P. 1
KARAKTERISTIK pendidikan anak

KARAKTERISTIK pendidikan anak

|Views: 1,427|Likes:
Published by AkiRa 'bTx' KaRim

More info:

Published by: AkiRa 'bTx' KaRim on Jun 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

KARAKTERISTIK PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Latar Belakang

Dalam upaya membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, dibangun dari Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD) dari sejak lahir sampai usia 6 tahun. Proses pendidikan usia dini adalah upaya pembinaan pengembangan dan pemberian rangsangan dengan menggunakan metode berdasarkan kelompok usia yang ditentukkan. Para ahli psikologi mengemukakan bahwa tumbuh kembang manusia ditentukan oleh interaksi antara factor bawaan (nature) dan factor lingkungan nurture). Factor lingkungan mempunyi dampak langsung terhadapperkembangan anak, walaupun dipengaruhi oleh factor bawaan anak. Oleh karena nya kita harus menyediakan situasi dan kondisi lingkungan yang kondusif, yang memungkinkan anak dapat berkembang secara optimal sesuai dengan dunianya.
B. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. (UU Nomor 20/ 2003, pasal 1 ayat 14). C. Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Anak usia Dini sebagai wahana pembinaan anak usia 0- 6 tahun memiliki fungsi sebagai berikut : 1. Pengganti sementara peranan ibu, peranan ibu dalam hal mengasuh dan membina anak selama 1 – 2 jam diganti peranannya oleh guru di kelompok bermain (misalnya). Sehingga guru kelompok bermain harus berperan sebagai ibu. 2. Pembinan anak usia dini, mempersiapkan anak didik/ warga belajar sebelum memasuki pendidikan pada pendidikan dasar dengan pengembangan kemampuan dasar. 3. Perlindungan, memperlakukan anak sesuai dengan usia perkembangannya dan dengan perlakuan yang wajar. 4. Pengembangan watak, sikap kepribadian, sesuai dengan norma- norma yang berlaku di masyarakat melalui pembiasaan-pembiasaan dalam proses pembelajaran. D. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini ( Paud) Tujuan secara umum : Melakukan proses pembinaan dalam upaya pengembangan anak dengan melalui rangsangan metode yang dilakukan berdasarkan kelompok usia 0- 6 tahun.

Tujuan secara khusus :
1. Sebagai pengganti peran ibu dalam mengasuh anak 2. Terkoordinir kelompok usia 0 – 6 tahun pada lembaga tertentu untuk lebih tercapai pada sasaran 3. Mendongkrak APK usia 0-6 tahun dalam pembanguan IPM E. Standar Tingkat pencapaian perkembangan Anak

Tingkat pencapaian perkembangan anak menggambarkan tentang pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan dicapai anak pada rentang usia tertentu, sebagai berikut :
1. Perkembangan anak yang dicapai merupakan integrasi dari aspek pemahaman yang mencakup : a. Nilai- nilai agama dan moral b. Social emosional c. Fisik (motorik kasar dan motorik halus) d. Kognitif e. Bahasa 2. Pertumbuhan anak mencakup ; a. Pemantauan kondisi kesehatan dan gizi yang mengacu pada KMS b. Deteksi dini tumbuh kembang anak

Tingkat pencapaian perkembangan disusun berdasrkaqn kelompok anak sebagai berikut ;
1. Tahap usia 0- ‹ 2 tahun a. < 3 bulan b. 3 - < 6 bulan c. 6 - < 9 bulan d. 9 - < 12 bulan a. 12 - < 18 bulan b. 18 - < 24 bulan 2. Tahap usia 2- < 4 tahun

a. 2 - < 3 tahun b.3 - < 4 tahun 3. Tahap usia 4- < 6 tahun a. 4- < 5 tahun b. 5- ≤ 6 tahun F. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Standar pendidik dan Tenaga kependidikan adalah criteria pendidikan dan kelayakan fisik, mental. Secara garis besar standar pendidik dan tenaga kependidikan dapat dideskripsikan sebagai berikut :
1. Standar Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini adalah Profesional yang bertugasmerencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran, serta melakukan pembimbingan, pengasuhan, dan perlindungan pada anak didik, dengan memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran.

 Pendidik pada jalur Formal terdiri dari :  Guru dan guru pendamping  Pendidik pada jalur nonformal terdiri dari ;  Guru, guru pendamping dan pengasuh
2. Standar Tenaga Kependidikan Tenaga kependidikan bertugas merencanakan, melaksanakan, mengelola administrasi dan biaya, serta mengawasi pelaksanaan program. Tenaga kependidikan terdiri dari : a. Pengawas/ penilik b. Kepala Paud jalur formal c. Pengelola Paud jalur pendidikan nonformal d. Petugas Administrasi Paud G. Standar Isi

Standar Isi, proses, dan penilaian meliputi struktur program, alokasi waktu dan perencanaan,pelaksanaan, penilaian yang dilaksanakan secara terintegrasi/ terpadu, sesuai dengan tingkat perkembangan, bakat/ minat dan kebutuhan anak, sehingga ada kemungkinan terjadi perbedaan dalam perangkat pembelajaran, dan pelaksanaan serta penilaian hasil kegiatan. Perencanaan Pembelajaran mencakup : tujuan, isi, dan rencana pengelolaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran berisikan tentang proses kegiatan pendidikan, pengasuhan, perlindungan yang dirancang berdasarkanpengelompokkan usia anak, penilaian merupakan rangkaian kegiatan pengamatan,pencatatan, dan pengolahan data perkembangan anak dengan menggunakan metode dan instrument yang sesuai dengan anak didik. Standar isi memuat kerangka dasar, struktur program, bentuk kegiatan layanan, alokasi waktu, rombongan belajar, dan kalender pendidikan. a. Struktur program

Bidang pengembangan pembentukkan prilaku melalui pembiasaan yang meliputi :
1) Nilai agama dan Moral 2) Sosial emosional 3) Budaya lingkungan

b.Pengembangan kemampuan dasar yang meliputi :
1) Bahasa 2) Kognitif 3) Fisik (motorik kasar dan motorik halus) c. Bentuk Kegiatan Layanan 1) Bentuk kegiatan layanan PAUD di kelompokkan berdasarkan usia 0 - 2 tahun, 2-4 tahun dan 4- 6 tahun.

2) Kegiatan pengasuhan anak usia 0 - 6 tahun 3) Kegiatan penitipan anak usia 0 - 6 tahun
d. Alokasi waktu 1) Kelompok usia 0 - < 2 tahun:

 Satu kali pertemuan selama 120 menit  Satu kali pertemuan per minggu.

 Tujuh belas minggu per semester.  Dua semester per tahun.
2) Kelompok usia 2-- < 4 tahun:

 Satu kali pertemuan selama 180 menit.  Dua kali pertemuan per minggu.  Tujuh belas minggu per semester.  Dua semester per tahun.
3) Kelompok usia 4-≤ 6 tahun a) PAUD Jalur Pendidikan Formal:

 Satu kali pertemuan selama 150 – 180 menit.  Enam atau lima hari per minggu, dengan jumlah  pertemuan sebanyak 900 menit (30 jam @ 30menit)  Tujuh belas minggu efektif per semester.  Dua semester pertahun.
b) PAUD Jalur Pendidikan Nonformal:

 Satu kali pertemuan selama 180 menit  Tiga hari per minggu.  Tujuh belas minggu efektif per semester.  Dua semester pertahun.
c) Kegiatan pengasuhan anak usia 0 - ≤ 6 tahun

Alokasi waktu disesuaikan dengan sisa waktu dari penitipan dikurangi dengan kegiatan terstruktur yang sudah dilaksanakan, sesuai dengan jenis kegiatan dan kelompok usia.
2. Rombongan belajar Berisikan tentang rasio pendidik dengan anak didik

 PAUD Jalur Pendidikan Formal, jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar
sebanyak 20 peserta didik

 PAUD Jalur Pendidikan Nonformal, berisikan tentang rasio pendidik dengan anak didik
disesuaikan dengan usia dan jenis layanan program, dan tersedia minimal seorang guru/guru pendamping. Selain itu harus tersedia pengasuh dengan perbandingan anatara pendidik dan peserta didik sbb: 1) 1 pendidik : 4 anak didik, untuk usia 0 - 1 tahun 2) 1 pendidik : 6 anak didik, untuk usia 1 – 2 tahun 3) 1 pendidik : 8 anak didik, untuk usia 2 – 3 tahun 4) 1 pendidik : 10 anak didik , untuk usia 3 – 4 tahun 5) 1 pendidik : 12 anak didik, untuk usia 4 – 5 tahun 6) 1 pendidik : 15 anak didik, untuk usia 5 – 6 tahun 3. Kalender Pendidikan

Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif pembelajaran, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. Kalender pendidikan tersebut disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.
H. Standar Proses

Standar proses adalah standar nasional pendidikan anak usia dini yang berkenaan dengan perencanaan dan pelalsanaan pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri pendidikan Nasional RI Nomor 58 tahun 2009, secara garis besar dideskripsikan sebagai berikut :
1. Perencanaan:

 Perencanaan penyelenggaraan PAUD meliputi Perencanaan Semester, Rencana
Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian (RKH).  Rencana Kegiatan untuk anak usia 0 – 2 tahun bersifat individual. Jadwal kegiatan disesuaikan dengan jadwal harian masing-masing anak. 2. Prinsip-Prinsip

 Memperhatikan tingkat perkembangan, kebutuhan, minat dan karakteristik anak.  Mengintegrasikan kesehatan, gizi, pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan.  Pembelajaran dilaksanakan melalui bermain.  Kegiatan pembelajaran dilakukan secara bertahap, berkesinambungan, dan bersifat
pembiasaan.  Proses pembelajaran bersifat aktif, kreatif, interaktif, efektif, dan menyenangkan.

 Proses pembelajaran berpusat pada anak
3. Pengorganisasian

 Pemilihan metode yang tepat dan bervariasi.  Pemilihan alat bermain dan sumber belajar yang ada di lingkungan.  Pemilihan teknik dan alat penilaian sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan.
4. Pelaksanaan a. Penataan lingkungan bermain

 Menciptakan suasana bermain yang aman, nyaman, bersih, sehat,dan menarik.  Penggunaan alat permainan edukatif memenuhi standar keamanan, kesehatan, dan
sesuai dengan fungsi stimulasi yang telah direncanakan.

 Memanfaatkan lingkungan.
b. Pengorganisasian Kegiatan

 Kegiatan dilaksanakan di dalam ruang/kelas dan di luar ruang/kelas.  Kegiatan dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan.  Kegiatan untuk anak usia 0 - <2 tahun, bersifat individual.  Pengelolaan kegiatan pembelajaran pada usia 2 - <4 tahun dalam kelompok besar,
kelompok kecil dan individu meliputi inti dan penutup.

 Pengelolaan kegiatan pembelajaran pada usia 4 - ≤6 tahun dilakukan dalam individu,
kelompok kecil, dan kelompok besar meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu pembukaan, inti dan penutup.

