P. 1
929

929

|Views: 4|Likes:
Published by Mei Tian Sanchez

More info:

Published by: Mei Tian Sanchez on Jun 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2014

pdf

text

original

ISSN 0215 - 8250 PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU oleh Ketut Rindjin Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas IPS, Universitas

Pendidikan Ganesha ABSTRAK

170

Guru adalah pendidik profesional. Predikat profesional mempersyaratkan adanya keahlian, paling tidak seperangkat pengetahuan, dan keterampilan yang dilandasi oleh nilai – nilai yang dijunjung tinggi. Syarat ini sesuai dengan pengertian kompetensi sebagai perpaduan nilai- nilai dan sikap serta pengetahuan dan keterampilan yang terwujud dalam pola pikir dan pola perilaku keseharian seseorang. Oleh karena itu guru wajib mempunyai kualifikasi akademik minimal diploma empat atau sarjana dalam bidang ilmu pengetahuan sesuai dengan mata pelajaran yang diasuh untuk memenuhi syarat keahlian. Sementara itu syarat keterampilan dapat dipenuhi dengan memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sejauh mana guru akan menerapkan keahlian dan keterampilannya ditentukan oleh nilai – nilai yang dijunjungnya yang akan menentukan sikapnya terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Guru semestinya mempunyai tanggung jawab moral dan filosofis, bukan semata –mata tanggung jawab akademik. Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi pembelajaran, dan peningkatan tuntutan masyarakat, maka guru senantiasa wajib meningkatkan profesionalismenya. Peningkatan profesionalisme dapat dilakukan melalui belajar secara mandiri (otodidak); kegiatan ilmiah (seminar, lokakarya, dll); program penataran; pelatihan; penyegaran; program penyetaraan; program studi lanjut. Uji sertifikasi merupakan salah satu upaya untuk memantapkan kompetensi guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Program peningkatan profesionalisme guru semestinya menjadi program kerja rutin organisasi profesi, baik organisasi profesi dalam bentuk mikro seperti KKG, MGMP, MGBS, maupun dalam bentuk makro seperti PGRI.
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250 Kata kunci : profesi, profesional, kompetensi, sertifikasi profesionalisme,

171 profesionalisasi,

ABSTRACT Teacher is a professional educator. The term professional requires expertise and skill based on values upheld within the person. This requirement is in compliance with the meaning of competence, as a combination of values, knowledge, and skill that are manifested in covert and overt behavior or in thinking and doing things in everyday life. Therefore, teacher must have minimum academic qualification, such as diploma IV or bachelor degree in suitable discipline of science with reference to the prospective subject to be taught. Meanwhile skill requirement can be met by having education certificate that is obtained through profession education. How good and how far these expertise and skill could be performed is ultimately determined by values and attitude of the teacher. Teacher should have moral and philosophical responsibility, not just academic responsibility. In line with science and technology development, including instruction technology and social demand, teacher must always strive to enhance his or her professionalism. This can be done through self directed learning; scientific forum such as seminar, workshop, etc; training; upgrading; recurrent education; and further education. Certification exam is one of the efforts to develop teachers’ competence in line with enhancing professionalism. Professionalism enhancement program should be a routine program for professional organization, in term of micro organization, such as KKG, MGMP and MGBS, as well as of macro organization, such as PGRI. Key concepts : profession, professional, professionalism, fessionalization, competence, certification pro-

1. Pendahuluan 1.1 Pengertian Profesi dan Profesional Proses diferensiasi dan spesialisasi dalam bidang pekerjaan menuntut adanya pekerja-pekerja yang memenuhi persyaratan formal tertentu untuk
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

