P. 1
HUBUNGAN TEGANGAN REGANGAN

HUBUNGAN TEGANGAN REGANGAN

|Views: 1,656|Likes:

More info:

Published by: Onyxs Uchiuzu ElfBeauty on Jun 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2013

pdf

text

original

PAPER KEKUATAN BAHAN

HUBUNGAN TEGANGAN DAN REGANGAN

Oleh :
Ni Made Ayoni 1011305003
Gede Panji Cahya Pratama 1011305004
Dian Asgar Paradisa 1011305005
Gede Andri 1011305006
Paul Ludgerrius R. 1011305007



JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2012


PEMBAHASAN
A. Pengertian
Tegangan
Apabila kita perhatikan suatu penampang, umumnya gaya-gaya yang bekerja pada
luasan sangat kecil (infinitesimal areas) pada penampang tersebut bervariasi dalam besar
maupun arah. Gaya dalam merupakan resultan dari gaya-gaya pada luasan sangat kecil
ini. Intensitas gaya menentukan kemampuan suatu material terutama dalam memikul
beban (kekuatan) disamping mempengaruhi sifat-sifat kekakuan maupun stabilitas.
Intensitas gaya dan arahnya yang bervariasi dari titik ke titik dinyatakan sebagai
tegangan. Karena perbedaan pengaruhnya terhadap material struktur, biasanya tegangan
diuraikan menjadi komponen yang tegak lurus dan sejajar dengan arah potongan suatu
penampang

1. Tegangan Normal
Adalah intensitas gaya normal per unit luasan dan dinyatakan dalam unit gaya per
unit luasan, misalnya lb/in
2
, atau N/m
2
.
Apabila gaya-gaya dikenakan pada ujung-ujung batang sedemikian sehingga
batang dalam kondisi tertarik, maka terjadi suatu tegangan tarik pada batang; jika
batang dalam kondisi tertekan maka terjadi tegangan tekan. Perlu dicatat bahwa
garis aksi dari gaya yang bekerja adalah melalui pusat setiap bagian penampang
melintang batang.
Regangan
Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa suatu material yang mengalami tegangan
pada saat yang sama juga mengalami perubahan panjang/volume. Perubahan
panjang/volume ini sering dinyatakan dalam regangan yang didefinisikan sbb:

L
A
= c
dimana adalah perubahan panjang yang dialami oleh bagian specimen sepanjang L.
Dalam kondisi pembebanan sehari-hari, sebagian besar material struktur
menunjukkan perilaku yang memenuhi hukum Hooke, dimana dinyatakan tegangan
berbanding lurus dengan regangan (hubungan linear):
dimana E adalah suatu konstanta yang disebut modulus elastisitas atau modulus Young.

2. Regangan Normal
Perpanjangan per unit panjang yang biasa disebut regangan normal dan diberi
simbol dengan ε, dapat diperoleh dengan membagi total pertambahan panjang ∆l
dengan panjang gage L, yaitu

L
l A
= c

Regangan biasanya dinyatakan meter per meter sehingga secara efektif tidak
berdimensi.

3. Kurva tegangan-regangan
Sebagaimana beban aksial yang bertambah bertahap, pertambahan panjang
terhadap panjang gage diukur pada setiap pertambahan beban dan ini dilanjukan
sampai terjadi kerusakan (fracture) pada spesimen. Dengan mengetahui luas
penampang awal spesimen, maka tegangan normal, yang dinyatakan dengan σ, dapat
diperoleh untuk setiap nilai beban aksial dengan menggunakan hubungan

