8ab 4 Teknik-teknik Proyektif

da suplai yang eukup besar dan bervariasi untuk teknik-teknik proyektif. Dalam bab ini, kita memperhatikan variasi utama dari teknik- teknik semaeam itu bersama dengan eontoh-eontoh yang terkenal. Keeuali untuk beberapa hal yang khas untuk teknik-teknik tertentu, tidak ada evaluasi kritis atas instrumen-instrumen individu yang akan dilakukan dalam bab ini.

A

A. SIFAT TEKNIK- TEKNIK PROYEKTlF
Ciri pembeda utama dari teknik proyektif adalah pada penilaiannya atas tugas yang relatif tak terstruktur, yaitu tugas yang memungkinkan variasi yang hampir tak terbatas dari responrespon yang mungkin. Dalam rangka memungkinkan permainan bebas pada fantasi individu, hanya instruksi umum dan singkat yang diberikan. Karena alasan yang sarna, stimuli tes umumnya kabur atau ambigu. Hipotesis yang mendasari hal ini adalah bahwa eara individu mempersepsi dan menginterpretasi materi tes atau "menstrukturisasikan" situasi itu akan meneerminkan aspek-aspek dasar dari fungsi psikologisnya. Dengan kata lain, diharapkan materi tes bisa berfungsi sebagai semaeam saringan di mana respon "memproyeksikan" proses pikiran, kebutuhan, keeemasan, dan konflik khas mereka. Umumnya, instrumen proyektif juga mempresentasikan prosedur testing yang disembunyikan, sejauh peserta tes jarang menyadari jenis interpretasi psikologis yang akan dibuat atas respon-respon mereka. Teknik-teknik proyektif selanjutnya dieirikan oleh pendekatan global terhadap penaksiran kepribadian. Perhatian difokuskan pada gambaran komposit dari keseluruhan kepribadian dan bukannya pada pengukuran eiri-ciri yang terpisah. Pada akhimya teknik-teknik proyektif biasanya dipandang oleh pendukungnya sebagai teknik yang amat efektif dalam menyingkapkan aspek tertutup, laten, atau tak sadar dari kepribadian. Lagi pula, semakin tak terstruktur suatu tes semakin sensitif tes itu terhadap materi yang terselubung. Ini muneul dari asumsi bahwa semakin tak terstruktur atau semakin ambigu suatu stimuli, semakin keeil kemungkinannya untuk membangkitkan reaksi defensif pada pihak responden. Metode proyektif berasal dari dalam lingkungan klinis dan tetap merupakan alat yang penting bagi ahli klinis. Sejumlah metode berkembang dari prosedur terapeutis (seperti misalnya terapi seni) yang digunakan pada pasien psikiatris. Dalam kerangka teoretisnya,

25

kebanyakan teknik proyektif mencerminkan pengaruh konsep psikoanalitik yang tradisional Ian modem. Ada berbagai upaya yang terpisah untuk meletakkan dasar bagi teknik proyektif dalam teori stimulus respon dan dalam teori perseptual tentang kepribadian. Tentu saja perlu Iiperhatikan bahwa teknik-teknik khusus tidak perlu dievaluasi dalam terang kecondongan teoretis tertentu atau asal mula historisnya. Sebuah prosedur bisa terbukti secara praktis berguna atau secara empiris sahih untuk alasan-alasan yang lain daripada yang pada awalnya dikutip untuk membenarkan teknik tersebut.
B. TEKNIK- TEKNIK NODA TINTA

1. Rorschach
Salah satu teknik proyektifpaling populer adalah penggunaan noda tintaRorschach (Rorschach inkblot). Teknik ini, yang dikembangkan oleh psikiatris Swiss Hermann Rorschach (19211 1 942), pertama kali dideskripsikan pada tahun 1921. Meskipun rangkaian standar noda tinta sebelumnya telah digunakan oleh para psikolog dalam studi imajinasi dan fungsi-fungsi lain, Rorschach adalah yang pertama menerapkan noda tinta pada penyelidikan diagnostik atas kepribadian secara keseluruhan. Dalam pengembangan teknik ini, Rorschach bereksperimen dengan sejumlah besar noda tinta, yang ia jalankan pada berbagai kelompok psikiatrik yang berbeda. Sebagai hasil dari observasi klinis semacam ini, ciri-ciri respon yang membedakan antara berbagai sindroma psikiatrik secara bertahap dipersatukan dalam suatu sistem skoring. Prosedur-prosedur skoring ini lebih jauh dipertajam dengan testing suplementer atas orang yang bermental terbelakang, sertajuga seniman, sarjana, dan kelompok orang khas lainnya. Metodologi Rorschach lalu mewakili aplikasi dini, informal, dan relatif subyektif dari pengujian kriteria. Oleh karena kematian Rorschach yang terlalu dini, pada tahun 1922, pengembangan tes ini diusahakan oleh rekan-rekan dan mahasiswanya. Dalam dasawarsa berikutnya, penggunaan teknik Rorschach amat luas baik di Eropa maupun di Amerika Serikat. Akan tetapi, karena tidak adanya penyusun sistematika tunggal, prosedur untuk melaksanakan, menskor, dan rnenginterpretasikan "Rorschach" menjadi berkembang biak dan berkembang ke dalam berbagai metode dan sistem. Pada tahun 1960-an, anggapan bahwa Rorschach adalah suatu es tunggal yang terstandardisasi sesunggubnya tidak tepat. Berbagai sistem dan pengguna secara bersama-sama hanya memiliki sepuluh kartu stimulus asli dan sejumlah dalil interpretif .. asar yang berasal dari karya asli Rorschach. i Masing-masing kartu Roschach memuat noda tinta simetris bilateral yang serupa dengan salah satu noda tinta yang diilustrasikan pada Gambar 1. Lima dari noda tinta diletakkan pada bayangan abu-abu dan hitam saja; dua memuat sentuhan tambahan dari wama merah terang; dan tiga sisanyamemadukan beberapa bayangan pastel. Umumnya, selama penyelenggaraan Rorschach, responden ditunjukkan masing- masing noda tinta, satu kali setiap saat, dan diminta untuk memberi tahu apa yang dinampakkan oleh noda tinta itu. Selain menyimpan catatan verbal tentang respon terhadap setiap kartu, penguji umumnya mencatat waktu reaksi dan lama respon, atau posisi di mana kartu dipegang, catatan spontan, ungkapan emosional,

26

::;.:~ ':::-::::-:':-'~" :-::: '~~'~"~;':::'::'N ...:.,: ~':'>''::'';';:'''to:' : ..;<.;:, ~:.:";: ;.;;:: -: .: ::' ;':':::;.,'., ,',. . '

,."',,

.

dan perilaku insidentillain dari responden selama sesi tes itu. Pada waktu tertentu setelah presentasi 10 kartu, kebanyakan penguji mengajukan pertanyaan pada individu secara sistematik tentang bagian dan aspek tiap noda tinta terhadap mana asosiasi diberikan. Selama penyelidikan ini, para responden juga memiliki kesempatan untuk menguraikan serta menjemihkan respon lebih awal mereka.

Gambar 1. Noda Tinda dari Jenis yang Digunakan dalam Teknik Rorschach

Perbedaan-perbedaan utama di antara berbagai sistem Rorschach yang berkembang dati tahun 1930-an sampai dengan 1960-an ada pada metode skoring, dan oleh karenanya, ada pada soal-soal interpretif. Pada dasamya, fokus keprihatinan untuk interpretasi Rorschach bisa ditempatkan entah pada isi respon atau pada karakteristik formalnya seperti misalnya lokasi, determinan, kualitas bentuk, dan berbagai rangkuman kuantitatif yang diturunkan dati respon itu. Meskipun sistem Rorschach amat berbeda dalam rincian penentuan skor dan menginterpretasi respon terhadap kartu, banyak hal dari sistem itu memiliki kasamaan dalam hal klasifikasi dasar kategori-kategori penentuan skor. Lokasi merujuk pada bagian noda tinta yang dengannya responden mengasosiasikan tiap respon. Apakah ia menggunakan seluruh noda tinta, rincian umum, rincian yang tidak biasa, ruang putih, atau kombinasi dari semua ini? Determinan respon mencakup bentuk, wama, bayangan, dan "gerakan". Meskipun tentu 27

