P. 1
definisi eliminasi

definisi eliminasi

|Views: 1,986|Likes:
Published by Fahmi Al Faris

More info:

Published by: Fahmi Al Faris on Jun 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2013

pdf

text

original

] \DEFINISI GANGGUAN ELIMINASI

DEFINISI GANGGUAN ELIMINASI

Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses). Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya proses eliminasi urine adalah ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu : Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua yaitu timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk berkemih. Meskipun refleks miksi adalah refleks autonomik medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak. Kandung kemih dipersarafi araf saraf sakral (S-2) dan (S-3). Saraf sensori dari kandung kemih dikirim ke medula spinalis (S-2) sampai (S-4) kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf pusat. Pusat miksi mengirim signal pada kandung kemih untuk berkontraksi. Pada saat destrusor berkontraksi spinter interna berelaksasi dan spinter eksternal dibawah kontol kesadaran akan berperan, apakah mau miksi atau ditahan. Pada saat miksi abdominal berkontraksi meningkatkan kontraksi otot kandung kemih, biasanya tidak lebih 10 ml urine tersisa dalam kandung kemih yang diusebut urine residu. Pada eliminasi urine normal sangat tergantung pada individu, biasanya miksi setelah bekerja, makan atau bangun tidur., Normal miksi sehari 5 kali. Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh yang normal.

Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh yang lain. Karena fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan masing-masing orang berbeda. Klien sering meminta pertolongan dari perawat untuk memelihara kebiasaan eliminasi yang normal. Keadaan sakit dapat menghindari mereka sesuai dengan program yang teratur. Mereka menjadi tidak mempunyai kemampuan fisik untuk menggunakan fasilitas toilet yang normal ; lingkungan rumah bisa menghadirkan hambatan untuk klien dengan perubahan mobilitas, perubahan kebutuhan peralatan kamar mandi. Untuk menangani masalah eliminasi klien, perawata harus mengerti proses eliminasi yang normal dan faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi Diposkan oleh kerrieQey di 21.40

pengertian
Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses). Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya proses eliminasi urine adalah ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu : Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua yaitu timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk berkemih. Meskipun refleks miksi adalah refleks autonomik medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak.

Kandung kemih dipersarafi araf saraf sakral (S-2) dan (S-3). Saraf sensori dari kandung kemih dikirim ke medula spinalis (S-2) sampai (S-4) kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf pusat. Pusat miksi mengirim signal pada kandung kemih untuk berkontraksi. Pada saat destrusor berkontraksi spinter interna berelaksasi dan spinter eksternal dibawah kontol kesadaran akan berperan, apakah mau miksi atau ditahan. Pada saat miksi abdominal berkontraksi meningkatkan kontraksi otot kandung kemih, biasanya tidak lebih 10 ml urine tersisa dalam kandung kemih yang diusebut urine residu. Pada eliminasi urine normal sangat tergantung pada individu, biasanya miksi setelah bekerja, makan atau bangun tidur., Normal

miksi sehari 5 kali. Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi.

Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh yang normal. Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh yang lain. Karena fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan masing-masing orang berbeda. Klien sering meminta pertolongan dari perawat untuk memelihara kebiasaan eliminasi yang normal. Keadaan sakit dapat menghindari mereka sesuai dengan program yang teratur. Mereka menjadi tidak mempunyai kemampuan fisik untuk menggunakan fasilitas toilet yang normal ; lingkungan rumah bisa menghadirkan hambatan untuk klien dengan perubahan mobilitas, perubahan kebutuhan peralatan kamar mandi. Untuk menangani masalah eliminasi klien, perawata harus mengerti proses eliminasi yang normal dan faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi Gangguan eliminasi adalah suatu gangguan yang terjadi pada anak yang tidak dapat mengendalikan tingkah laku yang seharusnya sudah dapat dikendalikan sesuai tingkatan umurnya. Gangguan ini sangat menganggu orang dewasa dan orang-orang disekitarnya. Macam-macam gangguan eliminasi antara lain Enurasis dan Enkopresis. Berikut ini beberapa diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan eliminasi:
1. Bowel incontinence (p. 22) atau inkontinensia alvi/faeces. Perubahan pola kebiasaan defekasi. Bisa diakibatkan oleh diare kronis, pola makan, immobilisasi, stres, pengobatan, kurang kebersihan pada saat toileting, dll. Bedakan dengan diagnosis “Diare”. Pada diagnosis ini, faeces biasa, hanya polanya saja yang berubah. Misalnya rutin sehari sekali, karena faktorfaktor yang berhubungan, menjadi dua atau tiga hari sekali. 2. Diarrhea (p. 71) atau diare. Data utamanya adalah faeces tidak berbentuk sampai dengan cair. Indokator utamanya adalah buang air besar (cair) minimal tiga kali dalam satu hari. Hasil auskultasi abdomen, kram perut dan nyeri perut merupakan tanda-gejala yang lainnya. Faktor yang

