P. 1
ISI-K3

ISI-K3

|Views: 187|Likes:
Published by yosirahmadhani

More info:

Published by: yosirahmadhani on Jun 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penggunaan bahan kimia di dalam laboratorium merupakan kegiatan sehari-hari baik untuk analisis, proses sintesa atau ekstraksi bahan alam dan sebagainya. Kecelakaan kimia akibat reaksi kimia yang eksplosif , tumpahan bahan dari kebocoran bahan cair atau gas dapat terjadi setiap saat. Keselamatan kimia merupakan usaha untuk mencegah, mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan di atas. Meskipun usaha pencegahan sudah di lakukan tetapi tetap saja kecelakaan dapat terjadi karena tidak semua sebab-sebab dapat di identifikasi secara sempurna. Untuk itu di perlukan usaha penanganan dan penanggulangan setiap kecelakaan agar akibat kecelakaan dapat di minimalkan. Pengendalian bahaya-bahaya bahan kimia menyangkut manajemen resiko dan prosedur tanggap darurat. Kegiatan manajemen resiko memainkan peranan penting dalam pencegahan kecelakaan terlepasnya bahan –bahan kimia dan keadaan daruratnya. Dan yang menjadi permasalahannya sekarang adalah bagaimana cara mengatasi, menangani ataupun menanggulangi tumpahan atau pun buangan bahan-bahan kimia yang tergolong berbahaya tersebut.Hal ini merupakan sesuatu yang sebenarnya harus menjadi perhatian khusus untuk pemerintah,dan bahkan menjadi salah satu hal yang juga patut menjadi perhatian kita bersama. Banyak hal yang yang sebelumnya perlu diketahui agar dalam penanganan tumpahan bahan-bahan kimia tersebut menjadi tepat dan bukannya malah menambahkan masalah lingkungan. Untuk itu pengenalan secara umum mengenai bahan-bahan kimia yang sering di gunakan di laboratorium tersebut sangatlah penting,baik dari segi penanggulangannya pada suatu tempat secara luas ataupun secara khusus,mengetahui penyebab kecelakaan dalam laboratorium,serta hal-hal lain yang menjadi pendukung dalam meningkatkan keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium sehingga meminimalkan resiko kecelakaan kerja. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana sebenarnya laboratorium yang baik? 2.Apa saja penyebab terjadinya kecelakaan di laboratorium? 3.Bagaimana tindakan pencegahan dan penanganan yang tepat untuk mengatasi tumpahan bahan kimia di laboratorium (khususnya bahan kimia toksik)? 4.Bagaimana metode pembuangan limbah bahan-bahan kimia dari laboratorium?
1

1.3 Tujuan Makalah ini berisi tentang penanganan bahan-bahan kimia di laboratorium baik secara umum ataupun pembahasannya secara khusus dalam suatu pokok materi(dalam hal ini yang dibahas secara khusus adalah Bahan Kimia Toksik),dan juga bagaimana cara-cara dalam pengelolaan limbah bahan-bahan tersebut,dan dalam pembuatan makalah ini memiliki tujuan antara lain: 1. Memenuhi tugas semester mata kuluah Keamanan daan Keselamatan Kerja di Laboratorium 2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang laboratorium yang baik 3. Mendeskripsikan secara sederhana penyebab kecelakaan di laboratorium 4. Mengetahui apa saja tindakan yang tepat untuk menangani tumpahan bahan kimia di labortorium khususnya bahan kimia toksik 5. Mengetahui bagaimana pengelolaan limbah bahan-bahn kimia

2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian laboratorium Pada pembelajaran sains di dalamnya keberadaan laboratorium menjadi sangat penting. Pada konteks proses belajar mengajar sains seringkali istilah laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu ruangan yang di dalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum. Secara luas, laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui media praktikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar dimana mahasiswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Laboratorium merupakan salah satu sarana yang penting dalam proses belajar mengajar. Sebagai tempat belajar atau sumber belajar, laboratorium harus mempunyai sifat nyaman dan aman. Laboratorium bersifat nyaman dan aman berarti segala kebutuhan atau keperluan untuk melakukan kegiatan telah tersedia di tempat yang semestinya atau mudah di akses bila akan digunakan. Sedangkan laboratorium bersifat aman artinya segala penyimpanan material berbahaya dan kegiatan berbahay atelah dipersiapkan keamanan nya. Bahan kimia merupakan materi belajar yang harus ada dalarn laboratoriurn kimia. Pada dasarnya semua bahan kimia itu beracun namun dengan pengelolaan bahan kimia yang benar dan tepat, tingkat bahaya sebagai bahan beracun dapat di tanggulangi atau di kurangi. Untuk itu di butuhkan suatu pengelolaan bahan kimia yang benar dan tepat.

