P. 1
PERSEPSI WARGA KOTA MEDAN TERHADAP PENGALAMAN BEROBAT DI PENANG, MALAYSIA TAHUN 2007

PERSEPSI WARGA KOTA MEDAN TERHADAP PENGALAMAN BEROBAT DI PENANG, MALAYSIA TAHUN 2007

|Views: 407|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 23, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

PERSEPSI WARGA KOTA MEDAN TERHADAP PENGALAMAN BEROBAT DI PENANG, MALAYSIA TAHUN 2007 SKRIPSI

Oleh: MAWADDAH TSANIYAH 031000014

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

ABSTRAK

Latar belakang penelitian ini didasari atas semakin meningkatnya jumlah pasien di Kota Medan yang berobat ke Penang setiap tahunnya. Diperkirakan bahwa pada tahun 2003 jumlah orang Indonesia yang berobat ke Rumah Sakit Lam Wah Ee (Penang) sekitar 12.000 orang atau sekitar 32 pasien per hari, sedangkan di Rumah Sakit Adventist (Penang) sekitar 14.000 orang atau 38 pasien setiap hari. Angka ini meningkat sampai dengan Juni 2004 menjadi 10.000 orang atau 55 pasien per hari. Lebih lanjut diperkirakan bahwa rata-rata 1000 orang warga Medan berobat ke Penang setiap bulannya dan dilaporkan bahwa setiap tahunnya negara itu mendapat devisa sekitar 400 juta dollar AS atau 4 triliun rupiah dari warga yang berobat. Oleh sebab itu ingin diketahui bagaimana persepsi informan yang pernah berobat ke Penang melalui pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 10 informan diketahui bahwa riwayat penyakit yang diderita informan sebelum ke Penang sangat bervariasi. Pada umumnya informan mengambil tindakan pengobatan ke Penang atas anjuran dari teman dan atau keluarga. Persepsi informan tentang pelayanan di Penang sangat baik dibandingkan dengan pelayanan kesehatan di Medan. Selain biayanya yang murah, sikap dokter dan perawat sangat baik dan ramah. Fasilitas rumah sakit juga sangat lengkap dan canggih. Diagnosa penyakit jelas dan akurat berdasarkan pemeriksaaan laboratorium. Informan merasa sangat puas berobat di Penang. Semakin tingginya keinginan masyarakat untuk berobat ke Penang diharapkan menjadi pembelajaran bagi Rumah Sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan di Medan untuk lebih meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan. Sehingga penduduk di Kota Medan tidak lagi berobat ke Penang.

Kata Kunci : Persepsi, Pasien Kota Medan, Penang

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Tempat/ Tanggal Lahirt Agama Status Perkawinan Jumlah Anggota Keluarga Anak ke Alamat Rumah

: Mawaddah Tsaniyah : Medan/ 10 Agustus 1984 : Islam : Belum Nikah : 7 orang : 1 dari 5 bersaudara : Jalan Surya Haji No. 114 Desa Lau Dendang Kab. Deli Serdang

Riwayat Pendidikan

: 1. SDN 10 Rantau Prapat Tahun 1991-1997 2. SLTPN 1 Tebing Tinggi Tahun 1997-2000 3. SMUN 1 Medan Tahun 2000-2003 4. Fakultas Kesehatan Masyarakat USU 2003-2007

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Daftar Isi Abstrak ………………………………………………………………... i Daftar Riwayat Hidup ………………………………………………… ii Daftar Isi ……………………………………………………………….. iii Daftar Tabel .............................................................................................. v BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ........................................................................ 1.2. Perumusan Masalah ................................................................ 1.3. Tujuan Penelitian .................................................................... 1.3.1. Tujuan Umum .......................................................... 1.3.2. Tujuan Khusus ......................................................... 1.4. Manfaat Penelitian .................................................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Persepsi ................................................................. 2.2. Konsep Perilaku ...................................................................... 2.2.1. Domain Perilaku ...................................................... 2.2.2. Determinan Perilaku Kesehatan .............................. 2.3. Persepsi Masyarakat Tentang Sehat-Sakit dan Perilaku Sakit 2.4. Teori Tentang Penggunaan Pelayanan Kesehatan ................. 2.4.1. Teori Anderson ....................................................... 2.4.2. Model Kepercayaan Kesehatan .............................. 2.4.3. Theory of Reasoned Action (TRA) ........................ 2.5. Aspek Sosial Budaya Dalam Pencarian Pelayanan Kesehatan 2.5.1. Faktor Sosial Dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan ………………………………………... 2.5.2. Faktor Budaya Dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan ………………………………………... 2.5.3. Reaksi dalam Proses Mencari Pengobatan ………. 2.6. Standar Pelayanan Kesehatan ……………………………… 2.6.1. Pelayanan Prima di Bidang Kesehatan .................. 2.7. Rumah Sakit Sebagai Industri Jasa Pelayanan Kesehatan … 2.7.1. Kepuasan Pelanggan (Pasien) …………………… 2.7.2. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pasien ………….. 2.8. Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan ……………………… 2.8.1. Perspektif Mutu Pelayanan Kesehatan .................. 2.8.2. Pembiayaan Kesehatan .......................................... 2.9. Kerangka Konsep .................................................................

1 5 5 5 5 6

7 9 9 12 14 16 17 17 19 19 20 20 20 21 23 24 26 30 31 32 33 37

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ..................................................................... 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ 3.3. Pemilihan Informan .............................................................. 3.4. Metode Pengumpulan Data .................................................. 3.5. Defenisi Operasional ............................................................. 3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data ................................. BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ……………………..... 4.2. Matriks Karakteristik Informan ............................................ 4.3. Riwayat Penyakit yang Diderita Pasien Sebelum Berobat ke Penang .............................................................................. 4.4. Orang yang Menganjurkan Informan Berobat ke Penang ................................................................................... 4.5. Hal yang Melatarbelakangi Informan pada Akhirnya dalam Pengambilan Tindakan Berobat ke Penang, Malaysia ............................................................................... 4.6. Persepsi tentang Pelayanan Kesehatan di Medan ................ 4.7. Persepsi Informan tentang Pelayanan di Penang …………. 4.8. Perbandingan Biaya Pengobatan di Medan dan di Penang .. 4.9. Kepuasan yang Paling Dirasakan Informan Setelah Berobat di Penang ............................................................... 4.10. Kodisi Kesehatan Informan Sekarang …………………... BAB V PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Informan ........................................................ 5.2. Riwayat Penyakit yang Diderita Pasien Sebelum Berobat ke Penang ............................................................................ 5.3. Orang yang Menganjurkan Informan Berobat ke Penang .. 5.4. Hal yang Melatarbelakangi Informan pada Akhirnya dalam Pengambilan Tindakan Berobat ke Penang, Malaysia .............................................................................. 5.5. Persepsi tentang Pelayanan Kesehatan di Medan .......... .... 5.6. Persepsi Informan tentang Pelayanan di Penang ……........ 5.7. Perbandingan Biaya Pengobatan di Medan dan di Penang 5.8. Kepuasan yang Paling Dirasakan Informan Setelah Berobat di Penang ............................................................... 5.9. Kodisi Kesehatan Informan Sekarang ................................. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan .......................................................................... 6.2. Saran .....................................................................................

38 38 38 38 39 40

42 44 45 49

51 54 56 60 62 64

67 68 69

70 72 73 75 77 78

80 81

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN - Pedoman Wawancara - Output Hasil Penelitian Ez-Text

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Informan yang Berobat ke Penang, Malaysia ..... 43 Tabel 4.2 Distribusi Riwayat Penyakit Informan Sebelum Berobat ke Penang …… 44 Tabel 4.2.1 Distribusi Jenis Penyakit Informan Sebelum Berobat ke Penang, Lama Menderita, Lama Berobat........................................................ 47 Tabel 4.3 Distribusi Orang yang Menganjurkan Informan Berobat ke Penang......... 48 Tabel 4.4 Distribusi Hal yang Melatarbelakangi Informan pada Akhirnya dalam Pengambilan Tindakan Berobat ke Penang ............................................... 51 Tabel 4.5 Distribusi Persepsi Informan tentang Pelayanan Kesehatan di Medan..... 53 Tabel 4.6 Distribusi Persepsi Informan tentang Pelayanan di Penang ..................... 56 Tabel 4.7 Distribusi Perbandingan Pengobatan di Medan dan di Penang................. 59 Tabel 4.8 Distribusi Kepuasan yang Paling Dirasakan Informan Setelah Berobat di Penang........................................................................................................ 61 Tabel 4.9 Distribusi Kondisi Kesehatan Informan Sekarang .................................. 63

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sistem Kesehatan Nasional merupakan penyebaran dari pola atau arah strategi pembangunan di bidang kesehatan. Tujuan pembangunan di bidang kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara merata dan adil serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. (Depkes RI, 1999) Untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat banyak hal yang perlu dilakukan. Salah satu diantaranya yang dipandang mempunyai peranan yang penting ialah menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Adapun yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok, dan atau pun masyarakat. (Azwar, 1996)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Dipandang dari segi fisik persebaran sarana pelayanan kesehatan (yankes) baik Puskesmas maupun Rumah Sakit serta sarana kesehatan lainnya termasuk sarana penunjang upaya pelayanan kesehatan, telah dapat dikatakan merata ke seluruh pelosok di wilayah Indonesia, namun harus diakui bahwa persebaran tersebut masih belum diikuti sepenuhnya dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Mutu pelayanan klinik di Indonesia masih jauh dari harapan. Pelayanan rumah sakit kita sering dinilai belum memanusiakan manusia. Pasien sering mengeluh karena pelayanan lambat, perawat tidak ramah, cerewet, tidak bersahabat dan tidak informatif. Sebagian dokter, terutama dokter spesialis terlalu sibuk, dan terlalu banyak pasien sehingga sering terlihat antrian pasien yang panjang. Waktu untuk berkonsultasi dengan dokter sangat terbatas, dokter umumnya tidak mempunyai waktu yang banyak untuk mendengarkan keluhan pasien sehingga pasien tidak puas. Maraknya tuduhan malpraktek terhadap dokter belakangan ini, tidak jarang terjadi akibat perilaku dokter yang kurang menghargai hak pasien dan informasi yang diperoleh juga kurang jelas dan kurang lengkap. (Emalian, 2006) Menurut Kartono, yang dikutip oleh Sukma, 2007, mengatakan bahwa mayoritas keluhan pasien terhadap dokter adalah terjadinya miskomunikasi, atau kesalahpahaman akibat dokter tidak pandai berkomunikasi, dapat disebabkan faktor sibuk, terlalu tinggi hati melayani pasien atau berusaha menutupi ketidaktahuannya. Begitu juga yang dikatakan pakar hukum kedokteran Atmadja bahwa gugatan pasien jarang terjadi akibat apa yang mereka dapatkan atau tidak dapat dalam

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

pelayanan, tetapi lebih banyak pada rasa tidak puas atas cara mereka diperlakukan. (Sukma, 2007) Berobat ke luar negeri bukan lagi barang mewah bagi warga negara Indonesia, khususnya Kota Medan. Dari sekadar check up sampai memeriksakan penyakit yang sangat parah, sudah banyak dilakukan masyarakat Indonesia. Beberapa tahun terakhir ini berobat ke luar negeri memang bukan lagi menjadi dominasi kalangan masyarakat menengah ke atas. Sejak marak terjadi kasus malpraktik di Indonesia, banyak pasien yang memilih berobat ke sejumlah negara tetangga karena pelayanan rumah sakit di negara-negara yang berdekatan dengan Indonesia itu dipandang lebih prima. (Anonim,2004) Berdasarkan Draft SKP (Survei Kesehatan Propinsi) Sumatera Utara, 2005 menyebutkan bahwa setiap tahunnya dilaporkan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang berobat ke luar negeri (Penang/Malaysia dan Singapura). Pada tahun 2003 jumlah orang Indonesia yang berobat ke Rumah Sakit Lam Wah Ee (Penang) sekitar 12.000 orang atau sekitar 32 pasien per hari, sedangkan di Rumah Sakit Adventist (Penang) sekitar 14.000 orang atau 38 pasien setiap hari. Angka ini meningkat sampai dengan Juni 2004 menjadi 10.000 orang atau 55 pasien per hari. Lebih lanjut diperkirakan bahwa rata-rata 1000 orang warga Medan berobat ke Penang setiap bulannya dan dilaporkan bahwa setiap tahunnya negara itu mendapat devisa sekitar 400 juta dollar AS atau 4 triliun rupiah dari warga yang berobat. (Rambe, 2006) Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rambe dalam analisa situasi Pelayanan Kesehatan di Sumut pada Draft SKP (Survei Kesehatan Propinsi)
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Sumatera Utara, dan juga hasil penelitian oleh tim peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera tahun 2005, tentang beberapa faktor penyebab dan dampak meningkatnya minat masyarakat berobat ke luar negeri mengemukakan diantaranya faktor utama yaitu faktor internal yang meliputi ; a) keyakinan akan kemampuan dokter untuk mengatasi penyakit atau masalah yang diderita (36,50%), b) percaya akan akurasi diagnosis yang diberikan dokter luar negeri (30,50%), c) transparansi hasil diagnosis (30,0%), d) butuh pelayanan prima (32,50%), dan e) merasa lebih cepat sembuh (42,50%). Faktor eksternal meliputi ; a) fasilitas dan teknologi rumah sakit/pelayanan kesehatan lebih canggih dan modern (34,00%), b) pelayanan yang diberikan lebih baik (31,00%), c) layanan satu paket (26,50%), d) penanganan terhadap pasien lebih cepat (30,00%), e) biaya lebih murah (26,50%), f) keramahtamahan/keterampilan tenaga medis yang lebih baik (36,50%),

g) rekomendasi dokter dalam negeri (38,00%). (Zulfendri, 2006) Salah seorang pasien, pria bermarga Sinukaban kepada Analisa mengaku, dia merasa puas dengan sistem pelayanan dan kepastian perobatan di luar negeri, karena menurutnya, selain pelayanan kesehatan di sana sangat baik, ditambah lagi adanya kepastian penyakit yang diderita dan obat yang diberikan.“Bayangkan, saya sudah habis hampir Rp70 juta berobat di dalam negeri tentang ganjalan di dalam perut ini, tapi tak sembuh dan tak tahu apa penyakitnya. Tapi diluar negeri saya datang sekali berobat penyakit ini langsung sembuh dan sekarang tinggal check up kedua kalinya,” katanya. (Analisa, 24 April 2006)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Selain itu seorang pasien lagi, Dian dari Medan, yang hadir dan bersaksi dalam Diskusi Panel “Kajian Kesiapan Rumah Sakit Menghadapi Era Globalisasi” di Jakarta, 2004, menuturkan, sejak 1994 Dian sudah merasakan sesak dan berkonsultasi dengan ahli penyakit dalam. Oleh dokter di Medan dikatakan kemungkinan ada penyakit jantung. Pengobatan yang diberikan tidak menyembuhkan malah memperparah. Atas desakan anak-anaknya, pada tahun 2002, Ibu Dian berangkat ke Penang, Malaysia, untuk memeriksakan kesehatannya yang semakin menurun. “Baru saja masuk di rumah sakit Island Hospital, Penang, saya sudah merasakan kesembuhan. Pelayanannya bagus, saya diantarkan langsung oleh perawat untuk general check-up. Biayanya 600 ringgit Malaysia. Hasil dari check-up menunjukkan bahwa usus dan empedu saya sudah rusak dan dianjurkan untuk operasi. Saya stres dan diberikan ruangan khusus yang pelayanannya intensif. Akhirnya saya dioperasi dan ditemukan 42 batu di empedu dan usus saya. Setelah batu-batu diangkat kondisi saya berangsur pulih. Saya menghabiskan dana 18 juta rupiah untuk seluruh biaya dari pengobatan, dokter, dan operasi,” paparnya.(Analisa, 24 April 2006) Berdasarkan permasalahan tersebut di atas penulis tertarik untuk meneliti Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat di Penang, Malaysia. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi permasalahan adalah bagaimana Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat di Penang, Malaysia. 1.3. Tujuan
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat di Penang, Malaysia. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui faktor internal yang mempengaruhi warga Kota Medan berobat ke Penang, Malaysia, antara lain umur, pendidikan, penghasilan, dan jenis kelamin. 2. Untuk mengetahui faktor eksternal yang mempengaruhi warga Kota Medan mengambil tindakan pengobatan ke Penang, Malaysia, diantaranya ada tidaknya rekomendasi dari dokter dalam negeri, ada tidaknya anjuran dari pihak keluarga, serta kualitas pelayanan di rumah sakit sebelumnya. 3. Untuk mengetahui persepsi warga Kota Medan yang berobat ke Penang, Malaysia, tentang pelayanan (sikap dokter, sikap perawat, hasil diagnosis, fasilitas dan teknologi rumah sakit, biaya pengobatan, dan kepuasan yang mereka terima. 1.4. Manfaat Penelitian 1. Sebagai masukan bagi salah satu Rumah Sakit Umum di Medan untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien agar pasien tidak berobat lagi ke luar negeri. 2. Sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan baik dari kalangan akademis, masyarakat, dan peneliti.

