P. 1
Pen Gerti An

Pen Gerti An

|Views: 34|Likes:
Published by NilaAmbarSukmawati

More info:

Published by: NilaAmbarSukmawati on Jun 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2012

pdf

text

original

A.

PENGERTIAN Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di istilahkan dengan kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Definisi budaya dalam pandangan ahli antropologi sangat berbeda dengan pandangan ahli berbagai ilmu sosial lain. Ahli-ahli merumuskan definisi budaya sebagai berikut: E.B. Taylor: 1871 berpendapat bahwa budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. Adapun Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa budaya adalah: Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia Lain halnya dengan Koentjaraningrat: 1979 yang mengartikan budaya dengan: Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Disisi lain Herkovits berependapat bahwa budaya adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan manusia.
1

Berdasarkan definisi para ahli tersebut dapat dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan manusia yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar. Kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun non-material yang akan berkembang dari tahapan yang sederhana menuju tahapan yang lebih kompleks. Dari kerangka tersebut diatas tampak jelas benang merah yang

menghubungkan antara pendidikan dan kebudayaan. Dimana budaya lahir melalui proses belajar yang merupakan kegiatan inti dalam dunia pendidikan.

B. PERWUJUDAN KEBUDAYAAN Seorang ahli sosiolog yang bernama Talcott Parson dan seorang ahli antropologi yaitu al Kroeber berpendapat bahwa wujud kebudayaan berupa system dari serangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola. JJ. Hogman (1959) dalam bukunya “The World of Man” membagi budaya dalam tiga wujud yaitu: ideas, activities, dan artifacts. Koentjaningrat dalam buku “Pengantar Antropologi” mengemukakan

kebudayaan dibagi menjadi tiga wujud yaitu: 1. wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam pikiran masingmasing anggota masyarakat di tempat kebudayaan itu hidup; 2. Aktifitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret. 3. Wujud fisik, Sebagai benda-benda hasil karya manusia merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.

2

Berdasarkan

penggolongan

wujud

budaya

di

atas

kita

dapat

mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu: Budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret. Budaya yang Bersifat Abstrak Budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di dalam alam pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya sesuatu yang menjadi cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan ukuran yang telah menjadi kesepakatan. Budaya yang Bersifat konkret Wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto. Koencaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi. a. Perilaku Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dalam situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dalam masyarakat harus mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior) masyarakatnya. b. Bahasa Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yang dibunyikan dengan suara (vokal) dan ditangkap dengan telinga (auditory). Ralp Linton mengatakan salah satu sebab paling penting dalam memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti sekarang ini adalah pemakaian bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat berpikir dan berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan berkomunikasi budaya tidak akan ada.

3

c. Materi Budaya materi adalah hasil dari aktivitas atau perbuatan manusia. Bentuk materi misalnya pakaian, perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi. Unsur-unsur materi dalam budaya dapat diklasifikasikan dari yang kecil hingga ke yang besar adalah sebagai berikut: a. Items, adalah unsur yang paling kecil dalam budaya. b. Trait, merupakan gabungan dari beberapa unsur terkecil c. Kompleks budaya, gabungan dari beberapa items dan trait d. Aktivitas budaya, merupakan gabungan dari beberapa kompleks budaya. Gabungan dari beberapa aktivitas budaya menghasilkan unsur-unsur budaya menyeluruh (culture universal). Terjadinya unsur-unsur budaya tersebut dapat melalui discovery (penemuan atau usaha yang disengaja untuk menemukan hal-hal baru).