2.2 Manajemen Laboratorium Manajemen laboratorium (laboratory management) adalah usaha untuk mengelola laboratorium. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa alat-alat laboratorium yang canggih, dengan staf profesional yang terampil belum tentu dapat berfungsi dengan baik, jika tidak didukung oleh adanya manajemen laboratorium yang baik. Oleh karena itu manajemen laboratorium adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-hari. Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif bilamana dalam struktur organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management yang berfungsi sebagai pengarah dan penasehat. Board of Management terdiri atas para senior/profesor yang mempunyai kompetensi dengan kegiatan laboratorium yang bersangkutan. Kegiatan pengelolaan bahan di laboratorium meliputi beberapa tahapan atau langkah, yaitu : 1. Pengemasan dan Penempatan
3

2. Pengelompokkan menurut jenis bahan 3. Administrasi dan pencatatan penggunaan bahan 4. Kondisi tempat penyimpanan bahan 2.3 Penyebab Kecelakaan di Laboratorium Keselamatan kerja laboratorium merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan. Ibarat seseorang yang tengah berjalan di jalan raya, bekerja di laboratorium juga memerlukan rambu-rambu sehingga selama dalam perjalanan dapat sampai tujuan dengan selamat. Kecelakaan dapat terjadi bukan hanya karena tidak memperhatikan etika berkendara dan rambu-rambu lalu lintas, tetapi juga dapat terjadi ketika ada orang lain yang lalai. Sama halnya dengan kecelakaan kerja di laboratorium, tentu bukanlah kejadian yang disengaja, tetapi bisa terjadi apabila ada kelalaian dari diri sendiri dan orang lain. Artinya, semua pihak sangat berperan dalam menerapkan budaya keselamatan kerja. Bekerja di laboratorium dengan nyaman akan mempengaruhi kelancaran aktivitas kerja dan kecelakaan kerja dapat dihindari. Kecelakaan kerja di laboratorium bisa menimbulkan kerugian materi serta adanya korban manusia. Kecelakaan kerja dapat menyebabkan korban mengalami luka, cacat fisik, gangguan kesehatan, trauma, bahkan dapat mengancam nyawa seseorang. Semua kemungkinan ini dapat dicegah dengan memperhatikan pedoman keselamatan kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi di laboratorium bisa saja terjadi setiap saat. Banyak alasan terjadinya kecelakaan kerja, diantaranya adalah : 1. Faktor Manusia Kelalaian manusia yang kurang memperhatikan aspek keselamatan kerja sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Kelalaian manusia juga dapat terjadi karena belum memahami panduan keselamatan kerja dengan benar. Perilaku baik akan terbawa setiap saat jika telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan seseorang. Begitu pula budaya keselamatan kerja akan terbangun apabila selalu ada pembiasaan dalam setiap aktivitas di laboratorium. Kelalaian kecil yang dibiarkan akan membuat seseorang merasakan bahwa tidak lagi tampak ada kelalaian yang telah ditinggalkan. Jika kebiasaan kecil saja mudah diabaikan maka untuk melakukan kebiasaan besar pasti dengan mudah dilupakan. Kebiasaan bekerja sesuai dengan prosedur yang benar akan terbawa jika kebiasaan kecil dalam memperhatikan aspek keselamatan kerja selalu dibiasakan dari hal-hal yang paling sederhana. Mengenakan sepatu tertutup saat bekerja di laboratorium merupakan kebiasaan kecil. Jika sekali dua kali bekerja dengan sepatu terbuka tetap aman, biasanya akan merasa sama saja mengenakan sepatu terbuka atau tertutup sehingga tidak ada kekhawatiran lagi jika tumpahan atau percikan bahan kimia setiap saat bisa terjadi.
4

2. Bahan Kimia Penanganan bahan kimia yang tidak sesuai menjadi salah satu faktor terjadinya kecelakaan kerja. Penyimpanan bahan kimia harus mempertimbangkan kualifikasi dan sifat bahan. Bahan kimia tidak harus disimpan sesuai dengan urutan abjad. Penyimpanan bahan cair dan padat harus terpisah dan harus disesuaikan dengan sifatnya. Bahan cair yang telah diencerkan dan bahan padat yang telah dibuat dalam larutan harus disimpan dalam wadah yang sesuai dan diberi label. Label bahan kimia minimal menyertakan nama, konsentrasi, dan tanggal pembuatan. Bahan kimia yang tidak mempunyai label harus disingkirkan dan tidak diperbolehkan untuk digunakan, jika perlu ditelusur identitasnya. Mereaksikan bahan kimia harus sesuai dengan prosedur kerja dengan memperhatikan sifat bahan kimia yang digunakan. Sebelum mereaksikan atau mencampurkan bahan kimia, paling tidak jumlah yang digunakan telah diketahui dengan pasti dan tersedia petunjuk teknik mereaksikan atau pencampurannya. Mengenal sifat bahan kimia menjadi suatu keharusan sebelum berinteraksi dengan bahan kimia. Berikut adalah simbol bahaya daripada bahan-bahan kimia di laboratorium( Hazard Symbol)  Harmful (Berbahaya).