 Melibatkan orang tua/keluarga. I. Standar Penilaian Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan tingkat pencapaian perkembangan anak yang mencakup: a. Teknik Penilaian Pengamatan, penugasan, unjuk kerja, pencatatan anekdot, percakapan/dialog, laporan orang tua, dan dokumentasi hasil karya anak (portofolio), serta deskripsi profil anak.
2. Lingkup

a. Mencakup seluruh tingkat pencapaian perkembangan peserta didik. b. Mencakup data tentang status kesehatan, pengasuhan, dan pendidikan. 3. Proses a. Dilakukan secara berkala, intensif, bermakna, menyeluruh, dan berkelanjutan.

b. Pengamatan dilakukan pada saat anak melakukan aktivitas sepanjang hari. c. Secara berkala tim pendidik mengkaji-ulang catatan perkembangan anak dan berbagai informasi lain termasuk kebutuhan khusus anakyang dikumpulkan dari hasil catatan pengamatan, anekdot, check list, dan portofolio. d. Melakukan komunikasi dengan orang tua tentang perkembangan anak, termasuk kebutuhan khusus anak. e. Dilakukan secara sistematis, terpercaya, dan konsisten. f. Memonitor semua aspek tingkat pencapaian perkembangan anak. g. Mengutamakan proses dampak hasil. h. Pembelajaran melalui bermain dengan benda konkret.
4. Pengelolaan hasil penilaian a. Pendidik membuat kesimpulan dan laporan kemajuan anak berdasarkan informasi yang tersedia.

b. Pendidik menyusun dan menyampaikan laporan perkembangan anak secara tertulis kepada orang tua secara berkala, minimal sekali dalam satu semester. c. Laporan perkembangan anak disampaikan kepada orang tua dalam bentuk laporan lisan dan tertulis secara bijak, disertai saran-saran yang dapat dilakukan orang tua di rumah.
5. Tindak lanjut penilaian a. Pendidik menggunakan hasil penilaian untuk meningkatkan kompetensidiri.

b. Pendidik menggunakan hasil penilaian untuk memperbaiki program, metode, jenis aktivitas/kegiatan, penggunaan dan penataan alat permainan edukatif, alat kebersihan dan kesehatan, serta untuk memperbaiki sarana dan prasarana termasuk untuk anak dengan kebutuhan khusus. c. Mengadakan pertemuan dengan orang tua/keluarga untuk mendiskusikan dan melakukan tindak lanjut untuk kemajuan perkembangan anak.

d. Pendidik merujuk keterlambatan perkembangan anak kepada ahlinya melalui orang tua. e. Merencanakan program pelayanan untuk anak yang memiliki kebutuhan khusus.
J. Standar Sarana dan Prasarana, pengelolaan, dan Pembiayaan Standar sarana dan Prasarana, pengelolaa, dan pembiayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung pelayanan PAUD. Secara garis besar dapat dideskripsikan sebagai berikut : 1. Standar Sarana Prasarana Standar sarana prasarana adalah criteria standar minimal sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pendidikan,pengasuhan, dan perlindungan. Pengadaan sarana dan prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah anak, kondisi social, budaya, dan jenis layanan PAUD. 2. Standar Pengelolaan Pengelolaan dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya hak dan kebutuhan anak, serta kesinambungan pelaksanaan Pendidikan anak Usia Dini. 3. Standar Pembiayaan Pembiayaan meliputi jenis, sumber, dan pemanfaatan, serta pengawasan dan pertanggung jawaban dalam penyelenggaraan dan pengembangan lembaga PAUD yang dikelola secara baik dan transparan.

DAFTAR PUSTAKA Direktorat Kesetaraan. 2006. Acuan Pelaksanaan Pendidikan Kesetaraan. Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Jakarta Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 Permendiknas Nomor 14 Tahun 2007 Permendiknas Nomor 3 Tahun 2008 Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional Tahun 2009. Direktorat PAUD. 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Anak Usia Dini ( Menu Pembelajaran Generik). Direktorat PAUD,Dirjen PLSP, Depdiknas. Jakarta
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum yang disempurnakan. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasioanl Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2009.

Tim Pengembang, BPPLSP Regional I Jayagiri. 2005. Model Kurikulum Kelompok Bermain Anak Usia 4-5 tahun. BPPLSP Reg I Bandung. Bandung Tim Kesetaraan. 2010. Pedoman pemanfaatan blockgrant tahun 2010 untuk penyelenggaraan program paket A dengan penerapan strategi kelas campuran.P2PNFI Regional I Bandung
BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Pendidikan anak usia dini sangat penting bagi di perguruan tinggi di sekolah dasar. Dengan pendidikan anak usia dini akan tercipta keserasian hubungan antara siswa dengan guru. Di samping itu kami mengambil judul karakteristik anak usia dini karena kami ingin tahu lebih mendalam karakteristik anak usia dini mulai dari umur 0 – 8 tahun. 1.2. Tujuan Pembahasan

1. Menjelaskan pentingnya memahami anak usia dini. 2. Menjelaskan karakteristik perkembangan anak usia dini. 3. Menjelaskan kondisi yang mempengaruhi anak usia dini. 4. Menjelaskan pola perkembangan anak usia dini. 5. Menjelaskan cara belajar anak usia dini.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pentingnya Memahami Anak Usia Dini

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, moral dan sebagainya. Masa kanak-kanak juga masa yang paling penting untuk sepanjang usia hidupnya. Sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan pondasi dan masa kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya. Sedemikian pentingnya usia tersebut maka memahami karakteristik anak usia dini menjadi mutlak adanya bila ingin memiliki generasi yang mampu mengembangkan diri secara optimal. Pengalaman yang dialami anak pada usia dini akan berpengaruh kuat terhadap kehidupan selanjutnya. Pengalaman tersebut akan bertahan lama. Bahkan tidak dapat terhapuskan, walaupun bisa hanya tertutupi. Bila suatu saat ada stimulasi yang memancing pengalaman hidup yang pernah dialami maka efek tersebut akan muncul kembali walau dalam bentuk yang berbeda. Beberapa hal menjadi alasan pentingnya memahami karakteristik a anak usia dini. Sebagian dari alasan tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut :

1. Usia dini merupakan usia yang paling penting dalam tahap perkembangan manusia, sebab usia tersebut merupakan periode diletakkannya dasar struktur kepribadian yang dibangun untuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu perlu pendidikan dan pelayanan yang tepat. 2. Pengalaman awal sangat penting, sebab dasar awal cenderung bertahan dan akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak sepanjang hidupnya, disamping itu dasar awal akan cepat berkembang menjadi kebiasaan. Oleh karena itu perlu pemberian pengalaman awal yang positif. 3. Perkembangan fisik dan mental mengalami kecepatan yang luar biasa, dibanding dengan sepanjang usianya. Bahkan usia 0 – 8 tahun mengalami 80% perkembangan otak dibanding sesudahnya. Oleh karena itu perlu stimulasi fisik dan mental.

Ada banyak hal yang diperoleh dengan memahami karakteristik anak usia dini antara lain : 1. Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh anak yang bermanfaat bagi perkembangan hidupnya. 2. Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak agar dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik. 3. Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. 4. Menaruh harapan dan tuntutan terhadap anak secara realistis. 5. Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan kemampuan.

2.2.

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini

Anak usia dini (0 – 8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan karena itulah maka usia dini dikatakan sebagai golden age (usia emas) yaitu usia yang sangat berharga dibanding usia-usia selanjutnya. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik. Secara lebih rinci akan diuraikan karakteristik anak usia dini sebagai berikut : 1. Usia 0 – 1 tahun Pada masa bayi perkembangan fisik mengalami kecepatan luar biasa, paling cepat dibanding usia selanjutnya. Berbagai kemampuan dan ketrampilan dasar dipelajari anak pada usia ini. Beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan antara lain : 1. Mempelajari ketrampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan. 2. Mempelajari ketrampilan menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba, mendengar, mencium dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulutnya. 3. Mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontrak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan non verbal bayi.

Berbagai kemampuan dan ketrampilan dasar tersebut merupakan modal penting bagi anak untuk menjalani proses perkembangan selanjutnya. 1. Usia 2 – 3 tahun Anak pada usia ini memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya. Secara fisik anak masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia 2 – 3 tahun antara lain : 1. Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar yang luar biasa. Eksplorasi yang dilakukan oleh anak terhadap benda-benda apa saja yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif. Motivasi belajar anak pada usia tersebut menempati grafik tertinggi dibanding sepanjang usianya bila tidak ada hambatan dari lingkungan. 2. Anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Diawali dengan berceloteh, kemudian satu dua kata dan kalimat yang belum jelas maknanya. Anak terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran. 3. Anak mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Sebab emosi bukan ditemukan oleh bawaan namun lebih banyak pada lingkungan. 4. Usia 4 – 6 tahun

Anak usia 4 – 6 tahun memiliki karakteristik antara lain : 1. Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar. 2. Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu. 3. Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hl itu terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat. 4. Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial. Walaupun aktifitas bermain dilakukan anak secara bersama. 5. Usia 7 – 8 tahun Karakteristik perkembangan anak usia 7 – 8 tahun antara lain : 1. Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat. Dari segi kemampuan, secara kognitif anak sudah mampu berpikir bagian per bagian. Artinya anak sudah mampu berpikir analisis dan sintesis, deduktif dan induktif. 2. Perkembangan sosial anak mulai ingin melepaskan diri dari otoritas orangtuanya. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan anak untuk selalu bermain di luar rumah bergaul dengan teman sebaya.

3. Anak mulai menyukai permainan sosial. Bentuk permainan yang melibatkan banyak orang dengan saling berinteraksi. 4. Perkembangan emosi anak sudah mulai berbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak. Walaupun pada usia ini masih pada taraf pembentukan, namun pengalaman anak sebenarnya telah menampakkan hasil.

2.3.