saja tidak ada gerakan pada noda tinta itu sendiri, persepsi respon pada noda tinta sebagai representasi dari obyek bergerak diberi skor dalam kategori ini. Diferensiasi lebih jauh dibuat dalam kategori-kategori ini. Misalnya, gerakan manusia, gerakan hewan, dan gerakan abstrak, atau gerakan tak berjiwa diskor secara terpisah. Demikian pula, pembentukan bayangan bisa dipandang sebagai mewakili kedalaman, jaman, bentuk -bentuk yang tak jelas seperti misalnya, awan, reproduksi akromatik warna seperti dalam foto. Kualitas bentuk atau tingkat bentuk respon-respon bisa merujuk pada ketepatan respon-respon itu menyamai. lokasi yang digunakan, pada keasliannya, atau pada keduanya. Di samping itu, kompleksitas kognitifrespon-respon dan aspek-aspek kualitatiflain dari yang dipersepsi bisajuga diskor dalam sejumlah sistem. Penanganan isi juga berbeda dari satu sistem Rorschach ke sistem Penanganan isi juga berbeda dari satu sistem Roschach ke sistem Roscach lainnya, meskipun kategori utama tertentu digunakan secara reguler. Yang utama diantara penanganan ini adalah bentuk-bentuk manusia, rincian manusia (atau bagian dari bentuk manusia), bentuk-bentuk hewan, dan rincian hewan. Kategori penentuan skor luas lainnya bisa mencakup obyek seni, tanaman, peta, awan, darah, sinar X, pakaian, obyek seksual, dan pemandangan. Skor popularitas kerap kali didapatkan atas dasar frekuensi relatif responrespon yang berbeda di antara orang pada umumnya. Untuk masing-masing dari 10 kartu, respon khusus tertentu diskor sebagai respon populer karen a seringnya muncul. Di samping itu kebanyakan sistem mencakup suatu turus dari verbalisasi yang tidak lazim atau menyimpang yang dibuat oleh peserta tes selama tes Rorschach; verbalisasi semacam itu amat berguna dalam mendeteksi bentuk-bentuk psikopatologi yang parah. Analisa lebih jauh atas respon-respon Rorschach umumnya didasarkan pada frekuensi relatif respon-respon dalam berbagai kategori dan juga nisbah tertentu serta antar-hubungan di antara berbagai kategori yang berbeda. Contoh-contoh jenis interpretasi kualitatif yang umumnya digunakan bersama dengan respon-respon Rorschach adalah asosiasi respon "keseluruhan" dengan pikiran konseptual, asosiasi respon "wama" dengan emosionalitas dan asosiasi respon "gerakan manusia" dengan imajinasi serta kehidupan fantasi. Dalam penerapan Rorschach yang lazim, penekanan utama ditempatkan pada deskripsi "global" final atas individu, yang di sini ahli klinis memadukan hasil-hasil dari berbagai bagian protokol yang berbeda dan mempertimbangkan antar-hubungan berbagai skor dan indeks yang berbeda. Dalam praktek sesungguhnya, informasi yang ditarik dari sumber-sumber luar, seperti misalnya tes-tes lain, wawancara, dan catatan riwayat kasus juga digunakan dalam mempersiapkan deskripsi ini.

2. Sistem Komprehensif Exner
Pada tahun 1960-an, tes Rorschach menjadi kurang dihargai sebagai instrumen psikometris. Para peneliti sadar bahwa diri mereka dihambat oleh kesulitan yang inheren dalam metode itu sendiri, seperti misalnya kemungkinan variasi dalamjumlah total respon, pengaruh dari efek penguji dan kesalingtergantungan skor-skor, sertajuga perkembangan sistem penentuan skor. Keadaan ini semua menjadikan penelitian atas reliabilitas dan validitas tes Rorschach sebagai usaha yang berjalan sedikit demi sedikit, terganggu dengan kekurangan metodologis,

28

dan juga pada akhimya memberikan hasil yang mengecewakan. Banyak psikolog klinis terus menggunakan tes Rorschach secara reguler tetapi sebagian terbesar mengakui bahwa mereka tidak bisa mengikuti satu sistem tunggal secara tepat. Sebagai gantinya, mereka cenderung menggunakan data tes Rorschach dengan cara mereka sendiri, yang rentangnya bisa dari interpretasi yang sarna sekali impresionistik dan kualitatif sampai pada sikap mengikuti satu sistem atau lebih, yang kurang ketat, bila mereka merasa cocok. Perbedaan yang luas telah berkembang di antara lima sistem Rorschach utama yang digunakan di Amerika Serikat. Perbedaan ini didokumentasikan oleh John E. Exner, Jr. (1969) yang bekerja dengan Samuel Beck dan Bruno Klopfer, dua orang dari para pembuat sistematisasi Rorschach yang paling bervariasi. Melalui penelitiannya yang ekstensif atas penggunaan klinik tes Rorschach dan kepustakaan risetnya, Exner tertarik pada kemungkinan untuk menyuling semua segi yang secara empiris berguna dan dapatdipertahankan yang dimiliki oleh metode itu, ke dalam satu sistem tunggal. Selama seperempat abad terakhir ia telah memimpin usaha yang paling ambisius dan berhasil yang pemah dilakukan untuk menempatkan tes Rorschach atas dasar psikometris yang kuat. Pertama, Exner mengembangkan sistem Rorschach komprehensif yang memadukan unsur-unsur yang dikumpulkan dari kelima pendekatan utama. Dalam Sistem Komprehensif ini, Exnermenyediakan administrasi terstandardisasi, penentuan skor, dan prosedur interpretatif yang diseleksi atas dasar perbandingan empiris di antara berbagai praktek. Penekanannya adalah lebih pada variabel struktural ketimbang pada variabel isi. Sesungguhnya menurut Exner, obyek respon penentuan skor adalah asal mula dari rangkuman struktural yang ada pada inti sistemnya serta memberikan dasar bagi kebanyakan dalil interpretif. Tiap respon dikodifikasikan pada beberapa kategori penentuan skor yang berbeda, mencakup antara lain lokasi, determinan, kualitas bentuk, isi, aktivitas organisasional, dan popularitas. Responrespon berkode ini didaftar dan frekuensi kode dihitung; unsur-unsur ini kemudian digunakan dalam penghitungan nisbah, persentase, dan indeks yang melengkapi rangkuman struktural. Berdasarkan seluruh catatan Rorschach, pemyataan interpretatif bisa berasal dari variabelvariabel pada berbagai tingkat kompleksitas. Sejumlah hipotesis dihubungkan dengan frekuensi sederhana, seperti lingkup penggunaan satu determinan tunggal (misalnya, pembentukan bayangan); yang lain didasarkan pada munculnya dua variabel atau lebih secara bersama-sama seperti misalnya jumlah isi manusia dan isi hewan. Tingkat analisis yang paling kompleks adalah konstelasi dari berbagai variabel dan skor potong yang dihasilkan secara empiris. Variabel-variabel ini dikelompokkan ke dalam indeks-indeks (misalnya, Indeks Schizophrenia, Indeks Depresi, dan Indeks Mengatasi Kekurangan) yang agaknya mencerminkan kemungkinan adanya gangguan atau kondisi tertentu. Dengan menggunakan sistem seragam ini yang berkembang dan disempumakan selama dua dasawarsa terakhir, Exner dan rekan-rekannya telah mengumpulkan banyak data psikometris, termasuk norma pada orang dewasa, anak-anak, dan remaja serta berbagai sampel rujukan psikiatris. Studi tentang reliabilitas tes ulang selama beberapa interval waktu, berkisar dari beberapa hari sampai tiga tahun, menunjukkan stabilitas temporal yang cukup kuat bagi kebanyakan variabel yang diskor. Penggambaran hati-hati tentang garis besar 29

penentuan skor untuk sistem komprehensif telah memungkinkan para penguii vana terlatih untuk mendapatkan angka kesepakatan antar skor yang lumayan tinggi. Sesungguhnya, salah satu sumbangan utama karya Exner adalah diadakannya sistem Rorschach seragam yang memungkinkan perbandingan di antara temuan-temuan riset dari berbagai peneliti. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa Sistem Komprehensif menjadi pendekatan yang paling kerap kali diajarkan untuk menentukan skor serta menginterpretasikan tes Rorschach dan terbukti bemilai dalam meningkatkan kekuatan statistik riset Rorschach. Meskipun ada peningkatan metodologis yangjelas yang dibawa oleh sistem Exner pada tes Rorschach, tetap ada berbagai pertanyaan penting yang belum terpecahkan. Yang paling utama dan paling rumit dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah persoalan validitas. Kepustakaan yang berhubungan dengan pertanyaan ini amatlah banyak dan masih banyak di antaranya melewati maksud awal dari penyusunnya; dan keanekaragaman penggunaan ini menambah kompleksitas penelitian validitasnya. Pada umumnya, penelitian meta-analitik telah menunjukkan bahwa indeks- indeks validitas konvergen untuk tes Rorschach dapat dibandingkan dengan yang diperoleh pada MMPI. Di samping itu, karya ekstensif Exner sendiri dengan tes Rorschach memberikan dukungan substansial pada validitas dari banyak konstruk yang ditaksir melalui sistemnya dan pada kegunaannya dalam memaparkan aspekaspek fungsi kepribadian tertent«. Akan tetapi, bila menyangkut diagnosis kondisi sekarang yang kompleks atau memprediksi perilaku masa depan, hasil-hasil riset telah tercampur aduk. Faktor utama yang membuat rumit dalam interpretasi skor-skor Rorschach adalah jumlah respon total - yang dikenal sebagai produktivitas respon, atau R. Ketika perbedaanperbedaan luas dalam R muncul antara individu atau kelompok, perbedaan-perbadaan dalam kategori penentuan skor lain juga muncul. Jadi, perbedaan-perbedaan yang ditemukan dalam kategori-kategori tertentu bisa saja hanya artifak yang dihasilkan dari variasi dalam R. Pada ciri -ciri intrlnsik skor Roschach ini bisa ditambahkan bahwa produktivitas respon nampaknya terkait dengan variabel- variabellain seperti misalnya tingkat intelektual dan tingkat pendidikan. Secara khusus, para peneliti Rorschach berbeda dalam pandangan mereka tentang arti dan lingkup masalah yang ditampilkan oleh variasi-variasi dalam produktivitas respon. G.J. Meyer misalnya, telah meminta perhatian untuk penelitian lebih jauh ten tang makna psikologis R dan tentang keuntungan lawan kerugian dalam hal mengendalikan atau menyesuaikan variabel ini. Yang lain menganggap bahwa dampaknya telah terbukti tidak signifikan dalam kebanyakan situasi. Yang lain berpendapat bahwa masalah yang diberikan oleh R perlu ditangani dengan cara berbeda tergantung pada penggunaan yang dilakukan atas data dan dalam kasus data penelitian, tergantung pada seberapa banyak distrlbusi itu berbeda dari normalitas. Sistem Komprehensif yang dikembangkan oleh Exner bukannya tidak dikritik. Banyak pengguna Rorschach mengajukan keberatan terhadap sifat ateoretis dari pendekatan Exner dan pada kurang dimanfaatkannya data isi yang menurut pendapat mereka mengurangi manfaat klinisnya secara serius. Para kritikus juga telah memperhatikan bahwa sistem ini menjadi sangat kompleks dan juga kadang-kadang kabur serta kontradiktoris. Lagi pula,

30

.... :

:.

