P. 1
ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN (STUDI KASUS PLANT 11 PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk CITEUREUP BOGOR)

ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN (STUDI KASUS PLANT 11 PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk CITEUREUP BOGOR)

|Views: 203|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 23, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

07/04/2013

Sections

ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN (STUDI

KASUS PLANT 11 PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk CITEUREUP BOGOR)

Oleh : RINI RIESTIANY H24104054

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN (STUDI KASUS PADA PLANT 11 PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, TBK)

Oleh RINI RIESTIANY H24104054

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN (STUDI KASUS PADA PLANT 11 PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, TBK)

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh RINI RIESTIANY H24104054

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN ANALISIS PENGARUH EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN (STUDI KASUS PADA PLANT 11 PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, TBK)

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Oleh RINI RIESTIANY H24104054 Menyetujui, Mei 2008

Prof. Dr. Ir. Tb. Sjafri Mangkuprawira Dosen Pembimbing 1 Mengetahui,

Ratih Maria Dhewi, SP, MM. Dosen Pembimbing 2

Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc. Ketua Departemen Tanggal ujian : 10 April 2008 Tanggal lulus :

ABSTRAK
RINI RIESTIANY H24104054. Analisis Pengaruh efektivitas Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan (Studi Kasus Plant 11 PT Indocement Tuggal Prakarsa, Tbk). Dibawah bimbingan Tb. Sjafri Mangkuprawira dan Ratih Maria Dhewi Penggunaan peralatan berteknologi tinggi dalam suatu perusahaan oleh tenaga kerja menyebabkan timbulnya resiko keselamatan dan kesehatan bagi tenaga kerja sehingga karyawan membutuhkan perlindungan dari risiko tersebut. PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk (PT ITP) merupakan perusahaan industri yang melibatkan kontak langsung antara karyawan dengan mesin-mesin dan alatalat teknologi tinggi serta bahan-bahan kimia sehingga cenderung memiliki resiko kecelakaan yang tinggi. Untuk menurunkan tingkat kecelakaan kerja serta untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan, maka PT ITP membuat program K3 sejak tahun 1999 dan diintegrasikan menjadi Sistem Manajemen K3 (SMK3). Penelitian ini bertujuan mengkaji pelaksanaan SMK3 dan menganalisis efektivitasnya dalam mengurangi angka kecelakaan kerja, menganalisis tingkat produktivitas kerja karyawan, menganalisis pengaruh penerapan SMK3 terhadap produktivitas kerja karyawan, serta memberikan solusi alternatif agar pelaksanaan SMK3 dapat berjalan lebih baik lagi di P-11 PT ITP. Penelitian ini dilaksanakan di PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk khususnya di P-11 pada Desember 2007 hingga Februari 2008. Efektivitas penerapan SMK3 dilihat dari 6 aspek yaitu Pelatihan Keselamatan, Publikasi Keselamatan Kerja, Kontrol Terhadap Lingkungan Kerja, Inspeksi dan Disiplin, Peningkatan Kesadaran K3, kelima faktor tersebut dilihat dari kuesioner yang disebarkan kepada karyawan di P-11 PT ITP secara proporsional random sampling. Sedangkan faktor yang keenam yaitu Laporan dan Statistika K3 diperoleh dari data sekunder yang meliputi tingkat keseringan kecelakaan (Injured Frequency Rate-IFR) dan tingkat keparahan kecelakaan (Injured Severity Rate-ISR). Dalam menganalisis besarnya pengaruh digunakan metode analisis regresi. Penerapan SMK3 telah terorganisir dengan baik sehingga mendapat penghargaan Golden Flag dari PT. Sucofindo (auditor eksternal) sejak tahun 2000. IFR dan ISR dari P-11 cenderung menurun dari tahun 2000-2007 dan telah mencapai zero accident pada tahun 2006 dan 2007. Berdasarkan persepsi karyawan, pelaksanaan SMK3 di P-11 telah berjalan dengan baik dan efektif mengurangi angka kecelakaan kerja terutama dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan pemeriksaan kesehatan rutin yang diadakan oleh PT ITP. Tingkat produktivitas kerja karyawan P-11 PT ITP selalu berada di atas standar yang ditetapkan dan tingkat produktivitas tersebut cenderung meningkat dari tahun 2000-2007 . Hal ini menunjukkan bahwa P-11 telah beroperasi secara efektif dan efisien. IFR dan ISR mempengaruhi tingkat produktivitas kerja karyawan secara negatif sehingga semakin kecil IFR dan ISR maka semakin tinggi tingkat produktivitas kerja karyawan PT ITP.

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Rini Riestiany, dilahirkan di Bogor pada hari Senin tanggal 14 April 1986 dari pasangan H. Komarudin dan Hj. Suyarsih S.Pd. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Penulis memulai pendidikan di TK Semboja Sari Bogor dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Polisi I Bogor pada tahun 1992 sampai dengan tahun 1998, kemudian Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Bogor pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2001, dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum Negeri 3 Bogor pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis mendaftar untuk menjadi mahasiswa IPB dengan jalur melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI) dan akhirnya penulis diterima di Institut Pertanian Bogor di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama menjalani perkuliahan, penulis berpartisipasi aktif dalam organisasi kemahasiswaan, yaitu himpunan profesi Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor yang bernama Center Of Management (COM@). Pada tahun periode 2005-2006 penulis menjabat sebagai Sekretaris II Korporat. Pada periode 2006-2007, penulis menjabat sebagai Direktur Public Relation dengan staff sebanyak 8 orang. Selain aktif di COM@, penulis juga aktif pada kegiatan di lingkungan kampus seperti kepanitiaan, seminar-seminar, pelatihan, seperti panitia Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen sebagai Tim Leader dan Sekretaris. Penulis pun pernah mengikuti Worksop Mahasiswa Manajemen mengenai Decision Making Management di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto sebagai perwakilan Departemen Manajemen FEM-IPB. Penulis juga pernah mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) Tingkat Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006.

KATA PENGANTAR

Allhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta pertolongan-Nya, sehingga penyusunan skripsi yang berjudul Analisis Pengaruh Efektivitas Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap

Produktivitas Kerja Karyawan (Studi Kasus Plant 11 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk) dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Karyawan merupakan sumber daya yang penting dalam proses produksi pada suatu perusahaan. Perusahaan tidak dapat berjalan tanpa adanya peran karyawan. Proses produksi terkadang menimbulkan suatu risiko yang dapat

membahayakan keselamatan karyawan. Oleh karena itu, untuk melindungi karyawannya, PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja yang diintegrasikan menjadi sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3). Hal ini bertujuan agar karyawan dapat terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Kecelakaan kerja dikhawatirkan dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Dengan adanya perlindungan ini, karyawan dapat bekerja dengan aman dan nyaman. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Ir. Tb. Sjafri Mangkuprawira dan Ratih Maria Dhewi, SP, MM sebagai Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan, membagikan ilmu, motivasi, saran dan pengarahan kepada penulis saran dalam penyempurnaan skripsi ini. 2. Beatrice Montoroadi, SE,Ak., MM sebagai Dosen Penguji yang telah menyediakan waktunya untuk menguji dengan penuh kesabaran, pengertian dan memberikan pengarahan agar skripsi ini bisa mendekati sempurna.

iv

3. Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc selaku Ketua Departemen Manajemen, seluruh staf dosen pengajar dan karyawan/wati Departeman Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. 4. Bapak H. Harsono sebagai staff Training Department yang telah memberikan kesempatan untuk dapat melaksanakan penelitian, memberikan kritik dan saran selama turun lapang, telah memberikan motivasi, dan training selama di PT Indocement Tunggal Prakarsa 5. Bapak Agus Erfien selaku Manajer QSMR yang telah memberikan izin untuk dapat mengumpulkan data sekunder di QSMR 6. Bapak Ir. Eko Sugianto selaku pembimbing di Plant 11 yang telah banyak meluangkan waktu dan memberikan banyak masukan selama penelitian 7. Bapak Sigit Kurniawan, SE selaku pembimbing di QSMR yang telah meluangkan banyak waktu, memberikan banyak ilmu, saran, dan masukan yang sangat membantu penelitian di PT Indocement Tunggal Prakarsa. 8. Staff QSMR (Mas Tresno, Bu Yuni, Pa Guruh, Pa Dahlan, Pak Efendi, Bu Yanti, Pak Bardjo) yang telah menerima penulis dengan ramah. 9. Bapak Ponco, Pak Achyari, dan staf Safety Dept yang telah menerima saya dengan ramah pada saat pengambilan data sekunder. 10. Kedua orang tuaku (Papa dan Mama), adik-adikku (Ivan dan Icha), dan seluruh keluarga besar yang selalu memberikan doa restu, semangat dan kasih sayang kepada penulis. 11. Yunita, Eka, T’Icha, A’Opik, Phie2t, Betty, Erna, Litu yang telah memberikan indahnya persahabatan, keceriaan, dan kebersamaan selama ini. 12. Mba Intan, Mas Teguh, Dedeh, Rika, Neng Gigis, Intan (Edoth), Ijah, Ade Yus, yang berjuang dan saling curhat bersama penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. 13. Yudha, Yanda, Lysti, Ratih, Roy, Yayu (Horti) yang memberikan semangat dan keceriaan kepada penulis. 14. Masquw “sinarmu yang hening menenangkan hati….” Mungkin itu yang tepat untukmu.

v

15. “Teman Masa Kecilku” yang selalu memberikan keceriaan, perhatian, doa, dan motivasi sehingga penulis selalu bisa tersenyum dan melepas penat yang ada. 16. Kakakku di Lampung yang selalu mengiringiku dengan doa untuk kelancaran dan kesuksesan skripsi ini. 17. D’ Cozy Home (T’duL, T’Tresna, Emma, Ami) yang selalu memberikan ruang untuk berteduh dari hujan dan malam 18. Perwira 100 (Anez, Ayu, K’Icha, Mba Jane) untuk candaan dan tawaan saat kebersamaan selama 1 tahun 19. PR Directory (Dewi, Nceq, Anggie, Velma, Mia, Perdana, Aji, Nophe) you are my best staff I ever had. Your spirit is my motivation. 20. Rekan satu bimbingan (Yossi, Dian, Indah, Barita, Ade Sur) untuk kerjasama dan motivasi selama bimbingan dan konsultasi skripsi. 21. Rekan-rekan Manajemen 41 untuk persahabatan selama 4 tahun di masa perkuliahan. 22. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah ikut membantu selama penyusunan skripsi ini. Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap pendidikan dan bagi para pembaca. Bogor, April 2008

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman ABSTRAK RIWAYAT HIDUP..................................................................................... ii KATA PENGANTAR................................................................................. iii DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii DAFTAR GAMBAR................................................................................... ix DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... x I. PENDAHULUAN................................................................................... 1.1. Latar Belakang....................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ............................................................................... 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................... 1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................... II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia ....................................................... 2.2. Kecelakaan Kerja .................................................................................. 2.2.1. Faktor- Faktor Kecelakaan ........................................................... 2.2.2. Pencegahan Kecelakaan ................................................................ 2.3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja ......................................................... 2.3.1. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja .................................... 2.3.2. Manfaat K3 .................................................................................. 2.3.3. Pengendalian K3 .......................................................................... 2.4. Keamanan Kerja .................................................................................... 2.5. Sistem Manajemen K3 ........................................................................... 2.6. Aspek K3............................................................................................... 2.7. Produktivitas.......................................................................................... 2.8. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu............................................................ 1 1 6 6 7 7 9 9 9 10 12 14 14 15 16 17 18 20 22 24

III. KERANGKA PEMIKIRAN ................................................................ 27 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual .......................................................... . 27 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ........................................................... 30 IV. METODOLOGI PENELITIAN .......................................................... 4.1. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian................................................. 4.2. Jenis dan Pengumpulan Data ................................................................. 4.3. Pengolahan dan Analisis Data ................................................................ 4.3.1. Skala Likert................................................................................... 4.3.2. Uji Validitas.................................................................................. 4.3.3. Uji Reliabilitas .............................................................................. 33 33 33 35 35 37 38

vii

4.3.4. Analisis Regresi Berganda............................................................. 39 4.3.5. Analisis Kecelakaan ...................................................................... 40 4.3.6. Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan .......................................... 40 V. PEMBAHASAN ..................................................................................... 5.1. Gambaran Umum PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk ...................... 5.1.1. Sejarah PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk ............................. 5.1.2. Visi dan Misi PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk .................... 5.1.3. Struktur Organisasi PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk ............ 5.1.4. Proses Produksi Semen ................................................................. 5.1.5. Bidang Usaha ................................................................................ 5.1.6. Hubungan Ketenagakerjaan Antara PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk dan Karyawan ......................................................... 5.2. Pelaksanaan SMK3 di PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk ............... 5.2.1. Manajemen Organisasi SMK3 ....................................................... 5.2.2. Model Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).................................................................... 5.2.3. Efektivitas Pelaksanaan SMK3 Untuk Mengurangi Angka Kecelakaan Kerja di P-11 .............................................................. 5.3. Pengolahan dan Analisis Data ................................................................ 5.3.1. Karakteristik Responden................................................................ 5.3.2. Uji Validitas.................................................................................. 5.3.3. Uji Reliabilitas .............................................................................. 5.3.4. Analisis Persepsi Karyawan Terhadap Pelaksanaan SMK3 di Plant 11 PT ITP ............................................................................ 5.4. Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan................................................... 5.5. AnalisisPengaruh Efektivitas Sistem Manajemen Keselamatan dan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan .............. 42 42 42 45 46 49 51 53 55 58 64 78 82 83 84 88 88 96 99

VI. IMPLIKASI MANAJERIAL............................................................... 102 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 107

1. Kesimpulan ........................................................................................... 107 2. Saran ...................................................................................................... 108
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 109 LAMPIRAN ................................................................................................ 112

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Posisi keputusan penilaian ...................................................................... 36 2. Peralatan darurat dan keadaan darurat yang mungkin erjadi .................... 70 3. Tingkat pencapaian SMK3 berdasarkan permenaker No 05/MEN/1996 .. 74 4. Jumlah karyawan P-11............................................................................ 78 5. Tingkat keseringan dan tingkat keparahan kecelakaan............................. 79 6. Karakteristik usia responden ................................................................... 83 7. Karakteristik pendidikan terakhir ............................................................ 84 8. Karakteristik masa kerja responden ......................................................... 85 9. Karakteristik departemen unit kerja responden........................................ 86 10. Rekapitulasi uji validitas ......................................................................... 87 11. Skor rataan aspek pelatihan keselamatan kerja ........................................ 89 12. Skor rataan aspek publikasi keselaman kerja ........................................... 90 13. Skor rataan aspek kontrol lingkungan kerja ............................................. 91 14. Skor rataan aspek inspeksi dan disiplin ................................................... 94 15. Skor rataan kesadaran terhadap K3 ......................................................... 95 16. Tingkat produktivitas kerja karyawan P-11 PT ITP tahun 2000-2007...... 97 17. Perhitungan regresi berganda dengan SPSS for Windows 13.0 ................ 100

DAFTAR GAMBAR

No.

Halaman 16 18 29 32 51 56 59 65 75 82 98

1. Diagram tahapan kontrol bahaya ............................................................. 2. Sistem model manajemen K3 (Santoso, 2004)......................................... 3. Kerangka pemikiran konseptual .............................................................. 4. Kerangka pemikiran operasional ............................................................. 5. Proses pembuatan semen......................................................................... 6. Deming Management Cycle .................................................................... 7. Segitiga tanggung jawab K3.................................................................... 8. Model SMK3 PT ITP.............................................................................. 9. Diagram audit ......................................................................................... 10. IFR dan ISR P-11 PT ITP ....................................................................... 11. Tingkat produktivitas kerja karyawan .....................................................

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Halaman

1. Kuesioner penelitian ............................................................................... 112 2. Tabel standar SMK3 ............................................................................... 117 3. Safety Golden Rules ................................................................................ 119 4. Identifikasi potensi bahaya...................................................................... 120 5. Surat izin keselamatan kerja.................................................................... 123 6. Surat izin kerja berbahaya ....................................................................... 124 7. Alat pelindung diri .................................................................................. 125 8. Safety Rules ............................................................................................ 128 9. Uji reliabilitas ......................................................................................... 129 10. Analisis regresi berganda dengan SPSS for Windows 13.0....................... 130

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Persaingan industri yang semakin kompetitif menuntut perusahaan lebih mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimilikinya. Dalam era globalisasi ini, perusahaan pun dituntut untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Kualitas produk yang tinggi ini dapat membuat perusahaan mempertahankan pelanggan dan meningkatkan pangsa pasarnya, terutama dalam pasar bebas tingkat ASEAN yang dikenal dengan AFTA (ASEAN Free Trade Area). Untuk itu, dibutuhkan tenaga kerja yang handal dan tangguh dalam menunjang bisnis perusahaan sehingga dapat bersaing. Tenaga kerja merupakan sumber daya yang memegang peranan penting dalam proses produksi. Proses produksi dapat berjalan baik karena dikendalikan oleh tenaga kerja sehingga dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Selain tenaga kerja, perusahaan juga menggunakan peralatan berteknologi tinggi untuk menunjang proses produksi. Tujuannya agar dapat meningkatkan produktivitas perusahaan, mencapai efektivitas, dan efisiensi. Untuk tenaga kerja, produktivitas dapat ditunjang oleh faktor kesegaran jasmani dan rohani, yang dimulai sejak memasuki pekerjaan hingga setelah berhenti adanya bekerja. keserasian Kesegaran jasmani dan rohani dengan

menggambarkan

penyesuaian

seseorang

pekerjaannya yang dipengaruhi oleh kemampuan, pengalaman, pendidikan, dan pengetahuan yang dimiliki. Dengan tenaga kerja yang sehat, berkompeten, dan didukung teknologi yang canggih, maka perusahaan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penggunaan peralatan berteknologi tinggi menyebabkan timbulnya resiko keselamatan dan kesehatan bagi tenaga kerja. Resiko ini dapat menimpa tenaga kerja kapan dan dimana saja, sehingga membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak yang berkaitan seperti pengusaha, tenaga kerja, dan manajemen. Resiko ini pun membuat tenaga kerja menyadari pentingnya lingkungan kerja yang sehat, aman, dan nyaman.

2

Lingkungan kerja yang demikian itu diharapkan dapat meminimalisir angka kecelakaan kerja dan timbulnya penyakit akibat bekerja. Mengacu pada Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan dan kesehatan kerja dapat dijadikan acuan bagi perlindungan tenaga kerja dari bahaya/kecelakaan dan penyakit akibat bekerja maupun akibat lingkungan kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat bagi karyawan maupun manajemen sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat bekerja dalam lingkungan kerja yang berpotensi menimbulkan bahaya. Tujuannya adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan dan penyakit akibat bekerja. Program K3 harus dilakukan secara terencana, periodik, dan terkontrol. Program ini pun harus didukung oleh semua karyawan dimana karyawan dilibatkan dalam penyelesaian masalah, pembuatan peraturan kerja, kegiatan pemeriksaan dan pelatihan.

Keterlibatan ini dilakukan agar perusahaan mengetahui dan mengerti halhal yang dibutuhkan karyawan. Dengan diterapkannya program K3 diharapkan bisa membangun tenaga kerja yang produktif, sehat dan berkualitas. K3 yang termasuk dalam suatu wadah higiene perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes) terkadang terlupakan oleh para pengusaha, meskipun K3 mempunyai tujuan pokok dalam upaya memajukan dan mengembangkan proses industrialisasi, terutama dalam mewujudkan produktifitas kerja para karyawan. Dengan penerapan K3 yang baik dan terarah dalam suatu wadah industri tentunya akan memberikan dampak lain, salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, terampil dan profesional. Di era pasar bebas tentu daya saing dari suatu proses industrialisasi semakin kompetitif dan sangat menentukan maju tidaknya pembangunan suatu bangsa. Menurut penelitian yang dilakukan badan dunia ILO menunjukkan bahwa setiap hari rata-rata 6000 orang meninggal, setara dengan satu orang setiap 15 detik atau 2,2 juta orang per tahun akibat sakit/ kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka (Suardi, 2005). Hal ini menunjukkan masih tingginya angka kecelakaan kerja yang terjadi di dunia. Berdasarkan

3

data ILO, Indonesia menduduki peringkat 26 dari 27 negara yang diteliti dengan angka kecelakaan kerja yang masih dinilai tinggi pada tahun 20002003 (Mangkuprawira dan Vitayala, 2007). Laporan dari Jamsostek sampai dengan Januari 2006 terdapat 95.418 kasus kecelakaan, diantaranya 6.114 pekerja mengalami cacat, 2.932 tenaga kerja mengalami cacat sebagian, 60 tenaga kerja mengalami cacat total dan 1.736 tenaga kerja meninggal dunia, namun bila dibandingkan sampai Januari 2004 yang mencapai 105.846 kasus, terdapat penurunan angka kecelakaan sebesar 9,9%

(www.gerbang.jabar.go.id). Data tersebut menunjukkan kasus kecelakaan kerja di Indonesia masih relatif tinggi meskipun telah terjadi penurunan hingga Januari 2006. Kasus kecelakaan yang masih sering terjadi menyebabkan kesadaran karyawan akan haknya untuk bekerja dalam kondisi yang aman dan nyaman semakin meningkat. PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk merupakan suatu perusahaan yang bersifat industri, yaitu perusahaan yang melakukan usaha mengubah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Kegiatan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk (PT ITP) adalah perusahaan yang memproduksi semen dengan merek dagang "TIGA RODA" yang proses produksinya melalui tahap penambangan dan penyiapan (quarriying), pengeringan dan penggilingan (driying and grinding), pembakaran dan pendinginan clinker (kiln burning and cooling), penggilingan akhir (finish grinding) dan pengepakan semen (packing). Untuk menunjang proses produksinya, PT ITP mempunyai dua jenis unit produksi, yaitu mining dan plant (pabrik). Mining merupakan unit produksi tambang yang bertugas menyediakan material berupa bahan tambang seperti kapur, tanah liat, pasir silika, dan pasir besi. Sedangkan Plant merupakan unit produksi yang bertugas mengubah bahan baku menjadi produk setengah jadi dan produk jadi yang siap dipasarkan. Plant yang dimiliki PT ITP terdiri dari 12 plant, namun Plant 9 berada di Palimanan, Cirebon dan Plant 12 berada di Tarjun, Kalimantan Selatan. Proses produksi semen melibatkan kontak langsung antara karyawan dengan mesin-mesin dan alat-alat teknologi tinggi serta

4

bahan-bahan kimia sehingga cenderung memiliki resiko kecelakaan yang tinggi. Dalam rangka menurunkan tingkat kecelakaan kerja serta untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan, maka PT ITP membuat program K3 sejak tahun 1999 yang mengacu pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/1996, Bab 2 mengenai penerapan program K3 pasal 3 ayat 1 yang menyatakan bahwa "setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan program K3". Program keselamatan kerja yang diterapkan di PT ITP sejak 1999 meliputi Safety Talk, peyediaan Alat Pelindung Diri (APD), rambu-rambu keselamatan, Surat Izin Kerja (SIK) dan Surat Izin Kerja Berbahaya (SIKB), pencegahan dan penanggulangan kebakaran, inspeksi, investigasi, training K3. Sedangkan Program Kesehatannya meliputi penyediaan alat poliklinik dan unit ambulance, penyediaan kotak dan obat P3K pada setiap ruangan, penyediaan tenaga paramedis, sistem rujukan, pemeriksaan kesehatan, pengelolaan limbah, penyediaan air bersih, gizi kerja, dan ergonomi. Dengan diterapkannya K3 ini, PT ITP berusaha untuk terus meningkatkan program K3 yang telah diintegrasikan menjadi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Tujuan

diintegrasikannya K3 menjadi SMK3 adalah agar pengelolaan K3 PT ITP lebih menyeluruh dengan penerapannya diperuntukkan bagi seluruh karyawan, baik yang bekerja di plant maupun yang bekerja di dalam kantor. SMK3 merupakan bagian dari manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, kegiatan perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3. Plant merupakan salah satu unit produksi yang dimiliki PT ITP. Plant mempunyai resiko kecelakaan kerja yang tinggi karena plant menggunakan peralatan yang canggih dan berteknologi tinggi. Plant 11 (P-

5

11) merupakan salah satu plant yang berada di Plantsite Citeureup yang mulai beroperasi di bulan Maret 1999. Pada tahun yang sama PT ITP menerapkan program K3. Semenjak diterapkannya SMK3 tersebut, pelaksanaannya di P-11 ditunjang oleh pembentukan Sub Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Sub P2K3). Tujuan dibentuk Sub P2K3 agar dapat memantau segala perkembangan dan kegiatan yang dilakukan perusahaan. Salah satu cara yang dilakukan untuk mensosialisasikan SMK3 adalah dengan melaksanakan Safety Meeting. Safety Meeting ini

dilaksanakan oleh P2K3 dan Sub P2K3. Rapat sub P2K3 ini membahas berbagai hal yang menyangkut kesehatan, keselamatan, dan kecelakaan kerja seperti laporan statistik K3, laporan Joint Safety Inspection, safety pause, dan sebagainya. Setiap bulan, ada lima parameter kegiatan K3 yang diukur, yaitu Joint Safety Inspection, Safety Talks, investigasi kecelakaan, pertemuan Sub P2K3 dan Safety Non Conformance. PT ITP telah berusaha untuk menerapkan K3 semenjak tahun 1999, tetapi kecelakaan masih sering terjadi. Hal ini ditunjukkan dari jumlah kecelakaan yang mencapai 47 kejadian dari bulan Januari hingga Juni 2007. Sebanyak 39 kejadian kecelakaan terjadi di plant dan 82,98 % terjadi karena tindakan-tindakan karyawan yang berbahaya/unsafe action. Pada Januari hingga Maret 2007, tingkat keseringan kecelakaan dan tingkat keparahan kecelakaan menunjukkan angka 0,5 dan 2,8 (Arsip PT ITP, 2007). Kecelakaan kerja dikhawatirkan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Salah satu hal yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan adalah lingkungan tempat karyawan bekerja dan jaminan terhadap resiko keselamatan dan kesehatan kerja. Oleh karena itu, PT ITP perlu melakukan peninjauan ulang kembali pelaksanaan SMK3 dengan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan data sekunder P-11 saat mulai beroperasi dan diterapkan SMK3 hingga saat ini kemudian membandingkan data kecelakaan yang terjadi selama itu. Dalam penelitian ini akan dianalisis mengenai efektivitas penerapan SMK3 dan melihat pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan PT ITP terutama di Plant 11. Bila angka

6

kecelakaan yang terjadi masih tinggi, maka peneliti akan memberikan alternatif solusi kepada manajemen P-11.