Kondisi Yang Mempengaruhi Anak Usia Dini

Banyak hal yang dapat mempengaruhi kondisi anak usia dini, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Faktor bawaan 2. Faktor lingkungan Pertama, faktor bawaan adalah faktor yang diturunkan dari kedua orangtuanya, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Faktor bawaan lebih dominan dari pihak ayah daripada ibu atau sebaliknya. Faktor ini tidak dapat direkayasa oleh orangtua yang menurunkan. Dan hanya ditentukan oleh waktu satu detik, yaitu saat bertemunya sel sperma dan ovum. Oleh karena itu, saat ovulasi merupakan saat paling berharga untuk sepanjang hidup manusia, karena pada saat itulah diturunkan sifat bawaan yang akan terbawa sepanjang usia manusia. Kedua, faktor lingkungan yaitu faktor yang berasal dari luar faktor bawaan, meliputi seluruh lingkungan yang dilalui oleh anak. Lingkungan dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu lingkungan dalam kandungan dan lingkungan di luar kandungan. Lingkungan dalam kandungan sangat penting bagi perkembangan anak. Karena perkembangan janin dalam kandungan mengalami kecepatan luar biasa, lebih cepat 200.000 kali dibanding perkembangan sesudah lahir. Oleh karena itu lingkungan yang positif dalam kandungan akan berpengaruh positif bagi perkembangan janin, demikian juga sebaliknya. Lingkungan di luar kandungan, juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak usia dini. Sebab anak menjadi bagaimana seorang anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Lingkungan luar kandungan dibedakan menjadi tiga hal yaitu : 1. Lingkungan keluarga, yaitu lingkungan yang dialami anak dalam berinteraksi dengan anggota keluarga baik interaksi secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan keluarga khususnya dialami anak usia 0 – 3 tahun. Usia ini menjadi landasan bagi anak untuk melalui proses selanjutnya. 2. Lingkungan masyarakat atau lingkungan teman sebaya. Seiring bertambahnya usia, anak akan mencari teman untuk berinteraksi dan bermain bersama. Kondisi teman sebaya turut menentukan bagaimana anak jadinya. 3. Lingkungan sekolah. Pada umumnya anak akan memasuki lingkungan sekolah pada usia 4 – 5 tahun atau bahkan yang 3 tahun. Lingkungan di sekolah besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Sekolah yang baik akan mampu berperan secara baik dengan memberi kesempatan dan mendorong anak untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan kemampuan yang sesungguhnya.

2.4.

Pola Perkembangan Anak Usia Dini

Perkembangan setiap anak memiliki pola yang sama, walaupun kecepatannya berbeda. Setiap anak mengikuti pola yang dapat diramalkan dengan cara dan kecepatannya sendiri. Sebagian anak berkembang dengan tertib tahap demi tahap, langkah demi langkah. Namun sebagian yang lain mengalami kecepatan melonjak. Di samping itu ada juga yang mengalami penyimpangan atau keterlambatan. Namun secara umum setiap anak berkembang dengan mengikuti pola yang sama. Beberapa pola tersebut antara lain : 1. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik mengikuti hukum perkembangan yang disebut ―cephalocaudal‖ dan ―proximodistal‖. Hukum cephalocaudal menyatakan bahwa perkembangan dimulai dari kepala kemudian menyebar ke seluruh tubuh sampai ke kaki. Sedangkan hukum proximodistal menyatakan bahwa perkembangan bergerak dari pusat sumbu ke ujung-ujungnya atau dari bagian yang dekat sumbu pusat tubuh ke bagian yang lebih jauh. 1. Perkembangan bergerak dari tanggapan umum menuju ke tanggapan khusus Bayi pada awal perkembangan memberikan reaksi dengan menggerakkan seluruh tubuh. Semakin lama ia akan mampu memberikan reaksi dalam bentuk gerakan khusus. Demikian seterusnya dalam hal-hal lain. 1. Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan Proses perkembangan diawali dari bertemunya sel sperma dan ovum yang disebut ovulasi, dan terus secara berkesinambungan hingga kematian. Kadang perlahan, kadang cepat, kadang maju terus, kadang sejenak mundur. Satu tahap perkembangan menjadi landasan bagi tahap perkembangan selanjutnya. Tidak ada pengalaman anak yang sia-sia atau hilang terhapus. Hanya tertutupi oleh pengalaman-pengalaman berikutnya. 1. Terhadap periode keseimbangan dan tidak keseimbangan Setiap anak mengalami periode dimana ia merasa bahagia, mudah menyesuaikan diri dan lingkungannya pun bersikap positif terhadapnya. Namun juga ada masa ketidakseimbangan yang ditandai dengan kesulitan anak untuk menyesuaikan diri, sulit diatur, emosi negatif dan sebagainya. Pola tersebut bila digambarkan ibarat spiral yang bergerak melingkar dengan jangka waktu kurang lebih 6 bulan, hingga akhirnya anak menemukan ketenangan dan jati diri. 1. Terhadap tugas perkembangan yang harus dilalui anak dari waktu ke waktu Tugas perkembangan adalah sesuatu yang harus dilakukan atau dicapai oleh anak berdasarkan tahap usianya. Tugas perkembangan bersifat khas, sesuai dengan tuntutan dan ukuran yang berlaku di masyarakat. Misalnya bayi lahir dia akan melaksanakan tugas perkembangan berguling, tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, bermain dan seterusnya. Kualitas dan kuantitas tugas perkembangan antara satu daerah berbeda dengan daerah lain. 2.5. Cara Belajar Anak Usia Dini

Anak pada usia dini (0 – 8 tahun) memiliki kemampuan belajar yang luar biasa. Khususnya pada masa kanak-kanak awal. Keinginan anak untuk belajar menjadikan ia aktif dan eksploratif. Anak

belajar dengan seluruh panca inderanya untuk dapat memahami sesuatu, dan dalam waktu singkat ia akan beralih ke hal lain untuk dipelajari. Lingkungan lah yang kadang menjadikan anak terhambat dalam mengembangkan kemampuan belajarnya. Bahkan seringkali lingkungan mematikan keinginannya untuk bereksplorasi. Cara belajar anak mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya usia. Secara garis besar dapat diuraikan cara belajar anak usia dini mulai dari awal perkembangan. 1. Usia 0 – 1 tahun Anak belajar dengan mengendalikan kemampuan panca inderanya. Yakni pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba dan perasa. Secara bertahap panca indera anak difungsikan lebih sempurna. Hingga usia satu tahun anak ingin mempelajari apa saja yang dilihat dengan mengarahkan seluruh panca indera. Hal itu nampak pada aktivitas anak memasukkan segala macam benda ke dalam mulut sebagai bagian dari proses belajar. 1. Usia 2 – 3 tahun Anak melakukan proses belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Ia memperhatikan apa saja yang ada di lingkungannya untuk kemudian ditiru. Jadi cara belajar anak yang utama pada usia ini adalah meniru. Meniru segala hal yang ia lihat dan ia dengar. Selain itu perkembangan bahasa anak pada usia tersebut sudah mulai berkembang. Anak mengembangkan kemampuan berbahasa juga dengan cara meniru. 1. Usia 4 – 6 tahun Kemampuan bahasa anak semakin baik. Begitu anak mampu berkomunikasi dengan baik maka akan segera diikuti proses belajar anak dengan cara bertanya. Anak akan menanyakan apa saja yang ia saksikan. Pertanyaan yang tiada putus. Saat demikian kognisi anak berkembang pesat dan keinginan anak untuk belajar semakin tinggi. Anak belajar melalui bertanya dan berkomunikasi. 1. Usia 7 – 8 tahun Perkembangan anak dari berbagai aspek sudah semakin baik. Walau demikian proses perkembangan anak masih terus berlanjut. Anak melakukan proses belajar dengan cara yang semakin kompleks. Ia menggunakan panca inderanya untuk menangkap berbagai informasi dari luar. Anak mulai mampu membaca dan berkomunikasi secara luas. Hal itu menjadi bagian dari proses belajar anak.

BAB III PENUTUP Kesimpulan 1. Pentingnya memahami anak usia dini mempunyai 3 alasan yaitu usia dini merupakan usia yang paling penting dalam tahap perkembangan manusia, pengalaman awal sangat penting, dan perkembangan fisik dan mental mengalami kecepatan yang luar biasa.

2. Karakteristik perkembangan anak usia dini secara lebih rinci akan diuraikan sebagai berikut : usia 0 – 1 tahun, usia 2 – 3 tahun, usia 4 – 6 tahun, usia 7 – 8 tahun. 3. Kondisi yang mempengaruhi anak usia dini secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu faktor bawaan dan faktor lingkungan. 4. Pola perkembangan anak usia dini dibagi menjadi 5 yaitu : perkembangan fisik, perkembangan bergerak dari tanggapan umum menuju tanggapan khusus, perkembangan berlangsung secara berkesinambungan, terdapat periode keseimbangan dan ketidakseimbangan, dan terdapat tugas perkembangan yang harus dilalui anak dari waktu ke waktu. 5. Cara belajar anak usia dini mulai dari usia 0 – 1 tahun, usia 2 – 3 tahun, usia 4 – 6 tahun dan usia 7 – 8 tahun.

DAFTAR PUSTAKA — — — — — Bruse, Tina, Early Childhood Education, London : Holder & Stoughton, 1987. Depdikbud, Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak, 1994. Ebbeck, Marjory Ann, Early Childhood Education, Melbourne : Longman Cheshire, 1991. Hurlock, Elizabeth B., Perkembangan Anak, Jilid I dan Ikan Mas, Makalah Seminar, Mengembangkan Potensi Anak Usia Dini di Ambarukmo Palace Hotel

Jakarta : Erlangga, 1992. Yogyakarta, 24 September 1998. — — Padmonodewo, Soemiarti, Buku Ajar Pendidikan Pra Sekolah, Depdikbud, Dirjen Dikti. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1990, Tentang Pendidikan Pra

Sekolah. — — Sholehuddin, M. Drs. Konsep Dasar Pendidikan Pra Sekolah, IKIP Bandung, 1997. Sudjud, Aswarni, Konsep Pendidikan Pra Sekolah, FIP IKIP Yogyakarta, 1997.

sumber: http://gudangmakalah.blogspot.com/2009/04/makalah-karakteristik-anak-usia-dini.html

ABSTRACT Early childhood educator is one of behavior model for children since they have intensive interaction with children. Behavior model itself can be verbal or nonverbal. The development of the model is taken place through four steps. The steps are acquisition, retention, performance and reinforcement. All of these steps can have impact to the children through positive or negative reinforcement.

