P. 1
Budaya Begalan

Budaya Begalan

|Views: 1,243|Likes:
Published by Gisella Grafiyana
this is my task for anthropology subject, hope that will help you to do your assignment. thanks. bye
this is my task for anthropology subject, hope that will help you to do your assignment. thanks. bye

More info:

Published by: Gisella Grafiyana on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2015

pdf

text

original

MAKALAH

Upacara Begalan Putri Sulung dan Bungsu di Daerah Banyumas

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Antropologi Semester Genap 2012/2013 Dosen Pembimbing: 1. Drs. H. Yahya, MA (150 246 404) 2. Bapak Ahmad Mukhlis, MA

Oleh: Gisella Arnis G. NIM: 11410100 Kelas: Psikologi C

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Juni 2012

Lembar Persetujuan Tugas Observasi ANTROPOLOGI

Nama Mahasiswa NIM Jurusan TEMA

: Gisella Arnis Grafiyana : 11410100 : Psikologi : Upacara Begalan Putri Sulung dan Bungsu di Daerah Banyumas

Rumusan Masalah: 1. Siapa yang mengadakan begalan dalam upacara pernikahannya? 2. Mengapa mereka mengadakan begalan tersebut? 3. Bagaimana upacara begalan tersebut dilaksanakan? Tujuan: 1. Mengetahui siapa saja yang mengadakan upacara begalan dalam pernikahannya. 2. Mengetahui alasan dan filosofi dari budaya upacara begalan. 3. Mengerti bagaimana tata cara diadakannya upacara begalan.

Telah disetujui pada tanggal

12 April 2012

Dosen Pembina,

Bapak Ahmad Mukhlis, MA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. atas rahmat dan ridha-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Upacara Begalan Putri Sulung dan Bungsu di Daerah Banyumas. Penulis juga berterima kasih kepada: 1. Drs. H. Yahya, MA selaku dosen pengampu mata kuliah Antropologi kelas Psikologi C UIN (Universitas Islam Negeri) Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah menuntun penulis dalam pembuatan makalah ini. 2. Bapak Ahmad Mukhlis, MA selaku asisten dosen mata kuliah Antropologi kelas Psikologi C UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang membimbing penulis dalam pembuatan makalah ini. 3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa fakultas Psikologi pada khususnya.

Malang, 11 Juni 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang 1.2. Rumusan Masalah 1.3. Tujuan BAB II : KAJIAN TEORI 2. 1. Memahami Kebudayaan 2. 2. Memahami Sandi Budaya 2. 3. Budaya sebagai Milik Publik, Budaya Sebagai Milik Perorangan 2. 4. Heterogenitas Kebudayaan Jawa 2. 5. Budaya Begalan di Banyumas BAB III : LAPORAN OBSERVASI 3.1. Setting Lingkungan Sosial 3.2. Latar Belakang Kehidupan dari Aspek Budaya Subjek 3.3. Realitas Budaya yang Terjadi 3.4. Peran dan Makna Aktivitas serta Simbol-simbol dalam Sistem Budaya Masyarakat BAB IV : ANALISA, PEMBAHASAN DAN PEMBELAJARAN 4.1. Analisa 4.2. Pembahasan 4.3. Pembelajaran BAB IV : KESIMPULAN

i ii iii iv v vi

1 2 2

3 5 6 7 10

16 16 16

17

20 20 21 22 23

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

Wawancara Subjek 1 Wawancara Subjek 2 Pengamatan Penulis

24 26 27

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Malam Midodareni Gambar 1.2. Mempelai perempuan menunggu kedatangan mempelai laki-laki Gambar 1.3. Rombangan mempelai laki-laki menuju halaman Gambar 1.4. Ritual lempar daun Gambar 1.5. Ritual midhek telur Gambar 1.6. Kedua mempelai memasuki halaman memepelai perempuan Gambar 1.7. Kaki Wira memasuki halaman mempelai perempuan Gambar 1.8. Kaki Sura menghentikan Kaki Wira Gambar 1.9. Dialog pembegalan Gambar 1.10. Proses menuju pelaminan Gambar 1.11. Besan perempuan menuntun kedua mempelai Gambar 1.12. Besan perempuan memangku kedua mempelai dipelaminan Gambar 1.13. Besan perempuan mendudukan kedua mempelai di pelaminan Gambar 1.14. Mempelai laki-laki memberi beras pada istrinya Gambar 1.15. Kedua mempelai suap-menyuapi Gambar 1.16. Sungkem kepada besan perempuan Gambar 1.17. Sungkem kepada besan laki-laki Gambar 1.18. Sungkem kepada suami Gambar 1.19. Petuah dari kedua pihak mempelai Gambar 1.20. Hiburan setelah acara begalan selesai

24 26 29 29 30 30 31 31 32 32 33 33 34 34 35 35 36 36 37 37

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia sampai sejauh ini dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki kekayaan yang sangat banyak baik itu sumber daya alamnya maupun kebudayaannya. Dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Telihat sekali bahwa kepulauan Indonesia memiliki banyak perbedaan antara pulau yang satu dan yang lain, provinsi satu dengan yang lain, kabupaten satu dengan yang lain, atau bahkan kecamatan yang satu dengan yang lain. Perbedaan dalam pernikahan orang Jawa dengan orang Makassar misalnya, di Jawa wanita dilamar oleh laki-laki dengan mahar yang rata-rata tidak begitu mahal, sedangkan di Makassar semakin mahal yang diberikan menandakan harga diri (prestise) dari wanita tersebut. Membincangkan budaya Jawa terlebih dahulu perlu diketahui siapa masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa merupakan orang-orang yang bertempat tinggal, bergaul, dan berkembang di pulau Jawa yang kemudian mengembangkan tradisi dan kebudayaan yang khas dan berkarakteristik Jawa. Pemahaman demikian menyiratkan pada kata kunci “Khas dan berkarakter Jawa”. Ibarat minuman Sprite, ia memiliki trade mark. Meskipun ia pindahkan dari asalnya, tetap saja orang memaknai bahwa ia adalah minuman produk Coca-Cola dari Amerika. Padahal minuman tersebut telah menjadikan minuman keseharian sebagain masyarakat Jawa. (Moh. Roqib, 2007) Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh atau tata krama. Tata krama yang detail dalam segala perilaku. Ada sebutan mikur duwur mendem jero (mengangkat tinggi dan mengubur dalam-dalam) digunakan untuk memberikan pesan agar orang berkenan menghormati orang tua dan pimpinan, ojo ngono ora ilok (jangan begitu tidak baik), tidak baik dinyatakan dengan ora ilok, menunjukkan bahwa ada kesan sakral, dan masih banyak istilah sesanti yang dipakai oleh orang Jawa. Budaya lokal Indonesia khususnya budaya Jawa yang muncul akibat interaksi

masyarakat, kebiasaan, norma-norma yang berlaku sangatlah banyak jumlahnya dan menjadi menarik untuk dikaji secara antropologi. Dalam makalah ini penulis hanya akan mengambil

seni budaya Begalan di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Budaya Begalan tersebut masih tetap bertahan meskipun zaman terus berevolusi dan penulis berharap tulisan ini mampu menghadirkan semangat untuk terus mempertahankan budaya ini karena di dalamnya terdapat banyak nasehat-nasehat baik bagi mempelai dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

1.2.Rumusan Masalah: 1. Siapa yang mengadakan begalan dalam upacara pernikahannya? 2. Mengapa mereka mengadakan begalan tersebut? 3. Bagaimana upacara begalan tersebut dilaksanakan?

1.3. Tujuan: 1. Mengetahui siapa saja yang mengadakan upacara begalan dalam pernikahannya. 2. Mengetahui alasan dan filosofi dari budaya upacara begalan. 3. Mengerti bagaimana tata cara diadakannya upacara begalan.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1. Memahami Kebudayaan Menurut Djoko Widagdho (dalam Sujarwa, 1999) kebudayaan dalam bahasa Belanda cultuur, culture (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Bertolak dari arti tersebut, kemudian kata culture ini berkembang pengertiannya menjadi “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.” Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian “ke-budaya-an” dapat diartikan sebagai “hal yang bersangkutan dengan akal.” Dikatakan oleh Koentjoroningrat (dalam Sujarwa, 1999) ada sarjana lain, yang mengupas kata “budaya” sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk “budi-daya”, yang berati daya dari budi. Karena itu, mereka membedakan pengertian “budaya” dengan kebudayaan. Budaya adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu. Sementara itu, A. L. Krober dan C. Kluchohn dalam bukunya yang berjudul Culture, A Critical Review of Concept and Definition (1952) pernah mengumpulkan definisi tentang kebudayaan tersebut kurang lebih ada 160 macam definisi. Berbagai definisi itu, antara lain: 1. R. Linton dalam bukunya yang berjudul the Cultural Background of Personality menyatakan bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku dan hasil laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. 2. Melville J. Herskovits mendefinisikan kebudayaan sebagai bagian dari lingkungan buatan manusia (Man made part of the environment). 3. Dawson dalam buku Age of Gods mengatakan bahwa kebudayaan adalah cara hidup bersama (culture is common of life).