172

dapat melakukan pekerjaan itu dengan baik dan bertanggung jawab, seperti adanya tingkat kualifikasi tertentu untuk memperoleh izin kerja, izin praktik, izin mengajar, izin menjadi pilot, nakhoda, dsb. Hal ini tampak jelas pada jabatan dokter, akuntan, pengacara, notaris, guru, dll. Adanya persyaratan ini dimaksudkan untuk membedakan antara pekerjaan profesional dengan yang bukan profesional; dan sekaligus untuk memberikan jaminan layanan kepada pihak pengguna jasanya serta sekaligus sebagai proteksi terhadap profesi itu sendiri. Secara umum, profesi berarti suatu pekerjaan yang dilakukan untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi keperluan hidup seseorang. Dalam hubungan ini dikenal istilah penari profesional, pemain sepak bola profesional, pemusik profesional, pendidik profesional, dsb. Tetapi secara lebih khusus kata profesi yang berasal dari bahasa Latin professus, mengandung arti suatu panggilan atau suatu pekerjaan yang mempersyaratkan adanya pendidikan dan pelatihan yang mendalam serta keterampilan intelektual. Ini berarti profesi menuntut adanya suatu keahlian atau paling tidak seperangkat pengetahuan (yang diperoleh melalui pendidikan) dan keterampilan (yang diperoleh melalui pelatihan) di dalam melaksanakan pekerjaan sehingga menjamin mutu pelaksanaan pekerjaan dan sekaligus memberikan kepuasan terhadap pengguna jasanya. Di atas segalanya, alangkah mulianya kalau pekerjaan itu merupakan suatu panggilan, sehingga pekerja itu selalu menyenangi dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan dan tantangan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan itu. Panggilan inilah yang selalu menjiwai atau merupakan roh dalam pelaksanaan pekerjaan itu. Ini berarti pekerjaan itu memang amat disenanginya, sehingga selalu berusaha dan termotivasi secara internal untuk melakukan yang terbaik dalam menyelesaikan tugas pekerjaannya. Orang yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi, tidak akan mengeluh harus
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

173

bekerja lebih giat dan lebih lama. Oleh karena itu, hasil kerjanya pastilah bermutu dan memberikan kepuasan pada pengguna jasanya. Pekerja profesional dituntut juga adanya tanggung jawab moral dan kesejawatan melalui organisasi profesi. Ketiga syarat ini, yaitu keahlian dan keterampilan, tanggung jawab moral dan kesejawatan bersifat saling menunjang dan melengkapi sehingga pekerja profesional tidak cukup hanya memiliki keahlian atau kemahiran tertentu tetapi, juga adanya tanggung jawab yang besar dan sistem kesejawatan. Adanya tanggung jawab moral mengandung arti bahwa, pekerjaan itu dilakukan dengan sepenuh hati, suatu pencurahan pikiran, tenaga dan perasaan, bahkan nurani, sehingga mencapai hasil bermutu unggul (excellent). Pekerjaan tidak boleh dilakukan secara sembarangan, sambil lalu, seadanya atau iseng-iseng, sehingga mutu hasil pekerjaannya tidak baik (bad), atau hanya sedang-sedang saja (mediocre). Prinsip ini sangat penting dan strategis untuk dipegang teguh guna mencapai peningkatan karier, atau memenangkan persaingan dalam dunia bisnis. Itulah sebabnya dalam dunia bisnis telah lama dikenal dan diterapkan Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Dalam dunia pendidikan internasional hal ini juga sudah diterapkan, sebagaimana ditulis antara lain oleh Edward Sallis – Total Quality Management in Education. Sebagian besar objek usaha dan kegiatan pelaku bisnis adalah benda, yang diolah, dikemas, dipindahtangankan. Ada juga yang objeknya adalah makhluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang. Menjadikan manusia sebagai objek bisnis adalah bisnis illegal karena bertentangan dengan moral (immoral) dan bertentangan dengan hukum, seperti prostitusi atau perdagangan manusia (human trafficking). Tanggung jawab guru lebih besar, yaitu tanggung jawab moral dan filosofis. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia seutuhnya, mengangkat harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan dengan segala potensi bawaannya. Manusia
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

174

memang makhluk yang harus dididik (animal educandum), sekaligus makhluk yang dapat dididik (animal educabile) dan juga dapat mendidik (homo educadus). Tanpa sentuhan pendidikan, potensi manusia sebagai anugrah Tuhan tidak dapat direalisasi sebagaimana mestinya. Contoh klasik di Prancis Selatan tentang anak manusia yang dipelihara oleh serigala, ternyata hanya bisa menggonggong dan berjalan dengan empat kaki. Bakat musik seperti Idris Sardi, bakat olah raga seperti Rudi Hartono, bakat tarik suara seperti Mariah Carey, bakat ilmu pengetahuan seperti Einstein, dan lain-lain. tidak akan teraktualisasi tanpa sentuhan pendidikan. Di sinilah letak peranan amat penting dan strategis guru untuk dengan sepenuh hati membantu pengembangan secara optimal kecerdasan spiritual, emosional, intelektual, moral, kinestetik dan kecerdasan musikal peserta didiknya. Ciri keprofesian dalam bidang kependidikan sebagaimana dikemukakan oleh D. Westby – Gibson dan dikutip oleh T. Raka Joni adalah sebagai berikut. Pertama, dilakukannya dan juga diakuinya oleh masyarakat bahwa layanan itu hanya dapat dilakukan oleh kelompok pekerja profesional. Ketentuan layanan bidang kependidikan memang sudah tidak dipersoalkan lagi, akan tetapi keunikan kualifikasi pemangku – pemangku jabatannya mulai dari taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi dapat ditemukan tenaga – tenaga kependidikan yang belum menunjukkan keunikan kualifikasi sebagai tenaga kependidikan. Kedua, dimilikinya sekumpulan bidang ilmu pengetahuan yang menjadi landasan sejumlah teknik dan prosedur yang unik. Profesi kedokteran misalnya yang sudah mapan sejak berabad – abad memiliki sejumlah bidang ilmu pengetahuan yang mendasari teknik serta prosedur kerja kedokteran seperti antara lain anatomi, bakteorologi, biokimia, patologi, farmakologi. Namun untuk profesi kependidikan atau lebih khusus
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