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

3. Sebagai masukan bagi dokter di Medan untuk lebih meningkatkan kualitas dan kemampuannya dalam mengobati pasien agar pasien tidak berobat lagi ke luar negeri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Persepsi Persepsi adalah stimulus yang ditangkap oleh pancaindera individu, lalu diorganisasikan dan kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari dan mengerti apa yang diindra itu. Selain itu ada yang berpendapat bahwa persepsi adalah keseluruhan proses mulai dari stimulus (rangsangan) yang diterima pancaindra kemudian stimulus diantar ke otak dimana ia diartikan dan selanjutnya mengakibatkan pengalaman yang disadari. (Maramis, 2006) Menurut Rahmat, 2000 bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Atau dengan kata lain persepsi adalah memberi makna pada
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

stimuli inderawi (sensori stimuli). Dalam menafsirkan makna inderawi melibatkan sensasi, atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. Menurut Notoatmodjo, 2005, ada banyak faktor yang akan menyebabkan stimulus masuk dalam rentang perhatian seseorang. Faktor tersebut dibagi menjadi 7 dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang melekat pada objeknya, sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat pada orang yang mempersepsikan stimulus tersebut. a. Faktor eksternal 1. Kontras Cara termudah untuk menarik perhatian adalah dengan membuat kontras baik pada warna, ukuran, bentuk, atau gerakan. 2. Perubahan intensitas Suara yang berubah dari pelan menjadi keras, atau cahaya yang berubah dengan intensitas tinggi akan menarik perhatian seseorang. 3. Pengulangan (repetition) Dengan pengulangan, walaupun pada mulanya stimulus tersebut tidak masuk dalam rentang perhatian kita, maka akan mendapat perhatian kita. 4. Sesuatu yang baru (novelty) Suatu stimulus yang baru akan lebih menarik perhatian kita daripada sesuatu yang telah kita ketahui. 5. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Suatu stimulus yang menjadi perhatian orang banyak akan menarik perhatian seseorang. b. Faktor internal 1. Pengalaman/pengetahuan Pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan stimulus yang kita peroleh. Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari akan menyebabkan terjadinya perbedaan interpretasi. 2. Harapan atau expectation Harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi terhadap stimulus 3. Kebutuhan Kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginterpretasikan stimulus secara berbeda. Misalnya seseorang yang mendapatkan undian sebesar 25 juta akan merasa banyak sekali jika ia hanya ingin membeli sepeda motor, tetapi ia akan merasa sangat sedikit ketika ia ingin membeli rumah. 4. Motivasi Motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang. Seseorang yang termotivasi untuk menjaga kesehatannya akan menginterpretasikan rokok sebagai sesuatu yang negatif. 5. Emosi

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Emosi seseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus yang ada. Misalnya seseorang yang sedang jatuh cinta akan mempersepsikan semuanya serba indah. 6. Budaya Seseorang dengan latar belakang budaya yang sama akan menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun akan

mempersepsikan orang-orang di luar kelompoknya sebagai sama saja. 2.2 Konsep Perilaku 2.2.1 Domain Perilaku Menurut Bloom yang dijabarkan Notoatmodjo (2005), ada tiga domain

perilaku, yakni kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (tindakan). 1. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dsb). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu : a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu. b. Memahami (comprehension)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi harus mampu menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. c. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. d. Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan , kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimilikinya. f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.

2. Sikap

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat atau emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik dan sebagainya). Menurut Allport (1954), sikap terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu : a. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek. b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek. c. Kecendrungan untuk bertindak (tend to behave). Sikap memiliki tingkatan berdasarkan intensitasnya, yaitu : a. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). b. Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban pertanyaan atau objek yang dihadapi. c. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi merespons. d. Bertangggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggungjawab terhadap apa yang telah diyakininya.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

atau tanggapan terhadap

atau menganjurkan orang lain

3. Tindakan Sikap adalah kecendrungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu sarana dan prasarana. Praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yaitu : a. Praktik terpimpin (guide response) Apabila seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntunan atau menggunakan panduan. b. Praktik secara mekanisme (mechanism) Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan sesuatu hal secara otomatis. c. Adopsi (adoption) Adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang, artinya apa yang sudah dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan yang berkualitas. 2.2.2 Determinan Perilaku Kesehatan Perilaku seseorang atau subjek dipengaruhi oleh faktor-faktor baik dari dalam atau luar subjek. Faktor yang menentukan atau membentuk perilaku disebut determinan. Banyak teori tentang determinan perilaku ini. Dalam bidang perilaku kesehatan ada tiga teori yang sering menjadi acuan dalam penelitian kesehatan masyarakat. Ketiga teori tersebut adalah :
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

a. Teori Lawrence Green Green membedakan ada dua determinan masalah kesehatan yaitu behavioral (faktor perilaku) dan non behavioral factors (faktor non perilaku). Faktor perilaku itu sendiri ditentukan oleh 3 faktor utama yaitu : 1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors) Yaitu faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, nilai-nilai tradisi, keyakinan, dan sebagainya. 2. Faktor-faktor pemungkin (enabling factors) Yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan yaitu adanya sarana dan prasarana antara lain puskesmas, rumah sakit, tempat pembuangan sampah, tempat olahraga, makanan bergizi, dan sebagainya. 3. Faktor-faktor penguat (reinforcing factors) Yaitu faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku, yang terwujud dalam sikap dan tindakan petugas kesehatan. b. Teori Snehandu B. Karr Karr mengidentifikasi 5 determinan perilaku, yaitu : 1. Adanya niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek atau stimulus dari luar dirinya.

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

2. Adanya dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support). Di dalam kehidupan seseorang di masyarakat, perilaku orang tersebut cenderung memerlukan legitimasi dari masyarakat di sekitarnya. 3. Terjangkaunya informasi (accessibility of information), adalah tersedianya informasi-informasi terkait dengan tindakan yang diambil oleh seseorang. 4. Adanya ekonomi atau kebebasan pribadi (personnal autonomy) untuk mengambil keputusan. 5. Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action situation). Untuk bertindak apapun diperlukan suatu kondisi dan situasi yang tepat. c. Teori WHO Teori WHO menyatakan bahwa ada 4 determinan seseorang berperilaku, yaitu 1. Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling). 2. Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (personnal references). 3. Sumber daya (resources) yang tersedia merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. 4. Sosiobudaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku seseorang. 2.3 Persepsi Masyarakat Tentang Sehat-Sakit dan Perilaku Sakit Pandangan orang tentang kriteria tubuh sehat atau sakit sifatnya tidaklah selalu objektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektivitasnya dalam menentukan
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsur sosial budaya. Sebaliknya petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang objektif berdasarkan simptom yang nampak guna mendiagnosa kondisi fisik seorang individu. Perbedaan persepsi antara masyarakat dan petugas kesehatan inilah yang sering menimbulkan masalah dalam melaksanakan program kesehatan. (Sarwono, 2004) Secara ilmiah penyakit (desease) diartikan sebagai gangguan fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi fungsi

atau tekanan dari

lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya, sakit (illness) adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit. Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah segala tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri, penjagaan kebugaran melalui olahraga dan makanan bergizi. Perilaku sehat ini dipertunjukkan oleh individu-individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. (Sarwono, 2004) Menurut Mechanic yang dijabarkan oleh Sarwono, 2004, menjelaskan bahwa terjadi proses dalam diri individu sebelum dia menentukan untuk mencari upaya pengobatan. Banyak faktor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit, antara lain :
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

a. Dikenalinya atau dirasakannnya gejala-gejala atau tanda-tanda menyimpang dari keadaan biasa.

yang

b. Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya. c. Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja, dan dalam kegiatan sosial lainnya. d. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya. e. Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu atau kemungkinan individu untuk diserang penyakit itu. f. Informasi, pengetahuan, dan asumsi budaya tentang penyakit itu. g. Perbedaan interperetasi terhadap gejala yang dikenalnya. h. Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku untuk mengatasi gejala sakit tersebut. i. Tersedianya sarana kesehatan, kemudahan mencapai sarana tersebut, tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu, takut, dsb). 2.4 Teori Tentang Penggunaan Pelayanan Kesehatan Menurut Levey dan Loombo yang dijabarkan oleh Azrul Azwar tahun 1996, menyatakan bahwa pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Dalam mencapai kesejahteraan dan pemeliharaan penyembuhan penyakit sangat diperlukan pelayanan kesehatan yang bermutu dimana tanpa adanya pelayanan kesehatan yang bermutu dan menyeluruh di wilayah Indonesia ini tidak akan tercapai derajat kesehatan yang optimal. (Azwar, 1996) Dari beberapa hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan polapola penggunaan pelayanan kesehatan pada beberapa daerah. Hal ini tidak dapat dijelaskan hanya karena adanya perbedaan morbidity rate atau karakteristik

demografi penduduk, tetapi faktor-faktor sosial budaya atau faktor-faktor penting yang menyebabkan tidak digunakannya fasilitas kesehatan. Penggunaan pelayanan kesehatan tidak perlu diukur hanya dalam hubungannya dengan individu tetapi dapat diukur berdasarkan unit keluarga. (Sarwono, 2004) 2.4.1 Teori Anderson Menurut teori Anderson , ada tiga faktor yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan yaitu : 1. Mudahnya menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan 2. Adanya faktor-faktor yang menjamin terhadap pelayanan kesehatan yang ada 3. Adanya kebutuhan pelayanan kesehatan 2.4.2 Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model) HBM telah berkembang di tahun 1950 oleh para ahli psikologi sosial. Berkembangnya pelayanan kesehatan masyarakat akibat kegagalan dari orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider. (Glanz, 2002)
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Ada 5 variabel yang menyebabkan seseorang mengobati penyakitnya : 1. Kerentanan yang dirasakan (perceived susceptibility) Persepsi seseorang terhadap resiko dari suatu penyakit. Agar seseorang bertindak untuk mengobati atau mencegah penyakitnya, ia harus merasakan bahwa ia rentan terhadap penyakit tersebut. 2. Keparahan yang dirasakan (perceived seriousness) Tindakan seseorang dalam pencarian pengobatan dan pencegahan penyakit dapat disebabkan karena keseriusan dari suatu penyakit yang dirasakan misalnya dapat menimbulkan kecacatan, kematian, atau kelumpuhan, dan juga dampak sosial seperti dampak terhadap pekerjaan, kehidupan keluarga, dan hubungan sosial. 3. Keuntungan yang dirasakan (perceived benefits) Penerimaan seseorang terhadap pengobatan penyakit dapat disebabkan karena keefektifan dari tindakan yang dilakukan untuk mengurangi penyakit. Faktor lainnya termasuk yang tidak berhubungan dengan perawatan seperti, berhenti merokok dapat menghemat uang. 4. Hambatan yang dirasakan (perceived barriers) Dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakan pencegahan penyakit akan

mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Pada umumnya manfaat tindakan lebih menentukan daripada rintangan atau hambatan yang mungkin ditemukan dalam melakukan tindakan tersebut. 5. Isyarat atau tanda-tanda untuk bertindak (cues to action)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Kesiapan seseorang

akibat kerentanan dan manfaat yang dirasakan dapat

menjadi faktor yang potensial untuk melakukan tindakan pengobatan. Selain faktor lainnya seperti faktor lingkungan, media massa, atau anjuran dari keluarga, teman-teman dan sebagainya. 6. Keyakinan akan diri sendiri (self efficacy) Kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya dalam pengambilan tindakan. (Glanz, 2002)

2.4.3 Theory of Reasoned Action (TRA) TRA pertama kali diperkenalkan pada tahun 1967 untuk melihat hubungan keyakinan, sikap, niat dan perilaku. Fishbein, 1967 mengembangkan TRA ini dengan sebuah usaha untuk melihat hubungan sikap dan perilaku. (Glanz, 2002) Faktor yang paling penting dalam seseorang berperilaku adalah adanya niat. Niat akan ditentukan oleh sikap seseorang. Dan sikap ditentukan oleh keyakinan seseorang akibat dari tindakan yang akan dilakukan. Diukur dengan evaluasi terhadap masing-masing akibat. Jadi, seseorang yang memiliki keyakinan yang kuat akan akibat dari tindakan yang dilakukan secara positif akan menghasilkan sikap yang positif pula. Sebaliknya jika seseorang tidak yakin akan akibat dari perilaku yang dilakukan dengan positif akan menghasilkan sikap yang negatif. (Glanz, 2002)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Niat seseorang untuk berperilaku juga dapat dipengaruhi oleh norma individu dan motivasi untuk mengikuti. Norma individu dapat dipengaruhi oleh norma-norma atau kepercayaan di masyarakat. 2.5 Aspek Sosial Budaya Dalam Pencarian Pelayanan Kesehatan Walaupun jaminan kesehatan dapat membantu banyak orang yang berpenghasilan rendah dalam memperoleh perawatan yang mereka butuhkan, tetapi ada alasan lain disamping biaya perawatan kesehatan, yaitu adanya celah diantara kelas sosial dan budaya dalam penggunaan pelayanan kesehatan. (Sarafino, 2002) Seseorang yang berasal dari kelas sosial menengah ke bawah merasa diri mereka lebih rentan untuk terkena penyakit dibandingkan dengan mereka yang berasal dari kelas atas. Dan sebagai hasilnya mereka yang berpenghasilan rendah lebih tidak mungkin untuk mencari pencegahan penyakit. (Sarafino, 2002) 2.5.1 Faktor Sosial Dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan a. Cenderung lebih tinggi pada kelompok orang muda dan orang tua b. Cenderung lebih tinggi pada orang yang berpenghasilan tinggi dan berpendidikan tinggi c. Cenderung lebih tinggi pada kelompok Yahudi dibandingkan dengan penganut agama lain. d. Persepsi sangat erat hubungannya dengan penggunaan pelayanan kesehatan. 2.5.2 Faktor Budaya Dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan Faktor kebudayaan yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan diantaranya adalah :
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

a. Rendah penggunaan pelayanan kesehatan pada suku bangsa terpencil. b. Ikatan keluarga yang kuat lebih banyak menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan. c. Meminta nasehat dari keluarga dan teman-teman. d. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit. Dengan asumsi jika pengetahuan tentang sakit meningkat maka penggunaan pelayanan kesehatan juga meningkat. e. Sikap dan kepercayaan masyarakat terhadap provider sebagai pemberi pelayanan kesehatan. 2.5.3 Reaksi Dalam Proses Mencari Pengobatan Menurut Suchman yang dijabarkan oleh Sarwono tahun 2004, menganalisa pola proses pencarian pengobatan dari segi individu maupun petugas kesehatan. Menurut pendapatnya, pengobatan: 1. Shopping, adalah proses mencari alternatif sumber pengobatan guna menemukan seseorang yang dapat memberikan diagnosa dan pengobatan sesuai dengan harapan si sakit. 2. Fragmentation adalah proses pengobatan oleh beberapa fasilitas kesehatan pada lokasi yang sama. Contoh : berobat ke dokter sekaligus ke sinse dan dukun. 3. Procrastination ialah proses penundaan pencarian pengobatan meskipun gejala penyakitnya sudah dirasakan.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

terdapat lima macam reaksi dalam proses mencari

4. Self medication adalah proses pengobatan sendiri

dengan menggunakan

berbagai ramuan atau obat-obatan yang dinilainya tepat baginya. 5. Discontinuity adalah proses penghentian pengobatan. 2.6 Standar Pelayanan Kesehatan Standar pelayanan kesehatan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan dan akan memainkan peranan yang penting dalam mengatasi masalah mutu pelayanan kesehatan. (Imbalo, 2003) Apabila suatu organisasi pelayanan kesehatan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu secara taat azas atau konsisten, maka keinginan tersebut harus dijabarkan menjadi suatu Standar Pelayanan Kesehatan atau Standar Prosedur Operasional. Secara luas pengertian Standar Pelayanan Kesehatan ialah suatu pernyataan tentang mutu yang diharapkan , yaitu akan menyangkut masukan, proses, dan luaran atau outcome sistem pelayanan kesehatan. Standar Pelayanan Kesehatan merupakan suatu alat organisasi untuk menjabarkan mutu ke dalam terminologi operasional, sehingga semua orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan akan terlibat dalam suatu sistem, baik pasien, penyedia pelayanan kesehatan, penunjang pelayanan kesehatan ataupun pengelolaan pelayanan kesehatan dan akan bertanggunggugat dalam melaksanakan tugas dan perannya masing-masing.(Imbalo, 2003) Dikalangan profesi pelayanan kesehatan sendiri terdapat berbagai defenisi tentang Standar Pelayanan Kesehatan. Kadang-kadang Standar Pelayanan Kesehatan

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

diartikan sebagai Protokol, Standar Proses Operasional (SPO) dan Petunjuk Pelaksanaan. 1. Petunjuk Pelaksanaan ialah pernyataan dari para ahli yang akan merupakan rekomendasi untuk dijadikan suatu prosedur. Petunjuk pelaksanaan digunakan sebagai referensi teknis yang luwes dan menjelaskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh pemberi pelayanan kesehatan dalam kondisi klinis tertentu, seperti Petunjuk Pelaksanaan dalam menghadapi pasien infark myokard. 2. Protokol ialah ketentuan rinci dari pelaksanaan suatu proses atau penatalaksanaan suatu kondisi klinis. Protokol lebih ketat daripada Petunjuk Pelaksanaan. 3. Standar Prosedur Operasional (SPO) adalah pernyataan tentang harapan bagaimana petugas kesehatan melakukan suatu kegiatan yang bersifat

adminstratif, misalnya Standar Prosedur Operasional pasien masuk rawat inap, pembelian bahan habis pakai, penyimpanan dan pengeluaran rekam medis pasien, dll.

2.6.1 Pelayanan Prima Bidang Kesehatan Pelayanan prima (Excellent Service) menurut pengertian ”pelayanan” yang berarti usaha melayani kebutuhan orang lain sedangkan ”prima” berarti bermutu tinggi dan memuaskan. Sehingga pelayanan prima adalah usaha melayani kebutuhan orang lain dengan mengutamakan mutu dan kepuasan orang lain. (Wijono, 1999)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Unsur-unsur pelayanan prima antara lain adalah (1) kesederhanaan, (2) kejelasan dan kepastian, (3) keamanan, (4) keterbukaan, (5) efesien, (6) ekonomis, (7) keadilan yang merata, (8) ketepatan waktu. Menurut Wijono, 1999, pelaksanaan pelayanan prima di bidang kesehatan perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut : 1. Mengupayakan paparan yang jelas melalui papan informasi atau petunjuk yang mudah dipahami dan diperoleh pada setiap tempat /lokasi pelayanan sesuai dengan kepentingannya menyangkut prosedur/tata cara pelayanan, pendaftaran, pengambilan sampel atau hasil pemeriksaan, biaya, serta jadwal pelayanan. 2. Setiap aturan tentang prosedur seperti tersebut diatas harus dilaksanakan secara tepat, konsisten dan konsekuen sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Hak dan kewajiban pemberi atau penerima pelayanan diatur secara jelas. 4. Tersedia loket infromasi dan kotak saran bagi penerima pelayanan yang mudah dijumpai pada setiap tempat pelayanan. Saran yang masuk harus selalu dipantau dan dievaluasi, bila perlu diberi tanggapan atau tindak lanjut dalam rangka upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan.