4. J. P. H. Dryvendak mengatakan bahwa kebudayaan adalah kumpulan dari cetusan jiwa manusia sebagai yang beraneka ragam berlaku dalam suatu masyarakat tertentu. 5. Ralph Linton memberikan definisi bahwa kebudayaan itu adalah sifat sosial manusia yang turun-temurun (Man’s social heredity). 6. Prof. Dr. Koentjoroningrat mengatakan bahwa kebudayaan itu adalah keseluruhan kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang diatur oleh tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan belajar, dan semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. 7. Sultan Takdir Alisyahbana mengatakan kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir. Definisi-definisi tersebut kelihatannya berbeda-beda, namun semuanya berprinsip sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia, meliputi perilaku dan hasil kelakuan manusia, yang diatur oleh tata kelakuan dan diperoleh dengan belajar yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, di dalam masyarakat kebudayaan sering diartikan sebagai the general body of the art, yang meliputi seni sastra, seni musik, seni pahat, seni rupa, pengetahuan filsafat, atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia. Kesimpulannya bahwa kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. (Djoko Widagdho dalam Sujarwa, 1999) Pengertian kebudayaan tersebut dapat pula diartikan mencakup segala ciptaan dan tatanan perilaku manusia, baik yang indah (menurut kita) maupun yang tidak indah, yang serba adab (menurut penilaian kita) maupun yang tidak. Budaya ini bisa diikuti secara menyeluruh oleh warga masyarakat (universe), atau mungkin hanya oleh suatu kelompok secara khusus (speciality). Adapun pewarisannya dapat berlangsung melalui suatu transmisi sosial yang disebut “proses belajar-mengajar”, sedangkan perawatannya berlangsung melalui proses penciptaan (termasuk: improvisasi dan revisi-revisi). Proses belajar-mengajar adalah suatu proses exterogestation yaitu proses penjadian/penumbuhan anak di luar kandungannya. Sedangkan, proses pewarisan pola perilaku ingstingtifnya adalah suatu proses uterogestation. Menurut Sujatmoko (dalam Sujarwa, 1999) secara antropologis setiap kebudayaan atau sistem sosial adalah baik bagi masyarakatnya, selama kebudayaan atau sistem tertentu dapat menunjang kelangsungan hidup masyarakat yang bersangkutan. Karenanya sistem masyarakat yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipertanyakan manakah yang lebih

baik. Kebudayaan merupakan penjelmaan manusia dalam menghadapi waktu, peluang, kesinambungan dan perubahan yakni sejarah. Dengan demikian, dalam kondisi sosial budaya yang berbeda maka akan berlainan pula bentuk manifestasinya. Meski begitu, hakekat yang melandasi sistem sosial budaya tetap sama dalam berbagai bentuk menifestasi tersebut. Karena kebudayaan itu sendiri merupakan perwujudan dari budi, yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Cipta adalah kerinduan manusia untuk mengetahui rahasia segala hal yang ada dalam pengalamannya, yang meliputi pengalaman lahir dan batin. Hasil cipta tersebut berupa berbagai ilmu pengetahuan. Karsa merupakan kerinduan manusia untuk menginsyafi tentang “sangkan peran”; dari mana manusia itu sebelum lahir (sangkan), dan ke mana manusia sesudah mati (paran). Rasa adalah kerinduan manusia akan keindahan, sehingga menimbulkan dorongan untuk menikmati keindahan. Manusia merindukan keindahan dan menolak keburukan/kejelekan. Buah perkembangan rasa ini terjelma dalam bentuk berbagai norma keindahan yang kemudian menghasilkan berbagai macam kesenian. (Djojodiguno dalam Sujarwa, 1999)

2.2. Memahami Sandi Budaya Kesulitan yang mula-mula timbul dalam mengkaji budaya ialah bahwa kita tidak terbiasa menganalisis pola budaya; bahkan kita jarang menyadarinya. Seolah kita –– atau manusia dari masyarakat yang manapun –– dibesarkan dengan pemahaman mengenai dunia melalui kacamata yang mempunyai lensa kabur. Hal-hal, peristiwa-peristiwa, dan hubunganhubungan yang kita nggap berada “di luar sana” pada kenyataannya disaring melalui layar persepsi ini. Reaksi pertama, mau tak mau, pada waktu menjumpai orang-orang yang mengenakan kacamata yang berlainan ialah menganggap perilaku mereka sebegai aneh atau keliru. Memandang cara kehidupan masyarakat lain menurut kacamata budaya kita sendiri dinamakan etnosentrisme. Proses menyadari, menganalisis kacamata kita sendiri adalah justru tindakan yang menyakitkan. Kita melakukan yang terbaik bila kita mempelajari kacamata lain orang. Walaupun kita tidak akan pernah bisa melepas kacamata kita dalam memahami dunia “seperti apa adanya” atau berusaha melihat melalui kacamata lain orang tanpa mengenakan kacamata kita, kita paling tidak dapat belajar banyak tentang persepsi kita sendiri. (Roger M. Keesing, 1999)

2.3. Budaya sebagai Milik Publik, Budaya Sebagai Milik Perorangan Pandangan tentang budaya inilah sesungguhnya yang menjadi topik permasalahan yang diperdebatkan dengan seru oleh para pakar Antropologi masa kini. Para pakar yang, seperti Greetz, berpendapat bahwa budaya dalah sistem dari tujuan masyarakat, bukannya sandi perorangan di benak masing-masing anggota masyarakat, menunjuk ke arah pengertian “budaya Bulgaria” yang telah ada sebelum (dan terlepas dari) kelahiran setiap orang Bulgaria. Mereka berpendapat bahwa budaya – seperti misalnya bahasa Bulgaria – terdiri dari kaidah-kaidah dan makna-makna yang menembus benak perorangan. Mereka berpendapat bahwa berbagai suatu sistem konseptual, budaya Bulgaria tersusun (dan mengalami perubahan) menurut cara-cara yang tidak mudah dipahami jika kita memandangnya sebagai suatu susunan yang diketahui oleh setiap orang Bulgaria. Argumentasi kontra yang mendukung apa yang oleh Schwartz (1978) disebut sebagai “model distribusi budaya” sama tangguhnya. Pandangan ini menganggap distribusi ragamragam bagian tradisi budaya di antara para anggota masyarakat sebagai suatu hal yang penting. Menurut Schwartz (dalam Roger, 1999) distribusi budaya di antara para anggota masyarakat menembus keterbatasan perorangan dalam penyimpangan, penciptaan, dan penggunaan masa budaya. Model distribusi budaya memperhitungkan baik keragaman maupun kebersamaan. Adalah keragaman yang meningkatkan inventaris budaya, tetapi adalah persamaan yang menjawab taraf komunikasikabilitas dan koordinasi. Pandangan distribusi budaya seperti ini dapat menghitung berbagai segi pandang yang berbeda tentang tata cara kehidupan kaum wanita dan pria, muda dan tua, spesialis dan nonspesialis. “Budaya” dipandang sebagai himpunan pengetahuan untuk masing-masing orang punya andil dalam cara dan taraf yang berbeda. Menurut Schwartz, pengetahuan pakar garis keturunan, di Manus (sebuah pulau di Papua Niugini) tersedia guna mengartikan berbagai peristiwa yang terjadi, dan kalau dia mati, tanpa mewariskan pengetahuan ini kepada anak didiknya, budaya yang bersangkutan mengalami perubahan yang sangat berarti. Para pakar antropologi yang mengajukan pandangan distribusi budaya seperti ini berpendapat bahwa cara tersebut memberi sarana yang lebih baik guna memahami perubahan, daripada menggambarkan “budaya” (“budaya Manus”, “budaya Bulgaria”), sebagai suatu sistem yang eksternal dari dan menembus masing-masing anggota masyarakat.