';:'>: .. : .. ,

.

.' .::.:... . ~..~.:::.~:.:.... :..:.. : :. :':.:: :: .::.

. .....:.~ .", ':" .. ' " :.. .' ..

, " c .' ..-:

penelitian Exner sendiri disalahkan karena ukuran sampelnya yang kecil,jumlah variabelnya yang luas, kurangnya studi validasi silang, dan tidak terbukanya terhadap penelitian masyarakat. Meskipun begitu, faktanya tetap bahwa adanya sistem Exner, bersama dengan data penelitian yang telah ia dan rekan-rekannya kumpulkan, telah menyuntikkan gairah barn pada tes Rorschach sebagai instrumen psikometris.

3. Pendekatan-pendekatan Alternatif
Meskipun Sistem Komprehensif Exner telah diterima secara luas masih ada sejumlah pendekatan lain yang bertentangan terhadap tes Roschach. Sesungguhnya, banyak orang menghubungkan karya Exner dengan bangkitnya kembali minat akan tes Rorschach dari perspektif lain ini maupun dari perspektifnya sendiri. Satu alternatif, yang lebih kuat secara klinis dalam orientasinya, dideskripsikan oleh Aronow dan rekan- rekannya. Pendekatan ini memperlakukan tes Rorschach pada dasarnya sebagai wawancara klinis terstandardisasi yang mengambil sampel operasi perseptual seseorang. Pendekatan ini lebih memusatkan perhatian pada interpretasi isi ketimbang pada variabel struktural atau determinan perseptual respon. Meskipun begitu, skala isi dan sistem penentuan skor yang ada tidak dianggap dapat diandalkan sebagai instrumen psikometris untuk dapat digunakan pada diagnosis individual. Agaknya, penyusun- penyusun ini merekomendasikan suatu aplikasi yang secara klinis ketat dari tes Rorschach sebagai sarana demi memperkuat pemahaman idiografis untuk kasus individual - dan mereka mengamati bahwa kebanyakan ahli klinis yang berpengalaman cenderung pada pendekatan ini karena manfaatnya dalam proses psikoterapi. Interpretasi mereka terutama bersandar pada isi respon, yang dilengkapi dengan perilaku verbal dan nonverbal. Atas dasar penelitian dan pengalaman klinis yang ada, Aronow dan rekan-rekan kerjanya telah mempersiapkan seperangkat garis pedoman untuk interpretasi idiografis yang lebih efektif dan dapat diandalkan. Contohnya, mereka menyarankan agar respon-respon yang menyimpang dari kelaziman dan respon-respon yang kurang dekat pada ciri-ciri stimulus noda tinta tertentu lebih memiliki kemungkinan untuk menjadi berarti dalam kasus individual. Demikian pula, para penyusun ini mengingatkan agar hati-hati terhadap sistem interpretasi simbol yang kaku yang melekatkan makna-makna kaku pada kategori-kategori isi atau menentukan kualitas evokatif yang tak berbeda pada noda tinta tes Rorschach. Sebaliknya, mereka menawarkan prosedur untuk meneliti makna respon secara konservatif yang sesuai dengan prinsip-prinsip psikodinamis umum dan memanfaatkan sejarah pengalaman individu bersangkutan. Pendekatan alternatif lainnya pada tes Rorschach adalah yang dikemukakan oleh Paul Lerner (1991). Karya ini berhadapan secara kontras dengan pendirian ateoretis Exner dalam pengertian bahwa karya tersebut berakar dalam teori psikoanalitik modern, sebagaimana berkembang sej ak tahun 1970-an. Semen tara Exner (1989) berpendapat bahwa tes Rorschach adalah tes yang peran proyeksi jarang dimainkan, Lerner memandang tes Rorschach pada dasarnya sebuah metode proyektif untuk menilai dunia internal dari individu. Teks Lerner menyediakan pedoman bagi penggunaan klinis tes Rorschach dan aplikasi penelitiannya dalam penaksiran atas representasi obyek, manuver defensif, dan konsep-konsep lain yang penting bagi teori psikodinamik modern.
31

Aplikasi klinis khusus dari tes Rorschach diilustrasikan pada Rorschach konsensus. Dalam adaptasi ini, tes noda tinta dipresentasikan untuk interpretasi bersama oleh pasanganpasangan nikah atau anggota- anggota keluarga lainnya, rekan-rekan pekerja, anggotaanggota gang remaja, atau kelompok-kelompok alamiah lainnya. Melalui diskusi dan negosiasi, para peserta harus mencapai kesepakatan tentang satu rangkaian respon yang tunggal dan umum. Teknik ini telah digunakan dengan cukup sukses sebagai dasar untuk meneliti hubungan-hubungan antarpribadi dan berbagai jenis perilaku sosial. Tes Rorschach telah dideskripsikan secara akurat sebagai "tes yang berkali-kali hidup lebih lama dari obiturinya. Kematian tes ini telah diprediksi berkali-kali karena, seperti semua tes psikologi yang paling sering digunakan, tes Rorschach juga merupakan tes yang paling banyak disalahgunakan. Dewasa ini, teknik tersebut mengalami kebangkitan kembali yang luar biasa baik dalam kaitan dengan aktivitas penelitian maupun pembentukan teori; meskipun masih ada berbagai cara yang berbeda untuk mendekati tes Roschach, para pengguna dari semua tipe tes ini nampaknya yakin bahwa tes Roschach memiliki nilai khusus dalam mempelajari aspek perseptual, kognitif, dan afektif dari fungsi kepribadian. Sejumlah pihak puas memandang tes Rorschach semata-mata sebagai metode untuk memunculkan data yang bisa digunakan dari berbagai perspektif, sementara yang lain terlibat dalam usaha untuk menautkan tradisi empiris dan teoretis serta juga pendekatan teoretis yang berbeda terhadap tes Rorschach ke dalam satu sistem yang terpadu secara total.

4. Teknik Noda Tinta Holtzman (Holtzman Inkblot Technique)
Bahkan sebelum Exner mulai mengerjakan sistem Rorschach komprehensifnya, suatu usaha serius untuk menerapkan orientasi psikometris pada teknik noda tinta telah dilakukan oleh Wayne H. Holtzman. Dengan mengambil tes Rorschach sebagai model, Teknik Noda Tinta Holtzman dirancang sedemikian rupa untuk memikirkan kekurangan teknis utama dari instrumen yang lebih awal. Akan tetapi, peru bahan- perubahan dalam materi stimulus dan prosedur cukup ekstensif untuk memandang teknik Holtzman sebagai tes yang berbeda dan mengevaluasinya tanpa rujukan pada tes Rorschach. Teknik Holtzman menyediakan dua rangkaian 45 kartu masing-masing paralel; noda-noda tinta dipilih dari pool pendahuluan yang besar atas dasar kriteria empiris ditujukan pada maximisasi efektivitasnya. Hanya satu respon per kartu yang diperoleh. Baik kartu akromatik dan kartu berwarna dimasukkan dalam rangkaian itu; beberapa noda tinta dibuat cukup asimetris. Administrasi dan penentuan skor dari teknik noda tinta Holtzman cukup terstandardisasi dengan baik dan dideskripsikan dengan jelas dari awalnya. Skor-skor diperoleh dari 22 variabel respon, termasuk banyak yang paralel dengan tes Rorschach dan sejumlah variabel tambahan, seperti misalnya kecemasan dan permusuhan. Untuk masing-masing variabel, skor-skor persentil tersedia bagi sampel-sampel normal dari anak-anak dan orang dewasa serta bagi sejumlah kelompok yang menyimpang. Reliabilitas pemberi skor nampaknya amatlah memuaskan. Penyelidikan tentang reliabilitas paruh-tengah, bentuk-pengganti, dan tes- tes ulang (retest) telah menunjukkan perbedaan lintas variabel respon, meskipun kebanyakan hasilnya membesarkan hati. Bentuk kelompok tes ini, yang menggunakan gambar terang (slide), menghasilkan skor

32

,

-,

:::~;',"",",

' :',','

..