berhubungan dibagi menjadi tiga kelompok; fisiologis, psikologis dan situasional. Misalnya karena kecemasan, tingkat stres tinggi, proses peradangan, iritasi, malabsorpsi, keracunan, perjalanan jauh, konsumsi alkohol dan pengaruh radiasi. 3. Impaired urinary elimination (p. 234) atau gangguan eliminasi urin. Karakteristiknya: disuria, frekuensi buang air kecil meningkat, hesitansi, inkontinensia, nokturia. Di NANDA memang agak sedikit rancu. Salah satu karakteristik yang disebutkan untuk diagnosis ini adalah “retention”. Padahal sudah ada diagnosis “Retensi urine”. Sehingga disarankan kalau pasien memang mengalami retensi urin, langsung diangkat saja menjadi diagnosis “Retensi urin”. Untuk mengangkat diagnosis keperawatan “Gangguan eliminasi urin”, perlu dijelaskan gangguan yang mana. Jika pasien mengeluh sering terbangun untuk kencing di malam hari, maka bisa diambil “Gangguan eliminasi urin: nokturia”. Jika pasien beser (buang air kecil tidak terkontrol dan terus menerus), bisa diangkat menjadi “Gangguan eliminasi urin: inkontinensia”. Dan seterusnya, sesuai data yang diperoleh dari pengkajian. 4. Readiness for enhanced urinary elimination (p. 235) atau potensial peningkatan eliminasi urine (diagnosis sejahtera). 5. Urinary retention (p. 236) atau retensi urin. Tidak dapat mengosongkan urin secara lampias. Karakteristiknya: palpasi blader terasa tegang, sakit saat buang air kecil, sampai dengan tidak keluarnya urin sama sekali. Faktor yang berhubungan: kekuatan spincter, tekanan tinggi pada uretral dan adanya hambatan (harus dibuktikan dengan adanya hasil pemeriksaan). 6. Constipation (p. 44) atau konstipasi 7. Perceived constipation (p. 46) atau perkiraan konstipasi (klien mendiagnosis dirinya sendiri menderita konstipasi, biasanya faktor yang berhubungan adalah kepercayaan budaya, kepercayaan keluarga, pemahaman yang salah atau gangguan proses pikir) 8. Risk for constipation (p. 47) atau resiko konstipasi.

Pengobatan dan Prognosis Gangguan Eliminasi Sebagian besar anak mengatasi gangguan eliminasi mereka berhasil pada saat mereka remaja, dengan pengecualian anak-anak yang eliminasi gangguan adalah gejala gangguan kejiwaan lainnya.