Di sini kita sampai pada inti persoalan. Di dalam masyarakat Manus dan Bulgaria yang sesungguhnya, pengetahuan tentang dunia tersusun di benak masing-masing orang beragam dari orang yang satu ke orang yang lain, dari sub-kelompok yang satu ke sub-kelompok yang lain, dari daerah yang satu ke daerah yang lain, beragam menurut umur, jenis kelamin, pengalaman hidup, dan pandangan. Namun masing-masing orang memiliki sandi yang sama, yang terutama terbenam di bawah alam sadar, yang memungkinkan mereka mampu berkomunikasi, hidup dan bekerja di dalam kelompok, mengantisipasi dan menafsirkan perilaku mereka satu sama lain. Mereka membagi dunia yang berisi makna yang umum, walaupun titik pandang masing-masing orang berbeda. Dalam menjelaskan “budaya”, para pakar antropologi berusaha menangkap apa yang dimiliki bersama, sandi dari kaidah-kaidah yang dimiliki bersama dan makna-makna umum. Kita menguraikan suatu sistem budaya atau suatu budaya jika fokus kita tertuju pada unsur-unsur yang umum dari sandi di dalam masyarakat (seperti halnya bila para pakar bahasa berbicara tentang “bahasa Inggris”, dan bukan dialek lokal atau ragam perorangan). Dalam dunia nyata, pengetahuan yang kita uraikan sebagai budaya, selalu didistribusikan di antara individu di dalam masyarakat. Lebih lanjut, susunan pengetahuan perorangan tentang dunia, misalnya susunan bahasa, dibatasi dan dibentuk oleh struktur pemikiran dan otak. Warisan masyarakat berupa pengetahuan budaya, dipengaruhi oleh banyak kendala “dunia nyata”: ia harus membawa manusia untuk berkembang biak, mengasuh anak, menyediakan pangan, dan mengatur kehidupan sosial mereka dalam cara-cara yang mempertahankan penduduk di dalam suatu ekosistem, bila ini tak terpenuhi ia tidak akan bertahan sebagai suatu tradisi budaya. Tetapi suatu tradisi budaya, sebagai suatu komposisi dari berbagai konseptualisasi perorangan mengenai dunia mereka, juga harus (seperti halnya bahasa) bisa dipelajari dan digunakan oleh binatang yang punya otak seperti otak manusia. Jika kita menguraikan budaya sebagai sesuatu yang melayang-layang dan berada di luar individu yang berperan serta di dalamnya, kita bisa mengalami risiko menciptakan suatu sistem palsu, yang tidak bisa dipelajari dan digunakan oleh manusia. (Roger M. Keesing, 1999)

2.4. Heterogenitas Kebudayaan Jawa Kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat Jawa dengan beberapa variasi dan heterogenitas masyarakat yang berkembang, baik di wilayah Jawa

Tengah, Yogayakarta, maupun di Jawa Timur. Sub-budaya Jawa telah berakulturasi dengan budaya Sunda di Jawa Tengah bagian barat dan berakulturasi dengan budaya Madura untuk Jawa Timur di sebelah Timur. Sub-budaya Jawa juga berkembang di lingkungan masyarakat Jawa yang bermigrasi ke luar Jawa atau luar negeri. Mereka mengembangkan budaya Jawanya yang kemudian berkembang dan memiliki karakteristik tersendiri dan khas. Secara sosiologis, kebudayaan akan berdialog dengan individu dan kelompok sosial di mana individu akan memberi kontribusi terhadap perkembangan kebudayaan sebagaimana orang lain secara individual maupun kelompok selalu memberikan saham untuk pengembangan dan perubahan terhadap budayanya. Keniscayaan berakulturasi seperti ini memberikan pemahaman bahwa budaya itu hidup dan berkembang sesuai dengan dinamika masyarakatnya. Berpegang pada budaya berarti berpegang pula pada pergerakannya yang dinamis. Setiap interaksi individu membawa kontak dan kontrak sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedua belah pihak akan saling beradaptasi dan mengembangkan dirinya sesuai dengan persepsi dan kemampuannya. Proses interaksi sosial seperti ini terus berlangsung secara kontinu di berbagai kesempatan dan kondisi. Dinamika sosial untuk selalu berproses menjadi tak bisa dipungkiri oleh siapa pun, termasuk bagi komunitas sosial yang dianggap konservatif dan statis. Setiap komunitas sosial memiliki daya kreatifnya sendiri yang khas untuk mengantisipasi problem yang dihadapi dan bagaimana mereka agar tetap eksis dalam kehidupan. Berdasarkan pengalaman yang tertempa bertahun-tahun, mereka dapat mengambil sari pati perilaku bijak yang diyakini bersama untuk mengurai kelemahan, keterbatasan, dan kendala hidupnya. Di sinilah muncul local wisdom, kebijakan lokal yang khas dan efektif bagi komunitas tersebut yang bisa jadi tidak berguna sama sekali dalam komunitas lain. Interaksi yang beragam dan sentuhan dengan dunia luar yang berbeda memunculkan heterogenitas sub-budaya Jawa. Menurut pandangan orang Jawa sendiri, kebudayaannya tidak merupakan suatu kesatuan yang homogen. Mereka sadar akan adanya keanekaragaman yang sifatnya regional, sepanjang daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Keanekaragaman regional kebudayaan Jawa ini sedikit banyak cocok dengan daerah-daerah logat bahasa Jawa, dan tampak juga dalam unsur-unsur seperti makanan, upacara-upacara rumah tangga, kesenian rakyat dan seni suara. Pemahaman tentang keadaan lingkungan-

lingkungan alam pulau Jawa dan keanekaragaman kebudayaan itu amat penting dalam studi tentang masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa memiliki pandangan yang pasti mengenai kebudayaan Banyumas yang daerahnya meliputi bagian barat daerah kebudayaan Jawa. Lebih khusus bagian tenggaranya dan daerah Bagelen, dapat dipandang sebagai dua sub-daerah kebudayaan. Kecuali logat Banyumasan yang sangat berbeda, juga masih ada sisa-sisa dari bentuk oraganisasi kuno, seperti perserikatan macapat yang terdiri dari lima desa tetangga, upacaraupacaran sepanjang lingkaran hidup yang bersifat khas, suatu folkloor yang khas, dan bentuk-bentuk kesenian daerah yang khas pula, terutama yang menunjukkan sifat-sifat khususnya. Meskipun keragaman budaya Jawa ini begitu banyak, tetapi kebudayaan Jawa pada hakikatnya berakar di kraton dan berkembang di Yogyakarta dan Solo. Kedua wilayah ini seakan menjadi barometer dan referensi budaya Jawa yang paling bergengsi. Wilayah lain memandang diri inferior jika berhadapan dengan tradisi dua kraton ini. Perkembangan peradaban seperti ini mempunyai suatu sejarah kesusastraan yang telah ada sejak empat abad yang lalu, memiliki kesenian yang maju berupa tari-tarian dan seni suara kraton, serta yang ditandai oleh suatu kehidupan keagamaan yang sangat sinkretistik, campuran dari unsurunsur agama Hindu, Budha, dan Islam. Hal ini terutama terjadi di kota kraton Solo, di mana berkembang berpuluh-puluh gerakan keagamaan kontemporer, yang disebut gerakan kebatinan. Daerah istana-istana Jawa ini sering disebut Negarigung. Akulturasi budaya Jawa dengan kebudayaan asing akan memunculkan kebudayaan baru yang merupaan bagian dari varian budaya Jawa. Varian seperti ini akan berimplikasi pada pembentukan budaya baru pada suatu saat, dan pada masanya kebudayaan itu bisa menjadi kebudayaan yang mandiri sesuai dengan perkembangan dan dinamika budaya tersebut. Varian budaya Jawa mungkin masih tertinggal dan bisa diketahui asal-usulnya bahwa kebudayaan tersebut pernah menjadi bagian dari kebudayaan Jawa. Heterogenitas budaya Jawa seperti ini merupakan keniscayaan sejarah dan berlaku untuk kebudayaan apapun di dunia ini. Varian-varian budaya sebagai konsekuensi dari akulturasi budaya ini semakin agresif bersamaan denga perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang mampu membentuk “desa buwana” yang menunjukkan semakin tipis batas budaya suatu bangsa dengan bangsa lain.

