P. 1
METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN

|Views: 935|Likes:
Published by Devi Pujiawati

More info:

Published by: Devi Pujiawati on Jun 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

METODE PENELITIAN/ILMIAH

BAB I II III IV V VI VII VIII IX X MATERI KULIAH Pendahuluan Cara memperoleh kebenaran dan ilmu pengetahuan Metode dan jenis penelitian Beberapa metode pengumpulan data Masalah topik, sampling, dan variable Perencanaan penelitian Pengolahan dan analisis data Kerangka penelitian – langkah-langkah dalam penelitian Peranan statistika dalam penelitian Penulisan laporan DOSEN PEMBINA Rudi

PUSTAKA
Ann Majchrzak. Methode for Policy Research,. Sage Publication. Beverli Hills. London. 1984. Arjatmo Tjokronegoro (Editor). 1979. Metodologi Penelitian Bidang Kedokteran. Komisi Pengembangan Riset dan Perpustakaan. FKUI. Jakarta. Fred. N. Kelinger. 1990. Azas-azas Penelitian. (Terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Masri Singarimbun dan SofianEffendi. 1987. Metode Penelitian Survei. LP3ES. Yogyakarta.
Mohamad Zainuddin. 1988. Metode Penelitian. Universitas Airlangga. Surabaya.

Moch. Nasir. 1985. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Sugiyono. 1994. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung.

Sumadi Suryabrata. 1981. Metodologi Penelitian. Jakarta. Rajawali. Sutrisno Hadi. 1987. Metodologi Research. Jilid 2. Yogyakarta. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Winarno Surachmad. 1989. Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar dan Teknik. Bandung. Tarsito. Yatim Riyanto. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. SIC. Surabaya.

FKM
Metodologi Penelitian

Ilmu ttg Metode (Cara, tehnik, dsb)

Merupakan salah satu langkah dari Metode Ilmiah

Metode dalam rangka mendapatkan/ memperoleh pengetahuan yang disebut Ilmu

Pengetahuan Ilmiah & Teknologies Pengetahuan ? Ilmu/ Science/ Sains ? Definisi-definisi Dari rasa ingin tahu

Pendekatan Ilmiah
Pengetahuan dapat dikatakan ilmiah, bila memenuhi : 1. 2.

3.

4.

5. 6.

Objektif artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya. Metodik artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol. Sistematik artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem. Berlaku umum artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten. Dibuktikan secara empirik dan rasional. Menggabungkan cara berfikir induktif dan dedukatif.

Keterbatasan Metode Ilmiah :
Panca i‫ﺣ‬ndra (alat Pengamatan) mempunyai Keterbatasan menangkap suatu fakta fakta keliru kesimpulan keliru kekeliruan dari suatu kesimpulan ilmiah tetap ada kesimpulan ilmiah termasuk IPA bersifat tentatif.

Berfikir ilmiah (Deduktif dan Induktif)
1. Deduktif : menarik kesimpulan dimulai dari pernyataan umum/luas menuju ke pernyataan khusus/sempit dengan menggunakan penalaran atau rasio. : setiap benda padat kalau dipanaskan akan memuai/mengembang (umum); Besi, Seng, Tembaga, Kuningan, dlll adalah benda padat. Oleh karena itu, Besi, Seng, Tembaga, dll akan memuai/mengembang bila dipanaskan (pernyataan khusus)

Contoh

(1)

Contoh

(2)

:

Biinatang akan mati (pernyataan umum) Harimau, sapi, Anjing adalah binatang, jadi pasti akan mati (khusus) pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan khusus/ sempit menuju ke kesimpulan umum/ luas (kebalikan dari deduktif)

2. Induktif :

Proses berfikir induktif tidak dimulai dari TEORI yang bersifat umum tetapi didasarkan dari fakta/ data khusus berdasarkan pengamatan dilapangan atau pengalaman empiris. Dari kemudian - disusun - diolah hasil pengamatan empiris tersebut

Ditarik kesimpulan/ pernyataan yang bersifat umum

- dikaji
(dilakukan dengan menggenelalisir – berlaku umum/ luas – fakta melalui statistika)

KeunggulanMetode Ilmiah
- Mencintai kebenaran yang objektif. Bersifat adil ~ mengurus ke arah hidup bahagia. - Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolut. - Tidak percaya pada tahayul. - Membimbing kita untuk ingn tahu lebih banyak. - Membimbing kita berfikir secara terbuka/ objektif, dan suka menerima pendapat orang lain/ toleran. - Membimbing kita untuk tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata serta berano membuat suatu persyaratan yang menurut keyakinan ilmiah kita adalah benar.

METODOLOGI PENELITIAN
METODOLOGI : (METHOD = CARA, LOGOUS = ILMU) PENELITIAN : TO RE SEARCH RE = Kembali

To Search = to look for = mencari
Penelitian : - adalah suatu proses, yaitu rangkaian langkahlangkah yang dilakukan secara terencana dan sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu.
-

- Merupakan penyelidikan sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan (masalah)

(Langkah-langkah yang dilakukan itu harus serasi dan saling mendukung satu sama lain, agar penelitian yang dilakukan itu mempunyai bobot yang cukup memadai dan memberikan / menghasilkan kesimpulan yang tidak diragukan kebenarannya.

Macam Penelitian
Murni/ dasar 1. Jenis terapan 2. Pendekatan Survey, expost facto, experiment, naturalistik (kualitatif), : policy research, action research, evaluasi, sejarah. 3. Tingkat eksplorasi ; deskriftif, komparatif, asosiatif Kualitatif 4. Jenis data Kuantitatif Survey 5. Metode : Sejarah, deskritif Kasus, eksperimentasi, partisipatory, dll. 6. Sifat : exploratory, deskriptif, explanatory

PENELITIAN TERAPAN : Merupakan kegiatan ilmiah untuk mengungkapkan gejala alam dan gejala sosial dalam kehidupan, yang dipandang perlu diperbaiki karena memiliki berbagai kekurangan atau kelemahan dengan mempergunakan metode yang sistematis, teratur, tertib, dan dapat dipertanggungjawabkan.
PENELITIAN TERAPAN :
1. 2.

Tidak berakhir atau belum berhenti hanya sampai pada membuktikan, menerangkan atau mengungkapkan tentang adanya sesuatu Harus berlanjut pada a. Mengungkapkan dan menerangkan tentang bagaimana adanya sesuatu itu b. Mengungkapkan tentang mengapa demikian atau apa sebabnya adanya sesuatu itu demikian (sebab-sebabnya) c. Menyususn implementasi berupa saran-saran tindakan dalam mengatasi atau menghindari sebab-sebab tersebut, agar adanya sesuatu sesuai dengan harapan atau yang diinginkan

PENELITIAN BISNIS : (BUSINESS RESEARCH)

Merupakan penyelidikan sistematis yang memberi informasi untuk membantu pengambilan keputusan di bidang bisnis.
Penelitian yang baik : selalu menggunakan METODE ILMIAH

Ciri-ciri Metode Ilmiah :
1. 2. 3. 4.

5.
6. 7.

Masalah dan tujuan penelitian harus jelas dan tajam jangan “ngambang” Prosedur penelitian harus diuraikan jelas Rancangan penelitian harus direncanakan dengan baik dan seksama ~ hasil seobjektif mungkin Jujur dalam menulis laporannya Analisis data harus cukup memadai dan metoda analisisnya harus cocok Kesimpulan-kesimpulan harus diambil dari analisa data yang dikumpulkan (jangan menganalisis dari luar) Terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya.

METODA PENELITIAN
Salah satu alat pendekatan ilmiah yang digunakan untuk ;
(1) Mencari kebenaran (2) Menemukan sesuatu pengetahuan baru (3) Mencari pemecahan masalah yang dihadapi

Tujuan Penelitian
1. Tujuan; umumnya penelitian bertujuan untuk :   Menemukan/ mendapatkan suatu yang baru Mengembangkan, artinya memperluas dan menggali lebih dalam realitas/ program yang sudah ada Menguji kebenaran suatu pengetahuan yang berarti menguji lagi suatu kebenaran atau suatu peristiwa karena dirasakan adanya data atau informasi yang masih diragukan

2. Kegunaan - mencari kebenaran

- mencari pemecahan masalah yang dihadapi

3. Peranan :

1) Mencandra/ mendeskripsi/ menggambarkan/ menjelaskan hal-hal yang menjadi pokok permasalahannya
2) Menerangkan/ explanasi kondisi-kondisi yang munculnya permasalahan atau terjadinya peristiwa. mendasari

3) Untuk menyusun teori, prinsip atau aturan-aturan mengenai hubungan antara kondisi atau peristiwa yang satu dengan yang lain
4) Untuk mengadakan prediksi/ perkiraan dan proteksi terhadap permasalahan atau peristiwa terhadap dampak yang akan terjadi 5) Untuk mengendalikan terhadap tindakan-tindakan atau peristiwa.

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENELITIAN
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah Studi kepustakaan/ literature study Penyusunan hipotesis Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variabelvariabel Pengambilan/ pengembangan alat pengambil data Penyusunan rancangan penelitian Penentuan sampel/ contoh Pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Interprestasi hasil analisis Penyusunan laporan/ skripsi/ tesis.

STRUKTUR PROSES/ PROSEDUR PENELITIAN (PROSEDUR) (LANGKAH)
PENETAPAN TOPIK/ OBYEK PENGAJUAN MASALAH : Latar Belakang, Identifikasi/ Perumusan Masalah, Tujuan/ Kegunaan Penelitian

(PROSES)

PERNYATAAN MASALAH PENALARAN DEDUKTIF DAN/ ATAU EDUKTIF (INDUKTI-DEDUKTIF) PERNYATAAN PENDUGAAN JAWABAN (HIPOTESIS) PENGUJIAN PERNYATAAN PENDUGAAN JAWABAN (VERIFIKASI/KOROBORASI)

PENYUSUNAN KERANGKA PENALARAN DAN PERUMUSAN HPOTESIS Berdasarkan Kajian Pustaka (Hukum, Teori, Fakta)

METODE PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA EMPIRIK

PENALARAN INDUKTIF BERDASARKAN SEBAB AKIBAT

BAHAN DAN METODE : Tempat/ Waktu/ Bahan Metode (Teknik Pengumpulan dan Analisis Data)

PERNYATAAN JAWABAN (SIMPULAN)

HASIL DAN PEMBAHASAN : Data Variabel yang diteliti Putusan Analisis Data Interpretasi dan Simpulan Implikasi/ Saran

PENGAJUAN MASALAH (Langkah 1)

MASALAH :

- SESUATU, YANG BELUM/ TIDAK KITA KETAHUI,: BERTANYA
MENGENAI : ♦ APA, BAGAIMANA, BILAMANA, DI MANA

♦ MENGAPA
- ADA KESENJANGAN ANTARA DAS SOLLEN DENGAN DAS SEIN - ADA PERBEDAAN ANTARA YANG SEHARUSNYA DENGAN YANG NYATA ADA, ANTARA HARAPAN DENGAN KENYATAAN, DSB.

Masalah tidak sama dengan obyek/topik
 Masalah tidak selalu tampak jelas  Masalah banyak

harus diidentifikasi

harus dibatasi/ diseleksi

 Masalah harus dirumuskan dengan jelas melalui perumusan masalah

kalimat pertanyaan
 Masalah tidak berdiri sendiri, ada dalam sistem tertentu

latar belakang

Masalah penelitian umumnya dimuat pada bagian utama dari usulan penelitian (Proposal) . Usulan Penelitian (proposal) terdiri dari : - Latar belakang masalah - Identifikasi/ perumusan masalah - Tujuan dan kegunaan penelitian

- Landasan Teoritis/ Kerangka Pemikiran/ Kerangka Pemahaman
- Hipotesis

A. Latar Belakang
Latar belakang ini memuat penjelasan mengenai alasan-alasan mengapa masalah-masalah yang dikemukakan dalam suatu penelitian tersebut dipandang menarik, penting dan perlu diteliti, dilihat dari segi profesi peneliti, pengembangan ilmu atau pengembangan pembangunan. Masalah ini beranjak dari berbagai sumber : - intuisi/ilham - pengamatan sepintas

- bacaan karya ilmiah
- pernyataan pemegang otoritas ilmiah Masalah yang didapatkan lewat penelaahan kepustakaan/ bacaan karya ilmiah sebagai studi pendahuluan untuk mengetahui masalah penelitian sangat penting karena untuk memperkuat cakrawala penelitian.