A
P
= o








σ σ σ
ε ε ε
O O O
P
P
P
Y
U
B



c
c
f
E E f = = atau

Gb 1-5 Gb 1-6 Gb 1-7







dimana P menyatakan beban aksial dalam Newton dan A menyatakan luas
penampang awal (m
2
). Dengan memasangkan pasangan nilai tegangan normal σ dan
regangan normal ε, data percobaan dapat digambarkan dengan memperlakunan kuantitas-
kuantitas ini sebagai absis dan ordinat. Gambar yang diperoleh adalah diagram atau kurva
tegangan-regangan. Kurva tegangan-regangan mempunyai bentuk yang berbeda-beda
tergantung dari bahannya. Gambar 1-5 adalah kurva tegangan regangan untuk baja
karbon-medium, Gb. 1-6 untuk baja campuran, dan Gb. 1-7 untuk baja karbon-tinggi
dengan campuran bahan nonferrous. Untuk campuran nonferrous dengan besi kasar
diagramnya ditunjukkan pada Gb. 1-8, sementara untuk karet ditunjukkan pada Gb. 1-9.
Hukum Hooke
Untuk bahan-bahan yang mempunyai kurva tegangan-regangan dengan bentuk
seperti Gb. 1-5, 1-6, dan 1-7, dapat dibuktikan bahwa hubungan tegangan-regangan untuk
nilai regangan yang cukup kecil adalah linier. Hubungan linier antara pertambahan
panjang dan gaya aksial yang menyebabkannya pertama kali dinyatakan oleh Robert
Hooke pada 1678 yang kemudian disebut Hukum Hooke. Hukum ini menyatakan
c o E =
dimana E menyatakan kemiringan (slope) garis lurus OP pada kurva-kurva Gb. 1-
5, 1-6 dan 1-7.
Modulus elastisitas
Kuantitas E, yaitu rasio unit tegangan terhadap unit regangan, adalah modulus
elastisitas bahan, atau, sering disebut Modulus Young. Nilai E untuk berbagai bahan
σ σ
ε ε
O
O
Y

ε
1

O’
disajikan pada Tabel 1-1. Karena unit regangan ε merupakan bilangan tanpa dimensi
(rasio dua satuan panjang), maka E mempunyai satuan yang sama dengan tegangan yaitu
N/m
2
. Untk banyak bahan-bahan teknik, modulus elastisitas dalam tekanan mendekati
sama dengan modulus elastisitas dalam tarikan. Perlu dicatat bahwa perilaku bahan
dibawah pembebanan yang akan kita diskusikan dalam buku ini dibatasi hanya pada
daerah kurva tegangan regangan.

4. Hubungan Tegangan dan Regangan (Hukum Hooke)
Pada kebanyakan bahan teknik terdapat hubungan antara tegangan dan
regangan.Untuk setiap peningkatan tegangan terjadi peningkatan regangan yang
sebanding,sebelum batas tegangan dicapai. Jika tegangan mencapai nilai batas,
hubungan regangantidak lagi proporsional dengan tegangan.Hubungan proporsional
tegangan dan regangan awalnya dinyatakan oleh RobertHooke pada tahun 1678 dan
menjadi hukurn Hooke. Pada bahan yangnmengikuti hukumHooke, beban yang
bekerja PA dan PB akan menyebabkan tegangan sA dan sB, danperbandingan dua
nilai menjadi konstan, yaitu:

=

Konstanta ini sekarang dikenal sebagai modulus elastisitas atau modulus
Young(sesudah Thomas Young mendefinisikannya pada 1807). Modulus Young
dinotasikandengan simbol E dan berlaku untuk tarik atau tekan, dinyatakan dengan
persamaan :
E =

=

Karena regangan adalah murni angka (tidak mempunyai satuan karena
perbandingandengan dimensi panjang dengan panjang), maka modulus elastisitas
mempunyai satuanyang sama dengan tegangan, yaitu pascal (Pa) atau megapascal (MPa).
Untuk umumnyabahan teknik dan alasan praktis, modulus elastisitas tekan sama dengan
tarik. Pada bajaatau bahan tangguh (ductile) lainnya, uji tarik lebih mudah dilaksanakan
daripada ujitekan sehingga modulus elastisitas yang ada adalah untuk uji tarik. Uji tarik
standardigunakan untuk menentukan modulus elastisitas, yang akan dibahas pada Bab 5,
sejauhbatas tegangan dengan modulus elastisitas adalah tepat. Nilai modulus elastisitas
sangatpenting untuk desain pada banyak bahan keteknikan.
Modulus elastisitas baja (tarik atau tekan) umumnya dianggap antara 200.000 -
207.000 MPa. Nilai tepatnya tergantung pada jenis baja. Untuk bahan teknik yang
laindiberikan Apendiks E. Secara fisik, modulus elastisitas adalah mengukur
kekakuan(stiffness) bahan terhadap respons pada beban yang bekerja dan menunjukkan
sifattertentu bahan. Bahan kaku didefinisikan sebagai sifat bahan yang mampu
bertahanpada tegangan tinggi tanpa terjadi regangan yang besar.Jika benda dikenakan
beban aksial (baik tarik atau tekan), gaya geser sebandingdengan regangan geser
sepanjang batas proporsional regangan belum tercapai.Konstanta proporsionalitas dikenal
dengan modulus kekakuan (modulus of rigidity) yang dilambangkan dengan G dan
dinyatakan sebagai:G = tegangan geser / regangan geser = Ss/ ε