Masyarakat Jawa sedang bergerak maju dengan cepat ke dalam arus peradaban dunia masa kini, tetapi orientasi nilai budaya, sikap mental, dan gaya hidup pegawai negeri Jawa masih merupakan hambatan utama terhadap gejala itu. Dalam hal ini Koentjaraningrat menyatakan: “Saya ingin menyarankan agar diadakan penelitian extensif untuk menguji hipotesis saya yang berbunyi: ‘…apabila suatu kebudayaan atau sub-kebudayaan di dalam sebuah kelas tertentu dalam suatu masyarakat memiliki suatu tradisi turun temurun yang sudah mantap, dan yang karena itu memiliki kepentingan untuk mempertahankan tradisi kuno dan panjang itu, maka akan ada kecondongan timbulnya sikap penolakan lebih intensif terhadap perubahan kebudayaan, daripada dalam kebudayaan atau sub-kebudayaan yang tidak mempunyai tradisi yang panjang.” Setiap proses interaksi sosial pasti akan melahirkan akulturasi budaya dan pada gilirannya akan mengubah budaya yang ada atau bahkan membentuk budaya baru. Apakah kekhawatiran Koentjaraningrat benar-benar terjadi bahwa ada penolakan terhadap perkembangan budaya Jawa yang sudah mapan dan ada kecenderungan untuk memapankan budaya ini. Dalam pengertian, pengukuhan budaya Jawa yang positif dan mencari model budaya baru yang lebih baik merupakan misi Islam dengan jargon ushul fiqh, al-muhafazah, ‘ala al-qadim al-shahih wa al-akhdzu bi jadid al-ashlah, mempertahankan kebudayaan lama yang baik dan mengambil kebudayaan baru yang lebih baik. Jalan alternatif yang harmonis terhadap perkembangan budaya Jawa tersebut realistis, sebab, realitas di lapangan tidak ada kebudayaan yang statis. Kebudayaan mesti berjalan dan berkembang sesuai dengan lingkungan individu dan sosial di mana budaya itu akan menemukan jati dirinya. Budaya Jawa juga demikian, upaya peningkatan dan akulturasi budaya telah membentuk pemahaman baru yang mungkin belum pernah terjadi saat pertanyaan tersebut dikemukakan. (Moh. Roqib, 2007)

2.5. Budaya Begalan di Banyumas Kata ‘begal’ (Jawa) berarti perampok atau perampas paksa di tengah perjalanan seseorang. ‘Mbegal’=merampok; ‘begalan’ bearti menirukan cara perampok melakukan penghadangan di tengah perjalanan seseorang. Di wilayah eks Karesidenan Banyumas, kata

‘begalan’ dikenal sebagai seni pentas arena dengan misi memberikan nasehat perkawinan kepada mempelai. Seni begalan, pada awalnya digelar menjelang pelaksanaan prosesi akad nikah. Akan tetapi kemudian bergeser dan digelar sesuai prosesi akad nikah, yakni pada saat prosesi adat panggih, seusai acara pidak endog (injak telur), saat memasuki singgasana temantin. Dengan membudayanya model resepsi berdiri, seni begalan pun kemudian digelar pada saat mempelai akan memasuki ruang resepsi, diawal perjalanannya menuju pelaminan. Seni begalan ini hendaknya tidak dibayangkan sebagai adegan merampok sang pengantin, tetapi semata-mata merampas waktu perjalanan sang pengantin menuju pelaminan untuk memberikan bekal kepada kedua mempelai bahwa kehidupan berumah tangga bukanlah hal yang penuh kebahagiaan semata, melainkan kehidupan bersama yang penuh tantangan dan persoalan rumit. Akan tetapi, hal itu bisa dipecahkan dengan mengambil hikmah yang tersirat dibalik ujian dan cobaan yang menimpanya. Pentas seni rakyat ini diciptakan mirip dengan seni tari edan-edanan (gila-gilaan) yang digelar pada saat yang sama bagi pengantin kraton Surakarta pada masanya. Bedanya saat mempelai kraton itu menuju ke pelaminan, mereka disambut oleh sepasang penari abdi dalem inang (pengasuh) kedua mempelai. Kedua inang menari-nari bergembira ria, menyambut sang raja sehari, dan merintis jalan keduanya sambil membersihkan segala bala (kekuatan jahat) di sepanjang jalan menuju pelaminan. Bakti awal kedua inang itu dicurahkan dalam sajian seni tari permainan sandiwara (historionism) yang kocak dan mengundang tawa yang hadir dalam perhelatan itu. Seolah mereka mengungkapkan rasa bangga dan bahagia atas tugas baru mereka sebagai inang sang mempelai yang memasuki hidup baru. Analisis ini disimpulkan dari unsur kemiripan saat digelarnya pementasan serta dari deskripsi sejarah diciptakanya seni begalan itu sendiri. Menurut riwayatnya, seni begalan itu mulai dipentaskan setelah Raden Tumenggung Yudanegara IV dilengserkan dari jabatannya sebagai Adipati Kabupaten Banyumas oleh pemerintah Inggris. Adipati Raden Tumenggung Yudanegara IV sebagai Adipati Banyumas ke-10, bercita-cita agar Kabupaten Banyumas bisa mandiri sebagai daerah perdikan (dibebaskan dari pajak) atau menjadi daerah otonom, serta tidak lagi menjadi bawahan langsung Kasunanan Surakarta. Saat itu, kasunanan sudah menjadi bawahan Pemerintah Kompeni Belanda. Oleh pihak Kasunanan Surakarta, cita-cita itu dianggap mbalelo sehingga

dilaporkan kepada Gubernur Jendral Belanda, dan sekaligus mengusulkan agar diberi hukuman penurunan jabatan dari Adipati menjadi Mantri Anom. Terhadap laporan dan usulan itu, Gubernur Jendral Belanda dengan senang hati memenuhinya sekaligus menetapkan penggantinya, yakni Raden Tumenggung Yudanegara sebagai Adipati Banyumas ke-11. Menurut cerita, mantan Adipati Raden Tumenggung Yudanegara IV itu kemudian bermunajat. Dalam munajatnya itu, dia mendapatkan ilham untuk menciptakan seni begalan. Seni itu dimaksudkan sebagai sarana untuk penyucian diri dengan tujuan membuang nasib sial (suker) yang menimpanya agar segera kembali mendapatkan kebahagian dan keselamatan baik bagi dirinya maupun bagi anak cucunya. Seni begalan berupa tutur sembur, yakni penyampaian riwayat pengalaman, gagasan, dan nasehat kepada anak-cucu dan kerabat agar mampu menghindari hal-hal yang menyebabkan bala (petaka/bencana) dengan tetap memerhatikan dengan sebaik-baiknya halhal yang ‘wajib dibela dengan teguh’ dengan mempertahankan paugeran (hukum) dan pathokan (pegangan/adat) kehidupan masyarakat. Di balik yang tersurat dalam tutur-sembur itu, tersirat pesan bahwa cita-cita mengutamakan kepentingan rakyat Banyumas untuk mandiri sebagai daerah otonom (perdikan) yang bebas dari penjajahan Inggris memiliki paugeran dan pathokan yang kokoh dalam sanubarinya. Hanya kondisi zaman saat itulah yang tidak memihak kepadanya. Hal itu perlu diketahui seluruh rakyat Banyumas, yaitu dengan cara mengadakan ruwat uwal ruweda (lepas dari keruwetan hidup) agar merasa lega karena telah menuangkan citra pendiriannya yang kokoh dan benar dalam sebuah pesan tersirat, seni begalan. Oleh rakyat Banyumas, seni itu kemudian dilestarikan dan dipentaskan pada saat melaksanakan hajat mantu kapisan (menikahkan anak perempuan pertama kali) dengan tujuan membuang suker (hal negatif yang mungkin menghalangi, membuat sakit hati) yang akan mengotori jalan hidup baru bagi kedua mempelai. Setiap seni pertunjukan rakyat, tentu saja sarat simbol yang berupa nasehat dan kenangan bersejarah (historic). Seiring perjalanan waktu dan pola pewarisan melalui tradisi lisan kepada pewarisnya, seni pertunjukan rakyat selalu mengalami perubahan, penambahan, bahkan terkadang pemutarbalikan (distortion). Tidak terkecuali dengan perjalanan seni begalan ini.