Encopresis diperlakukan dengan pelunak tinja maupun pencahar dan dengan membentuk pola evakuasi usus teratur. Enuresis diperlakukan dengan modifikasi perilaku termasuk mengubah kebiasaan toilet malam hari. Yang paling mahal dan paling efektif metode adalah dengan memiliki anak tertidur pada pad khusus yang memicu alarm bila pad menjadi basah. This wakes the child and allows him to finish relieving in the toilet. Hal ini membangunkan anak dan memungkinkan dia untuk menyelesaikan relieving di toilet. Akhirnya ia terbangun tanpa bantuan sebelum pembasahan. Obat juga dapat membantu dalam perawatan enuresis, meskipun kambuh sering terjadi setelah mereka harus berhenti. Psikoterapi biasanya tidak diperlukan, meskipun mungkin bermanfaat untuk anak-anak yang mengembangkan perasaan malu yang berhubungan dengan gangguan eliminasi mereka. Dewasa dapat membantu anak menghindari rasa malu dan malu dengan memperlakukan eliminasi kecelakaan mater tanpa basa-basi dan ramah. Anak-anak dengan gangguan eliminasi sukarela diperlakukan untuk masalah psikiatri didiagnosis berkaitan dengan gangguan eliminasi menggunakan modifikasi perilaku, obat, dan intervensi psikiatris lainnya. Asosiasi Psikiater Amerika mengakui gangguan eliminasi ada dua, encopresis dan enuresis. Encopresis adalah gangguan eliminasi yang melibatkan berulang kali setelah buang air besar di tempat-tempat yang tidak tepat setelah usia ketika kontrol usus biasanya diharapkan. Encopresis juga disebut inkontinensia fecal,. Enuresis lebih umum disebut mengompol, adalah sebuah gangguan eliminasi yang melibatkan pelepasan urin ke selimut, pakaian, atau tempat yang tidak pantas lainnya. Kedua gangguan ini dapat terjadi pada siang hari (diurnal) atau pada malam hari (nokturnal). Mereka mungkin sukarela atau paksa dan. Encopresis enuresis dapat terjadi bersama-sama, meskipun paling sering terjadi secara terpisah. Eliminasi gangguan dapat disebabkan oleh kondisi fisik, efek samping obat, atau kelainan jiwa. Adalah jauh lebih umum untuk gangguan eliminasi disebabkan oleh kondisi medis daripada psikiatris. Dalam kebanyakan kasus di mana penyebabnya adalah medis, kekotoran ini tidak disengaja. Ketika penyebab adalah jiwa, kekotoran mungkin disengaja, tetapi tidak selalu begitu. Pengertian Enuresis ( gangguan eliminasi )

Secara luas diketahui bahwa bayi tidak dapat mengendalikan kandung kemih atau saluran pembuangan. Seiring bertambahnya usia maka tidak dapat dihindari untuk mulai melakukan latihan buang air di toilet. Beberapa anak belajar menggunakan toilet pada usia 18 bulan, yang lainpada usia 30 bulan, dan sebagainya. Pada usia berapanormalnya seorang anak sudah harus mampu mengeridalikan kandung kemihnya? Jawabannya, ditentukan oleh norma-norma budaya dan statistik, agak tidak pasti. DSM-lV-TR dan berbagai sis tern klasifikasi lainnya membedakan anak-anak yang mengompol ketika tidur—disebut enuresis nokturnal, anak-anak yang mengompol ketika bangun—disebut enuresis diurnal, dan anak-anak yang mengompol di siang dan malam hari. Pengendalian di slang han dikuasai Iebih dahulu karena pengendalian kandung kemih jauh lebih mudah saat seorang dalam keadaan tenjaga. Bila seorang anak tentinggal dan anak-anak seusianya dalam pengendalian kandung kemih, biasanya hal itu terkait pengendalian pada jam-jam tidur di malam han. DSM-IV-TR memperkirakan bahwa pada usia 5 tahun, 7 persen anak lakilaki dan 3 persen anak perempuan masih mengompol; pada usia 10 tahun, 3 persen anak laki-laki dan 2 persen anak perempuan; dan pada usia 18 tahun, 1 persen remaja laki-laki dan kurang dan 1 persen remaja perernpuan. Di Amerika Serikat diagnosis enuresis nokturnal tidak ditegakkan, menurut DSM-IV-TR, hingga si anak berusia 5 tahun. Penyebab Enuresis ( gangguan eliminasi ) Sebuah temuan konsisten mengenai enuresis menyatakan bahwa kemungkinan seorang anak enuretik memiliki kerabat tingkat pertama yang juga mengompol sangat tinggi, mendekati 75 persen (Bakwin, 1973). Sebuah studi baru-baru mi di Denmark untuk pertama kalinya menunjukkan keterkaitan genetik langsung dalam mengompol di malañi harm; suatu bagian kromosom 13 tampaknya mengandung gen bagi enuresis nokturnal (Eiberg, Berendt, & Mohr, 1995). Sebanyak 10 persen dan seluruh kasus enuresis disebabkan oleh kondisi medis murni, seperti infeksi saluran unin, penyakit ginjal kronis, tumor, diabetes, dan kejang (Kolvin, McKeith, & Meadows, 1973; Stansfield, 1973). Karena banyaknya insiden penyebab fisiologis enuresis, sebagian besar profesional merujuk pasien enuretik ke dokter sebelum memberikan penanganan psikologis. Pengendalian kandung kemih, yaitu penghambatan suatu refleks alami hingga berkemih dengan

