhkan untuk penentuan luas areal tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dan pengolahan sampah secara biologi seperti pengolahan composting. Komposisi sampah dibagi kedalam katergori sampah yang terdekomposisi (Pd) dan sampah yang tidak tedekomposisi (Pnd). Dengan demikian, untuk Kota Padang perbandingan sampah yang terdekomposisi dan tidak terdekomposisi ini adalah Pd : Pnd = 80% : 20%.

3. Karakteristik Sampah Domestik Analisis karakteristik sampah sangat diperlukan dalam desain sistem pengelolaan sampah kota, terutama dalam hal pengolahan sampah. a. Karakteristik Fisik Karakteristik fisik penting dalam hal pemilihan dan pengoperasian peralatan dan fasilitas pengolahan. Karakteristik fisik yang dianalisis adalah berat jenis, kelembaban, ukuran dan distribusi partikel serta penentuan angka kompaksi atau faktor pemadatan. 1). Berat jenis Berdasarkan penelitian didapatkan berat jenis sampah domestik di Kota Padang adalah 0,12 – 0,17 kg/liter dengan rata-rata 0,15 kg/liter. Dari literatur juga didapatkan untuk komponen sampah makanan berat jenisnya adalah 0,29 kg/liter, sedangkan untuk sampah kertas dan plastik berat jenisnya 0,07 – 0,09 kg/liter (Tchobanoglous, 1993). 2). Faktor Pemadatan Faktor pemadatan atau angka kompaksi merupakan perbandingan volume akhir dan volume awal sampah, faktor pemadatan ini diperlukan untuk menentukan besarnya timbulan sampah dalam satuan volume. Faktor pemadatan sampah domestik Kota Padang berkisar antara 1,01 – 1,08 dengan rata-rata sebesar 1,05. Perbedaan angka kompaksi untuk kategori daerah pusat kota dan pinggir kota serta perbedaan tingkat pendapatan tidak terlalu besar atau tidak signifikan. Hal ini dikarenakan perbedaan komposisi sampah antara kedua kategori di atas juga tidak terlalu besar. 3). Ukuran dan Distribusi Partikel Penentuan ukuran dan distribusi partikel sampah digunakan untuk menentukan jenis pengolahan sampah, terutama untuk memisahkan partikel besar dengan partikel kecil. Rata-rata distribusi partikel sampah domestik di Kota Padang umumnya berukuran kecil dari 250 mm . Hal ini berarti sampah domestik Kota Padang dapat dikelola dengan sistem composting, dimana untuk mendapatkan hasil yang optimal ukuran sampah berkisar 25 – 75 mm. Dengan ukuran partikel sampah yang relatif seragam diharapkan proses pembuatan kompos akan berjalan sempurna dalam waktu yang relatif sama. b. Karakteristik Kimia Penentuan karakteristik kimia sampah diperlukan dalam mengevaluasi alternatif suatu

16

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

proses dan sistem recovery yang dapat dilakukan pada suatu limbah padat, misalnya untuk mengetahui kelayakan proses pembakaran sampah dan pengolahan biologis. 1). Kelembaban (Kadar Air) Dengan mengetahui kelembaban atau kadar air sampah dapat ditentukan frekuensi pengumpulan sampah. Frekuensi pengumpulan sampah dipengaruhi oleh komposisi sampah yang dikandungnya. Penelitian menunjukkan kadar air atau kelembaban sampah domestik Kota Padang berkisar 27 – 39% dengan rata-rata sebesar 32%. Hal ini sesuai dengan literatur dimana untuk sampah domestik tipikal kelembaban adalah 15 – 40% (Tchobanoglous, 1993). Kelembaban sampah juga dipengaruhi oleh komposisi sampah, musim dan curah hujan. 2). Kadar Volatil Penentuan kadar volatil sampah bertujuan untuk memperkirakan seberapa besar efektifitas pengurangan (reduksi) sampah menggunakan metode pembakaran berteknologi tinggi (Incenerator). Kadar volatil sampah domestik Kota Padang berkisar 47 – 64% dengan rata-rata sebesar 58%. Hal ini sesuai dengan literatur untuk sampah domestik kadar volatil sampah berkisar 40 – 60% (Tchobanoglous, 1993). Dengan kandungan rata-rata kelembaban sebesar 32% dan kadar volatil 58%, maka dapat dikatakan sebesar 90% sampah domestik Kota Padang akan dapat tereduksi dengan proses pembakaran pada suhu tinggi. 3). Kadar Abu Kadar abu merupakan sisa proses pembakaran pada suhu tinggi. Dengan penentuan kadar abu ini dapat dilihat keefektifan kinerja proses pembakaran tersebut. Kadar abu dari proses pembakaran pada suhu tinggi yaitu 9000 C, berkisar antara 7 – 16% dengan rata-rata sebesar 10%. Dari Literatur didapatkan kadar abu sebesar 10 – 30% (Tchobanoglous, 1993). Ini berarti dengan proses pembakaran suhu tinggi, sampah domestik Kota Padang akan tereduksinya sebesar 90% dan sisa pembakaran yang merupakan abu sebesar 10%. Dengan kata lain proses pembakaran sampah dengan suhu tinggi dapat menjadi alternatif pertimbangan dalam hal pengolahan sampah di Kota Padang. 4). Rasio C/N Rasio C/N merupakan faktor penting dalam mendesain pengolahan sampah biologi seperti dalam proses pembentukan kompos. Rasio C/N sampah

domestik Kota Padang dalam penelitian ini berkisar 21 – 33 dengan nilai rata-rata sebesar 27. Dari literatur nilai optimum rasio C/N antara 25 – 50. Hal ini berarti, dilihat dari rasio C/N sampah domestik Kota Padang dapat diolah secara biologi dengan proses composting. 5). Kandungan Energi Penentuan kanduingan energi sampah diperlukan dalam proses pengolahan sampah terutama pengolahan secara thermal. Kandungan energi sampah domestik 7896 Btu/lb. Untuk menentukan krata-rata kandungan energi sampah domestik, maka hasil ini dikalikan dengan presentase komposisi masing-masing jenis sampah, sehingga didapatkan rata-rata kandungan energi sampah domestik Kota Padang 7422 Btu/lb. Dengan kandungan yang cukup tinggi, pengolahan thermal dapat menjadi alternatif lain dalam pengolahan sampah domestik di Kota Padang. c. Karakteristik Biologi Karakteristik biologi yang diuji dalam penelitian ini hanyalah kehadiran (jumlah) lalat dalam sampel sampah. Jumlah Lalat Kehadiran atau jumlah lalat dalam sampel sampah dilakukan dengan meletakkan alat fly Grill di atas tumpukan sampah sesuai dengan masingmasing klasifikasinya. Rata-rata kehadiran lalat dalam sampel sampah untuk masing-masing alat adalah 7 ekor. Dengan demikian, semakin besar timbulan sampah dan komposisi sampah makanannya, jumlah kahadiran lalat pun semakin besar. Kesimpulan 1. Rata-rata timbulan sampah domestik Kota Padang 2,26 l/o/h atau 0,35 kg/o/h 2. Komposisi sampah organik 94% di Kota Padang lebih besar dibandingkan dengan sampah anorganik 6%. 3. Karakteristik fisik sampah untuk berat jenis 0,15. Untuk faktor pemadatan bervariasi dari 1,01 – 1,08 dan rata-rata 1,05. Ukuran partikel yang terbanyak adalah untuk ukuran 250 mm yaitu 54,86%. Untuk kimia untuk menentukan kelembaban rata-rata adalah 32% dan untuk kadar volatil rata-rata 58%, kadar abu rata-rata 10% untuk C/N rata-rata adalah 27,30, sedangkan untuk energi rata-rata adalah 7422 Btu/lb. 4. Karakteristik biologi yang diukur adalah kehadiran lalat dalam sampah rata-rata adalah 7 ekor.

17

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Daftar Pustaka
1. 2. Damanhuri, E, Timbulan Sampah untuk Kota Sedang dan Kecil di Indonesia, Penerbit TL-ITB, Bandung. SK SNI 19-3964-1994, Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan, Komposisi Sampah Perkotaan, Departemen Pekerjaan Umum, Bandung. Tchobanoglous, G, 1993, Intergrated Solid Waste Management, McGraw Hill, New York.

3.

18

ARTIKEL PENELITIAN

HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN STATUS GIZI ANAK BATITA DI KECAMATAN KURANJI KELURAHAN PASAR AMBACANG KOTA PADANG TAHUN 2004
Fivi Melva Diana*

ABSTRACT
From the epidemiological study of nutritional problems (SMG) in west Sumatra by the year of 2002 that 28,5% under five years babies were suffered under nutrition (based on BB/U , -2 SD) and 5,4% of them were malnutrition. Meanwhile in the city of Padang, based on BPS susenas reports in 2002,that 8,54% less than three years babies were malnutrition.From the reports of Padang health Officials in 2002, the highest malnutrition prevalence was in Kuranji district, which were 5,63%. This study were conducted at Pasar Ambacang sub-district,in the district of Kuranji,city of Padang.The research Variables were motherhood patterns, nutritional status and mother’s characteristics (education,age, knowledge and job status). The used design was cross sectional study design. Data processed and analyzed using SPSS software with chi square statistical test. The result showed that there is no significant relationship between motherhood patterns with nutritional status based on mothers characteristics ( p > 0.05), and based on previous explanation we could summarize that motherhood patterns and nutritional status does not have significant relationship with mother’s characteristics. From this study we could conclude that there were a significant correlation between mothers job status with motherhood eating patterns of under three years babies, and we suggested to the mothers, eventhough they worked, the still have to maintain the quality of the motherhood times in order to enhance the nutritional status and growth. Keywords : under three years babies, malnutrition, motherhood pattern

PENDAHULUAN Paradigma pembangunan nasional yang berorientasi global dan berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak akan terlaksana tanpa peningkatan sumber daya manusia (SDM). Salah satu indikator pengukur tinggi rendahnya kualitas SDM adalah indeks kualitas hidup (Human Development Index (HDI). Peringkat Human Development Index (HDI) tahun 2000 Indonesia sangat rendah yaitu urutan ke-109 dari 174 negara. Salah satu masalah utama kesehatan di negara berkembang adalah masalah gizi yaitu kurang energi protein (KEP). Berdasarkan analisis data Susenas laporan Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2002 di Sumatera Barat ditemukan anak balita yang berstatus gizi kurang dan buruk (< -2SD) sebesar 28,05%. Sedangkan anak batita di Sumatera Barat berstatus
* Staf Pengajar PSIKM FK Unand

gizi kurang dan buruk (< - 2SD) adalah 28,91%. Hal yang sama ditunjukkan pula oleh hasil Studi Epidemiologi Masalah Gizi (SMG) di Sumatera Barat tahun 2002 bahwa 28,5 % anak balita di Sumatera Barat menderita kurang gizi berdasarkan ( BB/U < 2SD) dan diantaranya 5,4 % gizi buruk. Sedangkan di Kota Padang berdasarkan laporan Susenas Biro Pusat Statistik ( BPS) tahun 2002 bahwa 8,54 % anak balita berstatus gizi buruk dan 23,45 % berstatus gizi kurang. Studi-studi yang dilakukan UNICEF (1998), UNAND (1998) dan HKI (2000) memperlihatkan angka yang hampir sama yaitu 31% anak balita di Sumatera Barat menderita gizi kurang dan 6.6% diantaranya menderita gizi buruk .Salah satu masalah gizi pada balita terjadi karena pola asuh anak yang kurang dalam keluarga. Berdasarkan hasil penelitian Harsiki, tahun 2002 bahwa pola pengasuhan anak balita pada

19

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

keluarga miskin pedesaan dan perkotaan di propinsi Sumatera Barat adalah 57,1% pada kategori kurang. Pola asuh anak yang kurang akan mempunyai resiko anak batita KEP 1,5 kali dibandingkan dengan anak batita dengan pola asuh cukup. Daerah perkotaan sedikit lebih tinggi pola asuh anaknya daripada daerah pedesaan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh adalah pendidikan ibu, pekerjaan Ibu, umur dan tingkat pengetahuan ibu.. Sebagaimana yang dikatakan Winarno tahun1995:masa pertumbuhan bayi merupakan masa yang sangat peka atas pengaruh gangguan kurang gizi yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan otak dan gangguan pertumbuhan intelegensia. Kekurangan gizi merupakan akibat dari kebiasaan hidup yang kurang memikirkan nilai-nilai gizi disamping kebiasaan hidup di lingkungan sederhana karena daya beli yang kurang atau ketidak-tahuan mengenai soalsoal gizi. Pemberian makanan bergizi mutlak dianjurkan untuk anak melalui peran ibu atau pengasuhnya. Waktu yang dipergunakan ibu rumah tangga untuk mengasuh anak merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi status gizi batita. Menurut Enggle tahun 1997, pola asuh terhadap anak merupakan salah satu faktor penting terjadinya gangguan status gizi. Yang termasuk pola asuh adalah pemberian ASI, penyediaan dan pemberian makanan pada anak, dan memberikan rasa aman kepada anak. Berdasarkan bagan UNICEF (1998) tentang faktor – faktor yang menyebabkan timbulnya kurang gizi secara langsung adalah makanan yang tidak seimbang dan penyakit infeksi, sedangkan faktor penyebab tidak langsung adalah tidak cukup persediaan pangan, pola asuh anak tidak memadai, sanitasi dan air bersih / pelayanan kesehatan dasar tidak memadai. Anak balita yang mendapatkan kualitas pengasuhan yang lebih baik besar kemungkinan akan memiliki angka kesakitan yang rendah dan status gizi yang relatif lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa pengasuhan merupakan faktor penting dalam status gizi dan kesehatan anak balita. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Karyadi.L.D tahun 1985 bahwa situasi pemberian makan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan batita. Selanjutnya menurut Widayani, dkk tahun 2001, ada hubungan yang sangat kuat antara pola asuh dengan status gizi batita. Menurut Satoto dalam Harsiki, T, tahun 2002 faktor yang cukup dominan yang menyebabkan meluasnya keadaan gizi kurang ialah perilaku yang kurang benar dikalangan masyarakat dalam memilih

dan memberikan makanan kepada anggota keluarganya, terutama pada anak – anak. Memberikan makanan dan perawatan anak yang benar mencapai status gizi yang baik melalui pola asuh yang dilakukan ibu kepada anaknya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Selanjutnya Engle tahun 1997 mengatakan bahwa praktek pengasuhan ditingkat rumah tangga adalah memberikan perawatan kepada anak dengan pemberian makanan dan kesehatan melalui sumbersumber yang ada untuk kelangsungan hidup anak, pertumbuhan dan perkembangan. Perawatan anak sampai tiga tahun merupakan periode yang paling penting bagi anak-anak. Seorang anak perlu mendapatkan perawatan dan pengasuhan yang tepat dalam masa tiga tahun pertama karena masa tersebut merupakan masa yang kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk mencapai tingkat perkembangan otak yang maksimal maka dibutuhan berbagai macam nutrisi sejak bayi tersebut dalam kandungan dan harus berlanjut minimal sampai ia berusia 3 tahun. Secara kultural di Indonesia ibu memegang peranan dalam mengatur tata laksana rumah tangga sehari – hari termasuk hal pengaturan makanan keluarga. Menurut Popkin dalam Harsiki, T, tahun 2002 ibu rumah tangga adalah penentu utama dalam pengembangan sumber daya manusia dalam keluarga dan pengembangan diri anak sebelum memasuki usia sekolah. Sedangkan pada masyarakat Minangkabau, ibu-ibu telah lama menjadi aktor penting menghidupi anak-anaknya. Sehingga dapat dilihat anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan yang tidak baik ditambah lagi dengan lingkungan yang kurang baik pula maka status gizinya akan lebih buruk dibandingkan dengan anak dengan pola asuh yang baik. Untuk mengetahui bagaimana pola asuh anak batita dan kaitannya dengan keadaan gizi anak batita maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian di Kota Padang khususnya daerah Kuranji. Pada tahun 2002 berdasarkan data SMG (Studi Epidemiologi Masalah Gizi), Kota Padang merupakan daerah dengan prevalensi gizi buruk tertinggi dibandingkan dengan daereah lain di Sumatera Barat dimana berdasarkan (BB / TB < - 2 SD) yaitu 22,7 % anak batita kurus sedangkan 10 % anak batita kurus sekali. Dari laporan Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2002 prevalensi gizi buruk tertinggi di daerah terdapat pada wilayah Kuranji yaitu 5.63%.

