BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP GEDUNG PERTUNJUKAN DAN PENGEMBANGAN SENI TARI

A. TINJAUAN UMUM SENI 1. Pengertian Seni Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kata seni berasal dari kata "sani" yang artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Dalam bahasa Inggris dengan istilah "ART" (artivisial) yang artinya adalah barang/atau karya dari sebuah kegiatan. Konsep seni terus berkembang sejalan dengan

berkembangnya kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang dinamis. Beberapa pendapat tentang pengertian seni: a. Ensiklopedia Indonesia : Seni adalah penciptaan benda atau segala hal yang karena keindahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengar. b. Aristoteles : seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu, c. Ki Hajar Dewantara : seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya, d. Akhdiat K. Mihardja : seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani sipenerimanya.

10

e. Erich Kahler : seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi, menciptakan realitas itu dengan symbol atau kiasan tentang keutuhan “dunia kecil” yang mencerminkan “dunia besar”.

2. Fungsi Seni Seni adalah sebagian dari kebudayaan, sedangkan

kebudayaan meliputi seluruh manusia dalam masyarakat. Fungsi seni (Kesenian) secara umum adalah : a. Fungsi Individual Manusia memiliki eksistensi individual yang berbeda dengan individu lain dalam membentuk kepekaan rasa pengungkapan dan penilaian suatu aspek. b. Fungsi Sosial Hasil karya seni berfungsi sosial apabila diciptakan untuk kepentingan umum, dengan menampilkan beragam fenomena sosial yang sanggup menggungah kesadaran masyarakat, sehingga terjadi interaksi antara si pengamat dan pencipta karya seni. c. Fungsi Fisik Secara fisik seni membutuhkan wadah penyaluran yang

merupakan kontak antara seniman dan pengamat karya seni yang dihasilkan.

3. Klasifikasi Seni Seni dapat dibedakan berdasarkan lima katagori, yaitu : a. Berdasarkan bentuk 1) Seni Rupa : adalah seni yang keindahannya dinikmati oleh indra penglihatan, mencangkup seni lukis, pahat, patung, grafis dan rias.

11

2) Seni Suara : adalah seni yang disampaikan dengn media suara (vokal dan instrument). 3) Seni Sastra : adalah seni yang terbentuk dari susunan kata dan kalimat yang bermakna. 4) Seni Tari : adalah seni yang mengekspresikan emosinya dengan gerak yang ritmis. 5) Seni Teater : adalah kombinasi dari beberapa seni, disebut drama. b. Berdasarkan fungsi 1) Seni Murni (Fine Art) : terdiri dari seni lukis, pahat, tari, seni suara dan drama. 2) Seni Terapan (Apllied Art) : terdiri dari bangunan, seni kriya dan seni reklame. c. Berdasarkan tingkatan 1) 2) Seni Istana : merupakan seni klasik Seni Tradisional Rakayat

d. Berdasarkan secara penampilan obyeknya 1) Seni pertunjukan, mencakup seni tari. Drama, musik, suara, perdalangan/karawitan. 2) Seni rupa mencakup seni lukis, seni patung, pahat, ukir, kriya, seni bangunan dan grafis. e. Berdasarkan bentuk dan mediumnya seni dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok : No. Cabang Seni Bentuk Media Indera Penikmat Penglihatan, peraba penglihatan Matra 2 dimensi atau 3 dimensi 2 dimensi

1.

Rupa

Benda

2.

Sastra

Tulisan

12

Sastra, benda, 3. Musik manusia, gerak, proses Tubuh, 4. Tari manusia, gerak, musik Manusia, benda/ alam, 5. Teater akting, adegan, suara/ musik
Tabel 1 : klasifikasi seni berdasarkan bentuk dan medium Sumber : http://guruvalah.20m.com

Pendengaran, penglihatan

Waktu 3 dimensi

Penglihatan, pendengaran

Waktu 3 dimensi

Penglihatan, pendengaran

Waktu 3 dimensi

4. Wadah Kegiatan Seni Pengertian wadah kegiatan seni adalah tempat penyajian karaya seni kepada masyarakat yang berhasrat memenuhi

kebutuhan jiwanya yang bersifat rekreatif/hiburan, mendidik dan berapresiasi tinggi. Tujuan wadah kegiatan seni adalah menampung aktifitas kesenian yang merupakan hasil karya seni yang baik, terpilih dan teratur, yang disajikan kepada masyarakat yang pengelolaannya dilakukan secara terus menerus dan terencana. Wadah kegiatan seni ini ada bermacam-macam yang secara umum dapat dikelompokan sebagai berikut :

13

a. Ruang pemeran, galeri seni, sanggar seni, ruang pamer terbuka dan sejenisnya. Untuk menampung terutama kegiatan seni yang bersifat penghayatan visual seperti kelompok seni rupa. b. Gedung pagelaran/ teater Gedung pegelaran teater disediakan untuk menampung dan mewadahi kegiatan seni yang bersifat penikmatan visual dan audio seperti kelompok seni suara, tari dan drama.

5. Unsur-unsur Pendukung Seni a. Pementasan / Peragaan Seni Untuk terciptanya suatu bentuk pementasan haruslah didukung oleh tiga faktor, antara lain : 1) Materi yang ditampilkan. 2) Cara penampilan . 3) Pengamat (publik). Ketiga faktor tersebut mempunyai hubungan yang erat dan saling mendukung antara suatu dengan yang lain. Dua faktor utama merupakan kegiatan pengungkapan yang dilakukan oleh seniman dan yang satu merupakan faktor pendukung dalam hal ini pengamat (penonton/masyarkat). b. Seniman Merupakan individu yang menghasilkan karya seni, dimana nilai seni seseorang tergantung dari kreatifitas dan keahlian. Seniman dapat dibedakan atas : 1) Seniman pencipta, penghasilan karya seni, misalanya pelukis, pematung, dan lain-lain. 2) Seniman pelaku, melakukan kegiatan artistik, misalnya actor/aktris, dramawan, dan lain-lain.

14

c. Pengamat Seni Merupakan individu atau kelompok masyarakat sebagai penikmat hasil pertunjukan/kreasi seniman yang menuntut

kepuasan fisik dan lahir batin. d. Apresiasi Masyarakat Seni diciptakan untuk diserahkan kepada masyarakat karna seni telah banyak member arti bagi kehidupan manusia. Disinilah suatu usaha apresiasi seni dibutuhkan untuk membimbing masyarakat mengikuti perkembangan seni agar tetap dapat memperoleh sesuatu daripadanya. Persepsi berarti kemempuan untuk mengamati sesuatu, persepsi akan timbul sebagai akibat proses kontak indra di luar dirinya.

B. TINJAUAN TERHADAP SENI TARI 1. Sejarah Seni Tari Tari merupakan unsur kebudayaan yang tidak dapat lepas dalam kehidupan masyarakat. Sebab merupakan suatu kesatuan yang utuh didalamnya. Untuk mengetahui secara pasti sejarah tari sangatlah sulit, karena banyaknya ragam dan jenis yang ada. Tari adalah perwujudan suatu bentuk karya seni yang konkret serta memerlukan proses panjang untuk mempelajari dan memahaminya. Secara umum, sejarah perkembangannya dapat dilihat melalui waktu, tahapan dan masa-masa tertentu yaitu zaman pra sejarah. Pada masa ini masyarakat hidup berkelompok dan berpindah-pindah dengan bercocok tanam. Pada umumnya masih menganut

kepercayaan animisme, dinamisme dan ateisme yang kuat. Masa zaman perunggu dan zaman besi, pada zaman tersebut sudah mengenal nilai keindahan dalam tingkat kehidupan . tari-tarian sudah tercipta dengan menggunakan gerakan tangan dan kali walaupun

15

masih sangat sederhana. Selain itu telah mengenal adanya instrumen dalam sebagai pengiring tarian. Pada masa tersebut ditemukan pula instrumen musik karena yang digunakan sebagai pengiring dalam penyajian tari. Hal ini membuktikan bahwa pada zaman itu seni tari telah ada. Bentuk sederhana dari gerak yang dikaitkan dengan kepercayaan waktu itu dapat memberikan kekuatan di luar kemampuan. Sehingga gerakan tari menjadi magis dan sakral sebagai ungkapan kegembiraan, ksederhanaan dan upacara-ucapara lain gerakannya cenderung menirukan alam seperti suara, tingkah laku dan tata kehidupan sehari-hari. a. Zaman Prasejarah Zaman prasejarah adalah zaman sebelum lahirnya kerajaan di Indonesia. Bentuk dan wujud tariannya cenderung menirukan gerak alam lingkungannya yang bersifat imitatif. Sebagai contoh menirukan binatang yang akan diburu, pemujaan dan

penyembuhan penyakit b. Zaman Indonesia Hindu Pada zaman Indonesia hindu, seni tari mulai digarap dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dar India. Beberapa jenis tari pada zaman Indonesia hindu seperi tari-tarian adat dan keagamaan berhasil disempurnakan menjadi tarian klasik yang beratistik tinggi. Sebagai contoh wayang wong, wayang topeng. c. Zaman Indonesia Islam Pada zaman Indonesia islam, seni mengalami kekayaan penggarapannya kebanyakan di keraton yaitu kasutanan dan kesultanan. Kedua kerajaan tersebut mengembangkan

identitasnya yang akhirnya menjadi 2 jenis tari yaitu kasunanan dan kasultanan.

16

d. Zaman Penjajahan Pada zaman penjajahan, tari-tarian mengalami kesuraman sebab berada dalam suasana peperangan dan penjajahan. e. Zaman Setelah Merdeka Sampai Sekarang Setelah merdeka, peran tari mulai difungskikan untuk keagamaan ataupun sebagai hiburan dan muncul banyak kreasikreasi baru ataupun inovasi terhadap seni tari klasik. (Sumber :Buku Seni Rupa, Heru Purwanto dkk, Ganexa Exact)

2. Pengertian seni tari a. Haukins: 1990, 2 Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta. b. Soeryodiningrat: 1986, 21 Tari adalah gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik atau gamelan diatur oleh irama sesuai dengan maksud tujuan tari. c. CurtSach: 1978, 4 Tari merupakan gerak yang ritmis. d. John Martin dalam The Modern Dance Menyatakan bahwa, tari adalah gerak sebagai pengalaman yang paling awal kehidupan manusia. Tari menjadi bentuk pengalaman gerak yang paling awal bagi kehidupan manusia. f. Jazuli, 1994:44 M. Jazuli dalam (Soeryobrongto:1987, 12-34) dikemukakan bahwa gerak-gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik adalah tari. Irama musik sebagai pengiring dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pencipta tari melalui penari.

17

g. Sussanne K Langer Tari adalah gerak ekspresi manusia yang indah. Gerakan dapat dinikmati melalui rasa ke dalam penghayatan ritme tertentu. Apabila ke dua pendapat di atas digabungkan, maka tari sebagai pernyataan gerak ritmis yang indah mengandung ritme. h. Corry Hamstrong Tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang. i. Soedarsono Menyatakan bahwa, tari sebagai ekspresi jiwa manusia yang di ungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah.