5. Penanganan proses pelayanan sedapat mungkin dilakukan oleh petugas yang berwenang atau kompeten, mampu, terampil, dan profesional sesuai spesifikasi tugasnya.

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

6. Selalu diupayakan untuk menciptakan pola pelayanan yang tepat sesuai dengan sifat dan jenis pelayanan yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efesiensi dan efektivitas dalam pelaksanaannya. 7. Biaya/tarif pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhitungkan kemampuan masyarakat. Pengendalian dan pengawasan pelaksanaannya harus dilaksanakan secara cermat, sehingga tidak terdapat titipan pungutan oleh instansi lain. 8. Pemberian pelayanan kesehatan dilakukan secara tertib, teratur dan adil, tidak membedakan status sosial masyarakat. 9. Kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan fasilitas pelayanan harus selalu dijamin. 10. Selalu diupayakan agar petugas memberikan pelayanan dengan sikap ramah dan sopan serta berupaya meningkatkan kinerja pelayanan secara optimal dengan kemampuan pelayanan yang tersedia dalam jumlah dan jenis yang cukup. 2.7 Rumah Sakit Sebagai Industri Jasa Pelayanan Kesehatan Menurut SK Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992

menyebutkan bahwa rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik, subspesialistik. Rumah sakit ini memiliki misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tugasnya adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. (Aditama, 2003) Pelayanan kesehatan saat ini sudah berkembang menjadi sebuah industri jasa yang perlu dikelola secara efisien, efektif dan bermutu dengan menggunakan prinsipprinsip manajemen ilmiah. Untuk itu organisasi penyedia pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit memerlukan manajer-manajer yang tidak saja memahami dan berpengalaman di bidang kesehatan tetapi mereka juga dituntut memiliki pengetahuan dasar tentang manajemen kesehatan. Sebagai industri jasa pelayanan kesehatan, organisasi pelayanan kesehatan mempunyai konsumen dan pangsa pasar tertentu. Untuk merebut pangsa pasar dalam rangka meningkatkan penghasilan organisasi pelayanan kesehatan, manajer operasional pelayan kesehatan akan menghadapi peliknya persaingan di bidang pelayanan kesehatan.(Muninjaya, 2004) Semakin berkembang jenis organisasi pelayanan kesehatan semakin

berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. Demikian pula dengan pemahaman masyarakat tentang masalah kesehatan dan faktor-faktor resikonya. Penyakit dan masalah kesehatan tidak lagi menjadi urusan pribadi pasien/keluarganya saja. Kondisi ini menuntut tenaga kesehatan/medis memiliki keterampilan dan kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan mengatasi masalah kesehatan secara bermutu dengan biaya yang wajar. (Muninjaya, 2004)

Paket jasa pelayanan yang dijual kepada pelanggan terdiri dari :
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

1

Fasilitas penunjang (seperti dekorasi ruang periksa, kenyamanan ruang, lampu penerangan, kebersihan, tempat parkir).

2

Alat-alat pendukung (disediakan minum pada saat menunggu, makanan untuk pasien selama dalam masa perawatan yang bermutu, obat-obat penunjang tersedia dengan lengkap).

3

Jasa eksplisit (kecepatan pelayanan, kesesuaian kegiatan pelayanan dengan jadwal).

4

Jasa implisit (manfaat psikologis yang dapat dirasakan

langsung oleh

pancaindera pasien seperti privacy, jaminan rasa aman (assurance), senyuman petugas, sikap dan keramahan perawat dan sebagainya. (Muninjaya, 2004) Pelayanan rumah sakit harus menggunakan prinsip optimalisasi, yaitu antara lain dengan menggunakan teknologi yang tepat guna. Banyaknya peralatan tidak menjamin adaya pelayanan yang baik. Manajemen rumah sakit harus melindungi pasien dari pemborosan, penggunaan diagnostik yang tidak diperlukan bagi kepentingannya. (Djojodibroto, 1997) 2.7.1 Kepuasan Pelanggan (Pasien) Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya. (Imbalo, 2003) Kualitas jasa merupakan bagian penting yang perlu mendapat perhatian dari organisasi penyedia jasa pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit dan Puskesmas. Pengemasan kualitas jasa yang akan diproduksi harus menjadi salah satu strategi
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

pemasaran Rumah Sakit atau Puskesmas yang akan menjual jasa pelayanan kepada pengguna jasanya (pasien dan keluarganya). Pihak manajemen rumah sakit harus selalu berusaha agar produk jasa yang ditawarkan tetap dapat bertahan atau berkesinambungan sehingga dapat terus merebut segmen pasar yang baru karena cerita dari mulut ke mulut oleh pelanggan yang puas.(Muninjaya, 2004) Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor : 1. Pemahaman pengguna jasa tentang pelayanan yang akan diterimanya. Dalam hal ini aspek komunikasi memegang peranan penting karena pelayanan kesehatan adalah adalah high personal contact. 2. Empati, sikap peduli yang ditunjukkan oleh petugas kesehatan akan menyentuh emosi pasien. Faktor ini akan berpengaruh pada tingkat kepatuhan pasien. 3. Biaya, sistem asuransi kesehatan akan membantu mengatasi masalah biaya kesehatan. 4. Penampilan fisik (kerapian petugas), kondisi kebersihan dan kenyamanan ruangan. 5. Jaminan keamanan yang ditunjukkan oleh petugas kesehatan. Ketepatan jadwal pemeriksaan dan kunjungan dokter juga termasuk dalam faktor ini. 6. Keandalan perawatan. 7. Kecepatan petugas memberikan tanggapan terhadap keluhan pasien.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

dan

keterampilan

petugas

kesehatan

dalam

memberikan

Menurut Azwar,1996, demensi kepuasan pasien sangat bervariasi. Secara umum demensi kepuasan tersebut dapat dibedakan atas dua macam, yaitu : 1. Kepuasan yang mengacu pada penerapan standar dan kode etik profesi Ukuran kepuasan pemakai jasa pelayanan kesehatan terbatas hanya pada kesesuaian dengan standar kode etik profesi saja. Ukuran-ukuran yang dimaksud pada dasarnya mencakup penilaian terhadap kepuasan pasien mengenai : a. Hubungan dokter-pasien (doctor-patient relationship) Diharapkan setiap dokter dapat dan bersedia memberikan perhatian yang cukup kepada pasiennya secara pribadi, menampung dan mendengar semua keluhan, serta menjawab dan memberi keterangan yang sejelas-jelasnya tentang segala hal yang ingin diketahui oleh pasien. Seorang tenaga kesehatan idealnya menurut Maramis, 2006, mempunyai ciriciri sebagai berikut : 1) Ingin sekali menolong dan menghibur orang lain (compassionate) 2) Dapat didekati dan ramah 3) Pemikir kritis dan anggota tim yang baik 4) Sabar 5) Ingin tahu (inquisitif) 6) Memotivasi diri sendiri 7) Mempunyai rasa humor Menurut Pratomo yang dikutip oleh Sukma, 2007 bahwa seorang penolong atau penyembuh perlu berkomunikasi secara jujur, memiliki kepedulian dan
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

pemahaman kepada klien/pasien, hal ini akan membantu sang pasien/klien menyesuaikan dengan cara sehat terhadap situasi atau keadaannya. Menurut Hipokrates yang dikutip oleh Sukma, 2007 bahwa dokter terbaik adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk berkata kepada pasien berdasarkan pengetahuannya akan situasi saat ini, apa yang sudah terjadi, dan apa yang akan terjadi di masa datang. b. Kenyamanan pelayanan (amenities) Kenyamanan yang dimaksud adalah tidak hanya menyangkut fasilitas yang disediakan tetapi yang terpenting lagi menyangkut sikap serta tindakan para pelaksana ketika menyelenggarakan pelayanan kesehatan. c. Kebebasan melakukan pilihan (choice) Suatu pelayanan kesehatan dapat dikatakan bermutu apabila dapat memberi kebebasan kepada pasien untuk menentukan pelayanan kesehatan. d. Pengetahuan dan kompetensi teknis (scientific knowledge and technical skill) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang didukung oleh pengetahuan dan kompetensi merupakan prinsip pokok penerapan standar pelayanan kesehatan. Makin tinggi tingkat pengetahuan dan kompetensi teknis maka makin tinggi pula mutu pelayanan kesehatan. e. Efektifitas pelayanan (effectivess) Efektifitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari kewajiban etik serta prinsip pokok penerapan standar pelayanan profesi. Makin efektif pelayanan kesehatan makin tinggi mutu pelayanan kesehatan.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

f. Keamanan tindakan (safety) Pelayanan kesehatan yang membahayakan pasien bukanlah pelayanan kesehatan yang baik, karena itu tidak boleh dilakukan. 2. Kepuasan yang mengacu pada penerapan semua persyaratan pelayanan kesehatan Ukuran kepuasan pemakai jasa pelayanan kesehatan dikaitkan dengan penerapan semua persyaratan pelayanan kesehatan, diantaranya : a. Ketersediaan pelayanan kesehatan (available) b. Kewajaran pelayanan kesehatan (appropriate) c. Kesinambungan pelayanan kesehatan (continue) d. Penerimaan pelayanan kesehatan (acceptable) e. Ketercapaian pelayanan kesehatan (accesible) f. Keterjangkauan pelayanan kesehatan (affordable) g. Efisiensi pelayanan kesehatan (efficient) h. Mutu pelayanan kesehatan (quality) 2.7.2 Pengukuran Tingkat Kepuasan Pasien Terdapat dua komponen yang akan berpengaruh dalam menentukan tingkat kepuasan pasien yaitu komponen harapan pasien dan komponen kinerja pelayanan kesehatan. Pengukuran harapan pasien dapat dilakukan dengan membuat kuesioner yang berisi aspek-aspek pelayanan kesehatan yang dianggap penting oleh pasien.

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Kemudian pasien diminta menilai setiap aspek tadi, sesuai dengan tingkat kepentingan aspek tersebut bagi pasien yang bersangkutan. Tingkat kepentingan tersebut diukur dengan menggunakan Skala Likert dengan graduasi penilaian sebagai berikut : sangat penting, cukup penting, penting, kurang penting, dan tidak penting, dan kemudian tingkat penilaian tersebut diberi bobot, seperti sangat penting diberi bobot 5, cukup penting diberi bobot 4, penting diberi bobot 3, kurang penting diberi bobot 2, dan tidak penting diberi bobot 1. Begitu juga dengan penilaian terhadap kinerja pelayanan kesehatan dengan menggunakan Skala Likert. 2.8 Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan Menurut Imbalo, 2003 yang dimaksud dengan quality assurance atau

jaminan mutu adalah suatu kegiatan pengukuran derajat kesempurnaan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan Standar Pelayanan Kesehatan dan tindakan perbaikan yang sistematik serta berkesinambungan untuk mencapai mutu pelayanan kesehatan yang optimal, sesuai Standar Pelayanan Kesehatan dan sumber daya yang ada. Menurut Muninjaya, 2004 Program Jaminan Mutu atau Quality Assurance Program adalah suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, objektif, dan terpadu untuk : a. Menetapkan masalah mutu dan penyebabnya berdasarkan standar yang telah ditetapkan. b. Menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

c. Menilai hasil yang dicapai. d. Menyusun rencana tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu.

2.8.1 Perspektif Mutu Pelayanan Kesehatan Setiap orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan seperti pasien, masyarakat, profesi pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah mempunyai pandangan atau persepsi yang berbeda tentang unsur apa yang penting dalam mutu pelayanan kesehatan. a. Pasien/ Masyarakat Pasien/ masyarakat melihat pelayanan kesehatan yang bermutu sebagai suatu pelayanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselengggarakan dengan cara yang sopan dan santun, tepat waktu, tanggap, dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit. b. Pemberi Pelayanan Kesehatan Pemberi pelayanan kesehatan mengkaitkan pelayanan kesehatan yang bermutu dengan tersedianya peralatan, Prosedur Kerja (protokol), kebebasan profesi dalam setiap melakukan pelayanan kesehatan sesuai dengan teknologi kesehatan mutakhir dan bagaimana luaran (outcome) atau hasil pelayanan kesehatan itu. c. Penyandang Dana

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Penyandang dana atau asuransi kesehatan menganggap bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu sebagai sutu pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Pasien diharapkan dapat disembuhkan dalam waktu sesingkat mungkin sehingga biaya pelayanan kesehatan akan semakin berkurang.

d. Pemilik Sarana Pelayanan Kesehatan Pemilik sarana kesehatan memiliki persepsi bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu sebagai pelayanan kesehatan yang menghasilkan pendapatan yang mampu menutupi biaya operasional dan pemeliharaaan, tetapi dengan tarif pelayanan yang masih terjangkau oleh pasien/masyarakat, yaitu pada tingkat biaya dimana belum terdapat keluhan pasien/masyarakat. e. Administrator Pelayanan Kesehatan Administrator pelayanan kesehatan memusatkan perhatian terhadap beberapa dimensi mutu tertentu akan dapat membantu administrator pelayanan kesehatan dalam menyusun prioritas serata harus mampu menyediakan apa kebutuhan dan harapan pasien dan pemberi pelayanan kesehatan. 2.8.2 Pembiayaan Kesehatan Deklarasi Hak Asasi manusia yang dikeluarkan oleh Perserikatan BangsaBangsa pada tahun 1947 telah menempatkan kesehatan sebagai salah satu hak asasi dan menyebutkan bahwa setiap penduduk berhak atas jaminan manakala ia sakit. Deklarasi ini telah diikuti oleh Konvensi International Labor Organization Nomor 52

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Tahun 1948 yang memberikan hak tenaga kerja atas sembilan macam jaminan termasuk diantaranya jaminan kesehatan. ( Thabrany,2005) Tingginya biaya pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini merupakan masalah yang sangat serius karena sangat membebani masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan sehingga perlu dicarikan jalan keluarnya. (Muninjaya, 2004) Ada empat sumber utama pembiayaan kesehatan, yaitu : 1. Pemerintah 2. Swasta 3. Masyarakat dalam bentuk pembayaran langsung ( fee for service ) dan asuransi 4. Sumber-sumber lain dalam bentuk hibah atau pinjaman dari luar negeri Pembiayaan kesehatan yang bersumber dari asuransi kesehatan adalah salah satu cara yang terbaik untuk mengatasi mahalnya biaya pelayanan kesehatan. Pengertian asuransi kesehatan sendiri adalah suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok , beban ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih ringan tetapi mengandung kepastian karena memperoleh jaminan. (Muninjaya, 2004) Asuransi Kesehatan Nasional bertujuan untuk memperluas cakupan penduduk yang memiliki jaminan kesehatan yang memenuhi kebutuhan dasar medis, tanpa membedakan status ekonomi penduduk. Dengan pemenuhan kebutuhan dasar medik penduduk akan dengan tenang melakukan kegiatan produksinya setiap hari
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

(belajar dan bekerja) sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan negara melalui pajak penghasilan atau pajak penjualan hasil produksi penduduk tersebut. (Thabrany, 2005) Menurut Andari, 2001, secara garis besar faktor penting yang menjadi titik berat perhatian perusahaan asuransi kesehatan terhadap rumah sakit adalah sebagai berikut:

1. Efisiensi Sebagai badan/lembaga keuangan perusahaan asuransi memberi perhatian besar terhadap efisiensi. Efisiensi dalam pelayanan kesehatan ditekankan kepada optimalisasi pelayanan/pelayanan sesuai kebutuhan medis, dan menghindari terjadinya overutilisasi. Organisasi, sistem dan prosedur yang diterapkan di RS harus menunjang kearah efisien dan efektifitas. 2. Kesesuaian (Appropriateness) Banyak pelayanan kesehatan yang memberikan efek samping yang negatif pada pasien. Oleh sebab itu pemberian pelayanan sesuai indikasi medis dan tidak berlebihan selain berdampak efisiensi juga melindungi pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan. Penggunaan obat-rasional perlu menjadi komitmen bersama. 3. Ketersediaan (Availability) Masalah sarana dan prasarana penting untuk menjadi perhatian. Pelayanan yang tersedia di rumah sakit haruslah lengkap sesuai dengan kebutuhan masyarakat;
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

baik secara medis maupun non medis, hal ini akan mempermudah pasien dan juga menghemat biaya. 4. Waktu (Timeliness) Banyak hal pelayanan kesehatan yang sesuai dengan waktu; kasus emergency memerlukan tindakan yang cepat dan akurat. Waktu tunggu yang lama baik untuk keperluan administratif maupun untuk tindakan medis, sering menjadi penyebab keluhan utama pasien. Hal ini sangat berkaitan dengan proses bisnis dan proses produksi rumah sakit.

5. Kelangsungan Pelayanan (Continuity) Salah satu karakteristik pelayanan kesehatan adalah memerlukan pelayanan yang berkelanjutan. Sejalan dengan itu maka rumah sakit harus dapat menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan secara berkesinambungan, dengan pelayanan dan mutu yang terkendali dan senantiasa terus ditingkatkan. 6. Keamanan (Safety) Keamanan pelayanan merupakan tuntutan utama dari samua pihak. Karena pelayanan kesehatan mengandung risiko yang tidak kecil maka untuk keamanan pasien, profesionalisme seluruh petugas rumah sakit harus dapat dijamin. Upaya malpraktek harus dicegah dan upaya peningkatan profesionalisme petugas harus merupakan komponen pokok dari manajemen rumah sakit. 7. Perhatian dan kepedulian (Respect & Caring)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Pelayanan pasien dengan penuh perhatian adalah sikap yang sangat diharapkan dari seluruh jajaran rumah sakit. Memanusiakan manusia, mendahulukan yang tua, ramah dalam pelayanan akan sangat membantu keseluruhan proses pelayanan.