,

,,'

,':',:',

'

pada kebanyakan variabel yang dapat dibandingkan dengan skor yang diperoleh melalui penyelenggaraan tes secara individual. Teknik noda tinta Holtzman (Holtzman Inkblot Technique atau HIT) 25, versi pendek yang memuat 25 kartu pertama dari Bentuk A dari HITdengan 2 respon per kartu, telah diusulkan belakangan ini oleh Holtzman (1988) dan sedang dalam proses untuk dinormakan. Banyak data validitas pada HIT telah terkumpul, kebanyakan dengan hasil yang cukup menjanjikan. Penelitian validasi telah mengikuti berbagai pendekatan, termasuk studi tentang kecondongan perkembangan, perbandingan lintas budaya, korelasi-korelasi dengan tes- tes lain, dan dengan indikator perilaku ciri-ciri kepribadian, serta perbandingan kelompok kontras dengan responden normal maupun pasien psikiatris. Sebuah buku pegangan yang dipersiapkan oleh E.F. Hill (1972) diarahkan terutama pada penggunaan klinis HIT. Nampak bahwa HIT memiliki keuntungan psikometris tertentu terhadap tes Rorschach. Adanya bentuk-bentuk paralel memungkinkan tidak hanya pengukuran atas reliabilitas tes ulang tetapi juga studi tindak lanjut yang memadai. Pembatasan respon-respon pada satu respon per kartu memungkinkan produktivitas respon (R) konstan bagi tiap responden, dan dengan begitu menghindari banyak kekurangan dari penentuan skor Rorschach. Akan tetapi seharusnyadiperhatikan bahwa panjang respon (jumlah kata-kata) masih tidak terkontrol dan dalam kasus tes Rorschach, terbukti terkait secara signifikan pada berbagai skor HIT. Akan tetapi, meskipun ada untungnya, terdapat juga kekurangan relatif informasi pada HIT jika dibandingkan dengan tes Rorschach, dan lebih banyak data diperlukan untuk menetapkan arti penting diagnostik dari berbagai skor dan validitas konstruk variabel-variabel kepribadian yang dinilai oleh teknik ini.
C. TEKNlK- TEKNIK GAMBAR (PICTORIAL)

1. Thematic Apperception Test
Berbeda dari teknik-teknik noda tinta, Thematic Apperception Test (TAT) mengajukan stimuli yang jauh lebih terstruktur dan meminta respon verbal yang lebih kompleks dan terorganisir secara bermakna, Interpretasi atas respon-respon oleh penguji biasanya didasarkan pada analisis isi yang sifatnya agak kualitatif. Pertama kali dikembangkan oleh Henry Murray dan stafnya di Harvard Psychological Clinic, TAT belum digunakan secara luas dalam praktek dan penelitian klinis, tetapi telah berfungsi sebagai model bagi pengembangan banyak instrumen lainnya. Materi-materi TAT terdiri dari 19 kartu yang memuat gambar-gambar kabur dalam warna hitam dan putih serta satu kartu kosong. Responden diminta untuk mengarang cerita yang sesuai dengan tiap gambar, menceritakan apa yang mengarah pada peristiwa sebagaimana tergambar dalam gambar itu, mendeskripsikan apa yang terjadi pada waktu itu, dan apa yang dirasakan serta dipikirkan oleh karakter dalam gambar lalu memberikan hasilnya. Dalam hal kartu yang kosong, responden diminta untuk membayangkan gambar tertentu pada kartu itu, mendeskripsikannya, dan kemudian membuat cerita tentang hal itu. Prosedur asli yang digariskan oleh Murray dalam panduan tes membutuhkan dua sesi satu jam, 10 kartu

33

;:%::«:;.;::. ($:'':':,'::'::'-:-'': •t·~.:;:: ;::: .. :

!

;.:c.:..,":.::.,. :.'.;,": ::..:..:": '.: "o!. : • ;. ~"::,';

~..:. ~ .,! • ';"';":. :

( .!.'! ~!. ;'!: ::.:. ~:"':!;.("':' ~.,: ':' ; ~";' .

>.~.,'"::::; ;..:;.~:.:-":::(~:;»o!!.o!! ~ !;"'; :::';:o!':: ..

.,':.,': :.::.;:

;••:_..:..! •• ' :' ••,:•••••• ,'.. ,' •••••••• : ',':':,'~':':.:::., :;'::':"-::-;::-:(';(.:

digunakan selama tiap sesi. Kartu-kartu yang disimpan untuk sesi kedua secara sengaja dipilih yang lebih tidak lazim, dramatis, dan aneh serta instruksi yang menyertainya mendorong responden untuk memberikan kesempatan bermain yang bebas pada imajinasi mereka. Empat rangkaian dari 20 kartu yang tumpang tindih disediakan - untuk anak lakilaki, perempuan, pria berusia di atas 14 tahun, dan wanita berusia di atas 14 tahun. Kebanyakan ahli klinis menggunakan rangkaian singkat dari kartu-kartu yang dipilih secara khusus, dan jarang memberikan lebih dari pada 10 kartu pada satu responden. Dalam metode interpretasi asli cerita-cerita TAT, penguji pertama- tama menentukan siapa "pahlawan"-nya, karakter dari jenis kelamin mana pun yang dengannya responden agaknya akan mengidentifikasikan dirinya. lsi cerita kemudian dianalisis terutama dalam rujukan dengan daftar "kebutuhan" dan "tekanan" Murray. Berbagai kebutuhan yang diusulkan diuraikan dalam kaitan dengan Edwards Personal Preference Schedule. Contohcontohnya meliputi prestasi, afiliasi, dan agresi. Tekanan merujuk pada kekuatan-kekuatan lingkungan yang bisa memperlancar atau mencampuri pemuasan kebutuhan. Diserang atau dikritik, mendapatkan perhatian, diberikan kenyamanan, dan terbuka pada ancaman fisik merupakan ilustrasi dari tekanan. Dalam menilai pentingnya atau kuatnya kebutuhan atau tekanan tertentu bagi individu, perhatian khusus diberikan pada intensitas, durasi, dan frekuensi munculnya hal tersebut dalam berbagai cerita yang berbeda, serta juga pada keunikan asosiasinya dengan gambar tertentu. Asumsinya adalah bahwa materi - materi yang tidak biasa, yang menyimpang dari respon-respon umum terhadap tiap gambar, lebih memiliki kemungkinan untuk menjadi berarti bagi individu. Cukup banyak informasi normatif telah diterbitkan sehubungan dengan ciri-ciri respon yang paling sering bagi tiap kartu, meliputi cara tiap kartu dipersepsi, tema yang dikembangkan, peran yang diberikan pada karakter, nada emosional yang diungkapkan, kecepatan respon, panjang cerita, dan sebagainya. IVleskipun data normatif ini menyediakan kerangka umum untuk menginterpretasikan respon-respon individu, kebanyakan ahli klinis bersandar pada "norma-norma subyektif' yang dibangun melalui pengalaman mereka sendiri dengan tes tersebut dan pada pengetahuan yang mereka peroleh tentang orang yang diuji melalui saranasarana lainnya. Berbagai skema penentuan skor kuantitatif dan skala-skala pemeringkatan telah dikembangkan dan menghasilkan reliabilitas pemberian skor yang baik. Akan tetapi, karena aplikasinya akan membutuhkan banyak waktu, prosedur-prosedur penentuan skor seperti itu jarang digunakan dalam praktek klinis. Meskipun umumnya diberikan sebagai tes lisan individu dalam situasi klinis, TAT juga bisa diselenggarakan dalam tes tertulis atau tes kelompok. TAT juga digunakan secara luas dalam penelitian kepribadian. Sayangnya, keanekaragaman administrasi dan prosedur penentuan skor, dan bahkan materi-materi stimulus, yang terasosiasi dengan rubrik TAT telah berkembang ke penggunaan tes dan juga praktek klinis. Keanekaragaman ini mempersulit usaha penyelidikan segi-segi psikometris TAT sebagai tes psikologis tersendiri karena metode ini kekurangan persyaratan dasar yaitu keseragaman. Di samping itu banyak data eksperimental tersedia untuk menunjukkan bahwa kondisi-kondisi seperti misalnya rasa lapar, kurang tidur, dan frustrasi sosial sangat 34

• ". :':

::.

_:' _

'" _: _'.::_ ;:.::.: .....: :.,*",:.: ", ~.:.,; ••:.~:;;:;,:.:... ~ ••••.. :'. ::;:.::::..:..::.:.:: ..:::••••••• : _.~. '", ; :'.::'., :.. ::.:.: ••••:.:': ••'. :.' _ :.:" ; ~ :: ••

••••',':".:::-.;:' .:::::: ....... : ... : .:: .;':.':E

.:_ ••

' ' ••• :.:

.. ::

".;:::.::'~

: .. :::.

',,:':'

_;

mempengaruhi respon TAT. Walaupun pendukung hipotesis proyektif, sensitivitas TAT terhadap kondisi-kondisi temporer semacam itu bisa memperumit makna respon. Pertanyaan tentang konsistensi internal respon-respon TAT juga telah mendapat perhatian. Harus ada usaha untuk mengontrol panjangnya cerita, atau produktivitas - problem yang dialami TAT bersama-sama dengan tes Rorschach. Meskipun begitu, nilai teknik apersepsi tematik pada umumnya dan pada TAT khususnya, tidak dipertanyakan. Penelitian belakangan ini memperkuat manfaat klinis dari berbagai versi TAT baik untuk aplikasi tradisional, seperti misalnya menilai lingkup psikopatologi dan penggunaan mekanisme pertahanan diri, maupun untuk penggunaan-penggunaan baru seperti misalnya evaluasi atas keterampilan pemecahan masalah. Salah satu aplikasi TAT yang paling menjanjikan adalah dengan skala-skala yang baru dikembangkan untuk penilaian klinis atas hubungan-hubungan obyek. Kegunaan TAT juga tidak terbatas pada analisis tematis atas respon- respon. Ciri-ciri formal dari struktur dan isi cerita-cerita TAT juga bisa digunakan dalarn studi atas individu dan kelompok.