3. Unsur-unsur Tari Tari merupakan salah satu bentuk karya seni yang

menggunakan media gerak agar dapat dinikmati nilai keindahannya. Perpaduan unsur tersebut sebagai pendukung menjadi dasar penilaian dari pantulan logika, estika dan praktik. Unsur-unsur pendukung tari diantaranya gerak, iringan, tema, rias, busana dan ruang pentas. a. Gerak Unsur utama tari adalah gerak. Gerak pada dasarnya merupakan fungsionalisasi dari tubuh manusia (anggota gerak bagian kepala, badan, tangan dan kaki), ruang secara umum (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak atau cakupan gerak), waktu sebagai jeda (berhubungan dan dengan durasi tenaga gerak, untuk

perubahan

sikap,

posisi,

kedudukan),

menghayati gerak (kualitas gerak berhubungan dengan kuat, lemah, elastis dan kaku serta personifikasi gerakan). Gerak sebagai unsur penting suatu tarian akan selalu berhubungan dengan ruang, waktu dan tenaga. Reproduksi gerak dimulai dari pengerutan dan peregangan otot, kontraksi otot dan

18

kapasitas perubahan volume ruang dan perpindahan tempat yang dipresentasikan melalui waktu gerakan dilakukan. Gerakan tubuh manusia falam wujud gerak sehari-hari, gerak olahraga, gerak bermain, gerak bekerja, gerakan pencak silat serta ferakan untuk berkesenian. Jenis gerakan seperti tersebut, apabila harus diwujudkan kedalam bentuk gerak tari pada puncaknya harus distilisasi atau didistorsi. Tari merupakan relaksasi dan penegangan otot yang secara penghayatan menghasilkan ekspresi gerak untuk berkesenian. Gerakan tari berwujud jenis gerak yang telah distilisasi atau didistorsi. Wujud gerakan yang secara impulsif bersifat lembut dan mengalir, tegas terputus-putus, tagang-kendur dan gabungan lemas-kencang, lambat-cepat, patah-patah-mengalir dan

sebagainya adalah bentuk distorsi dan stilisasi gerak yang menjadi ciri pembeda gerakan sehari-hari dengan gerakan tari. Gerak merupakan unsur yang dominan. Untuk

menimbulkannya harus ada kekuatan yang mampu mengubah suatu sikap dari anggota tubuh. Seni tari adalah perpaduan jenis gerak anggota tubuh yang dapat dinikmati dalam satuan waktu dan dalam ruang tertentu. Sehingga dapat dibedakan antara gerak maknawi, murni dan refleks, untuk mengungkapkannya tidak dapat terlepas dari aspek berikut : 1) Tenaga Tenaga merupakan hal yang penting untuk mewujudkan suatu gerak. Gerak disini bukan mengandalkan kekuatan otot, namun berdasarkan pada emosional atau rasa dengan penuh pertimbangan. Dalam gerak tari yang diperagakan, indikasi yang menunjukkan intensitas gerak menjadi salah satu faktor

19

gerakan tersebut dapat dilakukan dan dihayati. Tenaga terwujud melalui kualitas gerak yang dilakukan. Pencerminan penggunaan dan pemanfaatan tenaga yang disalurkan kedalam gerakan yang dilakukan penari merupakan bagian dari kualitas tari sesuai penghayatan tenaga. Penghasil gerak dalam hubungannya dengan

penggunaan tenaga dalam mengisi gerak tari sehingga menjadi dinamis, berkekuatan, berisi dan antiklimatik

merupakan cara membangun tenaga dalam menari. Eksistensi (penegangan) dan relaksasi (pengendoran) gerak secara keseluruhan berhubungan dengan kualitas, intensitas dan penghayatan gerak tari. Teknik mengakumulasi kualitas dan intansitas gerak tari seyogyanya dikordinasikan melalui perintah kerja otak secara kordinatif. Apabila hal ini dapat terkontrol, maka masalah lain berhubungan dengan kebutuhan tenaga untuk gerakan tari menjadi semakin terkontrol, terkendali, dan memenuhi harapan. Penyaluran tenaga dan ekspresi memberi kehidupan watak tari semakin nyata. 2) Ruang Ruang diungkapkan dalam oleh tari mencakup penari aspek yang gerak yang

seorang

membentuk

perpindahan gerak tubuh, posisi yang tepat, dan ruang gerak penari itu sendiri. Ruang tari bersentuhan langsung dengan penari. Ruang gerak penari merupakan batas paling jauh yang dapat dijangkau penari. Disisi lain, ruang menjadi salah satu bentuk dari imajinasi penari dalam mengolah ruang gerak menjadi bagian yang digunakan untuk berpindah tempat, posisi dan kedudukan.

20

Ruang gerak penari tercipta melalui desain. Desain adalah gambaran yang jelas dan masuk akal tentang bentuk/wujud ruang secara utuh. Bentuk ruang gerak penari digambarkan secara bermakna kedalam atas desain atas dan desain lantai (La Mery: 1979: 12). Ruang gerak tari diberi makna melalui garis lintasan penari dalam ruang yang dilewati penari. Kebutuhan Jangkauan gerak ruang yang gerak dimiliki penari oleh berbeda-beda. setiap gerakan

sesungguhnya juga dapat membedakan jangkauan gerak penari secara jelas. Bentuk dan ruang gerak yang dimiliki oleh penari yang membutuhkan jangkauan gerak berhubungan dengan kebutuhan dan kesanggupan penari dalam melakukan gerakan. Dengan demikian penari dalam melakukan gerakan sesuai pengarahan koreografer. Koreografer dalam mendesai ruang gerak penari ditentukan oleh kesesuaian bagaimana penari bergerak dan tercapainya desain yang sesuai dengan kebutuhan gerakan tersebut dilakukan oleh penari. Dengan demikian penari sangat membutuhkan sensitivitas rangsang gerak sebagai bentuk ekspresi keindahan gerak yang dilakukan. Kebutuhan ekspresi gerak oleh penari berhubungan dengan kemampuan penari menginterpretasikan kemauan koreografer dalam melakukan gerakan yang diberikan. Dengan itu terjadi singkronisasi kemauan koreografer dalam mendesain gerak dengan kepekaan penari dalam menafsirkan gerakan melalui peta ruang. Penari tidak semata-mata memerlukan ruang gerak yang lebar saja. kebutuhan ruang gerak yang sempit juga menjadi bagian penerjemahan ruang gerak tari oleh penari. Ruang

21

gerak penari menjadi alat yang ampuh dalam menciptakan desain tentang ruang oleh penari maupun koreografer. Ruang gerak penari yang membutuhkan jangkauan gerak luas untuk dilakukan membutuhkan teknik dan

karakterisasi yang dalam oleh penari. Kebutuhan teknik gerak yang harus dilakukan penari adalah bagaimana penari mengawali dan harus menuntaskan harapan gerak yang harus dilakukan. Penari membutuhkan dalam mengekspresikan gerak yang jangkauan sepadan gerak dengan

ekspresi

jangkauan gerak yang harus dilakukan. Ekuivalensi gerak dan jangkauan gerak menjadi tuntutan koreografer dalam

menciptakan ruang gerak penari serta penghayatan yang diperlukan penari dalam mencapai tujuan gerakan tersebut dilakukan. 3) Waktu Waktu dalam hal ini adalah rangkaian yang diperlukan dalam mengungkapkan bentuk-bentuk gerak dalam ruang tertentu. Sehingga tercapai ungkapan bentuk dan perpaduan gerak dalam waktu atau tempo tertentu. Tempo dapat mengungkapkan gerak kapan waktunya harus cepat, lambat, panjang dan pendek sehingga membuat tari indah di pandang penggunaan tempo gerak dari masingmasing anggota tubuh akan dapat menimbulkan kesan dinamis. 4) Ekspresi Ekspresi dalam tari lebih merupakan daya ungkap melalui tubuh kedalam aktivitas pengalaman seseorang yang selanjutnya menjadi dikomunikasikan gerakan kepada penonton/pengamat emosi atas

bentuk

jiwa,

kehendak,

22

penghayatan peran yang dilakukan. Dengan demikian daya penggerak diri penari ikut menentukan penghayatan jiwa kedalam greget (dorongan perasaan, desakan jiwa, ekspresi jiwa dalam bentuk tari yang terkendali). 4. Klasifikasi Tari a. Tari Berdasarkan Penyajiannya Secara umum tarian berdasarkan penyajiannya dapat

diklasifikasikan menjadi bagian dibawah ini adalah sebagai berikut:

Tari Primitif Tari Tradisional Tari

Tari Rakyat

Tari Klasik Tari Kreasi Baru
skema 1. Tari berdasarkan penyajiannya sumber: buku seni tari untuk SMK jilid 2

1) Tari Primitif Tari primitif dikoreografi berorientasi pada segi artistik. Tarian ini berarti digarap lebih menekankan pada segi estetika seni. Tarian jenis ini secara umum berrkembang di

masyarakat yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tari primitif biasanya merupakan wujud kehendak, berupa pernyataan maksud dilaksanakan dan permohonan tarian tersebut dilaksanakan. Dengan demikian tarian ini lebih dengan pernyataan maksud masyarakat dalam melaksanakan keinginan bersama.

23

Ciri-ciri tari primitif pada dasarnya dalam bentuk koreografi sederhana, bertujuan untuk kehendak tertentu, sehingga ungkapan ekspresi yang dilakukan berhubungan dengan permintaan yang diinginkan. Ciri-ciri tersebut seperti: a) Gerak dan iringan sangat sederhana, berupa hentakan kaki, tepukan tangan atau simbol suara atau gerak-gerak saja yang dilakukan. b) Gerakan dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya: menirukan gerak binatang, karena akan berburu, proses inisiasi (pemotongan gigi), pesta kelahiran, perkawinan, keberuntungan panen, dan sebagainya. c) Instrumen sangat sederhana, terdiri dari tifa, kandang atau instrumen yang hanya dipukul-pukul secara tetap, bahkan tanpa memperhatikan dinamika, d) Tata rias masih sederhana, bahkan biasa berakulturasi dengan alam sekitar, e) Tari ini bersifat sakral, tarian ini untuk keperluan upacara keagamaan/kepercayaan f) Tarian primitif tumbuh dan berkembang pada masyarakat sejak zaman prasejarah yang memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme, keunikan tari primitif walaupun gerak, musik, dan ornamen maupun tata pemanggungan sederhana namun masih tetap menarik. Budaya ini luntur akibat hilang kebersamaan dengan pola pikir masyarakat primitif g) Tarian primtif dasar geraknya adalah maksud atau kehendak hati dan pernyataan kolektif. h) Tarian primitif pola berkembang tradisi pada masyarakat purba yang

menganut

primitif

atau

dimana

24

berhubungan dengan pemujaan nenek moyang dan penyembahan leluhur.

2) Tari Tradisional Tari tradisional adalah tari yang secara koreografis telah mengalami proses garap yang sudah baku. Tarian tradisional telah mengalami proses kulturasi atau pewarisan budaya yang cukup lama. Jenis tarian ini bertumpu pada pola-pola tradisi atau kebiasaan yang sudah ada dari nenek moyang, garapan tari bersifat pewarisan kultur budaya yang disampaikan secara turun-temurun. Pada sisi lain, tari tradisional secara jelas dikelompokkan lagi ke dalam dua jenis tarian yang meliputi tari rakyat, dan tari klasik. a) Tari Rakyat Tarian ini berorientasi pada koreografi yang

berkembang di masyarakat. Tarian Pergaulan dapat dilihat di lingkungan masyarakat pendukung yang bersangkutan. Tari pergaulan ini lahir dan berkembang di lingkungan masyarakat luas. Konsep koreografi sederhana, berpola pada tradisi yang sudah lama diakui sebagai bagian kehidupan masyarakat sekitar, menjadi milik masyarakat sebagai warisan budaya yang sudah ada. b) Tari Klasik/Istana Tari ini lahir dan berkembang di lingkungan istana atau kalangan priyayi. Tari ini telah mengalami proses

kristalisasi melalui tata garap secara artistik yang tinggi. Garapan tarian telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama. Konsep penataan telah terbentuk setelah mengalami perubahan yang matang.