2.9 Kerangka Konsep Faktor internal : - Umur - Pendidikan - Penghasilan - Jenis kelamin

Faktor eksternal : - Rekomendasi dari dokter dalam negeri - Anjuran dari keluarga dan teman - Kualitas pelayanan sebelum ke Penang Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga
2007. 2007 USU e-Repository©2009

Persepsi informan tentang : - Pelayanan (sikap dokter, sikap perawat, hasil diagnosa, fasilitas dan teknologi - Biaya

Kepuasan Berobat di Penang, Malaysia

Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun

Skema diatas menunjukkan bahwa karakteristik informan yang meliputi umur, pendidikan, penghasilan, jenis kelamin serta faktor adanya rekomendasi dari dokter dalam negeri, anjuran dari keluarga dan teman, kualitas pelayanan sebelum ke Penang mempengaruhi persepsi informan tentang pelayanan (sikap dokter, sikap perawat, hasil diagnosa, fasilitas dan teknologi), biaya. Persepsi tersebut akan mempengaruhi kepuasan informan dalam pengobatan di Penang, Malaysia.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode wawancara mendalam (indepth interview) untuk mengetahui Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat di Penang, Malaysia. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kota Medan, berdasarkan pertimbangan bahwa berdasarkan data yang diperoleh, Kota Medan merupakan salah satu kota dimana banyak penduduknya yang berobat ke Penang, Malaysia. Penelitian telah dilakukan pada bulan Agustus 2007.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

3.3 Pemilihan Informan Informan adalah pasien yang sebelumnya telah berobat di Kota Medan, tetapi akibat keadaannya tidak menunjukkan peningkatan (kesembuhan) sehingga pasien mengambil tindakan pengobatan ke Penang, Malaysia. Jumlah informan berdasarkan angka kecukupan dan kesesuaian. 3.4 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui data primer dengan cara wawancara mendalam (indepth interview) terhadap informan yang pernah berobat ke Penang, Malaysia berdasarkan pedoman wawancara yang telah disusun. Dalam wawancara peneliti menggunakan alat bantu tulis dan tape recorder.

3.5 Defenisi Operasional 1. Umur adalah usia informan terhitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir. 2. Pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah diikuti informan sampai mendapatkan ijazah terakhir. 3. Penghasilan adalah besarnya pendapatan informan. 4. Jenis kelamin adalah jenis kelamin informan yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. 5. Rekomendasi dokter dalam negeri adalah anjuran dari dokter dalam negeri kepada informan dalam pengambilan tindakan pengobataan ke Penang, Malaysia.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

6. Anjuran dari keluarga, teman adalah dukungan dari keluarga dan teman kepada informan dalam pengambilan tindakan pengobatan ke Penang, Malaysia. 7. Kualitas pelayanan kesehatan adalah mutu yang dimiliki oleh sebuah tempat pelayanan kesehatan dimana informan berobat sebelum ke Penang, Malaysia. 8. Pelayanan adalah perlakuan yang diperoleh informan selama pengobatan di Penang, Malaysia, yang terdiri dari : Sikap dokter adalah perlakuan yang diberikan dokter di Penang dalam melayani informan. Sikap perawat adalah perlakuan yang diberikan perawat dalam melayani informan. Hasil diagnosis adalah transparansi dan kepastian jenis penyakit setelah berobat di Penang, Malaysia. Fasilitas dan teknologi rumah sakit adalah sarana dan prasarana yang dimiliki rumah sakit di Penang, Malaysia dalam melayani pasien. 9. Biaya adalah besarnya dana yang dikeluarkan informan yang berobat ke Penang, Malaysia. 10. Kepuasan berobat di Penang adalah perasaan informan terhadap pelayanan yang diterimanya setelah membandingkan dengan yang diharapkannya. 3.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan EZ-Test. Penganalisaan data dilakukan dengan analisa kualitatif berdasarkan data-data yang telah diperoleh
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

melalui wawancara mendalam (indepth interview) terhadap informan dan kemudian dibandingkan dengan teori, kepustakaan, maupun asumsi yang ada.

BAB IV HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada bulan Agustus. Cara pengambilan dan pemilihan informan yang dilakukan peneliti adalah dengan bertanya kepada orang-orang di sekitar peneliti yang mempunyai kenalan atau saudara yang pernah berobat ke

Penang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan peneliti. Dosen pembimbing peneliti juga merekomendasikan satu orang informan kepada peneliti. Dengan cara tersebut diperoleh informan sebanyak 10 orang yang berdomisili di Kota Medan
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

dengan latar belakang yang berbeda-beda. Wawancara dilakukan peneliti dengan mendatangi informan langsung ke rumahnya, dan sebagian lagi ke tempat informan bekerja dengan membawa segala kelengkapan wawancara yang dibutuhkan seperti tape recorder dan alat bantu tulis. Adapun kendala yang dihadapi peneliti adalah dalam hal menentukan waktu wawancara. Ketika waktunya ditetapkan tiba-tiba informan tidak bisa. Kemudian ketika menggali informasi, informan lupa sudah berapa lama menderita sakit dan tidak bisa menjelaskan istilah-istilah medis yang berkaitan dengan penyakitnya. Ketika wawancara dilakukan informan sangat antusias dalam memaparkan segala keluhan mereka tentang pengobatan di Medan dan tentang bagusnya pengobatan di Penang. Mereka sangat berharap penelitian ini akan berguna untuk perbaikan sistem kesehatan di Medan sehingga masyarakat tidak perlu lagi berobat ke Penang. Karena seluruh informan mengatakan bahwa sangat banyak pasien dari Medan yang berobat ke Penang.

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Medan memiliki luas wilayah 26.510 hektar (265.10 km2) atau 3,6 % dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Terdiri dari 21 kecamatan dan 151 kelurahan. Dengan demikian dibandingkan dengan kota/kabupaten lain, Kota Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil, tetapi dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis Kota Medan terletak pada 3° 30' - 3° 43' Lintang Utara dan 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi Kota Medan cenderung miring ke utara dan
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

berada pada ketinggian 2.5 – 37.5 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, batas wilayah Kota Medan antara lain : - Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang - Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang Ketersediaan sarana kesehatan berupa rumah sakit merupakan faktor utama dalam menunjang perbaikan kualitas hidup. Di Kota Medan terdapat fasilitas kesehatan yang terdiri dari : 1. Rumah Sakit Umum 2. Rumah Sakit Jiwa 3. Rumah Sakit Ibu dan Anak 4. Rumah Sakit Khusus Lainnya 5. Puskesmas - Puskesmas Rawat Inap - Puskesmas Non Rawat Inap 6. Puskesmas Pembantu 7. Puskesmas Keliling 8. Posyandu 9. Rumah Bersalin 10. Balai pengiobatan/klinik 11. Apotik : 46 unit : 4 unit : 7 unit : 7 unit : 39 unit : 11 unit : 28 unit : 40 unit : 30 unit : 1374 unit : 215 unit : 175 unit : 403 unit

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

12. Praktek Dokter Bersama 13. Praktek Dokter Umum 14. Praktek Dokter Spesialis 15. Praktek Dokter Gigi 16. Laboratorium Kesehatan Pemerintah 17. Laboratorium Kesehatan Swasta

: 8 unit : 389 unit : 66 unit : 178 unit : 1 unit : 6 unit

Gambaran keadaan Kota Medan di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah ” MEDAN SEHAT SEJAHTERA 2010” . Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan sehat, perilaku hidup bersih dan sehat serta meningkatnya mutu dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, derajat kesehatan, keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan secara optimal menuju Medan Kota Metropolitan. Untuk mewujudkan visi Kota Medan Sehat Sejahtera (Setara) 2010 ditetapkan 4 misi pembangunan kesehatan sebagai berikut : a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan b. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat c. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau . d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungan. 4.2 Matriks Karakteristik Informan

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Dari hasil pengumpulan data primer terhadap 10 informan diperoleh karakteristik informan sebagai berikut : Table 4.1 Distribusi Karakteristik Informan yang Berobat ke Penang, Malaysia No Karakteristik informan Keterangan Jumlah berdasarkan 1. Umur 29-38 1 39-48 1 49-58 6 59-68 2 2. Jenis Kelamin Perempuan 6 Laki-laki 4 3. Pendidikan SMA sederajat 5 S1 2 S2 3 4. Penghasilan 2-5 juta 7 > 5 juta 3 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa umur informan yang terbanyak

adalah 49-58 tahun berjumlah 6 orang. Jenis kelamin informan yang diwawancarai paling banyak adalah perempuan dengan jumlah 6 orang. Pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh informan yang paling banyak adalah tamatan SMA dengan jumlah 5 orang. Penghasilan informan bervariasi sesuai dengan pekerjaan masing-masing. Untuk kategori berpenghasilan 2-5 juta berjumlah 7 orang, adalah yang terbanyak. Untuk penghasilan tertinggi informan adalah 50 juta/bulan. 4.3 Riwayat Penyakit yang Diderita Pasien Sebelum Berobat ke Penang. Adapun hasil wawancara mengenai riwayat penyakit yang diderita informan sebelum berobat ke Penang terdapat dalam tabel di bawah ini. Dalam wawancara juga digali tentang lamanya informan menderita penyakit tersebut, dan lamanya berobat. Tabel 4.2
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Distribusi Riwayat Penyakit Informan Sebelum Berobat ke Penang Informan Jawaban 1 Awalnya setelah aku operasi cesar anak pertama. Jadi kira-kira 6 jam setelah aku operasi, aku sesak nafas gitu, tiba-tiba aja aku susah bernafas. Terus aku panggil dokter obginku dan dia kasih obat, ”Coba makan obat ini dulu, ini karena masalah ginjal,” dia bilang gitu. Aku minum obatnya dan nggak ada perubahan yang kurasakan. Karena sesak itu aku pun duduk. Dan bayangkan dek posisiku itu harus tegak terus 180 derajat. Kalau aku agak nunduk dikit makin sesak. Jadi semalaman itu aku sesak terus dan nggak bisa tidur, kan dah gawat itu dek?? Terus aku bilang sama dokternya, ”nggak mungkin lah aku kayak gini terus dok?? kalau aku kayak gini terus bisa mati aku dok!!” Terus dokter obginku bilang nanti akan saya panggil dokter lain. Terus tau dokter yang dipanggil itu bilang apa? ”ini harus cuci darah bu..” dan aku cuci darah. Waktu cuci darah yang ketiga kalinya aku tanya sama dokternya , ” ini sampai kapan dok kayak gini terus??” trus dokternya bilang, ”biasanya 5 kali udah normal, ah banyak lah pasien yang kayak gini..” Tapi tau nggak dek sejak itu aku kena hepatitis B, dan itu pun taunya setelah berobat di Penang. Karena nggak ada perubahan terus selama berobat disini, aku konsultasi sama dokternya, aku tanya,”sebenarnya aku sakit apa dokter?” trus dokternya bilang, ” ini jenis penyakit ginjal terbaru, ada gangguan dablumen, dan dablumen ibu tahannya hanya 3 bulan lagi, dan ini harus dioperasi.” Apa itu dok??? Aku tanya lagi, dan dokternya bilang mungkin ibu pernah kena lupus. Dan pada saat yang sama setelah 5 kali cuci darah, aku selalu batuk darah, darahnya segar, ”apa ini dok”???aku bilang. ”ooo nggak papa ini kata dokternya, tapi dia menduga TBC. Padahal aku foto dada paru-paruku bagus. Trus aku ke dokter ginjal dan dokternya bilang aku kanker ginjal. Dan dokternya bilang cara yang paling aman ya harus tetap cuci darah. Merindinglah aku dek.... Pokoknya selama 2 bulan berobat disini, ntah udah obat-obat apa aja lah yang aku makan, obat ginjal, obat TBC, aku dikateter, diinfus juga, nggak tau lah dek.. dan kalau adek lihat obatku itu sampai selaci ada.. Keluhan di rahim. Flak-flak 6 bulan nggak sembuh-sembuh juga. Pergi ke dokter obgin satu terapi hormon tapi nggak ada perubahan. Obgin kedua begitu juga. Obgin ketiga begitu juga, malahan disuruh menopause dini. Saya ada gangguan maag. Udah lama juga lah, tapi saya lupa sejak kapan. Dan selama sakit itu saya minum obat terus. Saya juga udah lupa udah berobat sama berapa dokter, tapi nggak sampai lah 5 dokter. Kebetulan dokter yang saya datangi itu semua diagnosanya maag.

2

3

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

4

5

6

7

8

9

Penyempitan dalam pembuluh jantung. Itu udah ada gejalanya dari tahun 1999. Jadi perjalanan antara 2003-2006 udah beberapa kali masuk Rumah Sakit, karena merasa sakit dalam jantung, makan obat sembuh sebentar. Tahun 2006 nampaknya nggak begitu lagi, udah sampai pingsan. Pernah sekali masuk rumah sakit pingsan sampai 14 jam, udah kollaps. Awalnya waktu pertama kali berobat disini dibilang sakit jantung saya tidak percaya. ”Oo itu dokternya mau uang itu..” saya bilang begitu.jadi ada kira-kira 10 dokter lah yang saya datangi dan konsultasi. Tetap saya tidak percaya. Walaupun semuanya bilang jantung. Jadi saya bilang ibaratnya kalau di Indonesia harus ke Mahkamah Agung dulu yang bilang baru saya percaya. Kalau dia bilang jantung, jantunglah.. Saya sakit miom. Disini sudah 10 tahun berobat sama salah seorang dokter. Miom itu kebetulan 10 tahun yang lewat kan besar keadaannya. Nah ketika berobat sama dokternya itu, dia bilang, ”kita rawat aja ini bu, nggak usah dioperasi..” dan 10 tahun dirawatnya ternyata memang mengecil, jadi nggak dioperasi. Jadi selama 10 tahun saya minum obar terus, dan sekali dalam 3 bulan disuntik. Memang karena saya juga waktu itu nggak mau dioprasi jadi saya milih minum obat terus selama 10 tahun ini. Tapi dua bulan sebelum ke Penang saya mengalami blooding terus.. Awalnya waktu buang air kecil ada darah. Sakitnya itu pun baru-baru ajanya saya tau. Baru 2 bulanan.Terus saya periksa sama dokter spesialis dalam disini. Dan dia bilang ada poli tepatnya di kantong kemih. Terus kata dokternya waktu itu masih kecil, dan saya di USG waktu itu. Saya kesana membawa anak saya berobat. Anak saya namanya Adillah, umurnya 12 tahun, kelas 2 SMP. Sakitnya koloid bawaan kulit di lehernya. Udah 9 tahun lah dia sakit kayak gitu. Awalnya berobat ke bidan, dan bidannya menjahit kulitnya. Terus setelah dijahit malah timbul koloid-koloid gitu, mengumpal-gumpal, gatal, dan mengganggu. Waktu itu sakit sesak kalau bernafas. Kalau capek sesak, terus periksa ke dokter, dokter bilang sakit jantung. Ibu udah 4 tahun lah berobat sama dokter jantung di Medan ini. Sudah 4 tahun juga ibu minum obat jantung. Ada dua dokter yang ibu datangi, cuma dokter yang pertama itu bilang ibu sakit jantung, tapi yang kedua bilang nggak ada sakit jantung, tetapi saluran nafasnya sempit. Selain itu ibu juga ada sakit gula. Penyakit yang saya derita adalah penyakit kuping dan pendengaran yang sudah lama. Itu sejak saya mahasiswa di Jogja sudah saya rasakan. Sampai ke Lampung, Padang Sidimpuan, Rantau Prapat,

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Tebing Tinggi, dan sampai ke Medan ini. Nggak bisa dihitung lagi berapa kali saya berobat ke spesialis THT. Jadi yang terakhir saya berobat dengan salah satu dokter yang terkenal di Medan ini, dia bilang kalau gendang telinga saya itu sudah bolong. Tapi ada lagi salah satu dokter di salah satu rumah sakit di Medan ini yang pernah saya datangi. Waktu itu dia bilang bahwa kuping saya tidak bisa dioperasi, kalau dioperasi akan naik ke otak dan kalau udah naik ke otak nggak ada ceritanya pasti dead. Padahal waktu itu saya mau ada pertandingan nasional Mahkamah Agung Cup di Surabaya. Tapi saya tahankan aja. Pulang dari Surabaya saya mendatangi lagi dokter itu, dan tau apa dia bilang???dia malah bilang nggak apa-apa minum obat aja. Gitulah modelnya!!! Lupa dia sama yang dibilangnya pertama. Waktu diobati, yang bernanah itu memang berhenti, tapi setelah obatnya sudah habis gatal lagi, dan bernanah lagi. Sedangkan pendengarannya tidak ada perubahan. 10 Bisa dibilang komplikasi lah. Ada asam urat, katarak di mata , hipertensi. Tapi waktu itu yang paling menonjol adalah asam urat. Kena asam urat itu udah lama kali. Udah ada sekitar 22 tahun, sejak anak saya yang paling kecil lahir. Jadi waktu itu memang sakit asam urat ini lah yang saya buru terus. Kalau jumlah dokter yang didatangi udah cukup banyak lah. Pengobatan alternatif pun udah saya coba Dan obat-obat yang saya minum juga sangat banyak. Selain itu temanteman juga memberikan obat asam urat. Tapi nggak pernah tuntas juga sakitnya Dari tabel diatas dapat diringkas kembali jenis penyakit yang diderita informan, lamanya menderita penyakit, dan lamanya berobat. Dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.2.1 Distribusi Jenis Penyakit Informan Sebelum Berobat ke Penang, Lama Menderita, Lama Berobat Informan Jenis Penyakit Lama Menderita Lama Berobat sebelum berobat ke
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Penang Gangguan ginjal, kanker ginjal, TBC Myoma/keluhan di rahim Gangguan maag Penyempitan dalam pembuluh jantung Myoma Ada darah di air seni Koloid bawaan di leher Jantung Masalah pada pendengaran, bernanah, dan berdarah Asam urat

2 bulan 6 bulan Lebih kurang 10 tahun Sejak tahun 1999 10 tahun Sekitar 2 bulanan 9 tahun 4 tahun Sejak mahasiswa, sekitar 30 tahun 22 tahun

2 bulan 6 bulan Lebih kurang 10 tahun Sejak tahun 1999 10 tahun 2 bulan 9 tahun 4 tahun 30 tahun