Bahan kimia iritan menyebabkan luka bakar pada kulit, berlendir, mengganggu sistem pernafasan. Semua bahan kimia mempunyai sifat seperti ini (harmful) khususnya bila kontak dengan kulit, dihirup atau ditelan.  Toxic (beracun)

Produk ini dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius bila bahan kimia tersebut masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, menghirup uap, bau atau debu, atau penyerapan melalui kulit.  Corrosive (korosif)

Produk ini dapat merusak jaringan hidup, menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal bahkan dapat menyebabkan kulit mengelupas. Awas! Jangan sampai terpercik pada Mata.  Flammable (Mudah terbakar)

Senyawa ini memiliki titik nyala rendah dan bahan yang bereaksi dengan air atau membasahi udara (berkabut) untuk menghasilkan gas yang mudah terbakar (seperti misalnya hidrogen) dari hidrida metal. Sumber nyala dapat dari api bunsen, permukaan metal panas, loncatan bunga api listrik, dan lain-lain.

5

Explosive (mudah meledak)

Produk ini dapat meledak dengan adanya panas, percikan bunga api, guncangan atau gesekan. Beberapa senyawa membentuk garam yang eksplosif pada kontak (singgungan dengan logam/metal)  Oxidator (Pengoksidasi)

Senyawa ini dapat menyebabkan kebakaran. Senyawa ini menghasilkan panas pada kontak dengan bahan organik dan agen pereduksi (reduktor) Pemindahan atau pengambilan bahan kimia dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar. Penanganan tumpahan atau percikan bahan kimia perlu diketahui sebelum bekerja di laboratorium. Tumpahan atau percikan bahan yang mengenai meja atau lantai perlu ditangani secara tepat. Apabila mengenai kulit atau mata harus mengetahui tindakan atau pertolongan pertama yang dapat dilakukan. 3. Alat dan Instrumentasi Penggunaan alat-alat gelas laboratorium yang tidak sesuai dengan fungsi dan cara pemakaian yang benar dapat menimbulkan resiko kecelakaan kerja. Menuangkan larutan asam ke dalam buret tanpa bantuan corong gelas atau dengan menaiki meja kerja dapat menyebabkan resiko percikan bahan kimia di wajah atau tangan. Alat gelas yang telah berkurang fungsi dan kegunaannya, seperti ada bagian yang telah hilang, retak atau pecah sebaiknya tidak lagi digunakan. Instrumentasi yang tidak layak pakai juga tidak digunakan, seperti necara yang telah rusak sehingga menimbulkan kesalahan penimbangan, dapat berakibat kesalahan dalam pembuatan bahan atau campuran reaksi. Sentrifuge yang rusak sebaiknya tidak digunakan. 4. Sarana dan Prasarana Penunjang Saluran air bersih di laboratorium harus tersedia dengan baik untuk keperluan kebersihan, penanganan kecelakaan, sebagai pendingin proses distilasi, ekstraksi, atau refluks serta berbagai keperluan lainnya. Saluran listrik yang digunakan selalu diperiksa secara rutin dan harus dilengkapi pengontrol otomatis apabila terjadi hubungan arus pendek. Idealnya setiap laboratorium mempunyai program pelatihan teknik laboratorium atau kesehatan dan keselamatan kerja kimia. Paling tidak sebelum bekerja di laboratorium, telah dibekali dengan beberapa hal penting yang harus dipahami, diantaranya adalah : 1. Memahami tata tertib atau aturan mendasar bekerja di laboratorium termasuk kekhususan untuk setiap laboratorium. 2. Memahami prosedur kerja yang akan dilakukan selama bekerja di laboratorium
6