25

3) Tari Nontradisional/Kreasi Baru Tarian nontradisional adalah tarian yang tidak berpijak pada pola tradisi dan aturan yang sudah baku. Tarian ini merupakan bentuk ekspresi diri yang memiliki aturan yang lebih bebas,namun secara konseptual tetap mempunyai aturan. Tari nontradisional yang telah dikoreografi dengan latar budaya tradisional Indoesia banyak ragam dan variasinya. Penggunaan teknik tariannya tidak berpijak pada pola tradisi dan aturan yang teratur dan rumit.

b. Berdasarkan Peran dan Fungsi Tari

Tari Upacara Tari Upacara Adat

Tari

Tari Religi/Agama Tari Pergaulan Tari Teatrikal

Skema 2. Tari berdasarkan peran dan fungsi Sumber: buku seni tari untuk SMK jilid 2

1) Tari Upacara Tari upacara adalah tarian yang digunakan untuk keperluan upacara. Pada daerah tertentu di Indonesia, tarian jenis ini berhubungan erat dengan masyarakat yang masih memfungsikan tarian untuk keperluan upacara. Ciri utama tari upacara antara lain hidup dan berkembang dalam tradisi yang

26

kuat, memelihara/berlatar belakang agama Hindu, sarana memuja dewa (keagamaan), serta kegiatan/prosesi tradisi yang menjadi simbol masyarakat maka tarian jenis ini berkembang subur dan diwariskan. 2) Tari Upacara Adat Tari yang digunakan untuk penyambutan biasanya berhubungan dengan keperluan adat. Tarian jenis ini biasanya untuk penyambutan tamu agung atau tamu terhormat. 3) Tari Religi/Agama Tarian religi atau agama biasanya pada saat

dipertunjukan banyak terkait dengan acara-acara prosesi upacara tertentu. Bentuk-bentuk upacara yang digelar meliputi arak pengentin, kelahiran, penyembutan tamu agung, injak telur, kematian, potong rambut dan beberapa acara prosesi lain yang selalu dipelihara oleh masyarakat dilingkungan dimana tarian tersebut difungsikan. Dengan demikian pada pertunjukannya selalu dikaitkan dan disatukan ke dalam ritual atau prosesi upacara yang dilaksanakan. Kesatuan tari dengan prosesi upacara sangat dekat dengan mode pertunjukannya. Oleh sebab itu, tarian tertentu dan prosesinya selalu digelarkan secara menyatu dalam satu pertunjukan. Tarian upacara adat atau agama ini pada saat tertentu juga dapat dipresentasikan dalam acara-acara lain yang berhubungan dengan berbagai peristiwa yang sesuai untuk pertunjukan tarian tersebut. Oleh sebab itu, tarian ini eksis dari jaman dulu hingga sekarang. 4) Tari Pergaulan Tarian ini mengisyaratkan pergaulan antara muda dan mudi.tarian ini biasanya dilakukan pada saat bulan purnama

27

sebagai tari pergaulan muda mudi/ kaum remaja yang merupakan tari sosial yang memiliki latar belakang cerita. Tarian ini merupakan wujud suka cita warga desa dalam menyambut panen, bersih desa, atau acara lainnya yang berhubungan dengan berlangsungnya pertemuan antara kaum muda/laki-laki dan mudi/putri. Ciri yang nampak pada tari-tarian jenis ini adalah: a) Gerak tari ini dilakukan secara bebas, yang mengikuti adalah muda dan mudi atau warga masyarakat secara umum. b) Tarian ini sering dilaksanakan pada saat bulan purnama baik untuk kalangan anak-anak, remaja putra dan putri atau dewasa maupun orang tua, dapat dilakukan di arena yang luas atau tanah lapang. Pelaksanaan pertunjukan tarian ditujukan untuk keperluan upacara serta kebiasaan yang sering digelar, acara tersebut merupakan puncak dari kegiatan pada waktu siang harinya. c) Tarian ini pada dasanya digunakan sebagai sarana untuk komunikasi atau pergaulan atara laki-laki/perempuan, anak, remaja dan orang tua atau kegiatan yang

berhubungan dengan hajad orang banyak di suatu desa. 5) Tari Teatrikal Ciri tarian jenis ini adalah bahwa tarian ini merupakan bentuk pertunjukan yang dikemas secara lengkap antara unsur seni rupa, musik teater dan tari. Pertunjukan digarap komunikasi dengan penonton, sehingga kesan teatrikal nampak. Salah satu contoh adalah Kesenian Betawi. Pada jaman dahulu hidup dan berkembang kesenian ini. Kesenian ini memiliki mode penyajian secara teatrikal. Kosumsi

28

pertunjukan lebih diarahkan untuk ceritera rakyat. Unsur ceritera dapat digunakan sebagai media untuk improvisasi diatas panggung. Masalah lain yang dapat difungsikan adalah unsur dialog atau komunikasi dengan penonton. Oleh sebab itu pertunjukan ini sangat digemari di kalangan masyarakat luas terutama mayarakat luas.

C. TINJAUAN UMUM TERHADAP GEDUNG PERTUNJUKAN 1. Sejarah Gedung Pertunjukan Gedung pertunjukkan merupakan hasil inovasi arsitektur dari budaya barat yang secara teknis memang ditujukan untuk

menunjang budaya seni musik. Sejarahnya dimulai sejak awal abad ke 19 dimulai dengan bangunan berupa amphitheater, gedung opera baru kemudian gedung pertunjukkan. Perkembangannya ini juga seiiring dengan perkembangan ilmu akustik dan juga arsitektur. Pada jaman modern ini, gedung pertunjukkan sudah merupakan hasil inovasi mutakhir dari berbagai teknologi, ilmu pengetahuan dan seni pertunjukkan itu sendiri. Pada mulanya berupa pertunjukan tradisional pada upacaraupacara religus dan upacara-upacara lainnya, seperti pertunjukkan wayang di kraton dan tarian-tarian di pura-pura di Bali. Sejalan dengan perkembangan dan peradaban yang lebih maju dan unsurunsur budaya barat yang ditanamkan bersama dengan masuknya bangsa-bangsa asing ke Indonesia, maka seni pertunjukan

mengalami perkembangan pula, sehingga pada saat sekarang cenderung untuk dipertunjukkan di atas pentas. Baru pada abad XIX di Jakarta pada zaman Rafles, dibangun gedung pertunjukkan yang pertama, yaitu Gedung Kesenian (City Hall) yang berfungsi sebagai tempat penyajian seni pertunjukkan modern, dimana materi, sruktur, dan pengolahannya didasarkan

29

pada seni pertunjukan barat, misalnya : seni opera, tari, balet drama barat.

2. Pengertian Gedung Pertunjukan Gedung Pertunjukan merupakan suatu tempat yang

dipergunakan untuk mempergelarkan pertunjukan, baik seni tari, musik maupun drama. Terkait dengan itu maka persyaratan ruang harus dipenuhi sesuai dengan fungsinya, agar pesan yang diungkapkan penyaji seni dapat tertangkap dengan baik sehingga tercapai kualitas pertunjukan yang optimal serta kepuasan bagi penikmatnya mengingat penonton yang memasuki sebuah gedung pertunjukan memiliki hak untuk mendapatkan kenyamanan,

keamanan, penerangan yang cukup, pemandangan (viewing) yang menyenangkan dan kualitas bunyi yang baik selain kualitas acaranya itu sendiri. (Dwi Retno Sri Ambarwati, M.Sn)

3. Fungsi Perwadahan Fungsi perwadahan Gedung Pertunjukkan dan Pengembangan Seni Tari dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok fungsi, yaitu : a. Fungsi ke luar 1) Mendidik masyarakat agar lebih mengenal dan mencintai seni tradisional yang merupakan warisan bangsa dan proses kreatifitas bangsa. 2) Meningkatkan prestise kota dari segi fasilitas hiburan yang artinya turut serta mendukung sektor perekonomian dan pariwisata. 3) Meningkatkan apresiasi dan kreatifitas berseni masyarakat, dalam konteks makro turut membentuk peradaban manusia. 4) Menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang terkait sepanjang proses kegiatan yang diwadahi berlangsung.

30

b. Fungsi kedalam 1) Merupakan wadah kontak dan komunikasi antara masyarakat penikmat seni dan budaya dengan seniman. 2) Tempat pemenuhan kebutuhan masyarakat akan hiburan dan segala informasi tentang seni tari di Luwu Timur. 3) Tempat penampungan dan pengembangan kreatifitas pelaku seni, bisa dimulai dari seseorang yang tidak tahu sama sekali tentang seni sampai menjadikannya seorang seniman. Dari uraian tersebut diatas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa fungsi Gedung Pertunjukkan dan

Pengembangan Seni Tari diharapkan menjadi suatu wadah yang efektif dan efisien dalam mewadahi kegiatan-kegiatan seni tari. Gedung Pertunjukkan dan Pengembangan Seni Tari sebagai tempat berkreasi, tempat mengumpulkan karya seni, pembinaan seni, memberi dan menerima informasi seni tari, pameran dan lain-lain di Luwu Timur. 4. Maksud dan Tujuan Perencanaan Gedung Pertunjukan dan Pengembangan Seni Tari memiliki maksud dan tujuan perwadahan, antara lain : a. Menambah fasilitas pegelaran seni tari untuk memberi

kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk memiliki sarana rekreasi dan hiburan yang bermutu sekaligus menambah

wawasan seni dan budaya, khususnya kebudayaan yang ada di Kabupaten Luwu Timur. b. Memberi kesempatan dan sarana bagi para seniman untuk menggelar karya-karya seninya dan sekaligus berkomunikasi dengan masyarakat melalui karya mereka. c. Menghadirkan wadah aktifitas berkesenian yang memenuhi kriteria sebuah bangunan yang berorientasi seni.

31

d. Menciptakan wadah bagi calon-calon insan seni untuk belajar berapresiasi dalam mencipta dan menggelar pertunjukan. e. Dengan adanya fasilitas Gedung Pertunjukkan dan

Pengembangan Seni Tari ini diharapkan menjadi suatu wadah kegiatan seni untuk meningkatkan penghayatan dan apresiasi masyarakat terhadap seni dan menampung kreativitas seni dan penikmat seni khususnya seni tari.

5. Motivasi Pengadaan a. Pemerintah 1) Kesadaran akan kurangnya fasilitas pengembangan kesenian di Luwu Timur. 2) Adanya tugas pemerintah pada bidang kebudayaan untuk memperkuat kepribadian, kebangsaan dan kesatuan nasional dengan mendukung peningkatan dan pembinaan serta pemeliharaan kesenian yang ada. 3) Turut membantu kehidupan kesenian masyarakat sebagai media pencerminan potensi budaya, disamping untuk

memelihara identitas keseniaan daerah. b. Masyarakat 1) Keinginan untuk mendapatkan suatu hiburan dengan melihat pertunjukan kesenian atau kebudayaan. 2) Sebagai sarana informasi seni dan budaya, khususya

kebudayaan dan kesenian yang ada di daerah Luwu Timur sehingga menumbuhkan rasa cinta pada kebudayaan sendiri. c. Seniman 1) Adanya kesempatan bagi seniman untuk mempertunjukan hasil karya seni mereka kepada masyarakat.

32

2) Sebagai media komunikasi bagi para seniman, dan media kontak antara seniman dengan masyarakat pencinta seni melalui karya tersebut. 3) Diharapkan sarana dan prasarana yang lengkap, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari suatu karya-karya seni.

6. Pola Kegiatan dalam Gedung Pertunjukan dan Pengembangan Seni Tari a. Unsur Pemakai Gedung 1) Seniman Merupakan kelompok seniman atau perorangan yang memiliki kaitan dengan kehidupan seni. Bentuk kegiatannya dapat berupa : pagelaran seni, lomba seni

diskusi/musyawarah dan pertemuan antara seniman-seniman ini dapat dikelompokkan menjadi : a). Seniman pencipta Adalah seniman yang aktif menggali atau mencari ide kreatif untuk mewujudkan suatu karya, seperti arranger, penulis, koreografer, pelukis, pemahat,

pengukir, dan lain-lain. Selain itu juga dapat memberikan sumbangan-sumbangan ide bagi pengembangan seni termasuk di dalamnya seperti membina seni (instruktur). b). Seniman pelaku Bertindak sebagai pembuat dan pelaku seni dengan mengikuti pola-pola yang telah digariskan

maupun dengan improvasasi desain yang mereka miliki seperti panari, aktor, pemusik, dan lain-lain. 2) Masyarakat Masyarakat sebagai konsumen seni dapat dibagi dalam beberapa kelompok :

33

a) Masyarakat umum/awam, pelajar, dan mahasiswa b) Masyarakat pengamat seni Kelompok masyarakat yang tidak memiliki

keahlian di bidang seni tetapi memliki pengetahuan tentang seni yang cukup melalui pengamatan-pengamatan yang telah dilakukannya. Biasanya merupakan

penyumbang idea tau kritikus yang amat diperlukan pengamatan kesenian. c) Masyarakat peminat dan pencinta seni Kelompok masyarakat yang memiliki bakat dan peminat untuk di mengembangkan bidang seni. keahlian serta

keterampilan

Memiliki

pengetahuan,

keahlian dan keterampilan yang cukup baik. Umumnya memiliki penilaian yang tinggi terhadap karya seni. Secara khusus kelompok ini cukup memegang peranan dalam pengembangan kehidupan seni. d). Kolektor seni Masyarakat yang memiliki hobi atau kebiasaan mengumpulkan hasil karya seni untuk dikoleksi tanpa ada keinginan untuk diperdagangkan. e). Wisatawan Wisatawan baik domestik maupun asing yang ingin menikmati seni. Perincian tersebut dibedakan

berdasarkan kenyataan yang ada serta perkembangan kesenian kita sekarang ini. Pengunjung umumnya memiliki penglihatan atau daya memahami/menanggapi terhadap seni yang berbeda–beda. Hai ini tergantung pada latar belakang yang memiliki : (1) Tarap intelegensi pendidikan. (2) Lingkungan dan sifat hidup.

