1

BABI PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pembangunan merupakan sebuah konsep yang multidimensional, yang mengaju pada serangkaian karateristik dan segenap aspek kehidupan baik aspek hukum, aspek politik, aspek ekonomi maupun aspek sosial. Pembangunan adalah proses multidimensi yang mencakup perubahanperubahan penting dalam struktur sosial, sikap rakyat dan lembaga-lembaga nasional (menurut Todaro dalam Bryant and White (1987:3-4), dalam tesis Perencanaan Pembangunan Parsitipatif program Desa Mandiri di Kabupaten Gorontalo Victor F. Nanlessy (2006:1). Salah satu kegiatan yang penting dalam usaha pembangunan adalah perencanaan. Menurut Kunarjo (2002:14) perencanaan adalah merupakan penyiapan seperangkat keputusan untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang dan diarahkan pada tujuan tertentu. Definisi ini menunjukan bahwa perencanaan mempunyai unsur-unsur sebagai berikut : (1) berhubungan dengan masa depan, (2) menyusun seperangkat program kegiatan secara sistematis, dan (3) dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Nanlessy (2006:1).

2

Perencanaan diperlukan karena kebutuhan pembangunan, melalui perencanaan dapat dirumuskan kegiatan pembangunan secara efisien dan efektif, dan dapat memberikan hasil yang optimal dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dan mengembangkan potensi yang ada. Menurut Conyers dan Hills 1994 dalam bukunya Haryanto dan Sahmuddin (2008:57), mendefinisikan perencanaan sebagai “suatu proses yang berkesinambungan”, yang mencakup “keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan atas berbagai alternatif penggunaan sumberdaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pada masa akan datang. Jadi definisi tersebut mengedepankan 4 unsur dasar perencanaan, yaitu : (1) pemilihan, “merencanakan berarti memilih”, (2) sumberdaya, perencanaan merupakan alat pengalokasian sumberdaya, (3) tujuan, perencanaan merupakan alat untuk mencapai tujuan, dan (4) waktu, perencanaan mengacu ke masa depan. Dengan demikian perencanaan selain merupakan kebutuhan

pembangunan tapi perencanaan merupakan suatu konsep yang harus dilakukan/dilaksanakan secara terus-menerus dan sistematis untuk

mempersiapkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu secara efesien dan efektif. Menurut Raharjo Adisasmita (2011:2), mengatakan bahwa Manajemen Pemerintah yang efektif dan efisien dimaksudkan sebagai manajemen yang mampu menyelesaikan tugas pekerjaan kepemerintahan secara cepat

3

(dalam kurun waktu singkat), ringkas, dan tidak berbelit-belit, berkinerja (berprestasi) tinggi, tidak mengalami pemborosan atau pemborosan waktu maupun dana dan daya, serta menghasilkan pelayanan yang berkualitas. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai berdayaguna dan berhasil guna. Manajemen perencanaan yang efektif diartikan mampu mencapai hasil sesuai sasaran yang antara telah ditetapkan, yang yang dicapai diukur dengan dengan target cara yang

mambandingkan

realisasi

direncanakan. Sedangkan manajemen perencanaan yang efisien berarti segala kegiatan yang menggunakan berbagai input yang menghasilkan output dengan biaya yang minim atau tidak terjadi pemborosan. Sehingga dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa manajemen perencanaan harus berbasis kinerja serta berbasis transparansi dan akuntabilitas dimana semua tindakan dan kegiatan yang dilakukan harus terbuka dan diketahui oleh semua masyarakat secara umum dimana masyarakat mempunyai hak menanyakan mengenai hal-hal yang dianggap tidak jelas ataupun mengkritisi hal-hal yang dianggap tidak benar. Selama ini perencanaan pembangunan yang digunakan bertumpu pada paradigma klasik (trickle down efek) atau efek tetesan kebawah yang merupakan mekanisme pembangunan yang instruktif dan bersifat top down. Masyarakat sekedar sebagai objek dan suplemen pembangunan (Adisasmita 2005:23). Dengan demikian program pembangunan menjadi tidak aspiratif

4

terhadap masalah, potensi dan kebutuhan masyarakat sebagai penerima program pemerintah. Saat ini paradigma pembangunan telah mengalami suatu perubahan dari pembangunan yang bertumpu pada Negara menjadi paradigma pembangunan yang bertumpu pada masyarakat atau yang dikenal dengan istilah pembangunan masyarakat (community development). Menurut Amin (2005:196), model perencanaan yang dinilai sesuai dengan kondisi saat ini adalah model perencanaan yang melibatkan sebanyak mungkin unsur/peran masyarakat. Model perencanaan tersebut adalah model perencanaan partisipatif. Menurut Cohen dan Uphoff (1977:26) partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan adalah bagaimana masyarakat diajak untuk mendefinisikan apa kebutuhan/masalah mereka, bagaimana cara yang tepat untuk memecahkan masalah/memenuhi kebutuhan mereka, memikirkan bagaimana proses penyelesaian masalah tersebut dilakukan dan

merundingkan bagaimana penyelesaian masalah/pemenuhan kebutuhan tersebut dinilai keberhasilannya. Tentu saja, setiap individu, kelompok bahkan masyarakat dalam suatu komunitas tidak akan mencapai tingkat partisipasi yang sama, tetapi yang bisa menjadi indikator penilaian adalah sejauhmana masyarakat ikut menghadiri, ikut memberi saran, ikut mempengaruhi keputusan dan ikut merekomendasikan rencana pembangunan sesuai kemampuannya.

5

Dalam perencanaan pembangunaan saat ini yang mencakup segala aspek kehidupan yang didalamnya termasuk perencanaan pembangunan di bidang hokum perlu mendapat perhatian pemerintah khususnya dalam pembangunan di bidang hukum yaitu Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum dalam mewujudkan masyarakat yang taat dan patuh akan hukum sehingga secara bertahap masyarakat akan merasakan arti penting kesadaran hukum. Kesadaran hukum masyarakat merupakan suatu cara untuk

tercapainya perwujudan dan pengamalan negara hukum. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara hukum yang demokratis, kesadaran hukum masyarakat diharapkan mampu menjaga dinamika pemerintahan, dinamika pembangunan dan dinamika lainnya untuk kepentingan nasional. Sebaiknya, kesadaran hukum masyarakat selalu diupayakan dan dibudayakan dari waktu ke waktu yang disesuaikan dengan program kegiatan yang menjadi kebutuhan dan kepentingan pemerintah. Hal ini merupakan upaya pemerintah untuk menyukseskan program-program yang diarahkan untuk kepentingan masyarakat sendiri. Pada konsideran menimbang dalam Undang-Undang Nomor : 10 Tahun 2004 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyatakan bahwa pembentukan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang dapat

6

diwujudkan dengan didukung oleh metode, cara yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan. Hal ini sangat penting mengingat arah kebijakan hukum kita menegaskan tentang perlunya kesadaran hukum dan kepatuhan hukum masyarakat dalam rangka supremasi hukum dan tegaknya Negara hukum. Membangun kesadaran hukum masyarakat adalah sebuah usaha yang harus terus dilakukan oleh pemerintah dan didukung oleh masyarakat. Salah satunya adalah pembentukan Desa Sadar Hukum. Penghargaan Desa/Kelurahan Sadar Hukum merupakan wujud apresiasi pemerintah dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM, melalui Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM RI dan Tugas Pokok dan Fungsi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM di seluruh Indonesia, dan juga adanya kerjasama antar instansi (SKPD Provinsi, Kota/Kabupaten) dalam membina masyarakat dengan program kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memberikan pengetahuan, pemahaman kepada masyarakat agar masyarakat sehingga dengan sendirinya mereka dapat memahami arti penting kesadaran hukum. Khususnya dalam melaksanakan program pemerintah dalam

membangun kesadaran hukum di Kota Ambon memang perlu dilaksanakan secara terus menerus. Hal ini disebabkan beberapa permasalahan

7

diantaranya Kota Ambon dan Propinsi Maluku secara keseluruhan rentan dengan konflik, dioerlukan perencanaan program/kegiatan yang dapat memberikan arahan, bimbingan, pengetahuan dan pemahaman yang secara terus-menerus dilakukan dalam rangka membatasi/mencegah agar

masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu yang dapat memancing masyarakat untuk berbuat tindakan-tindakan yang mengakibatkan terjadinya konflik artinya pencegahan dini dilakukan dengan berbagai program kegiatan yang ada pada Kantor Wilayah maupun Pemerintah Daerah setempat dan yang lebih utama adanya dukungan masyarakat. Selanjutnya permasalahan lain yang dihadapi adalah perencanaan pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum oleh Kantor Wilayah belum dilaksanakan sesuai rencana artinya masih terdapat kendala dalam terbatasnya volume kegiatan dan terbatasnya anggaran dalam pelaksanaan perencanaan tersebut, sehingga perencanaan Pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum hanya terbatas dilaksanakan Khususnya di Kota Ambon karena apa yang tertuang di dalam DIPA/RKAKL Kantor Wilayah menunjukan keterbatasan pebyelenggaraan kegiatan. Perencanaan ini pun kemudian diperkecil cakupannya hanya pada Beberapa Desa/Kelurahan di Kota Ambon dalam Perencanaan Pembentukan Desa/kelurahan Sadar Hukum di Kota Ambon itupun didasarkan pada penilaian kegiatan yang selalu dilaksanakan di beberapa Desa/Kelurahan yang sebelumnya menjadi sasaran kegiatan

8

yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Dengan demikian diperlukan perencanaan yang terarah dan sisrematik yang harus menjadi perhatian dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia di Jakarta dalam menyakapi hal ini, sehingga kedepan

perencanaan pembangunan hukum yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan dan kenyataan. Disamping itu kelompok-kelompok sadar hukum yang telah dibetuk dan dibina dapat dihidupkan dan pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum dapat berjalan dengan baik. Kelompok Sadar Hukum dan Desa Sadar Hukum menjadi indikator kesadaran hukum masyarakat yang ditetapkan oleh Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia yang tertuang dalam RENSTRA Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Sampai pada triwulan pertama tahun 2011, Indonesia baru memiliki 2838 Kelompok Sadar Hukum dan 969 Desa Sadar Hukum, atau baru sekitar 1 persen dari jumlah desa di seluruh Indonesia (artikel/data internet, bahan laporan Kepala Pusat Penyuluhan Hukum BPHN). Tentu angka ini akan terus bertambah mengingat program pembinaan kelompok kadarkum dan desa sadar hukum terus digalakkan oleh Pusat Penyuluhan Hukum Badan Pembinaan Hukum Nasional, melalui kantor wilayah-kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM di seluruh

9

Indonesia dan didukung dengan perencanaan program kegiatan dari Instansi/SKPD baik Provinsi/Kota/Kabupaten. Desa Sadar Hukum yang diawali dengan adanya kelompok-kelompok Kadarkum dan Desa/Kelurahan Binaan menjadi tolok ukur kesadaran hukum masyarakat. Dalam rencana strategi Kementerian Hukum dan HAM RI tahun 2010-2014 program pemberdayaan masyarakat untuk sadar hukum

dilaksanakan melalui serangkaian kebijakan dan kegiatan prioritas, antara lain seluruh Desa di Indonesia menjadi Desa Sadar Hukum dan HAM. Salah satu unit yang melakukan pembinaan kesadaran hukum masyarakat adalah Badan Pembinaan Hukum Nasional melalui Pusat Penyuluhan Hukum. Selain itu pula bahwa Pembentukan Desa Sadar Hukum ini sebagaimana diketahui bahwa dengan dicanangkannya Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAk Asasi Manusia Sebagai Kantor Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusi atau disebut dengan LAW AND HUMAN RIGHT CENTER, yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor : 14 Tahun 2008 tentang Kerbukaan Informasi Publik dan Surat Edaran Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M.HH.03.03-14 Tahun 2010 Tanggal 11 November 2010 Tentang Kementerian Hukum dan HAM sebagai LAW AND HUMAN RIGHT CENTER dan pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kementerian Hukum dan HAM.

10

Dengan demikian untuk mewujudkan terlaksananya program tersebut diatas memang telah tercantum dalam RENSTRA Kementerian Hukum dan HAM RI, akan tetapi dalam hal ini perlu perencanaan dan didukung dengan kerjasama instansi/SKPD baik itu di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota yang terkait dalam rangka pencapaian sasaran program Pembentukan Desa Sadar Hukum. Cikal bakal berdirinya desa sadar hukum adalah adanya kelompokkelompok sadar hukum (kadarkum) di desa/kelurahan tersebut. Kelompok sadar hukum (kadarkum) adalah kelompok yang beranggotakan lebih kurang 25 warga desa yang secara rutin setiap bulan bertemu untuk membahas permasalahan hukum yang mereka alami melalui temu sadar hukum, sosialisasi peraturan perundang-undangan, ceramah, diskusi dan simulasi. Kelompok-kelompok ini dibina oleh penyuluh hukum dari kantor wilayah kementerian hukum dan Ham setempat serta Instansi/SKPD yang terkait. Pembentukan Desa Sadar Hukum diawali dengan penetapan suatu desa/kelurahan yang telah memiliki kelompok kadarkum sebagai Desa Binaan. Desa/Kelurahan Binaan terus dibina oleh Kanwil Kementerian Hukum dan HAM beserta Pemerintah Daerah setempat untuk menjadi Desa Sadar Hukum. Gubernur menetapkan Desa/Kelurahan Binaan menjadi Desa/Kelurahan Bupati/Walikota sadar dan Hukum Kantor setelah Wilayah mempertimbangkan Kementerian Hukum usul dan

11

HAM. Desa/Kelurahan

Sadar

Hukum

oleh

Kantor

Wilayah

dengan

persetujuan Gubernur, diajukan kepada Menteri Hukum dan HAM untuk memperoleh penghargaan Anubhawa Sasana Desa/Anubhawa Sasana Kelurahan. Untuk Tahun 2011 ini rencana pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku, masih pada tahap menginventarisasi dan pembinaan pada 5 (lima) desa dan 1 (satu) kelurahan di Kota Ambon, yaitu Desa Latuhalat Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, Desa Batumerah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Desa Leahari Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon, Desa Waiheru Kecamatan Baguala, dan Desa Hunuth/Durian Pata Kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon. Rencana pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon ini dilaksanakan berdasarkan koordinasi yang efektif dengan Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon sehingga dikeluarkan Keputusan Walikota Ambon Nomor : 1028 Tahun 2010 Tentang Penetapan Desa/Negeri dan Kelurahan Binaan Hukum Dalam Wilayah Kota Ambon, ditetapkan di Ambon pada tanggal 8 Juli 2010.

12

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam proposal ini adalah : 1. Bagaimanakah peranan Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku dalam melakukan perencanaan pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon ? 2. Bagaimanakah Proses Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku ?

C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui peranan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam Pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon. 2. Untuk menganalis Proses Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku.

13

D. Manfaat Penelitian Penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat dalam rangka pembangunan hokum di Kota Ambon, dalam hal : 1. Sebagai bahan masukan bagi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dan Pemerintah Daerah dalam upaya pelaksanaan perencanaan pembentukan Desa sadar Hukum di Kota Ambon. 2. Menjadi bahan masukan bagi Kementerian Hukum dan HAM khususnya Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Maluku untuk memperhatikan dan merencanakan program kegiatan Pembentukan Desa Sadar Hukum di tahun-tahun mendatang yang didukung oleh semua pihak yang berkepentingan, sumber daya yang mencukupi, sarana dan prasarana, perbanyak volume kegiatan serta anggaran yang memadai. 3. Sebagai bahan pembelajaran bagi penulis dalam rangka

pengembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan hukum khususnya perencanaan pembentukan Desa sadar Hukum yang merupakan tugas pokok dan fungsi penulis sebagai pegawai pada Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Maluku.

14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perencanaan Pembangunan

Pada hakekatnya setiap orang/individu, semua orang, kelompok, organisasi maupun instansi melakukan perencanaan. Perencanaan

dilaksanakan berdasarkan alasan-alasan. Perencanaan adalah perumusan tujuan, prosedur, metoda, dan jadwal pelaksanaan didalamnya termasuk ramalan tentang kondisi masa depan dan perkiraan akibat dari rencana terhadap kondisi tersebut. Dengan demikian perencanaan adalah penentuan tujuan yang akan dicapai atau yang akan dilakukan bagaimana, bilamana dan oleh siapa (Aji dan Sirait, 1990:13). Pemahaman tentang perencanaan sangatlah penting karena hal ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap keterlibatan dan peran pelaku pembangunan dalam proses perencanaan. Menurut Abe (2002) dalam Noer (2004:15) perencanaan berasal dari kata Rencana, yang berarti rancangan tersebut dapat diuraikan dari sebuah perencanaan, yakni apa yang hendak di capai, tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan dan kapan tindakan-tindakan tersebut hendak dilakukan. Konsep perencanaan sebenarnya sangat kompleks menurut para pakar berbeda-beda mendefinisikan pengertian perencanaan, sehingga belum ada pengertian/definisi yang pasti dan memuaskan mengenai perencanaan itu sendiri. Menurut Tjokroamidjojo (1987:24) mendefinisikan

15

perencanaan sebagai suatu usaha yang berkenaan dengan suatu sistem pemecahan masalah. Sedangkan menurut Kunarjo (2002:14) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu penyiapan seperangkat keputusan untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang yang diarahkan pada tujuan tertentu. Dengan demikian perencanaan mempunyai unsur-unsur antara lain yaitu : (1) berhubungan dengan hari depan, (2) menyusun seperangkat kegiatan secara sistematik, (3) dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara itu menurut Kunarto (1996:80) mengemukakan bahwa

perencanaan adalah suatu peyerapan seperangkat keputusan untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang yang diarahkan pada tujuan tertentu. Menurut Conyers & Hills (1994) dalam Haryanto & Sahmuddin (2008:57), mendefinisikan perencanaan sebagai suatu proses yang

berkesinambungan, yang mencakup keputusan-keputusan atau pilihanpilihan atas berbagai alternatif penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pada masa yang akan datang, yaitu : 1. Pemilihan, “merencanakan berarti memilih”, perencanaan merupakan proses memilih diantara berbagai kegiatan yang diinginkan dan tidak semua kegiatan yang diinginkan dilaksanakan dan dicapai dalam waktu yang bersamaan. 2. Sumber daya, perencanaan merupakan alat pengalokasian sumber daya, sumber daya menunjukan sesuatu yang dianggap berguna

16

dalam pencapaian suatu tujuan tertentu, sumber daya mencakup sumber daya manusia, sumbaer daya alam, sumber daya keuangan dan modal. 3. Tujuan, perencanaan merupakan alat untuk mencapai tujuan. Konsep perencanaan sebagai alat pencapaian tujuan muncul berkenaan dengan sifat dan proses penetapan tujuan. 4. Waktu, perencanaan mengacu ke masa depan. Salah satu unsure penting dalam perencanaan adalah waktu, jadi waktu berkitan dengan masa depan. Menurut Brantas (2009:28) Planning (perencanaan) adalah

menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuantujuan itu. Lebih lanjut dikatakan perencanaan (planning) adalah fungsi dasar atau fungsi fundamental manajemen, karena organizing, actuating, dan controling pun harus lebih dahulu direncanakan. Dampak perencanaan baru terasa pada masa yang akan datang : agar resiko yang ditanggung relatif kecil, hendaknya segala kegiatan, tindakan, kebijaksanaan direncanakan terlebih dahulu, Brantas (2009:55). Perencanaan dihubungkan dengan masalah memilih artinya memilih tujuan dan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Perencanaan adalah pekerjaan mental untuk memilih saran, kebijaksanaan prosedur, program yang diperlukan untuk mencapai apa yang diinginkan pada masa yang akan datang (2009:56).

17

Munculnya perencanaan sebagai akibat dari perkembangan sistem perencanaan dunia, sehingga menurut pendapat Sarwoto (1986:40)

mengemukakan manfaat perencanaan antara lain adalah : (a) perencanaan penting karena didalamnya digariskan pula bahwa apa yang harus dilakukan agar tujua-tujuan tersebut tercapai, (b) perencanaan merupakan bentuk petunjuk jalan bagi seluruh anggota organisasi yang ikut serta dalam pelaksanaan perencanaan itu, (c) perencanaan bukan suatu karya yang sekaligus saja tetapi suatu proses yang terus menerus, maka setiap perencanaan diharapkan dapat memberikan perhatian yang terus menerus untuk menunjukkan dan mempertinggi praktek dan berbagai cara para anggota organisasi, (d) perencanaan merupakan alat pengendali untuk mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan , dan (e) perencanaan yang baik menjamin penggunaan sumber-sumber yang tersedia baik itu sumber daya alam ataupun sumber daya manusia yang dipergunakan dan atau dimanfaatkan secara efektif dan efisien serta dapat menghindari pemborosan yang tidak perlu. Perencanaan merupakan persiapan yang teratur dari setiap usaha untuk mewujudkan tujuan, sehingga unsur-unsurnya terdiri dari tujuan, kebijakan, prosedur, program dan progres, Syafii (2011:82). Perencanaan sangat dipegaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, diantaranya perencanaan dipengaruhi oleh sumber daya manusia maksudnya siapa dan bagaimana orang yang membuat perencanaan dan sumber daya alam maksudnya apa

18

dan bagaimana lingkungan sekitarnya secara fisik, selain itu aspek sosial yang berpengaruh yakni sosial budaya, sosial agama, sosial ekonomi, sosial politik. Sehingga tingkat intelektual dan moral yang dimiliki seseorang pembuat perencanaan akan menjadi kriteria utama individu yang memimpin organisasi. Menurut Siagian dalam Syafiie (2011:83) mengatakan bahwa proses perencanaan dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu : 1. Mengetahui sifat suatu rencana; 2. Apakah teknik ilmiah perencanaan sudah dikuasai; 3. Diusahakan agar rencana yang dibuat memenuhi syarat.