Dengan studi Pendahuluan (langkah 2), peneliti akan :
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Mengetahui apa yang akan diteliti Tahu bagaimana ia berada dan kepada siapa informasi dapat diperoleh Tahu bagaimana cara memperoleh data atau informasi lebih lanjut Dapat menunjukkan cara analisis data yang tepat Peneliti tahu bagaimana cara mengambil kesimpulan serta memanfaatkan hasil penelitian Peneliti menjadi yakin bahwa penelitian tersebut perlu dilakukan dan dapat dilaksanakan

* Studi pendahuluan ini meliputi 3 obyek :
1. Melalui paper; * majalah – majalah ilmiah (jurnal-jurnal penelitian, bulletin penelitian * buku-buku ilmiah 2. Melalui manusia sebagai sumber keahliannya 3. Melalui lokasi/ tempat penelitian.

B. Identifikasi/Perumusan Masalah
Setelah diidentifikasi, masalah hendaklah dirumuskan langkah selanjutnya. Bentuk dan isi perumusan masalah : 1. Masalah hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya 2. Rumusan itu hendaklah singkat dan jelas 3. Rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu. Misal : Judul “Hubungan antara konsumsi kalori dengan kelelahan pada tenaga wanita Konfeksi pakaian di Desa Loram Wetan Kecamatan Jati Kabupaten Kudus” → penting bagi langkah-

♦ Latar belakang : - mengapa kelelahan
- mengapa konsumsi kalori

♦ Identifikasi/ rumusan masalah Apakah ada hubungan antara tingkat konsumsi kalori dengan kelelahan pada pekerja wanita. Apakah dengan meningkatnya konsumsi kalori, tingkat kelelahan makin menurun atau tidak. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan penelitian adalah merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Kegunaan penelitian adalah merupakan aplikasi dari hasil penelitian serta merupakan kelanjutan dari tujuan penelitian. Selain itu bahwa dari hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi tentang penggunaan suatu objek.

PEMECAHAN MASALAH I. Berfikir sempit/ pendek/sepintas lalu (non ilmiah) (dipakai dalam pemecahan masalah sehari-hari) dicirikan dengan :
     

Berfikir secara cepat/tergesa-gesa Praktis/ tidak bertele-tele Dangkal dalam pemikiranya Berlangsung tidak cermat Kurang tepat (kadang-kadang) dan tidak murni Bukti-bukti untuk menarik kesipulannya kurang sekali (berfikir “sempit” tanpa kebijaksanaan → non ilmiah)

II. Berfikir secara arif bijaksana (ilmiah)  Berfikir dalam kaitan yang lebih luas/ lebar  Merupakan jaringan pengertian yang lebih luas/ lebar  Pandangannya lebih jauh, lebih bervariasi  Dilandasi oleh pengujian yang sistematik  Pembuktian dan faktuil  Pengecekan dan verifikasi berulang-ulang

 TIADA PERNYATAAN ATAU PROPOSISI TANPA PENGERTIAN ATAU

KONSEP, PEMECAHAN MASALAH DILAKUKAN BERDASARKAN PENALARAN KERANGKA PEMIKIRAN
 MASALAH YANG DIRUMUSKAN BERUPA PERTANYAAN YANG

DINYATAKAN DENGAN KALIMAT PERTANYAAN HARUS DIPECAHKAN BERUPA JAWABAN YANG DINYATAKAN DENGAN KALIMAT PERNYATAAN. Tugas : Tiap mahasiswa membuat judul beserta latar belakang, Identifikasi/ Rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan penelitian. Sesuai dengan minat masing-masing.

Ada kaitan antara Judul dengan permasalahan. Judul itu sendiri harus mencerminkan permasalahan yang ada/timbul/diteliti

Komparatif (antar variabel) (banding/beda)

Asosiatif (antar variabel) (hubungan)

Uji beda (uji f, uji t, dst)

Uji regresi korelasi

Oleh karena itu judul penelitian harus memiliki syarat-syarat : 1. Harus menarik

2. Harus dapat dilaksanakan
3. Harus dapat dicari datanya 4. Harus jelas (penting), tidak asal-asalan

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGOROR SEMARANG PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN 1999

Guswani

ABSTRAK

Pengaruh Ketebalan Lapisan Batu Gamping (Limestone) Terhadap pH Dan Kadar Cu Pada Limbah Cair Industri Peleburan Emas di Desa Warukidul Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan.

Limbah cair industri peleburan emas masih asam dan mengandung bahan logam berbahaya diantaranya tembaga (Cu). Dalam rangka penanganan limbah industri peleburan emas tersebut, maka perlu peneitian mengenai pengaruh pemberian gamping terhadap pH dan kadar Cu.
penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pre test post test control group design. Sebagai variabel bebas adalah ketebalan batu gamping dan sebagai variabel terkait adalah pH dan kadar Cu dalam air limbah industri peleburan emas. dengn taraf signifikan sebesar 0,05 menunjukan secara statistik ada perbedaan yyang signifikan dalam kenaikan rata-rata pH antara ketebalan 0,01; ketebalan 0,05 dan ketebalan 0,10 bagian air limbah. Utuk kadar Cu, ternyata harga uji F = 8,39 lebih besar dari nilai krisis F 0,05:2:12=3,89, maka ada perbedaan yang signifikan dalam rata-rata penurunan kadar Cu antara ketebalan 0,01; ketbalan 0,05 dan ketebalan 0,10 bagian. untuk mendapatkan ketebalan gamping yang tepat, masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai tingkat ketebalan pemberian gamping sehingga dapat digunakan untuk pengolahan air limbah, khususnya limbah industri peleburan emas. Kata kunci : gamping, pH da Cu.

Kepustakaan : 24; 1970-1997

CONTOH-CONTOH JUDUL SKRIPSI
1.
2. 3. 4. 5. 6.

7. 8.

Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Rawat Tinggal Dengan Kepuasan Pasien Dalam Pelayanan di RSU RAA . Soewando. Kab. PAti Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja Tenaga Staf Dinas Kesehatan Kodya Bogor. Hubungan Motivasi Kerja Perawat dan Mutu Pelayanan Pasien Rawat Nginap di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Kaitan Pengorganisasian dengan Prestasi Kerja Tenaga Perawat di Ruang Rawat Inap RS Bethesda Yogyakarta. Beberapa Faktor yyang Berhubungan dengan Upaya Pemberantasan / Pengawasan Tikus di Daerah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Hubungan Karakteristik Kepala Ruang Rawat Inap dengan Kegiatan Pengawasan Pelayanan Keperawatan di RSUP Dr, Sardjito Yogyakarata. Hubungan Karakteristik Tenaga Keperawatan dengan Pelaksanaan Proses Keperawatan Nifas di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan, Sistem Pencatatan Pelaporan dan Penyediaan Format dengan Kebenaran dan Ketepatan Laporan Stratifikasi Puskesmas di Kodya Yogyakarata.

9. Studi Komparatif di wilayah Kerja Puskesmas Kec. Abung Barat Terhadap Kinerja Bidan PNS dan Bidan PTT di Kabupaten Lampung Utara. 10. Analisis Biaya Efektivitas Pembangunan Alkon MKPJ pada Beberapa Sarana Yankes di Kec. Banyumanik, Semarang Tahun 1997. 11. Pengaruh Aspek Kebijaksanaan RS. Swandana Terhadap Motivasi Kerja Perawat RSUD RAA Soewondo PAti. 12. Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Pasien Rawat Jalan di Puskesmas II Kartasura Kab. Sukoharjo.

PEMECAHAN

PENYUSUNAN KERANGKA PEMIKIRAN

MASALAH

DAN PERUMUSAN HIPOTESIS (LANGKAH 3)

# PENYUSUNAN KERANGKA PEMIKIRAN

Bila tujuan dan kegunaan sudah dirumuskan maka tahap berikutnya adalah menyusun kerangka penalaran/ pemikiran yang didasarkan kepada pendekatan teoritis dan studi pustaka. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti mempunyai kerangka berpikir untuk dapat memberi jawaban tentang masalah yang diteliti dan jawaban tersebut dirumuskan dalam bentuk HIPOTESIS. Jadi hipotesis adalah jawaban sementara dari masalah yang telah dirumuskan serta didasarkan pada pendekatan teoritis dan studi pustaka. Namun demikian tidak semua penelitian memerlukan hipotesis, misalnya penelitian eksploratif (misal : penelitian ke luar angkasa). Yang kita lakukan dalam menyusun kerangka penalaran adalah penalaran atau reasoning., baik penalaran deduktif maupun induktif. Penalaran deduktif adalah penalaran dari yang umum ke yang khusus, sedangkan penalaran induktif adalah penalaran dari yang khusus ke yang umum. Dimana penalaran tersebut dilakukan :

1. 2.

Untuk menyusun/ mengkaji teori-teori, konsep-konsep yang relevan dengan masalah penelititan. Mengkaji hasil-hasil penelitian lain yang relevan dengan masalah penelitian melalui generalisasi pemikiran/ penalaran tersebut

Kegiatan penyusunan kerangka umumnya berdasarkan kajian pustaka

TEKNIK PENCARIAN PROPOSISI UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA PEMIKIRAN DAN PERUMUSAN HIPOTESIS * MELALUI KAJIAN PUSTAKA Sumber pengetahuan ilmiah Terdokumentasi dan terkomunikasi Di perpustakaan/ koleksi, bahan pustaka/ computer aided information

BAHAN PUSTAKA
 PRIMER- PUBLIKASI BERKALA

Jurnal yang diterbitkan oleh organisasi ilmuwan dan lembaga penelitian berisi hasil penelitian (fakta); diterbitkan berkala dengan nama jurnal, buletin penelitian, komunikasi penelitian, dsb. Ikhtisar (Review) Berisi ikhtisar hasil-hasil penelitian (dengan penyimpulan) yang belum terdokumentasi dalam buku teks dan/atau referensi mutakhir.
 SEKUNDER – Buku teks, buku referensi, ensiklopedi, dsb.

Berisi hukum, teori, fakta (yang diikhtisarkan/ disimpulkan)
 TERSIER – Informasi mengenai buku dan publikasi berkala

# TEKNIK KAJIAN PUSTAKA
 

Pencarian (Search/ Inquiry) Bahan Pustaka Penulisan hasil kajian

* PENCARIAN 1. Langkah Pertama : Kajian Bahan Pustaka Tersier, Informasi mengenai : a. Buku teks dan buku referensi (yang diperoleh selama program pendidikan harus dikuasai) b. Informasi mengenai publikasi berkala : contoh : - Current contents - Chemical abstract, medical abstract, dsb. - Scince citation index, dsb. - Biblirografhy of cotton, dsb. Ditelusur dan ditapis/ diseleksi yang relevan dengan rencana penelitian. 2. Langkah Kedua : Kajian Bahan Pustaka Sekunder Dikaji/ dikaji kembali buku teks/ referensi 3. Langkah Ketiga : Kajian Bahan Pustaka Primer Contoh : Agronomi Jurnal Crop Science Research Buletin of……… Annual review of ……, dsb.

Dikaji secara mendalam publikasi berkala hasil penapisan/ seleksi langkah pertama. Ketiga langkah itu didahului oleh persiapan atau dibantu dengan informasi selama pelaksanaan langkah-langkah itu mengenai lokasi bahan pustaka. Bahan pustaka “Kuarter”, Contoh :BULL AMERICAN LIBRARIAN ASCOC. * HIPOTESIS * Hipotesis dibuat berdasarkan kerangka pemikiran Hipotesis adalah tentative answer to the problem (jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi)

Hipotesis dirumuskan berdasarkan teori prinsip generalisasi yang didapatkan dari kajian pustaka dan disusun berdasarkan kerangka penalaran dalam bentuk kalimat pernyataan.
 MERUMUSKAN HIPOTESIS 1. Ditulis dalam kalimat pernyataan/ deklaratif

2. Kalimat pendek dan jelas
3. Hendaklah menyatakan hubungan atau perbedaan dua atau lebih variable 4. Hendaklah dapat diuji

Hipotesis dapat dipakai untuk menyatakan perbedaan/ persamaan
- perbedaan/ persamaan sesuatu yaitu apakah sesuatu berbeda dengan yang lain dan apakah perbedaan tersebut lebih besar atau lebih kecil atau juga lebih baik, dsb.

