P. 1
Isi

Isi

|Views: 192|Likes:
Published by Istiqomah Latif

More info:

Published by: Istiqomah Latif on Jun 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2015

pdf

text

original

1

A. JUDUL PROGRAM

B. LATAR BELAKANG Hati merupakan organ terbesar dan memiliki metabolisme yang paling kompleks di dalam tubuh (Lu, F.C,1994). Fungsi hati antara lain untuk menghasilkan dan mengekskresi empedu. Hati memiliki peranan penting dalam metabolisme protein lemak dan karbohidrat. Selain itu hati juga berperan dalam detoksifikasi dan fungsi perlindungan. Detoksifikasi dilakukan dengan proses oleh enzim – enzim di hati terhadap zat – zat beracun. Fungsi perlindungan dilakukan oleh sel Kupfer yang berada dalam dinding sinusoid (Price and Wilson, 2005). Penyakit hati di Indonesia umumnya masih tergolong tinggi. Penyakit hati menempati urutan ketiga setelah penyakit infeksi dan paru (Malau,2012). Penyakit hati yang paling sering ditemukan adalah hepatitis dan sirosis hati. Prevalensi hepatitis di Indonesia mencapai 9,4% artinya diantara sepuluh orang hampir satu orang menderita hepatitis. Pada kasus sirosis hati, angka kejadian penyakit ini pada tahun 2007 mencapai 1,7% (Alfiani,2008). Berdasarkan data WHO (2004) sirosis hati merupakan penyebab kematian ke delapan belas di dunia dengan prevalensi 1,3%. Kasus penyakit hati selain hepatitis dan sirosis adalah kanker hati. Kanker hati merupakan penyakit tersering nomor lima di dunia. WHO tahun 2000 melaporkan IR kanker hati di dunia yaitu 9 per 100.000 penduduk (Hadi, 2002). Hepatotoksin didefinisikan sebagai senyawa kimia yang memiliki efek toksik pada sel hati. Dengan dosis berlebihan (dosis toksik) atau pemejanan dalam jangka waktu yang lama senyawa bersangkutan dapat menyebabkan kerusakan hati akut,sub akut,maupun kronis. Terdapat dua macam hepatotoksin, yaitu hepatotoksin intrinsik dan idiosinkratik. Hepatotoksin intrinsik adalah golongan senyawa yang memiliki sifat dasar toksik bagi hati dan menyebabkan kerusakan hati bagi semua individu, misalnya kloroform, paracetamol, karbontetraklorida (CCl4). Hepatotoksin idiosinkratik adalah golongan senyawa yang bersifat toksin pada organ hati tetapi tidak semua individu dapat terpapar toksin ini. Hanya

2

individu yang hipersensitif yang memiliki hepatotoksin idiosinkratik, misalnya Isoniazid (INH), sulfonamid, dan halotan (Zimmerman, 1978). Dalam penelitian ini yang akan dipakai sebagai model hepatotoksin adalah CCl4. CCl4 memiliki mekanisme sebagai penginduksi kerusakan hati sehingga sering digunakan dalam pengujian aktivitas hepatoprotektor suatu zat (Panjaitan, et.al., 2007). CCl4 telah diteliti dapat menyebabkan nekrosis dan fibrosis hati, serta penimbunan lemak di hati hewan uji. Salah satu tumbuhan yang hidup di Indonesia dan berpotensi untuk dimanfaatkan adalah sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan meniran (Phyllanthus niruri L.). Di dalam sambiloto mengandung andrografolid yang berfungsi sebagai hepatoprotektor (Raj,1975). Meniran memiliki bahan aktif alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, glikosida tetapi tidak ditemukan steroid. Filantin, hipofilantin, tanin dalam meniran berperan dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan sebagai hepatoprotektor. Menurut Thyagarajan et al.

(1988), meniran memiliki aktivitas inhibisi terhadap perkembangbiakan virus hepatitis B, meningkatkan sistem imun, dan melindungi sel hati. Berdasarkan uraian di atas serta telah didukung oleh penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka perlu dilakukan penelitian efektivitas

hepatoprotektif kombinasi serbuk meniran dan sambiloto dengan melihat parameter kadar SGOT-SGPT pada tikus jantan galur wistar.

C. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Apakah kombinasi serbuk sambiloto dengan dosis 10 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, dan 100mg/kgBB per hari dan meniran dengan dosis 16,2 mg/kgBB, 32,4mg/kgBB, dan 48,6 mg/kgBB mempunyai efek hepatoprotektif dilihat aktivitas SGOT-SGPT tikus jantan yang diinduksi CCl4? D. TUJUAN Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

3

Mengetahui perbandingan efek hepatoprotektif campuran daun sambiloto dan meniran pada dosis sambiloto 10 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, dan 100mg/kgBB per hari dan meniran 16,2 mg/kgBB, 32,4mg/kgBB, dan 48,6 mg/kgBB dilihat dari aktivitas SGPT – SGOT tikus putih jantan yang diinduksi CCl4. E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Luaran yang diharapkan dari program ini adalah jurnal dan artikel sebagai wacana bagi masyarakat umum dan landasan ilmiah bagi kalangan akademis mengenai manfaat kombinasi meniran dan sambiloto sebagai heptoprotektor (pencegah kerusakan hati).

F. KEGUNAAN 1. Bagi Mahasiswa Pelaksana Program Pelaksanaan program ini akan membantu mahasiswa dalam mengasah kreativitas, penalaran ilmiah, kemampuan, dan keterampilan dalam penerapan ilmunya di bidang lingkungan. Dari program ini, diharapkan peningkatan kepekaan dan kepedulian mahasiswa akan masalah‐masalah yang ada di masyarakat terutama dalam kerusakan hati. 2. Bagi Mahasiswa pada Umumnya Penelitian ini hendaknya mampu memacu semangat dan motivasi mahasiswa untuk berkarya dalam melakukan penelitian yang kreatif dan inovatif. 3. Bagi Masyarakat Umum Penelitian ini berguna untuk membuktikan secara ilmiah khasiat dari meniran dan sambiloto.Keberhasilan program ini dapat digunakan sebagai landasan ilmiah mengenai manfaat meniran dan sambiloto sebagai hepatoprotektor.

G. TINJAUAN PUSTAKA 1. Sambiloto

4

Tumbuhan sambiloto memiliki akar tunggang. Batang berkayu dan pangkal batang bulat. Daun tunggal, berbentuk bulat telur, bersilang berhadapan, pangkal dan ujung daun runcing, tepi rata, panjang kira-kira 8 cm dan lebar 1,7 cm. Klasifikasi tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness) dalam sistematika tumbuhan adalah sebagai berikut (Hutapea, J.R. ,1994): Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledone : Solanales : Acanthaceae : Andrographis : Andrographis paniculata Ness

Secara kimia mengandung flavonoid dan lakton. Pada lakton, komponen utamanya adalah andrographolide, yang juga merupakan zat aktif utama dari tanaman ini. Flavonoid juga dilaporkan ada terdapat pada tanaman ini (Siripong dkk.,1992 & prapanza, 2003). Daun dan percabangannya lebih banyak mengandung lakton. Selain komponen lakton dan flavonoid, pada tanaman sambiloto ini juga terdapat komponen alkane, keton, aldehid, mineral (kalsium, natrium, kalium), asam kersik dan damar (prapanza, 2003). Menurut beberapa penelitian, zat ini dapat berfungsi sebagai hepatoprotektor, antikanker, antiviral (Kadar, 2009), antiinflamasi (Hidalgo et al., 2005), obat infeksi traktus respiratorius bagian atas (Caceres et al.,1997), antimalaria, antidiare, antiarterosklerosis (Wang et al., 1997), anti diabetika (Borhanuddin et al., 1994) bakteriostatik, anti jamur (Susilo dkk, 1995), dan renoprotektor (Singh et al., 2009). 2. Meniran Tanaman meniran memiliki batang yang berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50cm, berwarna hijau, diameternya ± 3 mm. Tanaman ini memiliki daun majemuk, tata letak daunnya berseling ( Deccussate ), bentuk daun bulat telur (ovale). Klasifikasi tanaman sambiloto