Selain itu faktor situasi dan kondisi serta toleransi keadaan harus diperhitungkan dengan melihat 6 (enam) hal sebagai berikut : 1. Kapan rencana itu akan dikerjakan dan kapan pekerjaan itu mulai beroperasi harus dilihat pertimbangan ketepatan waktu; 2. Dimana rencana itu dikerjakan dan dimana pekerjaan itu akan

dioperasikan harus dilihat ketepatan medan dengan petimbangan lokasi dan situasi; 3. Apa jenis rencana itu seperti rencana pemilihan umum, rencana pembangunan fisik, rencana pembinaan watak dengan spesialisasi pembuat rencana itu sendiri; 4. Bagaimana membuat rencana apakah menghimpun terlebih dulu

identifikasi masalah dan memprioritaskan hal yang penting;

19

5. Siapa yang akan membuat rencana serta siapa yang akan mengerjakan operasinya nanti, kemudian siapa yang akan mengawasi serta kepada siapa bertanggungjawab; 6. Kenapa rencana itu dibuat dan mengapa dioperasikan dalam waktu berapa lama, lalu kenapa harus dipaksakan untuk segara atau apakah bisa ditunda kalau rintangannya begitu banyak. (Syafei 2011:84-85).

Bila dikaitkan dengan perencanaan pembangunan, maka terdapat beberapa unsur penting yang harus ada dalam perencanaan pembangunan yaitu : adanya kebijaksanaan atau strategik dasar rencana pembangunan, adanya kerangka rencana, prakiraan sumber-sumber daya untuk

pembangunan, dan kerangka kebijakan yang konsisten. Model perencanaan pembangunan pada masa lalu, dimana peran pemerintah pusat sangat dominan dalam menentukan arah dan sasaran pembangunan nasional sehingga pemerintah daerah kurang menjalankan aspirasi masyarakat didaerahnya. Namun dengan adanya perubahan baik pada tingkat nasional sebagai akibat pelaksanaan otonomi daerah, maka konsep perannya pun mengalami perubahan. Konsekuensinya adalah perubahan pada strategis sistem dan pengendalian pembangunan. Dengan adanya perubahan tersebut maka sistem perencanaan pembangunan dilakukan pada masing-masing lingkup baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang harus dilakukan secara independen melalui

20

suatu mekanisme tertentu untuk mencapai kebijakan secara efektif, efisien, akuntabel, transparan dan legitimatif. Secara umum dapat dijelaskan sistem perencanaan yang dilakukan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sampai pada masing-masing tingkatan didaerah baik itu Kanwil Kemenkum HAM di Daerah Propinsi maupun Unit Pelaksana Teknis di tingkat Kabupaten/Kota khususnya perencanaan pembangunan hukum, pada dasarnya mengacu pada pedoman Rencana Strategi pembangunan hukum dan program pembangunan yang berkeadilan, Piliang ( 2010:13). Sehingga Kantor Wilayah dan Unit Pelaksanaan Teknis yang terdapat di Provinsi, yang

Kabupaten/Kota

hanya

menyusun

rencana

program/kegiatan

dibutuhkan dalam rencana kerja tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan rapat kerja yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah dalam menyusun dan memuat rencana kerja apa saja yang memang diperlukan dan dibutuhkan, menyusun rencana kegiatan anggaran/pembiayaan tahunan baik Kantor Wilayah maupun Unit Pelaksana Tekins (UPT) yang seluruhnya akan dirangkum menjadi satu rencana kerja dan anggaran Kantor Wilayah. Dari seluruh rencana kegiatan yang sudah disusun menjadi satu rencana kegiatan Kantor Wilayah, kemudian rencana kegiatan tersebut akan dibahas di Kementerian Hukum dan HAM RI di Jakarta dalam forum rapat koordinasi pembahasan rencana kerja dan anggaran Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Kemudian dari hasil akhir dari pembahasan

21

mengenai rencana kerja dan anggara dari semua unsur yang merupakan bagian dari Kementerian hukum dan HAM RI yang disebut dengan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Hukum dan HAM RI. Menurut Kunarjo, (2002:76), bahwa dalam perencanaan dapat dibagi menjadi kelompok yang satu sama lain berkaitan, kelompok perencanaan tersebut adalah : (a) Perencanaan Makro, (b) Perencanaan Sektoral, (c) Perencanaan Regional, dan (d) Perencanaan Mikro atau Proyek namun sekarang ini sudah berganti sebutan dengan kegiatan. Dari keempat kelompok perencanaan diatas saling berkaitan satu sama lain, oleh karena itu untuk mencapai suatu hasil yang maksimal perlu dilakukan koordinasi yang sebaik-baiknya. Bila dikaitkan dengan hubungan antara Kementerian Hukum dan HAM RI di Jakarta dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM di Propinsi maupun Unit Pelaksanaan Teknis yang terdapat di Kabupaten/Kota maka koordinasi antara perencanaan makro dan perencanaan mikro (Proyek/Kegiatan sebutannya sekarang ini) disebut koordinasi vertikal. Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M-01.PR.07.10 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Kementerian HUkum dan HAM RI dalam Pengkoordinasian, perencanaan, pengendalian program, dan pengawasan, (b) pembinaan dibidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, (c) penegakkan hukum dibidang pemasyarakatan, keimigrasian, administrasi hukum umum

22

dan hak kekayaan intelektual, (d) perlindungan, pemajuan, pemenuhan, penegakan dan pengharmonisasian hak asasi manusia, (e) pelayanan hukum, (f) pengembangan budaya hukum dan pemberian informasi hukum, penyuluhan hukum, dan diseminasi hak asasi manusia, (g) pelaksanaan kebijakan dan pembinaan teknis di bidang administrasi di lingkungan Kantor Wilayah. Dalam pelaksanaan tugasnya Kanwil Kementerian Hukum dan HAM merupakan instansi vertikal Kementerian Hukum dan HAM yang

berkedudukan di Propinsi yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Hukum dan HAM RI. Sehingga dengan demikian Kantor Wilayah dipimpin oleh Kepala Kantor Wilayah. Sedangkan Kepala Kantor Wilayah dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh antara lain : (a) Divisi Administrasi, Divisi Pemasyarakatan, (c) Divisi Keimigrasian, dan (d) Divisi Pelayanan Hukum dan HAM. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya Kepala Kantor Wilayah

berpedoman, mematuhi dan mengikuti petunjuk pelaksanaan pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M-01.PR.07.10 Tahun 2005 yang kemudian diubah dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M09.PR.07.10 Tahun 2007 dan dilakukan perubahan kedua dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M.MH-10.OT.01.01 Tahun 2009 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan HAM RI.

23

Sehubungan dengan hal tersebut, demikian halnya dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Maluku yang merupakan instansi vertikal dari Kementerian Hukum dan HAM RI yang berkedudukan di Provinsi yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Hukum dan HAM RI, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Maluku dipimpin oleh Kepala Kantor Wilayah. Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Maluku dibantu oleh Kepala Divisi Administrasi yang mempunyai tugas membantu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Maluku dalam melaksanakan pembinaan administrasi dan pelaksanaan teknis di wilayah Provinsi Maluku berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kepala Divisi Pemasyarakatan mempunyai tugas membantu Kepala Kantor Wilayah Provinsi Maluku dalam melaksanakan sebagaian tugas Kantor Wilayah Provinsi Maluku di bidang pemasyarakatan berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan. Kepala Divisi Keimigrasian mempunyai tugas membantu Kepala Kantor Wilayah Provinsi Maluku dalam melaksanakan sebagian tugas di bidang keimigrasian berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Imigrasi. Dan Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia mempunyai tugas membantu Kepala Kantor Wilayah Provinsi Maluku dalam melaksanakan sebagian tugas Kepala Kantor Wilayah Maluku

24

di bidang Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Kebijakan teknis yang ditetapkan Direktur Jenderal dan atau Kepala Badan terkait. Berdasarkan tugas pokok dan fungsi Kantor Wilayah diatas maka dalam hal perencanaan program pembangunan hukum yang berkeadilan di propinsi Maluku, diawali dengan pembuatan rancangan usulan program kegiatan yang harus dibuat oleh Divisi Administarasi, Divisi Pemasyarakatan, Divisi Imigrasi dan Divisi Pelayanan Hukum dan HAM serta rancangan usulan program kegiatan oleh Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan, Balai Pemasyarakatan, Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara serta Kantor Cabang Rumah Tahanan yang terdapat di Kabupaten dan Kota di Provinsi Maluku. Dalam pelaksanaannya digambarkan bahwa mekanisme perencanaan program kegiatan pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Maluku beserta Unit Pelaksana Teknis dimulai dari usulan perencanaan program kegiatan dari setiap Divisi dan Unit Pelaksana Teknis yang disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah melalui Kepala Bidang Penyusunan Program dan Laporan yang bertanggung jawab atas

perencanaan program kegiatan dengan pengawasan dari Kepala Divisi Administrasi sebagai koordinator perencanaan program. Selanjutnya usulan perencanaan program kegiatan tersebut akan dilaksanakan dengan kegiatan Rapat Koordinasi (RAKOR) yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Dalam Rakor tersebut setiap Kepala

25

Divisi dan Kepala Unit Pelaksanaan Teknis yang berada di bawah wewenang Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku memaparkan visi dan misi serta menyampaikan usulan perencanaan program kegiatan. Kemudian Rakor dilanjutkan dengan keputusan hasil usulan program kegiatan dan disahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Propinsi Maluku. Kegiatan belum selesai pada tahap pengasahan Kepala Kantor Wilayah saja, tetapi Hasil Usulan tersebut akan dibawa ke Kementerian Hukum dan HAM RI di Jakarta dan dilanjutkan dengan Musrembang Kementerian Hukum dan HAM RI yang stiap Provinsi diwakili oleh Kepala Kantor Wilayah, Kepala Divisi Administrasi, Kepala Bidang Penyusunan Program dan Laporan, Kepala Sub Bidang Keuangan dan Perlengkapan dan Staf Bidang Penyusunan Program Laporan dan Staf Sub Bidang Keuangan. Hail dari pembahasan tersebut selanjutnya ditetapkan dalam RKA-KL Kementerian Hukum dan HAM RI dan disesuiakan dengan usulan program kegiatan dan besar anggaran yang dimintakan oleh maing-masing Kantor Wilayah. Selain itu juga usulan program kegiatan harus disesuaikan dengan Rencana Strategi (RENSTRA) Kementerian HUkum dan HAM RI yang harus diikuti pula oleh setiap Kantor Wilayah, dengan tujuan adanya keterpaduan dan sinergitas setiap program kegiatan pembangunan dibidang hukum dan hak asasi manusia yang berhasil guna dan berdaya guna. Untuk itu, sesungguhnya program kegiatan perencanaan

pembentukan desa sadar hukum merupakan program kegiatan yang

26

sesungguhnya masuk dalam program perencanaan kegiatan yang terdapat dalam Renstra Kementerian Hukum dan HAM RI. Perencanaan

pembantukan desa sadar hukum merupakan program kegiatan dari Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Bidang Pelayanan Hukum Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Perencanaan pembentukan desa sadar hukum dalam pelaksanaanya didukung oleh beberapa kegiatan yang merupakan bagian tupoksi dari Bidang Pelayanan Hukum dan HAM Divisi Pelayanan Hukum dan HAM, yang mana program kegiatannya terdapat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan guna terlaksananya pembentukan desa sadar hukum di Provinsi Maluku.

B. Perencanaan Partisipatif

Proses perencanaan dapat dipahami sebagai suatu proses yang sistematis untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan menentukan apa, bagaimana, bilamana, dimana dan oleh siapa, kegiatan pembangunan dilaksanakan serta mengapa kegiatan itu perlu dilakukan. Perencanaan memberikan suatu hasil yaitu : 1. Adanya pengarahan dan pedoman bagi pelaksana kegiatan untuk mencapai tujuan pembangunan;

27

2. Adanya suatu prakiraan atau kegiatan yang dilakukan dan hasil yang dicapai, sehingga mengurangi ketidakpastian tentang kondisi-kondisi dimasa yang akan datang; 3. Adanya peluang untuk memilih alternatif kegiatan terbaik, dapat

menentukan skala prioritas untuk kegiatan yang dilakukan, adanya pedoman dan alat ukur untuk melakukan pengawasan; 4. Pada dasarnya kegiatan perencanaan berusaha menjawab : apa yang perlu dilakukan dalam kurun waktu tertentu, siapa yang bertugas dan bertanggungjawab untuk melakukan kegiatan tertentu; 5. Bagaimana prosedur, mekanisme dan tata cara yang harus ditempuh; 6. Berapa biaya yang diperlukan untuk semua kegiatan dan darimana sumberdaya yang diperlukan dapat memperoleh dan kapan tujuan, sasaran dan target akan dicapai dan bagaimana penjadwalannya. (PSKMP, 2003, dalam Nanlessy,2006:15).

Perencanaan partisipatif merupakan konsep dengan melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dimana masyarakat dituntut atau diajak untuk mendefinisikan apa kebutuhan masyarakat, memikirkan bagaimana proses penyelesaiannya dan merundingkan bagaimana

penyelesaian masalah/kebutuhan tersebut dinilai keberhasilannya. Secara sederhana konsep partisipasi terkait dengan keterlibatan suatu pihak dalam kegiatan yang dilakukan oleh pihak lain. Dalam konteks pembangunan,

28

partisipasi masyarakat selalu terkait dengan keterlibatan masyarakat dalam program/proyek/kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Davis dan Newton (1998) dalam Salman (2005:17) mengartikan perencanaan pertisipasi sebagai keterlibatan mental dan emosional orangorang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagai tanggung jawab pencapaian tujuan itu. Dari definisi ini terdapat tiga esensi yakni : 1. Keterlibatan, pertisipasi berarti adanya keterlibatan mental dan emosional dibanding hanya aktifitas fisik, sehingga dengan itu makna partisipasi secara sukarela menjadi terbedakan dari mobilisasi; 2. Kontribusi, partisipasi berarti mendorong orang untuk

mendukung/menyumbang bagi situasi tertentu; 3. Tanggungjawab, partisipasi mendorong orang untuk bertanggungjawab dalam suatu kegiatan. Menurut Freidmann dalam Paskirana (2005:9), perencanaan dengan pendekatan partisipatif atau biasa disebut participatory planning merupakan suatu proses politik untuk memperoleh kesepakatan bersama melalui aktifitas negosiasi antar seluruh pelaku pembangunan (stakeholder). Proses politik ini dilakukan secara transparan dan aksesi sehingga masyarakat memperoleh kemudahan setiap proses pembangunan yang dilakukan serta setiap tahap perkembangannya. Perencanaan partisipatif juga dapat dipandang sebagai instrumen pembelajaran masyarakat (social learning) secara kolektif melalui

29

interaksi antar pelaku pembangunan atau stakeholder, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kapasitas seluruh stakeholder dalam upaya memobilisasi sumber daya yang dimiliki. Selain itu perencanaan partisipatif juga merupakan sebuah proses teknis, yang lebih ditekankan pada peran dan kapasitas fasilitator untuk mendefinisikan dan mengidentifikasi stakeholder secara tepat. Salah satu hal penting dalam proses teknis ini adalah upaya pembangunan institusi masyarakat yang cukup handal sebagai wadah bagi masyarakat untuk melakukan proses mobilisasi pemahaman, pengetahuan, dan ide-ide menuju terbangunnya sebuah konsensus, sebagai awal tindak kolektif penyelesaian publik. Dan juga perencanaan partisipatif dalam pendekatan partisipatif selalu dikaitkan dengan proses demokrasi, dimana masyarakat sebagai elemen terbesar dalam suatu tatanan masyarakat diharapkan dapat ikut serta dalam proses penentuan arah kebijakan pembangunan, sehingga upaya

pemberdayaan masyarakat menjadi aspek penting dalam perencanaan partisipatif. Menurut Sutrisno dalam Suhirman (2003:8) dalam Nanlessy (2006:18) menyatakan perencanaan partisipatif adalah keikutsertaan stakeholder termasuk masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Partisipasi dapat dilaksanakan dalam setiap tahapan, jenis pembangunan dan memiliki kemitraan serta pengambilan keputusan diambil melalui dialog antar stakeholder dan masyarakat bukan hanya sebagai objek melainkan juga

30

sebagai subjek pembangunan, maka perencanaan partisipatif berdasarkan pengertian diatas merupakan suatu proses yang melibatkan stakeholder, terutama masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan. Perencanaan partisipatif pada awalnya menempatkan rakyat hanya sebagai partisan dalam pembangunan dengan adanya paradigma baru dalam pembangunan, berkembang pemikiran bahwa pembangunan

seharusnya oleh rakyat itu sendiri sedangkan pihak luar hanya fasilitator, Salman (2005:25). Dengan demikian agenda ini mengantarkan rakyat sebagai pelaku utama dalam pembangunan. Pergeseran makna konsep partisipasi dari kata keadaan (keterlibatan rakyat dalam pembangunan) menjadi kata (pendekatan untuk mengantarkan rakyat menjadi pelaku pembangunan yang dikenal dengan pendekatan partisipatoris). Menururt Tikson (2001:10) dalam Nanlessy (2006:19) partisipasi masyarakat merupakan sebuah proses dimana masyarakat sebagai

stakeholder, terlibat mempengaruhi dan mengendalikan pembangunan ditempat mereka masing-masing. Jadi masyarakat turut serta secara aktif dalam memprakarsai kehidupan mereka, melalui proses pembuatan

keputusan dan perolehan sumber daya dan penggunaannya. Selanjutnya menurut Conyers (1991) menjelaskan 3 (tiga) alasan utama mengapa partisipasi masyarakat penting dalam proses pembangunan, yaitu :

31

a. Partisipasi masyarakat dapat menjadi telinga untuk memperoleh informasi mengenai kondisi, permasalahan dan kebutuhan mereka; b. Efektifitas dan efisiensi dan program atau proyek pembangunan akan lebih mudah dicapai, apalagi dalam kondisi kontribusi masyarakat dapat mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu implementasi pembangunan; c. Partisipasi secara etik moral merupakan hak demokrasi bagi rakyat, sehingga dengan partisipasi yang maksimal pemerintah sudah otomatis meredam potensi resistensi dan protes sosial bagi efek-efek samping pambangunan.

Partisipasi bermakna penyelenggara

pemerintah

harus mampu

mewujudkan peran aktif masyarakat agar masyarakat merasa memiliki dan turut bertanggungjawab terhadap perkembangan kehidupan bersama atau dapat dikatakan bahwa partisipasi adalah memberikan kesempatan bagi semua peserta forum untuk terlibat dan berperan serta secara aktif dalam keseluruhan tahapan proses pengambilan keputusan, Najib (2004). Pretty (1995) dalam Salman (2005:18-19) mengilustrasikan partisipasi masyarakat dalam program pembangunan bersifat kontinum, mulai dari partisipasi yang dimanipulasi yang dilakukan pihak luar terhadap masyarakat, sampai pada mobilisasi diri oleh inisiatif masyarakat itu sendiri dalam memecahkan masalah/memenuhi kebutuhan sesuai keberadaannya.

32

Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan dari yang terendah sampai tertinggi sebagai berikut : 1. Partisipasi manipulasi (kooptasi), partisipasi komunitas secara sederhana, dimana keterwakilan rakyat pada badan pemerintah tidak melalui pemilihan secara demokrasi, dan representasi komunitas pada badan pemerintah tidak memiliki kekuasaan dalam pengambilan keputusan; 2. Partisipasi Pasif (kepatuhan), komunitas partisipasi melalui penyampaian apa yang terjadi atau dilakukan oleh pihak pemerintah/pelaku

pembangunan. 3. Partisipasi Konsultasi (konsultatif), komunitas berpartisipasi melalui konsultasi atau menjawab pertanyaan. Dimana agen eksternal

menetapkan masalah dan proses pengumpulan informasi serta mengontrol analisa. Sebagian besar proses konsultatif langsung tanpa berbagi pendapat dalam pengambilan keputusan, dan profesional eksternal tidak memiliki kewajiban untuk mengakomodir pandangan masyarakat dalam formulasi rencana/keputusan; 4. Partisipasi Material (kontribusi), komunitas berpartisipasi melalui kontribusi sumberdaya seperti tenaga kerja, atau bentuk material seperti bahan makanan atau dana. Bentuk seperti ini sangat umum, yang didalamnya komunitas belum menjadi pemangku dari praktek pembangunan yang langsung;

33

5. Partisipasi Fungsional (kerjasama), partisipasi komunitas dilihat oleh orang luar sebagai cara (means) untuk mencapai tujuan. Rakyat berpartisipasi melalui pembentukan kelompok-kelompok untuk menemukan kelompok yang berpengaruh, mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan. 6. Partisipasi Interaktif (saling belajar), rakyat terlibat dalam analisis bersama, pengembangan rencana aksi dan pembentukan/penguatan kelembagaan lokal. Partisipasi dilihat dalam makna yang benar, bukan sekedar sebagai alat untuk mencapai tujuan. Proses ini melibatkan metodologi

interdisipliner untuk mendapatkan perspektifyang lebih beragamdan proses belajar yang sistematis dan terstruktur, karena kelompok masyarakat memainkan kontrol dalam pengambilan keputusan dan menentukan bagaimana sumberdaya digunakan, maka mereka menjadi pemangku dalam memelihara struktur dan praktek;

7. Mobilisasi

Diri

(pemberdayaan),

rakyat

bepartisipasi

dengan

cara

mengambil inisiatif secara independen dari lembaga eksternal dalam mengubah sistem. Dalam hal ini dimana masyarakat membangun kontak dengan lembaga luaruntuk dukungan sumberdaya dan bimbingan teknisyang diperlukan, tetapi tetap mengontrol bagaimana sumberdaya yang ada dan digunakan. Mobilisasi diri dapat meluas bila pemerintah dan LSM menyiapkan kerangkapemberdayaan dalam dukungannya.