10

22 tahun

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa informan memiliki jenis penyakit yang bervariasi. Tapi yang menarik disini adalah bahwa ada 7 orang informan telah berobat dalam jangka waktu yang cukup lama dan sudah berobat dengan beberapa dokter, sebagaimana pernyataan informan berikut : ” Penyakit yang saya derita adalah penyakit kuping dan pendengaran yang sudah lama. Itu sejak saya mahasiswa di Jogja sudah saya rasakan. Sampai ke Lampung, Sidimpuan, Rantau Prapat, Tebing Tinggi, dan sampai ke Medan ini. Nggak bisa dihitung lagi berapa kali saya berobat ke spesialis THT. Jadi yang terakhir saya berobat dengan salah satu dokter yang terkenal di Medan ini, dia bilang kalau gendang telinga saya itu sudah bolong ”. Sementara 3 informan lainnya menyatakan bahwa belum lama berobat tetapi sudah mendatangi beberapa dokter, seperti pernyataan informan berikut : ” Keluhan di rahim. Flak-flak 6 bulan nggak sembuh-sembuh juga. Pergi ke dokter obgin satu terapi hormon tapi nggak ada perubahan. Obgin kedua begitu juga. Obgin ketiga begitu juga, malahan disuruh menopause dini..”
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

4.4 Orang yang Menganjurkan Informan Berobat ke Penang Berdasarkan hasil penelitian, tentang orang yang menganjurkan informan berobat ke Penang . Dari wawancara juga digali apakah ada rekomendasi dari dokter di Medan, dan kalau ada apakah memakai surat rujukan/pengantar dari dokter di Medan dan surat rujukan balik dari dokter di Penang. Didapat hasil seperti tabel di bawah ini: Tabel 4.3 Distribusi Orang yang Menganjurkan Informan Berobat ke Penang Informan Jawaban 1 Sebenarnya dari awal suamiku udah nyarankan berobat kesana aja, cuma karena perasaanku itu lah ya dek, ngapain lah jauh-jauh berobat kesana, buang-buang duit kesana, dicoba aja dulu disini ya kan..tapi akhirnya kayak gini juga nggak ada hasilnya.. Waktu itu setelah 7 kali cuci darah dokternya memang ada nyaranin coba ke Penang aja. Ada pake surat rekomendasi memang. Dokternya kasih surat rekomendasi untuk dokter disana, dan dokter di Penang juga ada kirim balik. Tapi aku cuma kasih tiga kali aja sama dokter disini. Habis itu malas lah.. Aku pikir untuk apa, dan ngapain juga, karena untuk menemui dokter disini untuk menyampaikan hasilnya aku harus bayar uang kunjungan Rp 60.000. Jadi buat apa kan? Udah dia yang tambah pintar, kan aku yang ngajari dia, jadi untuk apa??? Teman-teman saya yang nganjurin kesana, karena sebelumnya mereka juga udah pernah berobat kesana. Waktu itu teman saya general checkup kesana. Kalau dari dokter disini tidak ada yang memberikan rekomendasi, malah mereka bilang, ”nggak papa menopause dini aja dulu yang penting darahnya nggak ada lagi..” Saya kecewa.. Saya taunya dari teman-teman di kantor. Karena mereka juga pernah berobat kesana dan mereka jelasin bagaimanan pelayanan disana. Tapi kalau dari dokter sendiri nggak ada rekomendasi. Awal taunya dari teman, sosialisasi di gereja juga ada, saya baca di koran juga kan udah banyak itu. Umumnya pengakuan dari mereka memang berhasil semua, walaupun ada yang tidak berhasil tapi presentasinya lebih banyak yang berhasil. Dan keluarga juga menyarankan kesana. Kalau dari dokter disini tidak ada yang merekomendasi. Saya yang langsung bilang dan meminta dan dokternya bilang, ”oke lah...”

2

3

4

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Awal taunya dari famili. Kebetulan kakak dan suami saya juga berobat kesana. Kakak saya memang gagal disini berobat. Kebetulan nggak ada rekomendasi dari dokter disini. Malah saya nggak bilang sama dokter yang rutin saya datangi itu sampai sekarang kalau saya udah dioperasi di Penang. 6 Keluarga yang menganjurkan saya kesana. Kalau dokternya sih nggak ada ya nganjurin kesana. 7 Waktu itu kami nggak ke dokter lagi melihat situasinya kayak gitu, dan saudara nganjurin ke Penang aja langsung. Dan akhirnya kami langsung kesana. Memang keluarga saya ini juga udah pernah berobat kesana. Tapi kalau dari doktrer nggak ada rujukan, karena kami cuma ke bidan. 8 Taunya ke Penang itu awalnya dari teman ibu di Aceh. Mereka itu macam-macam lah, ada yang sakit, ada yang rekreasi, pokoknya kata orang itu banyak orang Aceh yang berobat kesana. Dan kebetulan suami juga udah berobat kesana, suami ibu kena kanker prostat. Tapi kalau dokter nggak ada yang nyuruh. 9 Saya juga sudah sering mendengar bahwa sudah banyak orang yang berobat berbagai macam penyakit kesana. Katanya disana itu bagus, jadi saya ingin mencoba. Kalau dokter tidak ada memberikan rekomendasi. Ini atas kemauan saya sendiri. 10 Kawan-kawan yang bilang. Dia juga pernah berobat kesana, dan dia bilang dia udah sembuh sekarang. Dan belakangan ini memang banyak orang yang berobat kesana. Di sekitar rumah saya ini juga sudah banyak yang berobat kesana. Dokternya tidak menganjurkan saya kesana. Saya cuma percaya sama teman-teman. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 9 orang informan yang menyatakan bahwa mereka ke Penang atas anjuran teman dan atau keluarga, dan tidak ada rekomendasi dari dokter. Seperti yang dikemukakan oleh informan berikut ” Teman-teman saya yang nganjurin kesana, karena sebelumnya mereka juga udah pernah berobat kesana. Waktu itu teman saya general check-up kesana. Kalau dari dokter disini tidak ada yang memberikan rekomendasi, malah mereka bilang, ”nggak papa menopause dini aja dulu yang penting darahnya nggak ada lagi..” Saya kecewa..”

5

Senada juga dengan informan berikut :

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

” Kawan-kawan yang bilang. Dia juga pernah berobat kesana, dan dia bilang dia udah sembuh sekarang. Dan belakangan ini memang banyak orang yang berobat kesana. Di sekitar rumah saya ini juga sudah banyak yang berobat kesana. Dokternya tidak menganjurkan saya kesana. Saya cuma percaya sama teman-teman.” Sementara ada 1 informan yang menyatakan bahwa dia berobat ke Penang atas anjuran dokternya sendiri, dokter tersebut mengirimkan rujukan dan dokter dari Penang mengirim rujukan balik. Seperti yang dinyatakannya berikut : ” Sebenarnya dari awal suamiku udah nyarankan berobat kesana aja, cuma karena perasaanku itu lah ya dek, ngapain lah jauh-jauh berobat kesana, buang-buang duit kesana, dicoba aja dulu disini ya kan..tapi akhirnya kayak gini juga nggak ada hasilnya.. Waktu itu setelah 7 kali cuci darah dokternya memang ada nyaranin coba ke Penang aja. Ada pake surat rekomendasi memang. Dokternya kasih surat rekomendasi untuk dokter disana, dan dokter di Penang juga ada kirim balik. Tapi aku cuma kasih tiga kali aja sama dokter disini. Habis itu malas lah.. Aku pikir untuk apa, dan ngapain juga, karena untuk menemui dokter disini untuk menyampaikan hasilnya aku harus bayar uang kunjungan Rp 60.000. Jadi buat apa kan? Udah dia yang tambah pintar, kan aku yang ngajari dia, jadi untuk apa??? 4.5 Hal yang Melatarbelakangi Informan pada Akhirnya dalam Pengambilan Tindakan Berobat ke Penang, Malaysia Hasil penelitian tentang hal yang melatarbelakangi informan pada akhirnya dalam pengambilan tindakan berobat ke Penang, Malaysia dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.4
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Distribusi Hal yang Melatarbelakangi Informan pada Akhirnya dalam Pengambilan Tindakan Berobat ke Penang Informan Jawaban 1 Jadi itu lah yang melatarbelakangi aku kesana itu ya karena nggak ada perubahan yang kurasakan setelah 2 bulan berobat disini, nggak ada kepastrian sakit apa yang aku derita, dan malah keadaanku makin buruk. Ya karena kata teman saya itu juga dan yang paling penting karena penyakit saya itu nggak sembuh-sembuh walaupun udah berobat ke 3 obgin terkenal di Medan ini. Latar belakang saya ambil tindakan berobat kesana karena begini, dengar-dengar cerita dari teman kalau endoskropi di Medan itu sakit. Tetapi banyak teman-teman yang pulang dari Penang bilang kalau endoskopi disana itu nggak sakit. Jadi saya kesana. Dan ternyata memang nggak sakit. Setelah endoskopi malah kata dokter disana maag saya nggak apa-apa, dia bilang sakit saya ini sebenarnya karena pikiran. Itu tadi saya tidak percaya sama dokter disini walaupun saya udah berobat sama 10 dokter. Karena berita-berita ini lah, yang tinggal gunting di perut itu lah yang membuat saya tidak percaya dioperasi disini, lagian memang sudah tau bahwa banyak yang bilang kalau di Penang itu lebih bagus. Ini memang kemauan saya sendiri berobat kesana. Memang dua bulan sebelum berangkat ke Penang, saya mengalami blooding aja. Padahal sebelumnya udah nggak pernah lagi saya blooding. Bayangkan kalau pendarahan terus kan kita stress ya. Ya udah selain dari saran keluarga akhirnya saya berangkat kesana. Yang melatarbelakangi akhirnya saya kesana karena kedengarannya disini kurang-kurang bagus. Saya kurang yakin. Atas saran keluarga juga, dan karena dengar-dengar disana memang lebih bagus. Karena pengaruh dari kawan-kawan itu tadi, kata orang itu disana tempatnya bersih dan biayanya lebih murah sedikit dan mana tau disana bisa sembuh, ya kan??jadinya ibu dan suami berangkat kesana. Pada waktu itu ada saudara saya yang juga mau berobat kesana, jadi kami pergi sama. Akhirnya setelah diurus semua pasport dan lainnya dengan cepat kami pun berangkat kesana. Waktu itu saudara saya kena sakit ginjal. Ya itu tadi saya pengen mencoba apakah benar disana itu bagus dan terjamin. Selain karena penyakit saya ini sudah sangat sakit dan mengganggu saya dalam bekerja. Dan tidak ada perubahan yang

2

3

4

5

6 7 8

9

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

saya rasakan setelah berobat disini. Akhirnya saya putuskan untuk pergi kesana. 10 Saya kan mau berusaha biar cepat sembuh, makanya saya mencoba kesana. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jawaban informan sangat bervariasi tentang hal yang melatarbelakangi mereka pada akhirnya dalam pengambilan tindakan berobat ke Penang. Ada 5 orang informan yang menyatakan bahwa yang melatarbelakangi mereka dalam pengambilan tindakan berobat ke Penang karena mereka tidak mengalami perubahan dengan penyakit mereka walaupun telah berobat ke beberapa dokter, seperti pernyataan informan berikut : “Ya karena kata teman saya itu juga dan yang paling penting karena penyakit saya itu nggak sembuh-sembuh walaupun udah berobat ke 3 obgin terkenal di Medan ini. “ Selain itu ada 4 orang yang menyatakan bahwa mereka tidak percaya atau ragu dengan pengobatan disini, seperti pernyataan informan berikut : “Itu tadi saya tidak percaya sama dokter disini walaupun saya udah berobat sama 10 dokter. Karena berita-berita ini lah, yang tinggal gunting di perut itu lah yang membuat saya tidak percaya dioperasi disini, lagian memang sudah tau bahwa banyak yang bilang kalau di Penang itu lebih bagus.” Dan ada 1 informan yang menyatakan bahwa ia pada akhirnya ke Penang karena keinginannya sendiri, seperti pernyataannya berikut : “Ini memang kemauan saya sendiri berobat kesana. Memang dua bulan sebelum berangkat ke Penang, saya mengalami blooding aja. Padahal sebelumnya udah nggak pernah lagi saya blooding. Bayangkan kalau pendarahan terus kan kita stress ya. Ya udah selain dari saran keluarga akhirnya saya berangkat kesana.”

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

4.6 Persepsi tentang Pelayanan Kesehatan di Medan Informan memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang pelayanan kesehatan yang pernah mereka rasakan di Medan, dalam hal ini juga digali bagaimana persepsi informan tentang dokter, perawat, dan pelayanannya. Adapun hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.5 Distribusi Persepsi Informan tentang Pelayanan Kesehatan di Medan Informan Jawaban 1 Kebetulan waktu aku berobat disini aku ambil kelas VIP, dan otomatis pelayanan yang diberikan juga kan harus bagus. Tapi aku kecewa sama dokternya. Bayangkan aja lah dek seorang obgin nanganin sesak nafas, darimana iya kan ceritanya?? Dia pula lagi yang ngasih aku lasic ya kan, itu kan sok tau??lagian berobat disini buang-buang uang aja. Kayaknya disini yang dipikirkan dokternya cuma uang aja. Kadang dokter hebat pun dia dek nggak jaminan. Walaupun dia banyak diakui orang dan banyak pengalaman. Menurut aku dokter ini makin hebat semakin bodohnya dia. Dia udah merasa hebat. Jadi dari nengok aja dia udah bisa tau sakit orang, trus dengan kata-kata ”ooh itu biasa itu bu sakitnya....” Kalau disini terus terang saya bilang saya sebagai seorang medis”saya malu melihat dokter-dokter disini. Banyak sekali pelayanan rumah sakit itu yang tidak mengutamakan keselamatan manusia. Dokter lebih mengutamakan bagaimana biar cepat selesai dan kemudian masuk pasien berikutnya, karena memang udah nunggu antrian. Tapi tidak mengutamakan pasien itu ngerti nggak dengan apa yang dialaminya, tentang penyakit apa yang dideritanya. Banyak dokter-dokter kita disini kalau pasien ada keluhan, dia sambil nunduk-nunduk aja dia menulis, bukannya dia mencoba menjalin komunikasi sehingga pasien merasa nyaman ketika berobat. Kebersihan tempat pelayanannya juga masih kurang. Dokter kita juga masih money oriented. Jauh lah lebih bagus di Penang daripada disini. Kalau disini ada tendensi kadang-kadang yang seharusnya udah boleh pulang tapi belum dikasih sama dokternya, jadinya kesannya diperlama. Disana nggak ada cerita lama-lama nunggu kayak disini. Kalau disini perawatnya suka marah-marah.

2

3

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

4

5

6

7

8 9

10

Begini, kalau dokter disini materi yang dipikirkan, tengoklah semuasemua uang yang dipentingkan. Ada yang sampai 4 rumah sakit dokternya kerja. Lagi pula banyak dokter disini yang banyak kreditnya katanya. Untuk buat rumah besar, mobil mewah, ikut-ikutan aja, jadinya dia paksakan untuk menghasilkan materi itu. Ya..disini bagus juga sih, kebetulan saya nggak pernah sakit lainlainnya ya, jadinya dokter yang saya datangi itu ya dokter yang memang sudah rutin dari awal menangani sakit saya. Saya sih mengalami bagus-bagus aja disini. Tapi pernah sih pengalaman ibu sama salah satu rumah sakit dan salah satu dokter di Medan ini. Waktu itu cucu ibu di opname di rumah sakit. Yang ibu kecewa waktu itu melihat dokternya yang arrogant (sombong) banget. Komunikasinya nggak enak lah. Jadi apa namanya, nggak membuat orang tambah baik. Nggak tau juga ya pelayanannya disini, jarang-jarang ke dokter sih, alhamdulillah saya sehat-sehat aja, sakit ini pun baru-baru aja kok saya tahu. Dan waktu berobat sama dokter disini bagus-bagus aja sih. Tapi disini hasil pemeriksaan itu tidak akurat. Waktu disini dia bilang masih kecil, tapi sampai disana malah harus dioperasi, karena katanya udah banyak gitu di dalam, apa namanya saya juga nggak tau. Dan dilakukan 2 kali operasi katanya untuk mengambil tumbuhannya, saya juga nggak tau. Disini kalau kita ke prakteknya tertulis jam 4, tapi kadang dokternya nggak ada disitu. Perawatnya disini, kalau kita kenal kan kita bisa duluan, tapi kalau nggak kenal walaupun kita udah nunggu dari jam 3, tapi yang jam 5 bisa duluan diperiksa karena kenal itu tadi. Waktu ibu periksa di dokter praktek disini, dokternya lumayan bagus, ramah juga. Perawatnya juga gitu. Saya sebetulnya gimana ya, kita kan sama-sama orang Indonesia, kalau dibandingkan dengan tidak mengecilkan dokter-dokter dan perawat disini nggak ada bandingannya. Kalau disana mudah semua, nggak ada yang sulit dan jelas hasilnya. Saya berobat ke dokter praktek bukan ke rumah sakit, jadi kalau pas saya beroabat dokternya bagus, ramah. Cuma mungkin itu ya pengobatannya kurang bagus. Disini kalau kita datang berobat kita bilang sakit asam urat, trus dokternya langsung kasih obat asam urat saja, tanpa ada periksa yang lain, dan ternyata disana itu malah saya bukan asam uratnya yang fokus diobati tapi ginjal saya katanya sudah bermasalah. Sementara disini saya nggak ada dibilang ginjal.