3. Mempersiapkan perlengkapan keselamatan kerja sesuai dengan kebutuhan 4. Memahami hal-hal yang berkaitan dengan pertolongan pertama pada kecelakaan kerja di laboratorium 5. Mempersiapkan kertas kerja yang diperlukan 2.4 Manajemen Tumpahan Bahan Kimia 2.4.1Sistem pencegahan Tumpahan Limbah 1) Fasilitas pengolahan limbah B3 harus mempunyai rencana, dokumen dan petunjuk teknis operasi pencegahan tumpahan limbah B3 yang meliputi; (a) Pemeriksaan Mingguan terhadap fasilitas pengolahan, dan (b) Sistem tanda bahaya peringatan dini yang bekerja selama 24 jam dan yang akan memberi tanda bahaya sebelum terjadi tumpahan/luapan limbah (level control). 2) Pengawas harus dapat mengidentifikasi setiap kelainan yang terjadi, seperti malfungsi, kerusakan, kelalaian operator, kebocoran atau tumpahan yang dapat menyebabkan terlepasnya limbah dari fasilitas pengolahan ke lingkungan. Program ini juga harus menyangkut terlepasnya limbah dari fasilitas pengolahan ke lingkungan. Program ini juga harus menyangkut mekanisme tanggap darurat; 3) Penggunaan bahan penyerap (absorbent) yang sesuai dengan jenis dan karakteristik tumpahan limbah B3 2.4.2 Penanganan Keadaan Darurat (Tumpahan/ Kebocoran) Ribuan bahkan puluhan ribu bahan kimia yang di gunakan di dunia, namun barangkali hanya ratusan jenis yang sering di pakai dalam laboratorium. Dari beberapa ratus jenis inipun, amat sulit untuk mengenal cara penanganan bila terjadi keadaan darurat seperti tumpahan atau kebocoran bahan. Beberapa hal pokok yang dapat di lakukan adalah : 1. Mengehentikan terjadinya tumpahan atau kebocoran bila mungkin 2. Mencegah perluasan bahan dengan cara mewadahi ata mengabsorpsi bahan yang sekaligus mengurangi proses penguapan. 3. Mencegah proses sekunder seperti interaksi bahan dengan panas atau interaksi dengan bahan lain yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledkaan. 4. Melakukan penetralan atau detoksikasi bahan yang tertumpah agar daya racun atau korosifitasnya dapat di kurangi. 5. Mewadahi hasil penetralan atau limbah untuk di buang setelah di netralkan 6. Membersihkan tempat tumpahan agar lantai bekas bahan tidak licin. Dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, tak boleh melupakan perlindungan diri dengan alat pelindung diri yang memadai, dan mengutamakan pertolongan dan penyelamatan korban bila ada.
7

Masing-masing kelompok bahan mempunyai sifat yang sama atau hampir sama sehingga tekhnik penangannya pun hampir sama. Apapun tindakan yang di lakukan, pelaksna harus mendahulukan keselamatan diri dengan memakai alat pelindung diri yang memadai serta pakaian kerja, kacamata atau goggles, masker penyerap gas atau debu atau SCBA (Self Contained Breathing Aparatus) dan sarung tangan (gloves).

1. Senyawa Asam Contoh senyawa yang bersifat asam di antaranya adalah :  Asam anorganik : H2SO4, HNO3, HCl, H3PO4  Garam asam anorganik : Al2(S04)3,ZnSO4,NH4Cl  Asam organik : asama setat, asam oksalat asam benzoat  Asam organik terhalogenisasi : trikloro asam asetat (TCA)  Senyawa nitro : nitrobenzena, nitrofenol Tumpahan-tumpahan bahan di atas bersifat asam sehingga dapat merusak lantai. Juga bahan-bahan tersebut dapat mengeluarkan uap atau asap ayang berbahaya bagi kesehatan. Untuk mengurangi resiko bahaya, tumpahan bahan dapat di netralkan dengan basa seperti NaHCO3 dan campuran NaOH + CaOH (1:1). Atau dapat juga basa lain seperti CaO (kapur tohor) apabila mudah dan murah dapat di peroleh. Reaksi penetralan yang terjadi adalah H+ + OHH2O

Hasil penetralan setelah di tambah dengan banyak air dan di netralkan sampai Ph : 6-9 dapat di buang. Bila bahan penetral tidak tersedia, tumphan dapat dikendalikan dengan menambahkan pasir atau bubuk bata agar amudah untuk diwadahi dan mengurangii terbentuknya uap bberbahaya. Khusus untuk asam-asam organik atau zat organik bersifat asam, selain netralisasi dapat juga di musnahkan dengan pembakaran di tempat terbuka atau dalamm insinerator. Reaksi pembakaran : Zat organik C02 + H2O Untuk zat organik yang terhalogenisasi cara pembakaran dengan insenerator yang di lengkapi dengan scrubber untuk menyerap uap dan gas beracun, adalah cara yang terbaik. Hasil scrubber bersifat asam yang harus di netralkan sebelum di buang.