34

Ketika tangga partisipasi meningkat dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi, maka dibutuhkan berbagai kemampuan untuk mengelola atau meningkatkan tingkat partisipasi tersebut. Kecakapan warga dan pemerintah untuk mengelola tahapan yang ada dan mendorong ketangga partisipasi yang lebih tinggi merupakan faktor penting dalam kemajuan pendekatan partisipatif. Sering ditemukan berbagai perencanaan yang partisipatif ketika diimplementasikan ternyata masih merupakan tahapan partisipasi yang masih rendah, bukan karena komitmen untuk melaksanakan melainkan ketidakmampuan organisasi masyarakat dan pemerintah untuk mengawal implimentasi kebijakan tersebut. Partisipasi masyarakat dalam implimentasi pembangunan akan melahirkan apa yang disebut kepekaan integritas (sence of integritas) yang merupakan rasa kesatuan, rasa kebersamaan, rasa kekeluargaan, dan rasa kegotongroyongan yang muncul karena akumulasi pengalaman keterlibatan dalam implimentasi pembangunan. Dalam melaksanakan perencanaan hukum, yang perlu mendapatkan perhatian utama adalah meningkatkan kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran hukum masyarakat merupakan persoalan yang sebenarnya agak rumit. Hal ini disebabkan oleh karena masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk atau pluralistik, yang mencakup pelbagai kesadaran baik yang bersifat pribadi maupun kelompok. Dengan demikian terdapat kesadaran hukum yang tidak tunggal atau seragam, meski harus

35

diakui bahwa atas dasar studi perbandingan, terdapat bermacam-macam persamaan di dalam masyarakat majemuk tersebut. Persamaan-persamaan yang ada hendaknya dimanfaatkan untuk dapat menyusun suatu unifikasi hukum, akan tetapi perbedaan-perbedaan yang ada tidak boleh diremehkan, oleh karena tidak jarang menyangkut dasar dari sistem atau sub sistem masyarakat yang bersangkutan (Muhlizi (2009). Lebih lanjut menurut Muhlizi (2009) Pembangunan hukum, haruslah dilihat secara holistik sebagai upaya sadar, sistematis, dan

berkesinambungan untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang semakin maju, sejahtera, aman, dan tenteram di dalam bingkai dan landasan hukum yang adil dan pasti. Proses pembangunan hukum berkaitan erat dengan : (1) proses pembuatan hukum atau perangkat peraturan perundang-undangan yang memungkinkan nilai-nilai normatif yang hidup di dalam masyarakat untuk diformulasikan sedemikian rupa dan kemudian dilegitimasikan oleh kekuasaan umum menjadi norma publik (law making process), (2) proses pelaksanaan dan penegakan (law enforcement) yang memungkinkan hukum yang dibangun dan dikembangkan menjadi hidup dan dapat bekerja secara fungsional (living law in action), dan proses pembinaan dan pembangunan kesadaran hukum masyarakat yang

memungkinkan hukum dan sistem hukum yang dibangun memperoleh dukungan sosial dalam arti luas (legal awareness). Dengan perkataan lain, pembangunan hukum itu secara sistemik menyangkut : (a). materi hukum

36

dan prosedur-prosedurnya, (b). institusi, termasuk aparat yang terlibat di dalamnya, mekanisme kerja institusi hukum, serta sarana dan prasarana penunjang yang diperlukan untuk itu, (c). kesadaran hukum dan budaya hukum masyarakat yang menjadi subyek hukum yang bersangkutan. Menurut Muhlizi (2009), dari komponen sistem hukum diatas salah satunya adalah kesadaran hukum dan masyarakat hukum sebagai subjek hukum yang menjadi sasaran pelaksanaan pembangunan hukum.

Masyarakat hukum adalah himpunan berbagai kesatuan hukum (legal unity) yang satu sama lain terikat dalam suatu hubungan yang teratur. Kesatuan hukum yang membentuk masyarakat hukum itu dapat berupa individu, kelompok, organisasi atau badan hukum negara, dan kesatuan-kesatuan lainnya. Sedangkan alat yang dipergunakan untuk mengatur hubungan antar kesatuan hukum itu disebut hukum, yaitu kesatuan sistem hukum yang tersusun atas berbagai komponen. Pengertian ini merupakan refleksi dari kondisi obyektif berbagai kelas masyarakat hukum, yang secara umum dapat diklasifikasikan atas tiga golongan utama, yaitu: (a). masyarakat sederhana; (b). masyarakat Negara; dan (c). masyarakat internasional. Menurut Rosidi (2009), di dalam suatu masyarakat hukum fungsi perencanaan pembangunan dapat dilakukan dengan memanfaatkan hukum. Hal ini disebabkan karena: 1. pertama, hukum merupakan hasil penjelajahan ide dan pengalaman manusia dalam mengatur hidupnya. Hukum merupakan bentuk pengaturan

37

kehidupan manusia yang paling tua, yang pada abad ke-20 telah diyakini sebagai design dan pengaturan hidup yang paling modern dan representatif. Hampir tidak terdapat satupun negara yang tidak berbentuk negara hukum; 2. Kedua, terbawa oleh hakekat pengadaan dan keberadaan hukum dalam suatu masyarakat, terutama untuk mengatur kehidupan masyarakat. Termasuk di dalamnya pengaturan terhadap perubahan yang terjadi atau yang hendak dilakukan oleh masyarakat. 3. Ketiga, fungsi mengatur itu telah didukung oleh potensi dasar yang terkandung dalam hukum, yang melampaui fungsi mengatur, yaitu juga berfungsi sebagai pemberi kepastian, pengaman, pelindung, dan

penyeimbang, yang sifatnya dapat tidak sekedar adaptif dan fleksibel, melainkan juga prediktif dan antisipatif. Potensi hukum ini terdapat pada dua dimensi utama dari fungsi hukum, yaitu fungsi preventif dan represif. Preventif adalah fungsi pencegahan, fungsi ini dituangkan dalam bentuk pengaturan pencegahan (prevention regulation) yang hakekatnya

merupakan design dari setiap tindakan yang hendak dilakukan oleh masyarakat. Design ini meliputi seluruh aspek tindakan manusia, termasuk resiko, dan pengaturan prediktif terhadap bentuk penanggulangan resiko itu. Sedangkan represif adalah fungsi penanggulangan. Fungsi ini dituangkan dalam bentuk penyelesaian sengketa atau pemulihan terhadap kerusakan keadaan yang diakibatkan oleh resiko tindakan yang terlebih

38

dahulu telah ditetapkan dalam perencanaan tindakan itu. Dimensi fungsi ini menunjukkan bahwa hukum merupakan instrumen yang tidak hanya potensial untuk mengatur dan menjaga harmonisasi kehidupan

masyarakat, melainkan juga potensial untuk merekayasa masyarakat. 4. Keempat, dalam isu pembangunan global itu hukum telah dipercaya untuk mengemban misinya yang paling baru, yaitu sebagai sarana perubahan sosial atau sarana pembangunan. Kepercayaan ini didasarkan pada hakekat dan potensi hukum sebagai inti kehidupan masyarakat.

Fungsi baru itu berarti perkembangan dan beban baru bagi hukum. Rasio pembangunan hukum itu terletak dalam perspektif ini. Untuk mengemban fungsi barunya, hukum membutuhkan peningkatan kapasitas dalam bentuk pembangunan dan pembaharuan terhadapnya. Pembangunan dan

pembaharuan ini dapat berbentuk rekonstruksi, intensifikasi fungsi, atau pengembangan fungsi. Rekonstruksi itu dapat berbentuk penggantian, penataan, pengelolaan dan pengembangan hukum. Penggantian hukum dilakukan terhadap hukum yang telah kekurangan atau kehabisan daya dukungannya. Penataan hukum dilakukan terhadap hukum yang berada dalam kondisi mis-koordinasi, berbatas substansi tidak jelas, atau yang bertumpang tindih fungsi dan substansi. Pengelolaan hukum dilakukan terhadap hukum yang daya dukungnya telah memadai dan

pengembangan hukum dilakukan terhadap hukum yang daya dukungnya telah baik, berdasarkan kebutuhan kondisi. Hal penting yang perlu

39

ditegaskan dalam kaitan dengan pembahasan terakhir ini adalah bahwa makna hukum ditempatkan tidak hanya pada makna hukum normatif, melainkan terutama dalam konteks makna hukum sebagai suatu sistem.

C. Program Desa Sadar Hukum

Menurut Muhlizi (2009) untuk melaksanakan pembangunan dan pembaharuan hukum yang merupakan suatu sistem diperlukan perencanaan. Perencanaan merupakan unsur yang sangat penting dalam mengelola organisasi . Perencanaan merupakan suatu perumusan dari persoalanpersoalan tentang apa dan bagaimana suatu pekerjaan hendak

dilaksanakan. Perencanaan juga merupakan suatu persiapan (preparation) untuk tindakan-tindakan kemudian. Perencanaan meliputi hal-hal yang akan dicapai, yang kemudian memberikan pedoman, garis-garis besar tentang apa yang akan dituju. Kekhususan sifat perencanaan ialah dominannya fungsi perencanaan untuk keberhasilan seluruh manajemen. Menurut pandangan politis strategis, jika keseluruhan manajemen mempunyai nilai strategis, dengan sendirinya perencanaan sebagai bagian tentu juga mempunyai sifat dan strategis. Dan bila perencanaan sebagai langkah awal pemerintah, bernilai strategis, besar harapan bahwa keseluruhan manajemen akan bernilai strategis pula.

40

Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M – 01.PR.07.10 Tahun 2005 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, pada BAB I Pasal 2 menyatakan bahwa : Kantor Wilayah mempunyai tugas melaksanakan tugas pokok dan fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam wilayah Propinsi berdasarkan kebijakan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 3 Dalam melaksanakan tugas, Kantor Wilayah menyelenggarakan fungsi : a. pengkoordinasian, pengawasan; b. pembinaan di bidang hukum dan hak asasi manusia; c. penegakan hukum di bidang pemasyarakatan, keimigrasian, perencanaan, pengendalian program, dan

administrasi hukum umum, dan hak kekayaan intelektual; d. perlindungan, pemajuan, pemenuhan, penegakan dan penghormatan hak asasi manusia; e. pelayanan hukum;

41

f. pengembangan budaya hukum dan pemberian informasi hukum, penyuluhan hukum, dan diseminasi hak asasi manusia; g. pelaksanaan kebijakan dan pembinaan teknis di bidang administrasi di lingkungan Kantor Wilayah.

Berdasarkan ketentuan pasal 3 huruf (b) dan huruf (f), maka kantor wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku mempunyai tugas yang sebgaimana telah ditentukan RENSTRA Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia dalam melaksanakan pembangunan hukum daerah, yang salah satu programnya adalah perencanaan pembentukan

desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon. Adapun tujuan dari program desa sadar hukum berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor : PHN.03.05.-73 tahun 2008 tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum pada Lampiran I , yaitu : 1. Agar setiap anggota masyarakat mengetahui dan meningkatkan

kesadaran akan hak dan kewajibannya; 2. Agar setiap anggota masyarakat memahami dan mentaati terhadap hukum yang berlaku.

42

Dalam Lampiran I Peraturan Kepala badan Pembinaan Hukum Nasional, menyatakan bahwa pembentukan Kadarkum dibentuk di Pusat, di Propinsi, dan di Kabupatan/Kota, antara lain sebagai berikut : 1. Pembentukan Kadarkum di Pusat ditetapkan dengan Keputusan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia; 2. Di Propinsi dengan keputusan Gubernur; dan 3. Di Kabupaten/Kota dengan Keputusan Bupati/Walikota.

Lebih lanjut disampaikan pula keanggaotaan kadarkum terdiri atas anggota masyarakat yang atas kemauannya sendiri berusaha untuk meningkatkan kesadaran hukumnya, dan tidak terikat pada syarat : a. Usia; b. Jenis kelamin; c. Pekerjaan; d. Pendidikan; e. Syarat lainnya. Kelompok kadarkum dapat ditinjau dari perspektif modal

pembangunan, karena keberadaan kelompok kadarkum yang menjadi sasaran desa binaan hukum bisa menjadi modal sosial dalam pembangunan. Masyarakat yang memiliki modal sosial yang tinggi cenderung bekerja secara

43

gotong-royong, guyub, merasa aman untuk berbicara dan mengatasi perbedaaan-perbedaan di antara mereka. Modal sosial dapat diartikan sebagai hasil dari relasi yang intim dan konsisten di antara masyarakat. Elemen utama dari kadarkum dan desa binaan hukum yaitu, social capital mencakup norms, reciprocity, trust,

dan network. Keempat elemen tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kerjasama untuk mencapai hasil yang diinginkan yang mampu mengakomodasi kepentingan individu yang melakukan kerjasama maupun kelompok secara kolektif. Menurut World Bank (1998) social capital tidaklah sesederhana hanya sebagai penjumlahan dari institusiinstitusi yang dibentuk oleh masyarakat, tetapi juga merupakan perekat dan penguat yang menyatukan mereka secara bersama-sama. Social sosial yang

capital meliputi share

values dan rules bagi

perilaku

terekspresikan dalam hubungan-hubungan antar personal, trust dan common sense tentang tanggung jawab terhadap masyarakat, semua hal tersebut menjadikan masyarakat lebih dari sekedar kumpulan individu-individu. Modal dasar dari adanya ikatan sosial yang kuat adalah adanya kerjasama di antara anggota kelompok atau organisasi dalam hal komunitas suatu desa/kelurahan, dimana ikatan social tersebut akan terbanguan apabila ada kerjasama di antara semua warga masyarakat. Kerjasama akan terbangun dengan baik apabila berlandaskan kepercayaan di antara para

44

anggotanya. Kemampuan komunitas atau kelompok – kelompok untuk bekerjasama dan menumbuhkan kepercayaan baik di antara anggota – anggotanya maupun dengan pihak luar merupakan kekuatan yang besar untuk bekerjasama dan menumbuhkan kepercayaan pihak lain, karena itulah disebut „modal sosial‟. Jika warga masyarakat saling bekerjasama dan saling percaya yang didasarkan kepada nilai – nilai universal yang ada , maka tidak akan ada sikap saling curiga, saling jegal, saling menindas dan sebagainya. Modal dasar dari desa/kelurahan binaan hukum adalah Komunitas Kelompok Kadarkum. Di dalam komunitas kadarkum ini, nilai-nilai seperti gotong-royong, kepercayaan, kohesifitas, altruisme, jaringan dan kolaborasi sosial diartikulasi di setiap pertemuannya, baik melalui metode simulasi, temu sadar hukum atau diskusi, lomba kadarkum serta program kegiatan lainnya. Modal sosial bersifat bottom-up, seperti halnya komunitas kadarkum yang merupakan upaya swadaya dari masyarakat untuk menjadikan diri mereka paham dan taat terhadap aturan-aturan hukum. Rencana pembentukan dan pembinaan desa/kelurahan sadar hukum dari perspektif Modal Sosial, kiranya keberadaan desa/kelurahan ini dapat dimanfaatkan oleh banyak stakeholder pembangunan. Misalnya, BNN dalam rangka pencegahan narkoba dan Kejaksaan Tinggi dalam pemberdayaan keberadaan kelompok kadarkum binaan ini. BNN dan Kejaksaan Tinggi bisa mensinergikan program-programnya dengan program kegiatan Kantor

45

Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia secara bersama-sama melakukan pembinaan di daerah/desa rawan narkoba (red district) dan memberikan pemahaman dan pengetahuna tentang bagaimana kinerja dari Kejaksaan Tinggi dalam melakukan sebagaian tugas dalam mengungkap kasus misalnya Korupsi. Dengan dibentuk kelompok kadarkum yang pada gilirannya daerah tersebut akan dibina secara bersama-sama sehingga desa/kelurahan tersebut bisa menjadi sadar hukum. (kris dalam desa sadar hukum sebagai modal sosial dalam pembangunan). Penyuluhan hukum merupakan program kegitan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM dalam rangka mewujudkan kesadaran hukum masyarakat kearah yang lebih baik dalam menggerakkan, membina dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan penyebaran informasi dan sosialisasi hukum kepada anggota masyarakat dalam suatu

desa/kelurahan untuk menjadi desa/kelurahan binaan hukum yang pada akhir menjadi desa/kelurahan sadar hukum. Menurut Mulyana W. Kusumah, dkk. (1998:70) penyuluhan hukum adalah serangkaian kegiatan penyebarluasan informasi kepada seluruh warga masyarakat tentang aturan-aturan hukum yang berlaku. Hukum memiliki banyak fungsi, salah satu dari fungsi hukum adalah a tool of social atau alat rekayasa social. Sehubungan dengan fungsi ini, maka proses sosialisasi peraturan perundang-undangan yang menjadi bagian penting

46

dalam proses pemebetukan desa/kelurahan sadar hukum diupayakan agar peraturan-perturan tersebut benar-benar efektif diberlakukan. Menurut Achmad Ali (1998:195) tujuan sosialisasi antara lain adalah : 1. Agar warga masyarakat mengetahui kehadiran suatu undang-undang atau peraturan; 2. Agar warga masyarakat dapat mengetahui isi suatu undang-undang; 3. Agar warga masyarakat dapat menyesuaikan diri atau pola piker dan tingka laku dengan tujuan yang dikehendaki oleh Undang-Undang atau peraturan hukum tersebut.

Pengaruh sosialisasi dan komunikasi sangat besar pengaruhnya dalam rangka penegakkan hukum serta dalam rangka pembentukan desa/kelurahan sadar hukum. Menurut Sajtipto Rahardjo (1982:91) Efektifitas dari sosialisasi dan komunikasi hukum adalah : 1. Makin banyak saluran untuk pembeitahuan keputusan, makin besar dampaknya; 2. Informasi mengenai ketentuan tentang kepatuhan terhadap suatu

keputusan akan mendatangkan dampak lebih besar daripada diskusi secara umum mengenai suatu kasus; 3. Pemberitaan tentang reaksi negative dengan segera, cenderung untuk menaikkan ketidakpatuhan.

47

Meskipun dinyatakan bahwa setiap orang dianggap mengetahui hukum, akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Oleh karena itu dalam rangka pembentukan desa/kelurahan sadar hukum ini Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM mengemban tugas yang penting dalam rangka menyelenggarakan pembangunan hukum di daerah yakni harus selalu melakukan penyebarluasan pengetahuan hukum kepada setiap anggota masyarakat baik itu di wilayah Provinsi, Kabupaten dan kota agar jumlah anggota masyarakat di setiap desa/kelurahan bertambah

pengetahuan dan pemahaman tentang hukum. Dengan bertambahnya setiap anggota masyarakat yang mengetahui hukum maka diharapkan kita semua dapat lebih sadar akan manfaat hukum dalam kehidupan. Selanjutnya pembangunan di Negara kita yang merupakan

pembangunan di segala bidang, didasarkan pada asas pembangunan nasional, salah satu diantaranya adalah asas kesadaran hukum. Setiap warga Negara Indonesia harus selalu patuh dan taat kepada hukum, dan Negara berkewajiban untuk menegakkan dan menjamin kepastian hukum. Menurut Soerjono Soekanto (1982:72) salah satu persyaratan agar hukum dapat berfungsi dengan baik adalah adanya kepatuhan hukum yaitu jika setiap orang berperilaku sesuai dengan hukum yang berlaku. Kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan hukum menunjukkan efektifitas keberlakuan hukum ditengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, jika kaidah hukum

48

dipatuhi atau digunakan maka hukum itu mampu mempunyai pengaruh positif yang biasa disebut efektifitas hukum menurut Rusli Effendy, dkk (1991:76). Lebih lanjut Scholten (Chairuddin, 1991:104) mengatakan bahwa kesadaran hukum itu tidak lain adalah suatu kesadaran yang ada dalam kehidupan manusia untuk selalu patuh dan taat kepada hukum. Menurut Liaca Marzuki (1995:96) fungsi kesadaran hukum rakyat berkaitan dengan kepatuhan hukum, sekalipun kepatuhan hukum belum tentu mencerminkan kesadaran hukum para anggota masyarakat. Kepatuhan hukum yang didasarkan kepada pemaksaan, niscaya tidak dapat lahir dari sikap batiniah yang memancarkan nilai kesadaran hukum. Kiranya desa/kelurahan tidak sadar berlebihan hukum bila yang dikatakan menjadi bahwa bagian pembentukan penting dalam

meningkatkan kesadaran hukum masyarakat yang dilaksanakan dengan berbagai program kegiatan temu sadar hukum, sosialisasi peraturan perundang-undangan, ceramah penyuluhan hukum, diskusi dan simulasi adalah bagian penting dalam pembangunan hokum yang harus diterima oleh masyarakat tanpa ada paksaan dan dari hati. Sehingga perencanaan, pengelolaan, dan pelaksanaan program kegiatan tersebut diatas dilakukan dengan lebih merata dan menjangkau seluruh lapisan/golongan masyarakat yang lebih luas, melalui berbagai pola penyuluhan hukum dengan mengusahakan tetap adanya koordinasi, integrasi dan sinkronisasi antar

49

instansi Menurut Mulyana W Kusumah, dkk, 1998:7-8). (Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM dengan PEMDA Provinsi, Kabupaten dan Kota). Upaya untuk mewujudkan kesadaran hukum masyarakat merupakan program kegiatan pembangunan hukum yang tidak mudah karena sangat berkaitan dengan pelbagai kehidupan, meskipun kesadaran hukum itu dapat dibentuk. Menurut Mustafa Abdullah dan Soerjono Soekanto (1982:213) bahwa kesadaran hukum dapat dibentuk melalui program-program

pendidikan tertentu, yang memberikan suatu bimbingan kearah kemampuan untuk dapat memberikan penilain kepada hukum, bahkan hukum dapat pula dijadikan sarana untuk itu. Menurut Satjipto Raharjo (1983) membuat analisis bagaimana sebenarnya budaya hukum yanga berlaku dalam masyarakat Indonesia. Hal yang tidak dapat diabaikan adalah peranan orang-orang atau anggota masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan hukum. Hukum yang dijalankan dalam masyarakat banyak ditentukan oleh sikap, pandangan serta nilai-nilai yang hidup, dihayati oleh masyarakat. Membangun kesadaran hukum masyarakat adalah sebuah usaha yang harus terus menerus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Salah satu usahanya adalah pembentukan Desa Sadar Hukum. Dalam rencana

50

strategi Kementerian Hukum dan HAM RI tahun 2010-2014 program pemberdayaan masyarakat untuk sadar hukum dilaksanakan melalui serangkaian kebijakan dan kegiatan prioritas, antara lain seluruh Desa di Indonesia menjadi Desa Sadar Hukum dan HAM. Salah satu unit yang melakukan pembinaan kesadaran hukum masyarakat adalah Badan

Pembinaan Hukum Nasional melalui Pusat Penyuluhan Hukum, yang kemudian kebijakan dan kegiatan prioritas diteruskan ke Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia Maluku yang secara terprogram menjalankan program kegiatan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum. Dalam menjalankan program kegiatan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum Kantor Wilayah Kementerian HUkum dan Hak Asasi Manusia Maluku tetap mengacu pada petunjuk teknis dari Badan pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Disamping itu menurut keterangan dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Maluku yang menjabat pada periode Tahun 2010 mengatakan bahwa Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku menargetkan sejumlah desa sadar hukum dan mengerti tentang masalah HAM. Lebih lanjut disampaikanm bahwa untuk sementara, sudah 5 desa dan 1 kelurahan yang telah dijadikan sasaran desa sadar hukum di Kota Ambon meliputi desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, kelurahan Waehaong Kecamatan

Nusaniwe, Desa Batumerah Kecamatan Sirimau, Desa Waiheru Kecamatan

51

Baguala, Desa Leihari Kecamatan Leitmur dan Hunuth/Durian Patah, kecamatan Baguala," kata Kakanwil Depkum HAM Maluku, Chris Leihitu. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku mengeharapkan dari puluhan ribu desa/keluraha di Maluku ini, ada yang betul-betul menjadi andalan sebagai desa sadar hukum, dimana

masyarakatnya taat membayar pajak, mematuhi peraturan perundangundangan yang berlaku, tidak membuat pelanggaran dan benar-benar memahami yang namanya hak asasi manusia.