1.2. Perumusan Masalah Sumber daya manusia (SDM) merupakan aset penting yang dimiliki perusahaan yang mendukung pula proses produksi. Dalam melakukan proses produksi tersebut, karyawan selalu berhubungan dengan mesin-mesin dan alat-alat berteknologi canggih yang rentan menimbulkan risiko kecelakaan kerja dan mengakibatkan karyawan kehilangan jam kerjanya. PT ITP merupakan perusahaan besar dengan berbagai sistem

berteknologi canggih, maka PT ITP wajib menerapkan K3 yang diintegrasikan menjadi sebuah sistem yang dikenal dengan SMK3. Dengan diterapkannya sistem ini, maka diharapkan jumlah kecelakaan kerja yang terjadi dapat ditekan dan produktivitas kerja karyawan pun dapat meningkat. Plant 11 (P-11) merupakan plant dengan kapasitas produksi terbesar yaitu sebesar 2.400.000 ton/tahun. P-11 mempunyai kecenderungan potensi kecelakaan terbesar diantara plant-plant di unit produksi Citeureup. Hal ini dikarenakan jumlah karyawannya paling banyak dan peralatan yang Berdasarkan

digunakan pun paling canggih di antara plant-plant yang lain.

uraian di atas, maka dirumuskan suatu permasalahan yang akan diteliti, yaitu: 1. Bagaimana pelaksanaan SMK3 dan efektivitasnya dalam mengurangi angka kecelakaan kerja di P-11 PT ITP? 2. Bagaimana tingkat produktivitas kerja karyawan di P-11 PT ITP? 3. Bagaimana pengaruh penerapan SMK3 terhadap produktivitas kerja karyawan di P-11 PT ITP? 4. Bagaimana solusi alternatif yang bisa diberikan kepada manajemen agar pelaksanaan SMK3 di PT ITP bisa lebih baik lagi?

7

1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian disusun sebagai berikut: 1. Mengkaji pelaksanaan SMK3 dan menganalisis efektivitasnya dalam mengurangi angka kecelakaan kerja di P-11 PT ITP. 2. Menganalisis tingkat produktivitas kerja karyawan di P-11 PT ITP. 3. Menganalisis pengaruh penerapan SMK3 terhadap produktivitas kerja karyawan di P-11 PT ITP. 4. Memberikan solusi alternatif kepada manajemen agar pelaksanaan SMK3 di PT ITP bisa lebih baik lagi.

1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak terkait, seperti : 1. Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan apabila ada hal yang belum tercapai dan dapat memberikan sumbang saran yang positif bagi perusahaan dalam penerapan SMK3. 2. Umum Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebuah karya ilmiah yang layak dipercaya dan juga dapat dijadikan langkah awal bagi penulisan karya ilmiah lain. 3. Penulis Diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan dan mencari solusi bagi permasalahan yang timbul di dunia nyata.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini memfokuskan pada kajian efektifitas penerapan SMK3 dan menganalisis pengaruhnya terhadap produktifitas kerja karyawan di PT ITP khususnya di P-11. Penelitian ini dilakukan di P-11 karena P-11

8

merupakan salah satu plant yang berkapasitas produksi paling besar dan paling baru dengan kecenderungan potensi kecelakaan kerja tertinggi

diantara plant atau divisi-divisi yang lain.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah ilmu dan seni yang mengatur unsur manusia (cipta, rasa, dan karsa) sebagai aset suatu organisasi demi terwujudnya tujuan organisasi dengan cara memperoleh, mengembangkan, dan memelihara tenaga kerja secara efektif dan efisien (Arep dan Tanjung, 2002). Manajemen sumber daya manusia (SDM) merupakan penerapan pendekatan SDM dimana secara bersama-sama terdapat dua tujuan yang ingin dicapai, yaitu tujuan untuk perusahaan dan untuk karyawan. Dua kepentingan tujuan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kesatuan kebersamaan yang utuh. Manusia tidak hanya dipandang sebagai unsur produksi tetapi juga sebagai manusia yang memiliki emosi dan kepribadian aktif yang dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk menggerakkan perusahaan. (Mangkuprawira, 2004)

2.2. Kecelakaan Kerja Kecelakaan menurut Sulaksomo dalam Santoso (2004) adalah suatu kejadian tak diduga dan tidak dikehendaki, yang dapat mengacaukan proses aktivitas yang telah diatur. Menurut Suma'mur dalam Arep dan Tanjung (2004), kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Hal ini dikarenakan dalam peristiwa tersebut tidak terdapat unsur kesengajaan atau bentuk perencanaan. Sedangkan kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja perusahaan. Menurut Sugeng (2005), secara umum kecelakaan kerja dibagi menjadi dua golongan, yaitu : 1. Kecelakaan industri (industrial accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja karena adanya sumber bahaya atau bahaya kerja. 2. Kecelakaan dalam perjalanan (community accident) yaitu kecelakaan yang terjadi diluar tempat kerja yang berkaitan dengan adanya hubungan kerja.

10

Suma'mur dalam Arep dan Tanjung (2004) mendefinisikan kecelakaan kerja sebagai keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan tempat kerja dan lingkungannya, serta cara-cara melakukan pekerjaannya. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa kecelakaan dapat terjadi tanpa dapat kita duga dan tidak direncanakan sebelumnya. Namun pada prinsipnya kecelakaan dapat dicegah. Pencegahan ini menurut Bennet dalam Santoso (2004) merupakan tangung jawab para manajer lini, penyelia, mandor, kepala dan kepala urusan. Undang-Undang No.1 tahun 1970 pasal 10 menyatakan tanggung jawab semua pihak, baik pihak perusahaan, karyawan maupun pemerintah.

2.2.1. Faktor-Faktor Kecelakaan Bannet dalam Santoso (2004) menjelaskan bahwa terdapat empat faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai yang menyebabkan kecelakaan, yakni lingkungan, bahaya, peralatan, dan manusia. Faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja menurut

Suma'mur dalam Arep dan Tanjung (2004) adalah tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan dan keadaan-keadaaan lingkungan yang tidak aman. Menurut Dessler (1997), ada tiga alasan dari terjadinya kecelakaan di tempat kerja yaitu: 1. Kejadian yang bersifat kebetulan, seperti berjalan di depan jendela kaca yang bertepatan dengan seseorang yang

melemparkan bola. 2. Kondisi tidak aman (unsafe condition) : a. b. c. Pelindung yang tidak memadai Peralatan rusak Prosedur yang berbahaya dalam, pada, atau disekitar mesin atau peralatan d. e. f. Gudang yang tidak aman Penerangan yang tidak memadai Ventilasi tidak memadai

11

3. Tindakan-tindakan tidak aman yang dilakukan pihak karyawan (Unsafe Action): a. b. c. d. beroperasi dengan kecepatan tidak aman membuat peralatan keamanan tidak beroperasi dengan baik menggunakan peralatan yang tidak aman mengambil posisi yang tidak aman di bawah muatan yang tergantung e. menggunakan prosedur yang tidak aman dalam memuat, menempatkan, mencampur, dan mengkombinasikan f. g. mengangkat secara tidak tepat pikiran kacau, gangguan, penyalahgunaan, kaget, berselisih, dan permainan kasar Mangkuprawira dan Vitayala (2007) mengemukakan bahwa faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja dapat dilihat dari berbagai sudut, yaitu : 1. Kebijakan pemerintah a. Undang-Undang Ketenagakerjaan, khususnya yang menyangkut tentang keselamatan dan kesehatan kerja, belum ada b. Peraturan pemerintah tentang pelaksanaan

keselamatan dan kesehatan kerja karyawan belum ada c. Pengendalian dan tindakan hukum bagi perusahaan yang mengabaikan undang-undang yang berlaku tentang keselamatan dan kesehatan kerja belum adan atau kalaupun sudah ada, tetapi belum diterapkan dengan tegas. 2. Kondisi pekerjaan a. Standar kerja yang kurang tepat dan pelaksanaannya juga tidak tepat

12

b. Jenis pekerjaan fisik yang sangat berbahaya. Namun, di sisi lain, fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja sangat kurang c. Kenyamanan kerja yang sangat kurang karena kurang tersedianya unsur pendukung keselamatan dan kesehatan kerja d. Tidak tersedianya prosedur manual petunjuk kerja e. Kurang kontrol, evaluasi, dan pemeliharaan tentang alat-alat kerja secara rutin 3. Kondisi karyawan a. Keterampilan karyawan dalam hal K3 rendah b. Kondisi kesehatan fisik karyawan yang tidak prima c. Kondisi kesehatan mental, seperti rendahnya

motivasi tentang K3 serta tingginya derajat stres dan depresi d. Kecanduan merokok, minuman keras, dan narkoba 4. Kondisi fasilitas perusahaan a. Ketersediaan fasilitas yang kurang cukup (jumlah dan mutu) b. Kondisi ruang kerja yang kurang nyaman c. Tidak tersedianya fasilitas kesehatan dan klinik perusahaan d. Tidak tersedianya fasilitas asuransi kecelakaan e. Kurangnya pelatihan dan sosialisasi tentang

pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja di kalangan karyawan

2.2.2. Pencegahan Kecelakaan Bannet dalam Santoso (2004) mengungkapkan bahwa pencegahan kecelakaan terdiri dari dua aspek, yaitu : a. aspek perangkat keras (peralatan, mesin, dan sebagainya) b. aspek perangkat lunak (manusia dan unsur berkaitan)

13

Suma'mur dalam Santoso (2004) menjelaskan bahwa kecelakaan yang terjadi dapat dicegah dengan hal-hal sebagai berikut: a. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang

diwajibkan mengenai kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, kontruksi, perawatan, dan pemeliharaan, pengawasan, pengujian, dan cara kerja peralatan, tugas-tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi medis dan pemeriksaan kesehatan b. Standarisasi yang ditetapkan secara resmi, setengah resmi atau tidak resmi mengenai misalnya syarat-syarat keselamatan sesuai instruksi peralatan industri dan alat pelindung diri (APD). c. Pengawasan, agar ketentuan UU wajib dipenuhi d. Penelitian bersifat teknik, misalnya tentang bahan-bahan yang berbahaya, pagar pengaman, pengujian APD, pencegahan ledakan, dan peralatan lainnya. e. Riset medis, terutama meliputi efek fisiologis dan patologis, faktor lingkungan dan teknologi dan keadaan yang

mengakibatkan kecelakaan f. Penelitian fisiologis, meliputi penelitian tentang pola-pola kewajiban yang mengakibatkan kecelakaan g. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis

kecelakaan yang terjadi h. Pendidikan i. Latihan-latihan j. Penggairahan, pendekatan lain agar bersifat yang selamat k. Asuransi, yaitu insentif untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan l. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan

14

2.3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Undang-Undang RI Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan tercantum pasal tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam pasal 86 tertulis bahwa: 1 setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan, dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. 2 Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna

mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Upaya keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para

pekerja/buruh dengan cara mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan, dan rehabilitasi (Mangkuprawira dan Vitayala, 2007). Keselamatan kerja menunjukkan kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja. Sedangkan kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi, atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja (Mangkunegara, 2004). Kesehatan kerja ialah suatu usaha dan keadaan yang memungkinkan seseorang mempertahankan kondisi kesehatannya dalam pekerjaan. Hal ini menimbulkan kewajiban yang berbeda pada pihak manajerial dan pihak pegawai/pekerja. Akhir-akhir ini usaha menciptakan kerja yang sehat tidak hanya terbatas pada tempat kerja saja tetapi sudah diperluas menjadi lingkungan (Moenir, 1991).

2.3.1. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Menurut Mangkunegara (2004), tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut :

15

a. Agar setiap pegawai jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaikbaiknya, seefektif mungkin. c. Agar semua hasil produksi dipeliharan keamanannya. d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja. f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja. g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

2.3.2. Manfaat K3 Manfaat K3 (Arep dan Tanjung, 2004) adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Ekonomis : a. berkurangnya kecelakaan dan sakit karena kerja b. mencegah hilangnya investasi fisik dan investasi sumber daya manusia c. meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja yang nyaman dan aman, serta motivasi kerja yang meningkat 2. Manfaat Psikologis a. meningkatkan kepuasan kerja b. kepuasan kerja tersebut akan meningkatkan motivasi kerja dan selanjutnya akan meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja c. perusahaan akan merasa bangga bahwa telah ikut serta dalam melaksanakan program pemerintah dan ikut serta dalam pembangunan nasional d. nama baik/citra perusahaan akan meningkat

16

2.3.3. Pengendalian K3 Tahapan kontrol bahaya (Santoso, 2004) Bahaya Diantisipasi
Pemaparan rendah

Bahaya Dievakuasi
Pemaparan tinggi Monitoring periodik

Bahaya Dikontrol

Bahaya Dieliminasi
Tidak ya

Bahaya Diisolasi
ya Tidak ya

Bahaya dikontrol dengan engineering
Tidak ya

Bahaya Dikontrol dengan cara Administrstif
Tidak ya

Program APD Gambar 1. Diagram Tahapan Kontrol Bahaya

Upaya-Upaya Pengendalian 1. Substitusi bahan-bahan kimia yang berbahaya 2. Proses isolasi 3. Pemasangan lokal exhauster 4. Ventilasi umum 5. Pemakaian alat pelindung diri (APD) 6. Ketatarumahtanggaan perusahaan 7. Pengadaan fasilitas saniter 8. Pemeriksaaan kesehatan sebelum kerja dan berkala

17

9. Pelatihan/penyuluhan kepada seluruh karyawan 10. Kontrol administrasi Hierarki pengendalian : 1. eliminasi 2. substitusi 3. pengendalian rekayasa 4. pengendalian admisnitrasi 5. alat pelindung diri (APD) Usaha-usaha yang diperlukan dalam meningkatkan

keselamatan dan kesehatan kerja yaitu sebagai berikut 1. Mencegah peledakan 2. Memberikan peralatan perlindungan diri untuk pegawai yang bekerja pada lingkungan yang menggunakan peralatan yang berbahaya 3. Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna ruangan kerja, penerangan yang cukup terang dan menyejukkan, dan mencegah kebisingan 4. Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit 5. Memelihara kebersihan dan ketertiban, serta keserasian lingkungan kerja 6. Menciptakan suasana kerja yang menggairahkan semangat kerja pegawai. dan mengurangi kecelakaan kebakaran dan

2.4. Keamanan Kerja Yang dimaksud keamanan kerja menurut Moenir (1991) adalah adanya perasaan aman dan tentram pada pegawai atau pekerja dalam organisasi kerja. Perasaan aman ini memang terutama menyangkut pada segi kejiwaan. Pada umumnya cermin dari perasaan aman ini dapat dilihat pada aturan organisasi sepanjang mengenai berbagai jaminan organisasi atas pegawai/pekerja yang meliputi jaminan :

18

a. perlakuan yang adil terhadap semua pegawai tanpa membedakan SARA, turunan, dan lingkungan sosial b. Perawatan atau pemberian asuransi terhadap para pegawai yang melakukan pekerjaan-pekerjaan berbahaya dan penuh resiko c. Masa depan pegawai terutama dalam keadaan tidak mampu lagi melakukan pekerjaan akibat suatu kecelakaan d. Kepastian kedudukan dalam pekerjaan.

2.5. Sistem Manajemen K3 Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, serta pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efesien, dan produktif (Mangkuprawira dan Vitayala, 2007). Sistem model manajemen K3 menurut Santoso (2004) dapat dilihat pada Gambar 2

Peningkatan berkelanjutan

Komitmen dan Kebijaksanaan

Peninjauan ulang dan peningkatan manajemen

Perencanaan

Pengukuran

Pelaksanaan

Gambar 2. Sistem model manajemen K3 (Santoso, 2004)

19

Menurut Mangkunegara (2004), pendekatan sistem pada manajemen K3 dimulai dengan mempertimbangkan tujuan keselamatan kerja, teknik, dan peralatan yang digunakan, proses produk, dan perencanaan tempat kerja. Tujuan keselamatan harus diintegrasikan dengan bagian dari setiap manajemen dan pengawasan kerja. Menurut George S. Odiorne dalam Mangkunegara (2004) mengemukakan bahwa sistem pada manajemen K3 mencakup : a. Penetapan Indikator Sistem Tahap dasar dalam implementasi sistem keselamatan kerja adalah menetapkan metode untuk mengukur pengaruh pelaksanaan

keselamatan kerja, kesehatan, dan kesejahteraan pegawai. Statistik kecelakaan harus dijadikan pedoman dan dibandingkan dengan organisasi lainnya. Efektifitas dari sistem dapat diukur dan

kecenderungan-kecenderungannya dapat diidentifikasikan. Indikatorindikator tersebut merupakan kriteria untuk tujuan keselamatan kerja. b. Melibatkan Para Pengawas dalam Sistem Pelaporan Bilamana terjadi kecelakaan harus dilaporkan kepada pengawas langsung dari bagian kerusakan dan laporan harus pula

mengidentifikasi kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan. Hal ini agar pengawas tersebut dapat mudah mengadakan perbaikan dan mengadakan upaya preventif untuk masa selanjutnya. c. Mengembangkan Prosedur Manajemen Keselamatan Kerja Pendekatan sistem yang esensi adalah menetapkan sistem komunikasi secara teratur dan tindak lanjut pada setiap kecelakaan pegawai. Kemudian mengadakan penelitian terhadap penyebab terjadinya kecelakaan dan mempertimbangkan kebijakan yang telah ditetapkan untuk diadakan perubahan seperlunya sesuai dengan keperluan pada saat itu. d. Menjadikan Keselamatan Kerja sebagai Bagian Tujuan Kerja Membuat kartu penilaian keselamatan kerja. Setiap kesalahan yang dilakukan pegawai dicatat oleh pengawas dan dipertanggungjawabkan

20

sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan penilaian prestasi kerja, kondite pegawai yang bersangkutan e. Melatih Pegawai-Pegawai dan Pengawasan dalam Manajemen

Keselamatan kerja Melatih pegawai-pegawai untuk menggunakan peralatan kerja dengan baik. Begitu pula pegawai-pegawai dilatih untuk dapat menggunakan alat pengaman jika terjadi kecelakaan di tempat kerja.

2.6.

Aspek K3 Menurut Miner dalam Ilham (2002), ada dua aspek yang digunakan untuk mengatasi masalah K3 yaitu Safety Psychology dan Industrial Clinical Psychology. Safety Psychology menitikberatkan pada usaha mencegah kecelakaan itu terjadi, dengan meneliti kenapa dan bagaimana kecelakaan terjadi. Industrial Clinical Psychology

menitikberatkan pada kinerja karyawan yang menurun, sebab-sebab penurunan dan bagaimana mengatasinya. Faktor-faktor dari kedua aspek tersebut dijabarkan sebagai berikut : 1. Safety Psychology terdiri dari 6 faktor, yakni : a. Laporan dan Statistik Kecelakaan Laporan dan statistika kecelakaan sangat penting dalam program K3. Dengan tersedianya laporan dan statistika kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, pihak perusahaan akan memiliki gambaran mengenai kecenderungan terjadinya kecelakaan, serta dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. b. Pelatihan Keselamatan Pelatihan keselamatan yang dilakukan perusahaan kepada

karyawannya diharapkan dapat mengurangi angka kecelakaan kerja yang terjadi. Hal ini karena karyawan akan memperoleh informasi yang cukup untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja. c. Publikasi dan Kontes Keselamatan Kerja

21

Publikasi keselamatan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga motivasi karyawan agar tidak lengah dan tetap sadar akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Cara yang paling banyak digunakan adalah dengan menggunakan spanduk dan poster-poster yang berisikan tentang K3, serta memberikan informasi mengenai kecelakaankecelakaan yang terjadi di lingkungan kerja. Kontes keselamatan kerja dilakukan dengan tujuan agar karyawan selalu terpacu untuk menerapkan K3 saat bekerja. Adanya pemilihan karyawan teladan dalam bidang K3 serta pemberian penghargaan bagi karyawan yang mengalami kecelakaan kerja paling sedikit beberapa hal yang dapat dilakukan perusahaan. d. Kontrol Terhadap Lingkungan Kerja Perusahaan harus dapat melindungi karyawannya dari kecelakaan kerja. Oleh karena itu, maka perusahaan harus menyediakan peralatan pengaman dan peralatan pelindung diri untuk merupakan

karyawannya. Jika alat pelindung diri (APD) digunakan selama bekerja, kemungkinan untuk mengalami kecelakaan akan lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak menggunakan APD. Selain itu, hal lain yang penting adalah kondisi lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang berdebu, kotor, serta tidak dilengkapi dengan penerangan yang memadai akan membuat karyawan tidak nyaman dan berpengaruh terhadap motivasi dan produktivitas kerjanya. e. Inspeksi dan Disiplin Inspeksi dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agar setiap mesin dan peralatan selalu dalam kondisi aman dan siap untuk digunakan. Selain itu, adanya inspeksi yang berkala dapat memberikan informasi tentang potensi bahaya yang mungkin terjadi, sehingga perusahaan dapat langsung mengambil tindakan. f. Peningkatan Kesadaran K3

22

Program-program K3 akan bekerja sangat baik bila didukung dengan iklim yang positif yaitu komitmen yang kuat serta adanya perhatian yang besar dari manajemen perusahaan terhadap masalah K3 di lingkungan perusahaan 2. Industrial Clinical Psychology terdiri dari 2 faktor, yakni : a. Konseling Konseling atau pembimbingan dilakukan untuk meningkatkan kembali motivasi kerja dari karyawan setelah diketahui adanya penurunan produktivitas dari karyawan yang disebabkan oleh masalah yang dihadapi oleh karyawan yang bersangkutan. b. Employee Assistance Program Pada Employee Assistance Program karyawan yang mengalami masalah akan dibimbing secara intensif oleh supervisor yang ditunjuk. Hal ini digunakan untuk menagani bermacam-macam masalah karyawan terutama yang berhubungan dengan perilaku karyawan.

2.7.

Produktivitas Produktivitas adalah rasio output dan input suatu proses produksi dalam periode tertentu. Input terdiri dari manajemen, tenaga kerja, biaya produksi, peralatan serta waktu. Output meliputi produksi, produk, penjualan, pendapatan, pangsa pasar, dan kerusakan produk

(Mangkuprawira dan Vitayala, 2007). Umar (2005) menyatakan bahwa produktivitas adalah

perbandingan hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Produktivitas mempunyai dua dimensi, yaitu efektifitas yang mengarah pada pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan dimensi yang lain adalah efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan masukan dengan realisasi penggunaannya.

23

Secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan masukan yang sebenarnya. Misalnya saja, “produktivitas adalah ukuran efisiensi produktif”. Suatu perbandingan antara hasil masukan dan keluaran. Masukan sering dibatasi dengan masukan tenaga kerja., sedangkan keluaran diukur dalam kesatuan fisik bentuk dan nilai (Sinungan, 2005). Produktivitas berubah-ubah dari waktu ke waktu karena peran serta tenaga kerja selalu berubah-ubah. Faktor-faktor yang mempengaruhi hal ini adalah tingkat pendidikan, keterampilan, disiplin, sikap dan etika kerja, motivasi, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan dan iklim kerja, hubungan industrial, teknologi, sarana produksi, manajemen, kesempatan berprestasi, kebijakan pemerintah di bidang produksi, investasi, perizinan, teknologi, moneter, fiskal, harga, distribusi dan lain-lain (Kussriyanto, 1986) Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja terdiri atas faktor makro dan mikro perusahaan. Faktor makro meliputi kondisi perekonomian, industri, regulasi pemerintah, dan karakteristik angkatan kerja. Sementara faktor mikro terdiri dari kondisi organisasi/perusahaan, manajemen, dan karyawan (Mangkuprawira dan Vitayala, 2007). Menurut Simajuntak (2001) faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas kerja karyawan dapat digolongkan pada tiga kelompok yaitu: 1. Kualitas dan kemampuan Kualitas dan kemampuan karyawan dpengaruhi oleh tingkat pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos kerja, mental, dan kemampuan fisik pekerja yang bersangkutan 2. Sarana Pendukung Sarana pendukung untuk peningkatan produktivitas kerja karyawan perusahaan dapat dikelompokkan pada dua golongan, yaitu ; a. menyangkut lingkungan kerja, termasuk teknologi dan cara produksi, sarana dan peralatan produksi yang digunakan, tingkat

24

keselamatan

dan

kesehatan

kerja

serta

suasana

dalam

lingkungan kerja itu sendiri; b. menyangkut kesejahteraan pekerja yang tercermin dalam sistem pengupahan dan jaminan sosial, dan jaminan kelangsungan kerja. 3. Supra Sarana Supra sarana yang mendukung peningkatan produktivitas kerja karyawan antara lain kebijakan pemerintah, hubungan pengusaha dan pekerja, kemampuan manajemen, dan perusahaan.

2.8.