- dalam hipotesis umumnya disampaikan hipotesis alternatif, bukan hipotesis nol.
  1. 2. 3.

Hipotesis dapat dipakai untuk menyatakan kaitan/ hubungan antara variabel Beberapa kegunaan hipotesis adalah : Memberi batasan pada jangkauan pekerjaannya Mengorganisasikan fakta ke dalam hubungan-hubungan sehingga peneliti tidak tersesat di dalam lembah fakta. Hipotesis menunjukkan informasi dan data apa yang harus dikumpulkan, termasuk dimana data dan informasi dicari dan berapa banyak informasi yang telah dikumpulkan.

CONTOH HIPOTESIS :
 Mahasiswa memiliki Indek Prestasi yang lebih tinggi dibanding Mahasiswi
 Obat A lebih baik daripada obat B terhadap penyakit X  Varietas A lebih responsif daripada varietas B terhadap pemupukan Urea  Belajar bahasa dengan cara diskusi lebih baik dibandingkan dengan cara ceramah  Ada pengaruh pemberian kapur terhadap pH dan kadar Cu pada limbah pabrik  Terdapat hubungan antara tingkat konsumsi kalori dengan kelelahan pada pekerja wanita  Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat pendapatan dengan perilaku dalam memelihara kesehatan
Tugas II : Tiap mahasiswa melanjutkan tugas I (judul beserta latar belakang, Identifikasi/Rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan penelitian. Sesuai dengan minat masing-masing) ditambah Kerangka Pemikiran dan Penyusunan Hipotesis.

MENGUJI HIPOTESIS
 Fungsi hipotesis adalah pernyataan terkaan/ sementara tentang

hubungan tentatif antara fenomena-fenomena dalam penelitian.
 Hubungan tentatif ini akan diuji validitasnya menurut teknik yang sesuai

untuk keperluan pengujian.
 Hipotesis tidak selalu harus diterima kebenarannya. Penolakan hipotesis

dapat merupakan penemuan yang positif, karena telah memecahkan ketidaktahuan (ignorance) yang universal.
 Peneliti dapat mengetahui bukti positif atau negatif bila memiliki

hipotesis dan telah menguji hipotesis tersebut
HIPOTESIS TIDAK DIUJI KEBENARANNYA TETAPI DIUJI VALIDITASNYA, sehingga hipotesis merupakan konsekuensi logis dari bukti yang diperoleh.

Dalam pengajuan hipotesis diperlukan data. Teknik pengujian tergantung dari metode dan desain penelitian yang digunakan. Pengujian hipotesis memerlukan pengetahuan yang luas mengenai teori, kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik, dan teknik pengujian.

Langkah 4

IDENTIFIKASI, KLASIFIKASI DAN PEMBERIAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL-VARIABEL
Variabel : - adalah gejala atau faktor yang berpengaruh/ berperan dalam kegiatan penelitian.

- adalah suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang maupun objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
- adalah suatu faktor yang jika diukur akan menghasilkan skor yang bervariasi. Macam-macam variabel dibagi berdasarkan : a. Hasil pengukuran/pengamatan :

1. Variabel berskala nominal
Variabel berskala nominal adalah variabel yang menunjukkan label yang hanya mampu membedakan antara ciri atau sifat unit satu dengan yang lainnya.

Variabel ini bersifat diskrit dan saling pilah (mutually exlusiv) antara kategori yang satu dengan yang lain. Contoh variabel nominal antara lain adalah jenis kelamin : perbedaan antara pria dan wanita. Variabel ini tidak memiliki jenjang bertingkat. Jadi pengertian lebih tinggi atau lebih rendah dalam hal ini tidak berlaku. Apalagi untuk diukur jarak perbedaan antara kedua ciri itu serta perbandingkannya, pada variabel nominal tidak mungkin.
Variabel nominal dapat dikategorikan nominal dikotomus dan nominal non dikotomus (kategorial). Jenis kelamin merupakan contoh variabel nominal dikotomus sedang contoh dari nominal non dikotomus (kategorial) adalah jenis pekerjaan, jurusan di suatu fakultas, jenis sekolah SMTA, jenis SMK, dan lainlainnya. 2. Variabel berskala ordinal Variabel berskala ordinal adalah variabel yang tersususn berdasarkan jenjang dalam atribut tertentu. Variabel ordinal memiliki variabel bertingkat yang menunjukkan urutan (order). Urutan ini menggambarkan adanya gradasi atau peringkat, jarak tingkat yang satu dengan yang lainnya tidak dapat diketahi dengan pasti. Penetapan kejuaraan dalam perlombaan lari (juara satu, dua, dan tiga) merupakan sebuah contoh variabel ordinal.

Selisih waktu yang dicapai pelari nomor satu dan nomor berikutnya tidak menjadi masalah, yang penting disini adalah nomor satu lebih cepat dari nomor dua dan seterusnya.
Contoh lain variabel ordinal adalah urutan dari pendapat mengenai persetujuan tentang adanya pendidikan sex di tingkat SLTP, misalnya mencari berapa orang yang sangat setuju, setuju, kurang setuju, dan tidak setuju. 3. Variabel berskala interval Variabel berskala interval adalah variabel yang skala pengukurannya memiliki jarak yang konsisten atau memiliki satuan/ unit tertentu. Misalnya nilai atau prestasi belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk skor, dapat dikenal adanya skor 5,6,10 dan sebagainya. Skala penlaian antara 1 sampai dengan 10 memiliki satuan 1,0 per unit, namun skor-skor tersebut tidak memiliki perbandingan. Jelasnya, bahwa skor 5 yang dicapai oleh seorang siswa tidak berarti setengah dari skor 10 yang dicapai oleh siswa lain. variabel yang berskala interval mempunyai sifat dapat membedakan antara unit yang satu dengan yang lain, menunjukkan peringkat, dan memiliki jarak yang tetap. Namun pada variabel yang berskala interval tidak memiliki titik nol mutlak, sehingga skor-skor yang ada di dalamnya tidak bersifat bandingan (ratio).

4. Variabel Ratio Variabel rasio interval adalah variabel yang dalam kuantifikasinya mempunyai nol mutlak. Variabel yang berskala ratio dapat menunjukkan sifat perbandingan. Seperti hasil pengukuran berat badan, seorang yang berat badannya 50 kg adalah setengah dari orang yang berat badannya 100 kg. Dalam statistika, perlakuan terhadap variabel interval dan ratio ini sama, karena keduanya memiliki sifat yang serupa untuk dikenai operasi matematik, yaitu misalnya skor-skornya dapat ditarik rata-rata., dipangkatkan, dibagi dan sebagainya. Oleh karena itu secara singkat kedua variabel itu dijadikan prasarat untuk penggunaan statistika parametrik. Gambaran tenttang ciri komulatif dan masing-masing skala pengukuran variabel tersebut di atas, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel tentang ciri-ciri komulatif skala pengukuran variabel

Skala variabel

Bertingkat

Jarak

Banding

Nominal Ordinal Interval Ratio

v v v

v v

v

b. Dari sifatnya
1)

Dilihat dari sifatnya, variabel dafat dibedakan menjadi dua yaitu : Variabel Aktif, adalah variabel yang memungkinkan untuk dimanipulasi atau diubah sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Metode mengajar merupakan suatu contoh variabel aktif. Pada suatu proses belajar mengajar, setiap saat seorang guru dapat mengganti metode mengajar yang digunakannya jika guru itu menghendakinya. Variabel atributif merupakan variabel yang sifatnya tetap, dan dalam kondisi yang wajar sifat sifat itu sukar diubahnya. Variabel ini identik dengan variabel nominal. Seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan jenis sekolah, tempat tinggal, dan sebagainya. Sifat yang ada padanya adalah tetap, untuk itu peneliti senantiasa hanya mampu berbuat untuk memilih atau menyeleksi. Oleh karena itu variabel jenis ini disebut juga variabel selektif. Dalam proses pengelompokan subjek, misalnya, peneliti akan mengelompokkan ke dalam sub kelompok sampai dengan kriteria sebagai berikut : • Kelompok wanita yang anak guru. • Kelomok wanita yang bukan anak guru. • Kelompok pria yang anak guru. • Kelompok pria yang bukan anak guru.

2)

Peneliti hanya menyeleksi subjek sesuai dengan karakteristik yang ada pada tiap subjek atau unit sampel. b. Dari peranannya

Jenis variabel ditinjau dari fungsinya di dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1)
2) 3)

Variabel bebas (independent variabel)
Variabel tak bebas atau tergantung atau terikat (dependent variabel) Variabel perabtara (intervening variabel).

Variabel bebas dapat dibedakan lagi menjadi beberapa variabel, antara lain yaitu variabel moderator, terkendali, dan variabel random. Dalam bentuk diagram kedudukan variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : Sebab Hubungan Akibat
Variabel Bebas Moderator Terkendali Random/rambang Variabel perantara Variabel terikat

Untuk mengklasifikasikan variabel berdasarkan peranannya cenderung orang memulai dengan mengidentifikasi variabel terikatnya (dependent variabel). Hal ini terjadi karena variabel terikat yang menjadi titik pusat permasalahan, sehingga peneliti sering juga menyebut sebagai variabel kriterium. Contohnya dalam bidang pendidikan adalah prestasi belajar sebagai pokok persoalannya (sebagai variabel terikat). Variabel terikat tersebut tergantung kepada banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut sebagai variabel bebas. Satu atau lebih variabel bebas tersebut yang akan dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat. Contoh variabel tergantungnya adalah prestasi belajar. Variabel bebasnya dapat berupa metode megajar. Di samping metode mengajar masih banyak variabel yang mempengaruhi presasi belajar, misalnya: Jenis kelamin (kalau peneliti memperhitungkan pengaruh jenis kelamin dalam penelitiannya). Jenis kelamin tersebut berperan sebagai variabel moderator. Umur juga mempengaruhi prestasi belajar anak. Jika peneliti menetralisisr umur, dalam penelitiannya dengan mengambil kelompok umurtertentu saja, maka variabel umur berperan sebagai variabel kendali. Kemudian variabel-variabel lain yang masih banyak jumlahnya yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, tetapi dianggap tidak menimbulkan pengaruh yang berarti, sehingga variabel tersebut diabaikan dalam penelitian. Variabel yang diabaikan pengaruhnya itu disebut rembang.

Dalam contoh model di atas yang menjadi variabel intervening adalah proses belajar yang terjadi pada diri subjek yang diteliti. Ada variabel yang disebut dengan extraneous variabel yang termasuk variabel bebas yang tidak dikontrol. Variabel ini tampaknya identik dengan variabel rembang.

Pada penelitian eksperimental, variabel bebas yang utama disebut variabel perlakukan (treament variabel), karena variabel itu secara sengaja dikenakan kepada subjek/ objek caba untuk kemudian diamati akibat yang terjadi pada subjek/ objek coba itu. Variabel akibat yang muncul dan/atau berubah karena perlakuan yang dikenakan pada subjek/ objek coba itu disebut pula variabel respon.
Gambaran tentang jenis-jens variabel penelitian di atas, difisualisasikan sebagaimana skema berikut ini,

Skema tentang jenis-jenis variabel penelitian
Jenis-jenis variabel penelitian

dilihat dari

Skala pengukuran

siftnya

peranannya

Nominal

Ordinal

Interval

Rasio

Variabel Bebas

Variabel terikat

dikotomi

moderator terkendali rambang
Intervening variabel Variabel aktif Variabel antributif

Non dikotomi

Bentuk 1. Variabel kuantitatif Diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu : 1.1. Variabel Diskrit disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik

1.2. Variabel kontinum, menjadi 3 variabel kecil yaitu
• Variabel ordinal yang menunjukkan tingkatan-tingkatan • Variabel interval yaitu variabel yang mempunyai jarak • Variabel ratio yang variabel perbandingan
2. Variabel Kualitatif

B. Berdasarkan Fungsinya 1. Variabel bebas/ Independen Merupakan variabel yang sengaja dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat. Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulan, prediktor, antecedent. 2. Variabel Tergantung/ Dependen

Variabel yang kondisinya ditentukan oleh variabel bebas sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen.
Definisi operasional variabel adalah penjelasan secara rinci terhadap variabel-variabel yang akan diteliti, baik variabel bebas maupun variabel tergantung

Langkah 5

PEMILIHAN/ PENGEMBANGAN ALAT PENGAMBIL DATA
Prinsip : meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik
disebut

Instrumrn penelitian (alat untuk mengukur variabel penelitian)

Variabel ilmu-ilmu alam (banyak tersedia dan telah teruji vakiditas dan reliabilitasnya), misal : - Panas dengan calorimeter - suhu dengan termometer - berat dengan timbangannya - panjang dengan meteran

Variabel ilmu-ilmu sosial (sedikit yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, namun cepat mengalami perubahan ~ tergantung waktu dan tempat. Oki penelitian dalam bidang sosial, instrumen penelitian sering dibuat sendiri oleh peneliti termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya

Cara menyusun instrumen : Titik tolak penyusunan instrumen adalah variabel penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan untuk menetapkan indikator-indikator dari setip variabel diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti ~ dikembangkan dari teori yang ada. Misal : Variabel penelitiannya tingkat kekayaan Indikator kekayaan, misalnya : rumah, kendaraan, tempat belanja, pendidikan anak, jenis makanan yang dikonsumsi, jenis olah raga yang dilakukan dan sebagainya. Indikator rumah, bentuk pertanyaannya : 1. Berapa jumlah rumah 2. Dimana letak rumah 3. Berapa luas masing-masing rumah 4. Kualitas bangunan rumah, dst.

Pada dasarnya ada 2 macam instrumen, yaitu :

1. Instrumen berbentuk test
misal : untuk mengukur prestasi/pengetahuan 2. Instrumen berbentuk non test (misal dengan angket) misal : untuk mengukur sikap, dll. Sedangkan menurut bentuknya ada 3 bentuk instrumen, yaitu :
1. 2. 3.

Bentuk pilihan ganda Checklist Rating scale : menjawab salah satu dari jawaban kuontitatif yang telah disediakan 4. bila kesehatan sangat baik 3. bila kesehatan cukup baik 2. bila kesehatan kurang baik 1. bila kesehatan sangat tidak baik

misal :

~ interval jawaban : 4 3 2 1

PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Pada setiap instrumen baik test maupun non test terdapat butir-butir (item) pertanyaan maupun pernyataan untuk menguji validitas butir-butir instrumen lebih lanjut , maka setelah dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya diujicobakan dan dianalisis dengan analisis item yaitu dengan menghitung korelasi antara setiap skor butir instrumen dengan skor total (taraf signifikansi 0.05)
Sedangkan untuk menguji reliabilitas, hanya dilakukan pada item-item yang sudah memiliki validitas, yaitu dengan teknik : 1. Test re test Pengukuran dengan instrumen sama, respondennya sama dan waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya (taraf signifikansi 0,05) 2. Belah Dua (equivalen) Pengujian/ pengukuran cukup 1 kali pada responden dan waktu yang sama, namun instrumen dua berbeda dengan maksud sama (misal : sudah berapa tahun bekerja dengan dari tahun berapa bekerja), selanjutnya kedua data dikorelasikan, bila + dan signifikan maka instrumen dinyatakan reliabel/ andal/ dapat dipercaya. 3. Gabungan 1 dan 2 4. Interval consistency

Langkah 6

MENYUSUN RANCANGAN PENELITIAN
Rancangan penelitian merupakan pedoman dan langkah-langkah yang akan diikuti oleh peneliti untuk melakuakan penelitiannya. Dalam menyusun rancangan penelitian ini tentu peneliti sudah dapat mengantisipasi tentang berbagai sumber yang dapat digunakan untuk mendukung dan yang menghambat terlaksananya penelitian.

penelitian dilakuakan berangkat daria adanya suatu permasalahan. Masalah merupakan “penyimpanagn” atau deviasi dari suatu yang “standard”. Masalah itu muncul pada ruang (tempat) dan waktu tertentu. Untuk itu maka peneitian dilakukan pada temat dan pada waktu tertentu, untuk masalah tertentu.
rancangan penelitian harus dibuat secara sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang betul-betul mudah diikuti. Secara mendasar isi rancangan penelitian akan memuat hal-hal seperti berikut :

A. Permasalahan, berisi tentang :
1. Latar belakang masalah. Di sini akan berisi tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi pada suatu proyek penelitian, tetapi dlam peristiwa itu, sekarang ini nampaknya ada penyimpangan-penyimpangan dari standard yang ada, baik standard yang bersifat keilmuan maupun aturan-aturan. Oleh karena itu dalam latar belakang masalah ini pada garis besarnya peneliti harus menuliskan mengapa hal ini perlu diteliti.

2. Identifikasi Masalah.

Dalam hal ini perlu dituliskan semua variabel yang berkaitan dengan variabel yang akan diteliti. Variabel yang akan diteliti itu kedudukanna di mana di antar semua variabel-variabel itu. Variabel apa saja yang mempengaruhi secara positif dan negatif terhadp variabel yang akan diteliti. Demikian juga variabel yang diteliti itu mempengaruhi apa terhadap variabel yang lain. Dengan dapat diketahui semua variabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti, maka kedudukan variabel yang akan diteliti menjadi jelas.
3. Batasan Masalah. Karena adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori-teori dan supaya penelitian dapat dilakuakn secara lebih mendalam, maka tidak semua variabel yang mempengaryhi dan dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti, fijadikan obyek penelitian. Untutk itu maka peneliti memberi batasan, tidak semua variabl akan dijadikan obyek penelitian, tetapi hanya beberapa variabel saja. Jadi judul penelitian itu secara eksplisit berisi sejumlah variabel yang akan diteliti, sesuai yang ada pada batasan masalah. 4. Rumusan Masalah. Setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa sajayang akan diteliti), dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik. Seperti telah diuraikan dalam Bab rumusan masalah, maka sebalisnya rumusan masalah itu dinyatakan dalam kalimat pernyataan.

Jadi pola pikir dalam merumuskan masalah itu dapat empat tahapan yang dapat digambarkan seperti pada halaman berikut : 5. Tujuan Penelitian

Tujuan dan kegunaan penelitian berikut sebenarnya dapat diletakkan di luar pola pikir dalam merumuskan masalah. Tetapi ada kaitannya dengan permasalahan, oleh karena itu dua hal ini ditempatkan pada bagian ini.
Tujuan penelitian di sini tidak sama dengan tujuan sampul skripsi atau tesis,yang merupakan tujuan formal (misalnya untuk memenuhi salah satu syarat mendapat gelar sarjana), tetapi tujuan di sini berkaitan dengan tujuan peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang dituliskan. Misalnya rumusan masalahnya: Bagaimana produktivitas kerja pegawai di lembaga A?, maka tujuan penelitiannya adalah : ingin mengetahui swbwrapa tingi produktivtas kerja pegawai di lembaga A. kalau rumusan masalahnya : apakah ada pengaruh latihan terhadap produktivitas kerja pegawai, maka tujuan penelitiannya adalah : ingin mengetahui apakah ada hubungan antara latihan dan produktivitas kerja pegawai, dan kalau ada seberapa besar.

Latar Belakang Masalah berisi tentang sejarah dan peristiwa yang terjadi pada obyek yang akan diteliti, tetapi peristiwa itu nampaknya ada penyimpangan dari standard keilmuan maupun aturan. Peneliti perlu menuliskan mengapa hal itu diteliti. Identifikasi Masalah semua variabel yang mempengruhi/ dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti perlu diuraikan, sehingga kedudukan variabel yang akan diteliti menjadi jelas

Batasan Masalah karena keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori dan supaya penelitian lebih mendlam maka penelitian dibatasi pada beberapa variabel saja

Rumusan Masalah dinyatakan dalam kalimat tanya

Jadi penelitian ini nanti, jawabannya terletak pada kesimpulan penelitian 6. Kegunaan HasilPenelitian Kegunaan hasil penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan. Kalau tujuan penelitian dapat tercapai, dan rumusan masalah dapat terjawab secara akurat maka sekarang kegunaannya apa. Kegunaan hasil penelitian ada dua hal yaitu : 1. Kegunaan untuk mengembangkan ilmu/ kegunaan teoritis. 2. Kegunaan praktis, yaitu membantu memecahkan dan mengantisipasi masalah yang ada pada obyek yang diteliti.

B. Landasan Teori dan Hipotesis
1. Landasan teori. Landasan teori adalah, teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis)

Teori-teori yang digunakan bukan sekedar pendapat dari pengarang, pendapat penguasa, tetapi teori yang betul-betul telah teruji kebenarannya. Di sini juga diperlukan dukungan hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya yang ada kaiannya dengan variabel yanga akan diteliti. Kalau ada dua variabel yang akan diteliti, maka akan diperlukan berbagai teori yang berkenaan dengan variabel tersebut. Misal akan meneliti pengaruh iklim kerja organisasi terhadap produktivitas kerja, maka akan diperlakukan teori-teori yang berkenaan dengan iklim kerja dan produktivitas kerja serta bagaimana hubungan keduanya. 2. Hipotesis Penelitian Rumusan masalah yang dapat terjawab hanya dengan teori maka disebut hipotesis. Jawaban dengan teori ini sifatnya masih semenara, untuk membuktikan kebenarannya maka harus ada data dari lapangan (harus terjawab secara empirik). Karena hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang diajukan, maka titik tolak untuk merumuskan hipotesis adalah rumusan masalah. Kalau ada rumusan masalah penelitian seperti ; Bagaimana produktivitas kerja pegawai di lembaga A, maka hipotesisnya adalah : produktivitas kerja di lembaga Arendah/ tinggi/ sangat tinggi. Kalau rumusn masalahnya : apakah pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai, maka hipotesisnya adalah : ada pengaruh yang tinggi/ rendah kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai. Untuk merumuskan hipotesis, perlu adanya asumsi terlebih dahulu, karena asumsi ini merupakan titik tolak untuk merumuskan msalah.

C. Prosedur Penelitian
Setelah hipotesis diajukan, maka langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana langkah selanjutnya supaya hipotesis tersebut dapat teruji secara empirik. Untuk itu diperlukan langkah sebagai berikut :

1. Menentukan poulasi dan sampel yang dapat digunakan sebagai sumber data. Bila hasil penelitian akan digeneralisasikan (kesimpulan data sampel untuk populasi) maka sampel yang digunakan sebagai sumber data harus representatif dapat dilakukan dengan cara mengambil sampel dari populasi secara random sampai jumlah tertentu.
2. Teknik Pengumpulan Data.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat, sehingga betul-betul didapat data yang valid dan reliabel. Jangan semua teknik pengumpulan data (angket, observasi, wawancara) dicantumkan kaalau nantinya tidak dapat dilaksanakan. Selain itu konsekuensi dari mencantumkan ke tiga teknik pengumpulan data yang dicantumkan harus ada datanya. Memang untuk mendapatkan data yang lengkap dan obyektif perlu penggunaan berbagi teknik, tetapi bila suatu teknik dipandang telah mencukupi maka teknik yang lain bila digunakan akan menjadi tidak efisien.

3. Menentukan Teknik Analisis Data Untuk penelitian dengan pendekatan kuantitatf, maka teknik analisis data ii berkenaan dengan pengujian hipotesis yang diajukan. Benuk hipotesis mana yang diajukan, akan menentukan teknik statistik mana yang digunkan. (lihat bab teknik analisis data). Jadi sejak membuat rancangan, maka teknik analisis data ini telah ditentukan. Bila peneliti tidak membuat hipotesis, maka rumusan masalah penelitian itulah yang perlu dijawab. Tetapi kalau hanya rumusan masalah itu dijawab, maka kesimpulan yang dihasilkan hanya dapat berlaku untuk sampel yang digunakan, tidak dapat berlaku untuk populasi.

D. Organisasi Pelaksana Penelitian
Bila peneliti dilaksanakan oleh tim/ kelompok maka diperlukan adanya organisasi pelaksana penelitian. Minimala ada ketua yang bertanggung jawab dan anggota, sebagai pembantu ketua.

E. Jadwal Penelitian
Rancangan penelitian juga perlu sekali adanya jadwal pelaksanaan penelitian. Berapa lama satu program penelitian akan dapat diselesaikan. Jadwal kegiatan penelitian meliputi :

(Contoh)
1. Persiapan ……………………………………………………………….. 1 bulan a. Mengurus perizinan.. b. Menentukan responden. Pelaksanaan …………………………………………………………….. 1 bulan a. Pengumpulan data. b. Klasifikasi dan tabulasi data. c. Penarikana kesimpulan. Penyelesaian ……………………………………………………………. 1 bulan a. Penyusunana laporan peneitian. b. Diskusi. c. Cetak/ perbanyakan/ penggandaan laporan.

2.

3.

Jumlah waktu yang diperlukan ………………………………………………. 3 bulan

Contoh rancangan penelitian diberikan pada lampiran

Langkah 7

POPULASI DAN SAMPEL
A. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/ subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bkan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/ subyek yang dipelajari, tetapi melputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh oleh subyek atau obyek itu. Misalnya akan melakukan penelitian di Lembaga X, maka Lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai sejumlah orang/ subyek dan obyek yang lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/ kuantitas. Tetapi Lembaga X juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, iklim organisasinya dan lain-lain; dan juga mempunyai karakteristik obyek yang lain, misalnya kebijakan, prosedur kerja, tata ruang produk yang dihasilkan dan lain-lain. Yang terakhir berti populasi dalam arti karakteristik.

Satu oarngpun dapat dipergunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, displin pribadi, hobi, cara bergaul, kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kepemimpinan presiden Y maka kepemimpinan itu merupakan sampel dari semua karakteristik yang dimiliki presiden Y.

Dalam bidang kedokteran, satu orang sering bertindak sebagai populasi. Darah yang ada pada setiap orang adalah populasi, kalau akan diperiksa cukup diambil sebagian darah yang ada pada orang tersebut.

B. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewkili).

Bila sampel tidak representatif, ibarat orang buta disuruh menyimpulkan karakteristik gajah. Satu orang memegang telinga gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti kipas. Orang kedua memegang badan gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti tembok besar. Satu orang lagi memegang ekornya, maka ia menyimpulkan gajah iti kecil bulat seperti seutas tali. Begitulah kalau sampel yang dipilih tidak representatif, maka ibarat 3 orang buta itu yang membuat kesimpulan salah tentang gajah.

C. Teknik Sampling
Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan. Secara skematis, teknik sampling ditunjukan pada gambar 5.1. Teknik Sampling Probability Sampling 1. Simple random sampling 2. Proportionate stratified random sampling 3. Disproportionate stratified random sampling 4. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah) non-probability Sampling 1. Sampling Sistematis 2. Sampling Kuota 3. Sampling Aksidental 4. Purposive Sampling

5. Sampling Jenuh
6. Snowball Sampling

Gambar 5.1. Teknik Sampling

Dari gambar tersebut terlihat bahwa, teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu; proability sampling dan non probabilty sampling. Probability samplig meliputi, simple random, Proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random, dan area random. Nonprobability meliputi, sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling. 1. Probability Sampling Probability sampling, adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi :

a. Simple Random Sampling
Dikaitkan simpel (sederhana) karena cara pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakuakan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi itu. Cara demikian dilakuakan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.2. berikut.
Populasi homogen

Diambil secara random Sampel yang representatif

Gambar 5.2. Teknik Simple Random Sampling

b. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulusan S1 – 45, S2 - 30, STM – 800, ST – 900, SMEA – 400, SD – 300. Jumlah sampel yang harus diambil harus meliputi strata pendidikan tersebut yang dimbil secata proporsional. Jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel diberikan setelah bab ini. Teknik proportionate stratified random sampling dapat digambarkan seperti gambar 5.3. berikut ini

Populasi berstrata

Diambil secara proporsional

Sampel yang representatif Gambar 5.3. Teknik Proportionate Stratified Random Sampling

c. DisproportionateRandom Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah smpel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya populasi pegawai dari PT tertentu mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SLTA, 700 orang lulusan SLTP, maka 3 orang lulusan S3 dan 4 orang lulusan S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SLTA, dan SLTP.

d. Clutser Sampling (Sampling Daerah)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari syatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah dari populasi yang telah ditetapkan.
Misal di Indinesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata, maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling Teknik sampling daerah itu sering dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampe daerah, dan ahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.4. berikut.

Popuasi daerah

A D E G

B

C

F
H I

diambil dengan random

C A E G I

diambil dengan random

Sampel daerah

Sampel individu

Gambar 5.4. Teknik Clutser Random Sampling

2. Nonprobability Sampling Nonprobability sampling, adalah teknik sampling yang memberi peluang/ kesempatan tidak sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampling ini meliputi :

a. Sampling Sistematis
Sampling sistematis, adalah teknik penentuan smpel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnyaanggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dri semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor urut 1 sampai dengan 100 orang. Pengambilan sampel dapat dilakkukan dengan nomor ganjil saja, atau genap saja, atu kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.

b. Sampling Kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah sampel ditentukan umpama 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golngan II) sebanyak 20 orang.

c. Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel, berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebeulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

d. Purpose Sampling
Purpose Sampling, adalah teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel ya.ng dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja

e. Sampling Jenuh
Sampling jenuh, adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota ppulasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampling jenuh ini adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f. Snowball Sampling
Snowball Sampling, adalah teknik penentuan sampel syang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang bila menggelinding, makin lama mkin besar. Teknik sampling ditunjukkan pada gambar 5.5. di halaman berikut. 3. Menentukan Jumlah Sampel Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah populasi.

Jadi bila jumlah populasi 10000 dan hasil penelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 1000. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan sebaiknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).

A Pilihan A B Pilihan B E F G

Sampel pertama

C Pilihan C H I J

Pilihan E
K L M N

Pilihan H
O P

Gambar 5.5. Snowball Sampling

Ada berbagai rumus yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Tetapi pada buku ini disajikan cara menentukan ukuran sampel yang sangat praktis, yaitu dengan tabel dan nomogram. Tabel yng digunakan adalah tabel Krejcie dan nomogram yang digunakan adalah nomogram Harry King. Dengan kedua cara tersebut di tidak perlu dilakukan perhitungan yang rumit. Krejcie dalam melakukan perhitungan ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi. Tabel Krejcie ditunjukkan pada tabel 5.1. Dari tabel itu terlihat bila jumlah populasi 100 maka sampelnya 80, bila populasi 1000 maka sampenya 278, bila jumlah populasi 10.000 maka sampelnya 370, dan bila jumlah populasi 100.000 maka jumlah sampelnya 384. Dengan demikian makin besar populasi semakin kecil persentase sampel. Oleh karena itu tidak tepat bila ukuran populasinya berbeda persentase sampelnya sama, misalnya 10%.

Harry King dalam menghitung sampelnya tidak hanya didasarkan atas kesalahan 5% saja, tetapi bervariasi sampai 15%. Tetapi jumlah populasi paling tinggi hanya 200. Nomogram ini ditunjukkan pada gambar 5.6. Dari gambar tersebut diberikan contoh bila populasi 200, kepercayaan sampel dalam mewakili populasi 95%, maka jumlah sampelnya sekitar 66% dari populasi. Jadi 0,66 x 200 = 132. Bila populasi 800, kepercayaan sampel 90% atau kesalahan 10% maka jumlah sampelnya = 7,5% dari jumlah populasi. Jadi 0,075 x 800 = 60. Terlihat disini semakin besar kesalahan akan semakin kecil jumlah sampel. Contoh mencari ukuran sampel diberikan dibawah nomogram (gambar 5.6.).

Cara menentukan ukurn sampel seperti yang dikemukakan di atas didasarkan atas asumsi bahwa populasi berdistribusi normal. Bila sampel tidak berdistribusi normal, misalnya populasi homogen maka cara-cara tersebut tidk perlu dipakai. Misalnya populasinya benda, katakan logam dimana susunan molekulnya homogen, maka jumlah sampel yang diperlukan 1% saja sudah bisa mewakili.

4. Contoh Menentukan Ukuran Sampel
Penelitian dilakukan terhadap iklim kerja suatu organisasi. Sumber data yang digunakan adalaha para pegawai yang ada pada organisasi tersebut (populasi). Jumlah pegawainya 1000 terdiri atas lulusan S1 – 50, Sarjana Muda – 300, STM – 500, SMP – 100, dan SD – 50 (populasi berstrata).

TABEL 5.1.
TABLE FOR DETERMINING NEEDED SIZE S OF A RANDOMLY CHOSEN SAMPLE FROM A GIVEN FINITE POPULATION OF N CASES SUCH THAT THE SAMPLE PROPORRTION P WILL BE WITHEN + .05 OF THE POPULATION PROPRTION P WITH A 95 PERCENT LEVEL OF CONFIDENCE
N 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 S 10 14 19 24 28 32 36 40 44 48 52 56 59 63 66 70 73 76 80 86 92 97 103 108 113 118 123 127 132 136 N 220 230 240 250 260 270 280 290 300 320 340 360 380 400 420 440 460 480 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1.000 1.100 S 140 144 148 152 155 159 162 165 169 175 181 186 191 196 201 205 210 214 217 226 234 242 248 254 260 265 269 274 278 285 N 1.200 1.300 1.400 1.500 1.600 1.700 1.800 1.900 2.000 2.200 2.400 2.600 2.800 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 15.000 20.000 30.000 40.000 50.000 75.000 100.000 S 291 297 302 306 310 313 317 320 322 327 331 335 338 341 346 351 354 357 361 364 367 368 370 375 377 379 380 381 382 384

Catatan : N – populasi S - sampel

Contoh : Bila populasi 200 sampelnya 132. Tabel ini khusus

GAMBAR 5.6. NOMOGRAM HARRY KING UNTUK MENENTUKAN UKURAN SAMPEL DARI SUATU POPULASI SAMPAI 2.000
2
3 4 5 50 60 10 Tingkat kesalahan di atas 15 % 70 80 90 20 30 40 50 7 6 5 4 3 8 9 10 200 NOTE! Chart shows 90% confidence values only: Multiply the determine R or L values by multiplication factors below for other confidence intervals : Conf. int. Mult. Fact. 80% 85% 95% 99% 0,780 0,875 1,195 1,573 1500 2000 300 400 500 600 700 800 900 1000 100 150 Persentasi pupulasi yang diambil sebagai sampel Ukuran pupulasi 30 40

(%)

60 70 80 90 95

2

1 0,5

99

0,3 Tingkat kesalahan yang dikehendaki

Contoh : Misal populasi berjumlah 200. Bila dikehendaki kepercayaan sampel terhadap populasi 95% atau tingkat kesalahan 5%, maka jumlaha sampel yang diambil – 66%. Jadi jumlah sampel yang diambil 0,66% x 200 = 132 orqng. (tarik dari angka 200 melewati taraf kesalahan 5%, maka akan ditemukan titik di atas angka 60. Titik itu kurang. Jumlah populasi – 1000. Bila kesalahan 5%, maka jumlah sampelnya – 278. Karena populasi berstata, maka sampelnya juga berstrata. Strata menurut tingkat pendidikan. Dengan demikian masing-masing sampel untuk tingkat pendidikan harus proporsional sesuai dengan populasi. Jadi jumlah sampel untuk : S1 SM STM = = =

50
1.000 300 1.000 500 1.000 100 1.000 50 1.000

X

278

= 13,90 = 14 = 83,40 = 83 = 139,00 = 139 = 27,80 = 28 = 13,90 = 14

X 278 X 278 X 278 X 278

SMP
SD

=
=

Jumlah sampel

= 278

Yang terdapat koma dibulatkan ke atas sehingga jumlah sampelnya lebih dari 178 yaitu 280. Hal ini lebih aman daripada kurang dari 178. Gambaran jumlah populasi dan smpel dapat ditunjukkan pada gambar 5.7. berikut :

14

83

139 28

14

Populasi 1.000

Sampel 287

S1 50

SM STM 300 500

SMP 100

SD 50
Gambar 5.7. TSampel yang diambil dari populasi berstrata dengan kesalahan 5%

Cara lain :

MENENTUKAN JUMLA UKURAN SAMPEL
1. n= t2.P.Q d2 1 + 1 t2.P.Q N d2

(Cochran, 1977)

Keterangan : n = jumlaha contoh/ sampel N = jumlah populasi P = probabilitas yang diinginkan peneliti (95%) Q = 1 - P (100% - 95%) = 5%

d = standard error yang diinginkan peneliti (5%)
t = nilai deviasi normal terhadap probabilitas (1,96)

2. Harun Al rasyid (1998) Teknik penarikan sampel dan penyusunan ………….
2

no = Z ½ α 2S no n= n - 1 1+ o 2S Keterangan : no = ukuran sampel minimal n = ukuran sampel N = ukuran populasi α = resiko kekliruan yang mungkin terjadi (0,05%)

S = bound of error (0,15)
Z = nilai Z 3. Nasution, diambil 10% dari populasi.

Skala

: Ordinal

Kategori : 1) Sangat puas
2) Puas 3) Kurang Puas 4) Tidak Puas

skor
skor skor skor

= 51 – 67
= 34 – 50 = 17 – 33 = 0 – 16

E. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei bersifat deskriptif anaitik dengan pendekatan cross sectional. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Data yang dikumpulkan adalah data primer dari hasil pengisian kuesioner. F. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat jalan yang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Tasikmalaya untuk berobat dengan menggunakan kartu ASKES pada bulan Juni 2003. untuk menentukan jumlah populasi, diasumsikan sama dengan bulan juni 2003, yaitu sejumlah 2.335 pasien.

2. Sampel Untuk pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan cara sampling accidential, yaitu teknik penentuan sampel yang dilaksanakan pada kebetulan, yakni siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 1997 : 62).

n=

N
1 + N(d2)

Keterangan : n = Besar sampel N = Besar populasi d = Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan, biasanya 0,05 atau 0,01. Dari rumus di atas, maka dapat dihitung jumlah sampel sebagai berikut : N n= 1 + N(d2) 2.335 = 1 + 2.335(0.12) = 96

Dari hasil penghitungan dengan menggunakan rumus di atas, didapatkan sampel minimal sejumlah 96 orang. Pengambilan sampel dilaksanakan secara proporsional berdasarkan jumlah kasus yang ada di setiap poloikinik/ unit rawat jalan Rumah Sakit Umum Kota Tasikmalaya.

Langkah 8

PENGUMPULAN DATA
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data : 1) Tujan pengumpulan data 2) Penentuan jenis data yang akan dikumpulkan 3) Teknik pengumpulan data yang akan digunakan 4) Penentuan alat bantu pengumpulan data. ad. (1) Tujuan

Mengumpulkan data adalah mengamai variabel yang akan diteliti. Secara umum pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian.
ad. (2) Jenis Data Secara Umum

a. Menurut sifatnya :
i. Data kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk angka, kategori, misalnya : Produksi padi sangat meningka, harga daging sangat mahal, dsb

ii. Data kuantitatif yaitu dalam bentuk angka, ada 2 :

1) Diskrit (hasil penghitungan/ pembilanga, misal : Kabupaen Tasikmalaya sudah membangun 300 gedung sekoah, keluarga A mempunyai 3 anak laki-laki + 2 anak perempuan, dsb)
2) Kontinu (hasil pengukuran, misalnya : tinggi badan, luas daerah, dsb). Kedua data tersebut secara umum mempunyai nilai/ harga yang selalu berubah-ubah ~ bersifat variabel ~ peubah. b. Menurut sumbernya :

i.

Data intern yaitu data yang menggambbarkan keadaan/ kegiatan di dalam suatu organisasi/ badan (Negara, Departemen, Perusahaan, Rumah Tangga, dsb) misalnya : data personalia, data keuangan, data peralatan, data produksi, hasil penjualan, dsb.

ii. Data ekstern, yaitu yang menggambarkan kedaan/ kegiatan diluar suatu organisasi. Misal : bagi suatu perusahaan : data tingkat daya beli masyarakat, perkembangan harga barang-barang ekspor, krisis moneter/ energi, dsb. Data ekstern mempengaruhi karya suatu organisasi (intern) misal : naik turun daya beli masyarakat mempengaruhi hasil penjualan, krisis moneter mempengaruhi hasi ekspor Indonesia.

c. Menurut Cara Perolehannya : i. Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dari objeknya. Misalnya : BPS melakukan sensus penduduk untuk memperoleh data penduduk langsung menghubungi rumah tangga-rumah tangga. Perusahaan susu langsung mewawancarai kepada penduduk untuk mengetahui rata-rata konsumsi susu bagi penduduk tersebut.

ii. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah pihak lain, umumnya sudah dalam bentuk publikasi, misalnya : suatu perusahaan memperoleh data ekonomi dari BPS, data harga dari BPS, data perbankan dari BI, dsb. d. Menurut Waktu Pengumpulannya : i. Data Cross Section (Kerat Lintang) yaitu data yang dikumpulkan pada suatu waktu tertentu yang menggambarkan keadaan/ kegiatan pada waktu tertentu, umumnya menggambarkan/ memperbandingkan keadaan objek yang satu dengan objek yag lain. Misal : membandingkan kinerja dari PNS dengan PTT, dsb.

ii. Data Berkala/ Deret Waktu? Times Series Data/ Data Historis yaitu data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk memberikan gambaran tentang perkembangan suatu kegiatan dari waktu ke waktu. Misal : perkembangan produksi padi selama 5 tahun terakhir, harga bahan pokok selama 5 bulan terakhir.

ad. (3) Teknik Pengumpulan Data Setiap jenis data dapat dikumpulkan dengan menggunakan salah satu teknik pengumpulan data. Perbedaannya hanyalah dalam hal cara menghasikan data yang dimaksud, terutama dalam hubungannya dengan pengolahan dan penyajian data. Teknik pegumpulan data secara umum dapat dibedakan menjadi teknik pengamatan langsung dan pengamatan tidak langsung. Cara yang terakhir kemudian dapat pula dibedakan menjadi beberapa teknik yang lebih rinci. Dalam suatu penelitian jarang sekali hanya digunakan satu teknik pengumpulan data, namun demikian berikut ini akan dibahas masing-masing teknik yang paling banyak digunakan. a. Pengamatan Langsung/ Observasi Teknik pengumpulan data yang paling umum adalah dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian, artinya pengamat atau peneliti berada di tempat terjadinya fenomena yang diamati. Pengamatan langsung yang dapat dikategorikan sebagai teknik pengumpulan data adalah (a) pengamatan tersebut digunakan untuk penelitian dan direncanakan secara sistematis, (b) pengamatan tersebut berkaitan dengan tujuan penelitian, (c) pengamatan dilakukan secara sistematis, dan (d) hasil pengamatan dapat dipertanggung jawabkan (di cek dan di kontrol).

Teknik pengamatan langsung dapat dibedakan menjadi pengamatan tidak berstruktur dan pengamatan berstruktur. Pengamatan tidak berstruktur adalah pengamatan dimana pengamat atau peneliti belum mengetahui sebelumnya aspek-aspek apa yang perlu diamati yang relevan dengan penelitiannya. Pengamatan tidak berstruktur umumnya justru untuk menemukan aspek-aspek yang dpat dijadikan objek pengamatan lebih lanjut. Teknik ini lebih banyak digunakan untuk penelitian antropoogis dan eksploratori.
Pengamatan berstruktur adalah pengamatan dimana pengamat atau peneliti sudah mengetahui sebelumnya aspek-aspek atau fenomena apa yang akan diamati sesuai dengan tujuan penelitiannya. Pengamatan berstruktur ini umumnya adalah pengamatan yang mendalam dan bersifat khusus pada aspek tertentu dari obyek yang diamati, serta pola pengamatan dilakukan untuk menunang hipotesa yang telah disusun. Tknik sangat berhubungan dengan rancangan penelitian (research design), yaitu apakah rancangan bersifat non eksperimental atau eksperimental. Pada rancangan penelitian yang pertama maka pengamat atau peneliti tidak mempunyai kontrol teerhadap objek yang diamati. Dengan demikian struktur pengamatan akan lebih banyak disesuaikan dengan keadaan obyek yang diamati. Sedangkan pada rancangan penelitian eksperimental peneliti memiliki kontrol atas objel yang diamati, sehingga struktur pengamatannya dapat disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi pada objek berdasarkan perakuan tertentu. Misalnya aka diadakan pengamatn terhadap kemampuan belajar 30 murid SD yang memperoleh perlakuan berbeda berupa, 15 murid yang pertama diberi buku panduan pengerjaan soal matematika sedangkan 15 murid yang lain tidak. Struktur pengamatan dapat dilakukan dengan memberikan test sebelum dan sesudah buku panduan dibagikan.

Teknik pengamatan langsung memiliki keuntungan yaitu tidak perlu mengandalkan pada ingatan seseorang, baik objek yang diteliti maupun peneliti sendiri, karena fenomena yang terjadi dapat langsung dicatat. Disamping itu dengan pengamatan langsung dimungkinkan untuk memperoleh gambaran dari fenomena yang sulit atau tidak dapat dikomunikasikan secara verbal. Misalnya perilaku bayi, proses panen padi, dan sebagainya. Sebaliknya kelemahan pengamatan langsung adalah bahwa seringkali waktu yang diperlukan untuk mengadakan pengamatan menjadi lama, keterbatasan terhadap fenomena yang tidak dapat diamati secara langsung, adanya pengaruh dari persepsi dan prasangka pengamat, serta adanya pengaruh dari pengamatan sebelumnya atau pengaruh dari kesan umum.

Dalam pengumpulan data dengan menggunakan pengamatan langsung perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
1) Mengumpulkan pengetahuan umum yang cukup, baik mengeni tujuan penelitian, objek yang diteliti, maupun pengetahuan tentang faktor lain yang mungkin akan berpengaruh terhadap proses pengamatan. Dengan demikian sebaiknya pengamatan langsung dilakukan oleh peneliti sendiri dan bukan oleh pembantu pengumpul data (enumerator). 2) Perlu disusun panduan pengamatan, misalnya kategori perilaku tertentu, fenomena khusus, dan lain-lain. Hal ini diperlukan karena data dari pengamatan langsung umumnya adalah data kualitatif. 3) Harus ditentukan lebih dahulu unit pengukuran akan digunakan. 4) Satuan pengamatan harus jelas, baik wilyah, obyek maupun waktu.

5) Perlu kejelasan terhadap informasi yang dikumpulkan, apakah hal tersebut merupakan fakta atau hasil interpretasi pengamat. Misal, rata-rata setiap keluarga memiliki banyak anak adalah fakta, dan dapat diinterpretasikan bahwwa daerah tersebut program KB belum berhasil. 6) Proses pencatatn harus dilakukan selengkap dan seteliti mungkin.

b. Wawancara Wawancara merupakan salah satu bentuk pengamatan atau pengumpulan data secara tidak langsung. Pengumpulan data dengan wawancara adalah usaha untuk mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secar lisan untuk dijawab secara lisan pula. Perbedaan teknik wawancara dengan pengamatan langsung adalah bahwa pada teknik wawancara harus selalu diusahakan terjadiya komunikasi dan interaksi dua arah antara peneliti dan objek penelitian. Keuntungan wawancara adalah dimungkinkannya penggalian yang mendalam terhadap informasi yang dibutuhkan dari responden. Sedangkan kelemahan pokoknya adalah seringkali kegiatan wawancara membutuhkan waktu yang lama dan berulang-ulang.
Kegiatan wawancara memiliki beberapa tujuan, antara lain: untuk memperoleh, mengkonfirmasikan atau memperkuat fakta, untuk meningkatkan kepercayaan atas informasi yang telah diperoleh sebelumnya, untuk memperkuat perasaan atau pandanganpandangan pribadi seseorang yang menjadi objek penelitian, atau untuk memperoleh standar suatu kegiatan.

Dengan demikian faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dapat berpengaruh terhadap keberhasilan wawancara adalah keadaan responden atau orang yang akan diwawancara (karakteristik sosial, kemampuan menangkap pertanyaan, kemampuan menjawab pertanyaan), pewancara sendiri (karakteristik sosial, kemampuan wawancara, motivasi), siuasi wawancara (waktu, tempat), dan isi wawancara (tingkat kepekaan, kesukaran, minat). Secara garis besar wawancara dapat dilakukan dalam bentuk wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Dalam wawancar terstruktur, seluruh pertanyaan sudah ditentukan sebelumnya sesuai dengan tujuan penelitian. Umumnya tekni wawancara ini menggunakan daftar pertanyaan sebagai alat bantu. Wawancara tidak terstruktur tidak menggunakan daftar pertanyaan, walaupun tetap perlu menggunakan panduan wawancara (interview guige) yang berisi pokok-pokok informasi yang ingin diketahui. Dalam wawancara tidak terstruktur pertanyaan yang diajukan akan berkembang sesuai dengan jawaban responden atas pertanyaan sebelumnya. Selain menyiapkan panduan wawancara atau daftar pertanyaan, pengumpulan data dengan teknik wawancara perlu memperhatikan faktor-faktor berikut : 1) Penggunaan gaya bahasa yang sopan dan baik. Jika dapat gunakanlah bahasa yang digunakan oleh responden sehari-hari (bahasa daerah). 2) Perlu memperhatikan tahapan wawancara : perkenalan, penjelasan mengenai tujuan wawancara, mulai dengan pertanyaan ringan dan umum, akhiri dengan baik disertai dengan ucapan terima kasih.

3) Hindari situasi yang tegang dan kurang menyenangkan (pewancara teburu-buru, menggurui, mengintrograsi, sinis, tegang, mencela). 4) Perhatikan situasi, waktu, tempat wawancara, terutama kehadiran orang lain yang mungkin akan mempengruhi jawaban responden. 5) Urutan pertanyaan harus sistematik dan berurutan. Hindari pengulangan pertanyaan yang sama, atau “meloncat-loncat”.

6) Lakukan pencatatan dengan baik. Perhatikan bahwa pada situasi tertentu kurang menguntungkan jika pecatatan dilakukan didepan responden. Jika dianggap perlu ada baiknya untuk meminta ijin terlebih dahulu kepada responden untuk melakukan pencatatan. c. Pengisian Daftar Pertanyaan/ Angket Bentuk lain dari kegiatan wawancara adalah pengisian daftar pertanyaan yang merupakan bentuk wawancara tidak langsung. Kepada responden diberikan suatu daftar pertanyaan, dan responden tersebut dipersilahkan untuk menjawab sendiri. Pemberian dan pengisian daftar pertanyaan dapat dilakuakn langsung atau dengan menggunakan tenaga pembantu pengumpul data (enumerator)

Keuntungan teknik pengumpulan data dengan pengisian daftar pertanyaan adalah bahwa responden yang dikumpulkan datanya dapat berjumlah sanagat banyak, misalnya, dengan menyebarkan daftar pertanyaan melalui pos atau melalui media masa, dan peneliti tidak perlu bertemu dengan responden. Sedangkan kelemahannya adalah informasi yang diperoleh hanya terbatas pada pertanyaan yang diajukan, dan jika terjadi kesalahan pada penyusunan pertanyaan, tidak dapat langsung diatasi. Disamping itu, kontrol terhadap responden sangat lemah. Terdapat pula kemungkinan bahwa daftar pertanaan tidak diinterpretasikan sama seperti yang dimksud peneliti atau dapat diinterpretasikan berbeda oleh responden yang berbeda. Dalam pengumpulan data dengan pengisian daftar pertanyaan, kunci pokoknya adalah pada daftar pertanyaan itu sendiri sehingga penyusunan daftar pertanyaan harus dilakukan secermat mungkin. Hal ini juga perlu didukung dengan pengenalan umum terhadap responden agar dapat disusun daftar pertanyaan yang benar benar sesuai d. Studi Pustaka Teknik pengumpulan data yang saat ini semakin umum digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Berbagai kegiatan penelitian telah banyak dilakukan oleh berbagai lembaga, sehingga sebenarnya telah tersedia cukup banyak data mengenai banyak aspek.

Data-data ini dapat dikumpulkan kembali, untuk digunakan dalam kerangka penelitian ang berbeda. Teknik studi pustaka ini memiliki keuntungan terutama dalam hal biaya dan waktu, bahkan terdapat beberapa penelittian yang tidak bisa tidak harus menggunakan teknik pengumpulan data ini, seperti penelitian sejarah. Kelamahan yang sering dihadapi adalah dalam hal kedalaman masalah yang dianalisa dan ketergantungan hasil penelitian terhadap pustaka yang digunakan. Bebrapa faktor yang perlu dperhatikan dalam pengumpulan data melalui studi pustaka adalah : a) Peneliti harus memiliki penghayatan dan pengertian yang mendalam terhadap kerangka penelitiannya sendiri, sehinga tidak mudah terpengaruh oleh kerangka yang ada pad pustaka yang diteliti.

b) Peneliti perlu mengumpulkan seluruh, atau sebanyak mungkin, pustaka yang relevan dengan masalah yang akan diteliti sehingga dapat diperoleh informasi yang objektif dan tidak berkesan memihak.
c) Perlu diperhatikan setiap sumber pustaka dan sumber informasi, baik pustaka yang tengah menjadi obyek penelitian maupun sumber yang digunakan oleh penulis pustaka tersebut. d) Perlu diperhatikan tujuan penulisan pustaka yng digunakan. Misalnya perlu kehati-hatian dalam melakukan interpretasi terhadap data yang diperoleh dari suatu laporan dinas dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian perguruan tinggi (skipsi, tesis, atau disertasi) walaupun mencakup objek yang sama.

e) Perlu selalu dihindari adanya “pencontohan” (plagiasi) dari pustaka yang diteliti. ad (4) Alat Bantu Pengumpulan Data Pada dasarnya setiap teknik pengumpulan data memerlukan alat bantu yang berbeda. Disamping itu pemilihan alat bantu yang akan digunakan juga sanagt tegantung pada tujuan penelitian dan jenis data yang akan dikumpulkan. Perkembangan teknologi juga telah memberikan tambahan alternatif alat bantu pengumpulan data, seperti kamera foto, kamera video, tape-recorder, komputer, dan foto-copy; yang kesemuanya akan berpengaruh pada kemampuan peneliti dalam mengumpulkan data yang dperlukan. Namun demikian jika dilihat dari fungsinya seluruh alat bantu pengumpulan data dapat dikelompokkan menjadi catatn penelitian, daftar pertanyaan, dan daftar cek (check list). Alat-alat seperti kamera, tape recorder, buku dan lain-lain dapat disertakan kedalam masing-masing kelompok. a. Catatan Penelitian Catatan penelitian merupakan alat bantu utama dalam melakukan penelitian. Bentuk catatan yang pertama adalah catatan lapangan. Catatan lapangan dibuat pada saat kegiatan kegiatan penelitian sedang berlangsung dan berisi pokok-pokok temuan penelitian. Catatan ini umumnya singkat, tidak sistematis, dan banyak berisi „kesan‟ peneliti. Catatan ini sangat penting artinya pada eknik pengamatan langsung maupun pengamatan tidak langsung (wawancara atau studi pustaka), karena catatan ini merupakan „hasil‟ utama kegiatan penelitian.

Pada studi pustaka, catatan lapangan umumnya merupakan ringkasan atau ikhtisar atau pernyataan-pernyataan khusus dari pustaka yang dibeli, yang akan digunakan sebagai bahan penulisan laporan. Pada teknik pengumpulan data wawancara dengan daftar pertanyaan, catatan lapangan digunakan untuk menampung hasil-hasil pengamatan yang tidak tertampung pada daftar pertanyaan. Rekaman peristiwa dengan menggunakan kamera foto maupun video atau tape-recorder dapat digunakan sebagai pelengkap catatan lapangan. Bentuk catatan kedua adalah catatan harian. Catatan ini merupakan rekapitulasi dari perincian dari catatan lapangan. Kegiatan penelitian umumnya tidak dilakukan dalam satu hari. Jika kegiatan pengumpulan data dilakukan pada siang hari, maka pada malam hhari hendaknya merupakan waktu dimana peneliti membuat catatan hariannya. Atau jika pola tersebut tidak dimungkinkan, setidaknya tiga hari sekali peneliti perlu melakukan rekapitulasi atas catatan lapangan yang telah dkumpulkan. Catatan harian bersifat lebih lengkap, sistematis, dan mengandung berbagai „penjelasan‟. Penulisan catatan harian ilakukan untuk mengurangi adanya data atau informasi yang hilang karena keterbatasan ingatan peneliti, sekaligus untuk memudahkan pekerjaan membuat laporan penelitian. Pada catatan harian dimungkinkan untuk membuat interpretasi atau pembahasan peneliti terhadap data yang diperolehnya. Penggunaan komputer lapangan, jika dimungkinkan, akan sangat membantu penyusunan catatan harian. Hasil rekaman yang diperoleh melalui kamera foto maupun viideo juga masih tetap dapat digunakan untuk melengkapi catatan harian. Bentuk catatn lainnya adalah catatan berkala. Catatan ini digunakan untuk mengumpulkan data deret waktu.

Pada waku yang berbeda, secara berkala dilakukan pengamatan atas suatu objek, kemudian dicatat. Contoh catatan berkala adalah kartu bayi yang diberikan di Pos Yandu, yang mencatat perkembangan bai dari waktu ke waktu. Catatan berkala merupakan bentuk catatan yang sudah dirancang sebelumnya, memiliki peubah pengamat yang terbatas, umumnya hanya menunjukkan hasil akhir suatu pengamatan, dan dapat dilengkapi dengan grafik perkembangan. b. Daftar Pertanyaan Daftar pertanyaan (questioner/kuesioner) merupakan alat bantu yang sangat penting dalam kegitan penelitian. Daftar pertanyaan atau kuesioner diartikan sebagai suatu daftar tertulis yang berisikan rangkaian-rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal tertentu untuk dijawab secara tertulis pula. Kuesioner dapat dibedakan menjadi kuesioner terbuka, yaitu bila responden diberi kesempatan untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri, dan kuesioner tertutup, yaitu bia responden hanya diberi kesempatan untuk memilih jawaban yang telah disediakan. Pertanyaan dalam kuesioner tertutup dapat berbentuk pilihan berganda, check list, atau skala bertingkat. Pertanyaan dalam kuesioner dapatersifat langsung, yaitu mengenai keadaan responden itu sendiri, maupun tidak langsung, yaitu mengenai keadaan responden itu sendiri, maupun tidak langsung, yaitu mengenai keadaan diluar responden.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menyusun kuesioner adalah :

1) Harus tetap dijaga agar pertanyaan dalam kuesioner relevan dan memang terkait dengan tujuan dan hipotesa penelitian. Dalam penyusunan kuesioner peneliti perlu bertanya sendiri : Apakah pertanyaan ini perlu ? Apa hubungannya dengan pertanyaan lain ?
2) Perlu disusun terlebih dahulu hal-hal pokok yang akan ditanyakan, untuk menghindari pertanyaan yang terlupakan atau terulang.

3) Pergunakan kalimat yang jelas, umum, dan sederhana. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan (bermakna ganda, terlalu subjektif/ pribadi). Dalam menyusun kuesioner perlu peneliti perlu bertanya sendiri : Bagaimana kira-kira jawabnya?
4) Pertanyaan hendaknya berjenjang. Misalnya sebelumnya ditanyakan “jelas alat kontrasepsi apa yang saudara digunakan ?” Demikian pula dalam hal tingkat kesulitan pertanyaan. Pertanyaan yang ringan dan mudah sebaiknyya ditempatkan pada bagian awal. 5) Jika akan digunakan tenaga pembantu pengumpul data (enumerator) harus dilakukan penjelasan yang mendalam terlebih dahulu agar enumerator yang bersangkutan dpat mengerti dengan jelas seluruh sistematika daftar pertanyaan dan maksud dari setiap pertanyaan. Enumerator bukan hanya sekedar penanya dan pencatat tetapi juga harus dapat menjelaskan maksud pertanyaan kepada responden.

6) Bentuk fisik daftar pertanyaan harus cukup baik : jelas tulisannya, cukup ruang untuk menjawab, dan cukup unutk lembaran untuk menjawab. Misalnya akan ditanyakan penggunan sarana produksi pertanian perlu disediakan 7 – 8 lembar pertanyaan/ jawaban karena kemungkinan petani memiliki beberapa jenis lahan (sawah, kebun, tegalan) dan masing-masing jenis lahan dapat terdiri dari beberapa persil. 7) Susunan daftar pertanyaan juga perlu memperlihatkan metode pengolahan data yang akan dilakukan. Jika pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan komputer, penyusunan daftar pertanyaan sebaiknya sudah menggunakan kode untuk setiap data. c. Daftar Cek Daftar cek (Check list) adalah suatu daftar dari kegiatan yang harus dilakukan selama penelitian. Daftar cek dapat menyangkut daftar kegiatan itu sendiri (misalnya: a. menghubungi kepala des/lurah, b. mengumpulkan data harga, c. mengamati kegiatan pasar, dan seterusnya), daftar pertanyaan atau daftar bahan yang harus dikumpulkan. Daftar cek digunakan untuk memandu peneliti agar tidak ada kegiatan yang terlewatnya. Pengisian daftar cek dilakukan dengan melingkari, menyilang, atau memberi tanda (ö).

Langkah 9

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
I. PENGOLAHAN DATA 1.1 seleksi/ pilih data atas dasar reabilitas dan validitas.

1.2. data hasil seleksi/ pemilihan diatur, disusun dalam tabel induk/ master table atau matriks. 1.3. olah data dalam tabel induk dan hasil olahan susun dalam tabel kerja/ working table. Selanjutnya data dalam tabel kerja dianalisis dengan analisis statistik atau non statistik. II. ANALISIS DATA 2.1 tentukan apakah data tersebut akan dianalisis secara statistik atau tidak.

2.2. data dianalisis secara statistik jika data berbentuk kuantitatif Cuma dalam bentuk bilangan juga data kualitatif bisa dianalisis apabila data kualitatif itu bisa diubah kedalam data kuantittif.
2.3. analisis non statistik dilakukan pada data deskriptif/ data teratur. Data tersebut biasanya diolah menuruut isinya disebut analisis isi atau disebut pula content analysis.

Sebagian besar responden menyatakan bahwa vektor perantara diare adalah tinja dan lalat sebanyak 103 responden (71,03%).
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Responden Tentang Tanda-tanda Diare di Kecamatan Sariwangi

No. 1. 2. 3.

Tanda-tanda diare Buang air besar/ mencret lebih dari 3 kali sehari Pusing Lainnya Jumlah

Frekuensi 196 4 2 202

% 97,02 1,98 1,00 100,00

Sebanyak 196 responden (97,02%) menyatakan bahwa buang air besar atau mencret termasuk tanda-tanda diare
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahaun Tentang Akibat Penyakit Diare di Kecamatan Sariwangi

No. 1. 2.

Tanda-tanda diare Ya Tidak Jumlah

Frekuensi 204 6

% 97,15 2,85 100,00

Sebagian besar responden mengetahui akibat dari penyakit diare yaitu sebanyak 204 responden (97,15%) dan tidak tidak menegtahui akibat penyakit diare yaitu sebanyak 6 responden (2,85%). Tabel 4.11.
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentqng Akibat yang Ditimbulkan dari Penyakit Diare di Kecamatan Sariwangi

No. 1. 2. 3.

Tanda-tanda diare Kematian Kesakitan Dehidrasi atau Kekurangan Cairan Jumlah

Frekuensi 75 114 15 204

% 36,76 55,88 7,36 100,00

Sebagian besar responden mengetahui akibat kesakitan yang ditimbulkan dari penyakit diare yaitu sebanyak 114 responden (55,88%) kematian sebanyak 75 responden (36,76%) dan lainnya sebanyak 15 responden (7,36%).
Tabel 4.12. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tindakan Awal yang Dilakuakan Untuk Mencegah Diare di Kecamatan Sariwangi

No. 1. 2. 3.

Tanda-tanda diare Minum Obat Minum Oralit Pergi ke Puskesmas

Frekuensi 128 77 5

% 60,95 36,66 2,39

LANGKAH-LANGKAH PENGOLAHAN/ ANALISIS DATA
KUESIONER / INSTRUMEN
Berisi Data EDITING DATA CODING DATA

DATA ENTRY

TRANSFERSHEET

CLEANING DATA MANIPULASI DATA

PENAFSIRAN

PELAPORAN ANALISIS DATA

1. Contoh 1. a. Judul Penelitian
Kepemimpinan Puskesmas dan Pengaruhnya terhadap layanan yang diberikan kepada masyarakat di Kodya Bandung. kualitas

b. Bentuk Paradigmana adalah seperti berikut :

X

Y

X = kepemimpinan variabel independen Y = kualitas layanan (merupakan variabel dependen

Diasumsikan penelitian tersebut akan menggunakan sampel yang diambil secara random. Selanjutnya rimusan masalah, hipotesis yang diajukan dan teknik statistik yang digunakan untuk analisis adalah seperti ditunjukkan dalam bagan berikut Berdasarkan bagan tersebut terlihat bahwa, untuk judul penelitian yang terdiri atas satu variabel indevenden dan satu dependen, terdapat dua rumusan masalah deskriptif, dan satu masalah asosiatif. Dengan demikian juga terdapat dua hipotesis deskriptif dan satu hipotesis asosiatif. Dua hipotesis deskriptif diuji dengan statistik yang sama. Teknik statistik yang ada pada tabel 1 belum lengkap, etrutama teknik statistik yang digunakan untuk mencari pengaruh (varians) variabel tertentu terhadap (varians) variabel lain, dan statistik

untuk produksi. Untuk mencari pengaruh varians variabel dapat digunakan teknik statistik dengan menggunakan besarnya koefisien determinasi. Koefisien determinasi dihitung dengan mengkuadratkan koefisien korelasi yang telah ditemukan, dan selanjutnya dikalikan dengan 100%. Jadi koefisien determinasi (penentu) dinyatakan dalam persen. Jadi untuk contoh no. 1 di atas besarnya pengaruh kepemimpinan terhadap kualitas layanan dapat dihitung dengan mengkuadratkan koefisien korelasi antara variabel kepemimpinan dengan layanan, selanjutnya dikalikan 100%. Jadi misalnya akan ditemukan pengaruh kepemimpinan terhadap kualitas layanan di Puskesmas se-Kodya Bandung adalah 64% (lihat contoh hitungan koefisien determinasi pada analisis korelasi). Teknik statistik yang digunakan untuk memprediksikan juga belum tercanum dalam tabel. Teknik statistik yang digunakan untuk analisis prediksi ini adalah teknik regresi, baik regresi tunggal (sati variabel independen) maupun regresi ganda (lebih dari satu variabel responden). Untuk judul di atas misalnya, rumusan masalahnya “kalau kepemimpinan ditingkatkan sampai maksimal, berapa kualitas layanan akan baik?”. Untuk menganalisis rumusan maslah itu maka digunakan statistik regresi tunggal. Jadi untuk judul di atas, rumusan masalah penelitian dapat ditambah lagi dua, seperti talah diuraikan. Rumusan masalah tersebut tidak dihipotesiskan dan diuji, tetapi dapat langsung di analisis.

c. Rumusan masalah, hipotesis, dan teknik statistik untuk analisis data (ketiganya sangat berkaitan)
Rumusan Masalah Hipotesis Statisti untuk uji hipotesis

Sebaiknya apakah ke- Kepemimpinan Puskesmas pemimpinan Puskesmas se-Kodya Bandung dapat se-Kodya Bandung ? dinyaakan cukup baik (kriteria baik ini dapat diangkakan, misalnya telah mencapai 60% dari kriteria yang ditetapkan).

Sebaik apakah kualitas layanan Puskesmas seKodya Bandung yang diberikan ke masyarakat ?

Adakah hubungan antara Kepemimpinan dengan kualitas layanan di Puskesmas se-Kodya Bandung

Teknik statistik yang digunakan untuk menguji hpotesis dapat dilihat pada tabel 1. Data yang terkumpul adalah interval. Hipotesisnya deskriptif maka teknik uji untuk hipotesis no. 1 dan 2 adalah sama yaitu t-tes : Kualitas layanan (untuk satu sampel). Puskesmas se-Kodya Bandung cukup baik (baik dapat dinyatakan dengan angka misalnya sudah mencapai 60% dari kriteria yang ditetapkan). Korelasi pearson Product Terdapat hubungan yang Moment (lihat tabel 1) positif dan signifikan antara kualitas kepemimpinan dengan kualitas layanan.

2. Contoh 2 survei) Penelitian a. Judul

(penelitian

Pengaruh Kepemimpinan Kerja Pegawai dan Motivasi Kerja terhadap Produktivitas Kerja Pegawai di BUMN.

b. Bentuk Paradigmana adalah seperti berikut :

X1
R

ryx

1

r

x1 x2

y x 1x 2

Y
ryx

X1 = kemampuan pegawai X2 = motivasi kerja Y = produktivitas kerja

X2

2

c. Diasumsikan penelitian menggunakan sampel, yang diambil secara stratified random sampling
Instrumen penelitiannya menggunakan skala interval, sehingga data yang didapat adalah data interval. Statistik yang digunakan adalah parametris, setelah asumsi yang mendasari dapat dibuktikan. Dari dua contoh tersebut, terlihat bahwa bila variabel ditambah satu saja (menjadi dua) maka rumusan masalah yang akan dicarikan jawabannya melalui penelitian menjadi bertambah banyak.

TEKNIK EKSPERIMEN
 Mengusahakan agar kesalahan (ralat) sekecil-kecilnya. berbagai jenis rancangan ekperimsa, RAL, RAK, RA ANGAN LATIN SQUARE, dsb  Variabel Kendali Dapat variabel tunggal faktor, tunggal atau variabel/ faktor multiple. Susunan FAKTORIAL dengan rancangan DASAR RAL, RAK, dsb.

 Teknik Analisis Data. UNIVARIAT (satu variabel sendiri-sendiri) MULTIVARIAT (semua variabel serempak)

ANOVA – MANOVA
ANCOVA - MANCOVA SIDIK REGRESI ANALISIS JALIN

 Teknik Kurva ……….  Uji perbedaan LSD, ……….. dsb

dsb
HASIL DAN PEMBAHASAN  INTERPRETASI DATA : variabel statistik variabel dinamik (regresi – korelasi tabel grafik kurva kurva)

hubungan antar variabel

Keputusan analisis data didasarkan pada :  Taraf Signifikansi  Taraf Probabilitas

Langkah 10

INTERPRETASI HASIL ANALISIS DATA
 Hasil analisis faktual

 Hasil diberi arti
 Dibandingkan dengan hipotesis penelitian, didiskusikan atau

dibahas (dibandingkan dengan pola dan hasil penelitian terdahulu yang senada) dan akhirnya dikemukakan kesimpulan-kesimpulan.  Selanjutnya berdasarkan kesimpulan dari hasil analisis data, peneliti dapat merekomendasikan atau membuat saran kepada para pembuat kebijakan pengguna hasil penelitian atau kepada peneliti beikutnya yeng berminat untuk memanfaatkan hasil penelitian tersebut atau untuk melakukan penelitian lanjutan.

PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN/LANGKAH 11
Organisasi Laporan :
1.
2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.
9.

Judul Laporan Kata Pengantar Daftar Isi Bab Pendahuluan Bab Penguraian Bab Kesimpuan Bibliografi/ Daftar Pustaka Apendiks/ Lampiran-lampiran Indeks/ Daftar Istilah (kata) (Surahmad, 1975)

Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1979) : (1) Judul, (2) Daftara Isi, (3) Prakata, (4) Penghargaan atas bantuan, (5) Pendahuluan, (6) Teks pokok dalam tubuh karangan, (7) Pengutipan, (8) Referensi, (9) Catatan kaki, (10) Tabel, grafik, bagan, peta serta gambar, (11) Bibliografi, (12) Lampiran, dan (13) Index.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->