Pembentukan desa sadar hukum sudah menjadi tugas pokok dan tanggung jawab Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku pada Divisi Pelayanan Hukum dan HAM di bidang pelayanan hukum.

Proses pembentukannya diawali Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM dan Ketua Pengadilan Negeri dan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat untuk dibina, kemudian diajukan ke Gubernur untuk memperoleh keputusan dan nantinya diresmikan.

"Tapi tentunya dalam menjalankan program pembentukan desa sadar hukum ini tidak mudah akan di dorong terus karena sudah menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku katanya. Selain tiga lokasi kecamatan di Pulau Ambon, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku secara bertahap akan melancarkan program pembinaan desa sadar hukum di kabupaten lain di Pulau Buru,

52

Pulau Seram, Maluku Tenggara dan Kota Tual sampai ke Maluku Barat Daya (MBD). D. Kerangka Konseptual

Secara umum penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peranan Kanwil Kemenkumham dalam hal ini Bidang Pelayanan Hukum pada Divisi Pelayanan Hukum dan HAM melakukan pembentukan Desa Sadar Hukum dan menganalisa proses Perencanaan Pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum di Kota Ambon, dimana Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku memilki program kegiatan yang dalam penyusunan program kegiatan perencanaan pembungunan dibidang hukum harus berkoordinasi dengan Divisi Administrasi, Divisi Pemasyarakatan, Divisi Keimigrasian, dan Divisi Pelayanan Hukum dan HAM serta Unit Pelaksana Teknis di wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kota di Maluku dalam penyusun program kegiatan. Dalam hal ini, unsur koordinasi merupakan suatu proses yang selalu dilaksanakan secara berkesinambungan. Berdasarkan kenyataan bahwa dalam proses penyusunan

perencanaan program kegiatan sebagaimana yang telah diuraikan pada latar belakang bahwa kewenangan Kantor Wilayah dalam proses penyusunan hanya pada pengusulan program kegiatan yang harus disesuiakan dengan kondisi geografis wilayah dan dipadukan dengan Rencana Strategis

53

Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Program kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan desa/kelurahan desa sadar hukum,

dilaksanakan oleh Divisi Pelayanan Hukum dan HAM bidang Pelayanan Hukum. Untuk mendukung terlaksananya pembentukan desa/kelurahan sadar hukum terdapat program kegiatan yang harus dilaksanakan dan di programkan secara berkesinambungan yaitu : kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu, kegiatan temu sadar hukum, kegiatan inventarisasi desa/kelurahan binaan atau desa/kelurahan sadar hukum, sosialisasi peraturan perundang-undangan, diskusi dan simulasi, Kegiatan Bimbingan Teknis penyuluhan Hukum, kegiatan Dialog Interaktif di RRI dan Radio Swasta, Pameran Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat dan kegiatan lainnya. Meskipun diakui bahwa untuk membangun kesadaran hukum masyarakat tidak mudah membalikkan telapak tangan, maka diperlukan perencanaan program kegiatan yang terencana dan terarah serta didukung dengan sarana dan prasarana demi tercapainya tujuan yang dikehendaki. Sedangkan untuk proses pembentukan desa sadar hukum itu harus di dasarkan dan mengikuti petunjuk pelaksanaan dari : Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M-01.PR.07.10 Tahun 2005 yang kemudian diubah dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M09.PR.07.10 Tahun 2007 dan dilakukan perubahan kedua dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M.MH-10.OT.01.01 Tahun 2009

54

Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan HAM RI, Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M-PR.07.10 Tahun 2005 tentang Organisasi Tata Kerja Kanwil Kemenkum HAM Maluku, Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. M.01-PR.08.10 Tahun 2007 Tentang Pola Penyuluhan , Peraturan Kepala BPHN No. PHN.HN.03.05-73 Thn 2008 Tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum, Laporan-laporan Kegiatan Penyuluhan Hukum/Temu Sadar Hukum, Inventarisasi Desa/Kelurahan Binaan atau Desa/Kelurahan Sadar Hukum, Penetapan Walikota Ambon tentang

Pembinaan Desa/Kelurahan Binaan. Disampaikan pula bahwa pada kenyataannya bila dipopulasikan belum ada desa/kelurahan di Kota Ambon yang sudah ditetapkan sebagai desa/kelurahan sadar hukum. Faktanya dari tahun 2008, tahun 2009, dan tahun 2010, dan tahun 2011 berdasarkan program kegiatan Inventarisasi Desa Binaan/Desa Sadar Hukum yang proses kegiatannya dilakukan dengan menyurati Bupati dan Walikota se Propinsi Maluku hanya Kota Ambon yang merespon Surat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku itupun dilakukan pada tahun 2010. Respon terhadap Surat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku oleh Pemerintah Kota Ambon dengan menerbitkan Surat Keputusan Walikota Ambon Nomor : 1028 Tahun 2010 Tentang Penetapan Negeri, Desa dan Kelurahan Binaan Dalam Wilayah Daerah Kota Ambon.

55

Kemudian isi dari Surat Keputusan Walikota Ambon Nomor : 1028 Tahun 2010 Tentang Penetapan Negeri, Desa dan Kelurahan Binaan Dalam Wilayah Daerah Kota Ambon adalah menetapkan Negeri, Desa dan Kelurahan Binaan Hukum Kota Ambon Tahun 2010 adalah sebagai berikut : 1. Kecamatan Nusaniwe, yakni Negeri/Desa Latuhalat dan Kelurahan Waihaong; 2. Kecamatan Sirimau, yakni Negeri/Desa Batumerah; 3. Kecamatan Teluk Ambon, yakni Desa Hunuth/Durian Pata; 4. Kecamatan Baguala, yakni Desa Waiheru; dan 5. Kecamatan Leitimur Selatan, yakni Negeri/Desa Leahari.

Dalam Surat Keputusan Walikota tersebut dinyatakan Negeri, Desa dan KelurahanBinaan Hukum dengan memenuhi syarat yang ditetapkan dan pembinaan dilaksanakan melalui : kegiatan Penyuluhan Hukum; kegiatan Temu Sadar Hukum; Kegiatan Simulasi di bidang Hukum; dan kegiatan Lomba Kadarkum. Bila dilihat dari dalam penyusunan program kegiatan khususnya pada bidang pelayanan hukum Divisi Pelayanan Hukum dan HAM, itu terasa masih terdapat keterbatasan dalam penyusunan dan pengusulan program kegiatan yang menunjang perencanaan terbentuknya desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon sehingga bila dikaji lebih lanjut, maka masih terdapat kurangnya volume kegiatan yang menjadi kegiatan prioritas dalam mendukung

56

terbentuknya desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon tidak berjalan dengan dukungan program kegiatan yang tersedia dalam APBN, kurangnya sarana dan prasarana, volume kegiatan yang sedikit, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang kurang, serta ketersediaan anggaran atau alokasi anggaran yang terbatas dalam mendukung terbentuknya

desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon. Situasi ini mengakibatkan terhambatnya perencanaan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum yang dilaksanakan oleh Bidang pelayanan Hukum Divisi Pelayanan Hukum dan HAM pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Untuk lebih jelasnya kerangka penelitian ini dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

57

Perencanaan Pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum di Kota Ambon

Peranan Kantor Wilayah

Faktor Penghambat

Proses Pembentukan

1. Tugas Pokok dan Fungsi Kantor Wilayah a. Peran Koordinasi b. Fungsi Pembinaan

2. Bentuk Kegiatan yang dilaksanakan

1. Kurangnya Volume Kegiatan 2. Terbatasnya Anggaran 3. Kurangnya SDM Tenaga Penyuluh Hukum 4. Kurang Pegawai 5. Kurangnya Sarana dan Prasarana Pendukung

1. Tugas Pokok dan Fungsi Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum

2. Pola Penyuluhan Hukum

3. Pembentukan dan Pembinaan Kelompok Kadarkum 4. Kriteria Desa/Kelurahan Sadar Hukum

3. Kerjasama Instansi

5. Pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum

TERBENTUKNYA DESA/KELURAHAN SADAR HUKUM DI KOTA AMBON

58

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat studi kasus (case study) dengan tipe penelitian diskriptif yaitu memberikan gambaran secara menyeluruh (comprehensive) tentang Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum Di Kota Ambon khususnya ditinjau dari peranan dan proses Pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon Khususnya di Negeri/Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong, Oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dan Pemerintah Daerah Kota Ambon. Analisis yang digunakan adalah kualitatif untuk menjelaskan

kenyataan atau temuan-temuan empiris dalam Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Wilayah Kementerian hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku dan penelitian dilaksanakan PEMDA Kota Ambon yaitu Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon Camat Sirimau dan Camat Nusaniwe Kota Ambont serta Desa Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon yang menjadi sasaran penelitian berdasarkan Penetapan Walikota Ambon tentang

59

pembinaan

pada

desa

dan

kelurahan

tersebut.

Waktu

penelitian

dilaksanakan selama 3 bulan.

C. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah bidang Pelayanan Hukum Divisi Pelayanan Hukum dan HAM di bawah Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku antara lain : Kadiv Yankum HAM, Kepala Bidang Pelayanan Hukum, Kepala Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum Sedangkan untuk wilayah Kota Ambon sendiri penelitiannya antara lain yaitu : Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon, Camat Nusaniwe, Camat Sirimau, Masyarakat di Kelurahan Waihaong dan Masyarakat di Negari/Desa Batu Merah yang masing-masing diwakili oleh 10 orang anggota masyarakat yang merupakan peserta sekaligus anggota Kadarkum. Sehingga seluruh responden diharapkan dapat mewakili populasi penelitian.

D. Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari 2 (dua) sumber yaitu : 1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat melalui metode wawancara dan pengamatan (observasi) langsung dilapangan.

60

Data primer yang dikumpulkan meliputi

peranan Kantor Wilayah

Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam proses meliputi : a. Penetapan program kegiatan dalam Pembentukan Desa Sadar Hukum b. Penetapan anggran; c. Pembinaan dan sosialisasi dalam rangka Pembentukan Desa Sadar Hukum khususnya di Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong di Kota Ambon. 2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh tidak melalui upaya sendiri melainkan melalui dokumen-dokumen tertulis yaitu : a. Dokumen yang berkaitan dengan program-program kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan dan pembentukan desa sadar hukum dan laporan laporan kegiatan pada Divisi Pelayanan hukum dan HAM Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. b. Dokumen tentang lokasi penelitian yang meliputi kondisi geografis, keadaan penduduk dan aspek-aspek lain yang menyangkut kondisi dan keadaan wilayah penelitian.

E. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam studi ini adalah dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang digunakan baik melalui wawancara secara langsung kepada responden dengan

61

menggunakan daftar pertanyaan dan pedoman wawancara yang telah dipersiapkan kepada para pejabat dilingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku, Pemda Kota Ambon, Camat. b. Kuesioner yaitu responden menjawab sejumlah pertanyaan yang telah dipersiapkan, yang tujukan kepada masyarakat di Kelurahan

Waihaong dan Masyarakat di Negari/Desa Batu Merah yang masingmasing diwakili oleh 10 orang anggota masyarakat yang merupakan peserta sekaligus anggota Kadarkum. c. Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang digunakan melalui pengamatan langsung terhadap objek kegiatan pad Sub Bidang Penyuluhan dan Bangtuan Hukum dalam rangka perencanaan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon. d. Dokumentasi yaitu pengumpulan data dari dokumen-dokumen

mengenai peranan dan proses pembentukan desa sadar hukum di Kota Ambon.

F.

Metode Analisis Data

Dalam rangka menjawab permasalahan penelitian, maka digunakan analisis kualitatif deskriptif yaitu menjelaskan, menguraikan, dan

menggambarkan situasi sesuai dengan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Sehingga dapat ditarik kesimpulan tentang

Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon.

62

. G. Definisi Operasional

Untuk memperjelas variabel-variabel dalam penelitian ini, maka variabel-variabel tersebut dioperasionalkan : 1. Perencanaan merupakan persiapan yang teratur dari setiap usaha untuk mewujudkan tujuan, sehingga unsur-unsurnya terdiri dari tujuan, kebijakan, prosedur, program dan progres. 2. Perencanaan Pembangunan adalah suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku pembangunan pada tingkat yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek-aspek fisik, aspek sosial, ekonomi, aspek hukum dan aspek-aspek lingkungan lainnya dengan cara terus-menerus merumuskan menganilis tujuan dan kondisi dan pelaksanaan pembangunan,

pembangunan,

kebijakan

menyusun konsep strategi-strategi bagi pemecahan masalah (solusi) dengan memperhatikan sumberdaya yang tersedia. 3. Pembangunan hukum, haruslah dilihat secara holistik sebagai upaya sadar, sistematis, dan berkesinambungan untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang semakin maju, sejahtera, aman, dan tenteram di dalam bingkai dan landasan hukum yang adil dan pasti. 4. Perencanaan partisipatif merupakan konsep dengan melibatkan

masyarakat dalam proses perencanaan dimana masyarakat dituntut atau

63

diajak untuk mendefinisikan apa kebutuhan masyarakat, memikirkan bagaimana proses penyelesaiannya dan merundingkan bagaimana penyelesaian masalah/kebutuhan tersebut dinilai keberhasilannya. 5. partisipasi masyarakat merupakan sebuah proses dimana masyarakat sebagai stakeholder, terlibat mempengaruhi dan mengendalikan

pembangunan ditempat mereka masing-masing. Jadi masyarakat turut serta secara aktif dalam memprakarsai kehidupan mereka, melalui proses pembuatan keputusan dan perolehan sumber daya dan penggunaannya. 6. Pemerintah (Kementerian Hukum dan HAM) adalah aparat/pegawai negeri sipil yang terlibat dalam peencanaan partisipatif. 7. Masyarakat adalah komunitas Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong di Kota Ambon yang terlibat dalam pembentukan desa sadar hukum di kota Ambon. 8. Masyarakat hukum adalah himpunan berbagai kesatuan hukum (legal unity) yang satu sama lain terikat dalam suatu hubungan yang teratur. 9. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 10. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 11. Keluarga Sadar Hukum (Kadarkum) adalah wadah yang berfungsi menghimpun warga masyarakat yang dengan kemauannya sendiri berusaha untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.

64

12. Modal sosial secara sederhana yakni eksistensi dari serangkaian nilainilai atau norma-norma informal tertentu yang dibagikan di antara anggota-anggota dari kelompok yang membuat kerjasama di antara mereka. Masyarakat yang memiliki modal sosial yang tinggi cenderung bekerja secara gotong-royong, guyub, merasa aman untuk berbicara dan mengatasi perbedaaan-perbedaan di antara mereka. 13. Desa Sadar Hukum adalah desa atau kelurahan yang telah dibina atau karena swadaya, memenuhi kriteria sebagai desa/kelurahan sadar hukum. 14. Keterlibatan Stakeholder adalah adanya peran aktif pemerintah, LSM, dan masyarakat melalui kegiatan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum aktif dalam melakukan pembinaan dan menetukan kebutuhan serta penentuan program kegiatan. 15. Koordinasi adalah penyatuan gerak dari unit kerja dengan masyarakat yang dilakukan oleh Kantor Wilayahsehingga tercapai rekomendasi perencanaan partisipasi dalam pembentukan desa/kelurahan sadar hukum. 16. Instansi adalah instansi yang terlibat dalam proses perencanaan dalam menyampaikan program kegiatan yang telah dirumuskan oleh unit kerja kepada masyarakat.

65

17. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM adalah instansi vertikal Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia yang berkedudukan di Propinsi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam hal perencanaan pembentukan desa sadar hukum di Propinsi, Kabupaten dan Kota.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kota Ambon 1. Sejarah Kota Ambon

66

Pada tahun 1575, saat dibangunnya Benteng Portugis di Pantai Honipopu, yang disebut Benteng Kota Laha atau Ferangi, kelompokkelompok masyarakat kemudian mendiami sekitar benteng. Kelompokkelompok masyarakat tersebut kemudian dikenal dengan nama soa Ema, Soa Kilang, Soa Silale, Hative, Urimessing dan sebagainya. Kelompokkelompok masyarakat inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Ambon. Dalam perkembangannya, kelompok-kelompok masyarakat tersebut telah berkembang menjadi masyarakat Ginekologis territorial yang teratur. Karena itu, tahun 1575 dikenal sebagai tahun lahirnya Kota Ambon. Pada tanggal 7 September 1921, masyarakat Kota Ambon diberi hak yang sama dengan Pemerintah Colonial, sebagai manifestasi hasil perjuangan Rakyat Indonesia asal Maluku. Momentum ini merupakan salah satu momentum kekalahan politis dari Bangsa Penjajah dan merupakan awal mulanya warga Kota Ambon memainkan peranannya di dalam Pemerintahan seirama dengan politik penjajah pada masa itu, serta menjadi modal bagi Rakyat Kota Ambon dalam menentukan masa depannya. Karena itu, tanggal 7 September ditetapkan sebagai tanggal kelahiran Kota Ambon. Disamping itu Negeri/Desa Batumerah berasal dari 3 (tiga) Negeri Ahusen, Negeri Uritetu, dan Negeri Amantelu. Negeri Ahusen saat berada di belakang Rumah Beri-beri bekas hotel Negera, Negeri Uritetu saat ini posisinya berada di belakang Kota Victoria/Bekas Benteng Victoria, dan Negeri Amantelu saat berada di belakang Negeri Halong Utang/Hutan.

67

Semasa penjajahan sekeitar Tahun 1600 masyarakat di 3 Negeri tersebut tinggal bersama-sama di Negeri/Desa Batumerah, sehingga Negeri/Desa Batumerah sudah ada sejak Tahun 1600 dan bergabung menjadi satu untuk membengun pembuatan Kota Ambon dan Benteng Victoria. Kenyataan atau bukti bahwa Negeri/Desa Batumerah merupan Negeri/Desa Adat bukan Negeri/Desa buatan/pendatang yaitu karena Negeri/Desa Batumerah ada memiliki sifat-sifat petuanan negeri antara lain adalah : a. Sifat dengan Negeri Halong yaitu Kali Way Ruhu; b. Sifat dengan Negeri Rurong/Hutumuri yaitu Nani Cap; c. Sifat dengan Negeri Ema yaitu Batu Bulan; dan

d. Negeri Amahusu yaitu Batu Capeo/Kali Mati Adapun bukti lainnya yaitu rumah-rumah Tau yang ada di Negeri/Desa Batumerah yaitu : Warang, Hatala, Lisaholet, Waliulu, Lebeharia, Masaoy, Hunsow, Suku, Tuhutelu, Lantang, Tahalua, Ehi, Makatita, Lata, Mamang, dan Nurlete. Dari ke 16 Ruma Tau yang ada saat ini hanya rersisa 10 Ruma Tau yaitu Hatala, Lisaholet, Waliulu, Lebeharia, Masaoy, Hunsow, Tahalua, Mamang, Nurlete, Suku. Sedangkan untuk Kelurahan Waihang, bahwa Kelurahan Waihaong tada Tahun 1971 masih bergabung/menjadi sati dengan Soa Silale yang disebut Lingkungan Huruf E. Kemudian pada Tahun 1980 Waihaong dibentuk menjadi Kelurahan, sehingga disebut Kelurahan Waihaong sampai saat ini.