175

lagi keguruan belum secara jelas ditentukan bidang – bidang ilmu pengetahuan yang menyangganya. Bahkan sementara pihak ada yang berpendapat siapa saja bisa menjadi guru asal menguasai materi yang akan diajarkan. Itulah sebabnya dapat terjadi adanya guru yang sebetulnya belum memenuhi persyaratan sebagai guru yang profesional. Ada juga yang menyatakan bahwa menggurukan ahli adalah jauh lebih baik dan mudah dibandingkan dengan mengahlikan guru. Dalam hubungan ini perlu dipertanyakan: haruskah seorang guru secara sengaja belajar teknik dan prosedur mengajar; bidang – bidang ilmu pengetahuan apa sajakah yang menjadi landasan untuk memperoleh teknik dan prosedur mengajar tersebut. Ketiga, diperlukannya persiapan yang dirancang secara sengaja dan sistematis sebelum orang dapat melaksanakan pekerjaan profesional. Ini berarti, pendidikan tenaga kependidikan khususnya keguruan adalah pendidikan yang bersifat pre-service (bukan pendidikan dalam jabatan semata – mata tetapi pendidikan prajabatan). Dengan perkataan lain praktisi keguruan tanpa melalui pendidikan keguruan atau pengadaan guru secara darurat hendaknya tidak terjadi lagi. Keempat, dimilikinya mekanisme untuk menyaring anggota sehingga hanya mereka yang mempunyai kompetensi saja yang diperbolehkan bekerja sebagai tenaga profesional keguruan. Hal ini tampaknya merupakan titik yang paling lemah dalam profesi keguruan di negara kita. Kelima, dimilikinya organisasi profesional yang berfungsi untuk melindungi kepentingan anggotanya dari saingan luar kelompok dan untuk meningkatkan mutu layanan kepada pihak pengguna jasanya, termasuk kode etik profesional bagi profesinya. Ciri ini juga menunjukkan kelemahan yang sangat menonjol di negara kita karena organisasi profesi keguruan yang ada belum sepenuhnya melaksanakan fungsi tersebut.

_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

176

1.2 Proses Profesionalisasi dan Profesionalisme Kalau pendidikan diharapkan dapat menunaikan fungsinya dengan baik dan bertanggung jawab, maka tenaga kependidikan harus diprofesionalisasikan. Status profesional ini tidak dapat dicapai hanya dengan mengeluarkan persyaratan bahwa tenaga kependidikan adalah tenaga profesional, meskipun sudah ditentukan di dalam bentuk perundang – undangan. Status profesional hanya dapat dicapai melalui tahap perkembangan yang berlangsung terus – menerus sebagaimana dikemukakan oleh T. Raka Joni dengan mengutip pendapat Mc Cully, yaitu melalui enam tahap perkembangan sebagai berikut. Pertama, jenis layanan unik yang diberikan harus ditentukan secara tegas lebih dulu. UU No 20/2003 Pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Dengan demikian, jenis layanan yang diberikan oleh masing – masing harus ditentukan secara jelas, sehingga tampak perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Begitu pula standar mutu layanan perlu ditetapkan sehingga merupakan semacam jaminan bagi konsumen. Hal ini memang masih merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi para pemikir pendidikan dan pemerintah, sehingga layanan yang dilakukan oleh pendidik itu dapat dilakukan secara efektif. Kedua, kelompok profesi dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan harus mempunyai standar untuk melakukan seleksi dan penyiapan pendidikan yang bersifat prajabatan. Dengan demikian dapat diyakini pemerolehan tingkat kompetensi minimal bagi para pendatang baru dalam kelompok.