5. SIFAT-SIFAT MEKANIS BAHAN
Kurva tegangan-regangan yang ditunjukkan pada Gb. 1-5 dapat digunakan untuk
mencirikan beberapa karakteristik tegangan bahan. Diantaranya:
a. Batas proporsi (proportional limit)
Ordinat titik P disebut sebagai batas proporsi, yaitu tegangan
maksimum yang terjadi selama tes tarikan sedemikian sehingga tegangan
merupakan fungsi linier dari regangan. Untuk bahan yang kurva tegangan
regangannya menyerupai Gb. 1-8 maka tidak memiliki batas proporsi

Tabel 1-1. Sifat-sifat bahan teknik pada 20°C


Bahan
Berat
spesifik
KN/m
3

Modulus
Young
Gpa
Tegangan
maksimum
kPa
Koefisien
ekspansi
10e-6/°C

Rasio
Poisson
I. Metal dalam bentuk papan, batang atau blok
Aluminium
campuran
27
84
70-79
96-110
310-550
300-590
23
20
0.33
0.34
Kuningan
Tembaga
Nikel
Baja
Titanium campuran
87
87
77
44
112-120
210
195-210
105-210
230-380
310-760
550-1400
900-970
17
13
12
8-10
0.33
0.31
0.30
0.33
II. Non-metal dalam bentuk papan, batang atau blok
Beton
Kaca
24
26
25
48-83
24-81
70
11
5-11

0.23
III. Bahan dengan filamen (diameter < 0.025 mm)
Aluminium oksida
Barium carbide
Kaca
Grafit
38
25

22
690-2410
450
345
980
13800-
27600
6900
7000-
20000
20000

IV. Bahan komposit (campuran)
Boron epoksi
Kaca-S diperkuat
epoksi
19
21
210
66.2
1365
1900
4.5

b. Batas elastis (elastic limit)
Ordinat suatu titik yang hampir berimpitan dengan titik P diketahui
sebagai batas elastis, yaitu tegangan maksimum yang terjadi selama tes
tarikan sedemikian sehingga tidak terjadi perubahan bentuk atau deformasi
maupun residu permanen ketika pembebanan dipindahkan. Untuk kebanyakan
bahan nilai batas elastis dan batas proporsi adalah hampir sama dan sering
digunakan sebagai istilah yang saling menggantikan. Pada kasus-kasus
dimana pemisahan diantara dua nilai ditemukan, nilai batas elastis selalu
sedikit lebih besar daripada batas proporsi.
c. Selang elastis dan plastis (elastic and plastic ranges)
Daerah atau rentang kurva tegangan-regangan yang ditarik dari origin
sampai batas proporsi disebut selang elastis; sedang rentang kurva tegangan
regangan yang ditarik dari batas proporsi sampai titik runtuh (point of rupture)
disebut selang pastis.
d. Titik lelah (yield point)
Ordinat titik Y pada Gb. 1-5, yang dinyatakan dengan σ
yp
, dimana
terjadi peningkatan atau pertambahan regangan tanpa adanya penambahan
tegangan disebut sebagai titik lelah dari bahan. Setelah pembebanan mencapai
titik Y, maka dikatakan terjadi kelelahan. Pada beberapa bahan terdapat dua
titik pada kurva tegangan-regangan dimana terjadi peningkatan regangan
tanpa perubahan tegangan. Masing-masing disebut titik lelah atas dan titik
lelah bawah.
e. Tegangan maksimum (ultimate strength, tensile strength)
Ordinat titik U pada Gb. 1-5, ordinat maksimum pada kurva, diketahui
sebagai tegangan maksimum atau tegangan puncak dari bahan.
f. Tegangan putus (breaking strength)
Ordinat pada titik B pada Gb. 1-5 disebut tegangan putus dari bahan.
g. Modulus kekenyalan, keuletan (modulus of resilence)
Kerja yang dilakukan suatu unit volume bahan, seperti misalnya gaya
tarikan yang dinaikkan secara bertahap dari nol sampai suatu nilai dimana
batas proporsional bahan dicapai, disebut sebagai batas kekenyalan. Ini dapat
dihitung sebagai luasan dibawah kurva tegangan regangan dari titik origin
sampai batas proporsional dan digambarkan dengan daerah yang diarsir pada
Gb. 1-5. Satuan untuk kuantitas ini adalah N.m/m
3
. Dengan demikian,
modulus kekenyalan adalah kemampuan bahan menyerap energi pada selang
elastisnya.
h. Modulus kekerasan (modulus of toughness)
Kerja yang dilakukan suatu unit volume bahan, seperti misalnya gaya
tarikan yang dinaikkan dari nol sampai suatu nilai yang menyebabkan
keruntuhan didefinisikan sebagai modulus kekerasan. Ini dapat dihitung
sebagai luasan dibawah kurva tegangan-regangan dari origin sampai titik
keruntuhan. Kekerasan bahan adalah kemampuan untuk menyerap energi
pada selang plastis dari bahan.
i. Persentase pengurangan luasan-penampang
Penurunan luasan-penampang dari luasan awal pada bagian patah
dibagi dengan luasan awalnya dikalikan dengan seratus didefinisikan sebagai
persentase pengurangan luasan-penampang. Perlu dicatat bahwa ketika gaya
tarikan bekerja pada suatu batang, luas penampangnya berkurang, tetapi
perhitungan untuk tegangan normal biasanya dibuat pada basis luasan awal.
Kasus ini ditunjukkan pada Gb. 1-5. Ketika regangan menjadi semakin besar
maka sangat penting untuk memperhatikan nilai luasan penampang
melintangnya, dan kalau ini dilakukan maka akan diperoleh kurva tegangan
regangan yang benar. Kurva demikian ditunjukkan oleh garis putus-putus
pada Gb. 1-5.
j. Persentase pertambahan panjang (elongation)
Persentase pertambahan panjang didefiniskan sebagai pertambahan
panjang setelah patah dibagi dengan panjang awal dan dikalikan dengan
seratus. Baik persentasi pengurangan luasan-penampang dan pertambahan
panjang merupakan ukuran keuletan atau ductility bahan.
Tegangan kerja (working stress)
Karakteristik-karakteristik kekuatan yang telah didiskusikan diatas
dapat digunakan untuk memilih tegangan kerja. Sering suatu tegangan
ditentukan hanya dengan membagi salah satu dari tegangan luluh atau
tegangan puncak dengan suatu bilangan yang disebut faktor keselamatan.
Pemilihan faktor keselamatan didasarkan pada keputusan perancang dan
berdasarkan pengalaman. Faktor keselamatan spesifik kadang-kadang
ditentukan dengan kode-kode rancangbangun.
Kurva tegangan-regangan non-linier bahan rapuh, seperti ditunjukkan
Gb. 1-8, memberikan karakteristik beberapa ukuran kekuatan yang lain yang
tidak dapat ditunjukkan oleh kurva tegangan-regangan linier. Beberapa
karakteristik ukuran tersebut adalah:
k. Kekuatan lelah (yield strength), sisa regangan
Ordinat pada kurva tegangan-regangan dimana bahan mengalami
perubahan bentuk atau deformasi yang tetap ketika pembebanan dipindahkan
disebut kekuatan atau tegangan lelah bahan. Perubahan bentuk tetap disini
biasanya diambil sekitar 0.0035 mm/mm. Pada Gb. 1-8 perubahan bentuk ε
1

ditunjukkan pada sumbu regangan dan garis O’Y digambarkan sejajar dengan
tangen awal kurva dari titik origin. Ordinat Y menunjukkan kekuatan lelah
bahan, disebut juga bukti tegangan (proof stress).
l. Modulus tangen
Laju perubahan tegangan terhadap perubahan regangan disebut
modulus tangen bahan. Ini sebenarnya merupakan bentuk modulus sesaat
(instantaneous) dan dinyatakan dengan E
t
= dσ/dε.
m. Koefisien ekspansi linier.
Koefisien ekspansi linier didefinisikan sebagai perubahan panjang per
unit panjang suatu batang lurus karena perubahan suhu sebesar 1 derajat dan
biasanya dinyatakan dengan α. Nilai koefisien ini adalah independen terhadap
unit panjang tetapi tergantung pada skala suhu yang digunakan. Sebagai
contoh, dari Tabel 1-1 koefisien untuk baja adalah 6.5 × 10
-6
/°F tetapi 12 ×
10
-6
/°C. Perubahan suhu pada bahan mengakibatkan kenaikan tegangan
internal, seperti yang diberikan karena pembebanan.
n. Rasio Poisson
Ketika suatu batang dikenai pembebanan tarik sederhana maka terjadi
penambahan panjang batang pada arah pembebanan, tetapi terjadi
pengurangan dimensi lateral tegaklurus terhadap pembebanan. Rasio
regangan pada arah lateral terhadap arah aksial didefinisikan sebagai rasio
Poisson (Poisson’s ratio). Dalam buku ini dilambangkan dengan μ. Pada
kebanyakan logam μ mempunyai nilai antara 0.25 sampai 0.35.
o. Bentuk umum hukum Hooke
Bentuk sederhana hukum Hooke telah diberikan untuk tarikan aksial
ketika pembebanan adalah sejajar dengan sumbu batang, biasa disebut
pembebanan satu arah, uniaksial. Disini hanya deformasi pada arah
pembebanan yang diperhatikan, dan diformulasikan dengan

E
o
c =

Untuk kasus yang lebih umum suatu elemen bahan dikenai tiga
tegangan normal yang saling tegaklurus σ
x
, σ
y
, σ
z
, yang masing-masing diikuti
dengan regangan ε
x
, ε
y
, ε
z
. Dengan mempertimbangkan komponen-komponen
regangan yang terjadi karena kontraksi lateral karena efek Poisson pada
regangan langsung maka kita peroleh pernyataan hukum Hooke berikut:

| | ) (
1
z y x x
E
o o µ o c + ÷ =

| | ) (
1
z x y y
E
o o µ o c + ÷ =

| | ) (
1
y x z z
E
o o µ o c + ÷ =

p. Kekuatan spesifik
Kuantitas ini didefinisikan sebagai rasio tegangan maksimum terhadap
berat spesifik, yaitu berat per unit volume. Dengan demikian kita peroleh
satuan

m
m
N
m
N
=
3 2
/

sehingga kekuatan spesifik bahan mempunyai satuan panjang.
Parameter ini sangat bermanfaat untuk perbandingan efisiensi bahan.
q. Modulus spesifik
Modulus spesifik didefinisikan sebagai perbandingan modulus Young
terhadap berat spesifik bahan. Kuantitas ini juga mempunyai satuan panjang.

Modulus Elastik
Perbandingan antara tegangan dan regangan disebut modulus elastik bahan.

Modulus Young
Bila kita perhatikan tegangan dan regangan tarik/tekan, sampai batas proporsional,
perbandingan tegangan dan regangan disebut : modulus Young, Y :
Tegangan tarik Tegangan tekan
Y = =
Regangan tarik Regangan tekan


F
±
/ A’
Y =
AL / Lo

Modulus Geser
Didefinisikan sebagi perbandingan tegangan geser dan regangan geser.

Tegangan geser
S =
Regangan geser

F

/A’ h F

/ F

/A
S = = =
x / h A x tg |

Modulus geser disebut juga modulus puntir, dan hanya terjadi pada zat padat.

Modulus Bulk (Balok)
Modulus ini menghubungkan tekanan hidrostatik dengan perubahan volumenya.

dp dp
B = - = - Vo
dV/Vo dV

Kebalikan dari modulus Bulk adalah kompresibilitas

k = 1/ B







You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->