C. BUDAYA SEBAGAI SISTEM GAGASAN Budaya sebagai sistem gagasan yang sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau di foto, karena berada di dalam alam pikiran atau perkataan seseorang. Terkecuali bila gagasan itu dituliskan dalam karangan buku. Budaya sebagai sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku. Seperti apa yang dikatakan Kluckhohn dan Kelly bahwa “Budaya berupa rancangan hidup” maka budaya terdahulu itu merupakan gagasan prima yang kita warisi melalui proses belajar dan menjadi sikap prilaku manusia berikutnya yang kita sebut sebagai nilai budaya. Jadi, nilai budaya adalah “gagasan” yang menjadi sumber sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan sosial budaya. Nilai budaya dapat kita lihat, kita rasakan dalam sistem kemasyarakatan atau sistem kekerabatan yang diwujudkan
4

dalam bentuk adat istiadat. Hal ini akan lebih nyata kita lihat dalam hubungan antara manusia sebagai individu lainnya maupun dengan kelompok dan lingkungannya.

D. ISI (SUBSTANSI) UTAMA BUDAYA Substansi utama budaya adalah sistem pengetahuan, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Tiga unsur yang terpenting adalah sistem pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup. 1. Sistem Pengetahuan Para ahli menyadari bahwa masing-masing suku bangsa di dunia memiliki sistem pengetahuan tentang:       Alam sekitar Alam flora dan fauna Zat-zat manusia Sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia Ruang dan waktu.

Unsur-usur dalam pengetahuan inilah yang sebenarnya menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan di seluruh dunia. Berbagai cara dilakukan manusia ntuk memperoleh pengetahuaan antara lain: a) Melalui pengalaman dalam kehidupan social b) Melalui pendidikan c) Melalui simbol-simbol

5

2. Nilai Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia untuk

menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat menentukan sesuatu berguna atau tidak berguna, benar atau salah, baik atau buruk, religius atau sekuler, sehubungan dengan cipta, rasa dan karsa manusia. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai moral atau etis), religius (nilai agama). Prof. Dr. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga bagian yaitu:  Nilai material, yaitu segala sesuatu (materi) yang berguna bagi manusia.  Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas  Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi rohani manusia. C. kluchohn menentukan orientasi nilai budaya manusia di dunia dalam lima dasar yang universal, yaitu: a) Hakikat hidup manusia (MH) b) Hakekat karya manusia (MK) c) Hakekat waktu manusia (MW) d) Hakekat alam manusia (MA) e) Hakekat hubungan manusia (MM) 3. Pandangan Hidup Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya, dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.

6

Ada beberapa sumber pandangan hidup: 1. Agama, kepercayaan manusia baik terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa maupun hal-hal yang mistik serta kejadian alam yang bersifat mutlak. Sehingga manusia memiliki dan menyadari beberapa hal: I. II. III. IV. Pedoman hidup Tujuan hidup Tugas hidupnya Fungsi hidupnya

System kepercayaan (agama) dalam masyarakat dibedakan dalam tiga kategori yaitu :  Magic,perwujudan symbol-simbol, cara pemujaan, sesaji dll  Religi, menggerakkan umatnya agar sesuai syariat yang ada  Science, ilmu pengetahuan yang menawarkan tehnik rasional.

Hubungan antara system kepercayaan, cara dan tujuan Kategori Magic Religi Science Cara Tidak rasional Rasional Rasional Tujuan Rasional Tidak rasional Rasional

Budaya-budaya yang cenderung berkembang di masyarakat  Empirisme, pengalaman sebagai sumber utama dan kebenaran dari wahyu Allah  Materialisme, yang baik dan benar adalah yang menghasilkan materi  Keduaniaan, Kepentingan dunia semata, tidak mementingkan akherat  Hedonisme, yang baik dan benar adalah yang menyenangkan
7

 Epikureanisme, memburu kesenangan duniawi semata  Sekuralisme, memisahkan urusan dunia dengan hukum agama  Humanisme, mengagungkan kemanusiaan dari segala-galanya, tidak mengenal adanya Tuhan  Pragmatisme, mementingkan hal-hal yang praktis dan penghargaan yang tinggi daripada keberhasilan materi  Rasionalisme, kekuatan dan kemampuan berpikir yang dapat dipercaya  Utilitarianisme, yang baik adalah yang bermanfaat.

2. Ideologi, merupakan abstrak dari nilai-nilai budaya suatu bangsa atau Negara yang meliputi: I. II. III. IV. V. Pancasila Sosialisme Liberalism Komunisme Religious

3. Hasil perenungan seseorang (persepsi), menganut ajaran tertentu sehingga memilki kepercayaan atau aliran kepercayaan dan audut pandang tersendiri. Persepsi atau sudut pandang ialah suatu titik tolak pemikiran yang tersusun dari seperangkat kata-kata yang digunakan untuk memahami kejadian atau gejala dalam kehidupan. Persepsi terdiri dari:  Persepsi sensorik, tanpa menggunakan salah stu indra manusia  Persepsi telepati, kemampuan pengetahuan kegiatan mental individu  Persepsi clairvoyance, kemampuan melihat peristiwa di tempat lain, jauh dari tempat yang bersangkutan.

8

E. SIFAT-SIFAT BUDAYA Kebudayaan yang dimiliki masyarakat berbeda-beda, namun dari sisi lain budaya akan memilki kesamaan yang bersifat universal. Sifat hakekat kebudayaan, antara lain : i. ii. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perikelakuan manusia Kebudayaan telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan iii. iv. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan

F. SISTEM BUDAYA System budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak yang berfungsi menata serta menetapkan tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia. Dalam system budaya ini terbentuk unsur-unsur yang paling berkaitan satu dengan yang lain. Sehingga tercipta tata kelakuan manusia yang terwujud dalam unsur budaya sebagai satu kesatuan. Unsur-unsur kebudayaan menurut Bronoslaw Malinowski  System norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat dalam upaya menguasai sekelilingnya  Organmisasi ekonomi  Alat-alat dan lembaga pendidikan  Organisasi kekuatan

9

Unsur pokok kebudayan menurut M.J Herkovits     Alat-alat teknologi System ekonomi Keluarga Kekuasaan politik

Kebudayaan dilihat dari dimensi wujudnya adalah: a) System budaya, kompleks dari ide, gagasan, nilai dll b) System social, kompleks dari aktivitas serta pola dari manusia c) System kebendaan, kebudayaan fisik atau lat yang diciptakan manusia. Sistem kebudayaan suatu daerah akan menghasilkan jenis-jenis kebudayaan yang berbeda. Jenis kebudayaan ini dapat dikelompokkan menjadi:  Kebudayaan material. Antara lain hasil cipta, karsa, yang berwujud benda.  Kebudayaan non-material. Merupakan hasil cipta, karsa yang berwujud kebiasaan, adat istiadat, pengetahuan dll.

G. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN BUDAYA Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian–kejadian yang sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat. Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar, melalui beberapa tahapan : i. Eksternalisasi, adalah proses manusia mengekspresikan dirinya dalam membangun dunianya

10

ii.

Obyektivitas, proses masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.

iii.

Internalisasi, proses masyarakat disergap kembali oleh manusia, yakni manusia yang mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dapat hidup dengan baik Jadi, ada hubungan berkelanjutan antara realitas internal dengan realitas

eksternal. Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Kebutuhan dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai: 1. Suatu hubungan pedoman antarmanusia atau kelompoknya. 2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain. 3. Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia. 4. Pembeda manusia dan binatang. 5. Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berperilaku di dalam pergaulan. 6. Pengaturan agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain. 7. Sebagai modal dasar pembangunan. Kebutuhan manusia akan pengungkapan perasaan keindahan terbukti secara universal dan berlangsung sepanjang sejarah keberadaan manusia. Hasil-hasil penelitian lintas budaya dan prasejarah menunjukan bukti-bukti kuat tentang tidak adanya kebudayaan yang didalamnya tidak menampung bentuk-bentuk ekspresi keindahan. Hal ini menunjukkan bahwa betapapun sederhananya tingkat kehidupan manusia, disela-sela upaya pemenuhan kebutuhan utamanya, manusia senantiasa mencari peluang untuk memenuhi hasrat mengungkapkan dan memanfaatkan keindahan. Hal inilah yang mendasari kebutuhan manusia sebagai makhluk budaya.

11

H. PENGARUH BUDAYA TERHADAP LINGKUNGAN Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakatnya yang tampak dari luar. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan seseorang dapat mengetahui, mengapa suatul ingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan mengasilkan kebudayaan yang berbeda pula. Beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan: 1. Phisical Environment yaitu lingkungan fisik menunjuk kepada lingkungan natural seperti flora, fauna, iklim dan sebagainya. 2. Cultural Social Environment, meliputi aspek-aspek kebudayaan beserta proses sosialisanya seperti : norma-norma, adat istiadat dan nilai-nilai. 3. Environmental Orientation and Representation, mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungannya. 4. Environmental Behaviordan and Process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungan dalam hubungan sosial. 5. Out Carries Produc, Meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam lingkungan tertentu berimplikasi terhadap pola tata laku, norma, nilai dan aspek kehidupan lainnya yang menjadi ciri khas suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

I. PROSES DAN PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN Perkembanga kebudayaan dimaksudkan untuk kepentingan manusia sendiri, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia. Perkembangan kebudayaan terhadap dinamika kehidupan seseorang bersifat kompleks, dan memiliki eksistensi dan berkesinambungan dan juga menjadi warisan sosial.
12

Hal terpenting dalam proses pengembangan kebudayaan adalah dengan adanya kontrol atau kendali terhadap perilaku reguler ( yang tampak ) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan. Karena tidak jarang perilaku yang ditampilkan sangat bertolak belakang dengan budaya yang dianut di dalam kelompok sosialnya.

J. PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN Seiring dengan perkembangannya, kebudayaan juga mengalami beberapa problematika atau masalah masalah yang cukup jelas. Beberapa problematika kebudayaan antara lain: 1. Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan. 2. Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang ini dapat terjadi antara masyarakat dan pelaksana pembangunan. 3. Hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan. 4. Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luas. 5. Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru. 6. Sikap etnosentrisme, adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain. 7. Perkembangan IPTEK sebagai hasil kebudayaan, sering kali disalahgunakan oleh manusia.

K. PERUBAHAN KEBUDAYAAN Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kebudayaan mengalami perkembangan (dinamis) sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri, oleh sebab itu tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Dengan demikian, kebudayaan akan mengalami perubahan. Ada lima penyebab terjadi perubahan kebudayaan yaitu: i. ii. Perubahan lingkungan alam Perubahan yang disebabkan adanya kontak dengan kelompok lain
13

iii. iv.

Perubahan karena adanya penemuan (discovery) Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan oleh bangsa lain ditempat lain.

v.

Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsisuatu pengetahuan atau kepercayaan baru atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas. Namun, perubahan kebudayaan sebagai hasil cipta, karsa dan rasa manusia

adalah tentu saja perubahan yang memberi nilai manfaat bagi manusia dan kemanusian, bukan sebaliknya yaitu yang akan memusnakan manusia sebagai pencipta kebudayaan tersebut.

14

DAFTAR PUSTAKA

A.A. Sitompul. 1993. Manusia dan Budaya. Jakarta: Gunung Mulia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Dp. Maas. 1985. Materi Pokok UT Antropologi Budaya. Jakarta: Universitas Terbuka. Ensiklopedi Indonesia (Edisi Khusus) Jilid 4, Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1991 Enno W. Hommes, “Technology, Risk, Countervailing Power and Sustainable Development”, Paper Presented at Discussion Forum on Development Issues, at the Institute of Technology of Bandung, 14-15 May 1990 Herimanto dkk. 2010. Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Koentjaraningrat. 1975. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Jambatan. ___________. 1993. Kebudayaan, Mentalis, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Setiadi dkk. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (edisi kedua). Jakarta: kencana. Taliziduhu Ndraha. 2003. Budaya Organisasi, Jakarta: Rineka Cipta. http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya http://arikaka.com/manusia-dan-kebudayaan/ http://sosial-budaya.blogspot.com/2009/05/manusia-dan-kebudayaan.html http://tugas-mrhanz25.blogspot.com/2011/02/manusia-sebagai-makhluk-budaya.html

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->