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar informan merasa kecewa dengan pelayanan kesehatan di Medan khususnya. Ada 8 orang informan yang menyatakan hal tersebut. Seperti pernyataan informan berikut : “Kalau disini terus terang saya bilang saya sebagai seorang medis”saya malu melihat dokter-dokter disini. Banyak sekali pelayanan rumah sakit itu yang tidak mengutamakan keselamatan manusia. Dokter lebih mengutamakan bagaimana biar cepat selesai dan kemudian masuk pasien berikutnya, karena memang udah nunggu antrian. Tapi tidak mengutamakan pasien itu ngerti nggak dengan apa yang dialaminya, tentang penyakit apa yang dideritanya. Banyak dokter-dokter kita disini kalau pasien ada keluhan, dia sambil nunduk-nunduk aja dia menulis, bukannya dia mencoba menjalin komunikasi sehingga pasien merasa nyaman ketika berobat. Kebersihan tempat pelayanannya juga masih kurang. Dokter kita juga masih money oriented.” Begitu juga dikatakan oleh informan lain berikut : ” Tapi aku kecewa sama dokternya. Bayangkan aja lah dek seorang obgin nanganin sesak nafas, darimana iya kan ceritanya?? Dia pula lagi yang ngasih aku lasic ya kan, itu kan sok tau??lagian berobat disini buang-buang uang aja. Kayaknya disini yang dipikirkan dokternya cuma uang aja. Kadang dokter hebat pun dia dek nggak jaminan. Walaupun dia banyak diakui orang dan banyak pengalaman.” Sementara 2 orang informan lainnya mengatakan bahwa pelayanan kesehatan di Medan bagus, tetapi walaupun demikian banyak juga berita-berita yang mereka dengar kalau pelayanan di Medan banyak yang tidak bagus, dan sebagian dialami oleh anggota keluarga mereka sendiri, seperti pernyataan informan berikut : ” Ya..disini bagus juga sih, kebetulan saya nggak pernah sakit lain-lainnya ya, jadinya dokter yang saya datangi itu ya dokter yang memang sudah rutin dari awal menangani sakit saya. Saya sih mengalami bagus-bagus aja disini. Tapi pernah sih pengalaman ibu sama salah satu rumah sakit dan salah satu dokter di Medan ini. Waktu itu cucu ibu di opname di rumah sakit. Yang ibu kecewa waktu itu melihat dokternya yang arrogant banget. Komunikasinya nggak enak lah. Jadi apa namanya, nggak membuat orang tambah baik.” 4.7 Persepsi Informan tentang Pelayanan di Penang
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Persepsi informan tentang pelayanan kesehatan di Penang dapat dilihat pada tabel berikut :

Table 4.6 Distribusi Persepsi Informan tentang Pelayanan di Penang Informan Jawaban 1 Bagus banget. Ramah lagi. Begitu kita datang, kita udah dilayani. Jam 8 dokter udah standby. Kalau yang paling menarik yang aku rasakan disana waktu aku diopname. Jam 7 dokter udah standby dan datang nengok aku, perawatnya juga ramah-ramah. Minimal jam 6 aku udah dibersihkan sama perawatnya-perawatnya. Dan itu tidak hanya di kelas VIP. Aku pernah coba di kelas ekonomi, dan ternyata pelayanannya sama aja. Dokternya juga sangat terbuka. File kita juga lengkap, nggak kayak disini cuma 1 lembar aja data sakit kita, bayangkan aja apa aja coba yang ditulis di selembar kertas tentang penyakit? Obatnya juga disana nggak banyak cuma 3 macam aja, udah, nggak kayak disini selaci, bayangin apa nggak kena ginjal orang?? disana dokternya bilang ada gangguan di jantung, dan dokter di Penang bilang, ”untung ibu cepat datang, karena jantungnya udah mulai rusak, katupnya lemah, dan kita nggak usah operasi dulu, tapi minum obat aja, dan kita tengok beberapa hari lagi hasilnya.” kan sangat bertolak belakang dek?? Dan aku juga kena hepatitis B setelah periksa di Penang ini, padahal waktu di Medan nggak ada ada diagnosa seperti itu. Saran aku sih tolong lah ya dokter di Indonesia ini jangan hanya coba-coba ngasih obat ke pasien, tentukan dulu diagnosa yang pasti baru ngasih obat. Dan kalau bukan bidangnya, nggak usah pandai-pandaian lah nangani, bagi lah sama kawannya yang lebih ahli. Bagus sekali. Mereka nggak mau memberikan obat sebelum diagnosa dapat. Itu kelebihan mereka. Kalau disini kan nggak. Diagnosanya nggak lama ya, begitu sampai mereka periksa darah, urin, lalu USG, lalu dimasukkan lagi alat ke dinding rahim. Jadi ternyata yang diduga miom di Medan ini dengan 3 obgin. Malah disana itu bukan, malah dibilang penebalan dinding rahim. Terakhir mereka ngasih obat sangat sederhana augmentin 625 mg selama seminggu, Vit. C selama seminggu, dan Vit.E jangka panjang. Dokter dan perawatnya baik sekali.

2

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

3

4

5

6

7

8

9

Bagus. Pemeriksaannya tegas. Orang itu istilahnya udah seperti negara maju lah gitu. Jauh lah lebih baik. Sudah teratur. Semua perawatnya itu melayani baguslah. Dokternya bagus, ramah. Rumah sakitnya bersih, bagus, kita merasa kayak bukan di rumah sakit tapi kayak di hotel. Saya opname satu malam, dan besoknya udah boleh pulang. Peralatannya juga canggih sekali. Memang sangat-sangat memuaskan disana itu. Karena begini, kalau di Penang itu kita berobat itu nonstop, maksudnya sekali kita masuk rumah sakit, disitu semuanya sudah diatur. Pada hari itu juga sudah dapat hasilnya. Tidak seperti disini. Pernah saya dirontgen, 3 hari lagi baru keluar hasilnya. Kalau di Penang itu selain peralatannya yang canggih, dokternya pun ramah, semua manajemen rumah sakitnya bagus. Dan kalau kecewa itu tidak begitu banyaklah disana kayak di Indonesia. Perawatnya pun baik, kapan dibutuhkan selalu siap. Jadi manajemen orang itu lah, Motto orang itu memang: ”Kami yang mengerjakan, kami yang mengobati, Tuhan yang menentukan. Bagus sekali lah..dokternya perhatian sekali sama kita. Perawatperawatnya juga. Tempatnya bersih. Saya masuk hari Kamis, hari Jum’at operasi, dan hari Senin udah boleh pulang. Selain itu disini perawatnya setiap setengah jam sekali datang untuk melihat kondisi kita, nggak seperti disini harus dipanggil dulu baru datang. Kalau gitu kan kita puas dan senang ya. Dengan kayak gitu kita pun baik jadinya, karena merasa diperhatikan Pelayanannya disana bagus, disana lebih bersih, satu hari sudah ada hasil. Periksa darah pagi, jam 2 udah keluar hasilnya. Perawatperawatnya pun bagus. Dokternya ramah-ramah. Lebih bagus lah dibandingkan disini. Begitu kita sampai langsung diladeni, ditunjukin langsung sampai ke tempat yang kita tuju. Dokternya ramah, bagus. Walaupun banyak paseinnya, tapi kita udah buat jadwal dan tepat waktu. Kalau katanya jam 10 memang pas jam segitu kami masuk dan dokternya udah ada disitu, nggak ada yang molor-molor. Rumah sakitnya juga bersih, nyaman, wangi, pakai AC, kayak di hotel, nggak ada ngantri panjang, nggak nunggununggu, dan nggak ribut. Rumah sakitnya bagus, nyaman, bersih, tidak bau obat. Baru nyampe disana kita udah disambut. Dokter dan perawatnya ramah, dia kasih motivasi sama kita. Abis itu dokternya juga tepat waktu. Jam berapa dibilang sebelumnya, jam segitulah orang itu udah di tempat. Kita nggak perlu nunggu-nunggu lagi. Hasil periksanya langsung dijelaskan pakai komputer. Kita juga bisa tanya sepuasnya Dan disana saya melihat alat-alat pemeriksaannya sangat canggih. Belum pernah saya melihat itu di Indonesia. Pokoknya pemeriksaan

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

itu cepat disana. Setelah operasi saya dimasukkan ke dalam kamar rawat, dan kamar itu sangat bersih, harum, tenang, full AC, padahal itu sudah kelas yang paling murah. Jadi saya melihat pelayanannya itu bagus lah, diagnosanya itu pun yang betul-betul akurat, jadi tidak sembarangan saja dalam menentukan penyakit. Sebelumnya semuanya diperiksa dengan alat-alat laboratorium yang canggih dan modern, jadi tidak hanya pakai perasaan saja. Dokter dan perawatnya ramah- ramah. 10 Kalau rumah sakitnya jauh berbeda lah dengan disini. Bagus. Disana itu sistemnya menjemput bola. Jadi apa yang kita butuhkan dengan tepat ia layani. Misalnya kalau kita berobat pagi, dokternya sudah ada disitu. Tempatnya memang sangat bagus. Semuanya sudah lengkap disitu, jadinya tidak dioper kemana-mana seperti disini. Dalam satu rumah sakit itu udah lengkap semua. Disana mempermudah lah gitu. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa seluruh (10) informan menyatakan bahwa pelayanan kesehatan di Penang bagus. Dokternya ramah dan terbuka,

perawatnya ramah dan sigap dalam melayani pasien. Peralatan rumah sakit canggih, hasil diagnosanya akurat, rumah sakitnya bersih, wangi, seperti hotel. Seperti pernyataan informan berikut: ” Kalau rumah sakitnya jauh berbeda lah dengan disini. Bagus. Disana itu sistemnya menjemput bola. Jadi apa yang kita butuhkan dengan tepat ia layani. Misalnya kalau kita berobat pagi, dokternya sudah ada disitu. Tempatnya memang sangat bagus. Semuanya sudah lengkap disitu, jadinya tidak dioper kemana-mana seperti disini. Dalam satu rumah sakit itu udah lengkap semua. Disana mempermudah lah gitu. ”Dan disana saya melihat alat-alat pemeriksaannya sangat canggih. Belum pernah saya melihat itu di Indonesia. Pokoknya pemeriksaan itu cepat disana. Setelah operasi saya dimasukkan ke dalam kamar rawat, dan kamar itu sangat bersih, harum, tenang, full AC, padahal itu sudah kelas yang paling murah. Jadi saya melihat pelayanannya itu bagus lah, diagnosanya itu pun yang betul-betul akurat, jadi tidak sembarangan saja dalam menentukan penyakit. Sebelumnya semuanya diperiksa dengan alat-alat laboratorium yang canggih dan modern, jadi tidak hanya pakai perasaan saja. Dokternya ramah.” Informan lain juga menyatakan hal senada seperti berikut :
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

” Bagus. Pemeriksaannya tegas. Orang itu istilahnya udah seperti negara maju lah gitu. Jauh lah lebih baik. Sudah teratur. Semua perawatnya itu melayani baguslah. Dokternya bagus, ramah. Rumah sakitnya bersih, bagus, kita merasa kayak bukan di rumah sakit tapi kayak di hotel. Saya opname satu malam, dan besoknya udah boleh pulang.

4.8 Perbandingan Biaya Pengobatan di Medan dan di Penang Hasil penelitian tentang perbandingan biaya pengobatan di Medan dan di Penang dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Table 4.7 Distribusi Perbandingan Pengobatan di Medan dan di Penang Informan Jawaban 1 Aku kena disini sekitar 30-an juta sekian lah, dan hasilnya nggak pasti. Dan di Penang udah pemeriksaan semuanya, mulai dari jantung, ginjal, aku kena 20 juta. Dan memang penyakit hepatitis B itu obatnya mahal jadi besarnya disitu aja. Tapi walau gimana pun hasilnya kan pasti tentang sakit kita dan ada kemajuan dari sebelumnya Kalau dengan hasil yang pasti kita dapat itu tidak masalah. Ya tidak mahal lah dibandingkan pergi ke Jakarta. Tidak mahal kok. Kalau dihitung-hitung lebih murah disana, karena begini biaya disana itu seperlunya. Kalau memang udah jelas diagnosa dan obatnya, udah selesai, nggak dilama-lamain. Tidak seperti disini. Harganya relatif tidak mahal, bisa sekalian wisata juga kita kesana. Kalau yang normal kian operasinya total semuanya 62 juta. Tapi karena saya ada penyakit gula juga jadinya kena 75 juta. Kalau disini saya tanya sekitar 80 juta. Biayanya setahu saya setelah tanya-tanya disini itu sekitar 35 juta. Disana saya habis cuma 25 juta dan itu sudah sama transport. Biayanya waktu itu saya kena sekitar 20 juta. Menurut saya sih tidah mahal kalau kita mendapatkan kepastian dan kesembuhan. Biayanya lebih murah di Penang daripada disini. Operasinya waktu itu cuma kena 1 juta, dan disini saya pernah tanya itu sekitar 2 jutaan Biayanya menurut ibu lebih murah di Penang. Ibu waktu itu kena 7,5 juta semuanya. Disini waktu itu penyakitnya juga belum jelas.

2 3

4

5 6 7

8

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Setelah disana baru tau penyakit yang sebenarnya itu maag bukan jantung. Jadinya waktu itu ibu dikateter. Ada diambil daging dari paha waktu itu, tapi abis itu ibu udah lupa gimana lagi. 9 Jadi berapa pun biaya yang dibutuhkan, dengan melihat pelayanan yang diberikan itu tidak menjadi persoalan. Kebetulan pula biayanya setelah saya tanya-tanya dengan dokter di Medan, dokternya bilang biaya operasi untuk yang berair dan bernanah 10 juta, sementara untuk gendang telinga yang bolong tidak bisa dioperasi lagi. Ternyata di Penang, yang bernanah dan berdarah dioperasi juga, yang gendang telinganya bolong dioperasi juga hanya kena 10 juta, padahal lebih hebat lagi itu operasi menempel gendang telinga yang bolong kan?? 10 Untuk operasi mata, kalau saya tanya-tanya disini waktu itu kena 8 juta-an. Dan disana saya kena 6.700.000.. dan untuk ginjal sekali kontrol saya kena 1 juta dan disitu udah obat untuk 3 bulan. dan menurut saya itu wajar. Walaupun belum termasuk ongkos dan penginapan. Dan menurut cerita kawan-kawan yang saya dengar banyak yang lebih murah untuk biaya pengobatan disana. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa seluruh informan menyatakan biaya pengobatan di Penang lebih murah dibandingkan dengan di Medan, dengan alasan kepastian hasil yang diterima, sehingga informan berikut : ” Jadi berapa pun biaya yang dibutuhkan, dengan melihat pelayanan yang diberikan itu tidak menjadi persoalan. Kebetulan pula biayanya setelah saya tanya-tanya dengan dokter di Medan, dokternya bilang biaya operasi untuk yang berair dan bernanah 10 juta, sementara untuk gendang telinga yang bolong tidak bisa dioperasi lagi. Ternyata di Penang, yang bernanah dan berdarah dioperasi juga, yang gendang telinganya bolong dioperasi juga hanya kena 10 juta, padahal lebih hebat lagi itu operasi menempel gendang telinga yang bolong kan??” ” Untuk operasi mata, kalau saya tanya-tanya disini waktu itu kena 8 juta-an. Dan disana saya kena 6.700.000.. dan untuk ginjal sekali kontrol saya kena 1 juta dan disitu udah obat untuk 3 bulan. dan menurut saya itu wajar. Walaupun belum termasuk ongkos dan penginapan. Dan menurut cerita kawan-kawan yang saya dengar banyak yang lebih murah untuk biaya pengobatan disana. Hal senada juga dinyatakan oleh informan berikut :
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

itu sangat sesuai. Seperti pernyataan

” Kalau dihitung-hitung lebih murah disana, karena begini biaya disana itu seperlunya. Kalau memang udah jelas diagnosa dan obatnya, udah selesai, nggak dilama-lamain. Tidak seperti disini.”

4.9 Kepuasan yang Paling Dirasakan Informan Setelah Berobat di Penang Kepuasan yang paling dirasakan informan setelah berobat di Penang dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.8 Distribusi Kepuasan yang Paling Dirasakan Informan Setelah Berobat di Penang Informan Jawaban 1 Selain pelayanannya yang sangat bagus, aku sembuh bertahap dan menunjukkan perubahan. Aku punya harapan hidup yang tadinya nggak taulah dek aku udah pasrah. Bayangin aja aku dibilang ginjal, lupus yang nggak ada obatnya, TBC, harus cuci darah terus, kanker ginjal. Ah nggak tau lah. Padahal disana dokternya bilang ada gangguan di jantung, dan dokter di Penang bilang, ”untung ibu cepat datang, karena jantungnya udah mulai rusak, katupnya lemah, dan kita nggak usah operasi dulu, tapi minum obat aja, dan kita tengok beberapa hari lagi hasilnya.” Kepuasan yang saya rasakan yang pasti, saya sakit, saya datang, dan saya sehat. Jadi artinya mendapatkan sesuatu yang pasti. Sampai sekarang saya tidak sombong, tapi karena saya pernah kecewa dengan 3 obgin terkenal di Medan, itu papsmear aja saya ke Penang. Nggak mau saya disini. Jangan dibilang sombong ya. Karena kecewa itu tadi. Soalnya kita perempuan, rahim itu kan sangat berharga buat kita. Kepuasan yang paling saya rasakan pemeriksaannya itu tegas dan jelas. Nggak bertele-tele Kepuasan yang paling saya rasakan disana adalah saya percaya diri. Kepercayaan itulah tadi, kalau disini saya jantungan kayak yang dibilang orang itu ada tinggal gunting dalam perut, saya takut...Kalau di Penang dokternya bagaimana seorang anak dengan ibunya/ayahnya, tapi kalau disini bagaimana dokter menyerahkan dengan ayah angkatnya.

2

3 4

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

5

6

7 8

9

10

Bayangkan kalau pendarahan terus, kan kita stress ya, tapi setelah dioprasi udah selesai..habis dan hilang semuanya. Dan nggak mengalami pendarahan lagi sampai sekarang. Pengobatannya puas lah.. Cara kerjanya cepat, pelayanannya cepat, dan nggak ada nunggununggu disini, itu yang paling saya puas berobat disini. Disana pun banyak juga kok yang udah dioperasi sama dokter hebat disini ke Penang juga. Dan mereka bilang biayanya lebih murah Pelayanannya lah yang paling memuaskan. Sebagai pasien kita dituntun terus sampai dapat yang kita tuju , ke pakarnya. Kepuasan yang ibu rasakan adalah udah tau penyakitnya dengan jelas, disini dibilang kena sakit jantung, padahal disana dia bilang kena maag aja. Dua minggu setelah dioperasi saya kembali lagi ke Penang karena ada yang mau dibuka, kalau nggak salah ada 3 lapis gitu. Setelah dibuka dia buat suara selintik tangan di dekat kuping saya, kaget saya, kuat kali kedengarannya dibandingkan dengan yang tidak dioperasi. Alhamdulillah luar biasa saya sudah bisa mendengar lagi. Dan uang yang sekian itu rasanya tidak berat melihat hasil yang saya dapat. Dan setelah ditest dengan alat ukur, pendengaran saya menjadi 80% dari yang sebelumnya hanya 20%. Luar biasa...!!! itulah kepuasan yang saya dapatkan. Hasilnya memuaskan, dan pelayanannya puas lah...