2. Senyawa Basa Senyawa basa dapat meliputi senyawa anorganik sepert KOH, Ca(OH)2 dan amonia (NH4OH), juga senyawa organik seperti senyawa amina dan hidrasin. Senyawa-senyawa tersebut dapat di netralkan dengan NaHSO4 ata HCl 6 N, atau asam sisa (bekas) seperti asam sulfat yang cukup murah. Reaksi yang terjadi adalahnetralisasi asam-basa. Lantai bekas tumpahan biasanya licin dan harus segera di bersihkan dengan air sabun dan di
8

bilas dengan air biasa. Senyawa senyawa organik bas adapat pula di musnahkan dengan cara pembakaran secara terbuka atau dengan iniserator. Yang terakhir harus digunakan untuk zat terhalogenisasi atau yang berbahaya lainnya.Prinsip netralisasi dapat pula dipakai untuk senyawa campuran bersift basa seperti debu-debu semendlaam industri. Debu yang merupakan campuran oksida basa seperti CaO,MgO,Al2O3,FeO dan lain-lain bersifat basa dalam air.Kebocoran gas NH3 daritangki atausilinder juga bersifat basa dlama ir. Tetapiuntukmengatasi assp tebal NH3 tak perlu di serap dengan asam karena amonia amat larit dalam air. Kebocoran amonia baik dalam laboratorium maupun dalam industri dan transportasi dengan mudah dapat di atasi dengan menyemprotkan air. Amonnia akan larut sempurna dan membentuk larutan basa. NH3 + H2O NH4OH Larutan ini dpaat di netralkan dengan asm sulfat menjadi (NH4)2SO4,pupuk ZA.

3. Senyawa Oksidator Senyawa ini mempunyai kemampuan oksidasi akibat kelebihan oksigen dalam struktur molekulnya, seperti H2O2, K2Cr2O7 ,Na2O, NaOCl dan lain-lain. Zat-zat demikian dapat membakar bahan organok seperti kertas, kain, oli dan minyak. Tumpahan bahan oksidator dapat di netralkan dengan menambahkan reduktor sebagai Na2SO3, NaHSO3 dan FeSO4 sehingga terjadi oksidasi –reduksi. 4. Senyawa reduktor Senyawa ini ada yang anorganik seperti SO2, NaNO2, NaSO3, dan sebgainya. Ada juga yang organik seperti : merkaptan, sianida dan nitril. Tumpahan bahan-bahan demikian dapat di netralkan dengan menmabhakan larutan kaporit NaOCl atau Ca(Ocl)2dengan reaksi redoks sebagai berikut SO3- + OClSO4-2 + Cl-. Hasil reaksi setelah di encerkan dan di netralkan dapat di buang. 5. Senyawa Hidrida atau Bahan Piroforik Senyawa piroforik adalah senyawa yang dapa terbakar karena kontak dnegan udara. Contoh seperti senyawa hidrida: LiH, NaH, dan AlH3. Bila terjad tumpahan, menutup dengan pasir atau zat inert lainnya (kaoli, bubuk bata) adalah cara yang praktis untukmencegah kebakaran. Pasir akan mengisolasi bahan dari O2 dan uap air. 6. Senyawa Azida dan Azo Senyawa jenis ini bersifat eksplosif. Jadi tumpahan bahan harus di jauhkan dari sumber panas atau api untuk mencegah peledakan. Sifat kemudahan meledak bahan dapat di kurangi dengan menambahkan pasir pabila bahn berupa cairan. Sedang apabila bahan berbentuk padat, reaktivitasnya dapat di redam dengan menambahkan air. 7. Logam Alkali dan Alkali Tanah Logam alkali tanah seperti Ca dan Mg amat reaktif dengan air atau uap air. Reaksi dengan air menghasilkan hidrogen dan panas dimana panas tersebut langsung membakar gas hidrogen yang menimbulkan ledakan dan kebakaran. Tumpahan bahan jenis ini dapat di tutup dengan Na2CO3 yang kering dan di tambahkan butanol. Hasil reaksi dapat di musnahkan dengan membakar. Bahan yang tersisa di tutup dengan
9