20

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Tujuan 1. Diketahuinya hubungan pola asuh dengan status gizi anak batita di daerah Kuranji Kota Padang. 2. Diketahuinya status gizi anak batita di daerah Kuranji Kota Padang. 3. Diketahuinya pola asuh kesehatan anak batita di daerah Kuranji Kota Padang. 4. Diketahuinya pola asuh pemberian makanan anak batita di daerah Kuranji Kota Padang. 5. Diketahuinya karakteristik ibu (pendidikan, pengetahuan, umur, status pekerjaan ibu) dan hubungannya dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan anak batita di daerah Kuranji Kota Padang. 6. Diketahuinya hubungan pola asuh pemberian makanan dengan status gizi anak batita didaerah Kuranji Kota Padang. 7. Diketahuinya hubungan pola asuh kesehatan dengan status gizi anak batita didaerah Kuranji Kota Padang. METODOLOGI Disain Penelitian Disain penelitian ini adalah cross sectional, dimana data yang menyangkut variabel bebas dan terikat dikumpulkan pada waktu yang bersamaan. Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kecamatan Kuranji pada bulan Desember 2003 – Mei 2004, dimana Kuranji merupakan daerah dengan prevalensi gizi buruk tertinggi di Padang berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padang tahun 2002. Populasi dan Sampel Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita (12-35 bulan) beserta ibunya di daerah Kuranji Kota Padang. Populasi studi dalam penelitian ini adalah anak umur dibawah tiga tahun atau (batita) (12 – 35 bulan) beserta ibunya yang tinggal di daerah Kuranji Kota Padang yang terpilih berdasarkan kriteria sampel yang telah ditentukan. Adapun kriteria dari sampel penelitian ini adalah anak umur dibawah tiga tahun atau (batita) (12 – 35 bulan) beserta ibunya yang tinggal di daerah Kuranji Kota Padang. Apabila terdapat 2 anak batita dalam satu keluarga maka yang akan diambil adalah anak batita yang terkecil. Jumlah Sampel Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus : n = Z2 1 - /2 P ( 1 – P ) d2

Keterangan : n = Besar sampel Z = Standar deviasi normal biasanya ditentukan pada 1,96 d = Presisi / ketepatan yang diinginkan 0,08 p = Proporsi untuk sifat tertentu yang diperkirakan terjadi pada populasi (0,23) q = 1,0 – p Berdasarkan rumus diatas maka jumlah sampel sebesar 124 orang. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Berdasarkan hasil random maka didapat kelurahan Pasar Ambacang sebagai lokasi penelitian di Kecamatan Kuranji Kota Padang. Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data dibagi atas data primer dan sekunder. Data primer meliputi data tentang karakteristik ibu ( umur ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan gizi ibu), pola asuh makan, (pemberian kolostrum, pemberian ASI eksklusif, umur penyapihan, umur pemberian MPASI, pemberian makanan), pola asuh kesehatan (sering tidaknya sakit, lamanya sakit, pengobatan, pemeliharaan kesehatan, tempat pencarian pelayanan kesehatan), dan status gizi anak batita. Data karakteristik ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan responden (ibu dan anak batita) menggunakan kuesioner, sedangkan status gizi anak batita ditentukan secara antropometri dengan mengukur berat badan menurut umurnya dan tinggi / panjang badan menurut umurnya. Untuk mengukur berat badan digunakan dacin sedangkan untuk mengukur tinggi badan anak batita digunakan microtoise dan alat ukur panjang badan. Data sekunder meliputi data tentang jumlah batita, keadaan geografi, dan gambaran lokasi penelitian. Pengumpul data adalah 5 orang lulusan Akademi Gizi Depkes Padang. Instrumen Penelitian 1. Microtoise untuk mengukur tinggi badan anak batita di atas 2 tahun. 2. Alat ukur panjang badan untuk mengukur tinggi badan anak batita di bawah 2 tahun 3. Dacin untuk mengukur berat badan anak batita 4. Formulir pengukuran tinggi badan dan berat badan anak batita untuk menentukan status gizi anak batita.

21

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

5.

Daftar pertanyaan ( kuesioner).

Pengolahan dan Analisa Data Sebelum dilakukan pengolahan data, terlebih dahulu data disunting (editing) untuk meneliti kembali kelengkapan data yang dikumpulkan, kemudian diberi kode (coding) dengan tujuan untuk mengelompokkan jawaban. Selanjutnya data dimasukkan ke komputer (entry) dan dilakukan kembali cleaning data untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan pada saat memasukkan data. Setelah data benar-benar bersih dilanjutkan dengan analisis data bivariat. Data tentang pola asuh anak, status kesehatan, dan pengetahuan gizi ibu terdiri dari beberapa pertanyaan dan diberi skor yang berbeda pada setiap jawaban pertanyaan. Seluruh pengolahan data menggunakan program SPSS. Analisa univariat dilakukan terhadap variabel dari hasil penelitian yaitu variabel dependen (status gizi anak batita) dan variabel independen (pola asuh anak, karakteristik ibu). Karakteristik ibu menyangkut: umur ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan pengetahuan gizi ibu. Analisis ini menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel. Untuk melihat hubungan antara variabel: karakteristik ibu (umur ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan gizi ibu) dengan variabel pola asuh anak dilakukan uji chi-square.Nilai yang digunakan adalah p-value, 95 % convidence interval. Bila nilai p < 0,05 dan nilai 95 % CI tidak melewati angka 1 ( satu) berarti bermakna. HASIL DAN PEMBAHASAN Status Gizi Anak Batita
Tabel 1. Status Gizi Anak Batita Berdasarkan Indek (BB/ U,TB/U,BB/TB) di Kelurahan Pasar Ambacang Tahun 2004
Kategori f a. Kurang/ Pendek b. Baik/ Normal Total 6 118 124 BB/U % 4.8 95.2 100 Status Gizi TB/U f % 16 108 124 12.9 87.1 100

diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan gizi anak batita di kelurahan Pasar Ambacang adalah gizi baik. Status gizi anak batita berdasarkan indeks BB/U dengan kategori baik didapatkan (95.2%). Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran masa tubuh masa sekarang ataupun masa lalu. Status gizi dengan menggunakan indeks TB/U dengan kategori normal didapatkan (87.1%). Tinggi badan bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak sama dengan berat badan , tinggi badan kurang sensitif terhadap masalah kurang gizi dalam jangka waktu yang pendek. Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwa TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lalu juga lebih erat kaitannya degan status sosial ekonomi yang dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Status gizi dengan menggunakan indeks BB/TB dengan kategori baik didapatkan ( 91.9%). Jellife (1996) telah memperkenalkan indeks ini dalam mengidentifikasi status gizi. Indeks BB/TB menggambarkan keadaan gizi pada masa kini atau sebenarnya. Hal ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Aryunita dimana prevalensi anak yang pendek diperkotaan hanya 6.6% sedangkan dipinggiran jauh lebih tinggi, lebih kurang 6 kali dibandingkan dengan diperkotaan (40%). Habicht (1974) menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan lingkungan lebih berpengaruh terhadap perbedaan pertumbuhan anak dari pada faktor genetik dan etnik. Hubungan Status Pekerjaan Ibu dengan Pola Asuh Makan Anak Batita
Tabel 2. Hubungan Karakteristik Ibu dengan Pola Asuh Makan Anak Batita di Daerah Kuranji Kelurahan Pasar Ambacang Kota Padang Tahun 2004
Pola Asuhan Makan Bekerja f Baik Kurang 8 67 Status pekerjaan Ibu 4 Tidak bekerja % f % f 67 36 65.0 35.0 75 49 Total % 60.5 39.5

f 10 114 124

BB/TB % 8.1 91.9

38.1 61.9

Total
100

75

100

49

100

124

100

Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa status gizi anak batita berdasarkan indeks BB/U adalah baik (95.2%), berdasarkan TB/U adalah normal (87.1%), berdasarkan BB/TB adalah baik ( 91.9%). Dari tabel

Pada tabel 2 diatas terlihat pola asuh makan yang baik lebih tinggi persentasenya pada responden yang ibunya tidak bekerja (65.0%) dari pada ibu yang bekerja (38,1%).Hasil uji statistik terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh makan dengan status

22

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

pekerjaan, nilai p < 0.05 Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Harahap (1992), yang mengemukakan bahwa salah satu dampak negatif yang ditimbulkan sebagai akibat dari bekerjanya ibu diluar rumah adalah ketelantaran anak, sebab anak balita bergantung pada pengasuhnya ( anggota keluarga lain). Demikian juga yang dikemukakan Luciasari (1995), bahwa ibu yang bekerja diluar rumah cendrung memiliki waktu yang lebih terbatas untuk melaksanakan tugas rumah tangga dibandingkan ibu yang tidak bekerja, oleh karena itu pola pengasuhan anak akan berpengauh dan pada akhirnya pertumbuhan dan perkembangan anak juga akan terganggu. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Hasil penelitian didapatkan Status gizi batita (1-3 tahun) berdasarkan indeks BB/U sebagian besar baik,berdasarkan TB/U sebagian besar normal dan menurut BB/TB sebagian besar baik. 2. Hasil penelitian juga menunjukkan karakteristik ibu anak batita (pendidikan ibu berada dalam kategori baik, status pekerjaan ibu umumnya tidak bekerja dan umur ibu umumnya berusia dibawah 30 tahun.Tidak ada hubungan antara pola asuh dengan status gizi berdasarkan karakteristik ibu (pendidikan,pengetahuan, pekerjaan dan umur ibu), (p > 0.05). Ada hubungan antara pola asuh makan dengan status pekerjaan ibu (p < 0.05) 3. Tidak ada hubungan antara pola asuh pemberian makan dengan status gizi anak batita di kelurahan Pasar Ambacang Kecamatan Kuranji, (p> 0.05). 4. Tidak ada hubungan pola asuh kesehatan dengan status gizi anak batita (p > 0.05) 5. Hasil penelitian didapatkan pola asuh kesehatan anak batita sebagian besar berada dalam kategori kurang 6. Hasil penelitian didapatkan pola asuh makan anak batita sebagian dalam kategori baik SARAN 1. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan penelitian pada faktor-faktor lain yang mempengaruhi status gizi dan hubungannya dengan status gizi. 2. Sebaiknya Ibu meskipun bekerja tetap memperhatikan kualitas waktu pengasuhan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA 1. Pemerintah RI, WHO. Rencana AKSI Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005.Jakarta.2002 2. Biro pusat statistik. Hasil Survei Konsumsi Garam Yodium 2002. 3. Jurusan Poltekes Gizi Padang, Dinas Kesehatan dan Kessos Provinsi Sumatera Barat. Prevalensi Status Gizi Batita Sumatera Barat dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya Buku 1 Tahun 2002. Dalam Prosiding Study Epidemiologi Masalah Gizi Sumatera Barat. Maret 2003. 4. Aryunita, R. Hubungan Pola Asuh Sewaktu Bayi dengan Tinggi Badan dan Status Gizi Anak Baru Masuk SD di Daerah Perkotaan dan Pinggiran Kota Padang. 2002. 5. MM. Trisnabasilih Harsiki. Hubungan Pola Asuh Anak dan Faktor Lain dengan Keadaan Gizi Batita Keluarga Miskin di Pedesaan dan Perkotaan Provinsi Sumatera Barat. Tesis Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta. 2002. 6. Cara Melepas Ketakutan Anak; hal 1-2 diakses dari http;// www.Balita Anda.com. 2004. 7. Dinas Kesehatan Kota. Formulir Pelaporan Pemantauan Status Gizi (156) Balita. 2002. 8. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Media Gizi dan Keluarga. 2001. 9. Dewa, INS, dkk. Penilaian Status Gizi. Buku Kedokteran. Jakarta. 2001. 10. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Media Gizi dan Keluarga. 1999. 11. Jalal, F. Tantangan Pembangunan Kesehatan dan Gizi. Padang. 2001. 12. Soetjaningsih. Tumbuh Kembang Anak. Buku Kedokteran. Jakarta. 1995. 13. Engle, Pl. The Initiative Assesment Analysis and Action Improve Care to Nutrition. Unicef. 1997. 14. Jurusan Gizi Poltekes Padang, Dinas Kesehatan dan Kessos Provinsi Sumatera Barat. Prevalensi Status Gizi Balita Sumatera Barat dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Buku 3 tahun 2002. dalam Prosiding study epidemiologi masalah gizi Sumatera Barat. Maret 2003 15. Infant Food and Dietetic Products Department. Pengaruh Gizi Terhadap Perkrmbangan Otak dan Peranannya Terhadap Kecerdasan Anak. PT. Nestle Indonesia. 1994. 16. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Kumpulan Makalah Hubungan Pola Asuh Balita (6-59 bulan) Etnis Mentawai di Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat. Padang. 2003. 17. Notoadmojo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta. 2002. 18. Ariawan, I. Besar dan Metoda Sampel pada Penelitian Kesehatan. Jurusan Bio Statistik dan Kependudukan FKM UI. 1998. 19. Persagi. Penuntun Diit anak. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1994. 20. Nestle. Gizi dan Kualitas Tumbuh Kembang Anak. 1997. 21. Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia, Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Berkala- IX. Palembang – Desember 1984. 22. Infant Food and Dietetic Product Department PT. Nestle Indonesia, Pengaruh Gizi Terhadap Perkembangan Otak dan Peranannya terhadap Kesehatan Anak. 1994. 23. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gizi dan Tumbuh Kembang. Jakarta. 1985. 24. Notoatmodjo, S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.1998.

23

STUDI LITERATUR

STRATEGI PENCEGAHAN PENYAKIT DAN PROMOSI KESEHATAN UNTUK PENYAKIT PERLEMAKAN HATI
Rizanda Machmud*

Perlemakan hati secara definisi adalah penumpukan lemak yang berlebihan dalam sel hati (Saputra L, 1999). Batasan penumpukan lemak jika: 1) jumlah lemak melebihi 5% dari total berat hati normal atau 2) lebih dari 30% sel hati dalam lobulus hati terdapat penumpukan lemak (WU Jau-Shin, 2001) Perlemakan hati bervariasi mulai dari perlemakan hati saja (steatosis) dan perlemakan hati dengan inflamasi (steatohepatitis) (Patel T, 2001). Banyak orang tidak menyadari timbulnya perlemakan hati. Hal ini dibuktikan pada hasil pengumpulan survey pada 975 orang di kota Depok menunjukkan prevalensi perlemakan hati paling tinggi diantara penyakit tidak menular lainnya. Prevalensi ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara- negara seperti Amerika, Canada, Italia maupun Jepang. Hal yang ditakutkan dari perlemakan hati adalah bila terjadi komplikasi yang berlanjut menjadi sirosis dan kegagalan fungsi hati. Hampir sebagian besar hasil penelitian di luar negeri mendapatkan penyebab perlemakan hati tersebut oleh karena alkohol, sedangkan di Indonesia alkohol bukan sesuatu hal yang umum dikonsumsi, sehingga dengan mengetahui faktor-faktor risiko perlemakan hati akan memudahkan dalam usaha menurunkan prevalensi perlemakan hati tersebut. Faktor risiko yang memiliki hubungan dengan perlemakan hati adalah: umur, hiperlipidemia, diabetes melitus dan kegemukan, sedangkan jenis kelamin, pola konsumsi makan, aktivitas fisik dan olahraga tidak berhubungan dengan kejadian perlemakan hati. Faktor yang paling dominan dan

berisiko paling tinggi pada kejadian perlemakan hati adalah kegemukan. Kontribusi faktor risiko menunjukkan, bila kegemukan dapat dihilangkan pada populasi tersebut, maka perlemakan hati akan turun dari 30.6% menjadi 11.7% (interval kepercayaan 95% 10.3; 13.7). Untuk dapat mengetahui strategi dalam pencegahan penyakit dan promosi kesehatan untuk penyakit perlemakan hati ini maka akan dibahas dasar pemikiran dari pencegahan penyakit perlemakan hati, langkah-langkah yang dilakukan untuk penyebarluasan informasi ini. Dasar pemikiran upaya pencegahan Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain diluar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari kesehatannya sendiri, tapi harus dilihat juga dari seluruh segi yang ada pengaruhnya dengan masalah sehat-sakit atau kesehatan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, untuk itu Hendrick L Blum menggambarkan secara ringkas dalam gambar 2 (Notoatmodjo S, 1997). Keempat faktor kesehatan tersebut (lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan) berpengaruh langsung kepada kesehatan, disamping itu juga saling berpengaruh satu-sama lainnya. Terlihat bahwa perilaku mempunyai pengaruh yang paling besar diikuti oleh lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan.

* Staf Pengajar PSIKM FK Unand

24

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

LINGKUNGAN

PELAYANAN KESEHATAN

STATUS KESEHATAN

KETURUNAN

PERILAKU
Gambar 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan menurut Blum

Sumber: Notoatmodjo,S, 1997 Upaya intervensi yang efektif pada penekanan angka kesakitan dan angka mortalitas penyakit tidak menular adalah promosi kesehatan dan perlindungan khusus yang ditujukan kepada orang sehat. Adapun tujuan pengobatannya lebih kepada pengobatan simptomatis, memperpanjang usia mencegah cacad dan rehabilitasi. Dalam hal ini angka harapan hidup merupakan salah satu indikator kesehatan, sedangkan penyakit tidak menular akan berdampak pada penurunan sumber daya manusia dan menurunnya angka harapan hidup. Hal ini akan berpengaruh pada derajat kesehatan Indonesia (Nasrin, 2000). Perlemakan hati merupakan penyakit dengan penyebab yang multifaktorial, sehingga semua faktor risiko perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan baik primer maupun sekunder. Faktor risiko tersebut ada yang dapat dimodifikasi, seperti hiperlipidemia, obesitas, diabetes melitus, diet lemak tinggi, aktifitas dan olahraga. Ada juga faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi, seperti: usia, jenis kelamin. Agar pencegahan dapat lebih berhasil, maka semua faktor risiko yang dapat dimodifikasi tersebut harus dikendalikan secara serentak.