68

2. Keadaan Administratif Kota Ambon merupakan salah satu dari 11 Kota/Kabupaten yang barada di Poropinsi Maluku. Letak Kota Ambon berada sebagian besar dalam wilayah pulau Ambon, dan secara geografis terletak pada posisi: 3o4o Lintang Selatan dan 128o-129o Bujur Timur, dimana secara keseluruhan Kota Ambon berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tengah. Ambon Letak Posisi 3o-4o LS (Lintang selatan) 128o-129o BT (Bujur Timur) Batas Wilayah Sebelah Utara dengan : Petuanan Desa Hitu, Hila, Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Sebelah Selatan dengan : Laut Banda Sebelah Timur dengan : Petuanan Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah Sebelah Barat dengan : Petuanan Desa Hatu, Kecamatan Leihitu. Wilayah Kota Ambon, dengan luas wilayah daratan (km2) sebesar 359,45 Km², sedangkan Luas Wilayah Laut (km2) seluas 17,55 Km², dan jumlah penduduk (jiwa) 206.210 jiwa (Sensus Kota Penduduk 2000). Ambon terbagi menjadi 5 kecamatan, yaitu: Kecamatan Nusaniwe, Kecamatan Sirimau, Kecamatan Leitimur Selatan, Kecamatan Baguala, Kecamatan Teluk Ambon. Kota Ambon terdiri dari 3 Kecamatan seluas 359,45 km2 dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 206.210 jiwa. Kecamatan dengan luas wilayah terbesar adalah kecamatan Teluk Ambon Baguala (158,79 km2), sedangkan kecamatan dengan wilayah terkecil yaitu

69

kecamatan Nusaniwe (88,35 km2). Kecamatan dengan tingkat kepadatan tertinggi yaitu kecamatan Nusaniwe (748 jiwa/km2) sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan rendah yaitu kecamatan Teluk Ambon Baguala (574 jiwa/km2). Kota Ambon meliputi wilayah di sepanjang kepulauan di teluk Ambon, (luar dan dalam teluk), dan Teluk Baguala Bay, dengan total wilayah seluas 277 km2 . Jumlah penduduk sekarang kira-kira diprediksikan sebesar 282 ribu jiwa yang terdiri dari berbagai wilayah di kepulauan Ambon. Luas Wilayah Kecamatan Sirimau 112,31 (Km3), Kecamatan Sirimau terdiri dari 14 (empat belas) Desa/Kelurahan antara lain yiatu : Kelurahan Waihoka, Kelurahan Amantelu, Kelurahan Rijali, Kelurahan Karang Panjang, Kelurahan Batu Meja, Kelurahan Batu Gajah, Kelurahan Ahusen, Kelurahan Honipopu, Kelurahan Uritetu, Kelurahan Pandan Kasturi, Desa Galala, Desa Hative Kecil, Desa Batu Merah, dan Desa Soya. Wialayah Negeri/Desa Batumerah adalah 60.000 H, Negeri/Desa Batumerah letak geografisnya sebelah timur berbatasan dengan Negeri/Desa Rutong/Hutumuri, Kecamatan Leitimur, sebelah Barat berbatasan dengan Laut Teluk Ambon, sebelah utara berbatasan dengan Kali Way Ruhu/Negeri Halong, sebelah Selatan berbatasan dengan Kali Way Batumerah. Kelurahan Waihaong memiliki luas wilayah 15 H, Kelurahan Waihaong mekiliki letak geografis berbatasan dengan Kelurahan Wainitu, berbatasan

70

dengan Kelurahan Mangga Dua, bnerbatasan dengan Kelurahan Silale, dan berbatasan dengan Kelurahan Teluk Ambon.

3. Iklim Iklim di Kota Ambon adalah iklim laut tropis dan iklim musim, karena letak pulau Ambon di kelilinggi oleh laut. Oleh karena itu iklim di sini sangat dipengaruhi oleh lautan dan berlangsung bersamaan dengan iklim musim, yaitu musim Barat atau Utara dan musim Timur atau Tenggara. Pergantian musim selalu diselingi oleh musim Pancaroba yang merupakan transisi dari kedua musim tersebut. Musim Barat umumnya berlangsung dari bulan Desember sampai dengan bulan Maret, sedangkan pada bulan April merupakan masa transisi ke musim Timur dan musim Timur berlangsung dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober, disusul oleh masa pancaroba pada bulan Nopember yang merupakan transisi ke musim Barat.

4. Keadaan Sosial Budaya 4.1. Penduduk Penduduk Kota Ambon berjumlah 239.697 jiwa. Luas wilayah 35.945 Ha. Maka kepadatan penduduknya 7 jiwa/Ha. Dari data kependudukan di atas maka Kota Ambon dapat digolongkan kepada Kelas Kota Sedang,

71

dimana berdasar kriteria BPS mengenai kelas kota, Kota Sedang adalah Kota dengan jumlah penduduk antara 100.000 sampai 500.000 jiwa. Jumlah tenaga kerja dominan di Kota Ambon adalah didominasi oleh sektor pertanian. Di tahun itu perdagangan hanya menjadi kontributor kedua dengan sumbangan 21.38 % PDRB, kemudian dikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (32,6%), kemudian diikuti oleh sektor jasajasa (28,4%), sektor pertanian (21,7%), sektor pengangkutan dan komunikasi (14,1%). Sedangkan sektor lainnya meliputi sektor pertambangan, industri pengolahan dan penggalian, bangunan listrik, dan gas rata-rata 2-3%. Selanjutnya jumlah peduduk di Negeri/Desa Batumerah adalah 50226 jiwa dengan perhitungan tenaga kerja penduduk usia 15 tahun – 60 tahun 32.586 orang/jiwa, ibu rumah tangga 10662 orang/jiwa, 13266 orang/jiwa dengan mata pencaharian dominan adalah pegawai negeri sipil 3062 orang, pedagang 2123 orang, buruh/swasta 1324 orang, tukang batu 158 orang, pengrajin kulit mutiara/kerang 120 orang, dan penjahit 98 orang. Sedangkan jumlah penduduk di Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon adalah 6178 jiwa, dengan jumlah tenaga kerja dominan adalah pedagang 37 %, pegawai negeri 21 %, swasta 13 %, dan bidang-bidang lain 29 %.

72

4. 2. Pendidikan Pendidikan merupakan suatu sarana untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat, sehingga kualitas sumber daya manusia sangat tergantung pada kualitass pendidikan. Pembangunan pendidikan di Kota Ambon mengacu pada (a) Pemerataan dan Akses Pendidikan, (b) Mutu, Relevansi dan Daya Saing Pendidikan, serta (c) Manajemen Bersih dan Transparan. Selama tahun 2010-2011, Tingkat Pencapaian Standar Pelayanan Minimal di bidang pendidikan tahun 2010-2011 adalah: 1) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah 16,69%. Hal ini berdasarkan rasio siswa pada jenjang TK/Penitipan Anak sejumlah 3.215 anak terhadap seluruh anak usia 4 – 6 tahun yang berjumlah 17.367 anak. 2) Penduduk berusia lebih 15 tahun yang melek huruf (tidak buta aksara) adalah 99,01%. Hal ini berdasarkan rasio penduduk berusia 15 tahun keatas yang dapat membaca tulis sejumlah 64.640 orang terhadap seluruh penduduk usia diatas 15 tahun yang berjumlah 65.287 orang. 3) Angka Partisipasi Murid (APM) SD/ MI/ Paket A adalah 100,72%. Hal ini berdasarkan rasio siswa usia 7-12 tahun di jenjang SD/MI/Paket A sejumlah 32.725 orang terhadap seluruh penduduk kelompok umur 7-12 tahun yang berjumlah 32.491 orang. 4) Angka Partisipasi Murid (APM) SMP/ MTs/ Paket B adalah 99,71%. Hal ini berdasarkan rasio siswa usia 13-15 tahun di jenjang SMP/MTs/Paket B sejumlah 14.126 orang terhadap seluruh penduduk kelompok umur 13-15 tahun yang berjumlah 14.896 orang.

73

5) Angka Partisipasi Murid (APM) SMA/SMK/MA/Paket C adalah 77,92%. Hal ini berdasarkan rasio siswa usia 16-18 tahun di jenjang

SMA/SMK/MA/Paket C sejumlah 13.121 orang terhadap seluruh penduduk kelompok umur 16-18 tahun yang berjumlah 16.900 orang. 6) Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI adalah 0,00%. Hal ini berdasarkan rasio siswa putus sekolah pada jenjang SD/ MI sejumlah 0 orang terhadap seluruh siswa SD/ MI yang berjumlah 40.238 orang. 7) Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs adalah 0.02%. Hal ini berdasarkan rasio siswa putus sekolah pada jenjang SMP/MTs sejumlah 2 orang terhadap seluruh siswa SMP/MTs yang berjumlah 18.114 orang. 8) Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA adalah 0,93%. Hal ini berdasarkan rasio siswa putus sekolah pada jenjang SMA/SMK/MA sejumlah 182 orang terhadap seluruh siswa SMA/SMK/MA yang berjumlah 19.654 orang. 9) Angka Kelulusan (AK) SD/MI adalah 100%. Hal ini berdasarkan rasio lulusan pada jenjang SD/MI sejumlah 5.752 terhadap seluruh siswa SD/MI yang mengikuti ujian berjumlah 5.752. 10) Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs adalah 99,86%. Hal ini berdasarkan rasio lulusan pada jenjang SMP/MTs sejumlah 5.570 siswa terhadap

seluruh siswa tingkat SMP/MTs yang mengikuti ujian yang berjumlah 5.562 orang. 11) Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA adalah 99,93%. Hal ini berdasarkan rasio lulusan pada jenjang SMA/SMK/MA sejumlah 6.042 siswa terhadap seluruh siswa tingkat SMA/SMK/MA yang mengikuti ujian yang berjumlah 6.047 orang.

74

12) Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs adalah 102,65%. Hal ini berdasarkan rasio siswa baru tingkat I pada jenjang SMP/MTs sejumlah 5.961 siswa terhadap seluruh siswa SD/MI yang lulus ujian yang berjumlah 5.752 orang. 13) Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA adalah 123,19%. Hal ini berdasarkan rasio siswa baru tingkat I pada jenjang SMA/SMK/MA sejumlah 6.902 siswa terhadap seluruh siswa SMP/MTs yang lulus ujian sebanyak 5.562 orang. Selanjutnya tingkat pendidikan yang menjadi partisipasi msyarakat di Desa Batumerah SMA/SLTA/sederajat berjumlah 4328 orang,

SMP/SLTP/sederajat berjumlah 2736 orang, tamat SD/sederajat sebanyak 2683 orang, D1 berjumlah 127 orang, D2 berjumlah 235 orang, D3 tidak ada, S1 brejumlah 1764 orang, S2 berjumlah 95 orang, S3 berjumlah 11 orang, belum sekolah/tidak berjumlah sekolah 2806 orang, usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah 51berjumlah orang, pernah sekolah tapi tidak tamat berjumlah 872 orang. Sedangkan tingkat pendidikan yang menjadi partisipasi dari masyarakat di Kelurahan Waihaong sebagai berikut : SD berjumlah 1769 orang, SMP berjumlah 1690 orang, SMA berjumlah1072 orang, D1 berjumlah 282 orang, D2 berjumlah 362 orang, D3 berjumlah 1106 orang, S1 berjumlah 469 orang, S2 berjumlah 50 orang, dan S3 berjumlah 4 orang.

75

Dengan demikian dari data diatas dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan baik dari Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong sangat bervariatif bila dilihat dari klasifikasi tingkat pendidikan yang di miliki oleh setiap anggota masyarakat dalam mengembangkan sumber daya manusia.

B. Peranan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam Malakukan Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon. 1. Tugas Pokok dan Fungsi Kantor Wilayah Struktur Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku merupakan instansi vertikal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Struktur organisasi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku adalah sebagai berikut : Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku dipimpin oleh Kepala Kantor Wilayah, dibantu oleh empat Kepala Divisi yaitu : - Divisi Administrasi :  Bagian Umum  Sub Bagian Kepegawaian  Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan  Bagian Penyusunan Program dan Laporan  Sub Bagian Penyusunan Program

76

 Sub Bagian Humas dan Laporan Divisi Pemasyarakatan :  Bidang Keamanan dan pembinaan  Sub Bidang Keamanan dan Ketertiban  Sub Bidang Bimbingan Kemasyarakatan, Latihan Kerja dan Produksi  Bidang Registrasi, Perawatan dan Bina Khusus Narkotika  Sub Bidang Registrasi dan Statistik  Sub Bidang Perawatan dan Bina Khusus Narkotika Divisi Keimigrasian :  Bidang Lalu Lintas, Izin Tinggal dan Status Keimigrasian  Sub Bidang Lalu Lintas Keimigrasian  Sub Bidang Izin Tinggal dan Status Keimigrasian  Bidang Intelijen, Penindakan dan Sistem Informasi Keimigrasian  Sub Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian  Sub Bidang Sistem Informasi Keimigrasian Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia  Bidang Pelayanan Hukum  Sub Bidang Pelayanan Hukum Umum  Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum  Bidang Hukum

77

 Sub Bidang Pengembangan Hukum  Sub Bidang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum  Bidang Hak Asasi Manusia  Sub Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia  Sub Bidang Diseminasi Hak Asasi Manusia Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M-01.PR.07.10 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Bagian Keempat yaitu Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia Pasal 42, Pasal 43 huruf (c) menegaskan bahwa Bidang Pelayanan mempunyai tugas salah penyuluhan hukum dan konsultasi hukum. Kemudian dalam Pasal 46 ayat (2) menjelaskan bahwa sub bidang penyuluhan dan bantuan hukum mempunyai tugas melakukan pembinaan, pembimbingan dan koordinasi serta kerjasama di bidang penyuluhan hukum, melakukan monitoring dan evaluasi serta pemantauan, pemberian konsultasi dan bantuan hukum. a. Koordinasi dengan Pemerintah Daerah Tugas dan fungsi dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia Maluku khususnya Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan satunya melaksanakan kegiatan

78

Hukum Bidang Pelayanan Hukum yang berada di bawah Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku dalam perencanaan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon. Dalam rangka mewujudkan rencana tersebut Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan dalam Daftar Isian Pelaksana Anggaran antara lain : Kegiatan Ceramah Penyuluhan Hukum adalah kegiatan penyebarluasan informasi dan pemahaman terhadap norma hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku guna mewujudkan dan mengembangkan kesadaran hukum masyarakat sehingga tercipta budaya hukum dalam bentuk tertib dan taat atau patuh terhadap norma hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku demi tegaknya supremasi hukum. Ceramah/Penyuluhan Hukum Terpadu adalah kegiatan penyuluhan hukum yang dilaksanakan atau diselenggarakan oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta serta organisasi kemasyarakatan secara bersamasama dan terpadu mengenai penyuluhan, sasaran, dan atau materi penyuluhan. Koordinasi kegiatan Penyuluhan Hukum atau kegiatan Ceramah Penyuluhan Hukum Terpadu yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku bersama PEMDA Kota, untuk melaksanakan kegiatan Ceramah Penyuluhan Hukum kepada masyarakat

79

pada Desa/Kelurahan Binaan di Kota Ambon yang menjadi sasaran penyuluhan hukum setiap tahunnya dilaksanakan dalam rangka pembinaan untuk menuju terbentuknya Desa Kelurahan Sadar Hukum. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia P. Maatoke pada tanggal 24 Mei 2012 dikemukakan bahwa Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku pernah menyurati atau berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Ambon (Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon), sebelum di bentuk Desa/Kelurahan

Binaan/Desa/Kelurahan Sadar Hukum dan kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku Nomor : W18-HN.03.05.820 Juli 2009 Perihal Data Desa Binaan dan Desa Sadar Hukum kepada Walikota Ambon. Selanjutnya berdasarkan wawancara dengan Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon pada tanggal yang sama dikemukakan bahwa setelah dilakukan koordinasi atau menyurati Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon tindaklanjutnya adalah menindaklanjuti Surat Keputusan Bersama antara Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku denga Walikota Ambon dimana langkah trategis yang dilakukan oleh Walikota Ambon cq. Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon adalah menyurati para Camat untuk melakukan

80

penilaian terhadap Negeri, Desa, dan Kelurahan dalam wilayah kecamatan yang dipandang patut untuk diusulkan sebagai Negeri, Desa, dan Kelurahan Binaan. Kemudian hasil penilaian dari camat akan disampaikan kepada Walikota Ambon melalui Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon. Selanjutnya Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon menyusun Rancangan Surat Keputusan Walikota Ambon Tentang Pembentukan Negeri, Desa, dan Kelurahan Binaan. Hal ini sebagaimana kuatkan dengan yang dijelaskan oleh Camat Nusaniwe R. J Talakua pada tanggal 29 Mei 2012 mengemukakan bahwa Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon pernah melakukan koordinasi dengan Camat Nusaniwe melalui Surat perihal permintaan nama-nama Negeri, Desa, dan Kelurahan untuk dilakukan penilaian dan diusulkan menjadi Negeri,Desa, dan Kelurahan Binaan. Hal ini pun diperkuat dengan yang disampaikan Camat Sirimau A. J Hehamahua pada tanggal 25 Mei 2012, mengemukakan bahwa Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon pernah menyurati Camat berkaitan dengan permintaan nama-nama Negeri, Desa, dan Kelurahan untuk dinilai dan diusulkan menjadi Negeri, Desa, dan Kelurahan Binaan berdasarkan Surat yang disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa peran koordinasi dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku yang

81

dilakukan dengan menyurati PEMDA Kota Ambon direspon dan ditanggapi dengan baik sehingga koordinasi terus berjalan sampai pada Camat dan Kepala Desa dan Lurah dalam menginventarisasi Desa/Kelurahan di wilayah kewenangannya untuk mentetapkan satu atau lebih Desa/Kelurahan Untuk dijadikan sasaran pembentukan Desa/Kelurahan Binaan. Sehingga fungsi koordinasi dari PEMDA Kota Ambon kepada Camat berjalan dengan baik dan direspon oleh Camat dan dari Negeri, Desa, dan Kelurahan. Selanjutnya berdasarkan wawancara dengan Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan HAM Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon P. Maatoke pada tanggal 24 Mei 2012 menyampaikan bahwa peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dengan PEMDA Kota Ambon bersama-sama melakukan pembinaan memang diakui PEMDA Kota Ambon tidak mempunyai kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan

Desa/Kelurahan Binaan, akan tetapi kedepan PEMDA Kota Ambon khususnya bagian Hukum Kota Ambon selaku unit kerja sekretaris Kota Ambon mengajukan dan mengusulkan program/kegiatan Pembinaan Desa Binaan menjadi Desa Sadar Hukum di Kota Ambon dalam Rancangan Pembangunan Kota di bidang hukum dan ham ke BAPPEDA Kota Ambon untuk diakomodir dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJMP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) pada 6 (enam) Negeri, Desa, dan Kelurahan di 5 (lima) Kecamatan di Kota Ambon.

82

Menurut pendapat penulis bahwa PEMDA Kota Ambon merencanakan kegiatan Pembinaan Negeri, Desa, dan Kelurahan menjadi Negeri, Desa, Kelurahan Sadar Hukum dalam RPJP dan RPJMN Kota Ambon merupakan suatu langkah positif dan kepedulian serta apresiasi yang tinggi dari Walikota Ambon. Hal ini perlu direncanakan dan diprogramkan dalam pembangunan hukum di Kota Ambon mengingat Kota Ambon merupakan wilayah atau daerah yang rentan dan mudah terprovokasi dengan halhal yang dapat menghancurkan tatanan kehidupan PELA GANDONG yang merupakan warisan leluhur orang tua, datuk-datuk dan raja-raja di bumi pela gandong Maluku. Berdasarkan wawancara dengan P. Maatoke Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia yang mewakili Kepala Bagian Hukum Kota Ambon mengemukakan bahwa memang benar bahwa Desa/Kelurahan yang telah mendapat penilaian khusus dan telah ditetapkan dengan Keputusan Walikota Ambon sebagai Desa/Kelurahan Binaan Hukum sebagaimana yang disampaikan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia mengenai Kriteria-Kriteria suatu Desa/Kelurahan harus memenuhi : a. Pelunasan kewajiban membayar pajak bumi dan bangunan mencapai 90 % (sembilan puluh persen) atau lebih; b. Tidak terdapat perkawinan dibawah usia berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1974 tentang perkawinan;

83

c. Angka kriminalitas rendah; d. Rendahnya kasus narkoba; e. Tingginya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan; dan f. Kriteria lain yang ditentukan Daerah yakni salah satunya adat-istiadat dari Negeri, Desa, dan Kelurahan. Sehingga terdapat 6 (enam) Negeri, Desa, dan Kelurahan yang ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan Hukum oleh Walikota Ambon. Demikian halnya dengan yang disampaikan oleh R. J Talakua Camat Nusaniwe pada tanggal 29 Mei mengatakan bahwa benar dalam menentukan dan menilai suatu Negeri, Desa, dan atau Kelurahan dengan berdasarkan Surat dari Walikota Ambon yakni Bagian Hukum Kota Ambon dan dilampiri Surat dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku tentang kriteria suatu Negeri, Desa, dan Kelurahan dapat di tetapkan sebagai Desa/ Kelurahan Binaan Hukum dan kriteria tersebut juga menjadi dasar penilaian dari Camat Nusaniwe untuk menilai Negeri, Desa, dan Kelurahan di wilayah Kecamatan Nusaniwe sehingga Negeri latuhalat dan Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe ditetapkan sebagai

Desa/Kelurahan Binaan Hukum. Demikian halnya dengan yang disampaikan A. J Hehamahua Camat Sirimau pada tanggal 25 Mei 2012 mengemukakan bahwa benar adanya Negeri atau Desa yang diusulkan oleh Camat Sirimau itu di nilai berdasarkan pada kriteria yang telah ditentukan oleh Kementerian

84

Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagaimana surat yang disampaikan kepada Camat dan diteruskan ke Negeri, Desa dan Kelurahan dalam wilayah Kecamatan Sirimau Kota Ambon dari Walikota Ambon, sehingga Negeri Batumerah ditetapkan sebagai Desa Binaan Hukum. Apabila ditelaah dari hasil wawancara yang dilakukan penulis kepada responden diatas maka Baik PEMDA Kota cq Bagian Hukum Kota Ambon, Camat Nusaniwe dan Camat Sirimau menerapkan kriteria suatu

Desa/Kelurahan dapat ditetapkan sebagai Desa Binaan di Kota Ambon itu berdasarkan pada Peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Selain itu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku diantaranya kegiatan Ceramah Penyuluhan Hukum Terpadu, Temu sadar Hukum, Simulasi, Lomba Kadarkum, dan Kegiatan lainnya yang selalu dilaksanakan di Negeri, Desa, dan Kelurahan dalam wilayah kota Ambon sehingga dari pemantauan dan pengamatan dari Pemerintah Kota menjadikan hal tersebut sebagai dasar penilaian untuk ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan. Berikut mengenai perbandingan tingkat kesadaran hukum sebelum dan setelah Negeri, Desa, Kelurahan ditetapkan sebagai Desa/kelurahan sadar Hukum, berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis dengan Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia PEMDA Kota Ambon P. Maatoke pada tanggal 24 Mei 2012 mengemukakan bahwa ya memang

85

terdapat perbandingan sebelum ke 6 (enam) Desa/Kelurahan binaan di bentuk dan ditetapkan, dimana tingkat kesadaran hukum masyarakat di Desa/Kelurahan relatif rendah bila dibandingkan dengan tingkat kesadaran yang masyarakat setelah ke 6 (enam) Desa/kelurahan dibentuk dan dibina dan dtetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan Hukum. Selanjutnya berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada P. Maatoke Kepala Sub Bagian Bantuan tanggal 24 Mei 2012 dikemukakan bahwa memang terdapat perbedaan perbedaan tetapi yang disampaikan pada kesempatan ini lebih pada sesudah atau setelah ditetapkan menjadi Desa/Kleurahan binaan, dimana setelah kelompokkelompok Kadarkum dibentuk pada Negeri,Desa, dan Kelurahan Binaannya masing-masing yang dilakukan bersama-sama dengan Kemeneterian hukum dan HAM Maluku serta ditetapkan dengan Keputusan Walikota Ambon, kelompok-kelompok Kadarkum tersebut sangat nampak memberi pengaruh positif yaitu telah muncul atau semakin meningkat kesadaran hukum dari warga masyarakat di masing-masing Desa/Kelurahan yang menjadi

Kadarkum dan ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan Hukum. Pendapat dan pandangan yang sama pun diungkapkan oleh R. J Talakua Camat Nusaniwe berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 29 Mei 2012, dimana Camat Nusaniwe mengatakan bahwa terdapat perbedaan yang relatif signifikan dalam hal pemahaman masyarakat terhadap isu-isu hukum kontemporel seperti pengakan hukum

86

kasus korupsi dan penegakan ham. Pemahaman yang semakin baik ini terbentuk melalui ceramah-ceramah hukum yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia Maluku dan ditanggapi secara antusias oleh masyarakat terutama pada

Desa/kelurahan Binaan hukum. Sedangakan wawancara yang dlakukan penulis kepada A. J

Hehamahua Camat Sirimau pada tanggal 25 Mei 2012 mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan dan kemajuan dimana masyarakat Negeri Batumerah yang ditetapkan sebagai Negeri/Desa Binaan dari waktu ke waktu menunjukan perkembangan dalam menyikapi arti penting aturan hukum yang berlaku sehingga masyarakatnya dapat menahan diri dalam berbagai permasalahan yang terjadi selama ini terjadi dan juga dengan adanya kegiatan-kegiatan sosialisai dan penyuluhan hukum yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Sirimau. Dengan demikian dari hasil wawancara diatas bahwa denga

ditetapkannya 6 (enam) Desa/Kelurahan sebagai Desa/Kelurahan Binaan hukum maka hasil yang diperoleh antara lain adanya peningkatan dan antusias mayarakat terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku bersama PEMDA Kota Ambon dalam rangka mendidik, membentuk, membina, dan menetapkan sutau Desa/Kelurahan sebagai Desa/Kelurahan Binaan dan pada akhirnya menjadi Desa/Kelurahan Sadar Hukum.

87

Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis dengan R. J. Talakua Camat Nusaniwe pada tanggal 29 Mei 2012 mengungkapkan bahwa peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku setalah

Desa/Kelurahan ditetapkan oleh Walikota Ambon menjadi Desa/Kelurahan Binaan di wilayah Kecamatan Nusaniwe dalam rangka Pembinaan yaitu dengan dilakukannya penyuluhan-penyuluhan hukum dalam rangka

peningkatan kapasitas masyarakat dalam hal ini Desa-desa atau Kelurahan Binaan Sadar Hukum melalui Ceramah penyuluhan Hukum, lomba dan pendekatan-pendekatan sosiologis kemasyarakatan. Sedangkan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan A. J Hehamahua Camat Sirimau tanggal 25 Mei 2012 mengatakan bahwa setalah Desa/Kelurahan ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan maka peran Kantor Wilayah Kemeterian Hukum dan HAM Maluku dalam rangka pembinaan yaitu Kantor Wilayah sangat berperan dalam melakukan pembinaan terhadap Desa/Kelurahan yang ditetapkan menjadi Desa Binaan di wilayah Kecamatan Sirimau, bentuk dari pembinaan antara lain dilaksanakannya kegiatan penyuluhan hukum, kegiatan temu sadar hukum, kegiatan lomba kadarkum dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam rangka meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di kecamatan Sirimau Kota Ambon. Dari hasil wawancara dengan camat Nusaniwe dan camat Sirimau Kota Ambon jelas peran kantor wilayah dalam memberikan pembinaan kepada

88

Desa/Kelurahan yang telah ditetapkan sebagai Desa Binaan Hukum. Sehingga perencanaan yang selama ini dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dan di bantu oleh PEMDA Kota Ambon memberikan hasil yang positif bagi masyarakat di Desa/Kelurahan yang telah ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan hukum. Perbedaan yang terjadi setelah Desa Batunerah dan Kelurahan Waihaong ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan menunjukkan

perkembangan yang cukup baik dalam mengimplementasikan manfaat yang diperoleh selama kegiatan penyuluhan dan kegiatan temu sadar hukum serta kegiatan lain yang pernah dilaksanakan oleh Kantor Wilayah. Selain itu pula dari pengamatan penulis menununjukan masyarakat di 2 (dua)

Desa/Kelurahan sudah tidak lagi terpengaruh dengan isu-isu atau terpancing dengan situasi dan keadaan yang dapat menimbulkan terjadinya kerusuhan dan tindakan-tindakan positif lainnya yang sudah bisa dirasakan saat ini. Kemudian hasil wawancara P. Maatoke Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Bagian Hukum PEMDA Kota Ambon pada tanggal 24 Mei 2012, memberikan komentar dan pendapat bahwa Desa/Kelurahan yang terdapat di Kota Ambon setelah ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan Hukum dan bahkan telah diresmikan sebagai Desa/Kelurahan Sadar Hukum Bahwa Pemda Kota Ambon memberikan apresiasi dan sambutan positif atas kebijakan strategis dari Pemerintah khususnya Bapak Menteri Hukum dan HAM RI dan Kepala Kantor Wilayah

89

Kementerian Hukum dan Ham Maluku karena dengan kebijakan yang bermuara dari kegiatan penyuluhan hukum terpadu dan kegiatan-kegiatan dukungan lainnya dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Pusat dan Daerah (Kanwil Maluku) sehingga dapat terbentuk dan dibinanya Kadarkum di setiap Desa/Kelurahan di Kota Ambon kemudian dilanjutkan dengan Pembentukan dan pembinaan Desa/Kelurahan Binaan Sadar Hukum ternyata sanghat berdampak pada terciptanya keamanan, ketentraman, keharmonisan hidup mulai dari dalam keluarga, lingkungan Desa/Kelurahan Binaan khususnya dan Kota Ambon pada umumnya ehingga Kota dapat dikembalikan pada citra semula yaitu “ AMBON MANISE “. Selanjutnya menurut pendapat R. J. Talakua Camat Nusaniwe pada tanggal 29 Mei 2012 memebrikan pendapat bahwa Pemerintah Kecamatan Nusaniwe merasa bangga dan bersyukur atas kerja keras dan perhatian dari Kantor Wilayah Kementerian Huku dan HAM Maluku yang telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Ambon dalam rangka membangun budaya hukum dan merefleksikannya pada massyarakat di wilayah kecamatan Nusaniwe sehingga Negeri Latauhalat dan Kelurahan Waihaong ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Binaan. Camat pun berharap kerjasama yang telah dibangun, dipupuk dan dilaksanakan dengan baik dan telah terbina dalam hal peningkatan kapasitas pemahaman hukum masyarakat dapat terus

berlangsung agar kesempatan untuk meningkatkan ketertiban hukum dan kesadaran hukum masyarakat secara bertingkat dari keluarga,

90

Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kota/Kabupaten bHKn Propinsi dan secara nasional dapat terwujud. Kemudian menurut A. J Hehamahua Camat Sirimau berdasarkan wawancara pada tanggal 25 Mei 2012 memberikan pendapat bahwa Pemerintah Kota Khususnya Kecamatan Sirimau berterima kasih kepada Kantor Wialayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku yang telah memilih salah satu Desa yaitu Negeri Batu Merah yang berada di wilayah Kecamatan Sirimau sebagai sasaran Penyuluhan hukum terpadu kemudian dibentuk Kadarkum dan dilakukan pembinaan, setalah itu ditetapkan sebagai desa Binaan Hukum dan bahkan diresmikan menjadi Desa Sadar Hukum. Diharapkan diwaktu-waktu mendatang diharapkan kerjasama yang telah dilakukan dengan Pemerintah Kota Ambon ini dapat berlanjut dalam rangka membangun kesadaran hukum masyarakat di wilayah Kecamatan Sirimau Kota Ambon dengan kegiatan penyuluhan Hukum, HAM, agar masyarakat itu mengatahui hak dan kewajibannya sebagai warga negara sehingga

masyarakat itu taat pada aturan-aturan yang berlaku. Selain itu dengan adanya kerjasama yang baik ini terciptanya ketertiban dan kesadaran hukum baik dalam keluarga, desa, kecamatan, kota, propinsi dan bahkan sampai pada lingkup nasional. Dengan demikian disimpulkan bahwa peran koordinasi yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam melaksanakan Kegiatan di Desa/Kelurahan yang menjadi sasaran

91

pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan kegiatan yang ada dan terlaksana sesuai jadwal sehingga PEMDA Kota Ambon merespon maksusd perencanaan yang disampaikan oleh Kantor Wilayah sehingga memberikan hasil yang baik yakni dengan terbentuknya Desa/Kelurahan Binaan Hukum di Kota Ambon.

b. Fungsi Pembinaan Dengan ditetapkannya Desa/Kelurahan Binaan Hukum oleh Walikota Ambon sesuai Surat Keputusan Nomor : 1028 Tahun 2010 Tentang Penetapan Negeri, Desa dan Kelurahan Binaan Hukum Dalam Wilayah Daerah Kota Ambon maka menjadi tanggungjawab Kantor Wialayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku bersama Pemda Kota Ambon sebagaimana diatur dalam Peraturan Meneteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M-01.PR.07.10 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Bagian Keempat Pasal 45 ayat (2) bahwa Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum mempunyai tugas melakukan pembinaan, pembimbingan, dan koordinasi serta kerjasama dibidang penyuluhan hukum, evaluasi dan pemantauan, pemberian bantuan hukum dan konsultasi hukum. Maka peran pembinaan menjadi tanggungjawab dari Kementerian Hukum dan HAM Maluku bersama PEMDA Kota.

92

Pembinaan yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku adalah dengan melaksanakan kegiatan penyebaran informasi hukum atau sosialisasi hukum sebagaimana tabel berikut ini : Tabel: 1. peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku melaksanakan kegiatan Penyebaran Informasi Hukum atau Sosialisasi Hukum Pernyataan Responden Frekuensi (F) Presentase (%) Pernah 20 100 Tidak Pernah 0 0 Tidak Tahu 0 0 Jumlah 20 100
Sumber : Diolah dari data Primer, Mei 2012.

Bila dilihat dari presentase jawaban responden pada tabel 1, bahwa Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku pernah

melakasanakan kegiatan penyebaran informasi hukum atau sosialisasi hukum 20 responden (100%) menyatakan pernah. sedangkan tidak ada (0 %) responden menyatakan Tidak Pernah dan tidak ada (0 %) responden yang menyatakan Tidak Tahu (0 %). Dengan demikian penulis berpendapat bahwa peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam melaksanakan kegiatan Penyebaran Informasi Hukum atau Sosialisasi Hukum kepad masyarakat di Kelurahan Waihaong dan Desa Batumerah merupakan wujud kepedulian dan tanggungjawab dalam memberikan ilmu pengetuhan hukum, pemahaman, pembimbingan dan pembinaan kepada msyarakat guna terciptanya

ketentraman dan ketertiban dalam hidup bermasyarakat, bahkan penyebaran

93

informasi hukum atau sosialisasi hukum ini dilaksanakan dalam rangka perencanaan pembentukan Desa/Kelurahan Sadar hukum yang saat ini harus diwujudkan. Sebagaimana juga yang disampaikan olehKepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan HAM Pemda Kota Ambon P. Maatoke tanggal 21 Mei 2012 mengukakan bahwa setiap Kantor Wilayah melaksanakan kegiatan

penyebaran informasi atau sosialisasi hukum pihak Pemda selalu diberitahu melalui surat pelaksanaan kegiatan dimaksud. Begitupun Camat Nusaniwe R. J Talakua tanggal 25 Mei 2012 dan Camat Sirimau A. J Hehamahua bahwa dalam melaksanakan kegiatan penyebaran informasi hukum atau sosialisasi hukum pihak Kantor Wilayah Hukum dan HAM Maluku memberitakan maksud kegiatan yang akan dilaksanakan. Selain itu pula berdasarkan hasil wawancara dengan para responden secara langsung pada tanggal 30 Mei, 31 Mei, 1 Juni, 2, Juni, diketahui bahwa peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam melakukan Pembinaan dengan melaksanakan kegiatan penyebaran

informasi hukum dan sosialisasi hukum kepada masyarakat di Kelurahan Waihaong dan Desa Batumerah sangat efektif dilakukan dan selalu melibatkan para responen sebagai pesarta sosialisasi. Hal ini dipandang oleh para responden sebagai suatu langkah yang positif karena kegiatan yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Malukudalam rangka membangun kesadarn hukum di daerah khusunya si

94

Kota Ambon supaya dapat meminimalisir/atau dapat mengurangi tindakantindakan pelanggaran hukum meskipun tidak secara langsung perilaku masyarakat dapat berubah dari yang tidask baik menjadi baik tapi melalui suatu proses.

2. Bentuk Kegiatan yang dilaksanakan Bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku harus disesuaikan dengan program kegiatan dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Hal ini berlaku diseluruh Indonesia karena setiap Kantor Wilayah harus menyusaikan rencana kerja/rencana kegiatan harus disesuaikan dengan RENSTRA dari

Kementerian Hukum dan Ham RI, yang mana telah diruangkan dalam postur rancana kerja, anggaran dan RKAKL dan atau Daftar Isian Pelaklana Anggaran (DIPA) Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Adapun kegitan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku pada Tabel dibawah ini : Tabel 2 : Kantor Wilayah melaksanakan kegiatan Penyebaran Informasi Hukum atau Sosialisasi Hukum dalam bentu Ceramah Penyuluhan Hukum. Perntanyaan Responden Frekuensi (F) Presentase (%) Pernah 20 100 Tidak Pernah 0 0 Tidak Tahu 0 0 Jumlah 100 100
Sumber : Diolah dari Data Primer, Mei 2012

95

Berdasarkan data dari Tabel 2 di atas, diketahui bahwa 20 orang (100 %) responden mengaku pernah bahwa Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku melaksanakan kegiatan dalam bentuk Ceramah

Penyuluhan Hukum Terpadu, karena setiap kegiatn yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Maluku baik itu kegiatan dalam bentuk Ceramah penyuluhan hukum terpadu selalu melibatkan anggota masyarakat atau responden sehingga proses pembinaan yang dilakukan tidak terputus dan berlanjut serta pengetahuan yang didapat bisa disampaikan pada anggota masyarakat yang lain dalam rangka

meyebarluaskan informasi hukum serta membangunan kesadaran hukum masyarakat di wilayah tempat tinggal masyarakat. sedangkan 0 orang (0 %) responden tidak ada yang mengaku Tidak Pernah dan 0 orang (0 %) mengaku tidak tahu. Pernyataan dari responden pada Tabel 2 diatas diperkuat dengan

jawaban dari Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan HAM Pemda Kota Ambon yang mengatakan bahwa pembinaan yang dilakukan setalah Desa/Kelurahan yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota tentang Penetapan Negeri, Desa dan Kelurahan Binaan Hukum maka Kantor Wilayah selalu melaksakan kegiatan Ceramah Penyuluhan Hukum Terpadu di Desa/Kelurahan 6 (enam) Desa/Kelurahan di Kota Ambon. Pendapat ini pula diperkuat lagi oleh Camat Nusaniwe R. J Talakua pada tanggal 29 Mei 2012 mengatakan bahwa dalam rangka pembinaan

96

hukum kepada Desa/Kelurahan Binaan khususnya di Kelurahan Waihaong Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku selalu melaksanakan dan memberitahu maksud dilaksanakan kegiatan penyuluhan-penyuluhan hukum dan kegiatan pendekatan-pendekatan sosiologis kemasyarakatan dalam rangka Peningkatan kapasits mayarakat untuk patuh dan taat pada hukum. selanjutnya menurut Camat Sirimau A. J Hehamahua pada tanggal 25 Mei 2012 mengungkapkan bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan selalu diberitahu kepada pihak Kecamatan berkaitan den dilaksanakannya kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu selalu di laksanakan di Desa Batumerah, hal dilakukan dalam rangka melakukan pembinaan, karena Desa Batumerah merupakan salah satu desa di Kota Ambon yang dipilih untuk menjadi Desa/Kelurahan Binaan Hukum, sehingga kegiatan yang diberikan kepada warga masyarakat memberikan dampak yang baik bagi masyarakat. Berkaitan dengan kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu yang merupakan bentuk kegiatan penyebaran informasi huku atau sosialisasi hukum yang diberikan kepada masyarakat, adapun kegiatan temu sadar hukum yang menjadi bagian dari bentuk dari penyebaran informasi hukum yang kaitannya dengan pembinaan terhadap Desa/Kelurahan Binaan Hukum. untuk mengetahui Kantor Wilayah selain melaksanakan kegiatan Ceramah Penyuluhan Hukum Terpadu juga melaksanakan Kegiatan Temu Sadar Hukum kepada mayarakat di Kelurahan Waihaong dan dan Desa Batumerah

97

yang merupakan Desa/Kelurahan Binaan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Tabel 3 : Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku melaksanakan kegiatan Temu Sadar Hukum. Perntanyaan Responden Frekuensi (F) Presentase (%) Benar 20 100 Tidak Benar 0 0 Tidak Tahu 0 0 Jumlah 100 100
Sumber : Diolah dari Data Primer, Mei 2012

Berdasarkan Tabel 3 diatas diketahui bahwa 20 orang (100 %) responden mengatakan bahwa selain kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku juga melaksanakan kegiatan Temu Sadar Hukum. 0 orang (0 %) responden yang menjawab tidak benar tidak ada dan 0 orang (0 %) respondenyang menjawab tidak tahu tidak ada. Dari hasil Tabel 3 di atas dtarik kesimpulan bahwa responden cukjup peka dan mengingat betuk kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Maluku menjadi hal yang penting dalam masyarakat di Kelurahan Waihaong dan Desa Batumerah yang merupakan 2 diantara Desa/Kelurahan yang menjadi Desa/Kelurahan Binaan Hukum. Kegiatan Temu Sadar Hukum ini dilaksanakan guna meningkatkan pemahaman mayarakat, memotivasi anggota masyarakat mengenai perlunya memiliki kesadaran hukum dan untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.

98

Tanggungjawab pembinaan yang dilakukan oleh kantor wilayah baik itu dengan kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu dan kegiatan temu sadar hukum, terdapat materi-materi hukum yang disampaikan,

diinformasikan atau disosialisakan pada masyarakat di Kelurahan Waihaong dan Desa Batumerah dapat dilhat pada Tabel di bawah ini. Tabel 4 : Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam melaksanakan kegiatan kepada masyarakat di Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong menyampaikan materi Undang-Undang No. 1 Tahun 1994 Tentang Perkawinan. Perntanyaan Responden Frekuensi (F) Presentase (%) Pernah 20 100 Tidak Pernah 0 0 Tidak Tahu 0 0 Jumlah 100 100
Sumber : Diperoleh dari Data Primer, Mei 2012

Dari jawaban masyarakat, 20 orang (100 %) responden mengatakan pernah mendengar Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan disampaikan pada waktu kegiatan yang diselanggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku baik itu pada kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu maupun kegiatan temu sadar hukum.sedangkan masyarakat yang menjawab tidak pernah tidak ada (0 %) responden dan masyarakat yang menjawab yidak tahu (0 %) responden. Dengan demikian dari jawaban responden pada Tabel 4 diatas, penulis berkesimpulan materi yang disampaikan pada kegiatan yang dilaksanakan di Kelurahan Waihaonh maupun Desa Batumerah merupakan materi yang disampaikan berdasarkan pada hasil survei yang dilakukan sebelum

99

dilaksakannya kegiatan dimaksud, dan juga dilihat dari hasil data kegiatan Peta Pemasalahan Hukum dimana kegiatann ini dilaksanakan guna mengetahu permasalahan hukum apa saja yang dominan di Desa/kelurahan di Kota Ambon sehingga dari hasil Peta permasalahan Hukukm ini akan di pilah-pilah materi-materi hukum apa saja yang hangat terjadi di masyarakat dan paling banyak dialami oleh masyarakat seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga dan permasalahan hukum lainnya yang ada kaitannya dengan Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Selain materi hukum tentang Perkawinan diatas terdapat materi hukum lainnya yang menjadi materi prioritas dalam pelaksanaan pembinaan yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Untuk mengetahunya dapat dilihat pada Tabel di bawah ini : Tabel 5 : Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam melaksanakan kegiatan Pembinaan kepada masyarakat di Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong menyampaikan materi Undang-Undang No. 31 Tahun 199 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Perntanyaan Responden Pernah Tidak Pernah Tidak Tahu Jumlah
Sumber : Diolah dari Data Primer, Mei 2012

Frekuensi (F) 20 0 0 100

Presentase (%) 100 0 0 100

100

Prosentase katagori yang menyatakan pernah mendengar UndangUndang Nomor : 1 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, 20 orang (100 %) responden menyatakan Pernah, 0 orang (0 %) menyatakan Tidak Pernah dan 0 orang (0 %) menyatakan Tidak Tahu. Dengan demikian dari hasil presentase pada Tabel 5 diatas, bahwa materi Undang-Undang tentang Korupsi ini menjadi materi pilihan untuk

disampaikan pada kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu maupun kegiatan temu sadar hukum karena beberapa tahun terakhir materi hukum tentang korupsi menjadi bahan yang setiap saat diperbincangkan di hampir semua media karena pelaku-pelaku/oknum-oknum koruptor sebagaian besar adalah para pejabat negara, selain itu pula materi hukum tentang korupsi ini menjadi materi prioritas dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, hal ini dapat dilihat dari Postur RKAKL Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Tahun 2010 dan Tahun 2011. Sehubungan dengan penyampaian materi hukum dalam pelaksanaan kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu maupun kegiatan temu sadar hukum dalam rangka pembinaan kepada Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong di Kota Ambon yang merupakan Desa/Binaan Hukum, maka hukum mengatur mengatur larangan, anjuran dan sanksi, hukum juga mengatur hak dan kewajiban. Untuk mendapat jawaban dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

101

Tabel 6 : Hukum selain mengatur larangan, anjuran dan sanksi, hukum juga mengatur hak dan kewajiban. Perntanyaan Responden Frekuensi (F) Presentase (%) Ya 14 80 Tidak 0 0 Tidak Tahu 16 20 Jumlah 100 100
Sumber : Siperoleh dari Data Primer, Juni 2012

Jumlah responden yang mengatakan Ya 16 orang (80 %) responden dengan alasan bahwa setiap warga negara bersama kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan, wajib menjunjung hukum dalam pemerintahan tanpa ada kecualinya. Hal ini menggambarkan hukum memebrikan perlindungan yang sama terhadap hak dan kewajiban bagi warga negara terutama mengenai diri sendiri, keluarga, harta menda, nama baik, kesempatan kerja/kesempatan mencarai nafkah, beribadah, mendapatkan pendidikan, memperoleh keadilan dan sebagainya. Dengan demikian hak dan kewajiban setiap warga negara perlu diketahui oleh masyarakat melalui kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu maupun kegiatan temu sadar hukum yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Responden yang menjawab Tidak 0 orang (0 %), dan 6 orang (20 %) responden menyatakan tidak tahu, jawaban atau peryataan responden itu mengambarkan bahwa terdapat adegium dalam masyarakat bahwa setiap peraturan perundang-undangan yang telah disahkan maka semua orang dianggap tahu, untuk itu ketidak tahuan masyarakat akan hak dan kewajiban

102

ini hendaknya selalu di diberitahukan melalui kegiatan-kegiatan yang menjadi tugas dan fungsi serta tanggungjawab dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku yang merupakan perpanjanagan tangan dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia terutama yang berkaitan dengan pembangunan hukum didaerah. Selanjutnya masih terkait dengan pembinaan yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku, terdapat materi hukum yakni Undang-Undang Nomor : 22 Tahun 1997 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 39 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika yang diberikan pada setiap keegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu dan kegiatan temu sadar hukum. untuk mengetahui jawaban responden terhadap UndangUndang tersebut dapat di lihat pada tabel berikut : Tabel: 7. materi hukum yakni Undang-Undang Nomor : 22 Tahun 1997 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 39 Tahun 2009 tetnatng Narkotika dan Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika Pernyataan Responden Pernah Tidak Pernah Tidak Tahu Jumlah
Sumber : Diolah dari data Primer, Mei 2012.

Frekuensi (F) 20 0 0 20

Presentase (%) 100 0 0 100

Berdasarkan pada tabel diatas, maka diketahui dari jawaban responden yang mengatakan pernah mendengar adalah 20 orang (100 %) responden, 0

103

orang (0 %) responden tidak ada yang menjawab tidak pernah, dan 0 orang (0 %) tidak ada yang menjawab tidak tahu. Dari pernyataan responden tersebut dapat dipahami bahwa semua responden menjawab pernah mendengar Undang-Undang Nomor : 22 Tahun 1997 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 39 Tahun 2009 tetnatng Narkotika dan Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika karena dilihat dari beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan responden atau masyarakat baik di Desa Batumerah dan Kelurahan selalu menjadi peserta yang telah ditetapkan baik oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku maupun dari Pemerintah Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong. Disamping itu Undang-Undang tentang Narkotika dan Undang-Undang Psikotropika merupakan materi yang beberapa tahun terakhir ini sering disuluhkan kepada mayarakat mengingat bahaya dan pengaruhnya terhadap semua orang tanpa kecuali. Untuk itu materi ini disampaikan agar dapat membentengi responden atau masyarakat untuk menghidari diri kita, keluarga, masyarakat dan negara dari bahaya penyalahgunaan narkotika dan psikotrpoka. Sedangkan 0 orang (0 %) responden yang tidak ada yang menjawab tidak pernah dan 0 orang (0 %) responden yang menjawab tidak tahu karena data yang diambil berdasarkan pada keaktifan dari anggota masyarakat pada setiap kegiatan yang dilaksanakan untuk itu tidak ada jawaban dari responden berkaitan dengan hal tersebut karena responden memang selalu

104

menjadi peserta dan aktif mengikuti kegiatan baik itu kegiatan ceramah penyuluhan maupun kegiatan temu sadar hukum. Disamping itu terdapat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria yang merupakan materi hukum yang selalu disuluhkan kepada masyarakat mengingat kebutuhan akan tanah semakain hari semakin bertambah bila dilihat dari pertumbuhan dan kebutuhan masyarakat dalam mengelola tanah menjadi tempat rumah tinggal, usaha, pertanian dan lain sebagainya. Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat mengetahui tentang Undang-Undang tersebut dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 8 : Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria Perntanyaan Responden Frekuensi (F) Presentase (%) Pernah 20 100 Tidak 0 0 Tidak Tahu 0 0 Jumlah 100 100
Sumber : Siperoleh dari Data Primer, Juni 2012

Berdasarkan data tabel 8 di atas, prosentase katagori yang menyatakan pernah mendengar Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 1960 tentang Pokokpokok Agraria sebanyak 20 orang (100 %) responden, karena responden selalu aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan sehingga apa yang disampaiakn berkaitan dengan materi penyuluhan maupun materi temu sadar hukum selalu disampaikan mengingat kebutuhan tanah dan juga dampak dari kebutuhan dan pemanfaatan tanah menjadi masalah yang tidak ada habisnya. Permasalahan tanah di Kota Ambon merupakan permasalahan

105

yang kompleks karena banyak sekali penjualan tanah diatas tanah orang, menjual tanah dengan lebih dari satu sertifikat, persoalan tidak bisa melakukan pengurusan sertifikat tanah, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 pernah di dengar oleh semua responden mengingat kebutuhan tanah dan permasalahannya menjadi hal yang beberapa tahun hingga sampai saat ini menjadi materi yang perlu selalu disuluhkan kepada anggota masyarakat dalam rangka memberikan

pengetahuan kepada anggota masyarakat di Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong sebagai Desa/Kelurahan Binaan Hukum. Prosentase responden 0 orang (0 %) responden yang tidak ada yang menjawab tidak pernah dan 0 orang (0 %) responden tidak ada yang menjawab tidak tahu, karena responden semuanya memilih pernah mendengar materi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang PokokPokok Agraria pada setiap kegiatan yang dilaksanakan dan juga materi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria ini menjadi materi yang menjadi kebutuhan masyarakat untuk disuluhkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku kepada masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui dan memahami aturan-aturan tentang pertahanan agar nantinya kedepan tidak terjadi lagi permasalahan yang berkaitan dengan pertanahan. Dengan demikian pelaksanaan pembinaan Desa/Kelurahan sadar hukum yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah berjalan sesuai perencanaan serta dalam rangka Pembentukan Desa sadar

106

Hukum di Kota Ambon khususnya di Negeri Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaong Kota Ambon.

3. Kerjasama Instansi Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Hukum dan HAM Maluku untuk membina Desa/Kelurahann Binaan menjadi Desa/Kelurahan Sadar Hukum Hukum di Kota Ambon selalu bekerjasama dengan instansi terkait selain Bagian Hukum Pemda Kota Ambon, terdapat beberapa instansi yang diajak bersama-sama dalam melakukan kegiatan ceramah penyuluhan hukum sehingga fungsi pembinaan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik. Disamping itu dalam Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) Kantor Wialayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku termuat penceramah hukum dari instansi lain. Sehingga Instansi yang sering diajak bekerjasama dalam melaksanakan ceramah penyuluhan hukum terpadu adalah Kejaksaan Tinggi Maluku dan Badan Narkotika Propinsi Maluku. Sehingga pembinaan yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dapat berjalan sesuai rencana dan dalam rangka Pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon. Untuk mengetahui sejauhmana kerjasama yang dilakukan antara Kementerian Hukum dan HAM Maluku dengan Instansi lain untuk melakukan pembinaan Desa/Kelurahan Binaan Hukum di Kota Ambon dapat dilihat pada tabel berikut :

107

Tabel 9 : Kejaksaan Tinggi Perntanyaan Responden Pernah Tidak Tidak Tahu Jumlah
Sumber : Siperoleh dari Data Primer, Juni 2012

Frekuensi (F) 20 0 0 100

Presentase (%) 100 0 0 100

Berdasarkan pada tabel 9, dapat dilihat bahwa responden yang menjawab Kemeneterian Hukum dan HAM Maluku bersama Kejaksaan Tinggu Maluku dalam melaksanakan kegiatan, 20 orang (100 %) responden menjawab pernah. Keterlibatan Kejaksaan Tinggi Maluku dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kmenmeterian Hukum dan HAM Maluku karena dalam setiap kali pertemuan dengan Masyarakat yang menjadi peserta baik di Desa Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe. sebelum kegiatan berlangsung selalu diberitahukan pihak Kejaksaan Tinggi Maluku ikut bersama dalam kegiatan yang dilaksanakan, kerjasama ini selalu dilakukan sepanjang aturan mengatur bahwa harus melibatkan instansi terkait dalam rangka pembinaan Desa/Sadar Binaan Hukum dan dalam rangka pemebtukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum di Kota Ambon. Selain itu jawaban responden, 0 orang (0 %) responden yang tidak menjawab tidak pernah, dan 0 orang (0 %) responden tidak ada yang menjawab tidak tahu. Jelas bahwa tidak ada responden yang menjawab kolom tidak pernah dan tidak tahu karena responden merupakan pesrta dan

108

bertatap muka langsung dengan penceramah dari Kejaksaan Tinggi Maluku yang menmawakan materi Korupsi, proses pemeriksaan berkas, proses persidangan di pengadilan dan lain sebagainya yang menjadi tugas dan fungsi dari Kejaksaan Tinggi Maluku. Sehubungan dengan kerjasama yang dilakukan dengan Kejaksaan Tinggi Maluku dalam melakukan pembinaan kepada Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong di Kota Ambon maka Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku melakukan kerjasama dengan Badan Narkotika Propinsi Maluku. Untuk mengetahu sejauhmana kerjasama yang dilakukan dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 10 : Badan Narkotika Propinsi Maluku Perntanyaan Responden Frekuensi (F) Pernah Tidak Pernah Tidak Tahu Jumlah
Sumber : Siperoleh dari Data Primer, Juni 2012

20 0 0 100

Presentase (%) 100 0 0 100

Dari hasil prosentase jawaban responden pada tabel 10 diatas yaitu 20 orang (100 %) responden yang menjawab pernah Badan Narkotika Propinsi Maluku bersama-sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku melaksanakan kegiatan dalam rangka membina

Desa/Kelurahan Binaan Hukum diantaranya Desa Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe yang telah ditetapkan dengan Keputusan Walikota Ambon. Kerjasama yang dilakukan

109

salah satunya tujuannya adalah supaya masyarakat di Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong mengetahui apa itu yang namanya narkotika, psikotropika, obat-obatan dan zat adiktif lainnya yang efek dan sanksi dari pengguna serta pengedarnya sama-sama mendapat sanksi yang tidak ringan. akan tetapi dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat lebih diarahkan untuk menghindari, mengantisipasi dan menjauhi diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara untuk menjauhi dan mewaspadai pengedaran gelap dan akibat yang ditimbulkan, sehingga responden pun mengetahui bahwa yang turut hadir dalam setiap pelaksanaan kegiatan adalah Badan Narkotika Propinsi Maluku. Sedangkan responden yang tidak ada yang menjawab tidak pernah adalah 0 orang (0 %) responden dan 0 orang (0 %) responden tidak ada yang menjawab tidak tahu, berarti responden tahu akan identitas dan kapasitas dari penceramah dari Badan Narkotika Propinsi yang setiap kegiatan selalu dilibatkan dan mereka membawa contoh-contoh narkotika, psikotropika, obatbat terlarang dan zat adiktif lainnya dan. Sehingga responden mengetahui dengan jelas orang-orang yang selalu dilibatkan dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku. Berdasarkan kenyataan diatas, peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam pembentukan Desa/Kelurahan sadar Hukum di Kota Ambon berjalan dimana PEMDA Kota Ambon sebagai mitra dalam menjalankan program dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM

110

Maluku ditanggapi serius dan berjalan sebagaimana mestinya dalam rangka membangun kesadaran hukum di Kota Ambon mengingat Kota Ambon dan sekitarnya sangat rentan dengan konflik, sehingga dengan adanya program perencanaan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di kota ambon yang dalam pelaksanaan pemebtukan anggota kadarkum sampai pada

pembentukan dan pembinaan desa/kelurahan binaan Kantoe Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam pelaksanaan kegiatan ceramah penyuluhan hukum selalu melibatkan/bekerjasama dengan instansi terkait dalam usaha memberikan pengetahuan, pemahaman, serta membimbing dan membangunan kesadaran hukum masyarakat walaupun dilakukan secara perlahan dan secara terus menerus dan yang lebih utama adalah agar masyarakat di Kota Ambon tidak lagi dipermudah dan diperalat untuk terpancing dengan isu-isu yang bisa membuat keadaan keamanan dan ketertiban menjadi tidak stabil dan juga membangun kembali citra Kota Ambon menjadi Kota yang MANISE.

C. PROSES PERENCANAN PEMBENTUKAN DESA SADAR HUKUM OLEH KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM MALUKU

1. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum Tugas dan Fungsi dari Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 45 ayat (2) Peraturan Menteri Hukum

111

dan Hak Asasi Manusia Nomor : M-01.PR.07.10 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia bahwa Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum mempunyai tugas dan fungsi melakukan pembinaan, pembimbingan, dan koordinasi serta kerjasama di bidang penyuluhan hukum, evaluasi dan pemantauan, pemberian bantuan hukum dan konsultasi. Oleh karena itu dalam berdasarkan pada Tupoksi diatas, proses perencanaan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku diawali dengan proses pengajuan beberapa kegiatan yang selalu dilaksanakan atau melekat pada Divisi Pelayanan Hukum dan HAM bidang Pelayanan Hukum yakni Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum. kegiatan yang dimaksud antara lain : kegiatan Ceramah Penyuluhan Hukum Terpadu, kegiatan Temu Sadar Hukum, kegiatan Konsultasi Hukum Kepada Masyarakat, Kegiatan

Bimbingan Teknis Penyuluhan Hukum, kegiatan Dialog Interaktif RRI dan Radio Swasta, kegiatan Pameran, dan kegiatan Monitoring dan Evaluasi. Kegiatan-kegiatan tersebut diatas sebelum diajukan, Divisi Pelayanan Hukum dan HAM melakukan rapat evaluasi berkaitan dengan kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan pada setahun berlalu sehingga dari proses itulah baru ditentukan program kegiatan beserta anggaran yang akan diajukan untuk tahun berikutnya. Pada tahap ini setelah ditetntukan program kegiatan yang nantinya diusulkan kemudian dibuat usulan perencanaan

112

kegiatan dalam bentuk Rencana Kegiatan dan Rencana Anggaran yang dibuat secara terperinci terhadap kegiatan yang diusulkan. Setelah usulan dibuat dalam bentuk RAB dan dalam bentuk KAK maka usulan tersebut diserahkan pada Divisi Administrasi yakni pada Sub Bagian Penyusunan Program Bidang Penyusunan Program dan Laporan. Usulan kegiatan yang diserahkan seluruhnya dikumpulkan baik itu usulan kegiatan dan anggaran dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Maluku maupun usulan kegiatan dan anggaran dari Unit Pelaksana Teknis se Propinsi Maluku menjadi satu dan dibawa usulan tersebut ke Kementerian Hukum Dan HAM Republik Indonesia di Jakarta yang akan di bahas pada kegiatan rapat koordinasi penyesuaian pagu anggaran untuk tahun berikutnya dari setiap Kantor Wilayah dan Kementerian sendiri. Pada pembahasan program kegiatan dan anggaran di jakarta yang berperan dalam pembahasan ini adalah Bagian Penyusunan Program dan kegiatan, sehingga program kegiatan yang diusulkan menjadi tanggungjawab mereka. Berhasil dan tidak program kegiatan tertuang dalam DIPA ataupun dalam RKAKL tahun berikutnya bagian Penyusunan Program dan Kegiatan yang berusaha memperjuangkannya.

2. Pola Penyuluhan Hukum Kenyataan yang selama ini terjadi setelah hasil pembahasan yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku di

113

Jakarta memang kegiatan yang diusulkan oleh Divisi Pelayanan Hukum dan HAM yakni Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum tetap. Sehingga kegiatan yang nantinya dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku berjalan sebagaimana program yang diusulkan. Hal ini pun diungkapkan oleh Risma Indriyani Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM pada tanggal 4 Juni 2012 yang megungkapkan bahwa program kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam rangka peningkatan kesadaran hukum masyarakat khususnya di Kota ambon tetap berjalan dengan kegiatan-kegiatan yang sebagaimana di atur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01-PR.08.10 Tahun 2006 tentang Pola Penyuluhan Hukum pada Pasal 1 dan pada Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) antara lain : kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu, kegiatan temu sadar hukum, kegiatan pembinaan negeri, desa, kelurahan binaan hukum dalam rangka pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon, kegiatan bimbingan teknis penyuluhan hukum, kegiatan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dalam meningkatkan pelayanan hukum. Pendapat yang disampaikan diatas diperkuat pula oleh Ganni Makatita Kepala Bidang Pelayanan Hukum pada tanggal 4 Juni 2012, yang mengatakan program yang dilaksanakan dalam rangka peningkatan

kesadaran hukum masyarakat di Kota Ambon tetap berjalan dengan beberapa kegiatan antara lain : kegiatan penyuluhan hukum kepada

114

masyarakat, kegiatan temu sadar hukum, kegiatan pembinaan negeri, desa, dan kelurahan binaan menjadi negeri, desa, dan kelurahan sadar hukum, bimbingan teknis penyuluhan hukum. Pendapat tersebut diatas didukung dengan pendapat dari Thasman Pea Latara Asi Kepala Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum pada tanggal 4 Juni 2012 yang mengatakan bahwa dalam melaksanakan program Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam meningkatkan kesadaran hukum masyarakat khusunya di Kota Ambon tetap berjalan dengan kegiatan-kegiatan yang telah disetujui oleh

Kementeian Hukum dan HAM RI di Jakarta. Dan dikatakan pula program Kantor Wilayah Kemeneterian Hukum dan HAM Maluku untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di Kota Ambon secara Khusus dilaksanakan menjadi skala prioritas menjadikan negeri, desa, dan kelurahan menjadi desa, kelurahan sadar hukumkarena dapat dijangkau dengan tidak

membutuhkan transportasi atay pejalanan dinas, seharusnya program dari Kantor Wilayah ini diperuntukan kepada seluruh Negeri/Ohoi, Desa dan Kelurahan di Propinsi Maluku.