Hasil – Hasil Penelitian Terdahulu Purnamasari (2004) dalam penelitiannya membahas mengenai pengaruh biaya program K3 terhadap tingkat kecelakaan dan produktivitas di PT ITP. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya tingkat kecelakaan kerja di PT ITP pada tahun 2000-2004 mengalami penurunan, baik untuk tingkat keseringan kecelakaan kerja maupun dari segi keparahannya. Namun pada penelitiannya belum dilakukan perbandingan mengenai efektivitas penerapan program SMK3 yang dilihat dari segi kecelakaan kerja sebelum dan sesudah diterapkan SMK3. Almigo (2004) dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dengan Produktivitas Kerja Karyawan”

menyatakan bahwa produktivitas karyawan cenderung menurun dari waktu ke waktu dan hal ini akan berpengaruh pada merosotnya suatu perusahaan. Permasalahan-permasalahan yang timbul karena produktivitas kerja menjadi indikasi peranan manajemen sebagai pengelolaan sumber daya manusia diperlukan. Produktivitas kerja yang menurun ini dapat diakibatkan karena adanya persaingan yang tidak sehat, kecemburuan sosial antara para anggotanya, ataupun dari lingkungan tempat kerja itu sendiri. Kurangnya pemahaman dalam berpola pikir akan mengakibatkan kemerosotan kemajuan bukan peningkatan organisasi. Hal ini menjadi polemik dalam organisasi tersebut. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya peneliti mengharapkan agar ada yang meneliti variabel-

25

variabel lain yang berhubungan dengan masalah produktivitas kerja, seperti masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini dikarenakan dalam penelitian ini data produktivitas kerja hanya berdasarkan pada penilaian kerjanya saja. Ishak (2004) dalam kajiannya tentang peningkatan produktivitas kerja dengan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja menerangkan bahwa pabrik yang aman adalah pabrik yang efisien, terutama untuk pabrik yang luas dan besar. Pekerja pada pabrik yang aman dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas output sehingga mempengaruhi kesejahteraan pekerja. Untuk menciptakan pabrik yang aman, keselamatan kerja penting untuk diperhatikan. Keselamatan kerja di suatu pabrik harus didukung oleh berbagai faktor seperti tempat kerja yang baik, tingkat kebisingan yang rendah, suasana kerja yang nyaman, dan sebagainya. Tingkat keselamatan kerja pada pabrik yang kecil lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pabrik yang besar karena tingkat spesialisasi para pekerja tidak seimbang dengan teknologi yang dipergunakan. Ilham (2002) menganalisis tentang hubungan keselamatan dan kesehatan kerja dengan motivasi kerja karyawan di PT Goodyear Indonesia menerangkan bahwa perasaan aman akan sangat mempengaruhi kinerja karyawan. Karyawan tidak akan bekerja dengan maksimal jika lingkungan kerja tidak aman dan memadai, dan hal ini akan berakibat pada turunnya produktivitas kerja karyawan. Penelitian ini mengacu pada Miner (1992) yang mengemukakan dua aspek yang disebut Safety Psychology dan Industrial Clinical Psycology yang digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Rahmawati dan Rahmawati (2007) mengkaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam meningkatkan produktivitas karyawan di PT Bridgetone Tire Indonesia menerangkan bahwa pengukuran produktivitas karyawan dilakukan pada besarnya ukuran produktivitas rata-rata setiap karyawan secara kuantitatif berdasarkan hasil produksi (output) tiap tahun dengan jumlah tenaga kerja dan jumlah hari kerja (input)

26

Dari kajian dan penelitian terdahulu, diperoleh pembelajaran untuk melakukan penelitian tentang analisis efektifitas penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) serta pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan di PT ITP khususnya di Plant 11. Tujuannya adalah menganalisis efektivitas penerapan SMK3 dan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan di P-11 PT ITP. Bila angka kecelakaan kerja masih tinggi dan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan, maka peneliti akan membantu memberikan solusi alternatif sesuai kebutuhan perusahaan. Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini, dilakukan penganalisisan efektivitas penerapan SMK3 dengan membandingkan data penerapan SMK3 mulai dari P11 beroperasi dan diterapkan SMK3 hingga saat ini. Kelebihan penelitian ini antara lain adalah penilaian efektivitas penerapan SMK3 dilihat dari enam faktor, yaitu pelatihan keselamatan, publikasi dan konteks keselamatan, kontrol terhadap lingkungan kerja, inspeksi dan disiplin, peningkatan kesadaran K3, serta laporan dan statistika K3 yang didasarkan pada Teori Miner. Laporan dan statistika K3 dinilai dari data sekunder perusahaan berupa arsip, sedangkan lima faktor lainnya dinilai dari persepsi karyawan dengan kuesioner. Kuesioner yang disebarkan kepada 134 responden dari 200 orang karyawan dengan tingkat kesalahan 5%, sehingga data yang diperoleh dapat teruji kebenarannya.

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Setiap perusahaan yang berproduksi tentu saja membutuhkan faktorfaktor produksi seperti modal, sumber daya alam, mesin, teknologi, dan semua itu tidak dapat beroperasi tanpa dikendalikan oleh sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan faktor produksi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan proses produksi itu sendiri. Selain itu, setiap perusahaan tentu saja mempunyai visi dan misi yang ingin dicapai dan semua itu tidak terlepas dari peran sumber daya manusianya. Untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan maka perusahaan menyusun strategi-strategi seperti strategi keuangan, strategi pemasaran, strategi SDM dan strategi produksi. Strategi keuangan berkaitan dengan perolehan (akuisisi) dan alokasi modal serta manajemen modal kerja dan deviden. Tidak seperti strategi fungsional lainnya, strategi keuangan harus memiliki unsur–unsur jangka pendek dan jangka panjang. Strategi pemasaran meliputi pencocokan produk dan jasa dengan kebutuhan pelanggan, memutuskan dimana dan kapan menjual dan mempromosikan produk serta menetapkan harga. Pendekatan ini tergantung pada apakah perusahaan menghadapi para pelanggan yang ada atau berusaha menarik para pelanggan yang baru, dan pada apakah produk baru itu sudah mapan. Strategi yang ketiga adalah strategi SDM mencakup perekrutan, pelatihan dan penyuluhan karyawan, penentuan kompensasi, dan

pemeliharaan hubungan dengan serikat pekerja dan pemerintah. Sasarannya adalah untuk menarik, memotivasi, dan mempertahankan karyawan yang dibutuhkan oleh organisasi. Strategi produksi berkaitan dengan transformasi masukan bahan–bahan, tenaga kerja, dan modal menjadi produk atau jasa. Keputusan-keputusan strategik mencakup ukuran dan lokasi pabrik, pemilihan peralatan, ukuran dan pengendalian persediaan, upah dan penyeliaan serta desain dan rekayasa produk. Bila ditelaah maka strategi yang sangat berperan dalam pencapaian visi dan misi perusahaan adalah strategi SDM. Dimana strategi ini

28

menetapkan kebijakan-kebijakan untuk menciptakan SDM yang berkualitas dan bekerja optimal antara lain seperti kebijakan rekrutmen dan seleksi, kebijakan pengembangan SDM, kebijakan penilaian kinerja, kebijakan kompensasi dan kebijakan SMK3. Kebijakan SMK3 ini merupakan kebijakan yang dibuat perusahaan menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja untuk melindungi karyawannya dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat bekerja. Dengan diterapkannya SMK3, diharapkan dapat tercapainya

efektivitas. Bila efektivitas tercapai maka tingkat kecelakaan rendah, efisiensi kerja tercapai, tidak ada gangguan pada kesehatan, dan lingkungan kerja diharapkan dapat menjadi aman dan nyaman sehingga produktivitas kerja karyawan bisa meningkat. Bila efektivitas dari penerapan SMK3 tidak tercapai maka tingkat kecelakaan tinggi, efisiensi kerja tidak tercapai, adanya gangguan pada kesehatan, lingkungan kerja tidak aman dan nyaman, dan produktivitas kerja karyawan pun akan rendah. Gambar 3 merupakani alur pemikiran konseptual dari bagaimana suatu perusahaan bisa mencapai suatu visi dan misi.

29

Visi dan Misi PT ITP, Tbk

Strategi Perusahaan

Strategi Keuangan

Strategi Pemasaran

Strategi SDM

Strategi Produksi

Kebijakan Rekrutmen dan Seleksi

Kebijakan Program SMK3

Kebijakan Penilaian Kinerja

Kebijakan Kompensasi

Kebijakan Pengembangan SDM

Penerapan SMK3 - Tingkat kecelakaan tinggi - Efisiensi kerja tidak tercapai - Gangguan pada kesehatan - Lingkungan kerja tidak aman dan nyaman - Produktivitas kerja karyawan rendah

Ya -

Tidak

Efektivitas SMK3 Tingkat kecelakaan rendah Efisiensi kerja tinggi Tidak ada gangguan pada kesehatan Lingkungan kerja yang aman dan nyaman

Produktivitas kerja karyawan tinggi

Produktivitas kerja karyawan meningkat

Kinerja perusahaan tinggi Gambar 3. Kerangka pemikiran konseptual

30

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional Pengembangan SDM yang dilakukan oleh setiap perusahaan tentu saja berbeda-beda, semuanya bergantung pada kebutuhan yang dimiliki oleh SDM-nya. Pengembangan SDM tersebut dilakukan agar perusahaan memiliki SDM yang handal dan dapat bekerja secara optimal. SDM yang kompeten merupakan SDM yang mampu bekerja dengan baik dan memiliki produktivitas yang tinggi serta dapat bersaing di era globalisasi ini. Untuk dapat menghasilkan SDM yang kompeten maka banyak faktor yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Salah satunya adalah kenyamanan dan keamanan tempat kerja. Tempat kerja merupakan tempat dimana setiap SDM meluangkan ide dan pemikiran dalam bekerja untuk menghasilkan sebuah output. Output yang dihasilkan setiap karyawan akan berbeda. Oleh karenanya, perusahaan harus berpikir bagaimana agar setiap SDM merasa aman dalam bekerja meskipun harus berhadapan dengan mesin-mesin berteknologi canggih. Untuk menciptakan suasana tempat kerja yang aman dan nyaman maka salah satu cara yang dipilih oleh perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan mesin-mesin berbahaya dan berteknologi canggih adalah penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Agar keamanan dan kenyamanan pun dirasakan oleh semua pihak yang bekerja, baik yang bekerja di luar ruangan maupun di dalam ruangan maka konsep K3 ini diintegrasikan menjadi Sistem Manajemen K3 (SMK3). Dari penerapan SMK3 dapat dilihat sejauh mana efektifitasnya dan dapat dilihat juga seberapa besar pengaruhnya terhadap produktfitas karyawan. Penelitian ini dilaksanakan pada Plant 11 PT ITP karena pada plant tersebut potensi kecelakaan yang tinggi dan pelaksanaan SMK3 masih perlu diperbaiki. Peneliti akan menganalisis bagaimana penerapan SMK3 memberikan pengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja. Efektivitas penerapan SMK3 dilihat dari faktor-faktor Pelatihan Keselamatan, Publikasi Keselamatan Kerja, Kontrol Terhadap Lingkungan Kerja, Inspeksi dan Disiplin, Peningkatan Kesadaran K3, kelima faktor tersebut dilihat dari kuesioner. Sedangkan faktor yang keenam yaitu Laporan dan statistika K3

31

diperoleh dari data sekunder yang meliputi tingkat keseringan kecelakaan (Injury Frequency Rate) dan tingkat keparahan kecelakaan (Injury Saverity Rate). Untuk produktivitas kerja karyawan dilihat dari perbandingan

jumlah output dengan input. Dalam menganalisisnya digunakan metode analisis regresi. Analisis ini digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh efektivitas penerapan SMK3 yang dlihat dari segi laporan dan statistika K3 terhadap produktivitas kerja karyawan. Sedangkan untuk

melihat bagaimana penerapan SMK3-nya digunakan analisis deskriptif. Data untuk analisis deskriptif ini didapatkan dari kuesioner yang disebarkan kepada karyawan di P-11 PT ITP. Kuesiner ini disebarkan secara proporsional random sampling karena P-11 memiliki beberapa departemen, yaitu Electical Department, Mechanical Department, dan Production Department. Hal ini dilakukan agar kuesioner menyebar secara merata dan tujuan dari penelitian ini dapat tercapai. Data sekunder yang diperlukan untuk melengkapi penelitian ini diperoleh dari arsip perusahaan.

32

Berikut ini merupakan alur pemikiran dari penelitian ini : Visi dan Misi PT ITP, Tbk

Strategi Plant 11 PT ITP, Tbk

Kebijakan Program SMK3

Potensi kecelakaan yang tinggi di P-11

Efektivitas Penerapan SMK3 di Plant 11 Diterapkan dengan enam faktor K3 1) Pelatihan Keselamatan Kerja 2 ) Publikasi Keselamatan Kerja 3) Kontrol Terhadap Lingkungan Kerja 4) Inspeksi dan Disiplin 5) Peningkatan Kesadaran K3 Analisis persepsi dengan kuesioner

6) Laporan dan Statistika K3 a) Injured Frequency Rate/Tingkat Keseringan Kecelakaan b) Injured Severity Rate/ Tingkat Keparahan Kecelakaan

Analisis Deskriptif Analisis Pengaruh dengan Regresi

Produktivitas Kerja Karyawan Plant 11

Gambar 4. Kerangka pemikiran operasional

IV. METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilaksanakan di Plant 11 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. yang tepatnya terletak di Jalan Mayor Oking Jaya Atmaja Citeureup Bogor. Pemilihan perusahaan dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa adanya kesediaan pihak perusahaan untuk memberikan informasi dan data yang diperlukan sesuai dengan penelitian, serta bahwa perusahaan yang bersangkutan merupakan salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, dimana sumber daya manusianya merupakan salah satu aset terpenting dalam proses produksi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperhatikan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja karyawan yang merupakan salah satu faktor dalam mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Hal ini haruslah dicapai agar perusahaan memiliki sumberdaya manusia yang memiliki produktivitas kerja yang tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai Februari 2008.

4.2. Jenis dan Pengumpulan Data a. Jenis Data Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan melalui proses wawancara, pengisian kuesioner dan pengamatan langsung di lapangan mengenai pelaksanaan SMK3 di PT ITP. Sedangkan data sekunder diperoleh perusahaan. b. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan degan cara observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner. Observasi dilakukan untuk memperoleh data yang relevan di lapangan, untuk pelaksanaan SMK3 dan pengaruhnya terhadap produktivitas di P-11 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. dari literatur, jurnal, dan catatan-catatan manajeman

34

Dalam hal ini dilakukan pencatatan secara sistemik mengenai produktivitas kerja karyawan, perilaku, dan kejadian yang dianggap relevan di lapangan. Wawancara adalah proses memperoleh keterangan menggunakan tanya jawab dan bertatap muka dengan responden secara langsung. Wawancara dilakukan dengan menggali lebih dalam tentang SMK3 dan produktivitas karyawan, serta seberapa besar kesadaran karyawan akan pentingnya penerapan SMK3 sehingga menjadikan tempat kerja menjadi lebih aman dan nyaman. Oleh karena itu, wawancara dilakukan kepada pihak-pihak yang mengetahui perkembangan SMK3 dan produktivitas karyawan di lapangan seperti Safety Department, Plant Manager, dan pimpinan unit kerja lainnya. Kuesioner adalah metode pengumpulan data yang menggunakan daftar pernyataan. Isi dari kuesioner berupa pernyataan mengenai fakta penerapan dan pelaksanaan SMK3 yang diberlakukan oleh PT ITP. Kuesioner ini akan disebarkan kepada karyawan yang bekerja di P-11 PT ITP yang diambil secara proposional random sampling. Bentuk kuesioner dengan empat tipe pilihan jawaban yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju dengan metode skala Likert. Menurut metode Slovin, jumlah sampel yang diperlukan adalah sebanyak 133.33 orang ≈ 134 orang dengan tingkat kesalahan 5% dan jumlah populasi sebanyak 200 orang. Rumus Slovin yang digunakan adalah
N

n=
1 + Ne
2

.

...........................................(1)

Keterangan : n : jumlah sampel N : jumlah populasi e : tingkat kesalahan (error)

35

Pengumpulan data sekunder dilakukan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan SMK3, produktivitas, kecelakaan kerja, dan sebagainya yang dapat melengkapi data untuk penelitian ini. Data sekunder diperoleh dari arsip data perusahaan dan berbagai literatur, baik berupa buku yang memuat teori-teori, hasil penelitian terdahulu, serta pencatatan data yang sudah ada di perusahaan. Data sekunder yang berupa arsip perusahaan diperlukan karena pada penelitian ini dilakukan perbandingan data yang berkaitan dengan SMK3 dan produktivitas pada sebelum dan sesudah diterapkan SMK3 di PT ITP terutama di P-11.

4.3. Pengolahan dan Analisis Data 4.3.1. Skala Likert Empat pilihan jawaban kuesioner untuk penelitian ini menggunakan skala Likert. Dimana skala ini digunakan untuk mengetahui penilaian seseorang terhadap sesuatu. Pilihan jawaban yang digunakan yaitu : a. Sangat tidak setuju b. Tidak setuju c. Setuju d. Sangat setuju =1 =2 =3 =4

Setiap jawaban dari responden dalam kuesioner diberikan skor. Cara menghitung skor rataan adalah sebagai berikut : ∑ ( Xi . ni) x = n Keterangan : x = skor rataan ..........................................(2)

ni = jumlah jawaban responden untuk skor i Xi = skor nilai jawaban responden i n = jumlah responden Selanjutnya menggunakan rentang skala penilaian untuk menentukan posisi tanggapan responden dengan menggunakan nilai skor. Setiap skor alternatif yang terbentuk dari teknik skala peringkatan terdiri dari

36

kisaran antara 1 hingga 4 yang menggambarkan posisi yang sangat negatif ke posisi yang sangat positif, kemudian dihitung rentang skala dengan rumus sebagai berikut:

R (skor) Rs = M ..............................(3)

Keterangan : R (skor) = skor terbesar – skor terkecil M = banyaknya kategori skor

Nilai skor rata-rata (Rs) yang didapatkan adalah 0,75. Angka ini diperoleh dari hasil perhitungan: Rs = 4 – 1 = 0,75 4 Nilai skor rataan diperoleh dari perkalian antara bobot nilai jawaban berdasarkan skala dengan jumlah jawaban responden, kemudian dibagi dengan jumlah responden. Berdasarkan nilai skor rataan tersebut, maka posisi keputusan penilaian memiliki rentang skala yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Posisi Keputusan Penilaian Skor Rataan 1,00 - 1,75 1,75 - 2,50 2,50 - 3,25 3,25 - 4,00 Keterangan Sangat tidak setuju Tidak setuju Setuju Sangat Setuju

Interpretasi untuk tiap posisi tersebut adalah 1. Jika nilai skor rataan yang dihsilkan berada pada rentang 1,00-1,75 maka pelaksanaan SMK3 dinyatakan sangat tidak baik

37

2. Jika nilai skor rataan yang dihasilkan berada pada rentang 1,75-2,5 maka pelaksanaan SMK3 dinyatakan tidak baik 3. Jika nilai skor rataan yang dihasilkan berada pada rentang 2,5-3,25 maka pelaksanaan SMK3 dinyatakan baik 4. Jika nilai skor rataan yang dihasilkan berada pada rentang 3,254,00 maka pelaksanaan SMK3 dinyatakan sangat baik

4.3.2. Uji Validitas Kuesioner dibuat untuk mengetahui pendapat dan fakta yang dirasakan responden mengenai efektifitas penerapan SMK3 di P-11 PT ITP. Sebelum kuesioner disebar dilakukan suatu uji validitas. Uji Validitas dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana data yang ditampung pada suatu kuesioner dapat mengukur apa yang ingin diukur. Langkah-langkah dalam mengukur validitas kuesioner yaitu mendefinisikan secara operasional suatu konsep yang diukur, melakukan uji coba pengukur tersebut pada sejumlah responden, mempersiapkan tabel tabulasi jawaban, menghitung nilai korelasi antara data pada masing-masing pernyataan dengan skor total memakai rumus teknik korelasi. Korelasi ini digunakan untuk menganalisis kekuatan hubungan antara peubah-peubah. Dalam penelitian ini, peubah-peubah tersebut adalah Produktivitas kerja karyawan sebagai peubah tidak bebas (Y) dan penerapan SMK3 sebagai peubah bebas (X). Menurut Umar (2003), untuk menghitung analisa korelasi digunakan rumus :

n∑xy – (∑x) (∑y) r= ( n∑x2-(∑x)2)(n∑y2 – (∑y)2)

....................(4)

38

keterangan : r n Y X : koefisien korelasi : ukuran contoh : Peubah tidak bebas (Produktivitas kerja karyawan) : Peubah bebas ( Penerapan SMK3) Dari koefisien yang diperoleh didapatkan hubungan -1 ≤ r ≥ +1, yaitu r = -1, maka dinyatakan ada hubungan linear sempurna tidak langsung antara X dan Y, r = 0 dinyatakan tidak ada hubungan linear antara peubah X dan Y, r = +1 dinyatakan ada hubungan linear sempurna langsung antara X dan Y.

4.3.3. Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas dilakukan setelah uji validitas, dimana reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. (Umar, 2003). Teknik pengukuran reliabilitas yang digunakan adalah teknik Alpha Cronbach, dengan rumus sebagai berikut : k r11 = k-1 1σt2 ....................................(5) ∑σb2

Keterangan : r11 k ∑σb σt
2 2

= reliabilitas instrumen = banyak butir pertanyaan = jumlah varians butir = varians total hasil pengukuran Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil

pengukuran dapat dipercaya/diandalkan untuk dijadikan sebagai alat ukur penelitian. Hasil uji reliabilitas dihitung dengan bantun software SPSS 13.0 for Windows. Hasil pengukuran reliabilitas menyatakan

39

bahwa kuesioner yang disebarkan dapat diandalkan untuk dijadikan alat ukur pada penelitian ini.

4.3.4. Analisis Regresi Berganda Analisis regresi berganda digunakan sebagai alat analisis statistik untuk meneliti variabel-variabel bebas yang berpengaruh terhadap variabel terikat, dimana jumlah variabel bebasnya lebih dari satu (Siregar, 2004). Variabel bebas pada penelitian ini adalah efektivitas penerapan SMK3 yang dilihat dari IFR dan ISR. Variabel terikatnya adalah produktivitas kerja karyawan. Bentuk umum dari persamaan regresi linear menggunakan lambang Y untukvariabel terikat dan lambang X untuk variabel bebas. Rumus yang digunakan dalam analisis regresi ini adalah seperti yang dikemukakan oleh Umar (2003), yaitu ; Y = a + b1X1+b2X2 +ξ1 . Keterangan: Y : Peubah tidak bebas (produktivitas kerja karyawan) a b : Konstanta : Koefisien arah garis regresi ………….........……(6)

X1 : Tingkat Keseringan Kecelakaan (Injured Frequency Rate-IFR) X2 n
:

Tingkat Keparahan Kecelakaan (Injured Severity Rate-ISR)

ξ1 : Standar galat : Contoh Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linear dapat dihitung sebagai berikut : a = (∑y) (∑x2) – (∑x)( ∑xy) n ∑x - (∑x) ................................(7)
......................................................... 2 2

40

n∑yx – (∑x)( ∑y) b= n ∑x2 - (∑x)2 ...........................................(8)

4.3.5. Analisis Kecelakaan Laporan Analisa Kecelakaan Kerja diklasifikasikan menurut cidera ringan, cidera berat, fatality, property damage. Perhitungan yang dilakukan PT ITP untuk mengetahui tingkat statistik kecelakaan kerja yaitu : a. Tingkat Keseringan Kecelakaan ( Injury Frequency Rate) Digunakan untuk menghitung seluruh jumlah kejadian kecelakaan akibat kerja untuk setiap juta jam manusia (man hours) dengan rumus : IFR = Jumlah Kecelakaan (Lost time > 2 hari) x 1.000.000...... (9) Jumlah Jam Kerja b. Tingkat Keparahan Kecelakaan (Injury Severity Rate) Digunakan untuk menghitung tingkat keparahan kecelakaan yang terjadi yang dihitung berdasarkan jumlah hari yang hilang untuk satu juta jam kerja manusia. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : ISR = Jumlah Waktu Yang hilang x 1.000.000 ............(10) Jumlah jam kerja

4.3.6. Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan Produktivitas tenaga kerja merupakan hal yang sangat menarik, sebab mengukur hasil-hasil tenaga kerja manusia dengan segala masalah-masalah bervariasi khususnya pada kasus-kasus di negara berkembang. Pengukuran produktivitas digunakan sebagai sarana manajemen untuk menganalisa dan mendorong efisiensi produksi (Sinungan, 2005). Ukuran produktivitas rata-rata setiap karyawan secara kuantitatif didasarkan hasil produksi (output) tiap tahun dengan

41

jumlah tenaga kerja dan jumlah hari kerja sebagai input (Rahmawati dan Rahmawati, 2007) Tingkat produktivitas karyawan dapat dihitung dengan rumus :

O P = I Keterangan : P = tingkat produktivitas tenaga kerja O = tingkat output/hasil produktivitas (ton) I = Tingkat Input / jumlah jam kerja x jumlah tenaga kerja (ManHours Of Work) ..........................................(11)

V. PEMBAHASAN

5.1.

Gambaran Umum PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. 5.1.1. Sejarah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Pada awalnya Perseroan bermulai dari PT Distinc Indonesia Cement Interprice pada tahun 1973. Produksi komersial pertama dilakukan pada 4 Agustus 1975 dengan kapasitas terpasang 500.000 ton/tahun dengan merk dagang "Cap Tiga Roda" yang kemudian pabrik ini disebut Plant 1 yang merupakan awal berdirinya PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk. Sejalan dengan bertambahnya kebutuhan semen di Indonesia, pabrik semen "Tiga Roda" ikut meningkatkan produksinya dengan mendirikan pabrik atau Plant yang baru dalam waktu 12 tahun yang dikelola enam perusahaan. Enam perusahaan yang semula

produsen/pengelola semen Indocement cap "Tiga Roda" tersebut adalah 1. PT. Distinc Indonesia Cement Enterprise (PT. DICE) Perusahaan ini memiliki Plant 1 dan 2 yang masing-masing mempunyai kapasitas terpasang 500.000 ton/tahun. Plant 1 mulai beroperasi tanggal 18 Juli 1975, sedangkan Plant 2 mulai beroperasi tanggal 14 Juli 1975 dan diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1975 2. PT. Perkasa Indonesia Cement Enterprise (PT. PICE) Perusahaan ini memiliki Plant 3 dan 4. Kapasitas produksi masing-masing plant terpasang 1.000.000 ton/tahun. Plant 3 mulai beroperasi tanggal 26 Oktober 1978, sedangkan Plant 4 mulai beroperasi tanggal 17 November 1980. 3. PT. Perkasa Indah Indonesia Cement Putih Enterprise (PT. PIICE) Perusahaan ini memiliki Plant 5, hasil produksinya berupa semen putih dengan kapasitas terpasang 200.000 ton/tahun. Plant 5 diresmikan tanggal 16 Maret 1981.