Kegemukan merupakan faktor yang berkontribusi paling besar dalam kejadian perlemakan hati. Kegemukan juga berhubungan paling erat dengan kejadian perlemakan hati. Dimana risiko terbesar pada kejadian perlemakan hati adalah risiko kegemukan dibandingkan variabel umur, hiperlipidemia dan diabetes mellitus. Kegemukan tidak hanya berisiko untuk perlemakan hati saja, tetapi juga untuk penyakit kronis lainnya seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes melitus, kanker. Berbagai studi melaporkan kegemukan merupakan common risk factor bagi penyakit kronis lainnya, dan risiko penyakit kronis meningkat pada penderita kegemukan (Muchtadi D, 2001). Dilaporkan bahwa hampir 80% penderita diabetes melitus adalah penderita obesitas. Kegemukan bukan penyebab satu-satunya timbulnya pada penyakit kardiovaskuler, tetapi merupakan faktor yang sangat penting dalam mempercepat timbulnya penyakit, sehingga dapat timbul lebih dini. Pada penyakit kanker keadaan gizi merupakan pencetus terjadinya kanker, dan hal ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian, yang menunjukkan bahwa laki-laki yang mengalami

25

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

kegemukan akan mempunyairisiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker usus besar, dubur, (rectum) dan kelenjar prostat. Sedangkan wanita yang mengalami kegemukan akan mempunyai risiko tinggi untuk menderita kanker payudara dan rahim (Muchtadi D, 2001). Upaya-upaya dalam penanggulangan dan pencegahan perlemakan hati diharapkan juga akan berdampak pada penurunan prevalensi penyakit kronis lainya. Dalam usaha mencegah kegemukan maka hal yang dilakukan adalah dengan perbaikan pola konsumsi pangan yang berimbang (Muchtadi D, 2001). Pada hakekatnya masalah kegemukan merupakan masalah perilaku. Dan memang perilaku merupakan pengaruh yang paling besar dalam mempengaruhi kesehatan. Dengan demikian, upaya untuk mengoreksi masalah gizi tersebut dilakukan dengan pendekatan pemberian informasi tentang perilaku gizi yang baik dan benar (Muchtadi D, 2001). Materi Penyuluhan pencegahan perlemakan hati melalui penanganan kegemukan Departemen Kesehatan RI telah menyusun pedoman umum gizi seimbang dalam buku Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Tiga belas pesan dasar gizi seimbang tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki pola konsumsi pangan masyarakat. Isinya adalah sebagai berikut (Kodyat B, 1996): 1) Makanlah aneka ragam makanan. Makan makanan yang beraneka ragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Sebab kekurangan atau kelangkaan zat gizi tertentu, pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan lain. Jadi, masing-masing makan dalam susunan aneka ragam menu seimbang akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur bagi kebutuhan seseorang. Keaneka ragaman makanan dalam hidangan sehari-hari yang ideal dikonsumsi adalah jika setiapkali makan siang dan malam, hidangan tersebut terdiri dari empat kelompok makanan ( makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah) 2) Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi. Konsumsi energi yang melebihi kecukupan dapat mengakibatkan kenaikan berat badan. Energi yang berlebih disimpan sebagai

3)

4)

5)

6)

cadangan dalam tubuh berbentuk lemak. Bila keadaan tersebut berlanjut maka akan menimbulkan kegemukan, yang akan berdampak pada timbulnya berbagai penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, perlemakan hati dan sebagainya. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi. Terdapat dua kelompok karbohidrat yaitu karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Karbohidrat kompleks adalah padi-padian, umbi-umbian dan makana lainnya seperti tepung, sagu dan pisang. Makanan tersebut mengandung zat gizi selain karbohidrat. Proses pencernaan dan penyerapan berlangsung lebih lama dari karbohidrat sederhanan. Makanan ini akan memberikan rasa kenyang tidak cepat lapar. Sedangkan gula, sirup, selai merupakan karbohidrat sederhana, tidak mengandung zat gizi lainnya. Proses dalam tubuh cepat dan menimbulkan rasa lapar yang lebih cepat. Dianjurkan agar membatasi untuk konsumsi karbohidrat sederhana ini hanya 3 – 4 sendok makan sehari, karena dapat berdampak kepada kegemukan. Dan membatasi makanan karbohidrat komplek jangan lebih dari total makanan yang dikonsumsi. Bila lebih dari setengahnya maka timbul kondisi kekenyangan, sehingga akan mengurangi konsumsi lauk-pauk sayuran dan buahbuahan Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi Makanan yang ada, jangan terlampau banyak digoreng. Adapun komposisi yang dianjurkan dua bagian makan yang mengandung sumber lemak nabati dan satu bagian dikonsumsi sumber lemak hewani. Tidak mengkonsumsi telur, daging lebih dari tiga kali dalam seminggu Gunakan garam beryodium. Gunakanlah garam yang mengandung yodium, yang terdapat pada lebel bungkus garam. Makanlah sumber energi zat besi. Anemia gizi besi masih banyak diderita oleh penduduk Indonesia terutama pada wanita hamil, wanita menyusui, anak balita, anak usia sekolah, buruh dan tenaga kerja berpenghasilan rendah. Sumber utama zat

26

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

besi adalah bahan pangan hewani, kacangkacangan dan sayuran berwarna hijau tua. 7) Berikan ASI saja kepada bayi sampai berumur 4 bulan. Air susu ibu adalah yang terbaik untuk bayi. Hindari pemberian makanan tambahan pada bayi sebelum usia empat bulan. 8) Biasakanlah makan pagi. Makan pagi atau sarapan sangat bermanfaat bagi semua orang. Manfaatnya seperti memelihara ketahanan fisik dan daya tahan tubuh, meningkatkan konsentrasi. 9) Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya. Fungsi air adalah melancarkan transportasi gizi dalam tubuh, mengatur keseimbangan cairan, mengatur suhu, mengeluarkan sisa metabolisme. Untuk menjalankan fungsi tersebut diperlukan minimal dua liter atau delapan gelas sehari. 10) Lakukanlah kegiatan fisik dan olah raga secara teratur. Kegiatan fisik sangat bermanfaat bagi setiap orang, karena dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung dan otot serta memperlambat proses penuaan. 11) Hindarilah minuman beralkohol. Kerugian bila seseorang mengkonsumsi alkohol adalah terhambat proses zat gizi, penyakit gangguan hati, kerusakan saraf dan otak. 12) Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan. Makan selain harus bergizi juga harus aman bagi kesehatan. Makanan yang aman adalah makanan yang bebas kuman dan bahan kimia berbahaya, telah diolah dengan cara yang benar sehingga fisik dan zat gizinya tidak rusak. 13) Bacalah label pada makanan yang dikemas. Pada makanan yang dikemas terdapat label keterangan tentang isi, jenis, susunan zat gizi serta tanggal kadaluarsanya. Keterangan ini sangat membantu konsumen dalam memilih dan menggunakan makanan tersebut. Upaya lainnya yang dapat dilakukan sebagai pencegahan perlemakan hati sama dengan upaya pencegahan gangguan lemak dalam darah seperti yang diutarakan oleh Semiardji G 2000, dapat

dilakukan melalui penyuluhan tentang gaya hidup sehat, meliputi: a) Pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber serat. Dan membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana. b) Kegiatan jasmani yang cukup sesuai umur dan kemampuan. Adapun frekuensi yang disarankan dalam melakukan olahraga adalah minimal tiga kali seminggu dan maksimal lima kali seminggu. Untuk mengetahui Intensitas dari latihan yang dilakukan denyut nadi sewaktu latihan dapat dijadikan patokan. Besarnya denyut nadi sewaktu latihan ini harus sesuai dengan denyut nadi dalam zona latihan menurut KH Cooper. c) Mempertahankan berat badan normal, dengan batasan melalui index masa tubuh. d) Tidak merokok. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyebar-luasan informasi Setelah diketahui materi-materi yang akan disampaikan dalam strategi pencegahan penanggulangan penyakit perlemakan hati ini, maka diperlukan langkah-langkah selanjutnya untu mempromosikan materi ini kepada masyarakat. Untuk itu sangat diperlukan peran pemerintah yaitu, pihak pengambil keputusan bidang kesehatan dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Depok untuk penyebarluasan informasi ini. Diharapkan bila telah terbentuk suatu perilaku hidup sehat dalam masyarakat, maka akan terjadi penurunan prevalensi perlemakan hati dan juga penurunan prevalensi penyakit-penyakit lainnya seperti penyakit jantung kardiovaskuler, diabetes melitus dan kanker. Dinas Kesehatan Kota dapat mengolola mulai dari kegiatan promotif dan preventif pada tingkat masyarakat melalui Puskesmas dan kerjasama melalui lintas sektoral, yang melibatkan Dinas Penerangan, Dinas Pendidikan, Kecamatan, serta tokoh-tokoh masyarakat dan alim ulama. Adapun langkah-langkah sebagai berikut: 1. Peningkatan kemampuan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) dengan melakukan pelatihan untuk petugas-petugas kesehatan tentang materi penyuluhan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang dan pola gaya hidup sehat dalam rangka penurunan prevalensi perlemakan hati dan penyakit tidak menular lainnya.

27

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

2. Peningkatan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dalam penyuluhan tentang gaya hidup sehat. Untuk dapat terselenggaranya kerjasama tersebut perlu adanya biaya penyuluhan yang terpadu dan juga pelatihan bagi sektor terkait. 3. Peningkatan penyuluhan tentang gaya hidup sehat dan perubahan perilaku masyarakat terhadap masalah gizi dengan terbentuknya pola konsumsi pangan yang berimbang melalui kegiatan di Puskesmas. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar diharapkan dapat melakukan kegiatan meliputi : a) Kegiatan dalam gedung Melakukan penyuluhan terhadap pasienpasien dengan risiko tinggi terhadap perlemakan hati seperti pada pasien dengan umur lebih dari 45 tahun, mengalami kegemukan, atau menderita diabetes melitus. Melakukan pelayanan kesehatan menyeluruh dan terpadu dengan kerjasama lintas program, meliputi pencatatan dan pelaporan pasien tersebut. b) Kegiatan luar gedung Pembinaan peran serta masyarakat dalam memantau kegemukan dalam masyarakat, maka diperlukan kerjasama dengan kaderkader PKK, kader kesehatan dan lintas sektor terkait untuk memberikan bimbingan dan motivasi pada masyarakat. Kegiatan dapat dilakukan berupa; (a) Penyuluhan kesehatan tentang pentingnya gaya hidup sehat, pada acaraacara kegiatan seperti; arisan kader, acara kegiatan PKK, kegiatan karang taruna, kegiatan posyandu balita ataupun lansia, ataupun acara kegiatan kecamatan di lingkungan kota Depok. (b) Penyuluhan kesehatan melalui sekolahsekolah pada tingkatan SD, SLTP, SLTA melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Palang Merah Remaja (PMR). 4. Peningkatan penyuluhan pola konsumsi pangan yang berimbang dengan pembentukan perilaku gaya hidup sehat dan melaksanakan 13 pesan dasar gizi seimbang untuk masyarakat umum melalui melalui: a) Penyuluhan melaui media elektronik,

misalnya radio spot yang disiarkan RRI, radio swasta di kota Depok. Dalam penyiaranharus dipilih acara yang digemari masyarakat b) Penyuluhan melalui media cetak yang terdapat dikota Depok. Hal tersebut memerlukan kerjasama dengan pimpinan media cetak dan wartawan untuk mau menuliskan materi gaya hidup sehat dan pola konsumsi makanan sehat berimbang di media cetak yang dipimpinnya. Dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Depok harus pro aktif mengirimkan materi ke media cetak tersebut. Materi-materi tersebut dapat dimasukkan dalam rubrik kesehatan, rubrik keluarga. 5. Pengembangan media, yang mencakup informasi dalam merubah perilaku masyarakat untuk dapat melakukan gaya hidup sehat dan dengan pola konsumsi makanan sehat dan berimbang. Pesan dan media dirancang sesuai kelompok sasaran. Media yang diharapkan dapat berupa leaflet, poster, buku saku, radio spot, naskah-naskah yang akan ditulis dikoran, majalah, radio. 6. Pelaksanaan lainya dapat berupa pelaksanaa kegiatan latihan jasmani yang meliputi kegiatan gotong royong setiap minggu, pengaktifan kembali Jumat bersih, olahraga bersama setiap minggu. Mengadakan kegiatan perlombaan setiap tiga bulan sekali yang meliputi lomba jalan sehat, lomba kesegaran jasmani, lomba gambar atau poster yang bertemakan tentang perilaku hidup sehat dan pola makan yang sehat dan seimbang. Indikator keberhasilan usaha pencegahan penyakit perlemakan hati dan penyakit tidak menular lainnya Adapun indikator yang dapat digunakan untuk menilai hasil kerja yang dilakukan dalam usaha promotif dan preventif penyakit perlemakan hati dan penyakit tidak menular lainnya adalah: 1) Penurunan prevalensi perlemakan hati dan penyakit tidak menular lainnya seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, kanker. 2) Terbentuknya perilaku hidup sehat dalam masyarakat

28

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

DAFTAR PUSTAKA
1. Amir IR, 1996 Hubungan gaya hidup dengan Index Massa Tubuh Orang Dewasa di Kotamadya Bandung tahun 1996. Tesis PPS UI Program Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta, 121 hml. 2. Angulo P; Keach JC;Batts KP; Lindor KD, 1999 Independent Predictors of liver fibrosis in patients with nonalcoholic steatohepatitis. Hepatology 1999 Dec; 30(6): 1356-62. 3. Bacon BR, Farahvash MJ, Janney CG, Neuschwander-Tetri BA, 1994 Non_Alcoholic Steatohepatitis: An Expanded Clinical Entity, Gastroenterology 1994 Oct;107(4):1103-1109. 4. Balitbangkes, 2001 Laporan penelitian Studi Operasional Promosi Gaya Hidup Sehat Dalam Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama Secara Terintergrasi Berbasis Masyarakat. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. 5. Beacke JAH,J Burema and JER Frijters, 1982 A short Questionaire for the Measurement of Habitual Physical Activity in Epidemiological Studies. Am.j.Clin.Nutr 36:936-942. 6. Berkow, Robert, 1998The Merck Manual 16 th edition. Merck & co inc.hlm 236-266. 7. Bellentani S, Saccoccio G, Massutti F, Croce L, Bandi G, Sasso F, 8. Cristanini G, Tiribeli C, 2000 Prevalence of and Risk Factors for Hepatic Steatosis in Nothern Italy, American Collage of PhysiciansAmerican Society of internal medicine. Ann Intern Med. 2000;132:112-117. 9. Bode, J. Christian, 1999 Alcoholic Liver Disease Dalam: Gastroenterology and Hepathology. McGraw-Hill. England. Hlm 511-522. 10. Burt AD, RNM MacsSween, TJ Peters, KJ Simpson, 1991 NonAlcoholic Fatty Liver: Causes and Complications Dalam: Oxford Textbook of Clinical Hepatology volume 2 Oxford University Press hlm 865-871. 11. Byron D; Minuk GY, 1996 Clinicalhepatology: Profile of an Urban, Hospital Based Practice. Hepatology 1996 Oct; 24 (4): 959-60. 12. Cortez PH; Camili ME; Baptista A; De Oliveira AG; De Moura MC, 1999 Non-alcoholic Fatty Liver: Another feature of the Metabolic Syndrome?. Clinical Nutrition 1999 Dec; 18 (6):353-8. 13. ——————————,2000 Profil Kesehatan Indonesia. Pusat Data Kesehatan dan Informasi. Jakarta. 14. ——————————,2000 Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1996. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Jakarta. 15. Darmawan, Sadikin, 1990 Hati dan Saluran Empedu, Dalam: buku Patologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 448 hml. 16. Epstein, Franklin H, 2000 Cytikines in Alcoholic and Nonalkoholic Steatohepatitis The New England Journal of Medicine vol 33 november 16,2000:1467-1476. 17. Götz, W, 1980 Diagnosis of Hepatic Diseases GIT Verlag-Ernst Giebeler hlm 5-11. 18. Haskell, William L, 1997 Physical activity, Lifestyle, and Cardiovasculer Health Dalam Physical Activity and Cardiovascular Health A National Consensus. University of Minnesota. Human Kinetics Inc. hlm 272. 19. Jalal, Fasli, 1991 Survei Diet ( Pengukuran Konsumsi Makanan) Dalam Kursus II Epidemiologi Gizi. Kerjasama Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Indonesia. Kampus UI Depok. 20. Kodim, Nasrin, 2000 Strategi Pencegahan Penyakit dan Promosi Kesehatan Dalam Himpunan Bahan Kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jurusan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 21. Kodyat, Benny A, 1996 Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Departemen Kesehatan RI Jakarta. 80 hlm. 22. Laurin J, Lindor KD, Crippin JS, Gossard A, Gores GJ, Ludwig J, 1996 Ursodeoxycholic acid or clofibrate in the treatment of nonalcoholic induced steatohepatitis: a pilot study. Hepatology 1996;23:74-80. 23. Lavine JE, 2000 Vitamin E treatment of nonalcoholic steatohepatitis in children: a pilot study [see comments]. J.Pediatric 2000;136:734738. 24. Leon, Arthur S, 1997 Physical Activity and Cardiovascular Health A National Consensus. University of Minnesota. Human Kinetics Inc. hlm 272. 25. Lesmana, L.A,1999 Perlemakan Hepatitis Non-Alkoholik Dalam: Aru W Sudoyo et all (eds) 1999 Naskah Lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 1999 Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 123 – 125.

29

STUDI LITERATUR

PENILAIAN TINGKAT FERTILITAS DAN PENATALAKSANAANNYA PADA PRIA
Masrizal Khaidir*

PENDAHULUAN Sekitar 10% dari pasangan suami-istri mengalami infertilitas. Faktor peyebab infertilitas berasal dari suami, istri, atau keduanya. Faktor lain dari kedua belah pihak sebesar 30-40%. Menurut penelitian yang dilakukan Lim dan Ratnam, faktor penyebab yang berasal dari suami sebesar 33%, sedangkan hasil penelitian WHO pada 1989 sebesar 40%. Penelitian yang dilakukan Arsyad terhadap 246 pasangan infertil di Palembang menunjukkan infertilitas yang disebabkan faktor pria sebesar 48,4%2. Laboratorium klinik sangat berperan dalam diagnosis dan penatalaksanaan pria infertil. Pemeriksaan laboratorium yang merupakan tulang punggung laboratorium andrologi dan laboratorium rumah sakit atau Assisted Reproductive Technology (ART) adalah analisis sperma dan pemeriksaan hormon. Analisis sperma dipakai untuk diagnosis evaluasi pre/post terapi medikal maupun surgikal infertilitas pria. Analisis sperma dipakai juga di laboratorium forensik guna penanggulangan kasus perkosaan, kasus penolakan orangtua terhadap bayinya, dan untuk menyaring pengaruh bahan racun/ obat yang toksik pada organ reproduktif. Saat ini, banyak diminta pemeriksaan DNA untuk penanggulangan perkosaan. Dengan demikian, pada masa mendatang diramalkan permintaan analisis sperma akan meningkat. Fertilitas Fertilitas barasal dari kata fertil yang berarti subur. Dalam hal ini fertilitas pria diartikan sebagai kemampuan untuk dapat menghamili wanita.Syarat suatu sperma yang baik / normal adalah sesuai dengan parameter spermatozoa normal. Bila bagian besar
*Staf Pengajar PSIKM FK Unand, Mahasiswa S2 Biomedik FK Unand

parameter tersebut (terutama jumlah dan motilitas spermatozoa) tidak sesuai, maka spermatozoa tidak akan dapat membuahi sel talur. Keadaan seperti ini disebut infertilitas Infertilitas Adalah suatu keadaaan pasangan suami istri yang telah kawin satu tahun atau lebih (WHO 2 tahun) dan telah melakukan hubungan seksual secara teratur dan adekuat tanpa memakai kontrasepsi tapi tidak memperoleh kehamilan atau keturunan. Dari pengertian infertil ini terdapat tiga faktor yang harus memenuhi persyaratan yaitu lama berusaha, adanya hubungan seksual secara teratur dan adekuat, tidak memakai kontrasepsi. PEMBAGIAN INFERTILITAS Secara gasris besar infertilitas dapat di bagi dua yaitu: 1. Infertilitas primer, suatu pasangan dimana isteri Belem hamil walau telah berusaha selama satu tahun atau lebih dengen hubungan seksual yang teratur dan adekuat tanpa kontrasepsi. 2. Infertilitas sekunder, bila suatu pasangan dimana sebelumnya isteri telah hamil, tapi kemudian tidak hamil lagi walau telah berusaha untuk memperoleh kehamilan satu tahun atau lebih dan pasangan tersebut. telah melakukan hubungan seksual secara teratur dah adekuat tanpa kontrasepsi. Pada infertilitas sekunder ini sebagian telah mempunyai. anak, tapi ada keinginan untuk menambah anak, baik karena anaknya masih satu atau karena jenis kelamin yang diinginkan belum didapatkan. Dan sebagian lagi memang istri telah pernah hamil mungkin anak yang lahir meninggal atau mengalami keguguran dan sebagainya.

30

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

FAKTOR PENYEBAB INFERTILITAS PRIA A. Faktor umum (umur, frekuensi senggama, lama berusaha) . B. Faktor khusus (pre testiku1ar, pest testikular, testikular, reeksi imunologi dan faktor 1ingkungan) . A. Faktor umum 1. Umur Umur mempengaruhi kesuburan dimana pada usia tertentu tingkat kesuburan seorang pria akan mulai menurun secara perlahan-lahan.’ Kesuburan pria ini diawali saat memasuki usia pubertas ditandai dengan perkembangan organ reproduksi pria, ratarata umur 12 tahun. Perkembangan organ reproduksi pria mencapai keadaan stabil umur 20 tahun. Tingkat kesuburan akan bertambah sesuai dengan pertambahan umur dan akan mencapai puncaknya pada umur 25 tahun. Setelah usia 25 tahun kesuburan pria mulai menurun secara perlahan-lahan, dimana keadaan ini disebabkan karena perubahan bentuk dan faal organ reproduksi 2. Frekuensi sanggama. Fertilisasi (pembuahan) atau peristiwa terjadinya pertemuan antara spermatozoa dan ovum,akan terjadi bila koitus berlangsung pada saat ovulasi. Dalam keadaan normal sel spermatozoa masih hidup selama 1-3 hari dalam organ reproduksi wanita, sehingga fertilisasi masih mungkin jilka ovulasi terjadi sekitar 1-3 hari sesudah koi tus berlangsung. Sedangkan ovum seorang wanita umurnya lebih pendek lagi yaitu lx24 jam, sehingga bila kiotus dilakukan-pada waktu’ tersebut kemungkinan besar bisa terjadi pembuahan. Hal ini berarti walaupun suami istri mengadakan hubungan seksua tapi tidak bertepatan dengan masa subur istri yang hanya terjadi satu kali dalam sebulan, maka tidak akan terjadi pembuahan, dengan arti kata tidak akan terjadi kehamilan pada istri 3. Lama berusaha Penyelidikan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kehamilan menunjukkan bahwa 32,7% hamil dalam satu bulan pertama . 57,0% dalam tiga bulan pertama, 72.1 % dalam enam bulan pertama. 85,4% dalam 12 bulan pertama, dan 93,4% dalam 24 bulan pertama. Waktu rata~rata yang dibutuhkan untuk menghasi1kan kehamilan adaleh. 2,3-2.8 bulan.Jadi lama suatu pasangan suami istri berusaha secara teratur

merupakan faktor penentu untuk dapat terjadi kehamilan. B. Faktor khusus a. Faktor Pre testikular yaitu keadaan-keadaan diluar testis dan mempengaruhi proses spermatogenesis. 1. kelainan endokrin. Kurang lebih 2% dari infertilitas pria disebabkan karena adanya kelainan endokrin antara lain berupa: a) kelainan paras hipotalamus-hipopise seperti; tidak adanya sekresi gonadotropin menyebabkan gangguan spermatogenesis b) kelainan tiroid. menyebabkan gangguan metabo1isme androgen. c) kelainan kelenjar adrenal, Congenital adrenal hyperplasi menyebabkan gangguan spermatogenesis. 2. Kelainan kromosom. Misal penderita sindroma klinefelter, terjadi penambahan kromosom X, testis” tidak berfungsi baik,sehingga spermatogenesis tidak terjadi. 3. Varikokel, yaitu terjadinya pemanjangan dan dilatasi serta kelokan-kelokan dari pleksus pampiriformis yang mengakibatkan terjadinya gangguan vaskularisasi testis yang akan mengganggu proses spermatogenesis; b. Faktor Post testikular 1. Kelainan epididimis den funikulus spermatikus, dapat berupa absennya duktus deferens, duktus deferens tidak bersambung dengan epididimis, sumbatan dan lain-lain 2. Kelainan duktus eyakulatorius, berupa sumbatan 3. Kelainan prostat dan vesikula seminalis, yang sering adalah peradangan, biasanya mengenai kedua organ ini, tumor prostat dan prostatektomi 4. Kelainan penis / uretra. berupa malformasi penis, aplasia, anomali orifisium uretra (epispadia ,hipospadia). anomali preputium (fimosis), dan lain-lain. c. Faktor testikular Atrofi testi primer;gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kriptorkidism, trauma, torsi,

31

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

peradangan, tumor. Hampir 9% infertilitas pria disebabkan karena kriptorkismus (testis tidak turun pada skrotum). d. Reaksi imunologis Dalam hal ini analisis sperma biasanya tidak menunjukan kelainan, kecuali terlihat adanya aglutinasi spermatozoa yang dapat ditentukan dengan tes imunologis e. Faktor lingkungan 1. suhu, memegang peranan penting pada spermatogenesis. Pada mamalia spermatazoa hanya dapat diproduksi bila suhu testis 2930’C, sedikitnya. 1,5-2. 0C· dibawah suhu dalam tubuh, kenaikan suhu beberapa derajat akan menghambat proses spermatogenesis, sebaliknya suhu rendah akan meningkatkan spermatogenesis pada manusia. 2. tempat/dataran tinggi. Atmosfer dataran tinggi (high altitude) juga menghambat pembuatan spermatozoa. 3. sinar Rontgen, spermatogonia dan spermatosit sangat peka terhadap sinar Rontgen, tapi spermatic dan sel sertoli tidak,banyak terpengaruh bahan kimia dan obat-abatan tertentu dapat menghambat proses spermatogenesis, misal metronidazol, simetidin dan lain-lain PEMERIKSAAN INFERTILITAS PRIA Pada umumnya dilakukan pemeriksaan berupa: 1. wawancara / anamnesis dan pemeriksaan fisik 2. pemeriksaan dasar Wawancara / anamnesis meliputi: 1. lama menikah, 2. usia pasangan, 3. pekerjaaan,frekuensi; dan 4. waktu melakukan hubungan seksual Pemeriksaan lanjutan 1. Riwayat perkembangan urologis, pembedahan,hubungan kelamin, kontak dengan zat-zat toksik, penyakit infeksi alat reproduksi 2. Pemeriksaan jasmani pada umumnya termasuk seks sekunder (penyebaran rambut, ginekomastia dan lain-lain] 3. Pemeriksaan khusus alat reproduksi (penis,letak lubang uretra, ukuran, konsistensi testis, vas deferens, epididimis dan lain~lain) 4. Pemeriksaan laboratorium rutin; urin,

darah dan analisis sperma.Pemeriksaan laboratorium khusus;kadar serum darah, FSH, LH, testosteron dan lain-lain bila ada indikasi. SPERMATOZOA Satu spermatozoon terdiri atas kepala dan ekor. Kepala lonjong dilihat dari atas dan pyriform dilihat dari samping, lebih tebal dekat leher dan menggepeng ke ujung Kepala 4-5 um panjang dan 2,5-;3,5 um lebar. Sebagian terbesar kepala berisi inti, yang kromatinnya sangat terkondensasi untuk menghemat ruangan yang kecil, dan untuk melindungi diri dari kerusakan ketika spermatozoon itu mencari ovum. Dua pertiga bagian depan inti diselaputi tutup akrosom, berisi enzim untuk menembus dan memasuki ovum. Gb.1 Spermatozoon Mammalia A. keseluruhan B. pen. lintang bagian tengah

C. pen. Iintang bag. Utama ac = tutup akrosom ax = axonem cp = leher (connecting piece) ep = bag. ujung ekor (end piece ) k = kepala mp = bag. tengah (middle piece) pp = bag. utama (principal piece) rsf = rusuk seludang fibrosa sf = seludang fibrosa smt = seludang mitokondria Ekor dibagi atas: 1. Leher 2. bagian tengah

32

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

3. bagian utama 4. bagian ujung Panjang ekor seluruhnya, sekitar 55 um dan tebalnya berbagai, dari 1 urn dekat pangkal ke 0, I urn dekat ujung. Pembagian ekor atas 4 bagian tak dapat dibedakan di bawah mikroskop cahaya. Perlu tehnik mikroskopis khusus dan mikroskop elektron. Leher, bagian penghubung ekor· dengankepalil. Tempat melekat ekor ke kepala disebut implantation fossa, dan bagian ekor yang menonjol disebut capitulum, semacam sendi peluru pada kepala. Dekat capitulum terletak sentriol depan (proximal). Sentriol ujung (distal) hanya berupa sisa pada spermatozoa matang. (Gb. 2). Gb.2.Bagian leher spermatozoon ax = axonem flagellum ca =capitulum

padat) bersusun 9-9-2 di luar axonem. Di bagian ini mitokondria bersambung-sambung dalam susunan spiral dan rapat sesama, membentuk selubung axonem bersama dense fiber. Panjang bagian tengah 5-7 um, tebal.l um. Bagian ujung selubung mitokondria ada annulus (cincin), tempat melekat membran flagellum, dan juga sebagai batas bagian dengan bagian utama. Bagian utama (principal piece), depan panjang 45 um, tebal 0,5 um, yang secara berangsur kian gepeng ke ujung. Sebelah luar ada seludang fibrosa (serat jaringan ikat), terdiri dari batang longitudinal atasbawah, diselaputi rusuk-rusuk fibrosa setengah lingkaran. Bagian ujung, (end piece) panjang 5-7 um. tidak mengandung selaput’ fibrosa yang berusukrusuk, sehingga ia berstruktur sama dengan flagellum atau cilium.. Di daerah ini axonem berubah komposisinya. Tidak lagi doublet, tapi jadi singlet. SEMEN Lendir yang keluar dari genitalia jantan waktu eyakulasi disebut semen (mani). Ia terdiri dari bagian padat dan bagian cair. Bagian padat ialah spermatozoa, bagian cair disebut plasma semen (air mani). Spermatozoa dihasilkan testis, plasma semen dihasilkan ampulla vas deferens, dan kelenjarkelenjar prostat, vesicula seminalis, Cowper,dan Littre. Semen keluar dari penis biasanya dalam 4 fraksi: 1. fraksi pre-eyakulasi 2. fraksi awal 3. fraksi utama fraksi-fraksi eyakulat 4. fraksi akhir Fraksi pre-eyakulasi berasal dati kelenjar Cowper dan Littre.lni dapat keluar dan penis jauh sebelum eyakulasi berlangsung. Dikira berfungsi untuk melicinkan urethra; juga untuk melicinkan vagina waktu coitus.Voluma lebih kurang 0,2 ml Fraksi awal semata-mata hanya lendir, berasal dari prostat. Lendir ini mengandung berbagai zat untuk memelihara spermatozoa ketika berada di luar tubuh jantan. Volume 0,5 ml. Fraksi utama tcrdiri dari lendir. dan sebagian terbesar spermatozoa yang. dikeluarkan dari simpanannya dalam epididymis. Volume lebih kurang 2,0 ml. Sedangkan fraksi akhir adalah lendir yang mengandung sedikit spermatozoa, yang biasanya yang nonmotil (tak bergerak). Lendir fraksi utuma dan akhir berasal dari vesicula seminalis, yang fungsinya juga untuk memelihara spermatozoa ketika berada di luar tubuh jantan. V oluma 0,5 ml.

cp if k sb sd sf sm

= = = = = = =

bag. leher (connecting piece) implantation fossa kepala sentriol belakang sentriol depan serat fibrosa seludang mitokondria

Bagian tengah (midpiece, middle piece) memiliki teras yang disebut axonem, terdiri. dari 9 duplet mikrotubul radial dan 2 singlet mikro/tubul sentral. lni sama betul dengan sitoskeleton yang dimiliki cilia dan flagella di bagian lain tubuh atau pada makhluk lain. Susunan axonem ini sama dari pangkal ke ujung ekor. Beda dengan flagellum lain ekor spermatozoa mengandung dense fiber (serat

33

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Warna semen waktu baru dieyakulasi seperti warna lem kanji yang encer, atau putih keabu-abuan. Makin gelap wama ini jika makin banyak terkandung spermatozoa di dalam. Jika spermatozoa sedikit sekali atau tak ada di dalam; semen itu bening jernih. Volume normal semen sekali eyakulasi sekitar 2,0 sampai 3,0 ml. Ada juga yang sampai 4,5 ml. Jika volume kurang dari 1 ml, ada kemungkinan tak beresnya prostat dan vesicula seminalis yang merupakan penghasil utama plasma semen. Bau semen itu khas, yang kata orang Barat seperti bau bunga chestnut. Bau itu oleh spermin yang dihasilkan prostat. Keadaan fisik semen yang baru dieyakulasi adalah kental. Tapi sekitar l5 menit kemudian akan mengalami pengenceran, disebut likuifaksi oleh sminin (enzim lysis) yang dihasilkan prostat.Jika pengenceran tidak wajar berarti ada ketakberesan pada kelenjar itu. KANDUNGAN SEMEN Zat yang terkandung dalam semen, ialah sebagai berikut: 1. Fruktosa, dihasilkan vesicula seminalis, berada dalam plasma semen. Untuk sumber energi bagi spermatozoa dalam bergerak. Sifat pernafasannya ialah anaerobis. 2. Asam sitrat, spermin, seminin, enzimposfatase asam, glukorunidase, lisozim dan amilase. Semua dihasilkan prostat. Asam sitrat belum jelas peranan, dikira untuk menggumpalkan semen setelah eyakulasi. Spermin yang memberi bau khas, seminin untuk merombak (lysis);sehingga semen mengencer, dan juga untuk mengencerkan lendir cervix betina; sedangkan enzim-enzim lain berperanan dalam memelihara atau memberi nutrisi bagi spermatozoa di luar tubuh jantan. 2. Prostaglandin, dihasilkan vesicula seminalis dan prostat. Peranannya untuk melancarkan pengangkutan spermatozoa dalam saluran kelamin jantan dan betina, di antaranya dengan mengurangi gerakan uterus, merangsang kontraksi otot polos saluran kelamin jantan waktu eyakulasi, dan juga untuk vasodilatasi (mengembangkan pembuluh darah). 3. Elektrolit, terutama Na, K, Zn, Mg. Dihasilkan prostat dan vesicula seminalis. Untuk memelihara pH plasma semen. 4. Enzim pembuahan: nyaluronidase, neuroaminidase, protease mirip tripsin, protease seperti kimotripsin. Enzim

pembuahan ini sebagian terdapat di akrosom spermatozoa (hyaluronidase, protease mirip tripsin), sebagian terdapat dalam plasma semen, dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar (terutama t:rotease mirip kimotripsin). Enzim pembuahan ini selama masih berupa eyakulat (artinya belum mendapat reaksi dari saluran kelamin betina) dalam keadaan nonaktif, oleh hadirnya dalam plasma semen itu zat inhibitor. 5. Inhibitor, dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar kelainan jantan dan terkandung dalam. plasma semen. Inhibitor itu terutama terhadap hyaluronidase, protease mirip tripsin, dan protease mirip kimotripsin. 6. Hormon: testosteron,. FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone). Ketiganya berasal dari testis; yang dua. Belakangan gonadotropin yang datang ke testis berasal dari hipofisa. 7. Zat organis lain, seperti asam amino, protein, dan lemak. Asam amino yang utama dan jadi ciri semen ialah tirosin dan asam glutarnat, sedang protein yang utama ialah karnitin. Zat organis ini berasal dari testis, saluran dan kelenjar. Protein, seperti kamitin, dihasilkan vesicula seminalis. ANALlSA SPERMA Analisis sperma adalah suatu pemeriksaan yang penting untuk menilai fungsi organ reproduksi pria. Untuk mengetahui apakah seseorang pria fertil atau infertil. Peranan analisa semen penting sekali. Semen diperiksa harus dari seluruh cyakulat. Karena itu mengambilnya dari tubuh harus dengan masturbasi atau coitus interuptus (bersetubuh dan waktu eyakulasi persetubuhan dihentikan dan mani ditampung semua). Ada juga dengan bersetubuh memakai kondom, asal kondom itu yang khusus, bebas dari spermatisida. Kondom biasa, biasanya telah diberi spermatisida, dan ini tak dapat. Dipakai untuk analisa. Abstinensi juga faktor penting, dan yang terbaik ialah sekitar 3 -4 hari. Paling baik jika semen diperiksa selambatnya sejam sesudah eyakulasi. Jika sampel masih dipakai lebih dari 4 jam setelah eyakulasi, agar disimpan dalam lemari es, dan untuk memeriksanya kembali harus ditaruh dulu dalam suhu kamar. Yang dianalisa secara rutin ialah 1. Kualitas dan kuantitas spermatozoa 2. Fungsi sakretoris kalenjar asesoris seks onia (Onny P3, 1987) .

34

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

INDIKASI ANALISA SPERMA a. Indikasi mutlak, yang harus diperiksa : 1. Pada setiap keadaan ingin punya anak (IPA) 2. Pada setiap kasus gangguan potensi seksual 3. Untuk keperluan keluarga berencana pada pasangan suami istri yang belum diketahui pasti tingkat kesuburannya 4. Pada pria sebelum atau sesudah vasektomi 5. Pada kasus-kasus adanya pemerkosaan guna keperluan visum at repertum. b. Indikasi tidak mutlak / indikasi alternatif / pelengkap, pada kasus konseling pra kawin dan kawin. PENGUMPULAN DAN PENGIRIMAN SPESIMEN Penderita harus diberi penjelasan tertulis atau instruksi lisan tentang cara pengumpulan spesimen, Jika perlu cara membawa spesimen.ke tempat pemeriksaan. 1. Sediaan diambil setelah abstinensia seksual sedikitnya 48 jam dan, tidak boleh lebih lama dari 7 hari 2. Untuk evaluasi awal harus dilakukan pemeriksaan dua siapan jarak antara dua pemeriksaan tersebut tidak boleh kurang dari 7 hari atau lebih dari 3 bulan. Jika kedua hasil pemeriksaan tersebut amat berbeda. Maka siapan tambahan perlu dilakukan pemeriksaan ulangan. 3. Sebaiknya sediaan dikeluarkan dalam suatu kamar yang tenang dekat laboratorium, jika tidak sediaan harus sudah diantar ke laboratorium dalam waktu satu jam setelah dikeluarkan. 4. Sediaaan sebaiknya diperoleh dengan cara masturbasi dan ditampung dalam wadah kaca atau plastik yang bersih dan bermulut lebar. Jika menggunakan plastik harus diperiksa dulu apakah ada efek toksik terhadap sperma. Wadah sebaiknya dihangatkan terlebih dahulu untuk mengurangi bahaya rejatan (shock) dingin. Jika akan dilakukan pemeriksaan mikrobiologis penderita harus mengeluarkan air seninya dan mencuci tangan serta penis sebelum sediaan ditampung 5. Kondom sebaiknya tidak digunakan untuk menampung sperma jika oleh karena sesuatu hal masturbasi sulit dilakukan maka dapat

digunakan kondom plastik khusus untuk menampung sperma. 6. Siapan yang tidak lengkap sebaiknya tidak diperiksa. 7. Siapan harus dilindungi terhadap perubahan suhu yang ekstrim (<20’C atau >40’C) selama pengiriman ke laboratorium. 8. Wadah harus diberi label dengan nama penderita, tanggal dan waktu pemeriksaan. Dalam keadaan penderita sama sekali tidak dapat melakukan masturbasi maka pengeluaran dengan cara sanggama terputus (koitos interuptus) boleh dilakukan, asal dengan memperhatikan persyaratan/ persiapan tersebut diatas. PEMERlKSAAN PARAMETER SPERMA Secara teknis laboratoris analisis sperma dapat berupa analisis dasar (rutin) dan analisis yang lebih lengkap (pemeriksaan biokimiawi, bakteriologis, imunologis, uji penetrasi, analisis fraksional dan elektron mikroskop) a) Pemeriksaan Makroskopis Sperma 1. Koagulasi dan likuifaksi. Pada waktu dikeluarkan cairan sperma bersama-sama sel spermatozoa merupakan cairan kental seperti lem, gumpalan ini disebut koagulum.Dalam waktu 60 menit koagulum akan mencair secara perlahan-lahan sampai semua menjadi homogen, peristiwa ini disebut likuifaksi. semen normal setelah eyakulasi segera menggumpal (koagulasi).Kalau langsung encer ketika ditampung berarti ada gangguan pada vesicula seminalis atau ductus Ejaculatorius. 2. Volume yaitu volume cairan eyakulat. Pengukuran dilakukan setelah likuifaksi sempurna atau minimal 20 menit setelah eyakulasi , dengan memakai gelas ukur yang berkalibrasi dalam mililiter. Menurut volume pria dapat digolongkan atas: 1. aspermia : 0 ml 2. hypospermia : < 1 ml 3. normospermia : 1 – 6 ml 4. hypersmia : > 6 ml Rata – rata volume eyakulasi itu 2,5 – 3,5 ml Hypospermia dapat terjadi oleh beberapa hal: 1. sampel tumpah waktu ditampung atau diangkut; 2. gangguan patologis dan genetis pada genitilia; 3. vesicula seminalis tak ada atau tak

35

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

berfungsi; 4. gangguan hormonal atau karena radang kelenjar. Hyperspermia dapat terjadi karena: 1. abstinensi terlalu lama; 2. kelenjar kelamiriterlalu aktif. 3. Warna. Pemeriksaan dilakukan dengan mata telanjang, dengan latar belakang putih.putih. Biasanya berwarna jernih atau putih keabu-abuan, bisa juga putih kuningan. Warna normal ialah seperti lem kanji atau putih-kelabu. Jika agak lama abstinensi kekuningim. Jika putih atau kuning tandanya banyak lekosit yang mungkin oleh adanya infeksi pada genitalia. Beberapa macam obat seperti antibiotika, dapat mewarnai semen. 4. Bau sperma Sangat khas dan merangsang menyerupai bau bunga akasia pada pagi hari. Yang normal khas,tajam, tidak busuk. Bau itu berasal dari oksidasi spermin yang dihasilkan prostat. Jika tak ada bau khas mani, prostat tak aktif atau ada gangguan. Mungkin gangguan itu pada saluran atau kelenjar sendiri. Bau busuk oleh adanya infeksi. 5. Viskositas (kekentalan). Diukur setelah 1ikuifaksi sempurna dengan, alat viskometer berupa suatu pipet dengan ukuran tertentu yang disebut pipet Eliasson. Pengukuran memakai alat pengukur waktu (stopwatch). Kekentalan semen diperiksa dengan alat yang disebut viskometer. Secara sederhana dapat dilakukan, dengan jalan mencelupkan batang kaca ke obyek yang sudah ditetesi semen, diangkat pelan, diukur tinggi benang yang terjadi antara batang kaca dan obyek sampai batas putus. Viskositas normal jika panjang benang 3-5 cm. Jika semen terlalu kental (> 5 cm), berarti kurang enzim likuifaksi dari prostat. Terlalu encer (< 3 cm), karena zat koagulasi yang dihasilkan vesicula seminalis terlalu sedikit, atau enzim pengenceran dari prostat terlalu banyak 6. pH sperma, yaitu derajat keasaman cairan sperma yang diukur dengan kertas indikator ketika sperma masih segar dan telah mengalami likuifaksi Semen diteteskan dengan batang kaca pada kertas pH berukuran warna penunjuk. pH normal ialah 7,2 - 7,8. pH > 8 menunjukkan adanya radang akut kelenjar kelamin atau epididymitis. pH < 7,2 menunjukkan

adan)’a penyaJd kronis pad a kelenjar atau epididy;mis. Jika pH rendah sekali menunjukkan ada gangguan atau aplasia pada vesicula seminalis atau ductus ejaculatorius. pH dapat berubah 1 jam sudah eyakulasi. Karena itu harus diukur sebelum itu. b) Pemeriksaan Mikroskopis sperma 1. Jumlah total spermatozoa. Jumlah spermatozoa dihitung sempurna. Menurut berbagai cara, jumlah spermatozoa/ mleyakulat dan jumlah spermatozoa / volume eyakulat. Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap, pertama dengan menghitung secara perkiraan berapa jumlah spermatozoa per lapangan pandangan, kedua dengan menghitung jumlah spermatozoa per mililiter ditentukan dengan memakai kamar hitung Improved Neubauer. Perhitungan biasanya dengan angka jutaan. Jumlan spermatozoa/eyakulat merupakan perkalian antara jumlah spermatozoa dalam juta/ml dengan volume eyakulat. 2. Motilitas spermatozoa, dapat ditentukan dengan cara Kuantitatif, dengan menentukan jumlah spermatozoa yang motil. dinyatakan dalam jumlah spermatozoa bergarak atau yang hidup dibagi jumlah spermatozoa /eyakulat dtkalikan 100%. Kualitatif, dilakukan secara subjektif berdasarkan progresifitas spermatozoa. Motilitas ini dapat dibedakan dua macam: spermatozoa dengan motilitas baik yaitu spermatozoa gerak lurus kedepan secara lincah, cepat dengan ekor berirama dan spermatozoa dengan motilitas kurang baik (motilitas bergetar atau berputar dan motilitas tanpa arah). Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati. Dianggap normal jika moti! maju > 40%. Menurut Rehan et al. (1975) yang normal % motilnya ialah 63 ± 16 SD, dengan range 10-95%.’ Ada orang yang spermatozoanya lemah sekali gerak majunya, disebut asthenozoospermia. Jika hampir semua sperma yang dlperiksa nampak mati, tak bergerak, disebut, necrozoospermia. Berarti orang ini infertil. Tapi ada laporan mutakhir, spermatozoa yang tak bergerak belum menuniukkan mati. Mungkin ada suatu zat cytotoxic atall antibodi yang membuatnya tak bergerak. 3. Kecepatan spermatozca ditentukan dengan cara mengukur 1amanya

36

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

waktu yang dibutuhkan untuk menempuh suatu jarak tertentu (0,005 mm) oleh seekor spermatozoa yang mempunyai gerak aktif, progresif dan lurus maju kedepan. Kecepatan diambil dengan kecepatan ratarata dari25 ekor spermatozoa normal. Untuk mengukur kecepatan spermatozoa dipakai kaca obyek hemocytometer Neubauer, dan dilihat dengan mikroskop perbesaran 450x. Dihitung 25 spermatozna yang bergerak maju dengan memakai stopwatch’ dan counter. Diambil nilai rata-rata. Kecepatan normal 2,5 detik per kotak ukuran dalam obyek (50 um). Kalau kecepatan kurang dari itu berarti spermatozoa kurang mampu berfertilisasi 4. Aglutinasi yaitu penggumpalan atau perlekatan antara satu spermatozoa dengan beberapa spermatozoa lainnya.Jenis aglutinasi yang terjadi,. aglutinasi ekor dengan ekor, kepala dengan kepala. kepala dengan ekor, spermatozoa bergerombol atau aglutinasi rantai.Bisa juga.terjadi pseudo aglutinasi yaitu kelcmpck spereatozoa yang berlekatan dengan benda asing. 5. Morfologi spermatozoa. Pemeriksaan morfologi dilakukan dengan pengecatan khusus kemudian dikeringkan, dilihat dengan· mikroskop pembesaran 1000-1500 kali,hasil dihitung dengan prosentase. Macam-macam morfologi spermatozoa abnormal ( BBO, bentuk bukan Ova l) . antara lain kepala besar ekor pendek, kepala kecil ekor panjang, kepala dua ekor satu, ekor panjang dan kusut, kepala pipih, kepala bentuk irreguler. Semen diwarnai dengan Giemsa, dilihat dengan mikroskop perbesaran .450X atau 1000X dengan memakai minyak imersi. Dihitung sebanyak 200 spermatozoa dan dibedakan yang normal (kepalaoval dan bagian lain normal), dengan yang abnormal (kepala bukan oval dan bagian lain abnormal). Semen dianggap normal jika jumlah abnormal hanya 30-40%. Jika > 40% disebut teratozoospermia. Jika > 50%: infertil, meski konsentrasi normal. Bentuk abnormal oleh beberapa faktor, seperti: 1. penyakit alergi; 2. eyakulasi terlalu sering; 3. gangguan pada epididymis; 4. oleh stress psikis atau fisik; 5. gangguan hormonal; 6. gangguan saraf.

6. Konsentrasi Konsentrasi atau jumlah spermatozoa/ml semen, dihitung dengan hemocytometer Neubauer’ juga. Dihitung derigan melihatnya di bawah mikroskop perbesaran 450X . Melihat pada konsentrasi pria dapat dibedakan atas 4 golongan fertilitas: 1. polyzoospeimia : > 250 juta/ml 2. normozoospermia : 40-200 juta/ml 3. oligozoospermia : < 40 juta/ml 4. azoospermia : O/ml Menurut Rehan dkk (1975) konsentrasi itu 8,1 ± 57 SD juta/ml, dengan range 4-318 juta/ml. Sedang menurut Smith dkk (1978) konsentrasi itu 70 ± 65 SD juta/ml, dengan range 0,1-600 juta/ml. 7. Ketahanan Ketahanan (viabilitas) indikator fertilitas juga. Diukur dengan melihat % motil maju/ml setelah jangka waktu tertentu. Makin lama semen tersimpan makin sedikit yang motil. Penurunan motilitas normal ialah: 1. 2-3 jam sudah eyakulasi 50-60% spermatozoa IT!otil maju/ml. 2. 7 jam sudah eyakulasi: 50% spermatozoa motil Maju/ml. Jika setelah 3 jam yang motil kurang dari 50% menandakan adanya gangguan atau kelainan dalam genitalia. Spermatozoa yang motilitasnya rendah disebut asthenozoospermia. Abstinensi. yang lama dapat mempercepat penurunan motilitas. Jika eyakulasi sering, voluma semen dan konsentrasi menu run, tapi tidak mengurangi ketahanan. (Catatan: Ketahanan diluar tubuh hanya perlu untuk penyimpanan lama. Dalam keadaan biasa semen langsung masuk ke dalam tubuh wanita, dan viabilitasnya dipengaruhi seluruhnya oleh saluran kelamin wanita itu. Pada orang dapal bertahan hidup dan fertil sampai seminggu dalam saluran kelamin wanita.) 8. Immunitas Sifat tangkal atau immunitas berkembang pesat belakangan ini dalam bidang pembiakan, dengan diarahkannya kepada program kontrasepsi dan keluarga berencana (KB). Kita bedakan sifat tangkal itu atas 2 pihak: 1. autoimmunitas 2. isoimmurnitas Autoimmunitas ialah ketangkalan yang terbentuk terhadap spermatozoa sendiri di dalam tubuh pria. Sedang isoimmunitas ialah ketangkalan yang terbentuk terhadap spermatozoa di dalam tubuh

37

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

wanita. (Iso = maksudnya species yang sama). Autoimmunitas dan isoimmunitas dijumpai pada banyak orang infertil. Irii bersumber pada. terbentuknya antibodi terhadap sperma (spermatozoa atau dengan semen), baik dalam tubuh pria sendiri atau tubuh wanita. Dengan demikian spermatozoa atau dengan plasma semennya menjadi semacarn antigen bagi sistem immunitas dalam tubuh. Sehingga dengan masuknya spermatozoa ke dalam tubuh akan dihasilkan antibodi, sehingga spermatozoa itu diagglutinasi atau diimmobilisasi (tak bergerak, lumpuh). Antibodi itu terdapat dalam saluran kelamin sendiri, bisa. juga di dalam darah.. hadirnya antibodi antis sperma di dalam darah sebagai penunjuk akan hadirnya pada dalam saluran kelamin orang bersangkutan. Cuma kadar antibodi itu berbeda antara kedua sistem itu. Antibodi itu tergolong immoglobulin (Ig), dari jenis IgG, IgA, IgM dan IgD. Pasangan infertil yang tak jelas penyebabnya sering dijumpai mengandung antibodi antisperma yang berkadar tinggi di dalam serum atau pun dalam saluran, kelaminnya. Suami yang dalam analisa semen ternyata normal, isteri juga demikian, tapi ternyata infertil (di mana isteritak bisa hamil atau kalau hamil selalu mengalami keguguran), ternyata pula disebabkan hadirnya antibodi antisperma itu di dalam tubuh isteri. Karena eratnya hubungan antara kehadiran antibodi antisperma dengan keinfertilan seseorang, maka dilakukanlah usaha untuk membuat pasangan yang semula fertil jadi infertil dengan cara immunisasi. Baskin (1932) sudah merintis usaha ke arah itu. Ia menyuntikkan spermatozoa. secara intramuskuler (ke dalam otot) ke tubuh wanita. Akibatnya fertilitas wanita itu turun dan dapat menjurus kepada steril yang temporer. Sekarang cara immunisasi sederhana ini dianggap kasar dan dapat tentangan dari pihak agama. PENATALAKSANAAN INFERTILITAS PRIA Pada dasarnya penanggulungan pria infertil ditujukan pada faktor penyebabnya. Sehingga selain pemeriksaan analisis sperma maka sangat panting melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti (terutama genetalia external ). Bila dilihat dari hasil analisis sperma maka sistamatika penanggulangan pria infertil dapat dibagi menjadi 3 bagian pokok, yaitu : 1. Sperma dengen azoospermia. Wajib dilakukan pemeriksaan sperma secara

kualitatif. Bila fruktosa sperma negatif berarti kemungkinan adanya obstruksi duktus eyakulatorius atau agenesis vas deferens, prognosis infertilitasnya jelek. Sedangkan fruktosa positif maka penanggulangannya sama dengan keadaan dimana terdapat ‘gangguan lebih dari satu parameter. 2. Sperma dengan gangguan satu parameter. a. Penurunan motilitas spermatozoa. Harus dipastikan bahwa tidak ada sperma yang tumpah atau penampungan tidak pakai Kondom. Adanya aglutinasi karena antibodi terhadap sperma diberi methyl prednisolon 96 mg/hari selama 1 minggu, jika tidak ada antibodi terhadap sperma, penanggulangan berupa split Artifisial .Insamination of Husband (AIH). Spermatozoa tanpa aglutinasi sebab penurunan motilitas karena infeksi, beri doxycyc1in 200 mg hari pertama diikuti dengan dosis 100 mg/hari selama 10 hari, karena varikokel dilakukan operasi ligasi varikokel. b. Sperma dengan penurunan jumlah spermatozoa. Oligozoospermia murni indikasi untuk split AIH. c. Sperma dengan gangguan morfologi spormatozoal. Jarang dijumpai, biasanya hanya bersifat sementara. Keadaan teretozoospermia murni sering dijumpai bile temperatur testis iebih tinggi dan intoksikasi zat kimia termasuk nikotin. d. Sperma dengan viskositas.yang terlalu tinggi. Pemberian tetes elevare’ pada sperma atau menyaring sperma melalui pipet, Pasteur yang mengandung glass wool, kemudian lakukan split AIH. 3. Sperma dengan gangguan lebih dari satu parameter, Perlu dilakukan pemeriksaan hormon gonadotropin. a. Volume testis normal dan kadar FSH normal. Obstruksi epididimis 1akukan eksplorasi, hiposspermatogenesis beri mestolene,varikokel dilakukan operasi ligasi varikokel dan bila’ FSH tinggi karena sindroma sel sartoli prognosis fertilitas jelek. b. Volume testis kecil kadar FSH tinggi sebab sindroma sel sertoli atau sindroma. klinerelta; prognosis jelek, dan bila kadar FSH rendah beri MMG 75 Iu HCG 1500 IU 3X/minggu. c. Testis tidak teraba prognosis jelek

38

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Kesimpulan Kesuburan pria ditentukan oleh kemampuan spermanya membuahi telur. Pemeriksaan kesuburan pada pria yang lazim dilakukan dengan pemeriksaan air mani. Jumlah sperma dan kriteria penting dalam penilaian kualitas gerak merupakan kriteria penting dalam penilaian kualitas air mani. Jika syaraF-syarat minimal kesuburan pria telah dicapai, namun pria tersebut masih belum dapat menghamili isterinya yang tidak menunjukkan kelainan, perlu dilakukan pemeriksaan sperma yang lebih mendalam berupa uji kemampuan membuahi telur hamster. Dari uraian tersebut di atas, jelaslah dalam pemeriksaan pasangan suami-isteri yang mandul diperlukan suatu pemeriksaan yang sistematis dan memakan waktu yang cukup lama. Untuk itu diperlukan ketelatenan dan kesabaran pasangan yang diperiksa, di samping juga kekhusukan doa kepadaNya. Karena segala sesuatu berhasil karena kehendakNya

DAFTAR PUSTAKA 1. A.Prise, (1995) Patofisilogi. Jakarta: EGC 2. Ganong, (1995) Fisiologi kedokteran. Jakarta : EGC 3. Hanifa, (1999) Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwona P 4. Guyton dan Hall, {1997} Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, EGC 5. M. Nukman. Proses reproduksi, Kesuburan dan Seks Pria dalam perkawinan, FKUI; Jakarta, 1989. 6. IDI.1999.Materi Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi 7. Nutrition, Abdul Wali, Kumpulan Bahan Kuliah S2 Biomedik, Pascasarjana Unand. 8. Penyakit-Penyakit yang Mengintai Pria htm. http:// Klinikpria.com/cybermanhealth /June, 13, 2006 9. Penyakit Jantung Koroner dan Seks htm. http://Klinikpria.com/ cybermanhealthnews /June, 13, 2006 10. Penyebab Disfungsi Ereksi htm. http://nusaindah.com/tripod / June, 13, 2006 11. Artikel terkini htm. http://prospektif.com/terkini/June, 13, 2006 12. Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi pada Pria htm. http:// Klinikpria.com/cybermanhealth /June, 13, 2006

39

STUDI LITERATUR

MACAM-MACAM VITAMIN DAN FUNGSINYA DALAM TUBUH MANUSIA
Vivi Triana*

Pendahuluan Vitamin merupakan nutrien organic yang dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk berbagai fungsi biokimiawi dan yang umumnya tidak disintesis oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan.Vitamin yang pertama kali ditemukan adalah vitamin A dan B , dan ternyata masing-masing larut dalam lemak dan larut dalam air. Kemudian ditemukan lagi vitamin-vitamin yang lain yang juga bersifat larut dalam lemak atau larut dalam air. Sifat larut dalam lemak atau larut dalam air dipakai sebagai dasar klasifikasi vitamin.Vitamin yang larut dalam air, seluruhnya diberi symbol anggota B kompleks kecuali (vitamin C ) dan vitamin larut dalam lemak yang baru ditemukan diberi symbol menurut abjad (vitamin A,D,E,K).Vitamin yang larut dalam air tidak pernah dalam keadaan toksisitas di didalam tubuh karena kelebihan vitamin ini akan dikeluarkan melalui urin. I. Vitamin yang larut di dalam lemak Vitamin yang larut dalam lemak merupakan molekul hidrofobik apolar, yang semuanya adalah derivat isoprene. Molekul-molekul ini tidak disintesis tubuh dalam jumlah yang memadai sehingga harus disuplai dari makanan. Vitamin- vitamin yang larut dalam lemak ini memerlukan absorbsi lemak yang normal agar vitamin tersebut dapat diabsorbsi secara efisien. Diabsorbsi molekul vitamin tersebut harus diangkut dalam darah yaitu oleh lipoprotein atau protein pengikat yang spesifik.Yang merupakan vitamin yang larut di dalam lemak adalah vitamin A, D, E, dan K. Fungsi dalam biomedis Keadaan yang mempengaruhi proses pencernaan dan penyerapan seperti steatore dan kelainan system biliaris dapat mempengaruhi proses
* Staf Pengajar PSIKM FK Unand

penyerapan vitamin- vitamin yang larut dalam lemak, sehingga dapat menimbulkan keadaan defisiensi. Defisiensi gizi akan mempengaruhi fungsi vitaminvitamin tersebut. I.1.Vitamin A Vitamin A atau retinal merupakan senyawa poliisoprenoid yang mengandung cincin sikloheksenil. Vitamin A merupakan istilah generik untuk semua senyawa dari sumber hewani yang memperlihatkan aktivitas biologik vitamin A. Senyawa-senyawa tersebut adalah retinal, asam retinoat dan retinol. Hanya retinol yang memiliki aktivitas penuh vitamin A, yang lainnya hanya mempunyai sebagian fungsi vitamin A. Vitamin A mempunyai provitamin yaitu karoten.Pada sayuran vitamin A terdapat sebagai provitamin dalam bentuk pigmen berwarna kuning ß karoten, yang terdiri atas dua molekul retinal yang dihubungkan pada ujung aldehid rantai karbonnya. Tetapi karena ß karoten tidak mengalami metabolisme yang efisien ,maka ß karoten mempunyai efektifitas sebagai sumber vitamin A hanya sepersepuluh retinal. Ester retinal yang terlarut dalam lemak makanan akan terdispersi di dalam getah empedu dan dihidrolisis di dalam lumen intestinum diikuti oleh penyerapan langsung ke dalam epitel intestinal. ß – karoten yang dikonsumsi mungkin dipecah lewat reaksi oksidasi oleh enzim ß – karoten dioksigenase. Pemecahan ini menggunakan oksigen molekuler, digalakkan dengan adanya garam-garam empedu dan menghasilkan 2 molekul retinaldehid (retinal). Demikian pula, di dalam mukosa intestinal, retinal direduksi menjadi retinal oleh enzim spesifik retinaldehid reduktase dengan menggunakan NADPH. Retinal dalam fraksi yang kecil teroksidasi menjadi asam retinoat. Sebagian besar retinal mengalami esterifikasi dengan asam-asam lemak dan

40

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

menyatu ke dalam kilomikron limfe yang masuk ke dalam aliran darah.Bentuk ini kemudian diubah menjadi fragmen kilomikron yang diambil oleh hati bersama-sama dengan kandungan retinolnya. Di dalam hati, vitamin A disimpan dalam bentuk ester di dalam liposit, yang mungkin sebagai suatu kompleks lipoglikoprotein. Untuk pengangkutan ke jaringan, vitamin A dihidrolisis dan retinal yang terbentuk terikat dengan protein pengikat aporetinol ( RBP ). Holo- RBP yang dihasilkan diproses dalam apparatus golgi dan disekresikan ke dalam plasma . Asam retinoat diangkut dalam plasma dalam keadaan terikat dengan albumin. Begitu di dalam sel-sel ekstrahepatik, retinal terikat dengan protein pengikat retinol seluler (CRBP). Toksisitas vitamin A terjadi setelah kapasitas RBP dilampaui dan sel-sel tersebut terpapar pada retinal yang terikat. Retinal dan retinol mengalami interkonversi dengan adanya enzim-enzim dehidrogenase atau reduktase yang memerlukan NAD atau NADP di dalam banyak jaringan. Namun demikian, begitu terbentuk dari retinal, asam retinoat tidak dapat diubah kembali menjadi retinal atau menjadi retinol. Asam retinoat dapat mendukung pertumbuhan dan differensiasi, tetapi tidak dapat menggantikan retinal dalam peranannya pada penglihatan atau pun retinol dalam dukungannya pada system reproduksi. Retinol setelah diambil oleh CRBP diangkut ke dalam sel dan terikat dengan protein nucleus,di dalam nucleus inilah retinal terlibat dalam pengendalian ekspresi gen-gen tertentu, sehingga retinal bekerja menyerupai hormon steroid. Retinal merupakan komponen pigmen visual rodopsin,yang mana rodopsin terdapat dalam sel-sel batang retina yang bertanggung jawab atas penglihatan pada saat cahaya kurang terang. 11 – sis – Retinal yaitu isomer all – transretinal,terikat secara spesifik pada protein visual opsin hingga terbentuk rodopsin.Ketika terkena cahaya, rodopsin akan terurai serta membentuk all-trans retinal dan opsin. Reaksi ini disertai dengan perubahan bentuk yang menimbulkan saluran ion kalsium dalam membran sel batang. Aliran masuk ion-ion kalsium yang cepat akan memicu impuls syaraf sehingga memungkin cahaya masuk ke otak Asam retinoat turut serta dalam sintesis glikoprotein. Hal ini dapat dijelaskan bahwa asam retinoat bekerja dalam menggalakkan pertumbuhan dan differensiasi jaringan. Retinoid dan karotenoid memiliki aktivitas antikanker.Banyak penyakit kanker pada manusia

timbul dalam jaringan epitel yang tergantung pada retinoid untuk berdifferensiasi seluler yang normal .ß–karoten merupakan zat antioksidan dan mungkin mempunyai peranan dalam menangkap radikal bebas peroksi di dalam jaringan dengan tekanan parsial oksigen yang rendah. Kemampuan ß–karoten bertindak sebagai antioksidan disebabkan oleh stabilisasi radikal bebas peroksida di dalam struktur alkilnya yang terkonjugasi. Karena ß – karoten efektif pada konsentrasi oksigen yang rendah, zat provitamin ini melengkapi sifat-sifat antioksidan yang dimiliki vitamin E yang efektif dengan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi. Kekurangan atau defisiensi vitamin A disebabkan oleh malfungsi berbagai mekanisme seluler yang di dalamnya turut berperan senyawasenyawa retinoid. Defisiensi vitamin A terjadi gangguan kemampuan penglihatan pada senja hari (buta senja). Ini terjadi karena ketika simpanan vitamin A dalam hati hampir habis. Deplesi selanjutnya menimbulkan keratinisasi jaringan epitel mata, paru-paru, traktus gastrointestinal dan genitourinarius, yang ditambah lagi dengan pengurangan sekresi mucus. Kerusakan jaringan mata, yaitu seroftalmia akan menimbulkan kebutaan. Defisiensi vitamin A terjadi terutama dengan dasar diet yang jelek dengan kekurangan komsumsi sayuran, buah yang menjadi sumber provitami A. I.2.Vitamin D Vitamin D merupakan prohormon steroid.Vitamin ini diwakili oleh sekelompok senyawa steroid yang terutama terdapat pada hewan, tetapi juga terdapat dalam tanaman serta ragi. Melalui berbagai proses metabolic,vitamin D dapat menghasilkan suatu hormon yaitu Kalsitriol, yang mempun yaitu peranan sentral dalam metabolisme kalsium dan fosfat. Vitamin D dihasilkan dari provitamin ergosterol dan 7- dehidrokolesterol. Ergosterol terdapat dalam tanaman dan 7–dehidrokolesterol dalam tubuh hewan. Ergokalsiferol (vitamin D ) 2 terbentuk dalam tanaman, sedangkan di dalam tubuh hewan akan terbentuk kolekalsiferol (vitamin D ) 3 pada kulit yang terpapar cahaya.Kedua bentuk vitamin tersebut mempunyai potensi yang sama ,yaitu masing-masing dapat menghasilkan kalsitriol D dan 2 D. 3 Vitamin D ataupun D dari makanan 3 2 diekstraksi dari dalam darah ( dalam keadaan terikat dengan globulin spesifik), setelah absorbsi dari misel dalam intestinum. Vitamin tersebut mengalami

41

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

hidroksilasi pada posisi –25 oleh enzim vitamin D – 3 25 hidroksikolekalsiferol,yaitu suatu enzim pada retikulum endoplasmic yang dianggap membatasi kecepatan reaksi. 25- hidroksi D merupakan bentuk 3 utama vitamin D dalam sirkulasi darah dan bentuk cadangan yang utama dalam hati. Dalam tubulus ginjal, tulang dan plasenta, 25–hidroksi selanjutnya mengalami hidroksilasi 3 dalam posisi 1 oleh enzim 25–hidroksiD 13 hidroksilase, yakni suatu enzim mitokondria. Hasilnya adalah 1,25–dihidroksi D ( kalsitriol ), yaitu 3 metabolit vitamin D yang paling paten. Produksi hasil ini diatur oleh konsentrasinya sendiri, hormon paratiroid dan fosfat dalam serum. Defisiensi atau kekurangan vitamin D menyebabkan penyakit rakhtis terdapat pada anakanak dan osteomalasia pada orang dewasa. Kelainan disebabkan oleh pelunakan tulang yang terjadi akibat kekurangan kalsium dan fosfat. Ikan berlemak, kuning telur dan hati merupakan sumber vitamin D yang baik. I.3.Vitamin E ( Tokoferol ) Ada beberapa jenis tokoferol dalam bentuk alami. Semuanya merupakan 6- hidroksikromana atau tokol yang tersubsitusi isoprenoid. Penyerapan aktif lemak meningkatkan absorbsi vitamin E. Gangguan penyerapan lemak dapat menimbulkan defisiensi vitamin E. Vitamin E di dalam darah diangkut oleh lipoprotein, pertamatama lewat penyatuan ke dalam kilomikron yang mendistribusikan vitamin ke jaringan yang mengandung lipoprotein lipase serta ke hati dalam fragmen sisa kilomikron, dan kedua, lewat pengeluaran dari dalam hati dalam lipoprotein berdensitas sangat rendah ( VLDL ). Vitamin E disimpan dalam jaringan adiposa Vitamin E (tokoferol) bertindak sebagai antioksidan dengan memutuskan berbagai reaksi rantai radikal bebas sebagai akibat kemampuannya untuk memindahkan hydrogen fenolat kepada radikal bebas perksil dari asam lemak tak jenuh ganda yang telah mengalami peroksidasi . Radikal bebas fenoksi yang terbentuk kemudian bereaksi dengan radikal bebas peroksil selanjutnya. Dengan demikian á – tokoferol tidak mudah terikat dalam reaksi oksidasi yang reversible, cincin kromana dan rantai samping akan teroksidasi menjadi produk non radikal bebas. Defisiensi atau kekurangan vitamin E dapat menimbulkan anemia pada bayi yang baru lahir. Kebutuhan akan vitamin E meningkat bersamaan dengan semakin besarnya masukan lemak tak- jenuh ganda. Asupan minyak mineral, keterpaparan

terhadap oksigen (seperti dalam tenda oksigen ) atau berbagai penyakit yang menyebabkan tidak efisiennya penyerapan lemak akan menimbulkan defisiensi vitamin E yang menimbulkan gejala neurology. Vitamin E dirusak oleh pemasakan dan pengolahan makanan yang bersifat komersial,termasuk pembekuan. Benih gandum, minyak biji bunga matahari serta biji softlower, dan minyak jagung serta kedelai, semuanya merupakan sumber vitamin E yang baik. I.4.Vitamin K Vitamin yang tergolong ke dalam kelompok vitamin K adalah naftokuinon tersubsitusi – poliisoprenoid. Menadion ( K ), yaitu senyawa induk 3 seri vitamin K, tidak ditemukan dalam bentuk alami tetapi jika diberikan, secara in vivo senyawa ini akan mengalami alkilasi menjadi salah satu menakuinon ( K ). Filokuinon ( K ) merupakan bentuk utama 2 1 vitamin K yang ada dalam tanaman. Menakuinon – 7 merupakan salah satu dari rangkaian bentuk tak jenuh polirenoid dari vitamin K yang ditemukan dalam jaringan binatang dan disintesis oleh bakteri dalam intestinum. Penyerapan vitamin K memerlukan penyerapan lemak yang normal. Malabsorbsi lemak merupakan penyebab paling sering timbulnya defisiensi vitamin K. Derivat vitamin K dalam bentuk alami hanya diserap bila ada garam-garam empedu, seperti lipid lainnya, dan didistribusikan dalam aliran darah lewat system limfatik dalam kilomikron. Menadion, yang larut dalam air , diserap bahkan dalam keadaan tanpa adanya garam-garam empedu, dengan melintas langsung ke dalam vena porta hati . Vitamin K ternyata terlibat dalam pemeliharaan kadar normal factor pembekuan darah II, VII, IX dan X, yang semuanya disintesis di dalam hati mula-mula sebagai precursor inaktif. Vitamin K bekerja sebagai kofaktor enzim karboksilase yang membentu residu ã – karboksiglutamat dalam protein precursor. Reaksi karboksilase yang tergantung vitamin K terjadi dalam retikulum endoplasmic. Banyak jaringan dan memerlukan oksigen molekuler, karbondioksida serta hidrokuinon ( tereduksi ) vitamin K dan di dalam siklus ini, produk 2,3 epoksida dari reaksi karboksilase diubah oleh enzim 2,3 epoksida reduktase menjadi bentuk kuinon vitamin K dengan menggunakan zat pereduksi ditiol yang masih belum teridentifikasi. Reduksi selanjutnya bentuk kuinon menjadi hidrokuinon oleh NADH melengkapi siklus

42

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

vitamin K untuk menghasilkan kembali bentuk aktif vitamin tersebut. Defisiensi atau kekurangan vitamin K dapat menyebabkan terjadinya penyakit hemoragik pada bayi baru lahir. Hal ini disebabkan karena plasenta tidak meneruskan vitamin K secara efisien. Vitamin K tersebar luas dalam jaringan tanaman dan hewan yang digunakan sebagai bahan makanan dan produksi vitamin K oleh mikroflora intestinal pada hakekatnya menjamin tidak terjadinya defisiensi vitamin K. Defisiensi vitamin K dapat terjadi oleh malabsorbsi lemak yang mungkin menyertai disfungsi pancreas, penyakit biliaris, atrofi mukosa intestinal atau penyebab steatore lainnya.Di samping itu, sterilisasi usus besar oleh antibiotik juga dapat mengakibatkan defisiensi vitamin K. II. Vitamin yang larut di dalam air Fungsinya dalam biomedis Tidak adanya vitamin atau defisiensi relatif vitamin dalam diet akan menimbulkan berbagai keadaan defisiensi dan penyakit yang khas. Defisiensi vitamin tunggal dari kelompok B kompleks jarang terjadi ,karena diet yang jelek paling sering disertai dengan keadaan defisiensi multiple.Diantara vitaminvitamin yang larut dalam air ,dikenali keadaan defisiensi berikut ini : 1. Penyakit beri-beri (defisiensi tiamin) 2. Keilosis, glositis,sebore, dan fotofobia (defisiensi riboflavin) 3. Pellagra (defisiensi niasin) 4. Neuritis perifer (defisiensi piridoksin) 5. Anemia megaloblastik,asiduria metilmalonat dan anemia pernisiosa (defisiensi kobalamin) 6. Anemia megaloblastik (defisiensi asam folat) 7. Penyakit skorbut / skurvi (defisiensi asam askorbat) Defisiensi vitamin dihindari dengan mengkomsumsi berbagai jenis makanan dalam jumlah yang memadai. Vitamin yang larut di dalam air kelompok dari vitamin B kompleks merupakan kofaktor dalam berbagai reaksi enzimatik yang terdapat di dalam tubuh kita. Vitamin B yang penting bagi nutrisi manusia adalah : 1. Tiamin ( vitamin B 1 ). 2. Riboflavin ( vitamin B2 ). 3. Niasin (asam nikotinat ,nikotinamida, vitamin B3 )

4. Asam pantotenat ( vitamin B5) 5. Vitamin B6 ( piridoksin ,pridoksal, piridoksamin) 6. Biotin. 7. Vitamin B12 (kobalamin) 8. Asam folat Karena kelarutannya dalam air , kelebihan vitamin ini akan diekskresikan ke dalam urin dan dengan demikian jarang tertimbun dalam konsentrasi yang toksik. Penyimpanan vitamin B kompleks bersifat terbatas (kecuali kobalamin) sebagai akibatnya vitamin B kompleks harus dikomsumsi secara teratur. II.1.Tiamin Tiamin tersusun dari pirimidin tersubsitusi yang dihubungkan oleh jembatan metilen dengan tiazol tersubsitusi. Bentuk aktif dari tiamin adalah tiamin difosfat, di mana reaksi konversi tiamin menjadi tiamin difosfat tergantung oleh enzim tiamin difosfotransferase dan ATP yang terdapat di dalam otak dan hati.Tiamin difosfat berfungsi sebagai koenzim dalam sejumlah reaksi enzimatik dengan mengalihkan unit aldehid yang telah diaktifkan yaitu pada reaksi : 1. Dekarboksilasi oksidatif asam-asam á keto ( misalnya á- ketoglutarat, piruvat, dan analog á - keto dari leusin isoleusin serta valin). 2. Reaksi transketolase (misalnya dalam lintasan pentosa fosfat). Semua reaksi ini dihambat pada defisiensi tiamin. Dalam setiap keadaan tiamin difosfat menghasilkan karbon reaktif pada tiazol yang membentuk karbanion, yang kemudian ditambahkan dengan bebas kepada gugus karbonil,misalnya piruvat.Senyawa adisi kemudian mengalami dekarboksilasi dengan membebaskan CO2.Reaksi ini terjadi dalam suatu kompleks multienzim yang dikenal sebagai kompleks piruvat dehidrogenase. Dekarboksilasi oksidatif á - ketoglutarat menjadi suksinil ko-A dan CO2 dikatalisis oleh suatu kompleks enzim yang strukturnya sangat serupa dengan struktur kompleks piruvat dehidrogenase. Defisiensi tiamin Pada manusia yang mengalami defisiensi tiamin mengakibatkan reaksi yang tergantung pada tiamin difosfat akan dicegah atau sangat dibatasi ,sehingga menimbulkan penumpukan substrat untuk reaksi tersebut,misalnya piruvat ,gula pento dan derivat á- ketoglutarat dari asam amino rantai

43

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

bercabang leusin, isoleusin serta valin .Tiamin didapati hampir pada semua tanaman dan jaringan tubuh hewan yang lazim digunakan sebagai makanan, tetapi kandungannya biasanya kecil .Biji-bijian yang tidak digiling sempurna dan daging merupakan sumber tiamin yang baik. Penyakit beri-beri disebabkan oleh diet kaya karbohidrat rendah tiamin,misalnya beras giling atau makanan yang sangat dimurnikan seperti gula pasir dan tepung terigu berwarna putih yang digunakan sebagai sumber makanan pokok. Gejala dini defisiensi tiamin berupa neuropati perifer, keluhan mudah capai, dan anoreksia yang menimbulkan edema dan degenerasi kardiovaskuler, neurologis serta muskuler. Encefalopati Wernicke merupakan suatu keadaan yang berhubungan dengan defisiensi tiamin yang sering ditemukan diantara para peminum alcohol kronis yang mengkomsumsi hanya sedikit makanan lainnya. Ikan mentah tertentu mengandung suatu enzim (tiaminase ) yang labil terhadap panas,enzim ini merusak tiamin tetapi tidak dianggap sebagai masalah yang penting dalam nutrisi manusia. II.2. Riboflavin Riboflavin terdiri atas sebuah cincin isoaloksazin heterosiklik yang terikat dengan gula alcohol, ribitol. Jenis vitamin ini berupa pigmen fluoresen berwarnayang relatif stabilterhadap panas tetapi terurai dengan cahaya yang visible. Bentuk aktif riboflavin adalah flavin mononukleatida ( FMN ) dan flavin adenin dinukleotida ( FAD ).FMN dibentuk oleh reaksi fosforilasi riboflavin yang tergantung pada ATP sedangkan FAD disintesis oleh reaksi selanjutnya dengan ATP dimana bagian AMP dalam ATP dialihkan kepada FMN. FMN dan FAD berfungsi sebagai gugus prostetik enzim oksidoreduktase,di mana gugus prostetiknya terikat erat tetapi nonkovalen dengan apoproteinnya. Enzim-enzim ini dikenal sebagai flavoprotein. Banyak enzim flavoprotein mengandung satu atau lebih unsur metal seperti molibneum serta besi sebagai kofaktor esensial dan dikenal sebagai metaloflavoprotein. Enzim-enzim flavoprotein tersebar luas dan diwakili oleh beberapa enzim oksidoreduktase yang penting dalam metabolisma mamalia, misalnya oksidase asam á amino dalam reaksi deaminasi asam amino, santin oksidase dalam penguraian purin, aldehid dehidrogenase, gliserol 3 fosfat dehidrogenase mitokondria dalam proses

pengangkutan sejumlah ekuivalen pereduksi dari sitosol ke dalam mitokondria,suksinat dehidrogenase dalam siklus asam sitrat, Asil ko A dehidrogenase, serta flavoprotein pengalih electron dalam oksidsi asam lemak dan dihidrolipoil dehidrogenase dalam reaksi dekarboksilasi oksidatif piruvat serta áketoglutarat, NADH dehidrogenase merupakan komponen utama rantai respiratorikdalam mitokondria. Semua system enzim ini akan terganggu pada defisiensi riboflavin. Dalam peranannya sebagai koenzim, flavoprotein mengalami reduksi reversible cincin isoaloksazin hingga menghasilkan bentuk FMNH2 dan FADH2. Defisiensi Riboflavin Bila ditinjau dari fungsi metaboliknya yang luas, kita heran melihat defisiensi riboflavin tidak menimbulkan keadaan yang bisa membawa kematian. Namun demikian kalau terjadi defisiensi tiamin, berbagai gejala seperti stomatitis angularis, keilosis, glositis, sebore dan fotofobia. Riboflavin disintesis dalam tanaman dan mikroorganisme, namun tidak dibuat dalam tubuh mamalia. Ragi, hati dan ginjal merupakan sumber riboflavin yang baik dan vitamin ini diabsorbsi dalam intestinum lewat rangkaian reaksifosforilasi – defosforilasi di dalam mukosa . Berbagai hormon ( misalnya hormon tiroid dan ACTH ), obat-obatan (misalnya klorpromazin,suatu inhihibitor kompetitif ) dan factor-faktor nutrisi mempengaruhi konversi riboflavin menjadi bentuk-bentuk kofaktornya. Karena sensitivitasnya terhadap cahaya,defisiensi riboflavin dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dengan hiperbilirubinemia yang mendapat fototerapi. II.3.Niasin Niasin merupakan nama generik untuk asam nikotinat dan nikotinamida yang berfungsi sebagai sumber vitamin tersebut dalam makanan. Asam nikotinat merupakan derivat asam monokarboksilat dari piridin. Bentuk aktif sari niasin adalah Nikotinamida Adenin Dinukleotida (NAD+) dan Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat ( NADP+). Nikotinat merupakan bentuk niasin yang diperlukan untuk sintesis NAD+ dan NADP+ oleh enzim-enzim yangterdapat pada sitosol sebagian besar sel.Karena itu,setiap nikotinamida dalam makanan, mula-mula mengalami deamidasi menjadi nikotinat. Dalam sitosol nikotinat diubah menjadidesamido NAD+ melalui reaksi yang mula-

44

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

mula dengan 5- fosforibosil –1-pirofosfat ( PRPP ) dan kemudian melalui adenilasi dengan ATP.Gugus amido pada glutamin akan turut membentuk koenzim NAD +. Koenzim ini bisa mengalami fosforilasi lebih lanjut sehingga terbentuk NADP+. Fungsi Niasin Nukleotida nikotinmida mempunyai peranan yang luas sebagai koenzim pada banyak enzim dehidrogenase yang terdapat di dalam sitosol ataupun mitokondria. Dengan demikian vitamin niasin merupakan komponen kunci pada banyak lintasan metabolic yang mengenai metabolisme karbohidrat, liid serta asam amino.NAD+ dan NADP+ merupakan koenzim pada banyak enzim oksidorduktase. Enzimenzim dehidrogenase yang terikat dengan NAD mengkatalisis reaksi oksidoreduksi dalam lintasan oksidatif misalnya siklus asam sitrat,sedangkan enzim-enzim dehidrogenase yang terikat dengan NADP ditemukan dalam lintasan yang berhubungan dengan sintesis reduktif misalnya lintasan pentosa fosfat. Defisiensi Niasin Kekurangan niasin menimbulkan sindroma defisiensi pellagra, gejalanya mencakup penurunan BB, berbagai kelainan pencernaan, dermatitis, depresi dan demensia. Niasin ditemukan secara luas dalam sebagian besar makanan hewani dan nabati. Asam amino essensial triptofan dapat diubah menjadi niasin (NAD+) dimana setiap 60 mg triptofan dapat dihasilkan 1 mg niasin. Terjadinya defisiensi niasin apabila kandungan makanan kurang mengandung niasin dan triptofan. Tetapi makanan dengan kandungan leusin yang tinggi dapat menimbulkan defisiensi niasin karena kadar leusin yang tinggi dalam diet dapat menghambat kuinolinat fosforibosi transferase yaitu suatu enzim kunci dalam proses konversi triptofa menjadi NAD+. Piridoksal fosfat yang merupakan bentuk aktif dari vitamin B6 juga terlibat sebagai kofaktor dalam sintesis NAD+ dari triptofan .Sehingga defisiensi vitamin B6 dapat mendorong timbulnya defisiensi niasin. II.4.Asam Pantotenat Asam pantotenat dibentuk melalui penggabungan asam pantoat dengan alanin.Asam pantoneat aktif adalah Koenzim A (Ko A ) dan Protein Pembawa Asil (ACP). Asam pantoneat dapat diabsorbsi dengan mudah dalam intestinum dan selanjutnya mengalami fosforilasi oleh ATP hingga terbentuk 4'- fosfopantoneat . penambahan sistein dan

pengeluaran gugus karboksilnya mengakibatkan penambahan netto tiotanolamina sehingga menghasilkan 4' – fosfopantein, yakni gugus prostetik pada ko A dan ACP . Ko A mengandung nukleotida adenin . Dengan demikian 4' –fosfopantein akan mengalami adenilasi oleh ATP hingga terbentuk defosfo koA . Fosforilasi akhir terjadi pada ATP dengan menambahkan gugus fosfat pada gugus 3 – hidroksil dalam moitas ribose untuk menghasilkan ko A. Defisiensi Asam pantoneat Kekurangan asam pantoneat jarang terjadi karena asam pantoneat terdapat secara luas dalam makanan, khususnya dalam jumlah yang berlimpah dalam jaringan hewan,sereal utuh dan kacangkacangan. Namun demikian, burning foot syndrom pernah terjadi diantara para tawanan perang akibat defisiensi asam pantoneat dan berhubungan dengan menurunnya kemampuan asetilasi. II.5.Vitamin B6 Vitamin B6 terdiri atas derivat piridin yang berhubungan erat yaitu piridoksin, piridoksal serta piridoksamin dan derivat fosfatnya yang bersesuaian. Bentuk aktif dari vitamin B6 adalah piridoksal fosfat, di mana semua bentuk vitamin B6 diabsorbsi dari dalam intestinum , tetapi hidrolisis tertentu senyawa-senyawa ester fosfat terjadi selama proses pencernaan. Piridksal fosfat merupakan bentuk utama yang diangkut dalam plasma . Sebagian besar jaringan mengandung piridoksal kinase yang dapat mengkatalisis reaksi fosforilasi oleh ATP terhadap bentuk vitamin yang belum terfosforilasi menjadi masing- masing derivat ester fosfatnya. Piridoksal fosfat merupakan koenzim pada beberapa enzim dalam metabolisme asam aimno pada proses transaminasi, dekarboksilasi atau aktivitas aldolase. Piridoksal fosfat juga terlibat dalam proses glikogenolisis yaitu pada enzim yang memperantarai proses pemecahan glikogen. Defisiensi Vitamin B6 Kekurangan vitamin B6 jarang terjadi dan setiap defisiensi yang terjadi merupakan bagian dari defisiensi menyeluruh vitamin B kompleks. Namun defisiensi vitamin B6 dapat terjadi selama masa laktasi, pada alkoholik dan juga selama terapi isoniazid. Hati, ikan mackel, alpukat, pisang, daging, sayuran dan telur merupakan sumber vitamin B6 yang terbaik.

45

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

II.6.Biotin Biotin merupakan derivat imidazol yang tersebar luas dalam berbagai makanan alami. Karena sebagian besar kebutuhan manusia akan biotin dipenuhi oleh sintesis dari bakteri intestinal, defisiensi biotin tidak disebabkan oleh defisiensi ditarik biasa tetapi oleh cacat dalam penggunaan. Biotin merupakan koenzim pada berbagai enzim karboksilase. Defisiensi biotin Gejala defisiensi biotin adalah depresi, halusinasi, nyeri otot dan dermatitis. Putih telur mengandung suatu protein yang labil terhadap panas yakni avidin. Protein ini akan bergabung kuat dengan biotin sehingga mencegah penyerapannya dan menimbulkan defisiensi biotin. Komsumsi telur mentah dapat menyebabkan defisiensi biotin.Tidak adanya enzim holokarboksilase sintase yang melekatkan biotin pada residu lisin apoenzim karboksilat, juga menyebabkan gejala defisiensi biotin, termasuk akumulasi substrat dari enzim-enzim yang tergantung pada biotin (piruvat karboksilase, asetyl ko A karboksilase, propionil ko A karboksilase dan ß – metilkrotonil ko A ). Pada sebagian kasus, anak-anak dengan defisiensi ini juga menderita penyakit defisiesi kekebalan. II.7. Vitamin B12 Vitamin B12 (kobalamin) mempunyai struktur cincin yang kompleks (cincin corrin) dan serupa dengan cincin porfirin, yang pada cincin ini ditambahkan ion kobalt di bagian tengahnya. Vitamin B12 disintesis secara eksklusif oleh mikroorganisme. Dengan demikian, vitamin B12 tidak terdapat dalam tanaman kecuali bila tanaman tersebut terkontaminasi vitamin B12 tetapi tersimpan pada binatang di dalam hati temapat vitamin B12 ditemukan dalam bentuk metilkobalamin, adenosilkobalamin, dan hidroksikobalamin. Absorbsi intestinal vitamin B12 terjadi dengan perantaraan tempat-tempat reseptor dalam ileum yang memerlukan pengikatan vitamin B12, suatu glikoprotein yang sangat spesifik yaitu faktor intrinsik yang disekresi sel-sel parietal pada mukosa lambung.. Setelah diserap vitamin B12 terikat dengan protein plasma, transkobalamin II untuk pengangkutan ke dalam jaringan. Vitamin B12 disimpan dalam hati terikat dengan transkobalamin I. Koenzim vitamin B12 yang aktif adalah metilkobalamin dan deoksiadenosilkobalamin. Metilkobalamin

merupakan koenzim dalam konversi Homosistein menjadi metionin dan juga konversi Metiltetrahidrofolat menjadi tetrafidrofolat. Deoksiadenosilkobalamin adalah koenzim untuk konversi metilmalonil Ko A menjadi suksinil Ko A. Kekurangan atau defisiensi vitamin B12 menyebabkan anemia megaloblastik. Karena defisiensi vitamin B12 akan mengganggu reaksi metionin sintase. Anemia terjadi akibat terganggunya sintesis DNA yang mempengaruhi pembentukan nukleus pada ertrosit yang baru . Keadaan ini disebabkan oleh gangguan sintesis purin dan pirimidin yang terjadi akibat defisiensi tetrahidrofolat. Homosistinuria dan metilmalonat asiduria juga terjadi. Kelainan neurologik yang berhubungan dengan defisiensi vitamin B12 dapat terjadi sekunder akibat defisiensi relatif metionin. II.8Asam Folat Nama generiknya adalah folasin . Asam folat ini terdiri dari basa pteridin yang terikat dengan satu molekul masing-masing asam P- aminobenzoat acid (PABA ) dan asam glutamat. Tetrahidrofolat merupakan bentuk asam folat yang aktif. Makanan yang mengandung asam folat akan dipecah oleh enzim-enzim usus spesifik menjadi monoglutamil folat agar bisa diabsorbsi. Kemudian oleh adanya enzim folat reduktase sebagian besar derivat folat akan direduksi menjadi tetrahidrofolat dalam sel intestinal yang menggunakan NADPH sebagai donor ekuivalen pereduksi. Tetrahidrofolat ini merupakan pembawa unitunit satu karbon yang aktif dalam berbagai reaksi oksidasi yaitu metil, metilen, metenil, formil dan formimino.Semuanya bisa dikonversikan. Serin merupakan sumber utama unit satu karbon dalam bentuk gugus metilen yang secara reversible beralih kepada tetrahidrofolat hingga terbentuk glisin dan N5, N10 – metilen – H folat yang 4 mempunyai peranan sentral dalam metabolisme unit satu karbon. Senyawa di atas dapat direduksi menjadi N5 – metil – H folat yang memiliki peranan penting 4 dalam metilasi homosistein menjadi metionin dengan melibatkan metilkobalamin sebagai kofaktor. Defisiensi atau kekurangan asam folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik karena terganggunya sintesis DNA dan pembentukan eritrosit. II.9. Asam Askorbat Bentuk aktif vitamin C adalah asam askorbat itu sendiri dimana fungsinya sebagai donor ekuivalen

46

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

pereduksi dalam sejumlah reaksi penting tertentu. Asam askorbat dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat ,yang dengan sendirinya dapat bertindak sebagai sumber vitamin tersebut. Asam askorbat merupakan zat pereduksi dengan potensial hydrogen sebesar +0,008 V, sehingga membuatnya mampu untuk mereduksi senyawa-senyawa seperti oksigen molekuler, nitrat, dan sitokrom a serta c. Mekanisme kerja asam askorbat dalam banyak aktivitasnya masih belum jelas, tetapi proses di bawah ini membutuhkan asam askorbat : 1. Hidroksilasi prolin dalam sintesis kolagen. 2. Proses penguraian tirosin, oksodasi Phidroksi –fenilpiruvat menjadi homogentisat memerlukan vitamin C yang bisa mempertahankan keadaan tereduksi pada ion tembaga yang diperlukan untuk memberikan aktivitas maksimal. 3. Sintesis epinefrin dari tirosin pada tahap dopamine-hidroksilase. 4. Pembentukan asam empedu pada tahap awal 7 alfa – hidroksilase. 5. Korteks adrenal mengandung sejumlah besar vitamin C yang dengan cepat akan terpakai habis kalau kelenjer tersebut dirangsang oleh hormon adrenokortikotropik. 6. Penyerapan besi digalakkan secara bermakna oleh adanya vitamin C. 7. Asam askorbat dapat bertindak sebagai antioksidan umum yang larut dalam air dan dapat menghambat pembentukan nitrosamin dalam proses pencernaan. Defisiensi atau kekurangan asam askorbat menyebabkan penyakit skorbut, penyakit ini berhubungan dengan gangguan sintesis kolagen yang diperlihatkan dalam bentuk perdarahan subkutan serta perdarahan lainnya , kelemahan otot, gusi yang bengkak dan menjadi lunak dan tanggalnya gigi,

penyakit skorbut dapat disembuhkan dengan memakan buah dan sayur-sayuran yang segar. Cadangan normal vitamin C cukup untuk 34 bulan sebelum tanda-tanda penyakit skorbut. Kesimpulan 1. Vitamin adalah nutrien organik yang mempunyai berbagai fungsi yang essensial dalam proses metabolisme,dibutuhkan dalam jumlah yang kecil dan harus disuplai dari makanan. 2. Vitamin yang larut dalam lemak merupakan zat nonpolar dan molekul hidrofobic. 3. Vitamin yang larut dalam lemak kelebihannya di dalam tubuh akan menimbulkan gejala toksisitas. 4. Vitamin yang larut dalam air merupakan kelompok vitamin B kompleks dan vitamin C yang berfungsi sebagai kofaktor enzim. 5. Vitamin yang larut dalam air kelebihannya dalam tubuh dikeluarkan melalui urin, sehingga tidak didapati keadaan yang toksik dalam tubuh. 6. Kekurangan vitamin yang larut dalam air akan menimbulkan gejala penyakit. DAFTAR KEPUSTAKAAN
Achmad Djaeni Sediaoetama: Ilmu Gizi, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta 1989 2. Bagian Gizi R.S Dr. Cipto Mangunkusomo dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Penuntun Diit, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Edisi kedua, Jakarta 1996 3. Champe P C PhD , Harvey R A PhD. Lippincott’s Illustrated nd Reviews: Biochemistry 2 .1994 , page 171 – 186 4. Donald S. McLaren: Nutrition and its Disorders, Churchill Livingstone Edinburgh London Melbourne and New York, Third Edition 1981 . 5. Eleanor R. Williams: Nutrition, Principles, Issues, and Applications. McGraw-Hill Book Company, New York copyright 1984 6. Fergus M.Clydesdale: Food Nutrition and Health, The A VI Publishing Company Inc. WeStport, Connecticut 1995 7. Lehninger A, Nelson D , Cox M M .Principles of Biochemistry nd 2 1993 th 8. Murray R K, et al. Harper’s Biochemistry 25 ed. Appleton & Lange. America 2000 ,page 9. R.M Moerdowo: Spektrum Diabetes Mellitus, Penerbit Djambatan, Jakarta 1989 th 10. Stryer L .1995. Biochemistry 4 , page 603 - 623 1.

47

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

MENGENAL PSIKM FK UNAND LEBIH DEKAT

Pada dasarnya maksud pendirian Program Studi Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas) adalah menyediakan tenagatenaga ahli kesehatan masyarakat untuk menangani masalah-masalah kesehatan masyarakat di wilayah Sumatera bagian tengah khususnya dan Indonesia umumnya. Pada tahun 1981 gagasan untuk mendirikan sebuah Fakultas Kesehatan Masyarakat untuk wilayah Sumatera Bagian Tengah telah pernah diajukan oleh dr. H. Zulkarnain Agus, MPH, MSc sebagai kepala bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan dr. Bastian Manalu (alm) pada waktu itu sebagai kepala bagian PH (Public Health) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Untuk merealisasikannya pada tahun 1983 dibuat sebuah proposal tentang kebutuhan untuk mendirikan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang diajukan ke Rektor Universitas Andalas dan didukung oleh Walikota Padang saat itu yaitu Syahrul Ujud, SH. Pada tahun yang sama diundang dr. Sudjana Jatiputra, MPH dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) untuk mempelajari kemungkinan didirikan FKM Unand, dan dr. Sudjana Jatiputra, MPH merekomendasikan untuk berdirinya FKM Unand tetapi tidak segera ditindaklanjuti oleh Fakultas Kedokteran dan Universitas Andalas sendiri. Dengan adanya Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah dimana proses perencanaan dan pembinaan kesehatan didesentralisasikan ke Kabupaten/Kota, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia Kabupaten/Kota yang berkualifikasi dan siap menerima otonomi daerah. Untuk itu perlu disiapkan tenaga ahli dibidang kesehatan masyarakat yang handal. Berdasarkan hal tersebut pada tahun 1999 dibuat kembali proposal tentang pendirian PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas oleh beberapa dosen IKM & Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang diajukan ke CHS (Consorsium Health Sciences). CHS mengirim Prof. DR. Amal Sa’af, MPH staf ahli CHS untuk melakukan visitasi ke IKM & Ilmu Gizi Fakultas

Kedokteran Universitas Andalas. Hasil pertemuan tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan lokakarya I membahas tentang struktur organisasi PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Kemudian dilanjutkan dengan lokakarya II membahas tentang proses belajar mengajar. Lokakarya I dan II ini diadakan di Aula Fakultas Kedokteran Unand yang dihadiri oleh Prof. DR. Amal Sa’af, MPH dan diikuti 35 dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Prof. DR. Amal Sa’af, MPH merekomendasikan supaya PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dapat dibuka tahun itu. Hasil kedua lokakarya tersebut adalah tersusunnya kurikulum dan silabus proses belajar mengajar di PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pada waktu itu disetujui pembukaan tiga peminatan yaitu Epidemiologi, Gizi Masyarakat dan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK). Selanjutnya hasil lokakarya tersebut dikirimkan ke CHS. Setelah melalui proses panjang, pada tahun 2000 PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas berdiri dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Dirjen Perguruan Tinggi No. 400/DIKTI/ Kep/2000 tanggal 30 November 2000. Setelah keluarnya SK Dikti tersebut maka dilakukan sosialisasi ke wilayah Sumatera Bagian Tengah (Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu) tentang maksud dan tujuan dari pendirian PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Adapun tujuan pembentukan PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada saat itu adalah sebagai berikut : 1. Untuk mempersiapkan tenaga terampil dibidang kesehatan masyarakat setingkat S1 di wilayah Sumatera Bagian Tengah untuk menghadapi otonomi daerah dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat secara kritis, kreatif, inovatif dan bermoral. 2. Mendukung program pembangunan pemerintah dalam mengembangkan potensi masyarakat melalui sektor perguruan tinggi.

48

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Pada awal berdirinya (tahun akademik 2000/ 2001), PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menerima mahasiswa sejumlah 59 orang melalui jalur B1 (reguler), dengan 2 peminatan yaitu peminatan Gizi Masyarakat dan AKK. Pada tahun 2001 dibuka 3 peminatan yaitu peminatan Gizi Masyarakat, Epidemiologi dan AKK serta dibukanya jalur B2 (non reguler). Mulai tahun ajaran 2004/2005 dibentuk peminatan baru yaitu peminatan Kesehatan Reproduksi. Jumlah mahasiswa yang masuk ke PSIKM sampai tahun ajaran 2005/2006 sebanyak 716 orang dengan 4 peminatan (peminatan Gizi Masyarakat, Epidemiologi, AKK dan Kesehatan Reproduksi). Perkuliahan semester pertama pada tahun 2000 sampai tahun 2003 diadakan di gedung Fakultas Teknik kampus Unand Air Tawar, dan semester berikutnya diadakan di gedung Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pada bulan November 2003, dimulai pembangunan gedung PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Tahun ajaran 2004/ 2005 perkuliahan mulai berjalan secara penuh di gedung PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Jl.Perintis Kemerdekaan Padang. Jumlah staf pengajar PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada awal berdirinya tahun 2000 sebanyak 20 orang dosen yang terdiri dari 12 orang dosen tetap dan 8 orang dosen tidak tetap. Pada tahun 2005 staf pengajar PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas berjumlah 50 orang dosen yang terdiri dari 24 orang dosen tetap dan 26 orang dosen tidak tetap.

Wisuda pertama PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas diadakan pada tanggal 9 Oktober 2002 dengan jumlah lulusan sebanyak 55 wisudawan/wati. Sampai tahun 2005 jumlah lulusan PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebanyak 444 wisudawan/wati. Sejak berdirinya PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas tahun 2000 sampai sekarang, PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas telah dipimpin oleh sederetan nama bebagai berikut: 1. Periode 2000 - 2001 Ketua : Prof. Dr. H. Sabaruddin Abbas, MPH (alm) Sekretaris : dr.H.Zulkarnain Agus, MPH, MSc 2. Periode 2001 - 2005 Ketua : dr. Suhasyril, ZA, MPH (alm) Wakil Ketua I ): Dr.dr.Masrul, MSc. SpGK Wakil Ketua II ): dr. H. Hafni Bachtiar, MPH 3. Periode Februari 2005 – Juni 2006 karena dr.Suhasyril, ZA MPH sebagai ketua meninggal dunia, kepemimpinan PSIKM dipegang oleh dr. H. Hafni Bachtiar, MPH sebagai pelaksana harian sampai habis masa jabatan dan terpilihnya ketua yang baru pada tahun 2006 4. Periode 2006 - 2010 Ketua : Dr. H. Hafni Bachtiar, MPH Wakil Ketua I ): Dr.dr.Hj. Rizanda Machmud, M.Kes. Ketua : Dr.dr.H. Hafni Bachtiar, MPH Wakil Ketua II ): Deni Elnovriza, STP.MSi

49

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

SEKILAS TENTANG HIMA PSIKM PERIODE 2006/2007

HIMA PSIKM merupakan organisasi kemahasiswaan intra perguruan tinggi yang menyiapkan wahana dan sarana diri mahasiswa kearah perluasan wawasan dan peningkatan kecendikiawanan, menanamkan sikap ilmiah, pemahaman profesi dan meningkatkan kerjasama, menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat berbagai kegiatan dalam organisasi kemahasiswaan ini, kegiatan tersebut merupakan suatu upaya untuk pengembangan potensi yang ada pada mahasiswa, diantaranya kegiatan penalaran dan keilmuan, minat bakat dan kegemaran, kesejahteraan mahasiswa serta bakti sosial mahasiswa. Kepengurusan HIMA PSIKM 2006/2007 disahkan berdasarkan SK Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-UNAND No.476/J16.2/ PSIKM/VI/2006. VISI DAN MISI HIMA PSIKM VISI : PSIKM sebagai organisasi yg terpandang di UNAND, berkualitas dan berperan besar bagi anggota dan masyarakat MISI 1. Menyiapkan anggota untuk memiliki kemampuan akademika. 2. Mengembangkan dan menyebarluaskan IPTEK, minat bakat/kegemaran dan kesenian 3. Mendorong dan mengembangkan potensi jati

diri mahasiswa sebagai insan yang berguna di masa depan. 4. Memelihara dan mensosialisasikan gerakan HIMA PSIKM ke semua Fakultas di lingkungan Universitas Andalas melalui kegiatan ilmu pengetahuan, teknologi, minat, bakat dan kegemaran serta kesenian. PROGRAM KERJA HIMA PSIKM FK UNAND HIMA PSIKM FK UNAND telah membuat dan menyusun program kerja. Program kerja ini didasari atas usulan dan rancangan masing-masing seksi yang ada di HIMA. Untuk melaksanakan rencana kerja HIMA, dibentuk 3 bidang dengan masing-masing seksinya, yaitu : 1. Bidang Keorganisasian dan Anggota a. Sie pengembangan organisasi dan Anggota b. Sie Humas 2. Bidang Pengembangan minat, prestasi dan bakat a. Sie Ilmiah b. Sie Olahraga c. Sie Apresiasi dan Seni d. Sie Publikasi dan Jurnalistik Bidang ekonomi dan kesejahteraan a. Sie Usaha b. Sie Rohani c. Sie Pengabdian Masyarakat

3.

50

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Adapun Rencana Kerja HIMA PSIKM
Bidang Pengembangan Prestasi Minat dan Bakat 1. Seksi Ilmiah a. Pengumpulan informasi ilmiah (dari majalah, bulletin, buku dan internet) b. Mengkoordinasi mahasiswa yang berpotensi dalam lomba-lomba ilmiah c. Seminar dan diskusi ilmiah (Latihan Dasar Kepemimpinan) 2. Seksi Apresiasi dan Seni a. Pembentukan KPA (Kelompok Pecinta Alam) PSIKM b. Pembentukan Group seni a. Tari tradisional b. Tari modern c. Mengkoordinasi mahasiswa yang berpotensi dalam bidang musik 3. Seksi Olah Raga a. Pertandingan persahabatan dengan Fak. Perguruan Tinggi Kesehatan lainnya b. Latihan Sepak Bola c. Latihan Basket d. Latihan Volly e. Latihan Tenis Meja f. Latihan Badminton g. Latihan Senam Kesehatan Jasmani 4. Seksi Publikasi dan Jurnalistik a. Penerbitan News Letter (Publikasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan PSIKM) b. Bulletin PSIKM c. Mading PSIKM Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan 1. Seksi Kerohanian a. Peringatan 1 Muharram b. Peringatan Isra’ Mikraj c. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW d. Pengajian per 2 bulanan e. Mading Islami 2. Seksi Pengabdian Masyarakat dan Sosial a. Lomba Balita Sehat disekitar jalan teduh dan Jati VI b. Lomba Senam Lansia c. Donor Darah PSIKM d. Bantuan Bencana Alam e. Kemah Bakti Mahasiswa 3. Seksi Usaha a. Pembuatan Stiker b. Pembuatan Gantungan Kunci c. Pembuatan Pin PSIKM d. Pembuatan Baju dan Jaket e. Pembuatan Imsakiyah f. Pembuatan Kalender g. Pembuatan Topi PSIKM Bidang Keorganisasian dan Anggota 1. Seksi Pengembangan Organisasi dan Anggota a. Mengevaluasi perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan program b. Monitoring dan evaluasi kegiatan setiap 4 bulan c. Problem solving (memberikan alternatif dan pemecahan masalah) 2. Seksi Humas a. Memfasilitasi kegiatan Intern PSIKM/Kepengurusan HIMA dengan pihak luar untuk keperluan acara dan kegiatan

51

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)

Kegiatan yang sudah dilaksanakan : 1. Bidang Pengembangan Prestasi Minat dan Bakat a. Pengumpulan informasi ilmiah yang diperoleh dari internet dalam bentuk mading b.Mempublikasikan kegiatan-kegiatan PSIKM yaitu Bakti dan Sambalado dalam bentuk mading c. Mengikuti Seminar dan diskusi Forum Kota Sehat yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kota Padang. d.Pembentukan Panitia Bakti dan Sambalado e. Malam Inagurasi Wisudawan/I BP 2004 Angkatan V. 2. Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan a. Peringatan Isra’ Mikraj b.Bantuan Bencana Alam Gempa Jogyakarta c. Bekerjasama dengan Pemerintah Kota Padang, untuk menjalankan program P2WKSS yang diadakan di daerah Bungus Teluk Kabung berupa Pengabdian Masyarakat yaitu Gotong Royong, menjalankan kuisioner dan TOGA d.Pembuatan Pin PSIKM e. Pembuatan Stiker PSIKM f. Pembuatan Gantungan Kunci PSIKM 3. Bidang Keorganisasian dan Anggota 1. Memfasilitasi kegiatan intern PSIKM dengan pihak luar yaitu penyambutan kegiatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU) Tour to Campus ke PSIKM UNAND.

52

FORMULIR BERLANGGANAN

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat Telepon e-mail : ........................................................................................................................... : ........................................................................................................................... : ........................................................................................................................... : ...........................................................................................................................

Bersedia untuk menjadi pelanggan Jurnal Kesehatan Masyarakat dengan biaya Rp. 75.000,00/tahun/2 Edisi (sudah termasuk ongkos kirim).

Pembayaran ditransfer ke Rek. a/n. Dr. H. Hafni Bachtiar, MPH. No. Rek. 0051061837 BNI Padang Cabang Imam Bonjol Bukti Transfer berikut Formulir ini dikembalikan ke : Redaksi Jurnal Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Jl. Perintis Kemerdekaan Padang Telp. (0751) 38613

53

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->