2. Adaptasi TAT dan Tes-tes Terkait
Banyak adaptasi TAT dikembangkan untuk maksud-maksud tertentu. Adaptasi ini memperlihatkan berbagai tingkat kesamaan dengan yang asli. Tidak ada versi yang tegas antara TAT yang dimodifikasikan dan tes-tes baru yang didasarkan pada pendekatan umum seperti TAT. Berbagai versi TAT telah disiapkan untuk digunakan dalam survai atas sikap buruh, kelompok minoritas, dan sebagainya. Adaptasi lain telah dikembangkan untuk digunakan dalam konseling karir, penilaian eksekutif, dan berbagai proyek penelitian. Berbagai formulir telah disusun untuk populasi khusus termasuk di dalarnnya anak-anak prasekolah, anak-anak sekolah dasar, anak-anak yang tidak mampu secara fisik dan mental, para remaja serta berbagai kelompok nasional dan etnik. Sejumlah adaptasi TAT telah memusatkan diri pada pengukuran intensif atas kebutuhan atau dorongan tunggal, seperti misalnya seks atau agresi. Yang menarik adalah penelitian ekstensif atas kebutuhan prestasi (n-Ach) yang diadakan selarna tiga puluh tahun oleh McClelland, Atkinson, dan rekan-rekannya. Untukmengukur n-Ach, empatgarnbar digunakan, dua di antaranya diambil dari TAT. Skema-skema terinci telah dikembangkan untuk menentukan skor cerita yang dihasilkan dalam kaitan dengan ungkapan n-Ach. Teknik ini digunakan dalam program penelitian ekstensif tentang motivasi prestasi. Masalah-masalah yang diteliti berkisar dari teori motivasi dasar sampai pada asal muasal sosial dan konsekuensi n-Ach serta peranannya dalam jatuh bangunnya masyarakat. Analisis meta atau studi-studi yang membandingkan TAT dan ukuran kuesioner n-Ach menunjukkan bahwa kedua metode ini sah, meskipun ada perbedaan maksud dan aspek penaksiran atas dorongan pre stasi. Suatu ikhtisar sistem penentuan skor yang digunakan dalam analisis isi atas materi verbal te1ah disiapkan oleh Charles Smith dalam bekerja sarna dengan John W. Atkinson, David C. McClelland, dan Joseph Veroff (1992). Termasuk di dalarnnya adalah sistemsistem penentuan skor dengan tradisi-tradisi penelitian yang telah lama ada (misalnya untuk prestasi, afiliasi, dan motivasi kekuasaan), serta banyak lainnya yang berhubungan dengan

35

:':; :.:: ':~':;: :.~~. ::.-:.:. .. : ..:'.:~.:.:': :'" :'.,:;. ..

.:':':.; '::. .... :. "':': " . , :.. ':,:":; .' ;. ':':.: :~~:'::: :'"~"'. :,,:,.::.,: :.: , :: :.... ;" .:.'.,:.:,.n .,. ..•'. :.' .. :,,:., ::.:. .. .. .,' c : .. : ..... : ..

-."

:

......: :' ...

~

topik-topik seperti ideologi politik dan kemampuan mengatasi. Hal-hal konseptual dan juga pertimbangan metodologis dalam pengambilan sampel, penentuan skor, serta analisis atas materi verbal dibicarakan di sana. Meskipun banyak sistem yang dipaparkan, didasarkan pada modifikasi TAT dan mencerminkan pandangan Murray, berbagai perspektif teoretis lainnya juga ditampilkan di sana. Lagi pula sistem- sistem yang tercakup itu dimaksudkan untuk analisis atas isi yang jelas daripada yang simbolik dari sampel-sampel pikiran sebagaimana bertentangan dengan "proyeksi" - dan untuk penelitian daripada penggunaan klinis. Meskipun TAT asli dikatakan dapat diterapkan pada anak -anak mulai usia empat tahun, Children Apperception Test (CAT) secara khusus dirancang untuk digunakan pada anakanak berusia antara 3 dan 10 tahun (Bellak, 1993). Kartu-kartu CAT mengganti manusia dengan hewan atas dasar asumsi bahwa anak-anak kecil lebih mudah melakukan proyeksi pada hewan daripada manusia. Berbagai hewan dalam gambar-gambar itu dilukiskan dalam situasi yang khas manusia dengan cara antropomorfis yang khas seperti dalam komik dan buku anak-anak. Gambar-gambar itu dirancang untuk membangkitkan fantasi yang berhubungan dengan masalah makan serta aktivitas oral, persaingan sesama saudara, hubungan orang tua dan anak, agresi, latihan buang air besar dan kecil, serta pengalaman anak-anak lainnya. Penyusun CAT mempersiapkan modifikasi manusia atas tes ini (CAT -H) untuk digunakan pada anak-anak yang lebih tua, terutama pada anak-anak yang usianya di atas 10 tahun. Penyusun tes mempertahankan bahwa bentuk manusia atau bentuk hewan bisa lebih efektif tergantung pada usia dan ciri-ciri kepribadian anak bersangkutan. Tes yang lebih baru dikembangkan, Roberts Apperception Test for Children (RA TC), lebih dekat memenuhi standar psikometris untuk penyusunan tes dan evaluasi daripada teknik-teknik lainjenis ini. RATC menyediakan dua rangkaian dari 16 kartu stimulus yang tumpang tindih, satu untuk anak laki-laki dan satu untuk anak perempuan. Rangkaian suplementer dengan gambar anak -anak berkulit hitam juga tersedia tetapi tidak dinormalkan. Gambar-gambar itu dipilih untuk melukiskan situasi antarpribadi yang telah dikenal dimana ada anak-anak dalam hubungannya dengan orang dewasa atau anak-anak lainnya. Cerita diskor pada rangkaian skala yang mencakup jenis masalah yang menjadi alasan umumnya dibawa ke klinik. Pedoman yang jelas dan eksplisit memungkinkan penentuan skor yang cukup obyektif atas respon-respon; norma-norma didasarkan pada respon dari 200 anak yang menyesuaikan diri dengan baik dan dinominasikan oleh gurunya. Perbandingan responrespon ini dengan respon-respon dari 200 anak yang dilihat pada klinik bimbingan anak memberikan data validasi yang dimuat dalam panduan. Jelas, instrumen ini mewakili usaha serius untuk memadukan fieksibilitas teknik proyektif dengan penyelenggaraannya, penentuan skomya, serta evaluasi tes dari sebuah tes standar. Penyelidikan tentang validitas RATC untuk berbagai penggunaan terus menunjukkan hasil yang baik. Di samping itu, buku pegangan dengan garis pedoman yang rinci untuk penentuan skor dan interpretasi RA TC dalam penggunaan klinis juga telah dipersiapkan oleh Glenn E. Roberts (1994).

36

:~: :.~....::.»,.;.......:~:.:.;..::::a:..;~' ::u." .... . :.... :'. .....

. .'. .'

. .' . .. .... .

Gambar 2. Salah satu Gambar yang Digunakan dalam RACT

TEMAS adalah kata Spanyol untuk "tema' dan merupakan singkatan yang cerdik bagi "Tell-Me-A-Story", yaitu sebuah instrumen yang dirancang secara khusus untuk penaksiran atas ciri-ciri kognitif, afektif, dan kepribadian anak-anak dari usia 5 sampai 18 tahun. TEMAS menggunakan dua rangkaian kartu stimulus paralel dengan wama lengkap, satu untuk anak-anak minoritas etnik dan satu untuk anak-anak berkulit putih. Materi stimulus dikembangkan secara teliti untuk memudahkan produksi verbal serta menstimulasi ceritacerita yang berhubungan dengan pilihan di antara berbagai sasaran yang bertentangan, seperti misalnya mendapatkan ganjaran yang lang sung atau tertunda. Rangkaian minoritas menggambarkan karakter yang ciri dan wama kulit gelapnya menyiratkan seseorang dengan latar belakang kulit hitam atau hispanik. Meskipun TEMAS telah dipuji sebagai perbaikan yang mencolok atas kartu-kartu TAT yang asli dari segi kesesuaiannya bagi anak-anak Amerika keturunan Afrika, serta Amerika keturunan Spanyol, ciri-ciri psikometris dari tes ini, terutama reliabilitas tes-tes ulangnya dan konsistensi intemalnya, telah berulang kali dipertanyakan. Tes-tes persepsi tematik yang sarna telah dikembangkan untuk orang lanjut usia, antara lain Gerontological Apperception Test dan Senior Apperception Test. Keduanyamenggunakan rangkaian kartu yang menampilkan seorang atau lebih dari seorang lanjut usia dan mengilustrasikan masalah yang bisa melanda orang lanjut usia, seperti misalnya kesepian,

37

2,?,:-::':..!:::!t:::.:~:?·::::::~·::·::·:···::'·""" ••• "';" ••• ; .'

••

.;: -. ::.:....

: '."

:•• : •••.J.~ ::;')!;;'::"; ..::'.:.;.::;.:.::.:.: ':".::: .::.,::: : '. : : .. :

;.: .;.: .;.' : ..

c ;.;.::•• :

:

, .> . ;::.;,;.'.' ::!'~::,:.>::.:;.:.;:~'(:.'.,:

kesulitan dengan keluarga, dan rasa tak berdaya. Kedua instrumen ini telah dikritik karena terlalu cepat dipublikasikan dan digunakannya gambar-gambar yang cenderung melestarikan stereotipe mas a lanjut usia yang salah. Lagi pula, tak satu pun dari instrumen- instrumen ini telah terbukti memiliki keunggulan di atas TAT dalam mentes orang-orang lanjut usia dan Gerontological Apperception Test tak lagi diterbitkan. 3. Rosenzweig Picture-Frustration Study TAT dan teknik-teknik terkait yang telah kita bahas menggunakan gambar untuk menstimulasi permainan fantasi yang bebas serta membangkitkan respon verbal yang rinci. Sebaliknya Rosenzweig Picture- Frustration Study (P-F Study) yang diuraikan dalam bagian ini, lebih dibatasi dalam cakupannya dan meminta respon-respon yang lebih sederhana. Instrumen ini tersedia dalam bentuk terpisah untuk orang dewasa usia 14 tahun ke atas, untuk remaja usia 12 hingga 18 tahun, dan untuk anak -anak berusia 4 sampai 13 tahun. Berasal dari teori frustrasi dan agresi si pengarang, P-F Study menyajikan rangkaian kartu dengan satu orang membuat frustrasi orang lain atau meminta perhatian untuk kondisi yang membuat frustrasi. Dua dari kartu-kartu ini, diambil dari form anak-anak, seperti ditunjukkan dalam Gambar 3. Dalam ruang kosong yang disediakan, responden menulis apa yang akan dikatakan oleh orang yang frustrasi.