Dalam tradisi Jawa, tata adat tolak bala (menolak kekuatan jahat yang mengganggu jalan hidup) selalu dikemas dalam bentuk seni dalam berbagai versi penyajian, sesuai jenjang usia dan motif halangan para sukerta (yang dibersihkan dari bala dan dimuliakan hidupnya). Berbagai cara ruwatan, misalnya pentas wayang purwa dengan lakon Murwakala adalah model tolak bala bagi anak-anak yang terlahir dalam golongan dihalalkan dimangsa oleh Barata Kala, putera Batara Guru, raja para dewa yang terlahir dari kama salah, mani yang menyimpang dari alur wajar akibat dari serat nafsu bilahi (celaka), bukan birahi (cintakasih). Upacara angsul-krami (nikah ulang) adalah ruwat ulang-nikah bagi mereka yang telah melakukan pelanggaran terhadap sumpah suci pernikahan di tengah hidup sebagai suami-istri sehingga banyak sandungan dalam membina keluarga. Seni tari edan-edanan dan juga begalan adalah model lain ruwatan untuk pengantin baru, khususnya saat mantu anak perempuan pertama. Upacara pangur (perataan ujung gigi rahang atas) bagi perawan yang akil-baligh adalah model lain dari ruwatan. Sama seperti upacara sunatan (khitan) bagi anak laki-laki dan tetesan bagi anak perempuan. Begalan yang pertama dipertunjukkan oleh mantan Adipati Banyumas Raden Tumenggung Yudanegara IV, sesungguhnya bukan dilaksanakan pada saat dia melaksanakan hajat mantu puterinya, melainkan dalam suatu upacara ruwat uwal-ruweda (pelepasan diri dari kekalutan hidup). Perjalanan hidup manusia akan selalu dipenuhi berbagai hal yang membahagiakan maupun yang menyusahkan. Oleh karena itu, manusia harus memiliki bekal berupa pengalaman dari orang yang telah banyak makan asam-garam kehidupan. Ibaratnya, orang memasak harus mampu mengenal berbagai jenis masakan dan bumbu agar mampu menghidangkan masakan yang lezat. Tanpa kemampuan itu, masakan yang dihasilkan tentu tidak akan lezat dan nikmat. Segala petatah-petitih dalam begalan dilakukan oleh Kaki Wira (kakek pewira) dan Kaki Sura (kakek pemberani). Kaki Wira sebagai cucuk-lampah (perintis jalan) rombongan mempelai, sedang Kaki Sura bertindak sebagai sang begal (perampok waktu perjalanan). Saat Ki Wira dan rombongan siap berangkat, tiba-tiba muncul Ki Sura yang memikul ubarampe (alat-alat) dapur. Dengan suara lantang dan bersikap berwibawa, Ki Sura menghentikan rombongan pengantin itu. Tentu saja, Ki Wira menjadi berang. Sebagai komandan, ia merasa dilecehkan. Kemudian terjadi dialog ketus, penuh emosi, namun Ki Sura dengan wibawa dan kekocakannya mampu menjinakkan Ki Wira. Dialog pun berlanjut

dengan akrab. Ki Sura menyampaikan amanahnya sebagai caraka (duta) dari pertapaan Awang-awung (Angkasa Raya), diutus Sang Pandhita untuk menyampaikan bekal hidup bagi kedua mempelai. Maka dia pun menguraikan satu per satu makna segala simbol dari alat dapur yang dipikulnya itu dalam berbagai macam nasehat, bekal hidup berumah tangga. Semua hal dan perkara dicontohkan dalam laku (olah-hidup) dan lakon (perkara hidup), disimbolkan dengan berbagai jenis alat dapur, seperti tipas (kipas), kukusan, irus (cedok), serok goreng, susuk, cething (bakul nasi), saringan santan, siwur (gayung), enthong (senduk nasi), layah dan uleg (alat penggerus), talenan (landasan mengiris), dan jengkok (dingklik). Seluruhnya terbuat dari bambu, kayu, atau batok kelapa yang digantungkan pada angkring (pikulan bambu berkaki rangkap). Angkring adalah simbol kemandirian keluarga yang mampu berdiri sendiri (otonom). Kedua pasang kakinya merupakan simbol suami-istri yang mampu menopang segala kebutuhan dan beban, yang dijalaninya dengan diam dan ikhlas. Akan tetapi, harus diingat bahwa kekuatan manusia itu ada batasnya sehingga mereka harus hidup sesuai ukuran dan kekuatan diri sendiri. Jangan menggunakan ukuran/kekuatan orang lain. Kipas berfungsi ganda, bisa menyejukkan diri saat kegerahan, bisa pula untuk mengobarkan api di dapur. Akan tetapi, jangan sekali-kali ngipas-ipasi tetangga/orang lain karena bersifat fatal bagi semua pihak, termasuk bagi yang ngipasi. Bermain api hangus, bermain air basah. Irus berfungsi mengolak-alik sayur yang sedang dimasak agar bumbu merata. Ini menyimbolkan bahwa segala sesuatu atau perkara hendaknya diolah-pikir berdua dengan sebaik-baiknya, diputuskan secara mufakat, dan jangan sampai melakukan aksi sepihak yang berakibat terjadinya penyesalan di kemudian hari. Cething (bakul nasi) adalah wadah rezeki. Ia perlu diisi ketika sudah kosong dan demikian juga seterusnya. Itulah rezeki yang mesti dicari lewat kerja sepanjang hidup. Jika tidak diisi, tentu centhing itu akan kosong karena tuntutan kebutuhan hidup yang beraneka macam. Kukusan tempat beras dimasak menjadi nasi. Meskipun kukusan dan beras tak terndam air saat dimasak, beras matang menjadi nasi oleh uap air jerang di bawahnya. Itulah gambaran dari panasnya gejolak kehidupan ini. Jangan sampai diterjuni secara langsung apa adanya, namun ambillah uapnya, makna yang tersirat dari gejolak itu. Untuk memahaminya, butuh waktu sepenanak nasi (beberapa waktu yang tidak terlalu lama). Kenikmatan dan

kebahagian itu butuh waktu dan tenaga untuk mendapatkannya. Begitulah, antara lain, nasehat dan pesan yang disampaikan oleh sang begal, satu per satu hingga tuntas. Setelah semua amanah sudah selesai disampaikan, barang-barang itu diserahkan kepada Ki Wira. Oleh Ki Wira, para tamu yang belum pernah melakukan hajat mantu dipersilahkan untuk memilih apa yang diperlukan agar berkah hajat mantu kali ini segera bergulir kepada mereka. Para tamu, khususnya ibu-ibu, seling berebutan sehingga menambah kemeriahan pesta pernikahan itu. (Budiono, 2005) Kostum yang dipakai sangat sederhana. Mereka hanya mengenakan pakaian adat Jawa saja. Pakaian yang digunakan untuk pementasan antara lain: Pakaian seni Begalan terdiri dari : 1) Baju Kokok Hitam 2) Stagen dan Sabuk 3) Celana Komprang berwarna Hitam 4) Kain Sarung 5) Sampur atau Selendang menari 6) Ikat Wulung berwarna Hitam Cara mengenakan pakaian, pertama – tama celana dan baju lalu kain yang diberi stagen dan ikat panggung. Jika tidak ada kain boleh menggunakan sarung. Sampur dikalungkan pada lehernya. Terkadang Kaki Wira memakai topi kukusan. Kaki Sura membawa pedang wlira. Make up–nya sederhana. Dahulu mereka menggunakan langes atau arang yang dihaluskan kemudian dicampurkan minyak kelapa. Campuran berwarna hitam untuk merias muka, membuat kumis, jambang, alis dan lain-lain. Bahan lain yang diperlukan yaitu bedak dan teres (sepuhan).

BAB III LAPORAN OBSERVASI

3.1. Setting Lingkungan Sosial Lingkungan yang menjadi objek observasi adalah daerah Kedungmalang dan sekitar Purwokerto Kabupaten Banyumas khususnya tempat tinggal penulis di Kedungmalang Rt. 01/01 Kec. Sumbang. Berangkat dari pengalaman pribadi penulis dan beberapa kerabat dekat penulis maka kemudian observasi dilakukan selama beberapa waktu yaitu Jumat, 23– 25 Maret 2012 dengan menanyakan beberapa pertanyaan pada nara sumber dan mengumpulkan data pengamatan dari pengalaman penulis.

3.2. Latar Belakang Kehidupan dari Aspek Budaya Subjek Subjek yang menjadi objek obeservasi penulis memiliki background budaya yang masih kental (murni), subjek merupakan orang Banyumas asli dengan kedua orang tua asli Banyumas dan jarang keluar kota. Dari background subjek yang ini penulis mencoba mengadakan interview dan pengumpulan data berdasarkan keikutsertaan penulis. Untuk mendukung data yang dikumpulkan, penulis juga mewawancarai seorang nara sumber yang sekiranya berkompeten tentang budaya Banyumasan terutama Begalan.