For those reasons, an early childhood educator is expected to be a good model and strengthen children positive behavior. They have to keep positive their words, performance, attitude and practice. Key words : early childhood educator, behavior modeling, children PENDAHULUAN Pendidik pendidikan anak usia dini (PAUD) memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran dan pembentukan perilaku, karena berinteraksi langsung dengan anak sebagai peserta didik. Dalam interaksi langsung inilah, perilaku pendidik PAUD merupakan model bagi anak. Perilaku ini tercermin dalam verbal, yaitu tutur kata, maupun non verbal, yaitu penampilan, sikap, dan tindakan. Perilaku verbal yang terwujud dalam tutur kata merupakan ungkapan terhadap sesuatu. Perilaku ini didapatkan oleh anak melalui indera pendengaran, sehingga pendidik PAUD diharapkan berhati-hati dalam bertutur kata. Pilihan kata dan intonasi suara perlu diperhatikan oleh pendidik PAUD ketika berkomunikasi. Penampilan pendidik PAUD meliputi cara berpakaian, penataan rambut, penggunaan sepatu, maupun atribut lainnya. Anak usia dini merupakan pengamat yang baik, sehingga penampilan pendidik akan menjadi bahan pengamatan bagi anak. Sikap pendidik PAUD tampak dalam perubahan raut wajah atau roman muka pendidik, ketika menyetujui atau menyukai sesuatu, juga sebaliknya. Tampilan raut wajah ini merupakan cerminan perasaan atau respon emosi pendidik PAUD ketika menghadapi sesuatu. Tindakan pendidik PAUD merupakan bentuk nyata perbuatan pendidik atas sesuatu, seperti berjalan, makan, minum, dan sebagainya. Penampilan, sikap, tindakan dan tutur kata ini mencerminkan gaya komunikasi pendidik yang merupakan salah satu model bagi anak ketika berada di sekolah. Oleh karena itu, pendidik PAUD diharapkan memiliki penampilan, sikap, tindakan dan tutur kata yang baik, sehingga anak mendapatkan model yang baik dan patut ditiru. Pembentukan tingkah laku pada anak berlangsung sedikit demi sedikit, bertahap, namun dapat juga berkembang menjadi rantai respon yang lebih panjang dan terintegrasi. Tingkah laku ini dapat diperkuat atau dihilangkan dengan menggunakan penguatan positif maupun negatif. Penguatan berarti memperkuat respons (meningkatkan kecepatannya), dan penguatan positif berarti memperkuat respons-respons dengan menambahkan konsekuensi-konsekuensi positif, seperti pujian atau perhatian. Penguatan negatif berarti menghilangkan stimuli tidak menyenangkan atau yang bersifat menyerang. Pada dasarnya hal yang dikuatkan secara negatif adalah kecenderungan untuk melepaskan dari hal-hal atau perilaku negatif (Crain, 2007). KAJIAN TEORITIS Konsep Dasar Perilaku Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan, baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Sering tidak disadari bahwa interaksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu. Oleh karena itu amat penting

untuk dapat menelaah alasan dibalik perilaku individu, sebelum ia mampu mengubah perilaku tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara aktivitas otak dengan perilaku dan dengan pengalaman. Hal ini dibuktikan dengan timbulnya berbagai reaksi tertentu, misalnya rasa senang atau sakit, ketika ada rangsangan, dan reaksi ini diprogram pada daerah tertentu yang berada dalam otak. Perilaku manusia ada yang dapat diamati secara langsung maupun tidak. Tersenyum, menangis, makan, berjalan, dan berbicara, merupakan perilaku instrumental yang dapat diamati. Sebagian besar perilaku ini dilakukan berdasarkan pada kesadaran. Terjadinya perilaku tertentu manusia dipengaruhi oleh proses mental, yang berupa berbagai cara untuk menstranformasikan masukan inderawi, membubuhi kode-kode pada masukan tersebut dan menyimpan kode-kode ini ke dalam ingatan serta mengambil kembali untuk digunakan ketika diperlukan. Dengan demikian, terjadi persepsi, pembentukan image, pemecahan masalah, ingatan dan berpikir. Seseorang bebas untuk memilih dan menentukan tindakannya sendiri, karena itulah setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, terutama dalam kebebasan berkehendak dan dorongan untuk aktualisasi diri. Individu adalah pemeran yang mampu melakukan kontrol atas dirinya sendiri dan lingkungan di sekelilingnya. Dengan demikian, dorongan utama timbulnya perilaku individu adalah kecenderungan untuk tumbuh dan mengaktualisasikan dirinya (Sukadji, 1986). Lingkungan dan Perilaku Perilaku manusia merupakan hasil interaksi antara pembawaan (genetik) dan kondisi lingkungan. Lingkunga memberikan pengalaman kepada individu, sehingga individu melakukan proses belajar dan menunjukkan perilaku tertentu yang unik atau berbeda antar individu. Lingkungan yang mempengaruhi dapat berupa lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan fisik dapat berupa iklim, kondisi geografis, logistik bahan makanan, benda-benda lain, serta aspek-aspek lingkungan fisik yang lainnya. Lingkungan sosial budaya dapat berupa individu lain, kelompok atau masyarakat, juga hasil-hasil budaya seperti tata nilai, adat istiadat dan benda-benda hasil karya manusia. Lingkungan fisik diperkirakan mempengaruhi kepribadian seseorang, karena adanya motivasi yang berbeda-beda akibat kondisi dan tantangan lingkungan fisik yang berbeda pula. Sebagai contoh perbedaan kepadatan penduduk, akan mempengaruhi perilaku yang timbul. Mereka yang hidup di lingkungan daerah terpencil dengan penduduk yang jarang tidak mempunyai pengalaman yang sama dengan mereka yang hidup di daerah yang modern dengan kepadatan penduduk yang tinggi, dalam hal berteman, bekerja sama, bersekolah, dan sebagainya. Lingkungan sosial budaya memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan perilaku seseorang. Kebiasaan makan, berjalan, berpakaian, berbicara dan bentuk-bentuk perilaku lainnya tidak semata-mata diwariskan, tetapi merupakan hasil dari proses adaptasi lingkungan. Ketika salah satu atau beberapa perilaku sadar dilakukan, biasanya merupakan hasil peniruan dari kebiasaan orang-orang di sekitarnya, terutama orang-orang terdekat dan memberi rangsangan agar memiliki cara berperilaku yang pantas sesuai dengan lingkungan.

Meskipun dalam suatu masyarakat anggota-anggotanya menggunakan satu bahasa, satu sistem politik dan satu cara hidup sekitar yang sama, ada kecenderungan kelompok-kelompok tertentu memiliki dasar-dasar perilaku dan sikap tertentu yang agak berbeda dalam suatu sub kelompok. Kelompok-kelompok etnik, suku bangsa, agama, kelas sosial, daerah regional, meskipun mengadopsi budaya umum yang sama, tetapi kelompok-kelompok ini cenderung memiliki kepercayaan, kebiasaan, tata nilai dan cara hidup yang khusus, yang mempengaruhi perilakunya. Masyarakat dalam lingkungan tertentu mendukung dan menghambat perilaku-perilaku yang dianggap pantas atau tidak pantas terjadi. Hal-hal ini biasanya menyangkut konvensi atau kesepakatan yang tidak tertulis, tetapi harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat yang berada dalam lingkungan tersebut. Konvensi ini juga diwariskan kepada anak melalui modelling, nasehat, tindakan atau bahkan juga tekanan-tekanan tertentu. Lingkungan fisik dan sosial budaya ini senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, individu juga cenderung melakukan adaptasi perilaku untuk mempertahankan hidup, yang tidak hanya memanipulasi lingkungan untuk memenuhi kebutuhan, akan tetapi juga mengubah diri untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan lingkungan. Individu memerlukan sarana yang lebih canggih untuk mempertahankan diri dan budaya, sehingga memerlukan taraf kemajuan mental dan intelektual yang lebih tinggi. Pemodelan Perilaku Pemodelan atau meniru model sering disebut sebagai imitasi. Pada masa kanak-kanak, meniru meniru memegang peranan penting selama masa perkembangan. Ada dua teori meniru, yaitu pembawaan dan pengalaman. Akan tetapi, berdasarkan pada beberapa penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa meniru lebih cenderung berasal dari pembawaan, meskipun pengalaman dapat mengambil peranan dalam terpeliharanya pembawaan meniru. Menurut Bandura, terdapat empat tahap dalam proses peniruan tersebut, yaitu : 1. Tahap pemilikan (acquisition). Dalam tahap ini subyek mengamati, dan perilaku yang diamati menambah perbendaharaan perilaku. Makin jelas dan makin intensif pengamatan, pemilikan perilaku semakin cepat. Akan tetapi, meskipun pengamatan tidak intensif, namun kejadian timbul berulang-ulang, dapat memperkenalkan perilaku yang ditiru. Pengamatan akan lebih efisien apabila tidak ada hal lain yang mengalihkan perhatian dan dalam situasi sosial tertentu, individu belajar jauh lebih cepat hanya dengan mengamati tingkah laku orang lain. Jika perilaku baru dicapai hanya melalui pengamatan, maka proses semacam ini dapat dikatakan bersifat kognitif. Pengamatan juag mengajarkan kepada anak sejumlah konsekuensi yang memungkinkan dari sebuah tingkah laku baru ketika seseorang mempraktekkan. 2. Tahap pengelolaan ingatan (retention). Pada tahap ini, peniru mengelola informasi yang didapatkan, sehingga bagi calon peniru yang cukup cerdas, perhatian akan lebih sepenuhnya bila perilaku yang diamati dibicarakan, diartikan, diberi nama atau label.

3. Tahap pelaksanaan (performance). Pada tahap ini peniru akan melakukan perilaku yang telah dipelajari dari teladan atau model. Peniruan ini dapat hanya berbentuk

representasi, artinya tidak sungguh-sungguh, maupun berbentuk latihan-latihan. Makin banyak tuntutan kehidupan untuk benar-benar melakukan perilaku meniru yang telah disimpan dalam ingatan, makin sering peniru melakukannya. Sebaliknya, apabila perilaku yang ditiru ini tidak dapat dilaksanakan (mungkin karena sukar, tidak adanya kesempatan, atau tidak adanya fasilitas), perilaku itu tidak terpakai. 4. Tahap pengukuhan (reinforcement). Perilaku yang ditiru ini membawa akibat. Bila akibat ini positif bagi peniru, maka perilaku ini akan ditiru lagi. Pengukuhan sendiri dapat bersifat positif maupun negatif. Pengukuhan yang bersifat positif biasanya berbentuk hadiah atau penghargaan, sedangkan penguatan negatif bersifat hukuman, yang berfungsi terutama untuk mengendalikan atau menghilangkan perilaku yang dianggap negatif atau tidak sesuai. Penggunaan jenis-jenis pengukuhan ini tergantung pada budaya setempat, karena perilaku yang dianggap positif atau negatif cenderung berbeda antara satu budaya dan budaya yang lainnya. Individu yang biasanya dijadikan model adalah individu yang dianggap memiliki ”kelebihan” tertentu, misalnya berpengalaman, memiliki sesuatu yang dikagumi, dianggap menjadi figur sosial, dan sebagainya. Pada anak, tidak jarang segala macam perilaku orang dewasa ditiru begitu saja. Dalam lembaga pendidikan anak usia dini, orang dewasa yang menjadi model utama biasanya adalah pendidik, karena dekat, sering bertemu dan berinteraksi dengan anak. Di samping itu, pendidik merupakan model nyata yang tidak terlalu rumit untuk dicontoh oleh anak. PEMBAHASAN Perilaku Pendidik PAUD Perilaku pendidik PAUD merupakan sebuah tindakan tindakan sosial di lembaga pendidikan anak usia diri, karena menghadirkan aktivitas dalam konteks sosial. Tindakan ini dapat bersifat verbal maupun non verbal. Contoh perilaku yang bersifat verbal antara lain memberikan jawaban atas pertanyaan, memberikan pujian atau komentar, mengucapkan penghargaan atau terima kasih. Contoh perilaku yang bersifat non verbal antara lain memberi perhatian dalam bentuk melihat kepada anak yang diberi perhatian, menganggukkan kepala, dan tersenyum. Sebagai pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini, dituntut untuk memiliki perilaku yang terpuji, sehingga patut ditiru, mengingat bahwa anak-anak di lembaga pendidikan anak usia dini merupakan peniru yang ulung, dan belum memiliki pertimbangan yang cukup baik ketika meniru perilaku tertentu. Oleh karena itulah, pendidik perlu mengembangkan perilaku yang sesuai dengan tata nilai dalam budaya masyarakat sekitar dataupun tata nilai yang berlaku secara umum. Perilaku yang dapat dikembangkan oleh pendidik PAUD antara lain : 1. Verbal. Perilaku yang bersifat verbal cenderung sering muncul secara spontan, dan seringkali tidak disadari bahwa hal tersebut didengar dan ditiru oleh anak. Beberapa perilaku bersifat verbal yang hendaknya dikembangkan antara lain gemar memuji, memberikan katakata penyemangat – misalnya ”kamu pasti bisa” - menyapa anak dengan hangat, menanyakan kabar atau kegiatan anak, mengucapkan kata terima kasih, maaf, permisi, dan tolong secara tepat.