I'm not going to ask you to my birthday party

Be quiet! Mother wants to sleep.

Gambar 3. Butir-butir Soal Khas dari P-F Study, Fonnulir Anak-anak

38

:... ..:...: .....:.: ....::... :.:..;..

'

..

Respon-respon pada P-F Study diklasifikasikan menurut rujukan pada tipe dan arah agresi. Tipe agresi meliputi dominasi -hambata_n,menekankan obyek yang membuat frustrasi, pertahanan diri, rumusan dan perhatian pada perlindungan orang yang frustrasi; dan kebutuhan yang terus menerus, berpusat pada pemecahan konstruktif atas masalah yang membuat frustrasi. Arah agresi diskor sebagai: ekstragresif, atau berpaling ke luar pada lingkungan; intragresif, atau berpaling ke dalam pada diri sendiri; dan immagresif, atau padam sebagai usaha untuk menyembunyikan atau menghindari situasi. Dalam penentuan skortes, persentase respon yang masuk dalam masing-masing kategori ini dibandingkan dengan persentase normatif yang terkait. Peringkat konformitas kelompok (GCR), yang menunjukkan tendensi individual untuk memberikan respon yang sesuai dengan respon-respon modal sampel standardisasi, juga dapat diperoleh. Oleh karena lebih terbatas dalam hal cakupan,jauh lebih terstruktur, dan relatif obyektif dalam prosedur penentuan skornya, P-F Study lebih mudah didekati oleh analisis statistik daripada kebanyakan teknik proyektif lainnya. Berbagai upaya sistematik telah diiakukan lebih awal untuk mengumpulkan norma-norma serta memeriksa reliabilitas dan validitasnya. Selama lima puluh tahun, banyak penelitian telah dijalankan dengan P-F Study baik oleh penyusun tes maupun oleh para peneliti lainnya. Kepustakaan penelitian ini membahas segisegi psikometrik instrumen ini dan topik -topik seperti misalnya diagnostik klinis, perubahan perkembangan, perbedaan jenis kelamin, perbedaan budaya, dan hubungan antara humor serta agresi. D. TEKNIK- TEKNIK VERBAL Meskipun semua instrumen proyektif yang dibahas sejauh ini meminta respon verbal, teknik proyektif tertentu adalah seluruhnya verbal, hanya menggunakan kata-kata dalam materi stimulus dan responnya. Sejumlah teknik verbal ini bisa diselenggarakan dalam bentuk lisan maupun tulisan, tetapi semuanya sesuai untuk penyelenggaraan tertulis dalam kelompok. Tentu saja, bila diselenggarakan secara tertulis instrumen-instrumen ini mengandaikan tingkat kemampuan membaca minimum dan keakraban sungguh-sungguh dengan bahasa tempat tes itu dikembangkan. Persyaratan-persyaratan ini menyingkirkan penggunaan teknik-teknik dengan anak-anak kecil ataupun orang-orang yang buta huruf atau yang tidak berbahasa Inggris. Sebuah teknik yang mendahului banjimya tes-tes proyektif lebih dari setengah abad adalah tes asosiasi kala. Tes yang awalnya dikenal sebagai "tes asosiasi bebas", ini pertama kali dideskripsikan secara sistematik oleh Galton (1879). Wundt dan J. McK. Cattell selanjutnya memperkenalkan tes ini ke dalam laboratorium psikologis, tempat tes itu diadaotasikan untuk banyak penggunaan. Caranya adalah dengan menyajikan rangkaian kata-kata tak terkait dan meminta individu untuk memberikan respon dengan memberikan kata pertama yang muncul dalam pikiran mereka. Para psikolog eksperimental awal dan juga para penguji mental pertama, melihat adanya alat untuk eksplorasi proses berpikir dalam tes asosiasi semacam ini.

39

~;; ;::: ';'. ;::'.:.!••;: ::. :::.:.:.;:

','1.

• -. ',: ': ..... ': .. ;::::

'. :.,:~:

,.:"

',

"'::;'

'.

• :'.:. :'. :.:':.:....

:".

' • -.

::::'.f.'.:.:::.;' ~.: .:..::'.;::" .

·l.:.

.,':'

...

'

".

:.;.:.. ::.::.: ... ;.,:

Aplikasi klinis metode asosiasi kata distimulasi terutama oleh gerakan psikoanalitik, meskipun psikiater-psikiater lainnya, seperti misalnya Kraeplin sebelumnya telah meneliti teknik-teknik semacam ini. Di antara para psikoanalis, sumbangan Jung pada pengembangan sistematik tes asosiasi kata adalah yang paling menarik. Jung (1910) memilih kata- kata stimulus untuk mewakili "kompleks-kompleks emosional" umum dan menganalisis responrespon dengan rujukan pada waktu reaksi, isi, dan ungkapan fisik ketegangan emosional. Selama tiga puluh tahun kemudian, teknik asosiasi kata yang sarna dikembangkan di Menninger Clinic oleh Rappaport dan rekan-rekannya (lS48-1968). Menurut para penyusunnya, tes ini memiliki dua tujuan: untuk membantu mendeteksi kerusakan proses pikiran dan untuk menunjukkan area konflik yang signifikan. Bisa juga disebutkan di sini penggunaan teknik asosiasi kata sebagai "detektor kebohongan". Aplikasi ini agaknya diprakarsai oleh Jung dan selanjutnya diteliti secara luas - baik dalam laboratorium maupun dalam situasi praktis. Dasar pemikiran yang ditawarkan untuk membenarkan penggunaan asosiasi kata dalam deteksi kebohongan atau kesalahan sarna dengan yang diterapkan dalam penggunaannya untuk mengungkap area konflik ernosional. Pendekatan yang berbeda terhadap tes asosiasi kata digarnbarkan oleh karya awal dari Kent dan Rosanoff (1910). Dirancang terutarna sebagai instrumen penyaringan psikiatris, Kent-Rosanoff Free Association Test sepenuhnya menggunakan penentuan skor obyektif. Kata-kata stimulus terdiri dari 100 kata urnurn dan netral yang dipilih karena cenderung membangkitkan asosiasi yang sarna dari orang pada urnurnnya. Contohnya, pada kata meja, kebanyakan orang memberikan respon "kursi"; padakata gelap, mereka cenderung mengatakan "terang". Rangkaian tabel frekuensi disiapkan - satu tabel untuk tiap kata stimulus - yang menunjukkan jumlah frekuensi tiap "indeks keurnuman" ditarik dari nilai frekuensi respon tiap peserta tes. Perbandingan antara individu psikotis dengan individu yang normal menunjukkan bahwa penderita psikotis mendapatkan indeks komonalitas yang lebih rendah dibanding orang-orang normal. Akan tetapi penggunaan diagnostik teknik asosiasi kata ditolak seiring dengan meningkatnya kesadaran bahwa frekuensi respon juga arnat berbeda-beda tergantung pada usia, tingkat sosioekonomis dan pendidikan, latar belakang regional dan budaya, kreativitas, dan faktor- faktor lainnya. Karenanya, interpretasi yang tepat atas hasil membutuhkan pengumpulan norma pada ban yak subkelompok dan mernperbaharui hal itu secara periodis seiring dengan berkembangnya penggunaan kata. Di samping itu, popularitas konsep psikoanalitik tradisional yang merangsang pengembangan teknik-teknik ini juga hilang, Meskipun demikian tes Kent- Rosanoff tetap mempertahankan posisinya sebagai alat laboratorium standar. Norma-norma tambahan telah dikumpulkan di berbagai negara dan teknik ini digunakan secara ekstensif dalam penelitian pada perilaku verbal dan kepribadian. Teknik proyektiflainnya, yaitu penyelesaian kalimaf, telah digunakan secara luas dalarn praktek penelitian rnaupun klinis. Dalam kaitan dengan panjangnya respon, struktur dan aspek-aspek lainnya, tes-tes penyelesaian kalirnat menernpati bidang tengah antara asosiasi kata dan teknik-teknik tematis. Umurnnya kata-kata pernbukaan, ataukalimat rnemungkinkan variasi penyelesaian yang mungkin yang jumlahnya tak terbatas. Contohnya antara lain:
40

:

:

.

. . ;..':

',.:."

.....

Ambisi saya ...; Wanita ...; Yang saya risaukan ...; Ibu saya .... Bentuk kalimat kerap kali dirumuskan sedemikian rupa untuk membangkibangkan respon yang relevan bagi domain kepribadian yang sedang diteliti. Keluwesan teknik penyelesaian kalimatini menggambarkan salah satu keuntungannya bagi maksud klinis dan riset. Namun demikian bentuk-bentuk standar tertentu telah diterbitkan untuk penerapan yang lebih umum. Contoh yang lebih luas digunakan adalah Rotter Incomplete Sentences Blank (RISBRotter & Rafferty, 1950), yang terdiri dari 40 bentuk kalimat. Petunjuk pada peserta tes adalah sebagai berikut: Lengkapilah kalimat-kalimat ini untuk mengungkapkan perasaan Anda yang sesungguhnya. Coba selesaikan satu demi satu. Pastikan Anda melengkapi kalimat itu . Tiap penyelesaian dinilai berdasarkan skala 7- poin menurut taraf penyesuaian atau salah penyesuaian yang diindikasikan. Penyelesaian ilustratifyang berhubungan dengan tiap penilaian diberikan dalam buku panduan. Dengan bantuan respon-respon spesimen ini, penentuan skor yang cukup obyektif dimungkinkan. Jumlah nilai -nilai individual menyajikan skor penyesuaian total yang bisa digunakan untuk maksud penyaringan. lsi respon bisa juga diuji secara klinis untuk mendapatkan isyarat-isyarat diagnostik yang lebih spesifik. Buku panduan RISB yang baru direvisi mencakup informasi normatif yang diperbaharui dan tinjauan studi penelitian yang dilaksanakan sejak tahun 1950. Banyak tes penyelesaian kalimat lainnya telah dikembangkan untuk penaksiran atas populasi target yang berbeda dan untuk berbagai penelitian serta penggunaan psikodiagnostik (untuk deskripsi berbagai instrumen tradisional). Sejumlah tambahan baru yang menarik pada ketidakmampuan, untuk memprediksi efektivitas manajerial, dan untuk menaksir konstruk-konstruk, seperti misalnya mekanisme pertahanan diri, yang bisa relevan dalam penaksiran kepribadian.
E. INGATAN-INGATAN OTOBIOGRAFIS

Salah satu dari perkembangan yang paling baru dan menjanjikan dalam bidang teknik verbal proyektif adalah bangkitnya kembali minat dalam penggunaan ingatan-ingatan otobiografis untuk penaksiran kepribadian. Menganalisis ingatan-ingatan, terutama yang berasal dari kehidupan awal, dalam rangka memahami konflik yang muncul kembali atau yang tak dapat dilacak dalam kehidupan di kemudian hari tentu saja merupakan hal pokok dalam psikoterapi psikodinamis sejak zaman Freud. Di samping itu Alfred Adler, salah satu pengikut Freud yang utama yang juga berusaha menemukan sekolah psikologi individualnya sendiri beranggapan bahwa ingatan paling awal secara khusus memegang kunci dalam pemahaman "gaya hidup" individu. Akibatnya, para psikolog Adlerian telah menggunakan ingataningatan awal sebagai alat-alat klinis dan kadang-kadang dalam penelitian, sejak tahun 1930an. Teoretisi lainnyajuga telah mengakui peran sentral yang dimainkan oleh ingatan- ingatan otobiografis - biasanya dilihat lebih sebagai konstruksi atau proyeksi daripada sebagai keterangan historis sesunggubnya - dalam perkembangan kepribadian. Akan tetapi pada umumnya, setelah munculnya minat dalam peri ode awal abad dua puluh, sumber informasi yang nampak vital ten tang kepribadian ini tidak secara konsisten atau sistematik dijelajahi hingga belakangan ini.

41

Sejak awal 1980-an, sebagai akibat pengaruh sudut pandang kognitif dalam psikologi, ada pembaruan minat dalam hal ingatan otobiografis, pada umumnya dan pada fungsi khususnya dalam organisasi kepribadian. Karya Arnold R. Bruhn amatlah menonjol dalam bidang ini. Setelah meninjau model-model yang sebelumnya diterapkan oleh para pengikut Freud, Adler, dan para psikolog ego pada interpretasi atas ingatan-ingatan awal, dia mengajukan suatu kerangka konseptual baru dan juga cara yang lebih sistematik untuk menggunakan interpretasi itu. Dalam teori kognitif perseptual Bruhn, ingatan-ingatan otobiografis atau autobiographical memories (EMs) memainkan peranan sentral pada pemahaman tes kepribadian. Dengan demikian, pengembangan metode standar untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan ingatan-ingatan tersebut merupakan salah satu prioritas Bruhn. Early Memories Procedure (EMP) adalah instrumen menggunakan kertas dan pensil yang dijalankan sendiri. Instrumen ini menjadikan sebagai sampel 21 ingatan otobiografis dari keseluruhan rentang kehidupan, bukan hanya masa kanak-kanak. Bagian pertama prosedur itu menghendaki agar enam ingatan umum atau "spontan", dibatasi terutama oleh kerangka waktu yang spesifik (misalnya, kelima ingatan paling dini dan ingatan seumur hidup yang amat penting); bagian keduanya terdiri dari 15 ingatan spesifik atau "diarahkan" yang menjelajahi berbagai peristiwa dan wilayah yang berbeda yang secara klinis bisa relevan (misalnya ingatan traumatis, ingatan hukuman pertama seseorang, atau ingatan paling bahagia seseorang). Di samping deskripsi naratif tiap ingatan, EMP mencakup berbagai penyelidikan yang berhubungan dengan kejernihan, nada perasaan, makna, dan berbagai unsur lain dari ingatan. Bruhn mempertimbangkan EMs dari peristiwa- peristiwa tertentu sebagai - cerita atau metafora - yang mencerminkan apa yang secara sadar dipelajari atau diintuisikan dari pengalaman hidup orang.lajuga yakin bahwa cerita-cerita ini kerap kali tidak akurat atau menyimpang tetapi mempertahankan bahwa kebenaran cerita-cerita itu tidaklah bersifat material untuk maksud klinis karena sebagaimana halnya produksi proyektif lainnya, nilai EMs terletak dalam kekuatannya untuk menyingkapkan keprihatinan, sikap, keyakinan, dan keadaan afektif sekarang ini. Meskipun Bruhn dan rekan-rekannya telah merancang dan merevisi Comprehensif Early Memories Scoring System (CEMSS), pendekatan Bruhn pada penentuan skor dan interpretasi atas ingatan-ingatan otobiografis cukup fleksibel. Ia memandang EMs sebagai fenomena psikologis kompleks yang penjelasannya bisa menuntut model teoretis yang berbeda dan karenanya, sistem penentuan skoryang berbeda, Sesungguhnyaia menghancurkan pengembangan sistem penentuan skor yang disesuaikan atau sistem "boutique", yang didasarkan pada aspek- aspek yang secara empiris diobservasi atas EMs dari berbagai kelompok kriteria untuk maksud pembuatan prediksi khusus. Bruhn dan rekan kerjanya telah mendapatkan data yang menjanjikan dengan sistem-sistem penentuan skor yang dirancang untuk memprediksi kerentanan pada pelanggaran dan kekerasan. EMP jelas merupakan sebuah teknik yang masih dalam proses perkembangan. Tak ada karya normatif apa pun yang dijalankan. Meskipun tingkat kesepakatan antar penilaian yang memadai telah diperoleh dengan beberapa kategori penentuan skor yang telah dirancang oleh Bruhn dan rekan-rekannya, tidak banyak bukti empiris tentangjenis kehandalan (reliabilitas)

42

.-

'"

::.:.~:. :.~~~;':: ..:~''''.:-.-'. ::;" ..:..-;" ::.....~-. :.:-:'.:.:.~:::"""': :.:v.~~.: :- '~'- .:. ..;.:.~:'-: .

lainnya pada EMs. Tak diragukan lagi, perolehan data psikometris ini pada EMP bisa merupakan hal yang problematik. Sebagaimana halnya dengan bahan proyektif lainnya, tindakan mengkategorisasikan dan mengkuantifikasi ingatan otobiografis mengakibatkan hilangnya informasi yang bisa bernilai unik dan tepat untuk memahami orang yang sedang diteliti. Meskipun begitu, cara ini memiliki potensi untuk menjadi alat yang amat berguna bagi penaksiran kepribadian, terutama di dalam konteks psikoterapi. Lagi pula, sampelsampel sistematik dari ingatan otobiografis lebih mungkin menjadi signifikan secara klinis dibanding jenis materi verballainnya - seperti misalnya laporan mimpi, sampel percakapan bebas, atau cerita - yang telah digunakan untuk maksud serupa dan dengan cara yang sarna. F. TEKNIK- TEKNIK KINERJA Kategori teknik proyektif yang luas dan tak berbentuk terdiri dari banyak ungkapan diri yang relatifbebas. Salah satu ciri khas dari semua teknik ini adalah bahwa teknik-teknik ini telah digunakan sebagai prosedur terapeutik dan juga prosedur diagnostik. Melalui kesempatan ungkapan diri yang dimungkinkan oleh aktivitas-aktivitas ini, diyakini bahwa individu tidak hanya mengungkapkan kesulitan emosionalnya melainkan juga meredakannya. Metodemetode yang paling sering digunakan dalam kategori ini adalah menggambar dan berbagai jenis teknik bermain, termasuk penggunaan mainan secaradramatis. Tidaklah mengherankan, sebagian terbesar metode ini secara khusus dirancang untuk penaksiran anak-anak meskipun dalam banyak hal metode ini juga bisa digunakan pada orang dewasa.