3.3. Realitas Budaya yang Terjadi Di era globalisasi ini sedang marak diadakannya resepsi pernikahan kebarat-baratan atau ketimur-timuran. Banyak dari kita yang sekarang cenderung meninggalkan adat istiadat pernikahan yang sejak dahulu dilakukan oleh nenek moyang kita. Padahal filosofi dari kebudayaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita jauh lebih dalam dan bermakna ketimbang mengikuti kebudayaan orang lain akan tetapi kita tidak mengetahui makna dari kebudayaan itu. Sekarang siapa yang mau ribet-ribet, habis akad ijab-qobul kemudian resepsi satu sampai dua jam selesai, jika menggunakan adat begalan ini prosesnya jauh lebih lama dan memakan biaya yang lebih banyak juga (wawancara subjek 1, 24 maret 2012). Namun,

ternyata seni budaya begalan ini belum punah, sebagian masyarakat Banyumas masih ada yang mengadakan upacara pernikahan ini. Sebagian dari mereka melaksanakan karena tuntutan adat masyarakat tetepi kebanyakan dari mereka yang melakukan begalan ini tahu betul arti dari adat tersebut dan tidak hanya ikut-ikutan. Masih banyak beberapa daerah di Banyumas ini yang tetap mengutamakan untuk melaksanakan upacara begalan, tetapi kalau daerah yang sudah dimasuki orang luar seperti di daerah perumahan-perumahan, jarang ditemukan upacara begalan ini. Namun ada beberapa perbedaan, dahulu sebenarnya adatnya dari sebelum menikah sampai setelah menikah. Seperti masari yaitu kedua mempelai diantar dengan rombongan keluarga ke pasar setelah seminggu pernikahan, midodareni yaitu malam wejangan sehari sebelum diadakannya pernikahan, kemudian kalau dahulu besan laki-laki tidak boleh datang karena kalau kata orang nanti dikira akan memberikan komentar negatif tentang acara yang dilakukan oleh pihak besan perempuan.Siapa saja bisa mengadakan begalan, tidak hanya kalangan bangsawan saja tetapi rakyat biasa juga bisa mengadakannnya. Untuk pembukuan atau penulisan secara sistematika budaya begalan ini belum ada, kalaupun ada pasti hanya cerita dari mulut ke mulut yang kemudian ditulis berdasarkan penuturan nenek moyang yang menuturkannya. (wawancara subjek 1, 24 maret 2012)

3.4. Peran dan Makna Aktivitas serta Simbol-simbol dalam Sistem Budaya Masyarakat Begalan adalah upacara adat pernikahan warga daerah Banyumasan, untuk daerah lain ada sebagian adat upacara yang sama tetapi Begalan itu sendiri khusus untuk wilayah Bayumas. Begalan ini dilaksanakan jika mempelai wanitanya putri pertama ataupun putri terakhir, sedangkan untuk mempelai laki-laikinya tidak diwajibkan sulung ataupun bungsu. Ada sebuah pantangan bagi anak perempuan selain anak pertama atau terakhir mengadakan begalan karena setelah pernikahan anak pertamanya biasanya dua tahun berturut-turut tidak boleh melaksanakan upacara pernikahan terlebih dahulu. Alasan dibalik diwajibkannya begalan untuk penikahan anak pertama karena anak pertama adalah acuan, orang Banyumas melepas anak perempuan pertamanya sangat sulit oleh karena itu dialah contoh bagi adik-adiknya dan alasan untuk anak terakhir juga begitu karena si bungsu butuh pemahaman ekstra agar tidak gagal dalam berumah tangga, biasanya kerena watak si bungsu yang manja. Arti dari begal sendiri memang rampok tetapi bukan

artinya rampok sungguhan, maksud dari begalan itu menghentikan (menyita waktu) jalannya mempelai pria ke pelaminan untuk memberikan wejangan-wejangan (nasehat-

nasehat/pidato-pidato). Dan di dalam begalan tersebut tidak ada unsur tolak bala, jika pun ada itu kepercayaan orang-orang dahulu. Untuk sekarang begalan ini hanya dititik beratkan pada nasehat-nasehat dari orang tua ke anaknya dalam mengarungi rumah tangga. (wawancara subjek 1, 24 maret 2012) Setelah lamaran disampaikan dan diterima oleh pihak calon mempelai wanita, sebelum pernikahan dilakukan terlebih dahulu dilakukan pingitan atau dilarangnya kedua calon mempelai bertemu selama satu minggu. Setelah itu diadakan malam midodareni dengan memberi wewejangan dan memohon kelancaran akad pernikahan esok hari untuk calon mempelai wanita yang berhias dengan hiasan seadanya. Keesokan harinya kedua mempelai melaksanakan akad dan upacara begalan ini. Pertama, mempelai pria berjalanan dari luar rumah hingga masuk menuju pelataran (halaman) mempelai wanita dipandu oleh Kaki Wira kemudian ritual ngidek telur lalu mempelai putri duduk di pelataran bersama mempelai pria, lalu setelah itu Kaki Wira membawa alat-alat dapur dengan memikulnya dan datanglah Kaki Sura yang menghentikan Kaki Wira dan terjadi pertengkaran sengit dengan saling beragumen, Kaki Wira menjelaskan alat-alat dapur yang dibawanya dan menjelaskan arti dari masing-masing alat tersebut, yaitu: Pikulan atau mbatan adalah alat yang terbuat dari bambu yang melambangkan seorang pria yang akan berumah tangga harus dipertimbangkan terlebih dahulu, jangan sampai merasa kecewa setelah pernikahan sehingga ketika seorang pria mencari seorang calon istri maka harus dipertimbangkan bibit, bobot, dan bebetnya. Ian merupakan alat untuk angi nasi terbuat dari anyaman bambu yang menggambarkan bumi tempat kita berpijak; ilir merupakan kipas yang terbuat dari anyaman bambu melambangkan seseorang yang sudah berkeluarga agar dapat membedakan perbuatan baik dan buruk sehingga dapat mengambil keputusan yang bijak saat sudah berumah tangga; cething adalah alat yang digunakan untuk tempat nasi terbuat dari bambu. Maksudnya bahwa manusia hidup di masyarakat tidak boleh semuanya sendiri tanpa mempedulikan orang lain dan lingkunganya. Manusia adalah mahluk sosial yang butuh orang lain; kukusan adalah alat untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut yang mempunyai arti kiasan bahwa seseorang yang sudah berumah tangga harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan

hidup semaksimal mungkin; centhong adalah alat untuk mengambil nasi pada saat nasi diangi, yang terbuat dari kayu atau hasil tempurung kelapa. Maksudnya seorang yang sudah berumah tangga mampu mengoreksi diri sendiri atau introspeksi sehingga ketika mendapatkan perselisihan antara kedua belah pihak (suami dan istri) dapat terselesaikan dengan baik. Selalu mengadakan musyawarah yang mufakat sehingga terwujudlah keluarga yang sejahtera, bahagia lahir dan batin; irus adalah alat untuk mengambil dan mengaduk sayur yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Maksudnya ialah seseorang yang sudah berumah tangga hendaknya tidak tergiur atau tergoda dengan pria atau wanita lain yang dapat mengakibatkan retaknya hubungan rumah tangga; siwur adalah alat untuk mengambil air terbuat dari tempurung kelapa yang masih utuh dengan melubangi di bagian atas dan diberi tangkai. Siwur merupakan kerata basa yaitu, asihe aja diawur-awur. Artinya, orang yang sudah berumah tangga harus dapat mengendalikan hawa nafsu, jangan suka menabur benih kasih saying kepada orang lain; saringan ampas atau kalo adalah alat untuk menyaring ampas terbuat dari anyaman bambu yang memiliki arti bahwa setiap ada berita yang datang harus disaring atau harus hati-hati; wangkring yaitu pikulan dari bambu. Filsafatnya adalah di dalam menjalani hidup ini berat ringan, senang susah hendaklah dipikul bersama antara suami dan istri. Mereka berdua berdamai setelah melakukan dialog yang di dalamnya mengandung banyak makna. Alat-alat dapur yang dibawa oleh Kaki Wira menjadi rebutan para tamu undangan setelah pembegalan selesai dilaksanakan. Kemudian kedua mempelai dipandu oleh besan wanita untuk ke pelaminan dan mereka dipangku di singgah sana, lalu kedua mempelai saling suap-menyuapi. Selesai ritual di pelaminan, giliran petuah–petuah yang disampaikan dari pihak laki-laki dan perempuan selanjutnya dilanjutkan untuk hiburan di penghujung acara. (pengamatan penulis, tanggal 9-10 April 2009)

BAB IV ANALISA, PEMBAHASAN DAN PEMBELAJARAN

4.1. Analisa Berdasarkan teori yang dikemukakan pada Bab II dan laporan observasi pada Bab III dapat dilihat bahwa secara keseluruhan teori dengan realita yang ada terdapat kesinkronan. Hanya pada penentuan subjek yang wajib melakukan ritual begalan ini terdapat perbedaan, dinyatakan dalam wawancara nara sumber anak perempuan pertama dan terakhirlah yang wajib mengadakan begalan dalam upacara pernikahannya sedangkan dalam teori dikatan bahwa yang wajib mengadakan adalah pernikahan anak perempuan pertama. Ditemukan perbedaan kedua yaitu menurut acuan teori terdapat unsur tolak bala dalam upacara begalan ini, namun hal ini dilawan oleh nara sumber dan subjek pengamatan penulis yang menunjukkan bahwa dalam prosesi begalan pada masa kini tidak ditemukan hal tersebut karena hampir semua ritual mengandung makna yang ditujukan untuk mengarahkan mempelai dalam mengarungi rumah tangga.

4.2. Pembahasan Berdasarkan data yang telah diperoleh, upacara begalan ini ternyata memiliki banyak makna bagi mempelai yang akan menempuh kehidupan baru, yaitu kehidupan berumah tangga. Upacara begalan ini terus bertahan seiring berkembangnya zaman karena di dalamnya penuh dengan sarat dan makna yang lebih banyak membawa kebaikan daripada keburukan. Proses begalan yang memakan waktu cukup lama pun tidak menjadi kendala bagi sang empunya hajatan ketimbang melaksanakan resepsi modern yang hanya berisi kemewahan semata. Untuk begalan sendiri sudah menjadi suatu kewajiban bagi masyarakat Banyumas khusunya ketika menikahkan anak perempuannya. Menurut mereka anak perempuan adalah tolak ukur dan contoh bagi adik-adiknya dalam berumah tangga selanjutnya sehingga mereka membutuhkan bekal yang banyak untuk mengarungi kehidupan berumah tangga dab begalan tersebut mencakup keseluruhan yang dibutuhkan sebagai bekal mempelai. Sehingga

wajar saja jika proses begal ini memakan waktu yang tidak sebentar karena penyampaian bekal tersebut dilakukan secara sakral dan hikmat.

4.3. Pembelajaran Melihat realitas yang terjadi tersebut sudah sepantasnya begalan ini tetap dibudayakan karena makna dan manfaat di dalam budaya ini. Kelatahan masyarakat kita yang cenderung meniru resepsi megah di gedung-gedung dan stand party dipandang kurang memberikan makna dan manfaat bagi mempelai yang akan memasuki kehidupan berumah tangga yang penuh rintangan dan hambatan. Masyarakat seharusnya semakin sadar dengan terus berkembangnya zaman maka masalah yang akan dihadapi oleh mempelai jauh lebih banyak dan kompleks. Sehingga dari sini, bekal dan nasehat-nasehat harus diberikan oleh kedua mempelai agar dalam mengarungi kehidupan berumah tangga mereka tidak gegabah mengambil keputusan cerai sebagai pemecahan masalah. Dari begalan ini terdapat pembelajaran yang sangat banyak yaitu: 1. Kehidupan berumah tangga tidak selalu bahagia dan harmonis akan tetapi penuh dengan rintangan dan batu ganjalan. 2. Kepintaran masyarakat dewasa ini saja tidak cukup untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan berumah tangga tetapi dibutuhkan nasehat dari sesepuh yang sudah lebih berpengalaman. 3. Semua tindak dan tutur kita selama ini haruslah mempunyai makna sebagaimana ritual begalan ini yang mempunyai arti dari dimulainya ritual hingga akhir. Tidak hanya tutur kata dalam ritual saja yang mengandung banyak makna, peralatan yang digunakan dalam begalan tersebut juga mempunyai arti untuk bekal mempelai dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. 4. Melestarikan kebudayaan baik bukan hanya tanggung jawab sesepuh, kalangan bangsawan (orang kaya) saja kita tetapi diperlukan peran aktif kalangan muda untuk terus mempertahankan dan tidak secara gelap mata menutup akulturasi karena kembali pada sifat kebudayaan yang dinamis dan bukan statis.

BAB V KESIMPULAN

Upacara begalan adalah upacara pernikahan bagi pernikahan anak perempuan pertama orang Banyumas. Upacara tersebut dilkhususkan bagi pernikahan anak pertama orang Banyumas dengan asumsi bahwa anak pertama adalah acuan dan contoh bagi adik-adiknya sehingga membutuhkan bekal yang banyak untuk mengatungi kehidupan berumah tangga. Dalam begalan ini diberikan bekal-bekal tersebut kepada kedua mempelai. Begalan sendiri bukan dikhususkan bagi kalangan tertentu saja, akan tetapi setiap lapisan masyarakat bisa dan boleh mengadakan begalan ini. Sehingga dapat disimpulkan begalan ini adalah adat kebiasaan orang Banyumas dalam menikahkan anak pertamanya untuk memberikan bekal mengarungi kehidupan berumah tangga di mana dalam begalan dijabarkan melalui arti dan makna dari alat-alat dapur dan petuahpetuah di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Haviland, William A. 1993. Antropologi, terj. R. G. Soekadijo. Jakarta: Erlangga. Herusatoto, Budiono. 2008. Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak. Yogyakarta: PT. Lkis Pelangi Aksara. Keesing, Roger M. 1999. Antropologi Budaya Suatu Perspektif Kontemporer, terj. Samuel Gunawan. Jakarta: Erlangga. Roqib, Moh. 2007. Harmoni Budaya Jawa. Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press & Pustaka Pelajar. Sujarwa. 1999. Manusia dan Fenomena Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Website: Andy. 2010. Begalan, Ritual dalam adat pernikahan Banyumas.

http://masandry.com/?p=2234 diakses Jumat, 23 Maret 2012 pukul 12:30

Lampiran

Wawancara dengan subjek 1, tanggal 24 Maret 2012 Nara sumber : Dr. Sugeng Priyadi, M. Hum Jenis kelamin : Laki-laki TTL Pekerjaan : Banyumas, 5 Maret 1965 : Dosen Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto : Assalamu’alaikum, betul ini ruangan Bapak Sugeng Priyadi? : Wa’alakumussalam, iya ada apa, Mbak? : Saya Gisella yang kemarin menghubungi Bapak, bisa saya minta waktu sebentar, Pak? Pak Sugeng Observer : Iya, saya punya waktu sebentar soalnya sebentar lagi dhzuhur, Mbak. : Nggih, Pak. Ini saya ada tugas observasi kebudayaan, saya ambil tema begalan di Banyumas ini, saya sudah browsing dan mengumpulkan data sewaktu saya ikut begalan, menurut Bapak sendiri begalan itu apa? Pak Sugeng : Begalan itu ya upacara adat pernikahan warga daerah Banyumasan mbak, untuk daerah lain mungkin ada sebagian adat upacara yang sama tetapi Begalan itu khusus sendiri untuk wilayah Bayumas. Observer : Dari informasi yang saya dapat begalan itu hanya dilakukan untuk putri pertama ya, Pak? Pak Sugeng : Iya begalan ini dilaksanakan kalau mempelai wanitanya putri pertama ataupun putri terakhir. Observer Pak Sugeng : Selain itu tidak wajib ya, Pak? : Iya. Pantangan juga buat anak perempuan selain anak pertama atau terakhir mengadakan begalan karena setelah pernikahan anak pertamanya biasanya 2 tahun berturut-turut tidak boleh menikahkan dulu. Observer Pak Sugeng : Kenapa harus anak putri pertama sih Pak? : Anak pertama yang jadi acuan, wong Banyumas nglepas anak wadon pertamane kan angel, nanti kalau-kalau di tengah berumah tangga ada apa-apa kan jadi contoh buat adik-adiknya, sebenarnya begalan itu punya tujuan biar anak