5

(Andrographis paniculata Ness) dalam sistematika tumbuhan adalah sebagai berikut Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Phyllantus : Phyllanthus urinaria L. Daun meniran mengandung senyawa kimia turunan flavonoid, antara lain kuersetin,kuersetrin, isokuersetrin, astragalin, rutin kamferol-4-

ramnopiranosida, eridiositol-7-ramnopiranosida, fisetin-4-O-glikosida, dan irurin. Selain itu, terdapat juga senyawa turunan lignin seperti, norsekurinin, sekurinin, alosekurinin, ignan, nirfilin, isolintetrain, hipofilantin, nirtetralin, nirantin, filantin, hinikinin,ligtetralin, filantostatin, trans-fitol, dan senyawa alkaloid etnosekurinin (Widayati, 2008). Akar dan daun Meniran kaya akan senyawa flavonoid, antara lain phyllanthin, hypophyllanthin, qeurcetrin, isoquercetin, astragalin, dan rutin. Minyak bijinya mengandung beberapa asam lemak seperti asam ricinoleat, asam linoleat, dan asam linolenat. Akar tumbuhan meniran, sering digunakan untuk pengobatan peradangan,infeksi saluran kencing, diuretikum,penyembuhan diare, busung air, infeksi saluran pencernaan, dan gangguan fungsi hati. Buah meniran berasa pahit, dan banyak digunakan untuk obat luka dan scabies. Akar segar meniran, dapat juga digunakan untuk pengobatan penyakit kuning, penambah nafsu makan, dan obat antidemam. Kandungan senyawa aktif yang dimiliki oleh meniran yaitu senyawa antihepatotoksik seperti filantin, hipofilantin, triakontanal, dan trikontanol berfungsi dalam perbaikan organ liver. Selain itu, senyawa phyllanthus dalam Meniran juga diketahui bekerja sebagai pelindung hati (hepatoprotektor)

6

dengan cara menyabotase DNA polimerasi (enzim yang diperlukan virus hepatitis untuk bereplikasi / menggandakan diri).

3. Hati Hati adalah organ yang terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga perut di bawah diafragma. Beratnya 1.500 gr atau 2,5 % dari berat badan orang dewasa normal. Hati terbagi menjadi tiga lobus yaitu lobus kanan(terbesar), kiri, dan kaudal (terkecil) (Luf,F.C, 1994). Lobulus hati terdiri dari banyak lempeng – lempeng sel hati. Sel – sel hati tersusun dalam kelompok yang dikelilingi oleh sinusoid (Luf,F.C, 1994) . Sinusoid dibatasi oleh dua jenis sel yaitu sel endotel dan sel Kupffer. Sel Kupffer merupakan system monosit-makrofag dan fungsi utamanya adalah menelan bakteri dan benda asing ( Price dan Wilson, 2005). Sel Kupffer memiliki sifat sitologis yang nyata seperti vakuola jernih, lisosom, retikulo endotel yang tersebar di seluruh sitoplasmayang membedakan mereka dari sel – sel endotel lainnya (Junqueira, 1997). Hati merupakan organ intestinal paling besar dalam tubuh manusia. Banyak kandungan zat kimia yang masuk ke tubuh akan dimetabolisme oleh hati. Ada 3 macam fungsi hati menurut Guyton (1997) yaitu menyimpan dan menyaring darah, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme tiga makronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak), Sibuea (2005) menambahkan fungsi hati yaitu Detoksifikasi racun atau obat yang masuk ke dalam tubuh. Sel hati mengandung beberapa enzim. Pada cedera sel hepar terjadi kerusakan membran sel dan organel yang akan menyebabkan enzim intrasel masuk ke dalam pembuluh darah sehingga kadar enzim yang meningkat dalam darah dapat diukur (Underwood, 1999). Selain sintesis protein plasma (Seeley et al., 2005), hati juga mensintesis berbagai macam enzim yang sebagian besar berbentuk protein diantaranya enzim Alanin Amino Transaminase (ALT) atau Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) dan Aspartate Aminotransferase (AST) atau

7

Serum Glutamic Oxaleacetic Transaminase (SGOT) yang merupakan salah satu indikator kerusakan hati. SGPT dan SGOT merupakan enzim intrasel yang berada dalam jantung, hati, dan jaringan skelet (Price et al., 2005). Adanya pelepasan enzim secara intraseluler ke dalam darah disebabkan oleh nekrosis sel-sel hati atau adanya kerusakan hati secara akut (Wibowo at al., 2008) menyebabkan kadarnya meningkat. 4. CCl4 Karbon tetraklorida (CCl4) adalah cairan yang mudah terbakar, jernih, tidak berwarna, sifat pelarutnya sama dengan kloroform. Efek toksik CCl4 dapat timbul pada manusia setelah pemaparan akut maupun kronis. Kerusakan hati dan ginjal biasanya akan muncul pada dua hari sampai dua minggu setelah paparan. CCl4 diaktifkan oleh enzim sitokrom P-450 menjadi radikal bebas yang reaktivitasnya tinggi. CCl4 akan diubah menjadi bentuk radikal triklorometil (CCl3•) dan kemudian menjadi radikal triklorometil peroksi (CCl3O2•) yang sangat reaktiv. Maka dari itu CCl4 menyebabkan nekrosis yang hebat di dalam sentrobuler hati yang mengandung isoenzim P450 dengan konsentrasi tinggi. Jejas sel hati sebagai akibat CCl4 terjadi sangat hebat dan cepat. Kurang dari 30 menit didapat pengurangan sintesis protein hati, protein plasma, dan enzim enzim protein endogen. Dalam waktu 2 jam terjadi pembengkakan reticulum endoplasma dan pemisahan reticulum endoplasma kasar. Ketidakmampuan sel melakukan sintesis lipoprotein menimbulkan penimbunan lemak. Kerusakan membran plasma disebabkan oleh peroksidasi lemak dalam reticulum endoplasma. Kondisi ini kemudian akan menyebabkan kematian sel (Robbins and Kumar, 1995).

H. METODE PENELITIAN 1. Variabel Penelitian a. Variabel bebas: Dosis serbuk sambiloto dan meniran b. Variabel terpengaruh: Aktivitas SGOT – SGPT

8

c. Variabel terkendali: Tikus putih galur Wistar, jenis kelamin jantan, berat badan, umur, asupan pakan, dan volume pemberian serbuk sambiloto dan meniran. 2. Waktu dan Tempat Penelitian akan dilakukan selama 4 bulan setelah proposal disetujui oleh Dikti. Penelitian akan dilakukan di laboratorium Universitas Ahmad Dahlan. 3. Alat dan Bahan a. Alat – alat   Untuk membuat serbuk sambiloto dan meniran digunakan timbangan, blender. Untuk perlakuan hewan uji digunakan: kandang tikus, botol air minum, timbangan, spuit oral 5,0 ml, spuit injeksi untuk CCl4 1,0 ml, spuit injeksi 5,0 ml.   Untuk mengambil darah dan alat bedah. b. Bahan – bahan Bahan uji yang digunakan adalah daun sambiloto

(Andrographis paniculata Ness) dan meniran (Phyllanthus urinaria      L.) yang diperoleh dari Pasar Beringharjo,

Yogyakarta. Bahan penginduksi hepatotoksik adalah CCl4 yang diperoleh dari LPPT – UGM. Sebagai pelarut pembawa CCl4 digunakan olive oil. Bahan pembanding yang digunakan adalah Curcumin murni dosis 100 mg/kgBB. Bahan pembawa untuk larutan uji adalah larutan CMC – Na 0,5%. Bahan pengukur aktivitas SGOT – SGPT yaitu: reagen SGPT (reagen I) TRIS, L- Alanin, Laktat Dehidrogenase (LDH); (reagen II) 2-Oksoglutarat, NADH, reagen SGOT (reagen I)

9

TRIS, L-Aspartat, Malat Dehidrogenase (MDH), Laktat Dehidrogenase (LDH); (reagen II) 2-Oksoglutarat, NADH. 4. Cara Kerja dan Rancangan Percobaan a. Determinasi tanaman Daun sambiloto (Andrographis paniculata Ness) dan meniran (Phyllanthus urinaria L.) dideterminasi di Laboratorium Ilmu Alam Fakultas MIPA Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta untuk memastikan kebenaran dari simplisia yang akan diteliti. b. Pengolahan simplisia Daun sambiloto dan meniran yang telah kering dipotong kecil – kecil, kemudian digiling menjadi serbuk dengan alat penggiling windmill. Serbuk sambiloto dan meniran kemudian diayak dengan ayakan 100 mesh agar tidak menyebabkan penyumbatan pada jarum suntik. c. Pembuatan campuran serbuk Simplisia yang telah diolah menjadi serbuk kemudian diolah menjadi campuran serbuk dengan variasi konsentrasi berbeda. Pembagian konsentrasi dapat dilihat pada Tabel I. Simplisia Daun Sambiloto Daun Meniran F1 25% 75% F2 50% 50% F3 75% 25%

d. Pembuatan larutan CMC – Na 0,5% Larutan CMC- Na 0,5%dibuat dengan cara melarutkan ± 500 mg CMC – Na yang telah ditimbang seksama ke dalam air hangat sedikit – sedikit sampai volume 100 ml. Larutan ini digunakan sebagai pembawa pada suspensi campuran serbuk daun sambiloto- meniran dan Curcumin. e. Pembuatan suspensi campuran serbuk daun sambiloto dan meniran Larutan uji dibuat dengan mensuspensikan campuran serbuk daun sambiloto dan meniran ke dalam larutan CMC – Na 0,5%. Sediaan uji dibuat dengan dua variasi dosis, yaitu dosis A mg/kgBB dan B mg/kgBB. Suspensi sambiloto dan meniran dibuat dengan berbagai konsentrasi pada masing – masing dosis. Volume maksimal larutan uji yang diberikan pada

10

tikus dengan bobot 200 gram secara p.o adalah 5,0 ml. Pada penelitian ini, volume maksimal yang diberikan sebanyak 2,5 ml. f. Pembuatan larutan pembanding Curcumin Larutan pembanding Curcumin dosis 100 mg/kgBB disuspensikan dalam larutan CMC-Na 0,5% sampai 100 ml. Konsentrasi suspense Curcumin dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut: g. Pembuatan larutan induksi CCl4 Larutan CCl4 dosis 1,0 ml/kgBB dibuat dengan cara melarutkan CCl4 ke dalam olive oil dengan perbandingan 1:1. Pemberian larutan CCl4 diinjeksikan secara i.p. h. Perlakuan hewan uji Hewan uji yang berjumlah 25 ekor tikus putih jantan diadaptasikan terlebih dahulu selama tujuh hari di lingkungan penelitian. Selama proses adaptasi sampai perlakuan terakhir, tikus diberi makan sebanyak 2x sehari serta diberi minum. Tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok, masing – masing kelompok terdiri dari lima ekor, dengan pengelompokan sebagai berikut: Kelompok I: normal, diberi aquadest. Kelompok II: kontrol, diberi CCl4 dosis tunggal 1,0 ml/kgBB i.p pada hari terakhir perlakuan. Kelompok III: diberi campuran serbuk daun sambiloto dosis 10 mg dan meniran dosis 16,2 mg/kgBB p.o selama 7 hari dan CCl4 dosis 1,0 ml/kgBB i.p 1 jam setelah perlakuan terakhir. Kelompok IV: diberi campuran serbuk daun sambiloto dosis 50 mg/kgBB dan meniran dosis 32,4 mg/kgBB p.o selama 7 hari dan CCl4 dosis 1,0 ml/kgBB i.p 1 jam setelah perlakuan terakhir. Kelompok V: diberi campuran serbuk daun sambiloto dosis 100 mg/kgBB dan meniran dosis 48,6 mg/kgBB p.o selama 7 hari dan CCl4 dosis 1,0 ml/kgBB i.p 1 jam setelah perlakuan terakhir.

11

Kelompok VI: pembanding, diberi Curcumin murni dosis 100 mg/kgBB p.o selama 7 hari dan CCl4 dosis 1,0 ml/kgBB i.p 1 jam setelah perlakuan terakhir. Setelah itu semua tikus dipuasakan selama 24 jam kemudian dianestesi dan dibedah untuk diambil darahnya melalui vena porta hepatika. j. Preparasi sampel darah Setelah induksi CCl4 selama 24 jam, tikus dianestesi dengan kloroform. Setelah mati kemudian dilakukan pembedahan dengan segera dengan cara menggunting kulit disekitar perut secara memutar. Setelah itu, kemudian dilakukan pengambilan darah dengan jarum suntik melalui pembuluh darah dekat liver. Darah ditarik secara perlahan sampai volume yang diinginkan. Darah yang didapatkan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diamkan selama ± 30 menit, kemudian sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit hingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan yang bening kekuningan (serum) diambil untuk diuji. k. Penetapan aktivitas SGPT-SGOT Aktivitas SGPT-SGOT ditetapkan berdasarkan reaksi enzimatik menggunakan: reagen SGPT (reagen I) TRIS, L- Alanin, Laktat Dehidrogenase (LDH); (reagen II) 2-Oksoglutarat, NADH, reagen SGOT (reagen I) TRIS, L-Aspartat, Malat Dehidrogenase (MDH), Laktat Dehidrogenase (LDH); (reagen II) 2-Oksoglutarat, NADH. Reagen berisi campuran reagen I dan II dengan perbandingan 4:1. Serum sebanyak 50 µl ditambah dengan reagen kit sebanyak 500 µl. Selanjutnya larutan sampel dibaca pada λ 340 nm dengan alat spektrofotometer Caretium NB-201.

I. JADWAL PENELITIAN Penelitianakan berlangsung selama 4 bulan setelah proposal dinyatakan lulus dan dilakukan penandatanganan kerjasama oleh kedua belah pihak.Perencanaan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut.

12

Minggu No 1 2 3 4 5 5 6 Kegiatan Perizinan Lab. dan pengumpulan bahan Adaptasi hewan uji Pembuatan larutan uji Perlakuan hewan uji Penetapan kadar SGOT SGPT Analisis data hasil penelitian Laporan hasil penelitian Bulan 1 1 1 2 2 3 4 X X X X X X X X X X 1 X 2 X X X X 3 4

J. BIAYA 1. Bahan Habis Pakai No 1 Spesifikasi Tikus putih Jumlah satuan jantan 30 ekor Harga satuan 25.000/ekor Jumlah harga 750.000

galur wistar 2 3 4 5 6 Herba meniran Daun Sambiloto CMC-Na Aquadest Serbuk standar 7 8 9 10 11 Larutan CCl4 Olive oil Pakan tikus Reagen SGOT Reagen SGPT 100 ml 100 ml 25 kg 1 set 1 set 500/ml 12.500/kg 150.000 50.000 312.500 1.850.000 2.150.000 5.647.500 10 kg 10 kg 1 gram 1 liter Kurkumin 1 gram 5.000/liter 7.500/liter 50.000/gram 10.000/liter 50.000 75.000 50.000 10.000

200.000/gram 200.000

13

2. Lain-lain No Spesifikasi 1 2 3 4 5 Sewa Laboratorium Administrasi Laporan Dokumentasi Pembuatan Proposal Publikasi (Pamflet) Jumlah Total keseluruhan biaya Jumlah satuan Hargasatuan Jumlah harga 650.000 350.000 100.000 100.000 100.000 1.300.000 Rp6.947.500

K. DAFTAR PUSTAKA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->