34

(3) Bakat serta pembawaan. Kunjungan yang bersifat khusus : (1) masyarakat yang telah mampu menikmati dan

menghayati suatu karya seni. (2) Masyarakat yang secara aktif membina dan

memelihara, bukan sekedar penghayat seni semata. (3) Masyarakat dengan kemampuan dan daya

serap/tanggap terhadap suatu karya seni. Kunjungan tidak khusus : (1) Masyarakat yang awam terhadap kesenian. (2) Masyarakat yang memandang kesenian adalah

sekedar hiburan. 3) Pengelola Bertugas melayani penyelenggaraan kegiatan-kegiatan dalam Gedung Pertunjukan dan Pengembangan Seni Tari. Sarana ini merupakan faktor sosial atau pelayanan

masyarakat, juga termasuk di dalamnya pemeliharaan.

7. Kelembagaan dan organisasi a. Status kelembagaan Mengingat wadah kegiatan kesenian dalam lingkup

Kabupaten, maka status kelembagaannya di bawah tanggung jawab langsung oleh pemerintah setempat dengan membentuk sesuatu Dewan Kesenian. Hal ini perhitungkan terhadap : 1) Biaya subsidi dari pemerintah, prosedurnya akan mudah dan lancar. 2) Kebebasan bergerak lebih luwes dalam mencari dana lain dengan mngikutsertakan pihak swasta sebagai sponsor dan donatur tetap.

35

3) Sifat

kegiatan

dapat

memberikan

palayanan

kepada

kepentingan umum tanpa terkecuali. b. Hubungan kelembagaan 1) Direktorat Kesenian dengan hubungan secara yuridis, bersifat konsultatif. 2) Kantor Kesenian Daerah, bertugas dalam pembinaan dan pengembangan kesenian, khususnya kesenian daerah. 3) Pemerintah Daerah, melakukan pengawasan yang meliputi susunan organisasi dan kegiatan dalam wadah, serta mengadakan pemeliharaan . 4) Yayasan non pemerintah, merupakan lembaga formal usaha untuk pembiayaan rutin untuk

pemerintah seperti organisasi-organisasi kesenian yang ada di dalam kota yang beraggotakan orang-orang untuk

pelaksana kegiatan kesenian.

PEMERINTAH DAERAH

DIREKTORAT PEMBINAAN KESENIAN

DEWAN KESENIAN KANTOR PEMBINAAN KESENIAN WADAH KEGIATAN KESENIAN

Skema 3. Hubungan kelembagaan Sumber. Pusat Kesenian Jakarta “Taman Ismail Marzuki”

36

c. Organisasi dan pengelolaan Mengingat tujuan utama kegiatan yang bersifat non-profit, sekalipun dalam operasionalnya menuntut biaya ganti rugi, maka pengelolaan wadah dilakukan dan diatur oleh pemerintah daerah membentuk Dewan Kesenian Daerah sebagai pelaksana tugas yang sanggup menghimpun seniman-seniman yang kreatif. Pelaksana operasionalnya ditunjuk pelaksana harian yang bertanggung jawab penuh pada semua acara. 1). Hubungan Kerja Secara vertikal : a) Sebagai badan yang berdiri sendiri, administratif

bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah. b) Secara operatif bertanggung jawab kepada Dewan

Kesenian Daerah. c) Secara konsultatif dengan kantor Pembinaan Kesenian yang bertanggung jawab pada kantor Pembinaan Kesenian dibawah Direktorat Kesenian Pusat. Secara horizontal : a) Hubungan langsung dengan organisasi-organisasi kesenian masyarakat. b) Hubungan dengan instalasi/lembaga yang berminat dalam bidang kesenian dan kebudayaan baik pihak pemerintah maupun swasta. c) Secara individu dengan tokoh-tokoh seniman dan

kebudayaan. Organisasi dan pengelolaan ini dibuat berdasarkan perbandingan dengan pola organisasi yang ada di Pusat Kesenian Jakarta “Taman Ismail Marzuki”. Pimpinan kegiatan kesenian TIM bertanggung jawab secara vertikal terhadap lembaga kebudayaan. Hal ini sama dengan

37

Kepala

Bidang

Kesenian

Daerah

Kabupaten

yang

bertanggung jawab terhadap Kepala Wilayah Kebudayaan setempat.

D. TINJAUAN

KHUSUS

GEDUNG

PERTUNJUKAN

DAN

PENGEMBANGAN SENI TARI DI LUWU TIMUR 1. Tinjauan Terhadap Kabupaten Luwu Timur a. Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Luwu Timur secara geografis terletak pada koordinat antara 20 15’ 00’’ – 30 Lintang Selatan dan 1200 30’ 00’’ sampai 1210 30’00’’ Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Luwu Timur adalah 664.686,68 ha atau 6.646,87 km2. Secara fisik geografis wilayah Kabupaten Luwu Timur meliputi batasbatas: 1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah 3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Bone Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara 4) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan. Letak Kabupaten Luwu Timur pada Pulau Sulawesi sangat strategis sehingga dapat menjadi wilayah penghubung bagi wilayah hinterland, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam. Pada masa datang, Kabupaten Luwu Timur diharapkan dapat berfungsi sebagai service region dan marketing outlet bagi kabupaten-kabupaten di sekitarnya.

38

Secara administrasi, Kabupaten Luwu Timur terdiri atas 11 (sebelas) kecamatan yaitu Burau, Wotu, Tomoni, Angkona, Malili, Towuti, Nuha, Mangkutana, Kalaena, Tomoni Timur, dan Wasuponda dengan jumlah keseluruhan 107 desa, 3 UPT dan 313 dusun. Luas wilayah berdasarkan kecamatan adalah Burau (29.716,15 Ha), Wotu (15.23,41 Ha), Tomoni (24.034,85), Mangkutana (104.813,08 Ha), Angkona (29.623,92 Ha), Malili (72.180,47 Ha), Nuha (98.316,03 Ha), dan Towuti (187.177,33 Ha), Kalaena (8.394,72 Ha), Tomoni Timur (5.373, 91 Ha) dan Wasuponda (100.821, 88 Ha). Sebaran desa di setiap kecamatan adalah Kecamatan Burau (15 desa), Wotu (12 desa), Tomoni (12 desa), Angkona (8 desa), Malili (15 desa), Towuti (13 desa), Nuha (5 desa), Mangkutana (8 desa), Kalaena (8 desa), Tomoni Timur (8 desa) dan Wasuponda (6 desa).

Gambar 1. Peta administrasi Luwu Timur Sumber. Dinas tata ruang dan permukiman Luwu Timur

Daerah ini mendapat julukan “negeri tiga danau”, karena keunikan keberadaan 3 (tiga) buah danau besar pada bagian timur wilayahnya, kabupaten ini juga disebut sebagai “negeri tiga danau”. Danau yang dimaksud, yaitu :

39

1) Danau Towuti (luasnya 56.670 Ha), 2) Danau Matano (luasnya 16.350 Ha), dan 3) Danau Mahalona (luasnya 2.348 Ha) Ketiga danau ini sangat potensial untuk pengembangan kegiatan budidaya perikanan, pembangkit listrik, dan kegiatan pariwisata. Disamping itu juga, terdapat 2 (dua) buah telaga, yaitu Telaga Tapareng Masapi seluas 243 Ha, dan Telaga Lontoa seluas 172 Ha. b. Topografi Kabupaten Luwu Timur yang sebagian besar wilayahnya berada pada kawasan Pegunungan Verbeck merupakan daerah yang bertopografi pegunungan. Namun di beberapa tempat

merupakan daerah pedataran hingga rawa-rawa. Wilayahwilayah yang bergunung adalah bagian utara dan barat sedangkan wilayah pedataran adalah bagian selatan dan barat. Kondisi datar sampai landai terdapat pada semua wilayah kecamatan dengan yang terluas di Kecamatan Angkona, Burau, Wotu, Malili dan Mangkutana. Sedangkan kondisi

bergelombang dan bergunung yang terluas di Kecamatan Nuha, Mangkutana dan Towuti. Hasil analisis kelerengan dari Bappeda serta analisis peta topografi menunjukkan bahwa Kabupaten Luwu Timur dapat dibagi menjadi 4 wilayah lereng dan satu danau. Penggolongan tersebut adalah pegunungan (>40%), perbukitan (15 – 40%), bergelombang (8 – 15%) dan pedataran (0 – 8%). Luas wilayah dengan kemiringan >40% mencapai 459.946,81 ha (69,20%), kemiringan 0-8% mencapai 105.653 ha, kemiringan 8-15% mencapai 11.846,62 ha, kemiringan 15-40% mencapai

11.446,05 ha dan danau mencapai luas 74.875,50 ha.

40

Kabupaten

Luwu

Timur

didominasi

oleh

wilayah

pegunungan (459.946,81 ha). Menandakan bahwa sebagian besar wilayah ini berada pada ketinggian. Jika dilihat posisi wilayah ini dari muka laut, maka Kabupaten Luwu Timur dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu 0 – 25 m, 25 – 100m, 100 – 500m, 500 – 1000m dan >1000m. Sebagian besar wilayah Kecamatan Nuha berada pada daerah pegunungan, sedangkan Angkona dan Wotu didominasi oleh daerah pedataran. Sejalan dengan kelerengan, maka ketinggian juga menunjukkan bahwa Kecamatan Nuha berada pada wilayah ketinggian di atas 1000 m dpl. Demikian halnya dengan Kecamatan Towuti yang didominasi oleh pegunungan dengan ketinggian di atas 1000 mdpl. c. Iklim Temperatur rata-rata bulanan berkisar pada 24,0-26,1 oC. Temperatur tertinggi tercatat pada bulan November, sedangkan temperatur terendah pada bulan Juli. Temperatur rata-rata bulanan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kelembaban (relatif) bulanan rata-rata berkisar pada 88,493,8%. Kelembaban relatif tertinggi terjadi pada hampir semua bulan (100%) terutama pada bulan Juli, dan terendah pada bulan September (80,8%). Penguapan yang terjadi cukup tinggi dengan nilai rata-rata bulanan sekitar 2,7-4,3 mm, walaupun demikian diimbangi oleh curah hujan harian yang tinggi pula. Penguapan tertinggi terjadi pada bulan Oktober (4,3 mm/hari), sedang penguapan terendah teramati pada Bulan Juni (2,7 mm/hari). Periode dengan tingkat penguapan tinggi terjadi mulai bulan Agustus sampai April ( 3 mm/hari), sedangkan periode dengan penguapan rendah mulai bulan Mei sampai dengan bulan Juli (3 mm/hari).