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 5 informan yang menyatakan bahwa kepuasan yang paling mereka rasakan adalah ada perubahan baik atas penyakit mereka setelah berobat di Penang. Seperti yang dinyatakan oleh informan berikut : “Kepuasan yang saya rasakan yang pasti, saya sakit, saya datang, dan saya sehat. Jadi artinya mendapatkan sesuatu yang pasti. Sampai sekarang saya tidak sombong, tapi karena saya pernah kecewa dengan 3 obgin terkenal di Medan, itu papsmear aja saya ke Penang. Nggak mau saya disini. Jangan dibilang sombong ya. Karena kecewa itu tadi. Soalnya kita perempuan, rahim itu kan sangat berharga buat kita.” ” Dua minggu setelah dioperasi saya kembali lagi ke Penang karena ada yang mau dibuka, kalau nggak salah ada 3 lapis gitu. Setelah dibuka dia buat suara selintik tangan di dekat kuping saya, kaget saya, kuat kali kedengarannya dibandingkan dengan yang tidak dioperasi. Alhamdulillah luar biasa saya sudah bisa mendengar lagi. Dan uang yang sekian itu
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

rasanya tidak berat melihat hasil yang saya dapat. Dan setelah ditest dengan alat ukur, pendengaran saya menjadi 80% dari yang sebelumnya hanya 20%. Luar biasa...!!! itulah kepuasan yang saya dapatkan.” Sementara ada 3 orang informan yang menyatakan kepuasan mereka karena pelayanan yang diberikan di Penang sangat bagus. Seperti pernyataan informan berikut : ” Cara kerjanya cepat, pelayanannya cepat, dan nggak ada nunggu-nunggu disini, itu yang paling saya puas berobat disini. Disana pun banyak juga kok yang udah dioperasi sama dokter hebat disini ke Penang juga. Dan mereka bilang biayanya lebih murah.” Dan seorang informan lagi menyatakan bahwa kepuasan yang ia rasakan adalah ia percaya diri, seperti pernyataannya berikut : ” Kepuasan yang paling saya rasakan disana adalah saya percaya diri. Kepercayaan itulah tadi, kalau disini saya jantungan kayak yang dibilang orang itu ada tinggal gunting dalam perut, saya takut...Kalau di Penang dokternya bagaimana seorang anak dengan ibunya/ayahnya, tapi kalau disini bagaimana dokter menyerahkan dengan ayah angkatnya.” 4.10 Kodisi Kesehatan Informan Sekarang Hasil penelitian tentang bagaimana kondisi informan sekarang, apakah masih perlu check-up atau tidak, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 4. 9 Distribusi Kondisi Kesehatan Informan Sekarang Jawaban Aku minum obat jantung selama 6 bulan dan aku sudah sembuh. Artinya aku pun tak perlu minum obat lagi. Aku memang disuruh check-up setelah berobat. Tapi sekarang sudah jarang. Tetapi untuk Hepatitis B aku masih terus minum obat. Dan untuk ginjalnya selama aku nggak hipertensi nggak ada masalah. Alhamdulillah pertolongan Tuhan di tangan orang sana. Saya udah sembuh sekarang. Mereka sangat baik sekali, saya tidak perlu checkup lagi, tapi saran dokter 6 bulan sekali papsmear dan itu tidak harus

Informan 1

2

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

di Penang. Tapi sekarang sekali setahun saya kesana, kalau saya mau datang ya saya datang kesana. 3 Membaik, cuma nggak bisa dibilang total membaik karena usia juga sudah lanjut. Sekarang nggak ada check up lagi. Setelah berobat yang pertama itu juga udah nggak ada check-up lagi. Saya cuma tiga hari disana. Dan dia memang ngasih obat untuk 3 bulan. Karena memang bukan gangguan perut tapi pikiran walaupun ada juga sebagian obat perut yang dikasih. 4 Perubahannya pokoknya jantungnya sudah nggak ada masalah lagi,kadang-kadang ada sesak juga sesekali. cuma DMnya aja, itu memang nggak bisa sembuh. Saya sudah check up 2 kali. Dan masih harus check up lagi bulan Oktober ini. 5 Alhamdulillah sampai sekarang sudah nggak ada apa-apa lagi. Saya nggak perlu check-up lagi, cuma kata dokternya kalau ada biaya bisa datang sekali setahun untuk melihat kondisinya, tapi itu nggak wajib. 6 Sekarang kondisi saya alhamdulillah sudah baik. Setelah operasi itu saya disuruh check-up memang sebulan kemudian. Tapi alhamdulilah sekarang sudah nggak ada lagi. 7 Alhamdulillah sudah membaik, dokternya juga memang bilang kalau koloid ini nggak bisa habis, cuma dia tidak akan membesar lagi. Saya check-up cuma 2 kali aja kesana. Tapi dia kasih resep aja yang bisa saya beli di Medan ini, dan disuruh menjumpai dokter disini untuk menyuntikkannya ke anak saya. 8 Kalau penyakit gulanya ya gitu-gitu aja, kalau ibu makan yang berlemak-lemak dan yang manis-manis naik lah itu gula ibu. Tapi kalau sakit maag itu sudah mulai baik, ibu masih minum obat sampai sekarang. Dan waktu itu cuma disuruh kontrol sekali aja kesana. Habis itu dokternya kasih resep aja dan ibu beli disini. 9 Alhamdulillah pendengaran saya sudah sangat membaik sekarang, bahkan lebih baik dari telinga yang tidak dioperasi. Dan saya chekcup sebanyak 3 kali, karena memang kan yang paling sempurna itu adalah made in Ilahi. Dan yang jelas yang dulunya bernanah dan berdarah itu sudah tidak ada lagi sampai sekarang. 10 Hasil dari operasi mata alhamdulillah udah sembuh, sudah tidak rabun lagi, dan itu cuma sekali aja nggak perlu kontrol lagi. Dan untuk sakit ginjalnya berkurang ya, soalnya badan juga makin terasa enak. Saya check up waktu itu 5 kali. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 7 informan menyatakan kondisi kesehatan mereka sekarang membaik dari keadaan sebelumnya, tetapi masih perlu check up. Seperti yang dinyatakan oleh seorang informan berikut :
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

“Aku minum obat jantung selama 6 bulan dan aku sudah sembuh. Artinya aku pun tak perlu minum obat lagi. Aku memang disuruh check-up setelah berobat. Tapi sekarang sudah jarang. Tetapi untuk Hepatitis B aku masih terus minum obat. Dan untuk ginjalnya selama aku nggak hipertensi nggak ada masalah.” ”Alhamdulillah pendengaran saya sudah sangat membaik sekarang, bahkan lebih baik dari telinga yang tidak dioperasi. Dan saya chekc-up sebanyak 3 kali, karena memang kan yang paling sempurna itu adalah made in Ilahi. Dan yang jelas yang dulunya bernanah dan berdarah itu sudah tidak ada lagi sampai sekarang.” Sementara ada 3 informan yang menyatakan bahwa kondisi kesehatan mereka sekarang membaik dan tidak perlu check up kembali ke Penang setelah pengobatan yang pertama kali. Seperti pernyataan informan berikut : ” Alhamdulillah pertolongan Tuhan di tangan orang sana. Saya udah sembuh sekarang. Mereka sangat baik sekali, saya tidak perlu check-up lagi, tapi saran dokter 6 bulan sekali papsmear dan itu tidak harus di Penang. Tapi sekarang sekali setahun saya kesana, kalau saya mau datang ya saya datang kesana.”

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Informan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat dilihat karakteristik informan berdasarkan umur yang dikategorikan 29-38 tahun berjumlah 1 orang, 39-48 tahun berjumlah 1 orang, 49-58 tahun berjumlah 6 orang, dan 59-68 berjumlah 2 orang. Paling banyak adalah pada usia antara 49-58 tahun. Berbagai perubahan dan psikis yang terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia sangat mempengaruhi kesehatan dan kemampuan metabolisme tubuh. Perubahan umumnya bersifat menurun dari kondisi sebelumnya. Kemampuan immunitas tubuh misalnya, dengan bertambahnya umur, maka sistem kekebalan tubuh akan menurun. Hal ini yang menyebabkan orang tua menjadi sangat rentan terhadap penyakit. (Anonim, 2004) Karakteristik informan berdasarkan jenis kelamin dari hasil penelitian diketahui bahwa perempuan lebih banyak berobat ke Penang dibandingkan dengan laki-laki yaitu berjumlah 6 orang, sedangkan laki-laki berjumlah 4 orang. Dilihat dari pendidikan terakhir yang pernah dijalani oleh informan diketahui bahwa 5 orang informan menamatkan pendidikannya sampai SMA, 2 orang menamatkan pendidikannya sampai S1, dan 3 orang menamatkan pendidikannya
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

sampai S2. Menurut Ma’at (1981) bahwa persepsi dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan. Karakteristik informan berdasarkan penghasilan diketahui bahwa informan yang berpenghasilan 2-5 juta sebanyak 7 orang, dan yang berpenghasilan > 5 juta sebanyak 2 orang. Penghasilan sebesar 2-5 juta dapat digolongkan kepada keadaan menengah ke atas. Besarnya penghasilan akan mempengaruhi seseorang untuk mencari pelayanan kesehatan yang terbaik. Menurut Sarwono (2004) dalam hal penggunaan pelayanan kesehatan cenderung lebih tinggi pada orang yang berpenghasilan tinggi. Menurut Department of Health Education and Walfare USA dalam bukunya yang berisi faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan yaitu faktor yang berasal dari konsumen yang menggunakan pelayanan kesehatan sendiri meliputi status sosial ekonomi (pendidikan dan pekerjaan) dan pendapatan. (Iralorina, 2007) 5.2 Riwayat Penyakit yang Diderita Pasien Sebelum Berobat ke Penang Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa informan memiliki riwayat penyakit yang berbeda-beda. Diagnosa dokter berbeda-beda sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh pasien. Tetapi pada beberapa informan terdapat perbedaan diagnosa antara dokter di Medan dengan dokter di Penang. Salah satu informan menyatakan bahwa pemeriksaan dokter di Medan menyatakan bahwa penyakitnya adalah miom, tetapi di Penang hasil pemeriksaan menunjukkan hanya penebalan dinding rahim, tidak miom. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Iralorina (2007)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

disebabkan karena di Penang memiliki sistem pelayanan yang sistematis dan administrasi yang transparan. Obat dan terapinya memiliki paket kepastian. Menurut Sarwono (2004) pandangan orang tentang kriteria tubuh sehat atau sakit sifatnya tidak lah selalu objektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektivitasnya dalam menentukan kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsur sosial budaya. Secara ilmiah penyakit (desease) diartikan sebagai gangguan fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi fungsi

atau tekanan dari

lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya, sakit (illness) adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit. 5.3 Orang yang Menganjurkan Informan Berobat ke Penang Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat 9 orang informan yang menyatakan mereka ke Penang atas anjuran dari teman dan atau keluarga. Karena teman dan atau pun keluarga mereka telah berobat terlebih dahulu ke Penang dan mengalami perubahan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.Dan tidak ada rekomendasi dari dokter. Hal tersebut tentunya akan sangat mempengaruhi persepsi seseorang untuk mengambil tindakan pengobatan ke Penang. Hal ini sesuai dengan Teori Pembelajaran Sosial yang dikemukakan oleh Bandura (1986) menyebutkan bahwa sikap dan tingkah laku individu itu ditiru dan dipelajari dari interaksinya dengan masyarakat secara terus menerus. Selain itu Bandura juga menjelaskan bahwa individu meneruskan atau pun mengubah sikap dan perilakunya karena adanya faktor pengukuh atau penguat yang mempengaruhi perilakunya.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Teori WHO menyatakan bahwa ada 4 determinan seseorang berperilaku, salah satu diantaranya adalah adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (personnal references). Sedangkan menurut toeri Anderson, ada 3 faktor yang mempengaruhi seseorang menggunakan pelayanan kesehatan salah satunya yaitu adanya faktor-faktor yang menjamin terhadap pelayanan kesehatan yang ada. Sementara menurut Sarwono (2004) ikatan keluarga yang lebih banyak menggunakan fasilitas kesehatan, serta meminta nasehat dari keluarga dan teman-teman merupakan faktor kebudayaan yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan. 5.4 Hal yang Melatarbelakangi Informan pada Akhirnya dalam Pengambilan Tindakan Berobat ke Penang, Malaysia Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada 5 orang informan yang menyatakan hal yang melatarbelakangi mereka dalam pengambilan tindakan berobat ke Penang karena mereka tidak mengalami perubahan dengan penyakit mereka walaupun telah berobat ke beberapa dokter. Selain itu ada 4 orang yang menyatakan bahwa mereka tidak percaya atau ragu dengan pengobatan di Medan. Dan ada 1 informan yang menyatakan bahwa ia pada akhirnya ke Penang karena keinginannya sendiri. Menurut Suchman yang dijabarkan oleh Sarwono tahun 2004, menganalisa pola proses pencarian pengobatan dari segi individu maupun petugas kesehatan. Menurut pendapatnya, terdapat lima macam reaksi dalam proses mencari pengobatan salah satunya adalah shopping, yaitu proses mencari alternatif sumber pengobatan guna menemukan seseorang yang dapat memberikan diagnosa dan pengobatan sesuai
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

dengan harapan si sakit. Hal ini terjadi jika keadaan si sakit tidak menunjukkan adanya kesembuhan sehingga mencari alternatif pengobatan lain. Berdasarkan teori Health Belief Model (HBM) ada 5 variabel yang menyebabkan seseorang mengobati penyakitnya salah satunya adalah karena keseriusan dari suatu penyakit yang dirasakan misalnya dapat menimbulkan kecacatan, kematian, atau kelumpuhan, dan juga dampak sosial seperti dampak terhadap pekerjaan, kehidupan keluarga, dan hubungan sosial. Berdasarkan hasil penelitian seorang informan menyatakan bahwa penyakitnya sudah sangat mengganggu ia dalam beraktivitas sehingga akhirnya ia mengambil tindakan pengobatan ke Penang. Menurut Mechanic yang dijabarkan oleh Sarwono (2004) bahwa terjadi proses dalam diri individu sebelum dia menentukan untuk mencari upaya pengobatan. Faktor yang menyebabkan seseorang bereaksi terhadap penyakit antara lain adanya kebutuhan untuk bertindak /berperilaku untuk mengatasi gejala sakit tersebut, serta tersedianya sarana kesehatan, kemudahan mencapai sarana tersebut, tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu, takut, dsb) Pada akhirnya seseorang akan mengambil tindakan karena mereka percaya akan kemampuan dirinya sendiri (Perceived Self Efficacy). Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Bandura (1986) bahwa Perceived self efficacy menjadi kontributor yang penting untuk membentuk intensi dan aksi dari perilaku. Perceived Self Efficacy tidak hanya berkaitan dengan sejumlah keterampilan yang dimiliki seseorang melainkan menyangkut keyakinan untuk melakukan sesuatu dengan

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

kemampuan yang dimiliki dalam berbagai kondisi. Kedudukan perceived self efficacy yang tinggi dapat menjadi faktor pembangkit motivasi untuk bertindak atau pengontrol penyesuaian diri seseorang dan sebaliknya perceived self efficacy yang rendah bisa menjadi penghambat utama dalam pencapaian tujuan perilaku. Perceived self efficacy sebagai pendorong terjadinya aksi perilaku, kualitasnya akan tumbuh dan berkembang melalui salah satu atau kombinasi dari beberapa sumber yang berpengaruh yaitu belajar dari pengalaman orang lain, dan pencapaian pengalaman secara aktif. (Effendi, 2006)

5.5 Persepsi tentang Pelayanan Kesehatan di Medan Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar informan merasa kecewa dengan pelayanan kesehatan di Medan khususnya. Ada 8 orang informan yang menyatakan hal tersebut. Sebagian disebabkan karena tidak adanya kejelasan dari diagnosa penyakit. Sementara 2 orang informan lainnya mengatakan bahwa pelayanan kesehatan di Medan bagus, tetapi walaupun demikian banyak juga beritaberita yang mereka dengar kalau pelayanan di Medan banyak yang tidak bagus, dan sebagian dialami oleh anggota keluarga mereka sendiri. Menurut Muslem (2006) yang mengutip pendapat Koentjaraningrat

mengatakan bahwa persepsi merupakan perlakuan yang melibatkan penafsiran melalui proses pemikiran tentang apa yang dilihat, didengar, dialami atau dibaca sehingga persepsi sering mempengaruhi tingkah laku, percakapan, serta perasaan

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

seseorang. Misalnya jika seseorang telah memiliki pengalaman buruk dengan sebuah pelayanan kesehatan maka ia akan mencari alternatif yang lebih baik. Tatkala seseorang menderita sakit, dokter atau paramedis menjadi tumpuan harapan bagi kesembuhanya. Di tangan sang dokter kesembuhan dan nyawa

seseorang dipertaruhkan. Kepercayaan masyarakat terhadap dokter demikian tinggi, bahkan menuntut agar dokter menjadi ”juru selamat”. Namun, fakta menunjukkan jika tidak jarang telah terjadi kesalahan penanganan pasien. (Suwono 2004) Berdasarkan hasil penelitian Zulfendri (2006) bahwa pada umumnya rumah sakit swasta di Medan mempekerjakan dokter berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan part timer sehingga pasien sulit ketemu dengan dokter pada saat dibutuhkan oleh pasien. Pelayanan rumah sakit harus menggunakan prinsip optimalisasi, yaitu antara lain dengan menggunakan teknologi yang tepat guna. Banyaknya peralatan tidak menjamin adaya pelayanan yang baik. Manajemen rumah sakit harus melindungi pasien dari pemborosan, penggunaan diagnostik yang tidak diperlukan bagi kepentingannya. (Djojodibroto, 1997) 5.6 Persepsi Informan tentang Pelayanan di Penang Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa seluruh (10) informan menyatakan bahwa pelayanan kesehatan mulai dari dokter, perawat, fasilitas sarana dan prasarana, serta hasil diagnosa di Penang bagus. Dokter dan perawat sangat ramah dan

komunikatif terhadap pasien. Peralatan diagnosa sangat canggih. Hasil diagnosa tepat dan akurat berdasarkan hasil laboratorium. Obat yang diberikan sesuai dengan hasil
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

diagnosa dan seperlunya. Selain itu rumah sakitnya bersih, nyaman, seperti di hotel dan tidak seperti rumah sakit pada umumnya di Medan.