43

4. PT. Perkasa Agung Utama Indonesia Cement Enterprise (PT. PAUICE) Perusahaan ini memiliki Plant 6 yang mulai beroperasi bulan September 1983 dengan kapasitas terpasang 1.500.000 ton/tahun. 5. PT. Perkasa Inti Abadi Indonesia Cement Enterprise (PT. PIAICE) Perusahaan ini memiliki Plant 7 yang mulai beroperasi

tanggal 16 Desember 1984 dengan kapasitas 1.500.000 ton/tahun 6. PT. Perkasa Abadi Mulia Indonesia Cement Enterprise (PT. PAMICE) Perusahaan ini memiliki Plant 8 yang mulai beroperasi pada tanggal 16 Juli 1985 dengan kapasitas 1.500.000 ton/tahun. Pada akhirnya perusahaan-perusahaan tersebut bergabung menjadi satu perusahaan dengan nama PT Indocement Tunggal

Prakarsa tanggal 1 Januari 1985 dan disahkan oleh Departemen Kehakiman dengan Keputusan No. C2-2867.HT.01.Th85. PT. Indocement Tunggal Prakarsa melakukan go-public berdasarkan surat izin Menteri Keuangan RI No. SI-062/SHM/MK-10/89 tertanggal 16 Oktober 1989. Hal ini dilakukan dengan jalan menjual 59.000.100 lembar sahamnya kepada masyarakat dengan nilai nominal Rp. 1000,per sahamnya melalui proses : 1. Masa penawaran tanggal 30 November 1989 sampai dengan 10 Desember 1989 2. Tanggal akhir penjatahan 20 November 1989 3. Tanggal pengembalian uang 23 November 1989 4. Tanggal pencatatan pada bursa efek di Indonesia 5 November 1989 Selanjutnya pada tahun 1991 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk mengakuisisi pabrik semen Cirebon dari PT Tridaya Manunggal

44

Perkasa Cement (TMPC) untuk dijadikan sebagai Plant

9 yang

berlokasi di Palimanan. Di Cirebon dibangun juga Plant 10 dengan kapasitas 1.200.000 ton/tahun yang baru diresmikan pada tahun 1997. Untuk memenuhi permintaan konsumen, maka dibangun Plant 11 yang berkapasitas 2.400.000 ton/ tahun di Citeureup yang diresmikan pada tahun 1999. Namun tiga tahun sebelum Plant 10 dibangun, di daerah Tarjun Kalimantan Selatan didirikan pabrik yang berada di bawah PT Kodeco Cement yang merupakan joint venture antara Indocement (51%), Korea Devt. Co. (46%), dan Marubeni Corp. (3%). Kapasitas dari pabrik ini adalah sebesar 2.400.000 ton/tahun. Akhirnya pada 20 Oktober 2000 berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa diputuskan bahwa anak perusahaaan PT Indo Kadeco Cement langsung berada di bawah operasional PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dan dinamakan Plant 12. Besarnya kapasitas produksi yang dihasilkan PT ITP, maka PT ITP membuka jalan untuk melakukan ekspor. Namun sebelum ekspor itu dilakukan, PT ITP perlu menstandarkan mutu produknya. Maka pada tahun 1994, PT ITP menerapkan Total Quality Management (TQM) untuk meraih ISO 9001. Inti dari TQM ini adalah pengendalian atas mutu yang dilakukan sejak awal proses hingga hasil akhirnya. Pada awal 1995, sertifikat ISO 9001 berhasil diraih oleh PT ITP dari SGS Surveyor International yang kemudian diaudit ulang setiap 3 tahun sekali. Karena penerapan TQM ini melibatkan seluruh SDM yang dimilikinya, maka diterapkan pula Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) agar SDMnya tetap bisa memenuhi standar, tetap sehat dan selamat dalam bekerja. Sertifikat untuk menilai bahwa SMK3 ini tetap berada pada standarnya adalah sertifikat OHSAS yang dikeluarkan oleh badan standar International.

45

Sertifikat ini diperoleh tahun 2000 dan diaudit minimal sekali. Selanjutnya PT ITP, menyiapkan penerapan

2 tahun

Sistem

Manajemen Lingkungan (SML) dan berhasil meraih ISO 14001 pada 23 Oktober 2002 yang diberikan SGS Switzerland SA. Selain itu, PT ITP juga memperoleh ISO 17025 untuk standarisasi pengelolaan labolatorium pada tahun 2005 yang diberikan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). SNI yang merupakan sertifikat untuk produk-produk yang diproduksi oleh Indonesia sebagai simbol bahwa produk tersebut telah layak digunakan.

5.1.2. Visi dan Misi PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. Visi PT ITP terdiri dari tiga periode pembangunan lima tahun, yaitu : 1. Periode pemantapan / konsolidasi 2001-2005 PT ITP menjadi pemimpin pasar domestik berkualitas di industri semen 2. Periode diversifikasi /pengembangan usaha 2006-2010 PT ITP menjadi pemimpin pasar domestik di industri bahan bangunan 3. Periode pertumbuhan 2011-2015 PT ITP menjadi perusahaan bahan bangunan terkemuka di ASEAN Misi PT ITP, yaitu : 1. Kepemimpinan dalam pasar domestik dan bisnis dasar terkait a. Memproduksi produk berkualitas baik dengan harga yang bersaing b. Menghasilkan bahan yang dapat menguntungkan para pemegang saham c. Memberikan masukan terhadap perkembangan ekonomi Indonesia

46

2. Good Corporate Citizen a. Menyediakan kesempatan yang besar bagi kesuksesan dan perkembangan karyawan b. Mempromosikan sebuah lingkungan yang bersahabat dan masyarakat sehat di sekitar pabrik

5.1.3. Struktur Organisasi PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk. Untuk menjaga kelancaran dan kontinuitas pabrik dapat dilakukan melalui struktur organisasi yang baik. Organisasi perusahaan disusun sebagaimana layaknya suatu badan usaha yang membagi-bagi unit dalam organisasi secara fungsional. Anggaran dasar yang mengatur tata kerja dalam perseroan telah disusun dan telah memperoleh pengesahan dari Departemen Kehakiman pada 19 Juni 1987. Berikut ini merupakan uraian mengenai masing-masing bagian yang terdapat dalam struktur organisasi PT ITP, Tbk, sebagai berikut : 1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) RUPS merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam

perusahaan. Tugas dan fungsi dari RUPS untuk menentukan garis besar kebijakan yang menyangkut kegiatan dan masa depan perusahaan menerima pertanggungjawaban dari dewan komisaris dan dewan direksi, menyangkut dan memberhentikan pengurus serta untuk mengembangkan dan membubarkan perusahaan. 2. Dewan Komisaris Dewan Komisaris merupakan wakil pemegang saham yang menjadi sumber pokok pikiran dan kebijakan perusahaan. Dewan ini mengawasi pelaksanaan tugas dari dewan direksi yang telah digariskan dalam RUPS. Selain itu, Dewan Komisaris juga mengangkat dan memberhentikan Dewan Direksi, mengesahkan

47

anggaran belanja perusahaaan, serta mengawasi jalannya perusahaan. 3. Dewan Direksi Dewan Direksi merupakan pimpinan tertinggi dalam operasi perusahaan sehari-sehari yang berfungsi mewakili RUPS baik di dalam maupun di luar perusahaan. Tugasnya adalah untuk menyusun dan melaksanakan anggaran belanja perusahaan serta mengelola dan mengembangkan jalannya perusahaan. 4. General Manager Corporate Tugas dari General Manager adalah untuk mengkoordinir pengelolaan operasional plant dan divisi penunjang serta menyusun dan melaksanakan anggaran belanja pabrik. 5. Plant / Division Manager Manajer Plant bertugas untuk mengkoordinir pengelolaan operasional department head dan bawahannya, serta menyusun dan melaksanakan anggaran dan belanja plant divisinya. 6. Department Head 7. Planner / Inspector / Superintendent 8. Foreman 9. Pelaksana Pada struktur organisasi PT ITP, RUPS merupakan penguasa tertinggi perusahaan. Bagian kegiatan operasional dipimpin langsung oleh dewan direksi yang terdiri dari 9 orang termasuk satu direktur utama dengan tugas melaksanakan kebijakan yang digariskan di dalam RUPS. Dalam melaksanakan kegiatan eksekutif sehari-hari, diangkat Plant Coordinator dan Division Manager. Plant Coordinator ini membawahi Quality System Management Office, Community Development Office, dan juga bertugas mengkoordinir pengelolaan operasional Plant dan Divisi penunjang, menyusun dan

melaksanakan anggaran belanja pabrik. Sedangkan Plant atau Division Manager bertugas untuk mengkoordinir pengelolaan

48

operasional yang berada dibawah Departement Head, menyusun, dan melaksanakan anggaran belanja Plant atau Divisinya. PT ITP mempunyai divisi-divisi yang membantu perusahaan dalam mencapai target yang telah ditetapkannya. Divisi-divisi tersebut antara lain adalah: 1. Technical Service Division (TSD) Unit pabrikasi dan perbaikan mesin ini bertugas untuk melakukan perbaikan mesin, pembuatan dan penyediaan suku cadang mesin atau alat produksi. Unit ini bekerja berdasarkan pesanan dari cement unit division atau plant. 2. Paper Bag Division (PBD) Divisi ini bertugas dalam pembuatan kantong semen yang dibagi menjadi dua tahap yaitu proses tubing (merupakan tahap pembuatan kantong semen yang masih terbuka ujungnya menjadi bentuk kantong) dan proses sewing (merupakan proses penjahitan) 3. Corporate Human Resources Development Division (CHRDD) Bertugas membuat organisasi yang efektif, efisien, dan terpadu serta mengembangkannya tenaga dengan kerja, pengadaan maupun penelitian,

pengembangan

mengadakan

pengangkatan, pengembangan produktivitas organisasi dan tenaga kerja dalam mencapai produktivitas yang optimal. 4. Supply Division Bertugas menyediakan penyimpanan dan pengeluaran barang atau material yang digunakan oleh semen plant/divisi 5. Quality Assurance & Research Development (QARD) Bertugas menjamin mutu bahan-bahan yang digunakan dan produk yang dihasilkan secara analisa fisika dan kimia. 6. Human Resources & General Affairs Department (HR&GAD) Bertugas mengurus administrasi seluruh karyawan pabrik. Dalam hal ini ada ikatan perjanjian antara PT ITP dengan

49

serikat buruh yang meliputi aturan kerja, hak dan kewajiban karyawan, penggajian, jaminan sosial, dan sebagainya. 7. Mining Division Bertanggung jawab dengan menyediakan bahan baku produk pabrik dengan melakukan penambangan dan penggalian bahan di Quarry yang berupa limestone dan additive material 8. Utility Division Bertanggung jawab terhadap penyediaan listrik perusahaan. Utility Division ini mempunyai dua lokasi power plant yaitu Power Plant I dan Power plant II. Kedua Power Plant ini kekuatan yang bertambah besar dari waktu ke waktu karena daya listrik yang diperlukan perusahaan sangat besar. 9. Safety & Security Division (SSD) Bertanggung jawab akan keselamatan kerja karyawan serta keamanan lingkungan kerja di PT ITP ini. 10. Quality System and Management Representative Division (QSMR) Bertanggung jawab untuk menetapkan, menerapkan dan memelihara mutu SMK3 dan memastikan semua persyaratan yang telah disetujui berjalan sesui dengan standarnya. Selain itu, QSMR juga berperan dalam melakukan audit internal dan audit eksternal. Selain 10 divisi penunjang di atas, masih ada beberapa divisi penunjang di PT ITP. Divisi-divisi tersebut adalah Alternatif Fuel and Raw Material (AFR), General Engineering and Construction Division (GECD), HTC, BCTD.

5.1.4. Proses Produksi Semen Proses produksi semen dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahapan dalam pembuatan semen dilakukan secara otomatis dan sepenuhnya dilakukan oleh mesin. Sedangkan manusia berperan

50

dalam

pengoperasian

mesin-mesinnya.

Tahapan-tahapan

pemroduksian semen tersebut adalah : 1. Penambangan dan penyediaan bahan baku (Quarrying) Proses penambangan dan penyediaan bahan baku bertujuan untuk menyediakan bahan baku berupa batu kapur, tanah liat, pasir besi, dan pasir silika. 2. Pengeringan dan penggillingan bahan baku (Drying & Grinding) Proses ini bertujuan untuk mengeringkan bahan baku hingga kadar air 1%, menggiling bahan baku hingga berukuran 90 mikron, mencampur bahan baku sesuai dengan yang diinginkan, dan memperoleh campuran yang lebih homogen. Setelah bahan baku sudah digiling dan bercampur, bahan tersebut dikirim dengan separator untuk pemisahan ukuran kemudian di kirim ke raw mill silo untuk proses pengadukan yang lebih merata. 3. Pembakaran dan Pendinginan Klinker (Kiln Burning & Cooling) Proses pembakaran bahan baku untuk membentuk clinker dalam proses produksi semen merupakan tahap terpenting. Proses pembakaran bahan baku ini dilakukan dengan suhu 200°C1000°C dalam suspension preheater. Setelah itu, material dikirim ke rotary kiln untuk proses pembakaran inti dengan suhu ± 900°C -1450°C. Material yang sudah melewati tahap ini disebut clinker. Clinker panas akan didinginkan secara mendadak ke dalam alat AQC (Air Qinching Cooler) sehingga suhunya menurun dari 1200°C menjadi 50°C – 100°C. Clinker yang dihasilkan memiliki diameter 1-2 cm dan merupakan bahan setengah jadi. 4. Penggilingan Akhir (Finish Grinding) Pada proses ini dilakukan penggilingan clinker di dalam cement mill dan penambahan aditif agar menjadi semen yang memenuhi

51

syarat kehalusan. Kehalusan semen adalah salah satu penentu utama dari semen yang dihasilkan. 5. Pengantongan (Packing) Produk semen yang keluar dari cement mill disimpan di silo. Kemudian semen dari silo di angkut menuju Hopper dengan menggunakan Air Slide dan Bucket Elevator. Semen yang halus akan terpisah dan masuk ke dalam Hopper, kemudian dialirkan ke dalam rotary packer. Semen-semen tersebut akan dikemas dalam kantong semen yang berukuran 40 kg, 50 kg, dan big bag (1 ton). Setelah semen selesai dikemas, semen diangkut oleh belt conveyor ke atas truk pengangkutan.

Gambar 5. Proses Pembuatan Semen

5.1.5. Bidang Usaha Produk semen "Tiga Roda" selain dikemas dalam bentuk zak atau ukuran 50 kg, dikemas juga dalam ukuran 1 ton. Semen "Tiga Roda" juga menjual semen dalam bentuk tanpa kantong dan penjualan kerak semen (biasa disebut clinker) untuk pabrik semen lainnya. Jenis-jenis semen yang diproduksi oleh PT ITP adalah 1. Semen Portland Tipe I sebanyak 94,3 %

52

Digunakan untuk bangunan perumahan, gedung bertingkat, jembatan, jalan raya, dan dapat digunakan sebagai bahan baku komponen bangunan seperti asbes, ubin, batako, paving block, eternit, dan sebagainya. Standar yang digunakan : SNI 15-1094-1994 (Indonesia) ASTM-C 150-95 (Amerika) BS 12 1989 (Inggris) 2. Semen Portland Tipe II sebanyak 0,08 % Digunakan untuk bangunan yang memerlukan ketahan terhadap sulfat sedang dan terhadap panas hidrasi rendah, misalnya

konstruksi beton bendungan dan bangunan di rawa. Standar yang digunakan : SNI 15-2094-1994 (Indonesia) ASTM-C 150-95 (Amerika) 3. Semen Portland Tipe V sebanyak 0,02 % Digunakan untuk proyek-proyek khusus dengan ketahanan terhadap sulfat tinggi, misalnya untuk tiang pancang, konstruksi bangunan di daerah gambut, bangunan di daerah yang mempunyai kandungan sulfat tinggi, bangunan tepi laut, dan lain-lain. Standar yang digunakan : SNI 15-2094-1994 (Indonesia) ASTM-C 150-95 (Amerika) 4. Semen Putih sebanyak 1,3 % Merupakan semen yang memiliki kadar Fe2O3 sangat rendah dan gypsum yang memerlukan presentase whitening sebesar 90% yang digunakan untuk pembuatan ubin teraso, patungpatung, dan barang-barang dekorasi lainnya. Digunakan juga sebagian bahan pengisi lantai atau tembok. Standar yang digunakan : SNI 15-2094-1994 (Indonesia)

5. Semen Sumur Minyak sebanyak 0.3 % Digunakan untuk koonstruksi sumur minyak, baik yang di darat maupun yang di lepas pantai.

53

Standar yang digunakan

: API spesification 10 A Class G-High Sulfate Resistant (HSR) SNI 15-3044-1992 kelas G

6. Semen Pozzolan Tipe A sebanyak 4,0 % Digunakan untuk semua tujuan pembuatan adukan beton

5.1.6.

Hubungan Ketenagakerjaan Antara PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk dan Karyawan Salah satu bentuk hubungan ketenagakerjaan yang ada di PT. ITP adalah dengan dirumuskannya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang merupakan sarana penghubung antara perusahaan dan pekerja dalam menetapkan syarat-syarat kerja yang seimbang antara hak dan kewajiban masing-masing pihak. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menciptakan ketertiban, kenyamanan, dan bekerja agar tercipta masyarakat pekerja yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana layaknya tujuan pembangunan nasional. Beberapa hal pokok yang diatur dalam PKB pada PT ITP antara lain adalah : 1. Penerimaan Karyawan Penerimaan karyawan harus berdasarkan kualifikasi yang diperlukan untuk suatu pekerjaan atau jabatan dalam organisasi perusahaan dan harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan tersendiri oleh perusahaan. Setelah syarat-syarat dipenuhi, maka calon karyawan dapat diterima dan akan dipekerjakan dengan masa percobaan paling lama 3 bulan. 2. Pengupahan Sistem pengupahan pada PT ITP merupakan suatu sistem yang mengatur tentang pengupahan karyawan yang merupakan kewenangan Direksi yang tetap memperhatikan saran Serikat Kerja dan dalam sistem pelaksanaan pembayaran upahnya

54

ditentukan tersendiri sesuai dengan kebijakan perusahaan. Penetapan upah merupakan hasil rundingan antara Direksi dengan Serikat Pekerja. Penetapan upah ini tetap

memperhatikan kebutuhan hidup layak, kondisi perusahaan, serta disesuaikan dengan bobot pekerjaan, dan ditambahkan dengan beberapa tunjangan seperti tunjangan prestasi,

pengabdian, tunjangan transportasi, tunjangan perumahan, dsb. 3. Jam kerja Terdapat tiga sistem jam kerja pada PT ITP dimana terdapat normal, jam kerja 3 shift, dan jam kerja 2 shift terdiri dari 5 hari kerja, 8 hari kerja dan 40 jam kerja seminggu, kecuali ada pekerjaan yang memerlukan pengaturan lain. Seperti jam kerja lembur yang diwajibkan dalam keadaan khusus. Karyawan yang melaksanakan jam kerja lembur, akan mendapat surat perintah kerja lembur dari atasannya masing-masing. 4. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Dalam melaksanakan kesehatan dan keselamatan kerja setiap karyawan diwajibkan untuk mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan agar karyawan bisa selalu sehat dan selamat. Dalam perusahaan terdapat pengawas K3 untuk mengawasi pelaksanaan peraturan tentang K3. Untuk menunjangnya, perusahaan membentuk P2K3 dan Sub P2K3 di setiap plant/divisi. Untuk memberikan perlindungan kepada

karyawan, perusahaan memberikan perlengkapan K3 berupa pakaian seragam kerja, sepatu keselamatan kerja, alat pelindung diri, dan sebagainya. 5. Tata Tertib Karyawan Dalam tata tertib perusahaan terdapat kewajiban dan larangan bagi setiap karyawan. Dimana kewajiban karyawan antara lain bertanggung jawab penuh atas pekerjaan dan peralatan kerja yang dibebankan atau dipercayakan kepadanya dan karyawan

55

pun diwajibkan membaca, mengikuti, memperhatikan, dan mentaati semua pengumuman yang dikeluarkan oleh

perusahaan, sejauh tidak menyimpang dari PKB ini. 6. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) PHK diatur berdasarkan peraturan serta perundang-undangan yang berlaku yang pelaksanaannya dirundingkan dengan Serikat Pekerja melalui Bipartic. PHK ini meyebabkan hilangnya hak atas status seorang karyawan. Penyebabnya antara lain karena kemauan sendiri, meninggal dunia, pemutusan oleh perusahaan dengan izin P4D/P4P. Sedangkan penyebab lainnya adalah karena sedang dijatuhi hukuman atas pemutusan pengadilan dan kelanjutan proses skorsing. 7. Penyelesaian Keluhan/Pengaduan Karyawan Apabila karyawan mempunyai keluhan, dapat menyampaikan pengaduan/keluhannya melalui saluran cara penyelesaian keluhan dan pengaduan karyawan. Bagi Serikat Pekerja dapat melakukan pembelaan terhadap karyawan yang terancam sanksi peringatan III atau PHK. Setiap pengaduan dan keluhan karyawan pada awalnya harus dibicarakan terlebih dahulu dan diselesaikan dengan atasannya langsung. Bilamana

penyelesaiannya belum memuaskan, maka dengan persetujuan atau sepengetahuan atasannya langsung, karyawan dapat meneruskannya ke tingkat atasan yang lebih tinggi.

5.2.

Pelaksanaan SMK3 di PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. PT ITP menerapkan SMK3 SMK3 dengan sejak tahun 2000 dengan No:

mengimplementasikan

standar

Permenaker

05/MEN/1996 dan OHSAS 18001. PT ITP mengkombinasikan keduanya agar penerapan SMK3-nya bisa diakui secara nasional maupun internasional. Pelaksanaan SMK3 berdasarkan standar Permenaker No 05/MEN/1996 adalah ketentuan SMK3 secara nasional yang terdiri dari 12

56

pasal dengan 166 kriteria. Sedangkan standar OHSAS 18001:2007 merupakan dasar pelaksanaan SMK3 secara internasional yang terdiri dari 4 elemen dan 52 kriteria (Lampiran 2). SMK3 diterapkan PT ITP dengan tahapan Siklus Manajemen Deming, yaitu bersumber dari management control yang selanjutnya dilakukan Plan, Do, Check, dan Action (PDCA). Berikut ini gambar siklus Manajemen Deming :
PLAN

ACTION

MANAGEMENT CONTROL

DO

CHECK

Gambar 6. Deming Management Cycle Tahapan penerapan SMK3 berdasarkan standar Permenaker 05/MEN/1996 ataupun OHSAS 18001 keduanya menerapkan PDCA, yang membedakan adalah elemen atau pasal yang mengkaitkannya. a. Manajemen Control : Penetapan kebijakan yang ditetapkan oleh pihak manajemen puncak yang mencakup komitmen pada perbaikan berkelanjutan dan pencegahan, komitmen untuk mentaati peraturan perundangan yang berlaku. b. Plan : Perencanaan yang dilakukan dengan mengidentifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko yang mencakup kegiatan rutin dan tidak rutin, kegiatan semua orang yang memiliki akses ke tempat

57

kerja, fasilitas-fasilitas di tempat kerja. Perencanaan ini diarahkan pada penyediaan prosedur identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. c. Do : melaksanakan dan memverifikasikan kegiatan-kegiatan yang

memiliki dampak pada resiko-resiko K3 atas kegiatan organisasi, fasilitas-fasilitas, didokumentasikan, pengelolaan K3. d. Check : melaksanakan pengukuran, pemeriksaan kesesuaian dan ketidaksesuaian dengan standar K3 yang diterapkan. Apabila ada ketidaksesuaian, dilakukan tindakan perbaikan yang diusulkan dan disesuaikan, namun harus melalui tahapan pengidentifikasian resiko terlebih dahulu. Tindakan pemeriksaan ini dilakukan agar dapat mengurangi setiap konsekuensi yang timbul dari kecelakaan, kejadian, dan ketidaksesuaian. e. Action : memastikan keberlanjutan kecocokan, kecukupan, dan keefektifan dari penerapan SMK3 yang ditinjau secara menyeluruh dari manajemen. Penerapan SMK3 ini mempunyai manfaat, antara lain : a. Perlindungan karyawan Karyawan yang terjamin keselamatan dan kesehatannya akan bekerja lebih optimal dibanding dengan karyawan yang terancam keselamatan dan kesehatannya. b. Memperlihatkan kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undang Dengan menerapkan SMK3, setidaknya PT ITP telah menunjukkan itikad baiknya dalam mematuhi peraturan dan perundang-undangan sehingga karyawan PT ITP dapat beroperasi normal tanpa menghadapi kendala ketenagakerjaan. c. Mengurangi biaya SMK3 juga melakukan pencegahan terhadap ketidaksesuaian. Dengan menerapkan sistem ini, PT ITP dapat mencegah terjadinya kecelakaan, proses-proses, dan harus untuk didefinisikan, memfasilitasi

dikomunikasikan

58

kerusakan, atau sakit akibat kerja maka PT ITP mengeluarkan biaya untuk hal tersebut. d. Membuat sistem manajemen yang efektif

tidak perlu

Penerapan SMK3 yang efektif akan mengurangi hal-hal yang tidak sesuai. Dengan adanya sistem manajemen, maka hal-hal yang tidak sesuai dapat dicegah sebelumnya dengan kompetensi dari SDM yang semakin meningkat. Dengan begitu, PT ITP dapat berkonsentrasi melakukan peningkatan terhadap sistem manajemennya dibandingkan melakukan perbaikan terhadap permasalahan yang terjadi. e. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan Dengan penerapan SMK3, citra organisasi terhadap kinerjanya akan semakin meningkat dan hal ini diharapkan akan meningkatkan kepercayaan pelanggan. Tujuannya dari penerapannya adalah menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan bebas dari kecelakaan kerja (zero accident)

5.2.1. Manajememen Organisasi SMK3 SMK3 merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja dengan menggunakan tingkat manajerial. Untuk menunjang penerapan SMK3 ini dibutuhkan manajemen untuk pengorganisasian penerapan SMK3. 1. Komitmen dan Tanggung Jawab SMK3 Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan komitmen atau tanggung jawab yang harus dilakukan oleh semua pihak.