_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

177

Ketiga, adanya pengakuan resmi terhadap program pengadaan tenaga kependidikan yang mempunyai wewenang untuk menghasilkan anggota – anggota baru. Pengakuan resmi ini diberikan berdasarkan penilaian terhadap kelayakan program, baik mengenai isi program dan fasilitas serta personalia yang memadai dalam jumlah maupun mutunya, oleh badan yang dibentuk bersama antara pemerintah dan organisasi profesi. Pengakuan resmi ini disebut akreditasi. Keempat, adanya mekanisme untuk memberi pengakuan resmi kepada perseorangan yang telah memiliki kompetensi minimal sebagai pekerja profesional. Hal ini disebut prosedur sertifikasi. Prosedur sertifikasi ini biasanya diikuti dengan pemberian izin praktik untuk melindungi kepentingan masyarakat terhadap praktisi yang kurang kompeten atau kurang memegang nilai – nilai etika profesional. Ini berarti mereka yang melakukan kesalahan dalam praktik profesional (malpraktik) biasanya dikenakan sanksi oleh organisasi profesional sesuai dengan kode etik yang telah ditentukan. Kelima, secara perseorangan atau kelompok, tenaga profesional bertanggung jawab terhadap segala aspek tugasnya. Oleh karena itu, agar tenaga profesional dapat memanfaatkan keahliannya di dalam tugasnya, maka ia diberi kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri secara bertanggung jawab. Tanpa kebebasan ini, dikhawatirkan tidak akan ada penilaian secara bebas berdasarkan pertimbangan keahlian, dan tanpa kebebasan penilaian sulit diharapkan pengembangan profesionalisme. Keenam, kelompok profesional memiliki kode etik yang merupakan dasar untuk melindungi para anggotanya yang menjungjung tinggi nilai – nilai etika profesional dan merupakan sarana untuk mengambil tindakan terhadap mereka yang melakukan praktik yang tidak sesuai dengan kode etik tersebut.

_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

178

Pada dasarnya pengembangan profesionalisme guru dapat dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang berkelanjutan sebagai berikut. (1) Belajar secara mandiri (self-directed leraning) dengan menyusun rencana belajar sendiri (self planning of learning activities) mengenai apa yang dipelajari (what), bagaimana mempelajarinya – membaca, mengerjakan, praktik (how – reading, doing, practicing), kapan (when), siapa - individual atau kelompok (whom - individual or group), di mana – di rumah, di sekolah, di perpustakaan, di lab (where – at home, school, library,laboratory); dan memantau serta menilai sendiri hasil belajar atau berdiskusi (self monitoring and evaluation of learning output through self quest strategy or discussion); (2) Kegiatan Organisasi Profesi – KKG, MGMP, MGBS, PGRI secara terprogram dan berkelanjutan; (3) Kegiatan ilmiah ekstern seperti seminar, lokakarya,dll; (4) Pendidikan penyetaraan atau studi lanjut; (5) Kaji tindak kelas terintegrasi berbasis kompetensi; dan (6) Uji sertifikasi. UU No.14/2005 Pasal 7 menyatakan bahwa profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sebagai berikut. (1) Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; (2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya; (4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya; (5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesiolannya; (6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya; dan (9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai

_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

179

kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesonalan guru. 2. Sertifikasi 2.1 Landasan Yuridis Sertifikasi Landasan yuridis sertifikasi adalah (1)UU No.20/2003 tanggal 8 Juli 2003; (2) PP No.19/2005 tanggal 16 Mei 2005; (3) UU No.14/2005 tanggal 30 Desember 2005. Penjabaran UU No.14/2005, khususnya PP tentang Guru dan PP tentang Dosen sampai saat belum terbit. Pendidik sebagai tenaga profesional ditegaskan dalam UU No.20/2003 Pasal 39 ayat (2), yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pengertian pendidik di sini adalah dalam arti luas, bukan hanya guru, sebagaimana telah dikemukakan di atas. Khusus untuk guru dinyatakan dalam UU No.14/2005 Pasal 2 ayat (1) bahwa, guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Syarat pendidik pada pendidikan anak usia dini, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, dan SDLB/SMPLB/SMALB harus mempunyai (1) kualifikasi akademik minimum diploma 4 atau sarjana; (2) latar belakang pendidikan tinggi yang sesuai dengan bidang pendidikan atau mata pelajaran yang diasuh; dan (3) sertifikat profesi guru sesuai dengan bidang tugasnya (PP No.19/2005, Pasal 29 ayat (1, 2, 3, 4, 5, dan 6). Menurut National Commission on Educational Services (NCES) di Amerika Serikat, certification is a procedure whereby the state evaluates
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

180

and reviews a teacher candidate’s credentials and provides him or her a license to teach (Gilley, Geis and Seyfer, 1987). Di tingkat negara bagian di Amerika Serikat terdapat badan independen yang disebut The American Association of Colleges for Teacher Education (AACTA) yang menilai ijazah yang dimiliki oleh calon pendidik dan menentukan apakah yang bersangkutan layak diberi izin atau tidak. Di Indonesia, UU No.20/2003 Pasal 42 ayat (1) menegaskan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selain daripada itu, UU No.14/2005 Pasal 1 ayat (11) dan ayat (12) menyatakan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertfikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. 2.2 Pelaksanaan Sertifikasi Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi (UU No.20/2003 Pasal 43 ayat 2). Hal ini ditegaskan lagi dalam UU No.14/2005 Pasal 11 ayat (2) bahwa, sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yuang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditentukan oleh pemerintah. Ini berarti perguruan tinggi yang tidak mempunyai program pengadaan tenaga kependidikan, atau mempunyai program pengadaan tenaga kependidikan, tetapi tidak terakreditasi, atau statusnya terakreditasi tetapi program pengadaan tenaga kependidikannya tidak sesuai dengan program sertifikasi, atau memiliki program yang sesuai dan terakrediatsi, tetapi tidak ditunjuk oleh pemerintah tidak boleh melaksanakan sertifikasi. Hal ini dimaksudkan agar calon guru
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

181

yang mengikuti uji sertifikasi disesuaikan dengan kebutuhan guru di lapangan dan terkait pula dengan ketentuan bahwa, setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu (UU No.14 Pasal 12). Ketentuan ini tentu tidak berlaku untuk guru dalam jabatan. Mengenai persyaratan pendidik, UU No.20/2003 Pasal 28 ayat (1) menegaskan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana telah diuraikan di atas, kualifikasi akademik minimum adalah diploma 4 atau sarjana dalam bidang keilmuan yang sesuai dengan tugasnya, sedangkan syarat kompetensi dipenuhi dengan memperoleh sertifikat pendidik atau sertifikat guru (PP No.19/2005 Pasal 29).Di samping itu,UU No.14/2005 Pasal 8 juga menyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat (UU No.14/2005 Pasal 9). Kompetensi, yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional diperoleh melalui pendidikan profesi (UU No.14/2005 Pasal 10). Sesuai dengan penjelasan Pasal 15 UU No.20/2003, pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Ini berarti, ujung dari pendidikan profesi iulah yang akan melakukan uji sertifikasi, sehingga yang lulus akan memperoleh sertifikat profesi pendidik. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa syarat mengikuti uji sertifikasi bagi calon guru yang sudah mempunyai ijazah minimum D4/S1 adalah mengikuti pendidikan profesi. Masalah timbul, bagaimana halnya
_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

ISSN 0215 - 8250

182

dengan guru dalam jabatan, baik PNS maupun non-PNS, yang jumlahnya mencapai 2.691.957 orang (Balibang, Depdiknas, 2004). Mengharuskan mereka mengikuti pendidikan profesi akan memakan biaya terlalu besar dan waktu terlalu lama, padahal tahun 2015 sertifikasi harus sudah tuntas.Oleh karena itu, sekaligus untuk menghargai jasa guru dalam jabatan, rencananya PP Guru memberikan kemudahan. RPP itu sendiri masih dalam penggodokan, yang mudah-mudahan segara ditandatangani oleh Presiden. DAFTAR PUSTAKA Joni , T. Raka. 1979. Pembinaan Staf Akademik Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta. Rindjin, Ketut. 1991. Kualifikasi Guru Sekolah Dasar Menuju Mutu Pendidikan yang Lebih Baik. Makalah Seminar Eksistensi PGSD dalam Rangka Peningkatan Mutu Pendidikan di Singaraja, 12 Juni 1991. Rindjin, Ketut. 1997. Pembinaan Profesi Guru (Suatu Prasyarat untuk Peningkatan Mutu Pendidik). Makalah disampaikan pada Penataran Instruktur Peningkatan Kualitas Guru dalam Rangka Penerapan Kurikulum Muatan Lokal Sekolah Dasar Provinsi Bali. Rindjin, Ketut. 2005. Pendidikan adalah Syarat Mutlak Bagi Eksistensi Manusia. Makalah disampaikan dalam Rangka Sosialisasi Peranan Pendidik untuk Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia, di Tabanan, 15 April 2005.

_______ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Edisi Khusus TH. XXXX Mei 2007

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->