dan wangi

Menurut Rambe, 2006 Malaysia memulai program peningkatan kualitas mutu pelayanan (Quality Assurance Programme) atau QAP sejak tahun 1985 dan mengadopsi cara-cara yg dilakukan di Inggris, USA, Canada dan Australia. Mereka benar-benar meningkatkan mutu dalam upaya memberikan kepuasan pada pasien (Satisfaction). Pasien mereka anggap sebagai Customer didalam pasar pelayanan kesehatan (as customers in the health care market). Mereka melakukan peningkatan pelayanan baik secara Clinical dimension of service maupun physical dimension of service. Seperti dalam clinical dimension dimana clinical audit diimplementasikan. Apalagi 'teamwork' sudah menjadi keharusan seperti dilakukan di negara maju Inggris dan Amerika. Mereka secara berkala melakukan penelitian tentang kepuasan pasien dan dengan kuesioner yg baku mereka namakan Servqual. Belum lagi para Direktur RS disana benar-benar professional dan berjiwa corporat governance dan tidak berjiwa juragan. Menurut Imbalo (2003) Pasien/ masyarakat melihat pelayanan kesehatan yang bermutu sebagai suatu pelayanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselengggarakan dengan cara yang sopan dan santun, tepat waktu, tanggap, dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit. Menurut Hipokrates yang dikutip oleh Sukma, 2007 bahwa dokter terbaik adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk berkata kepada pasien
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

berdasarkan pengetahuannya akan situasi saat ini, apa yang sudah terjadi, dan apa yang akan terjadi di masa datang. Jangan pernah lelah untuk menciptakan komunikai yang baik. Dari beberapa kejadian, senjata ini cukup mujarab untuk membangun hubungan yang baik dengan pasien dan menghindari kesalahpahaman yang berujung dengan berbagai tuduhan malpraktik yang makin marak akhir-akhir ini ( Andaryanti, 2006) Dalam memberikan asuhan perawat yang baik, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, dan bersikap caring. Perawat belajar menghargai kesensitifan dan perasaan kepada klien, sehingga ia sendiri dapat menjadi lebih sensitif, murni dan bersikap wajar pada orang lain. Perawat memberikan informasi yang jujur, dan memperlihatkan sikap empati yaitu turut merasakan apa yang dirasakan oleh pasien. Perawat memberikan waktunya untuk mendengarkan keluhan dan perasaan pasien. (Bondan, 2007) Berdasarkan banyak teori dan penelitian di Amerika Serikat dan negara lain, peoses penyembuhan tidak hanya bergantung pada obat, teknologi kedokteran , dan pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri. Karakteristik dari lingkungan fisik tempat pasien menerima pelayanan juga mempengaruhi hasil, tingkat kepuasan, pasien, kepuasan staf dan keluaran organisasi itu sendiri. Lingkungan pelayanan kesehatan dapat dikatakan berkualitas jika mendukung keunggulan mutu secara klinis pada tindakan terhadap pasien, mendukung kebutuhan spiritual dan psikososial pasien,

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

keluarga dan staf, serta menghasilkan efek positif yang terukur pada keluaran klinis pasien dan efektivitas staf. (Widodo, 2007) Berdasarkan hasil penelitian Iralorina (2007) menunjukkan bahwa dari 47 responden (masyarakat Karo) diketahui bahwa sebagian besar persepsi responden tentang tenaga kesehatan dan fasilitas medik di Penang baik yaitu sebanyak 41 orang dan terdapat 34 orang atau sebesar 72,3% yang memanfaatkan kembali berobat ke Penang. Berdasarkan hasil penelitian Zulfendri (2006) bahwa di Penang pasien mudah menjumpai dokter karena pada umumnya dokter bekerja secara full timer, kemudian sistem kerja dokternya umumnya bekerja secara tim. 5.7 Perbandingan Biaya Pengobatan di Medan dan di Penang Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa seluruh informan menyatakan biaya pengobatan di Penang lebih murah dibandingkan dengan di Medan, dengan alasan kepastian hasil yang diterima, sehingga itu sangat sesuai. Tingginya biaya pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini merupakan masalah yang sangat serius karena sangat membebani masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan sehingga perlu dicarikan jalan keluarnya. (Muninjaya, 2004) Menurut Wijono (1999) biaya/tarif pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhitungkan kemampuan masyarakat. Pengendalian dan pengawasan pelaksanaannya harus dilaksanakan secara cermat, sehingga tidak terdapat titipan pungutan oleh instansi lain.

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Pelayanan kesehatan yang berkualitas memerlukan biaya yang tinggi. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Perkembangan dunia kesehatan memang sangat pesat. Berbagai teknologi baru bermunculan. Riset-riset untuk menghasilkan inovasi baru harus terus dilakukan, dan hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tapi fakta di lapangan berbeda. Dari hasil penelitian, informan menyatakan bahwa biaya pengobatan di Penang lebih murah dibandingkan dengan di Medan, sementara rumah sakit di Penang sudah menggunakan peralatan yang canggih dan seharusnya lebih mahal. Asumsi informan bahwa karena kejelasan diagnosa penyakit yang mereka terima sehingga tidak perlu berulang kali berobat seperti di Medan. Menurut Wensley (1992) yang dijabarkan oleh Bondan (2007) pasien mengharapkan penghargaan atas uang yang telah mereka berikan dan mengharapkan kualitas pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan. Pada saat ini makin banyak pasien yang menuntut untuk diberikan informasi tentang kondisi kesehatannya dan keputusan yang terkait dengan tindakan medik/keperawatan yang diterimanya. Perhatian mereka diarahkan seluruhnya pada spektrum pelayanan kesehatan yang mereka terima selama berada di rumah sakit. 5.8 Kepuasan yang Paling Dirasakan Informan Setelah Berobat di Penang Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada 5 informan yang menyatakan bahwa kepuasan yang paling mereka rasakan adalah ada perubahan baik atas penyakit mereka setelah berobat di Penang. Sementara ada 4 orang informan yang

menyatakan kepuasan mereka karena pelayanan yang diberikan di Penang sangat

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

bagus. Dan seorang informan lagi menyatakan bahwa kepuasan yang ia rasakan adalah ia percaya diri. Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya. (Imbalo, 2003) Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti Penampilan fisik (kerapian petugas), kondisi kebersihan dan kenyamanan ruangan, jaminan keamanan yang ditunjukkan oleh petugas kesehatan. Ketepatan jadwal pemeriksaan dan kunjungan dokter juga termasuk dalam faktor ini, keandalan dan keterampilan petugas kesehatan dalam memberikan perawatan, kecepatan petugas memberikan tanggapan terhadap keluhan pasien. (Muninjaya, 2004) Kepuasan klien merupakan suatu situasi dimana klien dan keluarganya menganggap bahwa biaya yang dikeluarkan sesuai dengan kualitas pelayanan yang diterima dan tingkat kemajuan kondisi kesehatan yang dialaminya. Mereka merasa pelayanan yang diberikan merupakan penghargaan terhadap diri dan kehormatan yang dimilikinya. Selain itu mereka merasakan manfaat lain setelah dirawat yaitu pengetahuan tentang penyakit dan dirinya menjadi bertambah. (Bondan, 2007) Penerimaan seseorang terhadap pengobatan penyakit dapat disebabkan karena keefektifan dari tindakan yang dilakukan untuk mengurangi penyakit. (Glanz, 2002) 5.9 Kodisi Kesehatan Informan Sekarang
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada 7 informan menyatakan kondisi kesehatan mereka sekarang membaik, tetapi masih perlu check up. Sementara ada 3 informan yang menyatakan bahwa kondisi kesehatan mereka sekarang membaik dan tidak perlu check up kembali ke Penang setelah pengobatan yang pertama kali. Menurut Sundberg(1989) yang dijabarkan oleh Bondan (2006) penerapan komunikasi terapeutik dalam pelayanan perawatan mempunyai peran yang besar terhadap kemajuan kesehatan pasien. Komunikasi terapeutik meningkatkan hubungan interpersonal dengan klien sehingga akan tercipta suasana yang kondusif dimana klien dapat mengungkapkan perasaan dan harapan-harapannya. Kondisi saling percaya yang telah dibangun antara tenaga kesehatan dan pasien tersebut akan mempermudah pelaksanaan dan keberhasilan program pengobatan. Penerapan komunikasi teraupetik dalam pelayanan perawatan mempunyai peran yang besar terhadap peningkatan pengetahuan pasien terhadap penyakit. Diskusi yang dilakukan berorientasi pada pemahaman pasien terhadap proses penyakitnya, dengan adanya pemahaman pasien diharapkan pasien akan kolaboratif dan patuh dalam menjalankan program pengobatan. Hal tersebut yang telah dilakukan dokter dan perawat di Penang sehingga ketika pasien disuruh untuk kembali check up mereka patuh karena mereka sudah mengerti dengan penyakitnya. Menurut Murpy (1997) yang dijabarkan oleh Bondan (2006) bahwa kepatuhan pasien berkenaan dengan kemauan dan kemampuan dari individu untuk mengikuti cara sehat yang berkaitan dengan nasehat, aturan pengobatan yang
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

diterapkan, mengikuti jadwal pemeriksaan dan rekomendasi hasil penyelidikan. Berbagai aspek komunikasi antara pasien dengan tenaga kesehatan memepengaruhi tingkat ketidak taatan, misalnya informasi dengan pengawasan yang kurang, ketidakpuasan terhadap aspek hubungan emosional dengan dokter dan ketidakpuasan terhadap pengobatan yang diberikan. Salah satu strategi untuk meningkatkan ketaatan adalah memperbaiki komunikasi antara dokter maupun perawat dengan pasien. Dalam masyarakat sering terjadi perbedaan pemahaman antara dokter dan pasien mengenai penyakit, kriteria sembuh, dan hasil tindakan dokter. Pasien menganggap bahwa pengertian sembuh adalah dia akan kembali pulih seperti sediakala. Padahal, ada jenis penyakit tertentu yang dapat disembuhkan tetapi meninggalkan jejak permanen, sehingga tidak memungkinkan bentuk atau fungsi tubuh akan kembali seperti sebelum sakit, sebab faal tubuh manusi tidak sama dengan mesin. ( Suwono, 2004)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

6.1 Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa karakteristik waraga Kota Medan yang berobat ke Penang berdasarkan umur, yang paling banyak adalah umur 49-58 tahun yaitu sebanyak 6 orang. Karakteristik berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak adalah perempuan dengan jumlah 6 orang. Untuk karakteristik berdasarkan pendidikan yang terbanyak adalah lulusan/tamatan SMA sederajat dengan jumlah 5 orang. Dan karakteristik berdasarkan penghasilan yang terbanyak adalah 2-5 juta rupiah dengan jumlah 7 orang. 2. Faktor eksternal yang mempengaruhi warga Kota Medan dalam pengambilan tindakan pengobatan ke Penang didominasi oleh adanya anjuran dari teman dan atau keluarga. Faktor lain yang mendukung adalah adanya rekomendasi dari dokter dalam negeri dan akibat buruknya kualitas pelayanan kesehatan di Medan yang mereka terima. 3. Persepsi warga Kota Medan yang berobat ke Penang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan sangat bagus. Sistem mereka adalah menjemput bola. Mereka sangat memanusiakan manusia. Terbukti dengan perlakuan dokter dan perawatnya yang sangat ramah dan care terhadap pasien. Memberikan informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit yang diderita pasien. Selain itu fasilitas dan teknologi rumah sakit sangat canggih. Hasil laboratorium bisa keluar hanya dalam hitungan beberapa jam setelah pasien
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

periksa. Tidak perlu menunggu lama. Untuk hasil diagnosa, tepat dan tidak sembarangan, begitu juga dengan pemberian obat seperlunya saja. Sedangkan untuk biaya lebih murah dibandingkan di Medan. Dengan biaya yang murah dan pelayanan yang baik otomatis semua orang akan menjatuhkan pilihan kepada tempat pelayanan tersebut. Sehingga pada umumnya mereka merasa sangat puas berobat di Penang. 6.2 Saran 1. Diharapkan kepada rumah sakit di Medan untuk memperbaiki mutu manajemennya, sikap dokter agar lebih komunikatif dan empati kepada pasien, sikap perawat agar lebih ramah dan lemah lembut dalam melayani pasien, fasilitas dan teknologi juga semakin ditingkatkan/canggih sehingga lebih akurat dalam memberikan hasil diagnosa. 2. Diharapkan kepada dokter agar memberikan obat seperlunya setelah dioagnosa jelas dan pasti sehingga tidak ada lagi kasus malpraktik. 3. Manajemen Rumah Sakit di Penang mungkin dapat dipelajari oleh rumah sakit di Medan ini agar pelayanan kesehatan di Medan juga semakin baik sehingga kepercayaan masyarakat juga akan kembali dan mereka akan lebih memilih untuk berobat di Medan daripada di Penang.

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, Yoga, Tjandra. 2003. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. UI-Press, Jakarta. Andari, Orie. 2001. Peran Asuransi Kesehatan dalam Benchmarking Rumah Sakit. http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=540&tbl=artikel Andaryanti. 2006. Komunikasi Gawat Darurat. KCM 11 Januari 2006. Anonim. 2004. Layanan Rumah Sakit Berkemasan Wisatahttp://www.sinarharapan.co.id/berita/0412/22/nas06.html Paket

Anonim. 2007. http://www.adb.org/documents/translation/indonesian/health-ID.pdf. Anonim. http://www.pts.com.my/modules.php?name=news&file=article&sid=792 10 November 2006 Azrul, Azwar. 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Bondan .2006. Penerapan Komunikasi Teraupetik untuk Mengoreksi Perilaku Klien Rawat Jalan dengan Diabetes Mellitus. http://bondanmanajemen.blogspot.com/2007/05/

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

2007. Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit. http://bondanmanajemen.blogspot.com/2007/05/asuhan-keperawatan-bermutudi-rumah-sakit Depkes RI, 1999. Pembangunan Kesehatan Indonesia Sehat 2010. Depkes RI. Jakarta. Dinkes Propinsi Sumatera Utara. 2006. Profil Kesehatan tahun 2005.Medan Djojodibroto, Darmanto, R. 1997. Kiat Mengelola Rumah Sakit. Penerbit Hipokrates, Jakarta. Effendi, Mohammad. 2006. Penggunaan Cognitive Behavior Therapy Untuk Mengendalikan Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa Melalui Peningkatan Perceived Self Efficacy Berhenti Merokok. http://www.depdiknas.go.id/jurnal/56/penggunaan.htm Emalian, Ruth. Jauh Dari Harapan. http :// www.suarapembaruan.com/news.04 Mei 2006. Glanz, Karen, and others. 2002. Health Behavior and Health Education, Theory, Research and Practise, 3rd edition. Jossey-Bass publisher, San Fransisco. Iralorina. 2007. Pengaruh Persepsi Tentang Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Terhadap Demand Masyarakat Karo di Kabanjahe yang Berobat Kembali ke Penang tahun 2006. Skripsi FKM-USU. Medan. Maramis, WF. 2006. Ilmu Perilaku Dalam Pelayanan Kesehatan. Airlangga University Press, Surabaya. McMahon, Rosemary. 1999. Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer. EGC, Jakarta. Muninjaya, Gde, A, A. 2004. Manajemen Kesehatan Edisi 2. EGC, Jakarta. Muslem. 2006. Pengaruh Faktor Sosial Demografi dan Sosiopsikologi Terhadap Demand Persalinan di Kecamatan Tanjung Balai Selatan Tanjung Balai Tahun 2006. Skripsi FKM-USU. Medan. Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta, Jakarta. Pohan, S, Imbalo. 2003. Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan, Dasar-dasar Pengertian. Kesaint Blanc, Jakarta.
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

Rahmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Rambe, Harris. Berobat ke Luar Negeri Rasanya Sudah Lama Dibicarakan Khususnya di Sumatera Utara Sejak Tahun 2001.Harian Analisa, 24 April 2006. Sarafino, D, Edward. 2002. Health Psychology, Biopsychosocial Interactions, Fourth Edition. Jhon Wiley & sons inc. Sarwono, Solita. 2004. Sosiologi Kesehatan, Beberapa Konsep dan Aplikasinya. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Sukma, Adi, Guntur. Dokter, Tolong Pahami Kami, Dong?. Harian Analisa, 8 Juli 2007. Sutaat . 2005. Persepsi Legislatif Tentang Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Daerah. Jurnal Depsos. http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang Suwono. 2004. UU Praktik Kedokteran Diharapkan Cegah Malpraktik. www. google.com Thabrany, Hasbullah. 2005. Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Wijono, Djoko. 1999. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, Teori, Strategi, dan Aplikasi. Airlangga University Press, Surabaya. Zulfendri. 2006. Regulasi dr. Spesialis Studi Komparasi Regulasi Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Indonesia dan Negeri Pulau Pinang Malaysia Tahun 2006. Zulfendri. 2006. Masyarakat Sumut Banjiri RS di Penang, Malaysia. http:// www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg13175.html

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

PEDOMAN WAWANCARA

Nama Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pertanyaan :

: : : : :

1. Bagaimana riwayat penyakit yang Anda derita sebelum Anda berobat ke Penang? (Probing) 2. Siapa yang menganjurkan Anda ke Penang? (Probing)
Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

3. Apa yang melatarbelakangi Anda pada akhirnya mengambil tindakan pengobatan ke Penang? (Probing) 4. Bagaimana pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit dan dokter yang menangani penyakit Anda sebelum Anda berobat ke Penang? (Probing) 5. Bagaimana pelayanan kesehatan yang Anda dapatkan selama berobat di Penang? (Probing) 6. Bagaimana perbandingan biaya pengobatan di tempat pelayanan kesehatan sebelum Anda berobat ke Penang dengan tempat pelayanan kesehatan di Penang? 7. Kepuasan apa yang Anda dapatkan setelah berobat di Penang? (Probing) 8. Bagaimana kondisi kesehatan Anda sekarang? Apakah penyakit yang Anda derita sebelumnya sudah sembuh sekarang?(Probing)

Mawaddah Tsaniyah. Persepsi Warga Kota Medan Terhadap Pengalaman Berobat Di Penang, Malaysia Tahun 2007. 2007 USU e-Repository©2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->