Tanggung jawab SMK3 di PT ITP terbagi atas Tanggung Jawab Manajemen dan Tanggung Jawab Personal.

59

Gambar 7. Segitiga Tanggung Jawab SMK3

Segitiga tanggung jawab tersebut adalah simbol yang menunjukkan bahwa perusahaan dan setiap karyawan harus sadar sepenuhnya bahwa keselamatan dan kesehatan kerja adalah kewajiban dan tanggung jawab bersama. Manajemen selaku pemimpin perusahaan dan perwakilan karyawan membuat

komitmen mengenai K3. Kemudian setelah dimengerti oleh para perwakilan karyawan, dilakukan pensosialisasian komitmen

sehingga diharapkan seluruh karyawan dapat berpartisipasi untuk melaksanakan komitmen yang telah disepakati. Salah satu bentuk partisipasi PT ITP adalah adanya himbauan yang disosialisasikan agar setiap karyawan berkewajiban untuk mentaati cara bekerja dan semua peraturan serta instruksi keselamatan kerja yaitu: 1. Bertindak secara hati-hati dan teliti untuk menghindari terjadinya kecelakaan 2. Dilarang memindahkan/melakukan sesuatu yang dapat merusak alat-alat untuk keselamatan kerja 3. Dilarang melakukan pekerjaan/menghidupkan mesin-mesin tertentu kecuali yang sudah ditentukan oleh petugas/atasan yang telah ditunjuk untuk hal tersebut

60

4. Dilarang memanjat bangunan pabrik, mesin, atau cerobong dan lain-lainnya tanpa seizin dan sepengetahuan atasan 5. Dilarang membuat api/membakar tumpukan-tumpukan sampah di dalam lokasi pabrik dan sekitarnya terkecuali di tempattempat yang telah ditentukan 6. Dilarang menyalakan rokok/api di dalam ruangan/tempat/ daerah yang telah ditentukan 7. Dilarang memindahkan alat-alat pemadam kebakaran dan alatalat yang dipergunakan untuk keadaan darurat dan berbahaya tanpa seizin Departemen Head yang bersangkutan 8. Dilarang mengubah bentuk alat-alat pengaman 9. Dilarang membawa penumpang/menumpang pada kendaraan yang bukan khusus untuk penumpang 10. Ketentuan atau peraturan keselamatan kerja lainnya yang lebih disesuaikan menurut jenis dan kondisi kerja yang akan diatur tersendiri oleh PT ITP.

2. Organisasi K3 Penetapan peran dan tanggung jawab SMK3 dapat dilihat dari pembagian aktivitas kerja pada unit-unit K3 yang diterapkan di PT ITP terdiri atas :

1. Safety Department

: pengendalian K3 tingkat perusahaan

2. Health Department : pemantauan dan pengukuran 3. Security Department : pusat pengendalian keadaan darurat 4. Plant / Division 5. QSMR
: pengendalian K3 di Plant/Division : Audit dan tinjauan manajemen.

Berikut ini uraian lengkap peran dan tanggung jawab dari departemen-departemen yang terkait dalam pelaksanaan SMK3 :

61

a. Safety Department Safety Department merupakan suatu unit kerja yang

bertanggung jawab atas semua hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja. Dalam melaksanakan tugasnya, Safety Dept. ditunjang oleh 3 section yaitu 1. Operation, Operation section bertugas dalam merencanakan dan melaksanakan pelatihan, memberikan pengamanan, dan inspeksi K3. 2. Fire Brigade, Fire Brigade section bertugas melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kebakaran, penanganan pola operasi pemadam kebakaran, serta melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan akibat kebakaran. Selain itu, section ini bertugas untuk memberikan pelatihan

pemadaman kebakaran kepada setiap karyawan. 3. Safety Engineering Group Safety Engineering Group bertugas dan bertanggung jawab dalam perencanaan K3, pengolahan data, penyusunan, dan penyediaan bahan-bahan K3. Section ini membuat

perencanaan K3, dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan menyangkut dengan K3. Perencanaan yang dibuat antara lain pengadaan kebutuhan peralatan K3 dan sertifikasi, merencanakan program K3 departemen dan perusahaan, merencanakan pelatihan K3 tingkat perusahaan. Selain membuat perencanaan, section ini pun melaksanakan tugastugas yang lain. Tugas-tugas tersebut antara lain

bekerjasama dengan QSMR untuk melakukan audit internal di tiap plant/divisi, membuat standar prosedur K3 sesuai dengan referensi, mengevaluasi dan menganalisa kinerja K3 perusahaan, membuat laporan kinerja K3 (bulanan,

62

semester, tahunan), meninjau ulang prosedur K3, membuat standar APD, menciptakan, mengembangkan, dan

memperluas standar-standar tanda, petunjuk, serta label K3.

b. Security Department Section ini bertugas sebagai pusat pengendalian keadaan darurat yang terjadi di perusahaan. Selain di dalam perusahaan, Security Dept. pun bertugas untuk mengendalikan keadaan darurat yang terjadi di lingkungan sekitar dan bekerja sama dengan pihak pemerintah terdekat untuk membantu saat adanya keadaan darurat. Situasi yang termasuk dalam keadaan darurat adalah : 1. Darurat kebakaran 2. Darurat kecelakaan lalu lintas dan industri 3. Darurat banjir tambang dan tanah longsor 4. Darurat bencana alam seperti gempa bumi dan sambaran petir 5. Darurat pencemaran lingkungan akibat debu atau tumpahan limbah B3 cair 6. Darurat adanya huru hara 7. Darurat tenggelam di kolam pengendapan lumpur tambang 8. Darurat peledakan mangkir Untuk menghadapi situasi darurat ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat situasi darurat : 1. Pada prinsipnya, keadaan darurat harus ditanggulangi secepatnya dan terkoordinasi 2. Setiap karyawan yang mengetahui keadaan-keadaan darurat yang termasuk klasifikasi di atas, wajib memberitahukan segera kepada petugas Safety dan atau Security terdekat atau kepada atasan yang bersangkutan

63

3. Petugas Safety dan Security akan segera melakukan tindakan pencegahan dan atau pengendalian 4. Petugas Safety dan Security akan melakukan koordinasi kepada tim ahli bidang K3 5. Petugas Safety dan Security membuat berita acara kejadian 6. Menghubungi Emergency Call 24 jam.

c. Health Department Health Department merupakan salah satu unit kerja yang berada dalam HR&GAD. Departemen ini bertugas untuk mengurusi segala hal yang berkaitan dengan kesehatan kerja, dimana Health Dept. ini juga bertanggung jawab atas poliklinik yang berada di lingkungan PT ITP. Pada pelaksanaan SMK3, Health Dept. memberikan peranan yang penting. Dalam setiap harinya Health Dept. mempunyai aktivitas pokok dalam bekerja, aktivitas tersebut antara lain : 1. Melaksanakan pemeriksaan prakarya, berkala, dan khusus bagi karyawan serta tindak lanjutnya, 2. Memberikan pelayanan medis, klinik umum, klinik gigi, unit gawat darurat, dan observasi pasien, KIA atau KB, apotik, foto rontgen, laboratorium, dan donor darah bagi karyawan dan keluarga. 3. Melaksanakan kegiatan administrasi medis: rekam medis, surat istirahat, surat pengantar konsultasi dan rawat, pemrosesan dan persetujuan biaya kesehatan, dan kontrak dengan fasilitas medis langganan perusahaan. 4. Memberikan masukan dan rekomendasi pada perusahaan serta berperan aktif, terutama dalam kegiatan K3 yang menyangkut Rapat P2K3 atau Sub P2K3, Inspeksi, dan Bulan K3,

64

Dalam upaya melaksanakan program kesehatan kerja, Health Dept. dibantu oleh beberapa section, yaitu Hazard Monitoring System, Health Care Section, dan Health Service Section.

d. Quality System and Management Representatitive (QSMR) QSMR merupakan salah satu divisi di PT ITP yang tanggung jawab utamanya adalah menetapkan, menerapkan, dan

memelihara mutu SMK3 serta memastikan semua persyaratan yang telah disetujui dapat dijalankan dengan baik. Tanggung jawab utama tersebut menyangkut dengan penetapan prosedur audit yang dilaksanakan di PT ITP. QSMR selaku Management Representative (MR) sangat berperan dalam pelaksanaan audit internal. Di dalam prosedur audit internal SMK3, tanggung jawab MR adalah : 1. Memastikan bahwa pelaksanaan audit internal SMK3 direncanakan dengan baik, dilaksanakan dengan efektif, dan dipelihara secara berkesinambungan 2. Koordinator tim auditor internal SMK3, untuk memastikan efektivitas pelaksanaan audit. Tujuan pelaksanaan audit internal oleh MR adalah untuk mengevaluasi dan mengukur efektivitas penerapan SMK3 di tiap plant/divisi, serta menjaga kesesuaiannya dengan

kebijakan dan tujuan perusahaan. Jika terdapat ketidaksesuaian, maka harus dicegah agar tidak berulang.

5.2.2. Model Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Model SMK3 yang diterapkan di PT ITP dapat ditunjukkan dalam Gambar 8.

65

Gambar 8. Model SMK3 PT ITP

1. Kebijakan Lingkungan PT ITP yang mengadopsi OHSAS 18001 dan Permenaker No. 05/MEN/1996 telah membuat sebuah

kebijakan khusus tentang SMK3 yaitu : Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Keamanan, Lingkungan dan Masyarakat (K4LM) : 1) Senantiasa menjalankan perusahaan untuk selalu mematuhi undang-undang, peraturan yang berlaku di Indonesia dan standar yang relevan 2) Senantiasa menjalankan perusahaan dengan melaksanakan pengendalian resiko untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, selamat, dan sehat 3) Senantiasa berupaya untuk menghemat sumber daya alam, mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kesehatan kerja, serta mengendalikan dan mengurangi dampak lingkungan (terutama emisi debu) melalui kegiatan perbaikan secara terus menerus

66

4) Senantiasa

berusaha

meningkatkan

program

untuk

menciptakan hubungan kerja sama yang harmonis dengan lingkungan sekitar Manajemen PT ITP sudah menyadari bahwa

pelaksanaan K3 tidak hanya untuk kebaikan karyawan, tetapi juga bermanfaat untuk perusahaan secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat dari adanya komitmen manajemen dalam bentuk segitiga tanggung jawab, adanya dokumentasi secara resmi dalam bentuk kebijakan umum maupun rencana kerja tertulis. Selain itu perusahaan juga membuat kebijakan dan kesepakatan yang disebut Safety Golden Rules, (Lampiran 3). 2. Perencanaan SMK3 Pada tahap perencanaan SMK3, hal yang perlu dilakukan adalah pengidentifikasian bahaya potensial dan eveluasi risiko, pengidentifikasian undang-undang dan

persyaratan lainnya, membuat tujuan dan sasaran K3, menerapkan program manajemen K3. PT ITP mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko dilakukan melalui suatu kegiatan yang bersifat rutin atau tidak. Identifikasi potensi bahaya dikelompokkan berdasarkan sumber bahaya, jenis bahaya, kondisi yang berbahaya, dan tindakan yang berbahaya (Lampiran 4). Setelah diidentifikasi, risiko tersebut

diklasifikasikan ke dalam golongan tinggi, ketat, bersyarat atau rendah agar dapat diketahui cara untuk mengurangi atau menanggulangi bahayanya. Pengidentifikasian undang-undang dan persyaratan K3 lainnya harus diupayakan dan ditinjau ulang pemenuhannya oleh MR PT ITP. Hal ini dilakukan untuk lebih memastikan komitmen dalam kebijakan K3. Tujuan dan sasaran K3 merupakan rangkaian lanjutan identifikasi bahaya dan evaluasi risiko. PT ITP membuat tujuan dan sasaran yang telah

67

dipertimbangkan sesuai dengan hasil identifikasi, persyaratan hukum dan standar, pilihan teknologi, persyaratan/kemampuan secara finansial, operasional dan bisnis, juga didasarkan atas pandangan pihak yang berkepentingan. Tujuan dan sasaran harus konsisten dengan kebijakan K3. Program manajemen K3 telah diterapkan oleh PT ITP merupakan penerjemahan dari tujuan dan sasaran K3 yang berisi perencanaan implementasi dan personel yang

bertanggung jawab. Bagian terkait harus dibantu MR K3 dalam menyusun proses manajemen K3 yang kemudian disahkan oleh dewan direksi. Masing-masing unit kerja harus turut serta dalam menyukseskan program manajemen K3 dan harus mempunyai tingkat pencapaian atau parameter yang

diunggulkan, yang selanjutnya akan dijadikan agenda dalam tinjauan manajemen. Masing-masing manajer dari unit kerja terkait bertanggung jawab untuk memeriksa dan mengkaji Program Manajemen K3 secara periodik kepada MR K3. 3. Penerapan dan Operasi Pada tahap penerapan dan operasi, SMK3 ditinjau agar dipastikan bahwa persyaratan SMK3 dibuat, diterapkan, dan dipelihara sesuai standar secara benar dan berjalan sesuai persyaratan di semua lokasi dan lingkungan operasi. Untuk memenuhi persyaratan yang distandarkan, maka PT ITP memberikan pelatihan K3 kepada karyawan. Seluruh karyawan yang bersinggungan dengan pekerjaan yang dapat

menimbulkan bahaya dan risiko tinggi diharuskan untuk mengikuti pelatihan yang dipersyaratkan. Di dalam prosedur, pelatihan dibedakan menjadi beberapa tingkatan yang

disesuaikan dengan tanggung jawab, kemampuan, skill, dan risiko karyawan yang mengikuti pelatihan. Pelatihan K3 antara lain terdiri dari :

68

1) Modern Safety Management untuk eselon 1 dan 2 2) Training K3 Supervisor untuk eselon 3 dan 4 3) Training Foreman untuk eselon 5 4) Training Accident Ivestigation untuk eselon 3 sampai 5 5) Training Safety Practice untuk seluruh eselon. Pengelolaan komunikasi dalam SMK3 merupakan media yang sangat penting. Dengan konsultasi dan komunikasi maka segala ketidaktahuan, kesalahpahaman, dan

permasalahan di dalam suatu organisasi dapat segera diatasi. PT ITP telah mengelola komunikasi tersebut, yaitu dengan cara: 1) Pembentukan Panitia Pembina Kesehatan Kerja (P2K3) Keselamatan dan

P2K3 adalah badan pembantu di tempat kerja yang merupakan wadah kerja sama antara pimpinan dan karyawan berupa organisasi fungsional non struktural. Ini dibentuk untuk mengembangkan kerjasama saling

pengertian dan partisipasi efektif dalam penerapan K3 di perusahaan guna menunjang tercapainya sasaran

pencegahan kerugian akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja. P2K3 membentuk alur koordinasi dengan SubP2K3 yaitu Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan kerja yang dibentuk pada tingkat plant/divisi, dimana fungsinya sama dengan P2K3. 1) Safety Meeting Safety Meeting di PT ITP dilaksanakan oleh P2K3 dan SubP2K3. Pelaksanaannya dilakukan setiap bulan, hal yang dibahas antara lain adalah kecelakaan kerja, potensi bahaya yang dihadapi, kesehatan karyawan, penanggulangannya, dan sebagainya.

69

2) Safety Talks Safety talks merupakan upaya pencegahan kecelakaan dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah K3 melalui pembicaraan singkat antara karyawan dengan pengawas, sebelum pekerjaan dimulai. Dalam pembicaraan ini, dibahas mengenai deskripsi pekerjaan yang akan dikerjakan, potensi bahaya yang dihadapi saat bekerja, upaya pencegahan risiko kecelakaan, dan penggunaan APD yang sesuai. PT ITP diharapkan untuk melakukan pengendalian dokumen SMK3 yang meliputi manual SMK3. MR

bertanggung jawab dalam hal membuat Kebijakan K3, Manual dan Prosedur K3, serta Daftar Perundangan dan Standar. Sedangkan unit kerja (plant/divisi) bertanggung jawab untuk membuat tujuan dan sasaran, SOP manajemen risiko, SOP pengendalian operasi (perancangan dan pembelian), SOP penanganan material dan limbah, SOP keadaan darurat, SOP pemantauan dan pengukuran, SOP pengendalian ketidaksesuian dan tindakan koreksi. Dalam upaya pengendalian operasional, maka

diberlakukan sistem izin kerja pada pekerjaan dan daerahdaerah yang teridentifikasi berdasarkan hasil identifikasi potensi bahaya dan risiko (Lampiran 5 dan 6). PT ITP juga menyediakan APD untuk seluruh pekerja yang membutuhkan sesuai dengan tugas dan bahaya potensial yang telah diidentifikasi. Untuk itu, penggunaan APD diharapkan untuk menjadi tanggung jawab seluruh pekerja. Di samping itu, seluruh APD diharapkan untuk dibuat dalam desain dan konstruksi yang aman, berkualitas, dan disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan (Lampiran 5).

70

Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah persiapan tanggap darurat. PT ITP telah memiliki prosedur untuk menyiapkan keperluan tanggap darurat. Identifikasi

terhadap potensi kecelakaan atau situasi darurat ini terus dilakukan, sehingga ditetapkan beberapa prosedur yang bertujuan untuk : 1) tindakan preventif/pencegahan 2) tindakan penanganan 3) tindakan pemulihan PT ITP senantiasa berupaya untuk meninjau atau merevisi prosedur, jadi bila terjadi kecelakaan/situasi darurat dapat dilakukan tindakan preventif atau tindakan yang lebih efektif untuk mencegah timbulnya kecelakaan/keadaan darurat dan jika perlu prosedur tersebut diharapkan untuk selalu diuji coba secara berkala dan direkam hasilnya. Tabel 2

menunjukkan contoh peralatan darurat dan keadaan darurat yang ada dan disarankan di PT ITP. Tabel 2. Peralatan Darurat dan Keadaan Darurat yang Mungkin Terjadi Keadaan Darurat Kebakaran Tumpahan dan Kebocoran B3 Gempa Bumi Banjir Peralatan Darurat Sistem Alarm, APAR, Hidrant, Sprinkler, Fasilitas Komunikasi Kotak P3K, stasiun pencuci mata, peralatan pembersih tumpahan dan kebocoran Alat pendeteksi gempa, fasilitas komunikasi

Alat pendeteksi banjir, tempat evekuasi sementara Sumber : QSMR PT ITP, 2007 Selain perusahaan emergency plan dan peralatan membuat darurat, ketentuan

juga

diupayakan

untuk

71

emergency exit jika terjadi keadaan darurat. Setiap karyawan harus memahami lokasi dan rute emergency exit. Setiap perusahaan harus memiliki minimum 2 rute darurat yang digunakan untuk menjadi jalan ke tempat evakuasi. Persyaratan untuk emergency exit antara lain adalah : 1) Berada di lokasi permanen 2) Tidak terdapat bahan-bahan atau peralatan yang mudah terbakar 3) Menuju daerah yang lebih aman 4) Mudah diakses dari luar perusahaan 5) Harus menyediakan tanda yang dapat menyala sepanjang rute sebagai panduan bagi personel bila dalam keadaan gelap. 4. Pemantauan dan Pengukuran PT ITP telah menetapkan dan memelihara prosedur pemantauan dan pengukuran kinerja K3 sesuai dengan persyaratkan OHSAS 18001 mengenai pengukuran kinerja dan pemantauan, prosedur-prosedur pemantauan, dan pengukuran. Kebutuhan untuk memenuhi hal tersebut diharapkan meliputi : a. Ukuran organisasi b. Pemantauan pencapaian tujuan K3 c. Ukuran proaktif kinerja terhadap kesesuian program, kriteria operasi: persyaratan peraturan perundang-undangan dan standar. d. Rekaman data, hasil pemantauan dan pengukuran yang kuantitatif dan kualitatif sesuai kebutuhan

cukup untuk keperluan analisis tindakan koreksi dan pencegahan PT ITP melaksanakan pemantauan dan pengukuran pada seluruh aspek yang menimbulkan risiko. Pemantauan yang dilakukan meliputi kegiatan :

72

1) Pemeriksaan kesehatan 2) Pemantauan lingkungan kerja (faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, psikologi) 3) Pemantauan kinerja PT ITP telah melaksanakan pemeriksaan kesehatan kerja secara rutin satu tahun sekali. Hal ini berlaku bagi seluruh karyawan di PT ITP. Selain itu, PT ITP juga melakukan inspeksi K3 secara terencana dan terjadwal sebagai salah satu cara untuk mencegah kecelakaan kerja sesuai dengan prosedur inspeksi yang telah dibuat. Inspeksi bertujuan kerja untuk dan

mendapatkan

gambaran

kondisi

lingkungan

hubungannya dengan K3 sehingga apabila terdapat potensi atau permasalahan K3 dapat segera diambil tindakan perbaikan. Inspeksi yang dilaksanakan di PT ITP antara lain adalah : 1) Joint Safety Inspection (JSI) JSI bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi berbahaya, potensi bahaya, atau aspek lingkungan yang berdampak merugikan di lingkungan unit kerja. JSI dilaksanakan minimal 2 kali dalam 1 tahun. Petugas JSI adalah tim yang terdiri dari petugas Safety, Health, Security, dan

Plant/divisi terkait. Jadwal pelaksanaan JSI dibuat dan direvisi oleh Safety Dept. Head sesuai dengan kebutuhan, yang terdiri atas: jenis unit kerja terkait, waktu pelaksanaan JSI dan petugas pelaksana JSI. 2) Safety Monitoring Safety Monitoring merupakan kegiatan yang tidak jauh berbeda dengan JSI, namun pada safety monitoring ini, inspeksinya dilengkapi dengan checklist. Inspeksi ini dilakukan sesuai dengan jadwal atau revisi jadwal yang dibuat oleh Divisi Inspection dan disepakati oleh Safety Dept. Head. Petugas pelaksana inspeksi adalah Safety

73

Inspector yang ditugaskan menurut area kerja divisi/plant yang ditunjuk oleh Division Inspection dan disetujui oleh Safety Dept. Head. Jadwal inspeksinya dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Dalam menggunakan peralatan dan perlengkapan kerja, pekerja harus mengikuti prosedur dan “safety rules” yang ada sehingga terhindar dari kecelakaan kerja (Lampiran 8). Selain itu, sebaiknya setiap bahan produksi atau hasil produksi dilengkapi Material Safety Data Sheet (MSDS) yang berupa laporan bahan yang digunakan, jenis, senyawa, reaksi, dampak terhadap makhluk hidup dan lingkungan yang telah diteliti dan diuji terlebih dahulu, serta cara pemakaian bahan atau cara penanganannya apabila terjadi kecelakaan terhadap pemakai. Dengan adanya MSDS ini diharapkan dapat mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja. 5. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Pelaksanaan audit SMK3 dalam suatu perusahaan merupakan salah satu upaya untuk memenuhi persyaratan OHSAS 18001. PT ITP yang telah menerapkan OHSAS 18001 dan Permenaker 05/MEN/1996 diaudit secara internal dan eksternal. Secara internal dilakukan oleh Quality System and Management eksternal Representative OHSAS (QSMR) 18001 sedangkan audit

untuk

maupun

Permenaker

05/MEN/1996 dilakukan badan sertifikasi Sucofindo. Audit Internal yang dilaksanakan dua kali dalam satu tahun di semua divisi dan plant, termasuk unit produksi yang ada di Tarjun dan Palimanan yang dilakukan terpusat oleh Ahli K3 (staf QSMR) yang berada di Citeureup. Ahli K3 yang menjadi tenaga auditor telah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh Sucofindo, minimal sekali sewaktu di awal dan dilakukan penyesuaian bila

74

ada perubahan dalam elemen atau pasal-pasal yang terkait dengan SMK3. Audit eksternal SMK3 yang dilaksanakan oleh badan sertifikasi Sucofindo dilaksanakan tiga tahun sekali untuk SMK3, sedangkan untuk OHSAS 18001 baru dilaksanakan dua kali audit, yaitu pada tahun 2003 dan 2007. Dalam pengukuran keberhasilan penerapan SMK3, Permenaker

05/MEN/1996 menetapkan standar yang diberlakukan untuk tiga jenis perusahaan dan pemberian penghargaan untuk tingkat pencapaian tertentu. Tabel 3 memberikan penjelasan tentang tingkat pencapaian SMK3 berdasarkan Permenaker No 05/MEN/1996. Tabel 3. Tingkat Pencapaian SMK3 berdasarkan Permenaker No. 05/MEN/1996 Tingkat Pencapaian Perusahaan kecil (64 kriteria) Perusahaan sedang (122 kriteria) 0 - 59% 60% - 84% Tindakan hukum Sertifikat dan bendera perak Sertifikat dan bendera emas Tindakan hukum Sertifikat dan bendera perak Sertifikat dan bendera emas Perusahaan besar (166 kriteria) Tindakan hokum Sertifikat dan bendera perak Sertifikat dan bendera emas

84% - 100%

Sumber : Permenaker No. 05/MEN/1996 PT ITP telah mendapatkan penghargaan dari hasil audit oleh Sucofindo sebagai berikut: 1. Juli 2000 : Sertifikasi SMK3 oleh Sucofindo dan mendapatkan Bendera Emas untuk Unit Produksi Citeureup dan Palimanan, Cirebon. 2. September 2000 : Sertifikasi SMK3 oleh Sucofindo dan mendapatkan Bendera Emas untuk Unit Produksi di Tarjun, Kalimantan Selatan