41

Curah hujan rata-rata bulanan dari tahun 1990 sampai 2001 berkisar di antara 111,3-409.7 mm dengan curah hujan tertinggi pada bulan Mei dan terendah pada bulan September. Jumlah rata-rata hari hujan setiap bulan antara 12-25 hari. Periode dengan tingkat curah hujan tinggi terjadi mulai bulan Maret sampai Mei ( 300 mm), sedangkan periode dengan curah hujan rendah mulai bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober ( 200 mm). Periode dengan tingkat curah hujan sedang terjadi dari bulan November sampai Februari (200 – 300 mm). Variasi curah hujan bulanan diperlihatkan padagambar berikut.
500 C. Hujan H. Hujan 400 300 200 10 100 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des 0 20 30

Curah Hujan (mm)

Bulan

Gambar 2. Curah hujan rata-rata Sumber. Bappeda Luwu Timur

Dalam penelitian data kecepatan dan arah angin setiap jam selama 7 tahun terakhir diperoleh dari Stasiun Meteorologi PT. INCO TBK. Data angin selama 7 tahun terakhir

menunjukkan bahwa antara pukul 07.00 sampai 18.00 (siang) arah angin dominan dari arah tenggara (24,8 %) dan dari utara (24,13 %), sedangkan antara pukul 19.00 sampai 06.00 (malam) arah angin dominan dari arah utara (36,8 %) dan dari arah tenggara (19,1 %). Kecepatan angin selama 7 tahun

Hari hujan (hari)

42

terakhir antara pukul 07.00 sampai 18.00 sebagian besar berkisar 0 sampai 2 m/s (69,1 %), sedangkan antara pukul 19.00 sampai 06.00 besar berkisar 0 sampai 2 m/s (73.16 %). d. Demografi Jumlah penduduk Kabupaten Luwu Timur (kondisi

Desember 2009) berdasarkan estimasi hasil sensus penduduk 2000 mencapai jumlah 242.053 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 56.068 rumah tangga, Kecamatan yang paling banyak jumlah penduduknya adalah Kecamatan Malili sebesar 31.775 jiwa.Kepadatan penduduk tahun 2009 di Luwu Timur masih kecil, hanya 35 jiwa/ km². Kecamatan yang paling padat adalah Kecamatan Tomoni Timur dengan kepadatan 272 jiwa/ km². Perkembangan jumlah penduduk merupakan akumulasi dari faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk di Kabupaten Luwu Timur. Data kecenderungan perkembangan penduduk Kabupaten Luwu Timur 5 tahun terakhir dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 4,22% pertahun, maka dengan metode pendekatan matematis dapat dilakukan proyeksi atau perkiraan jumlah penduduk hingga tahun 2029. Hasil analisa yang dilakukan menunjukkan perkiraan jumlah penduduk Kabupaten Luwu Timur hingga tahun 2029 mencapai 391.674 jiwa, dengan rata-rata pertumbuhan 2,80%, secara rinci diuraikan pada tabel dan diagram berikut.
Pertambahan Penduduk (Jiwa) No Kecamatan 2010 1 2 Burau Wotu 36.665 29.227 2014 46.508 31.714 2019 58.813 34.823 2024 71.117 37.932 2029 83.422 41.041

43

3 4 5 6 7 8 9a b 10 e 11

Tomoni Tomoni Timur Angkona Malili Towuti Nuha T Wasuponda Mangkutana Kalaena l Jumlah

22.309 11.743 23.162 31.648 30.905 22.176 18.201 20.378 11.526 226.036 -

25.355 12.145 25.796 37.673 33.068 26.856 22.471 22.328 12.823 261.587 35.551 3,40

29.163 12.647 29.087 45.205 35.773 32.707 27.808 24.764 14.443 306.025 44.439 2,90

32.970 13.149 32.379 52.736 38.477 38.558 33.145 27.201 16.064 350.464 44.439 2,54

36.778 13.651 35.670 60.268 41.182 41.182 38.482 29.637 17.684 391.674 41.211 2,35

Perkembangan (Jiwa) 2 Prosentase (%) .

Tabel 2. Perkiraan dan Tingkat Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010-2029 Sumber. BPS Luwu Timur

e. Budaya dan Adat Istiadat Terjadinya perubahan kultur dan sosial budaya

masyarakat merupakan proses transformasi global akibat tidak homogenisitasnya kultur budaya pada suatu daerah. Terjadinya dinamika perkembangan perkotaan akan tidak lagi memandang kultur budaya dan adat istiadat sebagai hukum masyarakat (norma etika) yang berlaku, akan tetapi tergantikan oleh sifat individualistis dan kepentingan sosial ekonomi akan menjadi dominan. Perubahan proses tersebut sulit dihindari karena dipengaruhi oleh masuknya budaya lain dan perkembangan teknologi menjadi orientasi masyarakat untuk

mengaktualisasikan diri.

44

Perubahan karakter dan kultur budaya sebagai ciri khas suatu komunitas tidak perlu terjadi, jika masyarakat memegang teguh dan menjunjung tinggi nilai budaya yang secara turuntemurun dianutnya. Salah satu kekuatan masyarakat di Kabupaten Luwu Timur adalah pembauran nilai religius keagamaan dalam suatu kebudayaan yang masih melekat hingga kini. Faktor lain yang mempengaruhi adalah komunitas masyarakat di Kabupaten Luwu Timur sebagian besar

masyarakat asli masih dalam satu ikatan rumpun keluarga, sehingga konflik sosial tidak menjadi pemisah, tetapi dapat terselesaikan secara kebersamaan dan kekeluargaan.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh gambaran tentang terjadinya pembauran suku dan kultur di Kabupaten Luwu Timur, yang secara umum dipengaruhi oleh etnis suku Toraja, Bugis, Pamona, dan Mori. Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi sosial budaya masyarakat di Kabupaten kawasan Luwu Timur adalah yang

terbentuknya

beberapa

transmigrasi,

penduduknya sebagian besar berasal dari beberapa kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan penduduk dari luar Sulawesi Selatan. Masing-masing etnis penduduk yang mendiami wilayah Kabupaten Luwu Timur membawa kultur budaya dari daerah asal, sehingga terjadi percampur-bauran budaya. Budaya masyarakat yang mudah dijumpai di Kabupaten Luwu Timur antara lain dari etnis Suku Bugis, Makassar, Toraja, Mori, Pamona, Bali, Jawa, dan Sumbawa/Lombok. Salah satu ciri khas budaya masyarakat di Kabupaten Luwu Timur yang masih melekat sampai sekarang adalah pembauran antara ritual keagamaan dan ritual budaya “Maccera’ Tasi” yang hampir tersebar pada wilayah pesisir

45

Kabupaten Luwu Timur, terutama pada Kecamatan Malili, Angkona Wotu dan Burau. Upacara keagamaan ini masih berlangsung hingga sekarang untuk melakukan ritual

kesyukuran atas limpahan hasil laut yang telah dinikmati oleh masyarakat Kabupaten Luwu Timur dan sekitarnya. Budaya lainnya yang merupakan pembauran kultur budaya di

Kabupaten Luwu Timur adalah jenis tarian untuk perayaan yang sering disebut “Maddero”. Sedangkan tradisi luar yang menjadi kebiasaan masyarakat di Kabupaten Luwu Timur adalah “Ngaben” terutama bagi masyarakat yang berasal dari etnis Bali, sebagai upacara penguburan orang meninggal. Selain itu juga terdapat beberapa tradisi dan upacara keagamaan lainnya, yang masih terus berlangsung di wilayah Kabupaten Luwu Timur.

2. Tinjauan Terhadap Pertunjukan di Luwu Timur

3. Tinjauan Terhadap Koreografi Setiap individu atau setiap kelompok masyarakat dari kalangan manapun dengan latar belakang profesi apapun, tentu saja bebas jika berkeinginan untuk mengemukakan pendapatnya atau hasil kajian serta interprestasinya mengenai makna, batasan atau pengertian tentang apa itu koreografi. Bermula istilah koreografi (choreography) berasal dari
46

bahasa Yunani chorela yang berarti tari masal, dan graphe yang berarti catatan. Jadi secara harfiah artinya catatan tentang tari. Menurut Soedarsono, isti;ah koreografi di Indonesia merupakan istilah baru yang mulai dikenal sekitar tahun 1950 ketka pemerintah RI mulai giat mengirimkan misi kesenian ke luar negeri. Sekarang istilah koreografi untuk menyebutkan sebuah garapan tari sudah bisa digunakan, dan istilah koreografer untuk menamakan seorang penggarap/pengubah tari. Asal katanya dari bahasa Yunani, chorela (tarian koor) dan graphica (penulisan). Secarah harfiah, koreografi berarti penulisan dari tarian koor, tetapi sebenarnya koreografi berarti cara merencanakan laku, baik ditulis maupun tidak. Jadi pengertian koreografi adalah bahwa koreografi merupakan hasil dari proses garapan yang menjadi sebuah tarian, dalam arti lain dapat pula dikatakan bahwa pengertian koreografi atau sebuah koreografi adalah terbentuknya susunan-susunan gerak hasil kerja kreatif seseorang atau sekelompok masyarakat yang diekspresikan melalui media penari. Jadi sebuah koreografi adalah sebuah tarian yang terpolakan atau menentukan dalam keberadaannya. Oleh karena itu, sebuah koreografi untuk menunjukkan keberadaan sebuah tarian yang perbendaharaan geraknya terbentuk secara terencana, tak salah lagi apabila koreografi memiliki organik bentuk yang khas. Karena sebuah koreografi adalah terdiri dari aneka ragam gerak tari yang tersusun dan terbentuk secara utuh sebagai hasil pancaran jiwa estetis dan atau hasil imajinasi kreatifnya sang pencipta tari, maka selain sebuah koreografi itu memiliki identitas yang khas, dengan kata lain, bentuk koreografi adalah keutuhan wujud suatu susunan- susunan gerak yang didesain atau dibentuk berdasarkan konsep-konsep estetik yang khas. Gerak tari merupakan bahasa pesan dari penciptanya, oleh sebab itu gerak dalam tari mengandung sesuatu misi. Sebuah tarian dikatakan baik apabila

47

tarian tersebut dapat menyampaikan pesan kepada para penikmatnya juga dapat dimengerti oleh para penikmatnya itu sendiri. Berdasarkan atas bentuk koreografinya, tari dapat dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu tari tunggal, tari berpasangan dan tari kelompok. a. Tari tunggal adalah suatu bentuk tarian yang ditampilkan oleh seorang penari. Biasanya menyangkut penokohan dan

pengungkapan karakter atau perwatakan. b. Tari berpasangan adalah suatu bentuk tarian yang dilakukan oleh dua orang penari yang menjadi pasangannya, antara peran yang satu dan yang lainnya saling melengkapi. c. Tari kelompok adalah tari yang merupakan pertunjukan yang dibawakan secara bersama-sama atau rampak yang jumlahnya lebih dari satu orang. Besar kecilnya jumlah kelompok tergantung kebutuhan membawakan tarian. 1) Elemen-elemen dasar koreografi secara berturut, peta konstruksi pengetahuan koreografi secara jelas dapat diuraikan sebagai berikut: a) Desain Gerak manusia beraktifitas sehari-hari memerlukan gerakan tubuhnya, dalam memanfaatkan gerakan tanpa disadari gerak mendukung aktifitasnya secara maksimal. Dalam kaitan dengan tari, gerak merupakan unsur yang penting, memiliki seorang penari sebagai sumber untuk aktivitas menari. Gerakan menari merupakan gerak yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan, dengan harapan untuk

mendapatkan tanggapan orang lain. Gerakan tari berbeda dengan gerakan bekerja atau gerakan olahraga, karena gerak tari sebagai ungkapan ekspresi sedagkan gerakan olah raga untuk prestasi.