2. Non verbal. Perilaku non verbal yang dapt dikembangkan oleh pendidik PAUD antara lain berpenampilan fisik yang menarik anak (mengenakan pakaian yang pantas, mengenakan sepatu yang nyaman dan pantas, memiliki tatanan rambut yang tepat, serta mengenakan atribut lain secara proporsional), memberikan sentuhan kasih sayang berupa pelukan, ciuman, membungkukkan badan atau mensejajarkan diri dengan tingginya anak ketika berkomunikasi, menatap wajah anak ketika berbicara atau menyapa anak. Sementara itu, pendidik PAUD juga harus menghindari beberapa perilaku, antara lain : 1. Verbal. Perilaku verbal yang seharusnya dihindarkan oleh pendidik PAUD antara lain mengumpat, menggerutu, membentak, mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, mengucapkan kata-kata yang memiliki kecenderungan memberikan label kepada anak (misalnya nakal, malas, jelek, bodoh, dan sebagainya), atau kata-kata lain yang dapat melukai harga diri anak 2. Non verbal. Perilaku non verbal yang seharusnya dihindari oleh pendidik PAUD antara lain mencubit, menjewer, memukul, menggunakan perhiasan atau busana yang berlebihan atau tidak pantas, dan sebagainya. Proses Modelling Perilaku pada Anak Usia Dini Banyak perilaku kita yang kita miliki sekarang adalah hasil dari pengkondisian pengalaman kita sebelumnya. Demikian banyak nilai yang kita miliki saat ini hasil pengkondisian mentalitas dan kondisi budaya di mana kita hidup. Anak belajar banyak dengan meniru orang dewasa dan teman sebaya. Ketika anak dibiasakan rapi, disiplin, jujur, tetapi hidup dalam dunia yang amburadul dan tidak disiplin, maka mereka menemui kesulitan untuk memahami aturan-aturan tadi. Dengan memberikan teladan sikap kepada peserta didik, yang langsung dialaminya, jauh lebih mengena dan efektif daripada dengan penjelasan tentang sikap itu panjang lebar kepadanya. Dalam keluarga, anak-anak cenderung dididik berperilaku sedemikian rupa sehingga melestarikan perilaku yang dianggap pantas dalam suatu budaya atau bahkan sub budaya tertentu, sehingga dianggap dapat mempertahankan eksistensi kelompok. Ada kelompok masyarakat yang mendidik anaknya agar berperilaku gigih, kerja keras, tekun, penuh perhitungan, agar kelompok ini tetap survive meskipun mendapatkan berbagai tekanan atau tantangan. Selama masa kanak-kanak, keturunan sosial dialihkan melalui keluarga, sehingga setiap keluarga merupakan suatu sistem sosial yang khas, baik dalam hal pengorganisasian maupun fungsinya. Setiap keluarga mempunyai kekhasan dalam cita-cita, cara merealisasikan citacita, cara berkomunikasi antar anggota keluarga, orientasi tata nilai, cara-cara menghadapi masalah dan mengambil keputusan serta cara-cara memelihara keseimbangan keluarga, sehingga setiap anak memiliki dasar perilaku yang berbeda-beda. Pengaruh keluarga ini terlihat melalui cara mendidik, keteladanan, penghargaan, maupun hukuman. Ketika anak keluar ke lingkungan yang lebih luas, antara lain lembaga pendidikan, menerima pengaruh yang lebih banyak pula dalam hal perkembangan perilakunya. Lembaga pendidikan juga memberikan stimulasi yang mempengaruhi dasar-dasar perilaku. Lembaga pendidikan selain memberikan bekal pengembangan intelektual, juga menanamkan cita-cita, tata nilai dan cara-cara berperilaku yang dapat diterima oleh masyarakat. Lembaga

pendidikan merupakan tempat berlatih sosialisasi, mempertemukan anak-anak dengan teman sebaya, tempat anak-anak belajar mengikuti otoritas orang dewasa selain orangtua mereka, tempat belajar aturan-aturan sosial, dan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dewasa untuk dijadikan sebagai teladan. Jadi, sudah selayaknya apabila orang dewasa yang berada di lembaga pendidikan memiliki kecakapan personal dan sosial yang baik agar dapat dijadikan sebagai model yang baik bagi anak. Dengan demikian, lembaga pendidikan memiliki peranan sebagai tempat terjadinya proses sosialisasi, yang memiliki fungsi-fungsi :
1. 2. Menanamkan nilai-nilai budaya masyarakat pada umumnya Menetralkan perlakuan ekstrem keluarga, misalnya mengajarkan perilaku untuk saling berbagi pada anak tunggal yang terlalu dimanja dan tidak pernah berbagi 3. Membantu anak mencapai kemandirian secara emosional

Dalam hal ini tentu saja pendidik merupakan salah satu orang dewasa yang memiliki peranan sebagai model perilaku bagi anak, sehingga hendaknya senantiasa memiliki perilaku – verbal maupun non verbal - yang patut dicontoh. Hal ini karena perilaku pendidik meruapakn sebuah tindakan sosial yang dapat berfungsi sebagai pengukuh. Perilaku pendidik merupakan salah satu informasi yang dapat menstimulasi anak sebagai peserta didik untuk berperilaku serupa. Ada tiga cara informasi ini masuk ke dalam otak anak, yaitu : 1. Informasi masuk dengan jalan ”dipaksakan” atau tanpa sengaja. Sebagai contoh tutur kata pendidik terhadap anak – misalnya kasar, lembut, sopan - atau ungkapan spontan pendidik ketika menghadapi situasi yang tiba-tiba – misalnya tiba-tiba tersandung, tiba-tiba buku terjatuh - , yang didengar oleh anak setiap kali berada di lembaga pendidikan, merupakan informasi yang tanpa sengaja diperoleh oleh otak anak, yang akan semakin menguat dalam benak anak ketika intensitasnya semakin kuat. 2. Informasi masuk sesuai dengan pilihan. Dalam hal ini anak dihadapkan pada berbagai informasi, misalnya sedang berada dalam ruangan kelas dengan beberapa pendidik. Ada pendidik yang berperilaku ramah, ada pendidik yang diam, ada pendidik yang sedang berkreasi mengerjakan sesuatu. Anak tidak dapat mengamati semua hal yang terjadi, dan mungkin hanya hal-hal tertentu saja dari pendidik yang menarik perhatiannya, sehingga informasi yang masuk bersifat selektif. 3. Informasi masuk karena dicari. Anak dapat mencari informasi yang diperlukan. Misalnya anak memeluk pendidik untuk memastikan bahwa dia diperhatikan, anak menoleh ke kiri atau kanan untuk mencari pendidik yang disukai, dan sebagainya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perhatian anak terhadap perilaku pendidik, antara lain : Intensitas, yaitu sering atau tidaknya perilaku tertentu ditampilkan atau diperdengarkan kepada anak. Misalnya, pendidik yang sering menyakiti anak secara verbal (misalnya menghardik anak, berkata kasar, dan sebagainya), akan ditiru dan diterapkan oleh anak dalam pergaulannya sehari-hari. Kontras, yaitu perilaku berbeda yang mencolok di dalam suatu kelompok. Misalnya dalam sekelompok pendidik yang menggunakan seragam, ada seorang pendidik yang tidak

berseragam, dapat memancing keingintahuan anak, dan apabila perilaku ini kerap dinampakkan, merupakan model bagi anak untuk meniru, yaitu bahwa tidak perlu berseragam ke lembaga pendidikan, meskipun ini sudah menjadi kesepakatan bersama. Gerakan, merujuk pada aktivitas fisik yang ditampilkan oleh pendidik dalam keseharian. Faktor-faktor internal yang terdapat dalam diri anak, antara lain harapan, suasana hati (mood) dan motif. Misalnya, sapaan ramah pendidik akan benar-benar menarik perhatian apabila anak berada dalam suasana hati riang ketika berada di rumah dan berangkat menuju lembaga pendidikan.

Perilaku pemodelan perilaku pendidik oleh anak terjadi melalui proses penginderaan, pemersepsian, peniruan, dan implementasi. Pada tahap awal, anak melakukan penginderaan terhadap perilaku pendidik. Penginderaan ini sering terjadi melalui proses pengamatan (melihat) dan pendengaran (mendengar). Anak memiliki kemampuan yang baik dalam merekam informasi yang diperoleh. Proses mengamati ataupun mendengar dapat terjadi secara intens maupun tidak, tetapi ini cukup bagi anak untuk mereproduksi ulang informasi yang dilihat ataupun didengar. Pengamatan merupakan proses belajar sosial bagi anak, karena terdapat keterlibatan orang lain, dalam hal ini pendidik. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh anak ketika melakukan pengamatan, antara lain :
1. Perilaku-perilaku tertentu atau baru dapat dipelajari lebih baik karena tampak nyata di hadapan anak (anak tidak perlu berimajinasi) 2. Memperkaya perilaku anak dalam kelompok melalui pengamatan terhadap banyak perilaku, termasuk pendidik dan teman sebaya 3. Mengembangkan kognisi anak. Dalam proses pengamatan, meskipun subyek kadang terlihat pasif, namun dia membuat tanggapan-tanggapan tertentu yang mungkin tidak dapat diamati oleh orang lain

Hal-hal yang dilihat dan/atau didengar oleh anak kemudian dipersepsi, diproses dan dicopi dalam otak anak, kemudian dilakukan oleh anak, sama persis dengan perilaku yang ditiru. Oleh karena itu, pendidik hendaknya berhati-hati dalam berpenampilan, bersikap, bertindak dan bertutur kata, terutama ketika sedang bersama-sama dengan anak. Proses mempelajari perilaku dan kemudian meniru perilaku tertentu tersebut memerlukan kemampuan belajar anak, yang sangat tergantung pada tahap perkembangan anak, terutama perkembangan sistem saraf. Semakin berkembang persarafan anak, makin besar kapasitas anak untuk mempelajari dan meniru perilaku tertentu. Oleh karena itu, pada anak dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, proses peniruan perilaku berlangsung sangat cepat dan mudah. Mempelajari perilaku tertentu tertentu sesungguhnya juga merupakan sebuah proses yang mendasari perubahan perilaku, yang tergantung juga pada pengalaman yang didapatkan oleh anak. Dengan demikian, pendidik pada lembaga pendidikan anak usia dini diharapkan memberikan pengalaman yang menarik dan menyenangkan bagi anak, sehingga proses pembentukan dan perubahan perilaku dapat berlangsung efektif.

KESIMPULAN Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak.Perilaku dapat bersifat verbal maupun non verbal
1. 2. 3. Perilaku merupakan hasil interaksi antara pembawaan dan lingkungan Lingkungan yang mempengaruhi perilaku dapat bersifat fisik maupun sosial budaya Dalam proses belajar, anak melakukan peniruan atau imitasi terhadap segala bentuk perilaku orang dewasa 4. Proses peniruan dipengaruhi oleh perkembangan persyarafan otak anak. Semakin baik perkembangan persarafan, semakin mudah dan cepat anak melakukan proses ini. 5. Terdapat empat tahap dalam proses peniruan atau pemodelan perilaku, yaitu tahap pemilikan (acquisition), pengelolaan ingatan (retention), pelaksanaan (performance), pengukuhan (reinforcement) 6. Pendidik PAUD perlu mengembangkan perilaku yang tepat, baik secara verbal maupun non verbal, karena merupakan model bagi anak 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian anak terhadap perilaku pendidik antara lain intensitas, kontras, gerakan, faktor-faktor internal yang terdapat dalam diri anak, antara lain harapan, suasana hati (mood) dan motif.

Penulis : Pamong Belajar BPPNFI Regional IV DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Definisi Persepsi. http://antoniusfelixshared.blogspot.com/2008/10/definisi-persepsi.html. Download tanggal 14 April 2010 Bandura. 1962. Social Learning Through Imitation. Dalam M.R Jones (Ed.), Nebraska Symposium on Motivation. University of Nebraska Press. Lincoln Crain, William. 2007. Teori Perkembangan, Konsep dan Aplikasi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta Sukadji, Sutarlinah. 1986. Pengantar Psikologi. Penerbit Karunika. Jakarta

http://www.bppnfi-reg4.net/index.php/pendidik-paud-sebagai-model-perilaku-anak-usia-din.html http://penilikkorwil3.blogspot.com/2011/11/karakteristik-program-pendidikan-anaka.html http://dachun91.wordpress.com/2010/11/22/karakteristik-anak-usia-dini/ http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=metode%20pendidikan%20anak%20usia%20dini%20den gan%20story%20telling&source=web&cd=2&ved=0CE8QFjAB&url=http://repository.upi.edu/operat or/upload/t_pd_0908299_chapter2.pdf&ei=PQraT8fIIsLorQeV3_XwBw&usg=AFQjCNHUNytd056bsk BS6ZzPS5T6plQupA http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=metode%20pendidikan%20anak%20usia%20dini%20den gan%20story%20telling&source=web&cd=9&ved=0CFcQFjAI&url=http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jur nal/3208198203.pdf&ei=PQraT8fIIsLorQeV3_XwBw&usg=AFQjCNFpzR7enVulPEet1ZdwyFf3k01CLA

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=metode%20pendidikan%20anak%20usia%20dini%20den gan%20role%20playing&source=web&cd=1&sqi=2&ved=0CEsQFjAA&url=http://repository.upi.edu/ operator/upload/s_c0151__0603308_bibliography.pdf&ei=nAraT8HeHIHrAeptJjiBw&usg=AFQjCNFU7WhI17Kvou5uewSWalML4g0pIQ

Oleh : KUNTJOJO A. Hakikat Anak Usia Dini Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14). Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.
1. 2. 3. 4. 5.

Anak bersifat unik. Anak mengekspresikan perilakunya secara relative spontan. Anak bersifat aktif dan enerjik. Anak itu egosentris. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal. Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang. Anak umumnya kaya dengan fantasi. Anak masih mudah frustrasi. Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak. Anak memiliki daya perhatian yang pendek. Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

12. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman. B. Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini. Adapun karakterisktik cara belajar anak menurut Masitoh dkk. (2009: 6.9 – 6.12) adalah : 1. 2.

Anak belajar melalui bermain. Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya.

3. 4.

Anak belajar secara alamiah. Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan,

bermakna, menarik, dan fungsional. C. Karakteristik Pembelajaran untuk Anak Usia Dini Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini, menurut Sujiono dan Sujiono (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 138), pada dasarnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh anak. Atas berikut. 1. Belajar, bermain, dan bernyanyi Pembelajaran untuk anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi (Slamet Suyanto, 2005: 133). Pembelajaran untuk anak usia dini diwujudkan sedemikian rupa sehingga dapat membuat anak aktif, senang, bebas memilih. Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alatalat permainan dan perlengkapan serta manusia. Anak belajar dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan. Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan belajar dilakukan dengan teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan seluruh alat inderanya. 2. Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu : 1) berorientasi pada usia yang tepat, 2) berorientasi pada individu yang tepat, dan 3) berorientasi pada konteks social budaya (Masitoh dkk., 2005: 3.12). Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati, kemampuan yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut menantang untuk dilakukan anak di usia tersebut. dasar pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajaran untuk anak usia dini memiliki karakteristik sebagai

Manusia merancang,

merupakan

makhluk

individu.

Perbedaan kegiatan,

individual juga harus manjadi pertimbangan guru dalam menerapkan, mengevaluasi berinteraksi, dan memenuhi harapan anak. Selain berorientasi pada usia dan individu yang tepat, pembelajaran dapat berorientasi perkembangan pembelajaran harus yang mempertimbangkan konteks sosial budaya anak. Untuk mengembangkan program bermakna, guru hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat, faktor budaya yang melingkupinya. D. Kriteria Pemilihan Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran sebagai segala usaha guru dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan (Masitoh dkk., 20056.3). Ada bermacam-macam strategi pembelajaran yang dapat dipilih oleh guru Taman Kanak-kanak. Pemilihan strategi pembelajaran hendaknya mempertimbangkan beberapa faktor penting, yaitu: a. karakteristik tujuan pembelajaran, b. karakteristik anak dan cara belajarnya, c. tempat berlangsungnya kegiatan belajar, d. tema pembelajaran, serta e. pola kegiatan (Masitoh dkk., 2005: 6.3). E. Jenis-jenis Strategi Pembelajaran di Taman Kanak-kanak 1. Strategi Pembelajaran yang Berpusat pada Anak a. Pendekatan yang melandasi pembelajaran yang berpusat pada anak Anak merupakan individu yang sedang tumbuh dan berkembang. Anak juga merupakan makhluk yang aktif. Atas dasar fakta tersebut maka dikembangkan strategi pembelajaran berdasarkan: 1) pendekatan perkembangan dan 2) pendekatan belajar aktif. b. Karakteristik pembelajaran yang berpusat pada anak Pembelajaran yang berpusat pada anak memiliki karakteristik sebagai berikut (Masitoh dkk., 2005: 8.5 – 8.6).
    

Prakarsa kegiatan tumbuh dari anak. Anak memilih bahan-bahan dan memutuskan apa yang akan dikerjakan. Anak mengekspresikan bahan-bahan secara aktif dengan seluruh inderanya. Anak menemukan sebab akibat melalui pengalaman langsung dengan objek. Anak mentransformasi dan menggabungkan bahan-bahan.

 Anak menggunakan otot kasarnya. c. Sintaks pembelajaran yang berpusat pada anak Pembelajaran yang berpusat pada anak terdiri dari 3 tahap utama, yaitu : tahap merencanakan, tahap bekerja, dan tahap review. 1) Tahap merencanakan (planning time) Pada tahap ini guru member kesempatan kepada anak-anak untuk merencanakan kegiatan yang akan dilakukannya. Guru, misalnya,

menyediakan alat-alat bermain yang terdiri dari : a) balok-balok kayu, b) model buah-buahan, c) alat-alat transportasi, d) buku-buku cerita, e) peralatan menggambar, dan f) macam-macam boneka. 2) Tahap bekerja (work time) Setelah memilih kegiatan yang akan dilakukannya, anak kemudian dikelompokkan berdasarkan kegiatan yang dipilih. Pada tahap ini anak mulai bekerja, bermain, atau memecahkan masalah sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Guru mendampingi siswa, memberikan dkungan dan siap memberikan bimbingan jika anak membutuhkan. 3) Review / recall Setelah anak-anak selesai melakukan aktivitasnya, mereka kemudian diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalamannya secara langsung. Pada tahap ini guru berusaha agar ana-anak mengungkapkan perasaannya dengan tepat. 2. Strategi Pembelajaran Melalui Bermain a. Rasional strategi pembelajaran melalui bermain Bermain merupakan kebutuhan anak. Bermain merupakan aktivitas yang menyatu dengan dunia anak, yang di dalamnya terkandung bermacammacam fungsi seperti pengembangan kemampuan fisik motorik, kognitif, afektif, social, dst. Dengan bermain akan mengalami suatu proses yang menarahkan pada perkembangan kemampuan manusiawinya. b. Sintaks pembelajaran melalui bermain Strategi pembelajaran melalui bermain terdiri dari 3 langkah utama, yaitu: tahap prabermain, tahap bermain, dan tahap penutup. 1) Tahap prabermain Tahap prabermain terdiri dari dua macam kegiatan persiapan : kegiatan penyiapan siswa dalam melaksanakan kegiatan bermain dan kegiatan penyiapan bahan dan peralatan yang siap untuk dipergunakan. a) Kegiatan penyiapan siswa terdiri dari : (1) guru menyampaikan tujuan kegiatan bermain kepada para siswa, (2) guru menyampaikan aturan-aturan yang harus diikuti dalam kegiatan bermain, (3) guru menawarkan tugas kepada masing-masing anak, misalnya membuat istana, membuat, menara, dst., dan (4) guru memperjelas apa yang harus dilakukan oleh setiap anak dalam melakukan tugasnya. b) Kegiatan penyiapan bahan dan peralatan yang diperlukan, misalnya menyiapkan bak pasir, ember, bendera kecil, dsb. 2) Tahap bermain Tahap bermain terdiri dari rangkaian kegiatan berikut : a) semua anak menuju tempat yang sudah disediakan untuk bermain, b) dengan bimbingan guru, peserta permainan mulai melakukan tugasnya masing-masing, c) setelah kegiatan selesai setiap anak menata kembali bahan dan peralatan permainannya, dan d) anak-anak mencuci tangan. 3) Tahap penutup Tahap penutup dari strategi pembelajaran melalui bermain terdiri dari kegiatan-kegiatan : a) menarik perhatian dan membangkitkan minat anak tentang aspek-aspek penting dalam membangun sesuatu,

seperti mengulas bentuk-bentuk geometris yang dibentuk anak, dsb., b) menghubungkan pengalaman anak dalam bermain yang baru saja dilakukan dengan pengalaman lain, misalnya di rumah, c) menunjukkan aspek-aspek penting dalam bekerja secara kelompok, d) menekankan petingnya kerja sama. 3. Strategi Pembelajaran Melalui bercerita a. Rasional strategi pembelajaran melalui bercerita Pencapaian tujuan pendidikan Taman Kanak-kanak dapat ditempuh dengan strategi pembelajaran melalui bercerita. Masitoh dkk. (2005: 10.6) mengidentifikasi manfaat cerita bagi anak TK, yaitu sebagai berikut.

Bagi anak TK mendengarkan cerita yang menarik dan dekat dengan lingkungannya merupakan kegiatan yang mengasyikkan.

   

Guru dapat memanfaatkan kegiatan bercerita untuk menanamkan nilai-nilai positif pada anak. Kegiatan bercerita juga memberikan sejumlah pengetahuan social, nilai-nilai moral dan keagamaan. Pembelajaran dengan bercerita memberikan memberikan pengalaman belajar untuk mendengarkan. Dengan dengan mendengarkan cerita anak dimungkinkan untk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Membantu anak untuk membangun bermacam-macam peran yang mungkin dipilih anak, dan bermacam layanan jasa yang

ingin disumbangkan anak kepada masyarakat. b. Sintaks pembelajaran melalui bercerita Strategi pembelajaran melalui bercerita terdiri dari 5 langkah. Langkah-langkah dimaksud adalah sebagai berikut. 1) Menetapkan tujuan dan tema cerita. 2) Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih, misalnya bercerita dengan membaca langsung dari buku cerita, menggunakan flannel, dst. 3) Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita sesuai dengan bentuk bercerita yang dipilih. 4) Menetapkan
 

gambar-gambar,

menggunakan

papan

rancangan

langkah-langkah

kegiatan

bercerita, yang terdiri dari: menyampaikan tujuan dan tema cerita, mengatur tempat duduk,

   

melaksanaan kegiatan pembukaan, mengembangkan cerita, menetapkan teknik bertutur, mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.

5) Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita Untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran dilaksanakan penilaian dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan isi cerita untuk mengembangkan pemahaman anak aka isi cerita yang telah didengarkan. 4. Strategi Pembelajaran Melalui Bernyanyi a. Rasional strategi pembelajaran melalui bernyanyi Honig, dalam Masitoh dkk. (2005: 11.3) menyatakan bahwa bernyanyi memiliki banyak manfaat untuk praktik pendidikan anak dan pengembangan pribadinya secara luas karena : 1) bernyanyi bersifat menyenangkan, 2) bernyanyi dapat dipakai untuk mengatasi kecemasan, 3) bernyanyi merupakan media untuk mengekspresikan perasaan, 4) bernyanyi dapat membantu membangun rasa percaya diri anak, 5) bernyanyi dapat membantu daya ingat anak, 6) bernyanyi dapat mengembangkan rasa humor, 7) bernyanyi dapat membantu pengembangan keterampilan berpikir dan kemampuan motorik anak, dan 8) bernyanyi dapat meningkatkan keeratan dalam sebuah kelompok. b. Sintaks pembelajaran melalui bernyanyi Strategi pembelajaran dengan bernyanyi terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut. 1) Tahap perencanaan, terdiri dari: (a) penetapkan tujuan pembelajaran, (b) penetapan materi pembelajaran, (c) menetapkan metode dan teknik pembelajaran, dan (d) menetapkan evaluasi pembelajaran. 2) Tahap pelaksanaan, berupa pelaksanaan apa saja yang telah direncanakan, yang terdiri dari: (a) kegiatan awal : guru memperkenalkan lagu yang akan dinyanyikan bersama dan memberi contoh bagaimana seharusnya lagu itu dinyanyikan serta memberikan arahan bagaimana bunyi tepuk tangan yang mengiringinya. (b) Kegiatan tambahan : anak diajak mendramatisasikan lagu, misalnya lagu Dua Mata Saya, yaitu dengan melakukan gerakan menunjuk organ-organ tubuh yang ada dalam lirik lagu. (c) Kegiatan pengembangan : guru membantu anak untuk mengenal nada tinggi dan rendah dengan alat musik, misalnya pianika. 3) Tahap penilaian, dilakukan dengan memakai pedoman observasi untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang telah dicapai anak secara individual maupun kelompok. 5. Strategi Pembelajaran Terpadu a. Rasional strategi pembelajaran terpadu

Anak adalah makhluk seutuhnya, yang memiliki berbagai aspek kemampuan, yang semuanya perlu dikembangkan. Berbagai kemampuan yang dimiliki oleh anak dapat berkembang jika ada stimulasi untuk hal tersebut. Dengan pembelajaran terpadu, pembelajaran yang mengintegrasikan ke dalam semua bidang kurikulum atau bidang-bidang pengembangan, berbagai kemampuan anak yang ada pada anak diharapkan dapat berkembangan secara optimal. b. Karakteristik strategi pembelajaran terpadu Pembelajaran terpadu memiliki karakteristik : 1) dilakukan melalui kegiatan pengalaman langsung, 2) sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, 3) memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan semua pemikirannya, 4) menggunakan bermain sebagai wahana belajar, 5) menghargai perbedaan individu, dan 6) melibatkan orag tua atau keluarga untuk mengoptimalkan pembelajaran (Masitoh dkk., 2005: 12.10). c. Prinsip-prinsip strategi pembelajaran terpadu Strategi pembelajaran terpadu direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip: 1) berorientasi pada perkembangan anak, 2) berkaitan dengan pengalaman nyata anak, 3) mengintegrasikan isi dan proses belajar, 4) melibatkan penemuan aktif, 5) memadukan berbagai bidang pengembangan, 6) kegiatan belajar bervariasi, 7) memiliki potensi untuk dilaksanakan melalui proyek oleh anak, 8) waktu pelaksanaan fleksibel, 9) melibatkan anggota keluarga anak, 10) tema dapat diperluas, dan 11) direvisi sesuai dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan anak (Masitoh dkk., 2005: 12.10). d. Manfaat strategi pembelajaran terpadu Ada beberapa manfaat dari strategi pembelajaran terpadu, yaitu: 1) meningkatkan perkembangan konsep anak, 2) memungkinkan anak untuk mengeksplorasi pengetahuan melalui berbagai kegiatan, 3) membantu guru dan praktisi lainnya untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya, dan 4) dapat dilaksanakan pada jenjang program yang berbeda, utnuk semua tingkat usia, dan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. e. Sintaks pembelajaran terpadu Prosedur pelaksanaan pembelajaran terpadu terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut (Masitoh dkk., 2005: 12.19 – 12.20). 1) Memilih tema Pemilihan tema untuk pembelajaran terpadu dapat bersumber dari: (a) minat anak, (b) peristiwa khusus, (c) kejadian yang tidak diduga, (d) materi yang dimandatkan oleh lembaga, dan (e) orang tua dan guru. Ada beberapa kriteria untuk pemilihan tema, yaitu: (a) relevansi topik dengan karakteristik anak, (b) pengalaman langsung, (c) keragaman dan keseimbangan dalam area kurikulum, (d) ketersediaan alat-alat, dan (e) potensi proyek. 2) Penjabaran tema Tema yang sudah diplih harus dijabarkan ke dalam sub tema-sub tema dakan konsep-konsep yang didalamnya terkandung istilah (term), fakta (fact), dan prinsip (principle), kemudian dijabarkan ke dalam bidang-bidang pengembangan dan kegiatan belajar yang lebih operasional. 3) Perencanaan

Perencanaan harus dibuat secara tertulis sehingga memudahkan guru untuk mengetahui langkah-langkah apa yang harus ditempuh. Tentukan tujuan pembelajaran, kegiatan belajar, waktu, pengorganisasian anak, sumber rujukan, alat-permainan yang diperlukan, dan penilaian yang akan dilakukan. 4) Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan dilakukan dan dikembangkan kegiatan belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pada saat proses berlangsung dilakukan pengamatan terhadap proses belajar yang dilakukan oleh anak. 5) Penilaian Penilaian dilakukan pada saat pelaksanaan dan pada akhir kegiatan pembelajaran dengan tujuan untuk mengamati proses dan kemajuan yang dicapai anak melalui kegiatan pembelajaran terpadu.
http://ebekunt.wordpress.com/2010/07/27/strategi-pembelajaran-untuk-anak-usia-dini/
METODE BELAJAR BAGI ANAK USIA DINI Walaupun pendidikan berlangsung sepanjang hayat, namun menurut Maria Montessori, enam tahun pertama masa anak sebagai jangka waktu yang paling penting bagi perkembangannya. Tahun prasekolah menjadi masa anak membina kepribadian mereka. Karenanya, setiap usaha yang dirancang untuk mengembangkan minat dan potensi anak harus dilakukan pada masa awal ini untuk membimbing anak menjadi diri mereka dengan segala kelebihannya. Orangtua dan pendidik harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensi anak untuk menimba ilmu pengetahuan, bakat, dan kepribadian yang utuh. Acuan memilih metode pengajaran untuk anak usia 0-6 tahun menurut Penasehat Himpunan Tenaga Kependidikan Usia Dini, Dr. Anggani Sudono MA, adalah melibatkan anak dalam kegiatan belajar. Ketika di sekolah anak diajak memilih materi yang ingin dieksplorasi. Dengan begitu anak mendapat inspirasi dan belajar mengambil keputusan sendiri. Terdapat beberapa metode pengajaran yang disesuaikan dengan tahap usia anak: Usia 0-3 tahun: anak dapat mengikuti kegiatan di sekolah taman bermain. Apapun metodenya, yang harus diperhatikan ialah hubungan komunikasi guru dengan anak, bagaimana cara guru itu berkomunikasi. Ketika mengajar, sebaiknya guru tidak mendominasi kegiatan anak. Usia 5 tahun: berikan kegiatan yang dapat memberi kesempatan pada anak mengobservasi sesuatu. Sebaiknya pendidik tidak melulu mencontohkan lalu anak mengikuti. Tapi, biarkan anak mencobacoba, misal anak menggambar bunga dengan warna hijau, kuning atau biru. Pendidik dapat memberikan kosakata baru pada anak dan membiarkan mereka merangkai kalimat. Usia 6-12 tahun: perbanyak melatih kemampuan anak bercerita dan mempresentasikan apa yang mereka ketahui. Metode belajar ditekankan pada bagaimana anak berpikir kreatif, misalnya ketika menjelaskan suatu hal atau benda. Salah satunya dengan metode main maping, yaitu membuat jaringan topik. Misal, minta anak menjelaskan konsep meja dan biarkan anak memaparkan satu persatu pengetahuannya tentang meja mulai dari berbagai bentuk, fungsi sampai jumlah penyangganya. Proses belajar-mengajar yang baik adalah jika anak berinteraksi dengan pendidik, yaitu orangtua dan guru. Maka pendidik harus pandai menciptakan situasi yang nyaman, membangkitkan semangat

belajar, dan anak antusias belajar dengan memberikan metode pengajaran yang tepat. Jika tipe belajar anak lebih aktif melalui alat pendengarannya (auditif ), maka anak diajarkan dengan mendengarkan kaset yang diselingi dengan menunjukkan gambarnya (demonstrasi). dapat juga dengan memutarkan video agar anak dapat melihat (visual) dengan jelas apa yang terjadi. Dengan harapan, tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai. Berikut ini beberapa metode pengajaran yang dapat Anda pilih antara lain : Metode Global (Ganze Method) Anak belajar membuat suatu kesimpulan dengan kalimatnya sendiri. Contohnya, ketika membaca buku, minta anak menceritakan kembali dengan rangkaian katanya sendiri. Sehingga informasi yang anak peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diserap lebih lama. Anak juga terlatih berpikir kreatif dan berinisiatif. Metode Percobaan (Experimental method) Metode pengajaran yang mendorong dan memberi kesempatan anak melakukan percobaan sendiri. Menurut Maryam, staf pengajar di Sekolah Alam Ciganjur, Jakarta Selatan, terdapat tiga tahapan yang dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasi, yaitu mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan sendiri. Misalnya, anak belajar tentang tanaman pisang, pendidik tak hanya menjelaskan tentang pisang tapi juga mengajak anak ke kebun untuk mengeksplorasi tanaman pisang. Dengan belajar dari alam, anak dapat mengamati sesuatu secara konkret. Kegiatan ini dapat dilakukan mulai umur empat sampai 12 tahun. Metode Resitasi (Recitation Method) Berdasarkan pengamatan sendiri, minta anak membuat resume. Maryam menambahkan, pada usia 4-12 tahun merupakan masa kritis anak yang selalu menanyakan, Mengapa begini dan begitu?. Misalnya anak bertanya, Mengapa pohon dapat berbuah? Libatkan anak untuk mengamati proses pembiakan lalu minta anak menyimpulkannya sendiri. Metode Latihan Keterampilan (Drill Method) Kegiatan yang mewakili metode ini sering Anda lakukan bersama si kecil, yaitu membuat prakarya (artwork). Sekolah Learning Vision menggunakan metode ini untuk mendorong anak belajar menjalani proses ketika membuat patung dari lilin atau karya tiga dimensi lainnya. Selain melatih kemampuan motoriknya, seperti menulis, menggambar, menghias dan menggunakan alat-alat. Anda juga dapat mengajarkan anak berhitung secara konkret. Metode Pemecahan Masalah (Problem solving Method) Berikan soal-soal yang tingkat kesulitannya dapat disesuaikan dengan kemampuan anak. Lalu ajak anak mencari solusinya bersama-sama. Metode Perancangan (Project Method ) Kegiatan yang mengajak anak merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian. Salah satu sekolah yang menggunakan metode ini adalah Tutor Time. Pola pikir anak menjadi lebih berkembang dalam memecahkan suatu masalah serta membiasakannya menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki. Metode Bagian (Teileren Method) Metode pengajaran ini mengaitkan sebagian-sebagian petunjuk yang mengarah pada sesuatu, seperti potongan puzzle yang digabungkan satu persatu. Setelah ...

..orangtua berhasil mengidentifikasi cara belajar yang tepat bagi anaknya, perlu pula mendapatkan implementasi konsep pengajaran yang sesuai dengan karakter dan kemampuan anak. Berikut beberapa konsep pengajaran yang biasa diterapkan di tahap pengajaran prasekolah: Holistic Education Banyak pakar pendidikan menyatakan bahwa pendidikan seyogyanya dipahami sebagai seni menanamkan dimensi moral, emosi, fisik, psikologi, dan spiritual dalam perkembangan anak. Pemikiran holistik meliputi keseluruhan dimensi dan integrasi banyak tahap dari pemahaman dan pengalaman anak dibanding sekadar penemuan kemampuan anak pada satu hal saja. Pendidikan holistik bertujuan untuk mengembangkan penghormatan intrinsik pada kehidupan dan cinta belajar. Cara yang dilakukan berupa memunculkan rasa cinta lingkungan dan mendorong kreativitas anak. Seni dari pendidikan holistik ini terletak pada keberterimaan cara belajar dan kebutuhan anak yang berbeda. Kumon Metode yang ditemukan di Jepang pada 1954 ini menekankan pada motivasi diri agar anak tak tergantung pada orang lain untuk belajar. Program ini difokuskan pada membentuk keterampilan anak dalam kemampuan berbahasa Inggris, matematika, dan lainnya berdasarkan kesadaran akan kebutuhan diri sendiri. Anak dilatih juga untuk belajar dari kesalahan yang dibuatnya dengan bimbingan instruktur sehingga anak menjadi tak takut untuk belajar sesuatu dan percaya diri. Montessori Konsep pengajaran yang ditemukan oleh pakar pendidikan usia dini, Dr. Maria Montessori, ini didasarkan pada potensi dan karakter anak sesuai perkembangan usianya. Secara normal setiap anak memiliki karakteristik untuk suka mencari tahu, konsentrasi spontan, mulai memahami realita, suka ketenangan dan bekerja sendiri, memiliki rasa posesif, ingin melakukan semuanya sendiri, patuh, independen dan berinisiatif, disiplin diri spontan, serta ceria. Kesemua sifat ini dimiliki anak secara normal dan metode pengajaran yang diterapkan tak melawan kenormalan ini. Justru menggunakan karakter ini untuk memasukkan berbagai pemahaman nilai dan keterampilan. Multiple Intelligence(MI) Pendekatan pengajaran dengan konsep multiple intelligence ini mendorong anak untuk mengeksplorasi kemampuan dan keterampilan intelektualnya, seperti seni, matematika, atau bahasa. Dasar dari pendekatan multiple intelligence ini adalah keyakinan bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Tiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda dalam kemampuan intelektualnya. Menurut pakar pendidikan anak dari AS, Howard Gardner, terdapat tujuh kemampuan intelektual pada anak, yaitu verbal (bahasa), logical (matematika), visual (spasial), kinestetik, musikal (ritme), interpersonal, dan intrapersonal. Karenanya pendidik menggunakan pendekatan MI untuk mengakomodasi cara belajar dan kemampuan intelektual anak yang berbeda dalam kurikulumnya. Konsep MI biasanya digunakan di prasekolah Religion-based Preschools Pengajaran yang dilakukan difokuskan pada pembentukan kemampuan akademik, sosial, emosi, dan keterampilan mental yang didasarkan pada kerangka spiritual. Banyak sekolah menggunakan prinsip agama sebagai panduan pendekatan pola pengajaran sehingga perkembangan dirinya tetap berlandaskan personal spiritual yang kuat. Smart Reader Program ini semakin popular di seluruh Asia. Diciptakan oleh pakar pendidikan anak, Dr.Richard Ong dan Dr. KH Wang, Smart Reader merupakan konsep belajar baru yang bertujuan untuk mengubah potensi anak menjadi sebuah prestasi. Metode ini dilakukan secara intensif dalam kelas kecil. Orangtua dapat memilih program intens yang sesuai untuk kebutuhan anaknya, seperti smart reader programme, smart maths, computer whiz, English programme, dan lainnya. Thematic Approach Program ini tepat diterapkan pada anak prasekolah untuk memberi pemahaman yang menyeluruh tentang suatu tema. Pengajaran iptek, seni, bahasa, konsep sosial, dan matematika dapat diintegrasikan bersama dari sebuah tema yang dipilih. Anak dapat

membuat hubungan dari sebuah tema mulai dari proses sampai hasilnya. Seperti, tema tentang kupu-kupu. Anak membaca cerita atau puisi tentang kupu-kupu untuk belajar membaca dan keterampilan berbahasa, mewarnai gambar kupu-kupu untuk belajar bentuk dan komposisi warna, dan mempelajari proses metamorfosis dari ulat, kepompong, hingga menjadi kupu-kupu untuk mempelajari iptek. The Glen Doman Method Glen Doman merupakan pendiri Institute for the Achievement of Human Potential (IAHP) yang terkenal dengan konsep pengajaran berdasarkan tingkat perkembangan otak anak yang masih terbatas. Ia menyakini bahwa metode pengajaran konvensional sangat mengeksploitasi gairah anak untuk memiliki kemampuan pengetahuan dan keterampilan lain. Berdasarkan usia, anak memang masih memiliki keterbatasan yang tak dapat dipaksakan. Seperti, jika orang dewasa berkata dengan berbisik, maka anak usia 18 bulan tak akan memberi respon karena pendengaran belum cukup berkembang untuk menangkap bisikan itu. Atau anak tak bisa membaca jelas karena kemampuan visualnya belum sempurna untuk melihat huruf kecil. Sebaiknya anak disajikan gambar yang besar dengan warna terang. Metode ini dijalankan dengan menggunakan flashcards yang disertai petunjuk. Ideal bagi anak usia 10-18 bulan. The Reggio-Emilia Approach Metode ini mulai dikenal pada 1960-an di Itali dengan mendasarkan pada pemberdayaan anak untuk ikut berpartisipasi dalam proses belajar. Pengajaran dipusatkan pada panjang pendeknya masa belajar anak melalui eksplorasi pada suatu obyek dan anak memenuhi keingintahuannya tentang obyek itu hingga maksimal. Anak dilatih untuk bekerja mengamati sesuatu berdasarkan rencana belajar dan waktu yang telah disusun. The Shichida Method Metode Shichida atau Right Brain Training yang ditemukan Prof. Makoto Shichida ini meyakini bahwa 90 persen pembentukan otak dilakukan sampai anak usia enam tahun. Selama 40 tahun Schichida mengembangkan teknik untuk dapat menstimulasi sejak dini perkembangan otak kanan sebagai permulaan pondasi untuk kehidupan anak kelak. Dan pembentukan tersebut sudah bisa dimulai sejak anak berusia tiga bulan. Hal ini bisa dilakukan jika anak mendapat metode pengajaran yang tepat. Lima kemampuan yang terdapat di otak kanan juga berhubungan dengan lima kemampuan yang ada di otak kiri. Metode ini mengklaim bahwa kemampuan untuk melihat, mendengar, dan membentuk suatu stimulus dapat diubah menjadi sebuah imej tertentu bagi anak. Metode ini membantu mengembangkan memori fotograf, kemampuan mengkalkulasi ...
...kekuatan mental, mengubah perasaan dan pikiran ke dalam kata-kata, berhitung, simbol, kemampuan untuk menguasai bahasa asing, dan membaca cepat. Total Child Concept Pengajaran ini diaplikasikan dengan pemberian pengajaran bahasa, matematika, musik, dan penyelesaian masalah. Sebagai tambahan untuk mengembangkan kemampuan akademik anak, Total Child Concept membentuk anak untuk memiliki keterampilan sosial dan emosi agar dapat berpartisipasi sempurna dalam proses pengajaran dan pergaulan sosial. Hal ini diimplementasikan lewat pelatihan kontrol diri, mengembangkan respek, suka menolong, dan tak mementingkan diri sendiri. Sumber : http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelEducation.php?artik... (untuk mengetahui kehadiran anda di halaman ini, silahkan klik link di bawah ini) http://hitcoins.com/in.php?sid=11756

http://peperonity.com/go/sites/mview/petualangan/22180566(p3)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->