sengaja dapat dilakukan, merupakan keterampilan yang sangat kompleks. Bukti-bukti medis mengenai aktivitas otototot panggul bawah mendukung pemikiran bahwa anak-anak yang mengompol tidak dapat melakukan kontraksi spontan pada otot-otot tersebut di malam hari (Norgaard, 1989a, 1989b). Beberapa teori psikologis menganggap enuresis sebagai suatu simtorn gangguan psikologis yang lebih umum, seperti kecernasan. Meskipun demikian, banyak peneliti berpendapat bahwa masalah seperti kemarahan dan kecemasan merupakan reaksi atas rasa malu dan rasa bersalah karena mengompol, bukan sebagai penyebab enuresis. Para teoris pembelajaran berpendapat bahwa anak-anak mengompol karena mereka tidak belajar untuk terbangun di malam han sebagai respons yang dikondisikan atas penuhnya kandung kemih atau untuk menghambat relaksasi otot lingkar yang mengendalikan urinasi (Walker, 1995). Penanganan Enuresis ( gangguan eliminasi ) Penanganan rumahan untuk mengompol telah melebar dan sekadar membatasi asupan cairan hingga menidurkan anak-anak di atas bola-bola golf atau menggantungkan bukti kesalahan— seprei basah—di jendela (Houts, 1991). Sebagian besar strategi semacam itu tidak efektif. Sama dengan itu, rnenunggu hingga si anak dengan sendirinya tidak lagi mengalami masalah tersebutjuga bukan tindakan yang memuaskan. Hanya sekitar 15 persen anak-anak enuretik berusia antara 5 hingga 19 tahun yang menunjukkan kesembuhan spontan dalarn waktu satu tahun (Forsythe & Redmond, 1974). Dua macam penanganan yang paling banyak digunakan yang dirujuk oleh profesional adalah pemberian obat atau sistem alarm urin. Penanganan yang disebutkan terakhir pertarna kali muncul pada tahun 1938, ketika Mowrer dan Mowrer memperkenalkan lonceng dan bantalan. Selama bertahun-tahun penanganan mi telah terbukti sangat berhasil mengurangi atau menghentikan mengompol. Diperkirakan 75 persen anak-anak enuretik mampu tidak mengompol sepanjang malam karena bantuani alat yang sangat sederhana ini. Sebuah lonceng dan sebuah baterai tersambung dengan kabel ke sebuah bantalan yang terdiri dan dua lembar kertas metalik, lembar di bagman atas berlubanglubang, dan di antara kedua lembaran tersebut terdapat selapis kain penyenap (Gambar 15 a). Bantalan tensebut dimasukkan ke dalam sarung bantal dan diletakkan di bawah tubuh si anak ketika tidur. Ketika tetesan pertama urine, yang berfungsi sebagal elektrolit, membasahi kain, sirkuit elektris akan