75

3. Juni 2003 : Sertifikasi SMK3 dan OHSAS 18001:1999 oleh Sucofindo dan mendapatkan Bendera Emas di Unit Produksi Citeureup. 4. Juni 2003 : Sertifikasi SMK3 oleh Sucofindo dan mendapatkan Bendera Emas untuk Unit Produksi Citeureup dan Palimanan. 5. Juni 2006 : Sertifikasi SMK3 oleh Sucofindo dan mendapatkan Bendera Emas untuk Unit Produksi

Citeureup, Palimanan, dan Tarjun. 6. Agustus 2007 : Resertifikasi OHSAS 18001:1999 oleh Sucofindo di Unit Produksi Citeureup, Palimanan, dan Tarjun. Hasil audit eksternal pada tahun 2006, PT ITP telah mendapatkan bendera emas, hal ini dikarenakan pada Unit Produksi Citeureup keberhasilan dalam menerapan SMK3 mencapai 91%, untuk Palimanan mencapai 92%, dan untuk Tarjun mencapai 96%. Gambar proses dilaksanakannya audit dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Diagram Audit

76

Tujuan audit SMK3 adalah untuk memberikan masukanmasukan untuk perbaikan kinerja SMK3 di perusahaan agar berjalan secara efektif. Bukti-bukti yang ditemukan saat audit berlangsung merupakan bukti yang apa adanya sehingga perbaikan yang berkelanjutan dapat dilakukan lebih efektif lagi. Oleh karena itu, pihak manajemen perlu mensosialisasikan kepada seluruh karyawan akan pentingnya audit SMK3. 6. Tinjauan Manajemen Dalam suatu perusahaan, tinjauan manajemen dilaksanakan untuk menjamin kesesuaian, kecukupan, dan keefektifan SMK3 secara berkelanjutan. Dalam hal ini PT ITP telah menyadari bahwa: a. Manajemen puncak harus meninjau SMK3 sesuai dengan jadwal untuk memastikan keberlanjutan, kesesuaian,

kecukupan, dan keefektifan b. Peninjauan membahas : 1) Perubahan kebijakan, tujuan, teknologi, unsur lain pada SMK3 berdasarkan hasil audit 2) Perubahan situasi kondisi, perundangan dan komitmen pada perbaikan berlanjut Pokok-pokok permasalahan dalam pembahasan dari suatu tinjauan manajemen, antara lain sebagai berikut : a. Kesesuaian kebijakan K3 b. Pencapaian sasaran K3 c. Kesesuaian proses identifikasi bahaya, penilaian, dan

pengendalian risiko d. Kecukupan sumber daya e. Keefektifan proses inspeksi f. Keefektifan proses pelaporan bahaya g. Data yang berhubungan dengan kecelakaan dan insiden yang terjadi

77

h. Rekaman prosedur yang tidak efektif i. Hasil audit internal dan eksternal yang dilakukan sejak tinjauan manajemen sebelumnya dan juga keefektifannya Sedangkan untuk output yang diharapkan dari diadakannya suatu tinjauan manajemen adalah mencakup suatu keputusan/tindakan yang berkaitan dengan: a. Perbaikan pada keefektifan kinerja SMK3 dan lingkungan b. Perbaikan pada proses produksi dan produk yang berkaitan dengan aspek lingkungan penting dan K3 c. Sumber daya yang diperlukan untuk penerapan SMK3 d. Rekomendasi program K3 selanjutnya. Pelaksanaan SMK3 di PT ITP telah diterapkan dan dilaksanakan dengan baik. Pihak perusahaan telah menyadari pentingnya penerapan SMK3 di PT ITP. Dengan menerapkan SMK3 PT ITP dapat mengurangi angka kecelakaan dan melindungi karyawannya dari hal-hal yang berbahaya. PT ITP secara intensif terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pelaksanaan SMK3 agar lebih baik lagi. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melibatkan seluruh karyawan dalam pelaksanaan SMK3. Hal ini dilakukan agar karyawan merasa bahwa SMK3 ini penting juga untuk menjaga keselamatan diri karyawan dan agar karyawan dapat lebih berhati-hati dalam bekerja. PT Sucofindo sebagai auditor eksternal telah memberikan golden flag atas keberhasilan PT ITP dalam menerapkan SMK3 dan hal itu menjadi bukti bahwa PT ITP telah berhasil menerapkan SMK3 dengan baik.

5.2.3.Efektifitas Pelaksanaan SMK3 Untuk Mengurangi Angka Kecelakaan Kerja di P-11 Plant 11 merupakan plant terakhir yang dioperasikan di plantsite Citeureup. P-11 beroperasi pada tahun 2000 dengan

78

kapasitas produksi 2.400.000 ton per tahun. Plant ini merupakan plant terbesar yang berada di plantsite Citeureup. Jumlah

karyawan yang bekerja di plant ini pun jumlahnya paling banyak diantara plant yang lain. Berikut ini jumlah karyawan P-11 dari tahun 2000 hingga 2007. Tabel 4. Jumlah Karyawan P-11 TAHUN 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 JUMLAH TENAGA KERJA 272 259 261 253 227 225 213 200

Sumber : Online PT ITP, 2008 Dari tahun ke tahun jumlah karyawan PT ITP menurun karena banyak yang mengalami pensiun. PT ITP tidak

menggantikan karyawan yang pensiun tersebut dengan merekrut karyawan baru karena PT ITP sedang melakukan pengurangan jumlah tenaga kerja tanpa melalui PHK. Hal ini dikarenakan jumlah karyawan PT ITP terlalu banyak dan tidak efektif untuk mengoperasikan pabrik yang secara garis besar sudah otomatisasi dalam beroperasi. P-11 dioperasikan setelah PT ITP menerapkan SMK3 selama satu tahun, Pada awal beroperasi, tingkat kecelakaan di P11 tergolong tinggi. Hal ini dikarenakan penerapan SMK3 belum terlalu optimal pada awal beroperasinya P-11. Karyawan pun belum menyesuaikan diri dengan potensi bahaya yang ada di P-11. Tingkat kesadaran karyawan akan pentingnya SMK3 pun masih

79

rendah. Selain itu, pengidentiifikasian bahaya secara terperinci belum dilakukan di P-11. Laporan Analisa Kecelakaan Kerja diklasifikasikan

menurut cidera ringan, cidera berat, fatality, property damage. Namun pada akhir kuartal 2007, OHSAS 18001 menetapkan klasifikasi kecelakaan kerja difokuskan pada kecelakaan kerja yang mengakibatkan cidera pada karyawan tanpa melihat kerusakan pada aset yang dimiliki perusahaan. Perhitungan yang dilakukan PT ITP mulai tahun 2007 untuk mengetahui tingkat statistik kecelakaan kerja hanya mencakup IFR dan ISR saja. Tabel 5 menunjukkan data statistika kecelakaan yang terjadi di P-11 dari tahun 2000 hingga tahun 2007. Tabel 5. Tingkat Keseringan Dan Tingkat Keparahan Kecelakaan Kerja Jumlah IFR Karyawan 2000 272 5 2001 259 6 2002 261 8 2003 253 5 2004 227 2 2005 225 1 2006 213 0 2007 200 0 Sumber : Safety Dept dan QSMR, 2007 Tahun Standar IFR 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,5 0,5 0,5 ISR 76 106 97 17 6 7 0 0 Standar ISR 55,5 37,5 24,7 16,5 11,0 11,0 11,0 11,0

Tahun 2000, jumlah karyawan PT ITP sebanyak 272 orang dengan tingkat keseringan kecelakaan (IFR) adalah 5 kali dan tingkat keparahan kecelakaan (ISR) mencapai 76 sedangkan standar IFR dan ISR yang ditoleransi oleh ILO per 1.000.000 jam kerja adalah 2,5 kali dan 55,5. Hal ini dikarenakan penerapan SMK3 masih belum optimal. Pelatihan dan pendidikan dasar yang diberikan kepada karyawan masih dirasakan kurang. Hal ini dianggap wajar oleh PT ITP karena SMK3 baru diterapkan pada

80

tahun 1999 dan P-11 baru berdiri tahun 2000. PT ITP khususnya P11 tidak seharusnya mencapai angka IFR yang tinggi karena mesin-mesin dan peralatan yang digunakan sudah canggih dan otomatisasi. Tahun 2001, jumlah karyawan di P-11 menurun sebanyak 13 orang menjadi 259 orang. Hal ini dikarenakan ada yang pensiun dan mutasi ke divisi atau plant yang lain. IFR dan ISR P-11 meningkat dari tahun sebelumnya sedangkan jumlah karyawannya menurun. Untuk IFR dari 5 menjadi 6 dan standarnya pun meningkat dari 2,5 menjadi 2,0 kali. Hal ini dikarenakan adanya kecelakaan kerja yang mengakibatkan kerusakan dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di dalam lingkungan PT ITP sehingga mengakibatkan karyawan mengalami luka dan hari hilangnya (time lost) tinggi. Selain itu safety talks yang dilakukan masih jarang dilakukan karena P-11 hanya melaksanakan safety talks sebanyak 26% saja selama satu tahun. Tahun 2002 merupakan tahun dengan tingkat IFR tertinggi yaitu mencapai 8 kali dengan ISR mencapai tingkat 97, sedangkan standar yang ditetapkan semakin meningkat yaitu 1,5 dan 24,7. Hal ini dikarenakan safety talks yang dilaksanakan selama satu tahun hanya mencapai 7% saja dengan rata-rata jumlah karyawan yang hadir tidak lebih dari 14 orang. Oleh karenanya, pada tahun 2002 ini kecelakaan terjadi paling banyak di P-11 yang penyebabnya didominasi oleh faktor manusia yang tidak menjalankan prosedur kerja sebagaimana mestinya, dan kurangnya pengetahuan. tersembur

Kecelakaan kerja yang terjadi antara lain adalah

material panas ketika sedang ada perbaikan mesin dan tidak menggunakan APD sehingga mengalami cidera berat. Dengan adanya kecelakaan ini mengakibatkan lost time yang dialami P-11 tergolong tinggi.

81

Dimulai tahun 2003 inilah P-11 mengalami penurunan IFR dan ISR yang signifikan. Hal ini dikarenakan pada tahun 2003 akan dilaksanakan audit oleh Sucofindo sehingga perbaikan dilakukan secara menyeluruh dan terorganisir dengan baik. Hal yang dilakukan oleh PT ITP antara lain pelatihan tentang K3 yang dilakukan secara lebih baik, sosialisasi penggunaan APD yang lebih intensif, safety talks yang lebih digiatkan, dan sebagainya. Pada tahun 2003 ini dilakukan audit oleh Sucofindo untuk sertifikasi SMK3 dan OHSAS 18001. Sertifikasi OHSAS 18001 ini baru dilaksanakan tahun 2003. Oleh karena itu, PT ITP menerapkan SMK3 dengan sebaik-baiknya sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh OHSAS 18001 dan SMK3 untuk

mendapatkan bendera emas dari Sucofindo. Mulai tahun 2003, pelaksanaan safety talks dan rapat Sub P2K3 terus meningkat dan semakin sering dilakukan dengan peserta yang semakin banyak. IFR dan ISR pun menunjukkan penurunan yang berarti di P-11 hingga mulai tahun 2006 hampir tidak pernah terjadi kecelakaan di P-11 dalam 1.000.000 jam kerja. Hal ini tentu saja merupakan suatu prestasi bagi P-11 karena bisa mencapai zero accident. Dapat disimpulkan bahwa penerapan SMK3 telah efektif mengurangi kecelakaan kerja yang terjadi di P11 dilihat dari tingkat IFR dan ISR yang sebagian besar menurun dari tahun 2000 sampai 2007. Perubahan tersebut dapat dilihat pada Gambar 10.

82

Gambar 10. IFR dan ISR P-11 PT ITP

5.3.

Pengolahan Analisis Data 5.3.1. Karakteristik Responden 1. Usia Responden Kelompok usia yang mengisi kuesioner merupakan kelompok usia kerja yang ada di PT ITP khususnya di P-11. Jumlah karyawan yang bekerja di P-11 berada pada rentang usia lebih dari 20 tahun dan kurang dari 55 tahun (20 tahun< usia karyawan<55 tahun). Pada penelitian ini, responden paling banyak berada pada rentang 31- 40 tahun. Pada rentang usia 31-40 tahun, karyawan berada pada rentang produktif, sehingga pada usia ini karyawan mendominasi plant. Pada usia 31-40 tahun, karyawan telah mempunyai pengalaman dalam bekerja. Tidak adanya karyawan pada rentang usia kurang dari 20 tahun karena mulai tahun 2006 PT ITP membuat kebijakan untuk merekrut karyawan dengan tingkat pendidikan minimal Strata 1 (S1), sehingga usianya lebih dari 20 tahun.

83

Tabel 6. Karakteristik Usia Responden No 1. 2. 3. 4. 5. Rentang Usia < 20 tahun 20 – 25 tahun 26 – 30 tahun 31 – 40 tahun > 41 tahun Jumlah 7 orang 30 orang 54 orang 43 orang Persentase 0 5,22 % 22,39 % 40,30 % 32,09%

2. Jenis Kelamin Penelitian ini dilaksanakan di Plant yang merupakan daerah yang tingkat risiko kecelakaannya tinggi karena berupa pabrik tempat proses produksi dilakukan. Karyawan berjenis kelamin laki-laki sangat mendominasi dan jumlah wanita hanya berjumlah 2-5 orang saja. Pada penelitian ini 100 % responden berjenis kelamin lakilaki karena wanita ditempatkan pada bagian kantor dan administrasi. Karyawan laki-laki ditempatkan di plant karena lakilaki dinilai lebih waspada dan dapat bekerja lebih sigap dibandingkan wanita. Disamping itu, job specification dan job description yang ada di plant hanya dapat dikerjakan oleh laki-laki seperti permesinan, instrumentasi listrik, dan otomotif. Selain itu, di PT ITP jumlah karyawan wanita dengan pria adalah 1 berbanding 4 (data tahun 2007) dan lebih dari 90% wanita ditempatkan di bagian kantor.

3. Pendidikan Terakhir Pendidikan terakhir untuk karyawan di PT ITP sebagian besar adalah lulusan SMA dan sederajat. Hal ini dikarenakan pada masa Orde Baru, PT ITP merupakan salah satu perusahaan yang

84

mencanangkan padat karya sehingga banyak lulusan SMA dan sederajat bekerja di perusahaan ini. Begitu pun di P-11, jumlah responden sebanyak 82,83% adalah lulusan SMA dan sederajat. Lulusan SMA dan sederajat yang direkrut sebagian besar adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan seperti STM, SMK, SMEA. Lulusan sekolah-sekolah tersebut direkrut karena memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh lulusan SMA terutama keahlian mengenai mesin-mesin, listrik, otomotif dan keahlian tersebut sangat dibutuhkan untuk karyawan yang bekerja di plant. Responden lainnya berjumlah 17,16 % merupakan lulusan S1. Pada umumnya, karyawan yang memiliki pendidikan terakhir S1 saat melamar ke PT ITP dapat menduduki jabatan pada eselon 4. Oleh karenanya, 17,16% responden merupakan karyawan yang menduduki jabatan tertentu seperti section head, planner, department head, dan plant manager. Lulusan S1 ini belum mendominasi karena pada tahun 1997 saat PT ITP melakukan rekrutmen dalam jumlah besar, lulusan S1 belum terlalu banyak jumlahnya. Tabel 7. Karakteristik Pendidikan Terakhir No 1 2 Pendidikan Terakhir SMU S1 Jumlah 111 orang 23 orang Persentase 82,83 % 17,16 %

4. Masa Kerja Masa kerja karyawan di PT ITP sebagian besar lebih dari 15 tahun karena PT ITP terakhir melakukan rekrutmen karyawan dalam jumlah besar adalah pada tahun 1997. Setelah tahun ini,

ketidakstabilan perekonomian negara berpengaruh juga pada keberlangsungan PT ITP sehingga baru melakukan rekrutmen pada

85

tahun 2006. Pada P-11, responden sebanyak 61 orang memiliki masa kerja lebih dari 15 tahun, kemudian selanjutnya 37 orang memiliki masa kerja 11-15 tahun dan paling sedikit adalah yang mmasa kerjanya kurang dari 3 tahun yaitu sebanyak 2 orang. Dua orang ini adalah karyawan yang baru saja lulus Management Trainee (MT) pada tahun 2007 dan menjabat sebagai Junior Engineer (eselon 4). Masa kerja diatas 15 tahun mendominasi karena untuk bekerja di plant dibutuhkan karyawan yang berpengalaman dalam bekerja. Plant merupakan unit kerja utama yang dimiliki PT ITP sehingga karyawannya pun harus memenuhi kualifikasi yang ditetapkan PT ITP. Tabel 8. Karakteristik Masa Kerja Responden No 1 2 3 4 5 Masa Kerja < 3 tahun 3 - 4 tahun 5 – 10 tahun 11 - 15 tahun >15 tahun Jumlah 2 orang 3 orang 31 orang 37 orang 61 orang Persentase 1,49 % 2,23 % 23,13% 27,61% 45,52%

5. Departemen Unit Kerja Kuesioner ini disebarkan secara proporsional random sampling karena P-11 memiliki beberapa departemen, yaitu Electical Department, Mechanical Department, dan Production Department. Hal ini dilakukan agar kuesioner menyebar secara merata dan tujuan dari penelitian ini dapat tercapai. P-11 memiliki jumlah karyawan sebanyak 200 orang dengan proporsi 110 orang pada Production Department, 51 orang pada Mechanic Department, dan 35 orang pada Electical Department. Agar proporsi responden sesuai dengan yang tujuan maka jumlah responden dari Production Department mengisi dengan jumlah paling banyak yaitu sebanyak

86

54,48%, Mechanic sebanyak 26,87 % dan Electrical sebanyak 18,66 % dari 134 jumlah responden secara keseluruhan. Production Department mendominasi karena departemen produksi merupakan departemen inti dari plant. Proses produksi semen dikerjakan tanpa henti, oleh karenanya untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan karyawan dalam jumlah paling banyak untuk menunjang agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai, seperti tingkat produksi pertahun. Electical Department merupakan departemen yang jumlah karyawannya paling sedikit karena departemen ini berfungsi sebagai penunjang dalam proses produksi dan

bertanggung jawab dalam kestabilan listrik yang ada di plant. Tabel 9. Karakteristik Departmen Unit Kerja Responden No 1 2 3 Departemen Produksi Mekanik Elektrik Jumlah 73 orang 36 orang 25 orang Persentase 54,48 % 26,87 % 18,66 %

5.3.2.

Uji Validitas Kuesioner dibuat untuk mengetahui pendapat dan fakta yang dirasakan responden mengenai efektifitas penerapan SMK3 di P-11 PT ITP. Sebelum kuesioner disebar dilakukan suatu uji validitas. Uji validitas dilakukan setelah 30 kuesioner disebarkan. Uji Validitas dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana data yang ditampung pada suatu kuesioner dapat mengukur apa yang ingin diukur. Pada penelitian ini Uji Validitas dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007. Suatu pernyataan pada kuesioner dinyatakan valid apabila rhitung lebih besar dari rtabel. Tingkat kesalahan yang ditetapkan sebesar 5%, maka nilai rtabel sebesar 0,361. Hasil perhitungan validitas kuesioner dapat dilihat pada Tabel 10.

87

Tabel 10. Rekapitulasi Uji Validitas Aspek Pelatihan Keselamatan Kerja No 1 2 3 Lanjutan Tabel 10 Aspek Pelatihan Keselamatan Kerja No 4 5 Publikasi Keselamatan Kerja 1 2 3 4 5 Kontrol Lingkungan Kerja 1 2 3 4 5 Inspeksi dan Disiplin 1 2 3 4 5 Peningkatan Kesadaran K3 1 2 3 4 5 Nilai rhitung 0,597 0,776 0,703 0,671 0,702 0,834 0,741 0,700 0,403 0,564 0,693 0,704 0,703 0,740 0,898 0,687 0,622 0,523 0,643 0,710 0,476 0,648 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Nilai rhitung 0,713 0,709 0,581 Keterangan Valid Valid Valid

88

5.3.3. Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas dilakukan setelah uji validitas. Uji Reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauhmana alat ukur dapat diandalkan, apabila digunakan untuk mengukur gejala yang sama. Hasil pengukuran reliabilitas menyatakan bahwa kuesioner yang disebarkan dapat diandalkan untuk dijadikan alat ukur pada penelitian ini. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach’s lalu nilainya dibandingkan dengan nilai r tabel yaitu sebesar 0,361 (untuk tingkat kesalahan 5%). Dari hasil perhitungan menggunakan software SPSS for Windows 13.0 diperoleh nilai alpha sebesar 0,948. Nilai ini jauh lebih besar dari nilai rtabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa kuesioner yang disusun adalah reliable/dapat diandalkan (Lampiran 9).

5.3.4. Analisis Persepsi Karyawan Terhadap Pelaksanaan SMK3 di P-11 PT ITP Pelaksanaan SMK3 yang efektif dalam mengurangi angka kecelakaan kerja merupakan tujuan dari suatu perusahaan. Kecelakaan kerja yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar. PT ITP menerapkan SMK3 untuk mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi di PT ITP khususnya P-11 yang pada awal beroperasi mengalami tingkat kecelakaan yang tinggi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini perlu dilakukan analisis untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap pelaksanaan SMK3 di PT ITP khususnya P-11. Analisis persepsi karyawan terhadap pelaksanaan SMK3 di P-11 dilakukan berdasarkan teori Miner yang dilihat dari lima aspek yaitu, pelatihan keselamatan kerja, publikasi keselamatan kerja, kontrol terhadap lingkungan kerja, inspeksi dan disiplin, serta peningkatan kesadaran K3. Masing-masing aspek diwakili dengan lima buah pertanyaan yang menggambarkan aspek-aspek tersebut.

89

1. Pelatihan Keselamatan Kerja Tabel 11. Skor Rataan Aspek Pelatihan Keselamatan Kerja
No
1.

Indikator
Manfaat sudah dirasakan dari pendidikan dan pelatihan K3 sehingga karyawan lebih aman dalam bekerja Pendidikan dasar K3 bagi karyawan sudah dilakukan dengan baik Pelatihan untuk menghadapi keadaan darurat saat kebakaran dan penanggulangan bahayanya sudah memenuhi standar yang ditetapkan Pelatihan mengenai pertolongan pertama saat kecelakaan sudah dapat diterapkan dengan baik Pelatihan K3 untuk pelaksana pekerjaan yang berpotensi bahaya sudah memenuhi standar yang ditetapkan TOTAL

Skor Rataan 3,04

Keterangan Setuju

2.

2,83 2,81

Setuju Setuju

3.

4.

2,79 2,75

Setuju Setuju

5.

2.84

Setuju

Tabel 11 menunjukkan bahwa persepsi karyawan terhadap aspek pelatihan keselamatan kerja telah dilaksanakan dengan baik. Pendidikan dasar K3 bagi karyawan di P-11 sudah dilakukan dengan baik, selain itu karyawan juga merasa bahwa pelatihan K3 untuk pelaksana pekerjaan yang berpotensi bahaya di P-11 dan pelatihan untuk menghadapi keadaan darurat saat kebakaran dan penanggulangan bahayanya sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Karyawan pun dapat merasakan manfaat dari pendidikan dan pelatihan K3 yang diberikan PT ITP khususnya di P-11 sehingga karyawan merasa lebih aman dalam bekerja. Karyawan telah dapat menerapkan dengan baik pelatihan yang diberikan Safety Dept. mengenai pertolongan pertama saat kecelakaan. Karyawan berpendapat bahwa pelatihan SMK3 dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan karyawan. Pelatihan yang

90

diberikan

kepada

seluruh

karyawan

mulai

dari

pelatihan

pengenalan hingga pelatihan pendalaman SMK3. Pelatihan SMK3 yang diberikan kepada karyawan

berdasarkan pada tingkat eselon dan jenis pekerjaannya. Apabila karyawan mendapatkan tugas untuk bekerja dengan keahlian khusus, maka pelatihan yang diterimanya pun berbeda dari karyawan yang lainnya. Materi pelatihan yang diberikan

merupakan materi terbaru yang diperoleh pihak perusahaan dari bada-badan sertifikasi nasional maupun internasional. Hal ini diberikan kepada karyawan agar karyawan dapat terus

memperbaharui pengetahuannya mengenai SMK3 dan dapat terhindar dari kecelakaan kerja yang dapat merugikan diri karyawan maupun perusahaan.

2. Publikasi Keselamatan Kerja Tabel 12. Skor Rataan Aspek Publikasi Keselamatan Kerja
No
1.

Pernyataan
Safety talks telah efektif dilakukan sehingga karyawan dapat bekerja dengan aman dan nyaman Rapat Sub P2K3 yang rutin dilakukan tiap bulan sudah efektif dilaksanakan Sosialisasi program K3 telah efektif diberikan kepada karyawan Sosialisasi tentang penggunaan APD dan alat keselamatan lainnya serta penggunaan alat pemadam kebakaran telah dilakukan dengan baik Sosialisasi working permit (prosedur keselamatan untuk karyawan yang melaksanakan pekerjaan berpotensi bahaya) telah dilaksanakan dengan baik TOTAL

Skor Rataan 2,83

Keterangan Setuju

2.

2,82 2,79 2,75

Setuju Setuju Setuju

3.

4.

5.

2,69

Setuju

2,78

Setuju

91

Persepsi karyawan P-11 menyatakan bahwa aspek publikasi keselamatan kerja telah dilaksanakan dengan baik (Tabel 12). Publikasi keselamatan kerja yang dilakukan berupa sosialisasi halhal yang berkaitan dengan SMK3. Sosialisasi tersebut antara lain sosialisasi program K3, sosialisasi penggunaan APD, alat keselamatan lainnya dan alat pemadam kebakaran, serta sosialisasi working permit. Selain itu, karyawan pun merasa bahwa safety talks yang selama ini dilakukan telah efektif sehingga karyawan dapat bekerja dengan aman dan mengetahui potensi bahaya apa yang akan dihadapi karyawan selama bekerja. P-11 juga telah melaksanakan Rapat Sub P2K3 secara rutin dan efektif. PT ITP telah memprogramkan untuk terus

mensosialisasikan pentingnya penggunaan APD karena dapat menghindarkan karyawan dari bahaya yang bisa muncul kapan saja selama karyawan bekerja dan berada di lingkungan perusahaan. P11 terus melakukan sosialisasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan SMK3 kepada karyawan secara rutin. Media yang digunakan pun beragam, mulai dari papan pengumuman, rapat SubP2K3, Safety Talks, hingga media intranet yang digunakan di lingkungan PT ITP. Cara-cara tersebut dinilai efektif karena

hampir semua karyawan dapat memperoleh informasi mengenai K3. P-11 pun terus meningkatkan kegiatan safety talks karena melalui safety talks karyawan dapat mengetahui potensi bahaya yang akan dihadapi saat bekerja, APD yang sesuai untuk digunakan dan penanggulangan bahayanya.

3. Kontrol Lingkungan Kerja Tabel 13. Skor Rataan Aspek Kontrol Lingkungan Kerja
No 1. Pernyataan
Manfaat telah dirasakan dari pemeriksaan kesehatan yang dilakukan PT ITP secara rutin

Skor Rataan 3,18

Keterangan Setuju

92

Lanjutan Tabel 13 No 2. 3. Indikator
Pengawasan yang baik terhadap perlengkapan kerja dapat mengurangi potensi bahaya Pengawasan yang baik telah dilakukan oleh Safety Dept. terhadap kondisi alat pemadam kebakaran (APAR, fire truck, dan fire alarm system) dan APD di P-11 Karyawan merasakan manfaat yang baik dari kegiatan senam rutin mingguan yang diadakan oleh PT ITP Kondisi ruang kerja di P-11 telah memberikan kenyamanan dalam bekerja TOTAL

Skor Rataan 3,06 2,96

Keterangan Setuju Setuju

4.

2,91

Setuju

5.

2,78 2,98

Setuju Setuju

Berdasarkan Tabel 13, persepsi karyawan P-11 menyatakan bahwa pelaksanaan SMK3 dilihat dari aspek kontrol lingkungan kerja telah dilaksanakan dengan baik. Kontrol lingkungan kerja yang dimaksud di PT ITP adalah pengendalian dan pemeriksaan terhadap karyawan serta perlengkapan kerjanya. Karyawan merasa bahwa kondisi ruang kerja di P-11 telah memberikan kenyamanan dalam bekerja. Kontrol pun diberikan kepada karyawan berupa pemeriksaan kesehatan secara berkala dan kegiatan senam rutin. Melalui kegiatan tersebut, karyawan dapat merasakan manfaat yang baik. Selain itu, Pengawasan yang baik telah dilakukan terhadap penggunaan alat-alat keselamatan seperti APD dan perlengkapan keadaan darurat serta kepada perlengkapan kerja karyawan. Dari Tabel 13 pemeriksaan kesehatan memiliki skor yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan perusahaan melaksanakan pemeriksaan kesehatan karyawan yang dilaksanakan tiap tahun dan wajib diikuti oleh karyawan yang berupa :

93

a. General Check Up (pemeriksaan menyeluruh) Kegiatan ini dilakukan untuk mendeteksi dini penyakit secara umum, sasarannya adalah karyawan yang sehat dan dilakukan pada fasilitas kesehatan yang ditunjuk dokter perusahaan. Syaratnya adalah karyawan tersebut telah berusia lebih dari 40 tahun dan masa kerja minimal 5 tahun. b. Non General Check Up (pemeriksaan tidak menyeluruh) Merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi dini penyakit diberikan yang diduga berhubungan karyawan dengan di pekerjaan, bising.

khusus

kepada

areal

Pemeriksaannya berupa pengaruh frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Selain itu, pemeriksaan khusus pun dilakukan kepada karyawan radiasi yang pemeriksaannya berupa abrasi kromosom. c. Pemeriksaan berkala Pemeriksaan kesehatan berkala dan rutin yang dilakukan oleh Dokter perusahaan yang berupa rontgen paru. Pemeriksaan ini merupakan keharusan bagi seluruh karyawan. d. Pelaporan penyakit menular Setiap karyawan yang menderita atau terkena penyakit menular harus segera melaporkannya kepada dokter perusahaan e. Vaksinasi Setiap karyawan diwajibkan mengikuti vaksinasi yang

dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan keperluan. Selain kesehatan, hal yang diperhatikan oleh PT ITP untuk mengontrol lingkungan kerjanya adalah kondisi ruang kerja, perlengkapan kerja karyawan seperti APD, seragam kerja, safety shoes, serta perlengkapan keselamatan yang wajib ada pada setiap

94

ruangan seperti peralatan keadaan darurat, dan kotak P3K. Setiap kali dilaksanakan audit internal, perlengkapan dan peralatan keselamatan tersebut maka selalu diperiksa. tindakan Apabila lanjutan terdapat seperti

ketidaksesuaian

dilakukan

mengganti atau memperbaikinya. 4. Inspeksi dan Disiplin Tabel 14. Skor Rataan Aspek Inspeksi dan Disiplin
No 1. 2. Pernyataan
Kewajiban menggunakan APD sudah efektif dalam mengurangi angka kecelakaan kerja. Efektivitas pemasangan tanda peringatan dan tanda bahaya di daerah berpotensi bahaya di sekitar P-11 sudah baik dalam mengurangi angka kecelakaan kerja Pemberlakuan peraturan serta pemberian sanksi pelanggaran disiplin K3 telah membuat karyawan sadar akan pentingnya K3 Inspeksi K3 yang dilakukan oleh Safety Dept. di P-11 telah efektif menjaga karyawan dari kecelakaan Pembentukan satgas pengawas pelaksanaan K3 di P-11 telah efektif dalam mengawasi pelaksanaan K3 TOTAL

Skor Rataan 3,02 3,00

Keterangan Setuju Setuju

3.

2,97

Setuju

4.

2,72

Setuju

5.

2,67

Setuju

2,88

Setuju

Pada Tabel 14 dapat dilihat mengenai persepsi karyawan P11 yang menyatakan bahwa pelaksanaan SMK3 dilihat dari aspek inspeksi dan disiplin telah dilaksanakan dengan baik. Karyawan merasa bahwa inspeksi K3 yang dilakukan oleh Safety Dept di P11 telah efektif menjaga karyawan dari kecelakaan. Pembentukan satgas pengawas pelaksanaan K3 di P-11 telah efektif dalam mengawasi pelaksanaan K3 sehingga peraturan yang diberlakukan serta pemberian sangsi pelanggaran disiplin K3 telah membuat karyawan sadar akan pentingnya K3. Di samping itu, karyawan

95

berpendapat bahwa peraturan yang mewajibkan karyawan untuk menggunakan APD saat bekerja sudah efektif dalam mengurangi angka kecelakaan kerja. Selain penggunaan APD, pemasangan tanda peringatan dan potensi bahaya di sekitar P-11 pun sudah baik dalam mengurangi angka kecelakaan kerja. Karyawan berpendapat bahwa kewajiban menggunakan APD paling efektif dalam mengurangi kecelakaan kerja karena kecelakaan yang paling sering terjadi disebabkan kelalaian karyawan dalam bekerja. Penggunaan APD sangat membantu karyawan untuk menghindarkan diri dari kecelakaan kerja. APD diberikan kepada karyawan sesuai dengan jenis dan tingkat risiko pekerjaannya. PT ITP pun telah membuat peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan kerja karyawan yang dirangkum dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Peraturan tersebut memuat juga mengenai sangsi apabila karyawan melanggar peraturan yang telah disepakati. Selain penggunaan APD, cara lain yang efektif dalam mengurangi kecelakaan kerja adalah pemasangan tanda peringatan dan tanda bahaya di instalasi berpotensi bahaya terutama di P-11.

5. Peningkatan Kesadaran K3 Tabel 15. Skor Rataan Aspek Peningkatan Kesadaran K3
No 1. 2. 3. 4. Pernyataan
Pentingnya Program K3 khususnya di P-11 Selama bekerja, karyawan telah memprioritaskan untuk bekerja sesuai standar K3 Memiliki motivasi yang baik untuk melaksanakan K3 di P-11 PT ITP telah membuat SOP yang baik tentang persyaratan dan prosedur kerja yang sesuai standar K3 Safety Dept memiliki cara yang baik dalam mengingatkan karyawan untuk bekerja

Skor Rataan 3,18 3,08 2,99 2,97

Keterangan Setuju Setuju Setuju Setuju

5.

2,93

Setuju

96

mengutamakan keselamatan TOTAL

3,03

Setuju

Karyawan merasa bahwa kesadaran terhadap K3 telah meningkat (Tabel 15). Hal ini ditunjukkan dengan kesadaran karyawan akan pentingnya K3 dalam bekerja. Karyawan pun telah memiliki motivasi yang baik untuk melaksanakan K3. Hal ini dikarenakan Safety Dept. memiliki cara yang baik dalam mengingatkan karyawan untuk bekerja dengan mengutamakan keselamatan. Perusahaan pun telah membuat SOP yang baik tentang persyaratan dan prosedur kerja yang sesuai atandar K3. Karyawan merasa telah memprioritaskan bekerja sesuai dengan standar K3 dan hal ini penting dilakukan karena dapat menghindarkan karyawan dari kecelakaan dan timbulnya penyakit akibat kerja sehingga karyawan memiliki motivasi yang baik untuk melaksanakan program K3 ini. Dapat disimpulkan bahwa, pelaksanaan SMK3 di PT ITP khususnya dari persepsi karyawan P-11 telah berjalan dengan baik dan telah efektif dalam mengurangi angka kecelakaan kerja. Dilihat dari skor rataan yang telah dihitung, skor rataaan tertinggi diperoleh dari pernyataan tentang manfaat pemeriksaan kesehatan dan penggunaan APD untuk mengurangi angka kecelakaan kerja. Sedangkan yang paling kecil diperoleh dari pembentukan satgas pengawasan

pelaksanaan K3 dan sosialisasi mengenai working permit.

5.4.

Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan Plant 11 PT ITP Tingkat produktivitas kerja karyawan adalah ukuran suatu

perbandingan antara hasil yang diperoleh selama proses produksi dengan jumlah jam kerja karyawan (Man Hours Of Work) pada periode waktu tertentu. Tabel 16 menunjukkan tingkat produktivitas kerja karyawan P-11 PT ITP.

97

Tabel 16. Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan P-11 PT ITP tahun 2000-2007 Tahun Volume Produksi (Ton) 2.005.769 2.001.479 2.149.740 2.218.405 2.347.171 2.038.579 2.228.428 2.291.001 Jam Kerja Per Tahun Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan (Ton) 3,24 3,12 3,38 3,72 4,38 4,34 5,04 5,94 Standar Produktivitas Kerja Karyawan (Ton) 0,55 0,60 0,60 0,66 0,66 0,70 0,70 0,70

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

618.316 640.789 636.560,5 595.867 535.844,5 469.522 442.361 385.790

Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa tingkat produktivitas kerja yang cenderung meningkat dari tahun 2000 hingga 2007, meskipun terjadi sedikit penurunan pada tahun 2000 ke 2001 yaitu sebesar 0,12 ton. Produktivitas kerja karyawan terus meningkat dan berproduksi melampaui standar yang ditetapkan meskipun jumlah karyawan dari tahun ke tahun terus menurun. Selain itu, total produksi semen cenderung meningkat meskipun terjadi penurunan di tahun 2004 ke 2005 yang disebabkan oleh kebakaran yang terjadi di areal P11. Namun produktivitas kerja karyawannya hanya menurun sebesar 0,04 ton saja. Meskipun jumlah outputnya menurun besar akan tetapi jumlah karyawannya pun berkurang sehingga mempengaruhi jumlah jam kerja tahun 2005 tersebut. Tingkat produktivitas kerja karyawan di P-11 menunjukkan

peningkatan yang positif dari tahun ke tahun dan mendekati keadaan ideal dari tingkat produktivitas kerja yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan output yang terus meningkat dan berbanding terbalik dengan jumlah karyawan dan jam kerjanya. Bila output terus meningkat dan input yang digunakan seefisien mungkin maka produktivitas yang dihasilkan semakin tinggi dan optimal. Peningkatan produktivitas tersebut dapat terlihat pada Gambar 11.

98

Gambar 11. Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan Standar yang yang ditetapkan PT ITP menunjukkan angka yang jauh di bawah produktivitas kerja karyawan P-11. Hal ini dikarenakan walaupun jumlah karyawan P-11 relatif sama dengan plant yang lain namun tingkat produksinya paling tinggi. Manajemen puncak merupakan bagian yang paling berwenang dalam menetapkan kebijakan-kebijakan. Salah satu kebijakan yang ditetapkan adalah standar produktivitas kerja karyawan pada tingkat 0,7 ton/orang per jam sejak tahun 2005. Angka ini ditetapkan berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan PT ITP sebelumnya. Maksimum produktivitas kerja karyawan adalah Maksimum produktivitas = 15.420.000 6.478x12x173 Keterangan : Maksimum produksi Jumlah karyawan PT ITP (akhir 2006) Rata-rata jam kerja tiap bulan Bulan efektif tiap tahun : 15.420.000 ton : 6.478 orang : 173 jam : 12 bulan = 1,14 ton/orang per jam

99

Setiap tahunnya PT ITP melakukan pemeriksaan kiln secara rutin yang mengakibatkan proses produksi dapat terganggu dan tidak dapat beroperasi penuh. Selain itu, kebutuhan pasar akan semen putih yang dihasilkan dari Plant 5 dengan kapasitas produksi terkecil pun jumlahnya terbatas sehingga tidak dapat mencapai kapasitas produksi maksimum dan hal ini

mempengaruhi standar produktivitas kerja karyawan yang ditetapkan PT ITP agar semua karyawan dapat mencapai target yang telah ditetapkan.

5.5. Analisis Pengaruh Efektivitas Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh SMK3 terhadap produktivitas kerja karyawan di P-11 PT ITP dilakukan dengan menggunakan Analisis Regresi Berganda. Analisis ini menggunakan perhitungan dengan software SPSS for Windows 13.0. Pada analisis ini variabel independen yang digunakan adalah SMK3 yang dilihat dari tingkat keseringan kecelakaan kerja (IFR) dan tingkat keparahan kecelakaan kerja (ISR). Menurut ILO (2007), IFR dan ISR merupakan elemen yang ditetapkan untuk mengukur efektivitas penerapan yang terjadi pada suatu perusahaan yang dilihat dari tingkat kecelakaannya. Mulai tahun 2007 untuk mengukur tingkat kecelakaan difokuskan pada kecelakaan yang menimpa manusia (karyawan) tanpa memperhitungkan lagi property damage yang terjadi, sehingga saat ini yang digunakan adalah IFR dan ISR. Untuk variabel dependen yang digunakan adalah tingkat produktivitas kerja karyawan P-11 PT ITP dari tahun 20002007. Pada perhitungan besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen ditetapkan variabel IFR sebagai X1 dan ISR sebagai X2 sedangkan produktivitas kerja karyawan sebagai Y.

100

Tabel 17. Perhitungan Regresi Berganda dengan SPSS for Windows 13.0
Model 1 Unstandardized Coefficients B Std. Error 5.109 .277 -.286 .063 Standardized Coefficients Beta -.880 t 18.418 -4.531 Sig. .000 .004 Collinearity Statistics Tolerance VIF 1.000 1.000

(Constant) X1

a. Dependent Variable: Y

Collinearity Statistics Model 1 Beta In -.166 a t -.382 Sig. .718 Partial Correlation -.169 Tolerance .233 VIF 4.288 Minimum Tolerance .233

X2

a. Predictors in the Model: (Constant), X1 b. Dependent Variable: Y

Sumber : Pengolahan Data, 2008

Dari Tabel 17 dapat dilihat bahwa persamaan regresi berganda yang diperoleh adalah :

Y = 5,109 – 0,286 X1 – 0,166X2 + ξ1

……………(12)

Dari persamaan tersebut diketahui bahwa variabel IFR (X1) memiliki t hitung sebesar -4,531 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,004. Hal ini berarti signifikansi t < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat keseringan kecelakaan signifikan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. Nilai koefisien beta yang dimiliki sebesar -0,286 dan bentuk hubungannya negatif yang berarti semakin kecil tingkat keseringan kecelakaan maka semakin tinggi pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan. Selain itu, diperoleh nilai R sebesar 0,880 berarti korelasi antara variabel dependen (Y) dengan variabel independen (X) yang artinya jika IFR turun satu satuan maka produktivitas kerja karyawan naik 0,880 ton.. Dari nilai Adjusted R Square (koefisien yang telah disesuaikan) menunjukkan nilai sebesar 0,736. Hal ini mengambarkan bahwa variabel X1 mampu menjelaskan model sebesar 73,6% sedangkan sisanya 26,4% dijelaskan oleh variabel lain di luar dari variabel yang diteliti.

101

Variabel ISR (X2) merupakan variabel bebas yang memberikan pengaruh namun tidak signifikan dengan nilai koefisien beta sebesar -0,166. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 (5%) yaitu 0,718 (Tabel 17). Artinya adalah tingkat keparahan kecelakaan (ISR) tidak signifikan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Di P-11 hal ini cenderung dipengaruhi oleh tingkat kecelakaan yang tergolong parah adalah minimal 2 hari. Meninjau dari karakteristik karyawan, lost time 2 hari merupakan hal yang wajar sehingga pekerjaan dapat digantikan oleh orang lain dan tidak mengganggu produktivitas kerja plant. Oleh karena itu, ISR dengan lost time lebih dari dua hari cenderung tidak mempengaruhi secara signifikan pada tingkat produktivitas kerja karyawan. Dari Persamaan 12, dapat disimpulkan bahwa IFR dan ISR

mempengaruhi produktivitas kerja karyawan namun IFR dapat mempengaruhi secara lebih signifikan dibandingkan dengan ISR. Jika IFR dan ISR berada pada tingkat 0 maka produktivitas kerja karyawan adalah sebesar 5,109 ton. PT ITP dapat mengambil tindakan dengan mengantisipasi tingkat IFR agar tetap berada pada tingkat 0 dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pelaksanaan SMK3, terutama untuk menekan IFR dan ISR. IFR dan ISR di P11 cenderung dipengaruhi oleh tindakan karyawan yang lalai dalam bekerja (unsafe action) sehingga mengakibatkan kecelakaan kerja. Agar penerapan standar SMK3 yang selama ini sudah dijalankan dapat lebih baik lagi maka kebijakan lingkungan yang dibuat, perencanaan, penerapan dan operasi, pemeriksaan, tindakan koreksi dan pencegahan, tinjauan manajemen, serta perbaikan yang berkelanjutan harus lebih diperhatikan oleh manajemen.

VI. IMPLIKASI MANAJERIAL

PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk mempunyai cita-cita yang tersirat pada salah satu kebijakan yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Keamanan, Lingkungan dan Masyarakat yaitu senantiasa menjalankan perusahaan untuk selalu mematuhi undang-undang, peraturan yang berlaku di Indonesia dan standar yang relevan. PT ITP sepatutnya menerapkan SMK3 menurut peraturan dan standar yang ditetapkan. Peran suatu organisasi dalam menerapkan,

mengembangkan, dan mengimplementasikan SMK3 sangatlah penting akan tetapi peran ini akan lebih optimal lagi jika didukung oleh seluruh karyawan PT ITP sehingga diharapkan dapat mencapai target pencapaian yang optimal. Pencapaian target yang optimal dapat dilakukan oleh pihak manajemen dengan terus melakukan perbaikan yang berkelanjutan untuk masalah K3 dan produktivitas kerja karyawan yang menjadi fokus utama pada penelitian ini. Implikasi manajerial disusun untuk membantu manajemen agar pelaksanaan SMK3 bisa lebih baik lagi dan menjaga agar tingkat produktivitas kerja karyawan tetap optimal. Implikasi manajerial ini diberikan berdasarkan tujuan pada penelitian ini yaitu: 1) Pelaksanaan SMK3 Secara keseluruhan, pelaksanaan SMK3 sudah diterapkan dengan baik. Penerapan SMK3 dinilai baik apabila seluruh tujuan dari tiap kriteria yang distandarkan tercapai. Hal yang paling penting dalam penerapan SMK3 adalah tinjauan manajemen. Pada tahap ini, penerapan SMK3 dinilai pencapaiannya dan ditinjau perbaikan kelanjutannya. Agar tahap ini dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sebaiknya pihak manajemen melakukan hal-hal seperti: a. memfasilitasi keluhan karyawan mengenai pelaksanaan SMK3 di PT ITP b. melakukan pendekatan Industrial Clinical Psychology (berdasarkan Teori Miner) untuk meneliti karyawan-karyawan yang tingkat kerjanya menurun karena berkaitan dengan masalah K3 c. meningkatkan kesigapan dalam memperbaiki temuan-temuan yang tidak sesuai dengan standar SMK3, misalnya pada saat karyawan melaporkan adanya unsafe condition dan temuan tidak sesuai saat dilaksanakan audit.

103

2) Efektivitas pelaksanaan SMK3 Pelaksanaan SMK3 di P-11 PT ITP telah dilaksanakan dengan baik, namun ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Hal yang perlu ditingkatkan dapat dilihat dari aspek-aspek berikut ini: a. Publikasi Keselamatan Kerja Publikasi keselamatan kerja sudah dilaksanakan dengan baik, namun terkadang belum memaksimalkan media komunikasi yang ada dengan baik. Media komunikasi yang belum dimaksimalkan dengan baik adalah papan pengumuman. Sebaiknya penggunaan papan pengumuman

dimaksimalkan dengan cara : 1. Letakkan papan pengumuman pada lokasi yang strategis sehingga dapat dilihat oleh banyak karyawan. 2. Isi papan pengumuman dengan hal-hal yang berkaitan dengan SMK3 seperti laporan statistika kecelakaan bulanan, berita tanggap darurat, keadaan K3 di Indonesia dan dunia internasional ataupun mengenai pensosialisasian working permit yaitu prosedur untuk melaksanakan pekerjaan yang berpotensi bahaya. 3. Gunakan hal-hal yang dapat menarik perhatian karyawan, misalkan dengan memvisualisasikan maksud berita menggunakan gambar. 4. Sebaiknya papan pengumuman diperbaharui setiap bulan b. Inspeksi dan Disiplin Inspeksi yang dilakukan selama ini sudah dilaksanakan dengan baik dan terencana. Namun masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh karyawan terhadap peraturan keselamatan dan standar kerja yang sudah ada. Hal ini tentu saja dapat membahayakan karyawan dan bisa merugikan perusahaan. Langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan adalah : 1. Memberikan peringatan dengan cara pendekatan personal. Dengan begitu inspektor dapat mengetahui alasan mengapa karyawan tersebut melanggar peraturan 2. Identifikasi penyebabnya dan mencari solusi terbaik agar pelanggaran tidak dilakukan berulang.

104

3. Apabila pelanggaran masih dilakukan oleh orang yang sama, maka berikan peringatan secara tegas sesuai dengan PKB. c. Pelatihan Keselamatan Kerja Berdasarkan dari pengkajian model SMK3 yang diterapkan maka pelatihan keselamatan kerja yang perlu ditingkatkan adalah pelatihan tentang keadaan darurat. Pelatihan ini sangat penting mengingat besarnya potensi bahaya yang ada di lingkungan PT ITP terutama P-11 yang merupakan plant terbesar. Selama ini pelatihan keselamatan diuji coba minimal 1 kali dalam setahun dan disesuaikan dengan potensi bahaya yang ada di P-11. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah : 1. Semua karyawan harus dipastikan pernah mengikuti pelatihan keselamatan dengan berbagai kondisi keadaan darurat yang meliputi kebakaran, banjir, gempa, dan kebocoran B3. 2. Meningkatkan waspada kondisi darurat yang bisa terjadi sewaktuwaktu. 3. Meningkatkan pelatihan uji coba menjadi minimal 2 kali dalam satu tahun dengan tujuan peningkatan sikap siaga dan intisipasi lupa atau kepanikan. d. Kontrol Lingkungan Kerja Kenyamanan ruang kerja merupakan hal yang penting bagi karyawan. P11 telah melakukan pengawasan yang baik terhadap lingkungan kerja karyawan, namun ada beberapa hal yang masih belum diperhatikan. Misalnya merokok dalam ruangan ber-AC dan ada peringatan “Dilarang Merokok”. Mengingatkan karyawan yang sebagian besar laki-laki tentang bahaya merokok cenderung sulit dilakukan, namun ada beberapa langkah yang dapat ditempuh seperti: 1. Memberikan pengarahan tentang risiko yang dihadapi bila merokok dalam ruangan ber-AC, dan sebaiknya pengarahan tersebut diberikan oleh orang yang tergolong ahli dalam bidang tersebut sehingga karyawan yang mendengarkan dapat percaya pada apa yang disampaikan.

105

2. Bekerja

sama

dengan

dokter

perusahaan

untuk

memberikan

pengarahan secara intensif. 3. Mengingatkan dengan menggunakan artikel-artikel menarik tentang bahaya merokok yang kemungkinan besar dapat diterima oleh karyawan. Meskipun himbauan tersebut belum dapat menghilangkan kebiasaan merokok karyawan namun sekurang-kurangnya dapat menghentikan

kebiasaan merokok dalam kantor. e. Peningkatan Kesadaran K3 Safety Dept. dan unit kerja K3 lainnya memiliki cara yang baik dalam mengingatkan karyawan untuk bekerja mengutamakan K3 sehingga sebagian besar karyawan telah merasakan pentingnya penerapan K3. Pada akhirnya karyawan sadar bahwa K3 dapat melindungi diri dari kecelakaan dan timbulnya penyakit akibat kerja. Akan tetapi kesadaran karyawan belum sepenuhnya tinggi karena ada juga karyawan yang belum memprioritaskan untuk bekerja sesuai dengan standar K3. Kesadaran karyawan dapat ditingkatkan dengan cara : 1. Peningkatan intensitas safety talks yang diberikan oleh atasan. 2. Atasan melakukan pengawasan/kontrol yang intensif dan kontinyu kepada karyawan. 3. Karyawan terus diingatkan pada potensi bahaya yang ada di sekelilingnya, bila perlu gunakan bukti-bukti otentik mengenai kecelakaan yang pernah terjadi. 4. Atasan sebaiknya memberikan contoh yang baik dengan “sadar K3” Jadikan penerapan K3 ini menjadi sebuah budaya kerja yang melekat baik pada lingkungan kerja sehingga karyawan tidak perlu diingatkan lagi tentang pentingnya penerapan K3 dalam bekerja.

3) Pengaruh efektifitas penerapan SMK3 terhadap produktivitas kerja karyawan

106

Dari persamaan regresi diperoleh bahwa IFR dan ISR mempengaruhi produktivitas kerja karyawan maka untuk menjaga agar produktivitas kerja karyawan tetap tinggi maka kecelakaan harus dapat dihindari dengan cara : a. Menggiatkan program K3 agar IFR dan ISR bisa terus dipertahankan pada tingkat nol (0). b. Meningkatkan koordinasi diantara unit-unit kerja yang bertanggung jawab dalam K3. c. Menjelaskan kepada karyawan tentang K3 secara lebih intensif

4) Tingkat produktivitas kerja karyawan Tingkat produktivitas kerja karyawan di P-11 sudah tergolong tinggi karena berada di atas standar yang ditetapkan PT ITP. Dari tahun 2000-2007 hampir selalu mengalami peningkatan meskipun jumlah karyawannya menurun. Untuk menjaga agar produktivitas kerja karyawan tetap tinggi dapat dilakukan pengawasan seperti : a. Pengawasan terhadap kesehatan karyawan P-11 karena dengan karyawan yang sehat maka jam kerja pun dapat terjaga dan lost time dapat dihindari. b. Berikan penyuluhan tentang gizi makanan kepada karyawan agar kondisi tubuh tetap sehat c. Menjaga agar lingkungan kerja tetap nyaman dan kondusif sehingga karyawan dapat bekerja dengan baik d. Periksa peralatan dan perlengkapan kerja secara rutin (misalnya 1 bulan sekali) agar pekerjaan tidak terganggu dan tidak mengakibatkan hal-hal yang merugikan (seperti kebakaran)

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan 1. PT ITP telah menerapkan SMK3 berdasarkan standar OHSAS 18001 dan Permenaker No. 05/MEN/1996. Penerapan SMK3 tersebut, telah terorganisir dengan baik sehingga telah mendapat penghargaan Golden Flag dari PT. Sucofindo (auditor eksternal) selama tiga kali pada tahun 2000, 2003, dan 2006. Tingkat keseringan kecelakaan (Injured Frequency Rate-IFR) dan Tingkat keparahan kecelakaan (Injured Severity Rate-ISR) dari P-11 cenderung menurun hingga tahun 2007 sejak pertama kali beroperasi tahun 2000 dan telah mencapai zero accident pada tahun 2006 dan 2007 2. Berdasarkan persepsi karyawan, pelaksanaan SMK3 di P-11 telah berjalan dengan baik dan efektif mengurangi angka kecelakaan kerja terutama dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Selain itu, Karyawan P11 sangat merasakan manfaat yang besar dari pemeriksaan kesehatan rutin yang diadakan oleh PT ITP 3. Tingkat produktivitas kerja karyawan P-11 PT ITP selalu berada di atas standar yang ditetapkan dan tingkat produktivitas tersebut cenderung meningkat dari tahun 2000-2007 . Hal ini menunjukkan bahwa P-11 telah beroperasi secara efektif dan efisien. 4. Tingkat keseringan kecelakaan (Injured Frequency Rate-IFR) dan tingkat keparahan kecelakaan (Injured Severity Rate-ISR) mempengaruhi produktivitas kerja karyawan namun IFR lebih signifikan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja karyawan dibandingkan ISR. Keduanya berpengaruh negatif sehingga semakin kecil IFR dan ISR maka semakin tinggi tingkat produktivitas kerja karyawan PT ITP.

108

2. Saran 1. Plant 11 PT ITP sebaiknya merumuskan juga standar produktivitas kerja karyawan khusus untuk Plant 11 agar tingkat pencapaian produktivitas kerja tiap karyawan di Plant 11 dapat terlihat berbeda dengan plant yang lainnya, hal ini dikarenakan produktivitas kerja karyawan Plant 11 paling tinggi dan tingkat pencapaiannya jauh berada di atas standar yang telah ditetapkan. 2. Untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya mencari formulasi untuk mengukur tingkat produktivitas kerja karyawan pada perusahaan yang sebagian besar berproduksi dengan mesin-mesin canggih dan berkapasitas besar. 3. Menganalisa lebih lanjut mengenai pengaruh tingkat keparahan

kecelakaan (ISR) terhadap produktivitas kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Almigo, N. 2004. ”The Relation Between Job Satisfaction and The Employees Work Productivity”, Journal of Productivity : 1.50-60 Ilham, R.N. 2002. Analisis Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dengan Motivasi Kerja karyawan di PT Goodyear Indonesia. Skripsi pada Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Arep, I. dan H. Tanjung. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Universitas Trisakti, Jakarta. Dessler, G. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia (Terjemahan, jilid II). Prenhallindo, Jakarta. Indocement. Company Profile. http: //www.indocement.co.id [11 Januari 2008] Ishak, A. 2004. ”Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Kerja”, Jurnal Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jamsostek. Jamsostek Setiap Hari Tangani 349 Kasus Kecelakaan Kerja. http://www.nakertrans.go.id/arsip_berita/naker/jamsostek.php [01 Oktober 2007] Kussriyanto, B. 1986. Meningkatkan Produktivitas Karyawan. PT. Gramedia, Jakarta. Mahardika, R. 2005. Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di PT PLN (Persero) Unit Bisnis Strategis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UBS P3B) Region Jawa Timur dan Bali. Skripsi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Mangkunegara, A. A. A. P. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Mangkuprawira, S. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Ghalia Indonesia, Jakarta Mangkuprawira, S. dan A. Vitayala Hubeis. 2007. Manajemen Mutu Sumber Daya Manusia. Ghalia Indonesia, Bogor. Moenir, A.S. 1997. Pendekatan Manusiawi Dan Organisasi Terhadap Pembinaan Kepegawaian. Haji Mas Agung, Jakarta.

110

Muchdarsyah, S. 2005. Produktivitas Apa Dan Bagaimana. Bumi Aksara, Jakarta. Purnamasari, Y. 2004. Pengaruh Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap Tingkat Kecelakaan dan Produktivitas Kerja Karyawan Pada PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Citeureup Bogor. Skripsi pada Fakultas Ekonomi, Universitas Djuanda, Bogor. Rahmawati, S. dan B. Rahmawati. 2007. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Kepemimpinan dalam Meningkatkan Produktivitas Karyawan PT Bridgestone Tire Indonesia.” Jurnal Manajemen, 3 : 1. 45-54. Razak, M. A. 6 Perusahaan Di Karawang Mendapat Penghargaan Bendera Emas. http://gerbang.jabar.go.id/kabkarawang/index.php?index=16&idberita=258 [01 Oktober 2007] Santoso, G. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta. Sari, S. M. 2007. Analisis Tingkat Kepuasan Karyawan Terhadap Kinerja Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Studi Kasus:National Service Division Workshop Sunter PT Toyota Astra Motor, Jakarta Utara). Skripsi Pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Simanjuntak, P. J. 2001. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Sinungan, M. 2005. Produktivitas Apa dan Bagaimana. Edisi kedua. Bumi Aksara, Jakarta. Sugeng, A. M., dkk. 2005. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Edisi kedua. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Siregar, S. 2004. Statistika Terapan Untuk Penelitian. Grasindo, Jakarta. Suardi, R. 2005. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. PPM, Jakarta. Umar, H. 2003. Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

LAMPIRAN

112

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Rini Riestiany H24104054 “Analisis Efektifitas Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Pengaruhnya Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan di Plant 11 PT Indocement Tunggal Prakarsa, TBk Citeureup Bogor” Pembimbing Prof. DR. Ir. TB Sjafri Mangkuprawira, M.Sc. dan Ratih Maria Dhewi, SP, MM

Kuesioner ini digunakan untuk kebutuhan pengumpulan data pada penelitian tugas akhir mahasiswa program Sarjana Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Tujuan dilaksanakannya penyebaran kuesioner ini adalah untuk mengkaji efektifitas penerapan Sistem Manajemen K3 di PT ITP khususnya di P11. Mengingat arti pentingnya kuesioner ini sebagai data primer dari penelitian ini, maka saya sangat mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk mennjawab secara jujur sesuai dengan kondisi yang dirasakan di Plant 11 PT ITP. Kuesioner ini tidak berpengaruh pada apapun dan dijamin kerahasiaannya. TERIMA KASIH ATAS KESEDIAANNYA UNTUK MENGISI KUESIONER INI Identitas Responden 1. 2. Jenis kelamin Usia : L/P : < 20 tahun 20 - 25 tahun 26 - 30 tahun 31 – 40 tahun 41 tahun 3. Pendidikan Terakhir : SMU dan sederajat S1 4. Masa Kerja : < 3 tahun 3 – 4 tahun S2 Lain-lain......... 5 - 10 tahun 11 - 15 tahun 15 tahun 5. Departemen : Produksi Mekanik Elektrik

113

Lanjutan Lampiran1. Bubuhkanlah tanda ”X” pada kolom penilaian yang telah disediakan. 1. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN No Pernyataaan 1 1. Saya merasa pendidikan dasar K3 bagi karyawan di P-11 PT ITP sudah dilakukan dengan baik Menurut saya, pelatihan K3 untuk pelaksana pekerjaan yang berpotensi bahaya di P-11 PT ITP sudah memenuhi standar yang ditetapkan Saya merasa pelatihan untuk menghadapi keadaan darurat saat kebakaran dan penanggulangan bahayanya sudah memenuhi standar yang ditetapkan Saya dapat merasakan manfaat dari pendidikan dan pelatihan K3 yang diberikan PT ITP khususnya di P-11 sehingga saya lebih aman dalam bekerja Pelatihan yang diberikan oleh Safety Dept. mengenai pertolongan pertama saat kecelakaan sudah dapat saya terapkan dengan baik
sangat tidak setuju sangat tidak setuju sangat tidak setuju

Penilaian 2
tidak setuju

3
Setuju

4
sangat setuju

2.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

3.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

4.

sangat tidak setuju

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

5.

sangat tidak setuju

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

2. PUBLIKASI DAN KONTES KESELAMATAN No Pernyataaan 1 1. Menurut saya, sosialisasi program K3 telah efektif diberikan kepada seluruh karyawan PT ITP khususnya di P-11 Menurut saya, sosialisasi yang baik telah dilakukan oleh Safety Dept tentang penggunaan APD dan alat keselamatan lainnya serta penggunaan alat pemadam kebakaran
sangat tidak setuju sangat tidak setuju

Penilaian 2
tidak setuju

3
Setuju

4
sangat setuju

2.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

114

Lanjutan Lampiran 1. No Pernyataaan 1 3. Menurut saya, safety talks telah efektif dilakukan sehingga karyawan dapat bekerja dengan aman dan nyaman Menurut saya, sosialisasi working permit (prosedur keselamatan untuk karyawan yang melaksanakan pekerjaan berpotensi bahaya) telah dilaksanakan dengan baik di P-11 Bagi saya, rapat Sub P2K3 yang rutin dilakukan tiap bulan sudah efektif dilaksanakan di P-11
sangat tidak setuju sangat tidak setuju

Penilaian 2
tidak setuju

3
Setuju

4
sangat setuju

4.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

5.

sangat tidak setuju

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

3. KONTROL LINGKUNGAN KERJA No Pernyataaan 1 1. Bagi saya, kondisi ruang kerja di P-11 telah memberikan kenyamanan dalam bekerja Saya sangat merasakan manfaat dari pemeriksaan kesehatan yang dilakukan PT ITP secara berkala Saya juga sangat merasakan manfaat yang baik dari kegiatan senam rutin mingguan yang diadakan oleh PT ITP Menurut saya, pengawasan yang baik telah dilakukan oleh Safety Dept. terhadap kondisi alat pemadam kebakaran (APAR, fire truck, dan fire alarm system) dan APD di P-11 Menurut saya, pengawasan yang baik terhadap perlengkapan kerja (ergonomi, monitor komputer, kabel-kabel listrik, dsb) dapat mengurangi potensi bahaya
sangat tidak setuju sangat tidak setuju sangat tidak setuju sangat tidak setuju

Penilaian 2
tidak setuju

3
Setuju

4
sangat setuju

2.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

3.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

4.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

5.

sangat tidak setuju

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

115

Lanjutan Lampiran 1. 4. INSPEKSI DAN DISIPLIN No Pernyataaan 1 1. Menurut saya, inspeksi K3 yang dilakukan oleh Safety Dept. di P-11 telah efektif menjaga karyawan dari kecelakaan Menurut saya, pembentukan satgas pengawas pelaksanaan K3 di P-11 telah efektif dalam mengawasi pelaksanaan K3 Menurut saya, pemberlakuan peraturan serta pemberian sanksi pelanggaran disiplin K3 di P11 telah membuat karyawan sadar akan pentingnya K3 Bagi saya, efektivitas peraturan yang mewajibkan saya untuk menggunakan APD saat bekerja sudah baik dalam mengurangi angka kecelakaan kerja Menurut saya, pemasangan tanda peringatan dan tanda bahaya di instalasi berpotensi bahaya di sekitar P-11 sudah baik, terutama efektivitasnya dalam mengurangi angka kecelakaan kerja
sangat tidak setuju sangat tidak setuju sangat tidak setuju

Penilaian 2
tidak setuju

3
Setuju

4
sangat setuju

2.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

3.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

4.

sangat tidak setuju

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

5.

sangat tidak setuju

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

5. PENINGKATAN KESADARAN K3 No Pernyataaan 1 1. Saya sangat merasakan pentingnya Program K3 khususnya di P-11 Saya sudah termotivasi dengan baik untuk melaksanakan K3 di P-11
sangat tidak setuju sangat tidak setuju

Penilaian 2
tidak setuju

3
Setuju

4
sangat setuju

2.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

116

Lanjutan Lampiran 1. No Pernyataaan 1 3. Menurut saya, Safety Dept memiliki cara yang baik dalam mengingatkan saya untuk bekerja mengutamakan keselamatan Selama bekerja, saya telah memprioritaskan untuk bekerja sesuai standar K3 Menurut saya, PT ITP telah membuat SOP yang baik tentang persyaratan dan prosedur kerja yang sesuai standar K3
sangat tidak setuju sangat tidak setuju sangat tidak setuju

Penilaian 2
tidak setuju

3
Setuju

4
sangat setuju

4.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

5.

tidak setuju

Setuju

sangat setuju

117

Lampiran 2. Tabel Standar SMK3 Standar SMK3 Berdasarkan OHSAS 18001 dan Permenaker No. 05/MEN/1996 OHSAS 18001 Elemen 1 Elemen Ruang lingkup Pasal 1 Permenaker 05/MEN/1996 Pasal Pembangunan dan pemeliharaan komitmen 2 3 Acuan yang diterbitkan Terminologi dan Definisi 2 3 Strategi pendokumentasian Peninjauan ulang desain dan kontrak 4 4.1 4.2 Persyaratan SMK3 Persyaratan umum Kenijakan K3 4 5 6 Pengendalian dokumen Pembelian Keamanan bekerja berdasarkan SMK3 4.3 4.3.1 Perencanaan Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penentuan pengendalian 4.3.2 Undang-Undang dan Persyaratan Lain 4.3.3 Sasaran dan Program 10 9 Pengelolaan perpindahan Pengumpulan dan penggunaan data 4.4 4.4.1 Penerapan dan Operasi Sumber daya, peran, 11 12 Audit SMK3 Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan material dan 7 8 Standar Pemantauan Pelaporan dan Perbaikan

tanggung jawab, tanggung gugat dan wewenang 4.4.3 Komunikasi, partisipasi, dan konsultasi 4.4.3.1 4.4.3.2 4.4.4 Komunikasi Partisipasi dan konsultasi Dokumentasi

118

Lanjutan Lampiran 2. OHSAS 18001 Elemen 4.4.5 Elemen Pengendalian dokumen dan data 4.4.6 4.4.7 Pengendalian Operasional Kesiapan keadaan darurat dan respon 4.5 4.5.1 Pemeriksaan Pengukuran pemantauan 4.5.2 4.5.2.1 Evaluasi dan pemenuhan Konsisten dan komitmen kinerja dan

untuk pemenuhan 4.5.2.2 Organisasi mengevaluasi persyaratan harus pemenuhan lainnya yang

dinyatakan (lihat 4.3.2) 4.5.3 Penyelidikan tindakan ketidaksesuaian, tindakan pencegahan 4.5.4 4.5.5 4.6 Pengendalian rekaman Audit internal Tinjauan Manajemen insiden, korektif, dan

Sumber: QSMR, 2007

119

Lampiran 3. Safety Golden Rules

120

Lampiran 4. Identifikasi Bahaya 1. Sumber Bahaya Bahaya dapat timbul dari peralatan dan perlengkapan yang ada di perusahaan. Secara umum, sumber bahaya yang teridentifikasi dapat menimbulkan kecelakaan di PT ITP adalah a) Mesin dan sarana produksi seperti mesin pons, mesin press, mesin gergaji, mesin bor, crusher, mill, kiln, dryer, separator b) Penggerak mula dan pompa seperti motor bakar, kompressor, pompa air, kipas angin, penghisap udara c) Lift seperti lift untuk orang atau barang baik yang digerakkan dengan tenaga uap, listrik, hidrolik d) Pesawat angkat seperti keran angkat, derek, dongkrak, takel, lir e) Conveyor dan material handling seperti ban berjalan, rantai berjalan, bucket elevator, screw conveyor, air lift, air pump f) Pesawat angkut seperti fork lift, wheel loader, escavator, truck, mobil, gerobak g) Alat transmisi mekanik seperti rantai, gear, v belt h) Perkakas kerja tangan seperti palu, pahat, pisau, kapak i) Pesawat uap dan bejana tekan seperti ketel uap, bejana uap, pemanas air, pengering uap, botol baja, tabung bertekanan j) Peralatan listrik seperti motor listrik, generator, transformator, ornamen listrik, sekering, saklar, kawat penghantar k) Bahan kimia seperti bahan kimia mudah terbakar, meledak atau menguap; beracun, korosif, uap logam l) Debu berbahaya seperti debu yang mudah meledak, debu organik, debu anorganik (asbes), debu silika m) Radiasi dan bahan radioaktif seperti radium, kobalt, sinar ultra, sinar infra n) Faktor lingkungan seperti faktor fisik, kimia, biologis, ergonomis, psikologis o) Bahan mudah terbakar dan benda panas seperti film, minyak, kertas, kapuk, uap & kiln, tungku, pipa hisap p) Binatang seperti serangga, binatang buas, bakteri q) Permukaan lantai kerja seperti lantai, bordes, jalan, pelataran

121

Lanjutan Lampiran 4. 2. Jenis Bahaya Secara umum, jenis dari bahaya atau potensi bahaya dapat terjadi karena adanya keterkaitan dengan kegiatan atau sumber bahaya. Jenis bahaya yang bisa timbul saat bekerja antara lain adalah : a) Membentur, menabrak (pada umumnya karena bergerak, meluncur) b) Terpukul, terbentur (pada umumnya karena pukulan benda yang bergerak) c) Jatuh dari ketinggian d) Jatuh, terpeleset dan terbalik (ketinggian yang sama) e) Tertangkap masuk (tertusuk, tersayat, tergores, terpotong) f) Tertangkap pada (tersangkut, terkait) g) Tertangkap dalam atau diantara (tergigit, terjepit, tertimbun, tenggelam) h) Kontak dengan energi: listrik, panas, dingin, radiasi, bunyi, getaran, petir i) Kontak dengan B3: kebakaran, peledakan, iritasi, korosi, racun; meliputi penghisapan, penyerapan (menunjukkan proses masuknya bahan atau zat berbahaya ke dalam tubuh, baik melalui pencernaan, pernafasan ataupun kulit dan pada umumnya berakibat sesak nafas, keracunan, mati lemas) j) Tekanan, beban, penggunaan berlebihan

3. Kondisi yang berbahaya (unsafe condition) Kondisi berbahaya ditempat kerja antara lain: a) Pengamanan yang tidak sempurna seperti sumber kecelakaan tanpa alat pengaman, atau dengan alat pengaman yang tidak mencukupi atau rusak atau tidak berfungsi b) Peralatan/bahan yang tidak seharusnya seperti mesin, pesawat, peralatan atau bahan yang tidak sesuai atau berbeda dari keharusan/standar, faktor lainnya c) Kecacatan, ketidaksempurnaan seperti kondisi atau keadaan yang tidak semestinya misalnya: kasar, licin, tajam, timpang, aus, retak, rapuh d) Pengaturan, prosedur yang tidak aman seperti pengaturan prosedur yang tidak aman pada atau sekitar sumber kecelakaan, misalnya: penyimpanan, peletakan yang tidak aman, diluar batas kemampuan, pembebanan lebih, faktor psikososial

122

Lanjutan Lampiran 4. e) Penerangan tidak sempurna seperti kurang cahaya, silau f) Ventilasi tidak sempurna seperti pergantian udara segar yang kurang, sumber udara segar yang kurang g) Iklim kerja yang tidak aman seperti suhu udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, kelembaban udara yang berbahaya, faktor biologi h) Tekanan udara yang tidak aman seperti tekanan udara yang tinggi dan yang rendah i) Getaran yang berbahaya seperti getaran frekuensi rendah j) Bising seperti suara yang intensitasnya melebihi nilai ambang batas k) Pakaian, kelengkapan yang tidak aman seperti sarung tangan, respirator, kedok, sepatu keselamatan, pakaian kerja, tidak tersedia atau tidak sempurna/cacat/rusak l) Kejadian berbahaya lainnya seperti bergerak atau berputar terlalu cepat atau terlalu terlambat, peluncuran benda, ketel melendung, konstruksi retak, korosi, kotor

4. Tindakan yang berbahaya (unsafe action) Secara umum tindakan berbahaya meliputi: a) Melakukan pekerjaan tanpa wewenang, lupa mengamankan, lupa memberi tanda peringatan. b) Bekerja dengan kecepatan berbahaya c) Membuat alat pengaman tidak berfungsi (melepas, atau mengubah) d) Memakai peralatan yang tidak aman, tanpa peralatan. e) Memuat, membongkar, menempatkan, mencampur, menggabungkan dan sebagainya dengan tidak aman (proses produksi). f) Mengambil posisi atau sikap tubuh tidak aman (ergonomis). g) Bekerja pada obyek yang berputar atau berbahaya (misalnya: membersihkan, mengatur, memberi pelumas) h) Mengalihkan perhatian, mengganggu, sembrono/dakar, mengagetkan i) Melalaikan penggunaan alat pelindung diri yang ditentukan. j) Dibawah pengaruh obat-obatan.

123

Lampiran 5. Surat Izin Keselamatan Kerja

124

Lampiran 6. Surat Izin Kerja Berbahaya

125

Lampiran 7. Alat Pelindung Diri

126

Lanjutan Lampiran 7.

127

Lanjutan Lampiran 7.

128

Lampiran 8. Safety Rules

129

Lampiran 9. Uji Reliabilitas

Reliability
Warnings The space saver method is used. That is, the covariance matrix is not calculated or used in the analysis.

Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total 30 0 30 % 100.0 .0 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics Cronbach's Alpha .948 N of Items 25

130

Lampiran 10. Analisis Regresi dengan SPSS for Windows 13.0

Regression
Descriptive Statistics Y X1 X2 Mean 4.1457 3.3750 38.6250 Std. Deviation .98056 3.02076 46.07428 N 8 8 8

Correlations Pearson Correlation Y X1 X2 Y X1 X2 Y X1 X2 Y 1.000 -.880 -.809 . .002 .008 8 8 8 X1 -.880 1.000 .876 .002 . .002 8 8 8 X2 -.809 .876 1.000 .008 .002 . 8 8 8

Sig. (1-tailed)

N

a Variables Entered/Removed

Model 1

Variables Entered

Variables Removed

X1

.

Method Stepwise (Criteria: Probabilit y-ofF-to-enter <= .050, Probabilit y-ofF-to-remo ve >= . 100).

a. Dependent Variable: Y

Model Summaryb Model 1 R .880a R Square .774 Adjusted R Square .736 Std. Error of the Estimate .50370 DurbinWatson 1.375

a. Predictors: (Constant), X1 b. Dependent Variable: Y

131

Lanjutan Lampiran 10.
ANOVAb Model 1 Sum of Squares 5.208 1.522 6.731 df 1 6 7 Mean Square 5.208 .254 F 20.528 Sig. .004a

Regression Residual Total

a. Predictors: (Constant), X1 b. Dependent Variable: Y
Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. Error 5.109 .277 -.286 .063 Standardized Coefficients Beta -.880 Collinearity Statistics Tolerance VIF 1.000 1.000

Model 1

(Constant) X1

t 18.418 -4.531

Sig. .000 .004

a. Dependent Variable: Y

Excluded Variablesb Collinearity Statistics Minimum Tolerance VIF Tolerance .233 4.288 .233

Model 1

X2

Beta In -.166a

t -.382

Sig. .718

Partial Correlation -.169

a. Predictors in the Model: (Constant), X1 b. Dependent Variable: Y
a Collinearity Diagnostics

Model 1

Dimension 1 2

Eigenvalue 1.767 .233

Condition Index 1.000 2.752

Variance Proportions (Constant) X1 .12 .12 .88 .88

a. Dependent Variable: Y
Residuals Statisticsa Predicted Value Residual Std. Predicted Value Std. Residual Minimum 2.8250 -.48207 -1.531 -.957 Maximum 5.1094 .82903 1.117 1.646 Mean 4.1457 .00000 .000 .000 Std. Deviation .86257 .46634 1.000 .926 N 8 8 8 8

a. Dependent Variable: Y

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->