48

Masalah gerak pada dasarnya merupakan unsur utama dalam tari. Bentuk, format dan sikap maupun posisi gerak menentukan bagaimana suatu gerakan harus diperagakan. Format gerak berhubungan perubahan sikap, posisi dan kedudukandari suatu benda. Desain gerak secara nyata merupakan unsur 3 dimensi yang memiliki panjang, lebar dan volume. Kedudukan gerak didesain menjadi bentuk benda selama menempati posisi, kedudukan dan momen berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain. Gerak dalam tari secara kedalaman merupakan media ungkap dari pernyataan dan ekspresi. Dalam tarian, gerak merupakan unsur baku. Gerak terdiri dari tenaga,ruang dan waktu dan berhubungan erat dengan wirasa, wirama dan wiraga. Tenaga dalam gerak tari berhubungan dengan energi yang dikeluarkan untuk bergeraksesuai kebutuhan intensitas, kualitas dan tekanan.intensitas banyak sedikitnya berhubungan dengan tenaga untuk pergerakan, tekanan atau aksen berhubungan dengan penggunaan energi secara merata atau tidak melalui penyaluran kekuatan bergerak dari seorang penari. Kualitas gerak juga menjadi prioritas gerakan dipelajari. Tenaga yang disalurkan menghasilkan bentuk, gerakan

mengayun, mengalir, bergetar, menahan dan sebagainya bergantung pada bagaimana teknik seorang penari melakukan kualitas gerakan secara sempurna. Gerakan tari dapat dibentuk melalui desain yang dibuat. Bentuk dan kapasitas serta kebutuhan tenaga yang disalurkan menjadi makna gerakan tariyang pada nantinya di ungkapkan. Standar gerak tari dibutuhkan untuk ungkapan ekspresi,

49

kekuatan dan jangkauan gerak, serta kedalam makna gerak yang dapat dirasakan secara terstruktur oleh peraga tari dalam menarikan suatu tarian. Oleh sebab itu, bentuk, konstruksi dan kedalaman isi suatu tarian sangat menentukan bagaimana tari dapat menimbulkan kesan emosi bagi pengamat atau yang menontonnya. b) Desain musik Musik pada dasarnya adalah bunyi-bunyian yang

ditimbulkan oleh sumber bunyi. Jenis musik yang teratur disebut ritme, sedangkan yang tidak teratur disebut dengan bunyi saja. bunyi yang teratur sesungguhnya merupakan disain musik. Masalah tempo atau ritme, dinamik dan sinkop yang terdapat dalam bunyi suatu musik dapat membentuk irama dan dinamik yang mampu menggugah rasa kita untuk mengekspresikan gerak. Bentuk wujud dan variasai bunyi yang ditimbulkan melalui alat musik dapat digunakan untuk memberi ruh musik yang digunakan untuk mengirigi koreografi. Motif, bentuk, jenis dan dinamikanya dapat bermacam-macam bentuk. Teknik dan cara memainkan alat musiknya juga berbeda satu jenis alat dengan alat lainnya. Desain musik agar dapat menghidupkan koreografi perlu digunakan kemampuan musikal yang berhubungan dengan bekal kemampuan dan kecakapan dalam mengukur kekuatan serta bagaimana teknik menghasilkan dinamika secara variatif. Madalah desain musik yang paling pokok adalah memiliki konsep bagaimana cara mewujudkan bentuk awal,

perkrmbangan, klimaks, penahanan akhir dan penurunan secara koreografis. Penggunaan alat musik yang dibutuhkan dapat memberikan keserasian musik iringan dan bentuk

50

koreografi yang dikembangkan secara maksimal. Cara dan teknik ini sangat dibutuhkan dalam penataan koreografi yang lebih mendasar. Kemampuan dan kekuatan menjalin rasa musikal menjadi bentuk musik yang memiliki kapasitas dan intensitas rasa musikal ditentukan pada hasil elaborasi dalam mendesain musik secara cermat. Kecermatan yang dimaksud inilah merupakan sentral kepekaan musik dari seorang yang mampu menggarap musik secara hidup dan penuh sentuhan. c) Desain Lantai Garis-garis yang dilalui oleh penari disebut desain lantai. Gambar desain lantai ini dalam pengertian lain adalah garis yang dibentuk oleh formasi penari kelompok. Secara umum desain ini terbagi kedalam dua bagian yakni desain garis lurus dan desain garis lengkung. Aspek desain lantai dapat tergambar secara ilustratif melalui lintasan gerak penari. Penari membuat konsep ruang pentas yang secara geografis berhubungan dengan garis, ruang gerak, dan posisi penari pada saat diam. Garis menyudut atau diagonal, lengkung, zigzag, lurus, bahkan berbentuk lingkaran dapat terlihat melalui gerakan melintas penari saat bergerak. Gerakan dengan berpindah tempat dapat dilakukan secara hubungannya dengan gerak tangan, kaki, tubuh, kepala. Pola garis lurus, dapat dibuat kedepan, kebelakang dan kesamping atau serong. Formasi garis lurus juga dapat dalam bentuk segitiga, segi empat, huruf T, huruf V dan bentuk lain seperti desain zigzag atau kebalikannya. Disisi lain, garis lengkung dapat berwujud ular, spiral, lingkaran, angka delapan dan sebagainya.

51

Gerakan jalan, lari cepat, geser ke kanan-kiri, secara dinamis dapat dilakukan dengan variasi gerak dan pola gerakan berulang atau berganti-ganti (kanan-kiri). Beberapa variasai gerakan yang nyata dan pola gambar yang dilukiskan pada lantai dibayangkan secara imajinatif dalam angan-angan. d) Desai Atas Desain atas dilukiskan melalui gerakan mengayun-ayun atau melambaikan tangan di atas garis bahu. Ruang desain atas dapat diciptakan lagi melalui gerakan yang sesaat melayang di udara dengan dasar kaki sebagai tumpuhan berada diatas permukaan lantai atau landasan tumpu. Gerakan yang memiliki kesan desain atas dilakukan penari dengan cara meloncat, melompat, melayang sesaat di udara. Batas-batas gerak yang memberi kesan desain atas secara geomeris berhubungan dengan tiga dimensi, tidak bertumpu pada lantai dasar atau tempat bertumpu, serta dimungkinkan bertumpu dilandasan tetapi kesan gerakan yang dilakukan lebih ada dalam posisi di atas lantai. Dengan demikian, aspek gerakannya memiliki tiga dimensi. Desain tiga dimensi berhubungan dengan volume gerak, jangkauan besar/kecil dan atau sempit-luasnya gerakan. Jangkauan terluas atau terpanjang yang mampu dilakukan oleh masing-masing penari. Karakter gerak yang biasa dilakukan untuk penghayatan menunjukan desain atas adalah pernyataan ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa dengan menengadahkan kepala, merentangkan kedua tangan ke atas, serta melakukan selebrasi yang berhubungan dengan konteks bicara dari hati dengan Tuhan melalui penghayatan pandangan mata ke atas, kepala ditengadahkan, serta gerakan lain yang berhubungan

52

dengan pernyataan simbol gerakan yang berhubungan dengan desain atas. Pelaksaan gerakan dilukiskan untuk mendapatkan kesan gerakan dilakukan diatas garis bahu. Pemahaman gerak seperti telah disebut adalah dengan mewujudkan teknik gerakan menengadahkan kepala dan gerakan kedua tangan ke atas. e) Rias dan Busana Rias busana pada prinsipnya merupakan pendukung dalam tari. Unsur ini pada garapan tertentu sangat vital dibutuhkan terutama untuk memperdalam atau menunjukan adanya karakter atau penokohan, yang ada dalam garapan koreografi. Sehingga, melalui rias dan busana dapat

mewujudkan visi karakter atau tokoh yang diharapkan. Pada konteks tertentu, rias dan busana juga dibutuhkan untuk tujuan penonjolan terhadap penampilan suatu bentuk seni pertunjukan dalam rangka digunakan sebagai bagian upacara keagamaan, upacara adat, dan bentuk tarian untuk upacara tertentu. Pada sisi lain, rias an busana menjadi kebutuhan yang sekunder, mana kala dalam garapan lebih dibutuhkan pada konsep pertunjukan secara naturalistik. Rias dan busana digunakan sebatas kebutuhan garis wajah saja dan pembalut tubuh penari. Saat tertentu busana terlhat sederhana untuk jenis tari nontradisi. f) Properti Properti adalah semua peralatan yang digunakan untuk pementasan tari. Properti tari tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan koreografi. Properti tari merupakan properti yang dibutuhkan dalam koreografi tari. Pada kenyataannya terdiri dari dance property/ properti tari dan stage property / perlengkapan

53

panggung. Dance properti terdiri dari peralatan tari yang dipegang penari secara langsung. Stage property adalah semua peralatan yang berada di atas panggung dan menjadi sarana yang langsung maupun tidak langsung melengkapi konsep suatu koreografi dimana dalam penerapannya

diletakkan di area pentas atau di panggung untuk mendukung koreografi. Stage panggung yang terkait dengan peralatan baik langsung dimanfaatkan pada saat pementasan terdiri dari trap (level pondation) yang berfungsi membuat kesan penari lebih di atas, di bawah standar panggung menjadi dukungan dalam pementasan koreografi. Bentuk dan format trap bermacam-macam. Ada yang berbentuk segi empat panjang, bujur sangkar, segi enam, segi delapan, tinggi 20 cm, 40 cm, dan 60 cm serta masih banyak bentuk yang lainnya. Jenis stage property di desain untuk memberikan dampak positif pementasan koreografi menjadi lebih indah, berkualitas dan memiliki kesan yang menarik bagi penonton, disamping tujuan penggunaan lebih ke arah

penggunaan teknis dalam koreografi. Properti tari pada dasarnya dapat digunakan untuk memberikan keindahan koreografi. Disisi lain apabila

penguasaan penari terhadap property kurang sempurna, ini menjadi kebalikan bahkan kesan ini menjadi kunci keindahan koreografi menjadi tidak tercapai. Penguasaan properti tari oleh penari mutlak merupakan persyaratan yang harus dimiliki. Kunci ini menjadi indikasi kebutuhan properti dalam suatu koreografi, dibutuhkan apabila tuntutan koreografi menjadi utama dalam penggunaan property

54

maka penari harus dibekali keterampilan yang lebih dalam memperagakan keterampilan properti. Pilihan atau penggunaaan properti tari jangan sampai mengganggu makna gerak yang akan disampaikan koreografer dalam menyampaikan misi tarinya. Penempatan properti tari dan stage property secara bersama menjadi bagian utuh dalam merefleksikan kesatuan koreografi agar menjadi semakin menarik, padat dan memenuhi kualitas penggunaannya. g) Tata Pentas Teknik pentas adalah mengadaptasikan penempatan properti panggung secara profesional. Pada koreografi yang menjabarkan ide, penempatan tata teknik pentas dirancang untuk kebutuhan pentas secara matang, profesional,

spektakuler, memenuhi harapan koreografer dan penonton. Untuk menempatkan wahana replika, properti panggung menjadi alternatifnya. Oleh sebab itu, replika yang akan ditempatkan di atas pentas, menjadi sarana yang disarankan untuk mencapai kualitas pementasan secara maksimal. Bingkaibingkai bermacam desain properti panggung secara kualitas diharapkan dapat mendukung pementasan. Peralatan dalam bentuk lain, replika panggung yang dibutuhkan dan banyak lagi tentang properti panggung yang oleh koreografer dipikirkan untuk menopang keberhasilan koreografi menjadi pilihan tata teknik pentas yang diharapkan. Dalam suatu pertunjukan memerlukan sarana dan fasilitas tempat untuk penyelenggaraannya. Dibeberapa tempat di Indonesia telah mengenal bentuk-bentuk tempat pertunjukan atau tempat pentas dengan banyak bentuk. Tempat dimaksud meliputi lapangan sebagai arena terbuka, pendopo,

55

pemanggungan (staging), halaman pura, serta bangsal sebagai tempat pergelarannya. Pemanggungan tersebut diatas merupakan istilah yang berasal dari Barat. Selanjutnya, istilah tersebut diadopsi dan dijabarkan kembali menjadi bahasa yang telah umum

dipercakapan sehari-hari kita, sehingga banyak orang yang telah mengenal dan memahami sebagai pengetahuan yang biasa. Di bawah ini ada beberapa bentuk pemanggungan yang telah dikenal kita. Secara detail dapat dijelaskan sebagai berikut. Pemanggungan bentuk pendopo adalah tempat

pementasan yang pada awalnya digunakan untuk pementasan tari klasik di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Konsep pendopo pada awalnya lahir untuk kalangan orang terpandang, karena pendopo dimiliki oleh orang setingkat Wedono atau Penewu ke atas. Tempat ini memiliki ruangan yang ditopang banyak penyangga berupa kayu, tiang dan besi beton. Kapasitas bentuk dan kualitas pendopo berhubungan dengan strata atau kedudukan orang yang memiliki atau mengelola pendopo.

Gambar 3. Panggung pendopo Sumber. Grafis Haviz Murhayadi SPd.

56

Model pemanggungan bentuk lain adalah Proscenium Stage. Bentuk pemanggungan ini sudah cukup tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kapasitas dan personifikasinya sudah banyak yang memenuhi standar (representasional). Stage Proscenium secara umum tergantung kepada bagaimana ruang pementasan tersebut akan di bentuk. Dalam kenyataan telah banyak yang disesuaikan sesuai standar internasional. Contoh di Jakarta adalah Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Teater Tanah Air Indonesia (TMII) dengan fasilitas space staging (panggung di udara atau para penari dalam berperan menggunakan link kawat yang diatur sedemikian sehingga penari atau peraga seperti terbang). Penonton dalam menikmati pertunjukan dari depan saja (frontal). Arah dan sudut pandang ditujukan terfokus pada arena pentas. Konsep kanan dan kiri terdapat layar atau sekat pembatas yang disebut side wing. Di depan panggung terdapat area sedikit yang disebut apron. Biasanya sisi kanan dan kiri atau sekitar apron terdapat ruang yang digunakan untuk menata instrumen musik.