1. Teknik-teknik Menggambar
Meskipun hampir tiap medium seni, teknik, dan jenis persoalan telah diteliti dalam usaha mencari isyarat diagnostik yang penting dalam evaluasi atas kepribadian, perhatian khusus telah dipusatkan pada tindakan menggambar bentuk manusia. Contoh awal yang terkenal adalah Machover Draw-a-Person Test (D-A-P-Machover, 1949). Dalam tes ini, individu diberi pensil dan kertas untuk "menggambar orang". Setelah menyelesaikan gambar pertamanya, ia diminta untuk menggambar orang dari jenis kelamin yang berlawanan - atau jenis kelamin yang berbeda - dari gambar pertamanya. Sementara responden menggambar, penguji memperhatikan komentarnya, urutan penggambaran bagian-bagian yang berbeda, dan rincian proseduralnya. Penggambaran ini biasanya diikuti dengan rangkaian pertanyaan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang umur, sekolah, pekerjaan, dan fakta-fakta lain yang berhubungan dengan karakter yang digambar. Penyelidikan ini'bisa berupa permintaan pada responden untuk menyusun suatu cerita tentang tiap orang yang digambar. Interpretasi atas D-A-P sebagaimana dikemukakan Machover pada dasarnya bersifat kualitatif dan banyak mengandung generaiisasi yang didasarkan pada indikator-indikator tunggal seperti misalnya "Kepala yang besarnya tidak proporsional kerap kali akan ditemukan pada individu yang menderita penyakit otak organik". Meskipun rujukan dibuat pada "ribuan gambar" yang diuji dalam konteks klinis, dan beberapa kasus terseleksi disinggung untuk maksud ilustratif, tidak ada presentasi data sistematik satu pun yang menyertai laporan tes asli yang diterbitkan. Di samping itu, studi validasi selanjutnya oleh para peneliti lainnya pada umumnya gagal memberikan dukungan pada interpretasi diagnostik Machover. 43

"':.;.::':.::".

...

' ..... ,' " :~5.:,·':":::"?:?t:t=~**'~ift~::·>~:-;·-:·:.:.;·:;:·~~~~'··:· :::.;.... ::. ;.;..... - :',::

Metode lain untuk menggunakan gambar bentuk manusia atau human figure drawings (HFDs) anak -anak dan remaja - yang didasarkan pada landasan empiris yang lebih kuat - telah dirancang oleh Koppitz. Sebagai hasil dari keyakinannya dalam penggunaan klinis HFDs untuk menaksir anak -anak, Koppitz mengembangkan dan membakukan dua sistem penentuan skor obyektif yang menggunakan gambar yang dihasilkan oleh 1856 anak-anak sekolah negeri dengan usia 5 sampai 12 tahun. Salah satu dari sistem itu, yang didasarkan terutama pada Goodenough-Harris Drawing Test dan pada pengalaman klinis Koppitz sendiri, menggunakan HFDs sebagai tes perkembangan kematangan mental. Yang kedua, berasal dari karya Machover dan lain-lain, adalah tes proyektif sikap dan keprihatinan antarpribadi anak-anak. Metode kedua ini terdiri dari 30 "indikator emosional" yang membedakan antara gambaran anak-anak dengan dan anak-anak tanpa masalah emosional. Indikator- indikator ini jarang muncul di antara anak-anak normal dalam sampel itu, dan berbeda dari rangkaian perkembangan, agaknya tidak terkait dengan umur dan tingkat kematangan. Indikatorindikator ini mencakup (a) tanda-tanda kualitas, seperti misalnya transparansi dan pembentukan bayangan pada wajah; (b) segi-segi khusus, seperti misalnya kepala yang keeil atau gambar yang besar sekali; dan (e) dihilangkannya butir-butir soal tertentu yang diharapkan, seperti misalnya leher atau mata. Beberapa sifat jumlahan dari HFDs, seperti misalnya keanehan atau jumlah total "indikator-indikator emosional", kelihatannya membedakan antara anak -anak yang memiliki masalah dan anak-anak yang bisa menyesuaikan diri dengan baik. Akan tetapi, baik Koppitz dan para peneliti lainnya telah mengingatkan agar berhati-hati terhadap penggunaan indikatorindikator atau "tanda-tanda" tunggal untuk maksud-maksud diagnostik. Konsensus yang menyangkut HFDs adalah bahwa gambar bentuk manusia hanya bisa memberikan gagasan sangatumum tentang tingkat penyesuaian emosional anak-anak. Lagi pula sejauh menyangkut penerapan diagnostik, kebanyakan ahli setuju bahwa gambar-gambar seharusnya digunakan hanya untuk melahirkan hipotesis dan harus diinterpretasikan dalam konteks informasi lain tentang individu. Meskipun ada pembatasan dan peringatan ini, popularitas gambar bentuk manusia tetap tidak terhambat dan sesungguhnya, berbagai tugas gambar tambahan telah diraneang. Salah satu yang paling luas digunakan adalah teknikHouse- Tree-Person (H-T -P), yang sebagaimana disiratkan oleh namanya meminta responden untuk melengkapi gambar-gambar rumah, pohon, dan orang yang terpisah. Ciri-ciri dan segi-segi gambar itu sendiri bersama dengan penelitian yang eukup ekstensif setelah tugas gambar, umumnya digunakan sebagai sumber hipotesis tentang area konflik dan keprihatinan umum. Teknik lebih baru yang kelihatannya memiliki potensi yang luar biasa sebagai instrumen klinis adalah Kinetic Family Drawing (KFD). Tes ini meminta anak-anak untuk melukis gambar setiap orang di dalam keluarga mereka, termasuk diri mereka sendiri dalam keadaan sedang "melakukan sesuatu". KFD telah membangkitkan sejumlah besar penelitian; dalam tinjauan mutakhir atas kepustakaan ini, Handler dan Habenicht (1994) menyatakan bahwa meskipun ada masalah metodologis dalam penelitian yang telah dilakukan pada teknik ini, terdapat sejumlah temuan yang menjanjikan yang menjamin usaha lebih jauh dengan analisis yang lebih canggih, seperti misalnya regresi majemuk. Jarak dan kadar interaksi di antara bentuk-bentuk dalam KFD
44

.....'.

':., •

":' :"':': ";"'!. :,.::... .::::;.'.,:;:"~,,::.:,,.;:;:~::::;.: .'

misalnya, nampaknya gambar-gambar itu. Tugas-tugas yang bersama (kolaboratif) menyelesaikan sebuah lebih yang mengamati inspirasinya dari KFD

merupakan segi-segi yang secara psikologis paling bermakna dari lebih imajinatif terus dirancang. Contohnya teknik menggambar secara harafiah menuntut seluruh keluarga, atau pasangan untuk gambar tunggal secara kooperatif sementara ada satu terapis atau dari dekat perilaku para peserta. Teknik interaktif ini mendapatkan dan digunakan terutama dalam konteks terapi keluarga.

2. Teknik Permainan dan Tes Mainan
Berbagai jenis teknik permainan dan tes-tes mainan yang melibatkan obyek-obyek seperti misalnya wayang, boneka, dan miniatur, telah digunakan secara luas dalam testing proyektif. Berasal dari terapi mainan dengan anak-anak, materi-materi ini selanjutnya dikembangkan untuk digunakan pada testing diagnostik pada orang dewasa maupun anak-anak. Di antara hal-hal yang paling sering digunakan untuk maksud ini adalah misalnya boneka yang menggambarkan orang dewasa dan anak-anak dari keduajenis kelamin, binatang, perabot, kamar mandi, dan dapur, serta perabotan rumah tangga lainnya. Scenotes terdiri dari seperangkat standar peralatan jenis ini dan buku pegangan pendamping. Scenotes diterbitkan di Swis pada tahun 1960-an dan belakangan ini tersedia di Amerika Serikat. Bermain dengan hal-hal semacam ini diharapkan bisa mengungkapkan sikap anak terhadap keluarganya, persaingan sebayanya, ketakutannya, agresivitasnya, konfliknya, dan sebagainya. Penguji memperhatikan butir soal apa yang dipilih oleh anak itu dan apa yang ia lakukan dengan butir soal itu dan juga pengungkapan verbal anak, ungkapan emosionalnya, serta perilaku terselubung lainnya. Pada anak-anak, penguji hanya menyediakan koleksi mainan untuk permainan bebas. Pada orang dewasa, materi yang disajikan bersama dengan instruksi umum untuk menjalankan suatu tugas yang bersifat amat tak terstruktur. Tentu saja, instruksi-instruksi ini bisa juga digunakan pada anak -anak. Seringkali tug as itu memiliki segi-segi dramatis, seperti mengatur bentuk-bentuk di panggung miniatur. Materi untuk Scenotes misalnya, terdapat dalam kotak ceper yang dapat dibawa-bawa, yang memiliki penutup sehingga bisa digunakan sebagai "panggung" dengan berbagai bentuk dan asesori. Teknik-teknik permainan untuk diagnosis dan penaksiran anak-anak telah dikatalogkan dalam volume yang komprehensif sebagaimana disunting oleh Schaefer, Gitlin, dan Sandgrund (1991). Di samping alat-alat proyektif, seperti misalnya teknik-teknik boneka wayang, karya ini mendeskripsikan pilihan skala permainan yang luas untuk penaksiran atas masalahmasalah spesifik - mulai dari autisme sampai pada hiperaktivitas - dan untuk evaluasi perkembangan atas bidang-bidang seperti misalnya kompetensi, motivasi penguasaan dan temperamen anak-anak. Juga termasuk di situ adalah skala untuk digunakan dalam terapi permainan dan untuk menilai interaksi anak-orang tua dan kawan sebaya. Sebagaimana diakui oleh Schaefer dan rekan-rekan kerjanya, banyak teknik yang mereka kemukakan di sini masih dalam tahap-tahap awal perkembangan. Meskipun begitu, berbagai pendekatan yang berhasil mereka kumpulkan mencakup ukuran yang cemerlang dan menawarkan

45

.....

metode observasi formal yang amat terstruktur yang paling cocok untuk penelitian dan juga instrumen berorientasi klinis.

LA TIHAN SOAL 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jelaskan sifat teknik-teknik proyektif! Jelaskan teknik noda tinta Rorschach! Jelaskan sistem komprehensif Exner! Jelaskan teknik noda tinta Holtzman (Holtzman Inkblot Technique) ! Sebutkan dan jelaskan teknik-teknik gambar (picforial} ! Jelaskan teknik-teknik verbal! Sebutkan dan jelaskan teknik -teknik kinerja!

46

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful