P. 1
Illegal Loging Dalam Prespektif Islam

Illegal Loging Dalam Prespektif Islam

|Views: 664|Likes:
Published by muhammad dagna

More info:

Published by: muhammad dagna on Jun 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

BAB I Pendahaluan

Latar Belakang LINGKUNGAN DALAM PANDANGAN ISLAM Masalah lingkungan adalah berbicara tentang kelangsungan hidup (manusia dan alam). Melestarikan lingkungan sama maknanya dengan menjamin kelangsungan hidup manusia dan segala yang ada di alam dan sekitarnya. Sebaliknya, merusak lingkungan hidup, apapun bentuknya, merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup alam dan segala isinya, tidak terkecuali manusia. Islam sebagai agama paripurna, memiliki kebenaran universal dan absolut -karena berasal dari zat yang maha absolut (Allah; Rabb al-Jalil), sejak 14 abad lalu telah memiliki perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan, lewat warning (memberi peringatan) akibat kerusakan lingkungan, antara lain dinyatakan dalam Alquran, surat Ar-Ruum: 41. Dalam ayat itu dikatakan, kerusakan lingkungan akibat ulah tangan manusia yang fasid (destroyer/perusak akan ditimpakan kepada manusia itu sendiri (baik mereka yang merusak mapun yang tidak terlibat) supaya mereka kembali ke jalan yang benar (la„allahum yarji„un). Sayangnya manusia tidak pernah jera dan mau mengambil pelajaran di balik bencana alam yang terjadi. Mereka bebal dan buta tuli terhadap tanda-tanda yang dihadirkan oleh alam sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap prilaku manusia yang rakus dan pongah dalam mengesploitasi alam. Sepertinya syair Ebiet G.Ade “mungkin alam sudah enggan bersahabat dengan kita” semakin menunjukkan kebenaran faktualnya. Bahkan bukan lagi sekedar ‟mungkin„ tapi sudah benar-benar benci dan marah terhadap prilaku dekonstruktif manusia terhadap alam sekitarnya. Buktinya hampir tiap hari bencana alam akrab mengancam hidup manusia. Ancamam pemanasan global menjadi salah satu akibat stubborn (keras kepala)nya manusia. Padahal pemanasan global ini telah menjadi isu internasional, namun penghancuran lingkungan khususnya di Indonesia terus terjadi. Perambahan hutan dan perusakan ekosistem pesisir terus berlanjut, sementara reboisasi yang dilakukan berjalan sangat lambat, kalau tidak dikatakan hampir tidak ada. Cuma butuh waktu kurang dari satu jam untuk menebang kayu-kayu besar di rimba, tapi butuh ratusan tahun untuk membesarkan kayu-kayu itu kembali. Demikian juga dalam hal pelestarian hutan. Hutan dapat dihanguskan dan dirusak dalam hitungan jam, baik dengan satu biji korek api atau pembalakan liar yang dilakukan dengan menggunakan teknologi modern dan lain-lain, tapi butuh waktu puluhan, bahkan ratusan tahun untuk mengembalikannya ke kondisi semula. Melestarikan lingkungan hidup, ditempu pendekatan prventif, di antaranya melalui pemahaman ajaran agama secara komprehensif dan integratif. Dalam kontek lingkungan sering disebut istilah “Fiqh Lingkungan”. Istilah ini dilihat dalam ajaran Islam (content/isi dan spirit) berdasarkan nash agama (lquran dan hadis), bukanlah hal yang baru. Perlu
1

dipertegas bahwa ketika kata “Fiqh” itu disebutkan, tidak serta-merta ia merefleksikan kitab kuning, bahasa Arab Jawi ataupun bahasa Arab, dan lainnya. Fiqh dalam konteks lingkungan adalah hasil bacaan dan pemahaman manusia terhadap dalil naqli, baik yang maktubah (tertulis) maupun yang kauniyyah (tidak tertulis) yang tersebar di alam jagad raya. Jadi, Fiqh Lingkungan berarti pemahaman manusia tentang lingkungan hidup melalui pendekatan-pendekatan holy scriptures (teks-teks suci) dan natural signs (tanda-tanda alam) yang pada akhirnya akan melahirkan suatu konsep dan sikap mareka terhadap alam semesta, khususnya menyangkut pelestariannya. Karenanya pemahaman umat terhadap ajaran Islam perlu dikembangkan dan diperdalam agar Islam bisa dilihat comprehensif. Perlu pemahaman yang cerdas dan arif, bahwa memasukkan isu-isu pelestarian lingkungan dalam kurikulum pendidikan pesantren dan dayah, materi khutbah, sebagai suatu hal penting daripada membicarakan masalah ruknun min arkan al-Islam (rukun dari rukun Islam yang lima itu). Karena menjaga lingkungan hidup dan alam semesta ini adalah konsekuensi dari kepercayaan Tuhan kepada manusia yang telah Dia angkat menjadi khalifah (pengganti-Nya) di muka bumi ini. Tanggungjawab ini harus dipegang teguh semua orang. Selama ini umat Islam sering berdebat dan berbeda pendapat tentang persoalan fiqh Islam dalam konteks yang terbatas semisal fiqh ibadah, mengenai tatacara sholat, wudhu, haji, dll. Maka kini, sudah saatnya umat Islam diarahkan untuk bisa berdebat, memahami, dan mengamalkan “Fiqh Lingkungan”. Wacana “Fiqh Lingkungan” ini patut digulirkan bukan semata-mata latah ikut gerakan para aktivis pencinta lingkungan, tetapi tentu saja berdasarkan literatur yang sangat sahih yang terdapat pada Kitab Suci Al-Quran sebagai pedoman utama umat Islam, dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW sebagai penjelas dari kitab suci tersebut. Bagaimana sebetulnya Al-Quran dan Al-hadits berbicara tentang lingkungan sehingga kita perlu berwacana dan bahkan mengamalkan “Fiqh Lingkungan”? Landasan Teologis Ketika Allah SWT bermaksud menciptkan makhluk bernama manusia, Allah SWT berujar: “Aku akan menciptakan di muka bumi ini seorang Khalifah (manusia)”. Setelah itu maka muncul apatisme dari Malaikat, yang mempertanyakan: “Apakah Engkau menciptakan makhluk yang akan melakukan kerusakan di muka bumi dan mengalirkan darah?” Maka Tuhan pun menjawab: “Sesungguhnya Aku lebih tahu apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. 2:30) Tuhan menyebut manusia dengan sebutan Khalifah. Karakter Khalifah itu sendiri digambarkan dalam Al-Quran Surat Shaad ayat 26: “Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu”. Seorang khalifah yang adil dalam pandangan Tuhan bukanlah seorang yang mengurung diri berzikir di dalam masjid, tanpa mau melihat dan menyelesaikan perosalan masyarakat. Khalifah yang adil adalah manusia yang yang mau dan mampu melaksanakan amal shalih, mereka itulah yang akan mendapat gelar taqwa yang akan diberikan kebahagiaan di akhirat. Salah satu karakter utama dari taqwa adalah tidak melakukan perusakan lingkungan. Perhatikan firman Tuhan berikut ini: “Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan
2

berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S. Al-Qashsash: 83) Jadi, seseorang yang melakukan perusakan lingkungan dalam bentuk pencurian pohon, illegal logging, perambahan, pembalakan liar, dsb, bukan termasuk kelompok orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan surga-Nya. Secara sederhana, ini bisa menjadi sebuah landasan teologis bahwa penyelamatan lingkungan adalah bagian penting dari ajaran Islam. Landasan Yuridis Lantas apa hukumannya bagi orang-orang yang melakukan kerusakan tersebut? mereka layak mendapat sanksi berat berupa hukum mati, disalib, dipotong tangannya, bahkan diasingkan. Sebagaimana Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 33: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” Dalam kajian ushul fiqh, dikenal sebuah kaidah bahwa diantara tujuan disyariatkannya ajaran Islam diantaranya jalb al-mashalih (mengutamakan perbaikan dan kedamaian), dan juga ada istilah dar‟ul mafaasid (menghilangkan kerusakan dan perusakan). Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Laa dharaara walaa dhiraara” (Tidak ada kesulitan dan menyulitkan). Secara yuridis, agama Islam menilai bahwa pelaku perusakan lingkungan sama dengan pelaku kejahatan yang layak mendapat hukuman seberat-beratnya. Oleh karena itu, memelihara alam, menanam tumbuhan dan menjaganya, adalah merupakan kewajiban syar‟i karena akan berimplikasi terhadap pelaksanaan Islam secara kaaffah (menyeluruh). Pernyataan ini bisa mendapat pembenaran dengan kaidah ushul fiqh: “Maa Laa yatimmulwaajib Illaa bihi, fahuwa waajib” (Suatu kewajiban yang tidak akan bisa dilaksanakan sempurna kecuali dengan suatu media, maka penyediaan media itu pun menjadi wajib hukjumnya). Lingkungan hidup ini adalah media untuk pelaksanaan kewajiban syariat, maka memelihara lingkungan dalam konteks ini merupakan suatu kewajiban yang jika dilaksanakan akan mendapat pahala (reward) dan jika diabaikan akan mendapat siksa (punishment). Landasan Etis Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan etika moral manusia. Etika moral ini menjadi bagian integral dalam keseluruhan ajaran Islam itu sendiri. Banyak sekali tuntunan Rasulullah yang menyiratkan wajibnya menjaga perdamaian, kebaikan, dan pemeliharaan terhadap keseimbangan alam, sekalipun dalam kondisi peperangan. Perhatikan sabda Rasulullah berikut: “Apabila engkau membunuh (dalam suatu peperangan), maka bunuhlah dengan cara yang baik dan apabila engkau menyembelih pun harus dengan cara yang baik pula.” Berperang dan menyembelih saja, harus dengan cara yang baik, maka menebang pohon, memanfaatkan hasil hutan, menggunakan sumber mata air, tentu harus dengan cara yang sangat sangat baik. Lebih tegas lagi, Islam mengajarkan bahwa memelihara tanaman saja diserupakan nilainya dengan ibadah shadaqah / zakat yang memiliki posisi penting dalam ajaran Islam. Rasulullah juga pernah bersabda: “Barangsiapa memiliki kelebihan air bekas minum, terus air tersebut dituangkan pada pohon, maka itu termasuk shadaqah.”
3

Selain dari landasan-landasan tersebut, kita juga bisa melihat pendapat para fuqoha (ahli hukum Islam) yang sangat pro lingkungan, dan mengecam keras para perusak lingkungan. Pernyataan Imam Malik dan Abu Hanifah: “Menggunakan hak pribadi yang akan membahayakan orang lain adalah perbuatan melawan hukum (agama). Umpamanya, menggunakan kepemilikan tanah yang membawa kepada kerusakan lingkungan, sehingga membahayakan orang lain”. Imam Ibnu Qudamah dari Mazhab Hambali menyatakan, “Diperlukan adanya peraturan khusus dalam eksploitasi air lewat penggalian (sumur) karena tidak ada hak bagi seseorang mengganggu sumur tetangganya, sehingga berbahaya bagi tetangganya itu atau mengakibatkan merendahnya air dari permukaan atau mengakibatkan polusinya lapisan tanah bebatuan yang mengandung air”. Melihat realitas perusakan lingkungan yang sangat mengerikan akhir-akhir ini, ada baiknya para ulama di negeri ini lebih memfokuskan kajian dan dakwahnya kepada perbaikan dan pemeliharaan lingkungan. Perdebatan dan pembahasan yang kurang produktif seperti tentang poligami hendaklah disimpan dulu dan beralih kepada peredebatan tentang hukuman seberat apa yang pantas diberikan kepada perusak lingkungan. Gagasan Fiqh Lingkungan seperti yang digulirkan Prof. Abdurrahman di atas, hendaklah disambut oleh para alim ulama negeri ini, sehingga menjadi sebuah disiplin kajian fiqh tersendiri disamping fiqh ibadah yang banyak menyita perhatian umat Islam selama ini. Landasan-landasan yang tertuang dalam AlQuran, Al-Hadits, bahkan pendapat para ulama terdahulu sudah lebih dari cukup untuk melahirkan sebuah “Fiqh Lingkungan”. Umat manusia di Indonesia, bahkan di seluruh dunia kini menunggu fatwa ulama mengenai wajibnya memelihara lingkungan dan haram serta dosa besarnya orang yang merusak lingkungan dengan dalih apapun. Terakhir, perhatikan firman Tuhan berikut: “Barangsiapa membunuh seorang manusia dan membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya”.(Q.S. 5:32). Jika orang yang melakukan pembunuhan dengan menggunakan senjata canggih disebut sebagai teroris, maka mengapakah para perusak lingkungan tidak juga disebut teroris, padahal hakikatnya mereka telah melakukan pembunuhan massal terhadap manusia.

4

BAB II Identifikasi Masalah

1.Apakah relasi manusia dengan alam (hutan) ? 2.Faktor apa sajakah yang mempengaruhi illegal logging? 3.Bagaimana illegal loging dalam prespektif Islam,khususnya fiqh Lingkungan? 4.Apakah MUI mengeluarkan fatwa tentang illegal logging?

5

BAB III Pembahasan

2.1 RELASI ANTARA MANUSIA DENGAN ALAM

Pembangunan kehutanan saat ini diarahkan pada kepentingan masyarakat dan lingkungan (socio ecological benefit oriented), desentralisasi dan berbasiskan masyarakat (community based forest management), dimana Pembangunan kehutanan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya hutan secara optimal dengan senantiasa memperhatikan kelestariannya. Masyarakat Merupakan ujung tombak Pembangunan kehutanan oleh karena itu peran serta masyarakat yang telah mempunyai pengetahuan dasar mengenai Hutan dan Kehutanan mutlak diperlukan guna menunjang partisipasinya dalam kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan. Oleh karena hal itu maka kebijakan Departemen Kehutanan diarahkan kepada upaya Partisipasi masyarakat di dalam dan disekitar kawasan hutan. Penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam bertujuan untuk menjaga hutan, kawasan hutan dan lingkungannya, agar fungsi lindung, fungsi konservasi dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari . Perlindungan hutan dan kawasan hutan merupakan usaha untuk : Mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama serta penyakit, Mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat, dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan, Pemerintah mengatur perlindungan hutan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan sebagai berikut : 1. Perlindungan hutan pada hutan negara dilaksanakan oleh pemerintah. 2. Perlindungan hutan pada hutan yang dikelola dengan ijin usaha pemanfaatan dilaksanakan oleh pemegang ijin usaha. 3. Perlindungan hutan pada hutan hak dilakukan oleh pemegang haknya. 4. Untuk menjamin pelaksanaan perlindungan hutan yang sebaik-baiknya, masyarakat diikutsertakan dalam upaya perlindungan hutan Perlindungan dan Pengamanan Hutan adalah suatu kegiatan untuk menjaga dan melindungi hutan baik di dalam kawasan maupun di luar kawasan dari berbagai gangguan yang dapat mengganggu dan merusak sumber daya alam yang ada di dalamnya seperti flora dan fauna, ekosistem, habitat, tata air dan lain-lain. Semua makhluk hidup di planet bumi ini sangat bergantung pada lingkungannya, tidak terkecuali manusia. Hubungan simbiosis (saling ketergantungan) antara manusia dengan
6

lingkungan di sekitarnya sangat menentukan kesinambungan antar keduanya. Dengan kata lain, kelangsungan hidup (manusia dan alam) sangat tergantung ada sikap dan perilaku manusia sebagai Khalifah fil Ardh (subjek atau pengelola) bumi. Namun demikian manusia tidak serta merta dapat memperlakukan alam sekehendaknya. Alam dengan lingkugannya akan melakukan reaksi (perlawanan) terhadap manusia yang mengakibatkan kepunahan umat manusia di bumi. Allah SWT berfirman : “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. 15 : 19-20) Peran manusia sebagai subjek atas alam tidak mengurangi keharusan manusia dalam kebergantungannya pada lingkungan. Ini artinya, melestarikan lingkungan sama nilainya dengan memelihara kelangsungan hidup manusia dan segala yang eksis di alam. Sebaliknya, merusak lingkungan hidup, dengan bentuk apapun, merupakan bumerang yang serius bagi kelangsungan kehidupan di alam dengan segala isinya ini, termasuk manusia. Sebagaimana dalam Alqur‟an : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (QS.7 / 56) Islam sebagai agama samawi menekankan kepada seluruh umatnya untuk selalu berperilaku konservatif terhadap lingkungan dengan cara : 1. Melakukan perlindungan terhadap berbagai potensi sumber daya alam (hutan dan perairan) yang telah diciptakan Allah SWT. 2. Dengan ilmu pengetahuannya manusia wajib melakukan pengawetan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, untuk mnopang berbagai budidaya. 3. Manusia dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraanya dengan bijaksana dan menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Hal ini senada dengan pengertian lingkungan hidup, yaitu sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.[4] Atau bisa juga dikatakan sebagai suatu sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem. (Otto Sumarwoto,1997) Kehidupan di bumi sebagai bagian dari keteraturan alam jagad raya dengan hukumnya yang lestari. Untuk menjaga dan memelihara kelangsungan kehidupan (sustainable) di bumi dengan segala keanekaragaman hayati (Biodiversity). Untuk menjaga kelanggengan sumberdaya alam tersebut ALLAH SWT menfasilitasi bumi ini dengan sirkulasi musim, hujan, gumpalan awan berarak dan angin secara teratur, sebagaimana diterangkan dalam Al qur‟an antara lain : (QS. al-Fathir: 9,27-28, Yasin: 33-34, Rum:48, Qaf : 9).

7

Akan tetapi realitas tidak seindah harapan. Tuhan tahu akan perangai manusia tersebut, karena itu manusia diingatkan. Manusia lupa bersyukur (berterima kasih) atas segala nikmat indahnya alam yang diciptakan Tuhan ini (QS. Luqman: 20). Manusia justru kurang bersahabat dengan alam dan lingkungannya. Perihal perilaku destruktif ini, telah diingatkan al-Qur‟an maupun hadits nabi. Al-Qur‟an menyebutkan bahwa kerusakan di alam (daratan dan lautan) akibat ulah kejahatan manusia. Sehingga berbagai akibat dari perusakan itu ditanggung, oleh manusia juga (QS. al-Baqarah: 205, al-Rum: 41, al-Qashshash: 77). Sementara Nabi Muhammad, SAW juga mengingatkan umat manusia perihal menjaga lingkungan. Salah satu sabda beliau yang diriwayatkan oleh Mu`az, Rasulullah saw menegaska : ”Takutlah kalian tiga perbuatan yang dilaknat. Pertama buang air besar di jalan, kedua di sumber air dan ketiga di tempat berteduh” (HR.Ibnu Majah). Bahkan di hadits yang lain ditambahkan, Rasulullah SAW juga melarang buang air besar di lubang binatang dan di bawah pohon yang berbuah. Apresiasi Nabi terhadap kelestarian lingkungan amatlah jelas. Sisi gelap manusia terhadap alam sebagaimana disinyalir Tuhan di atas, kiranya menyadarkan manusia akan kekhilafannya itu. Jangankan merusak lingkungan seperti menebang pohon, mengganggu atau mencemari alam sekitar saja tidak dibenarkan. Dalam hadist Nabi Muhamad SAW telah diajarkan : “Barangsiapa di antara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim) “Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud) Kedua rujukan dasar Islam di atas sayogianya dapat dipahami substansinya bagi upaya melestarikan lingkungan hayati yang ada di sekitar kita. Membangun pemahaman terhadap nash agama berkenaan dengan pengungkapan tentang lingkungan dengan cara memihak dan memandang isu lingkungan sebagai suatu yang serius. Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : Manusia sebagai makluk ciptaan Allah yang paling sempurna, tentu mempunyai upaya untuk selalu berperilaku arif dan bijakasana dalam mengelola sumber daya alam. Salah satunya adalah bersikap ramah terhadap lingkungan sebagaimana diajarkan dalam Islam, 1yakni : 1. Berperan aktif dalam melestarikan dan mengelola sumber daya alam Sebagaimana dalam QS ; Ar-Rum / 9 :

1

Prof. KH. Ali Yafie Fiqih Lingkungan, Menjaga Alam Wajib Hukumnya, Republik , Jakarta

8

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri” Hadist Rosulullah SAW : ”Jagalah kebersihan dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam di atas prinsip kebersihan. Dan tidak akan masuk syurga, kecuali orangorang yang bersih” Dari Abu Hurairah. (HR. Thabrani) 2. Tidak berbuat kerusakan lingkungan QS ; Al Qashash ; 77 menjelaskan sebagai berikut : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. 3. Selalu membiasakan diri ramah terhadap lingkungan Kita diajarkan untuk hidup serasi dengan alam sekitar kita, dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT. Allah berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil’alamiin” (QS. 21 : 107). Pandangan hidup ini mencerminkan pandangan yang holistis terhadap kehidupan kita, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan tempat hidupnya. 2.2 Faktor yang mempengaruhi illegal logging
Adapun faktor penyebab pembalakan liar adalah pembalakan untuk mendapatkan kayu dan alih fungsi lahan untuk kegunaan lain, seperti perkebunan, pertanian dan pemukiman. Seiring berjalannya waktu pertambahan penduduk dari hari ke hari semakin pesat sehingga menyebabkan tekanan kebutuhan akan tempat tinggal, pohon-pohon ditebang untuk dijadikan tempat tinggal ataupun dijadikan lahan pertanian. Faktor lainnya yaitu faktor kemiskinan dan faktor lapangan kerja. Umumnya hal ini terjadi kepada masyarakat yang berdomisili dekat ataupun di dalam hutan. Ditengah sulitnya persaingan di dunia kerja dan himpitan akan ekonomi, masyarakat mau tidak mau berprofesi sebagai pembalak liar dan dari sini masyarakat dapat menopang kehidupannya. Hal inilah yang terkadang suka dimanfaatkan oleh cukong-cukong untuk mengeksploitasi hasil hutan tanpa ada perizinan dari pihak yang berwenang. Padahal apabila dilihat upah tersebut sangatlah tidak seberapa dibandingkan dengan akibat yang akan dirasakan nantinya.

9

Selain itu juga tentang aspek kinerja aparatur di lapangan, kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama. Salah satu caranya yaitu dengan dibentuk suatu aparatur yang tugasnya bukan hanya menjaga namun juga mengawasi tindakan penyalahgunaan fungsi hutan. Namun pada kenyataan kinerja aparatur di lapangan ini masih belum berjalan dengan baik dikarenakan tidak seimbangnya jumlah personil aparatur pengawas dengan jumlah luas hutan di Indonesia sehingga tindakan illegal logging ini dapat mungkin terjadi karena luput dari pengawasan petugas tersebut. Tak jarang ada juga petugas pengawas yang masih melakukan ”kompromi” dengan pelaku illegal logging sehingga akan semakin memperparah kondisi yang ada. Perkembangan teknologi yang pesat sehingga kemampuan orang untuk mengeksploitasi hutan khususnya untuk illegal logging semakin mudah dilakukan. Dengan semakin berkembangnya teknologi untuk menebang pohon diperlukan waktu yang tidak lama, karena alat-alatnya semakin canggih. Kayu masih menjadi primadona Pendapatan Asli Daerah. Produksi komersial mencakup produksi kayu dan olahannya, produksi sawit, serta perkebunan lain.

3.3 Illegal Logging dalam Prespektif Islam
Larangan Merusak Lingkungan Menurut Syari’at Islam Firman Allah SWT surta Al-A’rof ayat 56 ‫ال ح س ن ين من ق ري ب هللا رحمت إن وطم عا خوف ا ودعوه إ ص الحها ب عد االر ض ف ى ت ف سدوا و ال‬ Dan jangan lah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah(Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada Allah, dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Ayat ini melarang pengrusakan di muka bumi. Pengrusakan adalah salah satu bentuk pelanggran atau bentuk pemlampauan batas. Karena itu. Ayat ini melanjutkan tutunan ayat yang lalu dengan menyatakan : dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah perbaikannya yang dilakukan kamu oleh Allah SWT dan atau siapapun dan berdoalah serta beribadah kepada-Nya dalam keadaan takut sehingga kamu lebih mentataati-Nya dalam keadaan penuh harapan dan anugrahNya, termasuk pengabulan do’a kamu. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada al-muhsinin, yakni orang-orang yang berbuat baik.Menurut kajian Ushul fiqh, ketika kita dilarang melakukan sesuatu berarti kita diperintahkan untuk melakuakan kebalikannya. Misalnya, kita dilarang merusak alam berarti kita diperintah untuk melestarikan alam. Adapun status perintah tersebut tergantung status larangannya. Contoh, status larangan merusak alam adalah haram, itu menunjukan perintah melestarikan alam hukumnya wajib. (Jam’ul Jawami’, I.390).Sementara itu, fakhruddin al-Raziy dalam menanggapi ayat di atas, berkomentar bahwa, ayat di atas mengindikasikan larangan membuat madharat. Pada dasarnya, setiap perbuatan yang menimbulkan madharat itu dilarang agama. Al-Qurtubi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa, penebangan pohon juga merupakan tindakan pengrusakan yang mengakibatkan adanya madharat. Beliau juga menyebutkan bahwa mencemari air juga masuk dalam bagian pengrusakan. (al-Tafsir al-Kabir,IV, 108-109; Tafsir AlQurtubi,VII,226).Alam raya telah diciptakan Allah swt. Dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi, dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah menjadikannya baik, bahkan memerintahkan hamba-hambanya untuk memperbaikinya Salah satu bentuk perbaikan yang dilakukan Allah, adalah 10

dengan mengutus para Nabi untuk meluruskan dan memperbaiki kehidupan yang kacau dalam masyarakat. Siapa yang tidak menyambut kedatangan rasul, atau menghambat misi mereka, maka dia telah melakukan salah satu bentuk pengrusakan di bumi Merusak setelah diperbaiki, jauh lebih buruk daripada merusaknya sebelum diperbaiki, atau pada saat dia buruk. Kerena itu, ayat ini secara tegas menggaris bawahi larangan tersebut, walaupun tentunya memperparah kerusakan atau merusak yang baik juga amat tercela. Kerusakan ini mencakup kerusakan jiwa dengan cara membunuh dan memotong anggota tubuh, kerusakan harta dengan cara gasab dan mencuri, kerusakan agama dan kafir dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, kerusakan nasab dengan melakukan zina dan kerusakan akal dengan meminum minuman yang memabukan dan semisalnya.Kesimpulannya bahwa, perusakan itu mencakup kerusakan terhadap akal, akidah, tata kesopanan, pribadi maupun social, sarana-sarana penghidupan, dan hal-hal yang bermanfaat untuk umum, seperti lahan-lahan pertanian, perindustrian, perdagangan dan sarana-sarana kerja sama untuk sesame manusia Adapun perbaikan Allah Ta’ala terhadap keadaan manusia adalah berupa petunjuk agama dan diutusnya Nabi dan Rasul, yang hal itu disempurnakan dengan dibangkitkannnya Nabi dan Rasul terakhir, yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Dengan diutusnya itu, akidah umat islam telah diperbaiki, akhlak dan tata kesopanan mereka telah dibimbing. Sebab beliau telah menghimpun akhlak dan kesopanan itu bagi umat manusia. Segala kemaslahatan suh dan jasad dan telah disyari’atkan pula bagi mereka saling menolong dan saling mengasihi telah pelihara bagi mereka. Keadailan dan persamaan telah disyari’atkan bagi mereka. Musyawarah yang terkait dengan suatu kaidah, menolak hal yang merusak, dan memelihara hal-hal yang maslahat. Dengan demikian, agama mereka melebihi agama-agama lainnya Kehidupan alam dalam pandangan islam berjalan di atas prinsip keselarasan dan keseimbangan. Alam semesta berjalan atas dasar pengaturan yang serasi dan dengan perhitungan yang tepat. Sekalipun di dalam ala mini tampak seperti unit unit yang berbeda. Semuanya berada dalam satu system kerja yang saling mendukung, saling terkait, dan saling tergantung satu sama lain. Artinya, apabila ada satu unit atau bagian yang rusak pasti menyebabkan unit atau bagian lain menjadi rusak pula. Prinsif keteraturan yang serasi dan perhitungan yang tepat semacam ini seharusnya menjadi pegangan atau landasan berpijak bagi manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Dengan demikian, segenap tindakan manusia harus didasarkan atas perhitungan-perhitungan cermat yang diharapkan dapat mendukung prinsip keteraturan dan keseimbangan tersebut. Dalam fiqh terdapat ketentuan dasar bahwa semua makhluk mempunyai status hukum muhtaram, bukan dalam arti terhormat, tetapi harus dilindungi eksistensinya/ jiak makhluk hidup, maka siapapun terlarang membunuhnya. Jika makhluk tek bernyawa, maka siapapun terlarang merusak binasakannya. Dengan kata lain, semua makhluk harus dilindungi hak kepriadaanya. Eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam dilihat sebagi penyebab untama terjadinya bencana alam seperti longsor maupun banjir di Indonesia dalam kurun waktu setahun terakhir ini. Bencana ala mini tidak hanya telah mengakibatkan ratusan manusia kehilangan nyawa, tetapi ribuan manusia kehilangan nyawa juga kehilangan tempat tinggal mereka. Bencana lingkungan seperti tsunami, tanah longsor, lumpur, dan gempa adalah sederet bencana yang silih berganti. Tetapi, bencana-bencana tersebut tidak selamanya disebabkan factor alam. Banjir dan tanah lonsor misalnya, merupakan bencana yang tidak bisa dipisahkan dengan factor manusia yang kurang ramah dengan alam dan lingkungannya sendiri. 11

Hal ini sesuai dengan Firman Allah surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya, “kerusakan telah terjadi di darat dan di lautan karena dosa-dosa yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia, biar mereka dapat merasakan dari apa yang mereka lakukan, agar mereka mau kembali (taubat)” Dalam pelajaran ekologi manusia, kita dikenalkan pada teori tentang hubungan manusia dengan alam, salah satunya adalah anthrophosentis. Di sana dijelaskan mengenai hubungan manusia dan alam. Di mana manusia menjadi pusat dari alam. Maksudnya semua yang ada di alam ini adalah untuk manusia.Allah SWT juga menjelaskan dalam Al-Quran, bahwa semua yang ada di ala mini memang sudah diciptakan untuk kepentingan manusia. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (al Baqarah: 29) Ajaran islam menawarkan kesempatan untuk memahami Sunnatullah serta menegaskan tanggung jawab manusia. Ajaran Islam tidak hanya mengajarkan untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, tetapi juga mengajarkan aturan main dalam pemanfaatannya dimana kesejahteraan bersama yang berkelanjutan sebagai hasil keseluruhan yang diinginkan. Salah satu Sunnah Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap warga masyarakat berhak untuk mendapatkan manfaat dari suatu sumber daya alam milik bersama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya sepanjang tidak melanggar, menyalahi atau menghalangi hak-hak yang saam yang juga dimiliki oleh orang lain sebagai warga masyarakat. Penggunaan sumber daya yang langka atau terbatas harus diawasi dan dilindungi. Agama dan lingkungan, membentuk pandangan baru terhadap alam, misalnya pamahaman kontekstual kitab-kitab suci dan tradisi religius keagamaan tentang alam, meningkatkan kesadaran untuk membangun basis untuk aksi, baik melalui fiqh lingkungan/teologi lingkungan, pemuka agama, dan lembaga keagamaan. Islam menekankan umatnya yang menjaga kelestarian lingkungan dan berlaku arif terhadap alam. Dalam QS. Al-Anbiya/21:35-39 Allah mengisahkan kasus Nabi Adam as. Adam telah diberi peringatan oleh Allah untuk tidak mencabut dan memakan buah khuldi. Namun, ia melanggar larangan itu. Akhirnya, Adam terusir dari surga. Karena Adam telah merusak ekologi surga, ial terlempar kepadang yang tandus, kering, panas dan gersang. Doktrin ini mengingatkan manusia agar sadar terhadap persoalan lingkungan dan berikhtiar memelihara ekosistem alam. Hukum pelestarian lingkungan hidup adalah fardhu kifayah. Artinya, semua orang baik individu maupun kelompok dan perusahaan bertanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan hidup, dan harus dilibatkan dalam penanganan kerusakan lingkungan hidup. Hanya saja, di antara yang paling bertanggung jawab dan menjadi pelopor atas kewajiban ini adalah pemerintah. Sebab, pemerintah adalh pihak yang mengeman amant untuk mengurus ursan rakyat termasuk lingkungan hidup. Selain itu, pemerintah juga memiliki seperangkat kekuasaan untuk menggerakkan kekuatan menghalau pelaku kerusakan lingkungan hidup. Kewajiban masyarakat adalah membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah lingkungan hidup.Selagi lingkungan hidup masih tercemar, maka kita semua terus berdosa. Jika fardhu kifayah belum tuntas, maka usaha/ikhtiar untuk memenuhi kewajiban itu tidak boleh berhenti. Dosa yang paling besar ditanggung oleh pelaku pengrusakan dan pencemaran lingkungan hidup, pemerintah dan pada tingkatan terakhir anggota masyarakat. Kenapa masyarakat juga berdosa? Karena masyarakat juga berkewajiban untuk mencega, mengingatkan, memelihara dan memberikan keteladanan yang baik dalam pelestarian lingkungan hidup.

12

3.4 Fatwa MUI Tentang Illegal Logging

Majelis Ulama Indonesia dalam suatu kesempatan telah mengeluarkan fatwa,yang merupakan hasil pertemuan “IJTIMA' KOMISI-KOMISI FATWA MUI WILAYAH IV KALIMANTAN DI BANJARMASIN KEPUTUSAN FATWA MUI WILAYAH IV KALIMANTAN No: 127/MUI-KS/XII/ 2006”. Diantaranya yang berisi sebagai berikut: Tentang “PENEBANGAN LIAR DAN PERTAMBANGAN TANPA IZIN ILEGAL LOGING DAN ILEGAL MINING” ljtima' Komisi-Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah IV Kalimantan yang berlangsung di Banjarnmasin pada tanggal 22 Zulqaidah 1427 H bertepatan dengan tanggal 13 Desember 2006 M setelah : MENIMBANG : Bahwa akhir-akhir ini makin maraknya penebangan liar dan penambangan tanpa izin dan bisnis ilegal loging dan ilegal mining;; bahwa hal tersebut sangat merugikan masyarakat dan negara, yang menyebabkan rusaknya lingkungan dan terjadi banjir dan tanah longsor dan melawan perundangundangan yang berlaku; bahwa untuk membatasi praktek tersebut MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang penebangan liar dan penambangan tanpa izin, bisnis ilegal loging dan ilegal mining untuk dijadikan pedoman bagi masyarakat. MENGINGAT : AL QUR'AN : Firman Allah tentang penciptaan kekayaan alam seperti kayu dan tambang untuk umat manusia, S. Al Baqarah: 29 Artinya: "Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu" Firman Allah tentang pemberian kemudahan yang menjadikan segala yang diberikan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya, S. Al Jatsiyah: 13 Artinya "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir" Firman Allah tentang larangan merusak lingkungan , S. Al 'Araf: 56 Artinya: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut(tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan), sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik" Firman Allah tentang musibah yang terjadi disebabkan tangan manusia, S. Asyuuraa: 30 Artinya: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar(dari kesalahan-kesalahan mu)" Firman Allah tentang wajib mematuhi peraturan yang ditetapkan pemerintah yang melarang penebangan dan menambang yang berlebihan, S. An Nisa: 59 Artinya "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (SunnahNya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah, dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama(bagimu) dan lebih baik akibatnya". H A D I S: Hadis yang menerangkan wajib mentaati pemimpin (Pemerintah) : Artinya: "Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta mentaati(pemimpin) walaupun seorang yang berasal dari budak bangsa Habsyah" (HR. Ibnu Majah dari Al- Irbadh bin Syariyah) KAIDAH-KAIDAH FIKIH: Kebijakan Pemerintah harus untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat : Artinya: "Kebijakan(peratura n) pemerintah dalam mengatur rakyat haruslah berdasarkan kemaslahatan" (AI Asybahu wa Al Nazair :134) 13

Peraturan pemerintah yang mengatur hal yang mubah yang dianggap menjadi kemaslahatan umum dan apa yang telah ditetapkan itu wajib ditaati: Artinya: "Pemerintah memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang mubah yang dianggap membawa kepada kemaslahatan umum, dan apa yang diperintah (diatur) itu hukumnya wajib ditaati" (Mirast Muqaran : 127) Peraturan pemerintah tersebut menjadi bagian hukum syara' (agama) yang wajib ditaati oleh semua orang: Arlinya: "Peraturan pemerintah menjadi bagian hukum syara' ( agama) yang wajib ditaati oleh seluruh masyarakat untuk melaksanakannya" (Mirast Muqaram : 127) MEMPERHATIKAN: Pendapat para peserta Ijtima' Komisi-Komisi Fatwa MUI Wilayah IV Kalimantan yang diselenggarakan di Banjarmasin pada tanggal 22 Zulqaidah 1427 H bertepatan dengan tanggal 13 Desember 2006 M. DENGAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH MEMUTUSKAN: MENETAPKAN: tentang penebangan dan penambangan sebagai berikut: Penebangan dan penambangan yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat dan atau negara hukumnya haram. Semua kegiatan dan penghasilan yang didapat dari bisnis tersebut tidak sah dan hukumnya haram Penegak hukum wajib bertindak tegas sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

14

Kesimpulan
Alam merupakan anugrah dari Yang Maha Kuasa.Sudah menjadi suatu kewajiban bagi umat manusia untuk menjaga dan melestarikan alam.Mulai dari kutub utara hingga kutub selatan,dari dasar laut hingga puncak gunung tertinggi,dari padang pasir hingga padang rumput yang subur.Semua perlu dijaga kelestarian agar tercipta ekosistem yang seimbang.Hutan salah satu bagian penting di muka bumi.Hutan memiliki kekayaan alam yang begitu banyak yang dapat memakmurkan hidup manusia.Tapi sifat buruk manusia,yakni keserakahan telah membuat kerugian besar bagi kehidupan manusia.Penebangan hutan secara illegal atau yang lebih dikenal dengan “Illegal Logging” telah menimbulkan beragam masalah yang kompleks.Tidak hanya manusia yang dirugikan,tetapi juga telah merusak aneka ragam tumbuhan dan hewan yang hidup didalamnya. Kerugian negara yang mencapai triliunan rupiah tiap tahunya akan terus berlangsung apabila tidak ada solusi serta langkah konkret dalam menyelesaikan kasus ini.Akan semakin berkurang jumlah hutan,maka semakin berkuranglah jumlah oksigen di bumi ini.Para satwa yang tinggal di hutan akan semakin terusik hingga akan semakin banyak terjadi kasus hewan liar yang menyerang pemukiman warga. Maka dari itu,dapat ditarik kesimpulan bahwa illegal logging dalam Islam hukumnya adalah “haram”.Karena telah merugikan

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->