Gambar 4. Stage Proscenium Sumber. Grafis Haviz Muharyadi SPd.

57

Konsep pemanggungan secara umum dapat dijelaskan berdasarkan bentuk dan kapasitas penonton yang dapat memanfaatkan situasi dan kondisinya secara interprestasi untuk memenuhi kebutuhan pada saat menonton pertunjukan adalah sebagai berikut.

Gambar 5. Panggung melingkar Sumber. Grafis Haviz Muharyadi SPd.

Pada

bentuk

tapal

kuda,

penonton

menyaksikan

pertunjukan dari arah depan melingkar separuh bola. Atau dengan perkataan lain, penonton melihat pertunjukan dari arah depan separuh bola. Bentuk pemanggungan yang di rancang secara sederhana dan bentuk ini sudah klasik adalah bentuk lapangan terbuka. Secara bebas bentuk lapangan terbuka dapat dijelaskan bahwa penonton dapat melihat dari segala penjuru. Penonton

memanfaatkan celah yang dapat digunakan untuk melihat atau menyaksikan pertunjukan melalui sudut pandang yang luas, terbuka dan lebih bebas atau santai dalam menikmati sajian. Bentuk panggung terbuka dapat dilihat seperti di berikut.

58

Gambar 6. Panggung dan lapangan terbuka Sumber. Grafiz Havis Muharyadi SPd.

Gambar 7. Bentuk panggung lapangan terbuka Sumber. Grafiz Havis Muharyadi SPd.

h) Tata Lampu dan Sound Pada seni tradisional, kelengkapan produksi yang paling tidak diperhatikan adalah masalah penataan lampu dan sound. Pertunjukan dilakukan di bawah terik matahan atau di bawah terang bulan pumama, dengan lampu minyak atau petromak saja sudah pementasan dapat digunakan untuk memenuhi penyajian tersebut. Perkembangan teknologi dan

pengetahuan yang terjadi, menempatkan pemikiran tentang tata lampu dan sound berkualitas diwujudkan. Kualitas gedung pertunjukan yang representati. Harus memenuhi perlengkapan ideal dan sempurna bagi pementasan. Kebutuhan atas

59

pengadaan tata lampu dantata suara menjadi pilihan terbaik kualitas pertunjukan. Kebutuhan pemanggungan yang berkualitas di berbagai daerah dan berbagai tempat pertunjukan di Indonesia belum merata. Hal ini menjadi masalah yang beragam. Penataan tata lampu dan tata sound yang seharusnya membantu pementasan jangan hanya salah penempatan atau pemilihan standar kualitas pemanfaatan menjadi boomerang pementasan menjadi tidak berkualitas. Kelengkapan produksi tata lampu menjadi pilihan dalam pementasan menempati peran tersendiri dalam pertunjukan Tanpa cahaya yang alami, baik buatan manusia maupun ciptaan Tuhan tontonan menjadi gelap Peranan tata lampu sebagai penerangan, di sisi lain juga harus mampu menciptakan inner garapan menjadi seolah penonton berada dalam ilusi koreografi yang dapat memberikan imeji keindahan sesuai dengan pesan yang diharapkan koreografer. Fungsi tata lampu antara lain sebagai penerang,

penciptaan suasana, penguatan adegan, kualitas pencahayaan, serta efek khusus pementasan Tata lampu sebagai penerangan jelas tidak diragukan lagi Asal ada penerangan pasti lampu semakin terang. Bentuk dan wujud tata lampu bermacammacam perlengkapan lampu diantaranya ada lampu khusus yang disebut Spot Light jumlah disesuaikan dengan kapasitas gedung. Strip Light (lampu garis) biasanya digunakan untuk menerangi dua hingga jalur area pentas saja yang masingmasing berjarak sekitar 2-4 meter dari deret lampu strip yang ada. Lampu backdrop juga diperlukan agar pada posisi pang belakang dan lampu yang dipakai murni menjadi bagian yang digunakan untuk menerangi latar belakang panggung secara

60

umum.

Formulasi warna lampu biasanya digunakan colour

brightyang terdiri dari warna-warna biru, merah, kuning, dan general. Perlu diingat, koreografer yang jeli memenfaatkan momen penataan tata lampu akan menyesuaikan penggunaan tata lampu dan tata warna lampu lebih mendalam. Penentuan warna lampu dan pemilihan kostum tari dipertimbangkan melalui dasar kesesuaian yang ideal. Penciptaan suasana garapan dapat diciptakan melalui penggunaan media penataan tata lampu secara professional. Sebagai ilustrasi dapat diberikan di sini, sebuah koreografi yang pada saat itu membutuhkan suasana perasaan hati sedang sedih, musik iringan sendu, lirih, dan menyayat, apabila diberi penerangan tata lampu yang

benderang maka koreografi menjadi tidak sesuai. Teknik penataan lampu yang dikembangkan adalah melalui penyinaran dengan kualitas warna biru, lampu yang temaram, dan warna-warna teduh akan mampu menciptakan suasana yang cocok dalam memenuhi kontribusi suasana koreografi yang diharapkan. Begitu pula sebaiiknya, dalam situasi perang, tata lampu disesuaikan dengan pencahayaan bahwa warna lampu merah, semakin pekat merah dapat mendukung suasana apalagi didukung kualitas gerak,

penghayatan, dan kedalaman isi gerak serta penciptaan colour yang sempurna semakin diharapkan memenuhi kualitas

pertunjukan. Penguatan adegan dilakukan dengan penataan lampu yang dapat diciptakan melalui daerah-daerah terang dan gelap secara dramatis. Di sisi lain penguatan ekspresi tari

dapat digunakan untuk membantu penghayatan agar tercapai tujuan adegan.

61

Penggunaan overhead spotlight atau follow spot light untuk lampu tunggal pada peran khusus atau ditokohkan berada dalam jarak tembaknya. Efek bayangan agar tidak terlihat pada penari yang ditokohkan ke penari lain menjadi pilihan tercapainya adegan yang diharapkan. Pemisahan tokoh dengan kelompok penari lain menjadi prioritas untuk memberikan batas pencahayaan yang jelas sesuai tempat, pemeranan, dan tentunya kualitas pencahayaan yang diharapkan secara

menyeluruh pada saat adegan tersebut menjadi momen yang dipilih. Kualitas pencahayaan sangat penting. Hal ini tidak semata-mata adegan menjadi gelap, tetapi kualitas pandang penonton menjadi lebih terbantu melalui pencahayaan yang memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Masalah intensitas penyinaran tata lampu, warna pilihan untuk lampu khusus maupun lampu general, distribusi tata lampu di sekitar panggung dan di area panggung, serta efek khusus yang diharapkan menjadi pilihan tercapainya koreografi mantap dipertunjukkan. Efek pencahayaan dapat merugikan, adegan kuang sempurna, kurang memenuhi harapan, dan kurang mencapai tujuan koreografis. Oleh karena itu, masalah intensitas penyinaran harussesuai catatan tari, warna pilihan harus sesuai adegan yang dibutuhkan pada saat adegan, distribusi penyinaran dan pemilihan warna yang dibutuhkan harus menjadi pengendali tercapainya adegan yang dibutuhkan, serta efek sinar menjadi salah satu kunci pemilihan tata lampu semakin sempurna dan memenuhi standar kualitas koreografi yang baik dan memenuhi syarat pementasan. Pencahayaan dapat mewujudkan adegan dan penyinaran, koreografi semakin hidup, dramatis, dan memenuhi kualitas

62

koreografi yang diharapkan. Standar ini semakin diharapkan apabila penari dapat lebih jelas melihat hubungannya dengan kualitas gerak yang diperagakan, ekspresi yang dilakukan, dan efek koreografi yang diharapkan. Efek khusus pementasan dapat menjadi kurang baik apabila penyinaran kurang

memadai, penempatan lampu khusus yang kurang tepat ditembakkan kepada tokoh khusus, serta pemanfaatan efek lampu yang kurang tepat dibutuhkan untuk suatu adegan. Hal ini menjadi jelas pada saat koreografi tampil sejak awal hingga akhir dilangsungkan. Efek khusus yang dipilihbiasanya

menyangkut kepada bagaimana tata lampu memenuhi kualitas pemeranan, penciptaan suasana, dan pemilihan yang lebih penting untuk terciptanya ending atau klimaks garapan tersebut. Penataan suara diperlukan dalam tata teknik pentas. Hal ini bertujuan agar dapat mendukung pementasan untuk memenuhi konsep garapan. Penuangan koreografi yang dipentaskan secara professional butuh tata suara yang memadai. Hal ini menjadi pendukung dalam pementasan. Kualitas tata suara harus memenuhi harapan koreografer. Oleh sebab itu, penempatan setting tata suara yang berkualitas menjadi salah satu indikasi standar pementasan.

E. STUDI BANDING 1. Taman Budaya Sumatera Utara Nama : Taman Budaya Sumatera Utara Lokasi: Jl. Perintis Kemerdekaaan no 33 Medan, Sumatera Utara Total Luas Tapak: 8.216 m2

63

Gambar 16. Gerbang TBSU Sumber : www.google.com

Di Tempat ini terdapat beberapa sanggar yang dibina dan diberikan fasilitas latihan dan juga pertunjukan. Sanggar yang dibina tersebut terdiri dari seni tari, seni musik dan juga seni teater. Taman Budaya Sumatera Utara yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan memiliki 7 bangunan eksisting yaitu : a. 1 unit Gedung Utama yang terdiri dari Gedung Pertunjukan (Teater Tertutup) dan Tata Usaha Bangunan ini digunakan sebagai tempat aktivitas pimpinan, para pegawai Tata Usaha Taman Budaya Sumatera Utara, juga sekaligus sebagai tempat event-event pertunjukan kesenian dan kebudayaan. Gedung Utama atau Teater Tertutup merupakan Gedung pertunjukan Utama dengan kapasitas 600 orang. Terletak pada jalur tengah areal dan memanjang ke belahan barat. Gedung ini dilengkapi dengan sebuah pentas, perangkat tata lampu dan soundsystem, umumnya menjadi pilihan utama tempat

mempergelarkan berbagai cabang seni, seperti teater, tari, musik dan sastra.
11

64

Gambar 17. Gedung Utama Sumber: www.google.com

Gambar 18. Teater Tertutup Sumber: www.google.com

b. 1 unit Gedung Sanggar Tari Bangunan ini digunakan sebagai tempat latihan untuk mempersiapkan diri menghadapi event-event, maupun hanya latihan rutin saja. c. 1 unit Gedung Sanggar Teater Bangunan ini digunakan sebagai tempat latihan untuk persiapan event-event pertunjukan, maupun kegiatan latihan rutin saja. d. 1 unit Gedung Sanggar Musik Bangunan ini lebih sering dipergunakan sebagai tempat latihan musik-musik modern seperti piano, gitar, dan drum. Walaupun sebenarnya tersedia juga alat-alat musik tradisional. e. 2 unit Gedung Pameran Gedung pameran digunakan untuk mewadahi kegiatan pameran seni rupa, namun salah salah satu bangunan ini lebih sering dipergunakan untuk latihan sanggar tari. Hal ini

65

dikarenakan kurangnya fasilitas gedung sanggar tari yang dimiliki oleh Taman Budaya Sumatera Utara, sedangkan jumlah kegiatan sanggar tari justru lebih banyak. f. 1 unit Open Stage/Teater Terbuka Dipergunakan untuk tempat pertunjukan yang sifatnya final atau minimal merupakan latihan terakhir sebelum

pertunjukan, tetapi justru lebih sering dipergunakan sebagai tempat latihan tari, yang diakibatkan kekurangan tempat latihan tari.

Gbr. 19 Teater terbuka Sumber: www.google.com

g. 1 unit Perpustakaan Perpustakaan Taman Budaya Sumatera Utara ini

memiliki koleksi ratusan buku dan buka setiap hari sesuai jam kerja. Perpustakaan ini selain berperan menambah wawasan bagi para pegawai Taman Budaya Sumatera Utara sendiri, perpustakaan ini juga terbuka bagi seniman, pelajar dan mahasiswa.