minyak tanah agar tidak bereaksi dengan uap air dalam udara karena kelembaban udara Indonesia cukup tinggi. 8. Pelarut Organik Pelarut oragnik seperti hidrokarbon lifatik atau aromatik(heksana, bnezena), alkohol, eter, aldehida, ester dan sebgainya adalah pelarut mudah terbakar dan hasilkebakaran tidak toksik.Tumpahan bahna demikian harus di hindarkan dari api atau sumber panas, karena uapnya dapat terbakar atau meledak. Sisa bahan yang tumpah dapat di serap dengan serbuk gergaji yang kemudian dapat di musnahkan dengan pembakaran. Apabila tumpahan bahan terbakar , mak beberapa hal dpat di lakukan untuk memadamkan api. a.)Kebakaran pelarut yang tak larut dalam air dan lebih ringan dalam air (seperti heksana, benzena, minyak tanah, sikloheksana) maka takboleh dipadamkan dengan air karen justru akan membesar. Pemadan api busa, gas CO2 dan bahan kering adalah bahan yang sesuai. b.) Kebakaran pelarut yang larut dalam air seperti etanol, metanol, ester dan sebagainya atau pelarut yangtidak larut dalam air tetapi lebih berat daripada air seperti CS2 dapat di padamkan dengan air. 9. Bahan Organik Tersubstitusi Bahan-bahan seperti kloroform, klorofeno, TEL(tetra-ethyl lead), pestisida dan lain-lain adalah bahan-bahan beracun.. Dapat di bakar tapi hasil pemabakaran bersifat iritan. Dengan demikian tumpahan bahan-bahan setelah dikumpulkan dapat di musnahkan dalam insinerator yang di lengkapi dengan scrubber. Zat organik terhalogenisasi
O2

H2O + CO2 + HX

Asam halida yang terbentuk di serap kedalam air agar tidak menceari lingkungan. Apabila zat organik tidak mudah terbakar dapat di larutkan dalam pelarut mudah tebakar (seperti alkohol, heksana, atau benzena bekas) sebelum di bakar dalam iniserator. Bila amat susah dibakar maka daur ulang adalah cara yang terbaik. 10. Daur Ulang Daur ulang atau pemanfaatan kembali bahantumpahan atau limbah merupakan cara yang terpuji, sebab selain mengurangi bahaya bahan terhadap kesehatandan lingkungan juga mempunyai nilai ekonomis. Cara ini disebut : recovery, reuse, dan recycling. Sistem daur ulang cukup menguntungkan apabila di arahkan pada limbah-limbah logam berat ataupun oksida dan hidroksidanya. Ini disebabkan karena logam berat biasanya toksik tetapi juga mahal harganya.Logam-logam sisa dapat langsung di manfaatkan. Tetapi garam, hidroksida dan oksida perlu di olah secara khusus sesuai dengan jenis logam dan senyawanya. Tidak ada suatu proses yang dpat digunakan untuk R3 semua jenis limbah atau tumpahan senyawa logam. Proses-proses tertentu harus di kembangkan dan di teliti agar sesuai dengan kebutuhan.

10

Adapun tindakan yang ringkas apabila menghadapi tumpahan bahan kimia ditempat kerja antara lain adalah sebagai berikut: 1. Tinjau resiko bahaya

Sebelum bertindak perlu diperhatikan resiko bahaya yang mungkin dapat berdampak ke kesehatan manusia, lingkungan, dan properti. Ingat, Selalu mengedepankan keselamatan. Segera mencari tahu bahan kimia apa yang tumpah dan seberapa banyak tumpahan tersebut. Jangan lupa melaporkan kejadian tersebut ke yang lain untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.

2.

Seleksi Alat Pelindung Diri yang sesuai

Memilih alat pelindung diri yang sesuai menjadi bagian yang penting agar aman saat merespon tumpahan. Baca MSDS dan literatur bahan kimia dari pabrik pembuatnya terlebih dulu dan alat pelindung diri yang direkomendasikan. Apabila kita masih kurang yakin bahaya dari bahan kimia tsb, kita harus mengasumsikan bahwa bahan kimia tsb berbahaya dan menggunakan alat proteksi yang tertinggi.

3.

Lokalisir area Tumpahan

Membatasi area tumpahan dengan cara memblokir, mengalihkan, melokalisir dengan memakai alat penyerap (absorbent, boom, pad) yang ada di produk-produk manufaktur. Usahakan blokir tumpahan sebelum tumpahan bahan kimia tersebut mencemari sumber air atau lingkungan. Menutup kebocoran dengan alat penutup (plug) juga salah satu cara yang
11

memungkinkan mengurangi dan membatasi luas nya area tumpahan sekaligus melindungi saluran saluran air/ lingkungan sekitarnya.

4.

Menghentikan Sumber kebocoran

Setelah tumpahan dilokalisir, tahap berikutnya adalah menghentikan sumber kebocoran. Banyak berbagai cara salah satunya adalah memuutar drum yang bocor menghadap ke atas, diberdirikan atau sumber yang bocor ditutup dengan plug. Atau dengan memindahkan bahan kimia tersebut ke wadah yang baru. Apabila kebocoran tersebut dalam sistem pipa, segera mencari keran/ valve utk menutup aliran.

5.

Evaluasi Kejadian dan Pembersihan

Setelah tumpahan dapat dilokalisir, kebocoran sudah berhasil dihentikan . Saatnya memulai meninjau ulang kembali rangkaian kejadiannya seperti apa kemudian membuat perencanaan tindakan atau cara yang aman untuk membersikan tumpahan tersebut. Bisa menggunakan lembar penyerap untuk sisa sisa tumpahan, bisa menggunakan penyerap gulung atau penyerap berbentuk bantal. Meskipun begitu perlu diperhatikan setelah bahan penyerap menyatu dengan bahan tumpahan harus dipertimbangkan bahwa alat penyerap tersebut sudah terkontaminasi dengan bahan kimia yang tumpah, diperlakukan sebagai limbah berbahaya (hazardous waste) dimana pembuangannya harus dibuang ke tempat yang mendapatkan ijin secara legal.

12

6.

De- kontaminasi

Menetralkan peralatan yang tercemar di lokasi, harus dilakukan dengan hati hati. Harus diperhatikan keselamatan petugas saat menetralisir peralatan, dari sisa –sisa atau timbunan bahan yang berbahaya. Tempat sampah khusus harus tersedia untuk bahan yg sdh terkontaminasi, harus dipisah dengan sampah sampah domestik.

7.

Laporan Kejadian

Tindakan selanjutnya adalah melengkapi semua administrasi yang menjadi persyaratan seperti membuat laporan kejadian, mengumpulkan bukti bukti data, informasi dari saksi mata untuk pendukung pelaporan.

Dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) terhadap korban yang terkena bahan toksik, secara garis besar adalah sebagai berikut :

Bila bahan kimia terhirup, maka bawa korban ke lingkungan dengan udara bersih.

13

    

Bila bahan kimia masuk mata, cuci bersih dengan air mengalir terus menerus selama 5-10 menit. Meminumkan karbon aktif untuk menurunkan konsentrasi zat kimia dengan cara adsorpsi. Meminumkan air untuk pengenceran. Meminumkan susu untuk menetralkan dan mengadsorpsi asam atau basa kuat dan fenol. Untuk memperlambat atau mengurangi pemasukan racun maka dapat diberikan garam laksania (hanya boleh dilakukan oleh Paramedis!!!) (MgSO4, Na2SO4) yang akan merangsang peristaltik dari seluruh saluran pencernaan sehingga efek osmotik akan memperlambat absorbsi air dan membuat racun terencerkan. Jika keracunan sudah agak lama, maka korban dibuat muntah untuk mengosongkan lambung, dengan pemberian larutan NaCl (garam dapur) hangat. Tetapi hal ini tidak diperbolehkan untuk korban yang masih pingsan atau keracunan deterjen, bensin, BTX (Benzene, Toluen, Xylene), CCl4. Segera bawa ke klinik.

2.5 Manajemen Pengelolaan Bahan Buangan Bahan buangan setelah selesai kegiatan di laboratoorium juga merupakan masalah penting bagi setiap laboratorium. Laboratorium yang baik umumnya di lengkapi dengan bak penampung limbah. Dengan demikina pembuangan limbah menjadi terkontrol. Pembuangan limbah yang baik di pisahkan antara limbah kertas, limbah kaca, limbah plastik dan limbah organik, atau bahan yang mudah busuk dan limbah padat bahan kimia. Meskipun tempat pembuangan smapah telahterpisah-pisah, namun kadang-kadang sulit untuk menentukan samapah di buang kemana, sebagai contoh setelah menyaring menggunakan kertas saring. Kertas saring tidak mungkin dibuang di tempat sampah kertas, tetapi sebaknya di buang pada tempat sampah limbah padat bahan kimia. Sebaiknya sebelum limbah penuh dalam penampungan sementara sebaiknya segera di buang di pembuangan akhir untuk mencegah terjadinya reaksi lanjutan antara bahn-bahan buangan. Penampung limbah dapat di buat seperti “water treatment” setiapp wadah dapat di isi dengan bahan pengadsorp limbah misalnya zeolit, bentonit atau karbon atau penukar ion sehingga limbah cair aman di buang. Adsorben bekas pakai masih bisa di daur ulang atau di regenerasi beberapa kali. Bila telah di gunakan beberapa kali adsorben bekas pakai dapat di buang bersama samaph bahan kimia atau di kubur dalam tempat yang kedap. Jangan mengubur adsorben bekas pakai langsung d tanah, karena bila ada air atau reendaman air bahan yang terserap dapat terdesorp atau keluar kembali, hal ini tentu lebih berbahay karena tidak terkontrol. Metode Pembuangan Limbah Laboratorium Pertama, pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang
14

dapat larut dala air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang. Kedua, dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahanbahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk. Ketiga, pembakaran dalam insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik. Keempat, dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun. Penggunaan bahan kimia toksik atau beracun baik dalam industri, laboratorium dan masyarakat selalu mengandung bahay terhadap keselamatan dan kesehatan. Pengelolaan bahan yang baik akan mengurangi resiko bahaya. Bahan kimia toksik adalah setiap bahan kimia yang mempunyai efek negatif terhadap organisme hidup. Ilmu yang mempelajari efek tersebut di sebut toksikologi. Kapasitas bahan kimia untuk menimbulkan cidera atau gangguan di nyatakan dalam besaran toksisitas. Besaran ini merupakan faktor penting menilai bahaya. Bahan-bahan toksik yang perlu kita waspadai ada beberapa jenis di antaranya : 1. Toksik (harmful) adalah bahan yang menyebabkan kerusakan sementara taau permanen pada fungsi organ tubuh. 2. Korosif adalah bahan yang bereaksi terhadap jaringan tubuh. 3. Iritan adalah bahan yang menyebabkan irirtasi pada jarinag tubuh. 4. Sensitasi adalah bahan yang menyebabkan alergi. 5. Karsinogenik penyebab kanker 6. Mutagenik penyebab kerusakan genetika. 7. Teratogenik penyebab abnormalnya janin. Jalur masuk bahan kimia ke dalam tubuh dapat lewat pernafasan (inhalasi), kulit (absorbsi) dan tertelan (lewat usus atau ingestion). Selanjutnya bahan kimia dapat masuk kedalam aliran darah dan menuju jaringan tubuh atau organ tertentu. Efek ini lebih berbahaya karena dapat menyerang organ penting seperti lever, ginjaldarah atau sumsum tulang belakang.

15

Dilihat dari dampak terhadap manusia, efek keterpaan bahan kimia dapat bersifat akaut atau kronis. Efek akut sebagai keterpaan jangka pendek pada konsentrasi tinggi dan dampaknya segera dapat di amati misalnya sakit, iritasi, pingsan atau mati. Sedang efek kronis adalah akibat keterpaan jangka panjang, penyakit yang timbul berkembang secara perlahan-lahan dan dampaknya biasanya tidak reversible. Untuk mencegah kecelakaan dalam penanganan bahan perlu di lihat tahp-tahap proses produksi dan penggunaan atau life cycle yang secara sederhana di gambarkan sebagai berikut Bahan baaku Bahan baku Proses produksi Produk Transportasi

Gudang

Limbah

Gudang

Konsumen

Dalam usaha mengendalikan resiko penggunaan bahan toksik, maka setiap langkah dalam lifecycle di atas perlu di kaji dan di evaluasi. Pengangkutan bahan beracun seperti amonia, gas, klor dan VCM juga mengandung bahaya.. Meskipun kecelakaan angkutan bahan berbahya dan korban yang di timbulkannya relatif lebih kecil daripada angkiutan umum, tetapi akibatnya lebih serius dan sensasional. Bebberapa usaha untuk mengamankan transportasi bahan berbahaya adalah : a. b. c. d. Desain dan konstruksi sistem khusus untuk kontainer dan kendaraan Inspeksi kendaraan dan maintenance Pendidikan dan training bagi sopir Pemilihan route jalan yang aman Selainn itu ada pula bahaya dalam pemindahan bahan dari suat kontainer ke wadah lain. Selain masalah kebocoran gas beracun atau korosif, juga kemungkinaan adanya listrik statis pada transfer bahan organik yang bersifat non-konduktor. Listrik statis ini apabila tidak dikendalikan dengan grounding yang baikk dapata menimbulakan kebakaran.

16

BAB III PENUTUP

Kesimpulan 1. Semua kemungkinan kecelakaan dapat dicegah dengan memperhatikan pedoman keselamatan kerja. 2. Penyebab kecelakaan kerja di laboratorium antara lain adalah ; faktor manusia, bahan kimia, alat adan instrumentasi ,dan sarana prasaranan penunjang. 3. Metode Pembuangan Limbah bahan-bahan kimia terdiri dari empat metode antar lain ; pembuangan langsung, pembakaran di tempat terbuka, pembakaran dalam insinerator dan di kubur dengan perhitungan lokasi yang tepat. Saran Untuk bekerja di laboratorium, aspek penting yang harus di ingat adalah mengenai keselamatan kerja dari pelaku laboratorium itu sendiri. Pertama-tama yang harus di miliki pelaku laboratorium itu adlah pengetahuan mengenai bahan-bahan kima, simbol-simbol bahaya bahn-bahn kimia dan meningkatkankehati-hatian saat bekerja serta menggunakann alat pelindung diri sebelum memulai prosedur kerja di laboratorium.

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->