tersambung di antara kedua lembar kertas. Tersambungnya sirkuit tersebut akan membunyikan lonceng atau alarm, yang segera membangunkan si anak atau tidak lama setelah mulai mengompol. Si anak umumnya kemudian berhenti berkemih, mematikan alat tersebut, dan pergi ke kamar mandi. Mowrer dan Mowrer (1938) menganggap lonceng dan bantalan tersebut sebagai prosedur pengondisian kiasik di mana suatu stimulus tak terkondisi, yaitu lonceng, menyebabkan si anak terjaga, yang merupakan respons tak terkondisi. Lonceng tersebut dipasangkan dengan sensasi penuhnya kandung kemih sehingga sensasi tersebut akhirnya menjadi stimulus terkondisi yang menghasilkan respons terkondisi dalam bentuk si anak terjaga sebelum lonceng berbunyi. Ahli yang lain mempertanyakan teori pengondisian klasik, dan berpendapat, dalam istilah pengondisian operant, bahwa lonceng tersebut, yang membuat si anak terbangun, berfungsi sebagai hukuman sehingga mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki, yaitu mengompol (Walker, Milling, & Bonner, 1988). Dalam praktiknya lonceng tersebut biasanya juga membangunkan orang tua si anak; reaksi mereka dapat berfungsi sebagai insentif tambahan bagi si anak untuk tidak mengompol. Metode lain yang menggunakan pendekatan pengondisian operant lanpa bantuan alarm urin tidak seberhasil metode dengan alarm tersebut (Houts, 2000; Houts, Berman, & Abramson, 1994). Di sisi lain, keberhasilan yang lebih besar dapat dicapai dengan memberi tambahan pada prosedur alarm urine dasar, seperti minum dalamjumlah yang lebih banyak selama beberapa malam berturut-turut sebelum waktu tidur (agar si anak terbiasa menahan cairan di kandung kemih tanpa mengompol) dan memastikan bahwa si anak terbangun dan mengganti seprei setiap kali alarm berbunyi (untuk menambah konsekuensi negatif mengompol) (Barclay & Houts, 1995; Mellon & Houts, 1998). Alarm urine yang terbaru dipakai di tubuh dan lebih andal dibanding bantalan ash yang diletakkan di kasur. Pendekatan yang lain adalah penanganan farmakologis. Sekitar sepertiga pasien enuretik yang berupaya mendapatkan bantuan profesional diberi resep obat, seperti obat antidepresan imipramin (Tofranil) dan, baru-baru mi, desmopresin, yang meningkatkan penyerapan air dalam gmnjal. Pemberian obat semacam itu memberikan hasil dengan cara mengubah reaktivitas otot yang digunakan dalam berkemih (imiprammn) atau dengan mengonsentrasikan urine dalam kandung kemih (desmopresin). Meskipun efek positif biasanya segera terlihat, dalam sebagian besar kasus si anak mengalami kekambuhan segera setelah pemberian obat dihentikan (Houts, 1991), dan efek samping negatif imipramin (masalah tidur, kelelahan, sakit

perut) dapat menjadi masalah. Sekilas tentang Enkopresis ( gangguan eliminasi ) Enkopresis berasal dari bahasa Yunani en- dan kopros, yang artinya “feses”. Enkopresis (encopresis) adalah kurangnya kontrol terhadap keinginan buang air besar yang bukan disebabkan oleh masalah organik. Anak harus memiliki usia kronologis minimal 4 tahun, atau pada anak- anak dengan perkemabangan yang lambat, usia mentalnya minimal 4 tahun (APA, 2000). Sekitar 1% dari anak- anak usia 5 tahun mengalami enkopresis. Seperti halnya enuresis, gangguan ini lebih umum terjadi pada anak laki- laki. Enkopresis jarang terjadi pada remaja usia pertengahan kecuali mereka yang mengalami retardasi mental yang parah atau intens. Soiling (mengotori) dapat dilakukan secara sengaja maupun tidak dan bukan disebabkan oleh maslah organik, kecuali pada kasus dengan konstipasi (APA, 2000). Faktor- faktor predisposisi yang mungkin di antaranya adalah toilet training yang tidak konsisten atau tidak lengkap dan sumber stresspsikologis, seperti kelahiran saudara sekandung atau mulai bersekolah. Bila BAB tidak disengaja, biasanya terkait dengan konstipasi, impaction (jepitan), atau retensi (penahanan) yang mengakibatkan penegeluaran beruntun. Konstipasi dapat berhubungan dengan faktor- faktor psikologis, seperti ketakutan yang diasosiasikan dengan BAB di tempat tertentu atau dengan pola perilaku negative atau menetang yang lebih umum. Konstipasi juga dapat terkait dengan faktor- faktor fisiologis seperti komplikasi dari penyakit atau pengobatan. Yang amat jarang terjadi adalah enkopresis yang disengaja. Soiling, tidak seperti enuresis, lebih sering terjadi pada siang hari dibandingkan malam hari. Jadi akan amat memalukan bagi bagi anak. Teman sekelas sering menghindari atau mempermalukan anak dengan enkopresis. Karena tinja memiliki bau yang menyengat, guruguru merasa kesulitan untuk berperilaku seolah- olah tidak terjadi apa pun. Orang tua juga akhirnya sakit hati karena masalah tersebut berulang dan dapat menigkatkan tuntutan mereka terhadap self- control dan pemberian hukuman berat bila terjadi kegagalan. Karena hal- hal tersebut, anak mungkin mulai menyembunyikan pakaian dalam yang kotor. Anak- anak ini membuat jarak dengan teman- temannya atau pura- pura sakit agar bisa tinggal di rumah. Kecemasan mereka sehubungan dengn soiling meningkat. Karena kecemasan (keterangsangan cabang simpatis dari sistem saraf otonom) mendorong BAB, control menjadi lebih sulit.

Metode operant conditioning dapat membantu dalam mengatasi soiling. Di sini diberikan reward (dengan pujian atau cara- cara lain) untuk keberhasilan usaha self- control dan hukuman untuk ketidaksengajaan (misalnya, dengan member peringatan agar lebih memperhatikan rasa ingin BAB dan meminta anak untuk membersihkan pakaian dalamnya). Bila enkopresis bertahan, direkomendasikan evaluasi medis dan psikologis untuk menentukan kemungkinan penyebab dan penanganan yang tepat. Apa si PENYEBAB ENCOPRESIS itu?? ( gangguan eliminasi ) Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab anak mengalami encopresis. Meski begitu, kalau mau dirunut ada beberapa faktor yang “mengontribusi” terjadinya encopresis yaitu: 1. Stres Anak mengalami beban pikiran yang tak terselesaikan. Entah itu masalah di sekolah atau di rumah. Misalnya, masalah pelajaran yang terlalu berat atau lingkungan sekolah yang membuatnya tak nyaman. Permasalahan dengan orang tua, seperti merasa kurang diperhatikan atau kurang kasih sayang, juga dapat menjadi beban pikiran. 2. Kurang aktivitas fisik Anak yang kurang melakukan aktivitas fisik berisiko mengalami encopresis. Sebaiknya di usia sekolah, dimana anak tengah bersemangat melakukan eksplorasi, ia diberi berbagai kegiatan. Tujuannya selain untuk mengantisipasi terjadinya encopresis, juga demi mengembangkan kemampuan dan keterampilannya. 3. Selalu menahan BAB Ada juga beberapa anak yang selalu menahan BAB. Alasannya beragam. Misalnya, anak terlalu asyik melakukan suatu kegiatan sehingga enggan pergi ke toilet. Namun karena rangsangan untuk BAB begitu kuat dan tak bisa ditahan lagi, akhirnya terjadilah encopresis. Sebagian anak menahan BAB karena tak terbiasa menggunakan sarana umum, terutama toilet yang kurang bersih. Misalnya, kamar mandi di sekolah yang ternyata bau dan kotor yang bertolak belakang dengan toilet di rumah yang terjaga kebersihannya. Akhirnya dia memilih menahan BAB ketimbang harus memakai toilet sekolah. Saat si anak tak kuat lagi menahan, terjadilah encopresis. Syukur-syukur kalau ia berterus terang BAB di celana, karena biasanya mereka akan diam seribu basa. Baru ketahuan orang lain setelah tercium aromanya yang tak

sedap. 4. Makanan/Minuman Encopresis juga bisa dipicu oleh asupan makanan yang kurang baik yang menyebabkan gangguan di saluran pencernaan. Misalnya sering menyantap makanan berlemak tinggi, berkadar gula tinggi atau junk food. Minuman yang mengandung banyak gula dan soda juga bisa mencetuskan terjadinya encopresis. 5. Trauma Contohnya, akibat sembelit atau kesulitan mengeluarkan tinja karena keras. Lama-kelamaan anak menjadi trauma karena setiap kali BAB ia merasa sakit. Untuk menghindari rasa sakit itu, ia jadi sering menahan untuk tidak BAB. 6. Obat-obatan Encopresis juga bisa terjadi karena efek obat-obatan yang bisa menyebabkan terhambatnya pengeluaran kotoran. Misalnya, obat batuk yang mengandung zat seperti codein. Encopresis terjadi karena obat tersebut tak cocok atau dipakai dalam jangka panjang. 7. Kegagalan toilet training Pengajaran atau pelatihan buang air (toilet training) yang dilakukan dengan memaksa anak, cepat atau lambat akan menjadi tidak efektif. Begitu pula kalau misalnya anak yang BAB di celana lantas dimarahi orang tua. AKIBAT FISIK-PSIKIS DARI ENCOPRESIS ( GANGGUAN ELIMINASI ) Anak yang mengalami encopresis akan mengalami berbagai masalah emosi, seperti rendah diri, tak mau bersosialisasi atau menarik diri dari pergaulan. Ia juga akan merasa malu, takut dicemooh, atau khawatir dimarahi. Belum lagi secara fisik, anak mengalami nyeri di bagian perut karena berusaha menahan BAB. Akhirnya, kotoran yang harusnya dibuang tetapi tertahan di dalam perut. Dalam beberapa kasus encopresis menyebabkan infeksi pada salurah kemih karena kebiasaan menahan BAB. Ada juga yang mengalami gangguan iritasi kulit atau jamur karena kebersihan tak terjaga. Kalau sudah begitu, anak juga akan kehilangan nafsu makan sehingga rentan sakit. TERAPI dari ENCOPRESIS ( GANGGUAN ELIMINASI )

Penderita encopresis membutuhkan penanganan yang tepat dengan melakukan terapi. Menurut Rini prinsip terapinya adalah konseling atau edukasi pada anak mengenai BAB. Mereka dapat cepat memahami penjelasan yang diberikan mengingat kemampuan kognitif anak seusia ini sudah berkembang. Salah satunya adalah terapi yang bisa dilakukan kalau anak selalu menahan BAB karena merasa jijik dan tak mau masuk ke kamar mandi umum: * Tanamkan bahwa tidak semua kamar mandi umum/sekolah akan resik dan wangi sesuai dengan harapannya. * Sebelum menggunakan toilet umum/sekolah, minta ia membersihkan dengan menyiramnya terlebih dahulu. * Tak ada salahnya anak selalu dibekali tisu, masker, dan pengharum ruangan untuk lebih menyamankannya saat di toilet umum. * Yang pasti, jangan beri anak pembalut untuk mengatasi encopresis-nya. Ini justru tak mendidik. * Jika masalah psikologis anak tampak berat, sampai stres atau trauma misalnya, ada baiknya orang tua dan anak duduk bersama membahas permasalahan yang dihadapi. Jika perlu konsultasikan dengan psikolog. * Terapkan pola makan yang baik dan teratur. Usahakan banyak mengonsumsi makanan berserat, sayuran, buah-buahan, serta susu. Kurangi konsumsi makanan berlemak tinggi, junk food, dan soft drink. * Kepada anak yang selalu merasa nyeri saat mau BAB bisa diberikan obat-obatan untuk pengencer tinja. Namun, penggunaanya harus tetap berdasarkan rekomendasi dokter. * Ajarkan untuk melakukan BAB secara teratur, misalnya pagi atau malam hari. * Yang pasti, anak jangan disalahkan atau dicemooh kalau mengalami encopresis. Mestinya orang tua selalu mendukung dan membantu kesulitan anak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->