2. Taman Ismail Marzuki Nama : Taman Ismail Marzuki Lokasi: Jakarta

66

Total Luas Tapak: ± 9 Ha

Gambar. 20 Patung Ismail Marzuki Sumber: http://id.wikipedia.org

Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang populer disebut Taman Ismail Marzuki (TIM) berlokasi dijalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, merupakan sebuah pusat kesenian dan kebudayaan. Di sini terletak Institut Kesenian Jakarta dan Planetarium Jakarta. Selain itu, TIM juga memiliki enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, dan bioskop. Acara-acara seni dan budaya dipertunjukkan secara rutin di pusat kesenian ini, termasuk pementasan drama, tari, wayang, musik, pembacaan puisi, pameran lukisan dan pertunjukan film. Berbagai jenis kesenian tradisional dan kontemporer, baik yang merupakan tradisi asli Indonesia maupun dari luar negeri juga dapat ditemukan di tempat ini. Nama pusat kesenian ini berasal dari nama pencipta lagu terkenal Indonesia, Ismail Marzuki.

67

Gambar 21. Taman Ismail Marzuki Sumber: http://id.wikipedia.org

a. Graha Bhakti Budaya Graha Bhakti Budaya (GBB) adalah Gedung Pertunjukan yang besar, mempunyai kapasitas 800 kursi, 600 kursi berada di bawah dan 200 kursi di balkon. Panggung GBB berukuran 15m x 10m x 6m. Gedung ini dapat dipergunakan untuk gedung pertunjukan konser musik, teater baik tradisional maupun modern, tari, film, dan dilengkapi dengan tata cahaya, sound sistem akustik, serta pendingin ruangan. b. Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III Galeri Cipta II (GC II) adalah ruang pameran yang lebih besar dari Galeri Cipta III (GC III). Kedua ruang tersebut dapat dipergunakan untuk pameran seni lukis, seni patung, diskusi dan seminar, dan pemutaran film pendek. Gedung ini dapat memuat sekitar 80 lukisan dan 20 patung serta dilengkapi dengan pendingin ruangan, tata cahaya khusus, tata suara serta panel yang dapat dipindah-pindahkan. c. Teater Kecil/Teater Studio Merupakan gedung pertunjukan yang dipersiapkan untuk 200 orang. Gedung ini mempunyai banyak fungsi seperti seni pertunjukan teater, musik, pembacaan puisi, seminar,dll. Teater Kecil mempunyai ukuran panggung 10m x 5m x 6m. Gedung ini juga dilengkapi sistem akustik, tata cahaya dan pendingin ruangan. d. Teater Halaman (Studio Pertunjukan Seni) Dipersiapkan untuk pertunjukan seni eksperimen bagi seniman muda teater dan puisi, mempunyai kapasitas penonton yang fleksibel. e. Plaza dan Halaman

68

TIM mempunyai areal parkir yang cukup luas yang merupakan lahan serba guna dan dapat dipergunakan untuk berbagai pertunjukkan kesenian open air.

3. Zagreb dance center Architects : 3LHD Location : Zagreb, Croatia Luas site : 1360 sqm. Luas bangunan : 1438 sqm. tahun konstruksi : 2005-2009

Gambar 22. Zagreb Dance Sumber: http://www.designboom.com

Pembukaan bioskop movieplex besar di Zagreb telah menyebabkan kematian dari teater bioskop tua di pusat kota. Kota Zagreb, yang merupakan pemilik bioskop tua Lika, memutuskan untuk menggunakan kembali ruang untuk fasilitas kebudayaan baru. Dalam skenario itu bioskop tua Lika diberi peran pusat tarian baru.

Gambar 23.interior Zageb Dance Sumber: http://static.dezeen.com

69

Lima puluh tahun budaya tari kontemporer di Zagreb telah menghasilkan sekitar 40 kelompok tarian, dengan proyek ini mereka semua akan memiliki rumah baru di pusat kota. Bioskop terletak di blok pemukiman kumuh hanya 100 meter dari alun-alun utama Zagreb. Seluruh program proyek ditentukan oleh daerah

pembangunan bruto yang ditetapkan dalam rencana induk dan tempat-tempat proyek di bioskop tua.

Gambar 24. Studio besar Sumber: http://static.dezeen.com

Pusat tari baru akan mewadahi banyak penari, koreografer, perusahaan dan kelompok seni akan memiliki tiga studio serbaguna (satu studio besar dengan 150 kursi dan dua studio latihan yang lebih kecil), tiga ruang ganti luas, kamar mandi, gudang untuk perlengkapan dan teknologi dan ruangan kantor.

Gambar 25. Studio latihan tari Sumber: http://static.dezeen.com

70

Satu-satunya elemen arsitektur yang baru adalah lobi pintu masuk, sebuah ruang dalam pelayanan komunikasi dan pertemuan dengan sebuah kafe, perpustakaan dan toko video. .Volume dan juga patah menyarankan bentuk gerak tari dan mereka adalah tanda baru dan elemen sambungan antara halaman dan atap teras. Teras atap adalah elemen terakhir dari pusat dan bagian penting dari proyek pelestarian dan pemulihan Zagreb.

4. The Esplanade Bangunan ini dirancang oleh dua perusahaan arsitektur yang bekerja sama: yaitu DP Architects (DPA) dari Singapura dan di London Michael Wilford & Partners (mwp). Rancangan aslinya, disajikan kepada publik pada tahun 1994, terdiri dari kaca polos atas teater, dan pada awalnya menimbulkan kritik dari masyarakat. Pengkritik juga menuduh bahwa desain tidak sensitif terhadap lokasi dan iklim Singapura seperti itu akan menciptakan sebuah rumah kaca di iklim tropis Singapura, namun menurut Direktur DPA Vikas Gore beberapa bentuk pelindung telah direncanakan, dan cladding aluminium penghalang sinar matahari telah ditambahkan ke desain akhir. Desain arsitektur yang unik telah dikatakan memiliki

penampilan mirip dengan durian (buah tropis) atau mata lalat.

Gambar 26. Eksterior esplanade Sumber: http://www.designboom.com

71

Fasilitas : The Esplanade berisi ruangan pertunjukan kelas dunia, ditambah dengan berbagai layanan dukungan profesional dan fasilitas. Selain tempat-tempat pertunjukan, Esplanade juga berisi tempat-tempat pertemuan, serta gaya hidup lainnya dan seni layanan terkait. Menyoroti Esplanade - gedung konser dan Teater, terhubung ke tempat berkumpul utama melalui ruang depan, sementara Esplanade Mall dapat diakses melalui pintu masuk terletak di antara 2 hall. a. Concert hall

Gambar 27. Concert hall Sumber: http://www.designboom.com

Ini adalah tempat untuk konser, dan pertunjukan lainnya. Hanya ada lima ruang lain di dunia dengan akustik seni seperti ini. Panggung orkestra mampu manampung hingga 120 musisi. Atasnya adalah canopy akustik bergerak, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing berbobot 17 ton. Kanopi ini bertujuan ebagain reflektor suara, baik untuk mendapatkan akustik yang tepat sesuai dengan acara yang sedang berlangsung, dan juga untuk memungkinkan musisi untuk mendengar dirinya sendiri di atas panggung. Gema lorong dari ruangan itu, yang digunakan untuk memvariasikan karakteristik akustik Hall, adalah void
72

terbuka yang mencakup tiga tingkat dan memiliki volume 9.500 meter kubik, atau sekitar volume empat kolam renang ukuran olympic. Ini menyediakan komputer 84 pintu dan flaps. Setiap pintu beratnya antara 3-11 ton, dengan pintu yang terluas dengan tinggi 10,5 meter dan pintu yang terkecil 2,2 meter. Ruangan ini tersembunyi di balik mahoni yang membingkai dinding depan Concert Hall. Concert Hall ini mampu menampung 1.600 orang dengan kursi yang nyaman seluas lebih dari empat tingkat dalam suasana akrab b. Teater

Gambar 28. Teater Sumber: http://www.designboom.com

2000 kursi teater asplanade adaalah sebuah bentuk adaptasi dari separu kuda dari opera house tradisional eropa. Teater adalah rumah bagi panggung pertunjukan terbesar Singapura (39m panjang x23m lebar), dan melayani skala yang berbeda dari pertunjukan seni. Ada sebuah panggung utama dan dua panggung tambahan dengan ukuran yang sama untuk memfasilitasi pengaturan teknis dan perubahan adegan.

Panggung utama di bingkai oleh sebuah lengkungan panggung teater kuno, menjadikan lebar panggung disesuaikan dari 12m16m. ada juga sebuah menara tinggi 30 meter, sebanyak

73

ruangan orchestra dapat menampung lebih dari 100 orang musisi. Walaupun teater dipertimbangkan luas dengan 2000 tampat duduk, jarak pandangan antara kursi terjauh dengan panggung hanya 40m, hal itu dapat memberikan pemandangan yang jelas akan apa yang terjadi di panggung. c. Studio Teater

Gambar 29. Studio Teater Sumber: http://www.designboom.com

Teater Studio, dengan kapasitas 220, adalah pengaturan kecil untuk teater eksperimental dan presentasi tari. Ruang pertunjukan, dilengkapi dengan tempat duduk bergerak dan dapat ditarik, menawarkan berbagai konfigurasi. Meskipun kecil, ini dilengkapi dengan panggung yang dapat beradaptasi,

pencahayaan dan sistem suara, sehingga memungkinkan untuk mengakomodasi berbagai macam pertunjukan. Seperti ada kirakira berukuran sama dengan panggung Teater, Teater Studio juga sering digunakan untuk produksi penuh latihan. 5. The Lowry Visual and Performing Arts Center Nama : The Lowry Visual and Performing Arts Center Lokasi : Manchester, England Arsitek : Michael Wilford Struktur : Stainless stell and glass facade

74

Gambar 30. The Lowry Visual and Performing Art Sumber: http://www.designboom.com

Berlokasi tepi sungai yang megah di jantung Salford pembangunan kembali dermaga di Greater Manchester, The Lowry adalah arsitektur dengan bentuk kapal identitas yang unik dan dinamis. Bangkit dari regenerasi Docklands, itu adalah bangunan yang ramah, yang dirancang untuk mencerminkan pemandangan sekitarnya, di permukaan kaca dan logam. Bangunan ini selesai dibangun pada tahun 2000 dan biaya pembangunan nya sebesar 21 milyar poundsterling. Fasilitas nya adalah sebagai berikut : Gallery untuk pameran dan koleksi seni kota Salford, Lowry study center, Gallery anak-anak, Teater Lyric dengan kapasitas 1730 kursi dan teater di luar bangunan yang berkapasitas 450 kursi, ruang latihan, dan sarana penunjang lainnya seperti bar, retail, ruang medis.

Gambar 31. Interior. The Lowry Visual and Performing Art Sumber: http://www.designboom.com

The Lowry Visual and Performing Arts Center adalah kombinasi antara teater dan galeri di Inggris. Lowry Center berada di pelabuhan kapal bersejarah di Manchester, berdekatan dengan

75

Stadion tua Trafford. The Lowry Visual and Performing Arts Center memiliki panggung terbesar di kawasan Inggris setelah London. Pada entrance bangunan terdapat kanopi yang terdiri dari kombinasi stainless steel, metal dan kaca geometris yang berpendar pada malam hari.

Gambar 32. Denah The Lowry Visual and Performing Art Sumber: http://www.designboom.com

Gambar 33. Potongan The Lowry Visual and Performing Art Sumber: http://www.designboom.com

F.

KESIMPULAN STUDI BANDING Dari studi banding pada bangunan-bangunan Gedung Pertunjukkan dan Pengembangan Seni Tari baik yang berada di Indonesia maupun yang berada di Negara lain, maka dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Gedung Pertunjukkan dan Pengembangan Seni Tari ini sedapat mungkin berlokasi di pusat kota yang memiliki kemudahan

pencapaian dari dan ke luar kota oleh pengunjung.

76

2. Gedung Pertunjukkan dan Pengembangan Seni tari di Luwu Timur harus memiliki ruang yang cukup besar untuk menampung semua jenis kegiatan seni tari, baik itu pengunjung maupun pelaku seni. 3. Gedung Pertunjukkan dan Pengembangan Seni Tari di Luwu Timur harus memiliki penampilan bangunan yang unik dan menarik. 4. Perlunya fasilitas penunjang yang bersifat komersil untuk melengkapi kegiatan yang ada didalam Gedung Pertunjukkan dan

Pengembangan Seni Tari di Luwu Timur.

77

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful