P. 1
2

2

|Views: 31|Likes:

More info:

Published by: Widya Hendya Prasetia on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Di zaman yang serba modern ini keterkaitan hubungan negara satu dengan yang lain sangatlah bergantung juga dengan hubungan dalam bidang ekonomi antar negara. Seperti dalam hubungan internasional di dunia, sebuah negara pasti mempunyai politik ekonomi dalam setiap kebijakan hubungan dengan negara lain. Kerjasama dalam bidang ekonomi tersebut bisa dalam hal ,kebutuhan pokok, migas, elektronik, dll. Memang tidak seluruh dimensi kehidupan kita dipengaruhi oleh hubungan internasional.1 Namun Hal tersebut tidak bisa dipungkiri lagi bahwa anggaran dan pembelanjaan indonesia juga bergantung kepada jalanya perekonomian yang tidak bisa lepas dari hubungan dengan lain pihak, di wilayah internasional. Sekalipun kerjasama tersebut bisa diartikan dalam hal perdagangan internasional yang dapat memberi keuntungan di kedua pihak. Adanya hubungan dari luar negeri memang dapat memberikan dampak positif untuk suatu negara, apalagi apabila hubungan yang baik itu di miliki oleh negara berkembang seperti indonesia. Seperti pembahasan paragraf diatas mengenai kerjasama tersebut secara umum kegiatan perdagangan internasional dapat dibedakan menjadi dua yaitu ekspor dan impor. Penjelasan terkait Ekspor itu sendiri adalah kegiatan yang dilakukan dengan memperjual belikan produk
1

MOHTAR MAS’OED, “ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL Disiplin dan Metedologil”, Hal : 27

barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu negara yang lalu hasilnya tersebut dikirim ke negara lain. Sementara istilah impor itu sendiri merupakan kebalikan dari arti ekspor, yaitu suatu produk barang atau jasa yang berasal dari luar negara yang mana hasil buatan negara luar tersebut masuk kedalam suatu negara. Mengenai penjelasan kedua variabel tersebut, Ekspor dan impor sangatlah berperan penting dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika kita amati “Mengapa hal tersebut sangat penting?”karena terkait dengan ekspor dan impor tersebut memiliki nilai yang perlu diperhitungkan dalam perekonomian suatu negara , dan juga tergantung berapa besar nilai ekspor dan impor yang masuk kedalam suatu negara. Disetiap negara di dunia pasti memberlakukan ekspor dan impor. Di Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki nilai impor yang besar. Indonesia salah satunya negara yang mempunyai banyak hubungan baik dengan negara-negara maju di dunia seprerti hubungan dengan China dan AS. Seperti kita ketahui indonesia adalah negara yang berada di wilayah asia yang di pandang oleh negara lain sangat strategis dalam sudut pandang tempatnya. Tak hanya itu negara super power AS juga memandang indonesia sebagai rekan yang baik dalam hubungan kerjasama internasional kedua negara. Hal tersebut terbukti dengan kerjasama yang dilakukan AS – Indonesia hingga sekarang. Terlepas dari AS , hubungan China dan Indonesia juga sangat diperhitungkan dalam setiap kerjasamanya. Sebagian besar China sangat mendominasi secara global dalam ekonominya, dan hal tersebut tentu juga berpengaruh terhadap ekonomi indonesia. Memang kedua negara ini sekarang terlihat sangat baik, namun jika kita kilas

balik sejarahnya, hubungan China dan Indonesia memang menuai cerita yang panjang. Di era kepemimpinan Soekarno sewaktu menjabat presiden RI pada waktu itu sangat mengecam terhadap hubungan dengan negara China, hal tersebut tersebut diutarakan oleh Soekarno karena menganggap China merupakan salah satu anggota negara yang menganut komunis. Faktor lain juga karena soekarno ini menerapkan rasa nasionalis terhadap indonesia. Namun setelah berjalannya waktu dan bergantinya pemimpin negara setiap dekade, kebijakan dan hubungan internasional oleh indonesia juga menuai perubahan. Jika dulu pada masa Soekarno sangat menutup diri dari negara lain maka lain halnya dengan yang terjadi pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono saat ini. Pada masa ini Indonesia lebih membuka diri untuk berkerjasama dengan negara lain dalam bidang militer dan khususnya dalam bidang ekonomi. Hal tersebut juga terlihat dengan hubungan dengan China yang menjadi rekan kerjasama dengan Indonesia. Hubungan bilateral antara China tersebut memang akhir-akhir ini marak diberitakan di kancah politik salah satunya seperrti yang diberikatkan oleh salah satu media yaitu Sindonews yang memaparkan bahwa, “Pemerintah Indonesia dan China sepakat meningkatkan kerjasamanya menuju kemitraan strategis, Ada 15 nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua negara, di antaranya kesepahaman di sektor pengembangan kawasan industri, pelabuhan, jalan, energi alternatif, pertambangan, perkebunan, dan pariwisata.”2 Selain itu juga di dukung dengan adanya perdagangan bebas atau
2

Perjanjian yang

disebut dengan,

Dikutip dari http://www.sindonews.com/read/2012/03/26/458/599537/kemitraan-strategisindonesia-china ,(tgl,5-mei-2012,pkl:09.45)

ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement)3 dan Perjanjian perdagangan bebas yang di ikuti antara negara-negara Asean dan China tersebut mulai berlaku tanggal 1 Janauri 2010.4 Dengan ke ikut sertaan Indonesia dalam ACFTA tersebut, membuat Indonesia harus membuka diri untuk melakukan hubungan dengan negara-negara di ASEAN. khusunya China berperan penting didalam jalanya perdagangan bebas ini. Negara tirau bambu ini merupakan negara yang mendominasi pasaran di Indonesia, karena hampir semua produk impor di Indonesia barasal dari China seperti elektronik, sampai buah-buahan pun juga menjadi salah satu hasil impor yang angka penjualannya di pasaran cukup besar. Keberadaan buah di Indonesia memang mendapatkan perhatian besar oleh masyarakat. Namun dengan adanya buah impor yang menyebar luas di Indonesia menyebabkan persaingan dengan buah lokal yang ada di pasaran. Buah-buahan impor berbagai jenis semakin membanjiri pasar dalam negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor buah-buahan (HS 08) periode Januari-Februari 2011 senilai US$ 128.737.552. Nilai ini melesat sebanyak 63,87% dibanding Januari-Februari 2010 yang masih senilai US$ 78.560.941.5 Jika berkunjung di setiap toko swalayan, Maka akan banyak dijumpai buah impor yang mendominasi dibandingkan buah lokal yang ada di setiap pasaran. Berbeda dengan buah impor
3

Dikutip dari, Pariaman Sinaga, “KAJIAN AWAL TERHADAP KEBIJAKAN ACFTA (ASEAN-CHINA FREE TRADE AGREEMENT) DAN KAITANNYA DENGAN KUKM” 4 Dikutip dari Erman Rajagukguk,” ASEAN-CHINA FREE TRADE AGREEMENT DAN INPLIKASINYA BAGI INDONESIA” Dikutip dari http://industri.kontan.co.id/news/karena-lebih-murah-buah-impor-merajai-pasar1, diakses(tgl 1-mei-2012,pukul:19.30)

yang ada dipasaran, buah lokal sangat jarang ditemui karena tergeser oleh buah impor. Berikut merupakan data dari Badan Pusat Statistik terhadap kenaiakan angka impor buah dari tahun 2010-2011:6 Jenis Impor buah Impor Sayur tahun 2010 583.677 578.015 Tahun 2011 878.318 to 746.857

Dengan adanya banyak buah impor tersebut memang membuat para pedagang lokal kehilangan pemasukan. Terkait dengan masalah ini memang ada banyak cara untuk memyeimbangkannya yaitu dengan cara meningkatkan produktifitas buah lokal di pasaran , namun itu semua juga perlu dukungan yang besar dari pemerintah. selain itu dengan adanya impor tersebut juga berguna untuk memacu produk lokal untuk bersaing dipasaran. Namun memang tidak bisa dihindarkan lagi bahwa negara melakukan impor karena negara tersebut belum dapat memproduksi semua kebutuhannya sendiri dan membutuhkan adanya bantuan dari negara lain agar dapat memenuhinya. Namun sepatutnya adanya pasar bebas yang ada di Indonesia tidak membuat para pedagang lokal dijadikan korba, terkait hal tersebut memang pemerintah sendiri telah berjanji untuk

6

Dikutip dari, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/03/07/02444732/Pembatasan.Impor.47.Komodit as.Ditunda ,diakses pada 3 mei 2012(09.30)

mengurangi angka pemasukan impor yang ada namun sepertinya hal tersebut memang sulit diwujudkan. Seperti yang di utarakan oleh Menteri pertanian No 15/2012 dan No 16/2012 yang berisi penundaan implementasi pengurangan pintu masuk impor, juga memutuskan pelabuhan bebas di kawasan perdagangan bebas, yakni Batam, Bintan, dan Karimun sebagai tempat pemasukan.7 Seperti yang dibahas oleh peneliti dalam latar belakang ini maka muncul pemikiran dari penulis untuk mengangkat judul yaitu “Pengaruh Impor Buah China Terhadap Produksi Buah Lokal di Indonesia”. 1.2 RUMUSAN MASALAH Adanya berbagai hubungan bilateral antara Indonesia dan China memang menjadi satu topik dalam penelitian ini, dan terkaitb terhadap penjelasan diatas maka yang akan menjadi rumusan masalah yaitu sebagai berikut : 1. Mengapa impor buah China dapat mempengaruhi produksi buah lokal di Indonesia ? 2. Mengapa pemerintah Indonesia membuka jalur impor buah dengan China disaat produksi buah lokal mengalami penurunan ? 1.3 TUJUAN PENELITIAN Dengan adanya hubungan bilateral yang semakin akrab antara Indonesia – China , tentu juga mempengaruhi tingkat perekonomian khusunya ekspor impor dari kedua negara. Dalam penelitian ini juga akan menggunakan penelitian

7

Ibid

lapangan sebagai rujukan untuk mendukung dari tujuan peneltian terkait masalah yang dibahas. Terkait dengan hal tersebut, adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebaga berikut :  Menganalisa dan mengetahui seberapa besar pengaruh china dalam impor buah terhadap produksi buah lokal di indonesia yang

menjadikan adanya persaingan secara besar-besaran.  Untuk mengetahui adanya hubungan yang dijalin oleh china dengan indonesia didalam dan diluar organisasi . 1.4 Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian yang telah dibahas oleh penulis disini, maka penulis berharap penelitian ini dapat menjadi manfaat bagi para para kalangan mahsiswa dan bagi mereka yang tertarik msks ini penulis berharap dapat bermanfaat bagi kalangan mahasiswa ilmu politik dan khususnya bagi mereka yang tertarik dengan kajian penelitian ini. Selain itu agar kita dapat mengetahui secara keseluruhan aspek-aspek yang penting tentang adanya hubungan indonesia dan china terkait impor buah dari negara tirai bambu tersebut yang meraja lela di pasaran indonesia. 1.5 PENELITIAN TERDAHULU Terdapat berbagai macam penelitian yang diambil terkait hubungan antara indonesia dan china, seperti yang dibahas oleh mahasiswa Univeritas Diponegoro ini. Didalam skripsi yang diambilnya tersebut lebih mengacu kepada fakta yang berlandaskan faktor-faktor yang mempengaruhi adanya kerjasama dengan China.

Selain itu dalam penelitian ini mengacu pada perumusan masalah bahwa “Perkembangan impor Indonesia dari Cina selama kurun waktu 10 tahun terakhir mengalami peningkatan yang tinggi dan signifikan (rata-rata 27,41 persen), terutama sejak dimulainya kerjasama ACFTA pada awal tahun 2010. Inti permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah tingginya ketergantungan akan produk impor dari Cina seiring dengan pertumbuhan industri dalam negeri yang menuntut ketersediaan bahan baku dan barang modal untuk proses produksi. Pertumbuhan impor dari Cina akan semakin besar bila tidak diimbangi dengan kemampuan negara dalam memiliki cadangan devisa serta indikator makro lainnya seperti tingkat suku bunga yang stabil, kurs rupiah terhadap dolar AS, pendapatan nasional (PDB), tingkat investasi. Sementara kebijakan substitusi impor pada kenyataannya belum menunjukkan hasil yang baik karena daya saing produk domestik yang rendah, sehingga kecenderungan nilai impor Indonesia dari Cina juga makin meningkat sementara faktor harga akibat fluktuasi kurs yang tercermin pada kurs riil dan cadangan devisa yang dimiliki juga berdampak pada tinggi rendahnya nilai impor Indonesia dari Cina.”8. Terkait dengan hasil peneletian ini penulis lebih mengacu pada jenis penelitian deksriptif dengan di ikuti pemakaian teori perdagangan Internasional untuk menganalisis masalah yang dibahas. Dalam penelitian tersebut peneliti juga menggunakan analisis kuantitatif yang mana terdapat berbagai analisis dalam bentuk tabel.

8

Riris Septiana,” FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN IMPOR INDONESIA DARI CINA TAHUN 1985 – 2009”,Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Diponegoro 2011

RRC dan India sedikit banyak mempunyai kesamaan dalam proses tranformasi mereka dan cara mereka mengubah dunia yang mengejutkan NegaraNegara Barat. Dua Negara ini menjelma menjadi sumber tenaga kerja, mitra, pelanggan dan pesaing sehingga banyak perusahaan-perusahaan asing yang tertarik untuk berinvestasi dan melakukan bisnis di RRC dan India. Keduanya kini terus bergerak maju mengejar ambisinya untuk menjadi raksasa eknomi dunia dalam satu generasi. Ambisi RRC dan India untuk menjadi raksasa ekonomi dunia bukan tidak mungkin dapat dicapai. Namun, untuk mencapai hal tersebut bukan merupakan hal mudah, dibutuhkan rencana-rencana atau strategi-strategi pembangunan serta pembangunan yang terus berkelanjutan. Selain daripada itu diperlukan juga menjalin kerjasama-kerjasama Internasional yang akan menopang pertumbuhan perekonomian masing-masing Negara.9 Dalam penelitian tersebut peneliti menggunakan menggunakan tipe penelitian dekriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran tentang kondisi perekonomian China dan India sebagai Negara maju di kawasan Asia. Jenis data yang digunakan oleh penulis menggunakan pengambilan data sekunder dan menggunakan teknik analisa kualitatif. 1.6 KERANGKA KONSEP Salah satu cara untuk menganalisa penelitian terkait judul “Pengaruh Impor buah China terhadap produksi buah lokal di Indonesia” ini, maka peneliti sangat membutuhkan adanya konsep atau teori yang tepat untuk digunakan.

9

Sintian Tagela, “SUATU ANALISIS TENTANG CHINA-INDIA (CHINDIA) SEBAGAI NEGARA MAJU DI KAWASAN ASIA”, skripsi,Hubungan Internasional,Universitas Hassanudin MAKASAR,2011

Sehingga terkait dalam judul diatas ,peneliti akan menggunakan toeri Neoliberalisme dan menggunakan konsep liberalisasi perdagangan. 1.6.1 Teori Neoliberalime Terkait dari teori neoliberalisme yang digunakan maka jika kita artikan dari neoliberalisme memang cukup luas untuk di artikan dalam pemikiran politik. Neoliberalisme adalah sebuah upaya untuk mengoreksi kelemahan yang terdapat dalam liberalisme. Neoliberlisme memang muncul karena adanya liberal, dan memang keduanya saling berhubungan karena sama dalam bidang kerjasama. tetapi adanya liberal itu sendiri di nilai masih memiliki kelemahan oleh para ahli ekonomi. Kelemahan itu seperti adanya pasar oleh liberal menganggap bahwa pedagang yang ada dipasar tersebut dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Sehingga paham liberal menyebutkan bahwa pasar tidak membutuhkan campur tangan dari negara. Menyadari kelemahan ekonomi pasar liberal tersebut, pada September 1932, sejumlah ekonom Jerman yang dimotori oleh Rustow dan Eucken mengusulkan dilakukannya perbaikan terhadap paham ekonomi pasar, yaitu dengan memperkuat peranan negara sebagai pembuat peraturan Dalam perkembangannya, gagasan Rostow dan Eucken diboyong ke Chicago dan dikembangkan lebih lanjut oleh Ropke dan Simon.10 Sehingga munculnya neoliberalisme itu sendiri sebagai paham baru dari liberal. Namun pada dasarnya prinsip
10

Dikutip dari Revrisond Baswir, “Neo-Liberalisme; Teori dan Konsep”, Pusat Study Ekonomi Kerakyatan UGM, 20 Mei 2009 dalam, Lathif Hakim, M.Ec."PEMBANGUNAN EKONOMI DALAM DESIGN LIBERALISME”

dasar neoliberal lebih mencakup pada kerjasama pada keseluruhan. Dalam Neoliberal, Tidak hanya mengacu pada sebuah referen baru tetapi juga membelah orang-orang menjadi kelompok-kelompok sebagai pendukung, pengagum, penolak bahkan orang yang tidak bersikap.11 Adanya neoliberalisme ini menekankan kepada sebagai berikut Perdagangan bebas, Pengakuan kepemilikan setiap individu, Penghapusan subsidi, Penentuan harga pasar oleh pemerintah. Sekilas terhadap nilai-nilai pemikiran dari neoliberalisme itu sendiri ,maka aturan-aturan ekonomi yang dijalankan harus mengusai secara keseluruhan atau mencakup sektor-sektor lain. Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya neoliberalisme yaitu salahsatunya adalah pertama munculnya perusahaan multinasional (multinational-corporationsMNC)sebagai kekuatan yang nyata an bahkan memiliki aset kekayaan yang lebih besar daripada negara-negara kecil di dunia12. Dalam paham neoliberalisme itu sendiri menilai pengembangan ekonomi oleh individu dalam bersaing secara bebas merupakan hal yang diterapkan dalam jalanya sistem ini. Bicara mengenai neoliberalisme memang tidak jauh dari kebebasan namun kebebasan itu masih ada sedikit campur tangan negara dalam penerapnya. Hal tersebut jika kita lihat dari sudut pandang neoliberalisme terhadap pergerakan china terhadap perekonomian di indonesia,maka seperti diketahui bahwa adanya impor buah yang ada di

11

I Bowo dan Francis wahono,”Neoliiberalisme”, cinderelas pustaka rakyat cerdas Yogyakarta 2003,hal:1 12 Ibid hal:3

Indonesia adalah suatu bentuk Neoliberalisme yang diterapkan oleh China yang berdampak kepada perekonomian di Indonesia, khusunya para pedagang lokal yang ada. Adanya buah yang di impor dari China tersebut memang mendapat keluhan dari para pedagang dan petani lokal di Indonesia. Dampak dari Neoliberalisme itu sendiri menjadikan harga buah impor lebih murah dibandingkan buah lokal dan pedagang buah lokal mengalami persaingan dengan swalayan yang menjual buah impor. 1.6.2 Strukturalisme Adanya Struktualisme itu sendiri jika di artikan mempunyai arti yang sama dengan marxism. Adanya Strukturalisme itu sendiri berakar pada pemikiran Karl Marx akhir atau Neo-Klasik yang banyak bernaung pada organisasi dibawah gerakan Kiri Baru (New Left).13 Dalam menilai terhahadap lahirnya strukturalisme itu sendiri, bahwa keterkaitan antar ekonomi dengan politik adalah suatu hal penting untuk mengetahui dalam hubunganya terkait dengan sosial, budaya dan poltik itu sendiri. penjelaskan Strukturalisme terhadap Struktural itu sendiri dalam Namun pemikiran

ini menganggap bahwa adanya hubungan internasional

yang dijalin oleh negara dalam memandangnya tidak lepas dari adanya perbedaan kelas-kelas. Selain itu yang lebih ditekankan oleh

strukturalisme adalah bahwa sistem kapitalisme internasional membuat

13

Miriam Budiardjo, “Berbagai Pendekatan dalam Ilmu Politik” dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 85. Untuk bacaan lebih lanjut mengenai “Kiri Baru” lihat Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008, hal. 363-381.

negara-negara terbagi menjadi kelas-kelas yaitu core, semi-periphery, dan periphery. Adanya pembagian ini sesuai dengan teori sistem dunia-nya Emmanuel Wallerstein.14 Terkait dengan adanya pembedaan kelas kelas tersebut, maka dapat di bedakan menjadi dua kelas yaitu kaum borjuis atau yang disebut dengan kaum pemilik modal dan kaum proletar atau yang disebut sebagai kebalikan dari kaum borjuis yaitu kaum ini disebut dengan kaum tertindas atau buruh dan petani. Jika kita kaitkan asumsi dari strukturalisme dengan hubungan china dan indonesia dengan menyinggung terhadap impor buah china yang mempengaruhi produksi hagra buah lokal di indonesia.maka dipandang dari sidut pandang strukturalisme maka China ingin mengusai pasar yang ada di Indonesia. Maka dapat kita lihat pengaruh dari china tersebut sangat besar. Karena Di dalam strukturalisme itu sendiri dinilai bahwa munculnya konflik terjadi karena adanya perebutan sumber daya alam. Seperti yang terjadi dalam penelitian ini , China merupakan aktor besar di dalam perjanjian AFCTA, yang mana hal tersebut bedampak terhadap produksi buah lokal kalah saing dengan buah impor. 1.6.3 Merkantilisme Pengertian dari merkantilisme itu sendiri mengacu pada sebuah pendekatan bahwa adanya sebuah aktor-aktor yang berkedudukan tinggi atau aktor penting di dalam negara tersebut dianggap sebagai aktor utama.
14

Di kutip dari http://www.portal-hi.net/index.php/teori-teori-strukturalis/36-perspektifstrukturalisme-dalam-ilmu-hi ,diakses,(3-mei,2012,pukul:19.00)

Pandangan utama dalam pendekatan merkantilisme adalah ekonomi merupakan alat politik yang digunakan sebagai dasar kekuasaan politik. Sehingga para penganut merkantilisme beranggapan bahwa kegiatan ekonomi harus tunduk pada tujuan utama dalam membangun negara yang kuat, hal ini tentu tidak terlepas dari asumsi bahwa ekonomi merupakan alat politik bagi sebuah negara .15 Memang begitu asumsi yang diterapkan di dalam pendekatan sehingga merkantilsme dalam memandang perekonomian internasional adalah sebagai ajang konflik karena di dalamnya terdapat kepentingankepentingan pribadi yang membuat hal tersebut melenceng jauh dari tujuan utama yaitu kerjasama. Merkantilisme melihat perekonomian internasional sebagai arena zero-sum game dimana keuntungan negara dianggap sebagai kerugian bagi negara lainnya. Selain itu, merkantilisme berasumsi bahwa kekayaan material negara perlu dikhawatirkan, sebab melalui keuntungan ekonomi relatif yang dimiliki negara, maka negara tersebut akan mampu memperkuat kekuatan politik dan militer untuk melawan negara lain16

15

Robert Jackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional,,2009,Yogyakarta:Pustaka Pelajar hal 231 16 Ibid hal:231

Didalam setiap kata yang diterapkan merkantilis itu sendiri melihat bahwa bahwa adanya dua bentuk persaingan ekonomi antarnegara.17 Terkait dua bentuk tersebut yaitu :  Pertama adalah benign mercantilism atau merkantilisme ramah, dimana dalam pengertian asmusi tersebut yaitu peran negara dalam upayanya untuk memelihara

kepentingan nasionalnya tersebut dapat dijadikan sebagai faktor penting dalam menjaga keamanan dan ketahanan negara.  Kedua adalah malevolent mercantilism atau merkantilisme jahat , yang mana terkait dengan pengertian tesebut bahwa asumsi ini berpandangan bahwa ekonomi internasional merupakan tempat eksploitasi yang bisa mendapatkan kedudukan. Maka jika kita kaitkan dengan bahasan topik terkait kasus ini ,maka dalam pendekatan merkantilisme ini China dipandang sebagai aktor utama yang berperan dengan tujuan utama meningkatkan kekuatan negara. Seperti diketahui keberadaan China dalam hal ekonominya yang secara global di akui kedudukanya.salah satunya dengan Indonesia, China mencari negara berkembang untuk kerjasama seperti halnya adanya ACFTA. Merkantilisme juga menilai bahwa ekonomi dan politik merupakan aspek kekayaan dan kekuasaan yang dinilai penting. Melalui
17

Ibid hal 232

kekayaan ekonomi seperti China, maka negara akan mampu meningkatkan power di dalam bidang politik dan militer ke negara lain..dan begitu juga sebaliknya, melalui keuataan politik dan militer, negara akan dengan mudah mendapatkan keuntungan ekonomi. dan sosok China dalam pandangan merkantilisme di nilai mencari keuntungan dari penjualan buah impor ke indonesia, yang berakibat produksi harga buah lokal turun . . 6.4 Konsep Liberalisasi Perdagangan Terkait dengan konsep liberalisme maka penjelasan tersebut tidak lepas dari arti liberalisasi secara umum. Perdagangan yang lebih liberal tampaknya menjadi tujuan hampir sebagian besar negara di dunia dengan harapan adanya liberalisasi dapat meningkatkan volume dan nilai perdagangan yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.18 Selain itu didalam liberal beranggapan bahwa perdamaian internasional dapat dicapai dengan adanya kerjasama antar negara, karena di dalam liberal sendiri memandang negara lain dengan hal positif. Liberal memang tidak bisa jauh dari arti bebas dan apabila kita singgung dalam ekonomi maka liberalis beranggapan bahwa pasar tidak boleh mengikutkan campur tangan pemerintah.19 Dengan adanya kebijakn liberal tersebut memang diyakini dapat memberikan kemakmuran bagi negara yang menganutnya.

18

Dikutip dari,Pos M Hutabarat,”PENGARUH KEBIJAKAN LIBERALISASI PERDAGANGAN TERHADAP LAJU PERTUBUHAN EKSPOR-IMPOR DI INDONESIA”,Departemen Perdagangan RI,Program Pascasarjana Ilmu ekonomi- FEUI,2007 Hal:2 19 Ibid hal 232

Trerkait dengan hal tersebut pengertian dari kebijakan liberalime itu sendiri adalah kebijakan perdagangan yang diambil suatu negara yang mencerminkan pergerakan ke arah yang lebih netral, liberal atau terbuka. Secara khusus, perubahan ke arah yang semakin netral tersebut meliputi penyamaan insentif (rata-rata) diantara sektor-sektor perdagangan. Suatu rezim kebijakan dianggap menjalankan kebijakan liberalisasi bila tingkat intervensi secara keseluruhan semakin berkurang. Selain itu, kebijakan yang liberal juga dapat ditandai melalui semakin pentingnya peranan perdagangan dalam perekonomian. Kebijakan liberalisasi dapat tercapai melalui beberapa cara seperti pengurangan hambatan-hambatan dalam perdagangan atau pemberlakuan subsidi ekspor (Santos-Paulino, 2005).20 maka adanya konsep liberalisasi perdagangan merupakan salah satu bentuk cara pendekatan yang apabila jika kita singgung dengan masalah yang dibahas peneitian. Maka peran Indonesia dalam penerapan liberal adalah sebagai aktor yang hanya memberikan fasilitas sebatas mungkin dan peran negara hanya sebagai aktor pembantu agar terjadinya pasar yang bebas tidak mengalami kegagalan. Maka peran indvidu dalam perdagangan liberal aadalah sebagai aktor utamanya. Dimana setiap individu bebas untuk melakukan kehiatan ekonominya tanpa campur tangan negara sepenuhnya. Maka dengan adanya impor buah china di pasaran indonesia merupakan bentuk liberalsasi perdangan yang ada di Indonesia.
20

Opcit,Pos M Hutabarat hal:5

1.7 METODE PENELITIAN 1.7.1 JENIS PENELITIAN Dalam Peneltian ini yang terkait dengan masalah yang dibahas oleh penulis maka Penelitian ini memakai jenis penelitian eksplanatif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian eksplanatif adalah suatu penelitian yang bersifat menerangkan secara rinci dengan menjelaskan adanya sebab terkait dengan suatu fenomena yang akan di kaji. Dengan menggunakan penelitian eksplanatif ini, peneliti dapat menguasai penelitian tersebut sehingga dapat memperoleh kefahaman dan ketepatan dalam pengukuran variabel-variabel yang diteliti. Selain itu kegunaan kualitatif juga dimaksudkan untuk mendapatkan ketepatan atau kebenaran data-data yang mana ditujukan untuk memperkuat hasil penelitian dengan cara studi lapangan. 1.7.2 LOKASI PENELITIAN Untuk membantu dalam pencarian data peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif dalam hal studi lapangan ini, maka lokasi yang di ambil oleh peneliti yaitu berpusat di wilayah kota MALANG dan sekitarnya yang mengacu khusus kepada pedagang buah lokal. 1.7.3 VARIABEL PENELITIAN Dalam Penelitian ini telah menggunakan dua variable, yaitu variable dependen dan variable independen. Variable Independen adalah variable yang digunakan untuk menjelaskan tingkah laku dari variable dependen, sedangkan pengertian variable dependen adalah variable yang

tingkah lakunya akan di analisa. Dalam penelitian ini yang manjadi variabel independen adalah “PENGARUH IMPOR BUAH CHINA” sedangkan yang menjadi variabel dependen adalah “PRODUKSI HARGA BUAH LOKAL DI INDONESIA” 1.7.4 LEVEL ANALISA DATA Setelah mengetahui apa yang menjadi variable terkait dengan peneltian ini maka langkah yang selanjutnya yang diambil adalah menentukan level analisa agar mempermudah suatu penelitian. Maka dalam penelitian ini level analisis yang digunakan yaitu level analisis induksionis dimana level eksplanasinya (Pengaruh Impor buah

China)lebih tinggi daripada unit analisa (produksi buah lokal di Indonesia). 1.7.5 Batasan Waktu Adanya batasan yang di berikan dalam penelitian ini yaitu mulai dari berlakunya terhadap perjanjian ACFTA tgl 1 januari 2010 hingga sekarang dan batasan waktu yang dimabil selain itu dilihat sejak penjabatan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari tahun 2004 hingga saatn ini. 1.7.6 Batasan Materi Agar tidak terjadi perluasan materi yang memungkinkan terjadinya kesalah pahaman terhadap pembahasan penelitian. Maka untuk menyikapi hal tersebut, Peneliti akan memberikan batasan materi terkait materi yang

diteliti tentang Impor buah China terhadap produksi buah lokal di Indonesia. 1.7.7 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang telah digunakan menggunakan studi pustaka (library Research) dan studi lapangan. Maksud dari studi pustaka ini yaitu dengan maksud mendokumentasikan berbagai jenis penelitian terdahulu dan teknik pengumpulan data ini juga tidak lepas atas pengumpulan data data dari sember-sumber seperti buku, e-book, jurnal, majalah, surat kabar yang berkaitan dengan kajian yang diteliti, yang selanjutnya oleh peneliti dijadikan referensi untuk mendukung penelitian ini. Terkait dengan studi lapangan tersebut maka yang dimaksud peneliti adalah Peneliti melakukan pencarian data langsung untuk mendapatkan data yang mungkin tidak didapatkan dari data library research. Dengan maksud adanya ini guna untuk melengkapi data sebanyak-banyaknya untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti dalam menganalisa tidak menggunakan angka sperti kuantitaif namun disini dapat menggunakan teks, gambar, foto dll. Selain itu yang dimaksud dengan penelitian terkait masalah yang dibahas oileh peneliti tentang “pengaruh impor China terhadap produksi harga buah lokal di Indonesia” maka Langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk menganalisis data yaitu yang pertama melakukan studi

lapangan dengan melakukan wawancara terkait studi kasus, dengan cara melakukan wawancara terhadap aktor-aktor yang terkait dengan topik ini seperti pedagang dan peani buah lokal. Yang kedua menyatukan dan menyajikan hasil seluruh data dan informasi yang didapat dari berbagai sumber,wawancara, dokumentasi dan sebagainya tersebut kedalam penelitian. 1.8 Hipotesis Terlintas dari bahasan uraian diatas maka peneliti mempunyai hipotesa bahwa pengaruh impor buah china di Indonesia yang berdampak kepada produksi buah lokal merupakan akibat dari adanya pasar bebas yang ada. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh China yang ingin menguasai sektor ekonomi di wilayah ASEAN dan hal tersebut terbukti dengan sosok China sebagai aktor utama dalam pembentukan ACFTA yang mengharuskan Indonesia mau tidak mau mengikuti penerapan perjanjian tersebut di pasaran. Selain itu juga pengaruh yang dapat dilihat dari masalah terkait ini adalah adanya besar berasal dari setiap kebijakan setiap pemimpin presiden, seperti SBY pada saat ini yang lebih terfokus kepada nilai ekonomi dan hubungan kerjasama dengan negara lain, khususnya hub bilateral dengan China. Hal tersebut juga bisa menjadi tujuan indonesia untuk meningkatkan keamanannya dengan berperilaku baik kepada negara lain.karena disini China merupakan negara besar yang memegang kendali wilayah ASEAN.

DAFTAR PUSTAKA MOHTAR MAS’OED, “ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL Disiplin dan Metedologil

Pariaman Sinaga (ASEAN-CHINA DENGAN KUKM”

“KAJIAN AWAL TERHADAP KEBIJAKAN ACFTA FREE TRADE AGREEMENT) DAN KAITANNYA

Erman Rajagukguk “ASEAN-CHINA FREE TRADE AGREEMENT DAN INPLIKASINYA BAGI INDONESIA”

Revrisond Baswir, “Neo-Liberalisme; Teori dan Konsep”, Pusat Study Ekonomi Kerakyatan UGM, 20 Mei 2009 dalam, Lathif Hakim, M.Ec."PEMBANGUNAN EKONOMI DALAM DESIGN LIBERALISME”

I Bowo dan Francis wahono,”Neoliiberalisme”, cinderelas pustaka rakyat cerdas Yogyakarta 2003,

Riris Septiana,”FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN IMPOR INDONESIA DARI CINA TAHUN 1985 – 2009”,Skripsi,Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Diponegoro 2011

Pos.M.Hutabarat,”PENGARUH

KEBIJAKAN

LIBERALISASI

bPERDAGANGAN TERHADAP LAJU PERTUBUHAN EKSPOR-IMPOR DI INDONESIA”,Departemen Perdagangan RI,Program Pascasarjana Ilmu ekonomiFEUI,2007

Riris

Septiana,”

FAKTOR-FAKTOR INDONESIA

YANG

MEMPENGARUHI –

PERMINTAAN

IMPOR

DARI CINA TAHUN 1985

2009”,Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Diponegoro 2011

INTERNET

Dikutip dari

http://industri.kontan.co.id/news/karena-lebih-murah-buah-impor-

merajai-pasar-1 , (tgl 1-mei-2012,pukul:19.30)

Dikutip dari http://www.sindonews.com/read/2012/03/26/458/599537/kemitraanstrategis-indonesia-china, (tgl,5-mei-2012,pkl:09.45)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/03/07/02444732/Pembatasan.Impor. 47.Komoditas. Ditunda ,diakses pada 3 mei 2012(09.30) Di kutip dari http://www.portal-hi.net/index.php/teori-teori-strukturalis/36-

perspektif-strukturalisme-dalam-ilmu-h ,diakses,(3-mei,2012,pukul:19.00)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->