Observer Pak Sugeng Observer

pertamanya yang jadi contoh buat adiknya tidak gagal, kalau untuk anak terakhir juga begitu, kan si bungsu butuh pemahaman ekstra karena biasanya watak manja si bungsu. Observer Pak Sugeng : Arti dari begalan itu sendiri benar rampok ya, Pak? : Iya, itu arti dari begal memang rampok tetapi bukan artinya rampok sungguhan, maksud dari begalan itu menghentikan jalannya mempelai pria ke pelaminan untuk memberikan wejangan-wejangan (nasehat-nasehat/pidato-pidato). Observer Pak Sugeng : Katanya itu juga ada tolak bala gitu ya, Pak? : Ah, gak gitu juga mbak, itu kepercayaan orang-orang dulu. Tapi sebenarnya gak ada gitu-gitu, begalan yang dititik beratkan sekarang nasehat-nasehat dari orang tua ke anaknya dalam mengarungi rumah tangga yang kalau kita sekarang lihat resepsi pernikahan itu hanya temu tamu dan makan-makan saja. Observer Pak Sugeng : Oh, jadi ada pergeseran ya Pak dari budaya yang dulu dan sekarang ya? : Ya jelas, mbak. Lha wong sekarang siapa sih yang mau ribet-ribet, habis akad ijab-qobul terus resepsi satu sampai dua jam selesai, kalau pakai adat Jawa kayak begalan ini kan prosesnya jauh lebih lama dan memakan biaya yang lebih banyak juga. Observer : Tapi menurut Bapak untuk saat ini budaya begalan masih sering tidak dilakukan oleh warga Banyumas? Karena di daerah saya, ada tuntutan untuk melaksanakan adat tersebut kalaupun tidak dilakukan itu karena masalah keuangan biasanya. Pak Sugeng : Ya, kalau saya lihat masih banyak beberapa daerah di Banyumas ini yang tetap mengutamakan untuk melaksanakan upacara begalan, tapi kalau daerah yang sudah dimasuki orang luar seperti di daerah perumahan-perumahan, jarang ditemukan upacara begalan ini. Observer : Kemudian apakah ada perbedaan antara begalan di masa lalu dengan begalan di masa sekarang? Pak Sugeng : Ada beberapa perbedaan, dulu sebenarnya adatnya dari sebelum menikah sampai setelah menikah. Seperti masari yaitu kedua mempelai diantar dengan rombongan keluarga ke pasar setelah seminggu pernikahan, midodareni yaitu malem wejangan sehari sebelum diadakannya pernikahan, kemudian kalau dulu

itu besan laki-laki tidak boleh datang, nek jare wong kene ndarani arep komen acara pernikahane apik apa ora. Observer Pak Sugeng : Untuk tata cara mengundang tamunya sendiri apakah ada perbedaan, Pak? : Kalau dulu sebenarnya bagus itu, didatangi satu per satu sekalian silaturahmi dan mengundang ke hajatannya biasanya tanpa ada undangan tidak apa-apa, kalau sekarang menurut saya malah kurang bersosialisasi karena cuma ngirim orang buat nganterin undangan, kan gak ilok sakjane. Observer : Saya pernah dengar musik yang keras saat hajatan juga sebuah undangan bagi warga desanya? Pak Sugeng : Lha, iya itu tadi pergesaran kebiasaan yang kurang baik, mungkin di beberapa daerah Banyumas musik itu dijadikan undangan tapi biasanya gak semua kok Mbak, tetap ada undangan tertulisnya. Observer Pak Sugeng : Begalan itu untuk kalangan mana saja? : Siapa saja bisa, gak cuma dari kalangan bangsawan saja tetapi rakyat biasa juga bisa mengadakan begalan. Observer Pak Sugeng : Apakah Bapak tahu buku yang bisa dijadikan referensi tentang begalan? : Setahu saya sih belum ada, kalau pun ada ya yang namanya budaya kan dari mulut ke mulut dan dari cerita orang, untuk pembukuan dari adat begalan sendiri saya kira hanya berdasarkan penuturan nenek moyang mereka.

Wawancara dengan subjek 2, tanggal 23 Maret 2012 Nara sumber : Daryono Jenis kelamin : Laki-laki TTL Pekerjaan : Banyumas, 26 September 1997 : Staff perpustakan Universitas Jendral Soedirman

Observer

: Mas, ganu pas nikahan si ngapa ana begalane?

Mas Daryono : Ya, pancen adate kaya kue, El. Kudu ana begalane. Observer : Jane begalan kue apasi , Mas? Kudu ya?

Mas Daryono : Adate wong banyumas pancen kaya kue, nek anak wadon pertama nikah karo anak lanang pertama kudu ngadakna begalan. Nek begalane dewek koe wis tahu

ndeleng mbokan, ngko sing terakhire rebutan peralatan dapur kae lah, pas nikahane kakange Juni kae koe dadi pader ayune lah mesti ngerti. Observer : Iya, mas aku ya tahu melu rebutane kok, trus begalan nggo mas Daryono penting ora si? Mas Daryono : Nek aku ya berarti banget lah, jenenge anak pertama, kan kudu dadi contoh sih, nek misal anak pertamane gagal pas berumah tangga kan melasi karo adi-adine, kye juga kan nikahanku sing pertama dan terakhir ya kudu berkesan juga, nang begalan dewek juga tujuane apik koh ben awake dewek diwehi arahan lan petunjuk ben keluargane dewek bisa nglewati rintangan-rintangan.

Pengamatan Penulis Penulis melakukan pengamatan atau mengikuti upacara begalan dalam pernikahan Daryono tanggal 9–10 April 2009 di Karang Pucung Purwokerto. Setelah lamaran disampaikan dan diterima oleh pihak calon mempelai wanita, sebelum pernikahan dilakukan terlebih dahulu dilakukan pingitan atau dilarangnya kedua calon mempelai bertemu selama satu minggu. Setelah itu diadakan malam midodareni dengan memberi wewejangan untuk calon mempelai wanita yang berhias dengan hiasan seadanya. Keesokan harinya kedua mempelai melaksanakan akad dan upacara begalan ini. Pertama, mempelai pria berjalanan dari luar rumah hingga masuk menuju pelataran mempelai wanita dipandu oleh Kaki Wira kemudian ritual ngidek telur lalu mempelai putri duduk di pelataran bersama mempelai pria, lalu setelah itu Kaki Wira membawa alat-alat dapur dengan memikulnya dan datanglah Kaki Sura yang menghentikan Kaki Wira dan terjadi pertengkaran sengit dengan saling beragumen, Kaki Wira menjelaskan alat-alat dapur yang dipikulnya dan menjelaskan arti dari masing-masing alat tersebut. Mereka berdua berdamai setelah melakukan dialog yang di dalamnya mengandung banyak makna. Alat-alat dapur yang dibawa oleh Kaki Wira menjadi rebutan para tamu undangan seusai pembegalan tersebut. Kemudian kedua mempelai dipandu oleh besan wanita untuk ke pelaminan dan mereka dipangku di singgah sana, lalu kedua mempelai saling suap-menyuapi. Selesai ritual di pelaminan, giliran petuah–petuah yang disampaikan dari pihak laki-laki dan perempuan selanjutnya dilanjutkan untuk hiburan di penghujung acara.

Gambar

1.1. Acara Midodareni, dilaksanakan dari jam 18:00 – 24.00 WIB, malam sebelum hari akad pernikahan. Calon pengantin wanita berias tipis (biasa) dan diberi wejangan oleh sesepuh dan berdoa untuk kelancaran acara esok hari.

1.2. Mempelai wanita didampingi kedua orang tua dan pengapit menunggu kedatangan mempelai laki-laki.

1.3. Rombongan mempelai laki-laki menuju kediaman mempelai perempuan dipandu oleh Kaki Wira.

1.4. Kedua mempelai melakukan ritual sebelum memasuki kediaman mempelai perempuan. Kedua mempelai saling melempar daun.

1.5. Kedua mempelai melakukan ritual pidhek telur. Mempelai wanita membantu mempelai lakilaki untuk menginjak telur kemudian menyiram kakinya dengan air bunga.

1.6. Seusai ritual, kedua mempelai masuk ke halaman kediaman mempelai wanita dan duduk.

1.7. Kaki Wira memasuki halaman kediaman mempelai perempuan dengan memikul alat-alat dapur.

1.8. Datang Begal (rampok) yang hendak menghentikan Kaki Wira memasuki kediaman mempelai perempuan.

1.9. Terjadi dialog sengit dan Kaki Wira menjelaskan maksud kedatangannya dengan menjelaskan fungsi (arti) dari masing-masing alat dapur yang dibawanya untuk bekal dalam berumah tangga kedua mempelai.

1.10. Sang Begal akhirnya berdamai dengan Kaki Wira dan dilanjutkan dengan ritual pemanduan kedua mempelai menuju pelaminan oleh besan perempuan.

1.11. Besan perempuan menuntun kedua mempelai menuju ke pelaminan.

1.12. Besan perempuan memangku kedua mempelai dipelaminan.

1.13. Besan perempuan mendudukkan kedua mempelai di pelaminan.

1.14. Mempelai laki-laki memberikan beras kepada mempelai perempuan.

1.15. Kedua mempelai saling menyuapi makanan dan minuman.

1.16. Kedua mempelai melakukan sungkeman (minta doa restu) kepada besan perempuan.

1.17. Kedua mempelai melakukan sungkeman (minta doa restu) kepada besan laki-laki.

1.18. Mempelai wanita melakukan sungkem kepada mempelai laki-laki.

1.19. Wejangan (nasehat dan pidato) disampaikan melalui perwakilan kedua belah pihak mempelai.

1.20. Observer menari (menghibur) bersama Kaki Wira di pelaminan saat penghujung acara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->