Faktor Penghambat Meskipun dengan adanya kendala yang dihadapi, kegiatan yang telah ditetapkan dan disesuaikan dengan program dari Badan Pembinaan Hukum Nasional harus berjalan dengan program yang telah ditentukan berdasarkan

115

pada evaluasi dan didukung dengan Peta Permasalahan Hukum dan yang utama untuk membentuk Desa/Kelurahan di Kota Ambon menjadi Sadar Hukum. Dalam meningkatkan kesadaran hukum kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah yang didukung oleh PEMDA Kota Ambon dengan menetapkan Negeri,Desa, dan Kelurahan di Kota Ambon menjadi sasaran Binaan Hukum terdapat kendala dalam pelaksanaannya.

Berdasarkan pendapat dari Risma Indriyani Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM pada tanggal 04 Juni 2012 mengungkapkan memang terdapat kendala dalam pelaksanaan kegiatan dalam rangka peningkatan kesadaran hukum masyarakat di Kota Ambon yakni : terdapat keterbatasan anggaran untuk melakukan pembinaan dan melaksanakan kegiatan dalam rangka pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon, keterbatasan sarana dan prasarana, keterbatasan sumber daya manusia yakni tenaga penyuluh dan tenaga pembimbing. Pendapat tersebut di kuatkan dengan pendapat dari Ganni Makatita Kepala Bidang Pelayanan Hukum pada tanggal 4 Juni 2012 yang mengungkapkan ada kendala yakni terdapat keterbatasan dana/anggaran dalam melaksanakan kegiatan diseluruh desa/kelurahan di Kota Ambon. Hal serupa diperkuat dengan yang diungkapkan oleh Thasman Pea Latara Asi Kepala Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum mengungkapkan terdapat kendala yakni terletak pada Kementerian Hukum dan HAM khususnya Kanwil dimana anggan dan kegiatan yang dikurangi

116

sehingga kegiatan penyuluhan hukum kepada masyarakat dan kegiatan temu sadar hukum volumenya sangat terbatas tidak seimbang dengan jumlah Negeri/Desa/Kelurahan yang ada di Kota Ambon. Dengan demikian masih terdapat faktor penghambat dalam

melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan dengan jadwal telah ditetapkan masalah yang sering terjadi adalah minimnya volume kegiatan, terbatasnya anggaran, kurangnya tenaga penyuluh hukum hanya ada satu tenaga penyuluh hukum yang mempunyai sertifikat penyuluh yang ditetapkan oleh Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional, kurang pegawai pada Sub Bidang penyuluhan dan Bantuan Hukum hanya terdapat 3 (tiga) orang staf. Walaupun dengan keterbatasan yang dihadapi oleh Sub Bidang Penyuluhan Hukum berkaitan dengan volume kegiatan, anggaran SDM, dan sarana dan prasarana tetap kegiatan penyuluhan hukum, kegiatan temu sadar hukum dan kegiatan lainnya tetap dilaksanakan mengingat pelayanan harus terus dilakukan dalam rangka memberikan masyarakat pemahaman dan pengetahuan tentang arti penting patuh dan taat pada aturan hukum yang berlaku demi menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Ambon.

3. Pembentukan dan Pembinaan Kelompok Kadarkum Pembentukan dan Pembinaan Kelompok Kadarkum merupakan proses awal ditetapkannya desa/kelurahan binaan yang akhirnya terbentunya desa/kelurahan sadar hukum, sebagaimana yang terdapat pada Peraturan

117

Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum dan lebih jelasnya terdapat dalam Lampiran I tentang persyaratan Pembentukan dan Pembinaan Kadarkum. Kemudian berdasarkan penjelasan dari Risma Indriyani Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM pada tanggal 4 Juni 2012, bahwa proses awal pembentukan desa/kelurahan khusunya Negeri/Desa Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaing Kecamatan Nusaniwe Kota, mengacu pada Peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 Tanggal 4 November 2008 tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum. Selanjutnya pandapat diatas diperkuat oleh Ganni Makatita Kepala Bidang Pelayanan Hukum pada tanggal 4 Juni 2012 yang mengatakan pendapat yang sama yakni proses awal pembentukannya didasari dengan Peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 tanggal 4 Nopember 2008 tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukumdan Desa/Kelurahan Sadar Hukum, dimana prosesnya diawali dengan beberapa kegiatan yang ada pada Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum kemudian ditetapkan Desa/Kelurahan menjadi KADARKUM Binaan dalam hal ini Desa Batumerah dan Kelurahan Waihaong.

118

Pendapat Ganni Makatita diperkuat kembali dengan yang disampaikan oleh Thasman Pea Latara Asi Kepala Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum pada tangga 4 Juni 2012 bahwa proses awal pemebtukan desa/kelurahan binaan pada Desa Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe yaitu Desa/Kelurahan

membentuk kelompok-kelompok sadar hukum kemudian ditetapkan dengan Surat Keputusan Walikota Ambon sebagai Desa/Kelurahan Binaan sesuai dengan syarat/kriteria Desa/Kelurahan Sadar Hukum sebagaimana terdapat pada Peraturan Kepala badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 tanggal 4 Nopember 2008 tentang

Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum kemudian Desa/Kelurahan Binaan Sadar Hukum akan ditetapkan oleh Gubernur atas usul kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku untuk menjadi Desa/Kelurahan Sadar Hukum.

4. Kriteria Desa/Kelurahan Binaan Dalam menginventarisasi Desa/Kelurahan Binaan untuk ditetapkan menjadi Desa/Kelurahan Binaan harus berdasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan oleh Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 pada Lampiran II angka III yang berbunyi kriteria ditetapkan menjadi Desa/Kelurahan Binaan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

119

1. Pelunasan kewajiban membayar pajak bumi dan bangunan mencapai 90 % (sembilan puluh persen) atau lebih; 2. Tidak terdapat perkawinan dibawah usia berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1974 tentang perkawinan; 3. Angka kriminalitas rendah; 4. Rendahnya kasus narkoba; 5. Tingginya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan; dan 6. Kriteria lain yang ditentukan Daerah Selanjutnya Risma Indriyani Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM mengemukakan dalam menginventarisasi Desa/Kelurahan Binaan PEMDA Kota Ambon harus berdasarkan pada prosedur, syarat, dan kriteria yang ditetapkan oleh peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional sebagaimana yang terdapat pada Lampiran II Peraturan Kepala badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 tanggal 4 Nopember 2008 tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum. pendapat yang sama pun disampaikan oleh Ganni Makatita Kepala Bidang Pelayanan Hukum pada tanggal 4 Juni 2012 bahwa PEMDA Kota Ambon dalam Menginventarisasi Desa/Kelurahan Binaan harus disesuaikan dengan Peraturan Kepala badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 tanggal 4 Nopember 2008 tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar

120

Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum pad Lampiran II yaitu : Pelunasan kewajiban membayar pajak bumi dan bangunan mencapai 90 % (sembilan puluh persen) atau lebih, Tidak terdapat perkawinan dibawah usia berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, Angka kriminalitas rendah, Rendahnya kasus narkoba, Tingginya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, dan Kriteria lain yang ditentukan Daerah yakni salah satunya adat-istiadat dari Negeri, Desa, dan Kelurahan. Kemudian Thasman Pea Latara Asi Kepala Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum menguatkan kembali pendapat sebelumnya bahwa PEMDA Kota Ambon dalam menginventarisasi Desa/Kelurahan harus memenuhi kriteria/syarat sesuai dengan peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional karena pemintaan dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam menyurati PEMDA Kota untuk mengikuti petunjuk tersebut. Sehingga penetapan yang dilakukan oleh PEMDA Kota Ambon dalam menentukan Desa/Kelurahan Binaan harus didasarkan pada

Peraturan yang telah disampaikan oleh Kantor Wilayah agar dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional.

5. Pembentuknya Desa/Kelurahan Sadar Hukum Proses dan mekanisme Pembentuknya Desa/Kelurahan Sadar Hukum sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum

121

Nasional Nomor : PHN.HN.03.05-73 Tahun 2008 2008 tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum pad Lampiran II angka II yang berbunyi Desa/Kelurahan Binaan ditetapkan menjadi Desa/Kelurahan Sadar Hukum adalah : 1. Pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum diawali dengan penetpan suatu Desa/kelurahan yang telah mempunyai Kadarkum menjdi Desa/Kelurahan Binaan; 2. Usul penetapan dilakukan oleh Camat kepada Bupati/Walikota; 3. Bupati/Walikota menetapkan dengan Surat Keputusan suatu

Desa/Kelurahan menjadi Desa/Kelurahan Binaan; 4. Desa/Kelurahan Binaan dibina terus untuk menjadi Desa/kelurahan Sadar Hukum; dan 5. Gubernur menetapkan Desa/Kelurahan Binaan menjadi

Desa/Kelurahan Sadar Hukum setelah mempertimbangkan usul Bupati/Walikota dan Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM. Berdasarkan pada ketentuan diatas menurut Risma Indriyani Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM pada tanggal 4 Juni 2012 mengatakan bahwa proses dan mekanisnya adalah Camat mengusulkan kepada Bupati/Walikota selanjutnya usulannya disampaikan secara tertulis kepada Kepala Kantor Wilayah kemudian Kepala Kantor Wilayah Mengusulkan

122

Kepada

Gubernur

untuk

menetapkan

Desa/Kelurahan

menjadi

Desa/Kelurahan Sadar Hukum dengan Surat Keputusan Gubernur. Pendapat tersebut di perkuat oleh Ganni Makatita Kepala Bidang Pelayanan Hukum mengemukakan bahwa : - Pengusulan dari Camat ke Bupati/Walpkota terhadap Desa/Kelurahan yang telah memenubhi syarat menjadi Desa/Kelurahan Binaan. - Usulan dari Camat tersebut dilanjuti oleh Bupati/Walikota ke Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM se tempat; - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM setempat menindaklanjuti usulan Bupati/Walikota tersebut kepada Gubernur untuk menetapkan Desa/Kelurahan yang dimaksud menjadi Desa/Kelurahan Binaan melalui Keputusan Gubernur setempat. Pendapat dari Ganni Makatita diperkuat kembali oleh Thasman Pea Latara Asi Kepala Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum pada tanggal 4 Juni 2012 yang mengatakan proses Desa/Kelurahan Binaan yang telah memenuhi kriteria dan syarat sebagaimana dalam peraturan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional untuk menjadi Desa/Kelurahan Sadar Hukum, maka Kepala Kantor Wilayah Mengusulkan ke Gubernur untuk ditetapkan sebagai Desa/Kelurahan Sadar Hukum. Dengan demikian proses pembentukan Desa/Kelurahan Binaan menjadi Desa/Kelurahan Sadar Hukum khususnya Desa Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaong Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon dilalui

123

dengan beberapa tahap yakni usulan kegiatan dan anggaran, pelaksanaan kegiatan, pembentukan kelompok- kelompok sadar hukum, pembentukan dan pembinaan Desa/Kelurahan Binaan dan pada akhirnya ditetapkan menjadi Desa/Kelurahan Sadar Hukum dilalui dengan proses yang panjang meskipun dengan keadaan yang terbatas baik ditinjau dari anggaran, volume kegiatan, SDM, dan sarana dan prasarana yang kurang mendukung akan tetapi dengan semangat dalam rangka pembentukan Desa/Kelurahan Binaan sadar hukum dan program Menteri Hukum dan HAM RI maka proses ini tetap berjalan. Dan pada akhirnya nanti dengan Keputusan Gubernur dalam hal ini khususnya Gubernur Maluku dan Desa/Kelurahan khususnya Negeri/Desa Batumerah Kecamatan Sirimau dan Kelurahan Waihaong Kota Ambon akan diresmikan dan dianugrahi atau untuk memperoleh penghargaan Anubhawa Sasana Desa/Anubhawa Sasana Kelurahan yang diajukan kepada Menteri Hukum dan HAM.

124

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Peranan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku dalam Perencanaan Pembentukan Desa Sadar Hukum di Kota Ambon dilaksanakan dengan melakukan koordinasi secara baik dengan cara melayangkan surat kepada Walikota Ambon berkaitan dengan permintaan nama-nama desa/kelurahan yang akan dijadikan sebagai desa/kelurahan binaan yang isinya dilampirkan kriteria-kriteria untuk menjadi desa/kelurahan binaan, selanjutnya surat permintaan tersebut direspon dan diteruskan ke Camat dan Kepala Desa/Lurah. Disamping itu peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam melakukan pembinaan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang di mulai dari

dilaksanakannya kegiatan ceramah penyuluhan hukum terpadu dengan melibatkan atau mengikutsertakan Badan Narkotika Propinsi Maluku dan Kejaksaan Tinggi. Hanya saja program dari PEMDA Kota Ambon tidak ada untuk tahun 2009, tahun 2010, dan tahun 2011, akan tetapi program Pembinaan dan perencanaan

pemebentukan desa/kelurahan sadar hukum di tahun 2012 akan di akomodir dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota

125

Ambon dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Ambon. 2. Proses pembentukan desa/kelurahan sadar hukum di Kota Ambon yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku diawali dengan pengusulan kegiatan-kegiatan yang terdapat pada Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum, kemudian usulan tersebut diserahkan ke Bagian Penyusunan Program dan Anggaran selanjutnya Bagian Penyusunan Program dan Anggaran akan dibahas di Kementerian Hukum dan HAM RI di Jakarta sesuai dengan Pagu Indikatif atau Pagu Anggaran yang telah ditetapkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI di Jakarta.

B. Saran Berdasarkan pada kesimpulan diatas maka disarankan beberapa hal sebagai berikut : 1. Untuk lebih meningkatkan peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku dalam Pembentukan Desa/Kelurahan Sadar Hukum di Kota Ambon tidak hanya dilakukan dengan cara melayangkan surat ke PEMDA Kota Ambon, sebaiknya melakukan peninjauan langsung ke PEMDA Kota Ambon dan bersama-sama melakukan peninjauan ke Kecamatan-kecamatan dan bahkan ke Desa/Kelurahan dalam menginventarisasi Desa/Kelurahan mana

126

saja yang layak untuk di lakukan pembinaan dan di tetapkan sebagai Desa/Kelurahan Sadar Hukum. Selanjutnya dalam menetapkan Desa/Kelurahan Sadar Hukum di Kota Ambon jangan hanya terbatas pada 6 (enam) Desa/Kelurahan di Kota Ambon masih banyak sasaran dari program Pembinaan dan Pembentukan

Desa/Kelurahan Sadar Hukum yang lain untuk diusulkan mengingat kondisi Kota Ambon yang rentan terhadap konflik. Selanjutnya kedepan diharapkan Pemda Kota Ambon dalam hal ini Bagian Hukum memiliki program/kegiatan yang ada kaitannya dengan pembangunan hukum di daerah khususnya Kota Ambon sehingga dalam melakukan pembinaan dapat bersama-sama dengan Kantor Wilayah melakukan hal tersebut sehingga seluruh

Negeri/Desa/Kelurahan di Kota Ambon menjadi aman dan damai. 2. Untuk lebih mengoptimalkan dan memperhatikan usulan-usulan program/kegiatan dari Sub Bidang Penyuluhan dan Bantuan Hukum berkaitan dengan volume kegiatan dan anggaran agar ada peningkatan sehingga perencanaan pembentukan desa/kelurahan sadar hukum yang dilakukan dengan sasaran penyuluhan hukum dan temu sadar hukum dapat terjangkau di seluruh Kota/Kabupaten di Propinsi Maluku sehingga tidak hanya terbatas di Kota Ambon.

127

DAFTAR PUSTAKA A. Buku-buku Adisasmita, M 2011 Membangun Desa Partisipatif, Universitas Hasanuddin Makassar.

128

Achmad Ali, 1996, Menguak Tabir Hukum, Chandra Pratama: Jakarta Agustinus Tangkemanda, 2006, Efektifitas Penyuluhan Hukum Dalam Mewujudkan Masyarakat Sadar Hukum di Kecamatan Baruga Kota Kendari, UNHAS Makassar. Aji,F dan Sirait,M, 1990 PDE, Perencanaan dan Evaluasi Suatu Sistem Untuk Proyek Pembangunan, Bumi Aksara Jakarta. Amien, A. M, 2003 Kemandirian Lokal, Perspektif Sains Baru Terhadap Organisasi, Pembangunan dan Pendidikan, Makassar: Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin. Armansyah, 2004, Koordinasi Perencanaan Pembangunan di Kabupaten Dompu NTB, UNHAS Makassar. Brantas, 2009, Dasar-dasar manajemen, Alfabeta, bandung. Bryan Coralie dan White Louise, 1987, Managemen Pembangunan Untuk Negara Berkembang, LP3S, Jakarta. Bungin, Burhan, 2003 Analisis Data Penelitian Kualitatif, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Chairuddin, 1991, Sosiologi Hukum, Sinar Grafika: Jakarta. Christian Leihitu, 2010, Desa Sadar Hukum Diharapkan Mengerti Masalah HAM, Antara Ambon. Cohen, J. M. and Uphoff, N. T. 1977, Rural Development Participatory. Cornell University, Itacha. Conyer dan Hills, 1994, Perencanaan Yang Berkesinambungan. Conyers, D, 1991 “Perencanaan Sosial Di Dunia Ketiga” Suatu Pengantar,. Terjemahan oleh Gajah Mada University Press Yogyakarta. Haryanto dan Sahmuddin, 2008, Perencanaan dan Penganggaran Daerah Pendekatan Kinerja, Badan Penerbit UNDIP Semarang. Inu Kencana Syafiie, 2011, Manajemen Pemerintahan, Pustaka Reka Cipta, Bandung.

129

Kunarjo, A., 2002, Perencanaan dan Pengendalian Program Pembangunan, UI-Press Jakarta. Kunarto, 1996. Sejarah perencanaan Pembagunan Suatu Tinjauan Singkat., Jakarta Prisma Edisi 25. Leony Anggraeny, 2005 Perencanaan Partisipatif di Kabupaten Maros (Studi Kasus Pada Pemusyarawatan Tudang Sipulung di Kecamatan Turikale), UNHAS Makassar Liaca MArzuki, 1995, Siri, Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis Makassar (sebuah Telaah Filsafat Hukum). Penerbit Hasanuddin University Press: Makassar. Liestiarini Wulandari, 2010, Pembentukan DSH Sebagai Tolak Ukur Tingkat Kesadaran Hukum di Masyarakat, BPHNTV Jakarta. Mulyana W Kusumah, dkk., 1998. Konsep dan Pola Penyuluhan Hukum., Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta. Najib, M, 2002 “Mencoba untuk Indonesia yang lebih Demokratismelalui Perencanaan Pembangunan bersama masyarakat”, Pemikiran dan Praktek Perencanaan dalam era Transformasi di Indonesia, ed. Winarso,H dkk, Departemen Teknik Planologi, ITB, Bandung Noer, R. DJ 2004 Persepsi Masyarakat dan Aparat tentang Urgensi Partisipasi dalam Lokakarya Perencanaan. Program Pasca sarjana Universitas Hasanuddin Makassar. Paskarina, 2005, Perencanaan Partisipatif dalam Pembangunan Daerah, Bandung, Lembaga Penelitian UNPAD. PSKMP, 2002 Partisipatory Local Social Development Planning (PLSD) UNHAS Makassar. Rusli Effendi, dkk, 1991, Teori Hukum. Hasanuddin University Press, Ujung Pandang. Salman, D 2005, Pembangunan Partisipatoris, Manajemen Perencanaan, program Pembangunan. Unhas Makassar 2005. Modul Studi Konsentrasi Manajemen

Sarwoto, 1986, Dasar-dasar Managemen, Penerbit Ghalia Jakarta.

130

Satjipto Raharjo, 1982, Ilmu Hukum, Alumni Bandung. , 1983, Budaya Hukum dalam Permasalahan Hukum di Indonesia, Seminar Budaya Hukum Nasional Ke Empat, Bina Cipta, Bandung. Soerjono Seokanto, 1982, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum. Rajawali, Jakarta. Tjokroamidjojo, Bintoro, 1987, Perencanaan Pembangunan, PT. Gunung Agung, Jakarta. Victor F. Nanlessy, 2006, Perencanaan Pembangunan Partisipatif Program Desa Mandiri Di Kabupaten Gorontalo (Studi Kasus Di Desa Toyidito Kecamatan Polubala), UNHAS Makassar.

B.

Dokumen Perundang-undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor : 10 Tahun 2004 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Undang-Undang Nomor : 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M-PR.07.10 Tahun 2005 tentang Organisasi Tata Kerja Kanwil Kemenkum HAM Maluku. Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. M.01-PR.08.10 Tahun 2007 Tentang Pola Penyuluhan. Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M-09.PR.07.10 Tahun 2007 dan dilakukan perubahan kedua dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : M.MH-10.OT.01.01 Tahun 2009 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan HAM RI. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor : M.HH-01.PR.01.01 Tahun 2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2010-2014.

131

Peraturan Kepala BPHN No. PHN.HN.03.05-73 Thn 2008 Tentang Pembentukan dan Pembinaan Keluarga Sadar Hukum dan Desa/Kelurahan Sadar Hukum. Surat Edaran Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor : M.HH.03.0314 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Tugas Pokoks dan Fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Tepublik Indonesia

C.

Bahan-bahan Jurnal.

Arfan Faiz Muhlizi, Selasa, 03 Februari 2009 Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional, Dialektika Hukum Indra J Pilliang, 2010, Refleksi Akhir Tahun Kementerian Hukum Dan HAM, Membudayakan Hukum dan HAM, Majalah Hukum Kementerian Hukum dan HAM RI, Jakarta. http://www. kemenkumhamri.go.id http://www. bphn.go.id http://www.kemenhukhammaluku.go.id BPHNTV, Kementerian Hukum dan HAM RI. POTRET DESA SADAR HUKUM, Metro TV , Sabtu 27 Nopember 2010.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful